Sufi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sufi adalah penyebutan untuk orang-orang yang mendalami sufisme atau ilmu tasawwuf. Secara umum istilah "sufi" dikatakan berasal dari kata suf (صوف), yang artinya kain wol, merujuk kepada jubah atau khirqah yang biasa dikenakan para Sufi pada masa awal. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah, sehingga ada juga yang berpendapat bahwa kata ini berasal dari kata saf, yakni barisan dalam sholat. Pendapat lain mengatakan kata ini berasal shafa (صفا), yang berarti "kemurnian". Hal ini menaruh penekanan pada sufisme pada kemurnian hati dan jiwa.

Penamaan[sunting | sunting sumber]

Istilah "sufi" memiliki banyak versi mengenai asal katanya. Versi paling awal ialah sufi berasal dari kata "Shuffah". Kata ini merupakan nama dari suatu perkampungan yang ditinggali oleh penduduk miskin dari kaum Muhajirin ketika sampai di Madinah. Versi lain menyatakan bahwa kata "sufi" berasal dari kata ash-Shafa' yang berarti kejernihan. Pendapat ini berdasarkan pada anggapan bahwa sufi merupakan orang yang jernih pada bagian roh dan batinnya. Pemberian arti sebagai kejernihan berasal dari pendapat Abu al-Fath al-Busti. Kemudian, ada pula yang mengaitkan istilah "sufi" kepada seorang lelaki bernama Shufah bin Bisyar bin Thabikhah yang hidup pada masa jahiliah. Ia berasal dari suatu kabilah yang menetap di dekat Masjidil Haram. Kabilah ini diberi julukan sebagai ahli ibadah. Pendapat lain menyatakan bahwa kata tersebut berasal dari kata shaf yang berarti barisan khususnya barisan pertama di dalam salat. Anggapan ini diyakini karena mereka dianggap sebagai barisan pertama ketika berjumpa dengan Allah. Sementara itu, ada pula yang menganggap bahwa kata tersebut berasal dari penamaan atas kain wol.[1]

Ajaran[sunting | sunting sumber]

Sufi adalah inti dari Agama Islam,bukan aliran tertentu. Sebagaimna Ilmu tentang Syariat dinamakan Ilmu Fiqih Maka ilmu tentang kerohanian Dinamakan. Tasawuf & orang yang menjalankan tasawuf sering disebut sebagai orang Sufi atau sufisme

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Al-'Aqil, Muhammad bin A. W. (2018). Bamuallim, M., dan al-Faiz, M. S.,, ed. Manhaj Aqidah Imam Asy-Syafi'i. Diterjemahkan oleh Idris, N., dan Zuhri, S. Jakarta: Pustaka Imam Syafi'i. hlm. 579.