Bani Israil

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Bani Israil (bahasa Arab: بنو إسرائيل, Banū Israīl) atau Bani Israel adalah sebutan untuk kaum keturunan nabi Ya'qub (Israil). Kaum ini adalah kaum yang dilebihkan oleh Allah melampaui segala bangsa sebagaimana tercantum dalam Al Qur'an.[1] Bani Israel juga dikenal sebagai kaum yang diselamatkan oleh Allah untuk menyeberangi Laut Merah dari kejaran bala tentara Fir'aun.

Sebuah surat dalam Al Qur'an yakni surat Al Israa' memiliki nama lain surat Bani Israil.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kalimat Bani Israel berasal dari kata Bani dalam bahasa Arab artinya putra-putra atau keturunan laki-laki; sementara kata Israil / Israel adalah istilah yang terdiri dari dua kata, Isra dalam bahasa Arab berarti hamba atau tawanan[2][3] dan El yang berarti Tuhan. Maka arti Israel adalah "hamba Tuhan" atau "yang ditawan oleh Tuhan."

Di dalam beberapa aliran mazhab berpendapat bahwa Israil memiliki arti "berjalan di malan hari" karena menurut beberapa sumber kisah, Yaqub sering melakukan perjalanan di waktu malam hari, karena jika dia melakukan perjalanan di siang hari, dia takut ditemukan dan disiksa oleh saudaranya.[4]

Dalam Al-Qur'an[sunting | sunting sumber]

Istilah Bani Israel (Bani Israil) disebut sebanyak 41 kali dalam Al-Qur'an pada 16 surah berbeda. Di surah Al-Baqarah dan Al-Ma'idah, Bani Israel disebut sebanyak 6 kali, sementara pada Surah Al-A'raf, Al-Isra dan Asy-Syu'ara disebut 4 kali. Al-Qur'an menjelaskan riwayat Bani Israel khususnya di zaman nabi Musa dan Isa. Al-Qur'an menyatakan pula beberapa pesan yang secara langsung ditujukan untuk Bani Israel.[5][6]

Asal mula dan para leluhur[sunting | sunting sumber]

Riwayat Bani Israel tidak dapat dipisahkan dari tiga sosok nabi, Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub[7][8] bersama dengan 'warisan anugerah' dari Allah tentang keistimewaan generasi mereka dan pewarisan negeri Perjanjian yang menyertai mereka. Dalam sejarahnya, pendirian Bani Israel terpusat pada kisah Israel (nabi Ya'qub) dengan putra-putranya yang menjadi para leluhur dua belas suku di Israel. Dari keempat orang istrinya, Ya'qub memiliki 12 putra, yakni Rubin, Simeon, Lawwy, Yahuda, Zebulaon, Isakhar, Dann, Jad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Bunyamin.[9]

Riwayat warisan anugerah yang diberikan Allah berawal dari Ibrahim ketika ia meninggalkan keluarga, kerabat, negeri dan tanah airnya untuk 'ditawan' (Isra') serta sepenuhnya berserah diri kepada Allah,[10] menuju negeri yang diwariskan untuknya serta keturunannya sebagai hadiah untuk Ibrahim yang teruji memiliki keimanan dan kesetiaan pada Allah dengan melaksanakan apapun yang diperintahkan oleh Allah.[11][12] Ibrahim mewariskan agama kepada seluruh putranya[13] sedangkan warisan anugerah dari Allah, hanya diberikan kepada Ishaq, oleh karena Allah telah berjanji melalui pengutusan ketiga malaikat bahwa Ishaq adalah pewaris Ibrahim. Kemudian Ishaq mewariskan perjanjian ini kepada Ya'qub,[14][15] oleh sebab Ya'qub memiliki perilaku baik dibanding anak tertuanya, Ishau, seorang yang sewenang-wenang bagi Allah.[16]

