Jivaka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Jivaka Komarabhacca
Watkhungtaphao Herbal Garden, zoom.jpg
Nama lainJivaka Kumarabhrata, Kumarabhuta, Raja Pengobatan [1]
Data pribadi
Lahir
Rajagriha, Magadha
Wafat
Rajagriha, Magadha
AgamaBuddha
KebangsaanMagadha
Orang tua
  • Tidak diketahui (menurut teks Pali), Pangeran Abhaya (teks Dharmaguptaka), Raja Bimbisara (teks tradisional lainnya) (ayah)
AlmamaterTaksila
Dikenal sebagaiRaja Pengobatan India, Pijat Thai
Nama lainJivaka Kumarabhrata, Kumarabhuta, Raja Pengobatan [1]
ProfesiTabib
Kedudukan senior
AhliAtreya
ProfesiTabib
KedudukanTabib pribadi Raja Bimbisara dan Raja Ajatasatru, serta tabib Sang Buddha.

Jivaka Komarabhacca (bahasa Sanskerta: Jivaka Kumarabhrata)[2] adalah tabib pribadi Raja Bimbisara dari Magadha dan Siddhartha Buddha Gautama. Ia tinggal di Rajagriha, sekarang Rajgir, pada akhir abad ke-5 SM. Dalam berbagai legenda beberapa negara Asia, Jivaka dikenal sebagai "Raja Pengobatan".[2] Ia dianggap sebagai sumber rujukan para tabib tradisional (bahasa Sanskerta: vaidya) sejumlah negara di Asia.

Keterangan mengenai Jivaka dapat ditemukan dalam berbagai naskah/kitab agama Budha, baik dalam naskah-naskah tradisional terdahulu yang berbahasa Pali dan Mūlasarvāstivāda maupun dalam sutta-sutta dan Avadana di periode berikutnya. Meski disebutkan bahwa Jivaka terlahir sebagai seorang abdi istana, riwayat leluhurnya tidak diketahui secara pasti.

Dalam catatan sejarah dikatakan bahwa Jivaka dirawat dan dibesarkan dalam lingkungan istana Kerajaan Magadha. Saat beranjak dewasa, Jivaka pergi ke Taksila untuk belajar pengobatan tradisional dari seorang guru yang terkenal. Ia kemudian menjadi murid yang menonjol di sana. Setelah belajar selama tujuh tahun, Jivaka kembali ke Rajagriha untuk membuka praktik pengobatan. Kecakapannya dalam dunia pengobatan membuatnya terkenal dan ia pun diangkat menjadi tabib keluarga Kerajaan Magadha di masa Raja Bimbisara. Jivaka juga merupakan tabib keluarga klan Shakya yang berada di wilayah Magadha, yang mana Siddhartha Gautama lahir dari klan ini. Karena kedekatannya dengan Siddhartha, di kemudian hari Jivaka termasuk pendukung utama agama Budha. Jivaka juga berperan dalam membawa Raja Ajatasatru, yang naik tahta menggantikan ayahnya Bimbisara, menjadi pengikut agama budha.

Naskah-naskah tradisional menceritakan bahwa Jivaka mampu melakukan prosedur pengobatan yang rumit, termasuk tindakan medis yang dapat ditafsirkan sebagai bedah otak -- meski interpretasi ini menjadi perdebatan para sejarawan. Jivaka dihormati sebagai tabib teladan dan orang suci dalam ajaran Budha di Asia sepanjang zaman oleh penganut Budha dan oleh sebagian tabib yang tidak beragama Budha. Jivaka dihormati oleh masyarakat India dan Thailand sebagai pelopor pengobatan tradisional hingga saat ini, ia berperan penting dalam semua upacara pengobatan tradisional Thailand.

Di luar itu, sosok Jivaka dalam legenda memiliki peran penting dalam penyebaran agama Budha meskipun beberapa legenda mengalami penyesuaian dengan tradisi lokal di mana cerita tentang Jivaka disampaikan. Sangha Jivakarama, yang didirikan oleh Jivaka, ditemukan pada abad ke-7 oleh seorang peziarah Tionghoa bernama Xuan Zang. Situs tersebut baru selanjutnya diekskavasi pada abad ke-19 . Saat ini, Sangha Jivakarama menjadi salah satu wihara tertua dengan reruntuhan arkeologi.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Dalam Kitab naskah-naskah budha Tionghoa, sejumlah teks dapat ditemukan seputar Jivaka.

Kehidupan Jivaka dikisahkan dalam banyak tradisi tertulis Budha terdahulu yang berbahasa Pali, Tionghoa (pada tradisi Dharmaguptaka, Mahīśāsaka dan Sarvāstivāda, semuanya diterjemahkan dari naskah berbahasa India pada abad ke-5 M), Tibet (Mūlasarvāstivāda) dan Sanskerta.[note 1] Kisah Jivaka dapat ditemukan pada naskah rahib Budha (dalam bahasa Pali dan bahasa Sanskerta: Vinaya) yang mana stratum tertuanya berasal dari paruh pertama abad ke-4 SM. Stratum tersebut membahas antara lain peran dan aturan dalam pengobatan, berkaitan dengan kehidupan dan karya Jivaka; dapat ditemukan dalam berbagai tradisi tertulis.[4]

Dalam naskah kanon Budha Tionghoa, dua sutra (bahasa Sanskerta: sūtra) yang berbeda ditemukan bukan merupakan bagian dari Vinaya: Sūtra Āmrapāli dan Jivaka (yang dikenal sebagai T. 554) dan Sūtra Avadāna Āmrapāli dan Jivaka (T. 553). Dua sutta tersebut masing-masing berasal dari sebelum abad ke-5 M dan antara abad ke-7 dan ke-10 M. Keduanya diterjemahkan dari sumber Sanskerta atau Asia Tengah. Secara tradisional, kedua terjemahan tersebut dianggap milik An Shigao (148 – 180 M) tetapi pandangan tersebut tampaknya merupakan upaya agar karya tersebut menjadi tampak lebih tua dan sah. Salguero berpendapat bahwa karya-karya tersebut mungkin berdasar pada terjemahan yang dibuat oleh Zhu Fahu (233 – ±308 M) serta Vinaya awal dan bahan apokrifa (naskah pascakanon) dari abad ke-5. Catatan tentang Jivaka pada Vinaya ditujukan untuk para biksu; catatan pada dua Sūtra Jivaka, yang ditujukan bagi awam secara luas, tampaknya merupakan versi yang lebih populer dari catatan tersebut. Sūtra T. 554 sangat mungkin membahas dan terkadang mengganti catatan Jivaka pada Vinaya awal dalam kitab Mahīśāsaka dan Sarvāstivāda; sebagian catatan tersebut dicantumkan sebagai bagian dari Vinaya sehingga hanya dapat ditemukan dalam sūtra tersebut. Sūtra T. 553 lainnya tampaknya berdasar pada T. 554 tetapi diperluas memakai bahan dari Vinaya Dharmaguptaka.[5]

