Bontoa, Maros

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Koordinat: 4°54′54″S 119°32′32″E / 4.9150241°S 119.5422003°E / -4.9150241; 119.5422003

Bontoa
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Selatan
KabupatenMaros
Pemerintahan
 • CamatAndi Armansyah Amiruddin (sekarang)
Populasi
 • Total28,312 tahun 2.017 jiwa
Kode pos
90554[2]
Kode Kemendagri73.09.05 Edit the value on Wikidata
Desa/kelurahan9 (total)
8 desa
1 kelurahan

Bontoa (Lontara Makassar: ᨅᨚ ᨈᨚ ᨕ) adalah nama sebuah kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kecamatan ini berada di Panjalingan, Kelurahan Bontoa dengan jarak 6 km dari Kota Turikale yang merupakan ibu kota dan pusat pemerintahan Kabupaten Maros.[3] Sebelum tahun 2001, Kecamatan Bontoa bernama Maros Utara. Pergantian nama tersebut didasarkan pada nilai historis. Kecamatan Maros Utara kala itu dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 28 Tahun 1992 Pasal 5 dari hasil pemekaran wilayah Kecamatan Maros Baru tertanggal 23 Mei 1992 dengan membawahi 6 desa. Saat ini Kecamatan Bontoa terdiri dari 1 (satu) kelurahan dan 8 (delapan) desa dengan 37 (tiga puluh tujuh) lingkungan/dusun yang merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaan pelayanan pemerintahan di Kecamatan Bontoa.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Bontoa sebenarnya adalah nama yang ‘masahoro’ (makassar: masyhur, terkenal). Di tiap – tiap daerah Bugis Makassar di Sulawesi Selatan dapat dipastikan ada kampung atau wanua yang dinamai Bontoa atau Bonto, sama halnya dengan nama Tanete atau Tanetea. Bontoa yang penulis maksudkan dalam tulisan ini adalah ‘Bontoa Marusu’, berada di Maros, kecamatan paling utara ‘Butta Salewangan’ (nama lain Kabupaten Maros) ini dalam sejarahnya merupakan salah satu wilayah kekaraengan dalam lingkup Kerajaan Toddo Limayya ri Marusu’, satu kerajaan kecil penerus Dinasti Kerajaan Marusu’ setelah Kerajaan ini ditaklukkan dan dijadikan bawahan Kerajaan Gowa sejak masa pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumapakrisika Kallonna.

Asal Usul Nama ‘Bontoa’[sunting | sunting sumber]

Penamaan Bontoa merujuk kepada kondisi tanah atau daerah rendah (dataran rendah). Dalam Bahasa Makassar sering disebut kata “A’bontoi” yang artinya rendah atau sering pula dimaknai ’sering tergenang air’. Meski begitu tidak ada kesamaan kondisi semua daerah yang disebut Bontoa atau Bonto itu, karena ‘kerendahan’ yang dimaksud juga memiliki level rendah dari segi topografinya yang berbeda – beda, ada yang rendah, dan ada yang rendah sekali. Itulah sebabnya biasa pula kita mendengar, “liwa’ sikali abbonto’na” untuk menunjukkan suatu kawasan yang sangat rendah. Kondisi Bontoa atau Bonto itu merujuk kepada kawasan persawahan padi basah, rawa serta daerah dekat akses sungai dan laut.

Menurut Informan, Mannyarang (Umurnya sekitar 80 Tahun), yang ditemui penulis di Bontoa, menuturkan bahwa daerah Bontoa (Kecamatan Bontoa Maros) dulunya juga disebut Tanetea. Kawasan yang dia tunjuk sebagai Tanetea tersebut merupakan daerah yang sedikit lebih tinggi dari daerah yang dimaknai sebagai ‘Bontoa’. Penulis menduga kalau nama Tanetea adalah nama yang diberikan kepada daerah tersebut sebelum orang menamai atau memaknainya sebagai Bontoa. Hal ini merujuk dari informasi yang dituturkannya bahwa Bontoa adalah daerah yang tidak pernah tenggelam atau tergenang air, sehingga aman bagi penduduknya, bahkan kemudian banyak orang datang di daerah tersebut untuk bermukim.

