Laut

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Laut berpengaruh bagi pembangunan dan perdagangan manusia, seperti di Singapura, kota pelabuhan tersibuk di dunia.

Laut adalah sebuah badan air asin besar yang dikelilingi secara menyeluruh atau sebagian oleh daratan.[1][2][a] Dalam pengartian yang lebih luas, "laut" adalah sistem perairan samudera berair asin yang saling terhubung di Bumi—dianggap sebagai satu samudera global atau sebagai beberapa divisi samudera utama. Laut memoderasi iklim Bumi dan memiliki peran penting dalam siklus air, siklus karbon, dan siklus nitrogen. Meskipun laut telah dijelajahi dan dieksplorasi sejak zaman prasejarah, kajian saintifik modern dari laut—oseanografi—baru dimulai pada masa ekspedisi Challenger Britania Raya pada 1870an.[3] Laut secara konvensional terbagi dalam lima bagian samudera besar—yang meliputi empat samudera yang diakui Organisasi Hidrografi Internasional[4] (Atlantik, Pasifik, Hindia, dan Arktik) dan Samudera Selatan;[5] bagian kelas dua yang lebih kecil, seperti Laut Tengah, dikenal sebagai laut.

Tergantung pada keadaan pergeseran benua terkini, Hemisfer Utara sekarang secara adil dan setara terbagi antara darat dan laut (ratio sekitar 2:3) namun Hemisfer Selatan secara nyaris keseluruhan merupakan samudera (1:4.7).[6] Salinitas di samudera terbuka secara umum berada dalam massa sekitar 3.5%, meskipun ia dapat beragam di perairan yang lebih terkunci daratan, dekat mulut sungai besar, atau di kedalaman besar. Sekitar 85% kandungan di laut terbuka adalah sodium klorida. Arus laut dalam dihasilkan oleh perbedaan antara salinitas dan suhu. Arus permukaan terbentuk oleh pengaruh gelombang yang dihasilkan oleh angin dan oleh pasang laut, perubahan pada permukaan laut lokal dihasilkan oleh gravitasi Bulan dan Matahari. Pengarahan dari semua itu diatur oleh massa tanah permukaan dan anak laut dan oleh rotasi Bumi (efek Coriolis).

Perubahan masa lalu pada permukaan laut meninggalkan landas benua, kawasan dangkai di laut yang dekat dengan darat. Perairan yang kaya akan nutrien tersebut didiami oleh kehidupan, yang menyediakan manusia dengan suplai pangan substansial—terutama ikan, selain juga kerang, mamalia dan rumput laut—yang dipanen di alam liar dan diternakkan. Kawasan-kawasan paling beragam mengitari terumbu karang tropis besar. Perburuan ikan paus di laut dalam sempat menjadi umum namun penurunan jumlah ikan paus menimbulkan upaya-upaya konservasi mancanegara dan kemudian sebuah moratorium pada sebagian besar perburuan komersial. Oseanografi telah dihimpun agar tak seluruh kehidupan dibatasi pada perairan permukaan sinar matahari: bahkan di bawah kedalaman dan tekanan besar, nutrien mengalir dari lapisan-lapisan hidrotermal yang mendukung ekosistem uniknya sendiri. Kehidupan dimulai disana dan keset mikrobial akuatik umumnya mengalami oksigenasi dari atmosfir Bumi: tumbuhan dan hewan mula-mula berevolusi di laut.

