Sulawesi Selatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sulawesi Selatan
ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨔᨛᨒᨈ

Sulawesi Selatan
Transkripsi Regional
 • Bugisᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨑᨗᨕᨈ
Sulawési Riattang (1, 2, 3, 4, 5)
ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨆᨊᨗᨕ
Sulawési Maniang (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7)
ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨒᨕᨘᨈ
Sulawési Lautang (1, 2, 3)
ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨆᨊᨚᨑ
Sulawési Manorang (1)
 • Makassarᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨈᨗᨅᨚᨑᨚ
Sulawési Timboro' (1, 2, 3, 4, 5)
 • Luwuᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨊᨙᨀᨙ
Sulawési Nékké' (1, 2)
 • TorajaSulawési Pollo'na Uai (1, 2)
Makassar CBD Skyline.jpg
Kete' Kesu' Toraja.jpgPantai Bira, sunset (6969009247).jpg
Bengkel Pinisi.jpgLemo burial site.jpg
TransStudioShow.JPGToraja Dancers.JPG
Floating houses on Lake Tempe.jpgObyek wisata Rammang-Rammang.jpg
Searah jarum jam, dari kiri atas: Cakrawala Kota Makassar di malam hari, Pantai Tanjung Bira, Situs Pemakaman Lemo di Tana Toraja, Upacara tarian tradisional Toraja, sawah Rammang-Rammang, Rumah terapung di Danau Tempe, Trans Studio Makassar taman hiburan indoor terbesar ketiga di dunia, Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, kapal layar Pinisi dan Tongkonan rumah-rumah tradisional di Tana Toraja.
Bendera Sulawesi Selatan ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨔᨛᨒᨈ
Bendera
Lambang Sulawesi Selatan ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨔᨛᨒᨈ
Motto: 
Toddo' Puli / ᨈᨚᨉᨚᨄᨘᨒᨗ
(Keep the faith)
Lokasi Provinsi Sulawesi Selatan di Indonesia
Lokasi Provinsi Sulawesi Selatan di Indonesia
Koordinat: 4°20′S 120°15′E / 4.333°S 120.250°E / -4.333; 120.250Koordinat: 4°20′S 120°15′E / 4.333°S 120.250°E / -4.333; 120.250
Negara Indonesia
Berdiri19 Oktober 1669
Didirikan Sebagai Provinsi13 Desember 1960
Ibu kotaKota Makassar
Pemerintahan
 • LembagaPemerintah daerah Sulawesi Selatan
 • GubernurAndi Sudirman Sulaiman (Plt.)
 • Wakil Gubernur-
Luas
 • Total46.717,48 km2 (18,037,72 sq mi)
Peringkat luas wilayah16
Titik tertinggi
3.478 m (11,411 ft)
Populasi
 • Total9.073.509
 • Kepadatan194,22/km2 (503,0/sq mi)
Demographics
 • Etnis[2]Bugis 45,12%
Makassar 29,68%
Toraja 7,34%
Luwu 4,93%
Jawa 2,86%
Duri 2,80%
Selayar 1,30%
Mandar 0,65%
Tionghoa 0,55%
Dayak 0,36%
Lain-lain 4,41%
 • Agama[3]Islam 88,33%
Kristen 10,36%
- Protestan 8,11%
- Katolik 2,25%
Hindu 1,02%
Buddha 0,25%
Konghuchu 0,04%
 • BahasaIndonesia (resmi)
Bugis, Makassar, Mandar, Toraja (daerah)
Zona waktuUTC+8 (Waktu Universal Terkoordinasi)
Kode pos
90xxx, 91xxx, 92xxx
ISO 3166 codeID-SN
Kode kendaraanDD, DP, DW
IPMIncrease 71,93 (2020) ( Tinggi )
Increase 71,66 (2019) ( Tinggi ) [4]
IPM Ranking12 (2020)
DAURp 2.600.586.502.000,- (2020)[5]
Situs webGovernment official site
Peta Sulawesi Selatan di Indonesia

