Dhamma

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Dhamma berasal dari bahasa Pali (bahasa Sanskerta: Dharma) yang berarti Hukum atau Aturan dalam agama Buddha

Kesunyataan Mulia tentang Dukkha[sunting | sunting sumber]

Hidup dalam bentuk apa pun adalah dukkha (penderitaan):

  1. dilahirkan, usia tua, sakit, mati adalah penderitaan.
  2. berhubungan dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan.
  3. ditinggalkan oleh orang yang dicintai adalah penderitaan.
  4. tidak memperoleh yang dicita-citakan adalah penderitaan.
  5. masih memiliki lima khanda adalah penderitaan.

Dukkha dapat juga dibagi sebagai berikut:

  1. dukkha-dukkha - ialah penderitaan yang nyata, yang benar dirasakan sebagai penderitaan tubuh dan bathin, misalnya sakit kepala, sakit gigi, susah hati dll.
  2. viparinäma-dukkha - merupakan fakta bahwa semua perasaan senang dan bahagia—berdasarkan sifat ketidak-kekalan—di dalamnya mengandung benih-benih kekecewaan, kekesalan dll.
  3. sankhärä-dukkha - lima khanda adalah penderitaan ; selama masih ada lima khanda tak mungkin terbebas dari sakit fisik.

Kesunyataan Mulia tentang asal mula Dukkha[sunting | sunting sumber]

Sumber dari penderitaan adalah tanhä, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Semakin diumbar semakin keras ia mencengkeram. Orang yang pasrah kepada tanhä sama saja dengan orang minum air asin untuk menghilangkan rasa hausnya. Rasa haus itu bukannya hilang, bahkan menjadi bertambah, karena air asin itu yang mengandung garam. Demikianlah, semakin orang pasrah kepada tanhä semakin keras tanhä itu mencengkeramnya. Dikenal tiga macam tanhä, yaitu:

  1. Kämatanhä: kehausan akan kesenangan indriya, ialah kehausan akan:
    1. bentuk-bentuk (indah)
    2. suara-suara (merdu)
    3. wangi-wangian
    4. rasa-rasa (nikmat)
    5. sentuhan-sentuhan (lembut)
    6. bentuk-bentuk pikiran
  2. Bhavatanhä: kehausan untuk lahir kembali sebagai manusia berdasarkan kepercayaan tentang adanya "atma (roh) yang kekal dan terpisah" (attavada).
  3. Vibhavatanhä: kehausan untuk memusnahkan diri, berdasarkan kepercayaan, bahwa setelah mati tamatlah riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda).

Kesunyataan Mulia tentang lenyapnya Dukkha[sunting | sunting sumber]

Kalau tanhä dapat disingkirkan, maka kita akan berada dalam keadaan yang bahagia sekali, karena terbebas dari semua penderitaan (bathin). Keadaan ini dinamakan Nibbana.

  1. Sa-upadisesa-Nibbana = Nibbana masih bersisa. Dengan 'sisa' dimaksud bahwa lima khanda itu masih ada.
  2. An-upadisesa-Nibbana = Setelah meninggal dunia, seorang Arahat akan mencapai anupadisesa-nibbana, ialah Nibbana tanpa sisa atau juga dinamakan Pari-Nibbana. Sang Arahat telah beralih ke dalam keadaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Misalnya, kalau api padam, kejurusan mana api itu pergi? jawaban yang tepat: 'tidak tahu' Sebab api itu padam karena kehabisan bahan bakar.

Kesunyataan Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha[sunting | sunting sumber]

Delapan Jalan Utama (Jalan Utama Beruas Delapan) yang akan membawa kita ke Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha, yaitu:

  1. Pengertian Benar (sammä-ditthi)
  2. Pikiran Benar (sammä-sankappa)
  1. Ucapan Benar (sammä-väcä)
  2. Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
  3. Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
  1. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
  2. Perhatian Benar (sammä-sati)
  3. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)

Penjelasan Jalan Mulia Berunsur Delapan[sunting | sunting sumber]

Jalan Mulia Berunsur Delapan ini dapat lebih lanjut diperinci sebagai berikut:

  1. Pengertian Benar (sammä-ditthi) menembus arti dari:
    1. Empat Kesunyataan Mulia
    2. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
    3. Hukum Paticca-Samuppäda
    4. Hukum Kamma
  1. Pikiran Benar (sammä-sankappa)
    1. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa).
    2. Pikiran yang bebas dari kebencian (avyäpäda-sankappa)
    3. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihimsä-sankappa)
  1. Ucapan Benar (sammä-väcä)
    Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini:
    1. Ucapan itu benar
    2. Ucapan itu beralasan
    3. Ucapan itu berfaedah
    4. Ucapan itu tepat pada waktunya
  1. Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
    1. Menghindari pembunuhan
    2. Menghindari pencurian
    3. Menghindari perbuatan asusila
  1. Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
    Lima pencaharian salah harus dihindari (M. 117), yaitu:
    1. Penipuan
    2. Ketidak-setiaan
    3. Penujuman
    4. Kecurangan
    5. Memungut bunga yang tinggi (praktik lintah darat)
    Di samping itu seorang siswa harus pula menghindari lima macam perdagangan, yaitu:
        1. Berdagang alat senjata
        2. Berdagang mahkluk hidup
        3. Berdagang daging (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahkluk-mahkluk hidup)
        4. Berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan
        5. Berdagang racun.
  1. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
    1. Dengan sekuat tenaga mencegah munculnya unsur-unsur jahat dan tidak baik di dalam batin.
    2. Dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan unsur-unsur jahat dan tidak baik, yang sudah ada di dalam batin.
    3. Dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan unsur-unsur baik dan sehat di dalam batin.
    4. Berusaha keras untuk mempernyata, mengembangkan dan memperkuat unsur-unsur baik dan sehat yang sudah ada di dalam batin.
  1. Perhatian Benar (sammä-sati)
    Sammä-sati ini terdiri dari latihan-latihan Vipassanä-Bhävanä (meditasi untuk memperoleh pandangan terang tentang hidup), yaitu:
    1. Käyä-nupassanä = Perenungan terhadap tubuh
    2. Vedanä-nupassanä = Perenungan terhadap perasaan.
    3. Cittä-nupassanä = Perenungan terhadap kesadaran.
    4. Dhammä-nupassanä = Perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran.
  1. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)
    Latihan meditasi untuk mencapai Jhäna-Jhäna.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]