Selain sumber-sumber tersebut, catatan tentang Jivaka dimuat dalam beberapa naskah Avadana. Terdapat juga sejumlah rujukan kepadanya dalam sastra India yang tak bernuansa Budha, seperti Māṭharavṛtti (komentar terhadap Sāṃkhyasūtra) dan puisi satir Kṣemendra (puisi Kashmir dari abad ke-11).[6]

Sejarawan Kenneth Zysk dan C. Pierce Salguero membandingkan hasil penyuntingan kritis terhadap cerita tentang Jivaka; mereka menyatakan bahwa tidak ada catatan tentang Jivaka yang merupakan naskah asli sehingga narasi asli tak dapat diketahui. Mereka pun berpendapat bahwa narasi yang berbeda-beda dibuat sehingga selaras dengan tradisi lokal.[7][4] Contohnya, Salguero berpendapat bahwa Sūtra-Sūtra Jivaka dari abad pertengahan yang bukan bagian dari Vinaya ditulis berdasarkan sebagian besar pengetahuan asli dari pengobatan Tionghoa: beberapa metode yang dipakai oleh Jivaka, baik dalam Sūtra-Sūtra Jivaka maupun naskah Vinaya, lebih bernuansa Tionghoa alih-alih India;[8][3] kebanyakan motif dalam biografinya dipetik dari legenda-legenda tabib Tionghoa terkenal lainnya.[9] Zysk menyatakan bahwa penyuntingan Pali lebih bersifat terapan sementara tradisi yang dipengaruhi oleh ajaran Mahāyāna memberikan nuansa yang lebih magis dan ajaib. Ia juga menemukan bahwa catatan-catatan dalam bahasa Tibet dan Sanskerta lebih menggambarkan lebih banyak pengobatan tradisional India (Āyurveda). Setiap penyuntingan memiliki karakter regional masing-masing dalam pemahaman tentang penyakit dan bagaimana Jivaka mengobatinya, meskipun banyak kemiripan juga ditemui.[10]

Penuturan[sunting | sunting sumber]

King Bimbisara menyambut sang budha. Ukiran gading di Museum Nasional, New Delhi, India.

Jivaka disebutkan dalam naskah agama Budha sebagai tokoh yang hidup pada masa yang sama dengan Sang Budha, sebagian besar cendekiawan memperkirakan mereka hidup pada abad ke-5 SM.[11] Terdapat perbedaan signifikan dalam bagaimana kehidupan awal Jivaka dituturkan dalam berbagai tradisi tertulis. Pada versi terdahulu narasi yang menceritakannya, Jivaka dideskripsikan sebagai bayi terlantar yang dibuang oleh seorang perempuan penghibur tanpa darah ningrat. Ia ditemukan dan dibesarkan di istana oleh Pangeran Abhaya. Dalam versi-versi berikutnya, kisah tentang Jivaka memuat rincian yang dapat diterima oleh khalayak ramai: ibu Jivaka digambarkan sebagai perempuan penghibur yang berasal dari khayangan dan Āmrapāli, murid Budha; ayah yang sebelumnya tak disebutkan namanya kemudian disebut sebagai Raja Bimbisara.[12] Selain itu, beberapa versi dari kisah tentang Jivaka berusaha menunjukkan bahwa Jivaka adalah "Raja Pengobatan" yang sebenarnya, sebuah gelar yang dipakai untuk tabib legendaris lainnya seperti tabib-tabib Tiongkok Bian Que dan Hua Tuo. Sebagian besar motif dalam penuturan tentang Jivaka menekankan hal tersebut: contohnya, Sūtra-Sūtra Jivaka menyatakan bahwa Jivaka dilahirkan dengan jarum-jarum akupuntur dan tumbuhan obat di tangannya, hal ini berusaha mendukung narasi bahwa Jivaka lebih unggul dibandingkan tabib Tiongkok lainnya.[13] Dalam versi Sanskerta dan Tibet, Jivaka diakui dan disebut sebagai "Raja Pengobatan" oleh istana sebanyak tiga kali, masing-masing usai terjadinya keajaiban pengobatan.[14][15] Maka dari itu, ia juga disebut sebagai "Tabib yang Tiga Kali Dinobatkan".[16]

Bayi terlantar[sunting | sunting sumber]

Naskah-naskah terdahulu, dari tradisi Pali,[1][4] serta Vinaya Dharmaguptaka Tionghoa dan T. 553 sūtra[17] menyatakan bahwa Jivaka lahir di Rajagriha (sekarang Rajgir) sebagai anak dari seorang perempuan penghibur (bahasa Sanskerta: gaṇikā; dalam kitab Pali dan Dharmaguptaka, ia bukanlah Āmrapāli, melainkan Salāwatī) yang menyuruh seorang budak agar membuang Jivaka di atas tumpukan sampah.[1][18][note 2] Jivaka kemudian ditemukan oleh seorang pangeran bernama Abhaya, putra Raja Bimbisara, yang bertanya apakah anak tersebut masih hidup. Saat masyarakat menjawab bahwa benar demikian, ia memutuskan untuk membesarkannya dan menamainya "ia yang hidup" (bahasa Pali: jīvati) karena Jivaka dapat bertahan hidup meski dibuang.[1][18] Tradisi Pali, Tibet, dan Sanskerta menjelaskan bahwa nama lain Jivaka adalah Komarabhacca karena ia dibesarkan oleh seorang pangeran (bahasa Pali: kumāra) tetapi para cendekiawan menyatakan bahwa nama tersebut lebih tampak berkaitan dengan Kaumārabhṛtya: tabib-tabib kandungan dan anak India kuno,[3][21] salah satu dari delapan cabang Āyurweda.[22] Seiring Jivaka bertambah dewasa, ia menemukan asal-usulnya dan memutuskan untuk memperoleh pendidikan yang baik untuk menutupi kekurangan pada latar belakangnya.[18] Tanpa sepengatahuan Pangeran Abhaya, Jivaka pergi menimba ilmu pengobatan ke tempat pembelajaran kuno yang disebut Taksila (disebut oleh orang Yunani sebagai Taxila),[1][23] sekarang sebuah kota di Islamabad, Pakistan.[18]

Pangeran[sunting | sunting sumber]

Ukiran gading yang menggambarkan Āmrapālī menyambut sang budha.

