Masjidil Haram

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Untuk kegunaan lain dari Haram, lihat Haram.
Masjidil Haram
مسجدالحرام
Masjidil Haram berlokasi di Arab Saudi
Masjidil Haram
Lokasi di Arab Saudi
Informasi umum
Letak Mekkah, Arab Saudi[1]
Koordinat geografi 21°25′19″LU 39°49′34″BT / 21,422°LU 39,826°BT / 21.422; 39.826Koordinat: 21°25′19″LU 39°49′34″BT / 21,422°LU 39,826°BT / 21.422; 39.826
Afiliasi agama Islam
Munisipalitas Lingkungan Al-Haram
Provinsi Provinsi Makkah
Negara  Arab Saudi
Administrasi Pemerintah Arab Saudi
Kepemimpinan Imam:
Abdurrahman As-Sudais dan Lainnya
Situs web www.gph.gov.sa
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Didirikan Zaman Pra-Islam
Spesifikasi
Kapasitas 900,000 jama'ah (meningkat hingga 4,000,000 jama'ah saat musim Haji)
Menara 9
Tinggi menara 89 m (292 ft)
Masjidil Haram

Masjidil Haram, Masjid al-Haram atau al-Masjid al-Haram (bahasa Arab: المسجد الحرام, pengucapan bahasa Arab: [ʔælmæsʤɪd ælħaram]) adalah sebuah masjid yang berlokasi di pusat kota Mekkah[1] yang dipandang sebagai tempat tersuci bagi umat Islam. Masjid ini juga merupakan tujuan utama dalam ibadah haji. Masjid ini dibangun mengelilingi Ka'bah yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam dalam mengerjakan ibadah Salat. Masjid ini juga merupakan masjid terbesar di dunia, diikuti oleh Masjid Nabawi di Madinah al-Munawarah sebagai masjid terbesar kedua di dunia serta merupakan dua masjid suci utama bagi umat Muslim. Luas keseluruhan masjid ini mencapai 356.800 m2 (3.841.000 sq ft)dengan kemampuan menampung jamaah sebanyak 820.000 jamaah ketika musim Haji dan mampu bertambah menjadi dua juta jamaah ketika salat Id.[2]

Kepentingan masjid ini sangat diperhitungkan dalam agama Islam, karena selain menjadi kiblat, masjid ini juga menjadi tempat bagi para jamaah Haji melakukan beberapa ritual wajib, yaitu tawaf, dan sa'i.

Pengertian Masjidil Haram tidak hanya diartikan sebagai masjid di kota Mekkah saja para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini ada yang mengatakan bahwa arti masjidil haram adalah semua tempat di kota Mekkah.[3]

Imam Besar masjid ini adalah Syaikh Abdurrahman As-Sudais seorang imam yang dikenal dalam membaca Al Qur'an dengan artikulasi yang jelas dan suara yang merdu dan Syaikh Shuraim.

Muadzin besar dan paling senior di Masjid Al-Haram adalah Ali Ahmed Mulla yang suara azannya sangat terkenal di dunia Islam termasuk pada media internasional

Sejarah

Pra-sejarah

Sejarah Masjidil Haram tidak lepas dari pembangunan Kakbah jauh sebelum Nabi Adam diciptakan. Setelah Nabi Adam dan Hawa turun ke bumi, mereka diperintahkan oleh Allah untuk membangun bangunan di sebuah lembah yang bernama Bakkah (saat ini menjadi bagian dari Kota Mekkah al-Mukarramah)[4]. Namun bangunan tersebut hancur akibat air bah pada masa Nabi Nuh. Selama beberapa abad kemudian, Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Isma'il untuk membangun sebuah bangunan di tengah perempatan kota Mekkah untuk dijadikan tempat beribadah[5] Mereka berdua lah yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim di sekitar Kakbah.[6] Sejak pembangunan tersebut, Kakbah dan Masjidil Haram dijaga oleh para keturunan Isma'il.

