Bani Israil

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Bani Israil (bahasa Arab: بنو إسرائيل, Banū Israīl) atau Bani Israel adalah sebutan untuk kaum keturunan nabi Ya'qub (Israil). Kaum ini adalah kaum yang dilebihkan oleh Allah melampaui segala bangsa.[1] Bani Israel juga dikenal sebagai kaum yang diselamatkan oleh Allah untuk menyeberangi Laut Merah terhadap kejaran bala tentara Fir'aun.[2][3]

Sebuah surah dalam Al Qur'an; yakni surah Al Isra', memiliki nama lain surah Bani Israil.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kalimat Bani Israel berasal dari kata Bani dalam bahasa Arab artinya putra-putra atau keturunan laki-laki; sementara kata Israil / Israel adalah istilah yang terdiri dari dua kata, Isra dalam bahasa Arab berarti hamba atau tawanan[4][5] dan El yang berarti Tuhan. Maka arti Israel adalah "hamba Tuhan" atau "yang ditawan oleh Tuhan."

Beberapa aliran mazhab berpendapat bahwa "Israil" memiliki arti "berjalan di malan hari" karena menurut beberapa sumber riwayat, Nabi Ya'qub sering mengadakan perjalanan di waktu malam hari, sebab jika melakukan perjalanan di siang hari, ia takut ditemukan dan disiksa oleh saudaranya.[6]

Dalam Al-Qur'an[sunting | sunting sumber]

Istilah Bani Israel (Bani Israil) disebut sebanyak 41 kali dalam Al-Qur'an di 16 surah berbeda. Dalam surah Al-Baqarah dan Al-Ma'idah, nama Bani Israel disebut sebanyak 6 kali, sementara pada Surah Al-A'raf, Al-Isra dan Asy-Syu'ara disebut sebanyak 4 kali. Al-Qur'an menjelaskan riwayat Bani Israel khususnya di zaman nabi Musa dan nabi Isa. Al-Qur'an menyatakan pula beberapa pesan yang secara langsung ditujukan untuk Bani Israel.[7][8]

Asal mula dan para leluhur[sunting | sunting sumber]

Riwayat Bani Israel tidak dapat dipisahkan dari tiga sosok nabi, Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub[9][10] bersama dengan 'warisan anugerah' dari Allah tentang keistimewaan generasi mereka; maupun pewarisan "negeri Perjanjian" yang ditakdirkan untuk mereka. Dalam sejarahnya, pendirian Bani Israel terpusat pada kisah Israel (nabi Ya'qub) dengan putra-putranya yang kelak menjadi para leluhur dua belas suku di Israel. Dari keempat orang istri, Ya'qub memperanakkan dua belas putra, yakni Rubin, Simeon, Lawwy, Yahuda, Zebulaon, Isakhar, Dann, Jad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Bunyamin.[11]

Perjanjian warisan anugerah yang Allah karuniakan untuk umat Bani Israel, bermula ketika Ibrahim meninggalkan keluarga, kerabat, negeri dan tanah airnya untuk 'ditawan' (Isra') menuju 'bumi yang Allah wariskan' kepadanya beserta kaum keturunannya sebagai anugerah berkat untuk Ibrahim yang teruji memiliki keimanan dan kesetiaan kepada Allah, serta sebagai hadiah untuk Ibrahim yang telah sepenuhnya berserah diri kepada Allah, dengan melaksanakan apapun yang Allah perintahkan.[12][13][14] Ibrahim mewariskan agama kepada seluruh putranya[15] sedangkan warisan anugerah dari Allah, hanya diberikan kepada Ishaq; oleh karena Allah telah berjanji melalui pengutusan ketiga malaikat bahwa Ishaq adalah pewaris Ibrahim. Kemudian Ishaq mewariskan perjanjian ini kepada Ya'qub,[16][17] disebabkan Ya'qub memiliki perilaku baik dibanding anak pertama Ishaq, Ishau, seorang yang sewenang-wenang bagi Allah.[18]

