Unsur (Buddhisme)
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Dalam Buddhisme, unsur atau elemen (Pali, Sanskerta: dhātu atau bhūta) mencakup empat unsur besar atau pokok (cattāro mahābhūtāni), seperti tanah, air, api, dan udara; dan unsur turunannya (upādāya). Istilah mahābhūta umumnya sinonim dengan catudhātu, yang merupakan istilah Pāli dari "empat unsur". Empat unsur, sebagai bagian dari keseluruhan unsur penyusun materi/rupa, merupakan dasar pemahaman yang menuntun seseorang melalui pelepasan bentukan rupa (rūpa) menuju keadaan tertinggi, yaitu Nirwana.
Istilah dhātu ("unsur") juga digunakan untuk membahas konsep-konsep lainnya terkait perasaan, ketidaktahuan, nafsu kehausan, pelepasan keduniawian, kebencian, tanpa-kebencian atau cinta kasih, belas kasih, alam kehidupan, fenomena yang terkondisi (saṅkhata), dan fenomena tidak terkondisi (Nirwana).
Penafsiran Theravāda
[sunting | sunting sumber]Dalam Tipitaka Pali, unsur-unsur pokok yang paling dasar biasanya diidentifikasi berjumlah empat. Akan tetapi, unsur-unsur lainnya, seperti unsur kelima dan unsur keenam juga sering diuraikan.
Empat unsur pokok
[sunting | sunting sumber]Dalam teks kanonis, empat unsur pokok (catudhātuvavaṭṭhāna) mengacu pada unsur-unsur yang bersifat "eksternal" (di luar tubuh, seperti sungai) dan "internal" (bagian dari tubuh, seperti darah). Unsur-unsur tersebut dijelaskan sebagai berikut:[1]
- Unsur tanah (pathavī-dhātu): mewakili kualitas soliditas atau gaya tarik menarik. Benda apa pun yang menonjolkan gaya tarik menarik (benda padat) disebut unsur tanah. Unsur tanah internal meliputi rambut kepala, rambut badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, organ, bahan usus, dan lain-lain.
- Unsur air (āpa-dhātu atau āpodhātu): mewakili kualitas likuiditas atau gerak relatif. Benda apa pun yang menonjolkan gerak relatif partikelnya disebut unsur air. Unsur air internal meliputi empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, lendir hidung, urin, air mani, dan lain-lain.
- Unsur api (teja-dhātu atau tejodhātu): mewakili kualitas panas atau energi. Segala sesuatu yang energinya menonjol disebut unsur api. Unsur api internal mencakup mekanisme tubuh yang menghasilkan kehangatan fisik, penuaan, pencernaan, dan lain-lain.
- Unsur udara atau angin (vāyu-dhātu atau vāyodhātu): melambangkan kualitas pemuaian atau gaya tolak menolak. Benda apa pun yang menonjol gaya tolak menolaknya disebut unsur udara. Unsur udara internal meliputi udara yang berhubungan dengan sistem paru (misalnya untuk bernafas), sistem usus (“angin di perut dan usus”), dan lain-lain.
Setiap entitas yang membawa satu atau lebih kualitas-kualitas ini (gaya tarik menarik, gaya tolak menolak, energi, dan gerak relatif) disebut materi/rupa (rūpa). Dunia bentukan materi dianggap tidak lain hanyalah kombinasi dari kualitas-kualitas yang diatur dalam ruang (ākāsa). Hasil dari kualitas-kualitas tersebut adalah masukan pada pancaindra kita, warna (vaṇṇa) pada mata, bau (gandha) pada hidung, rasa (rasa) pada lidah, suara (sadda) pada telinga, dan sentuhan (phoṭṭabba) pada tubuh. Sesuatu yang dirasakan dalam pikiran seseorang hanyalah interpretasi batiniah dari kualitas-kualitas ini.
