Sulawesi Utara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sulawesi Utara
Provinsi di Indonesia
Sulut
Manado banner.JPG
Rumah Minahasa Sulawesi Utara.JPGCOLLECTIE TROPENMUSEUM Strijkluit met één snaar met strijkstok TMnr 1072-2.jpg
Kabasaran.jpgTari Maengket.jpg
Paniki manado.jpgBunaken Marine Park.JPG
Manado Skyline.jpg
Searah jarum jam, dari atas, kiri ke kanan : Pemandangan Kota Manado, Rumah tradisional Wale, Alat musik Arababu, Tari Kabasaran, Tari Maengket, Makanan Paniki, Pemandangan Taman Nasional Bunaken, Jembatan Soekarno Manado.
Bendera Sulawesi Utara
Bendera
Lambang resmi Sulawesi Utara
Motto: 
"Si Tou Timou Tumou Tou"
(Bahasa Minahasa: "Manusia hidup untuk menghidupi/mendidik/menjadi berkat orang lain")
Peta
Peta
Negara Indonesia
Hari jadi23 September 1964 (hari jadi)
Ibu kotaLambang Kota Manado.png Kota Manado
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kabupaten: 11
  • Kota: 4
  • Kecamatan: 171
  • Kelurahan: 332
  • Desa: 1.507
Pemerintahan
 • GubernurOlly Dondokambey
 • Wakil GubernurSteven Kandouw
 • Sekretaris DaerahEdwin Silangen
 • Ketua DPRDAndi Silangen
Luas
 • Total13.892,47 km2 (5,363,91 sq mi)
Populasi
 • Total2.655.970
 • Kepadatan191/km2 (490/sq mi)
Demografi
 • AgamaKristen 68,00%
Protestan 63,60%
Katolik 4,40%
Islam 30,90%
Hindu 0,58%
Buddha 0,14%
Konghucu 0,02%
Lainnya 0,36%[3]
 • BahasaIndonesia (bahasa resmi)
Minahasa, Kaidipang, Manado, Mangondow, Ponosakan, Sangir, Talaud, Tombulu, Tonsawang, Tonsea, Tontemboan (daerah)
 • IPMKenaikan 73,30 (2021)
tinggi[4]
Zona waktuUTC+08:00 (WITA)
Kode pos
95xxx
Kode area telepon
Daftar
  • 0430 - Amurang (Kabupaten Minahasa Selatan)
  • 0431 - Manado, Tomohon, Tondano
  • 0432 - Tahuna (Kabupaten Kepulauan Sangihe)
  • 0434 - Kab. Bolaang Mongondow, Bolmong Utara, Bolmong Selatan, Bolmong Timur, Kotamadya Kotamobagu
  • 0438 - Bitung
ISO 3166 codeID-SA
Pelat kendaraan
Daftar
  • DB (wilayah daratan)
  • DL (wilayah kepulauan Sangihe-Talaud-Sitaro)
Dasar hukum pendirianUndang-Undang Nomor 13 Tahun 1964
DAURp 1.488.989.572.000,00- (2020)[5]
FloraLongusei
FaunaTarsius
Situs websulutprov.go.id

Sulawesi Utara (disingkat Sulut) adalah salah satu provinsi yang terletak di ujung utara Pulau Sulawesi, Indonesia, dengan ibu kota terletak di kota Manado. Sulawesi Utara atau Sulut berbatasan dengan Laut Maluku dan Samudera Pasifik di sebelah timur, Laut Maluku dan Teluk Tomini di sebelah selatan, Laut Sulawesi dan provinsi Gorontalo di sebelah barat, dan provinsi Davao del Sur (Filipina) di sebelah utara. Penduduk Sulawesi Utara pada tahun 2021 berjumlah 2.655.970 jiwa, dan luas wilayahnya adalah 13.892,47 km2.[1]

Sulawesi Utara memiliki kepulauan dengan jumlah pulau sebanyak 287 pulau dengan 59 di antaranya berpenghuni. Wilayah administratif Sulawesi Utara terbagi menjadi 4 kota dan 11 kabupaten dengan 1.664 desa/kelurahan. Sulawesi Utara terbagi menjadi dua zona yaitu zona selatan yang berupa dataran rendah dan dataran tinggi serta zona utara yang meliputi kepulauan. Zona ekonomi eksklusif Sulawesi Utara mencapai 190.000 km2 dengan pesisir pantai sepanjang 2.395,99 km dan luas hutan mencapai 701. 885 hektare. Wilayah Sulawesi Utara juga memiliki banyak gunung berapi, dikarenakan letaknya yang berada di tepian Lempeng Sunda.[6]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Prasejarah[sunting | sunting sumber]

Benda Purbakala temuan Arkeologi Masa Prasejarah[sunting | sunting sumber]

Kuburan Waruga.

Temuan benda purbakala di Sulawesi Utara di antaranya gua-gua purba di Talaud, Minahasa, Bolaang Mongondow. Kubur batu Waruga yang bertebaran di Minahasa. Pada saat terjadi pengesekan (zaman glacial) di muka bumi pada masa Plestosin, pernah terjadi migrasi fauna dari daratan Asia ke Selatan melalui Filipina dan Sulawesi Utara.