Masa Jahiliyah

Masjidil Haram menjadi pusat atau tujuan utama para peziarah, terutama Kakbah. Akibatnya Abrahah dari Yaman, merasa iri dan ingin menghancurkan Kakbah mereka membawa pasukan bergajah untuk menghancurkan Kakbah.[7] Namun ketika dalam perjalanan semua pasukan itu dilempari batu berapi dari neraka oleh burung-burung ababil[8], sehingga pasukan tersebut mati dalam keadaan tubuh yang rusak dan berlubang-lubang selayaknya daun-daun yang dimakan ulat.[9] Peristiwa itu terjadi pada tahun gajah, yakni tahun saat Nabi Muhammad dilahirkan, yaitu pada tahun 571 M.

17 Tahun setelah percobaan penyerangan Kakbah, bangunan Kakbah hancur akibat banjir besar yang melanda kota Mekkah. Para petinggi Quraisy sepakat untuk menggunakan uang yang halal dalam pembangunan Kakbah,[10] akibatnya ukuran Kakbah menjadi lebih kecil dari ukuran sebelumnya sehingga Hijir Ismail tidak termasuk kedalam Kakbah. Pertikaian terjadi antara para petinggi Quraisy setelah masanya peletakkan batu Hajar Aswad.[11] Mereka berselisih tentang siapa yang berhak meletakkan batu itu. Hingga akhirnya datanglah Muhammad yang mengusulkan agar batu itu diletakkan di sebuah kain yang setiap ujungnya dipegang oleh masing-masinh ketua kabilah. Berkat peristiwa ini Muhammad digelari sebagai Al-amin.[12]

Masa Rasulullah

Lukisan ilustrasi Masjidil Haram saat masa Rasulullah

Masjidil Haram sejak dibangunnya Ka'bah sampai dengan masa permulaan Islam terdiri dari halaman yang luas dan ditengahnya ada Kakbah, tidak ada dinding yang mengelilinginya, hanya bangunan rumah-rumah penduduk Mekkah yang mengelilingi halaman itu, seakan-akan dia adalah dindingnya.[13]

Di sela rumah-rumah tersebut teradapat lorong-lorong yang mengantar ke Kakbah, dinamakan dengan nama-nama kabilah-kabilah yang melaluinya atau yang berdekatan dengannya, diperkirakan luas Masjidil Haram pada masa Nabi Muhammad S.A.W antara 1490 sampai 2000m²[14]

Masa Kekhalifahan

Dari masa ke masa tempat thawaf diperluas berkali-kali, agar dapat mencukupi dengan bertambahnya jumlah orang-orang yang thawaf, maka dari itu pada tahun 17 H/638 M Umar bin Khatthab al Faruq membeli rumah-rumah yang menempel dengan Masjidil Haram dan menghacurkannya. serta memasukkan area tanahnya ke dalam Masjidil Haram, mengubininya dengan hamparan kerikil, kemudian dia membangun tembok mengelilingi masjid setinggi kurang satu depa (6 kaki), dan membuatkan beberapa pintu, dan lampu-lampu minyak penerang masjid diletakkan di dinding ini, diperkiran luas tambahan ini adalah 840m2.[15] 

Ini adalah perluasan pertama untuk Masjidil Haram. Pada tahun 26 H/646 M Khalifah Utsman bin Affan menjadikan bagi masjid koridor-koridor sebagai tempat berteduh untuk orang-orang, diperkirakan luas perluasan ini mencapai 2040 m2. Di tahun 65 H/ 684 M setelah Abdullah bin Zubair menyelesaikan pemugaran Ka'bah. dia memperluas Masjidil Haram dengan sangat besar, sehingga menuntut untuk memberikan atap di sebagian darinya, diperkirakan perluasan ini mencapai 4050 m2

Masa daulah Umayyah

Dan di tahun 91H/709 M,[16] Khalifah Kesultanan Umayyah Umawi Walid bin Abdul Malik [17] memerintahkan untuk perluasan Masjidil Haram, dan membangunnya dengan bangunan yang kokoh,[18] dan mendatangkan pilar-pilar marmer dari Mesir dan Syam, dan Ujungnya diberi lempengan emas, dan masjid diatapi dengan kayu sajj (semacam kayu jati) yang dihiasi.[19][20] Dan dibuat untuknya beranda, di temboknya diberi lengkungan dan di alas lengkungannya di beri mosaik (kepingan batu), perluasaan ini adalah untuk bagian timur,[21] diperkirakan tambahan ini seluas 2300 m2[22]