Dalam kitab suci
[sunting | sunting sumber]Dalam Tripitaka Pali, empat unsur dijelaskan secara rinci dalam diskursus-diskursus berikut:
- Mahāhatthipadompama Sutta (MN 28)[2]
- Mahārāhulovāda Sutta (MN 62)[3]
- Dhātuvibhaṅga Sutta (MN 140)[4]
Empat unsur juga disebut dalam:
- Kevaddha Sutta (DN 11)[5]
- Satipaṭṭhāna Sutta (DN 22)
- Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10)
- Chabbisodhana Sutta (MN 112)
- Bahudhātuka Sutta (MN 115)
- Kāyagatāsati Sutta (MN 119)[6]
- Anāthapiṇḍikovāda Sutta (MN 143)[7]
- Catudhātu-vaggo (SN bab 14, subbab. IV), beberapa diskursus[8]
- Saddhammappatirūpaka Sutta (SN 16.13)[9]
- Bīja Sutta (SN 22.54)[10]
- Āsīvisa Sutta (SN 35.197 atau 35.238)[11]
- Kiṁsukopama Sutta (SN 35.204 atau 35.245)[12]
- Dutiya-mittāmacca Sutta (SN 55.17)[13]
- Beberapa isi Saṁyutta Nikāya, seperti "Dhātu Sutta" (SN 18.9,[14] SN 25.9,[15] SN 26.9,[16] SN 27.9[17])
- Tittha Sutta (AN 3.61)[18]
- Nivesaka Sutta (AN 3.75)
- Rāhula Sutta (AN 4.177)
Sebagai tambahan, kitab Visuddhimagga XI.27ff juga menyertakan bahasan yang luas tentang empat unsur.[19]
Unsur kelima dan keenam
[sunting | sunting sumber]Selain empat unsur materi pokok di atas, dua unsur lainnya juga dapat ditemukan dalam Tripitaka Pali, seperti dalam Bahudhātuka Sutta (MN 115):[20][21]
- Unsur ruang (ākāsa-dhātu): ruang internal meliputi lubang tubuh seperti telinga, lubang hidung, mulut, anus, dan lain-lain.
- Unsur kesadaran (viññāṇa-dhātu): digambarkan sebagai "murni dan cerah" (parisuddhaṃ pariyodātaṃ), digunakan untuk mengenali tiga jenis perasaan (vedanā) yaitu menyenangkan, tidak menyenangkan, dan bukan-menyenangkan-juga-bukan-tidak-menyenangkan (netral); dan timbul dan lenyapnya kontak indra (phassa) yang menjadi dasar perasaan-perasaan ini bergantung.
Menurut tradisi Abhidhamma, “unsur ruang” diidentifikasikan sebagai unsur “sekunder” atau “turunan” (upādāya).
| Kelompok | Pañcakkhandha (lima gugusan) |
Abhidhamma Theravāda | |||
|---|---|---|---|---|---|
| Paramattha-sacca (realitas hakiki) | |||||
| nāma (batin) |
viññāṇakkhandha (gugusan kesadaran) |
89/121 citta (kesadaran) |
81 duniawi 8/40 adiduniawi | ||
| vedanākkhandha (gugusan perasaan) |
52 cetasika (faktor-mental) |
1 vedanācetasika (cetasika perasaan) | |||
| saññākkhandha (gugusan persepsi) |
1 saññācetasika (cetasika persepsi) | ||||
| saṅkhārakkhandha (gugusan formasi) |
50 cetasika lainnya | ||||
| rūpa (rupa) |
rūpakkhandha (gugusan rupa) |
28 rūpa (rupa) |
4 unsur pokok 24 unsur turunan | ||
- |
Nibbāna (Nirwana) | ||||
| Catatan: | |||||
Unsur turunan
[sunting | sunting sumber]Tradisi Abhidhamma menguraikan 24 unsur turunan atau sekunder, yaitu:[1]
- Sensitivitas mata (cakkhupasāda)
- Sensitivitas telinga (sotapasāda)
- Sensitivitas hidung (ghānapasāda)
- Sensitivitas lidah (jivhāpasāda)
- Sensitivitas tubuh (kāyapasāda)
- Bentuk atau warna (rūpa atau vaṇṇa)
- Suara (sadda)
- Ganda atau bau (gandha)
- Rasa (rasa)
- Feminitas (itthibhāva / itthatta)
- Maskulinitas (pumbhāva / purisatta)
- Landasan jantung (hadayavatthu)
- Indra nyawa (jīvitindriya)
- Makanan/sari makanan (āhāra / ojā)
- Elemen atau unsur angkasa (ākāsadhātu)
- Isyarat tubuh (kāyaviññatti)