BONTOA saat ini adalah salah satu kecamatan dalam lingkup Kabupaten Maros, sebelumnya dinamai Kecamatan Maros Utara, terletak pada perbatasan Kabupaten Maros dengan Kabupaten Pangkep. Tentunya sebelum ada penetapan wilayah administrasi kabupaten, wilayah perbatasan kedua kabupaten berpenduduk Bugis Makassar ini tidak seperti adanya sekarang, yang merujuk kepada perbatasan Kalibone. Pada masa lampau, daerah ini adalah satu, sampai di Mangemba, Soreang, Ka’ba, Panaikang, dan kampong – kampung lainnya.

Berdirinya Kekaraengan Bontoa[sunting | sunting sumber]

Ekspansi besar-besaran Gowa sejak masa kekuasaan Karaeng Tumapakrisika Kallonna, Raja Gowa IX, mengubah peta geografi politik kawasan Sulawesi Selatan. Kerajaan Marusu’ yang dulunya merupakan kerajaan merdeka dan berdaulat, langsung berada dibawah dominasi Gowa. Serangan Gowa ke sebelah utara hampir pasti tidak mendapatkan perlawanan yang berarti, wilayah paling utara Marusu’, Bontoa yang berbatasan dengan Binanga Sangkara, wilayah Barasa (Pangkajene) dengan mudah ditaklukkan sejak masa kekuasaan Raja Gowa X, Karaeng Tunipalangga.

Supaya lebih mudah mengendalikan daerah pertanian padi basah yang subur ini, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng, Raja Gowa X (1546-1565) mengutus I Mannyarrang, seorang bangsawan dari Bangkala, putra dari I Pasairi Daeng Mangngasi Karaeng Labbua Tali Bannangna, Karaeng Bangkala dari isterinya I Daeng Takammu Karaeng Bili’ Tangngayya untuk menjadi karaeng maggau’ di wilayah tersebut.

Makam yang diduga makam I Mannyarang. Oleh penduduk Bontoa, mereka lebih mengenalnya dengan sebutan ‘Patanna Pa’rasangan’, terletak di sebelah barat SMA Negeri 1 Bontoa, dalam Kompleks Makam Karaeng Bontoa.

J.A.B. Van De Broor (1928) dalam tulisannya tentang Randji silsilah Regent Van Bontoa meriwayatkan Bontoa sebagai salah satu wilayah Kerajaan Marusu’ yang didirikan oleh Karaeng Loe ri Pakere’ sampai akhirnya I Mannyarang datang sebagai duta Somba Gowa untuk memperluas wilayah kekuasaannya di sekitar wilayah tersebut, meliputi: (1) Bontoa, (2) Salenrang, (3) Sikapaya, (4) Balosi, (5) Pa’rasangan Beru, (6) Panaikang, (7) Tanggaparang, (8) Lempangang, (9) Panjallingang, (10) Ujung Bulu, (11) Batunapara, (12) Belang – Belang, (13) Suli – suli, (14) Panambungan, (15) Magemba, dan (16) Tala’ Mangape.

Patut dicatat disini, bahwa terdapat Bontoa yang sebelumnya diklaim sebagai wilayah yang dikuasai oleh Karaeng Marusu, berdasarkan riwayat J.A.B. Van De Broor tentang Randji silsilah Regent van Bontoa (1928) yang mana mengisahkan kehadiran I Mannyarrang sebagai utusan Somba Gowa untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Dan selanjutnya, Karaeng Marusu’ mempersilahkan I Manyarrang membuka daerah baru yang menjadi kekuasaan Gowa. Namun, dalam Lontaraq silsilah Karaeng Loe ri Pakere sebagaimana ditulis Andi Syahban Masikki, tidak menempatkan Bontoa sebagai wilayah yang dikuasai Marusu’.