Masa daulah Abbasiyah

Pada tahun 137 H/754 M Khalifah Kekhalifahan Abbasiyah Abu Ja'far an-Nilansyur al-Abbasi memerintahkan untuk memugar Masjidil Haram dan memperluasnya serta menghiasinya dengan emas dan mosaik,[23] dan dia adalah orang pertama yang menutup Hijir Ismail dengan marmer, diperkirakan tambahan ini seluas 4700 m2.[24] Dan di tahun 160 H/776 M Khalifah al Mahdi memperluas Masjidil Haram dari arah timur, barat dan utara, dan tidak memperluas bagian selatan disebabkan adanya jalan untuk air bah Wadi Ibrahim, tambahan perluasan ini diperkirakan 7950m2.[25] Dan tatkala Khalifah al Mahdi menunaikan haji tahun 164 H/ 780 M dia memerintahkan agar jalan air bah wadi Ibrahim dipindah, dan memperluas bagian selatan sehingga Masjidil Haram menjadi segi empat, tambahan perluasan ini di perkirakan mencapai 2360 m2[26]

Pada di tahun 281 H/894 M Khalifah al-Mu'tadhid Billahi memasukkan Daar An-Nadwah ke dalam Masjidil Haram, rumah ini cukup luas terletak di arah utara masjid, memiliki halaman yang luas, dahulunya biasa disinggahi oleh para khalifah dan gubernur, kemudian ditinggalkan, maka dimasukkanlah ke dalam masjid, dibangun di atasnya menara. dan diramaikan dengan pilar-pilar dan kubah-kubah serta koridor-koridor, diatapi dengan kayu sajj yang dihiasi, tambahan ini diperkirakan seluas 1250 m2.[27] Dan di tahun 306 H/918 M [28] Khalifah al Muqtadir Billahi al Abbasi memerintahkan agar menambah pintu Ibrahim di arah barat masjid, dahulunya adalah halaman yang luas di antara dua rumah Siti Zubaidah, luasnya diperkirakan 850 m2.[29]

Masa Kekhalifahan Utsmaniyah

Masjidil Haram pada Masa Kekhalifahan Utsmaniyah

Pada tahun 979H/1571 M Sultan Salim al Utsmani memugar bangunan masjid secara total, tanpa menambah diluasnya, dan bangunan ini tetap ada sampai sekarang dikenal dengan bangunan Utsmaniyyah.[30]

Pada 1579, Sultan Selim II dari Kesultanan Utsmaniyyah menugaskan arsitek ternama Turki, Mimar Sinan untuk merenovasi Masjidil Haram.[31][32] Sinan mengganti atap masjid yang rata dengan kubah lengkap dengan hiasan kaligrafi di bagian dalamnya.[32]

Sinan juga menambah empat pilar penyangga tambahan yang disebut-sebut sebagai rintisan dari bentuk arsitektur masjid-masjid modern. Pada tahun 1621 dan 1629, banjir bandang melanda Mekah dan sekitarnya, mengakibatkan kerusakan pada Masjidil Haram dan Kakbah. Pada masa kekuasaan Sultan Murad IV tahun 1629, Kakbah dibangun kembali dengan batu-batu dari Mekah, sedangkan Masjidil Haram juga mengalami renovasi kembali.[31][32]

Pada renovasi tersebut, ditambahkan tiga menara tambahan sehingga keseluruhan menara menjadi tujuh. Marmer pelapis lantai pun diganti dengan yang baru. Sejak saat itu, arsitektur Masjidil Haram tak berubah hingga hampir tiga abad.[31][32]

Masjidil Haram pada tahun 2009 pada masa Fahd bin Abdul Aziz
Masjidil Haram dilihat dari ketinggian 500 meter