Laut adalah aspek esensial dari perdagangan, perjalanan, penyarian mineral, dan pembangkit listrik manusia. Ini juga membuatnya esensial pada peperangan dan membuat kota-kota besar terancam akan gempa bumi dan gunung berada dari sesar yang ada didekatnya; arus tsunami kuat; dan angin ribut, topan, dan siklon yang dihasilkan di wilayah tropis. Pengaruh dan dualitas ini memiliki dampak pada budaya manusia, dari dewa laut; puisi epos Homer; perubahan yang ditimbulkan oleh Pertukaran Kolumbia; penguburan laut; haiku-haiku karya Basho; seni kelautan hiperrealis; serta musik yang terinspirasi dari puji-pujian Alameda The Complaynt of Scotland, "The Sea and Sinbad's Ship" karya Rimsky-Korsakov dan "Penyimakan Laut" karya A-mei. Laut adalah tempat kegiatan-kegiatan waktu luang yang meliputi berenang, menyelam, selancar dan pelayaran. Namun, pertumbuhan penduduk, industrialisasi, dan pertanian intensif semuanya berkontribusi pada polusi laut pada masa sekarang. Karbon dioksida di atmosfir makin meningkat jumlahnya, mengurangi pH dalam proses yang dikenal sebagai Asidifikasi semudera. Pembagian alam laut membuat perikanan berlebihan makin menjadi masalah.

Definisi[sunting | sunting sumber]

Sistem saling terhubung dari samudera-samudera dunia dan berbagai pembagian mereka.

Karena istilah tersebut diterapkan sepanjang waktu, tak ada kekhasan tajam antara laut dan samudera, meskipun laut berukuran lebih kecil dan biasanya dibatasi oleh wilayah tanah (dan memiliki skala yang lebih kecil ketimbang benua),[7] pengecualian standar tunggal adalah Laut Sargasso, yang diciptakan oleh empat arah angin yang dijuluki Gyre Atlantik Utara.[8](h90) Laut umumnya lebih besar ketimbang danau dan terdiri dari air asin. Meskipun unsur-unsur yang didefinisikan dari ukuran dan pengikatan yang umum dipakai, tak ada definisi teknikal yang resmi diterima dari "laut" di kalangan oseanografer.[b] Dalam hukum internasional, Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut menyatakan bahwa semua samudera adalah "laut".[11][c]

Ilmu fisika[sunting | sunting sumber]

"Kelereng Biru" dalam orientasi aslinya, menampilkan persimpangan Samudera Hindia dan Samudera Atlantik di Tanjung Harapan.

Bumi adalah satu-satunya planet yang diketahui memiliki laut air cair di permukaannya,[8](h22) meskipun Mars memiliki lapisan es dan planet-planet serupa di tata surya lainnya memiliki samudera.[13] Masih tidak jelas darimana air Bumi berasal, namun, nampaknya berasal dari ruang angkasa, planet Bumi nampak seperti "kelereng biru" dari berbagai bentuknya: samudera, lapisan es, awan.[14] Laut Bumi memiliki luas 1,335,000,000 kubik kilometer (320,000,000 mil kubik) yang artinya terdiri dari sekitar 97.2 persen dari air yang diketahui[15][d] dan meliputi lebih dari 70 persen permukaannya.[8](h7) 2.15% air Bumi bersifat beku, ditemukan pada es laut yang menyelimuti Samudera Arktik, lapisan es yang menyelimuti Antarktika dan laut-laut di dekatnya, dan berbagai gletser dan deposit permukaan di seluruh dunia. Sisanya (sekitar 0.65% dari keseluruhan) membentuk penyedia bawah tanah atau berbagai tahap dari siklus air, yang terdiri dari air tawar dan dipakai oleh sebagian besar kehidupan terestrial: embun di udara, awan-awan yang terbentuk perlahan, hujan yang turun, dan danau dan sungai secara spontan terbentuk karena airnya mengalir lagi dan lagi ke laut.[15] Menurut pengarang Inggris Arthur C. Clarke, dominasi laut di Bumi dapat membuat "Bumi" akan lebih disebut sebagai "Samudera".[8](h7)

