Sulawesi Tengah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sulawesi Tengah
Provinsi di Indonesia
Sulteng
Taman Nasional Kepulauan Togean
Bendera Sulawesi Tengah
Bendera
Lambang resmi Sulawesi Tengah
Motto: 
"Nosarara Nosabatutu"
Bahasa Indonesia: "Bersama Kita Satu"
Peta
Peta
Negara Indonesia
Hari jadi13 April 1964
Ibu kotaKota Palu
Jumlah satuan pemerintahan
Pemerintahan
 • GubernurLongki Djanggola
 • Wakil GubernurRusli Baco Dg. Palabbi
 • Sekretaris DaerahHidayat Lamakarate
 • Ketua DPRDNilam Sari Lawira
Luas
 • Total61.841,29 km2 (2,387,706 sq mi)
Populasi
 (2019)[1]
 • Total3.054.020
Demografi
 • AgamaIslam 76,37%
Kristen 18,43%
Protestan 16,58%
Katolik 1,85%
Hindu 4,45%
Buddha 0,74%[2]
 • Suku bangsaSuku Sulawesi Tengah (62,20%)
Kaili 21,60%
Bare'e 9,44%
Pamona 6,67%
Banggai 6,52%
Saluan 5,34%
Buol 4,23%
Mori 1,92%
Bungku 1,45%
Suku Balantak 1,41%
Suku Sulawesi Lainnya 11,92%

Suku Lainnya (37,80%)
Bugis 15,62%
Jawa 8,43%
Bali 4,41%
Gorontalo 4,01%
Minahasa 1,16%
Sasak 0,78%
Tionghoa 0,47%
Lainnya 2,92%[3]
 • BahasaIndonesia (bahasa resmi)
Kaili, Bare'e, Pamona, Mori, Banggai, Saluan, Balantak, Bugis
 • IPM (68.88)[4] sedang
Zona waktuUTC+08:00 (WITA)
Kode pos
94xxx
Kode area telepon
ISO 3166 codeID-ST
Nomor TNKBDN
Dasar hukum pendirianUndang-Undang Nomor 13 Tahun 1964[5]
APBD{{{total APBD}}} (2015)
PADRp883.322.000,00 (2015)
DAURp1.637.588.970,00 (2019)[6]
DAKRp73.986.000,00(2015)
Lagu daerahTananggu Kaili, Tondok Kadadingku, Rano Poso, Banggai Tano Monondok, Wita Mori
Rumah adatRumah Tambi
FloraEboni
FaunaMaleo
Situs websulteng.go.id

Sulawesi Tengah (disingkat Sulteng) adalah sebuah provinsi di bagian tengah Pulau Sulawesi, Indonesia. Ibu kota provinsi ini adalah Kota Palu. Luas wilayahnya 61.841,29 km², dan jumlah penduduknya 3.222.241 jiwa (2015). Sulawesi Tengah memiliki wilayah terluas di antara semua provinsi di Pulau Sulawesi, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Pulau Sulawesi setelah provinsi Sulawesi Selatan. Gubernur yang menjabat sekarang adalah Drs. H. Longki Djanggola, M.Si. bersama dengan Rusli Baco Dg. Palabbi.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pengaruh Hindia Belanda[sunting | sunting sumber]

Wilayah sepanjang pesisir barat Sulawesi Tengah, dari Kaili hingga Tolitoli, ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa sekitar pertengahan abad ke-16 di bawah kepemimpinan Raja Tunipalangga.[7] Wilayah di sekitar Teluk Palu merupakan pusat dan rute perdagangan yang penting, produsen minyak kelapa, dan "pintu masuk" ke pedalaman Sulawesi Tengah.[8] Di sisi lain, daerah Teluk Tomini sebagian besar berada di bawah kekuasaan Kerajaan Parigi. Pada tahun 1824, perwakilan Kerajaan Banawa dan Kerajaan Palu menandatangani Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) dengan pemerintah kolonial.[9] Kapal-kapal Belanda mulai sering berlayar di bagian selatan Teluk Tomini setelah tahun 1830.[10]

