Kabupaten Maros

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Maros)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Maros
Ejaan IPA: [kɑbʊpatɛn] [mɑ̃ros]

Maros
Maru'
Kabupaten
Pemerintah Kabupaten Maros
Transkripsi lainya
 • Ejaan LamaMaroese
 • InggrisMaros Regency
 • JermanRegierungsbezirk Maros
 • LatinMarosina/Marosiana
 • Pinyin Chi马罗斯县
 • Lontara Bugᨀᨅᨘᨄᨈᨛ ᨆᨑᨚ
 • Lontara Makᨀᨅᨘᨄᨈᨙ ᨆᨑᨚ
Air Terjun Bantimurung di Desa Jenetaesa, Kabupaten Maros
Air Terjun Bantimurung di Desa Jenetaesa, Kabupaten Maros
Lambang resmi Kabupaten Maros Ejaan IPA: [kɑbʊpatɛn] [mɑ̃ros]
Lambang
Julukan:
 · Butta Salewangang
 · Kupu-Kupu Raja
 · Laskar Marusu
 · The Kingdom of Butterfly
 ·
Butta Bugisi-Mangkasara'
Semboyan:
Menuju Maros Lebih BAIK
(Bersih, Aman, Inovatif, dan Kreatif)
Lokasi di Sulawesi Selatan dan di Indonesia
Lokasi di Sulawesi Selatan dan di Indonesia
Koordinat: 5°00′08″S 119°34′32″E / 5.0021851°S 119.5756829°E / -5.0021851; 119.5756829
Negara Indonesia
ProvinsiCoat of arms of South Sulawesi.svg Sulawesi Selatan
Ibu KotaKota Turikale (9 Mei 2011 - sekarang)
Kota Maros (4 Juli 1959 - 9 Mei 2011)
Hari Jadi Sekarang 4 Juli 1959 
Perda Kab. Maros No. 03 Tahun 2012
Hari Jadi Sebelumnya17 Oktober 1471
Perda Kab. Maros No. 12 Tahun 2006
Hari Jadi Sebelumnya4 Januari 1471
Perda Kab. Maros No. 11 Tahun 2001
Dibentuk1471 (Abad 15)
Sinkronisasi Referensi Lontara Maros,
Lontara Gowa, dan Lontara Bone
PendiriKaraeng Loe Ri Pakere
Asal namaKerajaan Marusu'
Kecamatan14
Kelurahan/Desa103 (total)
23 kelurahan
80 desa
Pemerintahan[1]
 • JenisKabupaten
 • LembagaPemerintahan Daerah Tingkat II
 • BupatiIr. H. Muhammad Hatta Rahman, S.T., M.M. (PAN)
 • Wakil BupatiDrs. H. Andi Harmil Mattotorang, M.M.
Luas[2]
 • Total1.619,12 km2 (4.000.930 acre)
Ketinggian[2]881 m (2,890 ft)
Penduduk (2018)[2]
 • Total349.822
 • Peringkat9 dari 24 daerah (Sulawesi Selatan)
 • Kepadatan216,06/km2 (55,960/sq mi)
 • Laki-laki171.117
 • Kepadatan Laki-laki105,69/km2 (27,370/sq mi)
 • Perempuan178.705
 • Kepadatan Perempuan110,37/km2 (28,590/sq mi)
DemonimMarosnese
Demografi (2017)
 • Suku bangsaBugis, Makassar, Toraja, Mandar, Madura, Jawa, dll.
 • AgamaIslam 99.39%
Katolik 0.52%
Kristen Protestan 0.09%[3]
 • BahasaDentong, Bugis, Makassar, Melayu Makassar, Jawa, Madura, Indonesia
Zona waktuWITA (UTC+8)
Kode Pos90511-90565
Kode Telepon+62 0411
GeocodeID-SL
ISO 3166ID-SN
Plat kendaraanDD (D)
Kode administrasi73.09
APBDRp. 1.497.906.779.871[4]tahun 2019
PADRp. 285 miliar[4]tahun 2019
Belanja DaerahRp. 1.551.449.773.598[4]tahun 2019
IPM68,94 dan 00,52 ( sedang )[5]tahun 2018
Bandar udara utamaBandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Kecamatan Mandai
Pelabuhan Laut utamaPelabuhan Perikanan Bonto Bahari Kecamatan Bontoa
Situs webmaroskab.go.id

Kabupaten Maros (Bugis: ᨀᨅᨘᨄᨈᨛ ᨆᨑᨚ , Makassar: ᨀᨅᨘᨄᨈᨙ ᨆᨑᨚ , Inggris: Maros Regency) adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Jauh dari sebelumnya Kabupaten Maros adalah salah satu bekas daerah kerajaan di Sulawesi Selatan. Di daerah ini pernah berdiri Kerajaan Marusu' dengan raja pertama bergelar Karaeng Loe Ri Pakere. Maros memperoleh status bersejarah sebagai kabupaten pada tanggal 4 Juli 1959 berdasarkan UU No. 29 Tahun 1959. Pada tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Maros berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Maros Nomor 3 Tahun 2012. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Turikale sejak perubahannya pada tanggal 9 mei 2011 yang sebelumnya bernama Kota Maros. Perubahan nama ibu kota Kabupaten Maros dari nama Kota Maros menjadi nama Kota Turikale telah diatur dalam Perda Kabupaten Maros Nomor 10 Tahun 2011. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.619,12 km² dan berpenduduk sebanyak 349.822 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 216,06 jiwa/km² pada tahun 2018.[6] Bersama Kabupaten Takalar dan Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros dikenal sebagai kabupaten penyangga Kota Makassar. Karena Kabupaten Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan tersebut dengan jarak kedua kota tersebut berkisar 30 km dan sekaligus terintegrasi dalam pengembangan Kawasan Metropolitan Mamminasata. Dalam kedudukannya, Kabupaten Maros memegang peranan penting terhadap pembangunan Kota Makassar karena sebagai daerah perlintasan yang sekaligus sebagai pintu gerbang Kawasan Mamminasata bagian utara yang dengan sendirinya memberikan peluang yang sangat besar terhadap pembangunan di Kabupaten Maros. Di daerah ini juga terdapat banyak tempat wisata andalan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Makassar dan Sulawesi Selatan, yaitu Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan objek wisata batu karst terbesar kedua di dunia Rammang-Rammang, selain itu Kabupaten Maros juga memiliki potensi ekonomi karena Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin berada di Kabupaten Maros.

Daftar isi

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masa Prasejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah tentang Maros senantiasa terkait dengan keberadaan manusia prasejarah yang ditemukan di Gua Pettae, Kelurahan Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung (sekitar 11 km dari Kota Turikale atau 44 km dari Kota Makassar). Dari hasil penelitian, arkeolog menyebutkan bahwa gua bersejarah tersebut telah dihuni oleh manusia sejak zaman megalitikum sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi (nyaris satu zaman dengan Nabi Nuh yang wafat 3043 tahun sebelum Masehi) yang selanjutnya turun-temurun atau beranak-pinak hingga saat ini. Sehingga, untaian sejarah tersebut menjadi "benang merah" tentang asal-muasal orang-orang Maros atau biasa disebut dengan istilah "Putera Daerah".

Pada zaman mesolitik yang sebaran tinggalannya banyak ditemukan di Sulawesi Selatan, tepatnya di gua-gua prasejarah di kawasan karst Maros-Pangkep. Kawasan pegunungan gamping (karst) Maros-Pangkep adalah kawasan yang memiliki karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama yang disebabkan oleh pelarutan batuan yang intensif. Proses pelarutan lebih sering terjadi pada batuan karbonat, yang disebut dengan proses karstifikasi sehingga membe ntuk bukit-bukit karst yang membentang utara-selatan Pulau Sulawesi dengan lereng yang nyaris tegak seperti menara dan disebut sebagai tipe tower karst. Kawasan karst tersebut terdiri dari bukit-bukit yang terjal dengan lubang-lubang di kaki dan lereng perbukitan. Lubang-lubang itu adalah gua horizontal yang terjadi karena proses alam, yang lazim terdapat di suatu kawasan karst. Penduduk setempat menyebutnya "leang" (cave). Temuan lukisan telapak tangan, alat serpih, dan mata panah bergerigi di gua-gua prasejarah Maros.

Jejak hunian prasejarah di Sulawesi Selatan perta ma kali terungkap mela lui penelitian rintisan yang dilaku kan oleh Paul Sarasin dan Fritz Sarasin, dua orang naturalis berkebangsaan Swiss yang melakukan penelitian pada leang Cakondo, Ululebba dan Ba lisao di Bone antara tahun 1902-1903 yang kemudian diterbitkan menjadi buku yang berjudul Reisen in Celebes. Hasil penel itian mereka memicu para peneliti lain untuk melakukan penelitian di wilayah Sulawesi Selatan, termasuk di wilayah karst Maros-Pangkep. Pada tahun 1950 untuk pertama kalinya ditemukan lukisan pada dinding gua prasejarah (rock painting) berwarna merah oleh Van Heekeren dan Miss Heeren Palm di leang Petta'e Maros. Heekeren menemukan gambar babi rusa yang sedang meloncat dan di bagian dadanya terdapat mata panah menancap, sedangkan Miss Heeren Palm menemukan gambar telapak tangan dengan latar belakang cat merah yang diduga berasal dari tangan kiri wanita. Sejak itulah penelitian di kawasan karst Maros-Pangkep dilakukan lebih intensif dan menghasilkan data yang melimpah tentang jejak hunian prasejarah di kawasan tersebut. Sampai sekarang wilayah ini masih menjadi salah satu obyek penelitian para arkeolog baik dari dalam maupun luar negeri.

Berdasarkan hasil pendataan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar, terdapat sekitar 100-an leang prasejarah yang tersebar di kawasan karst Maros-Pangkep dengan beragam jenis tinggalan budaya berupa lukisan di dinding gua, sebaran alat batu dan sisa-sisa sampah makanan berupa cangkang mollusca. Tinggalan arkeologi tersebut menjadi obyek kajian yang sangat menarik diteliti untuk mengetahui kehidupan di masa lalu. Keseluruhan benda-benda hasil kebudayaan masa lalu termasuk tinggalan prasejarah di kawasan karst Maros-Pangkep menurut Undang-Undang nomor 5 tahun 1992 d isebut Benda Cagar Budaya, yang definisinya adalah "benda buatan manusia dan alam yang umurnya sekurang-kurangnya 50 tahun, yang mewakili zaman gaya yang khas dan zaman gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta bernilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan". Oleh karena itu, masuk akal jika gua-gua prasejarah yang terdapat di kawasan karst Maros-Pangkep kemudian mendapat perlindungan undang-undang oleh pemerintah. Keberadaan gua-gua prasejarah beserta tinggalannya perlu kita lestarikan bersama sebagai warisan budaya bangsa. Dengan latar belakang geografis, prasejarah dan sejarah yang beragam, kawasan karst Maros-Pangkep melahirkan kebudayaan yang merupakan perpaduan antara nilai-nilai agama dengan lingkungan alam, dilatarbelakangi dan diwarnai dua etnis besar, yaitu Bugis dan Makassar sehingga memiliki keunikan tersendiri.

Kawasan karst yang membentang sepanjang Kabupaten Maras dan Kabupaten Pangkep memiliki kekayaan flora dan fauna yang tak ternilai, bahkan kawasan karst Maros-Pangkep ini merupakan kawasan karst terpanjang kedua di dunia dengan landscape yang sangat indah. Selain kekayaan flora dan fauna, di beberapa leang terdapat jejak-jejak peradaban zaman prasejarah yang menjadi bukti keberadaan nenek moyang kita. Dengan potensi alam dan budaya yang begitu melimpah dan unik tersebut, maka pada tahun 1998 kawasan karst ini diusulkan sebagai Natural World Heritage. Saat ini kawasan karst Maros-Pangkep termasuk dalam kawasan Ta man Nasional Bantimurung-Bulusaraung.

Mitos To Manurung Maros[sunting | sunting sumber]

Mitos “To Manurung” (orang yang diturunkan dari langit) sebagai pembuktian sosial kultur masyarakat tertinggi. Karaeng Loe Ri Pakere dipercaya sebagai To Manurung yang mendasari sejarah Maros. Dalam periode Lontara', Karaeng Loe Ri Pakere adalah sosok yang pertama kali membentuk sistem kemasyarakatan dan mengakhiri periode kegelapan.

Kutipan Lontara' Marusu' dalam Bahasa Makassar yang ditulis oleh Gallarang Tujua Ri Marusu' dan Imam Marusu' pada tanggal 14 muharram 1273 hijriah:

“ ………. Karaeng LoE Ri Pakere uru Karaeng Ri Marusu' iyami nikana Tomanurung kataena niassengi assala'na, areng kalennna, naiya tongmi anne turung ri Pakere' riwattunna tauwa ri Marusu' sikanre juku. Anjo Wattua taena Karaeng nilangngereka kana-kananna, naturungmi gunturuka siagang bosia tuju allo tuju bangngi. Nabattumo simbaraka naniya'mo ammenteng Sao' Raja ri tangngana paranga ri Pakere', naniya' tongmo se're tau ammempo ri dallekanna tuka' sapanaya nabattu ngasemmo tau jaiya angsombai nanapala'mo anjari karaeng. Naiya tongmi nikana Karaeng LoE ri Pakere' ……….”

Karaeng Loe Ri Pakere tampil sebagai pemimpin yang memperkenalkan otoritas dan eksistensi negerinya kepada kerajaan-kerajan tetangga ketika menjalin persekutuan dengan Raja Gowa IX, Daeng Matanre Tumapa'risi' Kallongna, Raja Bone VI, La Uliyo Bote'e Matinroe Ri Itterung, dan Raja Polongbangkeng, Karaeng Loe Ri Bajeng.

Pasca Perjanjian Bungaya[sunting | sunting sumber]

Maros pada pasca Perjanjian Bungaya dikategorikan berada langsung dalam kekuasaan kolonial Belanda. Dampak selanjutnya adalah “Migrasi” pangeran-pangeran dari Kerajaan Gowa, Bone dan Luwu ke negeri lain di luar Kerajaannya sebagai sikap ketidakpuasan dengan Perjanjian Bungaya dengan mendirikan kerajaan-kerajaan serta kasullewatangan baru di wilayah sekitar Maros. Kerajaan dan Kasullewatangan tersebut antara lain Turikale, Simbang, Tanralli, Bontoa, Tangkuru, Raya, Lau', Timboro', dan Kabba (Wara), serta beberapa kerajaan di wilayah Lebbo' Tengae.

Era Kerajaan-Kerajaan Di Maros[sunting | sunting sumber]

Marusu' atau dikenal dengan Maros, adalah sebuah legenda sejarah dalam peradaban umat manusia, ketika eksistensi dan pengaruhnya dengan dunia luar mulai merambah komunitas sekelilingnya, yang berawal dari kehadiran Tomanurung Karaeng Loe Ri Pakere pada tahun 1471, dalam berbagai Lontara baik Lontara Maros maupun referensi dari Lontara Gowa dan Bone disebutkan bagaimana seorang tokoh kharismatik, bergelar Karaeng Loe Ri Pakere telah memperkenalkan eksistensi kerajaannya yang diberi nama Marusu' kepada kerajaan-kerajaan tetangga, bahkan dengan cepat dapat memainkan peran konstruktif dalam tatanan politik pemerintahan Kerajaan Kembar Makassar (Gowa-Tallo), bahkan diformalkan dengan melakukan Perjanjian Persahabatan dengan Raja Bone VI La Olio Bote-e dan dengan Raja Polongbangkeng l bergelar Karaeng Loe ri Bajeng.

Kerajaan Marusu'[sunting | sunting sumber]

Awal Mula[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Marusu' berdiri pada sekitar abad ke-15 dengan seorang raja yang diyakini sebagai seorang tomanurung bergelar Karaeng Loe Ri Pakere. Berdasarkan Lontara Patturioloanna To Marusu'ka, Karaeng Loe Ri Pakere tidak mempunyai keturunan dan nama istrinya juga tidak diketahui, namun dalam lontara tersebut menyebutkan, bahwa Karaeng Loe Ri Pakere mempunyai seorang putri angkat yang juga merupakan seorang tomanurung bergelar Tomanurunga Ri Pasandang. Tomanurunga Ri Pasandang lalu dikawinkan dengan seorang tomanurung dari daerah Luwu bergelar Tomanurung Ri Asa'ang. Dan melahirkan seorang putra yang bernama I Sangaji Ga'dong yang setelah dewasa naik tahta menjadi Karaeng Marusu' II menggantikan Karaeng Loe Ri Pakere. Ketika Karaeng Tumapa'risika Kallonna Raja Gowa IX yang memerintah sekitar tahun 1510-1546 melakukan ekspansi perluasan wilayah dengan menyerang dan menguasai negeri-negeri sekitarnya, Kerajaan Marusu' pun tak luput dari serangan tersebut. Namun, dalam serangan pertama tersebut berhasil dibendung oleh laskar-laskar Kerajaan Marusu', sehingga laskar-laskar Gowa harus pulang dengan tangan hampa. Tetapi, pada serangan berikutnya laskar-laskar Marusu' kesulitan untuk membendungnya yang mana pada akhirnya terjadi traktat persahabatan antara Karaeng Loe Ri Pakere (Raja Marusu' I) dengan Karaeng Tumapa'risi Kallonna (Raja Gowa IX). Dan semenjak saat itulah Marusu' menjadi sekutu dan sahabat dari Kerajaan Gowa. Namun, pada masa pemerintahan I Mappasomba Dg Nguraga Karaeng Patanna Langkana Tumenanga Ribuluduayya (Raja Marusu' IV), Kerajaan Marusu' justru mengangkat senjata melawan Kerajaan Gowa. Ini dikarenakan ipar beliau I Mangngayoang Berang Karaeng Pasi (Raja Tallo III) yang memperistrikan adik beliau I Pasilemba To Mammalianga Ri Tallo berperang melawan Gowa. Sehingga atas dasar kekeluargaan I Mappasomba Dg Nguraga terpaksa berdiri dipihak Tallo. Yang mana pada akhirnya peperangan ini berakhir dengan damai yang melahirkan suatu sumpah mengatakan “iya iyanamo ampasiewai Gowa na Tallo iyamo ricalla Dewata” artinya “barang siapa yang memperselisihkan Gowa dan Tallo akan dikutuk oleh yang Maha Pencipta”. Semenjak saat itu tiada lagi peperangan antara Gowa dan Tallo, bahkan timbul tradisi raja-raja Gowa menjadi raja di Tallo dan raja-raja Tallo menjadi tumabbicara butta ri Gowa (mangkubumi). Sedangkan Kerajaan Marusu' tetap menjadi sekutu dan sahabat dari Kerajaan Gowa yang senantiasa membantu Gowa dalam setiap ekspansi perluasan wilayah yangg dilakukan oleh Kerajaan Gowa.

Silsilah Raja-Raja Marusu'[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar raja-raja dan bangsawan di Sulawesi Selatan adalah keturunan Raja Marusu' (Maros), termasuk pahlawan nasional yang bergelar Ayam Jantan dari Timur Sultan Hasanuddin (Muhammad Bakir I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape, Raja Gowa XVI). Hubungan kekerabatan antara Raja Marusu' dengan raja-raja di Sulawesi Selatan diawali dengan perkawinan antara putri Karaeng Loe ri Marusu' yang bernama I Pasilemba Tumamalianga ri Tallo, yang dipersunting oleh I Mangayoang Berang Tunipasuru', Raja Tallo III”. Dari perkawinan putri Marusu' dengan Raja Tallo ini lahir KaraEng Patingalloang Tumenanga ri Makkowayang, Raja Tallo IV.

Karaeng Patingalloang Tumenanga ri Makkowayang, Raja Tallo IV yang tidak lain adalah cucu langsung dari KaraEng Loe ri Marusu' kemudian mempersunting Karaeng Sombaopu, putri dari I Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallongna, Raja Gowa IX. Dari perkawinan ini lahir Daeng Niasseng Karaeng Patingalloang, Raja Tallo V dan I Malingkaan Daeng Manyonri Karaeng Matowaya Sultan Abdullah Awwalul Islam Tumenanga ri Agamana, Raja Tallo VI.

Daeng Niasseng Karaeng Patingalloang, Raja Tallo V dipersunting oleh I Manggorai Daeng Mammeta KaraEng Bonto Langkasa' Tunijallo', Raja Gowa XII. Dari perkawinan ini lahir I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tunipasulu' Karaeng Bonto Langkasa (Raja Gowa XIII), I Mangarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (Raja Gowa XIV), dan Karaengta Balla' Bugisi'.

I Malingkaan Daeng Manyonri Karaeng Matowaya Sultan Abdullah Awwalul Islam Tumenanga ri Agamana (Raja Tallo VI) adalah Raja Makassar yang pertama memeluk agama islam. I Mallingkaan mempersunting Karaeng Mannaungi. Dari perkawinan ini lahir Karaeng Kanjilo Sultan Abdul Gaffar (Raja Tallo VII), I Mangadicinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Karaeng Patingalloang (Raja Tallo VIII), dan Karaeng Pattukangang.

I Mangarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (Raja Gowa XIV) mempersunting Daeng Maccini Karaeng Bontoa. Dari perkawinan ini lahir I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid (Raja Gowa XV). Kemudian Sultan Malikussaid mempersunting Lo'mo Tokuntu. Dan dari perkawinan ini lahir Sultan Hasanuddin (Muhammad Bakir I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape, Raja Gowa XVI). Dari sini Sultan Hasanuddin adalah keturunan ke-6 dari Karaeng Loe ri Marusu'. Salah seorang cucu langsung Sultan Hasanuddin, yakni I Mariyama Karaeng Pattukangang kemudian dipersunting oleh La Patau Matanna Tikka Walinonoe To Tenri Bali Malae Sanrang Sultan Idris Azimuddin Petta Matinroe ri Nagauleng (Raja Bone XVI). Dari Perkawinan ini lahir La Pareppai To Sappewali Sultan Sahabuddin Ismail (Raja Gowa XX & Raja Bone XIX), La Padassajati To Appaware Sultan Sulaiman (Raja Bone XVIII), La Panaungi To Pawawoi Sultan Abdullah Mansur (Raja Bone XX), dan We Yanebana.

Karaengta Balla' Bugisi' dipersunting oleh Pattiware Daeng Parabbung Sultan Muhammad Waliul Mudharuddin (Raja Luwu XV). Dari perkawinan ini lahir Pattiaraja, Pattipasaung (Raja Luwu XVI), dan We Tenri Siri Somba Baineya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar Raja Gowa, Raja Tallo, Raja Bone, dan Raja Luwu serta keturunannya yang tersebar di Sulawesi Selatan adalah keturunan Raja Maros Karaeng Loe Ri Marusu'.

I Mangadicinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Karaeng Patingalloang Tumenanga Ri Bonto Biraeng (Raja Tallo VIII juga Karaeng Tumabbicara Butta Ri Gowa. I Mangadicinna Karaeng Patingalloang adalah putra dari I Malingkaan Daeng Manyonri Karaeng Matowaya Sultan Abdullah Awwalul Islam Tumenanga Ri Agamana (Raja Tallo VI). Turunan ke-4 dari Karaeng Loe Ri Marusu' ini diangkat sebagai Tumabbicara Butta atau Mangkubumi Kerajaan Gowa pada tahun 1639, mendampingi Sultan Malikussaid yang memerintah pada tahun 1639-1653. Karaeng Pattingalloang dilantik menjadi Tumabbicara Butta Kerajaan Gowa pada hari Sabtu, tanggal 18 Juni 1639. Pada saat menjabat Mangkubumi, Kerajaan Makassar telah menjadi sebuah kerajaan terkenal dan banyak mengundang perhatian negeri-negeri lainnya.

Karaeng Patingalloang adalah putra Tallo-Marusu'-Gowa yang kepandaiannya atau kecakapannya melebihi orang-orang Bugis-Makassar pada umumnya. Dalam usia 18 tahun ia telah menguasai banyak bahasa, di antaranya Bahasa Latin, Yunani, Italia, Perancis, Belanda, Arab, dan beberapa bahasa lainnya. Selain itu juga memperdalam ilmu falak. Pemerintah Belanda melalui wakil-wakilnya di Batavia di tahun 1652 menghadiahkan sebuah bola dunia (globe) yang khusus dibuat di negeri Belanda, yang diperkirakan harganya f 12.000. Beliau meninggal pada tanggal 17 September 1654 di Kampung Bontobiraeng. Sebelum meninggalnya ia telah mempersiapkan 500 buah kapal yang masing-masing dapat memuat 50 awak untuk menyerang Ambon.

Karaeng Patingalloang adalah juga seorang pengusaha internasional, beliau bersama dengan Sultan Malikussaid berkongsi dengan pengusaha besar Pedero La Matta, Konsultan dagang Spanyol di Bandar Somba Opu, serta dengan seorang pelaut ulung Portugis yang bernama Fransisco Viera dengan Figheiro, untuk berdagang di dalam negeri. Karaeng Pattingalloang berhasil mengembangkan/meningkatkan perekonomian dan perdagangan Kerajaan Gowa. Di kota Raya Somba Opu, banyak diperdagangkan kain sutra, keramik Cina, kain katun India, kayu Cendana Timor, rempah-rempah Maluku, dan Intan Berlian Borneo.

Pada pedagang-pedagang Eropa yang datang ke Makassar biasanya membawa buah tangan yang diberikan kepada para pembesar dan bangsawan-bangsawan di Kerajaan Gowa. Buah tangan itu kerap kali juga disesuaikan dengan pesan yang dititipkan ketika mereka kembali ke tempat asalnya. Karaeng Pattingalloang ketika diminta buah tangan apa yang diinginkannya, jawabnya adalah buku. Oleh karena itu tidak mengherankan jika Karaeng Patingalloang memiliki banyak koleksi buku dari berbagai bahasa.

Karaeng Patingalloang adalah sosok cendikiawan yang dimiliki oleh Kerajaan Makassar ketika itu. Karena itu pedulinya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga seorang penyair berkebangsaan Belanda yang bersama Joost van den Vondel, sangat memuji kecendikiawannya dan membahasakannya dalam sebuah syair sebagai berikut:

“Wiens aldoor snuffelende brein Een gansche werelt valt te klein”

Yang artinya sebagai berikut: “Orang yang pikirannya selalu dan terus menerus mencari sehingga seluruh dunia rasanya terlalu sempit baginya”.

Karaeng Patingalloang tampil sebagai seorang cendekiawan dan negarawan di masa lalu. Sebelum beliau meninggal dunia, beliau pernah berpesan untuk generasi yang ditinggalkan antara lain sebagai berikut:

Ada lima penyebab runtuhnya suatu kerajaan besar, yaitu: 1. Punna taenamo naero nipakainga’ Karaeng Maggauka, 2. Punna taenamo tumanggngaseng ri lalang Pa’rasangnga, 3. Punna taenamo gau’ lompo ri lalang Pa’rasanganga, 4. Punna angngallengasemmi soso’ Pabbicaraya, dan 5. Punna taenamo nakamaseyangi atanna Manggauka.

Yang artinya sebagai berikut: 1. Apabila raja yang memerintah tidak mau lagi dinasehati atau diperingati, 2. Apabila tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri, 3. Apabila sudah terlampau banyak kasus-kasus di dalam negeri, 4. Apabila sudah banyak hakim dan pejabat kerajaan suka makan sogok, dan 5. Apabila raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya.

Beliau wafat ketika ikut dalam barisan Sultan Hasanuddin melawan Belanda. Setelah wafatnya, Karaeng Patingalloang kemudian dianugerahi gelar anumerta Tumenanga Ri Bonto Biraeng.

Raja-Raja Kerajaan Marusu'[sunting | sunting sumber]

Raja-raja atau Karaeng yang pernah memerintah Kerajaan Marusu' sebagai berikut:

  1. Karaeng Loe Ri Pakere (Karaeng Marusu' Ke-I)
  2. Karaengta Barasa Sultan Muhammad Ali (Karaeng Marusu' Ke-VI)
  3. Kare Yunusu Sultan Muhammad Yunus (1700, Karaeng Marusu' Ke-VII)
  4. La Mamma Daeng Marewa Matinroe Ri Samangki (1723 - 1779, Karaeng Marusu' Ke-VIII)
  5. Andi Abdul Latifu Daeng Mattana Matinroe (1779 - 1827, Karaeng Marusu' Ke-IX)
  6. La Mappalewa Daeng Mattayang (1827 - 1854, Karaeng Marusu' Ke-X)
  7. Andi Mannyandari Daeng Paranreng Matinroe ri Campagae (1855, Karaeng Marusu' Ke-XI)
  8. Andi Mallawakkang Daeng Pawello Matinroe Ri Kuri (1856-1886, Karaeng Marusu' Ke-XII)
  9. Andi Surulla Petta Lopo Matinroe Ri Bundu'na (1886 - 1889, Karaeng Marusu' Ke-XIII)
  10. I Mappasossong Daeng Pabundu (1889 - 1892, Karaeng Marusu' Ke-XIV)
  11. I Pake Daeng Masiga (1892 - 1932, Karaeng Marusu' Ke-XV)
  12. Abdul Hafid Daeng Ma'ronrong (1923 - 1944, Karaeng Marusu' Ke-XVI)
  13. Andi Muhammad Tajuddin Daeng Masiga (1944 - 1963, Karaeng Marusu' Ke-VII)
Wilayah Hukum Kerajaan Marusu'[sunting | sunting sumber]

Daerah-daerah yang menjadi wilayah hukum Kerajaan Marusu' adalah melingkupi 34 kampung sebagai berikut:

  1. Taipa (sekarang masuk bagian dari Desa Majannang)
  2. Baru-Baru (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Hasanuddin)
  3. Kaemba (sekarang masuk bagian dari Desa Pa'bentengan)
  4. Pampangan (sekarang masuk bagian dari Desa A'bulosibatang)
  5. Kanjitongang (sekarang masuk bagian dari Desa Mattirotasi)
  6. Jawi-Jawi (sekarang masuk bagian dari Desa Majannang)
  7. Kampala (sekarang masuk bagian dari Desa Bonto Matene)
  8. Barambang (sekarang masuk bagian dari Desa Bonto Matene)
  9. Allu (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Baji Pamai)
  10. Kaluku (sekarang masuk bagian dari Desa Borimasunggu)
  11. Manrimisi Marusu (sekarang masuk sebagian dari wilayah Kelurahan Baji Pamai dan Desa Mattirotasi)
  12. Kuri Lompo (sekarang masuk bagian dari Desa Nisombalia)
  13. Kassikebo (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Baju Bodoa)
  14. Betang (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Baju Bodoa)
  15. Bentang (sekarang masuk bagian dari Desa Pattontongan)
  16. Marusu (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Pallantikang)
  17. Data (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Pallantikang)
  18. Palisi (sekarang masuk bagian dari Desa Tellumpoccoe)
  19. Bontobiraeng (sekarang masuk bagian dari Desa Bonto Matene)
  20. Bontomanai (sekarang masuk bagian dari Desa Laiya)
  21. Patte'ne (sekarang masuk bagian dari Desa Temmapadduae)
  22. Pangkaje'ne (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Pallantikang)
  23. Lekoala (sekarang masuk bagian dari Desa Borikamase)
  24. Tekolabbua (sekarang masuk bagian dari Desa Borimasunggu)
  25. Matana (sekarang masuk bagian dari Desa Tellumpoccoe)
  26. Bulu-Bulu (sekarang masuk bagian dari Desa Marumpa)
  27. Kalli-kalli (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Adatongeng)
  28. Mannuruki (sekarang masuk bagian dari Desa Minasa Baji)
  29. Mambue (sekarang masuk bagian dari Desa Nisombalia)
  30. Bontokappong (sekarang masuk bagian dari Desa Tukamasea)
  31. Batiling (sekarang masuk bagian dari Desa Bonto Matene)
  32. Leppakkomai (sekarang masuk bagian dari Desa Borimasunggu)
  33. Mannaungi (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Alliritengae)
  34. Satanggi (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Baji Pamai)
Pembagian Kasta[sunting | sunting sumber]

Seperti halnya dengan kerajaan-kerajaan lain, di Kerajaan Marusu' juga terjadi pembagian kasta yang terdiri dari tiga tingkatan yaitu: a. Ana' karaeng/ ana' arung, yaitu golongan bangsawan. Golongan ini terbagi lagi ke dalam beberapa bagian antara lain:

  1. Pattola / mattola, yaitu anak raja dan permaisuri yang merupakan pewaris tahta.
  2. Ana' manrapi, yaitu anak dari saudara kandung raja yang ibunya juga dari kalangan sederajat.
  3. Ana' sipuwe yang berdarah setengah bangsawan.
  4. Ana' cera yaitu anak yang lahir dari pernikahan ayahnya seorang anak raja sedangkan ibunya dari golongan tumaradeka (rakyat biasa).
  5. Ana' kereng sala, yaitu anak yang terlahir dari ayah setengah bangsawan dan ibu seorang ata/budak.

b. Tumaradeka, yaitu golongan rakyat biasa. Tumaradeka dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

  1. Tu baji/madeceng, yaitu golongan rakyat biasa yang tidak diperhambakan atau terhormat yang bergelar daeng.
  2. To samara, yaitu rakyat kebanyakan yang tidak menggunakan daeng terkecuali diperistrikan oleh kaum bangsawan.

c. Ata, yaitu golongan budak/hamba sahaya. Ata dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

  1. Ata sossorang, yaitu budak yang diwariskan turun-temurun.
  2. Ata nibuang, yaitu golongan budak yang berasal dari tawanan perang.
Asal Kata Marusu[sunting | sunting sumber]

Kalau kita menyelidiki dari mana asal kata dan penamaan Marusu, maka ada beberapa pendapat yang mengemukakannya dan masing-masing versi didasari oleh cerita yang berbeda-beda, sehingga sulit menarik kesimpulan tentang versi atau pendapat mana yang paling tepat. Berdasarkan cerita-cerita peninggalan para leluhur serta kepingan catatan yang ada, dikemukakan beberapa cerita tentang asal kata Marusu dalam beberapa versi yang berbeda, yaitu:

a. Marusu berasal dari kata A'maru atau Appa' Maru yang artinya dimadu atau memadu beberapa istri. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu ada seorang putri Maros yang dimadu oleh raja dari daerah lain atau Raja Marusu itu sendiri. Berdasarkan Lontara Bilang Raja Gowa dan Tallo atau Lontara Tallo, diceritakan bahwa ketika menjadi Raja Tallo ialah I Mangngayoang Berang Karaeng Pasi Tunipasuru salah seorang dari putri Karaeng Loe Ri Marusu, Raja Marusu III yang bernama I Pasilemba yang dimadu oleh raja tersebut, yang melahirkan:

  1. I Mappataka'tana Daeng Padulung (Raja Tallo IV)
  2. I Yenang Daeng Palengu
  3. Karaeng Barampatola (istri I Tajibarani Daeng Marompa Tunibatta Raja Gowa XI)
  4. I Daeng Maddaeng
  5. Karaeng Ri Langkanaya
  6. Karaenga Ri Sinjai
  7. I Karaeng Ri Tidung
  8. I Karaeng Bontokappo
  9. Karaeng Ri Mangarabombang
  10. Karaeng Ri Ujung Tanah

Dan ada pula peninggalan cerita yang mengatakan bahwa Karaeng Marusu IX La Mamma Daeng Marewa Matinroe Ri Samangki mempunyai istri sebanyak 41 orang. Di samping kenyataan tersebut, Raja/Bangsawan Marusu memang pada dekade selanjutnya memadu beberapa istri meskipun terkadang tidak sederajat dengannya.

b. Versi kedua ialah bahwa kata “Marusu” Berasal dari kata Bahasa Makassar “Rusung” dan atau Bahasa Bugis “Marusung” yang mana makna dari kedua kata tersebut sama, yaitu suatu keadaan yang sederhana baik sebagai individu maupun kelompok masyarakat. Jika kata tersebut berubah menjadi kata ulang “A'rusung-rusung” atau “Ma'rusung-rusung”, maka akan bermakna hal yang menunjukan pada seseorang yang mempunyai keahlian dan kelebihan dalam membawakan diri dan pribadi baik itu menyangkut kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan masyarakat guna memperjuangkan sesuatu tanpa mengenal pengorbanan serta pantang mundur atau menyerah sebelum maksud dan ide-idenya tercapai. Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa penamaan daerah ini menjadi Marusu sebagai perubahan bunyi dari Rusung atau Marusung karena keadaan atau makna yang terkandung dalam kata tersebut menggambarkan pembawaan dan cara hidup masyarakatnya serta para perilaku para pemimpinnya di kala itu.

c. Versi ketiga ialah catatan yang menulis bahwa kata “Marusu” berasal dari kata “Maroso”, yaitu berasal dari nama seseorang pemilik kedai yang letak kedainya tepat di tengah daerah ini. Kedai tersebut menjadi tempat persinggahan Kafilah ke dan dari Bone ke Gowa atau sebaliknya. Sehingga oleh para Kafilah sering timbul pembicaraan di tengah perjalanan jika kedua rombongan kafilah tersebut berpapasan, tentang tempat mereka mengaso dan beristirahat yang dijawab “di Maroso” sehingga berawal dari nama pemilik kedai berkembang menjadi nama daerah dimana Kedai Maroso tersebut berada, yaitu: Marusu, sebagai perubahan bunyi dari kata Maroso.[7]

Kerajaan Bontoa[sunting | sunting sumber]

Latar Belakang Kerajaan Bontoa[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Bontoa terletak di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Kepala pemerintahannya dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Karaeng. Kerajaan Bontoa berdiri pada tahun 1700 oleh I Mannyarrang, seorang bangsawan dari daerah Bangkala putra dari I Pasairi Dg Mangngasi Karaeng Labbua Tali Bannangna Raja Bangkala dari istrinya I Daeng Takammu Karaeng Bili' Tangngayya putri dari I Monriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng Raja Gowa X (1546-1565). Muh. Aspar di dalam artikelnya berjudul “Riwayat Gallarang Bontoa” menulis bahwa daerah ini sebelumnya merupakan wilayah yang dikuasai oleh Karaeng Marusu', sebagaimana yang diriwayatkan oleh J.A.B. Van De Broor tentang Randji Silsilah Regent Van Bontoa (1928). J.A.B. Van De Broor meriwayatkan I Mannyarrang sebagai utusan dari Raja Gowa untuk memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa. Sehingga, Karaeng Marusu mempersilahkan I Manyarrang membuka daerah baru yang menjadi kekuasaan Gowa. Namun, dalam Lontara sejarah Karaeng Loe Ri Pakere yang di tulis Andi Syahban Masikki (1889) oleh W. Cumming Reppaading The Histoies of Maros Choronicle tidak menempatkan Bontoa sebagai wilayah yang dikuasai Marusu'.

Ekspansi besar-besaran Kerajaan Gowa sejak masa kekuasaan Karaeng Tumapakrisika Kallonna (memerintah 1400-an), Raja Gowa IX, merubah peta geografi politik kawasan Sulawesi Selatan. Kerajaan Marusu' yang dulunya merupakan kerajaan merdeka dan berdaulat, langsung berada dibawah dominasi Kerajaan Gowa. Serangan Gowa ke sebelah utara hampir pasti tidak mendapatkan perlawanan yang berarti, wilayah paling utara Marusu', Bontoa yang berbatasan dengan Binanga Sangkara, wilayah Barasa (Pangkajene) dengan mudah ditaklukkan sejak masa kekuasaan Raja Gowa X, Karaeng Tunipalangga (1546–1565). Supaya lebih mudah mengendalikan daerah pertanian padi basah yang subur ini, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng, Raja Gowa X mengutus I Mannyarrang, seorang bangsawan dari Bangkala, putra dari I Pasairi Daeng Mangngasi Karaeng Labbua Tali Bannangna, Karaeng Bangkala dari istrinya I Daeng Takammu Karaeng Bili' Tangngayya untuk menjadi karaeng maggau' di wilayah tersebut.

Daftar Raja di Kerajaan Bontoa[sunting | sunting sumber]

Raja-raja atau Karaeng yang pernah memerintah Kerajaan Bontoa sebagai berikut:

  1. I Mannyarang (Karaeng Bontoa I)
  2. I Mannyuwarang (Karaeng Bontoa II)
  3. I Daeng Siutte (Karaeng Bontoa III)
  4. I Daeng Mangnguntungi (Karaeng Bontoa IV)
  5. I Pakandi Dg Massuro (Karaeng Bontoa V)
  6. I Pandima Dg Maliongi (Karaeng Bontoa VI)
  7. I Daeng Tumani (Karaeng Bontoa VII)
  8. I Mangngaweang Dg Manggalle (Karaeng Bontoa VIII)
  9. I Reggo Dg Mattiro (Karaeng Bontoa IX)
  10. I Parewa Dg Mamala (Karaeng Bontoa X)
  11. I Sondong Dg Mattayang (Karaeng Bontoa XI)
  12. I Baoesad Dg Sitaba Karaeng Tallasa (Karaeng Bontoa XII)
  13. I Bambo Dg Matekko (Petta Tekko) (Karaeng Bontoa XIII)
  14. Andi Radja Dg Manai (Hoof District) (Karaeng Bontoa XIV dan XVI)
  15. Abdul Maula Intje Djalaluddin (Hoof District) (Karaeng Bontoa XV)
  16. Andi Muhammad Dg Sisila (Hoof District) (Karaeng Bontoa XVII dan XIX)
  17. Andi Djipang Dg Mambani (Hoof District) (Karaeng Bontoa XVIII dan XX)
  18. Andi Radja Dg Manai Karaeng Loloa (Hoof District) (Karaeng Bontoa XXI)
  19. Andi Muhammad Yusuf Dg Mangngawing (Hoof District) (Karaeng Bontoa XXII sebagai Karaeng Bontoa yang terakhir)

Kerajaan Simbang[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Simbang terletak di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Wilayah Kerajaan Simbang tepat di antara Kerajaan Bone dan Gowa. Luasnya melingkupi 24 Kampung. Pertama kali berpusat di Sampakang. Kerajaan Simbang didirikan sebagai sebuah kerajaan oleh La Sanrima Daeng Pabelo yang bergelar Baso Mallawati Ana'batta'na Gowa pada tahun 1709. Beliau ini adalah putera dari La Mappareppa Tosappewali Arung Palakka Karaeng Ana'moncong Sultan Ismail Tumenanga Ri Somba Opu (Somba Gowa XX/Mangkau Bone XIX/Datu Soppeng XXII) dari istri bernama I Mira Karaenga Ri Gowa. La Sanrima Daeng Pabelo meninggalkan negerinya Kerajaan Gowa akibat kekecewaan atas campur tangan Hindia Belanda terhadap suksesi pemerintahan Kerajaan Gowa dimana dirinya yang seharusnya naik tahta menggantikan ayahandanya tetapi oleh Hindia Belanda diserahkan kepada I Mappau'rangi Karaeng Boddia, akibat kekecewaan ini sehingga beliau keluar mendirikan Kerajaan Simbang pada sekitar tahun 1709.

Sejarah Penamaan Simbang[sunting | sunting sumber]

Dikatakan simbang (batas), sebab terletak antara Kerajaan Gowa dan Bone. Namun menurut sejarawan dan budayawan Maros, A. Fachri Makkasau dalam bukunya berjudul “Kerajaan-Kerajan di Maros dalam Lintasan Sejarah” mengatakan bahwa simbang berasal dari kata “sembang” yang artinya “menggantungkan di bahu”. dikatakan demikian, sebab pada saat Karaeng Ammallia Butta pertama kali datang membuka daerah ini, beliau menggantungkan regelia/kalompoang yang dibawanya dari Gowa di bahunya, sehingga rakyat setempat memberinya gelar Karaeng Sembang, yang lalu berubah bunyi menjadi “Simbang”. Kerajaan ini berdiri pada sekitar awal tahun 1700 oleh La Pajonjongi Petta Sanrimana Belo Karaeng Ammallia Butta Ri Marusu yang merupakan bangsawan Gowa dan Bone, putra dari La Pareppa Tosappewali Sultan Ismail Tumenanga Ri Somba Opu.

Daftar Raja di Kerajaan Simbang[sunting | sunting sumber]

Urutan raja-raja yang memerintah Simbang sejak tahun 1709–1963 adalah:

  1. La Sanrima Daeng Pabelo Baso Mallawati Ana Batta'na Gowa Karaeng Ammallia Butta (1709, Karaeng Simbang Ke-I)
  2. La Pajonjongi Karaeng Appakaluaraka Butta (Karaeng Simbang Ke-II)
  3. La Pagala Daeng Masarro Karaeng Sabuka (Karaeng Simbang Ke-III)
  4. La Sengka Daeng Nimalo Karaeng Kanjilo (Karaeng Simbang Ke-IV)
  5. La Rassang Karaeng Bukkuka (Karaeng Simbang Ke-V)
  6. La Baso Daeng Ngitung Karaeng Cidutoa (Karaeng Simbang Ke-VI), Pemerintahan dijalankan oleh Kare Daeng Manja Sullewatang Simbang
  7. La Sulaimana Daeng Masikki (Karaeng Simbang Ke-VII), Pemerintahan dijalankan oleh Kare Daeng Sitoro Sullewatang Simbang
  8. La Dolo Daeng Patokkong Petta Corawalie Ri Makuring (Karaeng Simbang Ke-VIII), Pemerintahan dijalankan oleh Kare Daeng Mattari Sullewatang Simbang
  9. La Oemma Daeng Manrapi Karaeng Turikale Matinroa Ri Bonto Muloro (Karaeng Simbang Ke-IX)
  10. H. Andi Patahoeddin Daeng Paroempa Sullewatang Turikale (Karaeng Simbang Ke-X)
  11. Andi Amiroeddin Daeng Pasolong Karaeng Co'boe (Karaeng Simbang Ke-XI)
  12. H. Andi Siradjoeddin Daeng Maggading (1963, Karaeng Simbang Ke-XII)
Wilayah Hukum Kerajaan Simbang[sunting | sunting sumber]

Daerah-daerah yang menjadi wilayah hukum Kerajaan Simbang adalah melingkupi 24 kampung sebagai berikut:

  1. Samanggi (sekarang masuk bagian dari Desa Samangki)
  2. Tanetea (sekarang masuk bagian dari Desa Alatengae)
  3. Tana Takko (sekarang masuk bagian dari Desa Alatengae)
  4. Bontobua (sekarang masuk bagian dari Desa Alatengae)
  5. Nipa (sekarang masuk bagian dari Desa Tanete)
  6. Sege-Segeri (sekarang masuk bagian dari Desa Alatengae)
  7. Banyo (sekarang masuk bagian dari Desa Bontotallasa)
  8. Bontokamase (sekarang masuk bagian dari Desa Tanete)
  9. Sambueja (sekarang masuk bagian dari Desa Sambueja)
  10. Camba-Camba
  11. Rumbia (sekarang masuk bagian dari Desa Tanete)
  12. Allu (sekarang masuk bagian dari Desa Alatengae)
  13. Bukkangmata (sekarang masuk bagian dari Desa Tanete)
  14. Tallasa (sekarang masuk bagian dari Desa Samangki)
  15. Bontopa'dinging (sekarang masuk bagian dari Desa Bontotallasa)
  16. Pakalu (sekarang masuk bagian dari Kelurahan Kalabbirang)
  17. Garangtiga (sekarang masuk bagian dari Desa Simbang)
  18. Patte'ne (sekarang masuk bagian dari Desa Alatengae)
  19. Sampakang (sekarang masuk bagian dari Desa Simbang)
  20. Batubassi (sekarang masuk bagian dari Desa Jenetaesa)
  21. Pakere (sekarang masuk bagian dari Desa Bontotallasa)
  22. Gantarang
  23. Aloro (sekarang masuk bagian dari Desa Sambueja)
  24. Bantimurung (sekarang masuk bagian dari Desa Jenetaesa)

Pada tahun 1963, Simbang diubah bentuknya dari sebuah Kerajaan/Distrik Adat Gemenschaap menjadi sebuah Kecamatan dengan nama Kecamatan Bantimurung, dengan camat pertama ialah H. Andi Sirajuddin Daeng Maggading (Karaeng Simbang XII).

Kerajaan Tanralili[sunting | sunting sumber]

Tanralili berasal dari kata “tenri” dan “lili” yang berarti tak dapat ditundukkan, dikatakan demikian karena daerah ini terkenal akan wataknya yang keras dan pemberani. Didirikan pertama kali oleh bangsawan Bone bernama La Mappaware Dg Ngirate Batara Tanralili Bulu' Ara'na Bulu yang merupakan keturunan dari La Patau Matanna Tikka Sultan Alimuddin Idris Mattinroe Ri Naga Uleng (Raja Bone XVI) pada sekitar tahun 1700.

Raja-raja atau Karaeng yang pernah memerintah Kerajaan Tanralili sebagai berikut:

  1. Lamappaware Daeng Ngirate (Batara Tanralili) Matinroa Ri Tompo Bulu (Karaeng Tanralili I)
  2. I Daeng Tanralili Matinroa Ri Masale (Karaeng Tanralili II)
  3. I Lele Daeng Ri Moncong Matinroa Ri Tallo (Karaeng Tanralili III)
  4. Ipangjanggau Daeng Mamala Matinroa Ri Solojirang ((Karaeng Tanralili IV)
  5. Imalluluang Daeng Mannimbangi Matinroa Ri Cidu Toa (Karaeng Tanralili V)
  6. Icalla Daeng Mabbunga Karaeng Borong (Karaeng Tanralili VI)
  7. Inyimpung Daeng Palallo (Karaeng Tanralili VII)
  8. I Toe Daeng Pagajang Tallea Ri Bima (Karaeng Tanralili VIII)
  9. Ipungruang Daeng Mangngati Matinroe Ri Bengkalis (Karaeng Tanralili IX)
  10. I Burane (Abd. Gani) Daeng Manromo Karaeng Jawayya (Karaeng Tanralili X)
  11. I Nanggong Daeng Mattimu (Karaeng Tanralili XI)
  12. Andi Abdullah Daeng Mattimu (Karaeng Tanralili XII)
  13. Andi Baduddin Daeng Mannuntungi (Karaeng Tanralili XIII)

Kerajaan Lau'[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Lau' terletak di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Kerajaan Lau' berdiri pada sekitar tahun 1824 oleh La Mattotorang Pagelipue Abdul Wahab Daeng Mamangung Mattinroe Ri Laleng Tedong, putra dari La Mauraga Daeng Malliungang Sultan Adam Datu Mario Ri Wawo, cucu dari We Tenri Leleang Sultanah Aisyah Datu Tanete. Pajung Luwu XXVI, Mattinroe Ri Soreang diperistrikan oleh La Malliongang Datu Mattinroe Ri Sapirie. Lau' pada awalnya adalah sebuah daerah kasullewatangan (kesultanan) yang dibentuk dalam tahun 1824 ketika pasukan Bone berhasil diusir dari wilayah Maros, oleh pemerintah Gubernemen membentuk empat daerah Kasullewatangan yaitu Lau', Wara, Raya, dan Timboro'. Yang menjadi Sullewatang Lau' pertama adalah La Mattotorang Pagelipue Abdul Wahab Daeng Mamangung Mattinroe Ri Laleng Tedong, putra dari La Mauraga Sultan Adam Datu Mario Ri Wawo dari istri bernama Ince Jauhar Manikam I Denra Petta Walie putri dari Ince Abi Asdollah Dato' Pabean, Bendahara Kerajaan Gowa. Selanjutnya La Mattotorang Daeng Mamangung diangkat menjadi Regent/Karaeng Lau' pertama ketika seluruh daerah pemerintahan adat di Maros dibentuk menjadi Regentschappen. Ketika wafat La Mattotorang Daeng Mamangung dimakamkan di Laleng Tedong sehingga diberi gelar anumerta Matinroe Ri Laleng Tedong.

Daftar Raja di Kerajaan Lau'[sunting | sunting sumber]
  1. La Mattotorang Pagelipue Abdul Wahab Daeng Mamangung Mattinroe Ri Laleng Tedong (Sullewatang Lau' Ke-I)
  2. La Mattotorang Daeng Mamangung Matinroe Ri Laleng Tedong (Karaeng Lau' Ke-I)
  3. La Tenrowang Daeng Pasampa Matinroe Ri Manrimisi (Karaeng Lau' Ke-II)
  4. La Rombo Muhammad Saleh Daeng Lullu Matinroe Ri Kassikebo (Karaeng Lau' Ke-III)
  5. Andi Pappe Daeng Massikki (Karaeng Lau' Ke-IV)
  6. Andi Abdullah (Karaeng Lau' Ke-V)

Kerajaan Turikale[sunting | sunting sumber]

Pemandangan perkampungan di Maros sekitar tahun 1929

Wilayah Turikale pada awalnya hanya didiami segelintir manusia dengan cara hidup tidak menetap. Daerahnya pun masih merupakan hutan-hutan dan daerah persawahan. Sungai Maros melintas di tengahnya. Setelah Karaeng Loe Ri Marusu' (Raja Maros III) memindahkan pusat kerajaan dari Pakere ke Marusu', penduduk Pakere dan beberapa kampung di sekitarnya yang banyak penduduknya mulai berpindah mendekati pusat kerajaan yang baru membuka perkampungan dan pemukiman baru.

Putra Karaengta Barasa yang bernama Muhammad Yunus Daeng Pasabbi (Kare Yunusu), dikirim oleh ayahandanya mengikuti Pendidikan Tinggi Agama Islam di Bontoala. Dalam masa pendidikannya ia berkenalan dengan salah seorang putra Raja Tallo (I Mappau'rangi Karaeng Boddia) yang bernama I Mappibare Daeng Mangiri. Persahabatan yang terjalin di antara mereka sangatlah akrab. Mereka berdua setiap ada kesempatan saling bertukar pikiran dan berdiskusi dalam banyak hal, baik menyangkut ketatanegaraan terlebih lagi ikhwal Agama Islam.

Setelah Karaengta Barasa mangkat, Muhammad Yunus Daeng Pasabbi naik tahta menggantikan ayahnya sebagai Raja Maros VIII. Di masa pemerintahannya, beliau kemudian mengajak sahabatnya I Mappibare Daeng Mangiri untuk menetap di Maros untuk bersama-sama memajukan agama Islam. I Mappibare Daeng Mangiri ternyata tidak keberatan lalu menetaplah ia di Maros dan kepadanya diberikan wilayah ini sebagai wilayah yang dikuasainya sekaligus sebagai tempat I Mappibare Daeng Mangiri melaksanakan kegiatan pengembangan Ilmu Agama Islam. Dari sinilah Kerajaan Turikale berdiri pada sekitar tahun 1700 oleh I Mappiare Dg Mangngiri, putra dari Raja Gowa/Tallo I Mappau'rangi Karaeng Boddia Sultan Sirajuddin. Perkampungan yang diberikan kepadanya itu diberi nama turikale artinya teman dekat atau kerabat dekat, untuk memberikan pertanda bahwa I Mappibare Daeng Mangiri yang diberi kuasa menempatinya adalah kerabat keluarga yang sangat akrab. Dikatakan kerabat dekat karena bangsawan yang pertama kali membuka daerah ini adalah putra Raja Gowa sendiri. Namun pendapat kedua mengatakan, bahwa penamaan Turikale dikarenakan raja-raja yang memerintah di Turikale menjalin hubungan yang dekat dengan pihak Hindia Belanda, namun pendapat ini banyak mendapat tentangan, sebab tidak semua raja-raja Turikale yang menjalin hubungan yang dekat dengan Hindia Belanda. Bahkan banyak diantaranya yang sangat anti terhadap Hindia Belanda.

Maka jadilah Turikale yang tadinya sebuah perkampungan tidak bertuan menjadi wilayah yang teratur, sebab menjadi pusat pendidikan agama islam. Statusnya sebagai wilayah otoritas pengembangan islam tetap dipertahankan. Turikale bukan sebagai wilayah hukum berpemerintahan melainkan kesannya lebih seperti sebuah daerah khusus istimewa. I Mappibare Daeng Mangiri memperistrikan seorang puteri bangsawan Gowa bernama I Duppi Daeng Ma'lino dan setelah mangkat kepemimpinannya digantikan oleh putranya bernama I Daeng Silassa. I Daeng Silassa memperistrikan sanak keluarganya dari Gowa/Tallo yang bernama Habiba Daeng Matasa, yang melahirkan sepasang putra-putri, yaitu I Lamo Daeng Ngiri dan I Tate Daeng Masiang.

I Lamo Daeng Ngiri ini sekitar tahun 1796 kemudian membuka babakan baru di Turikale setelah menjadikan Turikale tidak saja sebagai daerah pengembangan agama islam, tetapi juga sebagai sebuah daerah yang berotonomi dan berpemerintahan sendiri. Hal ini tentu sangat memungkinkan bagi I Lamo Daeng Ngiri, sebab Turikale telah memiliki pengaruh yang sangat luas. Turikale kemudian diproklamirkan sebagai sebuah Kerajaan berpemerintahan sendiri yang lepas dari kekuasaan hukum kerajaan mana pun juga.

Setelah ayahandanya mengundurkan diri pada tahun 1892, maka sebagai putra tertua yang telah lama aktif membantu ayahandanya mengendalikan pemerintahan, Andi Palaguna Daeng Marowa lalu dilantik menjadi Regent (Karaeng) Turikale, meski pada awalnya yang dipersiapkan untuk menjadi Regent adalah adiknya Andi Page Daeng Paranreng, namun enggan karena ternyata lebih mendalami persoalan keagamaan dan merestui pengangkatan kakaknya menduduki tahta Turikale. Sebagaimana watak dan prilaku ayahandanya, beliau ini pun seorang yang amat mendalami Tarekat Khalwatiah Samman sehingga penampilan, tutur kata, dan sikap laku beliau amat teladan dan kharismatik. Beliau menerima idzin dan padlilah sebagai seorang khalifah dalam tarekat tersebut dari ayahandanya atas restu Syekh Besar di Leppakkomai dan mempunyai nama Islam Syekh Muhammad Salahuddin ibni Syekh Al-Haj Abdul Qadir Jaelani. Ketika beliau naik tahta, turut mendampinginya sebagai Sullewatang (Acting Regent) ialah Andi Patahuddin Daeng Parumpa, hal ini karena beliau faham betul bahwa Andi Patahauddin Daeng Parumpa juga berhak atas tahta Turikale sebab beliau adalah putra mendiang La Oemma Daeng Manrapi Karaeng Turikale III. Selanjutnya kepada Andi Patahuddin Daeng Parumpa diserahkan kembali wilayah Simbang yang seluas 24 kampung untuk dikuasainya. Andi Palaguna Daeng Marowa memperistrikan pertama kali Andi Djamintang Daeng Jimene, putri Karaeng Ngemba Karaengta Kera-kera, dari istri ini lahir: Andi Abdul Hamid Daeng Manessa (Karaeng Turikale VI), Andi Marzuki Daeng Marewa, Andi Zainuddin Daeng Mangatta (Karaeng Imam Turikale), Andi Juhaefa Daeng Tasabbe (Istri Andi Abdul Rahman Daeng Mamangung, Controlleur Maros/Putra Andi Patahuddin Daeng Parumpa Karaeng Simbang/Sullewatang Turikale), dan Andi Radeng Ramlah Daeng Nipuji (istri Andi Djipang Daeng Mambani Karaeng Bonto). Selanjutnya diperistrikannya lagi St. Malang Daeng Sibollo yang melahirkan: Andi Baso Daeng Magassing, Andi Halimah Daeng Ke'nang, dan Andi Mapparessa Daeng Sitaba (Karaeng Turikale VII). Terakhir Andi Palaguna Daeng Marowa memperistrikan St. Sakone Daeng So'na dan melahirkan: Andi Aisyah Daeng Kebo, Andi Fatimah Daeng Galo, Andi Hatifa Daeng De'nang, Andi Yahya Daeng Nyonri, dan Andi Sohrah Daeng Senga.