Sulawesi Selatan (disingkat Sulsel) (Lontara: ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨔᨛᨒᨈ ) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan pulau Sulawesi. Pusat pemerintahan atau ibukota provinsi berada di kota Makassar. Pada tahun 2020, penduduk Sulawesi Selatan berjumlah 9.073.509 jiwa, dengan kepadatan 194,22 jiwa/km². Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi selatan pada tahun 2020 yakni 71,93 (Urutan ke-12 di Indonesia), urutan ke dua di Sulawesi setelah provinsi Sulawesi Utara, yakni 72,93 (Urutan ke-6 di Indonesia).[6]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sekitar 30.000 tahun silam pulau ini telah dihuni oleh manusia. Penemuan tertua ditemukan di gua-gua dekat bukit kapur dekat Maros, sekitar 30 km sebelah timur laut dan Makassar sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Kemungkinan lapisan budaya yang tua berupa alat batu Pebble dan flake telah dikumpulkan dari teras sungai di lembah Walanae, di antara Soppeng dan Sengkang, termasuk tulang-tulang babi raksasa dan gajah-gajah yang telah punah.

Selama masa keemasan perdagangan rempah-rempah, pada abad ke-15 sampai ke-19, Sulawesi Selatan berperan sebagai pintu Gerbang ke kepulauan Maluku, tanah penghasil rempah. Kerajaan Gowa dan Bone yang perkasa memainkan peranan penting didalam sejarah Kawasan Timur Indonesia di masa Ialu.

Pada sekitar abad ke-14 di Sulawesi Selatan terdapat sejumlah kerajaan kecil, dua kerajaan yang menonjol ketika itu adalah Kerajaan Gowa yang berada di sekitar Makassar dan Kerajaan Bugis yang berada di Bone. Pada tahun 1530, Kerajaan Gowa mulai mengembangkan diri, dan pada pertengahan abad ke-16 Gowa menjadi pusat perdagangan terpenting di wilayah timur Indonesia. Pada tahun 1605, Raja Gowa memeluk Agama Islam serta menjadikan Gowa sebagai Kerajaan Islam, dan antara tahun 1608 dan 1611, Kerajaan Gowa menyerang dan menaklukkan Kerajaan Bone sehingga Islam dapat tersebar ke seluruh wilayah Makassar dan Bugis.

Perusahaan dagang Belanda atau yang lebih dikenal dengan nama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang datang ke wilayah ini pada abad ke-15 melihat Kerajaan Gowa sebagai hambatan terhadap keinginan VOC untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di daerah ini. VOC kemudian bersekutu dengan seorang pangeran Bugis bernama Arung Palakka yang hidup dalam pengasingan setelah jatuhnya Bugis di bawah kekuasaan Gowa.

Belanda kemudian mensponsori Palakka kembali ke Bone, sekaligus menghidupkan perlawanan masyarakat Bone dan Sopeng untuk melawan kekuasaan Gowa. Setelah berperang selama setahun, Kerajaan Gowa berhasil dikalahkan. Dan Raja Gowa, Sultan Hasanuddin dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bungaya yang sangat mengurangi kekuasaan Gowa. Selanjutnya Bone di bawah Palakka menjadi penguasa di Sulawesi Selatan.

Persaingan antara Kerajaan Bone dengan pemimpin Bugis lainnya mewarnai sejarah Sulawesi Selatan. Ratu Bone sempat muncul memimpin perlawanan menentang Belanda yang saat itu sibuk menghadapi Perang Napoleon di daratan Eropa. Namun setelah usainya Perang Napoleon, Belanda kembali ke Sulawesi Selatan dan membasmi pemberontakan Ratu Bone. Namun perlawanan masyarakat Makassar dan Bugis terus berlanjut menentang kekuasaan kolonial hingga tahun 1905-1906. Pada tahun 1905, Belanda juga berhasil menaklukkan Tana Toraja, perlawanan di daerah ini terus berlanjut hingga awal tahun 1930-an.

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, Sulawesi Selatan, terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan mendiami empat etnis yaitu: Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

Ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas yaitu Luwu, Gowa, dan Bone, yang pada abad ke XVI dan XVII mencapai kejayaannya dan telah melakukan hubungan dagang serta persahabatan dengan bangsa Eropa, India, China, Melayu, dan Arab.