Yusuf dan saudaranya, Bunyamin, merupakan dua ahli waris yang dianggap hendak diserahi bagian perjanjian waris, oleh karena mereka berdua adalah kesayangan bagi Ya'qub, ayah mereka.[17] Terlebih lagi, Yusuf merupakan anak sulung yang dilahirkan oleh Rahil, istri yang paling disayangi Ya'qub. Yusuf juga mewarisi sosok dan keimanan Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub[18][19]. Hal ini secara tidak langsung menimbulkan rasa iri dan kekhawatiran pada kesepuluh saudara Yusuf bahwa ayah mereka, akan kembali melanjutkan cara pewarisan Ibrahim, yang menyerahkan wasiat berkat dan perjanjian waris dari Allah untuk Ishaq semata sebagai anak sulung dari Sarah, istri yang paling disayangi Ibrahim, sementara Ismail dan putra-putra Ibrahim yang lain hanya menerima warisan agama dan warisan duniawi. Untuk menghindari pembagian semacam ini terulang, kesepuluh putra Ya'qub berencana menyingkirkan Yusuf dari ayah mereka.[20]

Akan tetapi, dugaan kesepuluh saudara Yusuf tidaklah benar oleh sebab menjelang akhir hidupnya, Israel (Ya'qub) mengumpulkan seluruh putranya untuk memberikan berkat-berkat tertentu dari perjanjian waris supaya mereka memperoleh bagian di negeri warisan yang sebelumnya dipusakakan oleh Allah untuk Ibrahim dan Ishaq. Tatkala hendak menyampaikan wasiat-wasiat berkat untuk kedua belas putranya, Ya'qub sempat meminta kesaksian dari dua belas putranya, tentang apa yang akan mereka sembah sepeninggal dirinya. Dalam penyampaian wasiat, Yahuda dijuluki sebagai kebanggaan serta pemimpin di Israel sementara Yusuf memperoleh bagian paling banyak dalam warisan sebagai anak sulung Israel. Keturunan dari putra-putra Ya'qub inilah yang disebut Bani Israel.

Di antara Bani Israel terdapat para nabi, beberapa nabi mereka adalah:

Karakter Bani Israel[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa sifat Bani Israel digambarkan di dalam Al-Qur'an, salah satunya adalah keras kepala,[21][22] meskipun telah diperlihatkan berbagai mukjizat oleh nabi Musa, nabi Isa dan para nabi lainnya. Mayoritas dari mereka sering berkeras tidak mengakui kebenaran ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para nabi. Pembelotan terhadap para nabi sering terjadi dalam sejarah Bani Israel, bahkan nabi-nabi, semisal Zakaria dan Yahya turut mereka bunuh. Mereka juga benganggapan telah membunuh Isa walaupun mereka tidak meyakini bahwa yang dibunuh itu Isa.

Disamping itu, ada beberapa keistimewaan Bani Israel pada zaman Musa, yakni disebut sebagai sebuah bangsa pilihan Tuhan yang paling 'istimewa' dibanding segala bangsa di bumi,[23] sebab mereka mewarisi anugerah yang diberikan oleh Allah untuk Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub. Disebut 'istimewa' sebab Bani Israel merupakan umat manusia yang diketahui pernah 'menyaksikan' Kemuliaan Allah meski mereka diterpa sambaran kilat dan petir yang dahsyat, bahkan mereka juga pernah dibangkitkan dari kematian akibat mereka mendapati sambaran kilat dan petir itu.[24] Berbagai mu'jizat juga telah dikaruniakan kepada Bani Israel semisal makanan manna dan daging burung puyuh, naungan awan pelindung terhadap terik panas padang gurun, aliran-aliran sungai dan berbagai sumber mata air di padang gurun; sebagai anugerah-anugerah langka yang tidak diberikan kepada satupun umat lain di muka bumi.[25]

Tidak seperti umat manusia lain yang segera dipunahkan apabila memperbuat dosa besar dan memberontak terhadap Allah, Allah senantiasa sabar melindungi dan mempertahankan keberlangsungan mereka, dengan mengutus para nabi dan kitab suci di kalangan mereka dengan harapan Bani Israel bersedia mematuhi Allah dan tunduk terhadapNya supaya Dia mengistimewakan mereka sebagai umat yang paling disayangi dan paling berharga. Sifat lain yang ditunjukkan generasi ini adalah ketelitian sebagaimana ketika seorang dari mereka meminta keterangan kepada Musa tentang seekor sapi betina sembelihan secara terperinci.[26] Kecerdasan dan wawasan Ilmu mereka adalah salah satu kekuatan mereka, bahkan Allah menyebut para ilmuwan (ulama) Bani Israel sebagai sumber pemahaman Al-Qur'an.[27][28]