Kajian saintifik dari air dan siklus air Bumi adalah hidrologi; hidrodinamika mengkaji gerak fisika pada air. Kajian terkini dari laut utamanya adalah oseanografi. Ini dimulai sebagai kajian dari bentuk arus-arus samudera[20] namun sejak itu diperluas menjadi bidang multidisipliner dan besar :[21] ilmu tersebut mengkaji properti-properti air laut; mengkaji gelombang; mengukur garis-garis pesisir dan memetakan pinggir laut; dan mengkaji kehidupan laut.[22] The subfield dealing with the sea's motion, its forces, and the forces acting upon it is known as physical oceanography.[23] Biologi laut (oseanof=grafi biologi) mengkaji tumbuhan, hewan dan organisme lain yang tinggal dalam ekosistem laut. Keduanya diinformasikan oleh oseanografi kimia, yang mengkaji perilaku unsur-unsur dan molekul-molekul dalam samudera; terutama, pada peran samudera dalam siklus karbon dan peran karbon dioksida dalam peningkatan asidifikasi air laut. Geografi laut dan maritim mengukur bentuk dan bentukan laut, sementara geologi laut (oseanografi geologi) menyediakan bukti pergeseran benua dan komposisi dan struktur Bumi, mengklarifikasi proses sedimentasi, dan membantu kajian vulkanisme dan gempa bumi.[21]

Air laut[sunting | sunting sumber]

Penjelajahan Laut oleh Manusia[sunting | sunting sumber]

Pemetaan Laut[sunting | sunting sumber]

Kapal Santa Maria yang dipakai untuk menjelajah dunia

Penjelajahan terhadap lautan telah dilakukan sejak 800 M oleh bangsa Viking. Awalnya penjelajahan berfokus pada pencarian Emas, Perak, perhiasan, dan besi. Mereka berlayar ke Prancis, Inggris, dan Laut Tengah. Kemudian pada abad ke-7, penjelajahan dilanjutkan Bangsa Arab. Bangsa arab berlayar hingga Asia Tenggara, dengan penjelajahnya yang paling terkenal adalah Ibnu Batuta. Bangsa Arab menemukan cara untuk menentukan arah dengan panduan rasi bintang, serta mempelajari angin muson. Barulah pada abad ke-15, setelah Konstatinopel jatuh ke tangan Turki, Kerajaan-kerajaan Eropa melakukan penjelajahan laut ke seluruh dunia, terutama terkait dengan misi pencarian rempah-rempah dan mencari tanah jajahan yang baru. Di saat inilah pemetaan mengenai laut berkembang pesat.

Laut (disebut juga bahari) adalah sebuah kumpulan air asin yang luas dan merupakan bagian dari samudera raya. Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Menurut sejarah, laut terbentuk sekitar 4,4 milyar tahun yang lalu, dan bersifat sangat asam dengan suhu yang diperkirakan 100 °C karena panasnya bumi pada saat itu. Sifat asam air laut dikarenakan pada saat itu atmosfer bumi dipenuhi oleh karbon dioksida sehingga menyebabkan tingginya pelapukan serta menyebabkan air laut menjadi asin. Saat itupun gelombang tsunami sering terjadi karena asteroid sering menghantam bumi. Pasang surut laut yang terjadi pada saat itu bertipe mamut atau tinggi/besar karena jarak bulan yang sangat dekat dengan bumi.

Beberapa ahli pernah mengemukakan tentang awal mula terjadinya laut dan salah salah satu versi yang cukup terkenal adalah: bahwa pada saat itu bumi mulai mendingin akibat mulai berkurangnya aktivitas vulkanik, disamping itu atmosfer bumi pada saat itu tertutup oleh debu-debu vulkanik yang mengakibatkan terhalangnya sinar matahari untuk masuk ke bumi. Akibatnya, uap air di atmosfer mulai terkondensasi dan terbentuklah hujan. Air hujan inilah yang mengisi cekungan-cekungan di bumi hingga terbentuklah lautan. Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada di atmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar matahari dapat kembali masuk menyinari bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di bumi yang awalnya terendam air mulai kering (daratan). Proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan air laut semakin asin.

Pada sekitar 3,8 milyar tahun yang lalu, planet bumi mulai terlihat biru karena laut yang sudah terbentuk. Suhu bumi semakin dingin karena air di laut berperan dalam menyerap energi panas yang ada, namun pada saat itu diperkirakan belum ada bentuk kehidupan di bumi.