- Isyarat lisan (vacīviññatti)
- Keringanan rupa/materi (rūpassa lahutā)
- Kelenturan rupa/materi (rūpassa mudutā)
- Kecekatan rupa/materi (rūpassa kammaññatā)
- Produksi rupa/materi (rūpassa upacaya)
- Kesinambungan rupa/materi (rūpassa santati)
- Kelapukan rupa/materi (rūpassa jaratā)
- Ketidakkekalan rupa/materi (rūpassa aniccatā)
Konteks lainnya
[sunting | sunting sumber]Dalam konteks lain, seperti dalam Bahudhātuka Sutta (MN 115), istilah "unsur" juga digunakan untuk merujuk pada berbagai konsep Buddhis lainnya.[note 1]
Delapan belas unsur
[sunting | sunting sumber]Delapan belas dhātu ("unsur")–enam landasan eksternal, enam landasan internal, dan enam kesadaran–berfungsi melalui lima gugusan. Dhātu-dhātu ini merujuk pada konsep landasan indra (āyatana), dan dapat diatur menjadi enam kelompok tiga-serangkai dengan masing-masing tiga-serangkai terdiri dari objek indra, organ indra, dan kesadaran indra terkait.[note 2]
| Enam Kelompok-Enam sesuai Tripitaka Pali: | |||||||||||||||
| landasan indra (āyatana) | → |
perasaan ︵vedanā︶ |
→ |
nafsu ︵taṇhā︶ |
|||||||||||
| organ indra "internal" |
<–> | objek indra "eksternal" |
|||||||||||||
| ↓ | ↓ | ||||||||||||||
| ↓ | kontak (phassa) | ||||||||||||||
| ↓ | ↑ | ||||||||||||||
| kesadaran (viññāṇa) |
|||||||||||||||
| |||||||||||||||
| Sumber: MN 148 (Thanissaro, 1998) | |||||||||||||||
| No. | Unsur indra (indriya-dhātu) |
No. | Unsur objek (ārammaṇa-dhātu) |
No. | Unsur kesadaran (viññāṇa-dhātu) |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. | unsur mata (cakkhudhātu) |
7. | rupa visual (rūpadhātu) |
13. | kesadaran mata (cakkhuviññāṇadhātu) |
| 2. | unsur telinga (sotadhātu) |
8. | suara (saddadhātu) |
14. | kesadaran telinga (sotaviññāṇadhātu) |
| 3. | unsur hidung (ghānadhātu) |
9 | ganda/bau (gandhadhātu) |
15. | kesadaran hidung (ghānaviññāṇadhātu) |
| 4. | unsur lidah (jivhādhātu) |
10. | rasa (rasadhātu) |
16. | kesadaran lidah (jivhāviññāṇadhātu) |
| 5. | unsur tubuh (kāyadhātu) |
11. | sentuhan (phoṭṭhabbadhātu) |
17. | kesadaran tubuh (kāyaviññāṇadhātu) |
| 6. | unsur batin (manodhātu) |
12. | objek batiniah (dhammadhātu) |
18. | kesadaran batin (manoviññāṇadhātu) |
Enam unsur
[sunting | sunting sumber]| “Ada, Ānanda. Terdapat, Ānanda, enam unsur ini: unsur sukha, unsur dukkha, unsur somanassa, unsur domanassa, unsur upekkhā, dan unsur avijjā. Ketika ia mengetahui dan melihat keenam unsur ini, maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.” | Chayimā, ānanda, dhātuyo—sukhadhātu, dukkhadhātu, somanassadhātu, domanassadhātu, upekkhādhātu, avijjādhātu. Imā kho, ānanda, cha dhātuyo yato jānāti passati—ettāvatāpi kho, ānanda, ‘dhātukusalo bhikkhū’ti alaṁvacanāyā”ti. | |
| — Bahudhātuka Sutta, MN 115 | ||
Daftar tersebut menguraikan enam unsur yang merujuk pada konsep-konsep:[20][21]
- Perasaan (vedanā):
- Unsur perasaan suka (sukhadhātu)
- Unsur perasaan duka (dukkhadhātu)
- Unsur sukacita batiniah (somanassadhātu)
- Unsur dukacita batiniah (domanassadhātu)
- Unsur ketenangan (upekkhādhātu)
- Ketidaktahuan (avijjā):
- Unsur ketidaktahuan (avijjādhātu)
Selain itu, sutta yang sama juga menguraikan kategorisasi enam unsur lainnya:
| “Ada, Ānanda. Terdapat, Ānanda, enam unsur ini: unsur keinginan indrawi, unsur pelepasan keduniawian, unsur permusuhan, unsur tanpa permusuhan, unsur kekejaman, dan unsur tanpa-kekejaman. Ketika ia mengetahui dan melihat keenam unsur ini, maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.” | Chayimā, ānanda, dhātuyo—kāmadhātu, nekkhammadhātu, byāpādadhātu, abyāpādadhātu, vihiṁsādhātu, avihiṁsādhātu. Imā kho, ānanda, cha dhātuyo yato jānāti passati—ettāvatāpi kho, ānanda, ‘dhātukusalo bhikkhū’ti alaṁvacanāyā”ti | |
| — Bahudhātuka Sutta, MN 115 | ||
Daftar tersebut menguraikan enam unsur yang merujuk pada konsep-konsep:[20][21]
- Nafsu kehausan (taṇhā):
- Unsur nafsu indrawi (kāmadhātu)
- Pelepasan keduniawian (nekkhamma):
- Unsur pelepasan keduniawian (nekkhammadhātu)
- Kebencian (dosa) dan tanpa-kebencian (adosa) atau cinta kasih (mettā):
- Unsur niat jahat atau permusuhan (byāpādadhātu)
- Unsur tanpa-niat-jahat (abyāpādadhātu)
- Belas kasih (karuṇā):
- Unsur kekejaman (vihiṁsādhātu)
- Unsur tanpa-kekejaman (avihiṁsādhātu)
Tiga unsur
[sunting | sunting sumber]| “Ada, Ānanda. Terdapat, Ānanda, tiga unsur ini: unsur nafsu-indrawi, unsur materi halus, dan unsur tanpa materi. Ketika ia mengetahui dan melihat ketiga unsur ini, maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.” | Tisso imā, ānanda, dhātuyo—kāmadhātu, rūpadhātu, arūpadhātu. Imā kho, ānanda, tisso dhātuyo yato jānāti passati—ettāvatāpi kho, ānanda, ‘dhātukusalo bhikkhū’ti alaṁvacanāyā”ti. | |
| — Bahudhātuka Sutta, MN 115 | ||
Daftar tersebut menguraikan tiga unsur yang merujuk pada konsep tiga lingkup alam kehidupan (bhūmi atau loka), yaitu alam kehidupan nafsu-indrawi, alam brahma rupa/materi halus, dan alam brahma tanpa rupa/materi.[20][21]
Dua unsur
[sunting | sunting sumber]| “Ada, Ānanda. Terdapat, Ānanda, dua unsur ini: unsur terkondisi dan unsur tidak terkondisi. Ketika ia mengetahui dan melihat kedua unsur ini, maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.” | Dve imā, ānanda, dhātuyo—saṅkhatādhātu, asaṅkhatādhātu. Imā kho, ānanda, dve dhātuyo yato jānāti passati—ettāvatāpi kho, ānanda, ‘dhātukusalo bhikkhū’ti alaṁvacanāyā”ti. | |
| — Bahudhātuka Sutta, MN 115 | ||
Daftar tersebut menguraikan dua unsur yang merujuk pada konsep fenomena yang terkondisi (saṅkhatā), atau formasi-formasi, dan fenomena tidak terkondisi (asaṅkhatā), yaitu Nirwana.[20][21]
Peran dalam pencerahan
[sunting | sunting sumber]"Empat unsur" digunakan dalam teks-teks Buddhis untuk menjelaskan konsep penderitaan (dukkha) dan sebagai objek meditasi. Teks-teks Buddhis paling awal menjelaskan bahwa empat unsur pokok adalah kualitas indrawi berupa kepadatan (unsur tanah), kecairan (unsur air), suhu (unsur api), dan pergerakan (unsur udara); karakterisasi unsur-unsur sebagai tanah, air, api, dan udara, masing-masing, dinyatakan sebagai abstraksi – alih-alih fokus pada kenyataan keberadaan materi, seseorang dianjurkan untuk mengamati bagaimana suatu benda fisik dirasakan, dihayati, dan dipersepsikan.[23]
Memahami penderitaan
[sunting | sunting sumber]Keterkaitan empat-unsur dengan konsep penderitaan dalam Buddhisme muncul karena:
- Empat unsur ppkok merupakan komponen utama dari "materi" atau "bentuk" (rūpa).