Zaman Musa[sunting | sunting sumber]

Kehidupan di Mesir dan Hijrah menuju Palestina[sunting | sunting sumber]

Setelah kedua belas putra Ya'qub telah wafat, Bani Israel masih tinggal di Mesir sejak masa Yusuf berkuasa di Mesir dan mereka hidup dengan menggembalakan ternak di Gosyan, sebuah wilayah yang dipenuhi padang rumput dan tempat bercocok tanam yang baik. Penduduk Mesir tidak bergaul dengan Bani Israel sebab kaum penggembala menggiring sapi dan domba, hewan-hewan yang termasuk dewa-dewa bangsa Mesir.

Semenjak Yusuf menjabat sebagai panglima negara yang mengurus segala kebutuhan dan urusan di negeri Mesir, ia menyerahkan harta yang ia peroleh untuk Bani Israel. sebagaimana nama 'Yusuf' yang bermakna 'berlipat-lipat', maka ia memberkati jumlah Bani Israel supaya bertambah banyak. Mulai saat itu, penduduk Bani Israel yang laki-laki memenuhi berbagai wilayah negeri Mesir. Penduduk Mesir merasa ketakutan mendapati kumpulan laki-laki dari Bani Israel yang semakin banyak, lalu berniat mengurangi jumlah laki-laki dari mereka dengan mengadakan tipu muslihat untuk memperbudak mereka serta berusaha untuk membunuh setiap anak laki-laki dan membiarkan hidup anak perempuan yang dilahirkan kaum Bani Israel.[29][30] Hal ini berlanjut hingga Musa hadir atas perintah Allah untuk memerdekakan dan mengubah kedudukan Bani Israel dari "budak-budak yang ditindas manusia" menjadi "hamba-hamba yang dimiliki Allah" sewaktu mereka meninggalkan Mesir lalu mengikat perjanjian yang kekal di Gunung Sinai.

Musa dan Harun tidak termasuk kaum budak bangsa Mesir, sebab keduanya berasal dari suku Lawwy, yang sejak semula tetap setia 'menghamba' kepada Allah sehingga tidak mau diperhamba oleh pihak manapun termasuk penduduk Mesir. Atas kesetiaan suku ini, Allah mengkhususkan mereka serta mempercayakan pengurusan ibadah beserta kedudukan kepala agama (Imam) pada keturunan Lawwy untuk seterusnya dan Allah mengutus banyak nabi dari kalangan ini, sebab pengabdian mereka terhadap Allah adalah yang terbaik dibanding suku-suku lain di Bani Israel.[31]

Meski dihadapkan dengan desakan dan ancaman melalui berbagai mu'jizat untuk membebaskan hamba-hamba Allah, Fir'aun beserta penduduknya berkeras menolak Musa dan Harun. Oleh karena hal ini, penduduk Mesir dilanda berbagai bencana mengerikan akibat penentangan mereka sendiri.[32][33] Hingga datanglah Firman Allah kepada Musa untuk menyandera Bani Israel meninggalkan Mesir pada sebuah malam.[34][35] Walaupun dikejar bala tentara Fir'aun, Bani Israel berhasil selamat karena menyeberangi Laut Merah yang dibelah Allah melalui perantaraan Musa sedangkan bala tentara Fir'aun mati tenggelam di lautan. Kemudian Bani Israel mengikat perjanjian dengan Allah di Thursina (Gunung Sinai) dan maju menyerbu negeri warisan yang ditakdirkan Allah untuk mereka. Keadaan negeri Palestina pada zaman tersebut serupa dengan "Surga Firdaus di muka bumi" dimana terdapat aliran-aliran sungai susu dan madu,[36] karena berkah melimpah yang menaungi wilayah itu sehingga Allah berjanji mewariskan "Surga" di dunia maupun di akhirat kepada golongan Israel: Ibrahim, Ishaq, Ya'qub beserta seluruh keturunan mereka yang beriman serta menuruti segala perintah dan ketetapan Allah.

