Lompat ke isi

Aṭṭhaṅgasīla

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Atthangasila)

Aṭṭhaṅgasīla atau Aṭṭhasīla merupakan salah satu dari ajaran dasar moral agama Buddha yang diajarkan oleh Sang Buddha kepada para pengikutnya. Secara etimologi, kata Atthangasila sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Pali dan bahasa Sanskerta, yaitu aṭṭhaṅga (Pali) atau aṣṭāṇga (Sanskerta) yang berarti delapan dan sīla (Pali) atau śīla (Sanskerta) yang berarti nilai moral. Dengan demikian, gabungan kedua kata ini dapat dimaknai sebagai Delapan Nilai Moral. Atthangasila atau delapan nilai moral ini biasanya dijalankan oleh umat awam pada hari-hari perenungan dalam agama Buddha yaitu hari Uposatha. Dalam sabda Sang Buddha, dinyatakan bahwa menjalani delapan sila ini merupakan cara yang bijaksana untuk membersihkan pemikiran yang kotor. Selain itu, pelaksanaan Atthangasila pun bertujuan untuk mengenalkan bagaimana kehidupan di dalam biara kepada umat awam.

Penjelasan mengenai Atthangasila dapat dijumpai dalam Dhammika Sutta yang merupakan salah satu bagian dari Sutta Nipata.[1]

Berikut merupakan isi dari Atthangasila.[2]

Dalam bahasa Pali:[2]

  1. Pāṇātipātā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
  2. Adinnādānā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
  3. Abrahma-cariyā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
  4. Musāvādā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
  5. Surā-meraya-majja-pamādaṭṭhānā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
  6. Vikāla-bhojanā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
  7. Nacca-gīta-vādita-visūka-dassanā mālā-gandha-vilepana-dhāraṇamaṇḍana-vibhūsanaṭṭhānā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
  8. Uccāsayana-mahāsayanā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.

Dalam bahasa Indonesia:[2]

  1. Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
  2. Aku bertekad akan melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan.
  3. Aku bertekad akan melatih diri menghindari perbuatan tidak suci.
  4. Aku bertekad akan melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar.
  5. Aku bertekad akan melatih diri menghindari segala minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.
  6. Aku bertekad akan melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari.
  7. Aku bertekad akan melatih diri untuk tidak menari, menyanyi, bermain musik, pergi melihat tontonan-tontonan; menghindari memakai bunga-bungaan, wangi-wangian dan alat-alat kosmetik untuk tujuan menghias dan mempercantik diri.
  8. Aku bertekad akan melatih diri menghindari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan mewah.

Atthangasila atau yang juga disebut atthasila, biasanya diamalkan pada hari-hari uposatha. Oleh karena itu, delapan sila ini pun sering juga disebut uposathasila. Atthasila ini biasanya dibacakan pada saat puja bakti di hari-hari uposatha atau saat umat hendak menjalankan delapan sila ini di hari-hari lain. Ritual pembacaan atthasila ini kurang lebih mirip dengan ritual pembacaan pancasila, tetapi terdapat beberapa perbedaan dalam bacaannya. Biasanya seorang pandita atau salah satu umat awam yang hendak mengamalkan delapan sila (para upasaka & upasika) akan memimpin permohonan tuntunan Tisarana dan Atthasila kepada bhikkhu dengan membacakan kalimat berikut.[3]

Mayaṁ bhante, Tisaraṇena saha aṭṭhaṅga-samannāgataṁ-uposathaṁ yācāma. Dutiyampi mayaṁ bhante, Tisaraṇena saha aṭṭhaṅga-samannāgataṁ-uposathaṁ yācāma. Tatiyampi mayaṁ bhante, Tisaraṇena saha aṭṭhaṅga-samannāgataṁ-uposathaṁ yācāma. (Bhante, kami memohon Tisarana & Latihan Moral Uposatha yang terdiri dari delapan sila. Untuk kedua kalinya Bhante, kami memohon Tisarana & Latihan Moral Uposatha yang terdiri dari delapan sila. Untuk ketiga kalinya Bhante, kami memohon Tisarana & Latihan Moral Uposatha yang terdiri dari delapan sila.)[3]