Sulawesi Tengah baru benar-benar "diperhatikan" oleh Pemerintah Hindia Belanda pada periode tahun 1860-an. Seorang pejabat pemerintah bernama Johannes Cornelis Wilhelmus Diedericus Adrianus van der Wyck, berhasil mengunjungi Danau Poso pada tahun 1865—menjadi orang Eropa dan Belanda pertama yang melakukannya. Langkah ini diikuti oleh pejabat pemerintah lainnya, Willem Jan Maria Michielsen, pada tahun 1869.[10] Wacana untuk menduduki wilayah ini ditolak—merujuk kepada kebijakan anti-ekspansi yang dikeluarkan pemerintah kolonial pada zaman itu.[11] Baru pada tahun 1888, sebagian besar wilayah ini mulai menjalin hubungan dengan pemerintah di Batavia melalui perjanjian pendek yang ditandatangani oleh para raja dan penguasa lokal, sebagai tindakan antisipasi pemerintah terhadap kemungkinan tersebarnya pengaruh politik dan ekonomi Britania Raya di wilayah ini.[11]

Pada periode tersebut, Sulawesi Tengah berada di bawah yurisdiksi Afdeling Gorontalo, yang berpusat di Gorontalo. G. W. W. C. Baron van Höevell, Asisten Residen Gorontalo, khawatir pengaruh Islam yang begitu kuat di Gorontalo akan meluas ke wilayah Sulawesi Tengah—yang saat itu masih belum dimasuki agama samawi, dan penduduknya sebagian besar masih pagan, penganut animisme, dan memeluk agama suku. Baginya, agama Kristen adalah penyangga yang paling efektif melawan pengaruh Islam.[12] Ia menghubungi lembaga misionaris Belanda, Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), dan meminta mereka untuk menempatkan seorang misionaris di wilayah ini. Pada tahun 1892, NZG kemudian mengirimkan misionaris bernama Albertus Christiaan Kruyt, yang ditempatkan di Poso. Langkah ini dilanjutkan pada tahun 1894, ketika pemerintah mengangkat Eduard van Duyvenbode Varkevisser, sebagai Kontrolir atau pejabat pemerintah yang akan menjadi pengawas dan pemimpin wilayah di Poso.[13]

Penaklukan militer Sulawesi Tengah[sunting | sunting sumber]

Penaklukan Belanda di Sulawesi Tengah dimulai dengan serangkaian serangan militer terhadap berbagai kerajaan lokal dan daerah. Pada tahun 1905, sebagian wilayah di Poso terlibat dalam pemberontakan gerilya melawan pasukan Belanda, sebagai bagian dari kampanye militer terkoordinasi Belanda ke seluruh daratan Sulawesi. Salah satu kampanye militer yang terkenal adalah "penaklukan" Kerajaan Mori dalam Perang Wulanderi yang terjadi pada tahun 1907.[14]

Semenjak tahun 1905, wilayah Sulawesi Tengah seluruhnya jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda, dari Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat, kemudian oleh Pemerintah Hindia Belanda dijadikan Landschap-landschap atau Pusat-pusat Pemerintahan Hindia Belanda yang meliputi, antara lain:

  1. Poso Lage di Poso
  2. Lore di Wanga, Lore Utara, Poso
  3. Tojo di Ampana
  4. Una-Una di Pulau Una-Una
  5. Bungku di Bungku
  6. Mori di Kolonedale
  7. Banggai di Luwuk
  8. Parigi di Parigi
  9. Moutong di Tinombo
  10. Tawaeli di Tawaeli
  11. Banawa di Donggala
  12. Palu di Palu
  13. Sigi/Dolo di Biromaru
  14. Kulawi di Kulawi
  15. Tolitoli di Tolitoli