Tidak mau beriman kecuali jika melihat Allah secara langsung[sunting | sunting sumber]

Ketika Bani Israel hendak mengadakan perjanjian dengan Allah, ada orang-orang yang masih mempercayai tuduhan penduduk Mesir bahwa Musa adalah seorang penyihir, maka mereka menolak untuk mengakui kenabian Musa sebelum mereka menyaksikan sendiri Allah di hadapan mata mereka.

Dan ketika kalian berkata: "Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang!" karena itu kalian disambar kilat halilintar sedang kalian menyaksikannya, setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati, supaya kalian bersyukur."

Hal inipun disanggupi oleh Allah yang menampakkan kemuliaanNya memenuhi langit diiringi para malaikat dengan harapan Bani Israel akan takut dan gentar terhadap Allah, sehingga mereka melaksanakan segala yang Allah perintahkan dan menghindari segala yang dilarang oleh Allah dalam Taurat.

Penyembahan patung anak sapi[sunting | sunting sumber]

Penyembahan ini terjadi pada saat mereka ditinggal Musa untuk menerima wahyu berupa Taurat dan kepemimpinan Bani Israel diserahkan kepada Hur dari suku Yahuda, dan Harun. Beberapa orang dari Bani Israel nekat membunuh Hur lantaran Hur menyalahkan mereka yang menghendaki dewa-dewa lain selain Allah, lalu salah seorang dari mereka yang mengetahui 'jejak rasul' dan memiliki ilmu sihir dari negeri Mesir mencoba untuk membuat sebuah dewa patung, kemudian ia serukan kepada Bani Israel untuk menyembah patung tersebut.[37] Kejadian ini adalah bentuk ujian apakah Bani Israel benar-benar dapat dipercaya oleh Allah ketika Musa tiada di tengah-tengah mereka ataukah mereka hanya segan terhadap Musa dan tidak mempedulikan perintah-perintah Allah.


Sesungguhnya Musa telah datang kepada kalian membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kalian jadikan anak sapi sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kalian adalah orang-orang yang lalim, setelah itu Kami ampuni kesalahan kalian, supaya kalian bersyukur.

Ketika Musa kembali dari pertemuan dengan Allah selama empat puluh hari, dia amat kecewa dan memarahi Harun yang terdiam menyaksikan Bani Israel menyembah patung anak sapi. namun Harun mengaku terdesak dan diancam dibunuh oleh orang-orang yang menginginkan dewa buatan sekalipun mereka telah diperingatkan tentang perintah-perintah Allah. Setelah peristiwa ini, Musa beserta tujuh puluh orang dari kaumnya memohonkan ampun kepada Allah atas dosa mereka.[38]

Pengharaman negeri Palestina bagi Bani Israel selama empat puluh tahun[sunting | sunting sumber]

Tatkala Allah mewahyukan perintah melalui Musa supaya kaumnya menyerbu dan menduduki Palestina, negeri yang telah dijanjikan oleh Allah kepada Ibrahim untuk menjadi tempat tinggal anak cucunya, mereka justru membangkang dan enggan melaksanankan perintah itu. Mereka berdalih merasa takut menghadapi para raksasa dari bangsa Kana’an yang bertubuh kuat dan perkasa. Hal ini menunjukkan Bani Israel tidak benar-benar beriman pada Allah, mereka seakan melupakan Allah yang pernah menyelamatkan mereka dari bala tentara Firaun dan terbukti pula bahwa Bani Israel lebih takut pada pikiran mereka sendiri daripada takut terhadap Allah; dan mereka lebih percaya terhadap ucapan manusia daripada Firman Allah. Mereka seakan tak memiliki "senjata perang" atau "kekuatan," yaitu keimanan mereka hanya kepada Allah dengan melaksanakan segala perintahNya, sebagaimana mereka sebelumnya adalah para budak penduduk Mesir yang tidak berbekal senjata namun atas kuasa Allah mereka berhasil menumpas musuh-musuh mereka hanya dengan percaya dan mematuhi perintah Allah untuk menyeberangi Laut Merah.