Pada tahun 1917, Andi Palaguna Daeng Marowa mulai kurang aktif mengendalikan pemerintahan. Tugas pemerintahan lebih banyak dijalankan oleh putra sulungnya Andi Abdul Hamid Daeng Manessa. Kegiatan beliau lebih banyak pada pelaksanaan Tarekat Khalwatiah Samman dan upaya membuka sawah dan ladang di daerah Mangento Tanralili dan sekitarnya yang selanjutnya dibagikan kepada para pengikutnya. Oleh karena itu selanjutnya beliau disebut dengan gelar Karaeng Mangento. Pada saat pemerintahan beliau yang menjadi Kadhi ialah Sayyid Abdul Wahid Daeng Mangngago (1889-1918) dan Sayyid Abdul Hamid Daeng Pasampa (1918-1923) sedangkan yang menjabat Imam adalah Haji Andi Muhammad Saleh Daeng Manappa. Dalam masa pemerintahannya pula, beliau bersama dengan seluruh Karaeng dan Imam yang ada dalam Wilayah Maros sepakat untuk mengangkat Haji Abdul Kadir Daeng Mangngawing Imam Marusu menjadi Kadhi Maros menyebabkan berpindahnya pusat kedudukan Kadhi dari Labuan (Turikale) ke Kassikebo (Marusu). Beliau pula yang memerintahkan agar Arajang/Kalompoang (Regelia) Turikale yang disebut “Rakkala Manurunge” dialihkan tempat persemayamannya ke Tala'mangape, sebab beliau khawatir sikap kultur kebendaaan terhadap arajang/kalompoang dapat membuat masyarakat Turikale merusak akidahnya. Pada Tahun 1925 secara resmi beliau mundur dari jabatannya dan digantikan putranya. Tanggal 15 Februari 1939, beliau berpulang kerahmatullah dan dimakamkan di belakang Masjid Urwatul Wutzqa tepat di sisi kanan makam ayahandanya.

Andi Abdul Hamid Daeng Manessa mulai ikut mengendalikan pemerintahan di Turikale sejak Tahun 1917 ketika ayahandanya pergi menetap ke Mangento membuka sawah dan ladang, namun pengangkatannya sebagai Karaeng Turikale secara resmi adalah tahun 1924. Dalam masa pemerintahannyalah bentuk pemerintahan Kerajaan lokal di Wilayah Maros termasuk Turikale berubah dari status sebagai Regentschaap menjadi Distrik Adat Gemenschaap yang dikepalai oleh seorang Kepala Distrik dengan gelar Karaeng, dengan demikian para penguasa kerajaan lokal telah ditetapkan sebagai Pegawai Negeri/Ambtenar oleh pemerintah kolonial Belanda dan diberi gaji/tunjangan sesuai jabatannya. Beliau dikenal sebagai seorang Karaeng yang berwatak keras dan tegas, sikap perjuangan yang ditunjukkannya adalah anti kolonialisme sehingga secara transparan tidak mau menerima ajakan kerjasama pihak Belanda. Bahkan secara aktif menyokong jalannya perjuangan rakyat menentang kekuasaan Belanda. Tak jarang beliau sendiri yang memimpin rapat-rapat dengan pimpinan perjuangan rakyat baik bertempat di rumahnya maupun di kantornya. Andi Abdul Hamid Daeng Manessa hanya sekali beristri, yaitu dengan Andi Nyameng Daeng Manurung dan dari perkawinannya ini dianugerahi keturunan sebagai berikut: Andi Hadia Daeng Niasi (istri dari Andi Tambi Karaeng Bungoro), Andi Nurdin Sanrima (Brigadir Jenderal Polisi), Andi Djohar Daeng Sompa, Andi Sima Daeng Jime, dan Andi Djamil Daeng Pabundu. Dalam masa pemerintahannya kedudukan Kadhi tidak lagi di Labuan Turikale, tetapi di Kassikebo Marusu dan yang menjabatnya ialah Haji Abdul Kadir Daeng Mangngawing. Sedangkan yang menjabat sebagai Imam Turikale dalam masa ini ialah Haji Andi Page Daeng Parenreng (Petta Hajji) yang menjabat pada tahun 1928-1930 kemudian dilanjutkan oleh Haji Andi Abdul Latief Daeng Matekko (1930-1938) dan Haji Andi Zainuddin Daeng Mangatta (1938-1943). Setelah kesehatan beliau sudah mulai uzur sehingga tidak memungkinkan lagi untuk mengendalikan pemerintahan, lalu mengundurkan diri dan digantikan oleh adiknya dari lain ibu Haji Andi Mapparessa Daeng Sitaba.

Raja-raja yang memerintah Kerajaan Turikale sebagai berikut:

  1. I Lamo Daeng Ngiri (Karaeng Turikale I, 1796 - 1831)
  2. Muhammad Yunus Daeng Mumang (Karaeng Turikale II, 1831 - 1859)
  3. La Oemma Daeng Manrapi (Karaeng Turikale III, 1859 - 1872)
  4. I Sanrima Daeng Parukka (Karaeng Turikale IV, 1872 - 1882)
  5. I Palaguna Daeng Marowa (Karaeng Turikale V, 1882 - 1817)
  6. Andi Abdul Hamid Daeng Manessa (Karaeng Turikale VI, 1917 - 1946)
  7. Haji Andi Mapparessa Daeng Sitaba (Karaeng Turikale VII, 1946 - 1959)
  8. Brigjen Pol. (Purn.) Dr. H. Andi Achmad Aflus Mapparessa, M.M., M.Si (Karaeng Turikale VIII, 5 September 2019 - sekarang)


Sebagian pandangan dewan adat Kerajaan Turikale menyebutkan bahwa Andi Kamaruddin Sjahban Daeng Mambani (Karaeng Turikale VIII, 1959 - 1963) dan Hj. Andi Alice Tenriawaru Karaeng Rannu (Karaeng Turikale IX, April 2019 - sekarang) berdasarkan mazhab (garis keturunan)
Wilayah-wilayah yang merupakan daerah hukum Kerajaan Turikale meliputi 43 kampung sebagai berikut:

  1. Reda Beru
  2. Solojirang
  3. Bonto Kapetta
  4. Kasuarrang
  5. Soreang
  6. Bontocabu
  7. Tambua
  8. Kassijala
  9. Pattalasang
  10. Rea-Rea
  11. Manrimisi Turikale
  12. Kuri Caddi
  13. Sungguminasa
  14. Data
  15. Panaikang
  16. Buttatoa
  17. Tumalia
  18. Baniaga
  19. Maccopa
  20. Kassi
  21. Bulowa
  22. Sangieng (Tana Matoana Turikale)
  23. Pakalli
  24. Bonti-Bonti
  25. Paranggi
  26. Moncongbori
  27. Mangngai
  28. Manarang
  29. Camba Jawa
  30. Bunga Ejaya
  31. Pa'jaiyang
  32. Ammesangeng
  33. Samariga
  34. Leang-Leang
  35. Tompo Balang
  36. Labuang
  37. Karaso
  38. Bonto Labbua
  39. Tabbua
  40. Balombong
  41. Balanga
  42. Tala'mangape
  43. Sanggalea

Era Persatuan Kerajaan-Kerajaan Di Maros[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, di daerah Maros hanya terdapat sebuah kerajaan yang cukup besar bernama Kerajaan Marusu' dengan batas-batas meliputi: bagian selatan berbatasan dengan Kerajaan Gowa/Tallo, bagian utara berbatasan dengan Binanga Sangkara' (batas Kerajaan Siang), bagian timur berbatasan dengan daerah pegunungan (Lebbo' Tengngae) dan pada bagian baratnya berbatasan dengan Tallang Battanga (Selat Makassar). Kerajaan Marusu' pada waktu itu, hidup berdampingan dengan damai dengan kerajaan-kerajaan tetangga, seperti Gowa, Bone, Luwu dan lain-lain. Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus hingga masuknya intervensi Kompeni Belanda. seiring kekalahan Kerajaan Gowa/Tallo di bawah pemerintahan I Mallombassi Dg Mattawang Karaeng Bonto Mangngape atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin oleh Kompeni Belanda di bawah pimpinan Admiral Speelman. Dimana, atas kekalahannya tersebut Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani suatu perjanjian perdamaian pada tanggal 18 november 1667 yang dinamakan “Cappaya ri Bungaya” atau “Perjanjian Bungaya”. Yang terdiri atas beberapa pasal, dan salah satunya mengatakan “bahwa negeri negeri yang telah ditaklukkan oleh kompeni dan sekutunya, harus menjadi tanah milik kompeni sebagai hak penaklukkan”. Oleh karena itu, Kerajaan Marusu' yang merupakan sekutu dari Gowa yang berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Bone di bawah pimpinan Arung Bakke, Arung Appanang, dan Arung Bila atas nama Arung Palakka yang merupakan sekutu dari kompeni, lambat laun mulai dikuasai oleh Kompeni Belanda. Puncaknya terjadi pada awal tahun 1700, tepatnya pada masa pemerintahan Kare Yunusu sultan Muhammad Yunus (Karaeng Marusu' VII). Dimana pada masa pemerintahan beliau, Marusu' tidak lagi menjadi suatu kerajaan yang besar, sebab oleh Kompeni Belanda, Marusu' menjadi daerah jajahan dalam bentuk regentschap dimana Raja Marusu' hanyalah merupakan raja tanpa mahkota (onttrondevorsteen). Artinya walaupun raja-raja Marusu' berhak mengatur pemerintahannya sendiri dan diangkat sesuai garis keturunan dan secara adat Marusu', namun pengangkatan raja-raja itu harus mendapat persetujuan dari pihak Kompeni Belanda. Selain itu, Kerajaan Marusu' yang tadinya cukup luas kini menjadi kerajaan kecil dengan tersisa 36 kampung yang mnejadi kekuasaannya. Dan pada bekas-bekas wilayahnya itu berdiri beberapa kerajaan kecil, seperti: Kerajaan Bontoa, Tanralili, Turikale, Simbang, Raya, dan Lau'. Melihat keadaan yang demikian Kare Yunusu lalu menyerahkan tahta kepada La Mamma Dg Marewa Diwettae Mattinroe Ri Samanggi yang merupakan keturunan dari I Maemuna Dala Marusu', adik kandung dari Karaengta Barasa Sultan Muhammad Ali (Raja Marusu VI) ayahanda beliau yang diperisterikan oleh La Patau Matanna Tikka Sultan Alimuddin Idris Raja Bone Mattinroe Ri Nagauleng. Di masa pemerintahan La mamma Dg Marewa ini, beliau berusaha mengajak raja-raja tetangga yang baru berdiri itu, untuk membentuk suatu wadah persatuan guna bersama sama saling bahu-membahu dalam segala hal, terutama dalam rangka mengantisipasi segala macam gangguan/intervensi dari pihak-pihak lain, terutama dari pihak Kompeni Belanda. Pada awalnya, ajakan dari La Mamma Dg Marewa ini, ditolak oleh raja-raja tetangga, karena menganggap itu adalah akal-akalan La Mamma saja untuk menguasai kembali wilayah Marusu' yang sudah terpecah-pecah itu. Namun, berkat diplomasi yang baik. Akhirnya terbentuklah suatu wadah persatuan yang bernama “TODDO LIMAYYA RI MARUSU” (Persatuan Adat Lima Kerajaan), terdiri atas Marusu, Simbang, Bontoa, Tanralili, Turikale, dan Raya.

Maros memiliki posisi strategis diantara dua kerajaan besar, yakni Bone dan Gowa. Posisi ini seringkali dimanfaatkan oleh dua kerajaan besar ini beserta kolonial Belanda untuk menguasai Maros. Hal ini menciptakan upaya perlawanan secara terus-menerus oleh penguasa-penguasa lokal di Maros.

Tercatat pada tanggal 21 Mei 1777, La Pottokati Arung Baringeng, Ponggawa Bone, memimpin laskarnya membebaskan Maros dari belenggu kekuasaan Gowa yang pada waktu itu di bawah pemerintahan I Sangkilang Batara Gowa. Bertolak dari pembebasan tersebut maka para 5 Penguasa lokal, yakni Karaeng Marusu', Karaeng Simbang, Karaeng Tanralili, Karaeng Bontoa, dan Sullewatang Raya dengan segera membentuk forum komunikasi “TODDO LIMAYYA RI MARUSU'”.

Peristiwa 21 Mei 1777 ini tertulis dalam Lontara' Marusu' :

“……. niya'mi assulu' Bone ambunduki Gowa ri wattunna niya' ri Marusu' I Sangkilang Batara Gowa, nasisambe-sambe Gowa na Bone na Balandayya angngatai Marusu' siyagang pa'rasangang niyaka ri ampi'na Marusu', iyami Simbang, Bontoa, Raya siyagang Tanralili. Kammanamo anjo nappakarammula ero’ sikontu Karaenga naero'mo ampareki pa'bulosibatangang nanikanamo Toddo Limaya Ri Marusu', kalimai KaraEng tena pasisa'lakangna ……….”

Berdirinya TODDO LIMAYA RI MARUSU' sebagai forum pemersatu kemudian diikuti oleh kerajaan-kerajaan yang berada di sebelah timur Maros dengan membentuk federasi “LEBBO' TENGNGAE” yang merupakan gabungan dari kerajaan-kerajaan “PITU BILA-BILA” (Cenrana, Camba, Mallawa, Labuaja, Gattareng Matinggi, Wanua Waru, dan Balocci) dan kerajaan-kerajaan wilayah selatan Maros dengan federasi “GALLARANG APPAKA” (Bira, Sudiang, Moncongloe, dan Biringkanaya). Komunikasi ketiga forum pemersatu yang terjalin dengan semangat kekeluargaan disertai rasa senasib dan sepenanggungan tersebut melahirkan permufakatan bersama dalam bentuk “TENRE' TELLUE RI MARUSU'”.

Perlawanan Rakyat Maros terhadap kolonial Belanda pun tetap berlangsung. Dan pada tanggal 4 Februari 1855, La Mappalewa Daeng Mattayang (Regent Van Marusu') diberhentikan dari jabatannya dengan tuduhan menggunakan dana pemerintahan untuk kepentingan perjuangan melawan Belanda.

Pada tahun 1864 di wilayah Lebbo' Tengngae, La Mappintjara (Regent Van Camba) melakukan pemboikotan terhadap kontrol kolonial Belanda di Camba karena dipaksa menyiapkan warganya untuk dijadikan pengawal pribadi bagi setiap pegawai berkebangsaan Belanda. Tindakan heroik beliau ternyata diikuti oleh hampir seluruh regent yang ada di Maros.

Pembentukan Wilayah Regentschappen[sunting | sunting sumber]

De Regent van Maros, Mappalewa Daeng Mattayang (Karaeng Marusu' ke-13) didampingi masing-masing oleh dua orang joa (pengawal) dan pelayan pada masa Hindia Belanda tahun 1870.

Pada Tahun 1859, daerah-daerah di wilayah Maros dimodifikasi lagi oleh kolonial Belanda dengan membentuk Regentschappen (Keresidenan) dengan komposisi:

  1. Regentschap Turikale, terdiri 43 Kampoeng
  2. Regentschap Tanralili, terdiri 40 Kampoeng
  3. Regentschap Marusu, terdiri 35 Kampoeng
  4. Regentschap Lau' (gabungan Raya, Lau', dan Tangkuru'), terdiri 34 Kampoeng
  5. Regentschap Simbang, terdiri 24 Kampoeng
  6. Reetschap Bontoa, terdiri 16 Kampoeng

Kepala Pemerintahan pada masing-masing Regentschappen tersebut di atas adalah Regent (setingkat bupati) yang bergelar Karaeng yang dipilih dari bangsawan setempat yang memenuhi syarat oleh masing-masing Kepala Kampoeng dengan persetujuan Gouvernement Belanda di Makassar. Pada Tahun 1917, bentuk pemerintahan tersebut diubah lagi menjadi Distrik Adat Gementschap berdasarkan earste Gouvernements Secretari No. 1863/I, tanggal 4 Agustus 1917, dan Kepala Pemerintahannya adalah Kepala Distrik yang bergelar Karaeng, Arung/Puwatta, dan Gallarang.

Pasca Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Di Sulawesi Selatan, muncul gerakan perlawanan rakyat mempertahankan kemerdekaan. Gerakan itu kemudian menyebar ke berbagai daerah-daerah seperti Gowa, Maros, Pangkep, Pare-Pare, Sidrap, Bulukumba, Jeneponto, serta daerah-daerah lainnya. Maros sebagai bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) turut ambil bagian dari upaya mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan Soekarno-Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945.

UU No. 22 Tahun 1948 yang telah ditetapkan Pemerintah Pusat RI tetap bertahan meski Belanda belum mengakui kedaulatan Indonesia. Dengan SK Mendagri No. Des. 1/14/4/1951, Gubernur diperintahkan mempersiapkan daerah otonom baru setingkat Daerah Swatantra Tingkat II, disusul PP No. 34/1952, jo. PP No. 2/1952, dibentuklah DAERAH MAKASSAR yang berkedudukan di Sungguminasa, Takalar, Jeneponto, Maros, Pangkajene dan Kepulauan sebagai Daerah Otonom Tingkat II.

Pasca kemerdekaan negara Republik Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1952 junto Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1953 tentang pembentukan Afdeling Makassar didalamnya terdapat Maros sebagai Onderafdeling dengan 16 Distrik yaitu, Turikale, Marusu, Simbang, Bontoa, Lau, Tanralili, Sudiang, Moncongloe, Bira, Biringkanayya, Mallawa, Camba, Cenrana, Laiya, Wanua Waru, dan Gattarang Matinggi.

Akibat perkembangan kehidupan bernegara, lahir pula UU Darurat No. 2 Tahun 1957, dimana DAERAH MAKASSAR dipecah menjadi Daerah: Gowa, Makassar, Jeneponto dan Takalar. Kabupaten Makassar membawahi wilayah–wilayah: (1) Onderafdeeling Pulau–Pulau; (2) Onderafdeeling Maros; (3) Onderafdeeling Pangkajene dengan pimpinan Bupati Kepala Daerah Andi Tjatjo. Usaha simplikasi pembentukan daerah–daerah dilanjutkan Pemerintah Pusat RI dengan UU No. 29 Tahun 1959, dimana Maros menjadi daerah otonom tingkat II, digabung dengan bekas onderafdeling pulau – pulau, sehingga menjadi Kabupaten Dati II Maros yang membawahi 4 kecamatan, yakni: Maros Baru, Mandai, Bantimurung, dan Camba dengan Bupati pertama, Nurdin Johan.

Setelah Andi Abdul Hamid Daeng Manessa mengundurkan diri, maka diangkatlah Andi Mapparessa Daeng Sitaba sebagai karaeng (Kepala Distrik) Turikale yang baru, yang sebelumnya adalah seorang perwira polisi. Andi Mapparessa Daeng Sitaba adalah seorang yang berpenampilan menarik. Kemampuan dan penampilannya yang simpatik menyebabkan beliau senantiasa dipercayakan oleh rekan-rekannya para karaeng untuk tampil di bagian terdepan. Beliau adalah Ketua Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros dan bersama Haji Andi Sirajuddin Daeng Maggading Karaeng Simbang menjadi utusan resmi rakyat Maros menghadap Andi Pangerang Petta Rani Gubernur Sulawesi ketika itu untuk memperjuangkan pembentukan Kabupaten Maros terpisah dari Daerah Swatantra Makassar.

Pada Tahun 1953 Ir. Soekarno berkunjung ke Maros dan disambut Karaeng Turikale VII H. A. Mapparessa Dg Sitaba, para Karaeng Toddo' Limayya, para Arung/Puwatta Lebbo' Tengngae, Gallarang Appaka serta para pengurus parpol dan tokoh masyarakat di Alun-alun Maros. Pada medio tahun 1959, H. A. Mapparessa Dg. Sitaba berhenti dari jabatannya sebagai Karaeng Turikale. Beliau memperistrikan pertama kali Andi Djohra Daeng Nganne yang bergelar Karaeng Baineya yang melahirkan putri tunggal, yaitu Andi Nuraeni Daeng Baji (istri Kolonel Polisi A. Djabbar Dg Matutu). Selanjutnya beliau memperistrikan lagi St. Djohani Daeng Ngugi dan melahirkan keturunan: Andi Syahril Sanrima, Andi Budialan Daeng Te'ne, Andi Ahmad Latief, Drs (Letnan Kolonel Polisi), dan Andi Ratna.

Pada tanggal 25 juli 1956, DPRDS swatantra Makassar memutuskan menggabungkan tiga kewedanaan, yaitu Maros, Pangkajene dan Pulau-pulau dengan rencana ibu kotanya Pangkajene. Tanggal 26 agustus 1956, Rakyat Maros melalui federasi Toddo' Limayya, Lebbo' Tengngae, Gallarang Appaka, Parpol dan beberapa Organisasi Massa mengadakan konferensi yang melahirkan satu mosi yang mengusulkan Maros sebagai ibu kota Kabupaten. Harian Marhaen terbitan pada tahun 1957 menuliskan bahwa mosi hasil konferensi 26 agustus tersebut dibawa oleh Utusan Maros yang diwakili H. A. Mapparessa Dg. Sitaba (Karaeng Turikale) dan H. A. Siradjuddin Dg Maggading (Karaeng Simbang) menghadap Gubernur Militer Andi Pangerang Pettarani di Makassar. Pada saat pertemuan yang berlangsung kurang lebih 2 jam, Gubernur didampingi oleh residen Abd. Razak Dg Patunru dan Kabag. Otonomi/Desentralisasi. Resolusi yang diperhadapkan tersebut bertujuan bilamana tuntutan Maros sebagai ibu kota kabupaten tidak terpenuhi, maka badan yang telah dibentuk akan memperjuangkan Maros sebagai kabupaten tersendiri.

Badan yang dibentuk tersebut dinamakan "Panitia Persiapan Kabupaten Maros". Susunan Panitia Persiapan Kabupaten Maros sebagai berikut:

  • Ketua Umum: H. A. Mapparessa Dg Sitaba (Karaeng Turikale)
  • Ketua I: A.A bd. Raman Dg Mamangung (eks KPN Maros)
  • Ketua II: Intje Mannambai Ibrahim (KPN Maros)
  • Penulis I: Djaya Amir Dg Ngalle (unsur Parpol)
  • Penulis II: Abd. Bakir Dg Nai (Pegawai Kantor KPN Maros)
  • Bendahara: A. Abd. Rahim Dg Manippi (Pengusaha Tembakau Maros)

Adapun Pembantu Umum sebagai berikut:

  • Mangngassengi Dg.Manaba (Penilik SD)
  • Mustafa Kamal (unsur Persatuan Guru)
  • A. Mardjan Dg Malewa (Karaeng Cenrana)
  • Abd. Rivai Dg Marala (Gallarang Sudiang)
  • H. Muhaedi (unsur Petani/Nelayan)
  • Abd. Salam Tamma' (cendikiawan)

Tindak lanjut pertemuan tersebut adalah kunjungan Gubernur Sulawesi ke Maros dan Pangkajene pada tanggal 19 januari 1957 dan secara prinsip tetap pada keputusannya, yakni ibu kota kabupaten adalah Pangkajene. Pasca kunjungan gubernur, Panitia Persiapan Kabupaten Maros tetap memperjuangkan terbentuknya Kabupaten Maros sebagai Kabupaten tersendiri sampai dikeluarkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Se-Sulawesi. Pada tanggal 4 juli 1959, secara administratif Kabupaten Maros resmi dibentuk sebagai Daerah Swantantra tingkat II, ibu kota berkedudukan di Kota Maros, dan kuota jumlah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah 15 orang anggota melalui dasar hukum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1959 Bab I Pasal 1, 2 & 3. Dengan demikian, status Maros tidak lagi sebagai Onderafdeling Makassar. Pada tanggal 1 februari 1960, Nurdin Johan dilantik sebagai BKDH Tingkat II Maros yang pertama. Sebelumnya, Kabupaten Maros sebagai Onderafdeling yang tergabung dalam daerah swatantra Afdeling Makassar bersama-sama dengan Onderafdeling Pulau-pulau sekitar Makassar, Onderafdeling Sungguminasa, Onderafdeling Takalar, Onderafdeling Pangkajene, dan Onderafdeling Turatea. Onderafdeling Maros, membawahi beberapa distrik adat gemeenschap yaitu: Distrik Simbang, Distrik Bontoa, Distrik Tanralili, Distrik Raya, Distrik Turikale, Distrik Marusu. Setiap Distrik diperintah oleh seorang Kepala Pemerintahan yang bergelar Karaeng.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan, maka struktur pemerintahan yang ada kemudian mengalami perubahan. Distrik adat gemeenschap yang sebelumnya diformulasikan ke dalam bentuk distrik harus pula menyesuaikan Sejak tanggal 19 Desember 1961 Kabupaten Maros tidak lagi terdiri dari distrik tetapi terbagi ke dalam 4 (empat) Kecamatan. Pada tanggal 1 Juni 1963, Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 mulai diberlakukan. Distrik/Daerah Adat/Kerajaan Lokal kemudian menghilang dari permukaan sejarah dengan dibentuknya kecamatan-kecamatan. 4 (empat) kecamatan yang terbentuk pada waktu itu sebagai berikut:

  1. Distrik Turikale, Marusu', Lau', dan Bontoa dilebur menjadi Kecamatan Maros Baru.
  2. Distrik Simbang dan beberapa wilayah dari distrik tetangganya dilebur menjadi Kecamatan Bantimurung.
  3. Distrik-distrik dari federasi “Lebbo' Tengngae” dilebur menjadi Kecamatan Camba.
  4. Distrik Tanralili dan beberapa wilayah dari federasi Gallarang Appaka dilebur menjadi Kecamatan Mandai.

Selanjutnya pada tahun 1986 mulai dilakukan perencanaan pemekaran menjadi 7 (tujuh) kecamatan. Pada tahun 1989, terjadi pemekaran wilayah kecamatan dengan dibentuknya 3 Kecamatan Perwakilan yakni:

  1. Kecamatan Tanralili
  2. Kecamatan Mallawa
  3. Kecamatan Maros Utara

Kemudian pada hari kamis, tanggal 22 agustus 1996, DPD II KNPI Kabupaten Maros mengadakan “Seminar Pemekaran dan Perubahan Nama Kecamatan” dengan berlandaskan latar belakang kesejarahan sekaligus sebagai pemantapan “jati diri Maros” melalui kilas balik sejarah. Upaya DPD II KNPI Maros pada waktu itu mendapat apresiasi dan sambutan hangat dari para budayawan dan pemerhati sejarah. Nama yang sarat dengan muatan historis memang punya arti tersendiri, terutama bagi orang-orang yang menghormati jati dirinya.

Bertolak dari hasil seminar tersebut, maka Bupati KDH Tingkat II Maros, alm. H. Nasrun A. Amrullah (cucu langsung dari H. Andi Page Manyanderi Petta Ranreng, Petta Imam Turikale III), lewat Surat Bupati KDH Tingkat II Maros, No.146.1/276/Pem. Tgl. 19 September 1996, meminta Persetujuan DPRD Tingkat II Maros untuk Pembentukan/Pemekaran Kecamatan. DPRD Tingkat II Maros kemudian membentuk panitia khusus yang kemudian membahas dan menetapkan pembentukan/pemekaran kecamatan yang telah ada serta diberi nama sesuai dengan nama distrik yang pernah ada.

Pada tahun 2000 menjadi 12 kecamatan dan pada tanggal 3 agustus 2001, dilakukan pembentukan Kecamatan Moncongloe dan Kecamatan Lau serta perubahan nama Kecamatan Maros Utara menjadi Kecamatan Bontoa melalui Peraturan Daerah Kabupaten Maros No. 17 Tahun 2001. Pada Perda ini, wilayah Kecamatan Lau diambil dari sebagian wilayah Kecamatan Maros Baru (Kelurahan Allepolea, Kelurahan Soreang, Kelurahan Maccini Baji, dan Kelurahan Mattiro Deceng) dan sebagian wilayah Kecamatan Maros Utara (Desa Marannu dan Desa Bonto Marannu). Wilayah Kecamatan Lau ini diterapkan pada bab II pasal 2 ayat 1, 2, dan 3. Untuk wilayah Kecamatan Moncongloe diambil dari sebagian wilayah Kecamatan Mandai (Desa Moncongloe, Desa Moncongloe Lappara, Desa Moncongloe Bulu, Desa Bonto Bunga, dan Desa Bonto Marannu). Wilayah Kecamatan Lau ini diterapkan pada bab II pasal 3 ayat 1, 2, dan 3. Untuk perubahan nama Kecamatan Maros Utara menjadi Kecamatan Bontoa ini diterapkan pada bab III pasal 4 ayat 1. Wilayah Kecamatan Bontoa berkurang setelah Desa Marannu dan Bonto Marannu masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Lau. Sekarang wilayah Kecamatan Bontoa meliputi Kelurahan Bontoa, Desa Bonto Bahari, Desa Ampekale, Desa Tunikamaseang, Desa Tupabbiring, Desa Minasa Upa, Desa Salenrang, Desa Pajukukang, dan Desa Bontolempangan. Wilayah Kecamatan Bontoa ini diterapkan pada bab III pasal 4 ayat 2. Wilayah Kecamatan Maros Baru berkurang setelah Kelurahan Allepolea, Kelurahan Soreang, Kelurahan Maccini Baji, dan Kelurahan Mattiro Deceng masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Lau. Sekarang wilayah Kecamatan Maros Baru meliputi Kelurahan Pallantikang, Kelurahan Baju Bodoa, Kelurahan Baji Pamai, Desa Mattirotasi, Desa Majannang, Desa Borikamase, dan Desa Borimasunggu. Wilayah Kecamatan Maros Baru ini diterapkan pada bab IV pasal 6 ayat 2. Wilayah Kecamatan Mandai berkurang setelah Desa Moncongloe, Desa Moncongloe Lappara, Desa Moncongloe Bulu, Desa Bonto Bunga, dan Desa Bonto Marannu masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Moncongloe. Sekarang wilayah Kecamatan Mandai meliputi Kelurahan Bontoa, Kelurahan Hasanuddin, Desa Tenrigangkae, Desa Bonto Matene, Desa Baji Mangai, dan Desa Pattontongan. Wilayah Kecamatan Mandai ini diterapkan pada bab IV pasal 7 ayat 2.

Sekarang ini terdapat 14 Kecamatan yang telah terbentuk di Kabupaten Maros, dimana beberapa diantaranya telah kembali diberi nama sesuai dengan tapak sejarahnya.

  1. Kecamatan Bantimurung
  2. Kecamatan Bontoa
  3. Kecamatan Camba
  4. Kecamatan Cenrana
  5. Kecamatan Lau
  6. Kecamatan Mallawa
  7. Kecamatan Mandai
  8. Kecamatan Maros Baru
  9. Kecamatan Marusu
  10. Kecamatan Moncongloe
  11. Kecamatan Simbang
  12. Kecamatan Tanralili
  13. Kecamatan Tompobulu
  14. Kecamatan Turikale

Landasan Hari Jadi[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana catatan autentik yang ada menunjukkan bahwa Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 merupakan dasar hukum pembentukan daerah-daerah tingkat II di Sulawesi. Salah satu daerah tingkat II tersebut adalah Kabupaten dati II Maros yang sebelum ditetapkannya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 termasuk dalam bagian daerah Makassar yang disebut Onderafdeling Maros sebagaimana dimaksud dalam bijblad Nomor 14377 Jls surat Ketetapan Menteri Dalam Negeri Indonesia Timur tanggal, 19 Januari 1950 Nomor UPU 1/1/45 JO Tanggal, 20 Maret 1950 Nomor UPU 1/6/23.

Salah satu kebanggaan bagi setiap daerah apabila mengetahui sejarah dan kelahirannya yang memberikan sesuatu makna dan nilai historis dan yuridis yang harus senantiasa tetap dijaga dan dipertahankan eksistensinya sebagai sumber motivasi moral bagi masyarakatnya. Bertitik tolak dari motivasi tersebut dan berdasarkan atas kelahiran Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, maka pemuda-pemuda Maros yang terhimpun dalam wadah organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia kabupaten Maros terdorong untuk mencoba mencari dan menghimpun masukan-masukan pendapat dari, tokoh masyarakat, budayawan dan teknokrat dalam suatu Seminar Kelahiran Maros yang berlangsung dari tanggal 16 januari 2001.

04 Januari 1471[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Kabupaten Maros melakukan perubahan mengenai hari jadi Kabupaten Maros. Dengan landasan hukum berupa Perda No. 11 tahun 2001 yang menetapkan Hari Jadi Maros jatuh pada tanggal 4 januari 1471. Perda ini berisi tentang Penetapan Hari Jadi Maros dengan rincian terdiri atas 3 (tiga) bab, 6 (enam) pasal, dan 7 (tujuh) ayat. Perda ini berlaku pada tanggal 3 agustus 2001 hingga 31 agustus 2006 di Kabupaten Maros. Adapun pertimbangan terbentuknya perda ini adalah (a) bahwa dalam rangka melestarikan dan mengenang kembali dinamika perjalanan sejarah masa lalu Maros, maka dipandang perlu untuk menetapkan hari jadi Maros yang didasari makna refleksi kesejahteraan; (b) bahwa hari jadi Maros adalah merupakan Hasil Seminar pada tanggal 16 Januari 2001 oleh para Tokoh Masyarakat dan Budayawan Kabupaten Maros, dengan menggabungkan momentum bersejarah ke dalam 3 (tiga) substansi pokok, yaitu substansi kesejahteraan, substansi heroisme, dan Patriotisme serta substansi religius, yang menggambarkan tanggal, bulan, dan tahun hari jadi Maros; (c) bahwa Perda Nomor 2 Tahun 1993 Tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Maros Lembaran Daerah Nomor 5 Tahun 1993 Seri D Nomor 3 kurang memperhatikan Aspek kesejahteraan Maros masa lalu sehingga perlu ditinjau kembali; dan (d) bahwa untuk memenuhi maksud poin (a), (b), dan (c), perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Makna tanggal 4 januari 1471 sebagai hari jadi Maros adalah merupakan penggabungan momentum bersejarah yang mengandung 3 substansi pokok, yaitu: a. penetapan tanggal 4 adalah merupakan substansi religius, dimana pada tanggal 4 oktober 1834 secara resmi pelaksanaan Sholat Jumat di seluruh Maros dan berpusat di Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa Turikale, yang merupakan Shalat Jumat pertama yang diputuskan oleh Instansi Syara' (lembaga keKadhian) terbentuk; b. penetapan bulan 1 (januari) adalah merupakan substansi heroisme dan patriotisme kepahlawanan pemuda pejuang Maros dalam mempertahankan kemerdekaan, dengan keberaniannya merobek warna biru bendera kolonial Belanda dan menaikkan kembali warna merah putihnya; dan c. penetapan tahun 1471 adalah substansi kesejahteraan pada periode lontara, yang menggambarkan bangkitnya eksistensi Kerajaan Marusu oleh Karaeng Loe ri Pakere dalam mewujudkan cita-cita masyarakatnya hidup dalam suasana aman, sejahtera, lahir, dan batin menjadi Butta Salewangang yang sekaligus dalam memposisikan dirinya sebagai kerajaan yang berdaulat dan disegani.

17 Oktober 1471[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Kabupaten Maros melakukan perubahan mengenai hari lahir Kabupaten Maros. Dengan landasan hukum berupa Perda No. 12 tahun 2006 yang menetapkan Hari Jadi Maros jatuh pada tanggal 17 oktober 1471. Perda ini berisi tentang Perubahan Atas Peraturan Dalam Kabupaten Maros No. 11 Tahun 2001 Tentang Penetapan Hari Jadi Maros dengan rincian terdiri atas 2 (dua) pasal dan 4 (empat) ayat. Perda ini berlaku pada tanggal 1 september 2006 hingga 10 april 2012 di Kabupaten Maros. Adapun pertimbangan terbentuknya perda ini adalah (a) bahwa dalam rangka melestarikan dan mengenang kembali dinamika perjalanan sejarah masa lalu Maros, maka dipandang perlu untuk menetapkan hari jadi Maros yang didasari makna refleksi kesejahteraan, patriotisme, dan agama; (b) bahwa untuk memperkarya syarat dan makna hari jadi Maros yang telah ditetapkan tanggal 4 januari 1941, maka dipandang perlu mereposisi tanpa mengenyampingkan momentum religius, heroisme, dan historis yang telah disepakati; (c) bahwa Peraturabn Daerah Nomor 11 Tahun 2001 Tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Maros Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 55 dipandang perlu ditinjau kembali; dan (d) bahwa untuk memenuhi maksud poin (a), (b), dan (c), perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Makna tanggal 17 oktober 1471 sebagai hari jadi Maros adalah merupakan penggabungan momentum bersejarah yang mengandung 3 substansi pokok, yaitu: a. penetapan tanggal 17 adalah merupakan substansi religius, heroisme, dan patriotisme kepahlawanan dimana pada tanggal 17-1-1946, pemuda pejuang Maros mempertahankan kemerdekaan di bawah Komando Fathul Muin Dg Magading dan menyerbu rumah Controlleur kolonial Belanda lalu menurunkan bendera kolonial Belanda (Merah, Putih, Biru) dan gagah berani merobek warna birunya lalu mempertontonkannya di depan kantor Karaeng Turikale di Reda Beru; b. penetapan bulan 10 (oktober) adalah merupakan substansi dan patriotisme kepahlawanan pejuang Maros dalam mempertahankan kemerdekaannya dengan keberaniannya merobek warna biru bendera kolonial Belanda dan menaikkan kembali warna merah putihnya; dan c. penetapan tahun 1471 adalah substansi kesejahteraan pada periode lontara. Yang menggambarkan bangkitnya eksistensi Kerajaan Marusu oleh Karaeng Loe ri Pakere dalam mewujudkan cita-cita masyarakatnya hidup dalam suasana aman, sejahtera, lahir dan batin menjadi Butta Salewangan yang sekaligus dalam memposisikan dirinya sebagai kerajaan yang berdaulat dan disegani.

04 Juli 1959[sunting | sunting sumber]

Untuk ke-3 kalinya Pemerintah Kabupaten Maros melakukan perubahan mengenai hari lahir Kabupaten Maros. Dengan landasan hukum berupa Perda No. 03 tahun 2012 yang menetapkan Hari Jadi Maros jatuh pada tanggal 04 juli 1959. Perda ini berisi tentang Hari Lahir Kabupaten Maros dengan rincian terdiri atas 3 (tiga) bab, 6 (enam) pasal, dan 8 (delapan) ayat. Perda ini berlaku hingga sekarang sejak diundangkan pada tanggal 11 april 2012 di Kabupaten Maros. Adapun pertimbangan terbentuknya perda ini adalah (a) bahwa hari lahir sebagai bagian dari jati diri dan eksistensi suatu daerah, disamping berperan sebagai faktor integrasi masyarakat juga dapat memotivasi peningkatan semangat dalam pembangunan daerah, sehingga perlu ditetapkan hari lahir Kabupaten Maros; (b) bahwa hari lahir sebagai bagian dari jati diri dan eksistensi suatu daerah, disamping berperan sebagai faktor integrasi masyarakat juga dapat memotivasi peningkatan semangat dalam pembangunan daerah, sehingga perlu di tetapkan hari lahir Kabupaten Maros; (c) bahwa Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi yang diundangkan pada tanggal 4 Juli 1959, dinilai tepat untuk ditetapkan sebagai dasar penetapan hari jadi Kabupaten Maros; dan (d) bahwa untuk memenuhi maksud sebagaimana tersebut pada huruf (a), huruf (b) dan huruf (c), maka perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Julukan[sunting | sunting sumber]

Patung kupu-kupu dan monyet (di belakang) di Kabupaten Maros menuju beberapa obyek rekreasi, seperti Kolam Renang Bantimurung, Air Terjun Bantimurung, Gua Mimpi, Penangkaran Kupu-Kupu, dan lain-lain.

Kabupaten Maros menyandang beberapa julukan, di antaranya:

  • Laskar Marusu

Sebelum terbentuk daerah administrasi dengan nama Kabupaten Maros, daerah ini awalnya merupakan wilayah dari Kerajaan Marusu. Kerajaan ini bertetangga dengan Kerajaan Bone di sebelah timur dan Kerajaan Gowa di sebelah selatan. Pada sejarahnya, Kerajaan Marusu dikenal dengan tanahnya yang subur untuk wilayah pertanian, strategis untuk perekonomian, dan cukup potensial dalam hal politik saat itu. Raja pertama dari Kerajaan Marusu adalah Karaeng Loe ri Pakere. Karena kelebihannya itu, Kerajaan Marusu berusaha dikuasai oleh Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Mengingat sebelumnya, Raja Gowa dan Raja Bone berselisih dan memperebutkan wilayah Kerajaan Marusu. Akhirnya, beberapa tahun kemudian Kerajaan Gowa menguasai wilayah Bontoa dan sementara wilayah timur dikuasai oleh Kerajaan Bone. Dari penguasaan ini, Kabupaten Maros memiliki dua suku mayoritas, yaitu Bugis dan Makassar. Daerah ini telah mempersatukan antara etnis Bugis dan Makassar. Hingga pada akhirnya, bersatu memerangi kolonial Belanda pada masa penjajahan Belanda, yang dipimpin oleh I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangngape Sultan Hasanuddin oleh Belanda di bawah pimpinan admiral Speelman.

  • Kupu-Kupu Raja

Kabupaten Maros dijuluki sebagai Kupu-Kupu Raja karena lokasi kabupaten ini sudah terkenal di dunia internasional akan kupu-kupunya yang indah dan berukuran besar. Adapun spesies yang terkenal adalah Papilioblumei yang dianggap sebagai kupu-kupu raja.

  • The Kingdom of Butterfly

Sama halnya dengan alasan dijuluki Kupu-Kupu Raja, Kabupaten Maros juga kerap dijuluki The Kingdom of Butterfly dengan alasan yang spesifik, yaitu banyaknya kupu-kupu di Kabupaten Maros dengan aneka jenis yang sangat indah.

  • Butta Salewangang

Nama Butta Salewangang sangat identik dengan Kabupaten Maros. Dari segi etimologis, kata Butta mengandung makna tanah, wilayah, area, atau tempat, sedangkan kata Salewangang mengandung makna makmur, aman, damai, dan sejahtera. Dengan demikian, pengertian Butta Salewangang adalah tanah atau wilayah yang makmur, aman, damai, dan sejahtera. Dari segi historis, istilah Butta Salewangang berasal dari sejarah masa lalu. Istilah Butta salewangang memang mulai disebut pada masa pemerintahan Tumanurung yang datang di wilayah yang menjadi cikal-bakal Kabupaten Maros ini. Karaeng Loe ri Pakere hadir dalam kondisi masyarakat yang tak menentu, masyarakat masa itu tidak lagi mau mendengar perkataan dan perintah pemimpin yang ada, hukum tak dapat ditegakkan dan aturan banyak dilanggar. Masa ini disebut zaman sikanre-bale atau saling memangsa. Pada masa itu, tanaman juga tak membuahkan hasil, hujan turun terus menerus diiringi gemuruh yang terjadi dalam tujuh hari tujuh malam. Namun tiba-tiba muncul sebuah istana yang oleh masyarakat disebut Saoraja berdiri di tengah-tengah bidang tanah di Pakere. Bersamaan dengan itu terlihat pula seseorang yang duduk di depan tangga istana itu. Mendengar hal ini, orang-orang pun berdatangan memberi penghormatan, lalu mengangkat Tumanurung ini menjadi pemimpin dan diberi gelar Karaeng Loe ri Pakere. Sejak itu tanaman pun tumbuh dengan subur dan membuahkan hasil melimpah. Dalam memimpin, Karaeng Loe ri Pakere senantiasa membangkitkan eksistensi kerajaan dalam mengemban amanah rakyat. Terutama dalam memposisikan Kerajaan Marusu sebagai daerah berpemerintahan kuat dan disegani. Keadaan rakyat pun hidup aman, makmur, damai, dan sejahtera lahir-batin, karenanya daerah ini disebut Butta Salewangang.

  • Tanah Bugis-Makassar

Salah satu keunikan Maros adalah penduduk yang multikultural, dibentuk oleh 2 elemen besar masyarakat, yaitu Bugis dan Makassar yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Maros. Perpaduan elemen ini membentuk iconic penyebutan Tanah Bugis-Makassar atau Ugi Mangkasa' (dalam perspektif bahasa Bugis) atau Bugisi Mangkasara' (dalam perspektif bahasa Makassar).

[sunting | sunting sumber]

Dasar dari Logo berbentuk PERISAI menggambarkan keuletan, ketangkasan, dan kejujuran. BAJAK (rakkala' atau pajjeko) menggambarkan kehidupan masyarakat yang berorientasi pada bidang pertanian. BADIK TERHUNUS ke atas yang pangkalnya bertuliskan MAROS menggambarkan sifat patriotik rakyat. GUNUNG melambangkan keagungan dan AIR melambangkan pengairan serta daerah wisata. RANTAI MELINGKAR BERMATA 29 menggambarkan kekuatan dan persatuan rakyat. 17 BUAH PADI dan 4 KUNTUM BUNGA KEMIRI dan 5 HELAI DAUNNYA berada di atas SAYAP BERBULU 8 mengingatkan kita terhadap detik proklamasi 17-8-1945. HURUF LONTARA' bertuliskan TUNRENG TELLU menggambarkan dari tiga persekutuan masyarakat hukum adat, yaitu Pemerintahan adat Toddo Limae, Pemerintahan Adat Gallarrang Appaka, dan Pemerintahan Adat Lebbo Tengngae. [8]

Padi dan kemiri merupakan tanaman andalan dari Kabupaten Maros. Badik merupakan senjata tradisional bagi masyarakat Kabupaten Maros. Rakkala' (bajak) merupakan alat pertanian yang telah digunakan sejak masa kerajaan-kerajaan di wilayah Kabupaten Maros.

Kondisi Geografis[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros terletak di bagian barat Sulawesi Selatan antara 40°45′-50°07’ lintang selatan dan 109°205′-129°12′ bujur timur yang berbatasan dengan Kabupaten Pangkep sebelah utara, Kota Makassar dan Kabupaten Gowa sebelah selatan, Kabupaten Bone di sebelah timur dan Selat Makassar di sebelah barat. Kabupaten Maros berada pada rentang ketinggian antara 0 m sampai dengan lebih dari 1.000 m dari permukaan laut. Di wilayah Kabupaten Maros terdapat beberapa gunung dengan jenis gunung yang tidak aktif dan tidak begitu tinggi, seperti Gunung Barro-Barro, Rammang-Rammang, Samaenre, Bulu Saraung, dan Bulu Saukang. Bulu Saukang adalah gunung yang tertinggi di wilayah Kabupaten Maros dengan ketinggian mencapai 260 m di atas permukaan laut.

Dilihat dari lokasi geografi dan topografinya, dari 103 desa/kelurahan yang ada di kabupaten Maros, 10 desa berada pada wilayah pantai, 5 desa berada pada wilayah lembah, 28 desa berada pada wilayah perbukitan, dan sisanya 60 desa/kelurahan berada pada wilayah dataran/landai. Kecamatan Tompobulu merupakan kecamatan yang memiliki wilayah paling luas, sedangkan kecamatan yang wilayahnya paling kecil adalah kecamatan Turikale. Kondisi Topografi Kabupaten Maros sangat bervariasi mulai dari wilayah datar sampai bergunung-gunung. Hampir semua di kecamatan terdapat daerah pedataran yang luas keseluruhan sekitar 70.882 ha atau 43,8% dari luas wilayah Kabupaten Maros. Sedangkan daerah yang mempunyai kemiringan lereng di atas dari 40% atau wilayah yang bergunung-gunung mempunyai luas 49.869 ha atau 30,8 dari luas wilayah Kabupaten Maros.

Dari ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, ke ibu kota Kabupaten Maros berjarak kurang lebih 30 km dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam melewati jalan provinsi yang cukup baik dan lancar. Selanjutnya dari ibu kota Kabupaten Maros sampai ke kota-kota kecamatan di kabupaten tersebut juga dihubungkan oleh jalan aspal yang cukup baik. Namun demikian, belum semua desa-desa di Kabupaten Maros yang terhubungkan dengan jalan beraspal atau beton sampai ke ibu kota kecamatan masing-masing. Masih cukup banyak desa yang dusun-dusunnya hanya terhubungkan oleh jalan setapak. Dusun-dusun tersebut terutamanya ditemukan pada lokasi dimana masyarakat membuka perkampungan dengan merambah atau membuka hutan.


Perbandingan Luas Wilayah Kabupaten Maros dengan Kabupaten/Kota Lain di Provinsi Sulawesi Selatan

No. Kabupaten/Kota Luas Wilayah (km²) Persentase (%)
1. Kabupaten Luwu Utara 7.502,68 16,39
2. Kabupaten Luwu Timur 6.944,88 15,18
3. Kabupaten Bone 4.559,00 9,96
4. Kabupaten Luwu 3.000,25 6,56
5. Kabupaten Wajo 2.056,20 5,48
6. Kabupaten Tana Toraja 2.054,30 4,49
7. Kabupaten Pinrang 1.961,77 4,29
8. Kabupaten Gowa 1.883,32 4,12
9. Kabupaten Sidenreng Rappang 1.883,25 4,12
10. Kabupaten Enrekang 1.786,01 3,90
11. Kabupaten Maros 1.619,12 3,54
12. Kabupaten Soppeng 1.359,44 2,97
13. Kabupaten Barru 1.174,71 2,57
14. Kabupaten Bulukumba 1.154,67 2,52
15. Kabupaten Toraja Utara 1.151,47 2,52
16. Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan 1.112,29 2,43
17. Kabupaten Kepulauan Selayar 903,50 1,97
18. Kabupaten Jeneponto 903,35 1,97
19. Kabupaten Sinjai 819,96 1,79
20. Kabupaten Takalar 566,51 1,24
21. Kabupaten Bantaeng 395,83 0,86
22. Kota Palopo 247,52 0,54
23. Kota Makassar 175,77 0,38
24. Kota Parepare 99,33 0,22
Sumber Data: Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017

Iklim[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan pencatatan Badan Stasiun Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) rata-rata Suhu udara bulanan di Kabupaten Maros adalah 27,20 °C tiap bulannya. Suhu bulanan paling rendah adalah 23,7 °C (terjadi pada bulan Agustus 2017) sedangkan paling tinggi adalah 33,2 °C (terjadi pada bulan September 2017).

Iklim Kabupaten Maros tergolong iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata sekitar 297 mm setiap bulannya, dengan jumlah hari hujan berkisar 204 hari selama tahun 2017, dengan rata-rata suhu udara minimum 24,4 °C dan rata-rata suhu udara maksimum 31,2 °C.

Penyinaran matahari selama tahun 2017 rata-rata berkisar 58 %. Secara geografis daerah ini terdiri dari 10 % (10 desa) adalah pantai, 5 % (5 desa) adalah kawasan lembah, 27 % (28 desa) adalah lereng/ bukit dan 58 % (60 desa) adalah dataran.

Suhu dan Kelembaban Udara[sunting | sunting sumber]

Rata-rata Suhu dan Kelembaban Udara Menurut Bulan di Kabupaten Maros Tahun 2018
Bulan Suhu Udara (°C) Kelembaban Udara (%)
Maksimal Minimal Rata-rata Maksimal Minimal Rata-rata
Januari 30,00 24,60 26,80 96 68 85
Februari 29,60 24,10 26,10 97 76 89
Maret 30,40 24,10 26,60 97 71 86
April 31,70 24,60 27,60 94 57 81
Mei 32,10 25,20 28,10 94 59 78
Juni 30,90 24,50 27,00 93 60 83
Juli 31,10 23,10 26,60 92 49 77
Agustus 32,30 23,10 27,20 75 56 72
September 33,50 22,80 27,90 78 31 65
Oktober 33,10 23,60 28,10 92 48 71
November 31,70 24,40 27,80 97 67 82
Desember 30,30 24,20 26,80 96 68 85
Sumber Data: Stasiun Klimatologi Kelas I Maros (BMKG) dalam BPS Kabupaten Maros

Tekanan Udara, Kecepatan Angin dan Penyinaran Matahari[sunting | sunting sumber]

Rata-Rata Tekanan Udara, Kecepatan Angin dan Penyinaran Matahari Menurut Bulan di Kabupaten Maros Tahun 2018
Bulan Tekanan Udara (mb) Kecepatan Angin (knot) Penyinaran Matahari (%)
Januari 1.010,5 3 40
Februari 1.012,5 3 32
Maret 1.010,3 3 52
April 1.010,1 3 82
Mei 1.010,3 3 67
Juni 1.010,3 3 65
Juli 1.010,9 3 74
Agustus 1.011,6 4 94
September 1.011,8 4 90
Oktober 1.011,7 4 91
November 1.011,2 3 66
Desember 1.010,4 3 47
Sumber Data: Stasiun Klimatologi Kelas I Maros (BMKG) dalam BPS Kabupaten Maros

Curah Hujan dan Hari Hujan[sunting | sunting sumber]

Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan Menurut Bulan di Kabupaten Maros Tahun 2018
Bulan Curah Hujan (mm³) Hari Hujan
Januari 523 25
Februari 667 19
Maret 594 25
April 213 18
Mei 109 15
Juni 150 15
Juli 51 5
Agustus 1 2
September 8 4
Oktober 116 9
November 184 20
Desember 798 28
Sumber Data: Stasiun Klimatologi Kelas I Maros (BMKG) dalam BPS Kabupaten Maros

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Bone
Timur Kabupaten Bone dan Kabupaten Gowa
Selatan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar
Barat Selat Makassar

Eks Wilayah[sunting | sunting sumber]

Sebelum perubahan batas-batas daerah yang diputuskan pada tanggal 1 september 1971 melalui Peraturan Pemerintah RI Nomor 51 Tahun 1971 Bab II Pasal 1 Ayat 1 Bagian (b), wilayah Kabupaten Maros mencakup sebagian wilayah Kota Makassar saat ini, yakni: Bira, Daya, Tamalanrea, Bulurokeng, dan Sudiang.

Sungai[sunting | sunting sumber]

Kondisi Sungai Ta'deang di Kabupaten Maros pada tahun 1929.

Di wilayah Kabupaten Maros terdapat beberapa sungai sebagai berikut:

Gunung[sunting | sunting sumber]

Di wilayah Kabupaten Maros terdapat beberapa gunung sebagai berikut:

  • Bulu Saraung (1.353 m dpl)
  • Bulu Saukang (260 m dpl)
  • Gunung Barro-Barro (110 m dpl)
  • Gunung Rammang-Rammang
  • Gunung Samaenre
  • Gunung Sarigan

Keadaan Demografis[sunting | sunting sumber]

Mata Pencaharian[sunting | sunting sumber]

Mata pencaharian masyarakat Kabupaten Maros, yaitu bekerja sebagai petani sawah/tambak, peternak, pedagang, supir, guru, pegawai pemerintahan, buruh pabrik/bangunan, dan lain-lain. Dari sekian banyak bidang pekerjaan tersebut, petani sawah/tambak dan pedagang adalah yang mayoritas di Kabupaten Maros.

Jumlah Penduduk[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros memiliki luas 1.619,12 km² dan penduduk berjumlah 349.822 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 216,06 jiwa/km² pada tahun 2018. Berikut ini adalah data jumlah penduduk Kabupaten Maros dari tahun ke tahun:

Keterangan
      Versi BPS Kabupaten Maros
       Versi Proyeksi Penduduk Indonesia BPS RI
Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah Rumah Tangga Total Penduduk (jiwa) Pertumbuhan Penduduk (jiwa) Kepadatan Penduduk (jiwa/km²)
1990 - - - 239.725 - 148,06
1991 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
1992 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
1993 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
1994 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
1995 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
1996 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
1997 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
1998 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
1999 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2000 - - - 271.857 - 167,90
2001 132.868 141.349 - 274.394 2.537 169,47
2002 133.045 142.113 - 277.137 2.743 171,17
2003 140.717 146.043 - 286.760 9.623 177,11
2004 141.957 147.427 - 289.384 2.624 178,73
2005 145.393 151.057 - 296.450 7.066 183,09
2006 145.601 152.017 - 297.618 1.168 183,81
2007 141.001 158.661 - 299.662 2.044 185,08
2008 148.959 154.252 - 303.211 3.549 187,27
2009 152.215 158.562 - 310.777 7.566 191,94
2010 155.965 163.037 - 319.002 8.225 197,02
156.194 163.909 - 320.103 9.326 197,70
2011 157.543 164.669 - 322.212 3.210 199,00
158.182 165.915 - 324.097 3.994 200,17
2012 159.235 166.166 - 325.401 3.189 200,97
160.180 167.818 - 327.998 3.901 202,58
2013 162.122 169.724 - 331.864 6.463 204,97
162.088 169.708 - 331.796 3.798 204,92
2014 164.008 171.588 - 335.596 3.732 207,27
2015 165.881 173.419 - 339.300 3.704 209,56
2016 167.724 175.166 - 342.890 3.590 211,78
2017 169.433 176.950 - 346.383 3.493 213,93
2018 171.117 178.705 - 349.822 3.439 216,06
2019 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2020 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
Kependudukan Kabupaten Maros Sumber Data: BPS Kabupaten Maros & Proyeksi Penduduk Indonesia BPS RI

Perbandingan Jumlah Penduduk[sunting | sunting sumber]

Perbandingan Jumlah Penduduk Kabupaten Maros dengan Kabupaten/Kota Lain di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018

No. Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk
1. Kota Makassar 1.508.154
2. Kabupaten Gowa 760.607
3. Kabupaten Bone 754.894
4. Kabupaten Bulukumba 418.326
5. Kabupaten Wajo 396.810
6. Kabupaten Pinrang 374.583
7. Kabupaten Jeneponto 361.793
8. Kabupaten Luwu 359.209
9. Kabupaten Maros 349.822
10. Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan 332.674
11. Kabupaten Luwu Utara 310.470
12. Kabupaten Sidenreng Rappang 299.123
13. Kabupaten Takalar 295.892
14. Kabupaten Luwu Timur 293.822
15. Kabupaten Sinjai 242.672
16. Kabupaten Tana Toraja 232.821
17. Kabupaten Toraja Utara 229.798
18. Kabupaten Soppeng 226.770
19. Kabupaten Enrekang 204.827
20. Kabupaten Bantaeng 186.612
21. Kota Palopo 180.678
22. Kabupaten Barru 173.623
23. Kota Parepare 143.710
24. Kabupaten Kepulauan Selayar 134.280
Sumber Data: Proyeksi Penduduk Indonesia

Indeks Pembangunan Manusia[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros termasuk kategori daerah yang memiliki IPM yang sedang dengan capaian 68,94 (2018). Untuk melihat capaian IPM dapat dilihat melalui pengelompokan IPM ke dalam 4 kategori, yaitu: IPM < 60 = IPM rendah, 60 ≤ IPM < 70 = IPM sedang, 70 ≤ IPM < 80 = IPM tinggi, dan IPM ≥ 80 = IPM sangat tinggi. Walaupun belum beranjak dari IPM kategori sedang, IPM Kabupaten Maros terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejak tahun 2010.

Keterangan
IPM: Indeks Pembangunan Manusia
AHH: Angka Harapan Hidup
HLS: Harapan Lama Sekolah
RLS: Rata-rata Lama Sekolah
PP: Pengeluaran Perkapita
Tahun AHH HLS RLS PP Hasil IPM Perubahan IPM
2010 68,42 10,82 6,88 8.919,90 64,07 Steady
2011 68,44 11,18 7,10 9.068,87 64,95 00,88
2012 68,47 11,57 7,12 9.154,84 65,50 00,55
2013 68,49 11,96 7,14 9.257,95 66,06 00,56
2014 68,50 12,37 7,17 9.354,53 66,65 00,59
2015 68,55 12,67 7,19 9.468,48 67,13 00,48
2016 68,58 12,96 7,20 9.758,00 67,76 00,63
2017 68,60 12,97 7,42 10.121,00 68,42 00,74
2018 68,74 12,99 7,43 10.558,00 68,94 00,52
Sumber Data: Badan Pusat Statistik RI


Variabel dalam IPM Metode Baru:

1. Angka Harapan Hidup Saat Lahir - AHH (Life Expectancy - e0) Angka Harapan Hidup saat Lahir didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir. AHH mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat. AHH dihitung dari hasil sensus dan survei kependudukan.