Era kekuasaan Raja-raja Saudi

Renovasi besar pertama yang dilakukan di era Raja-raja Saudi berlangsung pada tahun 1955 hingga tahun 1973. Selain penambahan tiga menara, atap masjid pun diperbaiki, sementara lantai masjid diganti dengan marmer yang baru. Pada renovasi ini, dua bukit kecil Shofa dan Marwah dibuat di dalam Masjidil Haram. Dalam renovasi ini pula, seluruh fitur yang dibangun oleh arsitek kekaisaran Utsmaniyah, termasuk empat pilar, dirobohkan.[31][32]

Renovasi kedua dilakukan ketika Arab Saudi dipimpin oleh Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud. Raja Fahd, pada tahun 1982 hingga 1988, membangun sebuah sayap bangunan baru dan area shalat ruang terbuka di Masjidil Haram. Renovasi ketiga dilakukan pada tahun 1988 hingga 2005. Pada renovasi ini, dibangun beberapa menara tambahan, serta area salat di dalam dan sekitar masjid. Sebuah kediaman untuk raja juga dibangun berhadapan dengan masjid.[31][32]

Selain itu, dibangun pula 18 gerbang tambahan, tiga kubah, serta 500 pilar marmer. Masjidil Haram juga dilengkapi dengan pendingin udara, eskalator, dan sistem pengairan.[32]

Masa kekuasaan Raja Abdullah bin Abdulaziz

Pada tahun 2007, Raja Abdullah memulai proyek raksasa untuk memperluas kapasitas masjid agar bisa menampung hingga 2 juta jamaah. Proyek ini diprediksi akan rampung pada tahun 2020. Perluasan masjid dimulai pada bulan Agustus 2011. Area masjid yang semula seluas 356.000 meter persegi akan dikembangkan menjadi 400.000 meter persegi. Sebuah gerbang yang diberi nama Gerbang Raja Abdullah dibangun bersama tambahan dua menara masjid.[32]

Proyek pembangunan di bawah Raja Salman bin Abdulaziz

Tahta Kerajaan Arab Saudi jatuh ke tangan Salman bin Abdul Aziz, setelah Raja Abdullah wafat. Raja Salman, pada bulan Juli 2015 lalu, meluncurkan lima proyek ekspansi Masjidil Haram agar bisa mengakomodasi lebih dari 1,6 juta jamaah haji.[31]

Proyek ini mencakup pembangunan gedung, terowongan, gedung-gedung tempat tinggal bagi jamaah haji, serta sebuah jalan lingkar. Perluasan bangunan mencakup 1,47 juta meter persegi dan pembangunan 78 gerbang baru. Sebanyak enam lantai untuk shalat untuk sembahyang, 680 eskalator, 24 elevator untuk jamaah berkebutuhan khusus, 21.000 toilet dan tempat wudhu.

Nilai proyek yang sudah digelar pada tahun 2011 oleh Raja Abdullah ini mencapai 26,6 miliar Dolar AS. Pemegang tender proyek raksasa ini adalah Binladin Group.[33]

Pendudukan Masjidil Haram 1979

Pendudukan Masjidil Haram adalah serangan dan pendudukan yang dilancarkan oleh kelompok "Ikhwan" dari tanggal 20 November hingga 4 Desember 1979 di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi.[34] Gerakan ini dipimpin oleh Juhaiman bin Muhammad ibn Saif al Otaibi. Para pembangkang menyatakan salah seorang dari antara mereka, yaitu Mohammed Abdullah al-Qahtani, adalah seorang Mahdi. Mereka menyerukan semua Muslim untuk mematuhinya.[35] Dengan senapan, mereka lalu menguasai Masjidil Haram dan menyandera peziarah-peziarah yang sedang melaksanakan ibadah haji. Tentara keamanan Arab Saudi kemudian mengepung kompleks masjid dan setelah dua minggu, para militan berhasil dikalahkan.[36]

Kecelakaan Alat Berat Derek 2015

Pada 11 September 2015, 111 orang meninggal dunia dan 394 lainnya terluka akibat sebuah derek yang jatuh ke dalam Masjid.[37][38][39][40][41][42] Jatuhnya alat berat ini diakibatkan oleh badai hujan yang disertai angin kencang yang melanda kota Makkah pada waktu itu. Korban luka-luka dirawat di Rumah Sakit setempat dan dibiyayai oleh kerajaan Arab Saudi secara penuh, korban luka-luka pun dijenguk oleh Raja Salman di Rumah Sakit.[43]

Kepentingan dalam agama Islam

Kiblat

adalah kata Arab yang merujuk arah yang dituju saat seorang Muslim mendirikan salat.