Oleh sebab itu di Filipina dan di Sulawesi Utara terdapat peninggalan fosil-fosil binatang purba seperti gajah purba (stegodon) dan fosil hewan lainnya. Di Desa Pintareng di Tabukan Selatan di Pulau Sangihe, telah ditemukan adanya fosil-fosil gading dan geraham gajah purba tersebut. Menurut para ahli dari Museum Geologi Bandung dan dari Pusat penelitian Arkeologi Nasional Jakarta, fosil-fosil tersebut dinyatakan sebagai bagian dari fosil Stegodon yang pernah hidup di Kepulauan Nusantara pada masa Plestosin sekitar 2 juta tahun lalu.

Gajah purba ini selain di Pintareng telah ditemukan fosil-fosilnya di Sangiran, di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, di Lembah Cabenge di Sulawesi Selatan dan di Lembah Besoa di Sulawesi Tengah. Stegodon di dunia diperkirakan pernah hidup sejaman dengan binatang purba lainnya. Di Indonesia stegodon hidup dengan binatang-binatang purba lainnya seperti Rinocheros (badak purba) serta kerbau purba dan lain sebagainya. Dengan temuan fosil gajah purba di Pintareng, Tabukan Selatan Sangihe tersebut, maka sebenarnya pada masa lalu gajah pernah hidup di Pulau Sulawesi dan terutama di Sulawesi Utara.

ditemukannya sisa-sisa budaya yang mengenal pemakaian alat-alat batu muda (neolitik) yang berupa beliung batu persegi di Liang Tuo Mane’e di Kabupaten Talaud dan di daerah lain di Sulawesi Utara. Disamping itu ditemukan pula sisa-sisa budaya masa logam tua (paleometalik) yang mengenal penggunaan tempayan kubur seperti yang ditemukan di Liang Buiduane di Talaud dan di Bukit Kerang Passo di Minahasa, serta peninggalan budaya megalitik (kebudayaan yang mengenal penggunaan batu-batu besar) tersebar di wilayah kepulauan Sulawesi dan kepulauan Maluku Utara (Bellwood, 1978).

Sehubungan dengan hal itu wilayah ini menurut para pakar diperkirakan menjadi daerah kunci yang dapat memberi jawaban atas permasalahan daerah asal (home land) dari suku bangsa yang berbahasa Austronesia yang pada masa kemudian mendiami daerah-daerah antara Madagaskar di bagian barat sampai dengan Easter Island di kepulauan Pasifik di bagian timur, serta Formosa Island di bagian Utara (Solheim, 1966; Shuttler, 1975, Bellwood, 2001).

Budaya yang dibawa oleh suku bangsa penutur bahasa Austronesia meninggalkan warisan-warisan budaya yang terdiri dari alat-alat batu neolitik beliung persegi, benda-benda yang terbuat dari batu-batu besar (megalitik) dan penguburan dengan menggunakan tempayan tanah liat. Warisan budaya semacam itu banyak ditemukan peninggalannya di Sulawesi Utara. Alat-alat batu neolitik telah ditemukan di gua-gua di daerah Talaud, di Guaan Bolaang Mongondow dan daerah Oluhuta yang sebelum pemekaran wilayah daerah itu termasuk ke dalam wilayah Sulawesi Utara.

Demikian juga benda-benda megalitik banyak ditemukan di Sulawesi Utara dalam bentuk kubur batu waruga, batu bergores Watu Pinawetengan, menhir ‘watu tumotowa’, kubur tebing batu Toraut dan lesung batu, yang umumnya ditemukan di Tanah Minahasa dan Bolaang Mongondow. Sedangkan kubur tempayan tanah liat ditemukan di beberapa daerah seperti di Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas Minahasa, di Liang Buiduane Salibabu, di Tara-tara, Kombi, dan di beberapa daerah lainnya.

Sejarah Peradaban di Sulawesi Utara[sunting | sunting sumber]

Sejarah peradaban manusia di daerah ini cukup panjang dan menarik. Daerah ini pada zaman es melanda dunia pada masa plestosin jutaan tahun yang lalu, merupakan bagian daratan yang menghubungkan Pulau Sulawesi dengan daratan Filipina bahkan daratan Asia. Setelah zaman es berakhir, Sulawesi Utara menjadi daratan yang membentuk jazirah Pulau Sulawesi dan kepulauan di bagian utaranya.

Selain daratan yang sebagian besar merupakan dataran tinggi, Sulawesi Utara juga terdiri dari pulau-pulau yang jumlahnya cukup banyak, lebih dari 150 pulau. Daerah ini mempunyai karakter alam yang khas yaitu dataran tinggi lebih luas dari dataran rendahnya, memiliki banyak gunung berapi dan sebagian besar masih aktif termasuk gunung api bawah laut, memiliki banyak gugusan karang yang membentuk pulau-pulau, selain itu kerak bumi daerah ini berdekatan bahkan sebagian berada tepat di daerah terjadinya proses subduksi (perbenturan) lempeng-lempeng (plates) tektonik antara lempeng Pasifik-Filipina-Australia dengan lempeng Sangihe dan Halmahera. Bahkan terletak dekat dengan pertemuan lempeng-lempeng dunia seperti lempeng Pasifik, Eurasia, dan Australia.

Posisi di daerah subduksi inilah yang menyebabkan kemunculan gunung-gunung berapi dan sering terjadinya berbagai gempa bumi di daerah ini sejak zaman dahulu kala. Gunung-gunung berapi Sulawesi, Halmahera, dan Sangihe, adalah merupakan hasil zona subduksi lempengan Sangihe dan Halmahera.