Menurut para ahli, kehidupan di bumi berawal dari lautan (life begin in the ocean). Namun demikian teori ini masih merupakan perdebatan hingga saat ini.

Pada hasil penemuan geologis pada tahun 1971 pada bebatuan di Afrika Selatan (yang diperkirakan berusia 3,2 - 4 milyar tahun) menunjukkan adanya fosil seukuran beras dari bakteri primitif yang diperkirakan hidup di dalam lumpur mendidih di dasar laut. Hal ini mungkin menjawab pertanyaan tentang saat-saat awal kehidupan dan di bagian lautan yang mana terjadi awal kehidupan tersebut, tetapi tentunya bukanlah hal yang mutlak sebagai jawaban dari sekian banyak ahli di dunia.

Penelitian Kelautan[sunting | sunting sumber]

Logo NOAA

Bagian ilmu yang berfokus dalam meneliti dunia kelautan disebut Oseanografi. Hal-hal yang berhubungan dengan kelautan juga disebut maritim. Ada sejumlah organisasi yang menyelenggarakan penelitian mengenai kelautan, a.l.:

NOAA[sunting | sunting sumber]

NOAA (National Oceanic and Atmospheric Association) yang memeriksa arus laut dan arah angin, yang berguna dalam mengatur arah perjalanan kapal. NOAA berbasis di Amerika Serikat dan bertugas untuk melaporkan potensi cuaca buruk dan gelombang tinggi laut.

IMO[sunting | sunting sumber]

Logo IMO

International Maritime Organization adalah organisasi kelautan internasional dibawah naungan PBB. IMO bertugas untuk meneliti keselamatan dalam pelayaran, serta menyelesaikan konflik perairan

Daftar laut di dunia[sunting | sunting sumber]

Laut Atlantik[sunting | sunting sumber]