Menurut Ibnu Katsir,[44] Rasulullah SAW dan para sahabat salat dengan menghadap Baitul Maqdis. Namun, Rasulullah lebih suka salat menghadap kiblatnya Nabi Ibrahim, yaitu Ka'bah. Oleh karena itu dia sering salat di antara dua sudut Ka'bah sehingga Ka'bah berada di antara diri dia dan Baitul Maqdis. Dengan demikian dia salat sekaligus menghadap Ka'bah dan Baitul Maqdis.

Haji

Haji adalah rukun Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Zulhijah).

Arsitektur

Secara historis, pembangunan besar-besaran pada masa Turki Utmani itu antara lain terjadi pada tahun 979 H/ 1571 M ketika Sultan Salim al-Utsmani memugar bangunan masjid secara total dan bangunan ini sebagian tetap ada sampai sekarang dan dikenal secara internasional dengan bangunan Utsmani.

Sebelumnya, Sultan Salim sudah memerintahkan arsitek Turki kenamaan Mimar Sinan untuk merenovasi Masjidil Haram secara keseluruhan, yang kokoh, megah dan artistik. Sinan lalu mengganti atap masjid yang rata dengan kubah, lengkap dengan hiasan kaligrafi di bagian dalamnya. Sinan juga menambah empat pilar penyangga tambahan yang disebut-sebut sebagai rintisan dari bentuk arsitektur masjid-masjid modern.

Pada masa ini juga dibuat atap-atap kecil berbentuk kerucut yang masih dapat kita lihat hingga renovasi besar-besaran pada tahun 2013-2016 ini. Bentuk dasar bangunan Masjidil Haram hasil renovasi Kesultanan Utsmaniyyah itulah yang dapat dilihat saat ini. Hanya saja pada bagian utara masjid sudah terbongkar untuk perluasan area tawaf.

Pada tahun 1621 dan 1629, banjir bandang melanda Mekkah dan sekitarnya, mengakibakan kerusakan pada Masjidil Haram dan Kakbah. Pada masa kekuasan Sultan Murad IV tahun 1629, Kakbah dibangun kembali dengan batu-batu dari Mekah, sedangkan Masjidil Haram juga mengalami renovasi kembali.

Karya Sinan di Masjidil Haram mengesankan jutaan muslim yang setiap tahun berhaji dari tahun ke tahun, sehingga melahirkan jenis baru seni yang kemudian dikenal dengan sebagai arsitektur Islami.

Ciri menonjol karya Sinan yang kemudian dijadikan rujukan arsitektur Islam itu adalah pola bangunan yang memanfaatkan sepenuhnya cahaya dan bayangan, kehangatan dan kesejukannya, angin dan sirkulasinya, air dan efek penyejukannya, tanah dan ciri-ciri isolatifnya serta sifat-sifat protektifnya terhadap cuaca.

Sebenarnya wujud arsitektur Islami sebagaimana tercermin dalam Masjidil Haram adalah sebuah kristalisasi dari spiritualitas yang memberi kedamaian serta keselarasan alam yang suci. Ciri itu tampak jelas dalam jejak-jejak arsitektur peninggalan Kesultanan Turki Utsmani di Masjidil Haram yang dipelihara beratus-ratus tahun itu.[45]

Pintu

Secara keseluruhan ada 129 pintu di Masjidil Haram. Untuk memasuki Masjidil Haram, terdapat 4 pintu utama dan 45 pintu biasa yang biasanya buka selama 24 jam sehari, masing masing pintu tersebut memiliki sebuah nama, di antara pintu pintu tersebut ada yang bernama Shafa, Darul Arqam, Ali, Abbas, Nabi, Bani Syaibah, dan lain-lain, pintu pintu tersebut berada di sekeliling Masjidil Haram.[46]