Yusuf dan saudaranya, Bunyamin, merupakan dua ahli waris yang dianggap kesepuluh putra Ya'qub hendak diserahi bagian perjanjian waris, oleh karena mereka berdua adalah kesayangan bagi Ya'qub, ayah mereka.[19] Terlebih lagi, Yusuf merupakan anak sulung yang dilahirkan oleh Rahil, istri yang paling disayangi Ya'qub sehingga Yusuf sangat diperlakukan secara istimewa oleh Ya'qub. Yusuf juga mewarisi sosok dan keimanan Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub[20][21]. Hal ini secara tidak langsung menimbulkan rasa iri dan kekhawatiran bagi kesepuluh saudara Yusuf bahwa ayah mereka akan menyerahkan wasiat berkat dan perjanjian waris untuk Yusuf semata. Untuk menghindari pembagian semacam ini, kesepuluh putra Ya'qub mengadakan siasat menyingkirkan Yusuf dari ayah mereka.[22]

Akan tetapi, dugaan kesepuluh saudara Yusuf tidaklah benar, oleh sebab ketika ayah mereka hendak menjumpai maut, ia mengumpulkan seluruh putranya dalam pemberian berkat-berkat tertentu dari perjanjian waris supaya keturunan mereka memperoleh bagian dalam negeri warisan yang sebelumnya dipusakakan untuk Ibrahim dan Ishaq. Tatkala hendak menyampaikan wasiat-wasiat berkat untuk kedua belas putranya, Ya'qub menerima kesaksian dari dua belas putranya tentang apa yang akan mereka sembah sepeninggal dirinya. Dalam penyampaian wasiat berkat; Yahuda dijuluki sebagai kebanggaan serta pemimpin di Israel, sementara Yusuf memperoleh bagian paling banyak dalam warisan sebagai anak sulung Israel. Keturunan dari putra-putra Ya'qub inilah yang disebut Bani Israel.

Di antara Bani Israel terdapat para nabi yang termasuk golongan dua puluh lima nabi yang disebut dalam Al-Qur'an:

Karakter Bani Israel[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa sifat Bani Israel digambarkan di dalam Al-Qur'an, salah satunya adalah keras kepala,[23][24] sebagaimana telah banyak mukjizat dihadirkan melalui perantaraan nabi Musa, nabi Isa dan para nabi lainnya; sebagian dari kaum ini sering berkeras tidak mengakui kebenaran ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para nabi tersebut. Pembelotan terhadap para nabi sering terjadi dalam sejarah Bani Israel,[25][26] bahkan terdapat nabi-nabi yang mereka bunuh. Mereka juga benganggapan telah membunuh Isa walaupun mereka tidak meyakini bahwa yang dibunuh itu Isa.

Disamping itu ada beberapa keistimewaan Bani Israel pada zaman Musa, yakni disebut sebagai sebuah bangsa pilihan Tuhan yang paling 'istimewa' dibanding segala bangsa di bumi;[27] sebab mereka mewarisi anugerah yang diberikan oleh Allah untuk Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub. Disebut 'istimewa' sebab Bani Israel merupakan umat manusia yang diketahui pernah 'menyaksikan' Kemuliaan Allah meski umat ini diterpa sambaran kilat maupun petir yang dahsyat, bahkan umat ini pernah dibangkitkan dari kematian setelah mendapati sambaran kilat dan petir tersebut.[28] Berbagai mu'jizat juga telah dikaruniakan kepada Bani Israel semisal hidangan manna maupun daging burung puyuh (salwa) beserta kehadiran naungan awan pelindung terhadap terik panas padang gurun serta aliran-aliran sungai maupun berbagai sumber mata air di padang gurun; sebagai anugerah-anugerah langka yang tidak diberikan kepada satupun umat lain di muka bumi.[29] Sifat lain yang ditunjukkan generasi Bani Israel pada zaman Musa adalah sikap ketelitian, sebagaimana ketika seorang dari mereka meminta keterangan tentang seekor sapi betina sembelihan secara terperinci kepada Musa.[30]

