Laut

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Laut berpengaruh bagi pembangunan dan perdagangan manusia, seperti di Singapura, kota pelabuhan tersibuk di dunia.

Laut adalah sebuah badan air asin besar yang dikelilingi secara menyeluruh atau sebagian oleh daratan.[1][2][a] Dalam pengartian yang lebih luas, "laut" adalah sistem perairan samudra berair asin yang saling terhubung di Bumi—dianggap sebagai satu samudra global atau sebagai beberapa divisi samudra utama. Laut memoderasi iklim Bumi dan memiliki peran penting dalam siklus air, siklus karbon, dan siklus nitrogen. Meskipun laut telah dijelajahi dan dieksplorasi sejak zaman prasejarah, kajian saintifik modern dari laut—oseanografi—baru dimulai pada masa ekspedisi Challenger Britania Raya pada 1870an.[3] Laut secara konvensional terbagi dalam lima bagian samudra besar—yang meliputi empat samudra yang diakui Organisasi Hidrografi Internasional[4] (Atlantik, Pasifik, Hindia, dan Arktik) dan Samudra Antarktika;[5] bagian kelas dua yang lebih kecil, seperti Laut Tengah, dikenal sebagai laut.

Tergantung pada keadaan pergeseran benua terkini, Hemisfer Utara sekarang secara adil dan setara terbagi antara darat dan laut (sekitar 2:3), tetapi Hemisfer Selatan secara nyaris keseluruhan merupakan samudra (1:4.7).[6] Salinitas di samudra terbuka secara umum berada dalam massa sekitar 3.5%, meskipun ia dapat beragam di perairan yang lebih terkunci daratan, dekat mulut sungai besar, atau di kedalaman besar. Sekitar 85% kandungan di laut terbuka adalah sodium klorida. Arus laut dalam dihasilkan oleh perbedaan antara salinitas dan suhu. Arus permukaan terbentuk oleh pengaruh gelombang yang dihasilkan oleh angin dan oleh pasang laut, perubahan pada permukaan laut lokal dihasilkan oleh gravitasi Bulan dan Matahari. Pengarahan dari semua itu diatur oleh massa tanah permukaan, anak laut, dan rotasi Bumi (efek Coriolis).

Perubahan masa lalu pada permukaan laut meninggalkan landas benua, kawasan dangkai di laut yang dekat dengan darat. Perairan yang kaya akan nutrien tersebut didiami oleh kehidupan, yang menyediakan manusia dengan suplai pangan substansial—terutama ikan, selain juga kerang, mamalia, dan rumput laut—yang dipanen di alam liar dan diternakkan. Kawasan-kawasan paling beragam mengitari terumbu karang tropis besar. Perburuan ikan paus di laut dalam sempat menjadi umum, tetapi penurunan jumlah ikan paus menimbulkan upaya-upaya konservasi mancanegara dan kemudian sebuah moratorium pada sebagian besar perburuan komersial. Oseanografi telah dihimpun agar tak seluruh kehidupan dibatasi pada perairan permukaan sinar matahari: bahkan di bawah kedalaman dan tekanan besar, nutrien mengalir dari lapisan-lapisan hidrotermal yang mendukung ekosistem uniknya sendiri. Kehidupan dimulai di sana dan keset mikrobial akuatik umumnya mengalami oksigenasi dari atmosfir Bumi: tumbuhan dan hewan mula-mula berevolusi di laut.

Laut adalah aspek esensial dari perdagangan, perjalanan, penyarian mineral, dan pembangkit listrik manusia. Ini juga membuatnya penting pada peperangan dan membuat kota-kota besar terancam akan gempa bumi dan gunung berada dari sesar yang ada didekatnya; arus tsunami kuat; dan angin ribut, topan, dan siklon yang dihasilkan di wilayah tropis. Pengaruh dan dualitas ini memiliki dampak pada budaya manusia, dari dewa laut; puisi epos Homer; perubahan yang ditimbulkan oleh Pertukaran Kolumbia; penguburan laut; haiku-haiku karya Basho; seni kelautan hiperrealis; serta musik yang terinspirasi dari puji-pujian Alameda The Complaynt of Scotland, "The Sea and Sinbad's Ship" karya Rimsky-Korsakov dan "Penyimakan Laut" karya A-mei. Laut adalah tempat kegiatan-kegiatan waktu luang yang meliputi berenang, menyelam, selancar, dan pelayaran. Namun, pertumbuhan penduduk, industrialisasi, dan pertanian intensif semuanya berkontribusi pada polusi laut pada masa sekarang. Karbon dioksida di atmosfir makin meningkat jumlahnya, mengurangi pH dalam proses yang dikenal sebagai Asidifikasi samudra. Pembagian alam laut membuat pemancingan berlebihan makin menjadi masalah.

Definisi[sunting | sunting sumber]

Sistem saling terhubung dari samudra-samudra dunia dan berbagai pembagian mereka.

Karena istilah tersebut diterapkan sepanjang waktu, tak ada kekhasan tajam antara laut dan samudra, meskipun laut berukuran lebih kecil dan biasanya dibatasi oleh wilayah tanah (dan memiliki skala yang lebih kecil ketimbang benua),[7] pengecualian standar tunggal adalah Laut Sargasso, yang diciptakan oleh empat arah angin yang dijuluki Gyre Atlantik Utara.[8](h90) Laut umumnya lebih besar ketimbang danau dan terdiri dari air asin. Meskipun unsur-unsur yang didefinisikan dari ukuran dan pengikatan yang umum dipakai, tak ada definisi teknikal yang resmi diterima dari "laut" di kalangan oseanografer.[b] Dalam hukum internasional, Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut menyatakan bahwa semua samudra adalah "laut".[11][c]

Ilmu fisika[sunting | sunting sumber]

"Kelereng Biru" dalam orientasi aslinya, menampilkan persimpangan Samudra Hindia dan Samudra Atlantik di Tanjung Harapan.

Bumi adalah satu-satunya planet yang diketahui memiliki laut air cair di permukaannya,[8](h22) meskipun Mars memiliki lapisan es dan planet-planet serupa di tata surya lainnya memiliki samudra.[13] Masih tidak jelas darimana air Bumi berasal, tetapi nampaknya berasal dari ruang angkasa, planet Bumi nampak seperti "kelereng biru" dari berbagai bentuknya: samudra, lapisan es, awan.[14] Laut Bumi memiliki luas 1,335,000,000 kubik kilometer (320,000,000 mil kubik) yang artinya terdiri dari sekitar 97.2 persen dari air yang diketahui[15][d] dan meliputi lebih dari 70 persen permukaannya.[8](h7) Sebanyak 2.15% air Bumi bersifat beku yang ditemukan pada es laut yang menyelimuti Samudra Arktik, lapisan es yang menyelimuti Antarktika dan laut-laut di dekatnya, dan berbagai gletser, serta deposit permukaan di seluruh dunia. Sisanya (sekitar 0.65% dari keseluruhan) membentuk penyedia bawah tanah atau berbagai tahap dari siklus air, yang terdiri dari air tawar dan dipakai oleh sebagian besar kehidupan terestrial: embun di udara, awan—awan yang terbentuk perlahan, dan hujan yang turun. Danau dan sungai secara spontan terbentuk karena airnya mengalir lagi ke laut.[15] Menurut pengarang Inggris Arthur C. Clarke, dominasi laut di Bumi dapat membuat "Bumi" akan lebih disebut sebagai "Samudra".[8](h7)

Kajian saintifik dari air dan siklus air Bumi adalah hidrologi; hidrodinamika mengkaji gerak fisika pada air. Kajian terkini dari laut utamanya adalah oseanografi. Ini dimulai sebagai kajian dari bentuk arus-arus samudra.[20]Namun, sejak itu diperluas menjadi bidang multidisipliner dan besar :[21] ilmu tersebut mengkaji properti-properti air laut; mengkaji gelombang; mengukur garis-garis pesisir dan memetakan pinggir laut; dan mengkaji kehidupan laut.[22] Cabang bidang yang menyoroti gerak laut, kekuatannya, dan kekuatan yang bertindak terhadapnya dikenal sebagai oseanografi fisika.[23] Biologi laut (oseanografi biologi) mengkaji tumbuhan, hewan dan organisme lain yang tinggal dalam ekosistem laut. Keduanya diinformasikan oleh oseanografi kimia, yang mengkaji perilaku unsur-unsur dan molekul-molekul dalam samudra; terutama, pada peran samudra dalam siklus karbon dan peran karbon dioksida dalam peningkatan asidifikasi air laut. Geografi laut dan maritim mengukur bentuk dan bentukan laut, sementara geologi laut (oseanografi geologi) menyediakan bukti pergeseran benua, komposisi dan struktur Bumi, mengklarifikasi proses sedimentasi, dan membantu kajian vulkanisme dan gempa bumi.[21]

Air laut[sunting | sunting sumber]

Kandungan pada air laut dengan salinitas 35‰[24]
Kandungan dari air
(menurut massa)
% dari total
kandungan
Klorida 19 .3 55 .0
Sodium 10 .8 30 .6
Sulfat 2 .7 7 .7
Magnesium 1 .3 3 .7
Kalsium 0 .41 1 .2
Potasium 0 .40 1 .1
Bikarbonat 0 .10 0 .4
Bromida 0 .07 0 .2
Karbonat 0 .01 0 .05
Strontium 0 .01 0 .04
Borat 0 .01 0 .01
Fluorida 0 .001 < 0 .01
Lain-lain < 0 .001 < 0 .01
Global salinity map (Aug.–Sept. 2010 & 2011) produced by the ESA's Soil Moisture and Ocean Salinity satellite. Released 2012.
Peta global pertama dari salinitas permukaan samudra, yang dibuat oleh satelit SMOS (2011) milik ESA. Salinitas memiliki keragaman dari 32‰ (ungu) sampai 38‰ (merah).

Air laut memiliki kandungan garam yang tak terlalu beragam dan, meskipun tingkat keasinan (salinitas) dapat beragam, sekitar 90% air di samudra memiliki 34—35 g (1.2 oz.) zat padat terpecah per liter, memproduksi salinitas antara 3.4 dan 3.5%.[25] Namun, untuk mudah mendeskripsikan perbedaan kecil, para oseanografer biasanya menyatakan salinitas dalam bentuk millage (‰) atau paruh per ribuan (part per thousand, ppt) alih-alih memakai persen. Salinitas permukaan air di Hemisfer Utara umumnya mendekati markah 34‰, sementara di Selatan mendekati 35‰.[6] Kandungan pada air samudra datang dari dari air sungai dan dari bawah samudra.[26] Komposisi relatif dari kandungan yang bersifat tetap di seluruh samudra dunia:[24][27] natrium (Na) dan klorida (Cl) meliputi sekitar 85%. Kandungan lainnya meliputi ion logam seperti magnesium (Mg), kalsium (Ca), dan ion-ion negatif seperti sulfat (SO₄), karbonat (CO₃), dan bromida. Terlepas dari polusi lain, air laut tak memiliki bahaya untuk diminum selain karena memiliki rasa yang terlalu asin;[e] sehingga, air laut tak dapat dipakai untuk mengirigasi sebagian besar tumbuhan tanpa didesalinasi. Untuk keperluan saintifik dan teknis, bentuk standarisasi dari air laut buatan seringkali dipakai.

Keragaman pada salinitas disebabkan oleh beberapa faktor: Arus yang mengalir antar laut; pemasukan air tawar dari sungai dan gletser; presipitasi; pembentukan dan pencairan es laut; dan evaporasi, yang diakibatkan oleh suhu, angin, dan arus. Contohnya, bagian hulu Laut Baltik memiliki salinitas yang sangat rendah (5 sampai 8‰ – lihat Salinitas) karena suhu yang rendah dari iklim di sekitarnya yang menghasilkan evaporasi minimal; laut tersebut memiliki beberapa sungai yang mengalir ke arahnya; dan hubungan kecilnya dengan Laut Utara menciptakan lapisan bawah yang dingin yang sulit bercampur dengan perairan permukaan.[30] Sebaliknya, Laut Merah terbentang antara Samudra Sahara dan Gurun Arabia; laut tersebut memiliki evaporasi yang tinggi, tetapi presipitasinya rendah; laut tersebut memiliki sedikit sungai yang mengalir ke arahnya (dan kebanyakan musiman); dan hubungannya dengan laut lain—Terusan Suez di utara dan Bab-el-Mandeb di selatan—sangat sempit. Rata-ata salinitasnya adalah 40‰.[31] Laut Tengah memiliki salinitas yang lebih rendah, yakni 37‰, sementara beberapa danau terkurung daratan memiliki kandungan yang lebih tinggi: Laut Mati memiliki 300 gram (11 oz) zat padat terpecah per liter (300‰).

Suhu permukaan mean (2009), dari −2 °C (violet muda) sampai 30 °C (merah muda).

Suhu laut banyak bergantung pada jumlah radiasi matahari di atasnya. Di wilayah tropis, daerah dengan sinar matahari jatuh secara lebih langsung, suhu lapisan permukaan dapat naik sampai lebih dari 30 °C (86 °F); di dekat kutub, suhunya menyamai es laut pada titik bekunya. Salinitasnya membuatnya lebih rendah ketimbang air laut, biasanya sekitar −18 °C (0 °F). Perbedaan suhu tersebut berkontribusi pada sirkulasi berkelanjutan dari air melalui laut. Arus permukaan hangat mendingin saat mereka bergerak menjauh dari wilayah tropis; karena air menjadi makin ke dalam, suhu tersebut lenyap. Air dingin di laut dalam bergerak mundur menuju khatulistiwa sebelum timbul lagi ke permukaan. Air laut dalam memiliki suhu antara −2 and 5 °C (28 and 41 °F) di seluruh belahan dunia.[32] Di laut beku, kristal es mulai terbentuk di permukaan. Perpecahan menjadi potongan dan bongkalan kecil di wilayah-wilayah datar membentuk suspen tebal yang dikenal sebagai frazil. Dalam kondisi tenang, frazil akan membeku dalam sebuah lembar datar tipis yang disebut nilas, yang menipis karena bentuk es baru di laut memanfaatkannya. Di perairan bergejolak, frazil alih-alih bergabung bersama dengan cakram-cakram datar yang lebih besar yang dikenal sebagai "panekuk". Bagian atas dan bawah satu sama lain membentuk hanyutan es. Nilas terbentuk dengan salinitas sekitar 12–15‰ dan berwarna keabu-abuan, tetapi bertumbuh makin beku sepanjang waktu; setelah setahun, ini berkembang dan mendekati salinitas 4–6‰.[28][33]

Tingkat-tingkat oksigen permukaan mean (2009), dari 0.15 (violet muda) sampai 0.45 (merah muda) mole O₂ per meter kubik.

Kadar sinar yang menembus laut tergantung pada sorotan matahari, cuaca lokal, dan turbiditas laut. dari sinar yang mencapai permukaan laut, kebanyakan terpantul di permukaan dan sorotan merahnya masuk ke dalam beberapa meter bagian atas. Kuning dan hijau mencapai bagian yang lebih dalam, dan sorotan biru dan violet menembus sedalam 1.000 m (3.300 ft).

Kadar oksigen yang terdapat di air laut utamanya bergantung pada suhu dan organisme fotosintesis yang tinggal didalamnya, terutama alga, fitoplankton, dan tumbuhan seperti rumput laut. Pada suatu hari, kegiatan fotosintesis mereka memproduksi oksigen yang terpecah ke dalam air laut dan dipakai oleh hewan-hewan laut. Saturasi oksigen laut merendah pada malam hari dan makin merendah di laut dalam. Di bawah kedalaman sekitar 200 m (660 ft), terdapat sinar insufisien untuk fotosintesis[34] dan mengakibatkan sedikit oksigen yang terpecah. Di bagian bawahnya, bakteria anaerobik memecah material organik yang turun, memproduksi hidrogen sulfida (H₂S).[35] Ini memproyeksikan bahwa pemanasan global akan mengurangi oksigen di permukaan dan perairan dalam, karena penurunan kepadatan oksigen akibat suhu yang naik[36] dan stratifikasi samudra yang naik .[37]

Arus[sunting | sunting sumber]

Puncak arus mean (1992), dari 0 m (violet muda) sampai 6 m (putih). Catatan: pembengkakan besar terjadi di samudra-samudra selatan.
Gerakan bidang fluida saat arus-arus bergerak.

Arus permukaan samudra memajukan osilasi yang disebabkan oleh drag dan friksi dari udara bergerak melewati permukaan air. Friksi ini mentransfer energi dan membentuk arus permukaan di air kurang lebih searah angin. Puncak arus dikenal sebagai crest dan kakinya sebagai trough; jarak antar dua crest adalah panjang arus. Arus tersebut bersifat mekanikal: saat hal tersebu timbul, air berada di titik puncak dan, saat mereka berlalu, air merendah, dengan bidang-bidang air mengalami susunan siklus berputar. Energi tersebut dilalui sepanjang arus yang lebih cepat ketimbang gerak air itu sendiri.

Keadaan laut dari samudra ditentukan oleh ukuran arus, yang—pada samudra terbuka—bergantung pada kecepatan angin dan fetch, jarak antara arus angin pada air. Arus terkecil disebut ripples, yang lebih kuat diakibatkan oleh ketegangan permukaan. Karena angin yang kuat dan menunjang menekan crest yang memuncaki ripples, bentuk arus menjadi makin tak biasa dan besar, yang dikenal sebagai seas. Arus tersebut mencapai puncak maksimum mereka saat mereka nyaris menyamai kecepatan angin. Saat angin menurun, arus masih menjadi swell dan, sepanjang waktu, mereka terpisah seara alami[f] pada arus yang kuat dan panjang dengan arah dan panjang arus umum. Swell tersebut dapat mencapai jarak-jarak besar—bahkan setengah belahan dunia—dan biasanya seringkali bermula dari Roaring Forties pada Hemsifer Selatan tempat arus berhembus secara berkelanjutan.[38][39] Saat angin berhenti, ripples gampang hilang pada friksi internal (viskositas) air, tetapi arus yang lebih panjang di seas dan swell baru akan (sangat) melambat oleh viskositas.[38] Namun, interfensi konstruktif dapat menyebabkan arus-arus rogue individual (tak diinginkan) lebih tinggi ketimbang normal.[40] Kebanyakan arus memiliki tinggi kurang dari 3 m (10 ft)[40] dan bukanlah hal tak lazim untuk angin kuat melipatgandakan puncaknya;[41] konstruksi lepas pesisir seperti kebun angin dan penyedotan minyak memakai statistik metosean dari ukuran pada penghitungan laju arus (seperti arus seratus tahun) yang mereka anggap musuh.[42] Namun, arus rogue terdokumentasi memiliki puncak di atas 25 meter (82 ft).[43][44]

Saat arus memasuki laut dangkal, mereka perlahan melambat dan amplitudo (ketinggian) mereka meningkat.