Di antara pintu-pintu tersebut terdapat sebuah pintu yang sangat populer dan paling utama dan biasanya sering menjadi terdapat bergerombol para jamaah yang menginginkannya untuk memasuki pintu tersebut, pintu tersebut bernama Babus Salam. dengan melalui pintu tersebut akan dapat langsung melihat Kakbah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim dan Hijir Ismail.[46]

Pintu sejumlah 129 buah tersebut telah dilengkapi dengan lampu penunjuk berwarna merah dan hijau, jika lampu hijau menyala, berarti di dalam masjid masih terdapat tempat yang kosong . namun, jika lampu merah menyala, berarti tak ada tempat lagi di dalam masjid, masjid tersebut juga menyediakan 50 pintu yang dikususkan bagi para penyandang cacat dan mereka yang tidak bisa berjalan.[46]

Masjidil Haram memiliki beberapa pintu atau gerbang, dengan di kelompokkan menjadi pintu terdahulu dan pintu-pintu baru.

Pintu Shafa pada tahun 1325 H
Lima pintu terdahulu Masjidil Haram
  1. Pintu Raja Abdul Aziz, nomor (1) di bagian barat.[47]
  2. Pintu Shofa, nomor (11) di tempat sa'i.[48]
  3. Pintu Al-Fath nomor (45) di bagian selatan.[49]
  4. Pintu Umrah, nomor (62) di bagian selatan.[50]
  5. Pintu Raja Fahd, nomor (79) di bagian barat[51]
Pintu lainnya
  • Sekitar Pintu Raja Fahd (64, 70, 72, 74)
  • Di bagian timur (Pintu As-Salam, Pintu Ali, Pintu Marwah).
  • Di bagian selatan (pintu Hudaybiyah, pintu Madinah, Pintu Al-Quds.)

Beberapa pintu lain seperti pintu Hunain, pintu Shafa, pintu Marwah, pintu Qararah, pintu al-Fath, pintu Madinah, pintu Umrah, pintu (64), dan pintu (74), pintu (84), dan pintu (94).[51]

Menara

Menara-menara terdapat pada beberapa bagian atas dari pintu-pintu Masjidil Haram. Seperti halnya pintu Masjidil Haram, menara juga di kelompokkan kedalam menara terdahulu dan menara baru.

Menara-menara terdahulu

  • Menara di atas pintu Raja Abdul Aziz.[52]
  • Menara di atas pintu Raja Fahd.[53]
  • Menara di atas pintu Umrah.
  • Menara di atas pintu Al-Fath.
  • Menara di atas pintu Ash-Shofa.

Menara-menara baru

  • Menara di atas pintu Raja Abdullah.[54]
  • Menara di bagian tenggara.
  • Menara di bagian barat laut.

Eskalator

Pada masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz, telah dibangun tangga-tangga elektronik (Eskalator) untuk melayani jamaah yang ingin shalat di lantai atas dan lantai atap. Jumlahnya ada 7 buah, dengan luas 375 m persegi, yaitu di Bab Ajyad dan Shafa, di Marwa, Babul Fath, di asy-Syamiyyah, dan di samping bangunan perluasan kedua. Setiap tangga mengangkut rata-rata 1500 orang per jam.[55][56]

Pusat pendingin udara

Masjidil Haram memiliki sebuah bangunan sentral pendingin udara untuk bagian bangunan perluasan kedua dan lantai dasar tempat sa'i yang berjarak 600 m dari Masjidil Haram, yaitu di Jalan Ajyad.[55][56] Sentral tersebut terdiri dari gedung 6 tingkat yang dilengkapi dengan sistem pendingin udara canggih. Udara dingin disalurkan lewat terowongan yang menghubungkan antara sentral dengan satuan-satuan pendingin udara pada bangunan perluasan dan disalurkan pula ke satuan-satuan pendingin udara yang terdapat pada tiang-tiang masjid.[55][56]