2. Rata-rata Lama Sekolah - RLS (Mean Years of Schooling - MYS) Rata-rata Lama Sekolah dide􀀨nisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung dalam penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas.

3. Angka Harapan Lama Sekolah - HLS (Expected Years of Schooling - EYS) Angka Harapan Lama Sekolah didefinisikan lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. Angka Harapan Lama Sekolah dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun ke atas. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak.

4. Pengeluaran per Kapita Disesuaikan Pengeluaran per kapita yang disesuaikan ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (Purcashing Power Parity-PPP). Rata-rata pengeluaran per kapita setahun diperoleh dari Susenas, dihitung dari level provinsi hingga level kab/kota. Rata-rata pengeluaran per kapita dibuat konstan/riil dengan tahun dasar 2012=100. Perhitungan paritas daya beli pada metode baru menggunakan 96 komoditas dimana 66 komoditas merupakan makanan dan sisanya merupakan komoditas non makanan. Metode penghitungan paritas daya beli menggunakan Metode Rao.

Perbandingan Indeks Pembangunan Manusia[sunting | sunting sumber]

Perbandingan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Maros dengan Kabupaten/Kota Lain di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018

No. Kabupaten/Kota Indeks Pembangunan Manusia
1. Kota Makassar 81,73
2. Kota Palopo 77,30
3. Kota Parepare 77,19
4. Kabupaten Luwu Timur 72,16
5. Kabupaten Enrekang 72,15
6. Kabupaten Pinrang 70,62
7. Kabupaten Barru 70,05
8. Kabupaten Sidenreng Rappang 70,60
9. Kabupaten Luwu 69,60
10. Kabupaten Maros 68,94
11. Kabupaten Gowa 68,87
12. Kabupaten Luwu Utara 68,79
13. Kabupaten Wajo 68,57
14. Kabupaten Toraja Utara 68,49
15. Kabupaten Bantaeng 67,76
16. Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan 67,71
17. Kabupaten Bulukumba 67,70
18. Kabupaten Tana Toraja 67,66
19. Kabupaten Soppeng 67,60
20. Kabupaten Sinjai 66,24
21. Kabupaten Takalar 66,07
22. Kabupaten Kepulauan Selayar 66,04
23. Kabupaten Bone 65,04
24. Kabupaten Jeneponto 63,33
Sumber Data: Badan Pusat Statistik RI

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

Bupati Maros
Maros Regency Official Logo.png
Bupati Maros Hatta Rahman.jpg
Petahana
Ir. H. Muhammad Hatta Rahman, M.M.

sejak 17 Februari 2016
KediamanRumah Jabatan Bupati
Masa jabatan5 tahun
Dibentuk1959
Pejabat pertamaH. Noerdin Djohan

Sejak berlakunya UU No. 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi yang memasukkan Kabupaten Maros sebagai salah satu Daerah Tingkat II di Sulawesi, Kabupaten Maros telah dipimpin oleh 14 Bupati dan 3 Penjabat Bupati sampai saat ini. Berikut ini adalah daftar Bupati dan Penjabat Bupati Maros 1960-Sekarang:

No Bupati Mulai Jabatan Akhir Jabatan Prd. Ket. Wakil Bupati
1
H.
Noerdin Djohan
1960
1962
1
2
Kol. (Purn.) H.
Muhammad Yasin Limpo
1962
1962
2
3
Drs. H.
Muhammad Nur Tahir
1962
1963
3
4
Makmur Daeng Sitakka
1963
1965
4
5
Letkol. H.
Muhammad Kasim Daeng Marala
1965
1979
5
6
7
6
Drs. H.
Malik Hambali
1979
1979
8
7
Letkol drg.
Kamaruddin Baso
1979
1984
9
8
Letkol Pol. Drs. H.
Muhammad Arief Wangsa
1984
1989
10
9
Drs. H.
Alwy Rum
1989
1994
11
10
Drs. H.
Nasrun Amrullah
13 September 1994
10 Agustus 1998
12
dibebastugaskan tahun 1998 karena kasus korupsi
Mirdinkasim.jpg H.
Mirdin Kasim
S.H., M.Si.
(Penjabat)
10 Agustus 1998
1999
tidak ada
tidak ada
Andi pamadengrukka mappanyompa.jpg Drs.
Andi Pamadengrukka Mappanyompa
(Penjabat)
1999
1999
tidak ada
tidak ada
Drs. H.
Smith Pabbola
(Penjabat)
1999
1999
tidak ada
tidak ada
11
Nadjamuddin Aminullah.jpg Drs. H.
Andi Nadjamuddin Aminullah
S.Sos.
1999
2004
13
Drs. H.
Andi Paharuddin
Drs. H.
Muhammad Farid Suaib
(Penjabat)
2004
2005
tidak ada
tidak ada
(11)
Nadjamuddin Aminullah.jpg Drs. H.
Andi Nadjamuddin Aminullah
S.Sos.
2005
10 Agustus 2010
(13)
Drs. H.
Andi Paharuddin
12
Bupati-Maros.jpeg Ir. H.
Muhammad Hatta Rahman
M.M.
11 Agustus 2010
10 Agustus 2015
(15)
Wakil Bupati Maros Harmil Mattotorang.jpg Drs. H.
Andi Harmil Mattotorang
M.M.
Andi Herry Iskandar.png Ir. H.
Andi Herry Iskandar
M.Si.
(Penjabat)
11 Agustus 2015
16 Februari 2016
tidak ada
tidak ada
(12)
Bupati Maros Hatta Rahman.jpg Ir. H.
Muhammad Hatta Rahman
M.M.
17 Februari 2016
sedang menjabat
(15)
Wakil Bupati Maros Harmil Mattotorang.jpg Drs. H.
Andi Harmil Mattotorang
M.M.


Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Maros[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan hasil Pemilihan Umum Legislatif 2019, DPRD Kabupaten Maros tersusun dari sepuluh partai, dengan perincian sebagai berikut:

DPRD Maros Masa Jabatan 20 Agustus 2019 — 19 Agustus 2024
Partai Jumlah Kursi No. Legislator Terpilih Status Suara Legislator Daerah Pemilihan Perolehan Suara Partai
28x28px Partai Golkar 7 (20,00%) 1. Muhammad Taufik Malik, S.H. 4.222 suara Maros 3 (Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba & Kecamatan Mallawa) 32.344 (15,96%)
2. Nurwahyuni Malik, S.Pdi 3.144 suara Maros 1 (Kecamatan Maros Baru & Kecamatan Turikale)
3. Muhammad Rusdi 2.671 suara Maros 1 (Kecamatan Maros Baru & Kecamatan Turikale)
4. H. A. Patarai Amir, S.E. petahana (2 periode) 2.635 suara Maros 3 (Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba & Kecamatan Mallawa)
5. H. A. Syarifuddin B. 2.491 suara Maros 2 (Kecamatan Lau & Kecamatan Bontoa)
6. H. Mansyur Janong, S.E. petahana (2 periode) 1.721 suara Maros 5 (Kecamatan Mandai & Kecamatan Marusu)
7. Hj. Nurlinda 1.014 suara Maros 4 (Kecamatan Tanralili, Kecamatan Tompobulu & Kecamatan Moncongloe)
39x39px PAN 6 (17,14%) 1. H. A. S. Chaidir Syam, S.I.P., M.H. petahana (3 periode) 6.322 suara Maros 5 (Kecamatan Mandai & Kecamatan Marusu) 39.226 (19,35%)
2. Hj. Haeriah Rahman, S.P. petahana (2 periode) 3.984 suara Maros 4 (Kecamatan Tanralili, Kecamatan Tompobulu & Kecamatan Moncongloe)
3. H. Muhammad Amri Yusuf, S.STP, M.M. petahana (3 periode) 3.255 suara Maros 1 (Kecamatan Maros Baru & Kecamatan Turikale)
4. Syamsuddin, S.E. 2.745 suara Maros 3 (Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba & Kecamatan Mallawa)
5. Andi Rijal Abdullah, S.E. petahana (2 periode) 2.660 suara Maros 2 (Kecamatan Lau & Kecamatan Bontoa)
6. Hj. Andi Welly petahana (3 periode) 2.089 suara Maros 3 (Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba & Kecamatan Mallawa)
Partai NasDem.svg Partai NasDem 5 (14,29%) 1. Drs. H. Abidin Said, M.Si. 2.617 suara Maros 3 (Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba & Kecamatan Mallawa) 24.820 (12,24%)
2. Hj. Fatmawati, S.M. 1.961 suara Maros 3 (Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba & Kecamatan Mallawa)
3. A. Syahril Mappangara, S.E. petahana (2 periode) 1.583 suara Maros 4 (Kecamatan Tanralili, Kecamatan Tompobulu & Kecamatan Moncongloe)
4. Muhammad Yusuf, S.Sos. 1.358 suara Maros 5 (Kecamatan Mandai & Kecamatan Marusu)
5. Kadir H.L. 912 suara Maros 1 (Kecamatan Maros Baru & Kecamatan Turikale)
Logo Partai Kebangkitan Bangsa.jpg PKB 4 (11,43%) 1. H. Havid S. Pasha, S.H. petahana (2 periode) 2.183 suara Maros 4 (Kecamatan Tanralili, Kecamatan Tompobulu & Kecamatan Moncongloe) 17.326 (08,55%)
2. Muh. Yusuf, S.E. 1.706 suara Maros 3 (Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba & Kecamatan Mallawa)
3. Muhammad Nasir, S.Sos. 1.376 suara Maros 2 (Kecamatan Lau & Kecamatan Bontoa)
4. Hj. Muliati 1.367 suara Maros 5 (Kecamatan Mandai & Kecamatan Marusu)
28x28px Partai Hanura 4 (11,43%) 1. Aisyah Nurliana R, S.Kep. petahana (2 periode) 3.169 suara Maros 4 (Kecamatan Tanralili, Kecamatan Tompobulu & Kecamatan Moncongloe) 16.556 (08,17%)
2. Amran 2.505 suara Maros 5 (Kecamatan Mandai & Kecamatan Marusu)
3. Sudirman 2.087 suara Maros 1 (Kecamatan Maros Baru & Kecamatan Turikale)
4. H. Muh. Rusli Rasyid petahana (2 periode) 1.705 suara Maros 3 (Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba & Kecamatan Mallawa)
35x35px Partai Gerindra 3 (08,57%) 1. Hj. Rosdiana, S.E. 2.527 suara Maros 5 (Kecamatan Mandai & Kecamatan Marusu) 19.606 (09,67%)
2. H. Muh. Yusuf D, S.Sos. petahana (2 periode) 2.437 suara Maros 2 (Kecamatan Lau & Kecamatan Bontoa)
3. Andi Makmur Akmal petahana (2 periode) 2.331 suara Maros 3 (Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba & Kecamatan Mallawa)
Contoh Logo Baru PKS.jpg PKS 2 (05,71%) 1. Rahmat Hidayat, S.E. 3.218 suara Maros 2 (Kecamatan Lau & Kecamatan Bontoa) 13.166 (06,49%)
2. Muhammad Mursyid, S.E. petahana (2 periode) 2.278 suara Maros 1 (Kecamatan Maros Baru & Kecamatan Turikale)
Logo PPP.svg PPP 2 (05,71%) 1. H. Muhammad Salman Sunusi, S.H., M.Kn. petahana (2 periode) 1.953 suara Maros 3 (Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba & Kecamatan Mallawa) 8.554 (04,22%)
2. H. Muh. Hasmin Badoa, S.Sos. petahana (2 periode) 1.864 suara Maros 4 (Kecamatan Tanralili, Kecamatan Tompobulu & Kecamatan Moncongloe)
Democratic Party (Indonesia).svg Partai Demokrat 1 (02,86%) 1. H. Muhammad Yusri Rasyid, S.E. 1.374 suara Maros 1 (Kecamatan Maros Baru & Kecamatan Turikale) 10.121 (04,99%)
Bulan Bintang.jpg PBB 1 (02,86%) 1. Hj. Suriati, S.Sos. petahana (2 periode) 3.376 suara Maros 5 (Kecamatan Mandai & Kecamatan Marusu) 6.436 (03,17%)
PDI-Perjuangan 0 (00,00%) - - - - - 5.696 (02,81%)
PartaiPerindo.png Partai Perindo 0 (00,00%) - - - - - 5.502 (02,71%)
Logo Partai Berkarya.svg Partai Berkarya 0 (00,00%) - - - - - 2.511 (01,24%)
Logo Partai Garuda.svg Partai Garuda 0 (00,00%) - - - - - 850 (00,42%)
LogoPSI.svg PSI 0 (00,00%) - - - - - 0 (00,00%)
38x38px PKPI 0 (00,00%) - - - - - 0 (00,00%)
Total 35 (100%) 202.714 (100%)

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Dapil VI)[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan hasil Pemilihan Umum Legislatif 2019, DPRD Provinsi Sulsel secara keseluruhan tersusun dari 8 partai politik, 85 legislator terpilih di 11 Dapil. Khusus di DPRD Provinsi Sulsel Dapil VI yang terdiri dari 4 kabupaten/kota termasuk di dalamnya Kabupaten Maros, tersusun dari 8 partai politik dan 9 legislator terpilih dengan perincian sebagai berikut:

Anggota DPRD Provinsi Sulsel Masa Jabatan 5 Tahun (24 September 2019 — 23 September 2024)
Partai Jumlah Kursi No. Legislator Terpilih Status Nomor Urut Sebagai Caleg Suara Legislator Daerah Pemilihan (Dapil) Perolehan Suara Partai
39x39px PAN
9
1.
Andi Muhammad Irfan AB, S.T. Baru
1
36.212 suara
Dapil VI
( Maros , Pangkep, Barru, dan Parepare)
62.376 suara
28x28px Partai Golkar
2.
H. Sofyan Syam, S.E. Petahana
9
36.207 suara
96.549 suara
Contoh Logo Baru PKS.jpg PKS
3.
Muzayyin Arif Baru
3
20.706 suara
52.202 suara
28x28px Partai Golkar
4.
Ina Kartika Sari, S.H., M.Si. Baru
1
19.652 suara
96.549 suara
35x35px Partai Gerindra
5.
Hj. Andi Nirawati Kamrussamad, S.T. Baru
2
18.114 suara
58.114 suara
Partai NasDem.svg Partai NasDem
6.
H. Irwan Baru
5
12.827 suara
46.674 suara
Logo Partai Kebangkitan Bangsa.jpg PKB
7.
Anwar A Recca Baru
1
11.363 suara
44.393 suara
PDI-Perjuangan
8.
Rahmat Muhayang Baru
9
10.000 suara
35.947 suara
Democratic Party (Indonesia).svg Partai Demokrat
9.
H. Ni'matullah Erbe Petahana
1
9.595 suara
34.285 suara
DPT: 742.490 (385.438 perempuan & 357.052 pria), Pengguna hak pilih: 599.201 (319.548 perempuan & 279.653 pria)
Total suara: 599.201 (548.490 sah & 50.711 tidak sah)

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (Dapil Sulsel II)[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan hasil Pemilihan Umum Legislatif 2019, DPR RI Dapil Sulsel secara keseluruhan tersusun dari 9 partai politik, 24 legislator terpilih di 3 Dapil. Khusus di Dapil Sulsel II yang terdiri dari 9 kabupaten/kota termasuk di dalamnya Kabupaten Maros, tersusun dari 8 partai politik dan 9 legislator terpilih dengan perincian sebagai berikut:

Anggota DPR RI Terpilih Masa Jabatan 5 Tahun (1 Oktober 2019 — 30 September 2024)
Partai Jumlah Kursi No. Legislator Terpilih Status Nomor Urut Sebagai Caleg Suara Legislator Daerah Pemilihan Perolehan Suara Partai Komisi
35x35px Partai Gerindra
9
1.
H. Andi Iwan Darmawan Aras, S.E. Petahana
1
84.702 suara
Dapil Sulsel II
(Bulukumba, Sinjai, Bone,  Maros , Soppeng, Wajo, Parepare, Barru, dan Pangkep)
224.150 suara
28x28px Partai Golkar
2.
H. Andi Rio Idris Padjalangi, S.H., M.Kn. Petahana
1
71.420 suara 415.048 suara
Contoh Logo Baru PKS.jpg PKS
3.
Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M. Petahana
1
66.340 suara 105.802 suara
39x39px PAN
4.
Hj. Andi Yuliani Paris Petahana
1
56.723 suara 136.679 suara
28x28px Partai Golkar
5.
Supriansa, S.H., M.H. Baru
7
54.659 suara 138.349 suara
Partai NasDem.svg Partai NasDem
6.
drg. Hj. Hasnah Syam, M.A.R.S. Baru
3
51.871 suara 221.252 suara
PDI-Perjuangan
7.
Drs. H. Samsu Niang, M.Pd. Petahana
1
48.376 suara 125.954 suara
Logo PPP.svg PPP
8.
H. Muh Aras, S.Pd., M.M. Baru
1
39.853 suara 125.635 suara
Logo Partai Kebangkitan Bangsa.jpg PKB
9.
Drs. H. Andi Muawiyah Ramly, M.Si. Baru
1
34.471 suara 102.505 suara
DPT: 2.298.403 (1.200.062 perempuan & 1.098.341 pria), Pengguna hak pilih: 1.805.912 (967.824 perempuan & 838.088 pria)
Total suara: 1.805.912 (1.693.992 sah & 111.920 tidak sah)

Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (Dapil Sulsel)[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan hasil Pemilihan Umum Legislatif 2019, DPD RI Dapil Sulsel tersedia 4 (empat) kuota kursi dengan perincian legislator-legislator terpilih sebagai berikut:

DPD RI Dapil Sulsel Masa Jabatan 5 Tahun (1 Oktober 2019 — 30 September 2024)
No. Legislator Terpilih Nomor Urut Sebagai Caleg Suara Legislator Daerah Pemilihan Status Tempat / Tanggal Lahir
1. Andi Muh. Ihsan
24
574.630 Suara Sulawesi Selatan Baru Pannyangkalang (Gowa) / 6 Agustus 1971
2. Lily Amelia Salurapa, S.E., M.M.
28
481.423 Suara Baru Toraja / 10 April 1958
3. Tamsil Linrung
42
455.137 Suara Baru Mandalle (Pangkep) / 17 September 1961
4. Dr. H. Ajiep Padindang, S.E., M.M.
22
427.005 Suara Petahana Batulappa (Bone) / 30 September 1959
DPT: 6.425.788 (3.309.401 perempuan & 3.116.387 pria), Pengguna hak pilih: 5.020.111 (2.658.840 perempuan & 2.361.271 pria)
Total suara: 5.020.111 (4.513.402 suara sah & 506.709 suara tidak sah)

Daftar Organisasi Perangkat Daerah[sunting | sunting sumber]

  • Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Maros
  • Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Maros
  • Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan Daerah Kabupaten Maros
  • Badan Keuangan Daerah Kabupaten Maros
  • Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros
  • Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Kabupaten Maros
  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Maros
  • Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Maros
  • Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Maros
  • Badan Pusat Statistik Kabupaten Maros
  • Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Maros
  • Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros
  • Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Maros
  • Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Maros
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Maros
  • Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Maros
  • Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Maros
  • Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Maros
  • Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Maros
  • Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Maros
  • Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Maros
  • Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Maros
  • Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Maros
  • Dinas Pendidikan Kabupaten Maros
  • Dinas Pengendalian Kependudukan dan Keluarga Berencana Kabupaten Maros
  • Dinas Perhubungan Kabupaten Maros
  • Dinas Perikanan, Kelautan, dan Peternakan Kabupaten Maros
  • Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Maros
  • Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Maros
  • Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros
  • Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan Kabupaten Maros
  • Dinas Sosial Kabupaten Maros
  • Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Maros
  • Inspektorat Daerah Kabupaten Maros
  • Kementerian Agama Kabupaten Maros
  • Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Maros
  • Sekretariat Daerah Kabupaten Maros
  • Sekretariat DPRD Kabupaten Maros
  • Sekretariat Korps Pegawai Republik Indonesia Kabupaten Maros
  • Pengadilan Negeri Maros
  • Pengadilan Agama Maros

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Secara administratif, kabupaten Maros terdiri atas 14 (empat belas) wilayah pembagian administrasi berupa kecamatan sebagai berikut:

No. Kecamatan Kelurahan/Desa Lingkungan/Dusun Ibu Kota Luas (km²) Kode Wilayah
1. Kecamatan Bantimurung 8 37 Pakalu 173,70 73.09.03
2. Kecamatan Bontoa 9 37 Panjalingan 93,52 73.09.05
3. Kecamatan Camba 8 28 Cempaniga 145,36 73.09.02
4. Kecamatan Cenrana 7 34 Bengo 180,97 73.09.10
5. Kecamatan Lau 6 25 Barandasi 73,83 73.09.12
6. Kecamatan Mallawa 11 35 Ladange 235,92 73.09.06
7. Kecamatan Mandai 6 26 Tetebatu 49,11 73.09.01
8. Kecamatan Maros Baru 7 25 Baju Bodoa 53,76 73.09.04
9. Kecamatan Marusu 7 24 Pattene 53,73 73.09.08
10. Kecamatan Moncongloe 5 17 Pamanjengan 46,87 73.09.13
11. Kecamatan Simbang 6 28 Bantimurung 105,31 73.09.09
12. Kecamatan Tanralili 8 32 Ammarang 89,45 73.09.07
13. Kecamatan Tompobulu 8 36 Pucak 287,66 73.09.11
14. Kecamatan Turikale 7 34 Solojirang 29,93 73.09.14
Jumlah 103 418 - 1.619,12 -

Desa/Kelurahan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros memiliki 103 desa/kelurahan sebagai berikut:

  1. Desa A'bulosibatang
  2. Desa Alatengae
  3. Desa Allaere
  4. Desa Ampekale
  5. Desa Baji Mangai
  6. Desa Baji Pa'mai
  7. Desa Baruga
  8. Desa Barugae
  9. Desa Batu Putih
  10. Desa Benteng
  11. Desa Benteng Gajah
  12. Desa Bentenge
  13. Desa Bonto Bahari
  14. Desa Bonto Bunga
  15. Desa Bonto Manai
  16. Desa Bonto Manurung
  17. Desa Bonto Marannu
  18. Desa Bonto Marannu
  19. Desa Bonto Matene
  20. Desa Bonto Matene
  21. Desa Bonto Matinggi
  22. Desa Bonto Somba
  23. Desa Bontotallasa
  24. Desa Bontolempangang
  25. Desa Borikamase
  26. Desa Borimasunggu
  27. Desa Cenrana
  28. Desa Cenrana Baru
  29. Desa Damai
  30. Desa Gattareng Matinggi
  31. Desa Jenetaesa
  32. Desa Kurusumange
  33. Desa Laiya
  34. Desa Labuaja
  35. Desa Lebbotengae
  36. Desa Lekopancing
  37. Desa Limampoccoe
  38. Desa Majannang
  39. Desa Mangeloreng
  40. Desa Marannu
  41. Desa Marumpa
  42. Desa Mattampapole
  43. Desa Mattirotasi
  44. Desa Mattoangin
  45. Desa Minasa Baji
  46. Desa Minasa Upa
  47. Desa Moncongloe
  48. Desa Moncongloe Bulu
  49. Desa Moncongloe Lappara
  50. Desa Nisombalia
  51. Desa Pa'bentengan
  52. Desa Padaelo
  53. Desa Pajukukang
  54. Desa Pattanyamang
  55. Desa Pattiro Deceng
  56. Desa Pattontongan
  57. Desa Pucak
  58. Desa Purna Karya
  59. Desa Rompegading
  60. Desa Salenrang
  61. Desa Samaenre
  62. Desa Samangki
  63. Desa Sambueja
  64. Desa Sawaru
  65. Desa Simbang
  66. Desa Sudirman
  67. Desa Tanete
  68. Desa Tellumpanuae
  69. Desa Tellumpoccoe
  70. Desa Temmapadduae
  71. Desa Tenrigangkae
  72. Desa Timpuseng
  73. Desa Toddo Pulia
  74. Desa Toddolimae
  75. Desa Tompobulu
  76. Desa Tukamasea
  77. Desa Tunikamaseang
  78. Desa Tupabbiring
  79. Desa Uludaya
  80. Desa Wanua Waru
  81. Kelurahan Adatongeng
  82. Kelurahan Allepolea
  83. Kelurahan Alliritengae
  84. Kelurahan Baji Pamai
  85. Kelurahan Baju Bodoa
  86. Kelurahan Bontoa
  87. Kelurahan Bontoa
  88. Kelurahan Boribellaya
  89. Kelurahan Borong
  90. Kelurahan Cempaniga
  91. Kelurahan Hasanuddin
  92. Kelurahan Kalabbirang
  93. Kelurahan Leang-Leang
  94. Kelurahan Maccini Baji
  95. Kelurahan Mario Pulana
  96. Kelurahan Mattiro Deceng
  97. Kelurahan Pallantikang
  98. Kelurahan Pettuadae
  99. Kelurahan Raya
  100. Kelurahan Sabila
  101. Kelurahan Soreang
  102. Kelurahan Taroada
  103. Kelurahan Turikale

Fasilitas Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

  • Kantor Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Maros
  • Kantor Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Maros
  • Kantor Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan Daerah Kabupaten Maros
  • Kantor Badan Keuangan Daerah Kabupaten Maros
  • Kantor Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros
  • Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Kabupaten Maros
  • Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Maros
  • Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Maros
  • Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Maros
  • Kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Pengendalian Kependudukan dan Keluarga Berencana Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Perikanan, Kelautan, dan Peternakan Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Sosial Kabupaten Maros
  • Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Maros
  • Kantor Inspektorat Daerah Kabupaten Maros
  • Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maros
  • Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Maros
  • Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Maros
  • Kantor Sekretariat DPRD Kabupaten Maros
  • Kantor Sekretariat Korps Pegawai Republik Indonesia Kabupaten Maros
  • Kantor Kepala Desa Allaere
  • Kantor Kepala Desa Sudirman
  • Kantor Kepala Desa Damai
  • Kantor Kepala Desa Toddo Pulia
  • Kantor Kepala Desa Purna Karya
  • Kantor Kepala Desa Lekopancing
  • Kantor Kepala Desa Kurusumange
  • Kantor Kepala Desa Benteng
  • Kantor Kepala Desa Cenrana
  • Kantor Kepala Desa Pattanyamang
  • Kantor Kepala Desa Pattiro Deceng
  • Kantor Kepala Desa Sawaru
  • Kantor Kepala Desa Timpuseng
  • Kantor Kepala Desa Bontotallasa
  • Kantor Kepala Desa Jenetaesa
  • Kantor Kepala Desa Sambueja
  • Kantor Kepala Desa Samangki
  • Kantor Kepala Desa Simbang
  • Kantor Kepala Desa Tanete
  • Kantor Kepala Desa Benteng Gajah
  • Kantor Kepala Desa Bonto Manai
  • Kantor Kepala Desa Bonto Manurung
  • Kantor Kepala Desa Bonto Matinggi
  • Kantor Kepala Desa Bonto Somba
  • Kantor Kepala Desa Pucak
  • Kantor Kepala Desa Toddolimae
  • Kantor Kepala Desa Tompobulu
  • Kantor Kepala Desa Baji Pa'mai
  • Kantor Kepala Desa Cenrana Baru
  • Kantor Kepala Desa Labuaja
  • Kantor Kepala Desa Laiya
  • Kantor Kepala Desa Lebbotengae
  • Kantor Kepala Desa Limampoccoe
  • Kantor Kepala Desa Rompegading
  • Kantor Kepala Desa Ampekale
  • Kantor Kepala Desa Bonto Bahari
  • Kantor Kepala Desa Bontolempangang
  • Kantor Kepala Desa Minasa Upa
  • Kantor Kepala Desa Pajukukang
  • Kantor Kepala Desa Salenrang
  • Kantor Kepala Desa Tunikamaseang
  • Kantor Kepala Desa Tupabbiring
  • Kantor Kepala Desa Barugae
  • Kantor Kepala Desa Batu Putih
  • Kantor Kepala Desa Bentenge
  • Kantor Kepala Desa Gattareng Matinggi
  • Kantor Kepala Desa Mattampapole
  • Kantor Kepala Desa Padaelo
  • Kantor Kepala Desa Samaenre
  • Kantor Kepala Desa Tellumpanuae
  • Kantor Kepala Desa Uludaya
  • Kantor Kepala Desa Wanua Waru
  • Kantor Kepala Desa A'bulosibatang
  • Kantor Kepala Desa Bonto Matene
  • Kantor Kepala Desa Marumpa
  • Kantor Kepala Desa Nisombalia
  • Kantor Kepala Desa Pa'bentengan
  • Kantor Kepala Desa Tellumpoccoe
  • Kantor Kepala Desa Temmapadduae
  • Kantor Kepala Desa Baji Mangai
  • Kantor Kepala Desa Bonto Matene
  • Kantor Kepala Desa Pattontongan
  • Kantor Kepala Desa Tenrigangkae
  • Kantor Kepala Desa Marannu
  • Kantor Kepala Desa Bonto Marannu
  • Kantor Kepala Desa Alatengae
  • Kantor Kepala Desa Majannang
  • Kantor Kepala Desa Mattirotasi
  • Kantor Kepala Desa Borikamase
  • Kantor Kepala Desa Borimasunggu
  • Kantor Kepala Desa Mattoangin
  • Kantor Kepala Desa Minasa Baji
  • Kantor Kepala Desa Baruga
  • Kantor Kepala Desa Tukamasea
  • Kantor Kepala Desa Mangeloreng
  • Kantor Kepala Desa Moncongloe
  • Kantor Kepala Desa Moncongloe Bulu
  • Kantor Kepala Desa Bonto Bunga
  • Kantor Kepala Desa Bonto Marannu
  • Kantor Kepala Desa Moncongloe Lappara
  • Kantor Camat Mallawa
  • Kantor Camat Camba
  • Kantor Camat Cenrana
  • Kantor Camat Simbang
  • Kantor Camat Tompobulu
  • Kantor Camat Turikale
  • Kantor Camat Lau
  • Kantor Camat Bontoa
  • Kantor Camat Marusu
  • Kantor Camat Maros Baru
  • Kantor Camat Bantimurung
  • Kantor Camat Moncongloe
  • Kantor Camat Tanralili
  • Kantor Camat Mandai
  • Kantor Lurah Kalabbirang
  • Kantor Lurah Leang-Leang
  • Kantor Lurah Boribellaya
  • Kantor Lurah Turikale
  • Kantor Lurah Raya
  • Kantor Lurah Adatongeng
  • Kantor Lurah Taroada
  • Kantor Lurah Pettuadae
  • Kantor Lurah Alliritengae
  • Kantor Lurah Maccini Baji
  • Kantor Lurah Mattiro Deceng
  • Kantor Lurah Soreang
  • Kantor Lurah Allepolea
  • Kantor Lurah Bontoa
  • Kantor Lurah Bontoa
  • Kantor Lurah Hasanuddin
  • Kantor Lurah Borong
  • Kantor Lurah Sabila
  • Kantor Lurah Cempaniga
  • Kantor Lurah Baji Pamai
  • Kantor Lurah Baju Bodoa
  • Kantor Lurah Pallantikang
  • Kantor Lurah Mario Pulana
  • Gedung Serbaguna Maros
  • Rumah Dongeng Chapter Maros
  • Sekretariat DPC Granat Maros
  • Rumah Singgah Salewangang
  • Kantor Bupati Maros
  • Kantor DPRD Kabupaten Maros
  • Kantor Pengadilan Negeri Maros
  • Kantor Sekretariat DPD II Partai Golkar Kabupaten Maros: Jl. Bakri Kelurahan Turikale
  • Kantor Sekretariat DPD PAN Kabupaten Maros: Jl. Jenderal Sudirman No. 131 E Kelurahan Pettuadae
  • Kantor Sekretariat DPD Partai NasDem Kabupaten Maros: Jl. Gladiol Kelurahan Pettuadae
  • Kantor Sekretariat DPC Partai Hanura Kabupaten Maros: Kelurahan Pettuadae
  • Kantor Sekretariat DPC PKB Kabupaten Maros: Jl. Andi Pangerang Pettarani No. 40 Kelurahan Pettuadae
  • Kantor Sekretariat DPC PPP Kabupaten Maros: Jl. Gladiol No. 13 Kelurahan Pettuadae

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Sarana[sunting | sunting sumber]

  • Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak Darul Istiqamah Maccopa
  • Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) Sehati Desa Nisombalia
  • Klinik Adhillah Farma
  • Klinik Andarista Medika Kelurahan Bontoa
  • Klinik Anindhita Polres Maros Kelurahan Turikale
  • Kilinik Bidan Endang Tumalia Kelurahan Adatongeng
  • Klinik Dokter H. A. Firman Jaya Kelurahan Allepolea
  • Klinik Gigi Kimia Farma Maros 2 Kelurahan Pettuadae
  • Klinik Hj. Siti Hudayah Maros
  • Klinik Kimia Farma Maros Kelurahan Taroada
  • Klinik Lapas Kelas II Maros
  • Klinik Medina Maros Kelurahan Taroada
  • Klinik Pratama Terpadu Kelurahan Pettuadae
  • Klinik PT Semen Bosowa
  • Klinik Setia Kawan Kelurahan Alliritengae
  • Klinik Solecha Skin Care Kelurahan Alliritengae
  • Klinik STIBA Cabang Kabupaten Maros
  • Klinik Syahrina Kelurahan Bontoa
  • Klinik Syamsinar Maros
  • Poskesdes Harapan Kelurahan Leang-Leang
  • Poskesdes Kacampureng Kelurahan Boribellaya
  • Poskesdes Kuri Caddi Desa Nisombalia
  • Poskesdes Desa Majannang
  • Poskesdes Desa Mattoangin
  • Poskesdes Panaikang Desa Salenrang
  • Poskesdes Terkini Desa Alatengae
  • Posyandu Belang-Belang Kelurahan Maccini Baji
  • Posyandu Latulip Desa Bontotallasa
  • Posyandu Lestari Dusun Mambue Desa Nisombalia
  • Posyandu Mandiri Desa Minasa Baji
  • Posyandu Mawar Putih Kelurahan Boribellaya
  • Posyandu Mekar Mangemba Desa Bontolempangang
  • Posyandu Melati Desa Minasa Upa
  • Posyandu Nurul Ikhsan Lingkungan Perumnas Tumalia Kelurahan Adatongeng
  • Posyandu Tamarampu Kelurahan Bontoa
  • Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang Kabupaten Maros : Kelurahan Adatongeng, Kecamatan Turikale
  • Ruqyah Syar'iyyah Maros Kelurahan Allepolea
  • UPT Gudang Farmasi
  • UPT Puskesmas Bantimurung : Lingkungan Pakalu, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung
  • UPT Puskesmas Bonto Marannu : Dusun Tambua, Desa Bonto Marannu, Kecamatan Lau
  • UPT Puskesmas Bontoa : Desa Tunikamaseang, Kecamatan Bontoa
  • UPT Puskesmas Camba : Lingkungan Tobonggae, Kelurahan Cempaniga, Kecamatan Camba
  • UPT Puskesmas Cenrana : Dusun Watang Bengo, Desa Limampoccoe, Kecamatan Cenrana
  • UPT Puskesmas Lau : Lingkungan Maccini Ayo, Kelurahan Maccini Baji, Kecamatan Lau
  • UPT Puskesmas Mallawa : Lingkungan Lappa Binare, Kelurahan Sabila, Kecamatan Mallawa
  • UPT Puskesmas Mandai : Lingkungan Bontoa, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Mandai
  • UPT Puskesmas Maros Baru : Dusun Jawi-Jawi, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru
  • UPT Puskesmas Marusu : Dusun Pattene, Desa Temmapadduae, Kecamatan Marusu
  • UPT Puskesmas Moncongloe : Dusun Pammanjengang, Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe
  • UPT Puskesmas Simbang : Dusun Rumbia, Desa Tanete, Kecamatan Simbang
  • UPT Puskesmas Tanralili : Dusun Carangki Selatan, Desa Lekopancing, Kecamatan Tanralili
  • UPT Puskesmas Tompobulu : Dusun Puncak, Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu
  • UPT Puskesmas Turikale : Lingkungan Kassi Polong, Kelurahan Alliritengae, Kecamatan Turikale

Kehutanan[sunting | sunting sumber]

Kawasan Hutan[sunting | sunting sumber]

Kawasan hutan di Kabupaten Maros menurut kategori hutan dapat dibagi atas 3 jenis, yakni hutan menurut fungsinya (Hutan Lindung, Hutan Produksi Biasa/Terbatas, dan Taman Nasional). Luas total kawasan hutan di Kabupaten Maros tahun 2015 adalah 65.022 Ha, yang terdiri atas 14.611 Ha hutan lindung, 15.365 Ha hutan produksi biasa, 6.434 Ha hutan produksi terbatas, dan 28.610 Ha taman nasional. Untuk lebih jelasnya maka disajikan dengan tabel berikut:

Tabel Luas Kawasan Hutan Dirinci Menurut Jenis dan Kecamatan di Kabupaten Maros Tahun 2015
No. Kecamatan Fungsi Kawasan Taman Nasional Total Kawasan Hutan (Ha)
Hutan Lindung Hutan Produksi
Hutan Produksi Biasa Hutan Produksi Terbatas
1. Kecamatan Bantimurung 2.417 94 - 6.750 9.261
2. Kecamatan Bontoa 323 - - - 323
3. Kecamatan Camba - - 1.283 3.623 4.906
4. Kecamatan Cenrana 4.972 1.672 2.244 2.825 11.713
5. Kecamatan Lau 87 - - - -
6. Kecamatan Mallawa 574 2.473 1.586 10.024 14.658
7. Kecamatan Mandai - - - - -
8. Kecamatan Maros Baru - - - - -
9. Kecamatan Marusu - - - - -
10. Kecamatan Moncongloe - - - - -
11. Kecamatan Simbang 16 561 - 4.184 4.762
12. Kecamatan Tanralili - 543 - - 543
13. Kecamatan Tompobulu 6.222 10.022 1.321 1.204 18.769
14. Kecamatan Turikale - - - - -
Jumlah 14.611 15.365 6.434 28.610 65.022
Sumber Data: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Maros dalam BPS Kabupaten Maros

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa wilayah kecamatan yang memiliki kawasan hutan adalah sebanyak 9 kecamatan. Luas kawasan hutan yang terbanyak di Kabupaten Maros adalah Kecamatan Tompobulu dan Mallawa.

Persebaran Hutan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini nama-nama persebaran hutan di Kabupaten Maros:

Produksi Kayu Hutan[sunting | sunting sumber]

Produksi Kayu Hutan Menurut Jenis Produksi di Kabupaten Maros (m³)

Tahun Kayu Bulat (m³) Kayu Gergajian (m³) Kayu Lapis (m³)
2000
2001
2002
2003
2004 755,00 2.010,44 -
2005 548,00 2.120,33 -
2006 860,00 2.502,43 -
2007 963,00 3.210,32 -
2008 1.015,00 3.187,53 -
2009 1.120,00 4.481,97 -
2010 722,25 6.174,46 -
2011 801,30 4.375,18 -
2012 970,47 5.671,32 -
2013 839,15 4.716,45 -
2014 821,75 4.867,57 -
2015 381,86 4.146,56 -
2016 - - -
2017 - - -
2018 - - -
2019 - - -
2020 - - -
Sumber Data: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Maros dalam BPS Kabupaten Maros



Produksi Kayu Hutan Menurut Jenis Hutan di Kabupaten Maros
Tahun Jenis Hutan
Jati (m²) Rimba Campuran (m³) Kayu Bakar (SM) Bambu (batang) Rotan (ton) Getah Pinus (kg)
2000
2001 1.461 210 3.250 - - 13.305
2002 1.520 - 850 8.000 - 79.439
2003 884,29 35.000 1.250 75.000 1.851 50.000
2004 37,40 - 7.886 25.765 - -
2005 38,00 - 4,5 35.550 - -
2006 860,00 - 8,5 86.100 - -
2007 860,00 - 8,5 85.500 - -
2008
2009
2010
Sumber Data: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Maros dalam BPS Kabupaten Maros

Jenis hasil hutan terproduksi tiap tahunnya, seperti kayu jati, kayu bakar, dan bambu mengalami pertumbuhan tiap tahunnya. Ketiga jenis hasil hutan ini memiliki keterkaitan langsung dengan orientasi usaha yang berkembang di Kabupaten Maros maupun daerah sekitarnya, terutama di Kota Makassar. Kayu jati merupakan bahan baku industri furniture, kayu bakar memenuhi kebutuhan kegiatan masak, baik oleh penduduk maupun usaha-usaha lainnya, dan untuk bambu dipergunakan untuk berbagai keperluan, terutama untuk kegiatan bangunan yang banyak dilaksanakan. Selain itu juga Kabupaten Maros memiliki potensi Tegakan Pinus yang terdapat di 4 kecamatan, yakni Kecamatan Tompobulu, Cenrana, Camba, dan Mallawa.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2018, tercatat sebanyak 43 pasar yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Maros. Sedangkan jumlah pedagang menurut skalanya 147 pedagang menengah, 3.629 pedagang kecil, dan 17.462 pedagang mikro.

Pos[sunting | sunting sumber]

Bank[sunting | sunting sumber]

  • Bank BNI Cabang Maros
  • Bank BRI Cabang Maros
  • Bank BTN Cabang Maros
  • Bank BTPN Cabang Maros
  • Bank Danamon Cabang Maros
  • Bank Mandiri Cabang Maros
  • Bank Mandiri Syariah Cabang Maros
  • Bank Mega Cabang Maros
  • Bank Muamalat Cabang Maros
  • Bank Panin Cabang Maros
  • Bank Sulselbar Cabang Maros
  • Bank Tani Lembaga Keuangan Mikro Agrobisnis (LKMA) Kecamatan Tanralili Masril Koto

Hotel[sunting | sunting sumber]

  • Grand Town Hotel Mandai (Bintang 3)
  • Airy Mandai (Bintang 1)
  • D'Mars Hotel
  • Hotel Bunga Maros
  • Airy Eco Mandai (Bintang 1)
  • Kanaka Giana Hotel (Bintang 1)
  • Hotel Afiat (Bintang 1)
  • Hotel Bantimurung

Pusat perbelanjaan[sunting | sunting sumber]

  • Pasar Butta Salewangang Maros (Pasar BSM)/Pasar Tradisional Modern Maros (Pasar Tramor Maros)
  • Pasar Sentral Maros
  • Pasar Malam Kelurahan Pettuadae
  • Pasar Sentral Tobonggae Kelurahan Cempaniga
  • Pasar Rakyat Batangase Kecamatan Mandai
  • Pasar Tradisional Pute
  • Pasar Lembang Camba
  • Pasar Tradisional Sabila
  • Pasar Rakyat Panjallingan Kecamatan Bontoa
  • Pasar Rakyat Bengo Kecamatan Cenrana
  • Pasar Rakyat Pakalu
  • Pasar Rakyat Barandasi
  • Pasar Rakyat Maros Baru Kecamatan Maros Baru
  • Plaza Maros
  • Pasar Mandai
  • Grand Mall Maros
  • Pasar Kariango
  • Pasar Pattontongan
  • Pasar Simbang (Pasar Rumbia)
  • Pasar Sakeang
  • Pasar Carangki
  • Pasar Masale
  • Pasar Rakyat Bulu-Bulu Kecamatan Marusu
  • Pasar Diccekang
  • Pasar Tradisional Amma'rang
  • Pasar Rakyat Bonto Jolong Kelurahan Raya

Perusahaan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

PAUD[sunting | sunting sumber]

  • KB Swasta Abas Desa Tompobulu
  • KB Swasta Adinda Desa Nisombalia
  • KB Swasta Al-Ahda Kelurahan Taroada
  • KB Swasta Al-Baroqah Kelurahan Turikale
  • KB Swasta Al-Falah Desa A'bulosibatang
  • KB Swasta Al-Faqih Desa Bonto Marannu
  • KB Swasta Al-Fathinah Mangemba Desa Bontolempangang
  • KB Swasta Al-Inayah Desa Tanete
  • KB Swasta Al-Iqrar Kelurahan Allepolea
  • KB Swasta Al-Hamzah Desa Benteng
  • KB Swasta Al-Mubaraq Desa Bonto Somba
  • KB Swasta Al-Munawwarah Desa Damai
  • KB Swasta Aliah Desa Moncongloe
  • KB Swasta Alifia Nur Auliah Desa Moncongloe Bulu
  • KB Swasta Amanah Desa Tunikamaseang
  • KB Swasta An-Nahda Desa Laiya
  • KB Swasta An-Namira Desa Borimasunggu
  • KB Swasta An-Nisa Desa Borikamase
  • KB Swasta An-Nur Desa Borikamase
  • KB Swasta An-Nur Desa Moncongloe Lappara
  • KB Swasta An-Nur Kelurahan Baji Pamai
  • KB Swasta Ananda Ceria Desa Pajukukang
  • KB Swasta Ananda Kelurahan Hasanuddin
  • KB Swasta Anggrek Kelurahan Boribellaya
  • KB Swasta Annajiyah Kelurahan Bontoa
  • KB Swasta Annisa Desa Minasa Baji
  • KB Swasta Apel Desa Jenetaesa
  • KB Swasta Assumbatu Desa Benteng
  • KB Swasta Azzahrah Kelurahan Taroada
  • KB Swasta Babul Jannah Desa Baji Mangai
  • KB Swasta Baji Ada Desa Moncongloe Bulu
  • KB Swasta Belaian Kasih Desa Minasa Upa
  • KB Swasta Bentenge Desa Bonto Matene
  • KB Swasta Beringin Desa Salenrang
  • KB Swasta Bola Padang Desa Bontotallasa
  • KB Swasta Bukit Harapan Desa Labuaja
  • KB Swasta Bunda Kelurahan Bontoa
  • KB Swasta Busnih Arfah Desa Toddolimae
  • KB Swasta Cahaya Nipa Desa Tanete
  • KB Swasta Cemara Desa Minasa Upa
  • KB Swasta Ceria Desa Moncongloe Lappara
  • KB Swasta Ceria Kelurahan Bontoa
  • KB Swasta Darul Istiqamah Kelurahan Bontoa
  • KB Swasta Fibrito Pelita Kemala Desa Kurusumange
  • KB Swasta Handayani Desa Pa'bentengan
  • KB Swasta Harapan Bangsa Desa Moncongloe
  • KB Swasta Harapan Bangsa Desa Tompobulu
  • KB Swasta Harapan Baru Desa Simbang
  • KB Swasta Harapan Kita Desa Kurusumange
  • KB Swasta Hasanah Kelurahan Borong
  • KB Swasta Hatijah Desa Bonto Manurung
  • KB Swasta Idaman Kelurahan Bontoa
  • KB Swasta Inayah Desa Tanete
  • KB Swasta Jalinan Kasih Kelurahan Alliritengae
  • KB Swasta Julu Siri Desa Damai
  • KB Swasta Kaluku Desa Limampoccoe
  • KB Swasta Kasih Ibu Kelurahan Adatongeng
  • KB Swasta Kirana Desa Sudirman
  • KB Swasta Kuncup Mekar Desa Purna Karya
  • KB Swasta Malaka Baru Desa Cenrana Baru
  • KB Swasta Mappasaile Desa Limampoccoe
  • KB Swasta Mardiyatul Wildan Kelurahan Bontoa
  • KB Swasta Matanre Desa Cenrana Baru
  • KB Swasta Mattoangin Desa Mattoangin
  • KB Swasta Mattoanging Desa Limampoccoe
  • KB Swasta Mawar Kelurahan Boribellaya
  • KB Swasta Mekar Jaya Desa Lekopancing
  • KB Swasta Mekar Jaya Desa Salenrang
  • KB Swasta Mekar Wangi Desa Tenrigangkae
  • KB Swasta Melati Desa Lekopancing
  • KB Swasta Melati Kelurahan Turikale
  • KB Swasta Mentari Kelurahan Adatongeng
  • KB Swasta Muassyarah Desa Pucak
  • KB Swasta Namira Pratama Desa Sambueja
  • KB Swasta Nelayan Bersatu Desa Ampekale
  • KB Swasta Nur Annisa Kelurahan Maccini Baji
  • KB Swasta Nur Qalbi Kelurahan Baju Bodoa
  • KB Swasta Nurhidayah Kelurahan Baji Pamai
  • KB Swasta Nurul Amin Desa Bontotallasa
  • KB Swasta Nurul Ilmi Desa Benteng Gajah
  • KB Swasta Nurul Ilmi Desa Bontolempangang
  • KB Swasta Nurul Izmi Desa Bonto Manai
  • KB Swasta Nusantara Tamangesang Desa Bontolempangang
  • KB Swasta Pangembang Tompobulu Desa Pucak
  • KB Swasta Pelangi Desa Wanua Waru
  • KB Swasta Perintis Desa Bontolempangang
  • KB Swasta Pertiwi Desa Laiya
  • KB Swasta Puncak Bina Lestari Desa Pucak
  • KB Swasta Sabantang Desa Toddo Pulia
  • KB Swasta Salewangang Desa Majannang
  • KB Swasta Salzabilah Desa Mattirotasi
  • KB Swasta Sambueja Desa Sambueja
  • KB Swasta Sari Desa Marannu
  • KB Swasta Satria Desa Sudirman
  • KB Swasta Sayang Anak Desa Pucak
  • KB Swasta Sehati Kelurahan Borong
  • KB Swasta Sejahtera Desa Pattontongan
  • KB Swasta Semangat Baruga Desa Barugae
  • KB Swasta Seruni Desa Bonto Bunga
  • KB Swasta Seruni Desa Minasa Upa
  • KB Swasta Sinar Tanete Desa Tanete
  • KB Swasta Sipurennu Desa Lekopancing
  • KB Swasta Smart Kids Kelurahan Adatongeng
  • KB Swasta Tigo Putra Desa Bonto Marannu
  • KB Swasta Toddopuli Desa Toddo Pulia
  • KB Swasta Tunas Bangsa Desa Bonto Marannu
  • KB Swasta Tunas Harapan Desa Jenetaesa
  • KB Swasta Tunas Harapan Desa Purna Karya
  • KB Swasta Tunas Jaya Desa Pattontongan
  • KB Swasta Tunas Mekar Desa Mattirotasi
  • KB Swasta Tunas Mekar Desa Salenrang
  • KB Swasta Tunas Muda Desa Tenrigangkae
  • KB Swasta Tupabbiring Desa Mattirotasi
  • KB Swasta Ulfira Kelurahan Baju Bodoa
  • KB Swasta Ulul Albab Kelurahan Pettuadae
  • KB Swasta Yudhi Lestari Desa Purna Karya
  • PAUD Swasta Lestari Desa Bontolempangang
  • PPTQ Assaadah Kelurahan Pettuadae
  • RA Swasta Ainus Syamsi Kelurahan Baju Bodoa
  • RA/BA/TA Swasta Al-Amin DDI Cambalagi Desa Tupabbiring
  • RA Swasta Al-Irsyad Biringkaloro Kelurahan Borong
  • RA Swasta Al-Isro Tanralili Kelurahan Borong
  • RA Swasta Al-Manar Kelurahan Pettuadae
  • RA Swasta Al-Muhajirin DDI Sakeang Desa Benteng Gajah
  • RA Swasta Al-Multazam Hj. Sitti Takko Desa Samangki
  • RA Swasta An-Nur Barambang Kelurahan Bontoa
  • RA Swasta Ar-Rahmah Sambotara Kelurahan Bontoa
  • RA Swasta Bina Insani Kelurahan Taroada
  • RA Swasta Darul Rasyidin Kecamatan Simbang
  • RA Swasta DDI Soreang Kelurahan Soreang
  • RA Swasta Dharma Wanita Agama Kelurahan Pettuadae
  • RA Swasta Hj. Haniah Desa Bontotallasa
  • RA Swasta Nur Rahmah Bentenge Desa Bonto Matene
  • RA Swasta Nurul Hidayah Kelurahan Alliritengae
  • RA Swasta Nurul Iman kelurahan Allepolea
  • RA Swasta Pakalli Desa Alatengae
  • RA Swasta Yadi Bontocina Kelurahan Raya
  • TK Negeri 1 Pusat PAUD Al-Hidayah Desa Tupabbiring
  • TK Negeri 2 Pusat PAUD Al-Ikhlas Desa Batu Putih
  • TK Negeri 3 Pusat PAUD Miftahul Khaer Kelurahan Pallantikang
  • TK Negeri 4 Pusat PAUD Bahari Jaya Desa Bonto Bahari
  • TK Negeri 5 Pusat PAUD Harapan Bangsa Desa Tellumpoccoe
  • TK Negeri 6 Pusat PAUD Tunas Bangsa Desa Bonto Matene
  • TK Negeri 7 Pusat PAUD Harapan Bangsa Desa Bonto Marannu
  • TK Negeri 8 Pusat PAUD An-Awwal Desa Tanete
  • TK Negeri 9 Pusat PAUD Al-Falah Kelurahan Leang-Leang
  • TK Negeri 10 Pusat PAUD Kuncup Mekar Desa Pattiro Deceng
  • TK Negeri 11 Pusat PAUD Al-Tajri Desa Tellumpanuae
  • TK Negeri 12 Pusat PAUD Cikal Harapan Kecamatan Cenrana
  • TK Negeri 13 Pembina Kelurahan Maccini Baji
  • TK Negeri 14 Pembina Desa Mangeloreng
  • TK Negeri 15 Gattareng Matinggi Desa Gattareng Matinggi
  • TK Negeri 16 Dharma Wanita Mandai Kelurahan Bontoa
  • TK Negeri 17 Dharma Wanita Desa Alatengae
  • TK Swasta Aba Baji Pa'mai Desa Baji Pa'mai
  • TK Swasta Aba Kappang Desa Labuaja
  • TK Swasta Aba Mario Kelurahan Mario Pulana
  • TK Swasta Aba Tajo Desa Sawaru
  • TK Swasta Airin Diana Maros Kelurahan Turikale
  • TK Swasta Aisyiyah Abbalu Desa Padaelo
  • TK Swasta Aisyiyah Bustanul Athfal Marusu Kecamatan Marusu
  • TK Swasta Aisyiyah Bustanul Athfal Nurul Hasanah Nahung Desa Labuaja
  • TK Swasta Aisyiyah Bustanul Athfal Pattanyamang Desa Pattanyamang
  • TK Swasta Aisyiyah Bustanul Athfal Talamangape Kelurahan Raya
  • TK Swasta Aisyiyah Bustanul Athfal Tamarampu Kelurahan Bontoa
  • TK Swasta Aisyiyah Bustanul Athfal Turikale Kelurahan Turikale
  • TK Swasta Aisyiyah Matajang Desa Timpuseng
  • TK Swasta Aisyiyah Talamangape Kelurahan Raya
  • TK Swasta Aisyiyah Timpuseng Desa Timpuseng
  • TK Swasta Aisyiyah Tobanggae Kelurahan Cempaniga
  • TK Swasta Aisyiyah Tollu Desa Sawaru
  • TK Swasta Aisyiyah Ujung Desa Pattiro Deceng
  • TK Swasta Al-Ahda Taroada Kelurahan Taroada
  • TK Swasta Al-Hikmah Desa Marumpa
  • TK Swasta Al-Ikhlas Kelurahan Bontoa
  • TK Swasta Al-Insyirah Desa Moncongloe Bulu
  • TK Swasta Al-Madani Desa Moncongloe Lappara
  • TK Swasta Al-Rahma Kecamatan Marusu
  • TK Swasta Alternatif Abbekae Desa Damai
  • TK Swasta Amalia Baji Pa'mai Desa Baji Pa'mai
  • TK Swasta Amanah Mandiri Mattiro Deceng Kelurahan Mattiro Deceng
  • TK Swasta An-Nur Desa Moncongloe Lappara
  • TK Swasta Andika Bonto Ramba Desa Bonto Matene
  • TK Swasta Angkasa Pura
  • TK Swasta Angkasa III Mandai Kelurahan Hasanuddin
  • TK Swasta Annaila Pattalassang Desa Tunikamaseang
  • TK Swasta Ar-Rizky Desa Pajukukang
  • TK Swasta Asa Rumbia Desa Tanete
  • TK Swasta At-Taufiq Maccopa Kelurahan Taroada
  • TK Swasta Attariq Kelurahan Bontoa
  • TK Swasta Bina Insani Nirwana Desa Moncongloe Lappara
  • TK Swasta Buah Hati Tanate Desa Tanete
  • TK Swasta Bustanul Athfal Mallisu Kelurahan Cempaniga
  • TK Swasta Fardillah Desa Moncongloe
  • TK Swasta Fastabiqul Khaerat Kelurahan Taroada
  • TK Swasta Ibnu Hasyim Kelurahan Turikale
  • TK Swasta Islam Al-Amin Desa Mattoangin
  • TK Swasta Islam Al-Amin Desa Nisombalia
  • TK Swasta Islam Al-Wasi Desa Nisombalia
  • TK Swasta Islam An-Nas Toddo Pulia Desa Toddo Pulia
  • TK Swasta Islam Nurul Anwar Desa Marumpa
  • TK Swasta Islam Nurul Mubarak Kelurahan Adatongeng
  • TK Swasta Islam Nurussalam Kelurahan Adatongeng
  • TK Swasta Islam Padi Melati Kecamatan Marusu
  • TK Swasta Islam Terpadu (IT) Al-Madinah Kelurahan Allepolea
  • TK Swasta Islam Terpadu (IT) Bina Insani Desa Bonto Matene
  • TK Swasta Istiqamah Kelurahan Bontoa
  • TK Swasta Harapan Ibu Halawatul Iman Desa Moncongloe Lappara
  • TK Swasta Harapan Kita Desa Tellumpanuae
  • TK Swasta Kambria Desa Baruga
  • TK Swasta Kartika IX-5 Kostrad Desa Sudirman
  • TK Swasta Kartika IX-6 Kostrad Desa Sambueja
  • TK Swasta Kartika XX-14 Desa Purna Karya
  • TK Swasta Kemala Bhayangkari 07 Kelurahan Turikale
  • TK Swasta Lestari Bentenge Desa Bentenge
  • TK Swasta Limampoccoe Desa Limampoccoe
  • TK Swasta LKMD Kelurahan Kalabbirang
  • TK Swasta Mardiyatul Wildan Kelurahan Bontoa
  • TK Swasta Masita Kelurahan Bontoa
  • TK Swasta Mekar Jaya Desa Samaenre
  • TK Swasta Melati Desa Rompegading
  • TK Swasta Mukaddimah Bukit Mutiara Desa Moncongloe Lappara
  • TK Swasta Mutiara Sari Uludaya Desa Uludaya
  • TK Swasta Mutiara Sari II Kelurahan Baju Bodoa
  • TK Swasta Naura Nashyefa Desa Tunikamaseang
  • TK Swasta Nurul Amalia Kelurahan Maccini Baji
  • TK Swasta Nurul Mubarak Kelurahan Adatongeng
  • TK Swasta Oryza Sativa Maros Kelurahan Allepolea
  • TK Swasta Pallantikang Parangtinggia Kecamatan Simbang
  • TK Swasta Pelita Kemala Desa Kurusumange
  • TK Swasta Pertiwi Jenetaesa Desa Jenetaesa
  • TK Swasta Pertiwi Kelurahan Cempaniga
  • TK Swasta Pertiwi Kelurahan Kalabbirang
  • TK Swasta Pertiwi Maros Kelurahan Turikale
  • TK Swasta Perumnas Tumalia Kelurahan Adatongeng
  • TK Swasta PGRI Garangtiga Desa Simbang
  • TK Swasta PGRI Kelurahan Leang-Leang
  • TK Swasta PGRI Kurusumange Desa Lekopancing
  • TK Swasta PKK Barandasi Kelurahan Maccini Baji
  • TK Swasta PKK Minasa Baji Desa Minasa Baji
  • TK Swasta PKK No. 6 Allaere Desa Allaere
  • TK Swasta Pratiwi Desa Majannang
  • TK Swasta PAUD Asyifah Furqan Kelurahan Bontoa
  • TK Swasta Qanita Tiara IV Desa Marumpa
  • TK Swasta Rachmat Desa Cenrana
  • TK Swasta Rhaodatul Jannah Desa Cenrana
  • TK Swasta Satu Atap (Satap) Kelurahan Pallantikang
  • TK Swasta Syam Nur Pangisoreng Desa Batu Putih
  • TK Swasta Thalabul Ilmi Desa Moncongloe Lappara
  • TK Swasta Tunas Harapan Desa Jenetaesa
  • TK Swasta Tunas Harapan Desa Samangki
  • TK Swasta Tunas Harapan Desa Simbang
  • TK Swasta Tunas Muda Kelurahan Sabila
  • TK Swasta Ulfira Kelurahan Baju Bodoa
  • TK Swasta Yasbar Kelurahan Bontoa
  • TK Swasta Zakiah Fikrah Desa Moncongloe Bulu
  • TK Swasta Zakiah Fikrah 2 Tamalate Desa Moncongloe Bulu
  • TK Swasta Zakiah Fikrah 3 Tammu-Tammu Desa Moncongloe Bulu
  • TK Swasta Zakiah Fikrah 4 Moncongloe Bulu Desa Moncongloe Bulu
  • TPA Swasta Al-Hidayah Desa Uludaya
  • TPA Swasta Babussalam Kelurahan Boribellaya
  • TPA Swasta Cerdas Ceria Kelurahan Pettuadae
  • TPA Swasta Ihyaul Jama'ah Tala-Tala
  • TPA Swasta Lia Beautiful Kelurahan Turikale
  • TPA Swasta Masjid Al-Ikhlas
  • TPA Swasta Nurul Amin Kaemba
  • TPA Swasta Nurul Huda Kelurahan Boribellaya
  • TPA Swasta Nurul Istiqlal Kaemba Jaya
  • TPA Swasta Nurul Yasin Al-Muhtadar Desa Batu Putih
  • UPTD SPNF Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Maros Desa Jenetaesa