Laut Jawa Laut Merah

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Catatab, ini adalah sebuah definisi umum yang secara konseptual ada pada sumber-sumber dari teknikal, pedagogikal sampai kamus (kamus memberikan penggunaan standar oleh kaum awam). Lihat badan utama dan Catatan, untuk rangkaian pengartian dan definisi lengkap dari istilah tersebut.
  2. ^ Satu definisi menyatakan bahwa laut adalah sub-divisi dari samudera, meskipun sekarang Organisasi Hidrografi Internasional mendefinisikan batas-batas samudera dunia dengan rujukan perairan ketimbang hal lain yang terdapat di laut,[4] yang diambil sebagai kebiasaan dan arbitrasi khusus.[9] Definisi untuk pelajar muda dan pasca-kelulusan, mengambil catatan penggunaan standar dan pengartian teknikal, seringkali menyatakan bahwa "laut" adalah istilah untuk badan air laut "terkunci daratan", dengan pengecualian kemudian harus dibuat untuk pengikatan arus samudera (seperti pengikatan dinamis) namun umumnya mengakui Laut Sargasso.[1][2] Pengartian ketiga menyatakan bahwa laut menimbulkan sebuah banjir yang terbentuk dari kerak samudera, yang akan menerima Kasia karena wilayah tersebut sempat menjadi bagian dari samudera kuno.[10]
  3. ^ Selain itu, Konvensi tersebut tak diterapkan kepada Kaspia, yang sebagai gantinya disebut "danau internasional" untuk kebanyakan keperluan hukum.[12]
  4. ^ Hydrous ringwoodite yang timbul dari letusan gunung berapi mensugestikan bahwa zona transisi antara mantel bawah dan mantel atas memiliki satu[16] dan tiga[17] kali jumlah air melebihi kombinasi seluruh samudera di permukaan dunia. Eksperimen yang merekreasi kondisi mantel bawah mensugestikan bahwa ini juga terdiri dari banyak air, serta lima kali lipat massa air yang terdapat di samudera-samudera dunia.[18][19]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b NGS Staff (27 September 2011). "Sea". National Geographic (online). Washington, DC: The National Geographic Society (NGS). Diakses tanggal 7 January 2017. [Quote:] ...a sea is a division of the ocean that is enclosed or partly enclosed by land... 
  2. ^ a b Karleskint, George (2009). Introduction to Marine Biology. Boston, MA: Cengage Learning. hlm. 47. ISBN 9780495561972. Diakses tanggal January 7, 2017. 
  3. ^ National Oceanic and Atmospheric Administration. "Then and Now: The HMS Challenger Expedition and the 'Mountains in the Sea' Expedition". Ocean Explorer.
  4. ^ a b Organisasi Hidrografi Internasional. "Limits of Oceans and Seas (Special Publication №28)", 3rd ed. Imp. Monégasque (Monte Carlo), 1953. Retrieved 7 February 2010.
  5. ^ Oxford English Dictionary, 1st ed. "sea, n." Oxford University Press (Oxford), 1911.
  6. ^ Reddy, M.P.M. (2001) Descriptive Physical Oceanography. p. 112. A.A. Balkema, Leiden. ISBN 90-5410-706-5.
  7. ^ NOS Staff (March 25, 2014). "What's the Difference between an Ocean and a Sea?". Ocean Facts. Silver Spring, MD: National Ocean Service (NOS), National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Diakses tanggal January 7, 2017 – via OceanService.NOAA.gov. 
  8. ^ a b c d Stow, Dorrik A.V. (2004). Encyclopedia of the Oceans. Oxford, UK: Oxford University Press. ISBN 0198606877. Diakses tanggal January 7, 2017. 
  9. ^ American Society of Civil Engineers (1994). The Glossary of the Mapping Sciences. p. 365. ASCE Publications. ISBN 0-7844-7570-9.
  10. ^ Conforti, B. (2005). The Italian Yearbook of International Law. Vol. 14, p. 237. Martinus Nijhoff. ISBN 978-90-04-15027-0.
  11. ^ Vukas, B. (2004) The Law of the Sea: Selected Writings. p. 271. Martinus Nijhoff. ISBN 978-90-04-13863-6.
  12. ^ Gokay, Bulent (2001). "The Politics of Caspian Oil". Palgrave Macmillan: 74. ISBN 978-0-333-73973-0. 
  13. ^ Ravilious, Kate (21 Apr 2009). "Most Earthlike Planet Yet Found May Have Liquid Oceans" in National Geographic.
  14. ^ Platnick, Steven. "Visible Earth". NASA.
  15. ^ a b NOAA. "Lesson 7: The Water Cycle" in Ocean Explorer.
  16. ^ Oskin, Becky (12 Mar 2014). "Rare Diamond Confirms that Earth's Mantle Holds an Ocean's Worth of Water" in Scientific American.
  17. ^ Schmandt, B.; Jacobsen, S. D.; Becker, T. W.; Liu, Z.; Dueker, K. G. (2014). "Dehydration melting at the top of the lower mantle". Science. 344 (6189): 1265–68. Bibcode:2014Sci...344.1265S. doi:10.1126/science.1253358. 
  18. ^ Harder, Ben (7 Mar 2002). "Inner Earth May Hold More Water Than the Seas" in National Geographic.
  19. ^ Murakami, M. (2002). "Water in Earth's Lower Mantle". Science. 295 (5561): 1885–87. Bibcode:2002Sci...295.1885M. doi:10.1126/science.1065998. 
  20. ^ Lee, Sidney (ed.) "Rennell, James" in the Dictionary of National Biography, Vol. 48. Smith, Elder, & Co. (London), 1896. Hosted at Wikisource.
  21. ^ a b Monkhouse, F.J. (1975) Principles of Physical Geography. pp. 327–28. Hodder & Stoughton. ISBN 978-0-340-04944-0.
  22. ^ b., R. N. R.; Russell, F. S.; Yonge, C. M. (1929). "The Seas: Our Knowledge of Life in the Sea and How It is Gained". The Geographical Journal. 73 (6): 571. doi:10.2307/1785367. JSTOR 1785367. 
  23. ^ Stewart, Robert H. (2008) Introduction To Physical Oceanography. pp. 2–3. Texas A & M University.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]