Zaman Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Dalam perkembangannya, ketika Pemerintahan Hindia Belanda jatuh dan sudah tidak berkuasa lagi di Sulawesi Tengah serta seluruh Indonesia, Pemerintah Pusat kemudian membagi wilayah Sulawesi Tengah menjadi 3 (tiga) bagian, yakni:

  1. Sulawesi Tengah bagian Barat, meliputi wilayah Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Pembagian wilayah ini didasarkan pada Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi.
  2. Sulawesi Tengah bagian Tengah (Teluk Tomini), masuk Wilayah Karesidenan Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1919, seluruh Wilayah Sulawesi Tengah masuk Wilayah Karesidenen Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1940, Sulawesi Tengah dibagi menjadi 2 Afdeeling yaitu Afdeeling Donggala yang meliputi Tujuh Onder Afdeeling dan Lima Belas Swapraja.
  3. Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk Wilayah Karesedenan Sulawesi Timur Bau-bau.

Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964 terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai Provinsi yang otonom berdiri sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya Provinsi Sulawesi Tengah.

Zaman Reformasi[sunting | sunting sumber]

Dengan perkembangan Sistem Pemerintahan dan tutunan Masyarakat dalam era Reformasi yang menginginkan adanya pemekaran Wilayah menjadi Kabupaten, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan melalui Undang-undang Nomor 11 tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan. Kemudian melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2002 oleh Pemerintah Pusat terbentuk lagi 2 Kabupaten baru di Provinsi Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Tojo Una-Una. Setelah pemekaran beberapa wilayah kabupaten, provinsi ini terbagi menjadi 14 daerah, yaitu 13 kabupaten dan 1 kota.

Ibu kota Sulawesi Tengah adalah Palu. Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah bagian utara berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Maluku, bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, bagian tenggara berbatasan dengan Sulawesi Tenggara, dan bagian barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Hidrografi[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Tengah juga memiliki beberapa sungai, di antaranya sungai Lariang yang terkenal sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Juga terdapat danau yang menjadi objek wisata terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.

Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna yang sekaligus menjadi objek penelitian bagi para ilmuwan dan naturalis.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Garis khatulistiwa yang melintasi semenanjung bagian utara di Sulawesi Tengah membuat iklim daerah ini tropis. Akan tetapi berbeda dengan Jawa dan Bali serta sebagian pulau Sumatra, musim hujan di Sulawesi Tengah antara bulan April dan September sedangkan musim kemarau antara Oktober hingga Maret. Rata-rata curah hujan berkisar antara 800 sampai 3.000 milimeter per tahun yang termasuk curah hujan terendah di Indonesia.

Temperatur berkisar antara 25 sampai 31° Celsius untuk dataran dan pantai dengan tingkat kelembaban antara 71 sampai 76%. Di daerah pegunungan suhu dapat mencapai 16 sampai 22' Celsius.

Flora dan Fauna[sunting | sunting sumber]

Sulawesi merupakan zona perbatasan unik di wilayah Asia Oceania, di mana flora dan faunanya berbeda jauh dengan flora dan fauna Asia yang terbentang di Asia dengan batas Kalimantan, juga berbeda dengan flora dan fauna Oceania yang berada di Australia hingga Papua dan Pulau Timor. Garis maya yang membatasi zona ini disebut Wallace Line, sementara kekhasan flora dan faunanya disebut Wallacea, karena teori ini dikemukakan oleh Wallace seorang peneliti Inggris yang turut menemukan teori evolusi bersama Darwin.

Sulawesi memiliki flora dan fauna tersendiri. Binatang khas pulau ini adalah anoa yang mirip kerbau, babirusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring pada mulutnya, tersier, monyet tonkena Sulawesi, kuskus marsupial Sulawesi yang berwarna-warni yang merupakan varitas binatang berkantung serta burung maleo yang bertelur pada pasir yang panas.