Naskah Sanskerta dan terjemahan Tibet awal dalam tradisi Mūlasarvāstivāda menyatakan bahwa Jivaka lahir sebagai anak kandung dari hubungan gelap Raja Bimbisara dengan seorang istri pedagang.[17][19][18] Dalam Sūtra-Sūtra Jivaka yang berbahasa Tionghoa, pasangan Raja tersebut diidentifikasikan sebagai Āmrapālī, seorang perempuan penghibur. Namun, dalam hasil penyuntingan kritis Sanskerta dan Tibet, istri pedagang tersebut masih tak disebutkan namanya dan Āmrapālī dianggap sebagai ibu Pangeran Abhaya alih-alih Jivaka.[17] Naskah Sanskerta dan Tibet, serta Sūtra T. 554, menjelaskan bahwa Raja memiliki hubungan terlarang dengan perempuan bersuami tersebut dan kemudian perempuan tersebut memberitahukan bahwa ia sedang mengandung. Raja berkata kepada perempuan tersebut bahwa jika anak tersebut berjenis kelamin laki-laki, perempuan tersebut harus menyerahkannya kepada Raja untuk dibesarkan di istana. Setelah anak itu lahir, perempuan tersebut menempatkannya di depan istana dalam sebuah peti. Saat peti tersebut telah dibawakan ke hadapan Raja, Raja menanyakan apakah anak itu masih hidup. Para pelayan menjawab bahwa benar demikian dan Raja menamakannya "ia yang hidup" (bahasa Sanskerta dan bahasa Pali: Jivaka).[17][19] Dalam versi Tibet, Jivaka kemudian dibesarkan di istana oleh Zho-nu Jigmed; di sana anak tersebut menjadi tertarik dengan bidang pengobatan saat ia menyaksikan kunjungan para vaidya (tabib). Selanjutnya, ia memutuskan untuk berguru menjadi tabib di Taksila.[24] Dalam Vinaya Dharmaguptaka dan Sūtra-Sūtra Jivaka berbahasa Tionghoa, Jivaka menganggap rendah para guru pengobatan istana dan menunjukkan pengetahuan pengobatannya yang lebih tinggi dari mereka. Setelah itu, ia memutuskan untuk belajar di Taksila.[25] Pada masa itu, Taksila berada di bawah kekuasaan Akhemeniyah usai penaklukan Lembah Indus oleh Akhemeniyah pada sekitar tahun 515 SM.[26][27]

Murid yang memamerkan jantungnya[sunting | sunting sumber]

Naskah dalam tradisi Tionghoa menceritakan bahwa Jivaka adalah seorang putra mahkota sebuah kerajaan di India Tengah. Saat sang raja wafat, adiknya mempersiapkan pasukan untuk melawan Jivaka. Namun, Jivaka berkata kepada saudaranya bahwa ia tak terlalu berminat dengan takhta karena pikirannya terfokus kepada Buddha. Ia membuka dadanya dan menunjukkan gambar Buddha yang terukir pada jantungnya. Adiknya terpukau dan menarik kembali pasukannya. Karena cerita tersebut, Jivaka disebut 'Arhat yang memamerkan jantung' (Pinyin: Kaixin Luohan).[21]

Pada semua versi kisah tentang Jivaka, ia menyerahkan haknya atas takhta agar dapat belajar di Taksila.[25] Ia mungkin berusia enam belas tahun saat ia berangkat ke sana.[22]

Kehidupan di Taksila[sunting | sunting sumber]

Reruntuhan Akaemeniyah Taxila, situs arkeologi Bhir Mound, abad ke-6 SM.

Ia berguru selama tujuh tahun di Taksila kepada seorang ṛṣi (pemilik penglihatan gaib) yang bernama Ātreya Punarvasu.[25][28][note 3] Naskah-naskah Tibet menceritakan bahwa Ātreya sebelumnya merupakan tabib ayah Bimbisara.[24]

Jivaka mempelajari kitab-kitab khusus pengobatan Āyurveda klasik masa itu, seperti Caraka Saṃhitā (dianggap milik Ātreya)[30] dan Suśruta Saṃhitā,[31] meskipun pengobatan Jivaka pada masa selanjutnya juga memakai tradisi pengetahuan pengobatan lainnya.[32] Ātreya membantu Jivaka membangun keterampilan observasi.[18] Jivaka kemudian dikisahkan menjadi terkenal karena kemampuan observasinya. Dalam satu catatan, Jivaka melihat jejak kaki gajah dan dapat menggambarkan penunggang gajah tersebut dengan sangat rinci berdasar pada jejak kaki gajah tersebut.[18] Namun, naskah-naskah Tibet menyatakan bahwa Jivaka membuat iri murid lainnya, mereka menuduh Ātreya pilih kasih karena Jivaka berasal dari istana.[24] Dalam versi Pali dan Tionghoa, Ātreya kemudian menyuruh Jivaka dan murid lainnya untuk mengumpulkan tumbuhan apapun di hutan yang tak berperan sebagai obat. Jivaka kembali dengan kecewa dan berkata kepada Ātreya bahwa ia tak menemukan satupun tumbuhan yang ia anggap tidak memiliki kekuatan menyembuhkan.[22][33] Ātreya puas dengan hal ini, memberikan sedikit uang kepada Jivaka, dan mengirimnya pulang[1][23] setelah mengakui Jivaka sebagai penerus selanjutnya.[34]

Reruntuhan situs Piplan di Taxila.