- "Materi" adalah kategori pertama dari "lima gugusan" (khandha).
- Lima gugusan adalah dasar utama bagi penderitaan (dukkha) dalam "Empat Kebenaran Mulia."
Secara skematis, hal ini dapat digambarkan dalam urutan terbalik sebagai berikut:
- Empat Kebenaran Mulia → penderitaan → lima gugusan → materi/bentuk → empat unsur pokok
Oleh karena itu, untuk memahami Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan Sang Buddha secara mendalam, sangatlah bermanfaat untuk memiliki pemahaman mengenai unsur-unsur pokok tersebut.
Objek meditasi
[sunting | sunting sumber]Dalam Satipaṭṭhāna Sutta ("Diskursus Besar tentang Landasan Perhatian Penuh," DN 22), saat mencantumkan berbagai teknik meditasi atas tubuh, Buddha menginstruksikan:
- "Bagaikan seorang tukang jagal yang ahli atau asistennya, setelah menyembelih seekor sapi, duduk di persimpangan jalan dengan bangkai yang telah dibagi menjadi beberapa bagian, demikian pula seorang bhikkhu meninjau tubuh ini berdasarkan unsur-unsurnya: 'Dalam tubuh ini terdapat unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur udara, [dan] unsur ruang (eter).' Demikianlah ia berdiam merenungkan tubuh di dalam tubuh secara internal."[24]
Dalam daftar empat puluh objek meditasi (kammaṭṭhāna) yang terkenal dalam kitab Visuddhimagga, unsur-unsur utama dicantumkan sebagai empat objek pertama.
Penafsiran Mahāyāna
[sunting | sunting sumber]Kualitas sensoris, bukan substansi
[sunting | sunting sumber]Sementara dalam tradisi Theravāda, serta dalam teks-teks paling awal, seperti Tripitaka Pali, rūpa (materi atau bentuk) digambarkan sebagai sesuatu yang eksternal, yang benar-benar ada,[25][26][27][28][29][30] di beberapa aliran belakangan, seperti Yogācāra, atau aliran "Hanya Pikiran", dan aliran-aliran yang sangat dipengaruhi oleh aliran ini, rūpa berarti baik materialitas maupun kepekaan—misalnya, ia menandakan objek taktil sejauh objek itu taktil dan dapat dirasakan. Di beberapa aliran ini, rūpa bukanlah materialitas yang dapat dipisahkan atau diisolasi dari kesadaran; kategori non-empiris seperti itu tidak sesuai dalam konteks beberapa subaliran Buddhisme Mahāyāna dan Vajrayāna. Dalam pandangan Yogācāra, rūpa bukanlah substratum atau substansi yang memiliki kepekaan sebagai properti. Bagi aliran ini, ia berfungsi sebagai fisik yang dapat dirasakan dan materi, atau rūpa, didefinisikan dalam fungsinya; apa yang dilakukannya, bukan apa adanya.[31] Dengan demikian, keempat unsur besar tersebut adalah abstraksi konseptual yang diambil dari indra. Mereka adalah tipologi sensoris, dan bukan materialistis secara metafisik.[32] Dari perspektif ini, mereka tidak dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang materi sebagai pembentuk realitas eksternal yang independen dari pikiran.[33] Interpretasi ini ditentang keras oleh beberapa pemikir Madhyamaka seperti Chandrakirti.[34] Banyak filsuf India dari berbagai aliran Buddhis dan non-Buddhis juga sangat mengkritik pemikiran Yogācāra.[35]
Objek meditasi
[sunting | sunting sumber]Alan Wallace membandingkan praktik meditasi Theravāda "memperhatikan lambang kesadaran (citta-nimitta)" dengan praktik dalam Mahamudra dan Dzogchen "mempertahankan pikiran pada non-konseptualitas", yang juga bertujuan untuk memfokuskan pada hakikat kesadaran.[36]
Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Kata berbahasa Pāli dhātu digunakan dalam berbagai konteks di Tripitaka Pali. Misalnya, Bodhi (2000b), hlm. 527–28, mengidentifikasi empat jenis penggunaan istilah dhātu yang digunakan untuk merujuk pada "delapan-belas unsur" dan, dalam konteks lainnya, "empat unsur pokok/utama" (catudhātu).