Toilet dan tempat wudhu

Toilet dan tempat wudhu untuk pria dan wanita dibangun secara terpisah, masing-masing terdiri dari dua lantai di bawah tanah, yaitu yang berada di halaman pasar kecil (depan Babul Mailik Abdul Aziz), dan dekat dengan halaman Marwa dengan luas keseluruhan mencapai 14.000 m persegi.[55][56] Toilet dan tempat wudlu tersebut didesain mengikuti model terbaru, dan dilapisi dengan marmer, serta dilengkapi dengan tempat untuk ganti baju baik di tempat wudlu laki-laki maupun perempuan. Selain itu terdapat pula beberapa toilet dan tempat wudhu di arah timur masjid.[55][56]

Saluran dan penampungan air

Masjidil Haram terletak di tengah-tengah lembah, oleh karena itu, aliran air akibat hujan dan lain sebagainya sangat membahayakan bangunan Masjid. Maka Umar bin Khattab dan para khalifah sesudahnya sepanjang masa selalu berupaya untuk mengantisipasi bahaya banjir akibat aliran air yang akan menggenang di lembah. Sehingga Raja Fahd bin Abdul Aziz memerintahkan untuk melaksanakan proyek besar dalam hal ini guna mengalihkan aliran air sekaligus membuat tempat penampungannya di terowongan bawah tanah.[55][56]

Terowongan bawah tanah untuk kendaraan

Untuk menghindari kemacetan lalu lintas, dibuatlah terowongan sepanjang 1500 m yang terbentang dari jembatan Asy-Syubaikah sebelah barat sampai ke jembatan Jabal Abu Qubais di sebelah Timur. Dilengkapi empat terminal, sistem pencahayaan, pengaturan udara, dan kamera pemantau yang baik.[55][56]

Bangunan bersejarah

Kakbah

Kakbah, sebuah bangunan yang terletak di tengah Masjidil Haram

Kakbah adalah Bait Suci atau tempat beribadah kepada Allah yang pertama kali didirikan di muka bumi.[57] Bentuk bangunan Kakbah mendekati bentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi kaum muslim (umat Islam) dan merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah patokan untuk hal-hal yang bersifat ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia seperti salat.[58] Selain itu, Kakbah juga merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.[58][59][60]

Hajar Aswad

Orang-orang berebut mencium Hajar Aswad.

Hajar Aswad (Arab: حجر أسود) merupakan sebuah batu yang diyakini oleh umat Islam berasal dari surga, dan yang pertama kali menemukannya Nabi Ismail dan yang meletakkannya adalah Nabi Ibrahim.[61] Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma yang unik dan ini merupakan aroma wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya, dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Kabah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya.[62] Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi Muhammad SAW. Karena Rasulullah selalu menciumnya setiap saat tawaf.[63]

Maqam Ibrahim

7. Maqam Ibrahim


Maqam Ibrahim merupakan bangunan (struktur) yang mencakup batu lebar kecil yang terletak kurang lebuh 20 hasta di sebelah timur Ka'bah.[64] Tempat ini bukanlah tempat yang menjadi kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat kebanyakan orang. Sebaliknya di dalam bangunan kecil ini terdapat sebuah batu yang diturunkan oleh Allah dari Surga bersamaan dengan dengan batu-batu kecil lainnya yang terdapat di Hajar Aswad[65]. Di atas batu Maqam Ibrahim ini, Nabi Ibrahim pernah berdiri di waktu ia membangun Ka'bah disamping putranya Nabi Isma'il memberikan bongkah-bongkah batu kepadanya.

Shofa dan Marwah

Gunung Shofa
Gunung Marwah

Masjidil Haram merupakan tempat dari Ka'bah, titik tujuan utama salat bagi seluruh muslim. Shofa — yang merupakan tempat dimulainya ritual sa'i (Arab: سعى) — terletak kurang lebih setengah mil dari Ka'bah. Marwah terletak sekitar 100 yard dari Ka'bah. Jarak antara Shofa dan Marwah sekitar 450 meter, sehingga perjalanan tujuh kali berjumlah kurang lebih 3,15 kilometer. Kedua tempat itu dan jalan diantaranya sekarang berada di dalam bagian mesjid.

Hijr Isma'il

Hijir Ismail pada musim haji.