Melalui pemberontakan ini, jelas terbukti bagi Allah bahwa generasi Bani Israel yang 'ditawan' oleh Musa kurang memiliki kepercayaan pada Tuhan untuk diserahi kuasa di negeri Palestina yang diwariskan untuk orang-orang pilihan. Akan tetapi di antara Bani Israel itu, hanya keturunan suku Lawwy yang dikhususkan Allah, serta terdapat dua orang laki-laki bertakwa, Yusha dari keturunan Ifrayim, suku Yusuf dan Qolib dari suku Yahuda, yang menasihati Bani Israel menyerbu pintu kota yang bertujuan menguasai negeri Palestina[39] agar Bani Israel membuktikan diri mematuhi Perintah Allah dan agar menggenapi Perjanjian Allah dengan para leluhur mereka. Walaupun demikian, mayoritas Bani Israel menolak nasihat itu seraya menyatakan takkan pernah menduduki negeri warisan sebelum orang-orang raksasa disana telah meninggalkan tempat itu, juga menyatakan pernyataan yang menunjukkan keengganan untuk melaksanakan perintah Allah: "majulah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sementara kami duduk menanti saja di sini."[40] Sejak itu, Bani Israel harus berkeliling di padang pasir selama empat puluh tahun, sampai generasi yang membangkang tersebut mati di padang pasir karena enggan melaksanakan Perintah Allah beserta Perjanjian Allah tentang negeri warisan yang disampaikan melalui Musa.

Generasi di negeri Palestina hingga periode pengasingan[sunting | sunting sumber]

Setelah generasi Bani Israel Musa berakhir sebelum memasuki negeri Palestina, giliran Yusha dari suku Yusuf yang memimpin generasinya menumpas penduduk Kana'an di Palestina secara berangsur-angsur yang berlanjut hingga zaman peperangan antar bangsa-bangsa di sekitar Palestina dan zaman kerajaan Daud yang diwariskan untuk Sulaiman sebagai raja atas Bani Israel. Banyak nabi yang diutus selama banyak generasi, akan tetapi terdapat mayoritas Bani Israel tetap berkeras sebagaimana generasi Bani Israel terdahulu yang membangkang terhadap Musa. Generasi-generasi itu berani mendustakan bahkan sewenang-wenang membunuh para nabi. Pada akhirnya Allah memutuskan untuk mengasingkan suku Yusuf beserta sembilan suku lain ke negeri-negeri yang jauh, kemudian suku Yahuda beserta suku Bunyamin dan sebagian suku Simeon dengan beberapa kelompok dari suku Lawwy disandera oleh Nebukadnezzar menuju negeri Babel. Setelah bertahun-tahun berikutnya, keempat suku ini diizinkan Koresh dari Persia supaya pulang ke negeri asal mereka dan suku-suku ini menyebut diri sebagai sisa-sisa umat dari kerajaan Yahuda (Yahudi).

Zaman Isa[sunting | sunting sumber]

Persekongkolan kalangan pendeta Yahudi[sunting | sunting sumber]

Meski umat Yahudi merupakan sisa dari Bani Israel yang kembali tinggal di Palestina, namun kemurnian darah leluhur Bani Israel pada keturunan umat ini telah tercampur dengan bangsa-bangsa lain yang telah menduduki negeri Palestina sejak pengasingan Babel. Hal ini menyebabkan tradisi dan adat baru berkembang di wilayah Palestina yang berakibat ajaran agama yang telah diajarkan Musa menjadi menyimpang dari semula. Oleh karena Allah sangat menyayangi Bani Israel dan Dia ingin membimbing mereka kembali menuju agama yang lurus, maka Allah mengutus Isa al-Masih, seorang nabi yang tidak memiliki darah leluhur dari siapapun, melainkan ciptaan langsung dari Allah, melalui perut Maryam, oleh sebab itu Isa disebut putra Maryam.

Kehadiran Isa menimbulkan kegemparan dan perdebatan di kalangan umat Yahudi, banyak yang menganggap Isa sebagai seorang nabi, petenung, jelmaan malaikat, Messiah, tabib, hingga dituduh sebagai pemberontak kaum Yahudi yang harus dibunuh. Isa memahami bahwa ada persekongkolan yang akan menjebaknya, namun ia tetap melaksanakan tugas sebagai Utusan Allah dengan menyampaikan berbagai peraturan dan tuntunan Allah kepada penduduk Palestina di berbagai tempat serta mengadakan berbagai keajaiban di luar nalar (mu'jizat) kepada banyak orang. Isa memiliki sahabat-sahabat setia yang mengiringinya, meski pada akhirnya ia menyadari ada salah seorang di antara mereka yang akan berkhianat dan mengacaukan pengajarannya, kemudian Isa diangkat oleh Allah ke langit ketika tugasnya di dunia telah selesai.[41]

