Ahlulbait

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Ahlulbait (Bahasa Arab: اهل البیت Bahasa Farsi اهل بیت) berarti keluarga Nabi yang mulia Saw dan merupakan gelar khusus untuk beberapa orang dari keluarga sanak familinya yang telah dimuat dan diisyaratkan dalam ayat Attathhir dan ayat Mawaddah dan mereka itu adalah Imam Ali As, Sayidah Fatimah Az-Zahra Sa, Imam Hasan As, dan Imam Husain As serta sembilan imam maksum lainnya dari anak keturunan Imam Husain As. Dalam pandangan Syiah, Ahlulbait memiliki kedudukan maksum yaitu terjaga dari dosa dan dari sisi ketakwaan dan keanugrahan Ilahi memiliki keunggulan yang lebih tinggi dari para sahabat, cinta dan sayang kepada mereka merupakan hal yang wajib atas setiap muslim. Menurut ajaran Syiah, kewenangan dan kepemimpinan kaum muslimin berada di tangan Ahlulbait dan mereka juga dalam permasalahan-permasalahan agama harus merujuk kepada Alhlulbait dan menjadikan mereka sebagai tempat rujukan kaum muslimin.

Defenisi Ahlulbait Dalam Bahasa[sunting | sunting sumber]

Dalam sumber-sumber bahasa Arab, kata “Ahl” menunjukkan suatu hubungan dan ikatan antara manusia dengan manusia atau dengan yang lainnya; sebagai contoh, di kalangan Arab, istri terhitung sebagai ahl untuk suaminya, suatu umat bagi setiap nabi adalah ahlunya dan penduduk rumah atau kota adalah ahl atau keluarga rumah itu datau kota itu. Begitu juga, para pengikut setiap agama atau mazhab mereka terhitung sebagai ahlu agama atau mazhab tersebut. Ahlulbait dalam bahasa Arab diartikan untuk orang-orang yang menetap di rumah nabi Saw dan kerabatnya; namun istilah ini dalam ritual kaum muslimin memiliki makna tersendiri.[1]

Dan kata “aal” juga berasal dari kata “ahl” yang mana huruf “ha” berubah menjadi huruf hamzah dan kemudian menjadi “alif”.[2] Penggunaan kata “aal” dari kata “ahl” lebih terbatas; karena “aal” tidak disandarkan pada tempat dan waktu dan hanya dikhususkan untuk manusia dan berkaitan dengan manusia juga hanya disandarkan kepada manusia-manusia yang memiliki kedudukan tersendiri; seperti Aal Ibrahim, Aal Imran, Aal Fir’aun.[3]

Ahlulbait dalam Al-Quran[sunting | sunting sumber]

Kata Ahlulbait telah digunakan dalam Al-Quran sebanyak tiga kali:

  1. Dalam surah Hud ayat 73 berkenaan dengan Nabi Ibrahim As dan istrinya, Allah SWT berfirman:
    قالُوا أَ تَعْجَبینَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَ بَرَكاتُهُ عَلَیكُمْ أَهْلَ الْبَیتِ إِنَّهُ حَمیدٌ مَجیدٌ
    “Para malaikat itu berkata:" Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."
  2. Dalam surah Qashash ayat 12 berkaitan dengan keluarga Musa As, Allah SWT berfirman:
    فَقالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلی‏ أَهْلِ بَیتٍ یكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَ هُمْ لَهُ ناصِحُونَ
    “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?".
  3. Dalam surah al-Ahzab ayat 33 yang dikenal dengan ayat al-Tathir, Allah SWT menyapa kepada Nabi dan keluarganya dengan firmanNya:
    إِنَّما یریدُ اللَّهُ لِیذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَیتِ وَ یطَهِّرَكُمْ تَطْهیراً
    “Hanya Saja Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Mengenai apa yang dimaksud dalam ayat dari Ahlulbait dan siapa mereka banyak perbedaan pendapat yang dipaparkan. Dan pendapat yang diterima oleh kalangan Syiah dan juga sebagian besar dari para ulama Ahlus Sunnah bahwa yang dimaksud dari mereka adalah Ashab al- Kisa, yaitu Nabi Saw, Ali, Fatimah az-Zahra, Hasan dan Husain (semoga solawat dan salam tercurah kepada mereka).