Karaeng Bontoa I – XXII

1. I MANNYARANG, Karaeng Bontoa I

2. I MANNYUWARANG, Karaeng Bontoa II

3. I Daeng SIUTTE, Karaeng Bontoa III

4. I Daeng MANGNGUNTUNGI, Karaeng Bontoa IV

5. I PAKANDI DG MASSURO, Karaeng Bontoa V

6. I PANDIMA DG MALIONGI, Karaeng Bontoa VI

7. I DAENG TUMANI, Karaeng Bontoa VII

8. I MANGNGAWEANG DG MANGGALLE, Karaeng Bontoa VIII

9. I REGGO DG MATTIRO, Karaeng Bontoa IX

10. I PAREWA DG MAMALA, Karaeng Bontoa X

11. I SONDONG DG MATTAYANG, Karaeng Bontoa XI

12. I BAOESAD DG SITABA KARAENG TALLASA, Karaeng Bontoa XII

13. I BAMBO DG MATEKKO (PETTA TEKKO), Karaeng Bontoa XIII

14. ANDI RADJA DG MANAI (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XIV dan XVI

15. ABDUL MAULA INTJE DJALALUDDIN (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XV

16. ANDI MUHAMMAD DG SISILA (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XVII dan XIX

17. ANDI DJIPANG DG MAMBANI (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XVIII dan XX

18. ANDI RADJA DG MANAI KARAENG LOLOA (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XXI

19. ANDI MUHAMMAD YUSUF DG MANGNGAWING (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XXII (Karaeng Bontoa Terakhir)

Terbentuknya Status Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1986, mulai dilakukan perencanaan pemekaran kecamatan dari empat menjadi tujuh kecamatan. Pada tahun 1989, terjadi pemekaran wilayah kecamatan dengan dibentuknya 3 Kecamatan Perwakilan, yakni:

  1. Kecamatan Tanralili
  2. Kecamatan Mallawa
  3. Kecamatan Maros Utara

Kecamatan Maros Utara resmi dibentuk dan diundangkan pada tanggal 23 Mei 1992 menjadi kecamatan defenitif. Alasan pembentukan tersebut karena semakin meningkatnya jumlah penduduk dan volume kegiatan pemerintahan dan pembangunan di wilayah Kabupaten Maros dalam wilayah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, dan dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan serta untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, dipandang perlu membentuk kecamatan baru di wilayah tesebut. Pembentukan kecamatan defenitif dalam wilayah Kabupaten Maros juga berpedoman kepada ketentuan Pasal 75 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Di Daerah, pembentukan kecamatan harus ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.[4]

Wilayah Kecamatan Maros Utara merupakan hasil pemekaran wilayah dari Kecamatan Maros Baru (Desa Pajukukang, Desa Tunikamaseang, Desa Tupabbiring, Desa Bontolempangang, Desa Salenrang, dan Desa Marannu) dengan pusat pemerintahan berada di Desa Tunikamaseang. Hal ini didasarkan pada dasar hukum Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 28 Tahun 1992 Pasal 5 Ayat 1, 2, dan 3 dan Pasal 9 Ayat 7.[4]

Kemudian pada hari kamis, tanggal 22 Agustus 1996, DPD II KNPI Kabupaten Maros mengadakan "Seminar Pemekaran dan Perubahan Nama Kecamatan" dengan berlandaskan latar belakang kesejarahan sekaligus sebagai pemantapan jati diri Maros melalui kilas balik sejarah. Upaya DPD II KNPI Maros pada waktu itu mendapat apresiasi dan sambutan hangat dari para budayawan dan pemerhati sejarah. Nama yang sarat dengan muatan historis memang punya arti tersendiri, terutama bagi orang-orang yang menghormati jati dirinya.

Bertolak dari hasil seminar tersebut, maka Bupati KDH Tingkat II Kabupaten Maros, Nasrun Amrullah (cucu dari H. Andi Page Manyanderi Petta Ranreng, Petta Imam Turikale III), lewat Surat Bupati KDH Tingkat II Kabupaten Maros, No.146.1/276/Pem. Tgl. 19 September 1996, meminta Persetujuan DPRD Tingkat II Maros untuk Pembentukan/Pemekaran Kecamatan. DPRD Tingkat II Maros kemudian membentuk panitia khusus yang kemudian membahas dan menetapkan pembentukan/pemekaran kecamatan yang telah ada serta diberi nama sesuai dengan nama distrik yang pernah ada.