Sebagian besar lempengan Maluku telah tertindih (tersubduksi) oleh zona subduksi Halmahera di bagian Timur dan oleh zona subduksi Sangihe di bagian Barat. Gunung-gunung berapi di Sulawesi, Sangihe, dan Halmahera diberi pasokan magma yang dibangkitkan di mantle asthenospherik yang termodifikasi oleh fluida yang dihasilkan dari lempengan Maluku yang tertindih. Dalam beberapa juta tahun semua lempengan Laut Maluku akan tersubduksi dan lempengan Sangihe serta Halmahera yang sudah saling menindih pada ujung-ujung lempengannya akan bertabrakan hebat (Salindeho, Winsulangi dan Pitres Sombowadile, 2008: hal. 12, 144-149).

Fenomena alam yang telah digambarkan tersebut, di satu sisi telah menyebabkan berbagai bencana seperti bencana gempa bumi atau letusan gunung api yang mendatangkan kesulitan bagi masyarakat. Akan tetapi di sisi lain telah memberi warisan yang berupa keindahan alam dan kekayaan alam yang menguntungkan bagi masyarakat. Warisan yang menguntungkan itu antara lain keindahan alam pegunungan maupun bahari termasuk keindahan terumbu karang bahkan juga hasil rempah-rempah yang sudah terkenal di dunia sejak ratusan tahun lalu, adalah merupakan warisan yang menguntungkan masyarakat. Demikian juga warisan alam yang berupa logam bernilai ekonomis tinggi seperti emas, perak, timbal, seng, dan tembaga. Semua itu telah terekam di dalam dokumen-dokumen sejarah alam daerah ini.

Dari uraian tersebut diperoleh gambaran bahwa Sulawesi Utara berdasarkan alamnya, terkenal ke seluruh dunia dengan kekhasan dan kekayaan alamnya yang indah dan subur, dengan adanya taman-taman laut seperti Bunaken maupun adanya tambang-tambang emas, serta tanaman cengkih-pala dan perkebunan kelapa yang sangat luas, demikian juga dengan fauna langkanya seperti Anoa, Maleo, Tarsius, dan lain sebagainya.

Berdasarkan penelitian arkeologi diketahui bahwa tanda-tanda kehidupan manusia di Sulawesi Utara sudah berlangsung sejak 30.000 tahun yang lalu seperti yang ditemukan buktinya di Gua Liang Sarru di Pulau Salibabu. Bukti yang lain menunjukkan adanya kehidupan sekitar 6.000 tahun lalu di Situs Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas dan 4.000 tahun yang lalu sampai awal Masehi di Gua Liang Tuo Mane’e di Arangkaa di Pulau Karakelang. Kemudian muncul kebudayaan megalitik berupa kubur batu ‘waruga’, menhir ‘watutumotowa’, lumpang batu dan lain-lain sejak 2.400 tahun yang lalu sampai abad 20 Masehi di Bumi Minahasa.

Selain itu Sulawesi Utara pada masa lalu merupakan wilayah penghasil rempah-rempah, beras, dan emas yang potensial yang menjadi ajang pertarungan kepentingan hegemoni ekonomi antara bangsa Portugis, Spanyol, Belanda dan Kerajaan-kerajaan di sekitar daerah ini, yang akhirnya bermuara pada pertarungan politik dan militer (Meilink-Roelofsz, 1962: 93-100). Pada masa lalu daerah ini juga menjadi rute perdagangan antara barat dan timur serta penyebaran agama Kristen, Islam maupun kepercayaan atau agama yang dibawa oleh pedagang-pedagang Cina. Sulawesi Utara juga berperan dalam perjuangan-perjuangan kemerdekaan dengan munculnya pahlawan-pahlawan asli dari daerah ini.

Wilayah Indonesia Timur termasuk daratan Sulawesi Utara dan kepulauan Sangihe, Sitaro, dan Talaud, sejak dahulu adalah merupakan wilayah yang strategis di kawasan Pasifik, karena merupakan jembatan penghubung antara kawasan Asia dengan Kepulauan Pasifik (Bellwood, 1996; Veth 1996). Pada masa lalu wilayah ini menjadi bagian dari rute perjalanan migrasi fauna dan manusia beserta kebudayaannya. Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa di dalam migrasi fauna prasejarah pernah melewati dan singgah di wilayah ini adalah ditandai dengan adanya fosil gading gajah purba (stegodon) yang ditemukan di Pintareng, di Kabupaten Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara (Husni, 1996/1997, 1999), dan geraham binatang purba di lembah Napu di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, serta fosil-fosil binatang purba lainnya di Cabenge di Sulawesi Selatan (Santoso, 2001, 2002, 2003).

Masa Di Temukannya Tulisan[sunting | sunting sumber]

Daerah Sulawesi Utara masuk dalam sejarah catatan sejak tahun 1365 demikian menurut tulisan David DS Lumoindong, di dapat dari penemuan berita mengenai Talaud dan Minahasa. Tetapi kalau dilihat sejak adanya tulisan maka bukti penulisan di Watu Pinawetengan yang diperkirakan tahun 670 Masehi menurut Riedel.

Kolonialisme[sunting | sunting sumber]

Bangsa Portugis adalah bangsa barat yang pertama kali datang di Sulawesi Utara, kapal Portugis berlabuh di Pulau Manado di masa Kerajaan Manado tahun 1521. Kapal Spanyol berlabuh di Pulau Talaud dan Siau, terus ke Ternate. Portugis membangun benteng di Amurang. Spanyol membangun Benteng di Manado, sejak itu Minahasa mulai dikuasai Spanyol.