Saat arus mencapai tanah dan bergerak ke perairan dangkal, mereka mengubah perilaku mereka. Jika searah sudut, arus dapat menikung (refraksi) atau menghujam batu dan tanah (difraksi). Saat arus mencapai osilasi terdalamnya dari air mengkontak dasar laut, mereka mulai melambat. Ini menekan crest lebih bersamaan dan meningkatkan puncak arus, yang disebut pembentingan arus. Saat ratio puncak arus pada kedalaman air meningkat di atas batas tertentu, arus tersebut "berpecah", memuncaki massa ambangan air.[40] Ini menghimpun sebuah lapisan di pantai sebelum kembali ke laut di bawah pengaruh gravitasi.[38]

Tsunami tahun 2004 menerjang pantai di Thailand. Sekitar 8,000 warga Thai tewas; 22,000 orang lainnya meninggal di sekitaran Samudra Hindia.[45]

Tsunami[sunting | sunting sumber]

Tsunami adalah sebuah bentuk tak lazim dari arus yang disebabkan oleh sebuah peristiwa kuat dan mendadak seperti gempa bumi bawah air atau tanah longsor, tabrakan meteorit, letusan gunung berapi, atau penurunan tanah di laut. Peristiwa terebut dapat secara temporer meningkatkan atau merendahkan permukaan laut di kawasan yang berdampak, biasanya beberapa kaki. Energi potensial dari air laut yang menyurut dapat menurunkan energi kinetik, menciptakan arus besar yang keluar dalam keadaan proporsional pada akar bidang kedalaman laut. Sehingga, tsunami bergerak lebih cepat di samudra terbuka ketimbang kontinental itu sendiri.[46] Meskipun bergerak dengan kecepatan lebih dari 600 mph (970 km/h),[47] tsunami di laut dalam memiliki ukuran arus dari 80 to 300 mil (130 to 480 km) dan amplitudo kurang dari tiga kaki.[48] Arus permukaan standar di kawasan yang sama hanya memiliki ukuran arus beberapa ratus kaki dan kecepatan sampai 65 mph (105 km/h). Namun, saat dibandingkan dengan amplitudo mereka yang mencapai 45 ft (14 m), tsunami pada tahap ini seringkali dapat terjadi di luar perkiraan.[48] Sistem peringatan tsunami memajukan fakta bahwa arus seismik disebabkan oleh gerakan gempa bumi di seluruh dunia sekitar 14.400 kilometer (8.900 mi) per jam, membolehkan kawasan-kawasan yang terancam untuk mengalami kemungkinan tsunami.[49] Ukuran-ukuran dari jaringan stasiun pengukuran permukaan laut membuatnya memungkinkan untuk mengkonfirmasi atau menunda peringatan tsunami.[50] Sebuah peristiwa yang terjadi pada kontinental itu sendiri dapat menyebabkan tsunami lokal pada tanah longsor dan tsunami jauh terjadi di sepanjang samudra. Energi arus hanya dimajukan secara bertahap, tetapi menyebar ke sepanjang bagian depan arus. Karena arus terradiasi dari sumber, bagian depan menjadi memanjang dan rata-rata energi berkurang, sehingga pesisir-pesisir jauh umumnya akan diserang oleh arus yang lebih lemah. Namun, karena kecepatan arus dikendalikan oleh kedalaman air, ini tak memiliki kecepatan yang sama pada seluruh arah dan ini memberi dampak pada pengarahan bagian depan arus. Efek tersebut, yang dikenal sebagai refraksi, dapat memfokuskan kekuatan tsunami yang melaju pada beberapa kawasan sementara menurun di kawasan lain, menurut topografi bawah laut di sepanjang wadahnya.[51][52]

Seperti arus lainnya, pergerakan ke perairan dangkal menyebabkan tsunami melambat, tetapi bertumbuh tinggi.[48] Trough atau crest dari tsunami dapat mula-mula datang di pesisir.[46] Pada kasus trough, laut bergerak mundur dan meninggalkan kawasan yang terserangan dalam keadaan tak lazim.[53] Saat crest datang, ini tidak biasanya menghantam, tetapi menyelimuti tanah dalam, membanjiri seluruh wadahnya. Kebanyakan kehancuran bencana dapat dihasilkan oleh perairan banjir tersebut, yang bergerak mundur ke laut sesambil menarik orang dan barang bersamaan. Beberapa tsunami dapat disebabkan oleh peristiwa geologi tunggal. Dalam kasus semacam itu, adalah hal umum untuk arus-arus berikutnya untuk datar antara delapan menit sampai dua jam setelah yang pertama, yang tak lebih besar atau lebih menghancurkan.[46] Terkadang, pada wilayah teluk sempit atau muara, tsunami dapat berubah menjadi bono.[47]

Pasang laut[sunting | sunting sumber]

Pasang tinggi (biru) di titik terdekat dan terjauh Bumi dari Bulan

Pasang laut adalah naik-turun reguler pada permukaan air yang dialami oleh laut dan samudra yang disebabkan oleh pengaruh gravitasional dari Bulan dan Matahari, dan dampak perputaran Bumi. Di tempat manapun yang mengalaminya, air naik sepanjang siklus pasang pada ketinggian maksimum yang dikenal sebagai "pasang tinggi" sebelum berbalik menjauh kembali pada tingkat "pasang rendah" minimum. Saat air menyurut, hal ini menghimpun zona antar-pasang atau pesisir depan. Perbedaan ketinggian antara pasang tinggi dan pasang rendah dikenal sebagai rangkaian pasang atau amplitudo pasang.[54][55] Bono dapat terjadi di mulut sungai, tempat kekuatan pasang dalam menekan arus aliran air laut melawan arus. Di Hangzhou, Tiongkok, bono dapat mencapai ketinggian 9 meter (30 ft) dan bergerak sampai 40 km (25 mi) per jam.

Kebanyakan tempat mengalami dua pasang naik setiap hari, terjadi dalam jangka waktu sekitar 12 jam 25 menit, setengah periode yang diambil oleh Bumi untuk membuat revolusi lengkap dan mengembalikan Bulan ke posisi sebelumnya searah pengamatan. Massa Bulan adalah sekitar 27 juta kali lebih kecil ketimbang Matahari, tetapi 400 kali lebih dekat dengan Bumi.[56] Kekuatan pasang atau kekuatan kenaikan pasang menurun cepat dengan jarak, sehingga bulan memiliki ukuran dua kali lebih besar pada efek pasang ketimbang Matahari.[56] Sebuah tonjolan terbentuk di samudra di saat Bumi berada paling dekat dengan Bulan, karena ini juga merupakan saat efek gravitasi Bulan lebih kuat. Pada sisi Bumi yang berlawanan, kekuatan bulan berada di titik terendahnya dan ini menyebabkan tonjolan lain terbentuk. Tonjolan-tonjolan tersebut memutari seluruh Bumi saat bulan melakukannya. Efek Matahari kurang kuat, tetapi saat Matahari, Bulan, dan Bumi semuanya berada di posisi bulan purnama dan bulan baru, efek terkombinasi menghasilkan "pasang musim semi" yang tinggi. Sebaliknya, saat matahari berada di 90° dari Bulan saat dilihat dari Bumi, efek gravitasional pada pasang menurun, menyebabkan "pasang rendah" yang lebih rendah.[54]

Arus pasang air laut bergantung pada inersia air dan dapat berdampak pada massa tanah. Di tempat-tempat seperti Teluk Meksiko, yang tanahnya terpengaruh gerakan dari tonjolan, hanya satu pasang yang terjadi setiap hari. Pada pesisir dari sebuah pulau, terdapat sebuah siklus harian kompleks dengan empat pasang tinggi. Selat-selat pulau di Chalkis, Euboea mengalami gelombang-gelombang kuat yang mengubah arah, umumnya empat kali per hari, justru melebihi 12 kali per hari saat bulan dan matahari berada di 90 derajat.[57][58] Di mana ada teluk atau perairan berbentuk corong, rangkaian pasang dapat menjadi membesar. Teluk Fundy di Kanada dapat mengalami pasang musim semi sepanjang 15 m (49 ft). Meskipun pasang bersifat reguler dan terprediksi, ketinggian pasang tinggi dapat merendah akibat angin lepas pesisir dan peningkatan angin di pesisir. Tekanan tinggi di tengah antisiklon menekan turun air dan diasosiasikan dengan pasang rendah abnormal sementara kawasan tekanan rendah dapat menyebabkan pasang tinggi yang ektrim.[54] Sebuah lonjakan angin ribut dapat terjadi saat angin-angin tinggi mempilari air melawan pesisir di kawasan sempit dan ini, bersama dengan sistem tekanan rendah, dapat menaikkan permukaan laut pada pasang tinggi secara dramatis. Pada 1900, Galveston, Texas mengalami lonjakan 15 ft (5 m) saat sebuah angin ribut yang menerjang kota tersebut dan menewaskan 3,500 orang dan menghancurkan 3,636 rumah.[59]

Gelombang[sunting | sunting sumber]

Kepadatan permukaan mean, dari 1020 (violet muda) sampai 1028 (merah jambu muda) kilogram per meter kubik.

Angin berhembus di permukaan laut menyebabkan friksi di antarwajah antara udara dan laut. Tak hanya karena sebab ini arus terbentuk, tetapi ini juga membuat permukaan air laut searah dengan angin. Meskipun angin beragam, di suatu tempat manapun, mereka umumnya berhembus dari arah tunggal dan kemudian gelombang permukaan dapat terbentuk. Angin barat kebanyakan bergerak pada lintang menengah sementara angin timur mendominasi wilayah tropis.[60] Saat air bergerak dengan cara ini, arus air lainnya mengisi celah ini dan gerak melingkar dari arus permukaan yang dikenal sebagai gir terbentuk. Terdapat lima gir utama di samudra dunia: dua di Pasifik, dua di Atlantik, dan satu di Samudra Hindia. Gir Atlantik Utara yang menghasilkan Laut Sargasso memiliki tingkat salinitas setinggi 38‰.[6] Gir lain yang lebih kecil ditemukan di laut-laut kecil dan gir tunggal mengalir di sekitaran Antarktika. Gir-gir tersebut mengikuti rute yang sama selama satu milenium, dipandu oleh topografi tanah, arah angin, dan efek Coriolis. Arus permukaan mengalir searah jarum jam di Hemisfer Utara dan berlawanan dengan arah jarum jam di Hemisfer Selatan. Air yang bergerak menjauh dari khatulistiwa bersuhu hangat, sementara arus yang menuju ke arahnya kehilangan sebagian besar suhu hangatnya. Arus-arus tersebut memoderasi iklim Bumi, mendinginkan kawasan khatulistiwa, dan menghangatkan kawasan-kawasan di lintang yang lebih tinggi.[61] Iklim global dan prakiraan cuaca sangat didampaki oleh samudra dunia, sehingga model iklim global yang dipakai menggunakan model sirkulasi samudra serta model komponen besar lainnya seperti atmosfer, permukaan tanah, aerosol, dan es laut.[62] Model-model samudra memakai penggunaan sebuah cabang fisika, dinamika fluida geofisika, yang mendeskripsikan arus cairan skala besar seperti air laut.[63]

Gelombang permukaan: merah-hangat, biru-sejuk

Gelombang permukaan hanya berdampak pada beberapa ratus meter (yard) dari atas laut, tetapi terdapat juga arus skala besar di kedalaman samudra yang disebabkan oleh pergerakan massa air dalam. Arus gelombang samudra dalam utama meliputi seluruh samudra dunia dan dikenal sebagai sirkulasi termohalin atau sabuk konveyor global. Pergerakan ini bersifat lambat dan digerakkan oleh perbedaan tujuan air yang disebabkan oleh ragam salinitas dan suhu .[64] Di lintang tinggi, air dipengaruhi oleh suhu atmosfir rendah karena es laut terkristalisasi. Faktor tersebut menjadikannya lebih padat dan air tenggelam. Dari laut dalam dekat Greenland, air semacam itu mengalir ke selatan antara massa tanah kontinental pada sisi Atlantik. Saat mencapai Antarktika, ini bergabung dengan massa lain yang dingin, menenggelamkan air dan mengalir ke timur. Ini kemudian terpecah menjadi dua aliran yang bergerak ke utara menuju Samudra Hindia dan Pasifik. Di sini, gelombang tersebut menghangat secara bertahap, menjadi kurang padat, naik ke permukaan, dan berbalik sendiri. Beberapa arus kembali ke Atlantik. Susunan sirkulasi tersebut memakan waktu selama seribu tahun.[61]

Sabuk konveyor global ditampilkan dalam warna biru dengan gelombang permukaan yang lebih hangat diberi warna merah

Disamping gir, terdapat gelombang permukaan temporer yang terjadi di bawah kondisi spesifik. Saat arus bertemu pesisir di sebuah sudut, sebuah gelombang pesisir panjang terbentuk karena air terdorong searah garis pesisir. Air mengarah ke pantai di sudut kanan searah dengan arus, tetapi menyurut akibat gravitasi, Arus pemecah yang lebih besar, pantai yang lebih panjang, dan angin yang lebih selaras, menjadikan gelombang pesisir panjang lebih kuat.[65] Gelombang tersebut dapat mengubah volume besar dari pasir atau kerikil, menciptakan spit, dan membuat pantai hilang dan tanjung arus menjadi berlumpur.[61] Gelombang rusuk dapat terjadi saat air terdorong di dekat pesisir dari laju gelombang dan berbalik ke laut melalui sebuah saluran di dasar laut. Ini terjadi sebuah celah di sebuah gosong pasir atau dekat struktur buatan manusia seperti groyne. Gelombang kuat dapat memiliki velositas 1 m/s (3,3 ft/s), dapat terbentuk di tempat-tempat berbeda pada tahap-tahap pasang yang berbeda, dan dapat menarik para perenang.[66] Gelombang yang timbul secara temporer terjadi saat angin menekan air jauh dari darat dan mendorong air yang lebih dalam untuk menggantikannya. Air sejuk ini seringkali kaya akan nutrien dan membuat fitoplankton bermekaran dan meningkatkan produktivitas laut.[61]

Cekungan[sunting | sunting sumber]

Tiga jenis batas lempeng

Batimetri adalah pemetaan dan kajian topografi lapisan samudra. Metode yang dipakai untuk mengukur kedalaman laut meliputi perekaman gema tunggal atau ganda, perekam kedalaman lapisan air laser dan perhitungan kedalaman dari data pengindraan kendali satelit. Informasi ini dipakai untuk menentukan rute kabel dan jalur pipa bawah laut, untuk memilih lokasi layak untuk penempatan pengeboran minyak dan turbin angin lepas pesisir dan untuk mengidentifikasi kemungkinan perikanan baru.[67] Bumi terdiri dari inti tengah magnetik, sebuah mantel yang kebanyakan cair, dan cangkang luar keras (atau litosfer), yang terdiri dari kerak bebatuan Bumi dan lapisan luar yang lebih padat dan dalam dari mantel tersebut. Tanah di bawah kerak dikenal sebagai kerak benua sementara lapisan yang berada di bawah laut abisal disebut kerak samudra. Kerak samudra terdiri dari basalt yang relatif dalam dan memiliki ketebalan sekitar lima sampai sepuluh kilometer (tiga sampai enam mil). Litosfer yang relatif tebal tersebut mengambang di mantel yang lebih panas dan terbuka dan melingkupi sejumlah lempeng tektonik.[68] Di tengah samudra, magma terdiam di dasar laut antara lempeng-lempeng berdekatan untuk membentuk punggung tengah samudra dan gelombang konveksi pada mantel yang menggerakkan dua lempeng. Sejalan dengan punggung dan pesisir yang berada didekatnya, satu lempeng samudra mengenai lempeng samudra dalam proses yang dikenal sebagai subduksi. Palung samudra dalam terbentuk di sini dan proses tersebut disertai oleh friksi saat lempeng-lepeng saling bersinggungan. Gerakan tersebut menimbulkan gejala yang menyebabkan gempa bumi. Panas juga terproduksi dan magma terdorong, menciptakan pegunungan bawah air, beberapa diantaranya bertumbuh menjadi kepulauan gunung berapi. Pada beberapa perbatasan dekat antara laut dan darat, lempeng samudra yang lebih dalam bersinggungan dengan lempeng benua dan palung yang lebih subduksi terbentuk. Saat mereka saling bersinggungan, lempeng benua terdeformasi dan menyebabkan gunung terhimpun dan kegiatan seismik.[69][70]

Paling terdalam di Bumi adalah Palung Mariana yang terbentang sekitar 2,500 kilometer (1,553 mi) di dasar laut. Paling tersebut berada di dekat Kepulauan Mariana, sebuah kepulauan gunung berapi di Pasifik Barat. Dengan rata-rata lebar 68 km (42 mi), titik terdalamnya adalah 10.994 kilometer (sekitar 7 mil) di bawah permukaan laut.[71] Sebuah palung yang lebih panjang terbentang di sepanjang pantai Peru dan Chili, yang mencapai kedalaman 8,065 m (26,46 ft) dan memiliki panjang sekitar 5.900 km (3.700 mi). Paling tersebut berada di sisi-sisi Lempeng Nazca di bawah Palung Amerika Selatan dan diasosiasikan dengan kegiatan gunung berapi dan gempa Andes.[72]

Pesisir[sunting | sunting sumber]

Zona tempat tanah bertemu laut dikenal sebagai pesisir (coast) dan bagian antara lapisan terendah dan batas hulu yang dicapai oleh arus adalah tepi laut (shore). Pantai adalah tempat perkumpulan pasir atau kerikil di tepi laut.[73] Tanjung adalah titik darat yang mengarah ke laut. Dua garis pesisir dengan jarak berdekatan—khususnya antar dua tanjung—adalah teluk; teluk berukuran kecil dengan tanah sempit adalah sebuah teluk kecil (cove) dan teluk berukuran besar atau laut berbentuk teluk disebut sebagai teluk besar (gulf).[74] Garis pesisir dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang meliputi kekuatan arus yang datang di tepi pantai, gradien margin tanah, serta komposisi dan kekerasan batu pesisir, keberadaan selipan lepas tepi laut, dan perubahan permukaan tanah karena kegiatan lokal atau pengikisan. Biasanya, arus menuju tepi laut berada di peringkat enam sampai delapan per menit. Itu dikenal sebagai arus konstruktuif karena mereka memajukan barang-barang ke pantai dan memiliki efek erosif yang kecil. Arus angin dapat ke tepi laut dengan suksesi kecepatan dan dikenal sebagai arus destruktif, karena debur (swash) mereka menggerakkan barang-barang pantai ke arah laut. Di bawah pengaruh mereka, pasir dan kerikil di pantai terkubur bersamaan dan terabrasi. Di sepanjang lapisan tinggi, kekuatan arus angin berdampak pada kaki tebing memiliki efek mengikis karena udara di bagian celah dan kerak tertekan. Kemudian, dampak itu cepat meluas dengan perilisan tekanan. Pada saat yang sama, pasir dan kerikil memiliki efek erosif karena mereka bergerak melawan batu. Bersama dengan proses pelapukan lain seperti embun beku, ini berujung pada pengikisan tebing. Secara bertahap, wadah arus pemotong berkembang di kaki tebing dan ini memiliki efek protektif, mengurangi erosi arus lanjutan.[73]

Material yang timbul dari pergeseran tanah kemudian berakhir di laut. Kemudian, itu menjadi subyek atrisi saat gelombang mengalir ke arah pesisir yang menuju tanjung dan membawa material tersebut menjauh dari tempat asalnya. Sedimen terbawa ke laut oleh sungai yang berada pada dasar laut menyebabkan delta-delta terbentuk di muara-muara. Seluruh material tersebut bergerak maju mundur di bawah pengaruh arus, pasang, dan gelombang.[73] Pengerukan menghilangkan material dan mendalamkan tanjung , tetapi memiliki dampak yang tak diinginkan di tempat lain di garis pesisir. Pemerintah membuat upaya untuk menghindari banjir melalui pembangunan pemecah gelombang, dinding laut dan pertahanan lain melawan laut. Di Inggris, Pembatas Thames melindungi London dari serangan badai,[75] sementara kegagalan tanggul di sekitaran New Orleans saat Badai Katrina menciptakan krisis kemanusiaan di Amerika Serikat. Reklamasi lahan di Hong Kong mengijinkan pembangunan Bandar Udara Internasional Hong Kong melalui peninggian dan perluasan dua pulau kecil.[76]

Setelah adopsi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut, garis pesisir di bawah hukum internasional adalah sebuah garis basis dari suatu negara, yang umumnya tak selalu sama dengan garis perairan rendahnya (low-water line).[77]

Permukaan laut[sunting | sunting sumber]

Ragam permukaan laut di seluruh dunia (1992) dari −1.4 m (violet muda) sampai +1.0 m (merah muda).

Pada sebagian besar masa geologi, permukaan laut lebih tinggi ketimbang saat ini.[8](h74) Faktor utama yang berdampak pada permukaan laut sepanjang waktu adalah hasil perubahan dalam kerak samudra, dengan tren kawasan bawah timbul untuk dilanjutkan pada masa yang sangat panjang.[78] Di maksimum glasial akhir pada sekitar 20,000 tahun lampau, permukaan laut berada pada 120 meter (390 ft) di bawah permukaannya pada masa sekarang. Pada sekitar 100 tahun terakhir, permukaan laut meningkat menjadi rata-rata sekitar 18 mm (0,71 in) per tahun.[79] Kebanyakan peningkatan ini dapat diatribusikan kepada peningkatan suhu laut dan akibat ekspansi termal dari hulu air sepanjang 500 m (1.600 ft). Kontribusi lainnya, kebanyakan seperempat dari keseluruhan, datang dari sumber air di tanah, seperti salju yang mencair dan gletser dan pengambilan air tanah untuk irigasi dan kebutuhan manusia dan pertanian lain .[80] Tren peningkatan dari pemanasan global dianggap berlanjut sampai setidaknya akhir abad ke-21.[81]

Siklus air[sunting | sunting sumber]

Laut memainkan sebuah bagian dalam siklus air, yaitu air mengembun dari samudra, bergerak melalui atmosfir sebagai embun, terkondensasi, jatuh (biasanya sebagai hujan atau salju) lagi, dan kemudian kembali ke laut.[82] Bahkan di Gurun Atacama, tempat hujan turun dalam kadar yang sedikit, awan-awan mendung yang dikenal sebagai camanchaca timbul dari laut dan mendukung kehidupan tumbuhan.[83] Pada wilayah darat yang besar, fitur-fitur geologi dapat memblok akses beberapa kawasan ke laut utama. Cekungan endoreik, terutama di Asia Tengah, terkadang menghimpun danau garam akibat pengembunan air tak mengalir dan mineral mereka yang terakumulasi sepanjang waktu. Danau air asin terbesar adalah Laut Kaspia, meskipun laut tersebut terkadang dianggap sebagai laut sebenarnya yang cekuangannya berasal dari lempeng samudra (sekarang terkunci daratan). Contoh terkenal lainnya meliputi Laut Aral di Asia Tengah dan Great Salt Lake di Amerika Serikat.[84] Perairan dari cekungan-cekungan tersebut kemudian masih kembali ke laut melalui pengembunan, aliran air tanah, dan (sepanjang masa geologi) terbukanya cekungan-cekungan tersebut akibat pergerakan benua.

Siklus karbon[sunting | sunting sumber]

Samudra berisi kuantitas terbesar dari karbon yang aktif bersiklus di dunia dan hanya kedua setelah lithosfer dalam jumlah karbon yang mereka simpan.[85] Lapisan permukaan samudra menyimpan sejumlah besar karbon organik terpecah yang cepat bertikar dengan atmosfir. Konsentrasi lapisan dalam dari karbon inorganik terpecah adalah sekitar 15 persen lebih tinggi ketimbang lapisan permukaan[86] dan ini memakan waktu periode yang lebih panjang.[87] Sirkulasi termohalin menukar karbon antar dua lapisan tersebut.[85]

Karbon memasukki samudra sebagai karbon dioksida atmosferik yang terpecah di lapisan permukaan dan berkonversi menjadi asam karbonik, karbonat dan bikarbonat: CO2 (aq) + H2O is in equilibrium with H2CO3 is in equilibrium with HCO3 + H+ is in equilibrium with CO32− + 2 H+. Proses tersebut melepaskan ion-ion hidrogen (H+), menurunkan pH samudra dan meningkatkan keasamannya.