- ↑ Enam kelompok tiga-serangkai tersebut dijelaskan sebagai berikut:
- Lima organ-indra pertama (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh) merupakan turunan dari rupa (rūpa).
- Organ-indra yang keenam (batin) merupakan bagian dari kesadaran (viññāṇa).
- Lima objek-indra pertama (rupa yang tampak, suara, bau/ganda, rasa, sentuhan) juga merupakan turunan dari rupa.
- Enam kesadaran-indra merupakan landasan untuk kesadaran (viññāṇa).[22]
- Lima organ-indra pertama (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh) merupakan turunan dari rupa (rūpa).
Rujukan
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Kheminda, Ashin (2019-05-01). Manual Abhidhamma: Bab 6 Materi. Yayasan Dhammavihari. ISBN 978-623-95936-1-2.
- ↑ Thanissaro (2003b).
- ↑ Thanissaro (2006).
- ↑ Thanissaro (1997c).
- ↑ Thanissaro (1997b).
- ↑ Thanissaro (1997a).
- ↑ Thanissaro (2003a).
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 645–50.
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 680–1; Thanissaro (2005).
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 891–2; Thanissaro (2001).
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1237–9; Thanissaro (2004a).
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1251–3; Thanissaro (1998).
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1806.
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 697.
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1006; Thanissaro (2004b).
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1010
- ↑ Bodhi (2000), hlm. 1014; Thanissaro (1994).
- ↑ Thanissaro (1997).
- ↑ Buddhaghosa (1999), hlm. 343ff.
- 1 2 3 4 5 Sujato, Bhikkhu. "MN 115: Bahudhātuka Sutta (English translation)". SuttaCentral (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-10-28.
- 1 2 3 4 5 Anggara, Indra. "MN 115: Bahudhātuka Sutta (Bahasa Indonesia translation)". SuttaCentral. Diakses tanggal 2024-10-28.
- ↑ Bodhi 2000a, hlm. 287–88.
- ↑ Dan Lusthaus, "What is and isn't Yogacara". Diarsipkan dari asli tanggal 31 March 2010. Diakses tanggal 2016-01-12. (Dia secara khusus membahas Buddhisme awal serta Yogācāra)
- ↑ Walshe (1995), hlm. 338.
- ↑ Bodhi, Bhikkhu, "The Connected Discourses", Wisdom Publications, 2000, bab 22.94:
- "Dan apakah itu, para bhikkhu, yang disepakati oleh para bijak di dunia sebagai sesuatu yang ada, yang juga saya katakan bahwa itu ada? Bentuk yang tidak kekal, menderita, dan tunduk pada perubahan: inilah yang disepakati oleh para bijak di dunia sebagai sesuatu yang ada, dan saya juga mengatakan bahwa itu ada."
- ↑ Narada Thera, "A Manual of Abhidhamma", Buddhist Missionary Society, 1956 hlm 342–343:
- "Buddhisme tidak mencoba untuk memecahkan masalah asal usul materi yang paling utama. Ia menganggap bahwa materi itu ada dan menyatakan bahwa rupa berkembang dalam empat cara."