Perlawanan melawan penjajahan Spanyol memuncak tahun 1660-1664. Kapal Belanda mendarat di Kota Manado pada tahun 1660 dalam membantu perjuangan Konfederasi Minahasa melawan Spanyol. Perserikatan negara-negara republik anggota Konfederasi Minahasa mengadakan Perjanjian Dagang dengan VOC. Perjanjian kerja sama dagang ini kemudian menjadikan VOC memonopoli perdagangan, yang lama kelamaan mulai memaksakan kehendaknya, akhirnya menimbulkan perlawanan tahun 1700-an di Ratahan yang memuncak pada Perang Minahasa-Belanda tahun 1809-1811 di Tondano.

Benda Temuan ArkeologI Masa Sejarah[sunting | sunting sumber]

Di antaranya Benteng-benteng Portugis seperti di Amurang, Kema, Batu Waruga di Sawangan, Tomohon, Tondano, Tompaso kemudian tugu-tugu batu di semua desa disebut Batu Tumotowa.

Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Setelah kemerdekaan Indonesia, Indonesia terbagi menjadi 8 Provinsi, dan Sulawesi termasuk salah satu provinsi tersebut. Gubernur pertama Sulawesi adalah Dr. Sam Ratulangi, yang juga dikenal sebagai pahlawan nasional.

Tahun 1948 di Sulawesi dibentuk Negara Indonesia Timur, yang kemudian menjadi salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Negara Indonesia Timur dibubarkan, dan bergabung ke dalam Republik Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor UU 13 Tahun 1964, dibentuk Provinsi Sulawesi Utara. Tanggal 23 September 1964 ditetapkan sebagai hari jadi provinsi.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Peta Administrasi Provinsi Sulawesi Utara

Sulawesi Utara terletak di jazirah utara Pulau Sulawesi atau tepatnya 0°LU – 3°LU dan 123°BT – 126°BT serta merupakan salah satu daerah yang terletak di sebelah utara garis khatulistiwa.

Topografi[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Utara terdapat 41 buah gunung dengan ketinggian berkisar antara 1.112 - 1.995 dpl. Kondisi geologi sebagian besar adalah wilayah vulkanik muda, sejumlah besar erupsi serta bentuk kerucut gunung berapi aktif yang padam menghiasi Minahasa bagian tengah, daerah Bolaang Mongondow, dan Kepulauan Sangihe. Material-material yang dihasilkan letusannya berbentuk padat serta lain-lain bahan vulkanik lepas. Semua vulkanik ini berbentuk pegunungan (otogenisa) menghasilkan morfologi yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung dengan perbedaan relief topografik yang cukup besar.

Sulawesi Utara terdapat 5 wilayah yang di kelilingi oleh gunung api aktif yaitu:

  • Kabupaten Bolang Mongondow
  1. Gunung Ambang dengan ketinggian 1.689 dpl
  • Kabupaten Minahasa Selatan dengan
  1. Gunung Soputan dengan ketinggian 1.783 dpl
  • Kota Tomohon
  1. Gunung Lokon dengan ketinggian 1.579,6 dpl
  2. Gunung Mahawu dengan ketinggian 1.331,0 m yang merupakan hulu dari 12 sungai besar dengan 7 danau.
  • Kepulauan Sangihe yakni
  1. Karangetang dengan ketinggian 1.320,0 dpl
  2. Ruang dengan ketinggian 714,0 dpl
  3. Banuawuhu
  4. Submarin
  5. Gunung Awu.
  • Kota Bitung dengan
  1. Gunung Tangkoko dengan ketinggian 1.149,0 dpl

Relief[sunting | sunting sumber]

Secara fisiografis, wilayah Provinsi Sulawesi Utara dapat dikelompokkan dalam dua zona: zona selatan dan zona utara. Dataran rendah, dan dataran tinggi pada bagian selatan (dari Bolaang hingga Minahasa Utara) memiliki tanah yang cukup subur. Pada bagian utara (dari Pulau Miangas, Sangihe, hingga Pulau Siau) kepulauan.

Terbentang rangkaian pegunungan berapi: Di Minahasa Tenggara terdapat Gunung Soputan. Di Kota Tomohon terdapat Gunung Lokon, di Pulau Siau tedapat Gunung Karangetang. Sedangkan di Minahasa Utara terdapat gunung tertinggi yaitu Gunung Klabat di Kota Airmadidi gunung tersebut sudah lama tidak aktif, di puncaknya terdapat danau.

Hidrografi[sunting | sunting sumber]

Dua sungai terpenting di Sulawesi Utara adalah Sungai Tondano, Sungai Poigar, dan Sungai Ranoyapo. Sungai Tondano memiiki hulu di Danau Tondano di daerah Minahasa, dan mengalir melalui tengah Kota Manado. Sungai Ranoyapo memiiki hulu di Pegunungan Wulur Mahatus di daerah Minahasa Selatan, dan mengalir melalui sebagian daerah di Minahasa Selatan bermuara di Kota Amurang.

Luas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Luas wilayah Provinsi Sulawesi Utara adalah 15.069 km² dengan persentase 0,72% terhadap luas Indonesia yang terdiri dari 11 (sebelas) Kabupaten dan 4 (empat) Kota.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Iklim daerah Sulawesi Utara termasuk tropis yang dipengaruhi oleh angin muson. Pada bulan-bulan November sampai dengan April bertiup angin barat yang membawa hujan di pantai utara, sedangkan dalam Bulan Mei sampai Oktober terjadi perubahan angin selatan yang kering.