Setelah kemerdekaan, dikeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950 di mana Sulawesi Selatan menjadi provinsi Administratif Sulawesi dan selanjutnya pada tahun 1960 menjadi daerah otonomi Sulawesi Selatan dan Tenggara berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960. Pemisahan Sulawesi Selatan dari daerah otonomi Sulawesi Selatan dan Tenggara ditetapkan dengan UU Nomor 13 Tahun 1964, sehingga menjadi daerah otonomi Sulawesi Selatan.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur. Luas wilayahnya 45.764,53 km². Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat dan Laut Flores di selatan.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Perempuan dari Suku Toraja dengan pakaian adatnya.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa resmi instansi pemerintahan di Sulawesi Selatan adalah bahasa Indonesia. Menurut Badan Bahasa pada 2019, terdapat 14 bahasa daerah di Sulawesi Selatan.[7][8] Keempat belas bahasa tersebut adalah: (1) Bajo, (2) Bonerate, (3) Bugis, (4) Bugis De, (5) Konjo, (6) Laiyolo, (7) Lemolang, (8) Makassar, (9) Mandar, (10) Massenrengpulu, (11) Rampi, (12) Seko, (13) Toraja, dan (14) Wotu.[7]

Bahasa yang umum digunakan adalah:

  • Bahasa Bugis adalah bahasa yang menduduki peringkat pertama dengan penutur terbanyak di Sulawesi Selatan. Bahasa ini kebanyakan dituturkan di wilayah tengah Semenanjung Selatan Sulawesi, terutama Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai Sidenreng Rappang, Pinrang, Barru, Kota Parepare dan sebagian wilayah di Tana Luwu, Maros, Pangkep, Barru, dan Bulukumba. Terdapat 9 dialek Bugis yang dituturkan di Sulawesi Selatan seperti dialek Palakka (Bone), Kessi (Soppeng), Sawitto (Pinrang), Sidrap, Wajo, Barru, Enna (Sinjai, Bulukumba), Camba, dan Luwu[9].
  • Rumpun Bahasa Makassar
    • Bahasa Makassar adalah salah satu rumpun bahasa yang dipertuturkan di daerah pesisir barat daya Sulawesi Selatan, Bahasa Makassar merupakan bahasa kedua yang paling banyak dituturkan di Sulawesi Selatan. Terdapat 1,8 juta penutur bahasa Makassar di Sulawesi Selatan. Bahasa ini terdiri dari 3 dialek yaitu Lakiung, Turatea dan Bantaeng.
    • Bahasa-Bahasa Konjo terbagi menjadi dua yaitu Bahasa Konjo Pesisir dan Bahasa Konjo Pegunungan, Konjo Pesisir tinggal di kawasan pesisir Bulukumba dan Sekitarnya, di sudut tenggara bagian selatan pulau Sulawesi sedangkan Konjo pegunungan tinggal di kawasan tenggara gunung Bawakaraeng.
    • Bahasa Selayar adalah bahasa yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan di Kab. Kep. Selayar.
  • Kelompok Utara
    • Bahasa Toraja adalah salah satu rumpun bahasa yang dipertuturkan di daerah Kabupaten Tana Toraja, dan Toraja Utara.
    • Rumpun Bahasa Massenrempulu
      • Bahasa Duri adalah bahasa yang paling banyak dituturkan di Kabupaten Enrekang. Bahasa ini dituturkan di beberapa kecamatan seperti Alla, Buntu Batu, Baraka, Curio, Baroko, Masalle, Malua dan sebagian Anggeraja.
      • Bahasa Enrekang adalah bahasa yang dituturkan di Kabupaten Enrekang khususnya di kecamatan Enrekang, Cendana dan sebagian Anggeraja. Sebagian linguistik memasukkan bahasa Pattinjo ke dalam salah satu dialek bahasa Enrekang.
      • Bahasa Maiwa adalah salah satu bahasa yang dituturkan di Kabupaten Enrekang khususnya di Kecamatan Maiwa dan Bungin
    • Bahasa Tae' adalah salah satu bahasa yang dipertuturkan di daerah kaki gunung hingga pesisir di sepanjang Tana Luwu. Kabupaten Luwu dan Luwu Utara merupakan wilayah dengan mayoritas penutur bahasa ini.