Hutan Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri, didominasi oleh kayu agatis yang berbeda dengan Sunda Besar yang didominasi oleh pinang-pinangan (spesies rhododenron). Variasi flora dan fauna merupakan objek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk melindungi flora dan fauna, telah ditetapkan taman nasional dan suaka alam seperti Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali, Cagar Alam Tanjung Api dan terakhir adalah Suaka Margasatwa di Bangkiriang.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Sulawesi Tengah pada tahun 2010 adalah 2.831.283 jiwa, dengan kepadatan 46 jiwa/km2. Kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di provinsi Sulawesi Tengah adalah Kabupaten Parigi Moutong dengan jumlah penduduk 449.157 jiwa, sedangkan Kota dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Palu sebanyak 362.202 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk adalah 1,95% per tahun (2010). Sementara penduduk Provinsi Sulawesi Tengah yang tinggal di daerah pemukiman dan pedalaman ialah sekitar 30%, daerah pesisir 60%, dan kawasan kepulauan ialah 10%.[15]

Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi sebagai tanaman utama. Kopi, Kelapa, Kakao dan Cengkih merupakan tanaman perdagangan unggulan daerah ini dan hasil hutan berupa rotan, beberapa macam kayu seperti agatis, ebony dan meranti yang merupakan andalan Sulawesi Tengah.

Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan hukum adat dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang jujur dan ramah sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam putih, beras, telur serta tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam bambu.

Tahun 1971 1980 1990 1995 2000 2010
Jumlah penduduk Green Arrow Up.svg 913.662 Green Arrow Up.svg 1.289.635 Green Arrow Up.svg 1.711.327 Green Arrow Up.svg 1.938.071 Green Arrow Up.svg 2.218.435 Green Arrow Up.svg 2.635.009
Sejarah kependudukan Sulawesi Tengah
Sumber:[16]

Etnis[sunting | sunting sumber]

Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku, yaitu:

  1. Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi dan kota Palu
  2. Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Sigi
  3. Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso
  4. Etnis Pamona berdiam di kabupaten Poso
  5. Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali
  6. Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali
  7. Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai
  8. Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai
  9. Etnis Mamasa berdiam di kabupaten Banggai
  10. Etnis Taa berdiam di kabupaten Banggai
  11. Etnis Bare'e berdiam di Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Poso, Kabupaten Tojo Una-Una
  12. Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan
  13. Etnis Buol mendiami kabupaten Buol
  14. Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli
  15. Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong
  16. Etnis Dampal berdiam di Dampal, kabupaten Tolitoli
  17. Etnis Dondo berdiam di Dondo, kabupaten Tolitoli
  18. Etnis Pendau berdiam di kabupaten Tolitoli
  19. Etnis Dampelas berdiam di kabupaten Donggala

Di samping 13 kelompok etnis, ada beberapa suku hidup di daerah pegunungan seperti suku Da'a di Donggala dan Sigi, suku Wana di Morowali, suku Seasea dan Suku Taa di Ampana dan Banggai, dan suku Daya di Buol Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar 22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama lain menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.

Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Suku pendatang yang juga banyak mendiami wilayah Sulawesi Tengah adalah Mandar, Bugis, Makasar dan Toraja serta etnis lainnya di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah membaur.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa resmi instansi pemerintahan di Sulawesi Tengah adalah bahasa Indonesia. Hingga 2019, Badan Bahasa mencatat ada 21 bahasa daerah di Sulawesi Tengah.[17] Kedua puluh satu bahasa tersebut adalah: (1) Bada, (2) Bajo, (3) Balaesang, (4) Balantak, (5) Banggai, (6) Besoa, (7) Bugis, (8) Bungku, (9) Buol, (10) Dondo, (11) Kaili, (12) Kulawi, (13) Lauje Malala, (14) Pamona, (15) Pipikoro, (16) Saluan, (17) Sangihe Talaud, (18) Seko, (19) Taa, (20) Tombatu, (21) dan Totoli.[18]

Agama[sunting | sunting sumber]