Pemekaran wilayah dan perubahan nama Kecamatan Maros Utara menjadi Kecamatan Bontoa secara resmi dirubah, dimekarkan, dan diundangkan pada tanggal 3 Agustus 2001. Alasan pembentukan/pemekaran kecamatan baru karena semakin meningkatnya volume kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dan untuk memperlancar pelayanan masyarakat serta mempercepat pemerataan pembangunan dan alasan perubahan nama tersebut didasarkan pada nilai historis. Sebagai dampak hasil pembentukan kecamatan baru, yakni Kecamatan Lau di sebagian wilayah Kecamatan Maros Utara, maka sebagian wilayah Kecamatan Maros Utara (Desa Marannu dan Desa Bonto Marannu) mengalami pengurangan luas wilayah. Wilayah Kecamatan Maros Utara atau Kecamatan Bontoa berkurang setelah Desa Marannu dan Bonto Marannu masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Lau. Sekarang wilayah Kecamatan Bontoa meliputi Kelurahan Bontoa, Desa Bonto Bahari, Desa Ampekale, Desa Tunikamaseang, Desa Tupabbiring, Desa Minasa Upa, Desa Salenrang, Desa Pajukukang, dan Desa Bontolempangan. Dasar hukum pembentukan Kecamatan Lau dan Perubahan Nama Kecamatan Maros Utara adalah Peraturan Daerah Kabupaten Maros No. 17 Tahun 2001 dengan rincian Bab II Pasal 2 Ayat 1, 2, dan 3 dan Bab III Pasal 4 Ayat 1 dan 2. [5]

Kondisi Geografis[sunting | sunting sumber]

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Bontoa memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah Berbatasan
utara Sungai Binanga Sangkara dan Kabupaten Pangkep (Kecamatan Pangkajene dan Kecamatan Minasa Te'ne)[3]
selatan Kecamatan Lau dan Kecamatan Bantimurung[3]
barat Selat Makassar[3]
timur Kecamatan Bantimurung dan Kabupaten Pangkep (Kecamatan Balocci)[3]

Kondisi Demografis[sunting | sunting sumber]

Etnis[sunting | sunting sumber]

Penduduk kecamatan Bontoa mayoritas adalah suku Makassar.

Jumlah Penduduk[sunting | sunting sumber]

Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah Rumah Tangga Total Penduduk (jiwa) Pertumbuhan Penduduk (jiwa) Kepadatan Penduduk (jiwa/km²)
2000 - - - - - -
2001 - - - - - -
2002 - - - - - -
2003 - - - - - -
2004 - - - - - -
2005 - - - - - -
2006 - - - - - -
2007 - - - - - -
2008 - - - - - -
2009 13.273 14.016 - 27.289 - -
2010 12.912 13.661 5.406 26.573 - 284
2011 12.917 13.666 5.493 26.583 - 284
2012 12.929 13.659 5.513 26.588 - 284
2013 13.032 13.816 - 26.848 - -
2014 13.519 14.136 5.688 27.655 - 296
2015 13.659 14.225 5.742 27.884 - 298
2016 13.795 14.384 5.803 28.179 - 301
2017[3] 13.921 14.391 5.862 28.312 - 303
2018 - - - - - -
2019 - - - - - -
2020 - - - - - -

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Pembagian Wilayah Administrasi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Bontoa memiliki sembilan wilayah pembagian administrasi dengan rincian satu berstatus kelurahan dan delapan berstatus desa sebagai berikut:[3]

No. Desa/Kelurahan Luas (km²)
1 Desa Ampekale 15,07
2 Desa Bonto Bahari 15,71
3 Desa Bontolempangang 12,59
4 Desa Minasa Upa 8,60
5 Desa Pajukukang 15,11
6 Desa Salenrang 9,60
7 Desa Tunikamaseang 6,24
8 Desa Tupabbiring 7,69
9 Kelurahan Bontoa 2,91
Jumlah 93,52