Dalam penyuntingan kritis Sanskerta dan Tibet, ujian yang berkaitan dengan hutan tersebut diadakan sebelum Jivaka diterima belajar di Taksila, bertentangan dengan kisah yang menceritakan bahwa ujian diadakan pada akhir pembelajarannya. Usai Jivaka lulus dari tes tersebut, diterima dan belajar di tempat itu selama beberapa tahun, ia mulai menunjukkan keahliannya dalam pengobatan dan diakui oleh Ātreya.[35][36] Ia menyelesaikan pembelajarannya dengan Ātreya dan meneruskannya di kota Bhadraṅkara, Vidarbha, di mana ia mempelajari buku yang disebut Sarvabhūtaruta, yang berisikan jampi-jampi dan dharani.[37] Setelah itu, ia berkeliling jauh dan memperoleh benda ajaib yang membantunya melihat tembus ke tubuh manusia dan menemukan penyakit-penyakitnya. Dalam catatan yang ditemukan dalam Sūtra Jivaka ini, Jivaka menemui pria yang membawa ranting-ranting kayu. Dalam beberapa catatan, pria tersebut tampak sangat menderita karena membawa ranting-ranting kayu tersebut, sangat kurus dan berkeringat; dalam catatan lain, ranting-ranting kayu yang dibawa oleh pria tersebut menjadikan mereka yang lewat dapat melihat apa yang ada di balik punggungnya.[38][39] Bagaimanapun juga, Jivaka membeli ranting-ranting tersebut dan menemukan bahwa, menurut kebanyakan naskah Tionghoa, salah satu ranting berasal dari "Pohon Raja Pengobatan" (Pinyin: yao wang shu) yang ajaib:[34] pohon Bhaiṣajrayājan, yang naskah Mahāyāna sebut sebagai bodhisattva, seseorang yang kemudian menjadi Buddha, dengan fokus pada penyembuhan.[33] Namun, versi Tibet dan Sanskerta menceritakan bahwa terdapat permata tersembunyi, di antara ranting-ranting tersebut, yang merupakan sumber keajaiban.[38] Benda ajaib yang ada menjadikan Jivaka dapat melihat tembus badan pasien dan mendiagnosis penyakit karena benda tersebut "memperlihatkan bagian dalamnya seperti lentera yang menerangi rumah".[35] Catatan-catatan tersebut memunculkan mitos tentang "alat ultrasonik" kuno, seperti yang dibayangkan di kerajaan-kerajaan Budha Asia pada abad pertengahan.[39]

Kehidupan sebagai tabib[sunting | sunting sumber]

Menurut naskah Pali, dalam perjalanannya kembali ke Rajagriha, Jivaka membutuhkan biaya perjalanan sehingga ia terpaksa untuk mulai bekerja di Sāketa. Seorang pedagang kaya (bahasa Pali: seṭṭhī) meminta Jivaka agar menolong istrinya karena banyak tabib gagal menyembuhkannya. Jivaka tidak ingin menerima permintaan tersebut dan menyatakan bahwa ia tak mau dibayar jika pengobatannya gagal. Ia berhasil mengobati istri pedagang tersebut dan menerima bayaran yang besar. Setelah pulang ke Rajagriha, ia memberikan bayaran pertamanya ke Pangeran Abhaya, yang menolaknya namun meminta Jivaka agar bekerja di istana.[22][40] Jivaka dengan cepat menjadi kaya karena jasanya terhadap pasien-pasien yang berpengaruh, termasuk Raja Bimbisara.[41] Meskipun ia menerima bayaran yang layak dari para pelanggan kayanya, berbagai naskah juga menyatakan bahwa ia mengobati pasien miskin secara gratis.[21] Saat Raja Bimibisāra mengidap gangguan saluran buang air besar, ia meminta diobati oleh Jivaka.[42] Setelah berhasil mengobati Raja, Jivaka diangkat oleh Raja menjadi dokter pribadinya dan Buddha.[22][43]

Jivaka dikisahkan mengobati gangguan usus, mengadakan trepanasi,[1][44] mengangkat benjolan pada rongga intrakranial,[44] dan melakukan pembedahan hidung.[45] Dalam T. 553 dan Vinaya Dharmaguptaka, ia menyembuhkan "penyakit pada kepala" dengan mengobati pasien memakai minyak samin melalui hidungnya.[note 4] Dalam naskah Pali, ia disebutkan melakukan laparotomi, menghilangkan volvulus pascatrauma, dan operasi sesar terhadap pasien yang dibius.[43][47] Deskripsi prosedur pengobatan yang Jivaka lakukan sangat mengikuti protokol Suśruta dan Saṃhitā Charaka.[32][11] Sūtra Jivaka menceritakan bahwa ia juga melakukan akupuntur tetapi tindakan tersebut merupakan interpolasi Tionghoa karena akupuntur berasal dari budaya tersebut.[48]

Lukisan Jivaka (kiri gambar) karya Jin Dashou, Dinasti Song (abad ke-10 – 13), Tiongkok

Dalam kasus yang berkaitan dengan psikologi, Jivaka mengobati seṭṭhī lain yang memiliki kelainan pada otak. Setelah melakukan bedah otak, ia menyuruh pasien agar berbaring diam pada sisi kanannya selama tujuh tahun, pada sisi kirinya pada tujuh tahun berikutnya, dan terlentang selama tujuh tahun berikutnya.[22] Pasien tersebut berbaring pada setiap sisi selama tujuh hari tetapi tak dapat berbaring diam lebih lama dari itu, ia bangun dari tempat tidurnya. Ia mengaku kepada Jivaka; Jivaka kemudian menjawab bahwa ia menyuruhnya selama tujuh tahun pada setiap sisi sehingga seṭṭhī tersebut dapat menyelesaikan tujuh hari penuh pada setiap sisinya.[22][49]