Tidak seperti umat lain yang segera dipunahkan apabila memperbuat dosa besar ataupun memberontak terhadap ajaran Allah, Allah senantiasa sabar melindungi dan mempertahankan keberlangsungan umat ini melalui pengutusan para nabi dan kitab-kitab suci di kalangan mereka, dengan harapan Bani Israel bersedia mematuhi serta tunduk terhadap Allah supaya Dia mengistimewakan mereka sebagai umat yang paling disayangi dan umat yang paling berharga sebab Allah telah memilih Bani Israel sebagai umat istimewa di alam semesta melalui pertimbangan khusus.[31] Kecerdasan dan wawasan Ilmu adalah salah satu kekuatan mereka, bahkan Allah menyebut para ilmuwan (ulama) Bani Israel sebagai sumber pemahaman Al-Qur'an.[32]

Zaman Musa[sunting | sunting sumber]

Kehidupan di Mesir dan Hijrah menuju Palestina[sunting | sunting sumber]

Setelah kedua belas putra Ya'qub telah meninggal dunia, Bani Israel masih tinggal di Mesir sejak masa Yusuf berkuasa di negeri Mesir dan bangsa ini hidup dengan menggembalakan ternak di Gosyan, wilayah yang dipenuhi padang rumput dan tempat bercocok tanam yang baik. Bangsa Mesir tidak bergaul dengan Bani Israel sebab kaum penggembala menggiring sapi dan domba, hewan-hewan yang dianggap sebagai dewa-dewa bangsa Mesir.

Semenjak Yusuf menjabat sebagai panglima negara yang mengurus segala kebutuhan dan urusan di negeri Mesir, ia menyerahkan harta yang ia peroleh untuk Bani Israel. Sebagaimana nama 'Yusuf' yang bermakna 'berlipat-lipat', maka Yusuf memberkati seraya mendoakan jumlah Bani Israel supaya bertambah banyak. Mulai saat itu, penduduk Bani Israel yang laki-laki memenuhi berbagai wilayah di negeri Mesir. Kaum Fir'aun merasa ketakutan mendapati kumpulan laki-laki dari kaum Bani Israel yang semakin banyak, kemudian kaum Fir'aun berniat mengurangi jumlah laki-laki Bani Israel dengan mengadakan tipu muslihat melalui tindakan memperbudak maupun tipu daya untuk membunuh setiap anak laki-laki yang baru lahir dan membiarkan hidup setiap anak perempuan kaum Bani Israel.[33][34] Hal ini berlanjut hingga Allah menghadirkan Musa untuk memerdekakan dan meresmikan kedudukan Bani Israel dari "budak-budak yang ditindas manusia" menjadi "hamba-hamba yang dimiliki Allah" sewaktu meninggalkan Mesir supaya mengikat perjanjian yang kekal di Gunung Sinai.

Musa dan Harun tidak termasuk kaum budak bangsa Mesir, sebab keduanya berasal dari suku Lawwy, yang sejak semula tetap setia 'menghamba' kepada Allah sehingga tidak mau diperhamba oleh pihak manapun termasuk penduduk Mesir. Atas kesetiaan suku ini, Allah mengkhususkan mereka serta mempercayakan pengurusan ibadah beserta kedudukan kepala agama (Imam) pada keturunan Lawwy untuk seterusnya. Allah mengutus banyak nabi dari kalangan ini, sebab pengabdian mereka terhadap Allah adalah yang terbaik dibanding suku-suku lain di Bani Israel.[35]