- ↑ Bodhi, Bhikkhu, "Long Discourses", Wisdom Publications, 1995, bab 28:
- "Jika, teman-teman, secara internal mata tetap utuh tetapi tidak ada bentuk eksternal yang masuk ke dalam jangkauannya, dan tidak ada keterlibatan kesadaran yang sesuai, maka tidak ada manifestasi dari bagian kesadaran yang sesuai. Jika secara internal mata tetap utuh dan bentuk eksternal masuk ke dalam jangkauannya, tetapi tidak ada keterlibatan kesadaran yang sesuai, maka tidak ada manifestasi dari bagian kesadaran yang sesuai. Akan tetapi, ketika secara internal mata tetap utuh dan bentuk eksternal masuk ke dalam jangkauannya dan ada keterlibatan kesadaran yang sesuai, maka ada manifestasi dari bagian kesadaran yang sesuai." "Sekarang tiba saatnya ketika unsur air eksternal terganggu." "Ia melenyapkan desa, kota kecil, kota besar, distrik, dan negara."
- ↑ Karunadasa, Y., "Buddhist Analysis of Matter", Wisdom Publications, 2020, hlm. 613 dan 638:
- "Sebagian besar aliran pemikiran India, terutama Sāṃkhya, Vedānta, dan Tradisi Medis seperti yang diwakili oleh Caraka dan Suśruta, mengakui lima mahābhūta, atau zat unsur... Dalam kitab-kitab nikāya, zat-zat tersebut didefinisikan dalam istilah yang sederhana dan umum dan diilustrasikan sebagian besar dengan mengacu pada unsur-unsur tubuh manusia. Unsur bumi adalah sesuatu yang keras (kakkhaḷa) dan kaku (kharigata) —misalnya, rambut kepala atau badan, kuku, gigi, kulit, daging, dll. Unsur air adalah air (āpo), atau sesuatu yang berair (āpogataṃ) —misalnya, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, air mata, dll. Unsur api adalah api atau panas (tejo), atau sesuatu yang berapi-api (tejogataṃ) —misalnya, panas dalam tubuh yang mengubah makanan dan minuman dalam pencernaan. Unsur udara adalah udara (vāyo), atau sesuatu yang berangin (vāyogataṃ) —misalnya, “angin yang dikeluarkan ke atas atau ke bawah, angin di perut, uap yang melintasi berbagai anggota tubuh, menghirup dan menghembuskan napas.” Definisi-definisi ini tampaknya menunjukkan bahwa sejak awal Buddhisme tidak membuat penyimpangan radikal dari konsepsi populer tentang mahābhūta.
- ↑ Karunadasa, Y., "Buddhist Analysis of Matter", Wisdom Publications, 2020, hlm. 149:
- "Teori ini memastikan bahwa objek persepsi langsung dan segera bukanlah objek interpretasi mental tetapi sesuatu yang pada akhirnya nyata."
- ↑ Bodhi, Bhikkhu, A Comprehensive Manual of Abhidhamma, Paryatti Publishing, 1993, hlm. 3 "Hanya dhamma-dhamma sajalah yang memiliki realitas tertinggi: eksistensi yang pasti “dari sisi mereka sendiri” (sarupato) yang independen dari pemrosesan konseptual pikiran terhadap data. Konsepsi tentang hakikat realitas seperti itu tampaknya sudah tersirat dalam Suttapiṭaka, khususnya dalam uraian Buddha tentang lima gugusan, landasan indra, unsur, kemunculan yang saling bergantung, dll.,..."
- ↑ Dan Lusthaus, Buddhist Phenomenology: A Philosophical Investigation of Yogācāra Buddhism and the Chʼeng Wei-shih Lun. Routledge, 2002, hlm. 183.
- ↑ Dan Lusthaus, Buddhist Phenomenology: A Philosophical Investigation of Yogācāra Buddhism and the Chʼeng Wei-shih Lun. Routledge, 2002, hlm. 184.
- ↑ Noa Ronkin, Early Buddhist Metaphysics the Making of a Philosophical Tradition. Routledge, 2005, hlm 56.