Curah Hujan[sunting | sunting sumber]

Curah hujan tidak merata dengan angka tahunan berkisar antara 2.000-3.000 mm, dan jumlah hari hujan antara 90-139 hari. Daerah yang paling banyak menerima curah hujan adalah daerah Minahasa.

Suhu Udara[sunting | sunting sumber]

Suhu udara rata-rata 25 °C. Suhu udara maksimum rata-rata tercatat 30 °C dan suhu udara minimum rata-rata 20,4 °C. Suhu atau temperatur dipengaruhi oleh ketinggian suatu lokasi dengan perhitungan setiap kenaikan 100 meter dapat menurunkan suhu sekitar 0,6 °C.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar gubernur[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar Gubernur Provinsi Sulawesi Utara dari masa ke masa:

No. Foto Gubernur Mulai Jabatan Akhir Jabatan Periode Wakil Gubernur Ket.
1 Arnold achmad baramuli.jpg Arnold Baramuli 23 Maret 1960 15 Juli 1962 1 Frits Johannes Tumbelaka [7]
2 Frits Johanes Tumbelaka.jpg Frits Johannes Tumbelaka 15 Juli 1962 19 Maret 1965 2
3 Soenandar-Priyoseodarmo-cropped.JPG Soenandar Prijosoedarmo 19 Maret 1965 27 April 1966 3 [8]
4 H.Abdullah Amu.jpg Abdullah Amu 27 April 1966 2 Maret 1967 4
5 Hein Victor Worang, Buku Pelengkap IV Pemilihan Umum 1977 (1978), p677.jpg Hein Victor Worang 2 Maret 1967 20 Juni 1978 5 Apelles Jozias Supit[9] [10]
6 Willy Lasut, Governor of North Sulawesi (cropped).jpg Willy Lasut 20 Juni 1978 20 Oktober 1979 6 [10]
7 Official Portrait of Gustaf Hendrik Mantik.jpg Gustaf Hendrik Mantik 3 Maret 1980 4 Maret 1985 7 [10]
8 Cornelis John Rantung, Governor of North Sulawesi (cropped).jpg Cornelis John Rantung 4 Maret 1985 3 Maret 1990 8 Abdullah Mokoginta
Ahmad Nadjamuddin
[10]
3 Maret 1990 1 Maret 1995 9 [11]
9 E.E. Mangindaan, Governor of North Sulawesi (cropped).jpg Evert Ernest Mangindaan 1 Maret 1995 1 Maret 2000 10 Ahmad Nadjamuddin
Jos Buce Wenas
Hasan Abas Nusi
[12]
10 Adolf jouke sondakh.jpg Adolf Jouke Sondakh 15 Maret 2000 17 Maret 2005 11 Freddy Harry Sualang [10]
11 Sinyo Harry Sarundajang, Governor of North Sulawesi (cropped).jpg Sinyo Harry Sarundajang 13 Agustus 2005 13 Agustus 2010 12 Freddy Harry Sualang [13]
20 September 2010 20 September 2015 13 Djouhari Kansil [14]
12 Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey (Periode II).png Olly Dondokambey 12 Februari 2016 12 Februari 2021 14 Steven Kandouw
15 Februari 2021 Petahana 15


Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Sulawesi Utara beranggotakan 45 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD Sulawesi Utara terdiri dari 1 Ketua dan 3 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD Sulawesi Utara yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 9 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Robinso Tarigan, di Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Utara.[15][16][17] Komposisi anggota DPRD Sulawesi Utara periode 2019-2024 terdiri dari 9 partai politik di mana PDI Perjuangan adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 18 kursi, kemudian disusul oleh Partai NasDem yang meraih 9 kursi dan Partai Golkar yang meraih 7 kursi. Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Sulawesi Utara dalam dua periode terakhir.[18][19]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
  PKB 0 Kenaikan 1
  Gerindra 6 Penurunan 2
  PDI-P 13 Kenaikan 18
  Golkar 9 Penurunan 7
  NasDem 2 Kenaikan 9
  PKS 2 Penurunan 1
  PPP 1 Penurunan 0
  PAN 3 Penurunan 2
  Hanura 1 Penurunan 0
  Demokrat 6 Penurunan 4
  PKPI 2 Penurunan 0
  PSI (baru) 1
Jumlah Anggota 45 Steady 45
Jumlah Partai 10 Penurunan 9


Dewan Perwakilan di Jakarta[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Utara mengirim 6 wakil ke DPR RI, dan empat wakil ke DPD. Empat wakil Provinsi Sulawesi Utara di DPD untuk periode 2014-2019 adalah DR. Maya G. Rumantir; DR. Aryanthi Baramuli; Fabian Sarundajang; Benny Rhamdani; 6 wakil di DPR RI untuk periode 2014-2019 adalah Olly Dondokambey; E.E. Mangindaan SE ; Vanda Sarundajang; Aditya Anugrah Moha; Yasti Soepredjo Mokoagow; Wenny Warouw;

Kantor Konsulat General[sunting | sunting sumber]

Kantor Konsulat General negara Filipina berkedudukan di kota Manado.