Agama[sunting | sunting sumber]

Mayoritas beragama Islam, kecuali di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara dan sebagian wilayah di Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur, dan Kabupaten Luwu beragama Kristen Protestan.

Budaya dan adat istiadat[sunting | sunting sumber]

Salah satu kebiasaan yang cukup dikenal di Sulawesi Selatan adalah Mappalili. Mappalili (Bugis) atau Appalili (Makassar) berasal dari kata palili yang memiliki makna untuk menjaga tanaman padi dari sesuatu yang akan mengganggu atau menghancurkannya. Mappalili atau Appalili adalah ritual turun-temurun yang dipegang oleh masyarakat Sulawesi Selatan, masyarakat dari Kabupaten Pangkep terutama Mappalili adalah bagian dari budaya yang sudah diselenggarakan sejak beberapa tahun lalu. Mappalili adalah tanda untuk mulai menanam padi. Tujuannya adalah untuk daerah kosong yang akan ditanam, disalipuri (Bugis) atau dilebbu (Makassar) atau disimpan dari gangguan yang biasanya mengurangi produksi.

Jumlah penduduk[sunting | sunting sumber]

Sampai dengan Mei 2010, jumlah penduduk di Sulawesi Selatan terdaftar sebanyak 8.032.551 jiwa dengan pembagian 3.921.543 orang laki-laki dan 4.111.008 orang perempuan. Pada tahun 2013, penduduk di Sulawesi Selatan sudah mencapai 8.342.047 jiwa.[10]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

5 tahun setelah kemerdekaan, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950, yang menjadi dasar hukum berdirinya Provinsi Administratif Sulawesi. 10 tahun kemudian, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 47 Tahun 1960 yang mengesahkan terbentuknya Sulawesi Selatan dan Tenggara. 4 tahun setelah itu, melalui UU Nomor 13 Tahun 1964 pemerintah memisahkan Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan. Terakhir, pemerintah memecah Sulawesi Selatan menjadi dua, berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004.

Kabupaten Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Utara dan Polewali Mandar yang tadinya merupakan kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan resmi menjadi kabupaten di provinsi Sulawesi Barat seiring dengan berdirinya provinsi tersebut pada tanggal 5 Oktober 2004 berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004.

Daftar gubernur[sunting | sunting sumber]

Kediaman gubernur di Makassar (1865-1900)
No. Foto Gubernur Mulai jabatan Akhir jabatan Prd. Ket. Wakil gubernur
1 A. A. Rifai 13 Desember 1960 17 November 1966 1 [11][12][13] Tidak Ada
2 Achmad Lamo, Buku Pelengkap IV Pemilihan Umum 1977 (1978), p708.jpg Achmad Lamo 17 November 1966 19 Januari 1978 2 [14][15][16]
3 Andi Oddang, Buku Pelengkap VI Pemilihan Umum 1982, p298.jpg Andi Oddang 19 Januari 1978 19 Januari 1983 3 [17][18]
4 Ahmad Amiruddin as the Governor of South Sulawesi.jpg Ahmad Amiruddin 19 Januari 1983 19 Januari 1988 4 [19]
19 Januari 1988 19 Januari 1993 5
5 Zainal Basri Palaguna, Buku Pelengkap VI Pemilihan Umum 1982, p818.jpg Zainal Basri Palaguna 19 Januari 1993 19 Januari 1998 6
19 Januari 1998 19 Januari 2003 7
6 Bupati Enrekang Amin Syam.jpg Amin Syam 19 Januari 2003 19 Januari 2008 8
(2003)
[20] Syahrul Yasin Limpo
Tanribali.jpg Tanribali Lamo
(Penjabat)
19 Januari 2008 8 April 2008 [21]
7 Syahrul Yasin Limpo 2013.jpg Syahrul Yasin Limpo 8 April 2008 8 April 2013 9
(2008)
Agus Arifin Nu'mang
8 April 2013 8 April 2018 10
(2013)
[22]
Pj. Gubernur Sulsel Sumarsono.jpg Soni Sumarsono
(Penjabat)
9 April 2018 5 September 2018 [23]
8 Official Portrait Nurdin Abdullah, Governor of South Sulawesi (2).jpg Nurdin Abdullah 5 September 2018 28 Februari 2021 11
(2018)
Sudirman Sulaiman
Official Portrait Sudirman Sulaiman, Vice Governor of South Sulawesi (2).jpg Andi Sudirman Sulaiman
(Plt.)
28 Februari 2021 Petahana [7]
Representatif
  Non-partisan / Penugasan Pemerintah
  Militer

