Lompat ke isi

Kitab suci Islam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kitabullah (bahasa Arab: كتاب الله, translit. kitāb Allāh) adalah perkataan/kalimat yang difirmankan oleh Allah kepada para nabi dan rasul. Beriman kepada Kitabullah merupakan salah satu pilar keimanan dalam Islam. Terdapat 104 Kitabullah yang telah diturunkan, tetapi umat Islam hanya wajib mengimani 4 kitab besar, yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan Qur'an.[1]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Tulisan-tulisan firman Allah (Kitab Allah) zaman dahulu dibuat menjadi 2 jenis, yaitu bisa berupa shuhuf dan mushaf. Kata shuhuf terdapat di surah al-A'laa:

(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ 
—QS al-A'laa, ayat 19

Kedua kalimat itu berasal dari akar kalimat yang sama yaitu, "sahafa" (menulis). Shuhuf (صحيفة; tunggal: sahifa) berarti sepenggal kalimat yang ditulis dalam material seperti kertas, kulit, papirus dan media lain. Sedangkan mushaf (مصحف; jamak: masahif) berarti kumpulan-kumpulan shuhuf, yang dijadikan menjadi satu-kesatuan, seperti 2 sampul dalam satu isi.[2]

Dalam sejarah penulisan dari teks Qur'an, shuhuf terdiri dari beberapa lembaran yang pada akhirnya Qur'an dikumpulkan pada masa Abu Bakar. Dalam shuhuf tersebut susunan tiap ayat di dalam surah telah tepat, tetapi lembaran-lembaran yang ada belumlah tersusun dengan rapi, tidak dibundel menjadi satu isi.

Kalimat mushaf pada saat ini memiliki arti lembaran-lembaran yang dikumpulkan di dalam Qur'an yang telah dikoleksikan pada masa Utsman bin Affan. Pada saat itu, tiap ayat di dalam surah telah disusun dengan rapi. Saat ini umat Islam juga menyebut setiap duplikat Qur'an, yang mana memiliki keteraturan tiap ayat dan surah disebut mushaf.

Macam-macam

[sunting | sunting sumber]

Shuhuf yaitu wahyu Allah yang disampaikan kepada para nabi, tetapi tidak wajib disampaikan atau diajarkan kepada manusia. Beberapa nabi yang dikatakan memiliki shuhuf adalah:

Untuk shuhuf Ibrahim dan Musa tercantum di dalam firman Tuhan, surah Al-A'laa dan An-Najm, yang berbunyi;

(18) Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ 
(19) (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ 
—QS al-A'laa, ayat 18-19
(36) Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ 
(37) dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ 
—QS an-Najm, ayat 36-37

Beberapa shuhuf yang telah dicatat dari firman Allah kemudian dijadikan satu yang memiliki nama bermacam-macam, yang telah diberikan kepada para rasul-Nya. Di antaranya adalah:

Taurat adalah tulisan berbahasa Ibrani, berisikan syariat (hukum) dan kepercayaan yang benar dan diturunkan melalui Musa, pada kira-kira abad 12 sebelum masehi. Isi pokok Taurat adalah 10 firman Allah bagi Bani Israil. Selain itu, Taurat berisikan tentang sejarah nabi-nabi terdahulu hingga Musa dan kumpulan hukum.

"Ia menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab Suci (Al-Quran) dengan mengandungi kebenaran, yang mengesahkan isi Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan dahulu daripadanya, dan Ia juga yang menurunkan Kitab-kitab Taurat dan Injil."

Zabur berisi mazmur (nyanyian pujian bagi Allah) yang dibawakan melalui Daud yang berbahasa Qibti, pada kira-kira abad ke-10 sebelum masehi. Kitab ini tidak mengandung syariat, karena Daud diperintahkan untuk meneruskan syariat yang telah dibawa oleh Musa.

"...dan kami telah memberi kitab zabur kepada Nabi Dawud."

Injil pertama kali ditulis menggunakan bahasa Suryani melalui murid-murid Isa untuk Bani Israil sebagai penggenap ajaran Musa. Injil diturunkan pada permulaan abad pertama masehi. Kata Injil sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu euangelion yang berarti "kabar gembira". Injil-injil tidak mempunyai pembahasan sistematis mengenai satu tema atau tema-tema tertentu,[3] meskipun di dalamnya banyak membahas hal kerajaan Surga. Injil yang ada saat ini mengandung firman Allah dan riwayat Isa, yang semuanya ditulis oleh generasi setelah Isa.

"...dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan 'Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat, dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat, dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa."