Walau dihadapkan dengan seruan melalui berbagai mu'jizat untuk membebaskan hamba-hamba Allah, Fir'aun beserta kaumnya berkeras diri menolak seruan Musa maupun Harun. Hal ini berakibat kaum Fir'aun dilanda berbagai bencana mengerikan akibat berbagai penolakan tersebut.[36][37] Hingga datanglah Firman Allah kepada Musa untuk menyandera Bani Israel meninggalkan Mesir pada sebuah malam.[38][39] Meski dikejar bala tentara Fir'aun sewaktu menyeberangi Laut Merah, Bani Israel diselamatkan Allah melalui perantaraan Musa, sedangkan bala tentara Fir'aun ditumpas dalam lautan. Kemudian Bani Israel mengikat perjanjian dengan Allah di Thursina (Gunung Sinai) dan maju menduduki negeri Palestina sebagai negeri warisan yang ditakdirkan Allah sebagai milik mereka. Keadaan negeri Palestina pada zaman tersebut serupa dengan "Surga di muka bumi" dimana terdapat aliran-aliran sungai susu dan madu,[40] disebabkan berkah Ilahi yang berlimpah menaungi wilayah itu sehingga Allah berjanji mewariskan "Surga" di dunia maupun di Akhirat untuk golongan Israel: Ibrahim, Ishaq, Ya'qub beserta seluruh keturunan mereka yang benar-benar beriman serta menuruti segala perintah maupun segala ketetapan Allah.

Tidak mau beriman kecuali jika melihat Allah secara langsung[sunting | sunting sumber]

Ketika Bani Israel hendak menyatakan ikrar perjanjian kepada Allah, terdapat orang-orang yang masih mempercayai tuduhan kaum Fir'aun bahwa Musa adalah seorang penyihir, maka orang-orang ini menolak untuk mengakui kenabian Musa sebelum mereka menyaksikan sendiri Allah di hadapan mata mereka.

Dan ketika kalian berkata: "Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah secara jelas!" oleh karena itu kalian disambar kilat halilintar sedang kalian menyaksikannya, setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati supaya kalian bersyukur."

Hal inipun disanggupi oleh Allah yang menghadirkan "KemuliaanNya" memenuhi langit di atas Gunung Sinai, serta diiringi para malaikat; dengan harapan Bani Israel akan takut dan gentar terhadap Allah, sehingga mereka melaksanakan segala yang Allah perintahkan dan menghindari segala yang dilarang oleh Allah.

Penyembahan patung anak sapi[sunting | sunting sumber]

Sewaktu Bani Israel ditinggal Musa yang menerima wahyu berupa Taurat, kepemimpinan di Bani Israel diserahkan kepada Hur dari suku Yahuda, dan Harun. Beberapa orang nekat membunuh Hur lantaran Hur menyalahkan mereka yang menghendaki dewa-dewa lain selain Allah lalu salah seorang dari mereka yang mengetahui 'jejak rasul' serta memiliki ilmu sihir dari negeri Mesir mencoba untuk membuat sebuah patung, kemudian ia serukan kepada Bani Israel untuk menyembah patung tersebut.[41] Kejadian ini merupakan bentuk ujian apakah Bani Israel benar-benar dapat dipercaya oleh Allah ketika Musa tiada di tengah-tengah mereka ataukah mereka hanya segan terhadap Musa dan tidak mempedulikan perintah-perintah Allah:[42]

Sesungguhnya Musa telah datang kepada kalian membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kalian jadikan anak sapi sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kalian adalah orang-orang yang lalim, setelah itu Kami ampuni kesalahan kalian, supaya kalian bersyukur.

Setelah empat puluh hari, Musa membawa loh-loh batu sewaktu kembali dari pertemuan dengan Allah. Musa merasa sangat kecewa dan geram ketika menyaksikan di tengah-tengah Bani Israel terdapat orang-orang yang sedang menyembah patung anak sapi. Musa menuntut pertanggungjawaban Harun yang terdiam melihat Bani Israel menyembah patung anak sapi; namun Harun mengaku terdesak dan diancam dibunuh oleh orang-orang yang menghendaki dewa buatan sekalipun mereka telah diperingatkan tentang perintah-perintah Allah. Setelah peristiwa ini, Musa beserta tujuh puluh orang dari kaumnya memohonkan pengampunan kepada Allah atas dosa ini.[43]

Pengharaman negeri Palestina selama empat puluh tahun[sunting | sunting sumber]

