Kepulauan Banda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kepulauan Banda adalah salah satu gugusan pulau yang berada dalam wilayah Provinsi Maluku, Indonesia.[1] Gugusan Kepulauan Banda meliputi pulau-pulau yang berpenghuni dan pulau-pulau yang tidak berpenghuni. Pulau-pulau yang berpenghuni meliputi Pulau Lontar, Pulau Banda, Pulau Gunungapi, Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Pisang, Pulau Hatta, dan Pulau Karaba. Sedangkan pulau-pulau yang tidak berpenghuni meliputi Pulau Suanggi, Pulau Naljalaka, dan Pulau Batukapal. Pulau Banda menjadi pulau terbesar dalam gugusan Kepulauan Banda. Kepulauan Banda termasuk dalam wilayah Kecamatan Banda dengan wilayah administratif daratan seluas 55,3 km2.[2]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kepulauan Banda terdiri dari 11 pulau dengan 4 diantaranya tidak berpenghuni. Keempat pulau tersebut tidak dihuni karena tidak dapat menumbuhkan tanaman pala karena dipenuhi oleh batu karang. Kepulauan Banda termasuk kepulauan yang tidak memiliki sungai dan sepenuhnya dikelilingi oleh selat, teluk, dan laut terbuka.[3]

Hasil Bumi[sunting | sunting sumber]

Kepulauan Banda menghasilkan hasil pertanian dan hasil perkebunan. Hasil pertanian berupa sagu dan garam diperoleh hampir di seluruh pulau, kecuali Pulau Banda. Hasil pertanian berupa singkong ditanam di Neira, Banda Besar, dan Pulau Run. Sedangkan hasil perkebunan satu-satunya yang dapat tumbuh di Kepulauan Banda adalah pala.[4]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Suhardi dan Djoko M. R. (2000), hlm. 1."Provins! Maluku sering disebut sebagai " Provinsi Seribu Pulau". Satu di antara pulau-pulau yang ada di provinsi ini adalah gugusan Kepulauan Banda."
  2. ^ Suhardi dan Djoko M. R. (2000), hlm. 1-2."Kepulauan Banda terdiri atas beberapa pulau, seperti Pulau Lontar, Pulau Banda, Pulau Gunungapi, Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Pisang, Pulau Hatta, dan Pulau Karaba. Selain itu masih ada sejumlah pulau karang yang tidak ada penghuninya, seperti Suanggi, Naljalaka, dan Batukapal. Pulau yang terluas di Kepulauan Banda adalah Pulau Lontar, yakni sekitar 44 km . Pulau Lontar juga disebut Pulau Banda Besar. Pada umumnya pulau-pulau yang lain lebih kecil. Secara administratif, Kepulauan Banda adalah wilayah Kecamatan Banda. Luas daratan wilayah Kecamatan Banda sekitar 55,300 km2."
  3. ^ Fauzi M., dan Razif (2017), hlm. 9."Dewasa ini kepulauan Banda meliputi 11 pulau, tetapi hanya 7 pulau yang dihuni dan ditanami pohon pala, sedangkan 4 pulau lainnya dipenuhi batu karang yang tidak dapat dihuni dan ditanami tumbuhan. Juga, yang menjadi lingkungan yang khas bagi pulau Banda tidak memiliki aliran sungai. Situasi ini memperlihatkan Banda sebagai negeri maritim yang sejati. Kepulauan Banda, baik latar depan maupun latar belakang berhadapan denganselat, teluk dan laut terbuka."
  4. ^ Fauzi M., dan Razif (2017), hlm. 10-11."Kepulauan Banda hanya sedikit menghasilkan bahan makanan termasuk sagu dan garam tidak diproduksi di Banda. Untuk kebutuhan sehari-hari bergantung sepenuhnya dari pasokan produksi bahan makanan dari kepulauan lain. Sementara itu, singkong ditanam di Neira, Banda besar dan Pulau Run karena dibawa oleh Portugis pada awal abad ke-16. Produksi perkebunan dari Kepulauan Banda hanya pala."

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Suhardi dan Djoko M. R. (2000). Kepulauan Banda dan Masyarakatnya. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Sub-direktorat Lingkungan Budaya. 
  • Fauzi M., dan Razif (2017). Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jami, dan Pantai Utara Jawa. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ISBN 978-602-1289-78-5.