Kepulauan Maluku

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kepulauan Maluku
Maluku Islands en.png
IndonesiaMalukuIslands.png
Geografi
LokasiOseania
Koordinat3°9′S 129°23′E / 3.150°S 129.383°E / -3.150; 129.383
Jumlah pulau~ 1'000
Pulau besarHalmahera, Seram, Buru, Ambon, Ternate, Tidore, Kepulauan Kei, Kepulauan Tanimbar
Luas74'505 km2
Titik tertinggiBinaiya (3'027 m)
Pemerintahan
NegaraIndonesia
ProvinsiMaluku Utara, Maluku
Kota terbesarKota Ambon
Kependudukan
Penduduk1'895'000 jiwa (2'000)

Kepulauan Maluku adalah sekelompok pulau di Indonesia yang merupakan bagian dari Nusantara. Kepulauan Maluku terletak di lempeng Eurasia dan Pasifik. Ia berbatasan dengan Pulau Sulawesi di sebelah barat, Nugini di timur, dan Timor Leste di sebelah selatan, Palau di timur laut. Pada zaman dahulu, bangsa Eropa menamakannya "Kepulauan rempah-rempah" — istilah ini juga merujuk kepada Kepulauan Zanzibar yang terletak di pantai Afrika Timur.

Sejak 1950 - 1999, Kepulauan Maluku Utara secara administratif merupakan bagian dari Provinsi Maluku. Kabupaten Maluku Utara kemudian ditetapkan sebagai Provinsi Maluku Utara.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata pertama yang dapat diidentifikasi dengan Maluku berasal dari Nagarakretagama, sebuah kakawin berbahasa Jawa Kuno dari tahun 1365. Pupuh 14 bait 5 menyebutkan Maloko, yang Pigeaud identifikasikan dengan Ternate atau Maluku.[1]:17[2]:34

Nama Maluku bisa berasal dari konsep "Maluku Kie Raha". “Raha” berarti empat, sedangkan “kie” berarti gunung yang mengacu pada empat pulau bergunung yaitu Ternate, Tidore, Bacan, and Jailolo (Halmahera). Walaupun bisa juga mengacu pada daerah lain. Masing-masing memiliki pemimpin yang disebut Kolano yang kemudian bergelar Sultan. Ada berbagai macam ide untuk asal kata Maluku. “Moloku” berarti menggenggam, yang memiliki asal kata "Loku" yaitu unit dalam perdagangan. Menggunakan makna ini "Moloku Kie Raha" bisa berarti "persatuan empat kerajaan" Tetapi kata "Loku" merupakan kata serapan dari bahasa melayu. Asal kata lain berupa “Maloko” merupakan gabungan kata “Ma” yaitu penunjang dan “Loko” yang kemudian berubah menjadi "Luku" yang berarti tempat atau dunia, jika digabungkan berarti "Maloko Kie Raha" artinya “Dunia berdirinya empat gunung”.[3]:3

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Kepulauan Maluku merupakan satu provinsi semenjak Indonesia merdeka sampai dipecah pada 1999 menjadi Maluku Utara dan Maluku.

Wilayah Provinsi Maluku Utara meliputi Ternate (bekas ibu kota provinsi), Tidore, Bacan, Halmahera (pulau terbesar di Kepulauan Maluku)[4] Morotai, Kepulauan Obi, dan Kepulauan Sula.

Agama[sunting | sunting sumber]

Islam 61.95% Kristen 37.29% (Protestan 33.65% Katolik 3.64%) Lain-lain 0.21% Konghucu 0.002% Hindu 0.02% Buddha 0.002%

Geografi[sunting | sunting sumber]

Pembagian administratif Kepulauan Maluku, Provinsi Maluku Utara meliputi seluruh Kawasan Maluku Utara, sementara Provinsi Maluku meliputi Kawasan Maluku Tengah dan Maluku Tenggara.

Secara geografis, Maluku terbagi menjadi tiga kawasan yang berbeda satu dengan yang lainnya: Maluku Utara, Maluku Tengah, dan Maluku Tenggara. Pada awal kemerdekaan, ketiganya merupakan kabupaten tersendiri (dengan pengecualian Maluku Tengah yang juga meliputi Kota Ambon) dalam satu Provinsi Maluku sebelum akhirnya dimekarkan menjadi kabupaten dan kota yang lebih kecil hingga puncaknya pada pemekaran Maluku Utara menjadi provinsi sendiri pada akhir abad XIX.

Maluku Utara[sunting | sunting sumber]

Maluku Utara merupakan kawasan yang terletak di bagian utara Kepulauan Maluku dan dicirikan oleh pengaruh kuat Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore. Selain itu, kawasan ini dicirikan oleh keislamannya, meskipun terdapat beberapa daerah kantong Protestan dan kepercayaan asli. Sebagai pusat kedua kesultanan yang paling berpengaruh, Ternate dan Tidore menjadi dua pulau paling utama di kawasan ini, terlepas dari luasnya yang sangat kecil, bila dibandingkan dengan pulau besar seperti Halmahera.[5]

Maluku Tengah[sunting | sunting sumber]

Maluku Tengah merupakan pusat penduduk dan pusat dari Kepulauan Maluku. Kawasan ini terdiri dari beberapa kepulauan: Ambon, Gorom, Watubela, Lucipara, dan Banda. Kawasan ini memainkan peran penting dalam perdagangan rempah dari jauh sebelum bangsa Eropa datang mengingat letaknya di persimpangan jalur menuju Papua dan Maluku Tenggara. Pulau-pulau besarnya adalah Seram dan Buru, dilengkapi dengan pulau-pulau kecil lainnya seperti Manipa, Kelang, Buano, dan Ambalau. Kawasan ini menjadi daya tarik utama pada masa penjajahan Eropa karena rempah-rempah langka seperti pala berasal dari kawasan ini.[6]

Maluku Tenggara[sunting | sunting sumber]

Maluku Tenggara merupakan kawasan yang paling jarang penduduk. Berbeda dengan Maluku Utara yang cenderung keislaman ataupun Maluku Tengah yang terbagi dua rata antara Protestan dan Islam, sebagian besar penduduk Maluku Tenggara memeluk Protestan, diikuti oleh minoritas Islam dan Katolik Roma yang besar. Maluku Tenggara meliputi Kepulauan Kei, Tanimbar, Aru, dan Barat Daya. Teon Nila Serua pun termasuk dalam kawasan ini, meski secara administratif berada di Kabupaten Maluku Tengah yang berada di Kawasan Maluku Tengah.[7]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Sumber[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1960c). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Volume III: Translations (edisi ke-3 (revisi)). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 978-94-011-8772-5. 
  2. ^ Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1962). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Volume IV: Commentaries and Recapitulations (edisi ke-3 (revisi)). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 978-94-017-7133-7. 
  3. ^ Amal, Muhammad Adnan (2016). Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Jakarta: Gramedia. ISBN 978-6024241667. 
  4. ^ Monk, K.A.; Fretes, Y.; Reksodiharjo-Lilley, G. (1996). The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 7. ISBN 962-593-076-0. 
  5. ^ Bartels 2017, hlm. 10.
  6. ^ Bartels 2017, hlm. 11–12.
  7. ^ Bartels 2017, hlm. 12.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]