Tatkala Allah mewahyukan perintah melalui Musa supaya Bani Israel menyerbu dan menduduki Palestina, negeri yang telah dijanjikan oleh Allah kepada Ibrahim sebagai tempat tinggal kaum pewarisnya, justru sebagian besar dari mereka justru membangkang dan enggan melaksanakan perintah itu. Mereka berdalih merasa takut menghadapi para raksasa bangsa Kana’an yang bertubuh kuat dan perkasa. Hal ini menunjukkan mayoritas generasi ini tidak benar-benar beriman kepada Allah, mereka seakan melupakan Allah yang pernah menyelamatkan mereka terhadap bala tentara Firaun maka terbukti pula bahwa umat ini lebih takut terhadap pikiran mereka sendiri daripada takut terhadap Allah; dan mereka lebih percaya terhadap ucapan manusia daripada Firman Allah. Mereka seakan tak memiliki "senjata perang" atau "kekuatan," yaitu keimanan kepada Allah saja dengan melaksanakan segala KehendakNya, sebagaimana mereka sebelumnya merupakan para budak bangsa Mesir yang tidak berbekal senjata, namun atas kuasa Allah, Bani Israel berhasil menumpas musuh-musuh mereka hanya dengan percaya dan mematuhi perintah Allah untuk menyeberangi Laut Merah.

Melalui pembangkangan ini, jelas terbukti bagi Allah bahwa generasi Bani Israel yang ditawan dari negeri Mesir kurang memiliki kepercayaan pada Tuhan untuk diserahi kuasa di negeri Palestina, negeri yang diwariskan untuk orang-orang pilihan. Akan tetapi di antara suku-suku Bani Israel itu, kesemua orang di suku Lawwy tidak menentang Kehendak Allah serta terdapat dua orang laki-laki bertakwa, Yusha dari keturunan Ifrayim, suku Yusuf dan Qolib dari suku Yahuda, keduanya menasihati Bani Israel supaya menyerbu pintu kota negeri Palestina yang bertujuan menguasai negeri yang diwariskan untuk mereka,[44] agar Bani Israel membuktikan diri melaksanakan Kehendak Allah dan agar menggenapi Perjanjian Allah dengan para leluhur mereka. Walaupun demikian, sebagian besar Bani Israel menolak nasihat itu seraya menyatakan takkan pernah menduduki negeri warisan sebelum kaum raksasa meninggalkan negeri itu, juga mengucap pernyataan yang menunjukkan keengganan untuk melaksanakan perintah Allah: "Majulah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sementara kami duduk menanti saja di sini."[45] Sejak saat itu, Bani Israel mendapat hukuman harus mengembara di padang pasir selama empat puluh tahun sampai orang-orang yang membangkang tersebut lenyap di padang pasir, karena orang-orang itu enggan melaksanakan Perintah Allah maupun Perjanjian Allah tentang negeri warisan.

Generasi di negeri Palestina hingga periode pengasingan[sunting | sunting sumber]

Setelah sebagian besar generasi Bani Israel pada zaman Musa berakhir sebelum memasuki negeri warisan, giliran Yusha dari suku Yusuf yang memimpin generasinya beserta sebagian dari generasi Musa untuk menumpas penduduk Kana'an secara berangsur-angsur yang berlanjut hingga zaman peperangan antar bangsa-bangsa di sekitar Palestina, serta zaman kerajaan Daud yang diwariskan kepada Sulaiman sebagai raja atas Bani Israel.[46] Kerajaan pada zaman Sulaiman dianugerahi karunia melimpah yang tidak dimiliki oleh kerajaan manapun setelahnya.[47] Banyak nabi yang diutus di banyak generasi Bani Israel, walaupun demikian sebagian mereka tetap berkeras diri terhadap para nabi sebagaimana generasi terdahulu yang membangkang terhadap Musa. Generasi-generasi itu berani mendustakan bahkan ada yang sewenang-wenang membunuh para nabi. Pada akhirnya Allah memutuskan untuk mengasingkan suku Yusuf beserta sembilan suku lain ke negeri-negeri yang jauh, kemudian suku Yahuda beserta suku Bunyamin dan sebagian suku Simeon bersama sebagian kelompok dari suku Lawwy disandera oleh Nebukadnezzar menuju negeri Babel. Setelah bertahun-tahun berikutnya, keempat suku ini diizinkan Koresh dari Persia supaya pulang ke negeri asal mereka, lalu suku-suku ini menyebut diri sebagai sisa-sisa umat dari kerajaan Yahuda (Yahudi).