[9]

SD Sederajat[sunting | sunting sumber]

  • MI Negeri Maros Baru
  • MI Swasta Ainus Syamsi
  • MI Swasta Al-Ihsan Batulotong
  • MI Swasta Al-Markaz Al-Islami
  • MI Swasta Al-Wasi Kuri
  • MI Swasta An-Nas Galung-Galung
  • MI Swasta Babul Jannah
  • MI Swasta Bontopanno
  • MI Swasta Darul Istiqamah (Sekolah Putri Darul Istiqamah SPIDI)
  • MI Swasta Darul Rasyidin
  • MI Swasta Darul Ulum Amessangeng
  • MI Swasta DDI An-Nur Simbang
  • MI Swasta DDI Cambalagi
  • MI Swasta DDI Hasanuddin
  • MI Swasta DDI Mangempang
  • MI Swasta DDI Sakeang
  • MI Swasta Firdaus Tompobalang
  • MI Swasta Hidayatul Ihsan
  • MI Swasta Hidayatullah
  • MI Swasta JII Bantimurung
  • MI Swasta Lena Arra
  • MI Swasta Makkaraeng
  • MI Swasta Matajang
  • MI Swasta Nahdlatul Ulum
  • MI Swasta Nurul Ikhwan
  • MI Swasta Pattanyamang
  • MI Swasta Yadi Bontocina
  • MI Swasta Yaslim
  • SD Negeri 1 Pakalu I
  • SD Negeri 2 Unggulan Maros (RSDBI)
  • SD Negeri 3 Maros
  • SD Negeri 4 Amma'rang
  • SD Negeri 5 Barandasi I (UPTD SP)
  • SD Negeri 6 Latebbu
  • SD Negeri 6 Watang Mallawa
  • SD Negeri 7 Patanyamang
  • SD Negeri 8 Sawaru
  • SD Negeri 9 Cenrana
  • SD Negeri 10 Watang Bengo
  • SD Negeri 11 Leang-Leang (UPTD SP)
  • SD Negeri 12 Pakalli I (UPTD SP)
  • SD Negeri 13 Manarang
  • SD Negeri 14 Samanggi
  • SD Negeri 15 Jawi-Jawi (UPTD SP)
  • SD Negeri 16 Pangkasalo
  • SD Negeri 17 Barandasi II (UPTD SP)
  • SD Negeri 18 Belang-Belang (UPTD SP)
  • SD Negeri 19 Camba (UPTD SP)
  • SD Negeri 20 Panjallingan
  • SD Negeri 21 Sanggalea
  • SD Negeri 22 Maros
  • SD Negeri 24 Batangase
  • SD Negeri 25 Padangalla
  • SD Negeri 26 Maddenge (UPTD SP)
  • SD Negeri 27 Bulu-Bulu
  • SD Negeri 28 Salenrang
  • SD Negeri 29 Marana (UPTD SP)
  • SD Negeri 30 Maros
  • SD Negeri 31 Maros
  • SD Negeri 32 Sumpatu
  • SD Negeri 33 Ladange
  • SD Negeri 34 Pakere
  • SD Negeri 35 Pao-Pao
  • SD Negeri 36 Tangngaparang
  • SD Negeri 37 Panaikang
  • SD Negeri 38 Biringkaloro
  • SD Negeri 39 Kassi
  • SD Negeri 40 Jenetaesa
  • SD Negeri 41 Laiya (UPTD SP)
  • SD Negeri 42 Cambaya
  • SD Negeri 42 Inpres Lemo-Lemo
  • SD Negeri 43 Parrasangan Beru
  • SD Negeri 44 Padaria
  • SD Negeri 45 Pappaka
  • SD Negeri 46 Madello (UPTD SP)
  • SD Negeri 47 Kajuara
  • SD Negeri 48 Bonto Kapetta
  • SD Negeri 49 Tobonggae (UPTD SP)
  • SD Negeri 50 Dulang
  • SD Negeri 51 Tanete Langi
  • SD Negeri 52 Panasakkang
  • SD Negeri 53 Makaraeng
  • SD Negeri 54 Abbalu
  • SD Negeri 55 Pamanjengan
  • SD Negeri 56 Pattontongan
  • SD Negeri 57 Bulu-Bulu
  • SD Negeri 58 Kappang (UPTD SP)
  • SD Negeri 59 Bonto Tengnga
  • SD Negeri 60 Moncongloe Lappara
  • SD Negeri 61 Batubassi
  • SD Negeri 62 Palisi
  • SD Negeri 63 Sambueja
  • SD Negeri 64 Malaka (UPTD SP)
  • SD Negeri 65 Matanre (UPTD SP)
  • SD Negeri 66 Kanjitongan
  • SD Negeri 67 Mario
  • SD Negeri 68 Kassijala
  • SD Negeri 69 Sikapaya
  • SD Negeri 70 Manjalling
  • SD Negeri 71 Inpres Lempangan
  • SD Negeri 72 Pakalu II (UPTD SP)
  • SD Negeri 73 Rea Toa
  • SD Negeri 74 Bonti-Bonti (UPTD SP)
  • SD Negeri 75 Malewang (UPTD SP)
  • SD Negeri 76 Uludaya
  • SD Negeri 77 Mahaka (UPTD SP)
  • SD Negeri 78 Tajo
  • SD Negeri 79 Mambue
  • SD Negeri 80 Kuri Lompo
  • SD Negeri 81 Bukkamata
  • SD Negeri 82 Pattene
  • SD Negeri 83 Padang Setang
  • SD Negeri 84 Pammentengan
  • SD Negeri 85 Wanua Baru
  • SD Negeri 86 Mangarabombang
  • SD Negeri 87 Kassi (UPTD SP)
  • SD Negeri 88 Sabantang
  • SD Negeri 89 Rumbia
  • SD Negeri 90 Pangesoreng
  • SD Negeri 91 Amessangeng (UPTD SP)
  • SD Negeri 92 Burrung
  • SD Negeri 93 Soreang (UPTD SP)
  • SD Negeri 94 Maros
  • SD Negeri 95 Abbekae
  • SD Negeri 96 Carangki
  • SD Negeri 97 Inpres Tellumpanuae
  • SD Negeri 98 Inpres Kaluku
  • SD Negeri 99 Kadieng
  • SD Negeri 100 Inpres Balosi
  • SD Negeri 101 Inpres Ujung
  • SD Negeri 102 Inpres Cempaniga (UPTD SP)
  • SD Negeri 103 Inpres Hasanuddin
  • SD Negeri 104 Inpres Makaraeng
  • SD Negeri 105 Inpres Alatengae
  • SD Negeri 106 Inpres Manarang (UPTD SP)
  • SD Negeri 107 Langkeang (UPTD SP)
  • SD Negeri 108 Moncongloe
  • SD Negeri 109 Inpres Lekoala
  • SD Negeri 110 Inpres Galaggara (UPTD SP)
  • SD Negeri 111 Inpres Polejiwa
  • SD Negeri 112 Inpres Turikale
  • SD Negeri 113 Inpres Barugae
  • SD Negeri 114 Baku
  • SD Negeri 115 Inpres Benteng Gajah
  • SD Negeri 116 Allu (UPTD SP)
  • SD Negeri 117 Inpres Kurusumange
  • SD Negeri 118 Inpres Matajang
  • SD Negeri 119 Ir. Wasito
  • SD Negeri 120 Inpres Parengki
  • SD Negeri 121 Inpres Kalabbirang
  • SD Negeri 122 Inpres Parigi (UPTD SP)
  • SD Negeri 123 Inpres Macowa (UPTD SP)
  • SD Negeri 124 Inpres Allaere
  • SD Negeri 125 Marampesu
  • SD Negeri 126 Inpres Kariango
  • SD Negeri 127 Inpres Moncongloe
  • SD Negeri 128 Inpres Minasa Baji
  • SD Negeri 129 Inpres Bantimurung
  • SD Negeri 130 Inpres Gantarang
  • SD Negeri 131 Inpres Tobonggae
  • SD Negeri 132 Inpres Lalang Tedong
  • SD Negeri 133 Inpres Talawe
  • SD Negeri 134 Puca
  • SD Negeri 135 Inpres Simbang
  • SD Negeri 136 Inpres Bonto Tallasa
  • SD Negeri 137 Inpres Kaemba I
  • SD Negeri 138 Inpres Puca
  • SD Negeri 139 Inpres Lambatorang (UPTD SP)
  • SD Negeri 140 Inpres Macinna
  • SD Negeri 141 Inpres Mambue
  • SD Negeri 142 Talamangape
  • SD Negeri 143 Inpres Leko
  • SD Negeri 144 Holiang
  • SD Negeri 145 Inpres Pampangan
  • SD Negeri 146 Barambang 1
  • SD Negeri 147 Inpres Mangngai (UPTD SP)
  • SD Negeri 148 Inpres Bontoa
  • SD Negeri 149 Inpres Marana (UPTD SP)
  • SD Negeri 150 Inpres Toddopulia
  • SD Negeri 151 Inpres Sabantang
  • SD Negeri 152 Inpres Baddo Ujung
  • SD Negeri 153 Inpres Rompegading (UPTD SP)
  • SD Negeri 154 Inpres Tumalia
  • SD Negeri 155 Inpres Bonto Panno (UPTD SP)
  • SD Negeri 156 Inpres Tamala'lang
  • SD Negeri 157 Inpres Nahung (UPTD SP)
  • SD Negeri 158 Inpres Allu
  • SD Negeri 159 Inpres Tekolabbua
  • SD Negeri 161 Inpres Soreang (UPTD SP)
  • SD Negeri 162 Inpres Kampala
  • SD Negeri 163 Inpres Batu Putih
  • SD Negeri 164 Inpres Lappa Warue
  • SD Negeri 165 Inpres Abbekae
  • SD Negeri 166 Inpres Mangemba
  • SD Negeri 167 Samaenre
  • SD Negeri 168 Inpres Jambua
  • SD Negeri 169 Inpres Parasangan Beru
  • SD Negeri 170 Inpres Pangembang
  • SD Negeri 171 Inpres Kaluku
  • SD Negeri 172 Inpres Limapoccoe (UPTD SP)
  • SD Negeri 173 Inpres Mangngai (UPTD SP)
  • SD Negeri 174 Inpres Bungaeja
  • SD Negeri 175 Inpres Mamampang (UPTD SP)
  • SD Negeri 176 Inpres Tallasa
  • SD Negeri 177 Inpres Borong Kaluku
  • SD Negeri 178 Inpres Bontoa
  • SD Negeri 179 Inppres Batangase
  • SD Negeri 180 Pappandangan
  • SD Negeri 181 Inpres Kampung Tangnga
  • SD Negeri 182 Inpres Bentenge (UPTD SP)
  • SD Negeri 183 Inpres Mangngai
  • SD Negeri 184 Inpres Tanete
  • SD Negeri 185 Inpres Salomatti
  • SD Negeri 186 Inpres Bonto Manai
  • SD Negeri 187 Inpres Rumbia
  • SD Negeri 188 Inpres Bontokappong (UPTD SP)
  • SD Negeri 189 Inpres Cambajawa (UPTD SP)
  • SD Negeri 190 Inpres Manrimisi Lompo
  • SD Negeri 191 Inpres Batunapara (UPTD SP)
  • SD Negeri 192 Inpres Takkalasi
  • SD Negeri 193 Inpres Pasandang
  • SD Negeri 194 Inpres Sossoe
  • SD Negeri 195 Inpres Sabila
  • SD Negeri 196 Sudirman
  • SD Negeri 197 Rea Malempo
  • SD Negeri 198 Inpres Suli-Suli
  • SD Negeri 199 Inpres Ara (UPTD SP)
  • SD Negeri 200 Masale
  • SD Negeri 201 Inpres Tammu-Tammu
  • SD Negeri 202 Inpres Pattallassang
  • SD Negeri 203 Inpres Binanga Sangkara
  • SD Negeri 204 Inpres Rea-Rea
  • SD Negeri 205 Inpres Moncong Jai (UPTD SP)
  • SD Negeri 206 Inpres Bassikalling
  • SD Negeri 207 Inpres Pajjaiyang (UPTD SP)
  • SD Negeri 208 Inpres Julusiri
  • SD Negeri 209 Inpres Garantiga
  • SD Negeri 210 Inpres Bontokamase
  • SD Negeri 211 Inpres Bulu-Bulu
  • SD Negeri 212 Inpres Pangkajene
  • SD Negeri 213 Inpres Sanggalea
  • SD Negeri 214 Inpres Bawalangiri
  • SD Negeri 215 Inpres Taipa
  • SD Negeri 216 Inpres Kassi
  • SD Negeri 217 Inpres Pamelakkang Jene (UPTD SP)
  • SD Negeri 218 Inpres Dulang
  • SD Negeri 219 Inpres Pannambungan
  • SD Negeri 220 Inpres Lekopancing
  • SD Negeri 221 Inpres Rammang-Rammang
  • SD Negeri 222 Inpres Pao-Pao
  • SD Negeri 223 Inpres Tangkuru
  • SD Negeri 224 Inpres Lekoboddong
  • SD Negeri 225 Inpres Panaikang (UPTD SP)
  • SD Negeri 226 Inpres Lopi-Lopi (UPTD SP)
  • SD Negeri 227 Inpres Bontocina
  • SD Negeri 228 Inpres Salu
  • SD Negeri 229 Inpres Cambaya
  • SD Negeri 230 Inpres Pepebulaeng
  • SD Negeri 231 Inpres Tana Tekko (UPTD SP)
  • SD Negeri 232 Inpres Marusu
  • SD Negeri 233 Inpres Bontomaero
  • SD Negeri 234 Barambang II
  • SD Negeri 235 Tekolabbua
  • SD Negeri 236 Inpres Kaemba II
  • SD Negeri 237 Labongke
  • SD Negeri 238 Inpres Bontoparang
  • SD Negeri 239 Inpres Nipa
  • SD Negeri 240 Baddo-Baddo
  • SD Negeri 241 Inpres Perumnas Tumalia
  • SD Negeri 242 Inpres Damma
  • SD Negeri 243 Baruga
  • SD Negeri 244 Pangia
  • SD Negeri 245 Cabbella
  • SD Negeri 246 Bonto-Bonto
  • SD Negeri 247 Pattiro (UPTD SP)
  • SD Negeri 248 Paccinikang
  • SD Swasta Angkasa 1
  • SD Swasta Angkasa II
  • SD Swasta Angkasa Pura Bandara Hasanuddin
  • SD Swasta Disamakan Angkasa III
  • SD Swasta Islam Bait Qurany Nurul Anwar
  • SD Swasta Islam Terpadu Al-Hikmah
  • SD Swasta Islam Terpadu Al-Ishlah
  • SD Swasta Islam Terpadu Al-Madinah
  • SD Swasta Islam Terpadu An-Nas Mandai
  • SD Swasta Islam Terpadu An-Nas Salassa Cenrana
  • SD Swasta Islam Terpadu Fastabiqul Khaerat Maros
  • SD Swasta Islam Terpadu Permata Ilmu
  • SD Swasta Islam Terpadu Qurratu Ayun Al-Islami
  • SD Swasta Muhammadiyah I
  • SD Swasta Muhammadiyah II
  • SDLB Negeri 1 Maccini Baji
  • SDLB Swasta Minasa Baji

[10]

SMP Sederajat[sunting | sunting sumber]

  • MTs Negeri 1 Maros
  • MTs Negeri 2 Maros
  • MTs Swasta Ainus Syamsi
  • MTs Swasta Al-Ihsan DDI Lekopancing
  • MTs Swasta Al-Wasi Bontoa
  • MTs Swasta Al-Wasi Kuri
  • MTs Swasta An-Nur Tompobulu Maros
  • MTs Swasta Assammania
  • MTs Swasta Bustanul Ulum
  • MTs Swasta Darul Boroqah
  • MTs Swasta Darul Istiqamah (Sekolah Putri Darul Istiqamah SPIDI)
  • MTs Swasta Darul Muttaqin
  • MTs Swasta Darul Rasyidin
  • MTs Swasta Darul Ulum Amessangeng
  • MTs Swasta Darus Saadah Was Surur Tangkuru
  • MTs Swasta DDI Alliritengae
  • MTs Swasta DDI An-Nur Simbang
  • MTs Swasta DDI Camba
  • MTs Swasta DDI Cambalagi
  • MTs Swasta DDI Hasanuddin
  • MTs Swasta DDI Mangempang
  • MTs Swasta DDI Sakeang
  • MTs Swasta DDI Soreang
  • MTs Swasta Fardillah Moncongloe
  • MTs Swasta Firdaus Tompobalang
  • MTs Swasta Hidayatul Ihsan
  • MTs Swasta Hj. Haniah
  • MTs Swasta JII Bantimurung
  • MTs Swasta Lena Arra
  • MTs Swasta Makkaraeng
  • MTs Swasta Matajang Camba
  • MTs Swasta MDIA Samariga
  • MTs Swasta Miftahul Muin
  • MTs Swasta Muhammadiyah Laiya
  • MTs Swasta Nahdlatul Ulum
  • MTs Swasta Nurul Ikhwan
  • MTs Swasta PPTQ Assaadah
  • MTs Swasta Sehati Mallawa
  • MTs Swasta Ulumul Qur'an Darud Da'wah Wal Irsyad Ambo Dalle
  • MTs Swasta Unggulan Darussalam
  • MTs Swasta Wahdaniyatillah
  • MTs Swasta Yadi Bontocina
  • SMP Negeri 1 Turikale
  • SMP Negeri 2 Unggulan Maros
  • SMP Negeri 3 Camba (UPTD SP)
  • SMP Negeri 4 Bantimurung (UPTD SP)
  • SMP Negeri 5 Mandai
  • SMP Negeri 6 Moncongloe
  • SMP Negeri 7 Cenrana
  • SMP Negeri 8 Mallawa
  • SMP Negeri 9 Marusu
  • SMP Negeri 10 Bantimurung
  • SMP Negeri 11 Maros Baru
  • SMP Negeri 12 Mallawa
  • SMP Negeri 13 Bontoa
  • SMP Negeri 14 Tanralili
  • SMP Negeri 15 Simbang
  • SMP Negeri 16 Mandai
  • SMP Negeri 17 Marusu
  • SMP Negeri 18 Lau (UPTD SP)
  • SMP Negeri 19 Moncongloe
  • SMP Negeri 20 Simbang
  • SMP Negeri 21 Tompobulu
  • SMP Negeri 22 Bantimurung (UPTD SP)
  • SMP Negeri 23 Simbang
  • SMP Negeri 24 Tompobulu
  • SMP Negeri 25 Cenrana (UPTD SP)
  • SMP Negeri 26 Satu Atap Pallantikang
  • SMP Negeri 27 Satu Atap Lappawarue
  • SMP Negeri 28 Satu Atap Salenrang
  • SMP Negeri 29 Satu Atap Malaka
  • SMP Negeri 30 Satu Atap Manrimisi Lompo
  • SMP Negeri 31 Satu Atap Lalang Tedong
  • SMP Negeri 32 Satu Atap Mangngai
  • SMP Negeri 33 Satu Atap Bonto Panno
  • SMP Negeri 34 Satu Atap Kajuara (UPTD SP)
  • SMP Negeri 35 Satu Atap Moncongloe
  • SMP Negeri 36 Satu Atap Tallasa
  • SMP Negeri 37 Satu Atap Bentenge
  • SMP Negeri 38 Satu Atap Bontoparang
  • SMP Negeri 39 Satap Leang-Leang
  • SMP Negeri 40 Satu Atap Langkeang
  • SMP Negeri 41 Satu Atap Batu Putih
  • SMP Negeri 42 Satu Atap Pampangan
  • SMP Negeri 43 Lau
  • SMP Swasta Al-Ihsan Batulotong
  • SMP Swasta Al-Ihsan Lekopancing
  • SMP Swasta Al-Irsyad Biringkaloro
  • SMP Swasta As-Sakinah Bantimurung
  • SMP Swasta Babul Jannah
  • SMP Swasta DDI Maros
  • SMP Swasta Disamakan Angkasa
  • SMP Swasta Firdaus Tompobalang
  • SMP Swasta Islam Al-Wasi
  • SMP Swasta Islam An-Nas 3 Sikapaya Bontoa
  • SMP Swasta Islam An-Nas Mandai
  • SMP Swasta Islam Terpadu Al-Hikmah Amanah Ummah
  • SMP Swasta Islam Terpadu Al-Ishlah
  • SMP Swasta Islam Terpadu An-Nas 2 Pattiro
  • SMP Swasta Islam Terpadu Darul Istiqamah
  • SMP Swasta Islam Terpadu Fastabiqul Khaerat Maros
  • SMP Swasta Islam Terpadu Permata Ilmu Maros
  • SMP Swasta Islam Terpadu Plus Swasta Almubarak Borikamase
  • SMP Swasta Islam Terpadu Qurratu Ayun Al-Islami
  • SMP Swasta Islam Terpadu Tigo Putera
  • SMP Swasta Islam Terpadu Yafat Baji Areng
  • SMP Swasta Islam Terpadu Yahbon Tollu
  • SMP Swasta Muhammadiyah Camba
  • SMP Swasta Muhammadiyah Maros
  • SMP Swasta Nur Rahmah
  • SMP Swasta Pergis Maros
  • SMP Swasta PGRI 1 Maros
  • SMP Swasta PGRI 2 Maros
  • SMP Swasta PGRI 3 Maros
  • SMP Swasta PGRI 4 Maros
  • SMP Swasta PGRI 5 Maros
  • SMP Swasta PGRI 6 Maros
  • SMP Swasta PGRI 7 Maros
  • SMP Swasta Sanur Moncongloe
  • SMP Swasta Unggulan Darussalam
  • SMPLB Swasta Minasa Baji

[10]

SMA Sederajat[sunting | sunting sumber]

SMA Negeri 4 Bantimurung Maros salah satu SMA favorit berbasis sekolah adiwiyata di Kabupaten Maros.
  • MA Swasta Ainus Syamsi
  • MA Swasta Al-Irsyad Biringkaloro
  • MA Swasta Al-Wasi Bontoa
  • MA Swasta An-Nas Cenrana
  • MA Swasta Belang-Belang
  • MA Swasta Bustanul Ulum Toddolimae
  • MA Swasta Darul Istiqamah (Sekolah Putri Darul Istiqamah SPIDI)
  • MA Swasta Darul Muttaqin
  • MA Swasta Darul Rasyidin
  • MA Swasta Darul Ulum Amessangeng
  • MA Swasta Darussalam
  • MA Swasta DDI Alliritengae
  • MA Swasta DDI Camba
  • MA Swasta DDI Cambalagi
  • MA Swasta DDI Hasanuddin
  • MA Swasta DDI Sakeang
  • MA Swasta DDI Soreang
  • MA Swasta Firdaus Tompobalang
  • MA Swasta Hj. Haniah
  • MA Swasta JII Bantimurung
  • MA Swasta Miftahul Muin
  • MA Swasta Nahdlatul Ulum
  • MA Swasta Nur Aliya Parengki Bantimurung
  • MA Swasta Nurul Ikhwan
  • MA Swasta PPTQ Asaadah
  • MA Swasta Sehati
  • MA Swasta Wahdaniyatillah
  • MA Swasta Yadi Bontocina
  • MA Swasta Yahbon Tollu
  • SMA Negeri 1 Maros (SSN)
  • SMA Negeri 2 Maros
  • SMA Negeri 3 Lau Maros
  • SMA Negeri 4 Bantimurung Maros (RSKM/SSN/Adiwiyata)
  • SMA Negeri 5 Maros
  • SMA Negeri 6 Maros
  • SMA Negeri 7 Mallawa Maros
  • SMA Negeri 8 Mandai Maros
  • SMA Negeri 9 Maros
  • SMA Negeri 10 Maros
  • SMA Negeri 11 Maros
  • SMA Negeri 12 Maros
  • SMA Negeri 13 Tompobulu Maros
  • SMA Negeri 14 Maros
  • SMA Swasta Al-Ihsan Lekopancing
  • SMA Swasta Angkasa
  • SMA Swasta Bukit Tinggi
  • SMA Swasta DDI Maros
  • SMA Swasta Islam Terpadu Al-Ishlah
  • SMA Swasta Islam Terpadu An-Nas 1 Mandai Maros
  • SMA Swasta Islam Terpadu An-Nas 2 Cenrana Maros
  • SMA Swasta Islam Terpadu Bina Koperasi
  • SMA Swasta Islam Terpadu Darul Istiqamah
  • SMA Swasta Islam Terpadu Tigo Putera
  • SMA Swasta Muhammadiyah Camba
  • SMA Swasta Nasional Maros
  • SMA Swasta Nur Rahmah
  • SMA Swasta Pergis Yapki Maros
  • SMA Swasta PGRI 4 Bantimurung Maros
  • SMA Swasta PGRI Disamakan Maros
  • SMA Swasta Pratama Batangase
  • SMA Swasta Sanur Moncongloe
  • SMALB Swasta Minasa Baji
  • SMK Negeri 1 Maros
  • SMK Negeri 2 Maros
  • SMK Swasta Darul Ulum
  • SMK Swasta Fardillah
  • SMK Swasta H. A. Wasir Ali
  • SMK Swasta Harapan Indonesia Maros
  • SMK Swasta Kebangsaan Indonesia Maros
  • SMK Swasta Kesehatan Bahagia Primanegara
  • SMK Swasta Pelayaran Permata Ilmu Maros
  • SMK Swasta Pergis Yapki Maros
  • SMK Swasta Persatuan Indonesia Maros
  • SMK Swasta Prima Pendidikan Maros
  • SMK Swasta Salewangang Maros
  • SMK Swasta Teknologi An-Nas
  • SMK Swasta Teknologi An-Nas 2 Cenrana Maros
  • SMK Swasta Tridharma MKGR Maros
  • SMK Swasta TRIS Maros
  • SMK Swasta Widya Karya Bantimurung
  • SMK Swasta Widya Nusantara
  • SMK Swasta Yapenas 21 Maros

[10]

Pondok Pesantren[sunting | sunting sumber]

Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

  • Universitas Muslim Maros (Umma) alamat: Jl. Dr. Ratulangi No. 62 Kelurahan Allepolea Kecamatan Lau
  • Sekolah Tinggi Agama Islam DDI Maros (STAI DDI Maros) alamat: Jl. Rajawali Baniaga Kelurahan Taroada Kecamatan Turikale
  • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Salewangan (Stikes Salewangan) alamat: Kelurahan Taroada Kecamatan Turikale
  • Akademi Kebidanan Salewangan Maros (Akbid Salewangan Maros) alamat: Jl. Poros Maros Km. 3 Sanggalea Kelurahan Taroada Kecamatan Turikale
  • Akademi Keperawatan Yapenas 21 Maros (Akper Yapenas 21 Maros) alamat: Jl. Poros Makassar-Maros Km. 27 Kelurahan Adatongeng Kecamatan Turikale
  • Kampus II Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) alamat: Jl. Poros Moncongloe Desa Moncongloe Kecamatan Moncongloe

Lembaga Kursus[sunting | sunting sumber]

  • Guru Privat Maros
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Rumah Belajar Macca International College (Kursus Komputer Perkantoran dan Desain Grafis; Bahasa Inggris dan TOEFL Preparation; Bimbingan Belajar IPA dan Matematika; Bimbingan Tes masuk ATKP, STAN, dan AKPOL; dan Bimbingan membaca dan Baca Tulis Al-Qur'an) alamat: Jl. Bougenville No. C. 12 Maros (Ruko Terminal Baru Maros)
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Kompak Maros (Kursus Komputer) alamat: Jl. Taqwa No. 10 Maros dan Jl. Poros Kariango No. 37 B Batangase Maros Kelurahan Bontoa
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) An-Nailah (Kursus Mengemudi)
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Hijrah Bantimurung (Kursus Komputer) alamat: Jl. Vetran No. 7 Maros dan Jl. Poros Bantimurung No. 227 Maros
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Sas Brothers (Kursus Mengemudi dan Komputer) alamat: Jl. Andi Nurdin Sanrima No. 71 Maros
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Melati (Kursus Menjahit) alamat : Jl. Bakri No. 6 Kelurahan Turikale
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Bina Remaja Mandiri (Kursus Menjahit, Tata Rias Pengantin, dan Tata Kecantikan Kulit) alamat: Jl. Poros Leang-Leang No. 51/55 Maros Kelurahan Kalabbirang
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Bantimurung English School & Training (Kursus Bahasa Inggris) alamat: Jl. Pallantikang Kompleks SMK Pelayaran Permata Ilmu Maros
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Mega Sukses (Kursus Tata Kecantikan Kulit dan Tata Kecantikan Rambut) alamat: Jl. Poros Maros No. 01A Kelurahan Taroada
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Lia Beautiful (Kursus Tata Kecantikan Rambut dan Tata Rias Pengantin) alamat: Jl. Hj. Dahliah Alif Nurdin Maros
  • Lembaga Bimbingan Belajar JILC Maros
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) British English School Cabang Maros (Kursus Bahasa Inggris) alamat: Jl. Poros Makassar-Maros No. 9 D Sanggalea Maros
  • Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Ifah (Kursus Menjahit)
  • Primagama Maros

Sistem Kepercayaan/Religi[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Bugis di Kabupaten Maros menganut islam yang taat. Masyarakat Bugis juga masih percaya dengan satu dewa tunggal yang mempunyai nama-nama sebagai berikut:

  1. Patoto-e : dewa penentu nasib
  2. Dewata Seuwa-e : dewa tunggal
  3. Turie a'rana : kehendak tertinggi

Masyarakat Bugis Maros menganggap bahwa budaya (adat) itu keramat. Budaya (adat) tersebut didasarkan atas lima unsur pokok panngaderreng (aturan adat yang keramat dan sakral), yaitu sebagai berikut:

  1. Ade (ada dalam bahasa Makassar)
  2. Bicara
  3. Rapang
  4. Wari'
  5. Sara'

Perkembangan pembangunan di bidang spiritual dapat dilihat dari besarnya sarana peribadatan masing-masing agama. Tempat peribadatan umat islam yang berupa masjid, langgar/musholla pada tahun 2012 masing-masing berjumlah 728 dan 50. Tempat peribadatan untuk umat kristiani dan katolik sebanyak 22 yang terdapat di 9 kecamatan. Jumlah jamaah haji yang diberangkatkan dari Kabupaten Maros setiap tahunnya mengalami peningkatan, pada Tahun 2012 jumlah Jamaah Haji perempuan sebanyak 209 orang dan laki-laki sebanyak 104 orang.[11]

Agama yang Dianut[sunting | sunting sumber]

Tabel penduduk Kabupaten Maros menurut agama yang dianutnya tahun 2017 sebagai berikut:

Kecamatan Islam Protéstan Katolik Hindu Buddha Konghucu Lainnya
Bantimurung 30.525 0 0 0 0 0 0
Bontoa 26.974 0 0 0 0 0 0
Camba 12.760 9 0 0 0 0 0
Cenrana 15.469 0 0 0 0 0 0
Lau 24.487 0 138 0 0 0 0
Mallawa 10.900 0 2 0 0 0 0
Mandai 35.054 0 538 0 0 0 0
Maros Baru 24.404 13 0 0 0 0 0
Marusu 26.065 130 0 0 0 0 0
Moncongloe 19.666 63 650 0 0 0 0
Simbang 31.218 0 0 0 0 0 0
Tanralili 24.897 0 0 0 0 0 0
Tompobulu 17.989 0 0 0 0 0 0
Turikale 41.221 111 445 0 0 0 0
Total 341.629 317 1.773 0 0 0 0

Tempat Peribadatan[sunting | sunting sumber]

Gereja[sunting | sunting sumber]

  • Gereja Protestan Baji Pamai Sitappa Kappang Kecamatan Cenrana
  • Gereja Bunda Maria Kecamatan Mandai
  • Gereja HKBP Tamarunang Kecamatan Mandai
  • Gereja Katolik Stasi Laikang Kecamatan Mandai
  • GTM Jemaat Mandai Kecamatan Mandai
  • Gereja (Kapel) Laikang Kecamatan Mandai
  • Gereja Pouk Lahairoi Lanud Hasanuddin Kecamatan Mandai
  • Gereja Rio Riita Kecamatan Mandai
  • Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jemaat Elim Moncongloe Kecamatan Moncongloe
  • Gereja Toraja Mamasa Cabang Bonto Bunga Kecamatan Moncongloe
  • Gereja Oikumene Bonto Bunga Kecamatan Moncongloe
  • Gereja Damai Kostrad Kariango Kecamatan Tanralili
  • Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS) Jemaat Maranatha Kecamatan Tanralili
  • Gereja Imanuel Benteng Gajah Kecamatan Tompobulu
  • Gereja Asrama Yonzipur Sakeang Kecamatan Tompobulu
  • Gereja Kibaid Jemaat Maros Kecamatan Turikale
  • Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS) Baji Pa'mai Maros Kecamatan Turikale
  • Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Stasi Maros Kecamatan Turikale

Masjid[sunting | sunting sumber]

Masjid Al-Markaz Al-lslami Maros yang megah dan berkubah merah putih yang terletak tepat di depan Kantor Bupati Maros di Jl. Jenderal Sudirman Kelurahan Pettuadae, Kabupaten Maros.

Masjid Al-Markaz Al-Islami telah menjadi salah satu ikon Kabupaten Maros. Masjid yang terletak tepat di depan kantor bupati ini merupakan kesatuan bangunan yang sangat megah. Bisa dikatakan, rumah ibadah ini menjadi pendamping kemegahan Masjid Al-Markaz Al-lslami yang terdapat di Kota Makassar. Salah satu daya tarik dan keunikan masjid ini adalah kubahnya yang berwarna merah putih. Halaman parkir dan taman yang luas juga menjadi faktor pendukung signifikan kemegahannya. Badan bangunan masjid juga tak kalah anggun. Dengan titik sentral bangunan berupa tangga dilingkupi relung tembok besar menjulang tinggi hingga ke bagian paling atas, bangunan tampak sangat kokoh namun artistik. Menaiki tangga menuju ruang dalam masjid, pengunjung akan disambut beduk yang diklaim sebagai beduk terbesar di Sulawesi Selatan dan didatangkan khusus dari Jepara. Bagian dalam ruang utama sangat luas dan megah karena tidak tertutup oleh lantai di atasnya yang hanya mengitari bagian sisi ruang utama. Plafon ruangan yang mengikuti bentuk kubah dengan aksen lampu gantung hias menambah keindahan ruangan. Pencahayaan ruangan juga memesona. Cahaya alami masuk melalui bukaan jendela yang terhampar di sepanjang dinding masjid. Dinding bagian depan ruang utama dilapisi marmer. Di sana terletak mihrab yang dibedakan dari bagian lainnya dengan menggunakan relung berbentuk paduan persegi panjang dan segi tiga lancip di ujungnya. Mimbar di bagian depan pun merupakan keistimewaan masjid. Dengan bahan kayu jati berukir dari Jepara, mimbar besar ini menjadi pesona tersendiri di dalam ruangan. Adapun lantai ruangan menggunakan bahan marmer berwarna abu-abu tua hingga memberi kesan sejuk. Masjid difungsikan sebagai pusat aktivitas sosial keagamaan yang bertujuan menambah keimanan dan ketakwaan masyarakat sekitar. Di samping itu, masjid juga menjadi basis kegiatan keagamaan dan pembinaan umat yang bervisi “Beribadah sambil berilmu adalah mencari ridha Allah”.[12]

Dengan mayoritas penduduk menganut agama islam, maka wilayah Kabupaten Maros memiliki banyak tempat ibadah berupa masjid sebagai berikut:

  • Masjid Al-Musafir Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Miftahushalihin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Jama'ah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Jannah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Karim Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Mustaqin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Muttaqin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Taqwa Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Tarbiyah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Barakah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Hasanah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Huda Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Mu'minin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babur Rahman Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Yaqin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babus Salam Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Ihkwanul Ummah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Riadatul Jannah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Muftiha Fadillah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurus Salam Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Jabal Uhud Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Falah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid 'Al Manar Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Miftahul Muttaqin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Miftahus Sa'adah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Miftahurrahman Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Maarifah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Miftahul Khaerat Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babut Taubah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Khaerat Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Shahadah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Falaq Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Qarim Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Qausar Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Jamaah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Al-Amin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Al-Arsyid Kecamatan Bantimurung
  • Masjid H. Mahmud Kecamatan Bantimurung
  • Masjid An-Nur Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Shirathal Mustaqim Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Miftahul Salam Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Miftahul Mu'minin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Miftahul Jamaah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Tarbiyah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Al-Taqwah Kasim DM Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Jamaah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Rahman Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Al-Munawara Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Firdaus Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Jannah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Attaarbiyayatusi Syabab Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Habibullah Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Mumtaha Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Nurul Mukminin Kecamatan Bantimurung
  • Masjid Darul Abrar Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Muflihin Kecamatan Bontoa
  • Masjid Darur Rahman Kecamatan Bontoa
  • Masjid Darur Rahman Kecamatan Bontoa
  • Masjid Baitul Rahman Kecamatan Bontoa
  • Masjid Baitul Yakin Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Mujahidin Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Rahim Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Mu'minin Kecamatan Bontoa
  • Masjid Darul Rahman Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Bahri Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Muflihin Kecamatan Bontoa
  • Masjid Al-Iklas Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Bontoa
  • Masjid Darul Rahim Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Bontoa
  • Masjid Darul Rahim Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Rahim Kecamatan Bontoa
  • Masjid Darussalam Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Islam Kecamatan Bontoa
  • Masjid Darussalam Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Jamaah Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Jannah Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Bontoa
  • Masjid Ummi Fatimah Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Mujahidin Kecamatan Bontoa
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Bontoa
  • Masjid Al-Jihad Kecamatan Camba
  • Masjid An-Nur Kecamatan Camba
  • Masjid Al-Mubarak Kecamatan Camba
  • Masjid Babul Ikhlas Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Taubah Kecamatan Camba
  • Masjid Al-Amin Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Yakin Kecamatan Camba
  • Masjid Babus Salam Kecamatan Camba
  • Masjid Syuhada 45 Kecamatan Camba
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Camba
  • Masjid Miftahul Jannah Kecamatan Camba
  • Masjid Istiqamah Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Hamid Kecamatan Camba
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Camba
  • Masjid Al-Mujahidin Kecamatan Camba
  • Masjid Syuhada Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Taqwa Kecamatan Camba
  • Masjid 'Al-Amin Kecamatan Camba
  • Masjid Al-Jihad Kecamatan Camba
  • Masjid Babun Na'im Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Musta Kecamatan Camba
  • Masjid Al-Mujahidin Kecamatan Camba
  • Masjid Al-Muhajirin Kecamatan Camba
  • Masjid Burhanakuki Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Jamaah Kecamatan Camba
  • Masjid Al-Aqrabin Kecamatan Camba
  • Masjid "Al-Mubarak Kecamatan Camba
  • Masjid Babul Khaer Kecamatan Camba
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Camba
  • Masjid Nuru Sa'diyah Kecamatan Camba
  • Masjid Assiddik Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Jibril Kecamatan Camba
  • Masjid Babus Salam Kecamatan Camba
  • Masjid At-Taqwa Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Wathan Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Ma'rifah Kecamatan Camba
  • Masjid Syuhadah 45 Kecamatan Camba
  • Masjid Muhajirin Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Muslimin Kecamatan Camba
  • Masjid Fastabiqul Khaerat Kecamatan Camba
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Camba
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Cenrana
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Hikmah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Cenrana
  • Masjid At-Taqwa Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Adnan Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Cenrana
  • Masjid Al-Amin Kecamatan Cenrana
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Jamaah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Babul Khaerat Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Istiqamah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Cenrana
  • Masjid Babur Rahman Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Babur Rahman Kecamatan Cenrana
  • Masjid Miftahul khaer Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Cenrana
  • Masjid Ansarullah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Babus Salam Kecamatan Cenrana
  • Masjid 'At Taqwa Kecamatan Cenrana
  • Masjid Babul Khaerat Kecamatan Cenrana
  • Masjid Jabal Nur 1 Kecamatan Cenrana
  • Masjid Jabal Nur 2 Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nuruttaqwa Kecamatan Cenrana
  • Masjid Babus Salam Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Taqwa Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Khaerat Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Falaq Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Rahmah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Hamid Kecamatan Cenrana
  • Masjid Al-Mujahidin Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Hasanah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Jannah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Cenrana
  • Masjid Darul Arqam Kecamatan Cenrana
  • Masjid Al-Muhajirin Kecamatan Cenrana
  • Masjid Raodatul Jannah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Rahman Kecamatan Cenrana
  • Masjid Miftahul Jannah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Babul Khaer Kecamatan Cenrana
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Babul Salam Kecamatan Cenrana
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Cenrana
  • Masjid Mursidul Awwam Kecamatan Cenrana
  • Masjid An Nur Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Ittifaq Kecamatan Lau
  • Masjid Babul Iman Kecamatan Lau
  • Masjid Nurull Qalbi Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Rahman Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Lau
  • Masjid Radiatul Adawia Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Lau
  • Masjid Al-Munawar Kecamatan Lau
  • Masjid Rahmatullah Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Alamin Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Jamaah Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Rahmah Kecamatan Lau
  • Masjid Lailatul Qadri Kecamatan Lau
  • Masjid Baitul Karim Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Ikhsan Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Lau
  • Masjid Al-Amin Kecamatan Lau
  • Masjid AMUN 2 Maros Kecamatan Lau
  • Masjid Ummi Fatimah Kecamatan Lau
  • Masjid Jannatun Na'im Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Mu'minin Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Khaerat Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Mu'minin Kecamatan Lau
  • Masjid Syuhada 45 Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Falah Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Muttaqin Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Fajrin Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Mu'minin Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Assabah Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Alamin Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Rahmah Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Qalam Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Baatsi Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Taubah Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Taqwa Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Mubarakah Kecamatan Lau
  • Masjid Nurul Ijtihad Kecamatan Lau
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Mallawa
  • Masjid Mamappang Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Jannah Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Mallawa
  • Masjid Darul Abrar Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Muttaqin Kecamatan Mallawa
  • Masjid Raudatul Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Falah Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nuruttaqwa Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Mallawa
  • Masjid Darul Falah Kecamatan Mallawa
  • Masjid Raodah Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Mallawa
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Mu'minin Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Mallawa
  • Masjid An-Nur Kecamatan Mallawa
  • Masjid Al-Mujahidin Kecamatan Mallawa
  • Masjid Jabal Nur 1 Kecamatan Mallawa
  • Masjid Jabal Nur 2 Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Quba Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Bilad Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Da'wah Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Jihad Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul hidayah Kecamatan Mallawa
  • Masjid Fastabuqul Khaerat Kecamatan Mallawa
  • Masjid Al-Jihad Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Mallawa
  • Masjid Al-Muhajirin Kecamatan Mallawa
  • Masjid Al-Anshar Kecamatan Mallawa
  • Masjid Silaturrahmi Kecamatan Mallawa
  • Masjid At-Taqwa Kecamatan Mallawa
  • Masjid Ibnu Sabil Kecamatan Mallawa
  • Masjid Nurul Wustha Kecamatan Mallawa
  • Masjid Syuhada 45 Kecamatan Mallawa
  • Masjid Awaluddin Kecamatan Mandai
  • Masjid Tahfizul Qur'an Kecamatan Mandai
  • Masjid Muballiqat Kecamatan Mandai
  • Masjid Ulumul Qur'an Kecamatan Mandai
  • Masjid Al-Ikhlas Kecamatan Mandai
  • Masjid Al-Furqan Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Ikhlas Kecamatan Mandai
  • Masjid Jannatul Firdaus Kecamatan Mandai
  • Masjid Ulumul Qur'an Kecamatan Mandai
  • Masjid Asma Binti Abubakar Kecamatan Mandai
  • Masjid Al-Anshar Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Isra Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Amanah Kecamatan Mandai
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Mandai
  • Masjid Babul Rahman 1 Kecamatan Mandai
  • Masjid Babur Rahman 2 Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Tauhid Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Muttaqin Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Mandai
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Qamamah Kecamatan Mandai
  • Masjid Nuruttaqwa Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Jamaah Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Aqsa Kecamatan Mandai
  • Masjid Al-Ikhlas Kecamatan Mandai
  • Masjid Ma'rifatullah Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurussudur Kecamatan Mandai
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Mandai
  • Masjid Baitul Rahman Kecamatan Mandai
  • Masjid Babul Khaer Kecamatan Mandai
  • Masjid Babus Salam Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Mukminin Kecamatan Mandai
  • Masjid Istiqamah 1 Kecamatan Mandai
  • Masjid Istiqamah 2 Kecamatan Mandai
  • Masjid Istiqamah 3 Kecamatan Mandai
  • Masjid Istiqamah 4 Kecamatan Mandai
  • Masjid Istiqamah 5 Kecamatan Mandai
  • Masjid Istiqamah 6 Kecamatan Mandai
  • Masjid Istiqamah 7 Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurhidayah Kecamatan Mandai
  • Masjid Lailataul Qadri Kecamatan Mandai
  • Masjid Darul Istiqamah Kecamatan Mandai
  • Masjid Al-Mujahidin Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul hidayah Kecamatan Mandai
  • Masjid Darussalam Kecamatan Mandai
  • Masjid Al-Amin Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Jihad Kecamatan Mandai
  • Masjid Shiratal Mustaqim Kecamatan Mandai
  • Masjid Al-Isra Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurus Samawati Kecamatan Mandai
  • Masjid Sabilillah Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Taqwa Kecamatan Mandai
  • Masjid Miftahul khaer Kecamatan Mandai
  • Masjid Al-Ikhwan Kecamatan Mandai
  • Masjid Nurul Falah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Jannah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Al-Iklas Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Ijtihad Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Jamaah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Ma'arif Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Taubah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Jannah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Al-Mujahidin 1 Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Al-Mujahidin 2 Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Jamaah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Ta'mirul Khuluf Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Arifin Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurus Saadah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Khalawatiah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Ahlaq Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Islam Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Sa'adah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Al-Khaerat Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurl Rahman Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Babur Rahman Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Mu'minin Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Al-Azhar Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Ihsan Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Baitul Karim Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Jama'ah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Khalwatiah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nuruttaqwa Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Al-Fath Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Al-Azhar Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Al-Ittihad Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Rahmah Kecamatan Maros Baru
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Rahman Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Jannah 1 Kecamatan Marusu
  • Masjid Babul Jannah 2 Kecamatan Marusu
  • Masjid Harun Ar-Rasyid Kecamatan Marusu
  • Masjid Miftahul Muflihin Kecamatan Marusu
  • Masjid Cinranae Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Marusu
  • Masjid Babul Jannah 1 Kecamatan Marusu
  • Masjid Masji Busroh Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Marusu
  • Masjid Babul Jannah 2 Kecamatan Marusu
  • Masjid Ji'rana Kecamatan Marusu
  • Masjid Muflihin Kecamatan Marusu
  • Masjid An-Nur Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Marusu
  • Masjid Jabal Rahmah Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Khaer Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Rahman 1 Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Rahman 2 Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Rahman 3 Kecamatan Marusu
  • Masjid Darul Muwahhidin Kecamatan Marusu
  • Masjid Al-Amin Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Sa'adah Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Qalbi Kecamatan Marusu
  • Masjid Babul Taubah Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Jannah Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Hayah Kecamatan Marusu
  • Masjid Miftahul Khaer Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Bahri Kecamatan Marusu
  • Masjid Dakwatul Khaer Kecamatan Marusu
  • Masjid Ihyatul Jamaah Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Ma'rif Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Marusu
  • Masjid Nurul Istiqlal Kaemba Jaya Kecamatan Marusu
  • Masjid Rahmatullah Kecamatan Marusu
  • Masjid Baitul Ikhsan Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Nurul Al-Iman Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Furqan Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Abdulrahman Manna Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Nurul Yakin Kecamatan Moncongloe
  • Masjid As-Syuhada Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Nurul Hasanah Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Nashirul Haq Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Ikhlas Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Aqsha Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Nurul Arfah Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Muflihun Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Fastabiqul Khaerat Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Bukit Nirwana Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Ikhlas Residen Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Ikhlas Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Mutaqim Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Muhajirin Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Ihsan Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Ikhlas H. Badoa Yabu Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Nurul Dinul Islam Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Jami' Nurul Iman Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Munawwarah Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Al-Hidayah Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Jabbar Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Darussalam Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Nurul Ansar Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Baiturrahman Kecamatan Moncongloe
  • Masjid Darul Falah Kecamatan Simbang
  • Masjid Dg. Tallasa Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Simbang
  • Masjid Darussalam Kecamatan Simbang
  • Masjid Al-Aksa Kecamatan Simbang
  • Masjid Lembang Kecamatan Simbang
  • Masjid As-Saleh Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Siddiq Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Ikhlas Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Mubarak Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Tuflihin Kecamatan Simbang
  • Masjid Babuddin Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Shahada Kecamatan Simbang
  • Masjid Hj. Haniah Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Abrar Kecamatan Simbang
  • Masjid Al-Anshar Kecamatan Simbang
  • Masjid At-Taqwa Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Simbang
  • Masjid Miftahul Jannah Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Ikhlas Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Simbang
  • Masjid Dg Tallasa Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Muttaqin Kecamatan Simbang
  • Masjid Ummu Saleh Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Muttaqin Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Taqwa 45 Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Musafir Kecamatan Simbang
  • Masjid Alauddin Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Mu'minin Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Ikhlas Kecamatan Simbang
  • Masjid Darus Salamah Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Ilmi Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Akbar Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Falaq Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Aqsa Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Sa'adah Kecamatan Simbang
  • Masjid At-Taqwa Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Muttaqin Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Masajid Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Muttaqin Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Rahman Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Mubarak Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Falaq Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Amin 1 Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Amin 2 Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Muttaqin Kecamatan Simbang
  • Masjid Darus Shalihin Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Istiqamah Kecamatan Simbang
  • Masjid Lailatul Qadri Kecamatan Simbang
  • Masjid Baitul Rahman 1 Kecamatan Simbang
  • Masjid Baitul Rahman 2 Kecamatan Simbang
  • Masjid Darul Jama'ah Kecamatan Simbang
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Tanralili
  • Masjid Jami Kostrad Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Qalbi Kecamatan Tanralili
  • Masjid Babul Razki Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Tanralili
  • Masjid Al-Muhajirin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Ta'mirul Kecamatan Tanralili
  • Masjid Baiturrahman Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Tanralili
  • Masjid Miftahul Khaer 1 Kecamatan Tanralili
  • Masjid Miftahul Khaer 2 Kecamatan Tanralili
  • Masjid Darul Faizin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Al-Hijrah Kecamatan Tanralili
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Tanralili
  • Masjid Al-Mujahidin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nulul Samsi Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Baqarah Kecamatan Tanralili
  • Masjid Babussalam Kecamatan Tanralili
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Tanralili
  • Masjid Al-Muhajirin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Abu Bakar Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Rahmah Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Al-Manar Kecamatan Tanralili
  • Masjid Al-Afiat Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Falaq Kecamatan Tanralili
  • Masjid Sidratul Mumtaha Kecamatan Tanralili
  • Masjid Babu Salam Kecamatan Tanralili
  • Masjid Syuhada Kecamatan Tanralili
  • Masjid Babu Taubah Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Rahman Kecamatan Tanralili
  • Masjid Fastabiqul Khaerat Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Taqwa Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Rahmah Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Al-Fath Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Iman Kecamatan Tanralili
  • Masjid Alfalah Kecamatan Tanralili
  • Masjid Jami Kostrad Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Rahmah Kecamatan Tanralili
  • Masjid Al-Muhajirin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Bak'atun Mubaraqah Kecamatan Tanralili
  • Masjid Babur Rezki Kecamatan Tanralili
  • Masjid Al-Muhajirin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Mujtahidah ll Kecamatan Tanralili
  • Masjid Nurul Muttaqin Kecamatan Tanralili
  • Masjid Babus Salam Kecamatan Tanralili
  • Masjid Jabal Aqsah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Nurut Taqwa Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Babul Khaer Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Mubarakah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid An-Nur Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Amin Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Babul Jannah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Nurul Fallah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Miftahul Hasanah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Babul Khaerat Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Jihad Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Hasanah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Hakim Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Nurul Falaq Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Babut Taqwa Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Nurul Jihad Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Babussalam Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Ma'arif Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Darul Barokah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Ukhuwah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Nurul Falaq Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Waliuddin Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Jannatul Fallah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Miftahul Khaerat Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Ikhlas Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Amin Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Falaq Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Nurul Rahmah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Baitul Rahmah Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Jabal Nur Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Japfa Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Nurul Akhlaq Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Asri Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-A'raf Kecamatan Tompobulu
  • Masjid Al-Manar Kecamatan Turikale
  • Masjid An-Nur Kecamatan Turikale
  • Masjid Babussalam Majannang-Tapieng Kecamatan Turikale
  • Masjid Agung Maros Kecamatan Turikale
  • Masjid Al-Markaz Al-Islami Maros Kecamatan Turikale
  • Masjid Urwatul Wutsqa Kecamatan Turikale
  • Masjid Baitu Rahman Kecamatan Turikale
  • Masjid Assyfa Kecamatan Turikale
  • Masjid Musafir Kecamatan Turikale
  • Masjid Arrahim Regency Kecamatan Turikale
  • Masjid Ta'mirul Masajid Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Jihad Kecamatan Turikale
  • Masjid Babul Hasanah Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Turikale
  • Masjid Babur Rahman Kecamatan Turikale
  • Masjid Nur Marlim Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Mubarak Kecamatan Turikale
  • Masjid Al-Yabis Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Qalbi Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Salam Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Ikhsan Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Anshary Kecamatan Turikale
  • Masjid Miftahul khaer Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Falah Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Halawatia Kecamatan Turikale
  • Masjid Fastabikul Khaerat Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Turikale
  • Masjid Sayyed Amrullah Kecamatan Turikale
  • Masjid Nur Rahman Kecamatan Turikale
  • Masjid Arribat Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Amin Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Bahri Kecamatan Turikale
  • Masjid Muhajirin Kecamatan Turikale
  • Masjid Baitul Akbar Kecamatan Turikale
  • Masjid Babu Taqwa Kecamatan Turikale
  • Masjid Babur Rahman Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Falaq Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Azis Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Mukminin Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Yaqin Kecamatan Turikale
  • Masjid Al-Azhar Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Taufiq Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Ittihad Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Huda Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Ilham Kecamatan Turikale
  • Masjid Nurul Hidayah Kecamatan Turikale

KUA[sunting | sunting sumber]

  • KUA Kecamatan Bantimurung
  • KUA Kecamatan Bontoa
  • KUA Kecamatan Camba
  • KUA Kecamatan Cenrana
  • KUA Kecamatan Tanralili
  • KUA Kecamatan Mandai
  • KUA Kecamatan Lau
  • KUA Kecamatan Simbang
  • KUA Kecamatan Moncongloe
  • KUA Kecamatan Tompobulu
  • KUA Kecamatan Turikale
  • KUA Kecamatan Mallawa
  • KUA Kecamatan Marusu
  • KUA Kecamatan Maros Baru

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Tanaman padi yang menguning siap panen di area persawahan Lingkungan Majannang Kelurahan Boribellaya Kabupaten Maros.

Sulawesi Selatan merupakan daerah penghasil tanaman pangan terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Predikat sebagai lumbung padi nasional mengukuhkan posisi Sulawesi Selatan sebagai produsen tanaman pangan yang cukup potensial. Selain padi sebagai komoditas tanaman pangan andalan, tanaman pangan lainnya yang dihasilkan Sulawesi Selatan adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang-kacangan. Kabupaten Maros merupakan salah satu daerah lumbung padi di Sulawesi Selatan. Luasnya area persawahan dan juga iklim yang mendukung menjadikan Kabupaten Maros setiap tahun selalu swasembada beras. Produksi padi Kabupaten Maros tahun 2018 sebesar 3.278.113,56 kwintal yang dipanen dari areal seluas 50.523 ha. Sebagian besar produksi padi di Kabupaten Maros dihasilkan oleh jenis padi sawah. Jenis padi ini menyumbang 98,99 % dari seluruh produksi padi. Sedangkan 1,01 % dihasilkan oleh padi ladang. Produksi jagung Kabupaten Maros pada tahun 2018 sebesar 488.101.029 kwintal dengan luas panen 9.556 ha.

Produksi Tanaman Pangan[sunting | sunting sumber]

Produksi padi sawah dan padi ladang tahun 2018 menurut kecamatan di Kabupaten Maros sebagai berikut:

Kecamatan Padi Sawah (kwintal) Padi Ladang (kwintal) Total produksi (kwintal)
Bantimurung 710.608 3.384 713.992
Bontoa 215.542,40 0 215.542,40
Camba 198.752,16 7.560 206.312,16
Cenrana 169.380 993,60 170.373,60
Lau 336.208,20 0 336.208,20
Mallawa 145.433,60 4.018,50 149.452,10
Mandai 163.514 0 163.514
Maros Baru 133.032,50 0 133.032,50
Marusu 72.352 0 72.352
Moncongloe 117.656,36 0 117.656,36
Simbang 363.880 0 363.880
Tanralili 244.343,84 4.200 248.543,84
Tompobulu 242.928 14.726,40 257.654,40
Turikale 129.600 0 129.600
Total 3.243.231,06 34.882,50 3.278.113,56

Tanaman Andalan Daerah[sunting | sunting sumber]

  • Padi Sawah
  • Padi Ladang
  • Jagung
  • Kedelai
  • Kacang Tanah
  • Ubi Kayu
  • Ubi Jalar
  • Bawang Merah
  • Cabai
  • Petsai
  • Kemiri
  • Mangga
  • Durian
  • Jeruk
  • Pisang
  • Pepaya
  • Nanas
  • Semangka
  • Kelapa Hibrida
  • Kopi Robusta
  • Lada
  • Kakao
  • Jambu Mete
  • Aren
  • Kapuk
  • Pala
  • Cengkeh
  • Kelapa Dalam
  • Vanili
  • Padi Varietas Padi Banda (Varietas Lokal)
  • Padi Varietas Padi Lapang (Varietas Lokal)

Perikanan[sunting | sunting sumber]

Komoditas Andalan Daerah[sunting | sunting sumber]

  • Udang Sitto
  • Bale Bolu (Ikan Bandeng)
  • Kepiting Dato
  • Sunu (Ikan Kerapu)
  • Ikan Mujair

Pertambangan[sunting | sunting sumber]

Pertambangan di Kabupaten Maros memiliki potensi cukup besar. Beberapa jenis tambang yang dapat dikembangkan di Kabupaten Maros, seperti potensi tambang batu bara di Kecamatan Mallawa, bahan baku semen yang ada di Kecamatan Bantimurung, Bontoa, bahan baku marmer dan beberapa jenis potensi tambang lainnya. Potensi tambang saat ini yang telah dieksplorasi adalah semen yang dikelola oleh investor dalam negeri (PT. Semen Bosowa) yang berada di Desa Baruga Kecamatan Bantimurung. Potensi tambang ini memiliki prospek pengembangan dan pangsa pasar yang luas baik pasar lokal, regional, nasional maupun ekspor. Prospek inilah yang memiliki nilai strategis sehingga diperlukan suatu penetapan fungsi kawasan pertambangan di Kabupaten Maros.