Penduduk Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat pada sensus tahun 2015, 76.37% penduduknya memeluk agama Islam, 16.58% memeluk agama Kristen Protestan, 4.45% memeluk agama Hindu, Katolik sebanyak 1.85%, serta Budha 0.74%[2]. Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karama dan Datuk Mangaji, ulama dari Sumatra Barat; yang kemudian diteruskan oleh Al Alimul Allamah Al-Habib As Sayyed Idrus bin Salim Al Djufri, seorang guru pada sekolah Alkhairaat dan juga diusulkan sebagai Pahlawan nasional. Salah seorang cucunya yang bernama Salim Assegaf Al Jufri menduduki jabatan sebagai Menteri Sosial saat ini.

Agama Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian selatan Donggala oleh misionaris Belanda, A.C Cruyt dan Adrian. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah mayoritas beragama Islam, namun tingkat toleransi beragama sangat tinggi dan semangat gotong-royong yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Seni dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Kesenian[sunting | sunting sumber]

Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrumen seperti gong, kakula, lalove dan jimbe. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat - waino - musik tradisional - ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.

Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian di mana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan Jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II. Tarian in adalah tarian tradisional Sulawesi Tengah.

Kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.

Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Manado, terlihat dari dialek daerah Luwuk dan sebaran suku Gorontalo di kecamatan Bualemo yang cukup dominan.

Ada juga pengaruh dari Sumatra Barat seperti tampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.

Sementara masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan. Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang dan hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri.

Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat. Senjata tradisional masyarakat Sulawesi Tengah adalah Parang (Guma), Tombak, Sumpit.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Gubernur[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar Gubernur Sulawesi Tengah:

No Foto Gubernur[19] Mulai Jabatan Akhir Jabatan Prd. Ket. Wakil Gubernur
1 Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Gelar Datuk Madjo Basa Nan Kuning.jpg Anwar Gelar Datuk Madjo
Basa Nan Kuning
13 April 1964 13 April 1968 1   Tidak ada
2 Gubernur Sulawesi Tengah Mohammad Yasin.jpg Mohammad Jasin 13 April 1968 April 1973 2  
3 Gubernur Sulawesi Tengah Albertus Maruli Tambunan.jpg Albertus Maruli Tambunan April 1973 28 September 1978 3  
4 Gubernur Sulawesi Tengah Moenafri.jpg Moenafri 28 September 1978 22 Oktober 1979 4  
5 Gubernur Sulawesi Tengah Eddy Djadjang Djajaatmadja.jpg Eddy Djadjang Djajaatmadja 22 Oktober 1979 22 Oktober 1980 5  
Eddy Sabara as the Inspector General of the Department of Home Affairs of Indonesia.jpg Eddy Sabara
(Penjabat Gubernur)
November 1980 Februari 1981
6 Gubernur Sulawesi Tengah Ghalib Lasahido.jpg Ghalib Lasahido 19 Desember 1981 Februari 1986 6  
7 Gubernur Sulawesi Tengah Abdul Aziz Lamadjido.jpg Abdul Aziz Lamadjido Februari 1986 Februari 1991 7   M. Soeleman
Februari 1991 Februari 1996 8
8 Gubernur Sulawesi Tengah Bandjela Paliudju Periode I.jpg Bandjela Paliudju 16 Februari 1996 20 Februari 2001 9 Kiesman Abdullah
Haryono
9 Aminuddin ponulele.jpg Aminuddin Ponulele 20 Februari 2001 20 Februari 2006 10 Rully Azis Lamadjido
Gumyadi
(Penjabat Gubernur)
20 Februari 2006 24 Maret 2006
(8) Paliudju.JPG Bandjela Paliudju 24 Maret 2006 24 Maret 2011 11 [20] Achmad Yahya
Tanribali.jpg Tanribali Lamo
(Penjabat Gubernur)
24 Maret 2011 16 Juni 2011
10 Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola Periode II.jpg Longki Djanggola 16 Juni 2011 16 Juni 2016 12 Sudarto
(2011–16)
16 Juni 2016 Petahana 13
Rusli Dg. Palabbi
(2019–)