Ini juga dapat masuk sebagai karbon organik terpecah melalui sungai dikonversi melalui organisme fotosintesis menjadi karbon organik. Ini dapat menukar seluruh rantai makanan atau bergerak ke lapisan yang lebih dalam dan lebih kaya akan karbon seperti halnya tulang dan lapisan lembut bangkai sebagai kalsium karbonat. Ini beredar di permukaan tersebut selama periode waktu yang panjang sebelum terdeposit sebagai sedimen atau kembali ke perairan permukaan melalui sirkulasi termohalin.[87]

Pengasaman[sunting | sunting sumber]

Air laut bersifat alkalin dan memiliki pH pra-industrial dengan kadar sekitar 8.2. Saat ini, kegiatan antropogenik cepat meningkatkan kadar karbon dioksida dari atmosfir; sekitar 30–40% dari CO2 tambahan dilepaskan oleh samudra, membentuk asam karbonik dan merendahkan pH (sekarang di bawah 8.1[88]) melalui proses yang disebut pengasaman atau asifidikasi samudra.[89][90][91] pH diperkirakan mencapai 7.7 (mewakili peningkatan kadar sampai 3 pada konsentrasi ion hidrogen) pada 2100, yang merupakan perubahan signifikan dalam seabad.[92][g]

Satu unsur penting untuk pembentukan material tengkorak pada hewan-hewan laut adalah kalsium, tetapi kalsium karbonat menjadi makin padat dengan tekanan, sehingga cangkang-cangkang karbonat dan tengkorak terpecah di bawah kedalaman kompensasinya.[94] Kalsium karbonat juga menjadi makin padat di pH yang lebih rendah, sehingga pengasaman samudra nampaknya memiliki efek menonjol pada organisme-organisme laut dengan kerang-kerang kalkareus, seperti tiram, kerang, bulu babi, dan karang,[95] karena kemampuan mereka untuk membentuk cangkang akan berkurang,[96] dan kedalaman kompensasi karbonat akan meningkat mendekati permukaan laut. Organisme planktonik yang berdampak akan meliputi moluska-moluska mirip siput yang dikenal sebagai pteropoda, dan alga bersel tunggal yang disebut coccolitforid dan foraminifera. Semua itu adalah bagian penting dari rantai makanan dan pengurangan jumlah mereka akan memiliki dampak signifikan. Di kawasan tropis, karang nampaknya lebih berdampak karena karang menjadi makin sulit untuk menghimpun tengkorak kalsium karbonatnya,[97] yang akan berdampak pada hewan-hewan terumbu karang lainnya.[92]

Tingkat arus perubahan kimia samudra nampak tanpa preseden dalam riwayat geologi Bumi, menjadikannya tak jelas bagaimana ekosistem laut akan dapat beradaptasi pada konfisi yang berubah menjelang masa mendatang.[98] Selain itu, keadaan kombinasi pengasaman dengan stresor tambahan dari suhu yang lebih tinggi dan merendahnya tingkat-tingkat oksigen akan berdampak pada laut.[99]

Kehidupan laut[sunting | sunting sumber]

Peta permukaan mean klorofil a (1998–2006), dari 0.03 (violet muda) sampai 30 mg chl per m³ (merah tua) pada skala logaritmik.

Samudra adalah rumah dari sekumpulan ragam bentuk kehidupan yang memakainya sebagai habitat. Sejak sinar matahari hanya mengiluminasi lapisan-lapisan atas, bagian besar dari samudra berada pada kegelapan permanen. Karena suhu dan kedalaman berbeda, masing-masing menyediakan habitat untuk sebuah set spesies yang unik, lingkungan laut secara keseluruhan melingkupi sebuah keragaman hayati.[100] Habitat laut terbentang dari air permukaan sampai palung terdalam, yang meliputi terumbu karang, hutan ganggang, hamparan lamun, kolam pasang, dasar laut berlumpur, berpasir dan berbatu, dan zona pelagik terbuka. Organisme yang hidup di laut terbentang dari ikan paus sepanjang 30 meter (100 kaki) sampai fitoplankton dan zooplankton mikroskopik, fungi, bakteri, dan virus, termasuk bakteriofage laut yang baru ditemukan yang hidup sebagai parasit pada bakteria.[101] Kehidupan laut memainkan sebuah bagian penting dalam siklus karbon sebagai organisme fotosintetis yang mengubah karbon dioksida terpecah menjadi karbon organik dan secara ekonomis berpengaruh pada manusia karena menyediakan ikan untuk dipakai sebagai makanan.[102][103](h204–29)

Kehidupan bermula dari laut dan seluruh kelompok besar hewan terwakili di sana. Para ilmuwan terbagi soal bagaimana kehidupan laut berkembang: eksperimen Miller-Urey mensugestikan sebuah "sup" kimia dilut di perairan terbuka, tetapi sugesti terkini meliputi air panas gunung berapi, sedimen tanah liat yang tercetak, atau "asap hitam" laut dalam, semuanya yang akan menyediakan perlindungan dari radiasi ultraviolet yang merusak yang tak diblok oleh atmosfir bumi awal.[8](h138–40)

Habitat[sunting | sunting sumber]

Habitat laut

Habitat laut dapat terbagi secara horizontal pada habitat samudra terbuka dan pesisir. Habitat pesisir terbentang dari garis tepi sampai tepi landas benua. Kebanyakan kehidupan laut ditemukan di habitat pesisir, bahkan melalui kawasan landas yang hanya diduduki 7 prsen dari total kawasan samudra. Habitat samudra terbuka ditemukan di samudra dalam di luar tepi landas benua. Secara alternatif, habitat laut dapat terbagi secara vertikal dari habitat pelagik (perairan terbuka), demersal (tepat di atas dasar laut), dan bentik (bawah laut). Pembagian ketiga adalah menurut lintang: dari perairan tropis, sedang sampai kutub.[8](h150f)

Terumbu karang, yang disebut "hutan laut", meliputi kurang dari 0.1 persen permukaan samudra dunia, sehingga ekosistem mereka meliputi 25 persen dari seluruh spesies laut.[104] Terumbu karang paling terkenal adalah terumbu karang tropis seperti Great Barrier Reef di Australia, tetapi karang perairan dingin melabuhkan serangkaian besar spesies yang meliputi karang (hanya enam persen yang berkontribusi pada formasi karang).[8](h204–07)[105]

Alga dan tumbuhan[sunting | sunting sumber]

Produsen utama laut—tumbuhan dan organisme mikroskopik pada plankton—merebak dan sangat beragam. Alga fotosintetis mikroskopik, fitoplankton, mengkontribusikan sejumlah besar pengeluaran fotosintetis di dunia ketimbang seluruh hutan terestrial yang dikombinasikan. Sekitar 45 persen produksi primer laut dari material hidup dikontribusikan oleh diatom.[106] Alga yang lebih besar, yang umum dikenal sebagai rumput laut, berpengaruh secara lokal: Sargassum membentuk tumbuhan mengambang, sementara ganggang membentuk hutan dasar laut.[103](h246–55) Tumbuhan berbunga dalam bentuk rumput laut tumbuh dalam "padang rumput" di perairan dangkal berpasir,[107] pohon bakau membarisi pesisir di kawasan tropis dan subtropis,[108] dan tumbuhan-tumbuhan yang toleran terhadap garam giat menghimpun rawa asin.[109] Semua habitat tersebut membolehkan kelangsungan sejumlah besar karbon dan mendukung serangkaian keragaman hayati dari kehidupan hewan besar dan kecil.[110]

Sinar hanya dapat menembus permukaan laut di atas 200 m (660 ft) sehingga ini adalah satu-satunya bagian dari laut tempat tumbuhan-tumbuhan dapat tumbuh .[34] Lapisan permukaan seringkali terdiri dari komponen-komponen nitrogen yang aktif secara biologis. Siklus nitrogen laut terdiri dari transformasi mikrobial kompleks yang meliputi fiksasi nitrogen, asimilasinya, nitrifikasi, anamoks dan denitrifikasi.[111] Beberapa proses tersebut terjadi di laut dalam sehingga di sana menjadi perairan dingin atau dekat estuari tempat terdapat nutrien-nutrien yang bersumber dari tanah, tumbuhan menjadi bertumbuh lebih tinggi. Ini menandakan bahwa kawasan yang paling produktif, kaya akan plankton dan juga ikan, biasanya adalah pesisir.[8](h160–63)

Hewan dan kehidupan lain[sunting | sunting sumber]

Habitat laut seperti terumbu karang menyimpan keragaman spesies yang meliputi bintang laut, karang dan ikan.

Terdapat spektrum yang lebih besar dari taksa hewan yang lebih tinggi di laut ketimbang di darat, beberapa spesies laut ditemukan, dan sejumlah pengetahuan pada sains meluas setiap tahunnya.[112] Beberapa vertebrate seperti burung laut, anjing laut, dan penyu kembali ke tanah untuk melakukan pembuahan, tetapi ikan sea, cetacean, dan ular laut memiliki gaya hidup akuatik secara menyeluruh dan beberapa phyla invertebrata secara keseluruhan berada di luat. Pada kenyataannya, samudra diwarnai dengan kehidupan dan menyediakan beberapa mikrohabitat yang beragam.[112] Salah satu diantaranya adalah lapisan permukaan yang—meskipun berhadapan dengan gerakan gelombang—menyediakan lingkungan yang kaya dan merupakan rumah dari bakteria, fungi, mikroalga, protozoa, telur ikan, dan berbagai larva.[113]

Zona pelagik terdiri dari makro- dan mikrofauna dan myriad zooplankton yang bergerak searah dengan arus. Kebanyakan organisme terkecil adalah larva ikan dan invertebrata laut yang mengeluarkan telur dalam jumlah besar karena jumlah embrio yang bertahan sampai dewasa berjumlah sangat sedikit.[114] Zooplankton memakan fitoplankton dan satu sama lain dan membentuk bagian dasar dari rantai makanan kompleks yang terbentang melalui ikan berbagai ukuran dan organisme nektonik lain, yang kemudian disantap oleh cumi-cumi, ikan hiu, porpoise, lumba-lumba, dan ikan paus.[115] Beberapa makhluk laut melakukan migrasi besar, ke kawasan samudra laut atas dasar musiman atau pasang surutnya lapisan-lapisan vertikal, seringkali bertujuan untuk mencari makan di malam hari sebelum kembali ke bagian bawah untuk berlindung di siang hari.[116] Kapal-kapal dapat mengintroduksi atau menyebarkan spesies invasif saat menempati perairan ballast atau melalui transportasi organisme yang terakumulasi sebagai bagian dari komunitas fouling di bagian lambung kapal.[117]

Zona demersal mendukung beberapa hewan yang memakan organisme bentik atau mencari perlindungan dari para predator. Dasar laut menyediakan serangkaian habitat di atas atau di bawah permukaan substrat yang dipakai oleh para makhluk yang beradaptasi pada kondisi tersebut. Zona pasang dengan ledakan periodiknya untuk mendehidrasi udara adalah rumah dari teritip, moluska, dan krustasea. Zona neritik memiliki beberapa organisme yang membutuhkan sinar untuk berkembang. Di sana, sponge, ekinoderma, ulat polikaete, anemon laut, dan invertebrata lain tinggal di antara bebatuan yang diselimuti alga. Karang seringkali berisi simbion-simbion fotosintetis dan tinggal di perairan dangkal yang dapat ditembus sinar. Tengkorak kalkareus ekstensif yang mereka himpun di terumbu karang adalah sebuah bagian penting dari dasar laut. Ini menyediakan habitat beragam untuk organisme-organisme yang mendiami karang. Terdapat sedikit kehidupan laut di bagian laut yang lebih dalam, tetapi kehidupan laut juga berkembang di sekitaran mulut laut yang timbul dari kedalaman, tempat ikan dan hewan-hewan lainnya berkumpul dan mancari mangsa. Ikan demersal tinggal di dekat dasar laut yang banyak menyantap organisme pelagik atau invertebrata bentik.[118] Penjelajahan laut dalam oleh para penyelam menguak dunia baru dari para makhluk yang tinggal di dasar laut yang sebelumnya tak pernah dilihat para ilmuwan. Beberapa hewan seperti detritivora menyantap material organik yang jatuh ke dasar samudra. Hewan lainnya berkumpul di sekitaran ventilasi hidrotermal laut dalam tempat arus air yang kaya akan mineral timbul, mendukung komunitas yang produsen utamanya adalah bakteria kemoautotrofik yang teroskidasi sulfida dan para komsumennya meliputi bivalve terspesialisasi, anemon laut, teritip, kepiting, ulat, dan ikan.[8](h212) Ikan paus mati yang tenggelam di bawah samudra menyediakan makanan untuk sejumlah organisme yang kebanyakan bertindak mirip bakteria pengurang sulfur. Tempat-tempat semacam itu mendukung bioma-bioma unik tempat beberapa mikroba baru dan bentuk kehidupan lainnya ditemukan.[119]

Manusia dan laut[sunting | sunting sumber]

Sebuah ilustrasi abad ke-19 dari 'penemuan' benua Amerika oleh Kolumbus pada 12 Oktober 1492, menyimpan cara agar para penjelajah dalam sejarah bermitologi di dalam dan luar negeri.

Navigasi dan penjelajahan[sunting | sunting sumber]

Manusia telah menjelajahi laut sejak zaman prasejarah, biasanya menggunakan rakit dan perahu kayu, perahu alang-alang, dan kano kulit. Kebanyakan migrasi manusia awal terjadi di darat: bahkan kawasan yang terpisah oleh laut terbuka seperti Amerika, Jepang, dan Britania diakses oleh jembatan tanah atau jalan es pada zaman es akhir. Namun, manusia Flores kerdil mungkin butuh melintasi selat sepanjang 19-kilometer (12 mi) dari Sundaland untuk mencapai Pulau Komodo[120] dan, meskipun detil keberadaannya masih belum jelas, para leluhur Aborigin Australia harus melintasi laut dalam yang lebih besar di Garis Wallace menuju Oseania Dekat pada sepuluh ribu tahun lampau.[h] Disamping teori-teori awal, batimetri modern saat ini mensugestikan bahwa pemukiman terawal Filipina mengharuskan untuk melintasi laut dalam di Selat Mindoro atau Perlintasan Sibutu.

Pemburu-peramu suku Ortoiroid mulai menyebar dari lembah Orinoco di Venezuela menuju Karibia pada sekitar milenium ke-6 SM. Pada sekitaran masa yang sama, bangsa Mesopotamia memakai aspal untuk menyambung perahu alang-alang mereka dan, tak lama kemudian, menciptakan layar.[124] Lothal di India menciptakan dok terawal yang diketahui pada sekitar tahun 2400 SM.[125] Pada sekitar tahun 2000 SM, bangsa Austronesia di Taiwan mulai menyebar ke Asia Tenggara maritim.[126][127][128] Dari 1300 sampai 900 suku, suku bangsa "Lapita" Austronesia mengadakan serangkaian besar navigasi, berlayar dari Kepulauan Bismarck sampai sejauh Fiji, Tonga, dan Samoa.[129] Para keturunan mereka melanjutkan perjalanan ribuan mil antar kepulauan memakai kano:[130] bangsa Austronesia dari Kepulauan Sunda menetap di Madagaskar lepas tenggara Afrika sebelum 500 M dan bangsa Polinesia menetap di kepulauan Hawaii sebelum 800,[131] Pulau Paskah sebelum 1200,[132] dan Selandia Baru tak lama setelahnya.[133]

Firaun Mesir Necho II menghimpun pembangunan di sebuah terusan yang kemudian menghubungkan Laut Tengah dan Laut Merah pada sekitar tahun 600 SM. Herodotus mencatat klaim-klaim Mesir bahwa ia juga mengadakan sebuah penjelajahan selama 3 tahun yang mengarungi Afrika dari Laut Merah menuju delta Nil.[134][i] Sekitar 500 SM, navigator Carthage Hanno meninggalkan sebuah periplus dari sebuah perjalanan Atlantik yang mencapai setidaknya Senegal dan mungkin Gunung Kamerun;[136][137] dan Pytheas dari Yunani mengadakan penjelajahan laut lainnya di sekitaran Britania Raya pada sekitar tahun 325 SM. Mercusuar Aleksandria abad ke-3 SM dianggap merupakan salah satu Tujuh Keajaiban Dunia.[138] Pada abad ke-2, Ptolemi dari Aleksandria memetakan dunia yang diketahui, memakai "Pulau Keberkahan" sebagai meridiam primernya dan mencantumkan detil-detil sampai sejauh Teluk Thailand. Sebuah bentuk termodifikasi dipakai oleh Kolumbus untuk pelayarannya.[139]

Pada Abad Pertengahan, bangsa Viking memakai kapal-kapal untuk mengkolonisasi Islandia, Greenland, Kanada, dan Rusia.[8](h12f) Kompas yang menunjukkan arah utara mula-mula disebutkan—dalam bentuk "sendok yang mengarah ke selatan"—dalam Lunheng dari Tiongkok pada abad ke-1. Namun, bukti pertama dari pemakaiannya dalam navigasi maritim Tiongkok terdapat pada Perbincangan Meja Pingzhou karya Zhu Yu dari sekitar tahun 1115 Pingzhou Table Talks. De naturis rerum karya Alexander dari Neckham, sumber Eropa pertama yang menyebutkan alat termagnetisasi, berasal dari tahun 1190 dan mencatat pemakaiannya di kalangan pelaut. Lintang (posisi kapal yang terbentang dari 0° di khatulistiwa sampai 90° di Kutub Utara dan Kutub Selatan) dapat ditentukan oleh inklinometer—yang meliputi astrolabe, sextant, dan Jacob's staff—mengukur sudut antar horizon dan badan-badan kuat seperti matahati atau bulan. Lintang yang ditentukan secara akurat (posisi timur atau barat dari kapal pada beberapa titik sah) dianggap memiliki kesulitan yang lebih besar.[140]

Peta dunia Gerardus Mercator dari tahun 1569. Garis pesisir Dunia Lama lebih tergambar secara akurat, disamping distorsi besar dari proyeksi di kawasan kutub dan informasi tak jelas tentang benua Amerika.

Pada abad ke-15, para marinir Eropa Barat—dimulai dengan Portugal—mulai mengadakan pelayaran eksplorasi yang berlangsung lama, memakai penunjangan pada perhitungan bintang Islamis yang diterjemahkan dan berbagai perahu nelayan Afrika yang disebut karavel. pada 1473, Lopes Gonçalves melintasi khatulistiwa dan mematahkan pernyataan Aristotelian bahwa lingkar api akan menghalangi penjelajahan ke Hemisfer Selatan. Bartolomeu Dias memutari Tanjung Harapan pada 1487; pada 1498, Vasco da Gama mencapai Malindi, ketika seorang pilot lokal menunjukkannya cara mengikuti muson menuju India. Pada 1492, mengikuti estimasi salah dari pemutaran Bumi, Christopher Columbus asal Genoa berlayar dari Cadiz menuju Kepulauan Kanari dan memasuki Samudra Atlantik terbuka dalam sebuah upaya untuk mencapai dunia Timur oleh Spanyol. Pertukaran Kolumbian yang dihasilkan mengenalkan kentang, jagung dan lada ke Dunia Lama sementara wabah campak menjangkiti penduduk asli Amerika. Gangguan dan depopulasi ini membolehkan pendudukan cepat Spanyol dan berujung pada merebaknya adopsi perbudakan Afrika ke penanaman tembakau, tebu, indigo, dan kapas oleh manusia.

Pada 1519, Juan Sebastián Elcano menyelesaikan penjelajahan Spanyol oleh Magellan untuk pelayaran ke seluruh dunia.[8](h12f) Pelayaran tersebut dan pelayaran-pelayaran lainnya membolehkan peta-peta Eropa untuk menentukan tingkat akurasi yang sebelumnya tak memungkinkan. Pada 1538, Gerardus Mercator memajukan sebuah proyeksi peta yang menghimpun batas penanda (garis rhumb).[8](h12f) Di Samudra Arktik, pada 1594, kapten Belanda Willem Barentsz mencapai Svalbard dan Laut Barents sementara, di Samudra Antarktika, Anthony de la Roché melintasi Konvergensi Antarktika pada 1675 dan tiga pelayaran terpisah—satu Inggris, satu Amerika, dan satu Rusia—semua mengklaim penemuan Antarktika pada 1820.[141][142][143] Tak semua pelayaran penemuan bermula dari Eropa Barat. Meskipun perhitungan akurat dari pesisir Rusia baru dimulai pada abad ke-18 dan kepulauan Severnaya Zemlya tak ditemukan sampai 1910,[144] bangsa Novgorod telah berlayar ke Laut Putih sejak sekitar abad ke-13.[145] Disamping preferensi jangka panjang untuk autarki, Tiongkok secara singkat sempat terbuka di bawah masa pemerintahan dinasti-dinasti Song dan Yuan Mongol. Pada awal abad ke-15, armada kapal-kapal khazanah Cheng Ho berulang kali berlayar dari Tiongkok Ming dengan 37,000 orang di atas 317 kapal, mencapai sejauh pesisir Afrika.[8](h12f) Namun, penjalajahan Tiongkok kemudian kembali ditangguhkan dan pada akhirnya dilarang. Suku bangsa Asia Timur diperkenalkan kepada bentuk sebenarnya dari benua-benua lain dari peta-peta Matteo Ricci.