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Sulawesi Selatan beranggotakan 85 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD Sulawesi Selatan terdiri dari 1 Ketua dan 4 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD Sulawesi Selatan yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 24 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Makassar di Gedung DPRD Sulawesi Selatan.[24] Komposisi anggota DPRD Sulawesi Selatan periode 2019-2024 terdiri dari 11 partai politik dimana Partai Golkar adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 13 kursi disusul oleh Partai NasDem yang juga meraih 12 kursi. Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Sulawesi Selatan dalam dua periode terakhir.[25][26][27]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
 PKB  3 Increase 8
 GERINDRA  11 Steady 11
 PDIP  5 Increase 8
 GOLKAR  18 13
 NASDEM  7 Increase 12
 PKS  6 Increase 8
 PPP  7 6
 PAN  9 7
 HANURA  6 1
 DEMOKRAT  11 10
 PBB  1 0
 PKPI  1 0
PartaiPerindo.png Perindo (baru) 1
Jumlah Anggota 85 Steady 85
Jumlah Partai 12 11

Kabupaten dan Kota[sunting | sunting sumber]

No. Kabupaten/kota Pusat pemerintahan Bupati/wali kota Luas wilayah (km2)[28] Jumlah penduduk (2017)[28] Kepadatan

(jiwa/km²)