- ↑ Buddhist Philosophy Essential Readings, disunting oleh William Edelglass dan Jay Garfield, Oxford Publications, 2009, hlm. 309–319:
- "Orang waras mana yang akan melihat sebuah bagian dari [Dasabhumikasutra] yang sama ini dan membayangkan bahwa kesadaran ada sebagai sesuatu yang independen (vastutah)? Gagasan seperti ini tidak lebih dari pendapat dogmatis. Oleh karena itu, ungkapan "pikiran saja" hanya berfungsi untuk mengklarifikasi bahwa pikiran adalah unsur yang paling signifikan [dalam pengalaman]. Teks ini tidak boleh dipahami sebagai pernyataan bahwa tidak ada bentuk objektif (rupa)." "Seseorang tentu dapat menyatakan bahwa realitas objektif itu ada."
- ↑ Sinha, Jadunath Indian Realism hlm. 15. Routledge, 2024.
- ↑ B. Alan Wallace, The bridge of quiescence: experiencing Tibetan Buddhist meditation. Carus Publishing Company, 1998, hlm. 257.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Bodhi, Bhikkhu (penerjemah) (2000). The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Samyutta Nikaya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-331-1.
- Buddhaghosa, Bhadantācariya (diterjemahkan dari Pāli oleh Bhikkhu Ñāṇamoli) (1999). The Path of Purification: Visuddhimagga. Seattle, WA: BPS Pariyatti Editions. ISBN 1-928706-00-2.
- Hamilton, Sue (2001). Identity and Experience: The Constitution of the Human Being according to Early Buddhism. Oxford: Luzac Oriental. ISBN 1-898942-23-4.
- Monier-Williams, Monier (1899, 1964). A Sanskrit-English Dictionary (London: Oxford University Press).
- Ñāṇamoli, Bhikkhu (penerjemah) & Bodhi, Bhikkhu (ed.) (2001). The Middle-Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikāya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-072-X.
- Nyanaponika Thera (penerjemah) (1981). The Greater Discourse on the Elephant-Footprint Simile. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society.
- Olivelle, Patrick (1996). Upaniṣads. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-283576-5.
- Rhys Davids, T.W. & William Stede (eds.) (1921–5). The Pali Text Society’s Pali–English Dictionary [PED]. Chipstead: Pali Text Society. A general on-line search engine for the PED is available dari the University of Chicago's "Digital Dictionaries of South Asia" di http://dsal.uchicago.edu/dictionaries/pali/ (diakses 2007-06-14).
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (1994). "SN 27.9: Dhatu Sutta – Properties" in Upakkilesa Samyutta: Defilements (SN 27.1–10). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn27/sn27.001-010.than.html#sn27.009.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (1997a). Kayagata-sati Sutta: Mindfulness Immersed in the Body (MN 119). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.119.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (1997b). Kevatta (Kevaddha) Sutta: To Kevatta (DN 11). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/dn/dn.11.0.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (1997c). Dhatu-vibhanga Sutta: An Analysis of the Properties (MN 140). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.140.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (1998). Kimsuka Sutta: The Riddle Tree (SN 35.204). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn35/sn35.204.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (2001). Bija Sutta: Means of Propagation (SN 22.54). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn22/sn22.054.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (2003a). Anathapindikovada Sutta: Instructions to Anathapindika (MN 143). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.143.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (2003b). Maha-hatthipadopama Sutta: The Great Elephant Footprint Simile (MN 28). Diakses 2008-01-30 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.028.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (2004a). Asivisa Sutta: Vipers (SN 35.197). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn35/sn35.197.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (2004b). Dhatu Sutta: Properties (SN 25.9). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn25/sn25.009.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (2005). Saddhammapatirupaka Sutta: A Counterfeit of the True Dhamma (SN 16.13). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn16/sn16.013.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (2006). Maha-Rahulovada Sutta: The Greater Exhortation to Rahula (MN 62). Diakses 2008-03-17 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.062.than.html.
- Walshe, Maurice O'C. (penerjemah) (1995). The Long Discourses of the Buddha: A Translation of the Digha Nikaya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-103-3.