Berikut ini adalah daftar kawasan pertambangan di Kabupaten Maros:

  • Tambang Batu Kapur di Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung
  • Tambang Batu Kapur di Desa Baruga Kecamatan Bantimurung
  • Tambang Pasir di Sungai Maros Kelurahan Boribellaya Kecamatan Turikale
  • Tambang Pasir di Sungai Bukkamata Kecamatan Simbang
  • Tambang Tanah Merah di Kecamatan Tanralili

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Kuantitas dan kualitas prasarana dan sarana perhubungan merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk menunjang mobilitas penduduk dan distribusi barang dalam memperlancar roda perekonomian di suatu wilayah. Kondisi prasarana dan sarana sektor perhubungan suatu wilayah akan menentukan tingkat kelancaran komunikasi dan mobilitas penduduk serta memberikan gambaran pencapaian pembangunan. Panjang jalan di Kabupaten Maros pada tahun 2018 untuk jalan kabupaten adalah 1.032,13 km. Kondisi jalan yang dalam kondisi baik 327,08 km, kondisi sedang sepanjang 311,53 km, rusak 152,52 km, dan rusak berat 241 km.

Kendaraan[sunting | sunting sumber]

Pete-Pete berwarna khas biru muda sebagai transportasi umum di Kabupaten Maros.
  • Perahu Jolloro'
  • Pete-Pete
  • Bendi
  • Becak
  • Kuda
  • Motor
  • Mobil
  • Bus
  • Lepa-Lepa (sejenis perahu sampan)
  • Lopi-Lopi (sejenis perahu sampan)
  • Kapal Sungai

Terminal[sunting | sunting sumber]

  • Terminal Angkutan Darat Marusu
  • Terminal Pasar Lama (Pasar Sentral Maros)
  • Terminal Pasar Rakyat Pakalu
  • Terminal Pasar Rakyat Batangase
  • Terminal Pasar Baru (Pasar Tramor Butta Salewangang Maros)

Pelabuhan[sunting | sunting sumber]

  • Pelabuhan Perikanan Bonto Bahari
  • Pelabuhan Rakyat Kuri Lompo

Bandar Udara[sunting | sunting sumber]

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang berada di wilayah Kabupaten Maros memiliki nilai strategis dalam konstalasi pengembangan wilayah. Bandar udara memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem transportasi nasional (SISTRANAS), dimana wilayah Indonesia merupakan wilayah kepulauan, sehingga hubungan antar wilayah secara nasional dapat dilakukan dengan transportasi udara yang memiliki keunggulan dibandingkan moda transportasi lainnya, seperti moda angkutan laut. Potensi inilah yang menjadi peluang strategis pengembangan sistem transportasi udara di Kabupaten Maros. Lokasi bandara udara berada di Kecamatan Mandai yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar dan merupakan bagian dari rencana pengembangan Kota Baru Metropolitan Mamminasata.

Dermaga[sunting | sunting sumber]

  • Dermaga Rammang-Rammang I
  • Dermaga Rammang-Rammang II
  • Dermaga Bonto Bahari
  • Dermaga Tapieng Boribellaya
  • Dermaga Labuhan

Jalan[sunting | sunting sumber]

Pemandangan jalan perkampungan di Maros pada zaman penjajahan Hindia Belanda tahun 1929.
Jalan penghubung Makassar-Bone di Camba, Maros pada tahun 1948 (Bagian I).
Jalan penghubung Makassar-Bone di Camba, Maros pada tahun 1948 (Bagian II).
  • Jl. A. Baso
  • Jl. Abdul Hamid
  • Jl. Air Panas
  • Jl. Ammesangeng
  • Jl. Ammesangeng Baru
  • Jl. Andi Nurdin Sanrima
  • Jl. Andi Pangeran Pettarani
  • Jl. Andi Raja
  • Jl. Anggrek
  • Jl. Angkatan Pemuda
  • Jl. Angsana
  • Jl. Asoka
  • Jl. Ayah Syeh Yusuf
  • Jl. Azalea
  • Jl. Babul Jannah
  • Jl. Badaruddin Dg Lira
  • Jl. Baddare Dg Situru
  • Jl. Bahagia
  • Jl. Balanglohe
  • Jl. Bambu Runcing
  • Jl. Bandara Baru
  • Jl. Bandara Lama Sultan Hasanuddin
  • Jl. Batangase Buntu Kompleks Perhubungan
  • Jl. Batara
  • Jl. Benteng
  • Jl. Bonto Jolong
  • Jl. Beringin
  • Jl. Bontorea
  • Jl. Bosowa
  • Jl. Bougenville
  • Jl. Bulu-Bulu
  • Jl. Cemara
  • Jl. Cempaka
  • Jl. Cendana
  • Jl. Cinranae
  • Jl. Crysant
  • Jl. Dahlia
  • Jl. Dakota Lanud Sultan Hasanuddin
  • Jl. Damai
  • Jl. Damai (Kecamatan Marusu)
  • Jl. Damma-Bontosomba
  • Jl. Damma-Mangempang
  • Jl. Dermaga Bontoa
  • Jl. Dr. Ratulangi
  • Jl. Dusun Diccekang
  • Jl. Dusun Tangkuru
  • Jl. Flamboyan
  • Jl. Galaggara-Langkeang
  • Jl. Garuda
  • Jl. Gazaling
  • Jl. Gladiol
  • Jl. Gunung Bulusaraung
  • Jl. H. Becce
  • Jl. H. Bohari
  • Jl. H.M. Kasim
  • Jl. Inspeksi PAM Poros Mangempang
  • Jl. Inspeksi Saluran Irigasi
  • Jl. Ishak Dg Masikki
  • Jl. Jamil Dg Pabundu
  • Jl. Jenderal Ahmad Yani
  • Jl. Jenderal Sudirman
  • Jl. Jeruk
  • Jl. K.H. M. Nursyamsi
  • Jl. Kemiri
  • Jl. Kenari
  • Jl. Kompleks Perhubungan
  • Jl. Kompleks Perhubungan Udara
  • Jl. Langsat
  • Jl. Lanto Dg Pasewang
  • Jl. Lappa Mario
  • Jl. Lingkungan Maccuaga
  • Jl. Lontar
  • Jl. Makmur Dg Sitakka
  • Jl. Mangempang-Palaka
  • Jl. Mangga
  • Jl. Mappalewa
  • Jl. Marana
  • Jl. Masembo
  • Jl. Masembo (Kecamatan Maros Baru)
  • Jl. Masjid Al-Amin
  • Jl. Masjid Nurul Imam
  • Jl. Masjid Patte'ne
  • Jl. Masjid Raya
  • Jl. Melati
  • Jl. Muhammad Hatta
  • Jl. Mustafa Dg Bunga
  • Jl. Musyawarah
  • Jl. Nangka
  • Jl. Nasrun Amrullah
  • Jl. Pabbicara Dg Mannassa
  • Jl. Padaelo-Bulu-Bulu
  • Jl. Pahlawan
  • Jl. Pallantikang
  • Jl. Panaikang
  • Jl. Pasar Ikan (Kecamatan Lau)
  • Jl. Pasar Ikan (Kecamatan Turikale)
  • Jl. Patte'ne
  • Jl. Patte'ne Raya
  • Jl. Pelelangan Ikan
  • Jl. Pemuda (Kecamatan Mandai)
  • Jl. Pemuda (Kecamatan Turikale)
  • Jl. Penas VII
  • Jl. Pendidikan (Kecamatan Lau)
  • Jl. Pendidikan (Kecamatan Mallawa)
  • Jl. Pendidikan (Kecamatan Marusu)
  • Jl. Perumahan Regency
  • Jl. Perumnas Raya
  • Jl. Pisang
  • Jl. Poros Amma'rang-Carangki
  • Jl. Poros Asrama Haji Sudiang
  • Jl. Poros Bandara Baru
  • Jl. Poros Bantimurung
  • Jl. Poros Batangase-Kariango
  • Jl. Poros Batangase-Padangalla
  • Jl. Poros BTN Nusa Idaman
  • Jl. Poros Camba
  • Jl. Poros Carangki
  • Jl. Poros Daya-Benteng
  • Jl. Poros Kanjitongan
  • Jl. Poros Kariango
  • Jl. Poros Leang-Leang
  • Jl. Poros Maccopa-Amma'rang
  • Jl. Poros Makassar-Bone
  • Jl. Poros Makassar-Maros
  • Jl. Poros Maros-Bantimurung
  • Jl. Poros Maros-Bone
  • Jl. Poros Maros-Pangkep
  • Jl. Poros Moncongloe-Daya
  • Jl. Poros Moncongloe-Panassakkang
  • Jl. Poros Patte'ne-Takkalasi
  • Jl. Poros Pattontongan
  • Jl. Poros PT Semen Bosowa
  • Jl. Poros Transmigrasi
  • Jl. Poros Soddang
  • Jl. Produksi Perikanan
  • Jl. Rambutan
  • Jl. Rambutan (Kecamatan Lau)
  • Jl. Robo Laiya
  • Jl. Sakura
  • Jl. Sallatang
  • Jl. Samudera
  • Jl. Saraja
  • Jl. Sejahtera
  • Jl. Sempati
  • Jl. Siswa-Pelajar
  • Jl. Stadion
  • Jl. Sultan Hasanuddin
  • Jl. Taman Safari
  • Jl. Taman Wisata Alam Bantimurung
  • Jl. Tanang Dg Teppo
  • Jl. Tanggul Kota
  • Jl. Taqwa
  • Jl. Taufik
  • Jl. Teratai
  • Jl. Topaz
  • Jl. Topoing
  • Jl. Trans Sulawesi
  • Jl. Tulip
  • Jl. Veteran (Kecamatan Camba)
  • Jl. Veteran (Kecamatan Maros Baru)

Keamanan[sunting | sunting sumber]

  • Kepolisian resor (Polres) Maros: Jl. Jend. Ahmad Yani No. 2 Kelurahan Turikale
  • Kepolisian sektor (Polsek) Bantimurung: Jl. Poros Bone-Makassar Kelurahan Kalabbirang
  • Kepolisian sektor (Polsek) Bontoa
  • Kepolisian sektor (Polsek) Camba: Jl. Poros Maros-Soppeng Kelurahan Cempaniga
  • Kepolisian sektor (Polsek) Cenrana
  • Kepolisian sektor (Polsek) Lau: Jl. Poros Maros-Pangkep Kelurahan Allepolea
  • Kepolisian sektor (Polsek) Mallawa: Jl. Poros Maros-Soppeng Kelurahan Sabila
  • Kepolisian sektor (Polsek) Mandai: Jl. Poros Makassar-Maros No. 31 Kelurahan Bontoa
  • Kepolisian sektor (Polsek) Maros Baru
  • Kepolisian sektor (Polsek) Marusu
  • Kepolisian sektor (Polsek) Moncongloe
  • Kepolisian sektor (Polsek) Simbang
  • Kepolisian sektor (Polsek) Tanralili
  • Kepolisian sektor (Polsek) Tompobulu
  • Kepolisian sektor (Polsek) Turikale: Jl. Topaz No. 21 Kelurahan Pettuadae
  • Komando Distrik Militer (Kodim) 1422 Maros
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Bantimurung
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Bontoa
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Camba
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Cenrana
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Lau
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Mallawa
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Mandai
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Maros Baru
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Marusu
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Moncongloe
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Simbang
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Tanralili
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Tompobulu
  • Komando Rayon Militer (Koramil) Turikale
  • Batalyon Infanteri Para Raider 431/Satria Setia Perkasa
  • Batalyon Infanteri Para Raider 432/Waspada Setia Jaya
  • Batalyon Infanteri Para Raider 433/Julu Siri
  • Brigade Infanteri Para Raider 3/Tri Budi Sakti
  • Lapas Kelas II A Maros: Jl. Raya Kariango No. 98 Mandai
  • Pos Ronda Lingkungan Bontopuasa Kelurahan Adatongeng
  • Pos Ronda Desa Tenrigangkae

Infrastruktur[sunting | sunting sumber]

  • Bendungan Batubassi Desa Jenetaesa
  • Bendungan Lekopancing Desa Pucak
  • Bendungan Paraloe Desa Tompobulu
  • Bendungan Sumpang Ale'e
  • Jembatan Bosowa
  • Jembatan Bulusipong Desa Alatengae
  • Jembatan Gantung Data-Pakkasalo (150 m) Penghubung Kelurahan Pallantikang-Kelurahan Baju Bodoa
  • Jembatan Gantung Majannang-Polewali Kelurahan Boribellaya
  • Jembatan Gantung Marampesu-Pasandang (90 m) Kelurahan Boribellaya
  • Jembatan Gantung Parangtinggia-Batubassi Desa Jenetaesa
  • Jembatan Gantung Tanete Bulu Desa Bonto Manurung
  • Jembatan Layang Batubassi Desa Jenetaesa
  • Jembatan Layang Camba
  • Jembatan Layang Kalibone Maros-Pangkep
  • Jembatan Layang Tua Maros I
  • Jembatan Layang Tua Maros II
  • Jembatan Rammang-Rammang
  • Jembatan Salenrang

Tokoh Daerah[sunting | sunting sumber]

Tokoh Revolusi Kabupaten Maros[sunting | sunting sumber]

  • A. Abd. Rahim Dg Manippi — Bendahara Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (dari unsur pengusaha tembakau Maros)
  • A. Abd. Raman Dg Mamangung — Ketua I Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (dari unsur eks KPN Maros)
  • A. Mardjan Dg Malewa — Pembantu umum Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (Karaeng Cenrana)
  • Abd. Bakir Dg Nai — Penulis II Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (dari unsur pegawai kantor KPN Maros)
  • Abd. Rivai Dg Marala — Pembantu umum Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (Gallarang Sudiang)
  • Abd. Salam Tamma' — Pembantu umum Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (dari unsur cendikiawan)
  • Djaya Amir Dg Ngalle — Penulis I Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (dari unsur Parpol)
  • H. Andi Mapparessa Daeng Sitaba — Karaeng Turikale Ke-VII, perwira polisi, Ketua umum Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros, wafat 3 Januari 1968
  • H. Andi Sirajuddin Daeng Maggading (Karaeng Simbang) — Memperjuangkan pembentukan Kabupaten Maros terpisah dari Daerah Swatantra Makassar
  • H. Muhaedi — Pembantu umum Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (dari unsur petani/nelayan)
  • Intje Mannambai Ibrahim — Ketua II Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (dari unsur KPN Maros)
  • Mangngassengi Dg Manaba — Pembantu umum Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (dari unsur penilik SD)
  • Mustafa Kamal — Pembantu umum Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros (dari unsur Persatuan Guru)

Tokoh Masyarakat[sunting | sunting sumber]

  • H. Bohari — Pengusaha, tokoh dermawan dan panutan masyarakat Kabupaten Maros
  • Idrus Nurdin — Pendiri Yayasan Perguruan Islam Maros "Yapim" yang berintegrasi dalam Universitas Muslim Maros "Umma", pendiri HPPMI Maros
  • Muhsin — Tokoh tani dan koperasi Kabupaten Maros

Agamawan[sunting | sunting sumber]

  • Abdillah — Ustadz muda, peserta Akademi Sahur Indonesia 2019
  • Drs Syamsuddin Ballu, M.Ag — Ustadz, tokoh agama, kepala Kementerian Agama Kabupaten Maros
  • H. Djamaluddin Ahmad — Pendakwah, ustadz
  • K.H. Muhammad Said Baco — Tokoh agama
  • K.H. Muhammad Sanusi Baco Rais Syuriyah — Ulama, anregurutta
  • Puang Ramma — Ulama, lahir 21 juni 1919 di Tambua, Maros

Akademisi dan Ahli[sunting | sunting sumber]

  • Abd. Salam Tamma' — Cendikiawan
  • drg. Ardiansyah S. Pawinru, Sp. Ort. (K), Dosen Universitas Hasanuddin, ahli bidang kedokteran gigi
  • Muhammad Ramli Rahim, S.Si — Tokoh pendidikan, akademisi, ketua umum Ikatan Guru Indonesia (IGI)
  • Prof. Dr. Yusran Jusuf, M.Si — Akademisi, peneliti, dosen Universitas Hasanuddin, ahli bidang kehutanan

Tokoh Kerajaan[sunting | sunting sumber]

  • A. Mardjan Daeng Malewa — Karaeng Cenrana
  • Abd. Haris Karaeng Sioja — Pemangku adat Kekaraengan/Kerajaan Marusu
  • Abdul Hafid Daeng Ma'ronrong — Karaeng Marusu'
  • Abdul Maula Intje Djalaluddin — Karaeng Bontoa Ke-XV
  • Andi Abdul Hamid Daeng Manessa — Karaeng Turikale Ke-VI, Karaeng Mangento
  • Andi Abdul Latifu Daeng Mattana Matinroe — Karaeng Marusu'
  • Andi Abdullah Daeng Mattimu — Karaeng Tanralili Ke-XII
  • Andi Baduddin Daeng Mannuntungi — Karaeng Tanralili Ke-XIII
  • Andi Djipang Dg Mambani — Karaeng Bontoa Ke-XX
  • Andi Mallawakkang Daeng Pawello Matinroe Ri Kuri — Karaeng Marusu'
  • Andi Mannyandari Daeng Paranreng Matinroe Ri Campagae — Karaeng Marusu'
  • Andi Muhammad Dg Sisila — Karaeng Bontoa Ke-XVII dan XIX
  • Andi Muhammad Tajuddin Daeng Masiga — Karaeng Marusu'
  • Andi Muhammad Yusuf Dg Mangngawing — Karaeng Bontoa Ke-XXII (raja/karaeng yang terakhir dari Kerajaan Bontoa)
  • Andi Palaguna Daeng Marowa — Karaeng Turikale Ke-V
  • Andi Radja Dg Manai — Karaeng Bontoa Ke-XIV dan XVI
  • Andi Radja Dg Manai Karaeng Loloa — Karaeng Bontoa Ke-XXI
  • Andi Surulla Petta Lopo Matinroe Ri Bundu'na — Karaeng Marusu'
  • Brigjen Pol. (Purn.) Dr. H. Andi Achmad Aflus Mapparessa, M.M., M.Si — Karaeng Turikale VIII
  • H. Andi Mapparessa Daeng Sitaba — Karaeng Turikale Ke-VII
  • I Bambo Dg Matekko — Karaeng Bontoa Ke-XIII
  • I Baoesad Dg Sitaba Karaeng Tallasa — Karaeng Bontoa Ke-XII
  • I Burane (Abd. Gani) Daeng Manromo Karaeng Jawayya — Karaeng Tanralili Ke-X
  • I Daeng Mangnguntungi — Karaeng Bontoa Ke-IV
  • I Daeng Siutte — Karaeng Bontoa Ke-III
  • I Daeng Tanralili Matinroa Ri Masale — Karaeng Tanralili Ke-II
  • I Daeng Tumani — Karaeng Bontoa Ke-VII
  • I Lamo Daeng Ngiri — Karaeng Turikale Ke-I
  • I Lele Daeng Ri Moncong Matinroa Ri Tallo — Karaeng Tanralili Ke-III
  • I Mangngaweang Dg Manggalle — Karaeng Bontoa Ke-VIII
  • I Mannyarang — Karaeng Bontoa Ke-I (raja/karaeng yang pertama dari Kerajaan Bontoa)
  • I Mannyuwarang — Karaeng Bontoa Ke-II
  • I Mappasossong Daeng Pabundu — Karaeng Marusu'
  • I Nanggong Daeng Mattimu — Karaeng Tanralili Ke-XI
  • I Pakandi Dg Massuro — Karaeng Bontoa Ke-V
  • I Pake Daeng Masiga — Karaeng Marusu'
  • I Pandima Dg Maliongi — Karaeng Bontoa Ke-VI
  • I Parewa Dg Mamala — Karaeng Bontoa Ke-X
  • I Reggo Dg Mattiro — Karaeng Bontoa Ke-IX
  • I Sanrima Daeng Parukka — Karaeng Turikale Ke-IV
  • I Sondong Dg Mattayang — Karaeng Bontoa Ke-XI
  • I Toe Daeng Pagajang Tallea Ri Bima — Karaeng Tanralili Ke-VIII
  • Icalla Daeng Mabbunga Karaeng Borong — Karaeng Tanralili Ke-VI
  • Imalluluang Daeng Mannimbangi Matinroa Ri Cidu Toa — Karaeng Tanralili Ke-V
  • Inyimpung Daeng Palallo — Karaeng Tanralili Ke-VII
  • Ipangjanggau Daeng Mamala Matinroa Ri Solojirang — Karaeng Tanralili Ke-IV
  • Ipungruang Daeng Mangngati Matinroe Ri Bengkalis — Karaeng Tanralili Ke-IX
  • Karaeng Loe Ri Pakere — Karaeng Marusu' Ke-I (raja/karaeng yang pertama dari Kerajaan Marusu')
  • La Mamma Daeng Marewa Matinroe Ri Samangki — Karaeng Marusu'
  • La Mappalewa Daeng Mattayang — Karaeng Marusu'
  • La Oemma Daeng Manrapi — Karaeng Turikale Ke-III
  • Lamappaware Daeng Ngirate Matinroa Ri Tompo Bulu — Karaeng Tanralili Ke-I, Batara Tanralili
  • Muhammad Yunus Daeng Mumang — Karaeng Turikale Ke-II

Mantan Pemimpin Daerah Lain[sunting | sunting sumber]

Tokoh Politik[sunting | sunting sumber]

  • Asri Said — Organisator, ketua DPD KNPI Kabupaten Maros
  • Drs. H. Andi Harmil Mattotorang, M.M. — Wakil Bupati Maros petahana, Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Maros
  • H. Abdul Kadir Parewe — Mantan ketua DPRD Kabupaten Maros yang pertama, pendiri HPPMI Maros, budayawan
  • H. Andi Patarai Amir, S.E. — Ketua DPC Partai Golkar Kabupaten Maros, ketua DPRD Kabupaten Maros 2019-2024
  • H. Andi S. Chaidir Syam, S.IP, M.H. — Sekretaris DPD PAN Kabupaten Maros, legislator DPRD Kabupaten Maros 2014-2019 (ketua) & 2019-2024
  • H. Nasrun Amrullah — Mantan Bupati Maros, tokoh pembangunan Kabupaten Maros
  • Hasmin Badoa — Politisi
  • Hj. Suhartina Bohari — Politisi PAN, legislator DPRD Kabupaten Maros 2014-2019
  • Ir. H. Muhammad Hatta Rahman — Ketua DPD PAN Kabupaten Maros, bupati Maros periode 2010-2015 & 2016-2021
  • Ir. Andi Muhammad Irfan AB — Wakil ketua DPW PAN Provinsi Sulawesi Selatan, legislator DPRD Provinsi Sulawesi Selatan 2014-2019
  • M. Yunus Tiro — Organisator
  • Nurhasan — Mantan ketua PBR Sulawesi Selatan
  • Wawan Mattaliu — Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Maros, legislator DPRD Provinsi Sulawesi Selatan
  • Zainal Dalle — Politisi PAN, legislator DPRD Kabupaten Maros 2014-2019 & 2019-2024

Tokoh Pejabat Negeri[sunting | sunting sumber]

  • Andi Ilham Nadjamuddin — Birokrat senior pemerintahan Kabupaten Maros
  • Devo Khadafi — Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, eks Kabid Promosi Wisata Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan
  • H. Havid S. Fasha, S.H. — Birokrat pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan, ketua DPC PKB Kabupaten Maros

Tokoh Militer dan Kepolisian[sunting | sunting sumber]

Militer[sunting | sunting sumber]

  • Letkol. H.M. Kasim Daeng Marala — Purnawirawan, mantan Bupati Maros, tokoh sosial kemasyarakatan Kabupaten Maros
  • Onesmus Gede Rai Aryadi — Perwira

Kepolisian[sunting | sunting sumber]

  • Kompol. H. Najamuddin, SH. MH.

Tokoh Seniman/Artis[sunting | sunting sumber]

  • Ariyansa Saribunga — Penyanyi dangdut
  • Dg Ramli — Seniman kecapi pakkacapi
  • Haji Tinggi — Seniman kecapi pakkacapi
  • Hasna Ratu/Ratu KDI — Penyanyi dangdut
  • Ijha KDI 2015 — Penyanyi dangdut
  • Ir. Syamsul Rijal — Pakar olah vokal dan pengamat musik
  • Irwan Lulu Maulana — Pemusik
  • Pangeran Aco — Pemeran film "Patah Hati Tanpa Batas"
  • Ratu Fatimah Gani — Bintang model majalah, Sosialite, Puteri Indonesia Sulawesi Selatan 2019/peserta Puteri Indonesia 2019
  • Yusri Yusuf — Pembuat alat musik tradisional kecapi khas Bugis-Makassar, PNS

Atlet Olahraga[sunting | sunting sumber]

Tokoh Adat/Sejarawan/Budayawan[sunting | sunting sumber]

  • A. Burhanuddin Zainuddin — Budayawan, politisi
  • Akim Bando — Tokoh adat tradisi menumbuk gabah Mappadekko
  • Dayat Assagaf — Pemerhati seni, aktivis budaya
  • H. A. Paduppa — Sejarawan
  • H. Andi Fachry Makkasau — Budayawan, mantan legislator DPRD Kabupaten Maros
  • Kaimuddin Mabbaco — Penggiat budaya lokal Maros
  • M. Dahlan Dg Gassing — Budayawan/pemerhati permainan tradisional pa'raga
  • Massulangka Karaeng Situju — Ketua Dewan Adat Turikale
  • Muh. Aspar — Sejarawan

Tokoh Pengusaha[sunting | sunting sumber]

  • A. Abd. Rahim Daeng Manippi — Pengusaha tembakau
  • H. Tajerimin — Pengusaha, wakil bendahara DPD 1 Partai Golkar Sulsel

Tokoh pejuang kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

  • A. Kamaruddin Karaeng Sila — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • A. Sakka Daeng Mattuppu — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • A. Salama — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Abd. Kadir — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Abd. Latif — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Abd. Majid Muhadjidji — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Abd. Rahim — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Abd. Salam Nur — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota Polri
  • Abdul Hamid — Pejuang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan NICA Belanda di Maros)
  • Abdul Wahid Kolaka — Pejuang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan NICA Belanda di Maros)
  • Ahmad — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Ahmad Rani — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Andi Karim Tika — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Andi Palinrungi — Pejuang mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan NICA Belanda di Maros
  • Baco — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Baco Saleh — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Baddare Daeng Situru — Pejuang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan NICA Belanda di Maros, pemimpin laskar KRIS "Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi" Muda Mandar cabang Maros, pemimpin organisasi SAUDARA "Sumber Daya Rakyat", pemimpin organisasi PMP "Pemuda Merah Putih", tokoh agama/Muhammadiyah
  • Bado Saleng — Purnawirawan, pejuang anti penjajahan kolonial Belanda dan Jepang di Maros
  • Cicu — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Dg Badollo — Pejuang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan NICA Belanda di Maros, pejuang veteran perang
  • Dudin Matta — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota Polri
  • Faisal Reski — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Gaffar — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Hammasing — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • H. M. Saleng — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • H. M. Yunus A. — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • H. Rahman — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Hj. A. Hasanuddin Raga — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • H. Tatang Awe — Pejuang veteran kemerdekaan RI melawan kolonial Belanda, anggota legiun veteran Kabupaten Maros
  • Hj. Temmu — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Huseng — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Jamaluddin — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Jarre — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Karaeng Tompo — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Karaeng Turikale — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Lala S. — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Letda. Chaider Chalid — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • M. Arsyad — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota Polri
  • M. Gazali — Pejuang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan NICA Belanda di Maros, pejuang gerilya
  • Mahapani — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota Polri
  • Mannawi — Pejuang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan NICA Belanda di Maros
  • Marjam — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota Polri
  • Mide — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Nurdin Johan — Pejuang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan NICA Belanda di Maros, mantan Bupati Maros pertama, peletak dasar pembangunan Kabupaten Maros
  • Padoa Manuddin — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Petta Puli — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Puang Sialu — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota Polri
  • Puang Tappu — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Raupung — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Said Baco — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota Polri
  • Saide — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Salam Rukka — Pejuang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan NICA Belanda di Maros
  • Sale Sakka — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Sikkiri — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Slamet — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Sudding — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Suyanto A. — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Teasang — Pejuang veteran kemerdekaan RI
  • Tombong — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota Polri
  • Usman T. — Pejuang veteran kemerdekaan RI dari anggota TNI
  • Yatto Daeng Patobo — Pejuang veteran kemerdekaan RI

Bahasa dan Kesusasteraan[sunting | sunting sumber]

Penerapan mata pelajaran muatan lokal baca tulis aksara Lontara telah diterapkan dari jenjang pendidikan dasar dan menengah di Kabupaten Maros.

Bahasa merupakan salah satu pemersatu bangsa yang juga merupakan sarana untuk berkomunikasi antar sesama warga. Nah di Kabupaten Maros sendiri bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Bugis (Basa Ugi), Bahasa Makassar (Basa Mangkasara'), dan Bahasa Dentong. Bahasa Bugis ini dituturkan oleh orang Bugis yang ada di Kabupaten Maros. Bahasa Bugis yang ada di Kabupaten Maros memiliki dialek tersendiri yang dinamakan Bahasa Bugis Dialek Maros. Perbedaan ini terletak pada perbedaan segi fonetis dan fonemis dimana berbeda dengan Bahasa Bugis Dialek Bone, Wajo, Soppeng, Luwu, Sidrap, Barru, Sawitto (Pinrang), Pangkep, dan masih banyak lainnya. Sementara untuk suku Makasar yang ada di Kabupaten Maros menggunakan bahasa daerah Bahasa Makassar. Bahasa Makassar yang ada di Kabupaten Maros juga memiliki dialek tersendiri yang dinamakan Bahasa Makassar Dialek Maros. Bahasa Makassar Dialek Maros berbeda dengan Bahasa Makassar Dialek Lakiung (Gowa), Pangkep, Turatea (Jeneponto), Takalar, dan lain sebagainya.

Etnik Bugis-Makassar mempunyai aksara tulisan bernama aksara Lontara yang berdasarkan tulisan Brahmi. Orang Bugis-Makassar mengucapkan Basa Ugi/Mangkasara' dan telah memiliki kesusasteraan tertulis sejak berabad-abad lamanya dalam bentuk lontar. Huruf yang dipakai adalah aksara lontara, sebuah sistem huruf yang berasal dari Sanskerta. Seperti halnya dengan wujud-wujud kebudayaan lainnya. Penciptaan tulisan pun diciptakan karena adanya kebutuhan manusia untuk mengabdikan hasil-hasil pemikiran mereka. Kata “ lontara' ” berasal dari Bahasa Bugis/Makassar yang berarti “daun lontar”. Karena pada awalnya tulisan tersebut dituliskan di atas daun lontar. Tiap-tiap daun lontar disambungkan dengan memakai benang lalu digulung pada jepitan kayu, yang bentuknya mirip gulungan pita kaset. Cara membacanya dari kiri ke kanan. Lontara Bugis dan Makassar merupakan sebuah huruf yang sakral bagi masyarakat Bugis-Makassar klasik di Kabupaten Maros. Tidak heran apabila nama-nama jalan dan tempat-tempat pemerintahan di wilayah Kabupaten Maros bertuliskan aksara Lontara.

Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata “lontar” yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara juga mengacu pada literatur mengenai sejarah dan geneologi masyarakat Bugis, salah satunya terdapat pada Sureq La Galigo. Menurut profesor Mattulada, bentuk dasar aksara Lontara berasal dari bentuk filosofis sulapa' appa' walasuji. Sulapa' appa' (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan unsur pembentukan manusia, yaitu api (pepe') – air (je'ne) – angin (anging) – tanah (butta). Sedangkan walasuji berarti sejenis pagar bambu yang biasa digunakan pada acara ritual.

Aksara Lontara terdiri dari 23 huruf untuk Lontara Bugis dan 19 huruf untuk Lontara Makassar. Selain itu, perbedaan Lontara Bugis dengan Lontara Makassar yaitu pada Lontara Bugis dikenal huruf ngka, mpa, nca, dan nra sedangkan pada Lontara Makassar huruf tersebut tidak ada. Para leluhur Bugis pun memberikan nasihat kepada anak cucunya yang hendak merantau dengan aksara lontara. Nasihat ini berpesan mengenai empat hal tentang kekayaan dan kesuksesan. Engkau bersiap-siap meninggalkan negerimu menuju ke sebuah negeri yang lain. Semoga engkau menjadi orang kaya dan sejahtera di negeri orang. Pahamilah dengan baik bahwa kaya itu memiliki empat tanda-tanda. Pertama-tama, kaya dalam berbahasa dan berkomunikasi. Kedua, kaya dalam pemikiran dan imajinasi. Ketiga, kaya dalam dunia usaha (memiliki banyak keahlian dan relasi bisnis). Keempat, kaya dalam keuangan.

Partikel-Partikel Bahasa Bugis-Makassar Di Kabupaten Maros[sunting | sunting sumber]

  1. ji
  2. ki
  3. mi
  4. pi
  5. mo
  6. ma'
  7. di'
  8. tonji
  9. tawwa
  10. pale

Dialek Maros[sunting | sunting sumber]

No. Bahasa Inggris Bahasa Indonesia Dialek Maros
Bahasa Bugis Bahasa Makassar
1. to eat makan anre kanre
2. to walk jalan jokka jappa
3. to take ambil ala alle
4. to see lihat kita cini
5. house rumah bola balla
6. sourness rasa asam kecci kacci
7. red merah cella eja
8. cat kucing meong miong
9. one satu se'di se're
10. two dua duwa ruwa
11. money uang doi doe
12. to laugh ketawa macawa makkala
13. water air wae je'ne
14. day hari/siang esso allo
15. three tiga tellu tallu
16. fart kentut ettu' attu'
17. banana pisang utti unti
18. younger sister/brother adik anri andi'
19. name nama aseng areng
20. four empat eppa' appa'
21. monday senin seneng sanneng
22. ten sepuluh seppulo sampulo
23. time waktu wettu wattu
24. lucky mujur upe' upa'
25. snake ular ula' ulara'
26. arrogant sombong tempo tampo
27. to tie ikat sio' sikko'
28. with dengan sibawang siagang
29. to kick sepak sempe' sempa'
30. sandal sendal sendala' sandala'
31. sand pasir kessi kassi
32. bracelet gelang potto ponto
33. plate piring penne panne
34. black hitam lotong le'leng
35. deterrent jera jerra jarra
36. big besar loppo lompo
37. lumpy kental kentala' gantala'
38. even genap genne' ganna'
39. to want ingin elo ero
40. frog katak tuppang cuppang
41. blood darah dara cera'
42. mirror cermin camming carammeng
43. toothless ompong cemmo cammo
44. sewage comberan cemme cammara'
45. gold emas ulaweng bulaeng
46. man pria urane bura'ne
47. paper kertas ujang bujang
48. rice beras berre berasa'
49. iron besi bessi bassi
50. yarn benang wennang bannang

Kata-Kata Mutiara Khas Daerah[sunting | sunting sumber]

  • Ampedecengngi makkatenning ri lempu'e, nasaba puangnge passabakeng: berilah persangkaan baik dan berpegang teguh pada kejujuran karena Tuhan adalah segala sebab.
  • Taro ada taro gau: satu kata satu perbuatan. Artinya, apa yang diucapkan itu yang juga dilakukan. Bukan lain yang diucapkan, lain juga yang dilakukan. Kata-kata mutiara ini juga merupakan simbol loyalitas terhadap apa yang menjiwai masyarakat Bugis-Makassar itu sendiri dalam bertindak.
  • Sipakatau: memanusiakan manusia. Artinya, sebagai manusia kita harus saling menghormati, berbuat santun, dan tidak membeda-bedakan dalam kondisi apapun tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan kepada sesama manusia.
  • Sipakalebbi: saling memuliakan atau menghargai. Sifat menghargai artinya manusia merupakan makhluk yang senang jika dipuji dan diperlakukan dengan baik dan layak. Dan sifat memuliakan memiliki arti sebagai larangan untuk melihat kekurangan yang ada pada diri orang lain.
  • Sipakainge' : saling mengingatkan sesama manusia. Hal ini tidak terlepas dari kekurangan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri yang terkadang lupa. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita untuk saling mengingatkan satu sama lain ketika mereka lupa.
  • Sipatokkong: saling bekerja sama/saling membantu. Sudah sepantasnya kita sebagai manusia saling membantu ketika ada orang lain yang membutuhkan bantuan kita, tanpa memandang siapa aku dan siapa dia.
  • Salama'ki tapada salama' dan Salama'ki: ucapan salam khas lokal (familiar untuk masyarakat Sulawesi Selatan)
  • Siri' mate siri' : Siri' yang berhubungan dengan iman. Dalam pandangan orang Bugis/Makassar, orang yang mate siri'-nya adalah orang yang di dalam dirinya sudah tidak ada rasa malu (iman) sedikit pun. Orang seperti ini diapakan juga tidak akan pernah merasa malu, atau yang biasa disebut sebagai bangkai hidup yang hidup.
  • Siri' tappela' siri' (Bugis Teddeng siri' ): rasa malu seseorang itu hilang “terusik” karena sesuatu hal. Misalnya, ketika seseorang memiliki utang dan telah berjanji untuk membayarnya maka si pihak yang berutang berusaha sekuat tenaga untuk menepati janjinya atau membayar utangnya sebagaimana waktu yang telah ditentukan (disepakati). Ketika sampai waktu yang telah ditentukan, jika si berutang ternyata tidak menepati janjinya, itu artinya dia telah mempermalukan dirinya sendiri.
  • Siri' na pacce (Bugis Siri' na pesse): Kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau kesusahan individu lain dalam komunitas (solidaritas dan empati)
  • Siri' Ripakasiri' : Siri' yang berhubungan dengan harga diri pribadi, serta harga diri atau harkat dan martabat keluarga. Siri' jenis ini adalah sesuatu yang tabu dan pantang untuk dilanggar karena taruhannya adalah nyawa.
  • Siri' Mappakasiri'-siri' : Siri' yang berhubungan dengan etos kerja.
  • Narekko degaga siri'mu, inrengko siri' : Kalau Anda tidak punya malu maka pinjamlah kepada orang yang masih memiliki rasa malu (siri').
  • Narekko engka siri'mu, aja' mumapakasiri'-siri' : Kalau Anda punya malu maka jangan membuat malu (malu-maluin).
  • Siri' paranreng, nyawa palao: Apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawalah bayarannya.
  • Naia tau de'e siri'na, de lainna olokolo'e. Siri' e mitu tariaseng tau.: Barang siapa yang tidak punya siri', maka dia bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seekor binatang.

Petuah[sunting | sunting sumber]

Pesan para leluhur Bugis memberikan nasihat kepada anak cucunya yang hendak merantau dengan aksara lontara. Nasihat ini berpesan mengenai empat hal tentang kekayaan dan kesuksesan.


Engkau bersiap-siap meninggalkan negerimu menuju ke sebuah negeri yang lain. Semoga engkau menjadi orang kaya dan sejahtera di negeri orang. Pahamilah dengan baik bahwa kaya itu memiliki empat tanda-tanda. Pertama-tama, kaya dalam berbahasa dan berkomunikasi. Kedua, kaya dalam pemikiran dan imajinasi. Ketiga, kaya dalam dunia usaha (memiliki banyak keahlian dan relasi bisnis). Keempat, kaya dalam keuangan.

Cerita Rakyat[sunting | sunting sumber]

  • Legenda Toakala
  • Legenda Biseang Labboro'
  • Legenda Tomanurung Maros
  • Legenda Pa'jekko Tradisi Appalili
  • Cerita Nene' Pakande
  • Cerita Longga'

Seni dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Indonesia merupakan salah satu negara dengan ragam suku, budaya dan adat yang begitu melimpah. Puluhan bahkan ratusan budaya terdapat dalam satu negara Indonesia. Dan salah satunya, yaitu budaya Sulawesi Selatan dan terkhusus budaya yang ada di Kabupaten Maros. Kabupaten Maros selain menjadi perlintasan dari Makassar ke Toraja, juga merupakan daerah peralihan dan pertemuan dari dua kebudayaan dari etnis Bugis dan Makassar. Budaya masyarakat Maros diwarnai oleh budaya Bugis dan Makassar itu sendiri, yang saling isi mengisi dan akhirnya menjadi tipikal perpaduan atau akulturasi yang memunculkan kekhasan budaya baru. Nuansa budaya Bugis dapat ditemukan di bagian timur, utara, dan tengah dari wilayah Maros, sedangkan nuansa budaya Makassar dapat ditemukan di bagian selatan dan barat dari wilayah Maros. Di desa Labuaja, kecamatan Cenrana, Maros, terdapat penggunaan tutur bahasa Dentong yang mana begitu berbeda dengan bahasa Bugis dan bahasa Makassar.

Kabupaten Maros melahirkan unsur-unsur budaya yang berupa perpaduan antara nilai-nilai agama dan lingkungan alamnya yang dilatarbelakangi dan diwarnai dua etnis besar Makassar dan Bugis. Kedua etnis ini telah membentuk watak dan karakteristik masyarakat Kabupaten Maros yang mudah berinteraksi terhadap masyarakat pada umumnya di Sulawesi Selatan. Jika dilihat dari sejarah Kabupaten Maros yang termasuk keturunan dari kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar melalui suatu kaitan perkawinan. Hal inilah yang melahirkan suatu nilai-nilai budaya dan tradisi yang sampai saat ini masih dijunjung tinggi oleh kalangan masyarakatnya. Sebagai tanda-tanda tersebut dapat dilihat dari nama-nama kegiatan budaya yang pada dasarnya berasal dari bahasa Makassar dan/atau Bugis. Kekayaan budaya Kabupaten Maros juga memiliki potensi dan bahkan menjadi bagian dari kegiatan pariwisata karena budaya dan pariwisata adalah suatu bagian yang tidak dapat terpisahkan. Beberapa ekspresi budaya yang dituangkan dalam suatu bentuk kegiatan-kegiatan yang mencerminkan kehidupan manusia masa lampau di Kabupaten Maros.

Budaya Siri' Na Pacce atau Siri' Sibawang Pesse adalah salah satu filosofi budaya Masyarakat Bugis-Makassar yang harus dijunjung tinggi. Bagi masyarakat Bugis-Makassar di Kabupaten Maros, siri' mengajarkan moralitas dalam bentuk nasihat kesusilaan, pelarangan, hak dan kewajiban yang mendominasi tindakan manusia untuk melestarikan dan membela diri dan kehormatannya. Siri' adalah rasa malu yang terurai dalam dimensi martabat manusia, siri' adalah sesuatu yang ‘tabu’ bagi orang-orang Bugis-Makassar dalam berinteraksi dengan orang lain. Sementara itu, Pacce/Pesse mengajarkan solidaritas dan kepedulian sosial secara tidak egois dan ini adalah salah satu konsep yang membuat orang Bugis-Makassar mampu bertahan dan dihormati diperantauan, pasrah dengan welas asih dan merasakan beban dan penderitaan orang lain.

Masyarakat Bugis dan Makassar yang mendiami Kabupaten Maros tinggal di sebuah kampung yang terdiri atas 10 – 20 buah rumah. Kampung pusat ditandai dengan pohon beringin besar yang dianggap keramat dan dipimpin oleh kepala kampung disebut matowa. Gabungan kampung disebut wanua sama dengan kecamatan. Lapisan masyarakat Bugis dan Makassar sebelum kolonial Belanda adalah:

  1. Ana' karung: yaitu lapisan kaum kerabat raja,
  2. To-maradeka: yaitu lapisan orang merdeka, dan
  3. Ata: yaitu lapisan budak.

Sistem Kekerabatan[sunting | sunting sumber]

Sistem kekerabatan Suku Bugis dalam hal perkawinan yang ideal di Kabupaten Maros sebagai berikut:

  1. Assialang Marola: adalah perkawinan antara saudara sepupu sederajat ke satu baik dari pihak ayah/ibu.
  2. Assialanna Memang: adalah perkawinan antara saudara sepupu sederajat ke dua baik dari pihak ayah/ibu.

Perkawinan yang dilarang adalah perkawinan anak dengan ayah/ibu dan menantu dengan mertua. Kegiatan-kegiatan sebelum perkawinan, meliputi:

  1. Mappuce-puce : meminang gadis,
  2. Massuro : menentukan tanggal pernikahan,
  3. Maddupa : mengundang dalam pesta perkawinan.

Pagelaran Seni Rakyat Maros[sunting | sunting sumber]

  • Festival Gendang dan Kecapi Bugis-Makassar[13]
  • Pertunjukan Gendang Kalompoang
  • Pertunjukan Seni Bela Diri Pammenca' Maros
  • Pertunjukan Seni Angngaru' Maros
  • Seni Tradisional Ganrang Tallua

Permainan Tradisional Khas Maros[sunting | sunting sumber]

  • Santo-santo (permainan dengan instrumen batu sungai)
  • Ma'baguli (bermain kelereng secara umum)
  • Rutta-rutta (jenis permainan kelereng yang diikuti sekumpulan pemain dimana menggunakan tanah lapang dan digaris berbentuk lingkaran)
  • Pontu-pontu (jenis permainan kelereng yang diikuti sekumpulan pemain dimana menggunakan tanah lapang dan digaris berbentuk persegi panjang)
  • Maccule Oto-oto (bermain mobil-mobilan yang dibuat sendiri dari kayu)
  • Tingko-tingko
  • Dende-dende
  • Asing-asing
  • Mappadende
  • Bong-bong (permainan benteng yang diikuti oleh 2 tim, berlomba untuk menyentuh benteng yang dijaga masing-masing tim)
  • Boi-boi
  • Lopi-lopi (permainan perahu)
  • Patte-patte (permainan karet yang saling bersusun)
  • Temba'-temba' (permainan tembak dari bambu)
  • Ma'wayang (permainan kertas bergambar)
  • Tolu-tolu (kejar-kejaran)
  • Bareccung bulo (permainan mercon dari bambu, menggunakan minyak tanah atau karbit)
  • Lengga-lengga (permainan sejenis enggrang, tetapi menggunakan kaleng bekas)
  • Pukul Bantal
  • Lojo-Lojo
  • Bong-Bong
  • Pasodo Tompong-Tompong
Permainan ini menyerupai permainan bola basket. Untuk membawa bola digunakan Pasodo, yaitu sejenis jala untuk menangkap ikan dan memasukkan bola takraw ke dalam keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Permainan tradisional ini telah eksis di pesisir pantai Maros.
  • Paraga
Dilakukan dengan memainkan bola raga dengan konstruksi bola berpindah-pindah dari kaki ke kaki, merupakan aktualisasi Akrannu-rannu, kegiatan yang dilakukan ketika waktu senggang atau dalam arti lain bermain dan bersenang-senang. Tampak pemain dengan lincah memainkan bola raga sambil berdiri di atas pundak dua orang rekannya. Pa'raga merupakan permainan kesenian asli Bugis-Makassar. Diyakini bahwa sebagai asal muasal permainan sepak takraw yang telah mendunia. Sepak takraw atau sepakbola rotan telah digandrungi masyarakat dunia. Perlu diketahui, takraw pertama kali muncul di Sulawesi Selatan. Asal muasal olahraga sepak takraw adalah sepak raga, yakni sebuah permainan yang memainkan bola rotan yang dipadu dengan gerakan mirip akrobat. Ma'raga atau gerakan melakukan raga dengan menggunakan bola rotan ini, pada dasarnya adalah terdiri dari gerakan-gerakan seni bela diri. Berdasarkan cerita turun-temurun di Dusun Kaemba, Desa Nisombalia, Kabupaten Maros bahwa permainan raga ini dulunya muncul dari sebuah kampung yang dahulu disebut Ujung Bulo, sebuah kampung Pa'raga di wilayah Maros. Sebuah sejarah juga mencatat perkembangan Ma'raga, ketika dari kedatangan seorang Karaeng (raja) dari Gowa yang menyebarkan islam dengan memperkenalkan alat-alat musik tradisional seperti gendang dan gong membuat ma'raga tidak lagi dilakukan dengan hanya gerakan-gerakan seperti biasa, namun diiringi dengan alat-alat musik tradisional. Hal ini dipastikan ma'raga adalah salah satu medium penyebaran agama islam di Kaemba. Sebuah catatan sejarah terawal tentang sepak raga juga terdapat dalam Sejarah Melayu. Ketika pemerintahan Sultan Mansur Shah Ibni Almarhum Sultan Muzzaffar Shah (1459 – 1477), sejalan dengan perkembangan, maka pada tahun 1940-an, pola permainan raga ini berubah dengan menggunakan jaring dan peraturan angka. Olahraga ini kemudian berkembang di kawasan Asia, tercatat sampai di Filipina yang dikenal dengan nama Sipa, di Burma dengan nama Chinlone, di Laos dengan nama Kator, dan di Thailand dengan nama Takraw. Di Kabupaten Maros, dalam berbagai seremonial atau pesta rakyat, permainan pa'raga masih digelar sebagai pendukung acara. Para pemain pa'raga biasanya adalah para pemuda yang terampil dan terlatih baik. Mereka mengenakan pakaian adat yang terdiri dari passapu (penutup kepala khas Suku Makassar berbentuk segi tiga), baju tutup (jas tradisional), dan lipa sabbe (sarung khas Makassar yang terbuat dari kain sutera), para pemuda ini beratraksi. Hingga kini, kentalnya corak islami masih melekat pada atraksi pa'raga, setiap kali melakukan atraksi ma'raga, para pemainnya kerap melafalkan Lailahaillalah dengan nada yang teratur. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga konsentrasi permainan yang tingkat kesulitannya sangat tinggi. Kini gerakan ma'raga mampu dilakukan dengan formasi tingkat tiga, dimana gerakan membentuk tingkatan manusia sambil terus memainkan bola raga hingga pemain yang berada paling atas telah berdiri di posisinya. Gerakan inilah yang sekarang pada setiap penampilannya membuat penonton cemas bercampur kagum menyaksikan kepiawaian para pa'raga memadukan seni, kemampuan fisik, dan nuansa religius.

Adat dan Tradisi[sunting | sunting sumber]

  • Adat Musyawarah Tudang Sipulung
  • Adat Pindah Rumah Baru Lette Bola
  • Adat Kehormatan Diri Siri' Na Pacce (Makassar) / Siri' Na Pesse (Bugis)
  • Adat Pernikahan Mappuce-puce
Kunjungan dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk mengadakan peminangan.
  • Adat Pernikahan Massuro
Kunjungan dari utusan pihak keluarga laki-laki kepada keluarga si gadis untuk membicarakan waktu pernikahan, jenis sunreng (mas kawin), dan sebagainya.
  • Adat Pernikahan Maduppa
Pemberitahuan kepada seluruh kaum kerabat mengenai perkawinan yang akan datang.
  • Adat Pernikahan Mappacci/Mappaccing
  • Adat Pernikahan Madduta
  • Adat Pernikahan Marola
  • Adat Pernikahan Assialang marola
Perkawinan antara saudara sepupu sederajat kesatu, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.
  • Adat Pernikahan Assialana memang
Perkawinan antara saudara sepupu sederajat kedua, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.
  • Adat Pernikahan Ripanddeppe' mabelae
Perkawinan antara saudara sepupu sederajat ketiga, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.
  • Adat Lamaran Doe Panai'/Dui Paenre
  • Adat Penghormatan Tamu Agung Aru/Angngaru'
  • Adat Penobatan Raja Mala Lise' Tana Menroja
  • Adat Penobatan Raja Lekka Wae Loppo
  • Adat Penobatan Raja Cemme Majeng
  • Adat Penobatan Raja Pasitekkereng Lawolo
  • Adat Penobatan Raja Makkatenning Ade' Loponna Turikale
  • Adat Penobatan Raja Ilise Sumange'na Turikale
  • Adat Penobatan Raja Ripasessu ri Menrawe
  • Adat Penobatan Raja Ripallejja Tana Menroja
  • Adat Penobatan Raja Ripabissa Aje
  • Adat Penobatan Raja Lantunan Sureq Lawolo/Syair Lawolo
  • Adat Penobatan Raja Riompori Benno' Ulaweng
  • Adat Penobatan Raja Ripatuddu' Umpa Sikati
  • Adat Penobatan Raja Ripallejja Lebba Janna
  • Adat Penobatan Raja Ripatudang ri Lamming Ulaweng
  • Adat Penobatan Raja Penggantian Sigara' Ke Songkok Recca Ulaweng
  • Adat Penobatan Raja Ripakkuru' Sumange'
  • Adat Rasa Syukur Massikkiri'
  • Tradisi Ritual Mannempu'/Mannampu' Wette sebagai ungkapan rasa syukur dan berikhtiar memohon berkah kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar mendapat hasil panen yang melimpah di Lingkungan Baniaga, Kelurahan Taroada
  • Passoppo Botting (memikul pengantin mempelai pria) di Desa Ampekale
  • Prosesi pengantin sunat yang ditandu di Kecamatan Tanralili
  • Barisan berkuda di Kecamatan Mandai
  • Simponi kecapi di Kecamatan Lau
  • Tradisi Adu Betis Mallanca
Tradisi Adu Betis sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan panen. Adu betis biasanya dilakukan di Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, seusai panen besar. Tradisi ini sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan panen. Sawah-sawah di Moncongloe umumnya sawah tadah hujan dan hanya panen sekali dalam setahun. Jadi tidak heran kalau Mallanca diadakan hanya setahun sekali. Dan biasanya pada bulan agustus. Akibatnya, tradisi ini juga seringkali dirayakan berbarengan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Sesuai nama tradisinya, setiap pria di Maros menunjukkan kekuatan dengan cara saling menendangkan betis mereka. Tradisi ini tidak dilakukan di tempat sembarangan. Adu betis dilakukan di dekat makam Gallarang Moncongloe, leluhur Desa Moncongloe yang juga pamannya Raja Gowa, Sultan Alauddin. Mallanca dilakukan secara kelompok. Dengan membentuk lingkaran besar, adu betis dilakukan di dalam lingkaran tersebut. Masyarakat Maros juga melakukan tradisi ini untuk mengingat jasa leluhur mereka yang telah menjaga Kerajaan Gowa dengan jiwa patriot pada dahulu kala. Lebih unik lagi, adu betis ternyata bukan lomba. Tidak ada pemenang pada tradisi adu betis karena tradisi ini hanya untuk menunjukkan kekuatan peserta. Setelah adu betis selesai, tidak jarang ada peserta yang mengalami patah tulang. Meski begitu, tradisi ini tetap dinantikan kehadirannya setiap tahun oleh masyarakat Maros.
  • Tradisi Penentuan Tanggal Pernikahan Kutika Bilangeng Duappulo

Rumah Adat Tradisional[sunting | sunting sumber]

Sebuah rumah panggung yang tidak jauh dari lokasi Air Terjun Bantimurung sekitar tahun 1900-1920.
Bangunan rumah panggung tradisional Bugis-Makassar yang beratapkan daun nipah di wilayah Maros pada tahun 1929 (bagian 1).
Bangunan rumah panggung tradisional Bugis-Makassar yang beratapkan daun nipah di wilayah Maros pada tahun 1929 (bagian 2).
Bangunan arsitektur rumah tradisional suku Bugis-Makassar yang telah mengalami perubahan (warna dengan cat, material paku besi dan seng) di Kabupaten Maros.

Setiap budaya memiliki ciri khas rumah adatnya masing-masing. Macam budaya Kabupaten Maros lain yang tak kalah terkenalnya adalah arsitektur khasnya. Dimana arsitektur tradisional Kabupaten Maros ini diperlihatkan dalam bentuk rumah adat. Nama dari rumah adat suku Bugis dan Makassar sendiri disebut dengan Bola dan Balla. Kedua rumah adat ini memiliki kesamaan dalam segi bentuknya, yaitu berupa rumah panggung yang memiliki kolong bawah rumah.

Rumah adat suku Bugis di Kabupaten Maros memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumah panggung dari suku yang lain (Sumatra dan Kalimantan). Bentuknya biasanya memanjang ke belakang, dengan tanbahan disamping bangunan utama dan bagian depan, orang bugis menyebutnya lego. Berikut adalah bagian-bagian utamanya:

  1. Tiang utama (alliri): Biasanya terdiri dari 4 batang setiap barisnya. Jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat. Tetapi pada umumnya, terdiri dari 3/4 baris alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri.
  2. Padongko' : Yaitu bagian yang bertugas sebagai penyambung dari alliri di setiap barisnya.
  3. Pattoppo: Yaitu bagian yang bertugas sebagai pengait paling atas dari alliri paling tengah tiap barisnya.

Orang Bugis suka dengan arsitektur rumah yang memiliki kolong. Konon, orang Bugis, jauh sebelum islam masuk ke Tanah Bugis (Tana Ugi), orang Bugis memiliki kepercayaan bahwa alam semesta ini terdiri atas 3 bagian, yaitu bagian atas/perkawinan di langit yang dilakukan oleh We Tenriabeng (botting langi' ), bagian tengah/di bumi/keadaan-keadaan yang terjadi di bumi (alang tengnga/ale kawa' ), dan bagian bawah atau dunia bawah tanah/laut (paratiwi/peretiwi/buri liu/). Mungkin itulah yang mengilhami orang Bugis (terutama yang tinggal di kampung) lebih suka dengan arsitektur rumah yang tinggi.

Bagian-bagian dari rumah adat tradisional Bugis ini sebagai berikut:

  1. Rakkeang: adalah bagian di atas langit-langit (eternit). Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen.
  2. Ale Bola: adalah bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah (posi' bola).
  3. Awa Bola: adalah bagian di bawah rumah, antara lantai rumah dengan tanah.

Awa bola ialah kolong yang terletak pada bagian bawah, yakni antara lantai dengan tanah. Kolong ini biasa pada zaman dulu dipergunakan untuk menyimpan alat pertanian, alat berburu, alat untuk menangkap ikan dan hewan-hewan peliharaan yang dipergunakan dalam pertanian. Ale bola ialah badan rumah yang terdiri dari lantai dan dinding yang terletak antara lantai dan loteng. Pada bagian ini terdapat ruangan-ruangan yang dipergunakan dalam aktivitas sehari-hari seperti menerima tamu, tidur, bermusyawarah, dan berbagai aktivitas lainnya. Badan rumah terdiri dari beberapa bagian rumah seperti: lotang risaliweng, pada bagian depan badan rumah disebut yang berfungsi sebagai ruang menerima tamu, ruang tidur tamu, tempat bermusyawarah, tempat menyimpan benih, tempat membaringkan mayat sebelum dibawa ke pemakaman. Lotang ritenggah atau Ruang tengah, berfungsi sebagai tempat tidur kepala keluarga bersama istri dan anak-anaknya yang belum dewasa, hubungan sosial antara sesama anggota keluarga lebih banyak berlangsung di sini. Lontang rilaleng atau ruang belakang, merupakan merupakan tempat tidur anak gadis atau orang tua usia lanjut, dapur juga di tempatkan pada ruangan ini yang dinamakan dapureng atau jongke. Rakkeang ialah loteng yang berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil pertanian seperti padi, jagung, kacang dan hasil perkebunan lainnya. Sebagaimana halnya unsur-unsur kebudayaan lainnya maka teknologi arsitektur tradisional pun senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan.