Kabupaten dan Kota[sunting | sunting sumber]

No. Kabupaten/kota Pusat pemerintahan Bupati/wali kota Luas wilayah (km2)[20] Jumlah penduduk (2017)[20] Kecamatan Kelurahan/desa Lambang
Peta lokasi
1 Kabupaten Bolaang Mongondow Lolak Yasti Soepredjo Mokoagow 2.871,65 246.282 15 2/200
Lambang Kabupaten Bolaang Mongondow.png
2 Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Molibagu Iskandar Kamaru 1.615,86 66.474 7 -/81
Logo Kab. Bolsel.jpg
3 Kabupaten Bolaang Mongondow Timur Tutuyan Sam Sachrul Mamonto 910,18 84.440 7 -/81
Logo Kab. Boltim.jpg
4 Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Boroko Depri Pontoh 1.680,00 87.881 6 1/106
Lambang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.jpg
5 Kabupaten Kepulauan Sangihe Tahuna Jabes Ezar Gaghana 461,11 141.950 15 22/145
Lambang Kabupaten Kepulauan Sangihe.jpeg
6 Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Ondong Siau Evangeline Sasingen 275,86 72.203 10 10/83
Logo Kab. Sitaro.jpg
7 Kabupaten Kepulauan Talaud Melonguane Elly Engelbert Lasut 1.240,40 100.753 19 11/142
Logo Kabupaten Kepulauan Talaud.jpg
8 Kabupaten Minahasa Tondano Royke Octavian Roring 1.114,87 336.015 25 43/227
Lambang Kabupaten Minahasa.jpeg
9 Kabupaten Minahasa Selatan Amurang Franky Donny Wongkar 1.409,97 234.365 17 10/167
Lambang Kabupaten Minahasa Selatan.png
10 Kabupaten Minahasa Tenggara Ratahan James Sumendap 710,83 116.375 12 9/135
Lambang Kabupaten Minahasa Tenggara.jpg
11 Kabupaten Minahasa Utara Airmadidi Joune Ganda 918,49 217.660 10 6/126
Lambang Kabupaten Minahasa Utara.png
12 Kota Bitung - Maurits Mantiri 302,89 221.209 8 69/-
LOGO KOTA BITUNG SULAWESI UTARA.png
13 Kota Kotamobagu - Tatong Bara 108,9 122.308 4 18/15
Lambang Kota Mobagu.jpg
14 Kota Manado - Andrei Angouw 157,27 466.176 11 87/-
Lambang Kota Manado.png
15 Kota Tomohon - Caroll Senduk 114,20 98.013 5 44/-
Lambang Kota Tomohon.png

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2010 sebanyak kurang lebih 2.270.596 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 1,28 persen/tahun. Hampir 45% penduduk tinggal di perkotaan, dan sisanya sebesar 55% tinggal di pedesaan. Angka partisipasi sekolah untuk tingkat sekolah dasar lumayan tinggi sebesar 96,10% sehingga penduduk yang tidak menikmati bangku sekolah dasar hanya kurang dari 5%.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa resmi instansi pemerintahan di Sulawesi Utara adalah bahasa Indonesia. Hingga 2019, Badan Bahasa mencatat ada 10 bahasa daerah di Sulawesi Utara.[21] Kesepuluh bahasa tersebut adalah:

  1. Bantik
  2. Bolaang Mongondow
  3. Gorontalo
  4. Melayu
  5. Minahasa
  6. Minahasa Tonsawang
  7. Minahasa Tonsea
  8. Pasan
  9. Ponosakan
  10. Sangihe Talaud.[22]

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Pendeta perempuan Tonaas Walian.
Tarian Maengket.

Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2010, dari 2.263.463 jiwa penduduk yang terdaftar, mayoritas penduduk Sulawesi Utara adalah suku Minahasa yakni 1.019.314 jiwa (45,04%).[23] Selain Minahasa, penduduk asli Sulawesi Utara lainnya termasuk suku Bolaang Mongondow, Sangir, Talaud, Siau, Bajau dan Bantik, sebanyak 879.579 jiwa (38,86%).[23]

Suku Bajau mendiami beberapa desa pinggir pantai Sulawesi Utara di bagian utara Kabupaten Minahasa Utara. Suku Bantik, konon adalah keturunan pengungsian dari Talaud, tersebar di Bolaang, dan Minahasa bagian Barat. Suku Wawontehu tinggal di sebagian wilayah Bunaken, kota Manado. Namun demikian, etnisitas di Sulawesi Utara termasuk heterogen, ditambah suku lain daerah provinsi lainnya di Indonesia. Suku Minahasa dan Bolaang Mongondow menyebar hampir di seluruh wilayah Sulawesi Utara daratan. Suku Sangir, Suku Talaud, Suku Siau mendiami di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, dan Pulau Lembeh, terutama di daerah pesisir utara, timur dan barat daratan Sulawesi utara.

Selain penduduk asli, Sulawesi Utara juga merupakan tempat tinggal bagi para pendatang. Suku Gorontalo sebanyak 187.163 jiwa (8,27%) dan Jawa sebanyak 70.934 jiwa (3,13%), suku terbanyak diluar suku asli Sulawesi Utara. Suku asal Maluku 24.942 jiwa (1,10%), Bugis 22.021 jiwa (0,97%), Bali 14.347 jiwa (0,63%), Makassar 10.247 jiwa (0,45%), Tionghoa 8.532 jiwa (0,38%), Batak 4.502 jiwa (0,20%), asal Papua 2.546 jiwa (0,11%) dan suku lainnya 0,86%.[23] Orang Bali, Jawa, umumnya tinggal di daerah transmigrasi.