Kepala daerah Provinsi Sulawesi Tengah adalah gubernur, yang dibantu oleh seorang wakil gubernur. Jabatan Gubernur Sulawesi Tengah secara resmi saat ini diemban oleh Longki Djanggola, yang terpilih dalam Pilkada Sulawesi Tengah dan sekarang menjabat untuk periode kedua.[21]. Sedangkan jabatan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah sudah diganti oleh Rusli Baco Dg. Palabbi setelah terakhir kali dijabat oleh (Alm.) Sudarto, S.H., M.Hum..

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Sulawesi Tengah beranggotakan 45 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD Sulawesi Tengah terdiri dari 1 Ketua dan 3 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD Sulawesi Tengah yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 25 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah di Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Tengah.[22][23] Komposisi anggota DPRD Sulawesi Tengah periode 2019-2024 terdiri dari 11 partai politik dimana Partai NasDem adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 7 kursi, kemudian disusul oleh Partai Golkar yang juga meraih 7 kursi serta Partai Gerindra dan PDI Perjuangan yang masing-masing meraih 6 kursi. Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Sulawesi Tengah dalam dua periode terakhir.[24][25]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
Logo PKB.svg PKB 3 4
Logo Gerindra.svg Gerindra 6 Steady 6
LOGO- PDIP.svg PDI Perjuangan 6 Steady 6
GolkarLogo.png Golkar 7 Steady 7
Partai NasDem.svg NasDem 5 7
Contoh Logo Baru PKS.jpg PKS 3 4
Logo PPP.svg PPP 1 Steady 1
Logo PAN.svg PAN 3 2
Logo Hanura.svg Hanura 4 2
Logo of the Democratic Party (Indonesia).svg Demokrat 6 4
Bulan Bintang.jpg PBB 1 0
PartaiPerindo.png Perindo (baru) 2
Jumlah Anggota 45 Steady 45
Jumlah Partai 11 Steady 11

Kabupaten dan kota[sunting | sunting sumber]

No. Kabupaten/kota Pusat pemerintahan Bupati/wali kota Luas wilayah (km2)[26] Jumlah penduduk (2017)[26] Kecamatan Kelurahan/desa Logo
Coat of arms of Central Sulawesi.png
Peta lokasi
1 Kabupaten Banggai Luwuk Herwin Yatim 9.672,70 359.495 23 46/291
Lambang Kabupaten Banggai.tif
Locator Kabupaten Banggai.svg
2 Kabupaten Banggai Kepulauan Salakan Rais Adam 2.488,79 117.526 12 3/141
Lambang Kabupaten Banggai Kepulauan.tif
Locator Kabupaten Banggai Kepulauan.svg
3 Kabupaten Banggai Laut Banggai Wenny Bukamo 725,67 63.127 7 3/63
Lambang Kabupaten Banggai Laut.tif
Locator Kabupaten Banggai Laut.svg
4 Kabupaten Buol Buol Amirudin Rauf 4.043,57 132.786 11 7/108
Coat of arms of Buol Regency.png
Locator Kabupaten Buol.svg
5 Kabupaten Donggala Banawa Kasman Lassa 4.275,08 293.470 16 9/158
Lambang Kabupaten Donggala.png
Locator Kabupaten Donggala.svg
6 Kabupaten Morowali Bungku Taslim 3.037,04 129.814 9 7/126
Lambang Kabupaten Morowali (2015-sekarang).png
Locator Kabupaten Morowali.svg
7 Kabupaten Morowali Utara Kolonodale Asrar Abdul Samad 10.004,28 117.164 10 3/122
Lambang Kabupaten Morowali Utara.png
Locator Kabupaten Morowali Utara.svg
8 Kabupaten Parigi Moutong Parigi Samsurizal Tombolotutu 5.089,91 444.513 23 5/278
Lambang Kabupaten Parigi Moutong.png
Locator Kabupaten Parigi Moutong.svg
9 Kabupaten Poso Poso Darmin A. Sigilipu 7.112,25 243.025 19 28/141
Lambang Kabupaten Poso.png
Locator Kabupaten Poso.svg
10 Kabupaten Sigi Sigi Biromaru Moh. Irwan Lapata 5.196,02 247.057 15 -/176
Lambang Kabupaten Sigi.png
Locator Kabupaten Sigi.svg
11 Kabupaten Tojo Una-Una Ampana Mohammad Lahay 5.721,15 155.885 12 12/134
Lambang Kabupaten Tojo Una-Una.png
Locator Kabupaten Tojo Una-Una.svg
12 Kabupaten Tolitoli Tolitoli Moh. Saleh Bantilan 4.079,77 211.973 10 6/103
Lambang Kabupaten Tolitoli.png
Locator Kabupaten Tolitoli.svg
13 Kota Palu - Hidayat 395,06 363.867 8 46/-
Lambang Kota Palu.png
Locator Kota Palu.svg