Yang lebih menarik sebenarnya dari rumah Bugis ini adalah bahwa rumah ini dapat berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun orang dahulu kala menggantikan fungsi paku besi menjadi paku kayu. Semuanya murni menggunakan kayu. Dan uniknya lagi adalah rumah ini dapat di angkat/dipindah.

Sementara Rumah adat tradisional suku Makassar di Kabupaten Maros berupa panggung yang terdiri atas 3 bagian sebagai berikut:

  1. Kalle balla: untuk tamu, tidur, dan makan.
  2. Pammakkang: untuk menyimpan pusaka.
  3. Passiringang: untuk menyimpan alat pertanian.

Rumah adat suku Bugis-Makassar berdasarkan status sosial orang yang menempatinya:

  1. Rumah Saoraja (Sallasa) berarti rumah besar yang ditempati oleh keturunan raja (kaum bangsawan)
  2. bola/balla adalah rumah yang ditempati oleh rakyat biasa

Tipologi kedua rumah ini adalah sama-sama rumah panggung, lantainya mempunyai jarak tertentu dengan tanah, bentuk denahnya sama yaitu empat persegi panjang. Perbedaannya adalah saoraja dalam ukuran yang lebih luas begitu juga dengan tiang penyangganya, atap berbentuk prisma sebagai penutup bubungan yang biasa disebut timpak laja yang bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima sesuai dengan kedudukan penghuninya.

Hal juga mempengaruhi arsitektur tradisional suku bangsa Bugis antara lain bola Ugi yang dulunya berbentuk rumah panggung sekarang banyak yang diubah menjadi rumah yang berlantai batu. Agama Islam juga memberi pengaruh kepada letak dari bagian rumah sekarang yang lebih banyak berorientasi ke Kabah yang merupakan kiblat umat Islam di seluruh dunia. Hal tersebut dikarenakan budaya Islam telah membudaya di kalangan masyarakat Bugis-Makassar, simbol-simbol yang dulunya dipakai sebagai pengusir mahluk halus yang biasanya diambil dari dari jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang tertentu diganti dengan tulisan dari ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Alat Musik Tradisional[sunting | sunting sumber]

  • Pui-Pui: Alat musik dengan cara ditiup dengan bentuk yang cukup unik seperti terompet. Bentuk dan cara memainkan alat musik ini sama persis dengan beberapa alat musik dari daerah lain di Indonesia, seperti serunai di Sumatera, Sronen di Jawa Timur, dan Tarompet di Jawa Barat.
  • Keso-Keso/kesong-Kesong: Alat musik tradisional ini memiliki nama “keso” karena memang cara memainkannya digesek, sehingga disebut “Keso-Keso” dan beberapa orang juga ada yang menyebutnya “Kere-Kere Galang”. Pada bagian tubuh Keso-Keso yang digunakan sebagai resonatornya terbuat dari kayu nangka yang dipilih dengan cara khusus dan dibentuk menyerupai jantung pisang dengan rongga di tengahnya agar menciptakan suara yang maksimal. Setelah dipahat sedemikian rupa sehingga berbentuk cekungan, kekosongan dari kayu nangka tersebut ditutup dengan membran yang terbuat dari kulit kambing pilihan. Dari alat menggeseknya tidak diperlukan kayu khusus karena asalkan kuat, kayu tersebut bisa digunakan sebagai busur yang digunakan untuk menggesek Keso-Keso. Namun yang terpenting terletak pada benda yang terlihat seperti tali busur tersebut yang ternyata menggunakan rambut ekor kuda sebagai bahannya. Bunyi yang dihasilkan berasal dari gesekan antara senar pada Keso-Keso dan juga rambut ekor kuda pada busur.
  • Kacaping/Kecapi Maros: Kacaping merupakan alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipetik. Kacaping juga memiliki dua dawai yang dikaitan ke kayu yang sudah dibentuk menyerupai perahu. Kecapi Maros biasanya ditampilkan sebagai musik pengiring pada acara penjemputan para tamu pada pesta perkawinan, hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
  • Gendang Bulo: Ukurannya cukup kecil dan panjang. Dimainkan pada perayaan adat atau acara tertentu. Gendang ini dimainkan oleh kaum laki-laki.
  • Genrang/Ganrang/Gendang Bugis: Alat musik perkusi yang mempunyai bentuk bulat panjang.
  • Gendang Makassar
  • Ganrang Tallua/Gendang Tiga
  • Ana Baccing: Alat musik ini terbuat dari logam, dimainkan dengan cara dipukulkan satu sama lain. Bentuknya seperti dayung, dan selalu dimainkan pada saat karnaval atau upacara adat.
  • Basi-Basi: Ada perbedaan penyebutan antara masyarakat Bugis dan juga Makassar untuk alat musik ini. Bagi orang Makassar alat musik ini disebut klarinet. Basi-Basi ini dimainkan dengan cara ditiup, dan didalamnya terdapat sebuah sekat berupa membran yang dapat menghasilkan bunyi.
  • Jalappa: Merupakan alat musik yang bentuknya seperti simbal. Terbuat dari logam kuningan, dimainkan pada saat upacara adat persembahan sesaji kepada para dewata. Alat musik ini juga dipercayai sebagai peralatan dukun di beberapa daerah.
  • Alosu: Alat musik tradisional ini terbuat dari anyaman daun kelapa dan berbentuk kotak-kotak kecil yang tersusun rapi. Di bagian dalamnya terdapat biji-bijian yang jika kita goyangkan akan menimbulkan suara seperti beras yang terdapat dalam botol plastik. Alat musik ini dimainkan dengan cara digoyang-goyangkan. Biji yang berada didalam kotak Alosu akan menghasilkan bunyi gemerincing, layaknya seperti kecrek modern.
  • Rebana Bugis: Merupakan gendang terbuat dari kayu. Baik kayu cendana, pohon nangka, pohon kelapa, maupun kayu jati. Saat ini, Rebana digunakan untuk mengiringi tarian atau qasidah.
  • Suling Panjang/Suling Lampe: suling yang memiliki lima lubang nada.
  • Suling Calabai/Suling Ponco: suling jenis ini sering dipadukan dengan biola, kecapi dan dimainkan bersama penyanyi.
  • Suling Dupa Samping: suling ini digunakan pada acara karnaval atau acara penjemputan tamu.

Tari[sunting | sunting sumber]

Penari Pajoge di Maros pada zaman Hindia Belanda (sekitar tahun 1870)
Tari Paraga, ciri khas tari Suku Makassar di Kecamatan Marusu Kabupaten Maros.
  • Tari Appalili: Merupakan tarian yang dimainkan oleh 3 orang pria dan 6 orang perempuan untuk menyambut datangnya musim tanam padi, didahului dengan musyawarah adat, kemudian dilakukan pembersihan dan perbaikan alat pertanian diiringi tabuhan gendang dan pui-pui.
  • Tari Bias Muharram: Merupakan tarian kolosal yang diiringi alat-alat musik tradisional dan modern untuk menyambut Tahun Baru Islam dan biasanya diiringi oleh kesenian lslami lain seperti qasidah, puisi, dan lagu lslami.
  • Tari Bunting Berua: Sebuah tradisi seni tari yang diciptakan untuk menyemarakkan suatu pesta adat perkawinan Bugis-Makassar maknanya adalah memberi suasana gembira dan bahagia bagi kedua mempelai dan segenap keluarga. Karena itu, Tari Bunting Berua ini hanya khusus dipersembahkan di dalam acara-acara pesta perkawinan adat Bugis-Makassar, lebih khusus perkawinan sebuah keluarga terpandang (bangsawan). Tarian ini dimainkan oleh 5–7 orang putri, alat musik yang digunakan adalah kecapi, suling, gendang, gong, katto-katto, dan anak baccing. Seni tari ini dapat dijumpai di Lingkungan Kassi Kebo Kelurahan Baju Bodoa Kecamatan Maros Baru.
  • Tari Dengka Ase Lolo: Tarian yang dimainkan secara kolosal yang diiringi musik Mappadendang sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berhasilnya panen, berlangsung 3 hari berturut-turut. Tarian ini dapat dijumpai di Tana Didi Dusun Batubassi, Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang. Kegiatan ini berlangsung 3 (tiga) hari berturur-turut dengan kegiatan pagelaran musik tradisional yaitu Mappadendang. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen. Alat musik pengiring selama kegiatan ini adalah antang kayu dan alu. Pesertanya memakai baju bodo.
  • Tari Gambus Pesisir: Dimainkan oleh 4 sampai 7 penari laki-laki dengan mengenakan pakaian adat dan dimainkan pada saat terang bulan. Alat musik yang digunakan adalah gambus, rebana, dan kecapi. Tarian ini terdapat di daerah pesisir Maros Utara (Kecamatan Bontoa).
  • Tari Ganrang Bulo: Merupakan sebuah pertunjukan kesenian berupa tari dengan perpaduan musik dan tutur kata. Nama "Ganrang Bulo" berarti gendang dari bambu. Tari ini mengungkapkan kritikan dan dikemas dalam bentuk lelucon atau banyolan. Tari Ganrang bulo ini dimainkan oleh beberapa laki-laki. Tarian ini biasanya dimainkan dalam kegiatan-kegiatan rakyat Suku Makassar. Tak ada gerakan baku dalam tarian ini. Yang pasti para penari akan berputar-putar melakonkan beberapa gerakan jenaka demi mengundang tawa penonton, seperti melakonkan gerakan seperti kera, gerakan pincang, dan lain-lain.
  • Tari Kalabbirang: Tarian ini sesuai dengan namanya “Kalabbirang” yang berarti keanggunan/anggun/mulia. Tarian ini diiringi nyanyian dipersembahkan di kalangan raja/bangsawan tinggi kerajaan. Melambangkan keanggunan putra-putri raja yang ikut menari. Tari Kalabbirang dimainkan oleh 7 orang putri dan 6 orang putra. Alat musik pengiring antara lain gendang, suling, dan katto-katto. Di Lingkungan Kassi Kebo Kelurahan Baju Bodoa Kecamatan Maros Baru dapat di nikmati kesenian tari ini.
  • Tari Kalubampa: Tarian yang dimainkan 3 orang laki-laki dan 6 orang perempuan berhiaskan sayap kupu-kupu yang bertujuan untuk menggugah hati manusia agar menyayangi dan melestarikan kupu-kupu yang mulai terancam punah. Diiringi gendang, gong, pui-pui, dan kecapi. Tarian ini menceritakan tentang beberapa ekor kupu-kupu yang sedang terbang kesana-kemari dengan riangnya sambil mencari makanan dan pada saat itulah ada seorang laki-laki yang mencoba menangkapnya. Setelah usaha yang keras akhirnya laki-laki itu berhasil menangkap seekor kupu-kupu. Tapi karena kecerdikannya, kupu-kupu itu berhasil meloloskan diri lagi dan kembali ke alamnya. Tarian ini dimainkan oleh 3 (tiga) orang laki-laki dan 6 (enam) orang perempuan. Perempuan berpakaian baju bodo berwarna yang dilengkapi dengan sepasang sayap. Pria berpakaian adat passapu. Alat musik yang digunakan adalah gendang, gong, pui-pui, dan kecapi. Tarian ini dapat dijumpai di Kecamatan Bantimurung, tujuannya untuk menggugah hati manusia agar menyayangi dan bahkan melestarikan habitat kupu-kupu yang mulai terancam punah.
  • Tari Katto Bokko: Tarian yang dilakukan untuk menyambut panen perdana yang dimainkan secara kolosal diiringi gendang, gong, pui-pui, alu, lesung kayu, dan bacing-bacing. Si penari membawa padi yang diikat lalu diarak beramai-ramai.
  • Tari Kesong-Kesong: Tarian ini ditampilkan untuk memeriahkan acara-acara tertentu bertema kepahlawanan yang dimainkan oleh 2 orang. Pesan yang terkandung dalam tarian adalah tentang sikap kepahlawanan dan kejantanan dalam menghadapi musuh atau penjajah. Penampilan Pakesong-Kesong dengan penyanyi sinrilik duduk berdampingan, dimulai dengan pengantar dari sang penyanyi tentang lagu yang akan didendangkannya. Setelah itu maka dimulailah Pakesong-Kesong memainkan kesong-kesongnya lalu menyusul penyanyi melagukan sinrilik-nya yang biasanya berkisah tentang sikap kepahlawanan dan kejantanan. Kesenian ini dimainkan oleh 2 (dua) orang laki-laki berpakaian adat passapu, sedangkan alat musiknya adalah sebuah kesong-kesong dan penggeseknya. Kesenian tradisional ini dapat dijumpai di Bonto Kapetta Kelurahan Allepolea Kecamatan Lau untuk memeriahkan acara-acara tertentu yang dianggap sesuai dengan semangat lagu-lagu kepahlawanan.
  • Tari Kipas: Merupakan tarian yang mempertunjukan kemahiran para gadis dalam memainkan kipas dengan gemulai alunan lagu.
  • Tari Lomba Perahu Hias: Tarian ini dimainkan secara kolosal diiringi alat musik gendang, gong, pui-pui, dan paccing-paccing. Tarian ini merupakan rangkaian lomba perahu dan kapal motor hias. Atraksi ini biasanya diadakan dalam rangka peringatan hari-hari besar.
  • Tari Ma'kampiri: Tarian yang dimainkan oleh 3 orang laki-laki dan 7 orang wanita diiringi alat musik gendang, kecapi, pui-pui, dan gong sebagai ucapan syukur atas panen kemiri. Dimulai dengan tampilnya seorang gadis belia yang menari dengan membawa keranjang bambu. Tarian ini sebagai pernyataan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena berhasilnya panen kemiri. Gadis belia menari-nari dengan gerakan seperti memungut buah kemiri. Tarian ini dimainkan oleh 3 (tiga) orang laki-laki dan 7 (tujuh) orang perempuan. Alat musik yang digunakan adalah keranjang bambu, gendang, kecapi, pui-pui, dan gong. Taraian ini dapat dijumpai di Kecamatan Camba.
  • Tari Ma'raga/Paraga: Tarian berupa permainan bola raga dengan gerakan dan atraksi yang beragam, dimainkan oleh laki-laki 6 orang berpakaian adat passapu. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian adalah gendang, Gong, pui-pui, dan sebagainya. Tarian ini menggambarkan keterampilan dalam mempermainkan bola raga, dengan gerakan atau atraksi yang beragam termasuk pada saat seorang atau dua orang pemain yang menaiki pundak temannya sambil tetap memainkan raga, atau memasukkan raga ke dalam passapu-nya melalui tendangan kaki. Tarian ini dimainkan olehg 6 (enam) orang laki-laki dengan berpakaian adat passapu. Alat yang digunakan; gendang, gong, pui-pui dan sebagainya. Tersebar di Kabupaten Maros. Tujuan dari tarian ini untuk menyambut acara tertentu seperti pesta panen, menyambut tamu, dan lain-lain.
  • Tari Ma'royong: Ditampilkan dengan nyanyian yang berisi nasehat atau petuah, dimainkan oleh 5 orang dengan menggunakan alat musik anak baccing dan alat tradisional lainnya. Penarinya mengenakan baju bodo. Tarian ini dijumpai di daerah Masale, Desa Tompobulu Kecamatan Tompobulu.
  • Tari Mallangiri: Tarian kolosal yang dimaksudkan sebagai penanda masa panen yang diawali dengan ritual pencucian benda-benda pusaka berupa batu mulia. Konon, pencucian benda pusaka dipercaya untuk memicu hasil panen supaya melimpah. Ini merupakan suatu prosesi pencucian benda-benda pusaka dan prapanen sekaligus menjadi penanda panen. Benda pusaka berupa batu mulia, konon mempunyai empat buah anakan yang bila pada proses pencuciannya bertambah maka dipercaya panen akan melimpah demikian pula sebaliknya. Upacara ini juga diiringi oleh alat musik tradisional dan upacara ini dilaksanakan di Masale Kecamatan Tompobulu.
  • Tari Mamuri-Muri: Tarian yang menggambarkan rasa gembira dan syukur kepada Allah SWT atas tibanya tahun baru Islam setiap tanggal 1 Muharram tahun Hijriah. Tarian ini dimainkan oleh 7 (tujuh) orang perempuan. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian adalah gong, pui-pui, kecapi, dan gendang. Tarian ini dilakukan tersebar di Kabupaten Maros.
  • Tari Mappadendang/Padendang: Tarian yang dilakukan oleh 4 pria dan 6 wanita berpakaian adat passapu baju bodo yang mengelilingi lesung, kemudian mappadendang dengan memukulkan ujung alu pada pinggiran lesung secara bergiliran dengan irama tertentu, dalam suasana gembira dan penuh semangat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen. Tarian ini dilakukan dalam upacara Mappadendang dalam rangka menyatakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena keberhasilan panen. Tarian ini dilakukan dengan mengelilingi lesung sambil memegang alu/antan. Setelah beberapa gerakan tarian maka dimulailah acara “Mappadendang” yaitu dengan memukulkan ujung alu pada pinggiran lesung secara bergiliran dengan irama tertentu, bergembira, dan bersemangat. Tarian ini dimainkan oleh 4 pria dengan 6 wanita yang memakai pakaian adat, Passapu (untuk pria) dan Baju Bodo (untuk wanita). Adapun musik pengiringnya dimainkan dengan alu dan lesung berisi padi yang ditumbuk. Tempat tujuan obyek wisata seni ini di Lingkungan Kassi Kebo Kecamatan Maros Baru.
  • Tari Paddupa Bosara' : Merupakan sebuah tarian yang menggambarkan bahwa orang Bugis kedatangan atau dapat dikatakan sebagai tari selamat datang dari Suku Bugis. Orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara sebagai tanda syukur dan penghormatan. Tari Paduppa Bosara sering ditarikan pada setiap acara penting untuk menyambut raja dengan suguhan kue-kue sebanyak dua kasera. Tarian ini juga sering ditarikan saat menyambut tamu agung, pesta adat, dan pesta perkawinan. Budaya Bosara merupakan peninggalan budaya khas Sulawesi Selatan dari zaman kerajaan dulu, khususnya Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Kata bosara tidak terlepas dari kue-kue tradisional sebagai hal yang saling melengkapi. Bosara merupakan piring khas suku Bugis-Makasar di Sulawesi Selatan. Biasanya Bosara diletakkan ditengah meja dalam acara tertentu, terutama dalam acara tradisional yang sarat dengan nilai-nilai budaya. Bosara terbuat dari besi dengan tutupan seperti kobokan besar, yang dibalut kain berwarna terang, yang diberi ornamen kembang keemasan di sekelilingnya. Menyebut Bosara sebenarnya meliputi satu kesatuan yaitu piring, yang diatasnya diberi alas kain rajutan dari wol, lalu di atasnya diletakan piring sebagai tempat kue dan diberi penutup Bosara. Kue-kue yang biasanya disajikan dengan menggunakan bosara adalah kue cucur, barongko, kue lapis, biji nangka, dan sebagainya, yang umumnya terbuat dari tepung beras. Dan berbagai kue kering seperti banang-banang, umba-umba, roko-roko, dan berbagai macam kue putu. Kue tersebut biasanya disajikan dalam acara-acara adat.
  • Tari Pajoge
  • Tari Pamanca
  • Tari Peringatan Maulid Rasulullah SAW: Tarian untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW yang dimainkan oleh 3 orang laki-laki dan 6 orang perempuan dengan iringan rebana. Diawali dengan membaca barzanji, kemudian membagi ember yang berisi makanan dan telur maulid.
  • Tari Pepe-Pepe: Merupakan tarian yang sakral karena terdapat didalamnya unsur magis, dilakukan dengan memperlihatkan kesaktian atau kekebalan terhadap api. Penarinya berjumlah 5 laki-laki dan berpakaian passapu. Alat musik yang digunakan adalah gendang pammancak, gong, pui-pui, dan baccing-baccing. Setelah melakukan tarian dengan gerakan pencak silat diiringi gendang pammancak, gong, dan pui-pui yang bersemangat, maka para pemain mulai membakar tubuh mereka (tangan dan bagian lainnya) dengan obor, tetapi tidak terbakar (kebal api). Tarian ini dilakukan oleh 5 laki-laki dengan berpakaian Passapu. Obyek tujuan seni ini di Dusun Batubassi Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang. Tubuh disulut api namun tidak terbakar, bahkan baju yang dikenakan pun tidak terbakar. Tarian ini biasanya ditampilkan di acara-acara rakyat, seperti upacara hajatan, sunatan, dan perkawinan. Tari ini dilakonkan oleh laki-laki tua dan muda. Tidak ada tarian yang baku. berputar-putar sambil melakukan gerakan-gerakan jenaka untuk mengundang tawa penonton. Contohnya ada penari yang mencontohkan gerakan Seekor kera. berjalan terpincang-pincang, menggeleng anggukkan kepala bak lelaki renta, atau mendelik-delikkan mata sambil menjulur-julurkan lidah bagai orang kepedasan. Namun dalam beberapa tampilan tarian ini sangat teratur. Tari ini tidak mempunyai mantera khusus penangkal api. Namun mereka melakukan tarian seraya diiringi nyanyian Selama ini sering diintrepretasikan penonton sebagai ucapan mantera anti apinya Nabi Ibrahim AS yang disadur dalam bahasa Makassar. Padahal, menurut sejumlah pemain, kalimat-kalimat itu hanya pengulangan dari apa-apa yang sudah pernah diucapkan secara spontan ketika melakukan tarian ini oleh para penari terdahulu. Pada saat puncak tarian maka para pemain akan memegang obor dan akan mengarahkan api ke tubuh temannya atau dirinya sendiri. Bahkan tidak jarang para penari mengundang penonton lalu disulut menggunakan api. Namun anehnya para penari tidak sama sekali merasakan Kepanasan atau melepuh terbakar. semua tampak seperti biasa saja.
  • Tari Salonreng: Tarian ini dimainkan oleh 6 wanita yang memakai baju bodo dan 6 pria yang memakai passapu dilengkapi dengan keris, serta membawa bakul berisi padi, gula merah, pinang, daun sirih, dan beras sambil mengelilingi seekor kerbau yang dijadikan persembahan sambil menabur beras, lalu diakhiri dengan mangaru' serta berdo'a memohon keselamatan. Tarian ini dilaksanakan untuk melepas hajat seperti berhasilnya panen atau sembuh dari penyakit dan terhindar dari malapetaka. Tarian ini dilaksanakan dengan mengelilingi satu ekor kerbau yang akan dijadikan persembahan dengan berbagai gerakan sambil menabur beras kemudian bermain pencak silat dengan menggunakan tombak dan diakhiri dengan Mangaru yang kemudian dilanjutkan dengan acara pemotongan kerbau sebagai rasa syukur dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk keselamatan.Tari ini dimainkan oleh 6 wanita dengan mengenakan baju bodo dan 6 pria menggunakan passapu dan dilengkapi dengan tombak, keris serta bakul yang berisi padi, gula merah, pinang, daun sirih dan beras. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian ini adalah dua buah gendang dan sebuah suling dengan lagu-lagu yang membangkitkan semangat. Tarian ini dapat dijumpai di Dusun Tanete Desa Bonto Somba Kecamatan Tompobulu.
  • Tari Tubaranina Marusu: Tarian yang dimainkan oleh 15 orang laki-laki dan 15 orang perempuan berpakaian adat, diiringi alat musik gendang Bugis dalam bentuk gerakan-gerakan yang heroik dan penuh semangat yang menggambarkan sikap kepahlawanan dan gagah berani dalam menghadapi musuh. Pemain tampil dengan gerakan-gerakan heroik dan bersemangat dan diiringi dengan bunyi gendang dan gemuruh. Tarian ini dimainkan oleh 15 orang laki-laki dan 15 orang perempuan dengan pakaian adat. Alat musik yang digunakan; gendang Bugis. Tarian ini bertujuan untuk menggambarkan sikap kepahlawanan dan gagah berani dalam menghadapi musuh. Tarian ini tersebar di Kabupaten Maros.

Atraksi Kesenian[sunting | sunting sumber]

  • Bias Muharram: Acara ini adalah suatu cara yang dilaksanakan untuk menyambut tahun baru Islam dengan melibatkan berbagai acara kesenian yang bersifat islami, seperti; qasidah, membaca puisi Islami, dan lagu/ musik islami. Alat musik yang digunakan baik alat musik tradisional maupun modern. Acara ini dilaksanakan di Lingkungan Kassi Kelurahan Pettuadae Kecamatan Turikale.
  • Lomba Perahu Hias: Setelah semua perahu peserta bahkan kapal motor dihias dengan meriah berkumpul di depan dermaga, maka mulailah para penumpangnya melakukan atraksi kesenian seperti Mappadendang dan ganrang bulo bahkan pencak silat. Setelah pelepasan secara resmi oleh pejabat maka lomba pun dimulai. Tibanya di finish para penumpang yang berpakaian adat/tradisional turun satu persatu dan melakukan atraksi di depan pejabat. Kegiatan ini dilaksanakan di jembatan Sungai Maros, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia.
  • Maulid Rasulullah SAW: Untuk menyatakan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas diutusnya Nabi Muhammad SAW membawa ajaran Islam sebagai berkah kepada seluruh alam raya. Acara ini adalah pembacaan sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw. (membaca Barzanji) secara bergantian dan setelah itu dibagi-bagikanlah ember maulid yang berisi makanan dan telur. Alat musik pengiringnya adalah rebana. Acara maulid ini dilaksanakan di seluruh Kabupaten Maros dengan pusat kegiatan adalah Dusun Pattene Desa Temmapadduae yang dikenal dengan nama Khawaltiah Sammang.
  • Upacara Adat Appalili: Appalili adalah suatu rangkaian upacara adat sebelum memasuki musim tanam padi (bulan November). Para petani sebelum turun ke sawah mengambil perkakas kerajaan Karaengga yang disimpan di dalam sebuah loteng rumah adat yang disebut Balla Lompoa ke tempat khusus yang sudah tersedia. Peralatan tersebut diantaranya adalah Batang Pajjekko yang akan dipakai untuk membajak sawah. Batang Pajjekko yang kedatangannya memiliki sejarah tertentu juga merupakan lambang kebesaran bagi Kabupaten Maros. Setelah semua perkakas lengkap, Ganrang Kalompoang dibunyikan sebagai pertanda acara adat sudah dimulai dan dimulai pula proses penjahitan kelambu Kalompoangnga setelah itu hasil jahitan yang terdiri dari kelambu, sprei, pembungkus dan alas disiapkan yang dilaksanakan setelah shalat Ashar. Pada malam harinya diadakan perjamuan adat atau paempo adat yang dihadiri oleh Pemangku adat, Penasehat adat dan Gallarang Tujua (Kepala Dusun), tokoh tani dan pemerintah yang bertujuan untuk membicarakan masalah pertanian. Sekitar Pukul 05.00 barang-barang kerajaan tersebut diarak menuju sawah milik Kerajaan Marusu yang bergelar Torannu. Prosesi bajak sawah menggunakan Batang Pajjekko yang dibantu oleh Tedong (sapi atau kerbau) sebanyak dua ekor, kemudian mengelilingi sawah sebanyak 3 kali dan selesailah upacara adat ini. Rombongan inipun pulang kembali ke Balla Lompoa. Empat bulan kemudian diadakan persiapan acara adat Katto Bokko.
  • Upacara Adat Katto Bokko: Upacara adat Katto Bokko atau biasa disebut “Angngalle Ulu Ase” sebagai kelanjutan dari upacara Appalili. Acara ini adalah rangkaian acara adat sebagai rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa akan hasil panen yang telah diraih, khususnya pada tanah Arajang yang diberi gelar Torannu. Acara Katto Bokko dimulai pagi hari dengan mengetam padi dan hasilnya diikat sesuai kebiasaan. Dengan ikatan khusus menggunakan alat tersendiri yang terdiri dari 12 ikatan kecil dan 2 buah ikatan besar. Kemudian diarak keliling kampung menuju Balla Lompoa. Setelah itu, dilakukan penjemputan sesuai adat Kerajaan Marusu oleh Pemangku Adat, para Dewan Adat, Penasehat Adat, Pemerintah setempat, para petani serta para undangan. Dengan berakhirnya acara penyambutan ini berakhir pulalah acara adat Katto Bokko. Pada malam harinya diadakan acara Mappadendang. Tradisi ini juga memiliki tujuan melestarikan padi lokal Maros. Pagi hari, usai serangkaian tahapan rembuk bersama antara para pemangku adat dan masyarakat menentukan hari pelaksanaan panen perdana secara adat di Balla Lompoa. Masyarakat berkumpul menuju sawah tanah adat kerajaan (Torannu) membawa anai-anai (Katto) untuk mengikuti upacara adat tahunan “Katto Bokko” sebagai bentuk rasa syukur atas panen raya padi jenis "Ase Lapang". Padi Varietas lokal yang telah dibudidayakan secara turun temurun oleh pewaris Kerajaan (Karaeng) Marusu sejak sekitar abad ke-15. Sedikit demi sedikit masyarakat secara sukarela memadati petak sawah seluas sekitar satu hektar itu. Mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga orang tua, baik laki-laki dan perempuan dari berbagai kalangan sosial turun bersama mengumpulkan padi berbulu ini. Keberadaan sawah kerajaan ini menjadi acuan, sebelum ritual ini dilaksanakan, sawah-sawah yang berada di sekitar dan dalam kawasan adat Marusu tidak dibolehkan memanen, begitu pun saat masa tanam tiba.
  • Upacara Mappadendang: Mappadendang adalah pagelaran atraksi kesenian tradisional, seperti tarian tradisional, pencak silat dan lain-lain. Untuk memberikan hiburan bagi masyarakat, khususnya petani setelah lelah bekerja. Dahulu acara ini biasanya dijadikan momen gadis-gadis dan pemuda untuk mencari jodoh. Besarnya pengaruh kebudayaan di daerah ini melahirkan berbagai bentuk seni budaya tradisional yang sarat dengan nuansa agraris dan bahari.

Pakaian Khas Daerah[sunting | sunting sumber]

Pakaian adat pernikahan Bugis-Makassar di Kabupaten Maros dengan nuansa kekinian.
Baju Bodo yang dipakai oleh perempuan Bugis Maros di acara pernikahan.
Baju Bodo yang dipakai oleh perempuan Bugis Maros di acara aqiqahan.

Kabupaten Maros dihuni oleh penduduk dari latar belakang yang heterogen. Di antara penduduk-penduduk tersebut, Suku Makassar dan Suku Bugis adalah yang paling dominan. Masing-masing suku yang hidup dan tinggal di Kabupaten Maros mempunyai ciri khas adat dan kebudayaannya masing-masing, salah satunya adalah dalam gaya berpakaian. Dengan demikian, pakaian adat tradisional Kabupaten Maros bermacam-macam karena tergantung budaya suku tersebut. Baju bodo adalah kostum tradisional wanita Suku Bugis dan Makassar Sulawesi Selatan, Indonesia. Baju bodo persegi panjang, biasanya lengan pendek, yaitu setengah di atas siku. Baju bodo juga diakui sebagai salah satu busana tertua di dunia. Perkiraan itu didukung oleh sejarah kain Muslin yang menjadi bahan dasar baju bodo. Jenis kain yang dikenal dengan sebutan kain Muslin (Eropa), Maisolos (Yunani Kuno), Masalia (India Timur), atau Ruhm (Arab) pertama kali diperdagangkan di Kota Dhaka, Bangladesh. Hal ini merujuk pada catatan seorang pedagang Arab bernama Sulaiman pada abad ke-19. Sementara pada tahun 1298, dalam buku yang berjudul “The Travel of Marco Polo”, Marco Polo menggambarkan kalau kain Muslin dibuat di Mosul (Irak) dan diperdagangkan oleh pedagang yang disebut Musolini. Namun kain yang ditenun dari pilihan kapas yang dijalin dengan benang katun ini sudah lebih dahulu dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan, yakni pada pertengahan abad ke-9, jauh sebelum masyarakat Eropa yang baru mengenalnya pada abad ke-17, dan populer di Prancis pada abad ke-18. Kain Muslin memiliki rongga-rongga dan jarak benang-benangnya yang renggang membuatnya terlihat transparan dan cocok dipakai di daerah tropis dan daerah-daerah yang beriklim panas. Sesuai dengan namanya “bodo” yang berarti pendek, baju ini memang berlengan pendek. Dahulu Baju Bodo dipakai tanpa baju dalaman sehingga memperlihatkan payudara dan lekuk-lekuk dada pemakainya, dan dipadukan dengan sehelai sarung yang menutupi bagian pinggang ke bawah badan. Namun seiring dengan masuknya pengaruh Islam di daerah ini, baju yang tadinya memperlihatkan aurat pun mengalami perubahan. Busana transparan ini kemudian dipasangkan dengan baju dalaman berwarna sama, namun lebih terang. Sedangkan busana bagian bawahnya berupa sarung sutera berwarna senada. Menurut adat Bugis, setiap warna pakaian yang dikenakan oleh wanita Bugis menunjukkan usia atau martabat pemakainya. Busana ini sering digunakan untuk upacara-upacara seperti upacara pernikahan. Tapi sekarang, baju bodo mulai direvitalisasi melalui acara lain seperti kompetisi tari atau menyambut tamu. Secara lebih luas, baju bodo telah menjadi pakaian adat resmi yang digunakan sebagai ciri khas Provinsi Sulawesi Selatan terutama bagi para wanitanya. Baju Bodo dianggap sebagai pakaian adat Sulawesi Selatan paling pertama dikenal oleh masyarakatnya. Dalam kitab Patuntung, kitab suci ajaran Animisme dan Dinamisme nenek moyang Suku Makassar, baju ini bahkan disebutkan dengan jelas, mulai dari bentuk, jenis hingga cara pemakaiannya. Ilmu tekstil yang telah dikenal sejak zaman batu muda oleh nenek moyang Suku Makassar membuat baju bodo begitu nyaman dikenakan. Baju ini sengaja dibuat dari bahan kain muslin. Kain ini adalah kain hasil pintalan kapas yang dijalin bersama benang katun. Rongga dan kerapatan benang yang cukup renggang, menjadikan kain ini sejuk dikenakan sehingga cocok dipakai di iklim tropis Sulawesi Selatan.

Sebagian masyarakat Suku Makassar menyebut baju bodo dengan nama bodo gesung. Alasannya adalah karena pakaian ini memiliki gelembung di bagian punggungnya. Gelembung tersebut muncul akibat baju bodo dikenakan dengan ikatan yang lebih tinggi. Secara sederhana, baju bodo merupakan baju tanpa lengan. Jahitan hanya digunakan untuk menyatukan sisi kanan dan kiri kain, sementara pada bagian bahu dibiarkan polos tanpa jahitan. Bagian atas baju bodo digunting atau dilubangi sebagai tempat masuknya leher. Lubang leher ini pun dibuat tanpa jahitan. Sebagai bawahan, sarung dengan motif kotak-kotak akan dikenakan dengan cara digulung atau dipegangi menggunakan tangan kiri. Pemakainya juga akan mengenakan beragam pernik aksesoris seperti kepingan-kepingan logam, gelang, kalung, bando emas, dan cincin. Dalam kitab Patuntung, ada aturan yang menyebutkan penggunaan warna khusus bagi tingkatan usia wanita yang akan mengenakan baju bodo ini. Aturan warna tersebut antara lain: (a) Warna jingga dipakai oleh perempuan umur kurang dari 10 tahun, (b) Warna jingga dan merah darah dipakai oleh perempuan umur 10 hingga 14 tahun, (c) Warna merah darah dipakai oleh untuk 17 hingga 25 tahun, (d) Warna putih dipakai oleh para inang dan dukun, (e) Warna hijau dipakai oleh puteri bangsawan, dan (f) Warna ungu dipakai oleh para janda. Kendati aturan tersebut pada masa silam wajib dipatuhi, namun sekarang ini para wanita yang akan menggunakan pakaian adat baju bodo bebas hendak mengenakan dengan warna apapun, mengingat kepercayaan animisme dan dinamisme yang dianut oleh warga Kabupaten Maros semakin luntur setelah masuknya islam ke Indonesia.

Baju bodo hanya dikenakan oleh wanita Bugis-Makassar, sementara para prianya mengenakan pakaian adat yang bernama baju bella dada. Baju ini dikenakan bersama paroci (celana), lipa garusu' (kain sarung), dan passapu (tutup kepala seperti peci). Model baju bela dada adalah baju bentuk jas tutup berlengan panjang dengan kerah dan kancing sebagai perekat. Baju ini juga dilengkapi dengan saku di bagian kiri dan kanannya. Berbeda dengan baju bodo yang dibuat dari kain muslin, pakaian adat khusus untuk laki-laki ini justru dibuat dari bahan yang lebih tebal. Seperti dari kain lipa sabbe atau lipa garusu'. Sementara untuk warnanya biasanya tidak ada ketentuan alias bisa disesuaikan dengan selera para penggunanya. Passapu atau tutup kepala yang digunakan sebagai pelengkap baju bella dada umumnya dibuat dari anyaman daun lontar dengan hiasan miring atau benang emas yang disusun. Passapu dapat pula tidak diberi hiasan. Passapu polos atau biasa disebut passapu guru ini lazimnya digunakan oleh para dukun atau tetua kampung. Selain passapu, para laki-laki juga tak ketinggalan untuk mengenakan aksesoris pelengkap pakaian yang digunakan. Beberapa aksesoris di antaranya adalah gelang, keris, selempang atua rante sembang, sapu tangan, dan sigarak atau hiasan penutup kepala. Gelang yang digunakan adalah gelang dengan motif naga dan terbuat dari emas, sehingga gelang ini dinamai gelang ponto naga. Keris yang dipakai adalah keris dengan kepala dan sarung terbuat dari bahan emas. Keris ini disebut pasattimpo atau tatarapeng. Sapu tangan yang dikenakan adalah sapu tangan dengan hiasan khusus. Sapu tangan ini dinamai passapu ambara. Nah, demikianlah penjelasan tentang pakaian adat Sulawesi Selatan, baik untuk kaum pria maupun wanitanya. Pakaian ini dahulu digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Akan tetapi, saat ini biasanya hanya digunakan saat-saat tertentu saja, seperti saat upacara adat atau acara-acara resmi kepemerintahan.

Pakaian Khas Maros[sunting | sunting sumber]

  • Batik Kupu-Kupu Maros[14]
  • Baju bodo payet

Pakaian Adat Suku Bugis Maros[sunting | sunting sumber]

Pria:

  • Jase Tutu' (Jas Tutup)/Waju Bella Dada berupa jas berlengan panjang dengan leher tanpa kerah dan dihiasi dengan kancing yang dibuat dari emas atau perak, yang mana dipasangkan pada leher baju tersebut. Jas ini berwarna polos yang dilengkapi dengan untaian rantai emas pada kancing yang bersambung pada saku jas.
  • Lipa' Sabbe atau sarung tenun dari sutera terlihat polos namun berwarna mencolok seperti warna merah dan hijau.
  • Paroci atau celana
  • Songkok Pamiring/Songkok Recca'/Peci Bugis atau songkok yang terbuat dari serat pelepah lontar dan dipadukan dengan benang sutera berwarna emas.
  • Pabekkeng/Pabbekkeng atau ikat pinggang sarung dari kain yang juga berlapis ornamen warna emas atau perak.
  • Tope
  • Songkok Pute
  • Pakambang
  • Waju kasa
  • Sarung Kawali (sebagai aksesoris)
  • Sepatu Kulit Hitam
  • Kawali (sebagai aksesoris)
  • Gelang (sebagai aksesoris)
  • Selempang Atua Rante Sembang (sebagai aksesoris)
  • Sapu Tangan (sebagai aksesoris)

Wanita:

  • Baju Bodo
  • Tope
  • Jempang
  • Waju ponco/waju pella-pella
  • Lipa' Sabbe atau sarung tenun dari sutera terlihat polos namun berwarna mencolok seperti warna merah dan hijau.
  • Kepingan-Kepingan Logam (sebagai aksesoris)
  • Potto/Gelang (sebagai aksesoris)
  • Bando Emas (sebagai aksesoris)
  • Cincin (sebagai aksesoris)

Pakaian Adat Suku Makassar Maros[sunting | sunting sumber]

Pria:

  • Salawik
  • Passapu atau jenis tutup kepala seperti tutup kepala dari Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin.
  • Songkok Guru atau songkok bangsawan Suku Makassar.
  • Lipa' Garusuk atau sarung tenun bermotif dari sutera terlihat polos namun berwarna mencolok seperti warna merah dan hijau.
  • Songkok Gaduk
  • Songkok Biring
  • Sarung Badik berwarna emas (sebagai aksesoris)
  • Baju Bella Dada/Jas Tutup
  • Paroci/Celana
  • Pasattimpo/Tatarapeng atau badik berwarna emas (sebagai aksesoris)
  • Ponto Naga atau gelang dengan motif naga dan terbuat dari emas (sebagai aksesoris)
  • Selempang Atua Rante Sembang (sebagai aksesoris)
  • Passapu Ambara atau Sapu Tangan (sebagai aksesoris)
  • Sigarak atau Hiasan Penutup Kepala (sebagai aksesoris)
  • Sepatu Kulit Hitam

Wanita:

  • Baju Labbu
  • Baju Bodo/Bodo Gesung
  • Jempang
  • Salawik
  • Baju Rawang
  • Lipa' Garusuk atau sarung tenun bermotif dari sutera terlihat polos namun berwarna mencolok seperti warna merah dan hijau.
  • Baju Assusun
  • Baju Kasa
  • Kepingan-Kepingan Logam (sebagai aksesoris)
  • Gelang (sebagai aksesoris)
  • Bando Emas (sebagai aksesoris)
  • Cincin (sebagai aksesoris)

Senjata Tradisional[sunting | sunting sumber]

Model Badik Bugis Khas Maros
Model Badik Makassar Khas Maros

Dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Maros di masa silam, senjata tradisional memiliki peranan penting dalam fungsi praktisnya sebagai sarana perlindungan diri, alat perang, maupun sebagai alat untuk mempertahankan hidup. Akan tetapi, senjata-senjata tersebut kini telah beralih kegunaan dan lebih menonjolkan fungsi estetisnya sebagai pelengkap pakaian adat. Masyarakat Kabupaten Maros mengangkat badik sebagai senjata tradisionalnya. Badik adalah pisau bermata tunggal yang bentuknya asimetris seperti keris dengan bilah berhias pamor. Dahulu, badik digunakan para petani untuk berburu atau membunuh hewan hutan yang merusak tanamannya. Pada perkembangannya, ia juga digunakan sebagai sarana perlindungan diri bagi mereka yang sering merantau. Seperti diketahui, orang Bugis-Makassar adalah orang yang dikenal sangat gemar merantau. Dengan menyematkan badik di pinggangnya, mereka akan merasa terlindungi meski masuk ke wilayah kampung yang asing. Badik bagi masyarakat Kabupaten Maros, selain dianggap sebagai benda pusaka juga pelindung. Badik digunakan untuk membela harga diri baik sifatnya individu maupun keluarga. Badik telah menjadi salah satu simbol pada logo Kabupaten Maros. Harga diri bagi masyarakat Maros secara umum disebut dengan istilah Siri' Na Pacce (Makassar) atau Siri' Na Pesse (Bugis).

Kabupaten Maros memiliki beberapa senjata tradisional sebagai berikut:

Kuliner Tradisional Khas[sunting | sunting sumber]

Makanan[sunting | sunting sumber]

Makanan khas di Kabupaten Maros adalah sebagai berikut:

Roti Maros, kuliner khas dari Kabupaten Maros yang banyak digemari pelbagai wisatawan yang datang ke Maros.
Burasa', makanan wajib bagi masyarakat Maros pada hari lebaran.
Sop saudara khas Maros dengan pilihan daging dan jeroan serta racikan bumbu khas.
Kue Baroncong khas Maros dengan cita rasa kelapa muda.
  • Apang (kue basah)
  • Baje Canggoreng (kue kering)
  • Baje Khas Maros (kue kering)
  • Baje Baddong (kue kering)
  • Bannang-Bannang: Merupakan kue yang terbuat dari tepung beras dicampur dengan gula merah dan air, kemudian dicetak menggunakan mangkuk dan digoreng. Kue ini hanya dibuat pada saat ada pesta perkawinan untuk menjamu para tamu.
  • Bandang-Bandang (kue basah)
  • Baroncong/Buroncong Khas Maros
  • Barongko: Penganan ini terbuat dari buah pisang, telur ayam, dan gula pasir, dibuat dengan cara dikukus setelah dibungkus daun pisang. Kue ini dihidangkan pada saat pesta perkawinan, hari raya, dan acara yang diadakan bersama masyarakat.
  • Bella Bue: Sejenis bubur kedelai dengan campuran bulatan-bulatan kecil dari tepung terigu
  • Baruasa' Khas Maros (kue kering)
  • Beppa Oto
  • Bessang/Bassang Khas Maros (bubur jagung)
  • Bipang Maros (kue kering)
  • Bolu
  • Bolu Peca'
  • Burasa'/Buras khas Maros[16]
  • Canti' Manis
  • Coto Maros (sop dari jeroan/daging sapi)
  • Cucuru' Madingkking: Penganan ini terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan gula merah kemudian digoreng. Kue ini biasanya dihidangkan untuk acara perjamuan pengantin.
  • Cucuru' Te'ne
  • Cucuru' Tello/Cucuru' Bayao (Cucur Telur)
  • Dadara' Cembulo (Dadar Guling Hijau)
  • Dange Khas Maros
  • Donat Gula
  • Dodol Maros
  • Doko-Doko Cangkuli
  • Doko-Doko Utti/Roko-Roko Unti
  • Gogoso' Khas Maros
  • Jalangkote khas Maros[17]: Sejenis kue yang terbuat dari tepung terigu yang dicampur dengan telur, ditengahnya diisi potongan kentang, irisan telur, dan mi. Penjual kue jalangkote banyak kita jumpai di sepanjang Jalan Poros Makassar-Maros dengan harga yang murah.
  • Jamur Crispy
  • Kacang Sembunyi Khas Maros
  • Kaddo Minnya'
  • Kulapisi': Sejenis kue lapis dengan warna putih, kue ini merupakan kue wajib bagi masyarakat Bugis-Makassar pada acara-acara adat
  • Kapurung Khas Maros
  • Konro Bakar Khas Maros
  • Labu Palu
  • Mie Titi Khas Maros[18]
  • Nasi Kuning Sanggalea
  • Nyo'nyang/Nyuknyang
  • Onde-Onde Jawa Wijen/Onde-Onde Kacang Hijau
  • Onde-Onde Panyyu: Merupakan kue yang terbuat dari tepung beras ketan, gula merah, dan kelapa parut. Adonan tepung beras ketan dibentuk bulat-bulat dan diisi dengan irisan gula merah, lalu dimasukkan ke dalam air mendidih hingga matang, kemudian ditiriskan dan ditaburi kelapa parut.
  • Panada Khas Maros
  • Pallu Butung Khas Maros
  • Pallu Kacci Khas Maros
  • Pallu Mara Khas Maros
  • Pallubasa khas Maros[19]
  • Pawa'
  • Pisang Epe Khas Maros[20]
  • Pisang Peppe/Sanggara' Peppe Khas Maros
  • Putu Bugis (kue putu dengan beras ketan hitam tanpa gula)
  • Putu Cangkiri' (kue putu dengan bentuk menyerupai cangkir)
  • Putu Kacang Khas Maros
  • Putu Maros (kue putu dengan lumuran parutan kelapa bentuk menyerupai tabung)
  • Roti Maros[21]: Roti ini terbuat dari tepung terigu yang diberi ragi agar mengembang kemudian diberi isi selai lalu dipanggang.
  • Sanggara' Balanda
  • Surabeng: Kue ini terbuat dari tepung beras dicampur dengan kelapa parut dan garam kemudian digoreng. Kue ini biasanya dihidangkan pada saat selesai panen padi, dimakan dengan air gula merah.
  • Sokko' Manu
  • Songkolo Bagadang Khas Maros
  • Sup Konro Khas Maros (sop dari tulang iga sapi)[22]
  • Sop saudara Khas Maros
  • Sup Ubi Khas Maros
  • Tahu Isi Maros
  • Tara'jo (bahan baku ubi kayu)
  • Taripang Khas Maros (kue kering)
  • Tenteng Maros (kue kering)
  • Tumbu' Camba Khas Maros
  • Tumpi-Tumpi (isi ikan bandeng yang digoreng)

Minuman[sunting | sunting sumber]

  • Ballo Maros
  • Kopi Santan Khas Rammang-Rammang Maros[23]
  • Sarabba (Mak)/Sarebba (Bug) Khas Maros
  • Sirup Buah Nipa[23]
  • Teh Bunga Telang[23]
  • Teh Serai[23]

Oleh-Oleh Khas[sunting | sunting sumber]

  • Tepung Ketan Hitam Khas Maros
  • Kelapa Sangrai Khas Maros
  • Tepung Beras Merah Khas Maros
  • Kayu Kaeng Ta' Khas Maros
  • Kacang Tanah Khas Maros
  • Kacang Telur Khas Maros
  • Kacang Krispi Khas Maros
  • kripik Pisang Khas Maros
  • Beras Hitam Khas Maros
  • Beras Merah Khas Maros
  • Madu Hutan Maros
  • Songkok Recca
  • Alat Musik Kecapi Bugis-Makassar
  • Souvenir Kupu-Kupu

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Sarana Olahraga[sunting | sunting sumber]

  • Lapangan Bulutangkis Turikale Kecamatan Turikale
  • Lapangan Bulutangkis Alliritengae Kecamatan Turikale
  • Lapangan Tenis Turikale Kecamatan Turikale
  • Lapangan Bulutangkis SMP Negeri 6 Moncongloe
  • Lapangan Bulutangkis BTN Haji Banca
  • Lapangan Bulutangkis Temmapadduae Kecamatan Marusu
  • Lapangan Bola Volley SMP Negeri 6 Moncongloe
  • Lapangan Futsal SMP Negeri 6 Moncongloe
  • Lapangan Sepak Takraw SMP Negeri 6 Moncongloe
  • Lapangan Bola Basket SMP Negeri 6 Moncongloe
  • Lapangan Bola Basket SMK Negeri 1 Maros
  • Lapangan Tenis Meja SMP Negeri 6 Moncongloe
  • Lapangan Bulutangkis SMA Negeri 4 Bantimurung-Maros
  • Lapangan Tenis Meja SMA Negeri 4 Bantimurung-Maros
  • Lapangan Bola Volley SMA Negeri 4 Bantimurung-Maros
  • Lapangan Bola Volley Allepolea Kecamatan Lau
  • Lapangan Sepakbola Kaluku Mangeloreng Kecamatan Bantimurung
  • Lapangan Sepakbola Bontoa Kecamatan Mandai
  • Lapangan Bulutangkis Baju Bodoa Kecamatan Maros Baru
  • Lapangan Bola Volley Baju Bodoa Kecamatan Maros Baru
  • Stadion Merdeka Kassi Kebo Baju Bodoa Kecamatan Maros Baru
  • Lapangan Pallantikang Pettuadae Kecamatan Turikale
  • Lapangan Tanralili Borong Kecamatan Tanralili
  • Lapangan Bola Basket Tupabbiring Kecamatan Bontoa
  • Lapangan Manang Panjallingan Bontoa Kecamatan Bontoa
  • Gym Hutan Kota Turikale
  • Lapangan Nurdin Johan Kecamatan Cenrana
  • Lapangan Sepakbola Pakalu Kalabbirang Kecamatan Bantimurung
  • Lapangan Sepakbola Gollae Alatengae Kecamatan Bantimurung
  • Lapangan Sepakbola H. M. Aksa Mahmud Tukamasea Kecamatan Bantimurung
  • Lapangan Sepakbola Maccini Sombala Nisombalia Kecamatan Marusu
  • Lapangan Sepakbola Pucak Kecamatan Tompobulu
  • Lapangan Home Base Simbang
  • Lapangan Sepakbola AURI Maros
  • Lapangan Sepakbola Pampangan A'bulosibatang Kecamatan Marusu
  • Lapangan Sepakbola Balitsereal Maros
  • Lapangan Sepakbola Minasa Te'ne Maros
  • Lapangan Panrita Bola Pettuadae
  • Lapangan Sepakbola Moncongloe Bulu
  • Sirkuit Turikale Salewangang
  • Lapangan Futsal Grand Mall Mandai Maros
  • Lapangan Futsal Bontoa Kecamatan Bontoa
  • Lapangan Futsal Planet Pratiwi Maros
  • Lapangan Futsal A3 Maros
  • Lapangan Sepak Takraw Dusun Mangarabombang Ampekale Kecamatan Bontoa
  • Lapangan Sepak Takraw Kelurahan Turikale
  • Lapangan Sepak Takraw Kompleks Dinas Perhubungan Kabupaten Maros (Eks Terminal Marusu)
  • Lapangan Bowong Desa Damai Kecamatan Tanralili
  • Lapangan Bola Basket Allepolea Kecamatan Lau
  • Lapangan Tenis Allepolea Kecamatan Lau
  • Lapangan Tenis Baju Bodoa Kecamatan Maros Baru

Klub Olahraga[sunting | sunting sumber]

Pemain Persim Maros (kostum biru) berebut bola dengan pemain Mitra Kukar (kostum kuning) pada pertandingan kompetisi kasta tertinggi ke-2 Divisi Satu Liga Indonesia tahun 2006.
  • AFK Maros (futsal)
  • Arman (Anak Remaja Majannang) Junior FC Majannang (sepakbola)
  • Askab PSSI Maros U-17 (sepakbola)
  • Baruga FC (sepakbola)
  • Beelaka FC (sepakbola)
  • Bianconeri FC (sepakbola)
  • Japfa FC Maros (sepakbola)
  • Irmabas FC Majannang-Tapieng Maros (sepakbola)
  • Kalabbirang FC (sepakbola)
  • Kamtesa Majannang (sepakbola)
  • Krakatau FC Desa Jenetaesa (sepakbola)
  • Leang-Leang FC (sepakbola)
  • Lion Air FC (sepakbola)
  • Majannang FC (sepakbola)
  • Mangeloreng FC (sepakbola)
  • Marumpa FC (sepakbola)
  • Mattoangin FC (sepakbola)
  • Minasa Baji FC (sepakbola)
  • Mitra Utama FC Desa Minasa Baji (sepakbola)
  • Persekab Bantimurung (sepakbola)
  • Persim Maros (sepakbola)
  • Persim Maros Poros Jakarta (sepakbola)
  • Putra Maros (sepakbola)
  • PS Bangau Putih (sepakbola)
  • PS Bonto Manai (sepakbola)
  • PS Bonto Matene (sepakbola)
  • PS Corona (sepakbola)
  • PS Irfan Putra (sepakbola)
  • PS Jaya Putra (sepakbola)
  • PS Kecamatan Bantimurung (sepakbola)
  • PS Kecamatan Bontoa (sepakbola)
  • PS Kecamatan Camba (sepakbola)
  • PS Kecamatan Cenrana (sepakbola)
  • PS Kecamatan Lau (sepakbola)
  • PS Kecamatan Mallawa (sepakbola)
  • PS Kecamatan Mandai (sepakbola)
  • PS Kecamatan Maros Baru (sepakbola)
  • PS Kecamatan Marusu (sepakbola)
  • PS Kecamatan Moncongloe (sepakbola)
  • PS Kecamatan Simbang (sepakbola)
  • PS Kecamatan Tanralili (sepakbola)
  • PS Kecamatan Tompobulu (sepakbola)
  • PS Kecamatan Turikale (sepakbola)
  • PS Pampangan (sepakbola)
  • PS Pantai Kuri (sepakbola)
  • PS Puma (sepakbola)
  • PS Putra Mambue (sepakbola)
  • PS Putra Patte'ne Desa Temmapadduae (sepakbola)
  • PS Putra Ujung Bulo (sepakbola)
  • PS Tellumpoccoe (sepakbola)
  • Samangki FC (sepakbola)
  • Sambar FC Desa Simbang (sepakbola)
  • Sambueja FC (sepakbola)
  • Sinar Jaya Tanete (sepakbola)
  • SSB Maros (sepakbola)
  • Tambayangan FC (sepakbola)
  • Tukamasea FC (sepakbola)
  • Tunas Harapan FC Desa Alatengae (sepakbola)

Media dan Komunikasi[sunting | sunting sumber]

Televisi[sunting | sunting sumber]

Televisi terestrial[sunting | sunting sumber]

Di Kabupaten Maros terdapat beberapa saluran televisi (siaran nasional & siaran lokal), seperti:

Televisi berlangganan[sunting | sunting sumber]

Di Kabupaten Maros terdapat beberapa televisi berlangganan, seperti:

Radio[sunting | sunting sumber]

Jaringan radio yang ada di Kabupaten Maros sebagai berikut:

  • Radio Butta Salewangang Maros (107,3 FM)
  • Radio Celebes FM Makassar (88,5 FM)
  • Radio Delta FM Makassar (99.2 FM)
  • Radio Fajar FM Makassar (89,3 FM)
  • Radio Gamasi FM Makassar (105,9 FM)
  • Radio I-Radio FM Makassar (96.0 FM)
  • Radio Madama Makassar (87,7 FM)
  • Radio Maros (102,3 FM)
  • Radio Mercurius Top FM Makassar (104,3 FM)
  • Radio Prambors FM Makassar (105,1 FM)
  • Radio RRI Pro 3 Makassar (106,3 FM
  • Radio Savana FM Makassar (106,5 FM)
  • Radio Smart FM Makassar (101,1 FM)
  • Radio Telstar FM Makassar (102,7 FM)
  • Radio Venus FM Makassar (97,6 FM)

Media cetak[sunting | sunting sumber]

Surat kabar[sunting | sunting sumber]

Di Kabupaten Maros juga terdapat beberapa surat kabar atau koran yang terbit di kabupaten ini, antara lain:

Media Daring[sunting | sunting sumber]

  • Reaksi Press: Beralamat Kantor di Jl. Crysant No. 109, Kelurahan Pattuadae, Kecamatan Turikale
  • Berita Maros
  • Peduli Maros
  • Komit Maros

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Salah satu kebudayaan yang juga menjadi daya tarik terbesar suatu daerah adalah tempat wisata. Untuk wilayah Kabupaten Maros sendiri secara umum bisa dibilang memiliki obyek wisata yang begitu lengkap yang tersebar hampir di seluruh kecamatan baik wisata alam maupun wisata buatan. Wilayah Kabupaten Maros merupakan wilayah yang memiliki banyak potensi obyek dan daya tarik wisata yang terdiri dari atraksi alam dan atraksi budaya. Dengan secara rincian berupa wisata alam, religi, edukasi, kuliner, budaya, dan sejarah. Untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di Kabupaten Maros maka pembangunan fasilitas penunjang menjadi prioritas utamanya agar sektor pariwisata di Kabupaten Maros mampu menjadi penyumbang pendapatan/devisa bagi daerah Kabupaten Maros selain sektor pertambangan, pertanian, dan perikanan serta sektor jasa lainnya. Adapun fasilitas penunjang yang dimaksud diantaranya hotel (hotel berbintang dan hotel non berbintang beserta akomodasinya) dan rumah makan atau restoran.