Fitnah terhadap Isa al-Masih[sunting | sunting sumber]

Ketika Isa terus mendakwahkan risalah Tuhan, kaum Yahudi mengetahui gelagat yang tidak menguntungkan di pihaknya. Maka kaum pendeta Yahudi pun mengambil jalan dengan memfitnah Isa. Dikatakan bahwa Isa memiliki kekuatan sebagai penyihir dan sebagai orang yang akan mengubah syariat dan mereka menghubungkan kekuatan Isa dengan kekuatan setan. Ketika mereka tidak lagi memiliki tipu daya yang dapat melumpuhkan Isa dan mereka melihat orang-orang yang lemah dan orang-orang fakir berkumpul di sekitarnya, maka mereka mulai membuat suatu makar, yaitu mereka mulai memengaruhi orang-orang Romawi. Ketika orang Yahudi tidak berhasil memerangi Isa, maka mereka mengambil keputusan untuk menghilangkan nyawa Isa.

Dalam syariat Islam, diajarkan bahwa orang yang tidak berbuat salah dapat menghukum orang bersalah, akan tetapi tidak seseorang pun dari kalangan manusia yang berhak menghukum orang bersalah jika ia sendiri masih memiliki kesalahan, maka yang bisa menghukumnya hanyalah Allah.[42] Mulailah para ketua pendeta Yahudi bermusyawarah untuk membuat suatu kesimpulan tentang cara yang mereka lakukan untuk menangkap Nabi Isa yang tidak menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Ketika para pemimpin Yahudi bermusyawarah, maka salah seorang murid al-Masih yang dua belas pergi kepada mereka, dengan meminta sejumlah imbalan. Tetapi pada akhirnya Isa tidak berhasil mereka bunuh.[43]

Kaum Yahudi telah semena-mena menganggap buruk dan menolak Isa al-Masih, seorang Rasul Allah, bahkan kaum ini membantai orang-orang sesat bagi mereka, semisal para pengikut nabi Isa yang dianggap mengadakan ajaran menyimpang. Kaum Yahudi berani menyamakan ajaran Allah terhadap ajaran para tokoh terkemuka maupun ajaran para rabi, terlebih ada sebagian dari kaum ini yang mendakwakan penjelasan manusia lebih utama dibanding Kitab Allah, Taurat. Tindakan-tindakan ini memicu kemurkaan Allah sehingga Allah kembali mengasingkan sisa-sisa Bani Israel melalui serangan bangsa Romawi yang dipimpin Kaisar Titus. Sejak itu Suku Yahuda dan Suku Bunyamin, beserta segala orang yang mengklaim sebagai orang Yahudi, berpencar ke berbagai bangsa di bumi.

Diaspora[sunting | sunting sumber]

Kaum yang berpencar (kaum diaspora) dari Bani Israel terbagi menjadi dua golongan; golongan Diaspora pertama, yakni suku Yusuf dengan sembilan suku lain, dan golongan Diaspora kedua, yakni kaum Yahudi setelah serangan bangsa Romawi. Persebaran Bani Israel berdampak pada identitas mereka yang perlahan terlupakan sewaktu hidup dengan bangsa-bangsa lain. Walaupun demikian, persebaran ini juga secara tidak langsung berperan menyebarkan ajaran penyembahan Allah maupun penyebaran peninggalan tradisi Bani Israel ke dalam berbagai budaya di banyak bangsa; semisal ritual sunat, penyembelihan hewan korban, persembahan syukur atas hasil pertanian, pembacaan kitab suci secara rutin, peringatan sebuah hari beristirahat dalam sepekan (Hari Sabat), hukum kenajisan maupun hukum penyucian, penebusan anak, pengangkutan benda-benda pusaka, peraturan imam agama, maupun berbagai hukum lain yang diajarkan pada zaman Musa.