Sementara itu, penentuan lintang masih melibatkan perkiraan dan penebakan: perhitungan sebenarnya mengharuskan jam akurat yang membolehkan perbandingan antara siang di kapal dan waktu sebenarnya pada titik yang disahkan, seperti Royal Observatory di Greenwich. Penghargaan Lintang dari Britania Raya secara efektif dianugerahi pada 1773 kepada John Harrison yang belajar sendiri untuk arlogi laut buatannya dari tahun 1761. James Cook memakai sebuah jiplakannya pada pelayaran kedua dan ketiganya, yang mengkaji Samudra Pasifik[146] dan menginspirasi kajian-kajian dari Rusia, Perancis, Belanda dan Amerika Serikat.[8](h15) Penyelesaian kabel telegrafi selam di sepanjang Selat Inggris pada 1850 dan kemudian penghubung-penghubung dari All Red Line berujung pada peminatan yang lebih besar kepada laut dalam. Gagasan-gagasan sebelumnya bahwa tak ada ke hidupan di bawah 300 fathom (550 meter or 1.800 kaki) dipatahkan pada 1860 saat sebuah garis Laut Tengah digagalkan dan ditekan dari kedalaman yang empat kali lebih rendah, yang benar-benar diisi oleh kehidupan laut.[147] Penemuan "fosil-fosil hidup" oleh Michael Sars di fjord-fjord Norwegia membantu upaya-upaya Inggris termasuk pelayaran HMS Challenger pada 1870an[148] yang secara efektif menciptakan oseanografi modern.[8](h15) Dari 1878 sampai 1880, SS Vega sukses mengarungi Perlintasan Timur Laut dan mengitari Eurasia untuk pertama kalinya. Pada pertengahan 1890an, Fridtjof Nansen memakai sebuah kapal yang dirancang khusus untuk perjalanan melewati lapisan es utara, membuat Samudra Arktik menjadi laut terbuka. Pada 1898 dan 1899, Carl Chun memajukan dan mengkaji beberapa bentuk-bentuk kehidupan baru dari perairan Samudra Atlantik Selatan di bawah 4.000 m (13.000 ft).

Pada abad ke-20, Gjøa menjadi kapal pertama yang melewati Perlintasan Barat Laut pada 1906. Dari 1921, Organisasi Hidrografi Internasional di Monako telah menstandarisasi survei dan perhitungan laut[149] dan, dari 1924, Discovery Investigations mengkaji ikan paus dan memetakan laut di sekitaran Antarktika.[21] Batisfer bulat dapat turun sampai 434 meter (1.424 ft) pada 1930 di sebuah kabel[150] dan, pada 1940an, Jacques Cousteau membantu pengembangan gir skuba sukses pertama dan mengenalkan penyelaman bawah air. Perang Dingin dan eksplorasi minyak mendanai riset laut dalam: pada 1960, Trieste yang ditenagai sendiri dapat membawa krunya ke kedalaman 10.915 m (35.810 ft) dari Palung Mariana[151] dan seorang penyelam US Navy dengan sebuah pakaian selam atmosferik mencapai kedalaman 2.000 kaki (610 m) di bawah permukaan laut pada 2006.[152]

Saat ini, Global Positioning System (GPS) dari Amerika Serikat dapat mengakurasi navigasi seluruh dunia memakai lebih dari tiga puluh satelit dan pesan jangka waktu yang melibatkan relativitas umum.[146] Riset oseanografi terkini meliputi bentuk kehidupan laut, konservasi, lingkungan laut, kimia laut, kajian dan permodelan dinamika iklim, batas udara-laut, susunan cuaca, smber daya samudra, energi terbaharukan, arus dan gelombang, dan rancangan dan pengembangan alat dan teknologi baru untuk penyelidikan laut dalam.[153] Para peneliti memakai pengindraan terkendali berbasis satelit untuk perairan permukaan, dengan kapal-kapal riset, observatorium-observatorium bergerak dan kendaraan-kendaraan bawah air otonom untuk mengkaji dan memantau seluruh belahan laut.[154]

Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Rute-rute perkapalan, menampilkan kepadatan relatif dari perkapalan komersial di seluruh dunia

Perdagangan melewati perairan telah dipraktikkan sejak setidaknya saat peradaban timbul, saat Sumeria terhubung ke Harappan India.[155] Sekitar 2000 SM, bangsa Minoa dari Kreta mendirikan talasokrasi terawal, seuah kekaisaran maritim yang sangat bergantung pada kekuatan angkatan laut dan perdagangan mereka.[156] Berbagai kota-negara bangsa Foenisia dan Yunani kemudian menggantikan mereka berabad-abad setelah 1200 SM, secara mutlak mendirikan kekaisaran-kekaisaran kolonial jauh yang terbentang dari Laut Azov sampai pesisir Atlantik Maroko.[157] Di bawah kekuasaan Romawi, perdagangan tetap berkembang. Pada abad-abad pertama SM, suku-suku nomaden dari stepa yang melakukan perjalanan ke India demi emas SIberia menyebabkan mereka membuka rute-rute maritim ke Malaysia dan Indonesia,[158] mula-mula mengisi mereka dengan para pedagang Hindu dan kemudian para pedagang Muslim. Saat Kekaisaran Romawi runtuh, perdagangan Eropa menurun namun tetap berkembang di tempat lain.[159] Dinasti Chola Tamil mengembangkan perdagangan antara Tang Tiongkok, Kekaisaran Sriwijaya dan Kekhalifahan Abbasiyah di barat. Setelah penaklukan-penaklukan lanjutan, bangsa Arab mendominasi perdagangan maritim di Samudera Hindia, menyebarkan Islam di sepanjang pesisir Afrika Timur dan, kemudian, Asia Tenggara.[160] Dampak besar Abad Penemuan adalah penyatuan jaringan dagang regional di dunia ke dalam pasar dunia tunggal, kebanyakan dijalankan oleh dan untuk para penguasa Eropa dan para pedagang Amsterdam, London, dan pelabuhan-pelabuhan Atlantik lainnya. Dari abad ke-16 sampai ke-19, sekitar 13 juta orang berlayar melewati Atlatik untuk menjual para budak di benua Amerika.[161] Trofi Hales adalah penghargaan untuk perlintasan komersial tercepat Atlantik dan dimenangkan oleh SS United States pada 1952 untuk perlintasan selama tiga hari, sepuluh jam, dan empat puluh menit.[162]

Saat ini, sejumlah besar barang ditransportasikanlewat laut, khususnya sepanjang Atlantik dan sekitaran Lingkar Pasifik. Rute perdagangan besar terjadi pada Pilar-Pilar Herkules, sepanjang Laut Tengah dan Terusan Suez menuju Samudera Hindia dan melalui Selat Malaka; kebanyakan perdagangan juga melewati Selat Inggris.[163] jalur-jalur perkapalan adalah rute laut terbuka yang dipakai oleh kapal-kapal kargo, yang secara tradisional memakai arus dan gelombang perdagangan. Lebih dari 60 persen lalu lintas kontainer dunia melewati dua puluh rute dagang papan atas.[164] Peningkatan pelelehan es Arktik sejak 2007 membuat kapal-kapal dapat melewati Perlintasan Barat Laut selama beberapa pekan saat musim panas, menghindari rute-rute yang lebih panjang melewati Terusan Suez atau Terusan Panama.[165] Perkapalan tersuplementasi oleh kargo udara, sebuah proses yang lebih menghabiskan biaya yang banyak dipakai untuk karya yang lebih bernilai atau tak tahan lama. Perdagangan laut menggelontorkan lebih dari US $4 triliun setiap tahun.[166]

Terdapat dua jenis kargo utama, kargo curah dan kargo curah cair atau kargo umum, kebanyakan sekarang ditransportasikan dalam kontainer. Komoditas-komoditas dalam bentuk cair, bubuk atau partikel diangkut dalam ruang-ruang dari kapal kargo curah dan meliputi minyak, bahan pokok, batubara, bijih, metal keping, pasir dan kerikil. Kargo curah cair biasanya meliputi barang-barang pabrik dan sitransportasikan dalam kemasan, seringkali diletakkan di atas palet. Sebelum kemunculan kontainerisasi pada 1950an, barang-barang disimpan, ditransportasikan dan dikeluarkan satu per satu.[167] Pemakaian kontainer sangat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya untuk memindahkan mereka[168] dengan kebanyakan kargo saat ini dibawa dengan kontainer terkunci dan berukuran standar yang diangkut di kapal-kapal kontainer yang dirancang khusus di terminal-terminal yang ditentukan.[169][169] Firma-firma pengurus kargo membukukan kargo, mengatur pengemasan dan pengiriman, dan mengadakan dokumentasi.[170] Keamanan perkapalan diatur oleh Organisasi Maritim Internasional, yang berbasis di London dan pertama kali dibentuk pada 1959. Tujuannya meliputi pengembangan dan pengutamaan pengerjaan regulatori untuk perkapalan, keamanan maritim, perhatian lingkungan, materi-materi hukum, kerjasama teknikal dan keamanan maritim.[171]

Perikanan[sunting | sunting sumber]

Kapal-kapal Brixham abad ke-19 sedang bekerja.

Menombak ikan dengan harpun tajam di sepanjang pesisir laut merebak pada zaman Palaeolitikum.[172] Kolam-kolam ikan mengitari kuil-kuil Sumeria pada 2500 SM dan teks klasik Tionghoa yang dikaitkan dengan pengusaha abad ke-5 SM Fan Li[173] adalah karya terawal yang diketahui tentang budi daya ikan.[174] Sebuah frgamen yang masih ada dari catatan Parthia abad ke-1 karya Isidorus dari Charax menyebut penyelaman bebeas warga lokal untuk perburuan mutiara di Teluk Persia,[175] dan Halieutics karya Oppian dari abad ke-2 menyebut empat metode pancing Yunani dan Romawi utama sebagai kail-dan-benang, menjaring, menjebak, dan triden.[176]

Perahu-perahu nelayan tradisional beroperasi di perairan dekat pesisir namun, pada Abad Pertengahan Akhir dan Zaman Modern Awal, pemancingan di laut terbuka—terutama ikan kod—menjadi penting pada pengembangan ekonomi dan angkatan laut Eropa Utara, New England, dan Kanada.[177] Pemancingan berlebihan di sepanjang pesisir Laut Utara menimbulkan pengembangan para pemancing dalam laut seperti kapal Brixham[178] dan kapal berang-berang, yang dijadikan sebagai kapal induk untuk dori-dori benang panjang;[179] pada abad ke-19, kemajuan-kemajuan seperti transportasi kereta api, pengalengan dan kulkas membolehkan perikanan menjadi sebuah industri yang ditopang penuh. Penerapan sonar pada masa peperangan dunia diadaptasi sebagai pencari ikan dan, pada 1950an, kapal-kapal faktori besar menangkap dan mengolah beberapa ikan dalam sejam seperti halnya kapal-kapal para masa sebelumnya dalam suatu musim.[179] Pada 1960an, pemancingan Atlantik Utara dan Pasifik Utara mendekati eskploitasi maksimal.

Setelah penangkapan dari pemancingan laut liar bertumbuh dari 18 juta ton metrik (20 juta ton) pada 1950 menjadi sekitar 85 juta ton metrik (​93 12 juta ton) pada akhir 1980an, pemancingan masih merupakan suatu hal esensial.[180][j] Reformasi ekonomi Tiongkok berujung pada pertumbuhan masif produksi perikanannya, dari 7% dari total dunia pada 1961 menjadi 35% pada 2010.[180] Kajian-kajian saintifik dari dinamika populasi dan nasionalisasi perairan berbagi sama-sama membantu mengatasi eksploitasi berlebihan namun kesuksesan perikanan komersial modern telah mengharuskan tindakan-tindakan yang lebih korektif: kejatuhan pemancingan ikan kod di Grand Banks sampai kurang dari 1% dari tingkat masa lalunya mengharuskan moratorium penuh oleh Kanada pada 1992[181] dan Tiongkok telah memberlakukan kebijakan pertumbuhan nol dalam penangkapan liarnya sejak 2000, mengalihkan industrinya ke akuakultur;[182] larangan tahunannya selama berbulan-bulan terhadap pemancingan di kawasan-kawasan sengketa Laut Tiongkok Selatan menimbulkan protes dari negara-negara tetangga.[183]

Kapal faktori ikan paus Tonan Maru №2 empat kali ditorpedo namun pulih atau bangkit setiap kali.[184] Dibangun dari rancangan Norwegia, armada perburuan ikan paus Jepang menyediakan setengah suplai daging di negara tersebut pada masa pendudukan Amerika Serikat dan masih paling aktif di dunia. Para pemburu ikan paus serupa di Eropa menginspirasi kapal-kapal pengolahan ikan pada masa sekarang.[179]

Pada 2006, terdapat sekitar 43.5 juta orang yang terlibat dalam penangkapan atau pembudidayaan makanan laut, 85.5% berasal dari Asia. Sekitar ​ 34 adalah nelayan dan sisanya adalah pembudidaya ikan.[185] Pada 2012, total produksi global ikan, krustasea, moluska, dan hewan akuatik lainnya mencapai rekor 158 juta ton metrik (174 juta ton), 91.3 juta ton metrik (100 juta ton) diantaranya ditangkap di alam liar.[186] Ini juga merupakan rekor jika menghiraukan teri Peru,[186] yang populasinya dapat berkembang secara dramatis dengan kedatangan El Niño.[187][188] Tren keseluruhan tersebut masih meningkat, disamping peningkatan akuakultur di perairan tanah dalam dan marikultur di laut ketimbang penangkapan yang lebih tinggi di alam liar. Zona ekonomi eksklusif di sekitaran pesisir negara di bawah rezim UNCLOS mengijinkan negara-negara untuk mengatur kuota dan sistem manajemen lainnya[189] sepanjang kawasan-kawasan paling produktif di laut, terhitung untuk sekitar 87% dari pemanenan tahunan.[190] Hasilnya terkadang bersifat dramatis—hasil perikanan sepanjang Perang Dunia Pertama melipatgandakan tangkapan tahun 1913 pada tahun 1919 di Laut Utara[179]—dan terkadang berkurang: selama dua dekade, tingkat ikan kod di Grand Banks masih hanya 10% pada puncaknya. Pada saat ini, spesies yang paling banyak ditangkap adalah herring, kod, teri, tuna, flounder, mullet, cumi-cumi, dan salmon. Sejumlah ikan tersebut, beserta ikan predator besar,[191] masih berada di bawah tingkatan pada masa lalu.[192]

Pukat cincin mengangkat sekitar 360 ton metrik (400 ton) mackerel di lepas Peru.

Lebih dari 3 juta kapal dimajukan dalam pemancingan laut.[190] Kapal-kapal pemancingan modern meliputi kapal-kapal nelayan dengan kru kecil, kapal-kapal buritan, kapal-kapal pukat cincin, kapal-kapal faktori benang panjang, dan kapal-kapal faktori besar yang dirancang untuk bertahan di laut selama berpekan-pekan, mengolah dan membekukan sejumlah besar ikan. Alat yang dipakai untuk menangkap ikan adalah pukat cincin, pukat lainnya, pukat harimau, pengeruk, jaring insang, dan benang panjang. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa mendorong pengembangan perikanan lokal untuk menyediakan keamanan pangan untuk masyarakat pesisir dan membantu pemberantasan kemiskinan.[193]

Budidaya Salmon di lepas Vestmanna, Kepulauan Faroe.

Seperti halnya stok alam liar, sekitar 79 juta ton metrik (87 juta ton) produk pangan dan non-pangan diproduksi lewat budidaya laut pada 2010, jumlah yang tinggi sepanjang masa. Sekitar enam ratus spesies tumbuhan dan hewan dibudidayakan, beberapa dipakai untuk memberi makan populasi alam liar. Hewan-hewan yang dikembangkan meliputi ikan, reptil air, krustasea, moluska, ketimun laut, landak laut, pepancut laut, dan ubur-ubur.[194] Marikultur terintegrasi telah memajukan suplai pangan planktonik yang cepat tersedia dan meniadakan limbah secara alamiah;[195] dalam kasus-kasus dimana limbah dapat bersifat berbahaya, teknik-teknik multi-spesies dapat dipakai, contohnya untuk memberi makan kerang yang dibudidayakan dari limbah yang diproduksi oleh salmon yang dibudidayakan.

Berbagai metode dikerahkan. Penutupan jaring untuk ikan sirip dapat dilakukan di laut terbuka, kandang-kandang dapat dipakai di perairan yang lebih terlindung, atau kolam-kolam dapat disegarkan dengan air setiap pasang tinggi. Udang dapat melangka di kolam-kolam dangkal yang terhubung dengan laut terbuka.[196] Jaring-jaring dapat digantung di perairan untuk menumbuhkan alga, tiram, dan kerang. Tiram dapat ditempatkan di nampan atau di dalam tabung jala. Ketimun laut dapat dibudidayakan di dasar laut.[197] Program-program pembuahan tangkapan yang membesarkan larva-larva lobster untuk membebaskan lobster-lobster remaja ke alam liar menghasilkan peningkatan panen lobster di Maine.[198] Sekitar 145 spesies rumput laut—alga merah, hijau, dan coklat—disantap di seluruh dunia, beberapa lama dibudidayakan di Jepang dan negara-negara Asia lainnya; terdapat potensi besar untuk budidaya alga tambahan.[199] Beberapa tumbuhan maritim berbunya banyak dipakai untuk pangan, contohnya adalah samfir rawa, yang dimakan mentah atau masak.[200] Kesulitan besar dari budidaya air adalah tendensi terhadap budidaya tunggal dan resiko terhadap perebakan penyakit. Pada 1990an, penyakit menjangkiti kerang Farrer dan udang putih dan mengharuskan penggantian mereka dengan spesies lainnya.[201] Budi daya udang juga menyebabkan kehancuran hutan-hutan bakau di sepanjang Asia Tenggara.[202]

Hukum[sunting | sunting sumber]

Hukum maritim adalah bagian dari hukum nasional yang diterapkan kepada pertanyaan dan tawaran maritim, karena ketidaktentuan perjalanan-perjalanan laut telah menyebabkan laut dipandang sebagai yurisdiksi unik sejak zaman kuno. Hukum-hukum Rhode, Romawi, Bizantium, Trani, dan Amalfia adalah pengaruh penting pada kitab-kitab Perancis, Genoa, dan Hanseatik yang menghimpun pengadilan maritim Inggris. Tak seperti sistem hukum umum Inggris biasanya, pengadilan maritim lebih menyamai praktik kontinental, membiarkannya terbuka untuk penyalahgunaan yang berkontribusi pada Revolusi Amerika.[204] Adopsi konstitusi saat ini memperkenalkan ulang hukum maritim ke Amerika Serikat, namun dengan lingkup yang relatif lebih besar untuk pengadilan oleh juri.

Hukum Laut adalah bagian utama dari hukum internasional yang diterapkan kepada pertanyaan dan tawaran maritim. Kekaisaran-kekaisaran seperti Romawi dan Tiongkok lama mengklaim yurisdiksi universal; pada Abad Pertengahan republik-republik maritim Italia seperti Venesia dan Genoa mengakui keberadaan negara-negara namun mengklaim hak untuk mendekati laut pada lalu lintas mereka. Portugis dan Spanyol meraih hak yang sama atas laut dan darat baru pada Abad Penemuan dan dukungan kepausan atas klaim-klaim mereka adalah sebuah faktor dalam Peperangan Agama; pada 1609, seorang yuris diundang untuk membela sebuah tindakan pembajakan lukratif oleh Perusahaan Hindia Belanda dengan menuliskan Mare Liberum,[205] sebuah argumen yang menjunjung kebebasan kelautan yang secara mutlak menghasilkan kompromi[206] atas teritorial yang terbentang sejauh tembakan meriam yang berbasis di darat yang dapat mencapai jarak terstandarisasi sampai 3 mil nautikal (5.556 m or 18.228 ft), dan setiap hal yang lebih dari itu adalah perairan internasional.[207] Presiden Woodrow Wilson menganggap prinsip tersebut sebagai bagian dari pemasukan Amerika Serikat ke Perang Dunia II dan sebagai salah satu Empat Belas Poin buatannya pada masa setelahnya; selain itu, klaim yurisdiksi unilateral oleh Presiden Harry S. Truman atas penambangan minyak dari landas benua Amerika pada 1945[208] seacara langsung berujung pada akhir rezim tersebut .[207] Tiga putara konferensi-konferensi tentang Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa kemudian membentuk ulang hukum maritim internasional namun Amerika Serikat tak meratifikasi perjanjian yang ada namun sebagai gantinya mengadopsi potongan kebijakannya melalui proklamasi presidensial.

Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (United Nations Convention on the Law of the Sea, UNCLOS) saat ini dirancang pada 1982 dan berlaku pada 1994.[77] Konvensi tersebut menyatakan bahwa "laut-laut tinggi terbuka untuk seluruh negara, entah itu pesisir atau terkurung daratan" dan menyediakan daftar kebebasan tanpa diganggu gugat yang meliputi navigasi, mengudara, menghimpun kabel bawah air, pembangunan pulau-pulau buatan, perikanan, dan riset saintifik.[209] Ini meliputi perairan teritorial berjarak lebih dari 12 mil nautikal (222 km or 138 mi) dari garis pangkal secara umum (namun tidak selalu) setara dengan garis perairan rendah; kawasan ini adalah subyek hukum nasional namun dibebaskan untuk perlintasan transit dan tak bersalah. (kawasan tanah "perairan internal" dari garis pangkal secara tunggal berada di bawah kontrol nasional.) "Zona kontigous" dari 12 nmi selanjutnya diijinkan untuk penghentian seketika kapal-kapal yang dinyatakan melanggar hukum bea cukai, pajak, imigrasi atau polusi di perairan teritorial. "Zona ekonomi eksklusif" atau ZEE menempati seluruh eksploitasi kehidupan laut dan mineral dari garis pangkal di bawah pengawasan nasional. Untuk keperluan hukum, landas benua" dianggap merupakan landas benua sebenarnya (sampai kedalaman 200 m or 660 ft) yang terbentang sampai garis pangkal atau 200 nmi, mungkin lebih besar; kehidupan laut dan mineral yang "menyentuh" (atau di bawah) dasar laut dalam kawasan tersebut juga berada di bawah pengawasan nasional.[207]

Kapal-kapal melintasi sejumlah zona waktu pada sebuah pelayaran, sehingga waktu nautikal, yang diperkenalkan pada 1920an, dipakai di perairan internasiona. Setiap zona semacam itu secara seragam berada di 15 derajat dari lebar longtitude, jam kapal dimajukan satu jam per zona saat melewati kawasan timur.[210]

Perang[sunting | sunting sumber]

Sebuah galley Bizantium memakai api Yunani melawan kapal-kapal pemberontak pada abad ke-9.

Sejak pengembangan armada kapal terkoordinasi yang dapat mendaratkan pasukan invasi, perang angkatan laut telah menjadi aspek penting dalam pertahanan (atau penaklukan) negara-negara maritim. Pertempuran angkatan laut pertama dalam sejarah tertulis adalah saat Suppiluliuma II dari Hittite membakar armada Siprus di laut pada 1210 SM.[211] Tak lama setelahnya, armada Suku-suku Laut mengganggu seluruh Laut Tengah Timur: sepanjang periode sekitar 50 tahun, penyerbuan dan invasi benar-benar menghancurkan hampir seluruh kota pesisir antara Pylos dan Gaza.[212]

Saat kekaisaran-kekaisaran bertumbuh dan angkatan bersenjata mereka menjadi terlalu besar untuk mendiami lepas daratan melalui yang mereka lewati, gangguan armada suplai mereka juga menjadi taktik berkuasa. Pertempuran Salamis pada tahun 480 SM banyak menentukan Peperangan Persia[213] bukan karena kerusahan inherennya namun (dianggap) karena keputusan dan strategi superior Temistokles meninggalkan masyarakat Athena yang dapat mengganggu suplai laut atas kehendaknya dan secara potensial menyerang jembatan-jembatan ponton di sepanjang Hellespont, memotong jalur retret Persia.[214] Namun, pada zaman kapal-kapal kayu, armada besar menjadi masalah utama dan sering mengalami kehancuran oleh cuaca buruh, yang paling terkenal dalam kasus dua topan kamikaze yang menghancurkan invasi Jepang oleh Mongol pada 1274 dan 1281 M.

Pembajakan—baik dalam keadaan gelap pada zaman Silisia dan Tiongkok kuno dan didukung negara di kalangan Kreta, Viking, Jepang, Inggris, dan Berber[215]—masih menjadi masalah sampai masa sekarang, menimbulkan keterlibatan dalam perlindungan setiap kapal pedagang atau penerapan kebijakan garis pesisir khusus.[216]

Perang angkatan laut pada Abad Pelayaran: lukisan kontemporer dari Pertempuran Gravelines tahun 1588, yang membantu pengusiran Armada Spanyol

Di dunia kuno, selain pertempuran Salamis, pertikaian laut besar meliputi Pertempuran Actium, yang mengijinkan pendirian Kekaisaran Romawi oleh Augustus. Pada era modern, pertempuran-pertempuran laut penting meliputi kemenangan Inggris melawan Armada Spanyol pada 1588 dan di Pertempuran Trafalgar pada 1805,[217] yang mematahkan ancaman invasi oleh pasukan darat superior keiasaran-kekaisaran Spanyol dan Perancis.

Perang angkatan laut modern: sebuah torpedo menyerang USS West Virginia pada serangan Pearl Harbor oleh Jepang.

Dengan tenaga uap, lempeng baja produksi massal, dan alat ledak, kapal-kapal meriam Eropa memulai Imperialisme Baru pada abad ke-19, memaksa akses terbuka ke Afrika, Tiongkok, Korea, dan Jepang untuk perdagangan mereka dalam hal positif. Meskipun politik internal mencederai modernisasi Tiongkok, kekuatan angkatan laut Amerika menimbulkan reformasi besar di Jepang yang membuahkan hasil pada Pertempuran Tsushima tahun 1905 saat Jepang dapat mengalahkan Rusia.[219] Angkatan-angkatan laut besar awalnya memfokuskan upaya mereka pada pembangunan kapal tempur dan dreadnought besar, namun alat-alat tersebut baru benar-benar dipakai pada Perang Dunia Pertama.[220] Sebaliknya, U-Boot Jerman yang lebih murah menunjukkan bahwa kapal-kapal selam dapat melakukan pelayaran bahkan di perairan yang secara nominal dikendalikan oleh musuh.[221]

Konvoi, intelijensi, dan perang anti-kapal selam udara memenangkan sebuah kemenangan pertarungan yang sulit dalam Pertempuran Atlantik pada Perang Dunia Kedua,[222] namun pengembangan alat fisika terapan menandakan bahwa kapal selam misil balistik bertenaga nuklir pada 1960an merupakan alat patroli utama sebagai pasukan serangan kedua[223] bersama dengan serangkaian pasukan kedua yang bertujuan untuk melawan mereka. Selain itu, pertempuran-pertempuran di teater-teater perang Laut Tengah[224] dan Pasifik[225][226] telah menunjukkan bahwa kekuatan udara dapat melampaui kapal-kapal perang terkuat.

Perjalanan[sunting | sunting sumber]

Meskipun pemakaian kapal privat kecil untuk transportasi pribadi dinyatakan telah ada sejak zaman pra-sejarah, kapal-kapal besar yang dapat mengarungi samudera terbuka biasanya ditujukan untuk perdagangan atau perikanan untuk sebagian besar sejarah manusia. Bahkan kampanye-kampanye militer seringkali akan mengundang atau mengkomandani kapal-kapal privat tersebut untuk dijadikan sebagai transportasi pasukan, seperti yang dilakukan para pedagang, peziarah, dan wisatawan kaya dari zaman kuno dan Abad Pertengahan. Pelayaran eksplorasi dan kolonisasi seringkali disediakan oleh penguasa dari dana angkatan laut; saat mereka tak dapat melakukannya, mereka biasanya menyewa atau membeli dan kemudian memakainya untuk suplai perkapalan setelah pemukiman awal. Layanan penumpang lokal terjadwal dan terdedikasi muncul pada abad ke-16 dan ke-17, namun Bola Hitam tahun 1817 adalah jalur penumpang trans-Atlantik pertama. Pada Abad Pelayaran, jangka waktu perlintasan semacam itu tergantung pada arah mata angin dan cuaca. Kapal-kapal Margate pesisir abad ke-18 mulai mentenarkan perjalanan waktu luang di Britania dan Irlandia[227] yang kemudian ditambahkan dengan tenaga uap pada perjalanan keliling Thomas Cook pada abad berikutnya.[228]

Pada abad ke-19, kapal samudera bertenaga uap menghubungkan jaringan jalur kereta api di seluruh dunia. Pada 1900, perlintasan Atlantik menghabiskan waktu sekitar lima hari dan jalur penumpang dipertandingkan untuk memenangkan Blue Riband, sebuah penghargaan tak resmi yang ditujukan untuk kapal tercepat dalam layanan reguler. Untuk dua puluh tahun dari 1909, penghargaan tersebut diberikan kepada RMS Mauretania untuk rata-rata kecepatan 26.06 knot (48.26 km/h).[229] Era ini menandai ketersediaan penerbangan antar-benua yang lebih cepat murah, terutama rute New York CityParis tahun 1958.[230]

Laut masih menjadi tempat untuk pelayaran rekreasional dan kapal-kapal pesiar besar. Laut juga merupakan rute untuk pengungsi dan migran ekonomi, beberapa berlayar memakai perahu kecil dan yang lainnya diseludupkan ke kapal-kapal dagang. Beberapa orang melarikan diri dari penindasan sementara beberapa oranga dalah migran ekonomi yang berniat untuk mencari negara yang mereka anggap membuat mereka lebih makmur.[231]

Waktu luang[sunting | sunting sumber]

Pemakaian laut untuk waktu luang berkembang pada abad kesembilan besar dan menjadi industri signifikan pada abad kedua puluh.[232] Kegiatan waktu luang maritim beragam dan meliputi kunjungan yang diadakan sendiri dengan pesiar, yachting, balap perahu motor[233] dan memancing;[234] secara komersial menghimpun pelayaran di kapal-kapal pesiar;[235] dan perjalanan memakai kapal-kapal kecil untuk pariwisata ekologi seperti melihat ikan paus dan melihat burung di pesisir.[236]

Penyelam dengan masker wajah, kaki katak dan alat bantu pernapasan bawah air

Beberapa manusia menikmati hiburan di laut: anak-anak bermain dan berenang di wilayah perairan dangkal, sementara yang lainnya berenang atau berrehat di pantai. Ini seringkali bukanlah kasus, sampai permandian laut menjadi hal umum di Eropa pada abad ke-18 setelah Dr. William Buchan mendorong praktik tersebut untuk alasan kesehatan.[237] Selancar adalah olahraga dimana ombak diarungi oleh peselancar, dengan atau tanpa papan selancar. Olahraga perairan lainnya meliputi selancar layangan, dimana sebuah layangan bertenaga diikatkan pada papan selancar di sepanjang perairan ;[238] selancar angin, dimana tenaga disediakan oleh layar bermanuver dan khusus;[239] dan ski air, dimana perahu motor dipakai untuk mendorong seorang pemain ski.[240]

Disamping permukaan, selam bebas dibatasi untuk wilayah dangkal. Para pemburu mutiara secara tradisional meminyaki kulit mereka, menempatkan kapas di telinga mereka dan menjepit hidung mereka, dan menyelam sedalam 40 ft (12 m) dengan keranjang-keranjang dalam rangka mengumpulkan kerang-kerang mutiara.[241] Mata manusia tak dapat beradaptasi untuk dipakai di bawah air, namun penglihatan dapat ditunjang dengan memakai masker selam. Alat lainnya yang dipakai meliputi kaki katak dan snorkel. Alat bantu pernapasan bawah air membolehkan penapasan di bawah air selama berjam-jam sebelum kembali ke permukaan.[242] Kedalaman yang dapat dicapai oleh penyelam dan jangka waktu dimana mereka dapat bertahan di bawah air dibatasi oleh peningkatan tekanan yang mereka alami saat mereka turun dan kebutuhan untuk menghindari penyakit dekompresi saat mereka kembali ke permukaan. Penyelam rekreasional dinasehati untuk membatasi diri mereka sendiri sampai kedalaman di bawah 100 kaki (30 m) karena kedalaman yang lebih dari itu memiliki bahaya terhadap peningkatan nitrogen narkosis. Penyelaman ke kedalaman yang lebih dalam dapat dilakukan dengan alat dan pelatihan khusus.[242]

Pembangkit listrik[sunting | sunting sumber]

Pembangkit listrik tenaga air pasang pertama di dunia: Pembangkit Listrik Tenaga Air Pasang Rance sepanjang satu kilometer, yang menghasilkan sekitar 540 GWh per tahun, sekitar 3% dari total konsumsi listrik Brittany (2011).[243]

Laut memberikan supaki energi yang sangat besar yang dibawa oleh arus samudera, pasang laut, perbedaan salinitas, dan perbedaan suhu samudera yang dapat menunjang kelistrikan tergenerasi.[244] Bentuk energi laut 'hijau' meliputi tenaga air pasang, tenaga arus laut, tenaga osmotik, energi termal samudera dan tenaga gelombang.[244][245]

Tenaga air pasang memakai generator untuk menghasilkan listrik dari arus pasang, terkadang memakai bendungan dan kemudian merilis air laut. Pembangkit Listrik Tenaga Air Pasang Rance, sepanjang 1 kilometer (0,62 mi), di dekat St Malo, Brittany dibuka pada 1967; pembangkit listrik tersebut menggenerasikan sekitar 0.5 GW, namun mengikuti beberapa skema-skema serupa.[8](h111f)

Energi arus yang besar dan sangat beragam memberikan mereka kapabilitas destruktif, membuat mesin-mesin arus memiliki masalah untuk dikembangkan. Pembangkit listrik tenaga arus komersial 2 MW kecil, "Osprey", dibangun di Skotlandia Utara pada 1995 di sekitar 300 meter (1000 kaki) dari lepas pantai. Mesin tersebut kemudian rusak akibat arus, kemudian hancur akibat badai.[8](h112) Kekuatan arus samudera dapat menyediakan kawasan berpenduduk yang dekat dengan laut dengan bagian signifikan dari kebutuhan energi mereka.[246] Dalam prinsipnya, mesin tersebut ditunjang oleh turbin putar terbuka; sistem dasar laut tersedia, namun terbatas pada kedalaman sekitar 40 m (130 ft).[247]

Pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai ditangkap oleh turbin angin yang ditempatkan di laut; ini digerakkan kecepatan angin yang lebih tinggi ketimbang di darat, meskipun kincir angin sangat menghabiskan biaya untuk dibangun di lepas pantai.[248] Kincir angin lepas pantai pertama dipasang di Denmark pada 1991,[249] dan kapasitas kincir angin lepas pantai Eropa mencapai 3 GW pada 2010.[250]

Pembangkit listrik seringkali berada di pesisir atau di samping muara sehingga laut dapat dipakai sebagai pendingin mesin. Pendingin mesin yang lebih dingin membuat pembangkit listrik menjadi lebih efisien, yang utamanya berpengaruh pada pembangkit listrik tenaga nuklir.[251]

Industri ekstraktif[sunting | sunting sumber]

Sebuah penanaman desalinasi reverse osmosis

Terdapat deposit-deposit besar dari minyak bumi (minyak dan gas alam) di bebatuan pada dasar laut. Platform-platform minyak dan tempat pengeboran menyedot minyak atau gas dan menyetornya untuk transportasi darat. Produksi minyak dan gas lepas pantai dapat menyulitkan karena berada di lingkungan terjal.[252] Pengeboran minyak di laut memiliki dampak lingkungan. Hewan-hewan dapat terusik oleh arus-arus seismik yang dipakai untuk menempatkan deposit-deposit, mungkin menyebabkan pendamparan ikan paus.[253] Unsur-unsur berbahaya seperti merkuri, timbal dan arsenik dapat timbul. Infranstruktur dapat menyebabkan kerusakan dan minyak dapat bocor.[254]

Asap hitam mengeluarkan sulfida terpecah dan mineral lainnya yang dapat menimbulkan pemanasan berlebihan di kawasan perairan.

Laut dapat terdiri dari sejumlah mineral berharga.[255] Garam untuk pemakaian meja dan industrial dipanen oleh penguapan matahari dari kolam-kolam air dangkal sejak zaman prasejarah. Bromin, yang terakumulasi setelah dipisahkan dari tanah, secara ekonomis diangkat dari Laut Tengah, dimana unsur tersebut meliputi 55,000 paruh per juta (parts per million, ppm).[256] Mineral lainnya di atas atau di dalam dasar laut dapat dieksploitasi oleh pengerukan. Ini telah memajukan pertambangan berbasis lahan pada alat yang dapat dibangun di galangan kapal khusus dan memiliki biaya infrastruktur yang rendah. Kerugian meliputi masalah yang disebabkan oleh gelombang dan pasang surut, kecenderungan penggalian meluruh ke atas, dan terbasuhnya sisa timbunan. Terdapat resiko erosi pesisir dan kerusakan lingkungan.[257] Deposit-deposit sulfida adalah sumber potensial dari perak, emas, tembaga, timbal, zinc, dan metal-metal yang baru ditemukan pada 1960an. Mereka terbentuk saat perairan mengalami pemanasan berlebihan secara geotermal yang timbul dari ventilasi-ventilasi hidrotermal laut dalam yang dikenal sebagai "asap hitam": dalam kontak dengan perairan dingin dari samudra dalam, mineral-mineral tersebut berpresipitasi dan terdiam di antara ventilasi. Tambang-tambang tersebut memiliki kualitas yang tinggi namun membutuhkan banyak biaya untuk pengambilannya.[258] Pertambangan skala kecil dari dasar laut dalam dikembangkan di lepas pantai Papua Nugini memakai teknik-teknik robotik, namun menghadapi sejumlah rintangan.[259]

Desalinasi adalah teknik menghilangkan garam dari air laut untuk dijadikan air tawar yang layak untuk minum atau irigasi. Dua metode pengolahan utama, distilasi vakum dan reverse osmosis, memakai kuantitas energi yang besar. Desalinasi biasanya hanya dilakukan saat air tawar dari sumber lainnya berada dalam suplai sedikit atau energinya banyak, karena ini membutuhkan pemanas yang ditimbulkan dari pembangkit listrik. Air asin diproduksi sebagai produk yang terdiri dari beberapa material toksin dan dikembalikan ke laut.[260]

Kuantitas besar metana klatrat timbul di dasar laut dan sedimen samudera pada suhu sekitar 2 °C (36 °F) dan diminati sebagai sumber energi potensial. Beberapa orang memperkirakan jumlah yang tersedia berkisar antara satu sampai 5 juta kilometer kubik (0.24 sampai 1.2 juta mil kubik).[261] Selain itu, mangan nodul di dasar laut membentuk lapisan besi, mangan, dan hidroksida lainnya di sekitaran sebuah inti. Di Pasifik, ini meliputi sampai 30 persen dasar samudera dalam. Mineral-mineral tersebut terpresipitasi dari air laut dan berkembang secara sangat perlahan. Pengambilan komersial mereka untuk nikel diselidiki pada 1970an namun ditinggalkan untuk beralih ke sumber-sumber yang lebih mudah.[262] Di lokasi-lokasi layak, berlian dikumpulkan dari dasar laut memakai selang hisap untuk mengirim butiran ke pesisir. Di perairan yang lebih dalam, perangkak dasar laut bergerak dipakai dan deposit-deposit dipompa ke sebuah kapal yang berada di atasnya. Di Namibia, berlian-berlian sekarang lebih banyak dikumpulkan dari sumber-sumber laut ketimbang melalui metode-metode konvensional di darat.[263]

Polusi[sunting | sunting sumber]

Beberapa substansi memasukki laut sebagai akibat kegiatan manusia. Produk-produk kombusi terbawa udara dan terdeposit melalui presipitasi. Aliran pertanian, industrial dan pengolahan limbah mengkontribusikan metal berat, pestisida, PCB, disinfektan, produk pembersih, dan kimia sintetis lainnya. Ini menjadi terkonsentrasi pada lapisan permukaan dan dalam sedimen laut, khususnya lumpur muara. Akibat seluruh kontaminasi ini banyak yang masih belum diketahui karena substansi yang terlibat berjumlah banyak dan kurangnya informasi tentang dampak biologis mereka.[264] Metal-metal berat yang banyak diperhatikan adalah tembaga, timbal, merkuri, kadmium, dan zinc yang terakumulasi oleh invertebrata-invertebrata laut. Mereka kemudian merasuki rantai makanan.[265]

Terhambatnya fertilisasi dari lahan pertanian adalah sumber polusi besar di beberapa kawasan dan melepaskan limbah mentah yang memiliki dampak yang sama, Nutrien-nutrien tambahan yang disediakan oleh sumber-sumber tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Nitrogen seringkali merupakan faktor terbatas dalam sistem laut dan tambahan nitrogen menimbulkan ledakan alga dan pasang merah, yang kemudian merendahkan tingkat oksigen dari air sampai titik dimana hewan-hewan laut dapat mati. Peristiwa semacam itu menciptakan zona mematikan di Laut Baltik dan Teluk Meksiko.[266] Beberapa ledakan alga disebabkan oleh sianobakteria yang membuat kerang yang dimakan hewan penyaring menjadi racun, membahayakan hewan-hewan seperti berang-berang laut.[267] Fasilitas nuklir juga dapat menimbulkan polusi. Laut Irlandia terkontaminasi oleh caesium-137 radioaktif dari bekas pabrik pengolahan bahan bakar nuklir Sellafield[268] dan kecelakaan-kecelakaan nuklir terkadang menyebabkan material radioaktif terbawa ke laut, seperti halnya di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Daiichi Fukushima pada 2011.[269]

Pembuangan limbah (yang meliputi minyak, cairan noksius, kotoran dan sampah) ke laut diatur oleh hukum internasional. Konvensi London (1972) adalah sebuah perjanjian Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengendalikan pembuangan ke samudera yang diratifikasi oleh 89 negara pada 8 Juni 2012.[270] MARPOL 73/78 adalah sebuah konvensi untuk meminimalisir polusi laut oleh kapal-kapal. Pada Mei 2013, 152 negara maritim meratifikasi MARPOL.[271]

Kebanyakan sampah plastik yang mengambang tak mengalami penguraian, dan malah bertahan sepanjang waktu dan kemudian mempengaruhi sampai tingkat molekular. Plastik-plastik kaku dapat mengambang selama bertahun-tahun.[272] Di tengah gir Pasifik, terdapat sejumlah besar sampah plastik mengambang[273] dan terdapat kumpulan sampah serupa di Atlantik.[274] Burung-burung laut seperti albatros dan petrel dapat salah mengira puing-puing sebagai makanan dan menyantap plastik tak terurai dalam sistem pencernaan mereka. Penyu dan ikan paus ditemukan dengan tas pastik dan benang pancing pada lambung mereka. Mikroplastik dapat tenggelam, mengancam hewan penyaring di dasar laut.[275]

Kebanyakan polusi minyak di laut berasal dari kota dan industri.[266] Minyak berbahaya untuk hewan-hewan laut. Minyak dapat membahayakan bulu burung-burung laut, mengurangi mengurangi daya tahan tubuh dan daya apung burung, atau tertelan ketika mereka melicinkan diri mereka sendiri dalam upaya untuk menghilangkan kontaminan. Mamalia laut memiliki dampak yang kurang serius namun dapat mengalami kehilangan daya tahan tubuh, kebutaan, dehidrasi, atau keracunan. Invertebrata bentik terbenam saat minyak tenggelam, ikan keracunan, dan rantai makanan terganggu. Dalam jangka pendek, tumpahan minyak mengakibatkan populasi alam liar menurun dan tak seimbang, kegiatan waktu luang terkena dampaknya, dan kehidupan orang yang bergantung pada laut menjadi terusik.[276] Lingkungan laut memiliki properti pembersihan diri dan secara alami memajukan bakteria yang akan bertindak sepanjang waktu untuk menghilangkan air dari laut. Di Teluk Meksiko, dimana terdapat bakteria pemakan minyak, mereka hanya bertahan beberapa hari untuk mengkonsumsi tumpahan minyak.[277]

Suku laut asli[sunting | sunting sumber]

Beberapa kelompok asli nomadik di Asia Tenggara Maritim tinggal di perahu dan hampir seluruh kebutuhan mereka berasal dari laut. Suku Moken tinggal di pesisir Thailand dan Burma dan kepulauan di Laut Andaman.[278] Suku Bajau aslinya berasal dari Kepulauan Sulu, Mindanao, dan utara Kalimantan.[279] Beberapa Gispi Laut merupakan penyelam bebas, dapat turun sampai kedalaman 30 m (98 ft), meskipun beberapa dari mereka mengadopsi gaya hidup yang lebih berbasis darat.[280][281]

Suku-suku asli Arktik seperti Chukchi, Inuit, Inuvialuit, dan Yupik memburu mamalia-mamalia laut yang meliputi anjing laut dan ikan paus[282] dan Penduduk Pulau Selat Torres mengklaim kepemilikan atas Karang Penghalang Besar. Mereka menjalani kehidupan tradisional di kepulauan tersebut yang meliputi berburu, memancing, berkebun, dan berdagang dengan suku-suku tetangga di Papua Nugini dan Australia.[283]

Dalam budaya[sunting | sunting sumber]

Sebuah relief Asiria dari sekitar tahun 700 SM menampilkan ikan dan kepiting berenang di sekitaran sebuah bireme.