Ahlulbait Dalam Riwayat[sunting | sunting sumber]

Dalam Hadis-hadis Nabi[sunting | sunting sumber]

Kata Ahlulbait dalam hadis-hadis nabi memiliki empat kegunaan yang beragam yang mana kegunaan-kegunaan tersebut dapat dikatagorikan sebagai berikut: Kegunaan lebih umum, kegunaan umum, kegunaan khusus dan kegunaan lebih khusus.

  1. Kegunaan lebih umumnya, adalah mencakup orang-orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan keluarga dengan nabi baik secara penisbahan atau karena sebab. Mereka adalah kaum muslimin yang mentaati nabi secara jujur dan kokoh. Sebagaimana nabi menjadikan Salman al-Farisi[4] dan Abu Dzar Ghiffari[5] dianggap sebagai dari keluarganya, dalam sebagian riwayat Ahlulbait juga telah didefinisikan atas beberapa person yang mana Usamah bin Zaid[6] dan Watsilah bin Asqa’[7] termasuk salah satunya.
  2. Kegunaan secara umumnya, Ahlulbait mencakup seluruh keluarga nabi karena sebab tertentu. Yaitu orang-orang yang haram menerima sedekah wajib (zakat).[8] dalam hadis yang lain, perubahan Ahlulbait yang digunakan khusus untuk Abbas paman nabi dan anak keturunannya.[9]
  3. Kegunaan khususnya, Ahlulbait berhubungan dengan istri-istri nabi Saw. Tanpa diragukan lagi, istri-istri nabi Saw sesuai dengan arti bahasa dan tradisinya, mereka adalah Ahlulbait nabi Saw, bait yang dimaksud di sini adalah bait yang berartikan tempat tinggal, tapi bukan bait yang berbentuk nasab atau kenabian.
  4. Kegunaan lebih khususnya, Ahlulbait dikhususkan kepada sekelompok dari keluarga nabi Saw yang memiliki keismahan (keterjagaan mereka dari dosa). Dan bentuk kongkritnya adalah yang telah tercantum dalam riwayat yang berkaitan dengan ayat Attathir dan ayat Mubahalah, yaitu Ashabul Kisa (Ali, Fatimah, Hasan dan Husain) Salam atas mereka.[10] Dan dalam beberapa hadis seperti hadis Tsaqalain, hadis Safinah dan semacamnya yang menunjukkan keberadaan Ahlulbait di setiap saat, selain Ashabul Kisa, para imam maksum berasal dari anak keturunan Imam Husain As.

Dalam Hadis-hadis Para Imam[sunting | sunting sumber]

Ahlulbait dalam hadis-hadis para Imam As juga memiliki tiga pengertian:

  1. Penggunaan umum yang mencakup orang-orang mukmin yang sejati sebagaimana Imam Shadiq As bersabda: “Siapa saja yang bertaqwa dan beramal shaleh dia adalah dari kami.[11] Imam As membuktikan atas arti ini dengan pembuktian dua ayat Al-Quran:
    وَ مَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
    “Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.”[12]
    فَمَنْ تَبِعَني‏ فَإِنَّهُ مِنِّي
    “Maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku,”[13]
  2. Penggunaan khusus, hanya dikhususkan untuk keluarga Nabi Saw. Sebagaimana Imam Ali As bersabda: “Setiap kali keadaan menjadi sulit dalam peperangan dengan musuh-musuh Islam dan masyarakat sudah mulai enggan untuk menghadapi musuh,Nabi Saw mengirim Ahlulbaitnya untuk ditampilkan, Ubaidah bin Harits mati syahid di perang Badar, Hamzah mati syahid di perang Uhud dan Jafar al-Thayyar mati Syahid di perang Mutah.
  3. Penggunaan lebih khusus, dikhususkan untuk segolongan dari keluarga Nabi Saw yang memiliki kedudukan dan keistimewaan tertentu yang mana ucapan dan prilaku mereka adalah contoh suri tauladan tolok ukur kebenaran dan petunjuk hakikat. Sebagaimana Imam Ali As bersabda: “Tengoklah Ahlulbait nabi kalian dan bersenantiasalah pada gerak gerik mereka dan ikutilah mereka, karena mereka sama sekali tidak akan menyimpang dari jalan hidayah dan kalian tiadak akan terjerumus dalam kesesatan, jangan kalian mendahului mereka yang mana kalian akan tersesat, dan jangan kalian memisahkan diri dari mereka yang mana kalian akan hancur.”[14] Imam Hasan As menyapa kepada penduduk Irak ia bersabda: “Kami adalah Ahlulbait yang Allah SWT telah menurunkan ayat Attathir[15] berkenaan dengan mereka.”[16] Riwayat-riwayat yang berhubungan dengan hal ini sangatlah banyak.

Dari dua makna yang terakhir, dalam literatur Syiah, makna yang kedua lebih marak dipakai dan setiap kali ungkapan Ahlulbait digunakan tanpa adanya isyarat khusus, maka yang dipakai adalah mengacu pada makna yang terakhir yaitu kegunaan yang lebih khusus.

Keterjagaan Ahlulbait dari Dosa[sunting | sunting sumber]

Keistimewaan yang menonjol dari Ahlulbait dengan makna yang lebih khususnya adalah keterjagaan mereka dari dosa atau biasa yang disebut dengan ismah. Keistimewaan ini bersumber dari ayat Attathir yang dengan jelas dapat dirasakan, karena di dalam ayat ini Ahlulbait adalah sebagai manifestasi dari orang-orang yang Allah berkehendak menjauhkan segala kekejian dari mereka. Kata “innama” dalam ayat, dan riwayat sebab-sebab diturunkannya ayat ini menjelaskan bahwa permasalahan ini adalah sebuah keistimewaan dan hanya dikhususkan untuk Ahlulbait saja. Hadis Tsaqalain juga tergolong dari hadis-hadis yang mutawatir dan dalam sisi sanadnya tidak diragukan lagi 18telah menunjukkan keismahan Ahlulbait nabi Saw (dengan makna yang lebih khusus), karena dalam hadis ini, Ahlulbait sebagai bagian kecil (Tsiql Asghar) di sisi Al-Quran yang merupakan bagian besar (Tsiql Akbar)

Dalam Ayat Mubahalah[sunting | sunting sumber]

Ayat Mubahalah juga menunjukkan keunggulan Ahlu Kisa atas para sahabat, karena ber dasarkan ayat ini, nabi Saw mendapatkan perintah untuk menyertakan beberapa orang dari anak-anak, para pemuda dan permpuan-perempuan muslim untuk diajak bermubahalah dengan orang-orang Nasrani dari Najran. Dan nabi Saw dari para pemuda memilih Ali As dan dari para perempuan Sayidah Zahra Sa dan dari anak-anak, Hasan dan Husain As. Tanpa ragu lagi untuk mengadakan mubahalah ciri-ciri orang yang dipilih dari sudut pandang iman dan kedekatannya kepada Tuhan mereka harus memiliki kedududkan yang tinggi, dan dalam sebuah mubahalah yang salah satunya adalah Rasulullah, orang yang bersamanya haruslah setara dengan martabatnya atau paling tidak mereka dari sisi makam dan kedudukan lebih tinggi dari yang lain, selain itu jika bukan orang-orang yang disebut di atas, adalah dari seorang muslim yang memiliki kedudukan tinggi dari sisi keimanan dan spriritual yang nabi Saw sendiri memilihnya, karena mengenai perangai yang bersumber dari nabi Saw tidak ada kemungkinan sekecil apapun dari kekeliruan yang menentang keadilan ata hikmah.[17]