Kecamatan Kelurahan/desa Lambang
Peta lokasi
1
Kabupaten Bantaeng Bantaeng Ilham Syah Azikin 395,83 176.699 446,4 8 21/46
Bantaeng Regency Logo.png
Locator Bantaeng Regency.svg
2
Kabupaten Barru Barru Suardi Saleh 1.174,71 165.983 141,3 7 15/40
Barru Regency Logo.png
Locator Barru Regency.svg
3
Kabupaten Bone Watampone Andi Fahsar M. Padjalangi 4.559 717.268 157 27 44/328
Bone Regency Logo.png
Locator Bone Regency.svg
4
Kabupaten Bulukumba Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf 1.154,67 394.560 341,71 10 27/109
Bulukumba Regency Logo.png
Locator Bulukumba Regency.svg
5
Kabupaten Enrekang Enrekang Muslimin Bando 1.786,01 190.579 106,71 12 17/112
Lambang Kabupaten Enrekang.png
Locator Enrekang Regency.svg
6
Kabupaten Gowa Sungguminasa Adnan Purichta Ichsan 1.883,32 652.329 350 18 46/121
Lambang Kabupaten Gowa.png
Locator Gowa Regency.svg
7
Kabupaten Jeneponto Bontosunggu Iksan Iskandar 749,79 342.222 460 11 31/82
Logo-kabupaten-jeneponto.jpeg
Locator Jeneponto Regency.svg
8
Kabupaten Kepulauan Selayar Benteng Basli Ali 10.503,69 122.055 12 11 7/81
Logo Kabupaten Kepulauan Selayar.png
Locator Selayar Regency.svg
9
Kabupaten Luwu Belopa Basmin Mattayang 3.000,25 332.482 110,82 21 20/207
Luwu Regency Logo.png
Locator Luwu Regency.svg
10
Kabupaten Luwu Timur Malili Budiman Hakim (Plt.) 6.944,88 243.069 35 11 3/124
Lambang Kabupaten Luwu Timur.png
Locator Luwu Timur Regency.svg
11
Kabupaten Luwu Utara Masamba Indah Putri Indriani 7.502,58 287.472 38,32 11 7/166
Luwu Utara Logo (North Luwu).png
Locator Luwu Utara Regency.svg
12
Kabupaten Maros Turikale Chaidir Syam 1.619,12 322.212 199 14 23/80
Maros Regency Official Logo.png
Locator Maros Regency.svg
13
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Pangkajene Muhammad Yusran Lalogau 1.236,27 305.758 250 13 38/65
Official Regency Logo of Pangkajene dan Kepulauan.png
Locator Pangkajene Kepulauan Regency.svg
14
Kabupaten Pinrang Pinrang Andi Irwan Hamid 1.961,77 351.161 180 12 39/69
Official Logo of Pinrang Regency.png
Locator Pinrang Regency.svg
15
Kabupaten Sidenreng Rappang Pangkajene Sidenreng Dollah Mando 2.506,19 278.004 110 11 38/68
Official Logo of Sidenreng Rappang Regency.png
Locator Sidenreng Rappang Regency.svg
16
Kabupaten Sinjai Balangnipa Andi Seto Gadhista Asapa 819,96 228.936 280 9 13/67
Lambang Kabupaten Sinjai.png
Locator Sinjai Regency.svg
17
Kabupaten Soppeng Watansoppeng Andi Kaswadi Razak 1.359,44 223.757 160 8 21/49
Official Logo of Soppeng Regency.png
Locator Soppeng Regency.svg
18
Kabupaten Takalar Pattallassang Syamsari Kitta 566,51 269.171 480 9 24/76
Lambang Kabupaten Takalar.png
Locator Takalar Regency.svg
19
Kabupaten Tana Toraja Makale Theofilus Allorerung 2.054,30 221.795 110 19 47/112
Coat of Arms, Tana Toraga Regency.png
Locator Tana Toraja Regency.svg
20
Kabupaten Toraja Utara Rantepao Yohanis Bassang 1.151,47 215.400 190 21 40/111
Coat of Arms of Toraja Utara Regency.png
Locator North Toraja Regency.svg
21
Kabupaten Wajo Sengkang Amran Mahmud 2.056,20 384.694 190 14 48/142
Lambang Kabupaten Wajo.png
Locator Wajo Regency.svg
22
Kota Makassar - Moh. Ramdhan Pomanto 175,77 1.334.090 7.600 15 153/-
Coat of Arms of City Makassar.png
Locator Makassar City.svg
23
Kota Palopo - Judas Amir 247,52 148.033 600 9 48/-
Lambang Kota Palopo COA.jpg
Locator Palopo City.svg
24
Kota Parepare - Taufan Pawe 99,33 132.048 1.329 4 22/-
Lambang Kota Parepare.png
Locator Parepare City.svg

Pada tahun 2008, Kabupaten Toraja Utara terbentuk, menyusul terbitnya Amanat Presiden Yudhoyono, bernomor R.68/Pres/12/2007 pada tanggal 10 Desember 2007, mengenai pemekaran 12 kabupaten/kota.

Senjata tradisional[sunting | sunting sumber]

Makanan tradisional[sunting | sunting sumber]

Perkumpulan/Organisasi[sunting | sunting sumber]

  • Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS)

Media[sunting | sunting sumber]

  • Koran Harian Tribun Timur
  • Kompas TV Makassar
  • TVRI Sulsel
  • RRI Makassar
  • Koran online Celebes Online
  • Trans 7 Sulsel
  • Koran Fajar

Referensi[sunting | sunting sumber]

[https://kompaswisata.com/makanan-khas-sulawesi-selatan/ Makanan khas Sulawesi Selatan]