Laut muncul dalam budaya manusia dalam cara-cara yang berkontradiksi, entah itu kuat namun tenang dan cantik namun berbahaya.[8](h10) Laut memiliki tempatnya dalam mitologi dan agama, sastra, seni rupa, syair, film, teater, dan musik.[284] Bangsa-bangsa kuno mempersonifikasikannya, menyakini laut berada di bawah kekuasaan dewa yang perlu untuk disembah. Laut dianggap didiami oleh makhluk-makhluk fantasi: Lewiatan dari Alkitab,[285] Skila dalam mitologi Yunani,[286] Isonade dalam mitologi Jepang,[287] dan kraken dari mitologi Norse akhir.[288][289](h206–08) Laut secara khusus bersifat umum dalam pencitraan Kristen, dimana beberapa murid Yesus dikatakan merupakan nelayan di Laut Galilea.

Gelombang Besar di lepas Kanagawa karya Hokusai dari sekitar tahun 1829, karya pertama dari Tiga Puluh Enam Pemandangan Gunung Fuji.

Laut, kehidupannya, dan kapal-kapalnya telah digambarkan dalam seni rupa dari gambar sederhana di dinding gua luar Les Eyzies, Perancis, ichthys Kristen awal, karya-karya Hendrik Vroom asli Belanda, ukiyo-e karya Hokusai, sampai pemandangan-pemandangan luat karya Winslow Homer. Pada Zaman Keemasan Belanda, para seniman seperti Jan Porcellis, Hendrick Dubbels, Willem van de Velde si Tua dan putranya, dan Ludolf Bakhuizen menselebrasikan laut dan angkatan laut Belanda di puncak kekuatan militernya.[290][291]

Musik juga terinspirasi oleh samudera. Yel-yel laut dikeluarkan oleh para marinir untuk membantu koordinasi tugas-tugas dan impresi musik tercipta dari perairan tenang, arus yang bertabrakan, dan angin ribut di laut.[292] Musik terkait laut klasik meliputi The Flying Dutchman karya Richard Wagner,[293] La mer (1903–05) karya Claude Debussy,[294] Songs of the Sea (1904) dan Songs of the Fleet (1910) karya Charles Villiers Stanford, Sea Pictures (1899) karya Edward Elgar, dan A Sea Symphony (1903–1909) karya Ralph Vaughan Williams.[295]

Sebagai sebuah simbol, laut selama berabad-abad memainkan peran dalam sastra dan syair. Terkadang, laut digambarkan sebagai latar yang gagah namun seringkali dengan pengenalan tema-tema seperti angin ribut, kapal tenggelam, pertempuran, pekerjaan kapal, bencana, dorongan harapan, atau kematian.[296] Dalam puisi epiknya, Odyssey, yang ditulis pada abad ke-8 SM,[297] Homer mengisahkan perjalanan sepuluh tahun pahlawan Yunani Odysseus yang berjuang untuk kembali pulau dengan melewati beberapa rintangan di laut setelah perang yang dideskripsikan dalam Iliad.[298] Laut merupakan tema utama dalam syair-syair Haiku dari penyair Jepang Matsuo Bashō (1644–1694).[299]