Abu Rayyah, pelayan Ummu Salamah meriwayatkan dari nabi Saw bahwa jika di atas bumi ini ada seseorang yang kedudukannya lebih tinggi dari Ali, Fatimah, Hasan dan Husain As Allah akan memerintahkanku supaya aku bermubahalah dengan perantara mereka, akan tetapi Allah memerintahkanku supaya bermubahalah dengan pertolongan mereka(Ahlulbait), mereka adalah orang-orang teragung.[18]

Dalam Ayat-ayat dan Riwayat-riwayat[sunting | sunting sumber]

Terdapat keunggulan Ahlulbait dari ayat-ayat dan riwayat-riwayat lainnya seperti ayat Mawaddah[19] hadis Safinah, hadis Babul Hithah, hadis Nujum dan sebagainya juga dapat ditemukan.

Otoritas keilmuan Ahlulbait[sunting | sunting sumber]

Dalam Hadis Tsaqalain[sunting | sunting sumber]

Hadis Tsaqalain adalah sebuah penjelas otoritas keilmuan Ahlulbait, karena nabi Saw berharap dari kaum muslimin untuk berpegangteguh kepada Al-Quran dan al-Itrah supaya mereka tidak tersesat. Al-Quran Al-Karim adalah sumber pertama dan paling urgennya rujukan bagi kaum muslimin. Dan sunnah nabi Saw adalah sumber kedua setelahnya dan peran Ahlulbait dalam hal ini ialah penerjemah dan penafsir Al-Quran, penjaga serta penukil sunnah nabi Saw, tidak diragukan lagi bahwa nabi Saw telah menjelaskan sebagaian besar dari kebenaran-kebenaran dan ajaran-ajaran Al-Quran kepada masyarakat, namun sebagiannya lagi ia tidak mememukan situasi dan kondisi yang tepat untuk menjelaskannya, atau sebaiknya penjelasnya ditaruh di lain kesempatan dan diserahkan penjelasannya kepada Itrah atau keluarganya yang maksum sehingga mereka yang akan menjelaskannya nanti.[20] Kesimpulannya: Menjaga secara sempurna apa yang telah dijelaskan oleh rasulullah dan menjelaskan apa yang belum jelas diserahkan kepada Ahlulbait nabi. Jalan yang baik untuk mengenal Al-Quran dan sunnah nabi Saw adalah berpegangteguh kepada Ahlulbait nabi Saw. Dengan demikian, mereka adalah marja atau otoritas ilmu kaum muslimin untuk mengetahui lebih jauh tentang pengetahuan-pengetahuan dan hukum-hukum agama. Mulla Ali Qari salah seorang ulama Ahlussunnah mengatakan, “Ahlulbait kebanyakan lebih mengetahui keadaan penghuni rumah dan apa yang terjadi di dalamnya dibandingkan orang lain, dengan demikian, yang dimaksud dengan Ahlulbait adalah para cendikiawan mereka dan para ahli yang lebih mengenal sirah perjalanan rasulullah Saw dan orang yang tahu terhadap jalan dan caranya, dan orang-orang pintar kepada hukum dan hikmahnya, karena inilah mereka memiliki kelayakan untuk berada di sisi kitab Allah Yang Maha Suci.[21] Ibnu Hajar juga mengatakan, “Nabi sengaja menamakan kitab suci Al-Quran dan Itrah dengan Tsiql, karena biasanya penamaan Tsiql dikhususkan untuk sesuatu yang bernilai dan berharga dan memiliki kepentingan, dan Al-Quran serta Sunnah juga demikian, karena keduanya adalah tambang ilmu-ilmu ladunni dan rahasia-rahasia dan hikmah-hikamh yang tinggi dan merupakan hukum Syareat, dengan demikian, berpegangteguh pada keduanya dan mengambil pelajaran dan pengetahuan dari keduanya sangatlah ditekankan. Imbauan dan tekanan tentang Itrah dikhususkan bagi orang-orang yang mengenal kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw, dan merekalah yang sampai hari kiamat tidak akan terpisah dari Al-Quran.[22]