Pertahanan dan Keamanan[sunting | sunting sumber]

Militer[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Tengah merupakan wilayah Kodam XIII/Merdeka, yang bermarkas di Manado. Korem 132/Tadulako terletak di Kota Palu. Korem 132/Tadulako membawahi empat Kodim dan dua Batalyon Infanteri, yaitu:

Palu merupakan daerah cabang Komando Armada II TNI AL yang bermarkas di Watusampu. Kawasan TNI-AU terdapat di Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie (Palu), dan Bandar Udara Kasiguncu (Poso). Daerah latihan militer antara lain terdapat di Bukit Jabal Nur (Palu), dan Gunung Biru (Poso).

Kepolisian[sunting | sunting sumber]

Polda Sulawesi Tengah membawahi 13 kabupaten/kota dengan rincian satu kepolisian resor kota (Polresta Palu), dan 11 kepolisian resor (Polres Banggai Laut masih menjadi satu dengan Polres Banggai Kepulauan).[27]

Kawasan Lindung[sunting | sunting sumber]

Kawasan Pelestarian Alam[sunting | sunting sumber]

Kawasan pelestarian alam meliputi taman nasional, taman hutan raya (tahura), dan taman wisata alam. Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan taman nasional, yaitu:

Bandar Udara Di Sulawesi Tengah[sunting | sunting sumber]

Provinsi Sulawesi Tengah memiliki beberapa bandar udara (bandara) yang beroperasi untuk penerbangan domestik dan internasional, Adapun daftar bandara yang ada di sulteng adalah sebagai berikut.

Nama Bandara / Kode IATA Kategori Status Alamat Kabupaten/Kota
Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie / PLW Domestik Kelas I Jl. Abdul Rahman Saleh, Kel. Birobuli Utara, Kec. Palu Selatan Kota Palu
Bandar Udara Kasiguncu / PSJ Domestik Kelas II Jl. Trans Sulawesi KM 13 Kel.Kasiguncu, Kec. Poso Pesisir Kabupaten Poso
Bandar Udara Sultan Bantilan / TLI Domestik Kelas III Jl. Bandar Udara No. 13, Kel. Lalos, Kec. Galang Kabupaten Tolitoli
Bandar Udara Pogogul / UDL Domestik Kelas III Jl. Bandar Udara No. 1, Kel. Mangubi, Kec. Momunu Kabupaten Buol
Bandar Udara Tanjung Api / VPM Domestik Satpel Jl. Trans Sulawesi, Kel. Labuan, Kec. Ampana Kota Kabupaten Tojo Una-una
Bandar Udara Syukuran Aminuddin Amir / LUW Domestik Kelas II Jl. Mandapar No. 2 Desa Bubung, Kec. Luwuk Selatan Kabupaten Banggai
Bandar Udara Maleo Domestik Satpel Kel. Umbele, Kec. Bumi Raya Kabupaten Morowali