Dalam sastra modern, novel-novel yang terinspirasi laut ditulis oleh para pelaut Herman Melville,[300] Joseph Conrad,[301] dan Herman Wouk.[302] Psikiatris Carl Jung berpendapat bahwa, dalam tafsir mimpi, laut melambangkan alam bawah sadar pribadi dan kolektif.[303] Meskipun asal muasal kehidupan di Bumi masih menjadi bahan perdebatan,[304] naturalis Rachel Carson menulis dalam The Sea Around Us bahwa "merupakan sebuah situasi penasaran bahwa laut, dimana kehidupan mula-mula berkembang, sekarang harus terancam oleh kegiatan satu bentuk kehidupan. Namun laut, melalui perubahan dalam cara yang jahat, masih akan ada: ancaman lebih kepada kehidupan itu sendiri."[305]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Catatan: ini adalah sebuah definisi umum yang secara konseptual ada pada sumber-sumber dari teknikal, pedagogikal sampai kamus (kamus memberikan penggunaan standar oleh kaum awam). Lihat badan utama dan Catatan, untuk rangkaian pengartian dan definisi lengkap dari istilah tersebut.
  2. ^ Satu definisi menyatakan bahwa laut adalah sub-divisi dari samudera, meskipun sekarang Organisasi Hidrografi Internasional mendefinisikan batas-batas samudera dunia dengan rujukan perairan ketimbang hal lain yang terdapat di laut,[4] yang diambil sebagai kebiasaan dan arbitrasi khusus.[9] Definisi untuk pelajar muda dan pasca-kelulusan, mengambil catatan penggunaan standar dan pengartian teknikal, seringkali menyatakan bahwa "laut" adalah istilah untuk badan air laut "terkunci daratan", dengan pengecualian kemudian harus dibuat untuk pengikatan arus samudera (seperti pengikatan dinamis) namun umumnya mengakui Laut Sargasso.[1][2] Pengartian ketiga menyatakan bahwa laut menimbulkan sebuah banjir yang terbentuk dari kerak samudera, yang akan menerima Kaspia karena wilayah tersebut sempat menjadi bagian dari samudera kuno.[10]
  3. ^ Selain itu, Konvensi tersebut tak diterapkan kepada Kaspia, yang sebagai gantinya disebut "danau internasional" untuk kebanyakan keperluan hukum.[12]
  4. ^ Hydrous ringwoodite yang timbul dari letusan gunung berapi mensugestikan bahwa zona transisi antara mantel bawah dan mantel atas memiliki satu[16] dan tiga[17] kali jumlah air melebihi kombinasi seluruh samudera di permukaan dunia. Eksperimen yang merekreasi kondisi mantel bawah mensugestikan bahwa ini juga terdiri dari banyak air, serta lima kali lipat massa air yang terdapat di samudera-samudera dunia.[18][19]
  5. ^ Ginjal manusia mengekskresi urin yang terdiri dari sekitar 2% garam,[28] sehingga meminum satu liter dari sebagian besar bentuk air laut akan diharuskan untuk meminum setidaknya satu liter air tawar untuk menghindari bahaya yang diakibatkan oleh sodium. Tanpa air tambahan ini, peningkatan urinasi yang menghilangkan garam akan memproduksi dehidrasi.[29]
  6. ^ "As the waves leave the region where they were generated, the longer ones outpace the shorter because their velocity is greater. Gradually, they fall in with other waves travelling at similar speed—where different waves are in phase they reinforce each other, and where out of phase they are reduced. Eventually, a regular pattern of high and low waves (or swell) is developed that remains constant as it travels out across the ocean."[8](h83f)
  7. ^ Untuk membantu mengambil sebuah perubahan dari pergerakan ini menuju perspektif, saat pH plasma darah manusia meningkat dari kadar normalnya 7.4 ke nilai di atas 7.8, atau merendah di bawah nilai 6.7, kematian terjadi.[93]
  8. ^ Karena kebanyakan kawasan tanah diyakini berada di bawah 50 meter (160 ft) dari permukaan laut sejak zaman es akhir, jangka waktunya akan dihimpun dengan ketentuan.[121] Dua teori umum adalah melintasi Timor menuju barat laut daratan utama Australia pada sekitar 70,000 tahun lampau dan melintasi Sulawesi menuju Nugini pada sekitar 50,000 tahun lampau,[121][122] mungkin dibantu oleh sebuah tsunami.[123]
  9. ^ Navigator Yunani Eudoxus kemudian dilaporkan oleh Strabo tak sengaja menemukan bangkai kapal dari Gades di pesisir timur laut Afrika dan kemudian mengadakan dua pelayaran (gagal) ke Afrika pada sekitar tahun 116 SM.[135]
  10. ^ Penangkapan makanan laut dari perairan tanah dalam meningkat tajam, dari kurang dari 3 juta ton metrik per tahun pada 1950 menjadi lebih dari 11 juta pada 2010, namun masih kurang dari 10% dari total penangkapan.[180]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b NGS Staff (27 September 2011). "Sea". National Geographic (online). Washington, DC: The National Geographic Society (NGS). Diakses tanggal 7 January 2017. [Quote:] ...a sea is a division of the ocean that is enclosed or partly enclosed by land... 
  2. ^ a b Karleskint, George (2009). Introduction to Marine Biology. Boston, MA: Cengage Learning. hlm. 47. ISBN 9780495561972. Diakses tanggal January 7, 2017. 
  3. ^ National Oceanic and Atmospheric Administration. "Then and Now: The HMS Challenger Expedition and the 'Mountains in the Sea' Expedition". Ocean Explorer.
  4. ^ a b Organisasi Hidrografi Internasional. "Limits of Oceans and Seas (Special Publication №28)", 3rd ed. Imp. Monégasque (Monte Carlo), 1953. Retrieved 7 February 2010.
  5. ^ Oxford English Dictionary, 1st ed. "sea, n." Oxford University Press (Oxford), 1911.
  6. ^ a b c Reddy, M.P.M. (2001) Descriptive Physical Oceanography. p. 112. A.A. Balkema, Leiden. ISBN 90-5410-706-5.
  7. ^ NOS Staff (March 25, 2014). "What's the Difference between an Ocean and a Sea?". Ocean Facts. Silver Spring, MD: National Ocean Service (NOS), National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Diakses tanggal January 7, 2017 – via OceanService.NOAA.gov. 
  8. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t Stow, Dorrik A.V. (2004). Encyclopedia of the Oceans. Oxford, UK: Oxford University Press. ISBN 0198606877. Diakses tanggal January 7, 2017. 
  9. ^ American Society of Civil Engineers (1994). The Glossary of the Mapping Sciences. p. 365. ASCE Publications. ISBN 0-7844-7570-9.
  10. ^ Conforti, B. (2005). The Italian Yearbook of International Law. Vol. 14, p. 237. Martinus Nijhoff. ISBN 978-90-04-15027-0.
  11. ^ Vukas, B. (2004) The Law of the Sea: Selected Writings. p. 271. Martinus Nijhoff. ISBN 978-90-04-13863-6.
  12. ^ Gokay, Bulent (2001). "The Politics of Caspian Oil". Palgrave Macmillan: 74. ISBN 978-0-333-73973-0. 
  13. ^ Ravilious, Kate (21 Apr 2009). "Most Earthlike Planet Yet Found May Have Liquid Oceans" in National Geographic.
  14. ^ Platnick, Steven. "Visible Earth". NASA.
  15. ^ a b NOAA. "Lesson 7: The Water Cycle" in Ocean Explorer.
  16. ^ Oskin, Becky (12 Mar 2014). "Rare Diamond Confirms that Earth's Mantle Holds an Ocean's Worth of Water" in Scientific American.
  17. ^ Schmandt, B.; Jacobsen, S. D.; Becker, T. W.; Liu, Z.; Dueker, K. G. (2014). "Dehydration melting at the top of the lower mantle". Science. 344 (6189): 1265–68. Bibcode:2014Sci...344.1265S. doi:10.1126/science.1253358. 
  18. ^ Harder, Ben (7 Mar 2002). "Inner Earth May Hold More Water Than the Seas" in National Geographic.
  19. ^ Murakami, M. (2002). "Water in Earth's Lower Mantle". Science. 295 (5561): 1885–87. Bibcode:2002Sci...295.1885M. doi:10.1126/science.1065998. 
  20. ^ Lee, Sidney (ed.) "Rennell, James" in the Dictionary of National Biography, Vol. 48. Smith, Elder, & Co. (London), 1896. Hosted at Wikisource.
  21. ^ a b c Monkhouse, F.J. (1975) Principles of Physical Geography. pp. 327–28. Hodder & Stoughton. ISBN 978-0-340-04944-0.
  22. ^ b., R. N. R.; Russell, F. S.; Yonge, C. M. (1929). "The Seas: Our Knowledge of Life in the Sea and How It is Gained". The Geographical Journal. 73 (6): 571. doi:10.2307/1785367. JSTOR 1785367. 
  23. ^ Stewart, Robert H. (2008) Introduction To Physical Oceanography. pp. 2–3. Texas A & M University.
  24. ^ a b Millero, F. J.; Feistel, R.; Wright, D. G.; McDougall, T. J. (2008). "The composition of Standard Seawater and the definition of the Reference-Composition Salinity Scale". Deep-Sea Research Part I: Oceanographic Research Papers. 55: 50–72. Bibcode:2008DSRI...55...50M. doi:10.1016/j.dsr.2007.10.001. 
  25. ^ Pond, Stephen (1978). Introductory Dynamic Oceanography. Pergamon Press. p. 5. ISBN 0750624965.
  26. ^ Pinet, Paul. Invitation to Oceanography. West Publishing Co. (St. Paul), 1996. ISBN 978-0-314-06339-7.
  27. ^ Swenson, Herbert. "Why is the Ocean Salty?" US Geological Survey.
  28. ^ a b US Army (June 1992). FM 21–76: Survival. Chapter 6: "Water Procurement".
  29. ^ NOAA (11 Jan 2013). "Drinking Seawater Can Be Deadly to Humans".
  30. ^ Thulin, Jan (2003). "Religion, Science, and the Environment Symposium V on the Baltic Sea".
  31. ^ Thunell, R. C.; Locke, S. M.; Williams, D. F. (1988). "Glacio-eustatic sea-level control on Red Sea salinity". Nature. 334 (6183): 601–04. Bibcode:1988Natur.334..601T. doi:10.1038/334601a0. 
  32. ^ Gordon, Arnold (2004). "Ocean Circulation" in The Climate System. Columbia University (New York).
  33. ^ Jeffries, Martin. "Sea ice". Encyclopædia Britannica Online.
  34. ^ a b Russell, F.S. (1928) The Seas. pp. 225–27. Frederick Warne.
  35. ^ Swedish Meteorological and Hydrological Institute (2010). "Oxygen in the Sea".
  36. ^ United States Environmental Protection Agency (2012). Water Monitoring & Assessment, 5.2: "Dissolved Oxygen and Biochemical Oxygen Demand".
  37. ^ Shaffer, G. .; Olsen, S. M.; Pedersen, J. O. P. (2009). "Long-term ocean oxygen depletion in response to carbon dioxide emissions from fossil fuels". Nature Geoscience. 2 (2): 105–09. Bibcode:2009NatGe...2..105S. doi:10.1038/ngeo420. 
  38. ^ a b c National Oceanic and Atmospheric Administration. "Ocean Waves" in the Ocean Explorer.
  39. ^ Young, I.R. (1999) Wind Generated Ocean Waves. Elsevier. p. 83. ISBN 0-08-043317-0.
  40. ^ a b c Garrison, Tom (2012). Essentials of Oceanography. 6th ed. pp. 204 ff. Brooks/Cole, Belmont. ISBN 0321814053.
  41. ^ National Meteorological Library and Archive (2010). "Fact Sheet 6—The Beaufort Scale". Met Office (Devon)
  42. ^ Goda, Y. (2000) Random Seas and Design of Maritime Structures. pp. 421–22. World Scientific. ISBN 978-981-02-3256-6.
  43. ^ Holliday, N. P.; Yelland, M. J.; Pascal, R.; Swail, V. R.; Taylor, P. K.; Griffiths, C. R.; Kent, E. (2006). "Were extreme waves in the Rockall Trough the largest ever recorded?". Geophysical Research Letters. 33 (5): L05613. Bibcode:2006GeoRL..33.5613H. doi:10.1029/2005GL025238. 
  44. ^ Laird, Anne (2006). "Observed Statistics of Extreme Waves". Naval Postgraduate School (Monterey).
  45. ^ United States Geological Survey. "Summary Archived 19 January 2011 di the Wayback Machine.".
  46. ^ a b c "Life of a Tsunami". Tsunamis & Earthquakes. US Geological Survey. 
  47. ^ a b "Physics of Tsunamis". National Tsunami Warning Center of the USA. 
  48. ^ a b c "The Physics of Tsunamis". Earth and Space Sciences. University of Washington. 
  49. ^ "Tsunami warning system". 28 June 2009. 
  50. ^ "Tsunami Programme: About Us". Intergovernmental Oceanographic Commission. 
  51. ^ Our Amazing Planet staff (12 March 2012). "Deep Ocean Floor Can Focus Tsunami Waves". Livescience. 
  52. ^ Berry, M. V. (2007). "Focused tsunami waves". Proceedings of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences. 463 (2087): 3055–71. Bibcode:2007RSPSA.463.3055B. doi:10.1098/rspa.2007.0051. 
  53. ^ Bureau of Meteorology of the Australian Government. "Tsunami Facts and Information".
  54. ^ a b c "Tides and Water Levels". NOAA Oceans and Coasts. NOAA Ocean Service Education. 
  55. ^ "Tidal amplitudes". University of Guelph. 
  56. ^ a b "Tides". Ocean Explorer. National Oceanic and Atmospheric Administration. 
  57. ^ Eginitis, D. (1929). "The problem of the tide of Euripus". Astronomische Nachrichten. 236 (19–20): 321–28. Bibcode:1929AN....236..321E. doi:10.1002/asna.19292361904.  See also the commentary about this explanation in Lagrange, E. (1930). "Les marées de l'Euripe". Ciel et Terre (Bulletin of the Société Belge d'Astronomie) (dalam bahasa French). 46: 66–69. Bibcode:1930C&T....46...66L. 
  58. ^ "Evia Island". Chalkis. Evia.gr. 
  59. ^ Cline, Isaac M. (4 February 2004). "Galveston Storm of 1900". National Oceanic and Atmospheric Administration. 
  60. ^ Ahrens, C. Donald; Jackson, Peter Lawrence; Jackson, Christine E. J.; Jackson, Christine E. O. (2012). Meteorology Today: An Introduction to Weather, Climate, and the Environment. Cengage Learning. hlm. 283. ISBN 0-17-650039-1. 
  61. ^ a b c d "Ocean Currents". Ocean Explorer. National Oceanic and Atmospheric Administration. 
  62. ^ Pope, Vicky (2 February 2007). "Models 'key to climate forecasts'". BBC. 
  63. ^ Cushman-Roisin, Benoit; Beckers, Jean-Marie (2011). Introduction to Geophysical Fluid Dynamics: Physical and Numerical Aspects. Academic Press. ISBN 978-0-12-088759-0. 
  64. ^ Wunsch, C. (2002). "What Is the Thermohaline Circulation?". Science. 298 (5596): 1179–81. doi:10.1126/science.1079329. PMID 12424356. 
  65. ^ "Long-shore currents". Orange County Lifeguards. 2007. 
  66. ^ "Rip current characteristics". Rip currents. University of Delaware Sea Grant College Program. 
  67. ^ "Marine and Coastal: Bathymetry". Geoscience Australia. 
  68. ^ Pidwirny, Michael (28 March 2013). "Structure of the Earth". The Encyclopedia of Earth. 
  69. ^ Pidwirny, Michael (28 March 2013). "Plate tectonics". The Encyclopedia of Earth. 
  70. ^ "Plate Tectonics: The Mechanism". University of California Museum of Paleontology. 
  71. ^ "Scientists map Mariana Trench, deepest known section of ocean in the world". The Telegraph. 7 December 2011. 
  72. ^ "Peru-Chile Trench". Encyclopædia Britannica online. 
  73. ^ a b c Monkhouse, F. J. (1975). Principles of Physical Geography. Hodder & Stoughton. hlm. 280–91. ISBN 978-0-340-04944-0. 
  74. ^ Whittow, John B. (1984). The Penguin Dictionary of Physical Geography. Penguin Books. hlm. 29, 80, 246. ISBN 978-0-14-051094-2. 
  75. ^ "Thames Barrier engineer says second defence needed". BBC News. 5 January 2013. 
  76. ^ Plant, G.W.; Covil, C.S; Hughes, R.A. (1998). Site Preparation for the New Hong Kong International Airport. Thomas Telford. hlm. 1–4, 43. ISBN 978-0-7277-2696-4. 
  77. ^ a b Kantor Urusan Hukum Perserikatan Bangsa-Bangsa (22 Aug 2013). "United Nations Convention on the Law of the Sea of 10 December 1982". Oceans & Law of the Sea. United Nations Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea (New York).
  78. ^ Muller, R. D.; Sdrolias, M.; Gaina, C.; Steinberger, B.; Heine, C. (2008). "Long-Term Sea-Level Fluctuations Driven by Ocean Basin Dynamics". Science. 319 (5868): 1357–62. Bibcode:2008Sci...319.1357M. doi:10.1126/science.1151540. PMID 18323446. 
  79. ^ Douglas, B. C. (1997). "Global sea rise: a redetermination". Surveys in Geophysics. 18 (2/3): 279–92. Bibcode:1997SGeo...18..279D. doi:10.1023/A:1006544227856. 
  80. ^ Bindoff, N. L.; Willebrand, J.; Artale, V.; Cazenave, A.; Gregory, J.; Gulev, S.; Hanawa, K.; Le Quéré, C.; Levitus, S.; Nojiri, Y.; Shum, A.; Talley, L. D.; Unnikrishnan, A. S.; Josey, S. A.; Tamisiea, M.; Tsimplis, M.; Woodworth, P. (2007). Observations: Oceanic Climate Change and Sea Level. Cambridge University Press. hlm. 385–428. ISBN 978-0-521-88009-1. 
  81. ^ Meehl, G. A.; Washington, W. M.; Collins, W. D.; Arblaster, J. M.; Hu, A.; Buja, L. E.; Strand, W. G.; Teng, H. (2005). "How Much More Global Warming and Sea Level Rise?" (Full free text). Science. 307 (5716): 1769–72. Bibcode:2005Sci...307.1769M. doi:10.1126/science.1106663. PMID 15774757. 
  82. ^ "The Water Cycle: The Oceans". US Geological Survey. 
  83. ^ Vesilind, Priit J. (2003). "The Driest Place on Earth". National Geographic. 
  84. ^ "Endorheic Lakes: Waterbodies That Don't Flow to the Sea". The Watershed: Water from the Mountains into the Sea. United Nations Environment Programme. 
  85. ^ a b Falkowski, P.; Scholes, R. J.; Boyle, E.; Canadell, J.; Canfield, D.; Elser, J.; Gruber, N.; Hibbard, K.; Högberg, P.; Linder, S.; MacKenzie, F. T.; Moore b, 3.; Pedersen, T.; Rosenthal, Y.; Seitzinger, S.; Smetacek, V.; Steffen, W. (2000). "The Global Carbon Cycle: A Test of Our Knowledge of Earth as a System". Science. 290 (5490): 291–96. Bibcode:2000Sci...290..291F. doi:10.1126/science.290.5490.291. PMID 11030643. 
  86. ^ Sarmiento, J. L.; Gruber, N. (2006). Ocean Biogeochemical Dynamics. Princeton University Press. 
  87. ^ a b Prentice, I. C. (2001). Houghton, J. T., ed. "The carbon cycle and atmospheric carbon dioxide". Climate change 2001: the scientific basis: contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the Intergouvernmental Panel on Climate Change. 
  88. ^ "Ocean Acidity". U.S. EPA climate change web site. EPA. 13 September 2013. 
  89. ^ Feely, R. A.; Sabine, C. L.; Lee, K; Berelson, W; Kleypas, J; Fabry, V. J.; Millero, F. J. (2004). "Impact of Anthropogenic CO2 on the CaCO3 System in the Oceans". Science. 305 (5682): 362–66. Bibcode:2004Sci...305..362F. doi:10.1126/science.1097329. PMID 15256664. 
  90. ^ Zeebe, R. E.; Zachos, J. C.; Caldeira, K.; Tyrrell, T. (2008). "OCEANS: Carbon Emissions and Acidification". Science. 321 (5885): 51–52. doi:10.1126/science.1159124. PMID 18599765. 
  91. ^ Gattuso, J.-P.; Hansson, L. (2011). Ocean Acidification. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-959109-1. OCLC 730413873. 
  92. ^ a b "Ocean acidification". Department of Sustainability, Environment, Water, Population & Communities: Australian Antarctic Division. 28 September 2007. 
  93. ^ Tanner, G. A. (2012). "Acid-Base Homeostasis". Dalam Rhoades, R. A.; Bell, D. R. Medical Physiology: Principles for Clinical Medicine. Lippincott Williams & Wilkins. ISBN 978-1-60913-427-3. 
  94. ^ Pinet, Paul R. (1996). Invitation to Oceanography. West Publishing Company. hlm. 126, 134–35. ISBN 978-0-314-06339-7. 
  95. ^ "What is Ocean Acidification?". NOAA PMEL Carbon Program. 
  96. ^ Orr, J. C.; Fabry, V. J.; Aumont, O.; Bopp, L.; Doney, S. C.; Feely, R. A.; Gnanadesikan, A.; Gruber, N.; Ishida, A.; Joos, F.; Key, R. M.; Lindsay, K.; Maier-Reimer, E.; Matear, R.; Monfray, P.; Mouchet, A.; Najjar, R. G.; Plattner, G. K.; Rodgers, K. B.; Sabine, C. L.; Sarmiento, J. L.; Schlitzer, R.; Slater, R. D.; Totterdell, I. J.; Weirig, M. F.; Yamanaka, Y.; Yool, A. (2005). "Anthropogenic ocean acidification over the twenty-first century and its impact on calcifying organisms". Nature. 437 (7059): 681–86. Bibcode:2005Natur.437..681O. doi:10.1038/nature04095. PMID 16193043. 
  97. ^ Cohen, A.; Holcomb, M. (2009). "Why Corals Care About Ocean Acidification: Uncovering the Mechanism". Oceanography. 22 (4): 118–27. doi:10.5670/oceanog.2009.102. 
  98. ^ Honisch, B.; Ridgwell, A.; Schmidt, D. N.; Thomas, E.; Gibbs, S. J.; Sluijs, A.; Zeebe, R.; Kump, L.; Martindale, R. C.; Greene, S. E.; Kiessling, W.; Ries, J.; Zachos, J. C.; Royer, D. L.; Barker, S.; Marchitto Jr, T. M.; Moyer, R.; Pelejero, C.; Ziveri, P.; Foster, G. L.; Williams, B. (2012). "The Geological Record of Ocean Acidification". Science. 335 (6072): 1058–63. Bibcode:2012Sci...335.1058H. doi:10.1126/science.1208277. PMID 22383840. 
  99. ^ Gruber, N. (2011). "Warming up, turning sour, losing breath: Ocean biogeochemistry under global change". Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences. 369 (1943): 1980–96. Bibcode:2011RSPTA.369.1980G. doi:10.1098/rsta.2011.0003. 
  100. ^ "Profile". Department of Natural Environmental Studies: University of Tokyo. 
  101. ^ Mann, N. H. (2005). "The Third Age of Phage". PLoS Biology. 3 (5): e182. doi:10.1371/journal.pbio.0030182. PMC 1110918alt=Dapat diakses gratis. PMID 15884981. 
  102. ^ Levinton, Jeffrey S. (2010). "18. Fisheries and Food from the Sea". Marine Biology: International Edition: Function, Biodiversity, Ecology. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-976661-1. 
  103. ^ a b Illustrated Encyclopedia of the Ocean. Dorling Kindersley. 2011. ISBN 978-1-4053-3308-5. 
  104. ^ Spalding, M. D.; Grenfell, A. M. (1997). "New estimates of global and regional coral reef areas". Coral Reefs. 16 (4): 225–30. doi:10.1007/s003380050078. 
  105. ^ Neulinger, Sven (2008–2009). "Cold-water reefs". CoralScience.org. 
  106. ^ Yool, A.; Tyrrell, T. (2003). "Role of diatoms in regulating the ocean's silicon cycle". Global Biogeochemical Cycles. 17 (4): n/a. Bibcode:2003GBioC..17.1103Y. doi:10.1029/2002GB002018. 
  107. ^ Van Der Heide, T.; Van Nes, E. H.; Van Katwijk, M. M.; Olff, H.; Smolders, A. J. P. (2011). "Positive Feedbacks in Seagrass Ecosystems – Evidence from Large-Scale Empirical Data". PLoS ONE. 6 (1): e16504. Bibcode:2011PLoSO...616504V. doi:10.1371/journal.pone.0016504. PMC 3025983alt=Dapat diakses gratis. PMID 21283684. 
  108. ^ "Mangal (Mangrove)". Mildred E. Mathias Botanical Garden. 
  109. ^ "Coastal Salt Marsh". Mildred E. Mathias Botanical Garden. 
  110. ^ "Facts and figures on marine biodiversity". Marine biodiversity. UNESCO. 2012. 
  111. ^ Voss, M.; Bange, H. W.; Dippner, J. W.; Middelburg, J. J.; Montoya, J. P.; Ward, B. (2013). "The marine nitrogen cycle: Recent discoveries, uncertainties and the potential relevance of climate change". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 368 (1621): 20130121. doi:10.1098/rstb.2013.0121. PMC 3682741alt=Dapat diakses gratis. PMID 23713119. 
  112. ^ a b Thorne-Miller, Boyce (1999). The Living Ocean: Understanding and Protecting Marine Biodiversity. Island Press. hlm. 2. ISBN 978-1-59726-897-4. 
  113. ^ Thorne-Miller, Boyce (1999). The Living Ocean: Understanding and Protecting Marine Biodiversity. Island Press. hlm. 88. ISBN 978-1-59726-897-4. 
  114. ^ Kingsford, Michael John. "Marine ecosystem: Plankton". Encyclopædia Britannica online Encyclopedia. 
  115. ^ Walrond, Carl. "Oceanic Fish". The Encyclopedia of New Zealand. New Zealand Government. 
  116. ^ Steele, John H.; Thorpe, Steve A.; Turekian, Karl K., ed. (2010). Marine Ecological Processes: A Derivative of the Encyclopedia of Ocean Sciences. Academic Press. hlm. 316. ISBN 978-0-12-375724-1. 
  117. ^ "Invasive species". Water: Habitat Protection. Environmental Protection Agency. 6 March 2012. 
  118. ^ Sedberry, G. R.; Musick, J. A. (1978). "Feeding strategies of some demersal fishes of the continental slope and rise off the Mid-Atlantic Coast of the USA". Marine Biology. 44 (4): 357–75. doi:10.1007/BF00390900. 
  119. ^ Committee on Biological Diversity in Marine Systems, National Research Council (1995). "Waiting for a whale: human hunting and deep-sea biodiversity". Understanding Marine Biodiversity. National Academies Press. ISBN 978-0-309-17641-5. 
  120. ^ University of Wollongong (28 October 2004). "Skeleton Reveals Lost World Of 'Little People'". ScienceDaily.
  121. ^ a b Cane, Scott (2013). First Footprints – The Epic Story of the First Australians. pp. 25 ff. Allen & Unwin. ISBN 978 1 74331 493 7.
  122. ^ Lourandos, H. (1997) Continent of Hunter-Gatherers: New Perspectives in Australian Prehistory. pp. 80 ff. Cambridge University Press. ISBN 0521359465
  123. ^ Gerritsen, Rupert (2011). Beyond the Frontier: Explorations in Ethnohistory. pp. 70 ff. Batavia Online Publishing (Canberra). ISBN 978-0-9872141-4-0.
  124. ^ Carter, Robert (2012). A Companion to the Archaeology of the Ancient Near East. Ch. 19: "Watercraft", pp. 347 ff. Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4051-8988-0.
  125. ^ Rao, S.R. (1985) Lothal pada Badan Survei Arkeologi India, halaman 27 ff.
  126. ^ Hage, P.; Marck, J. (2003). "Matrilineality and the Melanesian Origin of Polynesian Y Chromosomes". Current Anthropology. 44: S121. doi:10.1086/379272. 
  127. ^ Kayser, M.; Brauer, S; Cordaux, R; Casto, A; Lao, O; Zhivotovsky, L. A.; Moyse-Faurie, C; Rutledge, R. B.; Schiefenhoevel, W; Gil, D; Lin, A. A.; Underhill, P. A.; Oefner, P. J.; Trent, R. J.; Stoneking, M (2006). "Melanesian and Asian Origins of Polynesians: MtDNA and Y Chromosome Gradients Across the Pacific" (PDF). Molecular Biology and Evolution. 23 (11): 2234–44. doi:10.1093/molbev/msl093. PMID 16923821. 