  1. ^ a b c "Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka 2021". www.sulsel.bps.go.id. hlm. 61. Diakses tanggal 27 Februari 2021. 
  2. ^ Ananta et al. 2015, hlm. 119–122.
  3. ^ "Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten Kota dan Agama yang Dianut di Provinsi Sulawesi Selatan 2015". www.sulsel.bps.go.id. Diakses tanggal 18 Februari 2020. 
  4. ^ "Metode Baru Indeks Pembangunan Manusia 2019-2020". www.bps.go.id. Diakses tanggal 27 Februari 2021. 
  5. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2020" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. (2020). Diakses tanggal 16 Februari 2021. 
  6. ^ "Metode Baru Peringkat Indeks Pembangunan Manusia". www.bps.go.id. Diakses tanggal 27 Februari 2021. 
  7. ^ a b c "Bahasa di Provinsi Sulawesi Selatan". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 23 Mei 2020. 
  8. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm. 2. ISBN 9786028449182. 
  9. ^ "Ethnologue". 
  10. ^ "Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan". sulsel.bps.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-10-10. Diakses tanggal 2016-10-08. 
  11. ^ Pusat Perlawanan dan Keamanan Rakyat (1972). Partisipasi rakjat dalam usaha pembelaan negara. Pusat Perlawanan dan Keamanan Rakyat. hlm. 161. 
  12. ^ Dinuth, Alex (1993). Salinan dokumen terpilih sekitar pemberontakan G.30S/PKI. Lembaga Pertahanan Nasional. hlm. 285. 
  13. ^ "Keppres No. 244 tahun 1966" (PDF). Sekretaris Kabinet Republik Indonesia. 17 November 1966. Diakses tanggal 24 Desember 2015. 
  14. ^ Achmad Lamo dan 11 Desember — Ekspres, Band 4, Ausgaben 125-139. PT Aksi Press. 1973. 
  15. ^ Apa & siapa sejumlah orang Indonesia. Grafiti Pers. 1981. hlm. 319. 
  16. ^ Amal, Ichlasul (1981). Regional and Central Government in Indonesian Politics: West Sumatra and South Sulawesi, 1949-1979. Gadjah Mada University Press. hlm. 163, 175, 212. ISBN 9789794202395. 
  17. ^ Putri, Iin Nurfahraeni Dewi (11 Februari 2015). "Begini Kata JK Soal Andi Oddang". Tempo.co. Diakses tanggal 24 Desember 2015. 
  18. ^ Onggang, Alif We (1998). Tentang sejumlah orang Sulawesi Selatan. Yamami. hlm. 206. 
  19. ^ Mappong, Suriani (22 Maret 2014). Tarmizi, Tasrief, ed. "Mantan Gubernur Sulsel Ahmad Amiruddin tutup usia". AntaraNews. Diakses tanggal 24 Desember 2015. 
  20. ^ Muannas; Amir, Syarief (22 Desember 2002). "Amin Syam Terpilih Menjadi Gubernur Sulawesi Selatan". Tempo.co. Diakses tanggal 20 Januari 2018. 
  21. ^ Mayasanto, Ade (18 Januari 2008). "Mayjen Tanri Bali Lamo Penjabat Gubernur Sulsel?". Kompas.com. Diakses tanggal 30 Mei 2018. 
  22. ^ Fadil, Iqbal (8 April 2008). "Gubernur Sulsel Syahrul Yasin dilantik untuk masa jabatan kedua". Merdeka.com. Diakses tanggal 30 Mei 2018. 
  23. ^ Srf; Na (9 April 2018). "Syahrul Sertijab Gubernur ke Soni Sumarsono". Pemerintah Sulawesi Selatan. Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Provinsi Sulawesi Selatan. Diakses tanggal 30 Mei 2018. [pranala nonaktif permanen]
  24. ^ "Gubernur dan Wagub Kompak Hadiri Pelantikan 83 Anggota DPRD Sulsel". fajar.co.id. 24-09-2019. Diakses tanggal 03-11-2019. 
  25. ^ "KPU Tetapkan 85 Anggota DPRD Sulsel Terpilih, Ini Daftarnya". sulsel.idntimes.com. 13-08-2019. Diakses tanggal 03-11-2019. 
  26. ^ "KPU Tetapkan Perolehan Hasil dan Perolehan Kursi DPRD Sulsel". makassar.terkini.id. 13-08-2019. Diakses tanggal 03-11-2019. 
  27. ^ "Lima Parpol di Sulsel Gagal Raih Kursi di DPRD". politik.djournalist.com. 13-08-2019. Diakses tanggal 03-11-2019. 
  28. ^ a b "Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan (Permendagri No.137-2017) - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia". www.kemendagri.go.id (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-04-29. Diakses tanggal 2018-07-09. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]