Zaman Isa[sunting | sunting sumber]

Persekongkolan kalangan pendeta Yahudi[sunting | sunting sumber]

Meski umat Yahudi merupakan sisa dari Bani Israel yang kembali tinggal di Palestina, namun kemurnian darah leluhur Bani Israel pada keturunan umat ini telah bercampur dengan bangsa-bangsa asing yang telah menempati negeri Palestina sejak pengasingan Babel. Hal ini menyebabkan tradisi beserta adat baru berkembang yang berakibat ajaran agama yang telah diajarkan Musa menjadi menyimpang dari ajaran semula. Oleh karena Allah sangat menyayangi Bani Israel dan Dia ingin membimbing mereka kembali menuju agama yang lurus, maka Allah mengutus Isa al-Masih, seorang manusia yang tidak memiliki darah leluhur dari siapapun melainkan seorang manusia yang secara langsung diciptakan oleh Allah. Isa al-Masih diciptakan melalui Maryam; oleh sebab itu Isa juga disebut sebagai putra Maryam.

Kehadiran Isa menimbulkan kegemparan dan perdebatan di kalangan umat Yahudi, banyak yang menganggap Isa sebagai seorang nabi, petenung, jelmaan malaikat, Messiah, tabib, hingga dituduh sebagai pemberontak kaum Yahudi. Isa memahami bahwa ada persekongkolan yang akan menjebaknya, namun ia tetap melaksanakan tugas sebagai seorang Rasul Allah dengan menyampaikan berbagai peraturan dan tuntunan Allah kepada penduduk Palestina di berbagai tempat serta Isa mengadakan berbagai keajaiban di luar nalar (mu'jizat) kepada banyak orang.[48] Isa memiliki sahabat-sahabat setia yang mengiringi, meski akhirnya ia menyadari ada salah seorang di antara mereka yang akan berkhianat dan mengacaukan pengajarannya, kemudian Allah mengangkat Isa ke langit sewaktu tugas kenabiannya di dunia telah selesai.[49]

Fitnah terhadap Isa al-Masih[sunting | sunting sumber]

Tatkala Isa terus mendakwahkan risalah-risalah Allah, kaum Yahudi mengetahui keadaan yang tidak menguntungkan di pihak mereka. Kemudian kaum pendeta Yahudi mengambil jalan dengan memfitnah Isa. Dikatakan bahwa Isa memiliki kekuatan sebagai penyihir dan sebagai orang yang akan mengubah syariat, bahkan kaum itu menghubungkan kekuatan Isa dengan kekuatan setan. Ketika kaum tersebut tidak lagi memiliki tipu daya yang dapat melumpuhkan Isa dan mereka melihat banyak orang yang percaya dan berkumpul di pihaknya, mereka pun mulai membuat suatu makar yakni memengaruhi orang-orang Romawi. Sewaktu orang-orang Yahudi tidak berhasil memerangi Isa, maka mereka mengambil keputusan untuk menghilangkan nyawa Isa. Berbagai fitnah terhadap Isa serupa dengan yang dahulu dituduhkan kepada nabi Daud, hingga keduanya mengutuk kekafiran di kalangan Yahudi.[50]

Dalam syariat Islam, diajarkan bahwa orang yang tidak berbuat salah dapat menghukum orang bersalah, akan tetapi tiada seorang pun dari kalangan manusia yang berhak menghukum orang bersalah jika si penghukum masih memiliki kesalahan, maka hanya Allah yang berhak menghukum orang bersalah tersebut.[51] Mulailah para ketua pendeta Yahudi bermusyawarah untuk membuat suatu kesimpulan tentang cara yang mereka lakukan untuk menangkap nabi Isa yang tidak menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Ketika para pemimpin Yahudi bermusyawarah, terdapat salah seorang diantara murid-murid al-Masih, yang pergi kepada orang-orang Yahudi, dengan meminta sejumlah imbalan. Tetapi pada akhirnya Isa tidak berhasil mereka bunuh.[52]