Catatan Kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Al-Mufradāt fῑ gharῑb al-Qurān, hlm. 29
  2. ^ lisān al-arab, jld. 1, hlm, 186
  3. ^ Al-Mufradāt, hlm. 30
  4. ^ Manāqib Ibnu Syahr Āsyūb,jld. 1 hlm. 85; AsShawāiq al-Muhriqah, hlm. 281
  5. ^ Makārim al-Akhlāq, hlm. 459
  6. ^ AsShawāiq al-Muhriqah, hlm. 281
  7. ^ tafsir at-Thabari, jld. 22, hlm. 12
  8. ^ Shahih Muslim, jld. 4, hlm. 1873, bab Fadhoil Ali bin Abi Thalib, hadis 7
  9. ^ AsShawāiq, hlm. 281
  10. ^ Musykil al-Ātsār, jil. 1, hlm. 332-339; AsShawāiq al-Muhriqah, hlm. 281
  11. ^ Da’āim al-Islām, jld. 1, hlm. 62
  12. ^ QS al-Maidah, 51
  13. ^ QS Ibrahim, 36
  14. ^ Nahj al-Balāghah, surat 9
  15. ^ QS al-Ahzab, 33
  16. ^ Tafsir Ibnu Katsir, jld. 5, hlm. 458
  17. ^ Nahj al-Haq wa Kasfu as-Sidq, hlm. 179 dan 215, 216; Al-Lawāmi’ al-ilāhiyah, hlm. 515; dlāil As-Sidq, jld. 2, hlm. 132-133
  18. ^ Yanābῑu al-Mawaddah, hlm. 287
  19. ^ QS As-Syura 23
  20. ^ Aslu as-Syiah wa ushulihā, hlm, 162
  21. ^ Al-Mirqāt, jld. 5, hlm. 600
  22. ^ AsShawāiq al-Muhriqah, hlm. 189