Berdasarkan data dari Sensus Penduduk Indonesia 2010, berikut ini jumlah penduduk Sulawesi Utara berdasarkan suku bangsa:[23]

Penduduk Kalimantan Selatan Berdasarkan Suku Bangsa (Sensus 2010)
No Suku Jumlah 2010 %
1 Minahasa 1.019.314 45,04%
2 Asal Sulawesi lainnya* 879.579 38,86%
3 Gorontalo 187.163 8,27%
4 Jawa 70.934 3,13%
5 Asal Maluku 24.942 1,10%
6 Bugis 22.021 0,97%
7 Bali 14.347 0,64%
8 Makassar 10.247 0,45%
9 Tionghoa 8.532 0,38%
10 Batak 4.502 0,20%
11 Warga Asing 3.606 0,16%
12 Sunda 2.904 0,13%
13 Asal Papua 2.546 0,11%
14 Asal NTT 2.334 0,10%
15 Suku lainnya 10.492 0,46%
Sulawesi Utara 2.263.463 100%

Catatan: Dalam Sensus Penduduk Indonesia 2010, suku Sulawesi lainnya termasuk semua suku-suku yang berasal dari pulau Sulawesi, secara khusus yang ada di Sulawesi Utara selain dari suku Minahasa, seperti suku Bolaang Mongondow, Sangir, Talaud, Siau, Bajau dan Bantik. Sementara, suku asal Kalimantan lainnya termasuk suku-suku yang berasal dari pulau Kalimantan selain dari Dayak, dan Banjar.[23]

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Sumber daya alam[sunting | sunting sumber]

Perbankan[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Utara terdapat kantor Bank Indonesia, yang dibuka di Manado. Tugas Bank Indonesia yang terdiri dari bidang moneter, sistem pembayaran, dan perbankan. Di daerah-daerah tugas Bank Indonesia lebih dominan di bidang sistem pembayaran dan perbankan.

Di bidang sistem pembayaran menyelenggarakan sistem kliring dan BI-RTGS dan di bidang perbankan mengawasi dan membina bank-bank agar beroperasi dengan sehat dan menguntungkan.

Industri[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Utara memiliki sejumlah industri besar di antaranya

Pertambangan[sunting | sunting sumber]

  • Emas di Tatelu Minahasa Utara, Tompaso Baru Minahasa Selatan dan Belang Minahasa Tenggara; Lapango Mas di Sangihe

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Waruga di Minahasa
Gua Jepang di Kawangkoan

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Utara juga memiliki sejumlah perguruan tinggi yaitu
Negeri

Swasta

Seni dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Wale, rumah adat Minahasa

Sulawesi Utara merupakan kawasan yang sangat kaya dengan seni budaya Indonesia lainnya. Sulawesi Utara mempunyai aneka seni budaya yang khas seperti tari-tarian, dan budaya lainnya seperti:

Sastra[sunting | sunting sumber]

  • Asaren tuah Puhuna
  • Hikayat Prang Tondano
  • Hikayat Danau Tondano
  • Legenda Pingkan Matindas
  • Legenda Toar Lumimuut
  • Legenda Mamanua

Senjata tradisional[sunting | sunting sumber]

Sabel adalah senjata tradisional suku Minahasa, bentuknya menyerupai huruf Daun Kelapa. Sabel termasuk dalam kategori Pedang. Selain Peda, bangsa Sulawesi Utara juga memiliki beberapa senjata khas lainnya, seperti Perisai.

Rumah Tradisional[sunting | sunting sumber]

Rumah tradisional suku Sulawesi Utara dinamakan Wale. Rumah adat ini bertipe rumah panggung dengan 3 bagian utama dan 1 bagian tambahan. Tiga bagian utama dari rumah Sulawesi Utara yaitu serambi depan, serambi tengah dan serambi belakang. Sedangkan 1 bagian tambahannya yaitu rumah dapur.

Tarian[sunting | sunting sumber]

Tari Maengket dari Minahasa

Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki setidaknya 14 suku bangsa, memiliki kekayaan tari-tarian yang sangat banyak dan juga sangat mengagumkan. Beberapa tarian yang terkenal di tingkat nasional dan bahkan dunia merupakan tarian yang berasal dari Sulawesi Utara, seperti Tari Poco-poco .

Tarian Suku Sangihe

Tarian Suku Minahasa

Tarian Suku Minahasa

Makanan Khas[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Utara mempunyai aneka jenis makanan yang khas. Antara lain Tinutuan atau Midal (bubur Manado), Nasi Jaa, Pangi yang lezat, Gulai Ikan Fufu dan Dodol serta Dodol Salak yang langka. Di samping itu Dodol Amurang asal kabupaten Minahasa Selatan yang terkenal, yang dibuat dengan aneka rasa. Di daerah Minahasa terdapat makanan khas yang jarang ditemui di daerah lainnya di Indonesia, seperti rintek wuuk (biasa disebut RW) atau daging anjing, daging ular, daging babi dan paniki (daging kelelawar). Makanan khas lainnya seperti woku blanga. Sementara kuliner khas Sulawesi Utara yang juga sangat terkenal bahkan hingga ke mancanegara adalah Bagea.