Kaum Yahudi telah memusuhi dan mengingkari risalah-risalah Isa al-Masih, seorang Rasul Allah,[53] bahkan kaum ini secara sewenang-wenang membantai orang-orang sesat menurut mereka, semisal para pengikut nabi Isa yang dianggap mengadakan ajaran sesat.[54] Kaum Yahudi juga sewenang-wenang membaurkan ajaran Allah dengan ajaran para tokoh terkemuka maupun ajaran para rabi, terlebih ada sebagian kelompok dari kaum ini yang mendakwakan penjelasan manusia lebih utama dibanding Kitab Allah, Taurat.[55] Berbagai tindakan kekafiran ini memicu murka Allah, maka Allah mengutuk orang-orang kafir di kaum Yahudi,[56][57] serta menimpakan berbagai hukuman;[58] semisal pengasingan sisa-sisa Bani Israel ini melalui serangan bangsa Romawi yang dipimpin Kaisar Titus. Sejak peristiwa ini, suku Yahuda dan suku Bunyamin, beserta segala orang yang mengklaim sebagai orang Yahudi, berpencar ke berbagai bangsa di muka bumi.

Diaspora[sunting | sunting sumber]

Kaum yang berpencar (kaum diaspora) dari Bani Israel terbagi menjadi dua golongan; golongan Diaspora pertama, yakni suku Yusuf dengan sembilan suku lain, dan golongan Diaspora kedua, yakni kaum Yahudi setelah serangan bangsa Romawi. Persebaran Bani Israel berdampak pada identitas mereka yang perlahan terlupakan sewaktu hidup dengan bangsa-bangsa lain. Walaupun demikian, persebaran ini secara tidak langsung berperan menyebarkan ajaran penyembahan Allah maupun penyebaran peninggalan tradisi maupun hukum Bani Israel ke dalam berbagai budaya di banyak bangsa; semisal ritual sunat, penyembelihan hewan korban, persembahan syukur atas hasil pertanian, pembacaan kitab suci secara rutin, peringatan sebuah hari beristirahat dalam sepekan (Hari Sabat), hukum kenajisan maupun hukum penyucian, ritual penebusan anak, pengangkutan benda-benda pusaka, peraturan Imam agama, maupun berbagai hukum lain yang telah diajarkan pada zaman Musa.