Dalam salah satu bagian pada naskah Mūlasarvāstivāda, Raja Bimbisara mengutus Jivaka kepada Raja Pradyota (bahasa Pali: Candappajjoti), raja dari Ujjeni, untuk menyembuhkan penyakit kuningnya.[50] Karena ranting ajaibnnya, Jivaka mengetahui bahwa Pradyota teracuni oleh bisa ular dan hanya dapat disembuhkan dengan memakai minyak samin, yang dibenci Pradyota.[51][52] Praydyota mungkin akan murka dan Jivaka ragu apakah ia sebaiknya mengobati raja tersebut. Jivaka meminta nasihat Buddha yang kemudian mengatakan bahwa Jivaka telah bersumpah pada kehidupan sebelumnya bahwa ia akan mengobati tubuh orang sementara Buddha bersumpah bahwa ia akan mengobati pikiran orang—lantas, Jivaka memutuskan untuk menyembuhkan raja tersebut.[52] Jivaka memberikan ramuan yang mengandung minyak samin tanpa Raja sadari. Mengantisipasi tanggapan Raja, Jivaka kabur dari istana dengan menunggangi salah satu gajah milik Pradyota. Raja tersebut benar-benar menjadi geram dan mengutus salah satu pelayan untuk menangkap dan membawa pulang Jivaka. Pelayan tersebut berhasil menangkap Jivaka tetapi, saat mereka bersantap, Jivaka diam-diam memberikannya obat pencahar yang kuat. Pada waktu mereka berdua akhirnya sampai kembali di istana, Raja Pradyota telah sembuh dan tak lagi murka, ia memberi imbalan yang besar bagi Jivaka karena kesembuhannya.[1][22][note 5] Dalam versi Pali, Jivaka dihadiahi dengan busana mahal, yang kemudian Jivaka tawarkan kepada Buddha;[1][53] dalam versi Mūlasarvāstivāda, Raja menganugerahi Jivaka dengan disampaikannya ajaran Buddha, satu-satunya bayaran yang disetujui oleh Jivaka.[54]

Catatan dalam sastra Jepang dan Tionghoa abad pertengahan mengisahkan Jivaka yang menawarkan permandian kepada Buddha dan mendedikasikan jasa relijiusnya kepada seluruh makhluk. Cerita tersebut dipakai dalam masyarakat Asia Timur untuk mempromosikan nilai pengobatan dan ritual mandi, mendorong manfaat penawaran permandian semacam itu kepada komunitas wihara sebagai bentuk "karma medis".[55][56]

Sejumlah cendekiawan menggunakan catatan tentang Jivaka sebagai bukti praktik pengobatan kuno.[53][57] Sejarawan kedokteran Thomas dan Peter Chen menyatakan bahwa "peristiwa-peristiwa menonjol dalam kehidupan Jivaka dan tindakan pengobatannya mungkin bersifat otentik" dan menganalisis sebagian prosedur Jivaka dari sudut pandang praktik pengobatan ilmiah.[58] Namun, Salguero lebih bersikap skeptis dan berpendapat bahwa "legenda-legenda pengobatan, secara sederhana, tak dapat dijadikan bukti praktik pengobatan".[59]

Peran dalam ajaran Budha[sunting | sunting sumber]

Naskah Pali sering mendeskripsikan Jivaka yang mengobati sejumlah gejala pada Buddha, seperti saat Buddha pilek[60][61] dan saat terluka karena percobaan pembunuhan oleh biksu pemberontak Devadatta.[1][21] Peristiwa percobaan pembunuhan tersebut terjadi di sebuah taman yanng bernama Maddakucchi, Devadatta menggulingkan batu ke arah Buddha dari tebing. Batu tersebut berhenti karena adanya batu lain di tengah jalan tetapi serpihannya mengenai kaki Buddha dan menyebabkannya berdarah; Jivaka menyembuhkan Buddha. Namun, Jivaka terkadang lupa untuk menyelesaikan pengobatan tertentu. Saat itu terjadi, Buddha mengetahui isi pikiran Jivaka dan menyelesaikan pengobatan tersebut sendiri.[62] Jivaka mengobati Buddha hanya dengan barang-barang yang dianggap istimewa, misalnya dengan bagian bunga teratai alih-alih obat tumbuhan dari pohon-pohonan.[63] Naskah Tibet menyatakan bahwa Jivaka sangat sering memeriksa Buddha, bisa sampai tiga kali sehari.[16] Jivaka tak hanya mengobati Buddha tetapi juga mengekspresikan perhatiannya kepada komunitas wihara, pada suatu saat Jivaka menganjurkan agar Buddha menyuruh para biksu untuk sering berolahraga.[21]

Di samping berperan sebagai tabib, Jivaka juga memiliki minat dalam ajaran-ajaran Buddha. Satu kitab Pali diberi nama Jivaka: Sutta Jivaka. Dalam sumber tersebut, Jivaka menanyakan soal bagaimana menjadi pengikut awam yang baik.[64] Ia juga bertanya kenapa Buddha menyantap daging. Buddha menjawab bahwa seorang biksu hanya boleh menyantap daging jika hewan tersebut tak dibunuh khusus untuk biksu tersebut—selain dari itu, daging diperbolehkan. Ia lanjut menjawab bahwa seorang biksu tidak boleh bersifat pilih-pilih makanan tetapi harus menerima dan menyantap makanan yang ada, hanya untuk memelihara kesehatannya. Ajaran tersebut menginspirasi Jivaka sehingga memutuskan untuk mendedikasikan dirinya sendiri sebagai pengikut awam Buddha.[53][65] Tradisi Tibet mengisahkan versi lain tentang perbincangan Jivaka: harga diri Jivaka sebagai tabib terbaik di dunia (menurut dirinya sendiri) menghalanginya menerima Buddha. Buddha mengutus Jivaka ke tempat-tempat legendaris untuk menemukan berbagai bahan dan akhirnya Jivaka menemukan bahwa ia masih banyak yang ia belum ketahui tentang pengobatan dan Buddha tahu lebih banyak. Saat Jivaka menerima Buddha sebagai "tabib tertinggi", ia lebih menerima ajaran-ajaran Buddha dan Buddha mulai mengajarinya. Jivaka mencurahkan dirinya sendiri kepada lima sila moral.[66]