Media massa[sunting | sunting sumber]

Media Online

Media cetak

Televisi lokal

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Pahlawan Nasional[sunting | sunting sumber]

Maria Walanda Maramis

Bangsa Sulawesi Utara merupakan bangsa yang gigih dalam mempertahankan kemerdekaannya. Kegigihan perang Sulawesi Utara, dapat dilihat dan dibuktikan oleh sejumlah pahlawan (baik pria maupun wanita), serta bukti-bukti lainnya (perwira Belanda tewas dalam perang Sulawesi utara, serta kuburan Belanda dan Kubur Borgo Portugis/Spanyol yang mencatat sebagai kuburan Belanda, Portugis, Spanyol di luar Negeri Belanda, Portugis dan Spanyol).

Pahlawan Perempuan[sunting | sunting sumber]

Pahlawan Pria[sunting | sunting sumber]

Tokoh asal Sulawesi Utara[sunting | sunting sumber]

Lihat pula Suku di Sulawesi Utara untuk tokoh-tokoh yang bukan berasal dari provinsi Sulawesi Utara namun berketurunan Sulawesi Utara.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Visualisasi Data Kependuduakan - Kementerian Dalam Negeri 2021" (visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 19 Agustus 2021. 
  2. ^ "Provinsi Sulawesi Utara Dalam Angka 2021" (pdf). www.sulut.bps.go.id. Diakses tanggal 31 Mei 2021. 
  3. ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama Yang Dianut di Provinsi Sulawesi Utara". www.sp2010.bps.go.id. Diakses tanggal 31 Mei 2021. 
  4. ^ "Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi 2019-2021". www.bps.go.id. Diakses tanggal 26 November 2021. 
  5. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2020" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. (2020). Diakses tanggal 22 Januari 2021. 
  6. ^ Sosilawati, dkk. (2017). Sinkronisasi Program dan Pembiayaan Pembangunan Jangka Pendek 2018-2020: Keterpaduan Pengembangan Kawasan dengan Infrastruktur PUPR Pulau Sulawesi (PDF). Jakarta Selatan: Pusat Pemrograman dan Evaluasi Keterpaduan Infrastruktur PUPR. hlm. 14. ISBN 978-602-61190-3-2. 
  7. ^ "Sejarah". Website Resmi Sulawesi Utara. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 Juni 2017. Diakses tanggal 15 Februari 2016. 
  8. ^ https://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/14919/kp0921966.pdf
  9. ^ Mokoginta, Drs. Abdullah.  Riwayat hidup almarhum Apelles Jozias Supit. A.n. Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sulawesi Utara, Pd. Sekretaris u.b. Administratur Daerah Bidang I. ttd. stempel.  Manado, 26 September 1971.pdf
  10. ^ a b c d e Setiawan, Agus, ed. (22 September 2010). "Sulut Makin Dewasa". Antara. Diakses tanggal 18 Agustus 2021. 
  11. ^ "Nama & Peristiwa: CJ Rantung Dilantik Jadi Gubernur Sulut". Kompas. 3 Maret 1990. hlm. 12. Diakses tanggal 18 Agustus 2021. 
  12. ^ "Sulawesi Utara Tanpa Gubernur". Kompas. 2 Maret 2000. hlm. 19. Diakses tanggal 18 Agustus 2021. 
  13. ^ Roeroe, Freddy; Rizal, Jean (13 November 2005). "Persona: Sarundajang, Bangunkan Orang Tidur". Kompas. Diakses tanggal 13 February 2021. 
  14. ^ ESY (19 September 2010). "Besok, Sinyo Resmi Gubernur Sulut". Jawa Pos News Network. Diakses tanggal 26 Juni 2018. [pranala nonaktif permanen]
  15. ^ "45 Anggota DPRD Sulut Resmi Dilantik, Ini Nama-namanya". regional.kompas.com. 09-09-2019. Diakses tanggal 19-10-2019. 
  16. ^ "45 Anggota DPRD Sulut Periode 2019-2024 Resmi Dilantik. Berikut Nama dan Perolehan Suara Mereka!". kroniktotabuan.com. 09-09-2019. Diakses tanggal 19-10-2019. 
  17. ^ "45 Anggota DPRD Sulut Periode 2019-2024 Resmi Dilantik". manadonews.co.id. 09-09-2019. Diakses tanggal 19-10-2019. 
  18. ^ "Berita Acara Nomor 183/PL.01.9-BA/Prov/VII/2019 tentang Penetapan Calon Terpilih Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara dalam Pemilu 2019" (PDF). sulut.kpu.go.id. 22-07-2019. Diakses tanggal 19-10-2019. 
  19. ^ "Ini 45 Anggota DPRD Sulut yang akan Dilantik Senin Depan". beritamanado.com. 01-09-2014. Diakses tanggal 19-10-2019. 
  20. ^ a b "Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan (Permendagri No.137-2017) - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia". www.kemendagri.go.id (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-04-29. Diakses tanggal 2018-07-12. 
  21. ^ "Penyebaran Bahasa di Indonesia". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 25 Mei 2020. 
  22. ^ "Bahasa di Provinsi Sulawesi Utara". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 25 Mei 2020. 
  23. ^ a b c d e "Kewarganegaraan Suku Bangsa, Agama, Bahasa 2010" (PDF). demografi.bps.go.id. Badan Pusat Statistik. 2010. hlm. 23, 36–41. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2017-07-12. Diakses tanggal 2 November 2021. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Koordinat: 1°15′N 124°31′E / 1.250°N 124.517°E / 1.250; 124.517