Diaspora pertama atau Kesepuluh Suku terdiri atas suku Yusuf, suku Rubin, suku Zebulaon, suku Isakhar, suku Dann, suku Jad, suku Asyer, suku Naftali dan beberapa kelompok dari suku Simeon juga suku Lawwy, telah berbaur di antara bangsa-bangsa di bumi dengan tradisi dan agama baru, sehingga sebagian besar keturunan dari diaspora kesepuluh suku Bani Israel tidak menyadari bahwa diri mereka masih memiliki garis keturunan langsung kepada nabi Ya'qub. Sementara itu, Diaspora kedua atau umat Yahudi telah terpecah menjadi golongan yang masih menjaga tradisi agama Yahudi, dan golongan yang harus membaurkan diri ke agama lain akibat penentangan keberadaan agama Yahudi di berbagai bangsa. Pembauran Diaspora Bani Israel menimbulkan pengenalan tentang ajaran penyembahan Tuhan ke seluruh bumi yang menimbulkan keselamatan untuk banyak orang di bumi, sebagaimana Bani Israel yang diberkati sebagai umat Milik Allah maka seluruh bangsa dapat memperoleh berkat serta dapat disebut sebagai umat milik Allah apabila seluruh bangsa mengikuti ajaran Bani Israel yang diwarisi dari nabi Ibrahim, yakni supaya menyembah dan berserah diri kepada Tuhan Yang Tunggal. Allah menyatakan bahwa kelak pada Hari Kebangkitan, orang-orang dari Bani Israel dihimpunkan dalam keadaan bercampur baur dengan bangsa-bangsa lain.[44]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Surah Al-Baqarah : 122, Surah Al-Baqarah : 40
  2. ^ Surah Al-Baqarah : 85
  3. ^ Surah Al-Anfal : 67
  4. ^ Ya'qub, Perselisihan Ya'qub dengan saudaranya.
  5. ^ Surah Al-Baqarah : 41
  6. ^ Surah Al-Baqarah : 122
  7. ^ Surah Shaad : 45-47
  8. ^ Surah Al-Ankabut : 27
  9. ^ Nabi Ishaq alayhi salam berputra Nabi Ya’qub alayhi salam yang bergelar Israel. Dari beberapa orang istrinya, Nabi Ya'qub alayhi salam berputra dua belas, yakni Rubin, Simeon, Lawwy, Yahuda, Zebulaon, Isakhar, Dann, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Benyamin.
  10. ^ Surah Al-Baqarah : 31
  11. ^ Surah Al-Qasas: 5
  12. ^ Surah Al-Anbiya:105
  13. ^ Surah Al-Baqarah : 132
  14. ^ Surah Al-Anbiya : 72-73
  15. ^ Surah Hud : 71
  16. ^ Surah As-Saffat :113
  17. ^ Surah Yusuf : 8-9
  18. ^ Surah Yusuf : 8
  19. ^ Surah Yusuf : 38
  20. ^ Surah Yusuf : 9-10
  21. ^ Surah Al-Ma'idah : 71
  22. ^ Al-Ahzab ayat 69
  23. ^ Surah Al-Baqarah : 40
  24. ^ Surah Al-Baqarah : 55-56
  25. ^ Surah Al-Ma'idah : 20
  26. ^ Surah Al-Baqarah : 67-71
  27. ^ Surah Asy-Syuara : 76
  28. ^ Surah Al-Ahqaf : 10
  29. ^ Surah Al-A'raf : 141
  30. ^ Surah Ibrahim : 6
  31. ^ Surah Al-A'raf : 159
  32. ^ Surah Al-A'raf : 133
  33. ^ Surah Al-Isra : 101
  34. ^ Surah Ta Ha : 77
  35. ^ Surah Asy-Syu'ara : 52
  36. ^ Surah Muhammad : 15
  37. ^ Surah Ta Ha : 95 - 98
  38. ^ Surah Al-A'raf : 155
  39. ^ Surah Al-Maidah : 23
  40. ^ Surah Al-Maidah : 24
  41. ^ Surah Al-Imran : 55
  42. ^ Persekongkolan Pendeta Yahudi dalam menyingkirkan Isa
  43. ^ Al Qur'an: “Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidah mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadanya.” (QS. an-Nisa’: 157-158)
  44. ^ Surah Al-Isra: 104

Pranala luar[sunting | sunting sumber]