Jivaka berbincang dengan sang budha. Burma, 1875

Naskah Pali mengisahkan bahwa Jivaka kemudian mencapai śrotāpanna, sebuah keadaan sebelum pencerahan. Setelah memperoleh keadaan tersebut, ia mulai mengunjungi Buddha dua kali sepekan. Sejak ia lebih sering melakukan perjalanan jauh, ia memutuskan untuk menyumbangkan hutan kecil mangga di dekat Rajagriha dan membangun wihara di sana.[1][41] Wihara tersebut dipakai oleh para biksu pada masa retret tahunan.[67] Kemudian, Jivaka menjadi orang awam pertama yang tercatat menawarkan jubah kepada para biksu.[68] Mungkin, Jivaka menawarkan jubah demi kesehatan mereka karena sebelum itu para biksu biasanya membuat jubah dengan menyatukan kain rombengan yang kurang higienis yang ditinggalkan atau dari mayat. Pada masa Jivaka menyumbangkan jubah, Buddha sedang sakit, mungkin karena kondisi yang kurang higienis. Bersangkutan dengan hal itu, Jivaka dikisahkan menyumbangkan jubah dari bahan wol yang dipakai pada musim dingin.[69]

Pada akhir masa pelayanan Buddha, Raja Bimbisara ditahan oleh putranya, Ajātaśatru yang naik takhta dengan paksa.[70] Ia berusaha agar ayahnya sendiri mati kelaparan tetapi Ajātaśatru mendengar bahwa ibunya berusaha mencegah Bimbisara agar tidak mati kelaparan. Menurut naskah Mūlasarvāstivāda, Ajātaśatru nyaris membunuh ibunya karena marah tetapi dihentikan oleh Jivaka dan seorang menteri, yang memperingatkan bahwa ia akan dianggap orang buangan tanpa kasta (bahasa Sanskerta: caṇḍala) jika ia membunuh ibunya sendiri.[71] Kemudian, Bimbisara mati kelaparan dan meninggal. Ajātaśatru terserang tumor usai ayahnya meninggal dan meminta Jivaka untuk menyembuhkannya. Jivaka berkata bahwa ia membutuhkan daging anak-anak untuk menyembuhkan tumor tersebut. Ajātaśatru berencana untuk menyantap seorang anak dan kemudian ia mengingat bahwa ia telah membunuh ayahnya. Saat ia memikirkan bagaimana ayahnya terbunuh, tumor tersebut menghilang.[72] Ajātaśatru menyesali apa yang ia lakukan.[70] Akhirnya, Jivaka memutuskan untuk membawa Ajātaśatru menghadap Buddha untuk menebus kesalahannya.[21] Dalam naskah Mūlasarvastivāda, peristiwa itu terjadi usai Jivaka menunjukkan contoh-contoh orang jahat lain yang masih diselamatkan meskipun berbuat salah dan setelah Jivaka mengingatkan kembali Ajātaśatru bahwa Buddha berada pada akhir hidupnya.[73] Namun, pada naskah Mahāsaṃghika, Ajātaśatru berkonsultasi kepada para menteri soal ke mana ia harus mengadu. Meskipun para menterinya merekomendasikan agar mendatangi beberapa guru non-Budha lain, Jivaka kemudian menasihati raja baru tersebut agar mendatangi Buddha.[74]

Dalam kitab ajaran Budha, Buddha mendeklarasikan Jivaka sebagai tokoh terdepan di kalangan kaum awam yang dikasihi oleh masyarakat,[21][53] naskah Pali menyebutnya sebagai contoh orang yang kokoh akan keyakinannya dalam agama Budha.[53] Jivaka banyak dikenal karena keterampilan menyembuhkan sampai-sampai ia tidak dapat menanggapi setiap orang yang menginginkan bantuannya. Karena Jivaka memprioritaskan komunitas wihara Budha, sebagian orang yang membutuhkan pertolongan pengobatan darinya berusaha agar ditahbiskan sebagai biksu. Jivaka kemudian mengetahui hal tersebut dan menganjurkan agar Buddha mencari adanya penyakit terlebih dahulu pada orang yang akan ditahbiskan.[6][21] Kemudian, Buddha melakukannya untuk lima penyakit.[64]

Meskipun Jivaka digambarkan menunjukkan penghormatan besar terhadap Buddha serta memerhatikan dan membantu komunitas wihara, terdapat setidaknya satu kasus di mana ia gagal menunjukkan penghormatan. Ini terjadi pada kasus Paṇṭhaka, seorang biksu yang dianggap bodoh bagi banyak orang. Jivaka juga menganggapnya demikian; saat ia mengundang Buddha dan komunitas wihara dalam jamuan, Paṇṭhaka menjadi satu-satunya biksu yang tak diundang. Buddha, yang datang untuk bersantap, enggan untuk mulai makan, meminta orang-orang untuk mencari Paṇṭhaka. Jivaka mengutus pelayan untuk membawa Paṇṭhaka ke jamuan tetapi pelayan tersebut terkejut karena menemukan 1.250 Paṇṭhaka yang berjalan di sekitar wihara karena Paṇṭhaka mengeluarkan kemampuan supernaturalnya. Kemudian, Paṇṭhaka yang asli bergabung untuk bersantap tetapi Jivaka masih tak mengakui kekuatan mental dari biksu tersebut. Jivaka baru berubah pikiran saat Paṇṭhaka menunjukkan kemampuan supranatural lainnya, memperpanjang lengannya untuk mengambilkan mangkuk dana untuk Buddha. Jivaka tertunduk pada kaki biksu tersebut untuk meminta maaf.[75]

Peninggalan[sunting | sunting sumber]