Kecamatan Bontoa memiliki tiga puluh tujuh wilayah di bawah kelurahan/desa dengan rincian tiga berstatus lingkungan dan tiga puluh empat berstatus dusun sebagai berikut:[3]

  1. Dusun Binanga Sangkara
  2. Dusun Lalang Tedong
  3. Dusun Mangara Bombang
  4. Dusun Padaria
  5. Dusun Baji Areng
  6. Dusun Cambayya
  7. Dusun Sabang
  8. Dusun Lampangan
  9. Dusun Magemba
  10. Dusun Tamangesang
  11. Dusun Tangngaparang
  12. Dusun Ujung Bulu
  13. Dusun Buamata
  14. Dusun Cambaya
  15. Dusun Kalupenrang
  16. Dusun Pappaka
  17. Dusun Sikapaya
  18. Dusun Balosi
  19. Dusun Panaikang
  20. Dusun Parasangan Beru
  21. Dusun Berua
  22. Dusun Panaikang
  23. Dusun Pannambungan
  24. Dusun Rammang-Rammang
  25. Dusun Salenrang
  26. Dusun Bonto-Bonto
  27. Dusun Jangka-Jangkaya
  28. Dusun Kassijala
  29. Dusun Langkese
  30. Dusun Pattallassang
  31. Dusun Campagaya
  32. Dusun Pandanga
  33. Dusun Pepe Bulaeng
  34. Dusun Rea-Rea
  35. Lingkungan Bontoa
  36. Lingkungan Panjallingan
  37. Lingkungan Suli-Suli

Daftar Camat[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar camat Bontoa:

No. Foto Nama Awal Menjabat Akhir Menjabat Keterangan Referensi
1 23 Mei 1992
2
3
4
5
6 Drs. H. Muh. Yusuf Damang, S.Sos. 2001 2005
7 A. Davied Syamsuddin, S.STP, M.Si. 2005 2010 [6]
8 Drs. Andi Rijal Kadir, M.M. 2010 24 Januari 2014
9 Iqbal Dwi 24 Januari 2014 9 Januari 2017
10 H. Abdullah 9 Januari 2017 1 Februari 2019 [7]
11 Andi Armansyah Amiruddin 1 Februari 2019 sedang menjabat [8]

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

  • Kantor Polsek Lau
  • Kantor Kelurahan Bontoa
  • Kantor Desa Bonto Bahari
  • Kantor Desa Ampekale
  • Kantor Desa Bontolempangang
  • Kantor Desa Tunikamaseang
  • Kantor Desa Salenrang
  • Kantor Desa Tupabbiring
  • Kantor Desa Minasa Upa
  • Kantor Desa Pajukukang
  • Kantor Camat Bontoa

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Lembaga pendidikan formal di kecamatan Bontoa adalah sebagai berikut:

SD sederajat[sunting | sunting sumber]

  • MI Swasta DDI Cambalagi
  • SD Negeri 100 Inpres Balosi
  • SD Negeri 132 Inpres Lalang Tedong
  • SD Negeri 133 Inpres Talawe
  • SD Negeri 148 Inpres Bontoa
  • SD Negeri 166 Inpres Mangemba
  • SD Negeri 169 Inpres Parasangan Beru
  • SD Negeri 198 Inpres Suli-Suli
  • SD Negeri 20 Panjallingan
  • SD Negeri 202 Inpres Pattallassang
  • SD Negeri 203 Inpres Binanga Sangkara
  • SD Negeri 204 Inpres Rea-Rea
  • SD Negeri 219 Inpres Pannambungan
  • SD Negeri 221 Inpres Rammang-Rammang
  • SD Negeri 229 Inpres Cambaya
  • SD Negeri 230 Inpres Pepebulaeng
  • SD Negeri 28 Salenrang
  • SD Negeri 36 Tangngaparang
  • SD Negeri 42 Cambaya
  • SD Negeri 43 Parrasangan Beru
  • SD Negeri 44 Padaria
  • SD Negeri 45 Pappaka
  • SD Negeri 68 Kassijala
  • SD Negeri 69 Sikapaya
  • SD Negeri 71 Inpres Lempangan
  • SD Negeri 86 Mangarabombang