Wisata Religi[sunting | sunting sumber]

Secara administratif, Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa terletak di Lingkungan Reda Beru, Kelurahan Turikale, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros. Masjid ini merupakan masjid tertua di Kabupaten Maros. Masjid ini juga memiliki beduk dan mimbar dari Kerajaan Turikale. Masjid yang dibangun tahun 1854 masih tetap bertahan dan kokoh berdiri hingga saat ini. Nama “Lompoe Urwatul Wutsqa” artinya tali yang tidak akan putus. Masjid tua ini dibangun oleh Raja ke-4 Turikale Karaeng Andi Sanrima Daeng Parukka. Masjid dengan dominasi warna kehijauan ini juga dikelilingi 19 pintu. Sebelas pintu di antaranya memiliki ukiran kaligrafi dan 20 doa untuk masuk ke dalam pintu Kabah yang berada di Tanah Suci. Di masjid ini tersimpan beberapa peninggalan sejarah seperti beduk dan mimbar yang setinggi hampir dua meter, terbuat dari kayu. Di bagian ujung mimbar sebuah pahatan menyerupai buah nanas mahkota yang sarat dengan makna dan filosofi kehidupan dan keagamaan. Selain memiliki beberapa peninggalan sejarah, di samping masjid ini juga terdapat makam Raja Turikale beserta keturunannya. Hal ini membuktikan bahwa masjid inilah saksi bisu perkembangan islam di Kabupaten Maros.
  • Masjid Nurul Falah di Kelurahan Baju Bodoa
  • Makam Raja-Raja Marusu di Kelurahan Baju Bodoa

Wisata Edukasi/Ilmiah/Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • Di Bantimurung (kajian flora dan fauna), gua-gua prasejarah di perbukitan karst.
  • Museum Kupu-Kupu Bantimurung
  • Kampoeng Bambu Toddopulia
  • Puncak Makkaroewa Labuaja Cenrana
  • Museum Daerah Kabupaten Maros
Museum Daerah Kabupaten Maros beralamat di Jalan Ahmad Yani Nomor 1 Kabupaten Maros. Lokasi Museum berhadapan langsung dengan Mapolres Maros. Selain bangunannya yang sudah tua yang berasal dari peninggalan Jaman Belanda, Museum Daerah Kabupaten Maros juga merupakan salah satu bentuk peninggalan Arkeologi yang berwujud Unmovable Object atau artefak yang tidak dapat dipindahkan.
Museum Daerah Kabupaten Maros memiliki beberapa koleksi sebagai berikut:
Koleksi arkeologi manusia prasejarah
  1. Artefak batu dari Kelurahan Sabila Kecamatan Mallawa
  2. Fragmen gerabah dari Kelurahan Sabila Kecamatan Mallawa
  3. Artefak cangkang mollusca yang menjadi sampah dapur manusia lampau masa mesolitik di Leang Barakka Desa Salenrang Kecamatan Bontoa
Koleksi teknologi peralatan rumah tangga peninggalan Kerajaan Turikale
  1. Cerek kuningan
  2. Setrika bara
Koleksi peralatan dapur tradisional dari bahan tanah liat (gerabah) yang digunakan masyarakat tradisional Kabupaten Maros
  1. Baranneng (gentong)
  2. Dapo' (tungku)
  3. Pappalluang (periuk)
  4. Pammaja' (wajan)
  5. Paddupang (pembakaran dupa)
  6. Cere' (kendi)
  7. Panne (piring)
  8. Katoang (nampan)
Koleksi alat pertanian tradisional
  1. Assung aju (lesung kayu), alat penumbuk padi yang terbuat dari batang kayu.
  2. Assung batu (lesung batu) jenis Assung yang terbuat dari batu digunakan sebagai alat penumbuk biji-bijian dan membuat tepung.
  3. Pajjeko/rakkala, alat membajak sawah
  4. Salaga/jakka, untuk menghaluskan dan meratakan tanah
  5. Pa'gilingang, terbuat dari batu andesit
  6. Pareppa ampiri, alat pemecah kemiri
  7. Katto'-katto', alat sejenis ani-ani
  8. Baku' (bakul)
  9. Bingkung (cangkul)
  10. Rakkapeng (ani-ani)
Koleksi anyaman tradisional
  1. Baku' (bakul)
  2. Sinjakape (wadah rempah)
  3. Pattapi (tampi)
  4. Saraung (topi tani)
  5. Tappere (tikar)
Koleksi pusaka benda tajam
  1. Badik Bugis
  2. Badik Makassar
  3. Parang Maros
Koleksi alat transportasi tradisional
  1. Sepeda Pagandeng, yaitu pedagang/petani yang membawa hasil bumi dengan dilengkapi dua keranjang
  2. Bendi atau Dokar sebagai angkutan tradisional beroda dua dan ditarik dengan kuda
Koleksi foto
Koleksi foto di Museum Daerah Kabupaten Maros berasal dari koleksi foto di Museum Tropenmuseum Amsterdam dan Perpustakaan KITLV Leiden, Belanda.
  1. Foto Maros Rivier Te Maros memperlihatkan kondisi sungai Maros sebelum adanya jembatan pada tahun 1900 dengan lokasi gambar diperkirakan diambil dari lokasi samping Polres Maros.
  2. Foto De Brug Bij Maros yang menggambarkan kondisi sebuah jembatan tahun 1920 yang menjadi cikal bakal Jembatan Tua di Samping Polres Maros.
  3. Foto Benteng Valkenburg Maros tahun 1930 lokasi diperkirakan sekitar SMAN 1 Maros.
  4. Foto Waterval Van Bantimoeroeng Maros yang menggambarkan lokasi permandian Alam Bantimurung di Tahun 1900.
  5. Foto Gedung Lanraad di Maros tahun 1930 yang merupakan gedung pengadilan negeri Hindia Belanda untuk kalangan pribumi yang berlokasi di depan Masjid Agung Maros.
  6. Foto De Regent Van Maros Tahun 1870 yang menggambarkan Mappelawa Daeng Mattayang, Karaeng Marusu Ke-13 didampingi dua orang joa (pengawal) dan pelayan.
  7. Foto Padjoge Danseressen Te Maros (1870) yang memperlihatkan 3 orang penari berpakaian tradisional yang membawa kipas.

[25]

Wisata Kuliner[sunting | sunting sumber]

Wisata Budaya[sunting | sunting sumber]

  • Grand Mall Maros Nuansa Romawi Eropa[26]
  • Rumah Adat Karaeng Turikale "Balla Lompoa"/"Bola Loppo'e"
  • Balla Lompoa Kerajaan Simbang di Pakere
  • Patung Sultan Hasanuddin di Bandara Sultan Hasanuddin Maros
  • Patung Kuda di Kassi Turikale
  • Patung Paraga di Solojirang Turikale
  • Monumen Kupu-Kupu di Turikale
  • Kesenian Tradisional Tari Rebbana
  • Istana Balla Lompoa Karaeng Marusu di Lingkungan Kassi Kebo, Kelurahan Baju Bodoa
a. Ruangan-Ruangan di Balla Lompoa Kekaraengan Marusu
Ruang-ruang di rumah adat Balla Lompoa Kekaraengan Marusu terdiri dari ruang bagian depan yang disebut Paladang (teras) pada jaman kerajaan berfungsi sebagai tempat bagi golongan biasa (ata) dan juga para prajurit kerajaan ketika hendak memberikan informasi kepada raja, mereka tidak diperkenankan masuk ke dalam ruang tamu. Selain itu, di ruangan utama yang terdiri dari bagian atas yang membujur naik disebut ruang daeng dan salewangang, yaitu ruangan yang berfungsi sebagai tempat penerimaan tamu dari kalangan raja/bangsawan dan khusus untuk acara-acara dan tradisi-tradisi kerajaan. Serta digunakan juga untuk melakukan musyawarah anatar golongan raja dan pemuka adat. Dan ruangan utama bagian bawah yang terletak di depan pintu masuk istana disebut Solewatang yakni ruang yang berfungsi sebagai tempat penerimaan tamu dari golongan bangsawan. Bagian dalam Balla Lompoa Kekaraengan Marusu terdiri dari empat kamar tidur, masing-masing; satu kamar di bagian depan yang terletak di dekat singgasana raja adalah ruang tidur bagi raja/karaeng. Satu kamar lagi berada di bagian depan dari kamar raja berfungsi sebagai kamar tamu, atau kamar tidur bagi tamu-tamu kerajaan. Serta dua kamar tidur untuk putra dan putri raja/karaeng yang terletak dibelakang kamar tamu (kamar putra raja/karaeng) dan satu lagi berada di belakang kamar raja/karaeng atau di dekat tangga menuju loteng (pammakkang) tempat penyimpanan benda-benda pusaka kerajaan Marusu yaitu kamar putri raja/karaeng. Sisi kanan istana terdapat bangunan tambahan berupa baruga yang dimanfaatkan sebagai Sekretariat Lembaga Seni Budaya “Barasa” Kabupaten Maros. Bangunan ini terhubung dengan bangunan Balla Lompoa Marusu oleh sebuah “lorong” yang mengarah ke teras Balla Lompoa Marusu. Bangunan lain yang berada di dalam lahan inti Balla Lompoa adalah sebuah rumah yang terletak di sisi timur namun terpisah secara fisik dengan istana. Rumah tersebut dibangun oleh salah seorang keluarga inti istana. Di antara kedua bangunan tersebut, terdapat sebuah sumur yang merupakan bagian atau sumber air untuk istana Balla Lompoa. Sisi barat juga terdapat sebuah bangunan yang berfungsi sebagai lumbung padi istana. Lumbung padi tersebut telah mengalami perubahan bentuk maupun bahan yang digunakan.
b. Koleksi Benda-Benda Warisan Kerajaan di Rumah Adat Balla Lompoa Kekaraengan Kassi Kebo
Rumah adat Balla Lompoa Kekaraengan Kassi Kebo mengoleksi sekitar 300 jenis barang peninggalan kerajaan dan kesultanan Marusu. Salah satunya adalah Batang Pajjeko, yaitu alat untuk membajak sawah yang hanya dikeluarkan dari tempat penyimpanan ketika acara Mappalili karena benda ini dikeramatkan sampai sekarang. Di istana ini juga terdapat keris, tombak, payung kesultanan, peti kayu dan peti besi, pakaian adat serta peninggalan-peninggalan lainnya. Benda-benda kerajaan tersebut mendapat perhatian khusus dari pihak kerajaan dengan tradisi pencucian benda-benda pusaka yang diadakan sekali setahun, yaitu pada acara Mappalili (acara tanam raya). Suatu tradisi yang diyakini oleh kerajaan beserta masyarakat Kassi Kebo sebagai bentuk ketaatan dan kepercayaan mereka terhadap tradisi nenek moyang. Tradisi pencucian benda-benda pusaka dilakukan sehari sebelum puncak acara Mappalili, yaitu di waktu siang hari yang dilakukan oleh pegawai-pegawai khusus kerajaan, namun sebelumnya yang memulai ritualnya adalah karaeng atau keturunan kerajaan itu sendiri. Adalah batang pajjeko (alat bajak) yang terbuat dari kayu merupakan benda pusaka yang selalu disucikan setiap upacara Mappalili. Diyakini oleh Kerajaan Marusu bahwa alat tersebut tiba-tiba terapung dengan bentuk seperti sekarang di Sungai Maros dekat istana kerajaan Marusu. Sejak saat itulah upacara penyucian dilakukan di Kerajaan Marusu. Adapun simbol dari penyucian benda tersebut adalah sebagai bentuk dari penyucian diri. Benda ini sudah berusia ratusan tahun dan masih terawat sampai sekarang. Benda-benda lain seperti tombak dalam bahasa Makassar poke. Terdiri dari poke lengo, poke bandrangan, poke panguluang. Peti-peti kerajaan yang terdiri dari peti kayu dan peti besi dan memiliki fungsi yang berbeda. Peti besi sebagai tempat penyimpanan keris-keris pusaka dan benda-benda kerajaan berharga lainnya.Sedangkan peti kayu dipakai untuk menyimpan kain putih bekas penutup benda-benda pusaka di loteng (pammakkang) setelah diganti dengan yang baru. Selain itu, terdapat juga berbagai jenis payung yang masing-masing memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda. Seperti payung segi empat digunakan pada saat upacara- upacara adat kerajaan. Payung yang bersusun digunakan khusus untuk karaeng. Sedangkan jenis payung yang bersiku dan runcing dipakai pada saat ada acara pernikahan keluarga seperti kerabat atau sepupu jauh dan biasa dipinjamkan ke kerabat kerajaan yang sedang melaksanakan upacara-upacara tertentu.

Wisata Sejarah[sunting | sunting sumber]

Benteng Valkenburg Maros pada masa Hindia Belanda tahun 1930. Lokasi diperkirakan sekitar bangunan SMA Negeri 1 Maros Solojirang Kelurahan Turikale, Kabupaten Maros.

Taman prasejarah ini terletak pada deretan bukit kapur/karts yang curam di Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung yang dapat ditempuh sekitar 15–30 menit dari Jl. Poros Bantimurung Bantimurung. Para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat di sekitar kawasan tersebut pernah dihuni manusia sekitar 3.000-8.000 tahun SM bukti keberadaan ini ditandai dengan lukisan prasejarah berupa gambar babi rusa yang sedang melompat, puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding-dinding gua. Terdapat 5 buah telapak tangan manusia purbakala yang ditemukan di Gua Pettae, terdapat pula 32 bekas telapak tangan yang ditemukan di Gua Pettae. Selain lukisan prasejarah, juga terdapat benda laut berupa kerang yang menandai bahwa gua tersebut juga pernah terendam dan dikelilingi oleh laut.

  • Situs Prasejarah Leang Akkarrasa Rammang-Rammang: Situs prasejarah ini menyimpan peninggalan prasejarah berupa dua buah gua yang terdapat lukisan prasejarah/kepurbakalaan pada dinding gua yang terdiri dari lukisan cakra 3 buah, lukisan babi rusa 3 ekor, lukisan ikan 1 ekor, dan lukisan perahu 1 buah. Situs prasejarah ini terletak di Desa Salenrang Kecamatan Bontoa.
  • Kompleks Makam Kassi Kebo: Kompleks makam ini merupakan tempat penguburan Karaeng Marusu dan keluarganya. Lokasi ini berada di Jl. Taqwa Kelurahan Baju Bodoa Kecamatan Maros Baru.
  • Kompleks Makam Karaeng Simbang: Kompleks makam ini adalah tempat penguburan Karaeng Simbang dan keluarganya. Makam ini berada di Desa Samangki Kecamatan Simbang.
  • Bangunan Pertahanan Jepang: Bangunan Pertahanan Jepang ini berada di Lingkungan Sanggalea Kelurahan Taroada Kecamatan Turikale. Bangunan ini berbentuk terowongan bawah tanah yang terbuat dari cor beton dibangun pada tahun 1942.
  • 10 Bunker Jepang di Kecamatan Mandai
  • Bunker Jepang 1 dan 2 di kawasan Pattunuang Asue, Desa Samangki
  • Pendopo Pallantikang Karaeng Marusu: Pendopo ini merupakan tempat pelantikan Karaeng Marusu pada masa kerajaan. Tempat ini berada di Kelurahan Pallantikang Kecamatan Maros Baru.
  • Rumah Adat Karaeng Loe Ri Pakere: Rumah adat ini dahulunya adalah istana raja Marusu pertama Karaeng Loe Ri Pakere sekitar abad XV. Rumah adat ini berada di lokasi Dusun Pakere Desa Bontotallasa Kecamatan Simbang yang merupakan salah satu rumah adat yang ada di Kabupaten Maros.
  • Obyek Wisata Bulu Sipong: Adalah obyek wisata alam yang terletak di Desa Bonto Somba Kecamatan Tompobulu dengan jarak tempuh dari Kota Turikale 25 Km. Bulu Sipong memiliki 5 buah gua yang kesemuanya menyimpan bukti peninggalan prasejarah yang mirip dengan Taman Prasejarah Leang-Leang. Yang membedakannya adalah letak kawasan ini berdiri sendiri, sehingga masyarakat sekitar memberi julukan “Bulu Sipong” yang berarti “gunung yang berdiri sendiri”.
  • Taman Makam Pahlawan Maros di Maccopa, Kelurahan Taroada
  • Benteng Valkenburg Maros di Solojirang, Kelurahan Turikale

Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros menghadirkan paket wisata alam. Paket perjalanan wisata ini diberikan mengingat sejumlah daya tarik wisata ini termasuk dalam jenis wisatawan minat khusus. Pendampingan diberikan dalam bentuk penyediaan pemanduan serta penyediaan fasilitas wisata yang membutuhkan keahlian atau peralatan khusus, antara lain:

  1. Tracking atau Jelajah Hutan – Membutuhkan pemandu yang menguasai medan dan memiliki kecakapan interpretasi serta kemampuan melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Pembuatan jalur tracking dengan berbagai rute dilakukan demi kenyamanan dan keamanan pengunjung. Peminat kegiatan ini cukup besar terutama wisatawan yang menyukai kegiatan penjelajahan.
  2. Caving atau Penelusuran Gua – Secara umum kegiatan ini membutuhkan perlengkapan lapangan yang mampu menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan berwisata. Karenanya dibutuhkan tenaga pemandu yang memiliki keahlian dan teknik rescue di dalam gua serta kemampuan interpretasi dan pengetahuan dasar tentang gua.
  3. Rock Climbing atau Panjat Tebing – Merupakan kegiatan yang membutuhkan peralatan khusus, seperti halnya penelusuran gua, kegiatan panjat tebing juga membutuhkan tenaga pemandu yang cakap dan menguasai teknik climbing yang baik.
  4. Animal Watching atau Pengamatan Satwa – Kegiatan minat khusus yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecintaan akan satwa khas dan endemik yang masih hidup bebas di alam bebas. Kegiatan ini dapat dilakukan di kawasan Pattunuang dan Karaenta dengan mengamati kehidupan kera hitam Sulawesi (macaca maura), tarsius spectrum dan beragam jenis burung. Wisatawan yang meminati kegiatan ini mayoritas wisatawan mancanegara.


Wisata alam adalah wisata yang berbasis pada alam, baik panorama alam, kondisi alam, keunikan alam, dan bentukan alam, adapun obyek wisata alam berbasis alam di Kabupaten Maros adalah sebagai berikut:

Taman Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

  • Taman Wisata Alam Bantimurung

Taman Wisata Alam Bantimurung adalah salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Maros yang terletak di Dusun Bantimurung Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang dan terletak di lembah perbukitan kapur/karst yang curam dengan vegetasi tropis yang subur. Selain memiliki obyek wisata air terjun yang indah, taman wisata alam ini dikenal juga menjadi habitat yang ideal berbagai spesies kupu-kupu, burung, dan serangga yang langka dan endemik. Di tahun 1856-1857 seorang naturalis lnggris yang terkemuka bernama Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan ini untuk menikmati dan meneliti 150 spesies kupu-kupu yang tidak dijumpai di daerah lain seperti spesies Papilio Androcles. Wallace menjuluki kawasan ini the Kingdom of Butterfly karena keanekaragaman jenis kupu-kupu. Di kawasan ini terdapat beberapa gua dengan stalaktit dan stalakmitnya yang menakjubkan dan apabila kita berada dalam gua tersebut serasa di alam mimpi, salah satunya yaitu Gua Mimpi dengan panjang lorong 1.500 m dan memiliki ornamen-ornamen yang menakjubkan. Taman Wisata Alam Bantimurung terletak sekitar 15 km dari Kota Turikale atau 50 km dari Kota Makassar. Obyek wisata ini telah dijadikan andalan warga masyarakat perkotaan, khususnya warga Kota Makassar. Bahkan, kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung telah dilengkapi berbagai sarana rekreasi yang cukup lengkap bagi para turis. Kawasan ini sudah tidak asing lagi bagi warga masyarakat Sulawesi Selatan. Kawasan ini menjanjikan daya tarik khusus sehingga banyak dikunjungi pengunjung, terutama saat memasuki hari-hari libur. Kawasan ini tidak hanya menyajikan panorama alam nan sejuk dengan kicauan aneka burung-burungnya yang menarik, tetapi juga memiliki air terjun yang indah. Para pengunjung dapat menikmati keindahan alam dan segarnya air terjun dengan beraneka macam kupu-kupu langka beterbangan di sana-sini.

  • Taman Wisata Alam Gua Pattunuang

Taman Wisata Alam Gua Pattunuang adalah salah satu obyek wisata yang terletak di Desa Samangki Kecamatan Simbang Kabupaten Maros. Obyek wisata alam Gua Pattunuang kaya akan stalaktit dan stalakmit yang menakjubkan. Di kawasan ini terdapat kurang lebih 40 gua yang masih alami dan belum mengalami perubahan-perubahan oleh aktivitas manusia. Berbagai spesies flora dan fauna yang tergolong langka dapat dijumpai ditambah dengan bentangan pegunungan yang curam dan bertebing menjadikan kawasan ini sangat ideal sebagai daerah tujuan wisata petualangan, panjat tebing, dan pendidikan. Panorama alam di sekitar gua sangat indah dan menawan. Dalam kawasan ini terdapat pula batu besar yang berbentuk perahu yang menyimpan legenda yang menarik. Konon menceritakan seorang saudagar Cina yang datang untuk melamar dan mempersunting gadis Samanggi namun lamarannya ditolak. Karena mendapat malu saudagar tersebut mengkaramkan perahunya, perahu inilah yang pada akhirnya menjadi batu. Oleh masyarakat sekitar, batu tersebut dinamakan "Biseang Labboro" yang artinya “perahu yang terdampar”. Pada akhir pekan kawasan ini banyak dikunjungi wisatawan, khususnya remaja yang melakukan camping, caving (penelusuran gua), panjat tebing, atau sekedar menikmati panorama alam.

Cagar Budaya[sunting | sunting sumber]

Gua[sunting | sunting sumber]

Lukisan telapak tangan manusia prasejarah di Leang Pettae Kelurahan Leang-Leang Kabupaten Maros.
Gua Burung I yang merupakan gua prasejarah dengan temuan sampah dapur manusia purba yang terletak di Kelurahan Kalabbirang Kabupaten Maros.

Situs leang prasejarah di Kabupaten Maros berjumlah 55, terdapat di Kelurahan Leang-Leang dan Kalabbirang, namun tidak menutup kemungkinan masih terdapat leang-leang prasejarah lainnya. Di wilayah Kabupaten Maros inilah pertama kali ditemukan lukisan pada dinding gua tepatnya di leang Pettae. Sejak tahun 1980-an situs gua prasejarah ini telah dikembangkan menjadi Taman Wisata Prasejarah Leang-Leang dan menjadi salah satu objek wisata yang menarik di Kabupaten Maros. Di sekitar Taman Wisata Prasejarah Leang-Leang ini terdapat banyak gugusan bukit karst yang memiliki tinggalan leang prasejarah dengan masing-masing keunikannya. Jarak antar satu leang dengan leang lainnya relatif dekat dan terlihat mengelompok sehingga memudahkan kita untuk mengunjunginya. Salah satu alternatif jalur kunjungan wisata gua prasejarah di Kabupaten Maros ini dapat dimulai dari Taman Prasejarah Leang-Leang, dimana di taman ini kita bisa melihat aneka ragam tinggalan arkeologis di Leang Pettae dan Petta Kere. Aksesibilitas menuju obyek ini relatif mudah dengan adanya jalan poros kelurahan.

Obyek kedua adalah leang Bulu Ballang. Selain temuan berupa sebaran sisa sampah dapur berupa cangkang mollusca, ditemukan juga porselin dan gerabah. Dinding leangnya dapat dan seringkali dimanfaatkan sebagai areal latihan panjat tebing dengan jalur yang dimulai dari tingkat kesulitan yang rendah hingga menantang. Obyek ketiga adalah Leang Cabbu. Berbeda dengan leang Bulu Ballang, di sebelah kiri leang Cabbu telah dijadikan tempat latihan para pemanjat tebing, sehingga tidaklah mengherankan jika pada dinding itu banyak ditemukan hanger atau penahan gantungan. Tepat berhadapan dengan mulut leang terlihat aktivitas pertambangan, hamparan sawah dan bentangan perbukitan karst. Obyek keempat adalah Leang Sampeang. Pada leang ditemukan gambar manusia berwarna hitam yang tidak terdapat di leang-leang yang lain. Untuk sampai di obyek ini, terdapat jalur penyeberangan basah melewati sungai dan pendakian. Obyek selanjutnya adalah Leang Ulu Leang yang memiliki panorama lingkungan menawan dengan tinggalan arkeologi yang beragam mulai dari sebaran mollusca, alat batu dan lukisan dinding gua. Obyek terakhir adalah leang Balimukang. Selain tersaji temuan sebaran fragmen mollusca, porselin dan gerabah, di lokasi situs ditawarkan pula areal latihan panjat tebing.

Kawasan karst Maros-Pangkep terbentang seluas 43.750 hektar yang terdiri dari areal penambangan seluas 20.000 hektar dan 23.750 hektar lainnya menjadi bagian dari 43.750 hektar kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Pembagian tersebut dilakukan karena pada saat akan diusulkan menjadi taman nasional, di kawasan ini sudah banyak perusahaan yang mendapat izin melakukan kegiatan penambangan, diantaranya PT Semen Bosowa, PT Semen Tonasa dan puluhan perusahaan lain yang menambang marmer dan batu kapur. Penambangan yang dilakukan di kawasan karst Maros-Pangkep ini merupakan ancaman terhadap ekosistem dan kelestarian situs gua prasejarah dan tinggalan budaya prasejarah yang tersimpan di dalamnya. Salah satu aspek ekosistem yang terancam adalah ketersediaan air tanah di sekitar kawasan karst. Dari tinjauan hidrologis, daerah karst berpotensi sebagai wadah cadangan air. Hal ini terlihat pada beberapa gua yang di dalamnya terdapat su ngai bawah tanah. Disamping itu, di kawasan ini dijumpai sejumlah sumber air berupa sungai besar dan sebagian bermuara di Air Terjun Bantimurung. Selain dikhawatirkan mengancam ketersediaan air, aktivitas penambangan juga dikhawatirkan dapat menghilangkan bukti-bukti sejarah karena gua-gua tersebut menyimpan sejumlah artefak sisa peradaban manusia masa prasejarah.

Di Kabupaten Maros banyak opsi dalam memilih wisata susur gua. Nama-nama gua yang terdapat di Kabupaten Maros sebagai berikut:

No. Nama Leang/Gua Letak Administratif Keterangan Jenis Panjang/Lebar (m) Kedalaman (m) Temuan Arkeologi Letak Astronomi
Lintang Selatan Bujur Timur
1. Akkarasa/Akkarasaka/Karama Desa Salenrang Kecamatan Bontoa - Gua Prasejarah - - alat batu, lukisan dinding gua, dan cangkang kerang 04° 55' 18" 119° 37' 00"
2. Alla Pusae/Alle Pusae Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - fragmen tembikar dan cangkang mollusca atau kerang dari kelas gastropoda 04° 59' 12,1" 119° 40' 16,1"
3. Alla Berang/Alle Bireng Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah lebar ± 56 - sampah dapur berupa cangkang mollusca 04° 58' 16,1" 119° 40' 58,4"
4. Ambe Pacco Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan cap tangan di dinding gua, cangkang kerang, dan tembikar 04° 59' 14,8" 119° 40' 11,2"
5. Anggawati I Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 170 - - - -
6. Anggawati II Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 1.000 - - - -
7. Anjing Dusun Samanggi Desa Samangki Kecamatan Simbang Lumpur dan air gua berasal air dari Sungai Pattunnuang. Gua Horizontal Panjang ± 400 - - - -
8. Ara - - - - - - - -
9. Aux Mains Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 600 - - - -
10. Baharuddin Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 137 - - - -
11. Balang Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - - - - fauna kupu-kupu langka jenis papilo gigon, yang kini dijadikan sebagai logo Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung 04° 59' 31,6" 119° 39' 00,8"
12. Balimukang/Pa'limukang/Bettue Lopi-Lopi Desa Mangeloreng Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - - 05° 00' 00,1" 119° 39' 18,8"
13. Balisao - - Gua Prasejarah - - serpih bilah dan mata panah berpangkal bundar - -
14. Bantimurung Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 150 - - - -
15. Bara Jarang Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - - - - - 04° 58' 18" 119° 41' 27"
16. Bara Tedong I Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding babi rusa, cap tangan, dan lengan 04° 58' 45,7" 119° 41' 11,6"
17. Bara Tedong II Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - - - - - - -
18. Barugaya/Barugayya Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua, alat batu (serpih, bilah, tatal), dan pecahan yang dihasilkan dari proses teknologi batu tatahan yang terbuat dari batuan chert dan gamping kersikan, selain itu juga terdapat sampah dapur berupa kulit/cangkang kerang yang teridentifikasi berasal dari kelas gastropoda dan pelecypoda 04° 59' 42,0" 119° 39' 24,0"
19. Batabatae Desa Mangeloreng Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua (telapak tangan) dan cangkang mollusca 04° 59' 26,7" 119° 38' 52,5"
20. Batu - - - - - - - -
21. Batu Ejaya - - - - - - - -
22. Batu Karope Desa Mangeloreng Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua dan sampah dapur berupa cangkang mollusca dari kelas pelecypoda 04° 59' 38,2" 119° 39' 44,6"
23. Batu Tianang - - - - - - - -
24. Bembe Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - - - - lukisan dinding gua, cangkang kerang dan beberapa artefak batu berukuran kecil 05° 00' 00,9" 119° 39' 29,7"
25. Bettue Tompobalang Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan telapak tangan berwarna merah, sampah dapur, dan artefak, serta beberapa fragmen tembikar 04° 59' 21,0" 119° 40' 06,0"
26. Birao - - - - - - - -
27. Boddong Desa Mangeloreng Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan cap tangan pada langit-langit gua dan sisa-sisa cangkang kerang 04° 59' 39,6" 119° 38' 38,1"
28. Bola Batu - - - - - - - -
29. Botto Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - cangkang mollusca 04° 57' 06,4" 119° 38' 22,1"
30. Bulu Ballang - - Gua Prasejarah - - - - -
31. Bulu Batua/Bulu Batue Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua, serpih bilah, dan sisa-sisa kulit kerang 04° 59' 30" 119° 38' 24"
32. Bulu Kamase I Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - sisa-sisa kulit kerang, gambar telapak tangan berwarna merah, artefak batu (alat serpih, alat bilah, tatal), serta sampah dapur 04° 57' 33,8" 119° 39' 26,6"
33. Bulu Kamase II Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - - - -
34. Bulu Sipong I Desa Bontolempangang Kecamatan Bontoa - Gua Prasejarah - - lukisan telapak tangan dan perahu yang di atasnya terdapat lukisan manusia dengan berbagai aktivitas seperti mendayung, memegang tombak 04° 58' 33" 119° 36' 57"
35. Bulu Sipong II Desa Bontolempangang Kecamatan Bontoa - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua berbentuk ikan dan telapak tangan, alat batu dan cangkang mollusca 04° 58' 33" 119° 36' 57"
36. Bulu Sipong III - - - - - - - -
37. Bulu Tengngae I Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua, alat batu (mata panah, serpih, bilah, tatal, pecahan, dan core), dan sisa-sisa kulit kerang 04° 57' 45,2" 119° 39' 20,9"
38. Bulu Tengngae II Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua - -
39. Bulu Tengngae III Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua - -
40. Bulu Tengngae IV Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua - -
41. Bulu Tengngae V Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua - -
42. Bulu Tungke'e - - - - - - - -
43. Bunga Eja I Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - cangkang kerang terutama dari kelas gastropoda 04° 57' 04,6" 119" 39' 11,2"
44. Bunga Eja II Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - - 04° 57' 08,9" 119° 39' 09,6"
45. Burung I Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua berbentuk gambar cap telapak tangan, alat batu microlith, serta sampah dapur 05° 00' 11,9" 119° 39' 17,9"
46. Burung II Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - - 05° 00' 11,9" 119° 39' 17,9"
47. Buttu Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 500 - - - -
48. Cabbu Desa Mangeloreng Kecamatan Bantimurung - - - - cangkang kerang dari kelas pelecypoda 04° 59' 48,8" 119° 39' 08,6"
49. Cadang - - - - - - - -
50. Canggoreng Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua dan sisa-sisa kulit kerang 04° 59' 53" 119° 38' 25"
51. Cekondo - - Gua Prasejarah - - serpih bilah dan mata panah berpangkal bundar - -
52. Cempae - - - - - - - -
53. de Lapisaine Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 300 - - - -
54. Jamala' - - - - - - - -
55. Jaria/Jarie Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 900 - lukisan dinding gua dan alat batu (serpih, bilah, tatal), dan pecahan yang terbuat dari batu chert dan gamping kersikan 05° 01' 57,1" 119° 41' 12,9"
56. Jing Desa Mangeloreng Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua dan a lat batu 04° 59' 27,2" 119° 38' 58,3"
57. Kado/Kado' Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 1.400 - - - -
58. Kallibong Alloa - - - - - - - -
59. Karrasa Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Prasejarah - - sampah dapur dan artefak batu 05° 02' 38,0" 119° 42' 23,4"
60. Kassi - - Gua Prasejarah - - - - -
61. Kharisma Dusun Kappang Desa Labuaja Kecamatan Cenrana Gua ini dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan umum Makassar-Kappang dengan waktu tempuh 3,5 jam. Gua gamping ini kering dan sumber air untuk gua ini dari mata air di km 58. Gua Horizontal Panjang ± 330 - - - -
62. Lambatorang Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua, alat batu microlith, dan sisa-sisa kulit kerang 04° 58' 16" 119° 39' 58"
63. Leang-Leang Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - gambar prasejarah (rock painting). Ada gambar babi rusa yang sedang meloncat yang di bagian dadanya tertancap mata anak panah, serta gambar telapak tangan wanita dengan cat warna merah. Gambar prasejarah tersebut sudah berumur sekitar 5000 tahun. Diduga gua ini telah dihuni sekitar tahun 8000 – 3000 sebelum Masehi. 04° 58' 37,41" 119° 40' 19,24"
64. Lompoa Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - cangkang kerang (baik kelas gastropoda maupun pelecypada) dan serpihan chert 05° 00' 10,6" 119° 39' 16,9"
65. Londrong - - Gua Horizontal Panjang ± 2.300 - - - -
66. Lubang Air Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang - - - - - - -
67. Lubang Batu Neraka - - - - - - - -
68. Lubang Beru - - - - - - - -
69. Lubang Kabut - - - - - - - -
70. Lubang Kelu Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 90 - - - -
71. Mandauseng Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - - - - lukisan dinding gua, sampah dapur, dan artefak batu 04° 57' 04,6" 119° 38' 33,6"
72. Mimpi Dusun Bantimurung Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang - Gua Horizontal dan Gua Vertikal Panjang ± 1.415 48 - - -
73. Monroe - - - - - - - -
74. Nasir Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 800 - - - -
75. Pabbuno Juku/Pabboneang Juku Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - sampah dapur dari cangkang mollusca, lukisan dinding gua bergambar cap telapak tangan, dan artefak batu 04° 57' 40,8" 119° 42' 00,8"
76. Paccepacce Desa Mangeloreng Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - fragmen cangkang mollusca dan artefak batu 04° 59' 14,4" 119° 38' 35,4"
77. Pajae Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - cangkang mollusca dan lukisan cap tangan 04° 59' 03,0" 119° 40' 13,2"
78. Panampu I Dusun Pajaiyang Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - - - - - 04° 57' 18" 119° 39' 15"
79. Panampu II Dusun Pajaiyang Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - - - - - - -
80. Pangia/Pangie Dusun Pattunuang Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Prasejarah - - lukisan cap tangan berwarna merah dan cangkang mollusca 05° 00' 02,6" 119° 39' 50,2"
81. Pasaung - - - - - - - -
82. Pattae/Pettae Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah/Gua Horizontal - - lukisan dinding gua bergambar cap telapak tangan dan lukisan babi rusa, artefak batu (microlith), dan sampah dapur berupa kulit kerang 04° 58' 44,6" 119° 40' 30,5"
83. Pattunuang I Dusun Pattunuang Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 500 - - - -
84. Pattunuang II Dusun Pattunuang Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 500 - - - -
85. Pattunuang Asue/Saleh Dusun Samanggi Desa Samangki Kecamatan Simbang Gua gamping dan kering, dari Makassar ke gua ini dapat menggunakan kendaraan umum dengan waktu tempuh 3 jam. Gua Horizontal Panjang ± 300 - - - -
86. Pellenge Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua, artefak batu, cangkang mollusca, dan fragmen tulang binatang 04° 58' 15,0" 119° 41' 10,3"
87. Petta Kere Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua berupa gambar babi rusa dan gambar cap telapak tangan, alat batu microlith, dan mata anak panah 04° 58' 43,2" 119° 40' 34,2"
88. Pucu Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - - - - lukisan dinding gua dengan gambar cap telapak tangan, cangkang mollusca 04° 57' 58,8" 119° 40' 32,5"
89. Pute Dusun Pattiro Desa Labuaja Kecamatan Cenrana Tersusun dari batu gamping dan merupakan bagian dari komplek karst Maros. Gua Vertikal lebar 50-80 ± 263 - - -
90. Restaurant Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 1.400 - - - -
91. Salle - - - - - - - -
92. Saloaja/Saluaja Dusun Pattunuang Desa Samangki Kecamatan Simbang Gua ini merupakan gua gamping yang berair. Sumber air gua ini berasal dari Sungai Pattunnuang. Gua Horizontal Panjang ± 800 - - - -
93. Salukkang Kallang I Kecamatan Cenrana - Gua Vertikal - ± 184 - - -
94. Salukkang Kallang II Kecamatan Cenrana - Gua Horizontal, Gua Terpanjang di Kabupaten Maros Panjang ± 12.463 - - - -
95. Samanggi Dusun Samanggi Desa Samangki Kecamatan Simbang Gua ini merupakan gua batu gamping yang kering. Gua Horizontal Panjang ± 400 - - - -
96. Sambueja I Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Horizontal ± 300 - - - -
97. Sambueja II Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 1.400 - - - -
98. Samongkeng I/Samungkeng I Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - cangkang mollusca dan lukisan dinding gua berupa cap tangan 04° 58' 49,2" 119° 39' 52,5"
99. Samongkeng II/Samungkeng II Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - sisa-sisa cangkang mollusca dan lukisan dinding gua berupa cap tangan 04 58' 50,4" 119 39' 51,4"
100. Samongkeng III/Samungkeng III Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - sisa-sisa cangkang mollusca dan lukisan dinding gua berupa cap tangan 04° 58' 48,1" 119° 39' 44,7"
101. Samongkeng IV/Samungkeng IV Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - - - - - - -
102. Sampeang Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua, alat batu microlith, dan sisa-sisa kulit kerang 04° 59' 44,8" 119° 40' 01,3"
103. Saripa Dusun Samanggi Desa Samangki Kecamatan Simbang Untuk mencapai gua ini dapat digunakan angkutan dari Makassar-Ta'deang dengan waktu tempuh 3 jam. Gua batu gamping ini sedikit berair dan berlumpur. Sumber air gua ini adalah Sungai Pattunnuang. Gua Horizontal ± 1.736 - - - -
104. Sengkae - - - - - - - -
105. Sulaiman/Suleman Dusun Pattunuang Desa Samangki Kecamatan Simbang Gua ini merupakan gua batu gamping. Kondisi gua ini sedikit berair dan berlumpur. Untuk mencapai gua ini bisa digunakan angkutan dari Makassar-Pattunuang dengan waktu tempuh selama 3 jam. Gua Horizontal Panjang ± 850 - - - -
106. Tajuddin - - - - - - - -
107. Tampuang Desa Samangki Kecamatan Simbang - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua berupa gambar telapak tangan, sampah dapur, dan artefak batu 05° 02' 07,7" 119° 44' 33,1"
108. Tanete/Tanette Kecamatan Cenrana - Gua Horizontal dan Gua Vertikal ± 9.700 ± 25 - - -
109. Tanre Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - cangkang kerang dan fragmen gerabah 04° 59' 34,0" 119° 39' 00,8"
110. Tengngae Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - cangkang mollusca dan lukisan dinding gua berwujud cap tangan 04° 57' 45,2" 119° 39' 20,9"
111. Timpuseng Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - cangkang kerang dan artefak batu 04° 59' 53,5" 119° 39' 39,8"
112. Tinggi Ada Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - alat batu 04° 58' 41,7" 119° 40' 45,5"
113. Tomanangna Dusun Kappang Desa Labuaja Kecamatan Cenrana Tersusun dari batu gamping Gua Vertikal Lebar berkisar 30-50 ± 190 - - -
114. Towukala Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 80 - - - -
115. Ulu Leang Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - alat batu (serpih, bilah, dan tatal ), serta cangkang mollusca dari kelas gastropoda dan pelecypoda 04° 59' 29,0" 119° 40' 03,0"
116. Ulu Wae Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua, alat batu microlith, dan sampah dapur 04° 59' 04,0" 119° 40' 23,1"
117. Wanuwae Kelurahan Leang-Leang Kecamatan Bantimurung - Gua Prasejarah - - lukisan dinding gua dan sampah dapur 04° 57' 58,2" 119° 40' 54,3"
118. Watang Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang - Gua Horizontal Panjang ± 440 - - - -
119. Wattanang - - - - - - - -
120. Hamid Dusun Samanggi Desa Samangki Kecamatan Simbang Gua ini bersifat kering. Untuk mencapai gua ini bisa digunakan angkutan trayek Makassar-Ta'deang dengan waktu tempuh selama 3 jam. Sumber air gua gamping ini adalah Sungai Pattunnuang. Gua Horizontal Panjang ± 500 - - - -
121. Padaelo Dusun Samanggi Desa Samangki Kecamatan Simbang Tersusun dari batu gamping Gua Vertikal Lebar berkisar 5-10 ± 54 - - -
122. Dinosaurus Dusun Pattiro Desa Labuaja Kecamatan Cenrana Tersusun dari batu gamping Gua Vertikal Lebar berkisar 80-100 Berkisar 150-180 - - -
123. Kapa-kapasa Dusun Pattiro Desa Labuaja Kecamatan Cenrana Tersusun dari batu gamping Gua Vertikal Lebar berkisar 10-15 ± 210 - - -
124. Lantang Huu Dusun Samanggi Desa Samangki Kecamatan Simbang Tersusun dari batu gamping Gua Vertikal Lebar berkisar 5-8 ± 50 - - -
125. Baba' Dusun Samanggi Desa Samangki Kecamatan Simbang Tersusun dari batu gamping Gua Vertikal Lebar berkisar 2-3 ± 40 - - -
126. Patta Dusun Samanggi Desa Samangki Kecamatan Simbang Gua yang tersusun dari batu gamping ini tergenang air yang bersumber dari dalam gua itu sendiri. Gua Horizontal Panjang ± 950 - - - -
127. Karama/Karamaka/Keramat Dusun Rammang-Rammang Desa Salenrang Kecamatan Bontoa - Gua Prasejarah - - Gambar telapak tangan manusia prasejarah dan ambar binatang yang menyerupai ikan dan udang - -
128. Kamase - - Gua Prasejarah - - Gambar telapak tangan manusia prasejarah - -
129. Berlian Dusun Rammang-Rammang Desa Salenrang Kecamatan Bontoa - Gua Prasejarah - - - - -
130. - - - - - - - - -

Air Terjun[sunting | sunting sumber]

  • Air Terjun Bantimurung
Air Terjun Bantimurung yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan pada hari sabtu dan minggu.
Air Terjun Bantimurung terletak di Dusun Bantimurung, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Air Terjun Bantimurung telah menjadi eksotisme air terjun andalan di Sulawesi Selatan. Di sini pengunjung bisa melepas gerah dengan bermain air berkedalaman sebatas pinggang orang dewasa. Selain itu, kawasan ini juga terkenal sebagai gudangnya kupu-kupu cantik. Ada banyak titik dengan keindahan yang cocok untuk jadi latar belakang berswafoto. Air terjun ini memiliki tinggi 15 m dan lebar 20 m dengan aliran debit air 500 l/s. Selain melakukan permandian alam, dan memanjakan mata dengan keadaan alam sekitar daerah wisata Air Terjun Bantimurung, para pengunjung pun dapat merasakan sensasi melakukan olahraga arung jeram yang menguji adrenalin, yang dimana orang akan meluncur bersama arus yang lumayan kencang menggunakan ban bekas yang disewakan oleh pengelola taman wisata. Hampir semua pengunjung pasti akan melakukan aktivitas olahraga di wisata permandian Air Terjun Bantimurung ini, mulai dari berenang, arung jeram, hingga melatih otot kaki dengan menaiki anak tangga guna mengunjungi sebuah gua yang berada agak jauh dari tempat permandian, gua yang dimaksud adalah Gua Mimpi yang menjadi destinasi nomor 2 di Bantimurung kabupaten Maros.
  • Air Terjun Jami Bonto Manurung
Secara administratif, Air Terjun Jami Bonto Manurung terletak di Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros.
  • Air Terjun Lacolla
Secara administratif, Air Terjun Lacolla terletak di Dusun Malaka, Desa Cenrana Baru, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.
  • Air Terjun Lengang Laiya
Secara administratif, Air Terjun Lengang Laiya terletak di Desa Laiya, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.
  • Air Terjun Merdeka
  • Air Terjun Pung Bunga Bonto Somba
Terletak di kaki gunung pada ketinggian 300 m di atas permukaan laut dan termasuk ke wilayah administratif Desa Bonto Somba Kecamatan Tompobulu. Desa ini berbatasan langsung dengan kawasan obyek wisata Malino Kabupaten Gowa. Air terjun yang mengalir dari pegunungan serta kondisi alam tropis yang sejuk dan tanahnya yang subur sangat cocok untuk pengembangan ekowisata yang menjanjikan harapan menghasilkan berbagai jenis holtikultura. Air terjun yang bergemuruh sepanjang tahun selain menambah keindahan panorama alam sekitarnya, juga dapat dijadikan sarana olah raga arung jeram. Lokasi ini dapat ditempuh dengan jarak 25 km dari Kota Turikale atau 40 km dari Kota Makassar.
  • Air Terjun Taipa Tompobulu

Cagar Alam[sunting | sunting sumber]

  • Cagar Alam Bantimurung
Di kawasan wisata ini bisa melihat berbagai objek wisata menarik, terutama bagi pengguna kamera, seperti air terjun, bukit kapur, dan gua alami. Cagar alam ini terkenal karena dahulu menjadi tempat riset ilmuwan terkenal Alfred Russel Wallace. Di Cagar Alam Bantimurung terdapat gua yang terkenal, yaitu Gua Mimpi. Tempat ini berada dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Keindahan bebatuan unik dan stalaktit yang alami menjadi suguhan utamanya. Pengunjung juga bisa merasakan sensasi menjelajah gua sambil membawa lampu petromaks seperti di film petualangan. Konon, berkunjung ke sini bisa cepat mendapatkan jodoh.
  • Cagar Alam Karaenta
Cagar Alam Karaenta atau dikenal pula sebagai Kawasan Pengamatan Satwa Karaenta adalah kawasan hutan yang dilindungi karena selain berfungsi sebagai daerah cadangan air bawah tanah, juga menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna endemik dan langka sebagai sumberdaya hayati yang bermanfaat untuk kepentingan penelitian. Cagar alam ini adalah laboratorium alam yang menawarkan beragam ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang menarik. Dengan kekayaan alam flora dan fauna, dan kehidupan ekosistem endemik. Menjadikan cagar alam ini sebagai tujuan utama penelitian alam dan ekosistem. Tercatat, banyak peneliti telah menetap selama beberapa tahun di Karaenta, untuk meneliti monyet yang tak berekor (Macaca maura). Yang paling terkenal adalah Prof. Kunio Watanabe dari Universitas Kyoto. Dia meneliti sejak 1980-an hingga akhir 1990-an. Hasil penelitiannya digunakan pemerintah untuk mempelajari cara-cara pelestarian spesies. Selain Watanabe, juga tahun 2010 ada ilmuan dari San Diego University Dr. Erin PhD dan peneliti dari Italia, DR Monica. Bagi para pecinta lingkungan atau peneliti yang haus akan ilmu alam, Kawasan Pengamatan Satwa merupakan tempat yang cocok untuk dikunjungi. Salah satu daya tarik kawasan ini karena memiliki gua yang panjangnya mencapai 2.200 m dan merupakan habitat ideal bagi kera jenis Macaca Maura. Spesies ini merupakan hewan yang dilindungi dan menjadi aset nasional mengingat populasi dan habitatnya yang sudah tergolong langka. Jenis kera ini sangat unik karena ia bersahabat dan dapat dipanggil kapanpun dengan bantuan Jagawana. Panorama alamnya yang indah dan kekayaan flora dan fauna serta letaknya yang strategis. Cagar Alam Karaenta yang terletak di Kecamatan Cenrana ini, semakin populer dan ramai dikunjungi wisatawan. Terdapat pula Gua Salukang Kallang dan sungai yang indah membelah gunung sampai ke Danau Toakala. Obyek wisata ini termasuk kawasan hutan yang dilindungi. Lokasinya tak jauh dari kawasan wisata alam Bantimurung. Sebagai kawasan hutan lindung, daerah wisata ini banyak didatangi pengunjung, khususnya mahasiswa pencinta alam atau anggota masyarakat yang sedang melakukan riset atau penelitian ilmiah. Di area cagar alam ini terdapat beraneka ragam flora dan fauna sebagai sumber daya hayati sekaligus merupakan aset nasional yang tak ternilai harganya. Yang menarik, dalam kawasan hutan lindung yang cukup luas ini terdapat pula sebuah gua dan binatang kera jenis Macaca Maura yang sudah langkah. Kera kera ini tidak menakutkan dan cukup bersahabat dengan para jagawana kawasan ini.
Kawasan ini merupakan penggabungan beberapa lokasi kawasan konservasi dan hutan lindung serta hutan produksi. Kawasan ini ditunjuk sebagai kawasan Taman Nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 398/Menhut-II/2004 pada tanggal 18 Oktober 2004. SK Menhut tersebut berisi tentang Perubahan Fungsi Cagar Alam, Taman Wisata Alam, Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi Tetap menjadi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. Penunjukan menjadi taman nasional melalui proses yang cukup panjang. Proses tersebut dimulai pada tahun 1993 oleh desakan UNESCO kepada Pemerintah Indonesia untuk segera melindungi ekosistem karst melalui penetapan kawasan konservasi, untuk selanjutnya diusulkan menjadi Situs Warisan Dunia (World Heritage Site). Taman nasional ini memiliki luas 43.750 Ha yang terdiri dari wilayah Cagar Alam seluas ± 10.282,65 Ha, wilayah Taman Wisata Alam seluas ± 1.624,25 Ha, wilayah Hutan Lindung seluas ± 21.343,10 Ha, wilayah Hutan Produksi Terbatas seluas ± 145 Ha, dan wilayah Hutan Produksi Tetap seluas ± 10.355 Ha. Atau secara rinci wilayah Cagar Alam Karaenta seluas ± 1.226 Ha, wilayah Taman Wisata Alam Bantimurung seluas ± 1.000 Ha, wilayah Taman Wisata Alam Gua Pattunuang seluas ± 118 Ha, dan wilayah Cagar Alam Bulusaraung seluas ± 5.690 Ha. Wilayah taman nasional ini secara geografis terletak antara 119° 34' 17" - 1 19° 55' 13" Bujur Timur dan antara 4° 42' 49" - 5° 06' 42" Lintang Selatan. Secara administratif pemerintahan terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep dengan batas-batas sebagai berikut: sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep; sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Barru, Kabupaten Bone, dan Kabupaten Pangkep; sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone; dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros. Taman nasional ini merupakan taman nasional kedua setelah kawasan Taman Nasional Taka Bonerate di Kabupaten Kepulauan Selayar yang dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Selatan. Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung sangat kaya dengan kenanekaragaman hayati dan non hayati. Sehingga sangat cocok untuk berwisata alam yang edukatif.
Banyak keunikan yang terdapat di TN Babul ini, antara lain: karst, gua-gua yang dihiasi oleh stalaknit dan stalakmit yang indah, dan yang paling menarik serta terkenal ialah kupu-kupu. Potensi yang cukup tinggi di kawasan taman nasional ini antara lain adalah: potensi flora, potensi fauna, potensi bentang alam, dan peninggalan budaya. Flora TN Babul merupakan jenis-jenis dari vegetasi Karts dan hutan daratan rendah. Jenis-jenis yang tumbuh pada habitat Karts, antara lain: Palanqium sp, Calophilum sp, Leea indica, Sapotaceae, Polyalthia insignis, Pangium edule, Aleurites moluccana, Celastroceae, Cinamomum sp, Leea aculata. Jenis-jenis yang tumbuh pada habitat hutan dataran rendah antara lain Vitex cofassus (bitti), Palaquium obtusifolium (nyato), Pterocarpus indicus (cendrana), Ficus sp (beringin), Sterquila foetida, Dracontomelon dao (Dao), Dracontomelon Mangiferum, Arenga pinnata (aren), Colona sp, Dillenia serrata, Alleurites moluccana (kemiri), Diospyros celebica (kayu hitam), Buchanania Arborescens, Antocepalus cadamba, Myristica sp,Kneam sp, dan Calophyllum inophyllum. Fauna TN Babul merupakan jenis yang khas dan endemik, antara lain: Enggang Sulawesi (Ryticeros cassidix), Enggang Kerdil (Peneloppides exahartus), Musang Sulawesi (Macrogolidia mussenbraecki), Kelelawar, Kera Sulawesi (Macaca Maura), Kuskus (Phalanger celebencis), Tarsius (Tarsius sp) dan lain-lain, serta berbagai jenis kupu-kupu yakni, Papiliio blumei. P. Polites, P. Satapses, Troides halipron, T. Helena, T. Hypolites dan Graphium androcles. Selain itu terdapat jenis fauna yang endemik dalam gua sebagai penghuni gelap abadi seperti ikan dengan mata tereduksi bahkan mata buta (Bostrychus spp), Kumbang buta (Eustra sp), Jangkrik gua (Rhaphidophora sp) serta tungau buta (Trombidiidae).
Kawasan karst Maros Pangkep memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kawasan karst lainnya, diantaranya :
• Membentang sepanjang dua wilayah administratif kabupaten, yaitu Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene;
• Memiliki landscape yang indah, berbentuk seperti tower yang tidak ada duanya di dunia;
• Koridor sangat panjang;
• Memiliki nilai dan sumber daya arkeologi yang tinggi;
• Memiliki ornamen gua yang indah dan terkenal di dunia;
• Memiliki nilai jual yang tinggi untuk ekowisata alam;
• Memiliki ratusan gua, walaupun baru 58 gua yang baru tereksplorasi biotanya oleh UPI;
• Memiliki biodiversitas tertinggi se-Asia Tropika;
• Diusulkan untuk menjadi "natural world heritage" (warisan alam dunia) sejak tahun 1998.
Sampai saat ini, telah tercatat 16 buah gua alam yang ditemukan pada eks kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung, yaitu antara lain: Gua Anjing (panjang ± 60 m), Gua Bantimurung (panjang ± 150 m), Gua Anggawati I (panjang ± 170 m), Gua Towukala (panjang ± 80 m), Gua Baharuddin (panjang ± 137 m), dan Gua Watang (panjang ± 440 m). Pada wilayah eks Cagar Alam Bantimurung terdapat 34 gua, salah satu yang sangat terkenal adalah Gua Mimpi (panjang ± 1.415 m dan kedalaman ± 48 m). Keseluruhan gua tersebut memiliki panorama alam yang sangat indah dan mudah dijangkau dengan. Di dalam gua terdapat stalaktit, stalakmit, flow stone, helektit, pilar, calcit floor, dan sodastraw. Gua-gua lain yang ditemukan pada eks Cagar Alam Bantimurung ini antara lain Gua Lubang Air, Gua Lubang Kelu (panjang ± 90 m), Gua Buttu (panjang ± 500 m), dan Gua Nasir (panjang ± 800 m).
Keseluruhan gua tersebut menyajikan keindahan stalaktit dan stalakmit serta sebagai tempat berkembang biak burung walet, kalelawar, laba-laba, lipan, kaki seribu dan lain-lain. Pada eks Taman Wisata Alam Gua Pattunuang ditemukan sekitar 40 gua yang masih alami dan belum mengalami perubahan akibat aktivitas manusia. Pada umumnya gua-gua di kawasan ini dapat ditelusuri secara mudah dengan panjang rata-rata 1.000 meter dan kedalaman rata-rata 30 meter. Gua yang ada pada eks Taman Wisata Alam Gua Pattunuang antara lain: Gua Anggawati II (panjang ± 1.000 m), Gua Restaurant (panjang ± 1 .400 m), Gua de Lapisaine (panjang ± 300 m), Gua Pattunuang 1 dan 2 (panjang masing-masing 500 m), Gua Sambueja I dan II (panjang masing-masing 300 m dan 1.400 m), Gua Kado (panjang ± 1.400 m), Gua Jaria (panjang ± 900 m), Gua Aux mains (panjang ± 600 m), dan lain-lain.
Di wilayah eks Cagar Alam Karenta juga ditemukan banyak gua. Di wilayah ini terdapat gua terpanjang di Kabupaten Maros. Gua yang paling dikenal adalah Gua Salukkang Kallang. Menurut hasil ekspedisi gua ini memiliki panjang mencapai 12.463 m. Pemandangan di dalam gua ini sangat menakjubkan oleh banyaknya ornamen serta genangan air yang menjadi habitat ikan dan udang. Selain itu terdapat juga Gua Tanette yang memiliki panjang hingga ± 9.700 m dan ketinggian dinding ± 25 m. Menurut hasil penelitian, Gua Tanette merupakan satu kesatuan dengan Gua Salukkang Kallang. Penyebutan nama dikarenakan perbedaan tempat mulut gua berada. Apabila kedua gua ini ditelusuri dari satu arah, maka panjang lorongnya mencapai ± 22 km dan diduga merupakan gua terpanjang di Indonesia.
Secara geologis, perbukitan karst yang ada di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung didominasi oleh sebaran batu gamping yang terbentuk di dasar laut sejak awal kala Eosen dan terangkat ke permukaan laut selama periode waktu yang panjang. Sifat batu gamping yang mudah tertembus air memungkinkan terbentuknya rongga-rongga yang selanjutnya membentuk fenomena gua-gua alam. Setelah ribuan atau bahkan jutaan tahun berlalu, bersamaan pula dengan surutnya air laut, maka gua-gua tersebut dijadikan sebagai tempat hunian yang ideal oleh manusia pada saat itu. Bukti-bukti temuan seperti alat-alat maros point, flakes, blade, microlith, sampah dapur, dan perhiasan dapat memperkuat teori fungsi gua pada suatu masa tertentu (masa prasejarah).

Pantai[sunting | sunting sumber]

  • Wisata Pantai Pasir Putih & Mangrove Kuri Caddi Nisombalia Selat Makassar: Pantai Kuri adalah salah satu potensi wisata alam yang menawarkan panorama yang menarik bernuansa pantai dengan pasir putih yang membentang sepanjang pesisir pantai. Di sekitarnya juga terdapat aktivitas nelayan yang sekaligus melengkapi kegiatan atraksi wisata pantai. Pada sore hari, lokasi ini dapat disaksikan terbenamnya matahari (sunset) yang menambah nuansa obyek, disamping ombak yang lebih tenang sehingga dapat mandi di pantai. Hamparan pasir pantai yang luas dan bersih dapat mendukung kegiatan wisata/rekreasi sambil berjemur. Letak Pantai Kuri sangat strategis karena berada di antara Ibu Kota Maros dan Kota Makassar, menjadikan tempat ini menjadi tujuan pertama yang dapat dikunjungi oleh wisatawan setelah mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
  • Wisata Pantai & Mangrove Dermaga Sabang Bonto Bahari Selat Makassar

Kolam Renang[sunting | sunting sumber]

  • Kolam Renang Bantimurung (Bantimurung Swimming Pool)
Secara administratif, Kolam Renang Bantimurung terletak di Dusun Bantimurung, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.
  • Maros Waterpark
Secara administratif, Maros Waterpark terletak di Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.
  • Kolam Renang Oskar
Secara administratif, Kolam Renang Oskar terletak di Kelurahan Hasanuddin, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.
  • Kolam Renang Tirta Yudha Kostrad
Secara administratif, Kolam Renang Tirta Yudha Kostrad terletak di Desa Sudirman, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros.
  • Swimming Pool Grand Mall Maros
Secara administratif, Swimming Pool Grand Mall Maros terletak di Kompleks Grand Mall Maros Lingkungan Batangase Kelurahan Hasanuddin, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.
  • Kolam Renang Darul Istiqamah
Secara administratif, Kolam Renang Darul Istiqamah terletak di Desa Bonto Matene, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.
  • Bantimurung Waterpark
Secara administratif, Kolam Renang Bantimurung terletak di Dusun Bantimurung, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.