  • Al-Qur`an merupakan kumpulan firman yang diberikan Allah sebagai satu kesatuan kitab sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat muslim. Menurut syariat Islam, kitab ini dinyatakan sebagai kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, selalu terjaga dari kesalahan, dan merupakan tuntunan membentuk ketaqwaan manusia.

"Pada bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia."

Tampilan Al-Qur`an dianggap unik, karena berupa prosa berirama, puisi epik, dan simfoni dalam keterpaduan teks yang indah. Isi Al-Qur`an juga dianggap unik, berupa paduan filsafat semesta, catatan sejarah, peringatan-peringatan dan hiburan, dasar-dasar hukum, serta doa-doa.

Bagi umat Islam, tidak disyariatkan untuk mempelajari isi Taurat, Zabur, dan Injil yang ada saat ini, karena menurut ajaran Islam, dianggap telah mengandung berbagai tafsiran yang tidak benar[4] dan karena isi kesemua kitab yang masih diperlukan, telah dimasukkan ke dalam kitab Al-Qur`an. Namun tidak diperlukan juga upaya untuk menyerang atau menyalah-nyalahkan isi Taurat, Zabur, atau Injil, karena terdapat ayat-ayat Allah di dalamnya.

Penjelasan di dalam al-Qur`an

[sunting | sunting sumber]

Dalam firman Allah ayat Al Imraan 3 ayat 4:

"Sebelum (Al-Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan.[5] Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa)."

Kemudian An Nissa 4 ayat 136 dan 163:

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya."

"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman, dan Kami berikan Zabur kepada Daud."

Semua kitab turun pada bulan Ramadan

[sunting | sunting sumber]

Menurut sumber berdasarkan hadits shahih dari Imam Ahmad, kesemua kitab-kitab suci tersebut turun pada bulan Ramadan, shuhuf Ibrahim turun pada awal malam pertama bulan Ramadan, Taurat turun pada hari keenam bulan Ramadan dan Injil pada hari ketiga belas dari Ramadan.[6] Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan berdasarkan pada salah satu surah di dalam Al-Qur'an yang berbunyi:

"Bulan Ramadan yang diturunkan di dalamnya Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu, serta pemisah antara haq dan batil."

Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah menyanjung bulan Ramadan diatas bulan-bulan yang lain, yaitu dengan memilihnya sebagai bulan dimana kesemua kitab-kitab suci diturunkan di dalamnya.

Janji Allah terhadap orang beriman

[sunting | sunting sumber]

Menurut keyakinan ajaran Islam, Allah akan melimpahkan rahmat-Nya dari langit dengan menurunkan hujan dan menimbulkan rahmat-Nya dari bumi dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang buahnya melimpah ruah, kepada orang yang jujur, lurus dan tidak menyimpang dari kebenaran. Sebagai contoh dalam ayat:

"...dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Qur'an ) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan, dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka."

Hubungan Al-Qur'an dengan kitab terdahulu

[sunting | sunting sumber]

Semua muslim meyakini bahwa adanya wahyu progresif, bahwa wahyu Tuhan berkembang dengan seiring berjalannya waktu dan perbedaan kelompok dari masyarakat. Didalam Al-Qur'an membenarkan tentang adanya larangan bekerja pada hari Sabbath dalam Taurat, tetapi Al-Qur'an membolehkan bekerja dan mengesampingkan hal tersebut.

Pada awal tahun kenabian Muhammad, sebuah wahyu diberitakan kepadanya:

"Katakanlah: Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu...

Kalimat ini diyakini oleh pemeluk agama Islam bahwa konversi agama lama menjadi agama Islam akan dimulai dengan segala ketulusan hati mengikuti firman dari kita-kitab suci sebelum Al-Qur'an.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b c [1]Abu Dzar berguru kepada nabi .
  2. ^ "Ulum Al-Qur'an Shuhuf and Mushaf". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-05-30. Diakses tanggal 2009-09-01. 
  3. ^ Sejarah Perjanjian Baru (Ensiklopedi Fakta Alkitab)
  4. ^ "Kitab-kitab yang ada pada ahli kitab". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-03-12. Diakses tanggal 2009-08-18. 
  5. ^ Al Furqaan ialah kitab-kitab terdahulu yang membedakan antara yang benar dan yang salah.
  6. ^ Rasulullah ﷺ bersabda, ”Shuhuf Ibrahim turun pada awal malam pertama bulan Ramadan, dan Taurat turun pada hari keenam bulan Ramadan dan Injil pada hari ketiga belas dari Ramadan.” (Hadits riwayat Imam Ahmad).

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]