SMP sederajat[sunting | sunting sumber]

  • MTs Swasta Al-Wasi Bontoa
  • MTs Swasta DDI Cambalagi
  • SMP Swasta Islam Terpadu Yafat Baji Areng
  • SMP Negeri 13 Bontoa
  • SMP Negeri 28 Satu Atap Salenrang
  • SMP Negeri 31 Satu Atap Lalang Tedong
  • SMP Swasta Islam An-Nas 3 Sikapaya Bontoa

SMA sederajat[sunting | sunting sumber]

  • MA Swasta Al- Wasi Bontoa
  • MA Swasta DDI Cambalagi
  • SMA Negeri 6 Maros

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Agama[sunting | sunting sumber]

Masjid[sunting | sunting sumber]

  • Masjid Darul Abrar
  • Masjid Nurul Muflihin
  • Masjid Darur Rahman
  • Masjid Darur Rahman
  • Masjid Baitul Rahman
  • Masjid Baitul Yakin
  • Masjid Nurul Mujahidin
  • Masjid Nurul Rahim
  • Masjid Nurul Iman
  • Masjid Nurul Mu'minin
  • Masjid Darul Rahman
  • Masjid Nurul Bahri
  • Masjid Nurul Muflihin
  • Masjid Al-Iklas
  • Masjid Nurul Huda
  • Masjid Darul Rahim
  • Masjid Nurul Iman
  • Masjid Darul Rahim
  • Masjid Nurul Rahim
  • Masjid Darussalam
  • Masjid Nurul Islam
  • Masjid Darussalam
  • Masjid Nurul Jamaah
  • Masjid Nurul Jannah
  • Masjid Nurul Yaqin
  • Masjid Ummi Fatimah
  • Masjid Nurul Mujahidin
  • Masjid Nurul Iman
No. ID Nama Masjid Tahun Berdiri Luas Tanah Luas Bangunan Alamat Jenis Status Tanah Jumlah Pengurus Jumlah Imam Jumlah Khatib

Tambang[sunting | sunting sumber]

  • Tambang Batu Kapur (Karst)
  • Tambang Marmer

Jalan[sunting | sunting sumber]

Nama jalan yang ada di kecamatan Bontoa sebagai berikut:

A

  • Andi Raja

B

  • Bosowa Salenrang

P

  • Pabbicara Dg. Mannassa
  • Pendidikan
  • Poros Maros-Pangkep
  • Poros Trans Sulawesi

Event dan Acara[sunting | sunting sumber]

  • Porseni antar Sekolah Se-Kecamatan Bontoa 2018

Galeri foto[sunting | sunting sumber]

Informasi[sunting | sunting sumber]

  • E-mail: Kec_bontoa@maroskab.go.id
  • Kode Wilayah: 73.09.05

Bencana Daerah[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ maroskab.bps.go.id Halaman 48 Dalam Buku "Kabupaten Maros Dalam Angka 2018" Diterbitkan Oleh BPS Kabupaten Maros
  2. ^ www.nomor.net. "Kode Pos Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros". www.nomor.net. Diakses tanggal 2019-07-10. 
  3. ^ a b c d e f g h BPS Kabupaten Maros (16 Agustus 2018). "Kabupaten Maros Dalam Angka 2018". BPS Kabupaten Maros (dalam bahasa Indonesia). 
  4. ^ a b "Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 28 Tahun 1992" (PDF). peraturan.bkpm.go.id. Diakses tanggal 23 November 2020. 
  5. ^ "Peraturan Daerah Kabupaten Maros No. 17 Tahun 2001" (PDF). maroskab.go.id. Diakses tanggal 24 November 2020. 
  6. ^ "Profil Pimpinan". maroskab.go.id. Diakses tanggal 24 November 2020. 
  7. ^ H. Abdullah Sebagai Camat Bontoa
  8. ^ Andi Armansyah Amiruddin Sebagai Camat Bontoa

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]