Agrowisata[sunting | sunting sumber]

Agrowisata atau Wisata Agro adalah wisata yang berkaitan dengan kegiatan pertanian berupa perkebunan, peternakan, perikanan, dan persawahan. Adapun obyek agrowisata di Kabupaten Maros adalah sebagai berikut:

  • Kebun Raya Pucak/Taman Safari Pucak: Terletak di Desa Pucak Kecamatan Tompobulu, 20 km dari Kota Turikale atau 39 km dari Kota Makassar. Alamnya yang asri dengan perkebunan yang terbentang luas, sangat cocok menjadi tempat agrowisata dan tempat peristirahatan melepas lelah dengan luas areal 150 Ha, kawasan ini dipersiapkan sebagai lokasi kebun binatang terbesar di kawasan Timur Indonesia.
  • Pucak Teaching Farm/Kawasan Agrowisata Pucak: Merupakan daerah pegunungan yang terletak di Desa Pucak Kecamatan Tompobulu. Luas kawasan agrowisata Pucak adalah 107,5 Ha dengan rencana zoning yang terdiri dari zona pariwisata dan kebudayaan, zona perkebunan, zona pertanian, pzona peternakan, dan zona kehutanan.

Kebun Raya berdasarkan Peraturan Presiden nomor 93 Tahun 2011 adalah kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ (di luar habitat) yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik, atau kombinasi dari pola-pola tersebut untuk tujuan kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan.

Pembangunan Kebun Raya di provinsi-provinsi di seluruh Indonesia dicanangkan oleh pemerintah sebagaimana dalam arahan Presiden RI pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional tanggal 11 Agustus 2004 di Puspitek Serpong, dan telah ditindaklanjuti dengan surat Menteri Riset dan Teknologi nomor 77/M/VIII/2004 tanggal 23 Agustus 2004 kepada seluruh Gubernur untuk merealisasikan pembangunan kebun raya yang dikoordinir oleh LIPI.

Ekowisata[sunting | sunting sumber]

  • Bendungan Pannampu
Secara administratif, Bendungan Pannampu terletak di Dusun Pajjaiyang, Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.
  • Sumber Air Panas Reatoa
Secara administratif, Sumber Air Panas Reatoa terletak di Dusun Reatoa, Desa Bentenge, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros. Selain sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat, juga dijadikan sebagai laboratorium alam, riset biologi, dan ilmu pengetahuan oleh mahasiswa untuk melakukan penelitian. Lokasi sumber air panas ini berjarak sekitar 15 km dari Kota Turikale yang merupakan ibu kota Kabupaten Maros.
  • Bukit Kanari Cenrana
Secara administratif, Bukit Kanari Cenrana terletak di Dusun Malaka, Desa Cenrana Baru, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Suguhan pemandangan indah dari ketinggian bisa dinikmati dari Bukit Kanari. Di sini juga banyak hiasan-hiasan penunjang kegiatan swafoto. Konon, pengunjung akan bertemu dengan jodohnya selepas dari tempat wisata ini.
  • Bukit Teletubbies Maros
Secara administratif, Bukit Teletubbies Maros terletak di Dusun Watang Bengo, Desa Limampoccoe, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Gundukan bukit yang berwarna hijau terlihat sejauh mata memandang. Bentuknya akan membuat kita mengingat masa kecil saat menonton serial Teletubbies. Kesejukannya juga membuat pengunjung betah dan enggan pulang. Kegiatan camping pun cocok untuk dilakukan di tempat wisata ini.
  • Bulu Tombolo Pattiro
Secara administratif, Bulu Tombolo Pattiro terletak di Dusun Pattiro, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.
  • Ekowisata Tabbua
Secara administratif, Ekowisata Tabbua terletak di Lingkungan Balombong, Kelurahan Mattiro Deceng, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros.
  • Helena Sky Bridge Bantimurung
Secara administratif, Helena Sky Bridge Bantimurung terletak di Dusun Bantimurung, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.
  • Penangkaran Kupu-Kupu Bantimurung
Gerbang Wisata Penangkaran Kupu-Kupu Bantimurung di Desa Jenetaesa Kabupaten Maros.
Secara administratif, Penangkaran Kupu-Kupu Bantimurung terletak di Dusun Bantimurung, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Sebagai tempat perkembangbiakan kupu-kupu terbesar di dunia dan mendapat pengakuan dari publik internasional yang membuat tempat ini dijuluki the kingdom of butterfly.
Secara administratif, Wisata Alam Rammang-Rammang terletak di Dusun Rammang-Rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. Wisata Alam Rammang-Rammang menyediakan wisata kuliner cafe, susur sungai, pemandangan menara karst, outbound area, flying fox, susur gua bersejarah, pemandangan pohon lontar dan nipah. Di situs prasejarah Rammang-Rammang terdapat 3 situs gua prasejarah yang masing-masing memiliki peninggalan yang berbeda. Lukisan dinding di gua prasejarah yang ada di Rammang-Rammang menggambarkan aktivitas berburu yang dilakukan masyarakat pesisir, hal ini tergambar dari lukisan perahu, kura-kura, dan ikan. Sungai Pute Rammang-Rammang merupakan salah satu sungai di Kabupaten Maros yang memiliki panorama alam yang indah. Pohon bakau dan nipah yang tumbuh di sisi kiri dan kanan sungai mempercantik kawasan ini, ditambah dengan pemandangan singkapan batu-batu kapur yang menyembul dari dasar sungai dan tersebar di sepanjang alur sungai. Sesekali pengunjung dapat menyaksikan satwa-satwa endemik seperti kera Sulawesi, elang Sulawesi, dan berbagai jenis kupu-kupu. Gugusan pegunungan kapur di Kabupaten Maros ini memiliki pesona yang tak kalah dari negara lain, seperti Cina ataupun Vietnam. Semakin indah dengan hamparan sawah hijau di tengah-tengahnya. Tak hanya itu, di sini kamu bisa menemukan obyek wisata lain seperti Telaga Bidadari, Hutan Batu Kapur, dan Gua Telapak Tangan. Obyek wisata Rammang-Rammang merupakan bagian dari kawasan karst Maros-Pangkep dimana merupakan kawasan karst (kapur) terbesar dan terluas di Indonesia dan terluas kedua di dunia setelah yang di Cina. Para pelancong bisa berfoto dengan latar belakang panorama formasi bebatuan eksotis layaknya di Madagaskar, Afrika.
  • Wisata Padang Loang
Secara administratif, Wisata Padang Loang terletak di Dusun Bentenge, Desa Bentenge, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros. Wisata ini menyediakan tempat camping atau perkemahan, pemandangan danau dan hutan yang masih asri.
  • Wisata Puncak Bulu Saukang
Secara administratif, Wisata Puncak Bulu Saukang terletak di Dusun Balocci, Desa Benteng Gajah, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. Sebagai wisata pendakian, menyajikan pemandangan di titik tertinggi di Kabupaten Maros dan dapat melihat pemandangan Kota Makassar dari jauh.
  • Wisata Puncak Gunung Barro-Barro
Secara administratif, Wisata Puncak Gunung Barro-Barro terletak di Lingkungan Pakalu, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Dengan ketinggian 100 m di atas permukaan laut, dapat melihat pemandangan indah di wilayah Kecamatan Bantimurung bahkan Kecamatan Turikale sebagai ibu kota Kabupaten Maros.
  • Wisata Ta'deang
Secara administratif, Wisata Ta'deang terletak di Dusun Samanggi, Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Sebagai wisata piknik, berkemah, outbound mahasiswa-mahasiswa Makassar. Area yang lapang, sungai yang mengalir sepanjang tahun memberikan kesejukan pada wilayah ini.

Sungai[sunting | sunting sumber]

Sungai Pute di Desa Salenrang Kabupaten Maros.
  • Susur Sungai Pute: Daerah ini subur dengan aliran Sungai Pute yang memiliki lebar 2 sampai 40 meter dan dapat menikmati pesona terang bulan di area pedesaan memanjakan mata.
  • Arung Jeram Soa-Soa Camba
  • Arung Jeram Sungai Bonto Somba

Jumlah Arus Kunjungan Wisatawan[sunting | sunting sumber]

Jumlah arus kunjungan wisatawan mancanegara di Taman Wisata Alam Bantimurung dari tahun ke tahun:

No. Negara Asal Tahun Kunjungan
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
1.  Belanda Steady 554 481 471 380 291 357
2.  Jerman Steady 371 191 278 395 489 684
3.  Prancis Steady 265 149 175 178 225 337
4.  Jepang Steady 253 114 134 154 211 131
5.   Swiss Steady 89 37 23 32 13 Steady 13
6.  Austria Steady 110 71 92 78 37 95
7.  Amerika Serikat Steady 71 18 11 Steady 11 2 33
8.  Australia Steady 102 78 48 18 22 3
9.  Spanyol Steady 66 19 25 9 20 9
10.  Belgia Steady 103 70 140 113 92 109
11.  India Steady 8 4 24 5 6 0
12.  Inggris Steady 148 56 81 6 3 213
13.  Denmark Steady 44 4 14 3 0 Steady 0
14.  Italia Steady 152 41 66 71 39 111
15.  Norwegia Steady 61 14 29 42 6 9
16.  Korea Selatan Steady 92 33 47 103 61 31
17.  Kanada Steady 32 26 Steady 26 28 62 36
Jumlah Steady 2.521 1.406 1.684 1.626 1.579 2.171 Belum Ada Data Steady 3.145 2.710 2.387 2.038 3.159 3.731 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
Sumber Data: Pengelola Taman Wisata Alam Bantimurung & Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros dalam BPS Kabupaten Maros

Jumlah arus kunjungan wisatawan domestik di Taman Wisata Alam Bantimurung dari tahun ke tahun:

Tahun Wisatawan Domestik
2000 Belum Ada Data
2001 Belum Ada Data
2002 Steady 362.548
2003 403.294
2004 442.639
2005 436.884
2006 440.898
2007 480.133
2009 Belum Ada Data
2010 Belum Ada Data
2011 Belum Ada Data
2012 Belum Ada Data
2013 Belum Ada Data
2014 Belum Ada Data
2015 Belum Ada Data
2016 Belum Ada Data
2017 Belum Ada Data
2018 Belum Ada Data
2019 Belum Ada Data
2020 Belum Ada Data
Sumber Data: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros dalam BPS Kabupaten Maros

Jumlah arus kunjungan wisatawan di Taman Wisata Alam Bantimurung dari tahun ke tahun:

Tahun Wisatawan
2000 Belum Ada Data
2001 Belum Ada Data
2002 Belum Ada Data
2003 Belum Ada Data
2004 Belum Ada Data
2005 Belum Ada Data
2006 Belum Ada Data
2007 Belum Ada Data
2008 Belum Ada Data
2009 Steady 667.076
2010 608.330
2011 708.270
2012 600.721/564.751
2013 319.605
2014 358.823
2015 327.996
2016 337.533
2017 309.938
2018 311.751
2019 Belum Ada Data
2020 Belum Ada Data
Sumber Data: Pengelola Taman Wisata Alam Bantimurung dalam BPS Kabupaten Maros

Jumlah arus kunjungan wisatawan di Kolam Renang Bantimurung dari tahun ke tahun:

Tahun Wisatawan
2000 Belum Ada Data
2001 Steady 15.613
2002 3.655
2003 3.358
2004 2.627
2005 3.863
2006 3.100/3.160
2007 3.000
2008 3.230
2009 3.549
2010 3.250
2011 3.540
2012 3.566
2013 3.300
2014 3.365
2015 3.350
2016 4.000
2017 9.469
2018 9.181
2019 Belum Ada Data
2020 Belum Ada Data
Sumber Data: Pengelola Kolam Renang Bantimurung dalam BPS Kabupaten Maros

Jumlah arus kunjungan wisatawan di Taman Prasejarah dan Purbakala Leang-Leang dari tahun ke tahun:

Tahun Wisatawan
2000 Belum Ada Data
2001 Steady 4.302
2002 4.668
2003 3.634
2004 4.030
2005 6.633
2006 8.376/8.466
2007 5.719
2008 6.931
2009 7.899
2010 12.556
2011 12.956/12.723
2012 15.048
2013 17.760
2014 23.577
2015 33.528
2016 34.922
2017 38.183
2018 37.679
2019 Belum Ada Data
2020 Belum Ada Data
Sumber Data: Pengelola Taman Prasejarah dan Purbakala Leang-Leang dalam BPS Kabupaten Maros

Jumlah arus kunjungan wisatawan di Bantimurung Water Park dari tahun ke tahun:

Tahun Wisatawan
2000 Belum Ada Data
2001 Belum Ada Data
2002 Belum Ada Data
2003 Belum Ada Data
2004 Belum Ada Data
2005 Belum Ada Data
2006 Belum Ada Data
2007 Belum Ada Data
2008 Belum Ada Data
2009 Belum Ada Data
2010 Belum Ada Data
2011 Belum Ada Data
2012 Belum Ada Data
2013 Belum Ada Data
2011 Belum Ada Data
2012 Belum Ada Data
2013 Belum Ada Data
2014 Belum Ada Data
2015 Steady 18.609
2016 77.697
2017 85.121
2018 59.576
2019 Belum Ada Data
2020 Belum Ada Data
Sumber Data: Pengelola Bantimurung Water Park dalam BPS Kabupaten Maros

Jumlah arus kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik di Obyek Wisata Rammang-Rammang dari tahun ke tahun:

Tahun Wisatawan Mancanegara Wisatawan Domestik Total
2010 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2011 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2012 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2013 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2014 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2015 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2016 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2017 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2018 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2019 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2020 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
Sumber Data: BPS Kabupaten Maros

Jumlah arus kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik di Kabupaten Maros dari tahun ke tahun:

Tahun Wisatawan Mancanegara Wisatawan Domestik Total
2000 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2001 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2002 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2003 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2004 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2005 Steady 1.791 Steady 466.964 Steady 468.683
2006 1.679 444.489 446.168
2007 2.152 600.865 603.017
2008 2.057 576.924 578.981
2009 3.145 687.067 690.212
2010 2.810 604.430 607.240
2011 2.387 607.267 609.654
2012 2.411 568.081 570.492
2013 3.631 325.361 328.992
2014 3.731 358.823 362.554
2015 4.681 341.558 346.239
2016 1.297 440.102 441.399
2017 1.392 421.482 422.874
2018 1.142 405.681 406.823
2019 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
2020 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data
Sumber Data: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros dalam BPS Kabupaten Maros

Penghargaan dan Prestasi[sunting | sunting sumber]

  1. Medali Perak dan Perunggu kepada Kontingen STAI DDI Maros pada Pekan Olahraga Seni dan Kegiatan Ilmiah (POSKI) II di Kabupaten Sidrap (Juli 2019)
  2. Juara Umum Pra Porda Cabang Olahraga Panahan tingkat Sulawesi Selatan di Kota Parepare (November 2017)
  3. Juara II Turnamen Pencak Silat Kategori Pelajar (SMA Negeri 1 Maros) pada Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-27 FIK UNM (26 September 2010)
  4. Juara III (bersama Kabupaten Kepulauan Selayar II) di Kejuaraan Sepak Takraw Sulsel 2019 (08 September 2019)
  5. Piagam Penghargaan Adiwiyata Nasional 2013 Kepada SMA Negeri 4 Bantimurung Maros dari Menteri Lingkungan Hidup RI bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (2013)
  6. Piagam Penghargaan sebagai Apresiasi dari Gubernur Sulsel atas capaian opini WTP Pemerintah Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2013
  7. Penghargaan Lembaga Pengadaan Barang/Jasa (LKPP) kategori Komitmen Pencapaian INPRES No. 2 Tahun 2014 pada aksi pelaksanaan Transportasi dan Akuntabilitas dalam Mekanisme Pengadaan Barang/Jasa
  8. Lima besar Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah Pekerjaan Umum (PKPD-PU) Bidang Penataan Ruang tahun 2014
  9. Tokoh Peduli Pajak dari Direktorat Jenderal Pajak Wilayah Sulselbar Tahun 2014
  10. Tropi Penghargaan sebagai kabupaten terbaik kedua Tingkat Nasional dalam Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah Bidang Pekerjaan Umum (PKPD-PU)
  11. Piagam Penghargaan Unit Layanan Percontohan (ULP) Percontohan Nasional
  12. Piagam Penghargaan Peningkatan Produksi Beras Diatas 5 % dari Presiden Republik Indonesia
  13. Piagam Penghargaan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dari Menteri Pertanian
  14. Tropi Terbaik III Kinerja Tata Ruang dari Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan
  15. Piagam Penghargaan dari Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia atas prestasi kinerja dalam pelaksanaan “Pengendalian Pemanfaatan Ruang”
  16. Piagam Penghargaan Terbaik II Penyetoran Iuran Wajib Tespen PNS dari PT Tespen
  17. Tropi Terbaik III Pameran APKASI Internasional Trade and Invesment Summit (AITIS) dan APKASI
  18. Piagam Penghargaan Kepedulian Mengamankan dan Melindungi Wilayah Taman Nasional Batimurung Bulusaraung dari Menteri Kehutanan
  19. Piagam Penghargaan Pencapaian Target Perekaman E-KTP Lebih Cepat dari Menteri Dalam Negeri
  20. Penghargaan Lencana Melati dari Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
  21. Penghargaan Anugerah Information Communication Technology (ICT) Pura dari Menteri Komunikasi dan Informatika sebagai kategori Penerapan Informasi Teknologi
  22. Piagam Penghargaan Sepuluh Terbaik Penerima Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan dari Gubernur Sulawesi Selatan
  23. Piagam Penghargaan Penanaman Satu Miliar Pohon dari Gubernur Sulawesi Selatan Tahun 2012
  24. Piagam Penghargaan Komitmen Menjaga dan Memelihara Lingkungan dari Koalisi Peduli Lingkungan Hidup Maros
  25. Piagam Penghargaan Pengelolaan Keuangan dan Pemerintahan yang Baik dari Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kabupaten Maros
  26. Meraih penghargaan sebagai kabupaten terbaik kedua tingkat nasional atas prestasi dalam Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah di bidang Pekerjaan Umum (PKPD-PU) dalam sub bidang penataan ruang
  27. Piagam Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Sulawesi Selatan atas partisipasi dan Kemitraannya terhadap PWI Sulawesi Selatan sehingga wartawan dapat berakses dalam keterbukaan informasi
  28. Penghargaan dari koran Harian Pare Pos sebagai Top Narasumber yang dinilai memiliki dedikasi dan kepedulian mendorong keterbukaan informasi dalam memajukan pembangunan demokrasi dan kemajuan daerah.
  29. Sertifikat dan Piagam Penghargaan Adipura (Kategori Kota Kecil) dari Menteri Lingkungan Hidup Tahun 2009 (5 Juni 2009)
  30. Top 3 Pada Otonomi Award 2009 (Kategori Daerah Menonjol Pada Pemerataan Ekonomi) dari The Fajar Institute of Pro Otonomi (FIPO) Tahun 2009 (10 November 2009)
  31. Penghargaan dari Presiden RI Tahun 2009 atas Keberhasilan Kabupaten Maros dalam Peningkatan Swasembada Beras (31 Desember 2009)
  32. Penghargaan Anugerah Sekompak Tahun 2010 dari Presiden RI (24 Maret 2010)
  33. Piagam Penghargaan Adipura (Kategori Kota Kecil) dari Menteri Lingkungan Hidup Tahun 2011 (13 Juni 2011)
  34. Penghargaan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2011 dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan (28 Mei 2012)
  35. Piagam Penghargaan Adipura (Kategori Kota Kecil) dari Menteri Lingkungan Hidup Tahun 2012 (5 Juni 2012)
  36. Penghargaan Berupa Piagam dan Piala Adiwiyata Mandiri kepada SMP Negeri 2 Maros, Perwakilan Kabupaten Maros dari Menteri Lingkungan Hidup RI Sebagai Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan Tahun 2012 (5 Juni 2012)
  37. Penghargaan Silver Trophy Pada Otonomi Award 2012 (Kategori Lingkungan Hidup) dari The Fajar Institute of Pro Otonomi (FIPO) Tahun 2012 (30 Juni 2012)
  38. Penghargaan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2012 dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan (16 April 2013)
  39. Penghargaan Piala Adipura (Kategori Kota Kecil) dari Menteri Lingkungan Hidup Tahun 2013 (10 Juni 2013)
  40. Penghargaan Sekolah Adiwiyata Mandiri kepada SMP Negeri 2 Maros, Perwakilan Kabupaten Maros dari Menteri Lingkungan Hidup RI Sebagai Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan Tahun 2013 (10 Juni 2013)
  41. Penghargaan Manggala Karya Kencana dari Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2013 (4 Juli 2013)
  42. Penghargaan sebagai Kabupaten Terinovatif pada Innovative Government Award (IGA) 2013 (Kategori Tata Kelola Pemerintahan) dari Menteri Dalam Negeri RI Tahun 2013 (3 Desember 2013)
  43. Penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelasan (WTP-DPP) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2013 dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan (17 April 2014)
  44. Penghargaan KUA Teladan kepada KUA Kecamatan Mandai, Perwakilan Kabupaten Maros dari Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan (29 April 2014)
  45. Penghargaan Piala Adipura (Kategori Anugerah Adipura Kota Kecil) dari Menteri Lingkungan Hidup Tahun 2014 (3 Juni 2014)
  46. Piagam Penghargaan dari Menteri Keuangan RI atas capaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Pemkab Maros Tahun Anggaran 2013 (10 September 2014)
  47. Sertifikat dan Piagam Penghargaan kepada KPP Pratama Kabupaten Maros sebagai Kantor Pelayanan Percontohan Terbaik Nasional di Lingkungan Kementerian Keuangan RI dari Menteri Keuangan RI Tahun 2014 (4 November 2014)
  48. Tropi dan Piagam Penghargaan National Procurement Award dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah atas Layanan Pengadaan yang memiliki kinerja terbaik Tahun 2014 (18 November 2014)
  49. Tropi dan Piagam Penghargaan pada Inovasi Manajemen Perkotaan (IMP) Award sebagai juara 1 dengan predikat sangat baik (Kategori Penataan Padagang Kaki Lima) dari Menteri Dalam Negeri RI Tahun 2015 (12 Maret 2015)
  50. Penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian Tanpa Paragraf Penjelasan (WTP-TPP) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2014 dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan (10 April 2015)
  51. Penghargaan sebagai Kabupaten Digital pada Indonesia Digital Society Award (IDSA) Tahun 2015 dari Menteri Komunikasi dan Informatika RI (6 Mei 2015)
  52. Penghargaan Sekolah Adiwiyata Mandiri kepada SMA Negeri 4 Bantimurung, Perwakilan Kabupaten Maros dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Sebagai Sekolah Berbudaya Lingkungan dan Berhasil Mendidik Siswa Menjadi Individu yang Cinta dan Bertanggung Jawab Terhadap Lingkungan Hidup Tahun 2014 (5 Juni 2015)
  53. Penghargaan Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional kepada KP-RI Amanah (Kopemda) Kabupaten Maros dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI Tahun 2015 (12 Juli 2015)
  54. Penghargaan Piala Adipura (Kategori Anugerah Adipura Kota Kecil) dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2015 (23 November 2015)
  55. Piagam dan Piala Penghargaan sebagai Kabupaten Sehat (Kategori Swasti Saba Padapa) dari Menteri Kesehatan RI Tahun 2015 (27 November 2015)
  56. Juara 1 Turnamen Sepakbola di Liga Danone Nations Cup (DNC) 2016 Regional Sulawesi kepada SSB Bina Putra Bontoa, Perwakilan Kabupaten Maros Tahun 2016 (17 Januari 2016)
  57. Medali Emas Cabang Olahraga Bola Voli Putri kepada Atlet Kontingen Kabupaten Maros pada ajang Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017 (27 April 2016)
  58. Medali Emas Cabang Olahraga Renang Kategori 50 Meter Gaya Punggung kepada Atlet Kontingen Kabupaten Maros pada ajang Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017 (27 April 2016)
  59. Medali Emas Cabang Olahraga Renang Kategori 100 Meter Gaya Dada Putra kepada Atlet Kontingen Kabupaten Maros pada ajang Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017 (27 April 2016)
  60. Medali Emas Cabang Olahraga Renang Kategori 100 Meter Gaya Dada Putri kepada Atlet Kontingen Kabupaten Maros pada ajang Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017 (27 April 2016)
  61. Penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2015 dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan (27 Mei 2016)
  62. Penghargaan Piala Adipura (Kategori Adipura Buana) dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2016 (22 Juli 2016)
  63. Penghargaan Satya Lencana Pembangunan kepada Bupati Maros dari Presiden RI atas keberhasilan kepala daerah melakukan pembangunan penduduk Tahun 2016 (30 Juli 2016)
  64. Penghargaan pada Indonesia Attractiveness Award (IAA) (Kategori Kabupaten Potensial) dari Menteri Komunikasi dan Informatika RI Tahun 2016 (22 September 2016)
  65. Piagam Penghargaan sebagai Pembina Koperasi UMKM Terbaik Kepada Pemerintah Kabupaten Maros dari Gubernur Sulawesi Selatan atas berperan aktif dengan kesungguhan, sikap, dan upaya dalam mewujudkan pembinaan dan kepedulian pengembangan koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah di Kabupaten Maros Tahun 2016 (19 Oktober 2016)
  66. Penghargaan Anugerah Siddhakarya (Kategori Usaha Kecil) kepada Perwakilan Usaha Kecil Kabupaten Maros dari Gubernur Sulawesi Selatan Tahun 2016 (14 Desember 2016)
  67. Piagam Penghargaan dari Menteri Keuangan RI atas capaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Pemkab Maros Tahun Anggaran 2015 (20 Desember 2016)
  68. Penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) (Kategori Madya) Tahun 2016 dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (21 Desember 2016)
  69. Penghargaan sebagai Rumah Sakit Menuju Ramah Anak kepada RSUD Salewangang Maros dari Gubernur Sulawesi Selatan (27 Desember 2016)
  70. Penghargaan sebagai Puskesmas yang Ramah Anak kepada Puskesmas Turikale dari Gubernur Sulawesi Selatan (27 Desember 2016)
  71. Penghargaan sebagai Inisiator Sekolah Ramah Anak kepada SMP Negeri 2 Maros dari Gubernur Sulawesi Selatan (27 Desember 2016)
  72. Medali Emas pada ajang Nasional Prime Science Competition Se-Indonesia (Kategori Individu Bahasa Inggris) kepada Nafizah Nadine Syahrani, Perwakilan Kabupaten Maros Tahun 2016 (16 Januari 2017)
  73. Medali Emas pada ajang Nasional Prime Science Competition Se-Indonesia (Kategori Individu Bahasa Inggris) kepada Nafizah Nadine Syahrani, Perwakilan Kabupaten Maros Tahun 2016 (16 Januari 2017)
  74. Medali Perunggu pada ajang Nasional Prime Science Competition Se-Indonesia (Kategori Tim Bahasa Inggris) kepada Aidul Fitra Ramadhan, Muh. Nur Iksan, Alifah Ummu Zakiyah, Nurul Aulyah Dhiensny, dan Nafizah Nadine Syahrani, Perwakilan Kabupaten Maros Tahun 2016 (16 Januari 2017)
  75. Medali Perunggu pada ajang Nasional Prime Science Competition Se-Indonesia (Kategori Individu Biologi) kepada Astrid Puspa Kusuma Arif, Perwakilan Kabupaten Maros Tahun 2016 (16 Januari 2017)
  76. Piala Penghargaan pada ajang Nasional Prime Science Competition Se-Indonesia kepada SMA Negeri 1 Maros, Perwakilan Kabupaten Maros Tahun 2016 (16 Januari 2017)
  77. Penghargaan dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI atas Penyelenggaraan Pelayanan Publik Terbaik Tahun 2017 (2 Maret 2017)
  78. Penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2016 dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan (23 Mei 2017)
  79. Penghargaan Piala Adiwiyata Mandiri Kepada SMP Negeri 5 Mandai, Perwakilan Kabupaten Maros dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Atas Keberhasilan Mendidik Siswa Menjadi Individu Yang Cinta dan Bertanggung Jawab Terhadap Lingkungan Hidup Tahun 2017 (2 Agustus 2017)
  80. Penghargaan Piala Adipura (Kategori Adipura Kencana Kota Kecil) dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017 (2 Agustus 2017)
  81. Penghargaan PUPR Kepada Pemerintah Kabupaten Maros dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atas prestasi dalam memberikan kemudahan perizinan pembangunan perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Tahun 2017 (11 Agustus 2017)
  82. Penghargaan sebagai Juara Harapan III (kategori Juara Lomba Kelurahan) Provinsi Sulawesi Selatan kepada Kelurahan Raya, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros Tahun 2017 (21 Agustus 2017)
  83. Piala & Piagam penghargaan sebagai Kabupaten Sehat (Kategori Swasti Saba Wiwerda) dari Menteri Kesehatan RI Tahun 2017 (28 November 2017)
  84. Piagam Penghargaan dari Kepala BPJS Kesehatan Cabang Makassar Tahun 2018 atas Dukungan Program JKN-KIS (8 Januari 2018)
  85. Penghargaan sebagai Role Model Pelayanan Publik dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) (25 Januari 2018)
  86. Juara 2 pada ajang Indonesian Stars Ethnic oleh Parfi kepada Ariyansa Saribunga, Perwakilan Kabupaten Maros Tahun 2018 (7 Februari 2018)
  87. Penghargaan Tim Marching Band MIN Maros, Perwakilan Kabupaten Maros sebagai Juara 1 Kategori Kostum Terbaik dalam Ajang Marchingband Se-Sulawesi Selatan Tahun 2018 (25 Maret 2018)
  88. Penghargaan Tim Marching Band MIN Maros, Perwakilan Kabupaten Maros sebagai Juara 1 Kategori Favorit dalam Ajang Marchingband Se-Sulawesi Selatan Tahun 2018 (25 Maret 2018)
  89. Penghargaan Tim Marching Band MIN Maros, Perwakilan Kabupaten Maros sebagai Juara Umum Harapan 2 dalam Ajang Marchingband Se-Sulawesi Selatan Tahun 2018 (25 Maret 2018)
  90. Penghargaan pada BKPRMI Award kepada Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Maros dari Menteri Sosial RI atas capian telah membangkitkan semangat remaja dalam syiar Islam Tahun 2018 (23 April 2018)
  91. Penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2017 dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan (25 Mei 2018)
  92. Juara I pada Festival Olahraga Tradisional dan Rekreasi tingkat Sulawesi Selatan 2018 (30 Juni 2018)
  93. Penghargaan sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2018 (23 Juli 2018)
  94. Penghargaan Lencana Dharma Bakti kepada Ketua DPRD Kabupaten Maros dari Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Sulsel Tahun 2018 (28 Agustus 2018)
  95. Penghargaan Bidang Kesehatan Nasional sebagai Predikat Terbaik Kedua Tahun 2018 (29 Agustus 2018)
  96. Penghargaan Kepala Daerah Inovatif (KDI) 2018 di bidang Infrastruktur dan Pembangunan dari Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (30 Agustus 2018)
  97. Penghargaan juara 1 kategori Pentas Seni dalam Jambore Ajang Kreativitas Genre Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2018 (31 Agustus 2018)
  98. Penghargaan juara 4 kategori Lomba Kreativitas Majalah Dinding dalam Jambore Ajang Kreativitas Genre Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2018 (31 Agustus 2018)
  99. Juara III Pemilihan Duta Wisata Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018 (28 Oktober 2018)
  100. Tropi dan Piagam Penghargaan PKK Tingkat Sulsel kepada Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Maros dari Gubernur Sulawesi Selatan Tahun 2018 (4 September 2018)
  101. Penghargaan Medali Emas Cabang Olahraga Bola voli Putri kepada Tim Bola Voli Putri Maros dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) tingkat Sulawesi Selatan Tahun 2018 (8 September 2018)
  102. Penghargaan juara 2 kategori Stand Terbaik dalam ajang Pameran Kerajinan Nasional Daerah dan Produk Ekonomi Kreatif Nusantara (9 September 2018)
  103. Penghargaan runner-up II kategori Lomba Busana Siang dalam ajang Pameran Kerajinan Nasional Daerah dan Produk Ekonomi Kreatif Nusantara (9 September 2018)
  104. Penghargaan juara 2 kategori Lomba Kue Tradisional Khas Bugis dalam ajang Pameran Kerajinan Nasional Daerah dan Produk Ekonomi Kreatif Nusantara (9 September 2018)
  105. Medali Emas pada Porda Sulsel XVI 2018 (Cabor Tinju Putra kelas 81 kg) kepada Dianto Sitorus, Perwakilan Atlet Kabupaten Maros Tahun 2018 (29 September 2018)
  106. Medali Emas pada Porda Sulsel XVI 2018 (Cabor Tinju Putra kelas 56 kg) kepada Jhny Saputra, Perwakilan Atlet Kabupaten Maros Tahun 2018 (29 September 2018)
  107. Medali Emas pada Porda Sulsel XVI 2018 (Cabor Tinju Putra kelas 60 kg) kepada Idris, Perwakilan Atlet Kabupaten Maros Tahun 2018 (29 September 2018)
  108. Medali Emas pada Porda Sulsel XVI 2018 (Cabor Tinju Putra kelas 64 kg) kepada Daud, Perwakilan Atlet Kabupaten Maros Tahun 2018 (29 September 2018)
  109. Medali Perak pada Porda Sulsel XVI 2018 (Cabor Tinju Putra kelas 75 kg) kepada Ricko Tampone, Perwakilan Atlet Kabupaten Maros Tahun 2018 (29 September 2018)
  110. Medali Perunggu pada Porda Sulsel XVI 2018 (Cabor Tinju Putra kelas 69 kg) kepada Agus M. Manulang, Perwakilan Atlet Kabupaten Maros Tahun 2018 (29 September 2018)
  111. Piagam Penghargaan dari Menteri Keuangan RI atas capaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Pemkab Maros Tahun Anggaran 2017 (18 Oktober 2018)
  112. Juara Umum 2 kepada SMP PGRI 3 Maros, Perwakilan Kabupaten Maros pada ajang Smadas Action Part 3 se-Mamminasata Tahun 2018 (21 Oktober 2018)
  113. Penghargaan juara 3 Pemilihan Duta Wisata Sulsel 2018 (28 Oktober 2018)
  114. Penghargaan National Procurement Award 2018 (Kategori Unit kerja Pengadaan Barang dan Jasa) dari Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) Tahun 2018 (8 November 2018)
  115. Piagam Penghargaan dari Gubernur Sulawesi Selatan Atas Capaian Peringkat Dua Pengelola Data SDMK Terbaik Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018 (8 November 2018)
  116. Piagam Penghargaan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Maros (Kepala Desa Simbang) dari Gubernur Sulawesi Selatan atas Peringkat Ketiga Penilaian Asuhan Mandiri Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga) dan Akupresur Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018 (14 November 2018)
  117. Piagam Penghargaan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Maros dari Gubernur Sulawesi Selatan atas Peringkat kedua Pengelola Data Sumber Daya Manusia Kesehatan Terbaik Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018 (14 November 2018)
  118. Penghargaan dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI atas Pembenahan dan Peningkatan Pelayanan Publik Tahun 2018 (27 November 2018)
  119. Penghargaan kepada Kerlip Indonesia Timur Kabupaten Maros sebagai sekolah ramah anak dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2018 (16 Desember 2018)
  120. Penghargaan kepada Bagus Dibyo Sumantri sebagai fasilitator Kerlip Indonesia Timur Kabupaten Maros sebagai sekolah ramah anak dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2018 (16 Desember 2018)
  121. Penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) (Kategori Madya) Tahun 2018 dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (19 Desember 2018)
  122. Sertifikat akreditasi untuk Perpustakaan Daerah Maros dari Tim Akreditasi Perpustakaan Nasional RI sebagai Perpustakaan Berstandar Nasional dengan predikat Baik Tahun 2018 (31 Desember 2018)
  123. Penghargaan sebagai Kabupaten Peduli Hak Asasi Manusia (HAM) dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Tahun 2018 (31 Desember 2018)
  124. Penghargaan Piala Adipura (Kategori Kota Kecil) dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2018 (14 Januari 2019)
  125. Peserta Puteri Indonesia 2019 kepada Ratu Fatimah Gani, Perwakilan Kabupaten Maros dan Provinsi Sulawesi Selatan (8 Maret 2019)
  126. Raihan 2 Medali Emas dan 1 Medali Perak kepada Tim Panahan Maros pada Kejuaraan Panahan Makassar Terbuka Tingkat Nasional Tahun 2019 (10 Maret 2019)
  127. Piala penghargaan juara 2 nasional kompetisi ketangkasan dan keahlian anggota pemadam kebakaran kategori Survival di Pekanbaru (11 Maret 2019)
  128. Juara 1 Turnamen Sepakbola di Liga Danone Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan kepada SSB Maros, Perwakilan Kabupaten Maros Tahun 2019 (11 Maret 2019)
  129. Juara 1 Turnamen Sepakbola di MILO Football Championship Makassar 2019 kepada SD Negeri 133 Inpres Talawe Maros, Perwakilan Kabupaten Maros Tahun 2019 (7 April 2019)
  130. Penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2018 dari Badan Pemeriksa Keuangan (Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan (28 Mei 2019)
  131. Tropi Juara 3 Turnamen Liga Pelajar Berjenjang Piala Menpora - FOSSBI Sulsel di Kabupaten Enrekang kepada Klub SSB Putra Maros, Perwakilan Kabupaten Maros Tahun 2019 (4 Juli 2019)
  132. Penghargaan juara 1 kategori stand paling kreatif dalam ajang Asosiasi Pemerintah Kabupaten seluruh Indonesia (Apkasi) (5 Juli 2019)
  133. Penghargaan sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2019 (23 Juli 2019)
  134. Pemenang Film Pendek Terbaik Kategori Khusus kepada Komunitas Maros Film Action pada Pekan Film Makassar Ke-5 2019 (06 Agustus 2019)
  135. Piagam Penghargaan UHC (Universal Health Coverage) dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dari Kepala BPJS Kesehatan Cabang Makassar (12 Agustus 2019)
  136. Penghargaan Gerakan Pramuka Lencana Panca Warsa 4 kepada Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kabupaten Maros dari Gubernur Sulawesi Selatan Tahun 2018 (18 Agustus 2019)
  137. Penghargaan Anugerah Iptek dan Inovasi Kategori Predikat 1 Prayoga Sala Tahun 2019 kepada Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Kabupaten Maros dari Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (28 Agustus 2019)

Event dan Acara[sunting | sunting sumber]

  • Turnamen Tenis Lapangan "Kapolres Cup Polres Maros" (Mei 2018)
  • Turnamen Catur "Kapolres Cup Polres Maros" (Mei 2018)
  • Kursus Bahasa Inggris oleh Dinas Pendidikan dan SEC Kabupaten Maros (Agustus-September 2019)
  • Ajang Study Karya Bakti Karang Taruna (SKBKT) Sulawesi Selatan 2016 di Bantimurung, Kabupaten Maros (September 2016)
  • Turnamen Sepak Takraw "Kapolres Cup I Polres Maros" (Mei 2017)
  • Turnamen Sepakbola Antar Kampung "Karang Taruna Cup III Desa Alatengae 2019" (September 2019)
  • Festival Film Pelajar Maros 2013
  • Festival Ramadhan Maros
  • Festival Musik Maros
  • Festival Akustik Pelajar
  • Turnamen Sepakbola Antar Kampung "Nisombalia Cup 2017" (Juli-Agustus 2017)
  • Turnamen Sepakbola Antar Kampung "Nisombalia Cup 2018" (Agustus-September 2018)
  • Pemilihan Dara dan Daeng Kabupaten Maros Tahun 2011 (25 Maret 2011)
  • Pemilihan Dara dan Daeng Kabupaten Maros Tahun 2012
  • Pemilihan Dara dan Daeng Kabupaten Maros Tahun 2013
  • Workshop Seni dan Musik Tradisional Maros
  • Lomba Aru dan Gendang Tradisional
  • Pameran Seni Budaya
  • Dialog Seniman dan Budayawan Se-Kabupaten Maros
  • Lomba Mewarnai KB/TK, SD Se-Kabupaten Maros
  • Promo Album Solo Guitar Moexin A Life Inspiration
  • Klinik Guitar
  • Workshop Music (Makassar, Maros, Pangkep)
  • Festival Teater Pelajar 2012
  • Festival Bantimurung 2012 (01 Juli 2012)
  • Kampung Budaya Nusantara 2012
  • Workshop Fotografi
  • Workshop Sejarah dan Budaya Pelajar
  • Lomba Permainan Rakyat/Tradisional
  • Lontara Musik Festival
  • Festival Aru dan Gendang Tradisional
  • Pameran Foto dan Lukisan Budaya
  • Festival Seni Budaya 2013
  • Seminar Antologi puisi "Kalumbampa" dan Launching Buku Antologi Puisi
  • Turnamen Sepakbola Antar Kampung Kabupaten Maros & Kota Makassar "Nisombalia Cup 2018 Kabupaten Maros" (27 Agustus 2018)
  • Turnamen Sepakbola Antar Kecamatan "Bupati Cup V 2017 Kabupaten Maros" (17 Juli 2017)
  • Turnamen Sepakbola Antar Kampung "PKB Maros Cup I 2017 Kabupaten Maros" (30 Oktober 2017)
  • Operasi Simpatik 2017 Kabupaten Maros (01-21 Maret 2017)
  • Malam Puncak Pemilihan Duta Anti Narkoba Maros 2017 (2017)
  • Malam Puncak Pemilihan Duta Anti Narkoba Maros 2018 (11 November 2018)
  • Malam Puncak Pemilihan Duta Anti Narkoba Maros 2019 (2019)
  • Gerak Jalan Santai "Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2019"
  • Festival Lampion Merah Putih 2019 di Mattiro Deceng (Agustus 2019)
  • Safari Ramadan Maros 2017
  • Festival Film Pelajar Maros 2010 (7 Desember 2010)
  • Workshop Pembelajaran Seni Tari dan Musik Tradisional Se-Kabupaten Maros (11 Januari 2012)
  • Kampung Lontara 2013 (27 November 2013)
  • Kemah Seni dan Budaya 2013 (28 November 2013)
  • Turnamen Sepakbola Antar Kecamatan "Bupati Cup 2014 Kabupaten Maros" (25 Mei-09 Juni 2014)
  • Kompetisi Road Race Bupati Cup Maros 2015 (09-10 Mei 2015)
  • Karnaval Budaya Maros 2015 di Area Kota Maros (11 Juni 2015)
  • Rammang-Rammang Full Moon Festival 2015 (04-05 Agustus 2015)
  • Pemilihan Dara dan Daeng Kabupaten Maros Tahun 2016 (02 April 2016)
  • Karnaval Budaya Maros 2016 di Area Kota Maros (26 Juli 2016)
  • Turnamen Sepakbola Antar Kecamatan "Bupati Cup IV 2016 Kabupaten Maros" (30 Juli-16 Agustus 2016)
  • Event Lomba Lari "Rammang-Rammang Trail Run 6 K 2016" (31 Juli 2016)
  • Festival Bantimurung 2016 di Area Taman Wisata Bantimurung (07 Agustus 2016)
  • Maros Fun Bike 2016 (07 Agustus 2016)
  • Pesta Rakyat Maros 2016 di Area PTB Maros (13 Agustus 2016)
  • Lomba Motor Trail "Trathonk One Day Trail Adventure" (21 Agustus 2016)
  • Lomba HUT Ke-45 Korpri Kabupaten Maros (21-25 November 2016)
  • Pemilihan Dara dan Daeng Kabupaten Maros Tahun 2017 (06 Maret-15 April 2017)
  • Kompetisi Sepak Takraw Purnama di Lapangan Sepak Takraw Terminal Marusu (03-15 April 2017)
  • Gerakan Maros Mengaji (Gemar Ngaji) di Masjid Agung Maros (11 Juni 2017)
  • Event Advokasi Ketersediaan Data Gender dan Anak (03 Agustus 2017)
  • Lomba Olahraga Tradisional Maros di Lapangan Pallantikang (12 Agustus 2017)
  • Parade 72 Lampion Merah Putih (17 Agustus 2017)
  • Lomba Dayung di Sungai Maros (17 Agustus 2017)
  • Lomba Cerdas Cermat Antar Kepala Desa dan Lurah Peringatan Hari Anti Korupsi Internasional di Kabupaten Maros (14 Desember 2017)
  • Pemilihan Dara dan Daeng Kabupaten Maros Tahun 2018 (17 Maret-23 April 2018)
  • Turnamen Sepakbola Antar Kecamatan "Bupati Cup VI 2018 Kabupaten Maros" (11-20 April 2018)
  • Turnamen Sepak Takraw "Kapolres Cup II Polres Maros" (06-12 Mei 2018)
  • Event Lomba Lari "Maros 10K 2018" (08 Juli 2018)
  • Sosialisasi Granat DPAC Moncongloe (23 Juli 2018)
  • International Mangrove Day (IMD) 2018 Kurri Caddi (26 Juli 2018)
  • Turnamen Futsal "Grand Mall Cup 2018" (01-13 Agustus 2018)
  • Study Karya Bakti Karang Taruna (SKBKT) Kabupaten Maros 2018 (2-5 Agustus 2018)
  • Lomba Dayung di Sungai Maros (17 Agustus 2018)
  • Lomba Nyanyi Tingkat SD dan Baca Puisi Tingkat SD/SMP/SMA Sederajat Se-Kabupaten Maros 2018 (02 September 2018)
  • Turnamen Sepak Takraw "Desa Ampekale Cup 2018" (5-16 September 2018)
  • Turnamen Sepakbola Antar Kampung "Simbang Cup VI" (20 September-02 Oktober 2018)
  • Malam Puncak Pemilihan Duta Anti Narkoba Maros Angkatan II 2018-2019 (10 November 2018)
  • Turnamen Futsal Antar Kecamatan Se-Kabupaten Maros "Turnamen Futsal Maros 2018" (12-14 November 2018)
  • Festival Film Pendek Maros 2018 (21 Desember 2018)
  • Caving Vertical-Horizontal Leang Pattah (24-25 Desember 2018)
  • Sepeda Nusantara 2018 Kabupaten Maros (25 November 2018)
  • Pemilihan Dara dan Daeng Kabupaten Maros Tahun 2019 (17 Maret-23 Juni 2019)
  • Perayaan Pesta Panen Raya "Katto Boko" (03 April 2019)
  • Festival dan Kongres Anak Kabupaten Maros 2019 (03-04 Mei 2019)
  • Maros Ramadhan Fair 1440 H (25 Mei 2019)
  • Pawai Takbir Keliling 1 Syawal 1440 H Kabupaten Maros (04 Juni 2019)
  • Pawai Obor Kelurahan Leang-Leang (04 Juni 2019)
  • Gema Takbir dan 1000 Obor Singara Cappa Bulo Passereang Kecamatan Bontoa (04 Juni 2019)
  • Pendidikan Perfilman "Maros Bicara Film 2019" (13 Juni 2019)
  • Festival Gendang dan Kecapi di Taman Wisata Bantimurung (23 Juni 2019)
  • Turnamen Sepakbola Antar Kecamatan "Bupati Cup VII 2019" (09-26 Juli 2019)
  • Event Lomba Lari "Maros Half Marathon 2019" (14 Juli 2019)
  • Maros Movie Night 2019 (20 Juli 2019)
  • Futsal Tournament 2019 (21 Juli 2019)
  • Penanaman bibit mangrove di Pantai Kuri Caddi "Lingkar Bakau 2019" (26-28 Juli 2019)
  • Gerakan Maros Mengaji di Hutan Kota Turikale (08 Agustus 2019)
  • Semarak Kemerdekaan RI Ke-74 Desa Pa'bentengan (12-18 Agustus 2019)
  • Malam Akrab HUT Pramuka Ke-58 Simbang Maros "Ingatan Kenangan Rumah Kain" (13-14 Agustus 2019)
  • Festival Republik Bambu di Obyek Wisata Kampoeng Bambu Toddopulia (16-17 Agustus 2019)
  • Event HUT RI Ke-74 Sahabat Alam Mattiro Deceng (17 Agustus 2019)
  • Lomba Dayung di Sungai Maros (17 Agustus 2019)
  • Adat Tudang Sipulung Silaturahmi Keluarga Besar Karaeng Turikale (23 Agustus 2019)
  • Festival Layang-Layang "The Beauty of Harmony" 2019 Maros (25 Agustus 2019)
  • Dongeng Satu Buku Sejuta Ilmu di SD Inpres 173 Mangai Kecamatan Bantimurung (04 September 2019)
  • Penobatan Raja atau Karaeng Turikale Ke-9 (05 September 2019)
  • Turnamen Sepakbola Pucak Cup I 2019 (7 September-5 Oktober 2019)
  • Pameran Budaya "Accora Bulan Ri Batubassi" (13-17 September 2019)
  • Pendongeng Puguh Herumawan bersama Siswa-Siswi Kabupaten Maros (23 September 2019)
  • Sosialisasi Undang-Undang Keormasan oleh Badan Kesbangpol Kabupaten Maros (3 Oktober 2019)

Daftar hari penting[sunting | sunting sumber]

  • 17 Januari: Hari Bersejarah Kepahlawanan (17 Januari 1946)
  • 9 Mei: Kota Turikale Ditetapkan Sebagai Ibu Kota Kabupaten Maros (9 Mei 2011)
  • 21 Mei: Berdirinya Persekutuan Adat Lima Kerajaan yang disebut “Toddolimaya ri Marusu” (21 Mei 1977)
  • 4 Juli: Hari Jadi Kabupaten Maros (4 Juli 1959)
  • 3 Agustus: Pembentukan Kecamatan Lau, Kecamatan Moncongloe, dan Perubahan Nama Kecamatan Maros Utara Menjadi Kecamatan Bontoa (3 Agustus 2001)
  • 4 Oktober: Hari Bersejarah Keagamaan (4 Oktober 1834)
  • 17 Oktober: Hari Jadi Maros (17 Oktober 1471)

Perkumpulan/Organisasi/Lembaga/Komunitas[sunting | sunting sumber]

  • Aisyiyah Kabupaten Maros
  • Aliansi Toddolimayya Ri Marusu
  • Anak Muda Abdi Alam (Ambala) Marampesu Kelurahan Boribellaya
  • Asosiasi Futsal Kabupaten (AFK) Maros
  • Asosiasi Majelis Taklim Indonesia (AMTI) Kabupaten Maros
  • Asosiasi Pecinta Sepak Takraw (Apsta) Kabupaten Maros
  • Asosiasi Kabupaten Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Askab PSSI) Kabupaten Maros
  • Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Maros
  • Badan Kerjasama Kesenian Indonesia (BKKI) Kabupaten Maros
  • Badan Kerjasama Perguruan Swasta Kabupaten Maros
  • Badan Pengurus Pusat Orang Indonesia (BPP OI) Kabupaten Maros
  • Club Rimba Runners Maros
  • Darul Dakwah wal-Irsyad (DDI) Kabupaten Maros
  • Deskranasda Kabupaten Maros
  • Dewan Kerja Ranting (DKR) Bantimurung
  • Dewan Kerja Ranting (DKR) Bontoa
  • Dewan Kerja Ranting (DKR) Cenrana
  • Dewan Kerja Ranting (DKR) Marusu
  • Dewan Kerja Ranting (DKR) Simbang
  • Dewan Kerja Ranting (DKR) Turikale
  • Dewan Pendidikan Kabupaten Maros
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Bantimurung
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Bontoa
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Camba
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Cenrana
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Lau
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Mallawa
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Mandai
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Maros Baru
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Marusu
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Moncongloe
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Simbang
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Tanralili
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Tompobulu
  • Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kecamatan Turikale
  • Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kabupaten Maros
  • Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Kabupaten Maros
  • Forum Anak Butta Salewangang (FABS) Kabupaten Maros
  • Forum Anak Kabupaten Maros
  • Forum Kelompok Kerja Guru (FKKG) Kabupaten Maros
  • Forum Komunikasi Dara dan Daeng Maros (FKDDM)
  • Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kabupaten Maros
  • Forum Pembaruan Kebangsaan (FPK) Kabupaten Maros
  • Generasi Anti Narkotika Nasional (GANN) Kabupaten Maros
  • Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Kabupaten Maros
  • Gerakan Maros Mengaji (Gemar Ngaji)
  • Praja Muda Karana (Pramuka) Kabupaten Maros
  • GP Ansor Kabupaten Maros
  • Himpunan Kekeluargaan Pangkep-Maros (HKPM)
  • Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kabupaten Maros
  • Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia (HPPMI) Kabupaten Maros
  • Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Maros
  • Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SMA Negeri 1 Maros
  • Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SMA Negeri 2 Maros
  • Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SMA Negeri 4 Bantimurung Maros
  • Ikatan Mahasiswa DDI Kabupaten Maros
  • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Maros
  • Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Maros
  • Ikatan Pemuda Leang-Leang (Ikpal)
  • Ikatan Remaja Masjid Babussalam (Irmabas) Majannang-Tapieng Kelurahan Boribellaya
  • Karang Taruna Desa Baji Mangai
  • Karang Taruna Kabupaten Maros
  • Karang Taruna Kelurahan Hasanuddin
  • Karang Taruna Kelurahan Raya
  • Karang Taruna Tunas Harapan Alatengae
  • Kelompok Sadar Wisata Hutan Batu Salenrang
  • Kelompok Tani (Poktan) Makkio Desa Minasa Baji
  • Kerukunan Keluarga Maros (KKM)
  • Kerukunan Keluarga Maros (KKM) Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi)
  • Kerukunan Keluarga Maros (KKM) Kabupaten Nunukan
  • Kerukunan Keluarga Maros (KKM) Kota Balikpapan
  • Kerukunan Keluarga Maros (KKM) Kota Jayapura
  • Kerukunan Keluarga Maros (KKM) Kota Samarinda
  • Kerukunan Keluarga Maros (KKM) Kota Sorong
  • Kerukunan Keluarga Maros (KKM) Kota Tarakan
  • Koalisi Peduli Lingkungan Hidup Maros
  • Komando Pejuang Merah Putih (KPMP) Cabang Kabupaten Maros
  • Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) Kabupaten Maros
  • Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Maros
  • Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Bontoa
  • Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Marusu
  • Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Simbang
  • Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Tompobulu
  • Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Maros
  • Komunitas Batara Maru'
  • Komunitas Kampoeng Karst Rammang-Rammang Salenrang
  • Komunitas KoPigi Keliling
  • Komunitas Lari Battala' Runners
  • Komunitas Pecinta Alam Kampung Tiang Rimba Solidaritas (KPA Katro) Kabupaten Maros
  • Komunitas Pengembang Wisata Tabbua (Kompewta)
  • Komunitas Sahabat Alam Kelurahan Mattiro Deceng Kabupaten Maros
  • Komunitas Skholat Tanpa Batas (STB)
  • Komunitas sosial Berbagi Itu Indah (BII)
  • Komunitas Tabbua Handicrafts
  • Komunitas Taman Baca Creative (TBC)
  • Komunitas Trail Tho Denthonk (Trathonk) Kecamatan Cenrana Maros
  • Komunitas Vespa Maros
  • Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Maros
  • Korps Alumni HMI (KAHMI) Kabupaten Maros
  • Laskarpala Kabupaten Maros
  • LBH Salewangang
  • Lembaga Adat Kekaraengan Turikale Maros
  • Lembaga Bumi Mentari
  • Lembaga Pengawasan Kebijakan Pemerintah
  • Lembaga Pengkajian Strategi Salewangang (Lepass)
  • Lembaga Seni Budaya Barasa
  • Lembaga Seni Budaya Lontara
  • Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (LSM GMBI) Kabupaten Maros
  • Majelis Pembina Karang Taruna Kabupaten Maros
  • Marfografi Kabupaten Maros
  • Nasyiatul Aisyiyah
  • Oemar Bakri Community (OBC)
  • Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Maros
  • Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Maros
  • Pansimas III Desa Bentenge Kecamatan Mallawa
  • Pansimas III Desa Timpuseng Kecamatan Camba
  • PC IPNU Kabupaten Maros
  • PD Fatayat NU Kabupaten Maros
  • Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kabupaten Maros
  • Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Maros
  • Pemuda Islam Kabupaten Maros
  • Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Maros
  • Pemuda Pancasila Kabupaten Maros
  • Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Kabupaten Maros
  • Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Maros
  • Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kabupaten Maros
  • Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kabupaten Maros
  • Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Maros
  • Praja Muda Karana (Pramuka) Kabupaten Maros
  • Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kabupaten Maros
  • Quranic Forum (Qaf) Kabupaten Maros
  • Scholar English Club (SEC) Kabupaten Maros
  • Sanggar Seni Al-Isra Bunga Ramba Kaleleng Kaemba Desa Pa'bentengan
  • Sanggar Seni Paraikatte Kecamatan Bontoa
  • Sanggar Seni Tanggul Kota
  • Sanggar Seni Toddolimae
  • Sanggar Tani Kelurahan Boribellaya
  • Seniman Musik Dangdut (Senada) Maros
  • Target
  • Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Maros
  • Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kabupaten Maros
  • Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Maros
  • Yayasan Airin Diana Maros
  • Yayasan Aisyiyah
  • Yayasan Al-Ahda Taroada
  • Yayasan Al-Baroqah
  • Yayasan Al-Hikmah Amanah Ummah
  • Yayasan Al-Ishlah Maros
  • Yayasan Al-Wasi Kabupaten Maros
  • Yayasan Bumi Lestari Kabupaten Maros
  • Yayasan Fastabiqul Khaerat
  • Yayasan Islam Nurussalam
  • Yayasan Islam Permata Ilmu
  • Yayasan Kemala Bhayangkari
  • Yayasan Pendidikan Anak Bangsa 21 Maros
  • Yayasan Pendidikan Fachmi Primanegara Maros
  • Yayasan Pendidikan Gapida Sakti
  • Yayasan Pendidikan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Maros
  • Yayasan Pendidikan Tridharma MKGR Maros
  • Yayasan Perguruan dan Kesejahteraan Islam Maros
  • Yayasan Perguruan Islam Maros

Flora dan Fauna[sunting | sunting sumber]

Flora[sunting | sunting sumber]

Diospyros celebica atau Eboni sulawesi atau Kayu hitam sulawesi, jenis tumbuhan langka yang ditemukan di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros

Fauna[sunting | sunting sumber]

Papilio blumei fruhstorferi, subspesies kupu-kupu endemik dan langka yang ditemukan di Pattunuang, Kabupaten Maros.
Macaca Maura atau atau lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan "Dare", spesies kera endemik dan langka yang ditemukan di Hutan Cenrana dan Cagar Alam Karaenta, Kabupaten Maros.
Tarsius tarsier atau lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan "Balawo cengke", jenis primata kecil yang ditemukan di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros.
Ailurops ursinus atau lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan "Memu", jenis hewan marsupial yang ditemukan di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros.
Macrogalidia musschenbroekii atau Musang sulawesi, jenis hewan endemis yang hidup dan ditemukan di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros.
Gnoma pulverea adalah spesies kumbang tanduk panjang yang ditemukan di Gua Pangia, Kabupaten Maros.
Pachyteria kurosawai adalah spesies kumbang tanduk panjang yang ditemukan di Gua Pangia, Kabupaten Maros.