Suku Ternate

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ternate
Fa Ternate
Opvoering van een soya soya dans tijdens feestelijkheden vanwege het sultanaat te Ternate, KITLV 160296.tiff
Penampilan Soya-soya, tarian khas etnis Ternate
Jumlah populasi
50.000 (2010)
Daerah dengan populasi signifikan
 Indonesia (42.000 di Pulau Ternate)[1]
Daerah lainnya
Pulau Tidore6.900
Pulau Halmahera1.100
Bahasa
Agama
Etnis terkait

Suku Ternate (Ternate: Fa Ternate) adalah kelompok etnis atau suku bangsa Indonesia yang berasal dari pulau Ternate di wilayah utara Kepulauan Maluku.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Penggambaran dua pria etnis Ternate mengenakan pakaian tradisional Ternate, dalam sebuah gambaran tahun 1670 berjudul Costumes des quatre parties du monde (terj. har. 'Busana dari empat belahan dunia')

Genealogi[sunting | sunting sumber]

Secara genealoginya, masyarakat etnis Ternate masih berserumpun dengan masyarakat etnis Tidore, Makian, maupun Bacan; hal tersebut dikarenakan pada zaman Pleistosen wilayah antar kepulauan ini masih berupa satu kesatuan pulau sebelum akhirnya masing-masing kelompok etnis melakukan migrasi ke daerah masing-masing dan proses berabad-abad tersebut membuahkan evolusi yang membentuk suatu gejala antropologi berupa terciptanya identitas etnisitas yang berlainan satu sama lain.

Peradaban[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Gapi[sunting | sunting sumber]

Kesultanan Ternate[sunting | sunting sumber]

Kesultanan Ternate merupakan lanjutan dari Kerajaan Gapi; namun telah memperoleh pengaruh keislaman, sehingga sistem monarkinya berubah yang mulanya berupa kerajaan kemudian mengadopsi sistem kesultanan.

Subetnik[sunting | sunting sumber]

Pada masa pra-Islam, etnis Ternate terbagi menjadi 4 golongan utama yakni:

  1. Tubo, yang mendiami kawasan puncak ataupun lereng di wilayah utara pulau Ternate.
  2. Tobona, yang mendiami kawasan lereng di wilayah selatan pulau Ternate (terutama di Foramadiyahi), kelompok ini kemudian juga bermigrasi ke pulau Sulawesi dan membentuk identitas etnis berlainan yang kerap dikenali sebagai etnis Tobana yang mayoritasnya mendiami wilayah Kabupaten Luwu di Sulawesi Selatan.
  3. Tabanga, yang mendiami kawasan pesisir di utara pulau Ternate.
  4. Toboleu, yang mendiami kawasan pesisir timur pulau Ternate, kelompok ini juga kemudian menyatakan diri sebagai kelompok etnis tersendiri yang pada masa kini lebih dikenali sebagai etnis Tobelo.

Bahasa dan kesusastraan[sunting | sunting sumber]

Bahasa yang dituturkan oleh etnis Ternate adalah bahasa Ternate, yang merupakan sebuah bahasa dalam rumpun bahasa Halmahera Utara.

Mata Pencaharian[sunting | sunting sumber]

Mata pencaharian orang Ternate bertani dan nelayan. Dalam bidang pertanian mereka menanam padi, sayur mayur, kacang-kacangan, ubi kayu, dan ubi jalar. Tanaman keras yang mereka usahakan adalah cengkih, kelapa dan pala.

Cengkih merupakan tanaman rempah-rempah yang sudah mempunyai sejarah panjang di Ternate. Cengkih merupakan daya tarik yang mengundang kedatangan bangsa Eropa ke daerah ini. orang-orang Ternate juga dikenal sebagai pelaut-pelaut yang ulung.selain itu,ternate memiliki beberapa perusahaan tambang yang menjadi sumber mata pencaharian dari masyarakat sekitar ternate (maluku utara).

Pola Pemukiman[sunting | sunting sumber]

Pemukiman penduduk umumnya membentang di sepanjang garis pantai. Rumah-rumah mereka dibangun di sepanjang jalan-jalan dan sejajar dengan garis pantai di daerah perkotaan.

Struktur bangunannya beraneka ragam sesuai dengan gaya para pendatang dari luar Halmahera di perdesaan. Di pedesaan, rumah-rumah penduduk terbuat dari rumput ilalang.

Agama[sunting | sunting sumber]

Sebelum agama Islam masuk ke P. Ternate, suku ini terbagi dalam kelompok-kelompok masyarakat. Masing-masing kelompok kerabat suku Ternate dipimpin oleh mamole. Seiring dengan masuknya Islam. mamole ini bergabung menjadi satu konfederasi yang dipimpin oleh kolano. Kemudian, setelah Islam menjadi lebih mantap, struktur kepemimpinan kolano berubah menjadi kesultanan.

Dalam struktur kolano, ikatan genealogis dan teritorial berperan sebagai faktor pemersatu, sedangkan dalam kesultanan agama Islamlah yang menjadi faktor pemersatu. Dalam struktur kesultanan, selain lembaga tradisional yang sudah ada, dibentuk pula lembaga keagamaan. Kesultanan Ternate masih ada sampai saat ini meskipun hanya dalam arti simbolik. Namun belakangan ini kesultanan Ternate tampak bangkit kembali.

Umumnya orang Ternate beragama Islam. Pada masa lalu kesultanan merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di wilayah Indonesia bagian Timur. Saat ini masyarakat Ternate membutuhkan bantuan penanam modal untuk menggali dan mengelola hasil-hasil kekayaan alam daerah ini yang berlimpah. Bidang kehutanan, kelautan dan pertanian merupakan tiga bidang utama bagi orang Ternate. Selama ini, dari tiga kekuatan utama tersebut, hanya sektor kehutanan yang telah digarap besar-besaran.

Daerah Ternate juga memiliki kekayaan wisata alam dan wisata budaya seperti bangunan bekas benteng Portugis, istana Kesultanan Ternate, dan lain-lain. Hal ini menjadi sektor pariwisata sangat potensial untuk dikembangkan, baik melalui pembangunan sarana transportasi maupun akomodasi yang memadai. Samapi sekarang, menurut sensus 2010 bahwa 97% suku Ternate adalah orang Islam Sunni dan sedikit yang menganut agama Kristen Protestan.

  1. ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia (Hasil Sensus Penduduk 2010) [Citizenship Status, Ethnicities, Religions, and Languages of Indonesia (2010 Population Census Result)], Jakarta: Central Bureau of National Statistics of the Republic of Indonesia, 2010