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Syahidi, Sayid Ja'far, Tarjumah Nahj al-Balāghah, Tehran, Ilmi wa Farhanggi, 1377 S.
  • Subhi Shaleh, Nahj al-Balāghah, Beirut, 1387 S.
  • Kasyiful Ghita, Muhammad Husain, Aslu as-Syiah wa Usuliha, al-Matba'ah al-Arabiah, Kairo, 1377 S.
  • Al-Kulaini, Abu Ja'far Muhammad bin Yakub, Ushul al-Kāfi, al-Maktabah al-Islamiyah, Tehran, 1388 S.
  • Syartuni, Said al-Khuri, Aqrab al-Mawarid, Maktabah al-Mar'asyi, Qom, 1403 H.
  • Ibnu Katsir Dimasyqi, Ismail, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Andalus, Beirut, 1416 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Tafsir Thabari, Pencatatan dan Suspensi Muhammad Syakir, Daru Ihya at-Turāts al-Arabi, Beirut, 1421 H.
  • Abu Hanifah Magribi, Nukman bin Muhammad, Da'āimul Islam, Kairo, Dārul Ma'ārif, tanpa tahun.
  • Al-Mudzaffar, Muhammad Hasan, dalāil Al-Sidq, Maktabah an-Najjāh, Tehran, Tanpa Tahun.
  • Taftazani, Sa'aduddin, Masud bin Umar, Syarhu al-Maqāsid, Darul Ma'arif al-Utsmaniyah, Pakistan. Tanpa Tahun.
  • Hakim Haskani, Abdullah bin Abdullah, Syawāhid at-Tanzil, penelitiMuhammad Baqir Mahmudi, Muassasah al-A'lami, Beirut, 1421 H.
  • Neisyāburi, Muslim bin Hajjāj, Sahih al-Muslim, peneliti Muhammad Fuad Abdul Baqi, Dār Ihyā at-Turāts al-Islāmi, Beirut, Tanpa Tahun.
  • Haitsami Makki, Ibnu Hajar, Al-Shawā'iq al-Muhriqah, al-Maktabah al-'Asriyah, Beirut, 1425 H.
  • Manawi, Muhammad Abdur Rauf, Faidh al-Qadir Fi Syarhi al-Jami' as-Shagir, Dār al-Fikr, Beirut, 1416 H.
  • Ganji Syafi'i, Muhammad bin Yusuf, Kifayatu al-Thālib, Tehran, Dār ihyā Turāts Ahlul Bait As, Tanpa Tahun.
  • Muttaqi Hindi, Kanzul Ummāl, Muassasah ar-Risalah, Beirut, 1405 H.
  • Ibnu Mandzur, Muhammad bin Mukrim, Lisānu al-Arab, Dār Shādir, Beirut, 2000 M.
  • Fadhil Miqdad, Jamaluddin Miqdad bin Abdullah, Maktabah al-Mar'asyi, Qom, 1405 H.
  • Hakim Nisyāburi, Muhammad bin Abdillah, al-Mustadrak ala al-Shahihain, Dār al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, 1978 M.
  • Haitsami, Ali bin Abi Bakr, Majmau al-Zawāid, Beirut, Dār al-Kutub al-Arabi, Tanpa Tahun.
  • Ibnu Hambal, Ahmad bin Muhammad, al-Musnad, Darul Hadist, Kairo, 1416 H.
  • Feiwali, Ahmad bin Muhammad, al-Mishbāh al-Munir, Kairo, Tanpa Tahun.
  • Ibrahim Musthafa dan lain-lain, al-Mu'jam al-Wasit, al-Maktabah al-Islāmiyah, Istanbul, Tanpa Tahun.
  • Ibnu Faris, Abul Husain Ahmad, Mu'jam Maqāis al-Lughah, Dār al-Fikr, Beirut, 1418 H.
  • Raghib, Husain bin Muhammad, al-Mufradāt Fi Gharib Al-Qurān, al-Maktabah al-Murtadhawiyah, Tehran, Tanpa Tahun.
  • Thabarsi, Hasan bin Fadhl, Makārim al-Akhlāq, Muassasah al-'Alami, Beirut, 1392 H.
  • Fahruddin Razi, Muhammad bin Umar, Mafātih al-Ghaib Tafsir al-Kabir, Beirut, Dār Ihyā at-Turāts al-Arabi, Tanpa Tahun.
  • Ibnu Maghazili, Ali bin Muhammad, Manāqib, Dār al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Tanpa Tahun.
  • Allāmah Thabāthbāi, Muhammad Husain, Al-Mizān fi Tafsir Al-Qurān, Muassasah al-'Alami, Beirut, 1393 H.
  • Al-Hafidz Muhammad, Abdul Aziz, an-Nabrās, Maktabah Haqqaniyah.
  • Milani, Sayid Ali, Nafahāt al-Azhār Fi Khulāshati Abaqāti al-Anwār, pusat penjelasan, terjemah dan penerbitan Ārā, Qom, 1423 H.
  • Hilli, Abu Manshur Jamaluddin Hasan bin Yusuf, Nahj al-Haq wa Kasyfu al-Sidq, Dār al-Hijrah, Qom, 1414 H.
  • Qunduzi Hanafi, Syekh Sulaiman, Yanābiu al-Mawaddah, Muassasah al-'Alami, Beirut, 1418 H.