Diaspora pertama atau Kesepuluh Suku terdiri atas suku Yusuf, suku Rubin, suku Zebulaon, suku Isakhar, suku Dann, suku Jad, suku Asyer, suku Naftali dan beberapa kelompok dari suku Lawwy beserta suku Simeon, yang telah berbaur di antara bangsa-bangsa di bumi dengan tradisi dan agama baru sehingga sebagian besar dari keturunan diaspora kesepuluh suku Bani Israel tidak menyadari bahwa diri mereka masih memiliki garis keturunan langsung kepada nabi Ya'qub. Sementara itu, Diaspora kedua, atau umat Yahudi, telah terpecah menjadi golongan yang masih menjaga tradisi agama Yahudi, dan golongan yang harus membaurkan diri ke agama lain akibat penentangan keberadaan agama Yahudi di berbagai bangsa. Pembauran Diaspora Bani Israel menimbulkan pengenalan tentang ajaran penyembahan Tuhan ke seluruh bumi yang menimbulkan keselamatan untuk banyak orang, sebagaimana Bani Israel yang diberkati sebagai Umat Milik Allah maka seluruh bangsa di muka bumi dapat memperoleh berkat serupa serta dapat disebut sebagai umat milik Allah apabila seluruh bangsa tersebut mengikuti ajaran Bani Israel yang diwarisi dari nabi Ibrahim, yakni supaya mereka menyembah dan berserah diri kepada Tuhan Yang Tunggal. Allah menyatakan bahwa kelak pada Hari Kebangkitan, orang-orang dari Bani Israel akan dihimpunkan dalam keadaan bercampur baur dengan bangsa-bangsa lain.[59]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Surah Al-Baqarah : 122, Surah Al-Baqarah : 40
  2. ^ Surah Al-Baqarah : 50, Surah Ad-Dukhan : 30
  3. ^ Surah Al-Baqarah : 49, Surah Al-A'raf : 141, Surah Ibrahim : 6, Surah Asy-Syu'ara : 65, Surah Ta Ha : 80
  4. ^ Surah Al-Baqarah : 85
  5. ^ Surah Al-Anfal : 67
  6. ^ Ya'qub, Perselisihan Ya'qub dengan saudaranya.
  7. ^ Surah Al-Baqarah : 40-61
  8. ^ Surah Al-Baqarah : 122-123
  9. ^ Surah Shaad : 45-47
  10. ^ Surah Al-Ankabut : 27
  11. ^ Nabi Ishaq alayhi salam berputra Nabi Ya’qub alayhi salam yang bergelar Israel. Dari beberapa orang istrinya, Nabi Ya'qub alayhi salam berputra dua belas, yakni Rubin, Simeon, Lawwy, Yahuda, Zebulaon, Isakhar, Dann, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Benyamin.
  12. ^ Surah Al-Baqarah : 31
  13. ^ Surah Al-Qasas: 5
  14. ^ Surah Al-Anbiya:105
  15. ^ Surah Al-Baqarah : 132
  16. ^ Surah Al-Anbiya : 72-73
  17. ^ Surah Hud : 71
  18. ^ Surah As-Saffat :113
  19. ^ Surah Yusuf : 8-9
  20. ^ Surah Yusuf : 8
  21. ^ Surah Yusuf : 38
  22. ^ Surah Yusuf : 9-10
  23. ^ Surah Al-Ma'idah : 71
  24. ^ Al-Ahzab ayat 69
  25. ^ Surah Al-Ma'idah : 70
  26. ^ Surah Al-Baqarah : 61
  27. ^ Surah Al-Baqarah : 40
  28. ^ Surah Al-Baqarah : 55-56
  29. ^ Surah Al-Ma'idah : 20
  30. ^ Surah Al-Baqarah : 67-71
  31. ^ Surah Ad-Dukhan : 30-33
  32. ^ Surah Asy-Syuara : 76, Surah Al-Ahqaf : 10
  33. ^ Surah Al-A'raf : 141
  34. ^ Surah Ibrahim : 6
  35. ^ Surah Al-A'raf : 159
  36. ^ Surah Al-A'raf : 133
  37. ^ Surah Al-Isra : 101
  38. ^ Surah Ta Ha : 77
  39. ^ Surah Asy-Syu'ara : 52
  40. ^ Surah Muhammad : 15
  41. ^ Surah Ta Ha : 95 - 98
  42. ^ Surah Ta Ha : 85
  43. ^ Surah Al-A'raf : 155
  44. ^ Surah Al-Maidah : 23
  45. ^ Surah Al-Maidah : 24
  46. ^ Surah An-Naml : 16
  47. ^ Surah An-Naml : 35-40
  48. ^ Surah Al-Imran : 49, Surah Al-Maidah : 110
  49. ^ Surah Al-Imran : 55
  50. ^ Surah Al-Maidah : 77-82
  51. ^ Persekongkolan Pendeta Yahudi dalam menyingkirkan Isa
  52. ^ Al Qur'an: “Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidah mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadanya.” (QS. an-Nisa’: 157-158)
  53. ^ Surah Muhammad : 32
  54. ^ Surah Al-Imran : 110-114, Surah Al-Baqarah : 87-91, Surah Al-Maidah : 70-71
  55. ^ Surah Muhammad : 26-30, Surah An-Nisa : 46, Surah Al-Maidah : 13, Surah At-Taubah : 30-35
  56. ^ Surah An-Nisa : 155
  57. ^ Surah An-Nisa : 46, Surah Al-Maidah: 64, Surah Al-Baqarah : 85, Surah At-Taubah : 30
  58. ^ Surah An-Nahl : 118, Surah Al-An'am : 146, Surah An-Nisa : 160, Surah Al-Hasyr : 15
  59. ^ Surah Al-Isra: 104

Pranala luar[sunting | sunting sumber]