Negara Indonesia Timur
Negara Timur Raya (24–27 Desember 1946) State of the Great East Negara Indonesia Timur (27 Desember 1946 – 17 Agustus 1950) State of East Indonesia Oost-Indonesië | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1946–1950 | |||||||||||
Lokasi Indonesia Timur di dalam Republik Indonesia Serikat | |||||||||||
| Status | Negara boneka Belanda (1946–1948) Negara bagian konstituen Republik Indonesia Serikat (1949–1950) | ||||||||||
| Ibu kota | Makassar | ||||||||||
| Bahasa yang umum digunakan | Indonesia • Melayu Indonesia Timur • Belanda • Berbagai bahasa asli | ||||||||||
| Agama | Islam Kekristenan Hindu | ||||||||||
| Demonim | Orang Indonesia Timur | ||||||||||
| Pemerintahan | Republik parlementer | ||||||||||
| Presiden | |||||||||||
• 1946–1950 | Tjokorda Gdé Raka Soekawati | ||||||||||
| Perdana Menteri | |||||||||||
• 1946 | Nadjamuddin Daeng Malewa (pertama) | ||||||||||
• 1950 | Martinus Putuhena (terakhir) | ||||||||||
| Legislatif | |||||||||||
| Senat Sementara | |||||||||||
| Badan Perwakilan Sementara | |||||||||||
| Era Sejarah | Akibat Perang Dunia II Revolusi Nasional Indonesia | ||||||||||
| 24 Desember 1946 | |||||||||||
• Bagian dari Republik Indonesia Serikat | 27 Desember 1949 | ||||||||||
| 5–21 April 1950 | |||||||||||
• Bergabung dengan Indonesia | 17 Agustus 1950 | ||||||||||
| Luas | |||||||||||
| 1946 | 349.088 km2 (134.784 sq mi) | ||||||||||
| Populasi | |||||||||||
• 1946 | 10.290.000 | ||||||||||
| |||||||||||
| Sekarang bagian dari | Indonesia | ||||||||||
Negara Indonesia Timur (ejaan lama: Negara Indonesia Timoer, bahasa Belanda: Oost-Indonesië) adalah sebuah negara pasca-Perang Dunia II yang dibentuk di wilayah timur Hindia Belanda. Didirikan pada Desember 1946 oleh Belanda, negara ini merupakan negara boneka[1] yang dibentuk selama Revolusi Nasional Indonesia yang akhirnya menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1949 di akhir konflik dan dibubarkan pada tahun 1950 dengan berakhirnya RIS. Negara ini mencakup semua pulau di sebelah timur Kalimantan (Sulawesi dan Maluku, beserta pulau-pulau lepas pantainya) dan Jawa (Bali dan Kepulauan Sunda Kecil).
Pendirian
[sunting | sunting sumber]Negara Indonesia Timur didirikan untuk menyaingi dan memaksa Republik Indonesia untuk menerima bentuk negara federasi; dengan tujuan mengecilkan wilayah Republik Indonesia sehingga hanya menjadi salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat.
Pembagian wilayah
[sunting | sunting sumber]Negara Indonesia Timur terbagi menjadi 13 daerah otonomi:
- Daerah Sulawesi Selatan
- Daerah Minahassa
- Daerah Kepulauan Sangihe dan Talaud
- Daerah Sulawesi Utara
- Daerah Sulawesi Tengah
- Daerah Bali
- Daerah Lombok
- Daerah Sumbawa
- Daerah Flores
- Daerah Sumba
- Daerah Timor dan kepulauan
- Daerah Maluku Selatan
- Daerah Maluku Utara
Menurut hasil Konferensi Denpasar, wilayah Negara Indonesia Timur terdiri dari daerah keresidan yang tercantum dalam Staatsblad 1938 Nomor 68 jo Staatsblad Nomor 264 kecuali daerah irian barat yang akan ditetapkan kemudian hari.[2]
Pembubaran
[sunting | sunting sumber]Negara Indonesia Timur dibubarkan pada tanggal 19 Mei 1950.[3] Semua wilayah Negara Indonesia Timur melebur ke dalam Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950.
Presiden
[sunting | sunting sumber]
| Presiden | Periode | |
|---|---|---|
| Dari | Sampai | |
| Tjokorda Gde Raka Soekawati | ||
Perdana Menteri dan Kabinet
[sunting | sunting sumber]| No | Perdana Menteri | Kabinet | Periode | |
|---|---|---|---|---|
| Dari | Sampai | |||
| Nadjamuddin Daeng Malewa | ||||
| Semuel Jusof Warouw | ||||
| Ida Anak Agung Gde Agung | ||||
| J.E. Tatengkeng | ||||
| Patuan Doli Diapari | ||||
| Martinus Putuhena | ||||
Peristiwa
[sunting | sunting sumber]| Tanggal | Peristiwa[4] |
|---|---|
| 27 Mei 1947 | Pengunduran diri ketua DPRS Tadjoeddin Noer |
| 3 Desember 1947 | DPRS mengirim misi persaudaraan ke Republik Indonesia di Yogyakarta |
| 30 Desember 1947 | Pihak oposisi mendirikan Gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (GAPKI) di Makassar, dipimpin oleh A. Mononutu |
| 22 Januari 1948 | RI mengakui NIT sebagai negara bagian dari RIS yang akan dibentuk |
| 18 Februari 1948 | Misi persaudaraan dari GAPKI tiba di Yogyakarta |
| Oktober 1948 | RI mengirim misi persaudaraan ke NIT yang diketuai Mr. Sartono |
| Desember 1948 | Kabinet NIT memprotes keras Agresi Militer II ke wilayah RI |
| 6 Februari 1949 | PM Ide Anak Agung Gde Agung selaku penghubung BFO menemui Wapres Bung Hatta yang ditawan Belanda di Bangka |
Orang-orang terkenal
[sunting | sunting sumber]- Tjokorda Gde Raka Soekawati, presiden
- Nadjamuddin Daeng Malewa, perdana menteri pertama
- Semuel Jusof Warouw, perdana menteri kedua
- Ide Anak Agung Gde Agung, perdana menteri ketiga
- Jan Engelbert Tatengkeng, perdana menteri keempat
- Patuan Doli Diapari, perdana menteri kelima
- Martinus Putuhena, perdana menteri keenam
- Eliza Urbanus Pupella, perwakilan dari Maluku Selatan
- Muhammad Kaharuddin III anggota Senat USI
- Tadjuddin Noor ketua Badan Legislatif NIT, kemudian menjadi anggota Senat
- Melkias Agustinus Pellaupessy, Ketua Senat
- Arnold Mononutu, anggota parlemen sementara
- Julius Tahija, perwakilan Indonesia Serikat di Batavia.
- Gabriel Manek, anggota parlemen sementara
Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Negara Indonesia Timur - Ensiklopedia". esi.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2024-10-08.
- ↑ Ensiklopedi Umum, Penerbit Kanisius, Edisi Kedua dengan EYD, 1977, hal.586, ISBN 978-979-413-522-8
- ↑ Sururoh, L., dkk. (2020). Sururoh, Lien (ed.). Sulawesi Tengah: Memori dan Pengetahuan Lokal tentang Bencana (PDF). Jakarta Selatan: Perkumpulan Skala Indonesia. hlm. 6. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Ensiklopedi Umum, Penerbit Kanisius, Edisi Kedua dengan EYD, 1977, hal.587, ISBN 978-979-413-522-8