Catatan-catatan Tionghoa abad pertengahan tentang Jivaka bersifat hagiografi, dan lebih dipakai dalam proselitisme Buddhisme ketimbang dianggap sebagai biografi pengobatan.[76] Karena pengetahuan penyembuhan dan proselitisme Buddhisme sangat berkaitan, pujian bagi kemampuan pengobatan Jivaka juga meraih pujian dan legitimasi Buddhisme.[77] Dalam teks-teks Tionghoa tentang pengobatan dari zaman Enam Dinasti (awal abad pertengahan), Jivaka memberikan ketonjolan di antara seluruh tabib, dan kisah-kisahnya mempengaruhi kisah-kisah tentang tabib legendaris lainnya serta dipengaruhi oleh kisah-kisahnya.[78] Di Asia Timur, Jivaka diadodiasikan dengan ginekologi, dan nama Jivaka dikaitkan dengan patologi perempuan kuno dan paediatrik.[79][80] Beberapa rumus pengobatan abad pertengahan diambil dari namanya, dan ia disebutkan dalam sejumlah teks pengobatan dari setidaknya abad ke-4 M. Dalam teks-teks farmakologi Tionghoa abad ke-6, kalimat "Segala hal di bumi tidak ada kecuali pengobatan" [sic] diatributkan kepadanya.[22][81] Dalam pengobatan Tionghoa abad ke-10, banyak risalah diasosiasikan atau diatributkan kepada Jivaka.[82] Terdapat juga bukti yang menunjukkan Jivaka dianggap sebagai figur penting untuk pengobatan Āyurwedik India:[83] contohnya, Ḍalhaṇa, seorang cendekiawan India yang hidup antara abad ke-11 dan ke-13, menulis dalam komentar terhadap Suśruta Saṃhitā bahwa "kompendium Jivaka" dianggap sebagai teks otoritatif tentang penyakit anak-anak, meskipun teks tersebut sekarang telah hilang.[22] Ini tak menandakan bahwa Jivaka dimuliakan di seluruh Asia; beberapa teks India abad pertengahan seperti Māṭharavṛtti, dan syair-syair Kṣemedra, menggambarkannya, serta tabib lainnya, sebagai penyaru.[84] Teks-teks budha-India lebih memberikan penghormatan terhadap pekerjaan tabib,[84] dan pengetahuan pengobatan sangat dihormati.[85] Ini berkaitan dengan doktrin keselamatan agama budha, dimana budha sering digambarkan sebagai dokter yang menyembuhkan penyakit-penyakit umat manusia.[84]

Jivaka dianggap oleh orang-orang Thai sebagai pencipta pengobatan dan pijat Thai.

Jivaka dan beberapa tabib budha dan tradisional menjadi ikon dan sumber inspirasi.[46] Figur Jivaka dipersembahkan dalam teks-teks kuno sebagai bukti untuk superioritas Buddhisme di alam spiritual serta pengobatan. Sūtra Jivaka dan versi Mūlasarvāstivāda mengisahkan bahwa saat Jivaka menemui sang budha, sang budha membuat pernyataan bahwa "Aku mengobati penyakit dalam; kau mengobati penyakit luar", kata mengobati (Pinyin: zhi) dalam konteks tersebut juga memiliki arti 'memerintah'.[52][86] Sepanjang abad pertengahan, catatan tentang Jivaka dipakai untuk melegitimasi praktek-praktek pengobatan.[87] Dalam teks-teks budha awal yang diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa, Jivaka dideitifikasi dan dideskripsikan dalam istilah yang sama dengan yang dipakai untuk para budha dan bodhisatwa. Ia menjadi disebut "Raja Pengobatan", sebuah istilah yang dipakai untuk beberapa tabib Tiongkok legendaris.[88] Terdapat bukti bahwa pada zaman dinasti Tang (abad ke-7 – 10), Jivaka disembah disepanjang Jalur Sutra sebagai dewa pelindung kesehatan anak-anak.[87] Saat ini, Jivaka dipandang oleh orang-orang India sebagai bapak penyembuhan tradisional,[89] dan dianggap oleh orang-orang Thai sebagai pencipta pengobatan dan pijat Thai.[76][90] Orang-orang Thai masih memulaikannya untuk meminta bantuan untuk penyembuhan,[76] dan ia memainkan peran utama dalam nyaris seluruh upacara yang menjadi bagian dari pengobatan Thai tradisional.[91] Banyak kisah bermunculan soal perjalanan Jivaka ke Thailand.[76]

Dalam tradisi-tradisi tertulis Sanskerta, Jivaka adalah orang kesembilan dari enam belas Arhat, para murid yang dipercayakan untuk melindungi ajaran sang budha sampai kebangkitan budha berikutnya. Sehingga, ia dideskripsikan masih hidup di puncak gunung bernama Gandhamādana, antara India dan Sri Lanka, dalam teks-teks budha.[21] Monasteri yang dipersembahkan oleh Jivaka kepada komunitas budha menjadi dikenal sebagai Wihāra Jīwakarāma, Jīwakāmrawaṇa atau Jīwakambawana,[92][41][93] dan diidentifikasikan oleh peziarah Tionghoa Xuan Zang (ca. 602 – 64) dengan sebuah monasteri di Rajgir.[94] Reruntuhannya ditemukan dan diekskavasi pada periode dari 1803 sampai 1857.[22] Monasteri tersebut dideskripsikan oleh para arkeolog sebagai "... salah satu monasteri India terawal yang berasal dari zaman budha".[95][96]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Teks-teks dari tradisi Mahāsaṃghika tentang Jivaka terpotong-potong.[3]
  2. ^ Buddhologis Jonathan Silk [nl] membuat catatan terhadap sebuah pasal dalam komentar kepada Dhammapada, yang menyatakan bahwa pelacur-pelacur jarang mengambil putranya, karena mereka lebih menjalani hidup mereka dengan para putri mereka.[19] Sejarawan Y.B. Singh berkata bahwa anak tersebut akan merusak reputasi perempuan panghibur tersebut dan juga sumber pemasukannya.[20]
  3. ^ Versi Pali dari penjelasan tersebut tak mengidentifikasikan siapa guru Jivaka.[29]
  4. ^ Menganalisis cerita tersebut dari sudut pandang pengobatan saintifik, para sejarawan kedokteran Thomas dan Patrick Chen berspekulasi bahwa Jivaka memakai minyak samin sebagai alat labur, dan mengurangi rasa sakit yang disebabkan sakit kepala.[46]
  5. ^ Chen dan Chen berspekulasi bahwa saat disamarkan sebagai lemak, minyak samir dapat membantu kantung empedu untuk berkontraksi dan mengangkat koleresis, sehingga kantung empedu terangkat dan menyembuhkan penyakit kuning.[46]