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota, 2010 -2020". BPS. Diakses tanggal 2019-12-21. 
  2. ^ a b "Provinsi Sulawesi Tengah Dalam Angka 2016"
  3. ^ "Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia 2010". www.bps.go.id. Diakses tanggal 13 Agustus 2018. 
  4. ^ https://ipm.bps.go.id/data/nasional/metode/baru
  5. ^ http://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/1433.pdf
  6. ^ [hhttp://www.djpk.kemenkeu.go.id/wp-content/uploads/2018/10/DAU.pdf "RINCIAN ALOKASI DANA ALOKASI UMUM PROVINSI/KABUPATEN/KOTA DALAM APBN T.A. 2019"] (PDF). Diakses tanggal 2019-12-21.  line feed character di |title= pada posisi 34 (bantuan)
  7. ^ Druce 2009, hlm. 232–235; Druce 2009, hlm. 244.
  8. ^ Henley 2005, hlm. 72.
  9. ^ Henley 2005, hlm. 232.
  10. ^ a b Henley 2005, hlm. 222.
  11. ^ a b Coté 1996, hlm. 93.
  12. ^ Noort 2006, hlm. 28.
  13. ^ Coté 1996, hlm. 93; Henley 2005, hlm. 222.
  14. ^ Coté 2006, hlm. 97.
  15. ^ Letak Geografi dan Demografi Sulawesi Tengah, Letak Geografi dan Demografi Sulawesi Tengah.
  16. ^ "Badan Pusat Statistik". BPS. Diakses tanggal 17 Oktober 2014. 
  17. ^ "Penyebaran Bahasa di Indonesia". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 25 Mei 2020. 
  18. ^ "Bahasa di Provinsi Sulawesi Tengah". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 25 Mei 2020. 
  19. ^ Islam, Muhammad (13 April 2015). "Sejarah Singkat Berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah". PPID Provinsi Sulawesi Tengah. PPID Provinsi Sulawesi Tengah. Diakses tanggal 3 November 2017. 
  20. ^ "Sambutan Menteri Dalam Negeri pada acara pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah periode 2006-2011". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Pusat Penelitian Departemen Dalam Negeri. 27 Maret 2006. Diakses tanggal 26 Desember 2015. 
  21. ^ Menang, Longki Janji Lebih Baik, Menang, Longki Janji Lebih Baik.
  22. ^ "Inilah 45 Anggota DPRD Sulteng Periode 2019-2024 yang Dilantik". sultengterkini.com. 25-09-2019. Diakses tanggal 01-11-2019. 
  23. ^ "45 Anggota DPRD Sulteng 2019-2024 Dilantik, Nilam Sari Lawira Terpilih Ketua Sementara". kabarselebes.id. 25-09-2019. Diakses tanggal 01-11-2019. 
  24. ^ "PENGUMUMAN HASIL PENETAPAN PEROLEHAN KURSI PARTAI POLITIK DAN PENETAPAN CALON TERPILIH ANGGOTA DPRD PROVINSI SULAWESI TENGAH PEMILU TAHUN 2019". sulteng.kpu.go.id. 13-08-2019. Diakses tanggal 01-11-2019. 
  25. ^ "Inilah Nama-Nama Anggota DPRD Sulteng Periode 2014 – 2019". beritapalu.com. 12-05-2014. Diakses tanggal 01-11-2019. 
  26. ^ a b "Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan (Permendagri No.137-2017) - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia". www.kemendagri.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-07-12. 
  27. ^ Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Situs Resmi dan Struktur Polda Sulawesi Tengah.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Publikasi primer

Sumber[sunting | sunting sumber]

Buku[sunting | sunting sumber]

Laporan[sunting | sunting sumber]

Situs web[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Koordinat: 0°58′S 121°44′E / 0.967°S 121.733°E / -0.967; 121.733