  128. ^ Su, B.; Jin, L.; Underhill, P.; Martinson, J.; Saha, N.; McGarvey, S. T.; Shriver, M. D.; Chu, J.; Oefner, P.; Chakraborty, R.; Deka, R. (2000). "Polynesian origins: Insights from the Y chromosome". Proceedings of the National Academy of Sciences. 97 (15): 8225–28. Bibcode:2000PNAS...97.8225S. doi:10.1073/pnas.97.15.8225. 
  129. ^ Bellwood, Peter (1987). The Polynesians – Prehistory of an Island People. Thames and Hudson. hlm. 45–65. ISBN 0500274509. 
  130. ^ Clark, Liesl (15 February 2000). "Polynesia's Genius Navigators". NOVA. 
  131. ^ Kirch, Patrick (2001). Hawaiki. p. 80. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-78309-5.
  132. ^ Hunt, Terry (2011). The Statues that Walked: Unraveling the Mystery of Easter Island. Free Press. ISBN 1-4391-5031-1.
  133. ^ Lowe, David (2008). "Polynesian settlement of New Zealand and the Impacts of Volcanism on Early Maori Society: an Update", p. 142 in Guidebook for Pre-conference North Island Field Trip A1 ‘Ashes and Issues’. ISBN 978-0-473-14476-0.
  134. ^ Herodotus. Ἱστορίαι [The Histories], IV.42. c. 420 BC. (Yunani Kuno)
  135. ^ Tozer, Henry F. (1997). History of Ancient Geography. Biblo & Tannen. pp. 189 ff. ISBN 0-8196-0138-1.
  136. ^ Harden, Donald (1962). The Phoenicians, p. 168. Penguin (Harmondsworth).
  137. ^ Warmington, Brian H. (1960) Carthage, p. 79. Penguin (Harmondsworth).
  138. ^ Mckenzie, Judith (2007). Architecture of Alexandria and Egypt 300 B.C A.D 700. Yale University Press. hlm. 41. ISBN 978-0-300-11555-0. 
  139. ^ Jenkins, Simon (1992). "Four Cheers for Geography". Geography. 77 (3): 193–97. JSTOR 40572190. 
  140. ^ Sobel, Dava. Longitude: The True Story of a Lone Genius Who Solved the Greatest Scientific Problem of His Time. Walker, 1995.
  141. ^ U.S. Antarctic Program External Panel. "Antarctica—past and present" (PDF). NSF. 
  142. ^ Guy G. Guthridge. "Nathaniel Brown Palmer". NASA. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 February 2006. 
  143. ^ Palmer Station. ucsd.edu
  144. ^ Sverdlov, Leonid (27 November 1996). "Russian naval officers and geographic exploration in Northern Russia (18th through 20th centuries)". Arctic Voice No. 11. 
  145. ^ Зацепились за Моржовец (dalam bahasa Russian). Русское географическое общество. 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-03-21. 
  146. ^ a b BBC. "A History of Navigation".
  147. ^ Rozwadowski, Helen (2005). Fathoming the Ocean: The Discovery and Education of the Deep Sea. pp. 141 ff. Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts. ISBN 0674016912.
  148. ^ Rozwadowski, Helen (2005). Fathoming the Ocean: The Discovery and Education of the Deep Sea. p. 154. Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts. ISBN 0674016912.
  149. ^ Organisasi Hidrografi Internasional (15 Maret 2013). Official website.
  150. ^ "Underwater Exploration—History, Oceanography, Instrumentation, Diving Tools and Techniques, Deep-sea Submersible Vessels, Key Findings in Underwater Exploration, Deep-sea Pioneers" in the Science Encyclopedia. Net Industries.
  151. ^ "Jacques Piccard: Oceanographer and pioneer of deep-sea exploration". The Independent. 5 November 2008. 
  152. ^ Logico, Mark G. (8 April 2006). "Navy Chief Submerges 2,000 Feet, Sets Record". America's Navy. United States Navy. 
  153. ^ "Research topics". Scripps Institution of Oceanography. 
  154. ^ "Research at Sea". National Oceanography Centre. 2013. 
  155. ^ Gosch, Stephen S. (2007) Premodern Travel in World History. Taylor & Francis. ISBN 0-203-92695-1.
  156. ^ Hägg, R. (1994) The Minoan Thalassocracy: Myth and Reality. (Stockholm).
  157. ^ Greer, Thomas (2004). A Brief History of the Western World. p. 63. Thomson Wadsworth. ISBN 978-0-534-64236-5.
  158. ^ Shaffer, Lynda (2001). "Southernization" in Agricultural and Pastoral Societies in Ancient and Classical History. Temple University Press. ISBN 1-56639-832-0.
  159. ^ Curtin, Philip D. (1984). Cross-Cultural Trade in World History. Cambridge University Press. hlm. 88–104. ISBN 978-0-521-26931-5. 
  160. ^ Tibbets, Gerald Randall (1979). A Comparison of Medieval Arab Methods of Navigation with Those of the Pacific Islands. Coimbra. 
  161. ^ Kubetzek, Kathrin; Kant, Karo (2012). The Atlantic Slave Trade: Effects on Africa. GRIN Verlag. hlm. 1. ISBN 978-3-656-15818-9. 
  162. ^ Smith, Jack (1985). "Hales Trophy, won in 1952 by SS United States remains at King's Point as Challenger succumbs to the sea". Yachting (November): 121. 
  163. ^ Halpern, B. S.; Walbridge, S.; Selkoe, K. A.; Kappel, C. V.; Micheli, F.; d'Agrosa, C.; Bruno, J. F.; Casey, K. S.; Ebert, C.; Fox, H. E.; Fujita, R.; Heinemann, D.; Lenihan, H. S.; Madin, E. M. P.; Perry, M. T.; Selig, E. R.; Spalding, M.; Steneck, R.; Watson, R. (2008). "A Global Map of Human Impact on Marine Ecosystems" (PDF). Science. 319 (5865): 948–52. Bibcode:2008Sci...319..948H. doi:10.1126/science.1149345. PMID 18276889. 
  164. ^ "Trade routes". World Shipping Council. 
  165. ^ Roach, John (17 September 2007). "Arctic Melt Opens Northwest Passage". National Geographic. 
  166. ^ "Global trade". World Shipping Council. 
  167. ^ Joint Chief of Staff (31 August 2005). "Bulk cargo" (PDF). Department of Defense Dictionary of Military and Associated Terms. Washington DC: Department of Defense. hlm. 73. 
  168. ^ Reed Business Information (22 May 1958). "Fork lift trucks aboard". News and Comments. New Scientist. 4 (79): 10. 
  169. ^ a b Sauerbier, Charles L.; Meurn, Robert J. (2004). Marine Cargo Operations: a guide to stowage. Cambridge, Md: Cornell Maritime Press. hlm. 1–16. ISBN 0-87033-550-2. 
  170. ^ "Freight forwarder". Random House Unabridged Dictionary. Random House. 1997. 
  171. ^ "Introduction to IMO". International Maritime Organization. 2013. 
  172. ^ Guthrie, Dale (2005). The Nature of Paleolithic Art. p. 298. University of Chicago Press. ISBN 0-226-31126-0.
  173. ^ 范蠡 (Fan Li). 《養魚經》 atau 《养鱼经》 [Yǎngyú Jīng, "The Fish-Breeding Classic"]. s. 475 SM. (Tionghoa)
  174. ^ Nash, Colin (2011). The History of Aquaculture. pp. 26 ff. Blackwell Publishing, Danvers, Massachusetts.
  175. ^ Ἰσίδωρος Χαρακηνός (Isidore of Charax). Τὸ τῆς Παρθίας Περιηγητικόν [Tò tēs Parthías Periēgētikón, A Journey around Parthia]. c. 1st century AD (Yunani Kuno) in Ἀθήναιος (Athenaeus). Δειπνοσοφισταί [Deipnosophistaí, The Dinner Experts], Book III, 93E. c. 3rd century (Yunani Kuno) Trans. Charles Burton Gulick as Athenaeus, Vol. I, p. 403. Harvard University Press, 1927.
  176. ^ Ὀππιανός (Oppian). Ἁλιευτικά [Halieutiká, The Halieutics]. c. 180. Trans. John Jones as Oppian's Halieuticks, Part II: "Of the Fishing of the Ancients", Book III, ll. 103–132. Rob. Shippen (Oxford), 1722.
  177. ^ Kurlansky, Mark. Cod: A Biography of the Fish That Changed the World. Walker (New York), 1997. ISBN 0-8027-1326-2.
  178. ^ Trinity Sailing Foundation (2014). Sailing Trawlers. Issuu (Brixham).
  179. ^ a b c d Kunzig, Robert (April 1995). "Twilight of the Cod" in Discover Magazine, Vol. 52.
  180. ^ a b c Granger, R. (2012). The State of World Fisheries and Aquaculture. pp. 3 ff. FAO Fisheries and Aquaculture Department (Rome). ISBN 978-92-5-107225-7.
  181. ^ Hamilton, Lawrence (2001). "Outport Adaptations: Social Indicators through Newfoundland's Cod Crisis". Human Ecology Review. 8 (2): 1–11. 
  182. ^ "Fishery Country Profile: The People's Republic of China". FAO Fisheries and Aquaculture Department (Rome), December 2006.
  183. ^ Qiang, Hou (16 May 2013). "China starts annual South China Sea fishing ban". Xinhua (Beijing).
  184. ^ Hackett, Bob (2014). "Tonan Maru No. 2: Tabular Record of Movement" in Yusosen! Stories and Battle Histories of the IJN's Oilers & Tanker Fleet..
  185. ^ Farmer, Tina (2014). "Topics Fact Sheet: Fishing People". FAO Fisheries and Aquaculture Department (Rome).
  186. ^ a b Statistics and Information Service (2012). "Overview: Major Trends and Issues"[pranala nonaktif permanen]. FAO, Fisheries and Aquaculture Department (Rome).
  187. ^ Watson, R.; Pauly, D. (2001). "Systematic distortions in world fisheries catch trends". Nature. 414 (6863): 534–36. Bibcode:2001Natur.414..534W. doi:10.1038/35107050. PMID 11734851. 
  188. ^ "Peruvian Fisheries' Production Up Dramatically". Peru This Week. 17 January 2014.
  189. ^ Evans, Michael (3 June 2011). "Fishing". Earth Times.
  190. ^ a b "Fisheries: Latest data". GreenFacts. 
  191. ^ Myers, R. A.; Worm, B. (2003). "Rapid worldwide depletion of predatory fish communities". Nature. 423 (6937): 280–83. Bibcode:2003Natur.423..280M. doi:10.1038/nature01610. PMID 12748640. 
  192. ^ Charles Clover (2008). The End of the Line: How Overfishing is Changing the World and what We Eat. University of California Press. ISBN 978-0-520-25505-0. OCLC 67383509. 
  193. ^ Béné, C.; Macfadyen, G.; Allison, E. H. (2007). Increasing the contribution of small-scale fisheries to poverty alleviation and food security. Fisheries Technical Paper. No. 481. FAO. ISBN 978-92-5-105664-6. 
  194. ^ The State of World Fisheries and Aquaculture 2012. FAO Fisheries and Aquaculture Department. 2012. ISBN 978-92-5-107225-7. 
  195. ^ Soto, D., ed. (2009). Integrated mariculture. Fisheries and Aquaculture Technical Paper. No. 529. FAO. ISBN 978-92-5-106387-3. 
  196. ^ "About shrimp farming". Shrimp News International. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 February 2010. 
  197. ^ "Sea cucumber ranching improves livelihoods". WorldFish. 
  198. ^ Anderson, Genny (15 June 2009). "Lobster mariculture". Marine Science. 
  199. ^ Winterman, Denise (30 July 2012). "Future foods: What will we be eating in 20 years' time?". BBC. 
  200. ^ "Samphire". BBC: Good Food. 
  201. ^ "An Overview of China's Aquaculture", p. 6. Netherlands Business Support Office (Dalian), 2010.
  202. ^ Black, K. D. (2001). "Mariculture, Environmental, Economic and Social Impacts of". Dalam Steele, John H.; Thorpe, Steve A.; Turekian, Karl K. Encyclopedia of Ocean Sciences. Academic Press. hlm. 1578–84. doi:10.1006/rwos.2001.0487. ISBN 9780122274305. 
  203. ^ Jefferson, Thomas (1776). "A Declaration by the Representatives of the United States of America, in General Congress Assembled". John Dunlap (Philadelphia).
  204. ^ Bagian tersebut dinyatakan oleh George III "Untuk menunjang kami dalam beberapa masalah, dari manfaat pengadilan oleh juri"[203] merujuk kepada penegakan Stamp Act oleh pengadilan maritim, dianggap lebih nampak untuk mengamankan keputusan ketimbang juri kolonial.
  205. ^ Grotius, Hugo. Mare Liberum ["The Free Sea"]. 1609. (Latin)
  206. ^ Bynkershoek, Cornelius (1702). De dominio maris ["On the Dominion of the Sea"]. (Latin)
  207. ^ a b c "The United Nations Convention on the Law of the Sea (A historical perspective)". Oceans & Law of the Sea. Jawatan Urusan Hukum Perserikatan Bangsa-Bangsa. (New York), 2012.
  208. ^ Truman, Harry (28 September 1945). Presidential Proclamation No. 2667: Policy of the United States with Respect to the Natural Resources of the Subsoil of the Sea Bed and the Continental Shelf. (Washington). Hosted at the National University of Singapore.
  209. ^ Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (1982), §87(1).
  210. ^ Dutton, Benjamin (2004). Dutton's Nautical Navigation (edisi ke-15th). Naval Institute Press. hlm. 260–65. ISBN 155750248X. 
  211. ^ Grant, R.G. (2008) Battle at Sea: 3,000 Years of Naval Warfare. DK Publishing. ISBN 9780756671860
  212. ^ Drews, Robert (1993). The End of the Bronze Age: Changes in Warfare and the Catastrophe ca. 1200 B.C. Princeton University Press. ISBN 0691025916
  213. ^ Strauss, Barry (2004). The Battle of Salamis: The Naval Encounter that Saved Greece—and Western Civilization, p. 26. Simon & Schuster. ISBN 0-7432-4450-8.
  214. ^ Herodotus. Ἱστορίαι [The Histories], VIII. 97. c. 420 BC. (Yunani Kuno)
  215. ^ Konstam, Angus (2008). Piracy: The Complete History. Osprey Publishing. ISBN 978-1-84603-240-0. 
  216. ^ "Piracy and armed robbery against ships". International Maritime Organisation. Diakses tanggal 21 April 2015. 
  217. ^ Fremont-Barnes, Gregory; Hook, Christa (2005). Trafalgar 1805: Nelson's Crowning Victory. Osprey Publishing. hlm. 1. ISBN 1-84176-892-8. 
  218. ^ Sterling, Christopher (2008). Military Communications: From Ancient Times to the 21st Century. p. 459. ABC-CLIO. ISBN 1-85109-732-5.
  219. ^ "Pertempuran angkatan laut Tsushima, sorotan utama dari Perang Rusia-Jepang 1904–1905, adalah salah satu pertempuran laut paling menonjol dalam sejarah."[218]
  220. ^ Campbell, John (1998). Jutland: An Analysis of the Fighting, p. 2. Lyons Press. ISBN 1-55821-759-2.
  221. ^ Helgason, Guðmundur. "Finale". Uboat.net.
  222. ^ Bennett, William (2007). America: The Last Best Hope, Vol. 2: From a World at War to the Triumph of Freedom 1914—1989, p. 301. Nelson Current. ISBN 978-1-59555-057-6.
  223. ^ "Q&A: Trident Replacement". BBC. 22 September 2010.
  224. ^ Simpson, Michael (2004). A Life of Admiral of the Fleet Andrew Cunningham: A Twentieth-Century Naval Leader, p. 74. Routledge. ISBN 978-0-7146-5197-2.
  225. ^ Crocker, H.W. III. (2006) Don't Tread on Me: A 400-Year History of America at War, pp. 294 ff. Three Rivers Press. ISBN 978-1-4000-5364-3.
  226. ^ Thomas, Evan (2007). Sea of Thunder, pp. 3 ff. Simon & Schuster. ISBN 0-7432-5222-5.
  227. ^ Lickorish, Leonard (1997). Introduction to Tourism. p. 16. Butterworth–Heinemann (Oxford). ISBN 1136391916
  228. ^ Hazbun, Waleed (2007). "The East as an Exhibit: Thomas Cook & Son and the Origins of the International Tourism Industry in Egypt", p. 5 in The Business of Tourism: Place, Faith, and History. University of Pennsylvania Press. ISBN 0812239687
  229. ^ Newman, Jeff. "The Blue Riband of the North Atlantic". Great Ships.
  230. ^ Norris, Gregory (1981). "Evolution of Cruising", p. 28 in Cruise Travel.
  231. ^ "No evidence to support Foreign Minister Bob Carr's economic migrants claims". ABC News. 15 August 2013. 
  232. ^ "The voice of the recreational marine industry worldwide". International Council of Marine Industry Associations. 2013. 
  233. ^ "Yachting". YachtingMagazine.com. 
  234. ^ Aas, Øystein, ed. (2008). Global Challenges in Recreational Fisheries. John Wiley and Sons. hlm. 5. ISBN 0-470-69814-4. 
  235. ^ Dowling, Ross Kingston, ed. (2006). Cruise Ship Tourism. CABI. hlm. 3. ISBN 1-84593-049-5. 
  236. ^ Cater, Carl; Cater, Erlet (2007). Marine Ecotourism: Between the Devil and the Deep Blue Sea. CABI. hlm. 8. ISBN 1-84593-260-9. 
  237. ^ "Health Benefits of Sea Bathing". MedClick. 
  238. ^ Nickel, C.; Zernial, O.; Musahl, V.; Hansen, U.; Zantop, T.; Petersen, W. (2004). "A Prospective Study of Kitesurfing Injuries". American Journal of Sports Medicine. 32 (4): 921–27. doi:10.1177/0363546503262162. PMID 15150038. 
  239. ^ "The disciplines of windsurfing". World of Windsurfing. 15 April 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-09-25. 
  240. ^ "Water skiing disciplines". ABC of Skiing. 
  241. ^ Catelle, W. R. (1907). "Methods of Fishing". The Pearl: Its Story, Its Charm, and Its Value. J. B. Lippincott. hlm. 171. 
  242. ^ a b US Navy Diving Manual, 6th revision. US Naval Sea Systems Command. 2006. 
  243. ^ Ovdak, Alla (2013). "Offshore Wind Energy in France".
  244. ^ a b "Ocean Energy". Ocean Energy Systems. 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-05-05. 
  245. ^ Cruz, João (2008). Ocean Wave Energy – Current Status and Future Perspectives. Springer. hlm. 2. ISBN 3-540-74894-6. 
  246. ^ US Department of the Interior (May 2006). "Ocean Current Energy Potential on the U.S. Outer Continental Shelf" (PDF). 
  247. ^ Ponta, F. L.; Jacovkis, P. M. (2008). "Marine-current power generation by diffuser-augmented floating hydro-turbines". Renewable Energy. 33 (4): 665–73. doi:10.1016/j.renene.2007.04.008. 
  248. ^ Lynn, Paul A. (2011). Onshore and Offshore Wind Energy: An Introduction. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-119-96142-0. 
  249. ^ Environmental and Energy Study Institute (October 2010). "Offshore Wind Energy" (PDF). 
  250. ^ Tillessen, Teena (2010). "High demand for wind farm installation vessels". Hansa International Maritime Journal. 147 (8): 170–71. 
  251. ^ "Cooling power plants". World Nuclear Association. 1 September 2013. 
  252. ^ Lamb, Robert (2011). "How offshore drilling works". HowStuffWorks. 
  253. ^ Nixon, Robin (25 June 2008). "Oil Drilling: Risks and Rewards". LiveScience. 
  254. ^ Horton, Jennifer (2011). "Effects of offshore drilling: energy vs. environment". HowStuffWorks. 
  255. ^ "Chemistry: Mining the Sea". Time. 15 May 1964. 
  256. ^ Al-Weshah, R. A. (2000). "The water balance of the Dead Sea: An integrated approach". Hydrological Processes. 14: 145–54. Bibcode:2000HyPr...14..145A. doi:10.1002/(SICI)1099-1085(200001)14:1<145::AID-HYP916>3.0.CO;2-N. 
  257. ^ Nurok, G. A.; Bubis, I. V. (1970–1979). "Mining, Undersea". The Great Soviet Encyclopedia, 3rd Edition. 
  258. ^ Kohl, Keith (2013). "Underwater Mining Companies". Wealth Daily. 
  259. ^ Miner, Meghan (1 February 2013). "Will Deep-sea Mining Yield an Underwater Gold Rush?". National Geographic. 
  260. ^ Hamed, O. A. (2005). "Overview of hybrid desalination systems — current status and future prospects". Desalination. 186: 207–214. doi:10.1016/j.desal.2005.03.095. 
  261. ^ Milkov, A. V. (2004). "Global estimates of hydrate-bound gas in marine sediments: How much is really out there?". Earth-Science Reviews. 66 (3–4): 183–97. Bibcode:2004ESRv...66..183M. doi:10.1016/j.earscirev.2003.11.002. 
  262. ^ Achurra, L.E.; Lacassie, J.P.; Le Roux, J.P.; Marquardt, C.; Belmar, M.; Ruiz-del-Solar, J.; Ishman, S.E. (2009). "Manganese nodules in the Miocene Bahía Inglesa Formation, north-central Chile: Petrography, geochemistry, genesis and palaeoceanographic significance". Sedimentary Geology. 217 (1–4): 128–39. Bibcode:2009SedG..217..128A. doi:10.1016/j.sedgeo.2009.03.016. 
  263. ^ "Diamonds". Geological Survey of Namibia. Ministry of Mines and Energy. 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-04-06. 
  264. ^ "Toxic Pollution". Ocean Briefing Book. SeaWeb. 
  265. ^ Ansari, T. M.; Marr, I. L.; Tariq, N. (2004). "Heavy Metals in Marine Pollution Perspective–A Mini Review" (PDF). Journal of Applied Sciences. 4: 1–20. Bibcode:2004JApSc...4....1.. doi:10.3923/jas.2004.1.20. 
  266. ^ a b "Marine problems: Pollution". World Wildlife Fund. 
  267. ^ Dell'Amore, Christine (12 April 2013). "New Diseases, Toxins Harming Marine Life". National Geographic Daily News. National Geographic. 
  268. ^ Jefferies, D. F.; Preston, A.; Steele, A. K. (1973). "Distribution of caesium-137 in British coastal waters". Marine Pollution Bulletin. 4 (8): 118–22. doi:10.1016/0025-326X(73)90185-9. 
  269. ^ Tsumune, D.; Tsubono, T.; Aoyama, M.; Hirose, K. (2012). "Distribution of oceanic 137Cs from the Fukushima Dai-ichi Nuclear Power Plant simulated numerically by a regional ocean model". Journal of Environmental Radioactivity. 111: 100–08. doi:10.1016/j.jenvrad.2011.10.007. PMID 22071362. 
  270. ^ "London Convention and Protocol". International Maritime Organization. 
  271. ^ "International Convention for the Prevention of Pollution from Ships (MARPOL 73/78)". International Maritime Organization. 
  272. ^ Barnes, D. K. A.; Galgani, F.; Thompson, R. C.; Barlaz, M. (2009). "Accumulation and fragmentation of plastic debris in global environments". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 364 (1526): 1985–98. doi:10.1098/rstb.2008.0205. PMC 2873009alt=Dapat diakses gratis. PMID 19528051. 
  273. ^ Karl, D. M. (1999). "Minireviews: A Sea of Change: Biogeochemical Variability in the North Pacific Subtropical Gyre" (PDF). Ecosystems. 2 (3): 181–214. doi:10.1007/s100219900068. JSTOR 3658829. 
  274. ^ Lovett, Richard A. (2 March 2010). "Huge Garbage Patch Found in Atlantic too". National Geographic. 
  275. ^ Moore, C. J. (2008). "Synthetic polymers in the marine environment: A rapidly increasing, long-term threat". Environmental Research. 108 (2): 131–39. Bibcode:2008ER....108..131M. doi:10.1016/j.envres.2008.07.025. PMID 18949831. 
  276. ^ "How Does the BP Oil Spill Impact Wildlife and Habitat?". National Wildlife Federation. 
  277. ^ American Chemical Society (9 April 2013). "Gulf of Mexico Has Greater-Than-Believed Ability to Self-Cleanse Oil Spills". Science Daily. 
  278. ^ "Environmental, social and cultural settings of the Surin Islands". Sustainable Development in Coastal Regions and Small Islands. UNESCO. 
  279. ^ "Samal – Orientation". Countries and Their Cultures. 
  280. ^ Langenheim, Johnny (18 September 2010). "The last of the sea nomads". The Guardian. 
  281. ^ Ivanoff, Jacques (1 April 2005). "Sea Gypsies of Myanmar". National Geographic. 
  282. ^ Hovelsrud, G. K.; McKenna, M.; Huntington, H. P. (2008). "Marine Mammal Harvests and Other Interactions with Humans". Ecological Applications. 18 (2 Suppl): S135–47. doi:10.1890/06-0843.1. JSTOR 40062161. PMID 18494367. 
  283. ^ "Traditional Owners of the Great Barrier Reef". Great Barrier Reef Marine Park Authority. 
  284. ^ Westerdahl, C. (1994). "Maritime cultures and ship types: Brief comments on the significance of maritime archaeology". International Journal of Nautical Archaeology. 23 (4): 265–270. doi:10.1111/j.1095-9270.1994.tb00471.x. 
  285. ^ Ayub 41:1–34
  286. ^ Kerenyi, C. (1974). The Gods of the Greeks. Thames and Hudson. hlm. 37–40. ISBN 0-500-27048-1. 
  287. ^ Shunsen, Takehara (1841). Ehon Hyaku Monogatari (絵本百物語, "Picture Book of a Hundred Stories") (dalam bahasa Japanese). Kyoto: Ryûsuiken. 
  288. ^ Pontoppidan, Erich (1839). The Naturalist's Library, Volume 8: The Kraken. W. H. Lizars. hlm. 327–36. 
  289. ^ Cotterell, Arthur, ed. (2000). World Mythology. Parragon. ISBN 978-0-7525-3037-6. 
  290. ^ Slive, Seymour (1995). Dutch Painting, 1600–1800. Yale University Press. hlm. 213–16. ISBN 0-300-07451-4. 
  291. ^ Johnson, Ken (30 July 2009). "When Galleons Ruled the Waves". New York Times. 
  292. ^ Tymieniecka, Anna–Teresa, ed. (1985). Poetics of the Elements in the Human Condition: Part I – The Sea: From Elemental Stirrings to the Symbolic Inspiration, Language, and Life-Significance in Literary Interpretation and Theory. Springer. hlm. 4–8. ISBN 978-90-277-1906-5. 
  293. ^ Wagner, Richard (1843). "An Autobiographical Sketch". The Wagner Library. 
  294. ^ Potter, Caroline; Trezise, Simon, ed. (1994). "Debussy and Nature". The Cambridge Companion to Debussy. Cambridge Companions to Music. Cambridge University Press. hlm. 149. ISBN 0-521-65478-5. 
  295. ^ Schwartz, Elliot S. (1964). The Symphonies of Ralph Vaughan Williams. University of Massachusetts Press. ASIN B0007DESPS. 
  296. ^ Tymieniecka, Anna–Teresa, ed. (1985). Poetics of the Elements in the Human Condition: Part I – The Sea: From Elemental Stirrings to the Symbolic Inspiration, Language, and Life-Significance in Literary Interpretation and Theory. Springer. hlm. 45. ISBN 978-90-277-1906-5. 
  297. ^ Homer (2003). The Odyssey. Translation by Rieu, D. C. H. Penguin. hlm. xi. ISBN 0-14-044911-6. 
  298. ^ Porter, John (8 May 2006). "Plot Outline for Homer's Odyssey". University of Saskatchewan. 
  299. ^ Basho, Matsuo. "A Selection of Matsuo Basho's Haiku". Greenleaf. 
  300. ^ Van Doren, Carl (1921). "Chapter 3. Romances of Adventure. Section 2. Herman Melville". The American Novel. Bartleby.com. 
  301. ^ Najder, Zdzisław (2007). Joseph Conrad: A Life. Camden House. hlm. 187. ISBN 157113347X. 
  302. ^ "The Caine Mutiny". Pulitzer Prize First Edition Guide. 2006. 
  303. ^ Jung, Carl Gustav (1985). Dreams. Translated by Hull, R.F.C. Ark Paperbacks. hlm. 122, 192. ISBN 978-0-7448-0032-6. 
  304. ^ Lal, A. K. (2008). "Origin of Life". Astrophysics and Space Science. 317 (3–4): 267–78. arXiv:0907.3552alt=Dapat diakses gratis. Bibcode:2008Ap&SS.317..267L. doi:10.1007/s10509-008-9876-6. 
  305. ^ Winchester, Simon (2010). Atlantic: A vast ocean of a million stories. London: Harper Press. hlm. 354–56. ISBN 978-0-00-736459-6. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]