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k Malalasekera 1960, Jivaka.
  2. ^ a b Salguero, C. Pierce (2009). "The Buddhist Medicine King in Literary Context: Reconsidering an Early Medieval Example of Indian Influence on Chinese Medicine and Surgery". History of Religions. 48 (3): 183. doi:10.1086/598230. JSTOR 10.1086/598230. 
  3. ^ a b c Zysk 1998, hlm. 53.
  4. ^ a b c Zysk 1998, hlm. 52.
  5. ^ Salguero 2009, hlm. 186 – 8, 190, 192.
  6. ^ a b Granoff 1998, hlm. 288.
  7. ^ Salguero 2009, hlm. 186.
  8. ^ Salguero 2009, hlm. 194, 199.
  9. ^ Salguero 2009, hlm. 201.
  10. ^ Zysk 1998, hlm. 53, 60.
  11. ^ a b Chen & Chen 2002, hlm. 89.
  12. ^ Salguero 2009, hlm. 195 – 6.
  13. ^ Salguero 2014, hlm. 126 – 7.
  14. ^ Zysk 1998, hlm. 58.
  15. ^ Kapoor 1993, hlm. 40 – 1.
  16. ^ a b Clifford 1994, hlm. 39.
  17. ^ a b c d Salguero 2009, hlm. 195.
  18. ^ a b c d e f g Singh et al. 2011.
  19. ^ a b c Silk 2007, hlm. 304 – 5.
  20. ^ Singh 1993, hlm. 184 n.25.
  21. ^ a b c d e f g h i Buswell & Lopez 2013, Jivaka.
  22. ^ a b c d e f g h i j k Muley, Gunakar. "Great Scientists of Ancient India: Jivaka Kaumara-Bhrtya". Vigyan Prasar. Departemen Sains dan Teknologi, Pemerintahan India. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 April 2001. 
  23. ^ a b Le 2010, hlm. 48 – 9.
  24. ^ a b c Rabgay 2011, hlm. 28.
  25. ^ a b c Salguero 2009, hlm. 196.
  26. ^ Lowe & Yasuhara 2016, hlm. 62.
  27. ^ Le 2010, hlm. 50.
  28. ^ Deepti & Nandakumar 2015, hlm. 283.
  29. ^ Salguero 2009, hlm. 196 n.50.
  30. ^ Zysk 1982, hlm. 78.
  31. ^ Chen & Chen 2002, hlm. 88.
  32. ^ a b Zysk 1998, hlm. 121.
  33. ^ a b Zysk 1998, hlm. 55.
  34. ^ a b Salguero 2009, hlm. 197.
  35. ^ a b Zysk 1998, hlm. 54.
  36. ^ Thakur 1996, hlm. 80.
  37. ^ Zysk 1998, hlm. 54, 56.
  38. ^ a b Olshin 2012, hlm. 132 – 3.
  39. ^ a b Chhem 2013, hlm. 11 – 2.
  40. ^ Mookerji 1989, hlm. 469.
  41. ^ a b c Keown 2004, hlm. 127.
  42. ^ Salguero 2009, hlm. 199.
  43. ^ a b Salguero 2009, hlm. 198.
  44. ^ a b Banerjee, Ezer & Nanda 2011, hlm. 320.
  45. ^ Chakravarti & Ray 2011, hlm. 14.
  46. ^ a b c Chen & Chen 2002, hlm. 91.
  47. ^ Sano 2002, hlm. 861.
  48. ^ Salguero 2009, hlm. 194.
  49. ^ Braden, Charles Samuel. "Chapter 6: The Sacred Literature of Buddhism". Religion Online. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 October 2018. Diakses tanggal 30 September 2018. 
  50. ^ Zysk 1998, hlm. 57, 59.
  51. ^ Salguero 2009, hlm. 200.
  52. ^ a b c Zysk 1998, hlm. 59.
  53. ^ a b c d e Perera 1996, hlm. 55.
  54. ^ Zysk 1998, hlm. 60.
  55. ^ Moerman 2015, hlm. 78.
  56. ^ Salguero 2014, hlm. 77.
  57. ^ Mookerji 1989, hlm. 468.
  58. ^ Chen & Chen 2002, hlm. 88, 91.
  59. ^ Salguero 2009, hlm. 204.
  60. ^ Rabgay 2011, hlm. 30.
  61. ^ Salguero 2009, hlm. 190.
  62. ^ Malalasekera 1960, Jivaka, Maddakucchi.
  63. ^ Zysk 1998, hlm. 126.
  64. ^ a b Perera 1996, hlm. 56.
  65. ^ Buswell & Lopez 2013, Jivakasutta.
  66. ^ Rabgay 2011, hlm. 29 – 30.
  67. ^ Salguero 2006, hlm. 61.
  68. ^ Brekke 1997, hlm. 28.
  69. ^ Wijayaratna 1990, hlm. 34 – 5, 51.
  70. ^ a b Malalasekera 1960, Ajātasattu.
  71. ^ Durt 1997, hlm. 20 – 1.
  72. ^ Rabgay 2011, hlm. 29.
  73. ^ Durt 1997, hlm. 23.
  74. ^ Bareau 1993, hlm. 35.
  75. ^ Huber 1906, hlm. 35.
  76. ^ a b c d Salguero, C. Pierce. "Jivaka Across Cultures" (PDF). Thai Healing Alliance. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 24 October 2018. 
  77. ^ Salguero 2009, hlm. 185, 191, 207 – 8.
  78. ^ Salguero 2009, hlm. 183, 194.
  79. ^ Deshpande 2008, hlm. 43.
  80. ^ Zysk 1982, hlm. 79 n.1.
  81. ^ Ming 2007, hlm. 244.
  82. ^ Salguero 2009, hlm. 209 – 10.
  83. ^ Salguero 2009, hlm. 210 n. 103.
  84. ^ a b c Granoff 1998, hlm. 288 – 9.
  85. ^ Norman 1983, hlm. 162.
  86. ^ Salguero 2009, hlm. 208.
  87. ^ a b Salguero 2009, hlm. 209.
  88. ^ Salguero 2009, hlm. 183 n.2, 191.
  89. ^ "NJ legislature honors Dr Pankaj Naram". India Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 September 2018. Diakses tanggal 2017-09-06. 
  90. ^ Thai Massage. Gale Encyclopedia of Alternative Medicine. Thomson Gale. 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 October 2018 – via Encyclopedia.com. 
  91. ^ Salguero 2006, hlm. 62.
  92. ^ Le 2010, hlm. 48–9.
  93. ^ "Buddhism: Buddhism In India". Encyclopedia of Religion. Thomson Gale. 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 October 2018 – via Encyclopedia.com. 
  94. ^ Chakrabarti 1995, hlm. 195.
  95. ^ Mishra & Mishra 1995, hlm. 178.
  96. ^ Tadgell 2015, hlm. 498.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]