Kemudian, bhikkhu akan menjawab sebagai berikut:

Yam-ahaṁ vadāmi taṁ bhaveta. (Ikutilah apa yang saya ucapkan)[3]

Setelah itu, para upasaka dan upasika menjawab dengan kalimat Āma bhante (Baik, Bhante). Kemudian bhikkhu membacakan kalimat Vandana sebanyak tiga kali yang kemudian diikuti oleh para upasaka dan upasika

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā Sambuddhassa. (Terpujilah Sang Bhagawa, Yang Mahasuci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna).[3]

Sesudah itu, bhikkhu membacakan ayat-ayat Tisarana per kalimatnya yang kemudian diikuti oleh para upasaka dan upasika per kalimatnya.

Buddhaṁ saranaṁ gacchāmi, Dhammaṁ saranaṁ gacchāmi, Saṅghaṁ saranaṁ gacchāmi. Dutiyampi buddhaṁ saranaṁ gacchāmi, Dutiyampi dhammaṁ saranaṁ gacchāmi, Dutiyampi saṅghaṁ saranaṁ gacchāmi. Tatiyampi buddhaṁ saranaṁ gacchāmi, Tatiyampi dhammaṁ saranaṁ gacchāmi, Tatiyampi saṅghaṁ saranaṁ gacchāmi. (Aku berlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada Dhamma, aku berlindung kepada Saṅgha. Untuk kedua kalinya, aku berlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada Dhamma, aku berlindung kepada Saṅgha. Untuk ketiga kalinya, aku berlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada Dhamma, aku berlindung kepada Saṅgha)[3]

Seusai pembacaan Tisarana terlengkapi, bhikkhu akan berkata sebagai berikut:

Tisaraṇa gamanaṁ paripuṇṇaṁ. (Tisarana telah diambil dengan lengkap)[3]

Kemudian, para upasaka dan upasika menjawabnya dengan kalimat Āma bhante (Baik, Bhante). Setelah itu, bhikkhu membacakan ayat-ayat Atthangasila per kalimatnya yang kemudian diikuti pembacaannya oleh para upasaka dan upasika per kalimatnya pula. Sesudah membacakan Atthasila, bhikkhu akan mengucapkan kalimat di bawah ini yang kemudian diikuti oleh para upasaka dan upasika.

Idaṁ me sīlaṁ magga phalañāṇassa paccayo hotu. (Semoga kebajikan dari pengamalan Latihan Moral ini menjadi kondisi pendukung saya bagi pencapaian Pengetahuan Jalan dan Buah serta Nibbāna.)[3]

Kemudian, bhikkhu menutup ritual pembacaan atthasila dengan mengucapkan kalimat berikut

Tisaraṇena saha aṭṭhaṅga-samannāgataṁ uposathasīlaṁ dhammaṁ sādhukaṁ katvā appamādena sampādetha (Laksanakanlah dengan seksama Latihan Moral Uposatha yang terdiri dari delapan sila beserta Tisarana ini, dan berjuanglah dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian.)[3]

Kemudian, diakhiri dengan jawaban dari para upasaka dan upasika yaitu Āma bhante. Sādhu, sādhu, sādhu (Baik, Bhante. Sadhu, sadhu, sadhu).

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ Tachibana 1992, hlm. 65.
  2. ^ a b c Sangha Theravada Indonesia. "Paritta Suci" (PDF). Yayasan Dhammadīpa Ārāma. hlm. 50–51. Diakses tanggal 15 Desember 2019. 
  3. ^ a b c d e f g h Ashin Kusaladhamma (Januari 2016). "Puja for Buddhist Culture Kids". Yayasan Satipaṭṭhāna Indonesia. hlm. 9–13. Diakses tanggal Mei 2022. 

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]