Buddha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Patung Buddha di candi Borobudur.

Buddha (Sanskerta: बुद्ध berarti ia yang sadar atau yang mencapai pencerahan sejati,[1] dan telah menyadari Empat Kebenaran Mulia secara penuh.[2]

Istilah ini, yang berasal dari akar kata bahasa Sanskerta: "Budh" (yang bermakna telah mengetahui), adalah gelar kepada individu yang menyadari potensi penuh mereka untuk memajukan diri dan yang berkembang kesadarannya. Dalam penggunaan kontemporer, ia sering digunakan untuk merujuk Siddharta Gautama, guru agama dan pendiri Agama Buddha (dianggap "Buddha dalam zaman ini"). Dalam penggunaan lain, ia merupakan tarikan dan contoh bagi manusia yang telah sadar.

Penganut Buddha tidak menganggap Siddharta Gautama sebagai Buddha pertama atau terakhir. Secara teknis, Buddha, seseorang yang menemukan Dharma atau Dhamma (yang bermaksud: Kebenaran; perkara yang sebenarnya, akal budi, kesulitan keadaan manusia, dan jalan benar kepada kebebasan melalui kesadaran), datang selepas karma yang bagus (tujuan) dikekalkan seimbang dan semua tindakan buruk tidak mahir ditinggalkan. Pencapaian nirwana (nibbana) di antara ketiga jenis Buddha adalah serupa, tetapi Samma-Sambuddha menekankan lebih kepada kualitas dan usaha dibandingkan dengan dua lainnya. Tiga jenis golongan Buddha adalah:

  • Samma-Sambuddha yang mendapat kesadaran penuh tanpa bantuan guru, hanya dengan usaha sendiri. Seorang Samma-Sambuddha mampu mengajarkan dhamma / kebenaran kepada semua aliran agama buddha, ataupun agama lain dan mampu memahami ritual / tata cara ibadah serta yang dilakukan. seorang yang terlahir sebagai Samma-Sambuddha pasti nibbana.
  • Pacceka-Buddha atau Pratyeka-Buddha yang menyerupai Samma-Sambuddha pasti akan nibbana, tetapi tidak mampu mengajarkan kebenaran / dhamma.
  • Savaka-Buddha yang merupakan siswa buddha atau orang yang belajar dari seorang samma sambuddha ,mampu mengajarkan dhamma sesuai dengan aliran dan pengalaman atau cara pelatihannya masing-masing. serta memiliki 4 tingkatan kesucian (sotapanna, sakadagami, anagami, arahat) yang terbagi menjadi 2 bagian nibbana yaitu :
  • Nibbana Anupadisesa adalah nibbana tanpa sisa, tidak memiliki noda belenggu apapun lagi, nibbana jenis ini adalah Nibbana Samma-Sambuddha, pacceka-Buddha dan para Savaka-Buddha yang mencapai tingkat kesucian arahat pada saat hidup dan mampu mempertahankannya tanpa terpengaruh lagi kemudian pada saat meninggal dunia akan disebut Maha Parinibbana Anupadisesa (nibbana tanpa sisa)
  • Nibbana Sa-upadisesa adalah nibbana dengan sisa seperti (masih memiliki kemelekatan, marah, kecewa,kesal gelisah, khawatir, sombong,irihati, kebencian,keinginan kemenjadian alam rupa (alam terlihat), seperti ingin menyelamatkan makluk, ingin menjadi manusia lagi,ingin memiliki kekuatan keinginan kemenjadian di alam arupa (alam tak terlihat) seperti berkeinginan menjadi dewa. Nibbana Sa-upadisesa hanya dialami oleh para savaka-buddha ketika setelah mencapai tingkat kesucian tertinggi arahat lalu terpengaruh lagi dan tidak mampu mempertahankan kearahatan sampai meninggal dunia , maka ketika meninggal dunia, maka akan disebut Maha Parinibbana Sa-upadisesa (Nibbana dengan sisa) Para Savaka Buddha yang mengalami Maha Parinibbana Sa-upadisesa (sotapanna, sakadagami, anagami) akan terlahir kembali untuk melanjutkan jalan berdasarkan kondisi kamma belenggu yang belum teratasi , atau karena terpengaruh lagi.

Kitab Suci agama Buddha adalah Tripitaka (dalam bahasa Sanskerta) atau Tipitaka (bahasa Pali) yang berarti tiga keranjang atau tiga bagian.

Penamaan[sunting | sunting sumber]

Kata 'buddha' berasal dari kata berbahasa Hindi yaitu ''bodhi'' yang berarti hikmat. Setelah mengalami deklinasi, kata tersebut berubah menjadi ''budhi'' yang berarti nurani. Deklinasi lain yang berkembang ialah ''budha'' yang diartikan sebagai memperoleh penerangan. Dalam perkembangannya, sebutan Buddha diartikan sebagai yang sadar dan yang memperoleh penerangan. Panggilan ini pertama kali diperoleh oleh Siddharta Gautama sesudah menjalani tujuh tahun kehidupan dengan sikap yang penuh kesucian, pertapaan, dan pengembaraan untuk menemukan kebenaran. Penamaan ini kemudian dikaitkan dengan sebuah pohon hikmat yang menjadi tempat Gautama menjalani kehidupannya di kota Gaya.[3]

Patung Buddha tidur, Mojokerto

Tripitaka[sunting | sunting sumber]

Tripitaka berarti Tiga Keranjang

  1. Vinaya Pitaka, berisi aturan-aturan sangha untuk biksu (bhikkhu) atau biksuni (bhikkhuni).
  2. Sutta Pitaka, berisi wacana-wacana Buddha.
  3. Abhidhamma Pitaka, berisi penjelasan sistematis atau ilmu pengetahuan dari Buddha.

Tiga Mestika[sunting | sunting sumber]

Tiga Mestika (Sanskrit: त्रिरत्न Triratna or रत्नत्रय Ratna-traya, Pali: तिरतन Tiratana)

  1. Buddha
  2. Dharma
  3. Sangha

Pancasila[sunting | sunting sumber]

Tujuan dibuatnya Pañcasīla Buddhis yaitu untuk melatih diri.

Terdapat 5 sīla dalam Pancasila Buddhis dalam bahasa Pali yaitu:

  1. Pāṇātipātā veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi, yang artinya saya bertekad akan melatih diri untuk menghindari pembunuhan makhluk hidup.
  2. Adinnādānā veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi, yang artinya saya bertekad akan melatih diri untuk menghindari mengambil sesuatu yang tidak diberikan.
  3. Kāmesu micchācāra veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi, yang artinya saya bertekad akan melatih diri untuk menghindari perbuatan asusila.
  4. Musāvādā veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi, yang artinya saya bertekad akan melatih diri untuk menghindari menghindari ucapan tidak benar.
  5. Surāmerayamajjapamādaṭṭhānā veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi, yang artinya saya bertekad akan melatih diri untuk menghindari mengonsumsi segala zat yang dapat menyebabkan menurunnya kesadaran.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ anonymous. "बुद्ध". WordSense.eu. Diakses tanggal 20 November 2015. 
  2. ^ "The Meaning of the Word Buddha". Parami. Diakses tanggal 8 Desember 2015. 
  3. ^ Khairiah (2018). Agama Budha (PDF). Pekanbaru: Kalimedia. hlm. 2. ISBN 978-602-6827-86-9. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]