Kosmologi Buddha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Candi Borobudur sebagai bentuk penggambaran kosmologi agama Buddha

Kosmologi Buddha adalah penggambaran bentuk dan evolusi alam semesta menurut Tipitaka dan Atthakatha. Kosmologi dalam agama Buddha terdiri dari dua bentuk kosmologi, yaitu kosmologi temporal dan kosmologi spasial. Kosmologi temporal merupakan pembagian keberadaan dunia menjadi empat saat atau momen yang berbeda, yaitu penciptaan, rentang waktu, peleburan, serta kelenyapan (meskipun tampaknya hal tersebut bukan merupakan pembagian kanonis). Kosmologi spasial terdiri atas kosmologi vertikal yang merupakan berbagai taraf keberadaan atau eksistensi seperti tubuhnya, karakteristiknya, makanannya, jangka hidupnya, keindahannya dan kosmologi horizontal yang merupakan pembagian sistem dunia menjadi lembaran-lembaran dunia yang tampaknya tak terbatas. Keberadaan dari periode atau saat dunia (kalpa) ditegaskan dengan baik oleh sang Buddha.[1][2]

Pengantar[sunting | sunting sumber]

Pagoda Wat Arun dibangun untuk menunjukkan kosmologi Buddha

Kosmologi Buddha yang konsisten diri, yang disampaikan dalam komentar terhadap Abhidhamma Pitaka dalam tradisi Theravada dan Mahayana, merupakan hasil akhir dari analisis dan rekonsiliasi komentar-komentar perihal kosmologi yang dapat dijumpai pada sutta-sutta Buddha dan tradisi vinaya. Tidak ada satu pun sutta yang menyampaikan struktur jagat raya secara keseluruhan, tetapi terdapat beberapa sutta di mana sang Buddha menjelaskan tentang dunia dan keberadaan makhluk lain serta beberapa sutta lainnya yang menceritakan di mana sang Buddha menjelaskan asal mula dan kehancuran jagat raya.[3]

Perlu diperhatikan, penggambaran jagat raya dalam kosmologi Buddha tidak dapat dipahami secara harfiah sebagai bentuk sebenarnya dari jagat raya itu sendiri. Hal itu disebabkan penggambarannya yang tidak konsisten dan tidak dapat dikonsistenkan dengan data-data astronomis yang ada, bahkan sejak zaman peradaban kuno di India. Akan tetapi, penggambaran jagat raya yang demikian dalam kosmologi Buddha tidak dimaksudkan untuk dipandang dengan pemikiran dan pandangan biasa manusia, melainkan dimaksudkan untuk dipandang dengan (Pali: dibbacakkhu) yang berarti pengelihatan ilahi di mana para Buddha dan Arhat telah mengembangkan kemampuan tersebut dan dengan kemampuan tersebut mereka dapat mengetahui dan melihat semua dunia lainnya serta makhluk-makhluk yang muncul dan lenyap dalam semua dunia tersebut, bahkan para Buddha dan Arhat pun dapat mengetahui keadaan mereka di kehidupan mereka yang sebelumnya dan akan seperti apa keadaan mereka di kehidupan mereka yang berikutnya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Authors, Various. "Aṅguttara Nikāya 007. Mahavagga – The greater section". Mettanet - Lanka. Diakses tanggal 7 May 2015. Having developed loving kindness for seven years, he did not come to this world for seven forward and backward world cycles. 
  2. ^ Authors, Various (2011). Collected Wheel Publications Volume XIV: Numbers 198–215. Buddhist Publication Society. I did not return to this world for seven aeons of world-contraction and world-expansion. 
  3. ^ Gethin, Rupert (1998). The Foundations of BuddhismPerlu mendaftar (gratis). Oxford: Oxford University Press. hlm. Chapter 5. ISBN 0-19-289223-1. 

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]