Hijr Ismail adalah sebuah tempat sebelah utara bangunan Ka'bah, berbentuk setengah lingkaran, dibangun oleh Nabi Ibrahim alaihissalam, termasuk bangunan suci umat Islam.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah membangun Ka’bah secara sempurna termasuk di dalamnya Hijir ini. Kemudian dinding Ka’bah sempat roboh akibat bekas kebakaran dan banjir yang menerjangnya. Kemudian pada tahun 606 M, kaum Quraisy merobohkan sisa dinding Ka’bah lalu merenovasi kembali. Akan tetapi, karena kekurangan dana yang halal untuk menyempurnakan pembangunan sesuai pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, akhirnya mereka mengeluarkan bagian bangunan Hijir dan sebagai gantinya mereka membangun dinding pendek, sebagai tanda bahwa ia termasuk di dalam Ka’bah. Hal ini dilakukan karena mereka telah memberikan syarat pada diri mereka sendiri untuk tidak akan menggunakan dana untuk pembangunan Ka'bah kecuali dari dana yang halal. Mereka tidak menerima biaya dari hasil pelacuran, tidak juga jual beli riba dan tidak juga dana dari menzalimi seseorang.[66]

Sumur Zam-zam

Para Jamaah Haji sedang meminum air Zamzam

Sumur Zamzam terletak 11 meter dari Ka'bah. Menurut salah satu keterangan, ia dapat menyedot air sebanyak 11-18,5 liter per detik,[67] sehingga dapat menghasilkan 660 liter air permenit dan 39.600 liter per jamnya.

Dari mata air ini terdapat beberapa celah, di antaranya ada celah ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 cm, dengan tinggi 30 cm yang juga menghasilkan air sangat banyak. Beberapa celah mengarah kepada Shafa dan Marwa,[68] serta ada yang mengarah pula ke arah pengeras suara dengan panjang 70 cm dan tinggi 30 cm.[67]

Dahulu, di atas sumur Zamzam ada bangunan dengan luas 8 m × 10,7 m = 88.8 m2. Tapi bangunan ini ditiadakan untuk meluaskan tempat tawaf, sehingga ruang minumnya dipindahkan ke ruang bawah tanah di bawah tempat tawaf, dengan 23 anak tangga yang dilengkapi penyejuk udara.[69] Tempat masuk ruang minumnya terpisah antara laki-laki dan perempuan. Di situ, terdapat 350 keran air minum, yaitu 220 ada di sisi ruang laki-laki dan 130 di sisi ruang perempuan. Sumur Zamzam yang telah dipagari dengan kaca tebal itu dapat dilihat dari ruangan laki-laki .[68]

Administrasi

Imam

Imam di Masjidil Haram adalah Imam atau orang yang memimpin salat berjamaah di Masjidil Haram.

Mantan Imam

Imam saat ini

Abdurrahman As-Sudais, Imam Masjidil Haram saat ini

Berikut nama-nama para Imam Masjidil Haram Makkah Al Mukarromah :

  • Sheikh Dr. Abdurrahman as-Sudais (Bahasa Arab:عبد الرحمن السديس). Kepala Imam Masjid Al Haram.
  • Sheikh Dr. Saud asy-Syuraim (Bahasa Arab:سعود بن إبراهيم الشريم)- Hakim pada Mahkamah tinggi di Makkah ; Wakil dari kepala Imam Masjidil Haram.
  • Sheikh Abdullah Awad Al Juhany (Bahasa Arab:عبدالله عواد الجهني) (Sejak tahun 2005 mulai memimpin salat tarawih di Masjidil Haram, dan diangkat menjadi imam Masjidil Haram secara penuh pada Juli 2007. Sebelumnya beliau menjadi imam di Masjid Nabawi Madinah).
  • Sheikh Maher Al Mueaqly (Bahasa Arab:ماهر المعيقلي) Mulai diangkat menjadi imam pada tahun 2007 (Sebelumnya beliau memimpin salat tarawih di Masjid Nabawi Madinah pada bulan Ramadhan 2005 dan 2006).
  • Sheikh Khaled Al Ghamdi (Bahasa Arab:خالد الغامدي) (Diangkat setelah pelaksanaan ibadah haji pada tahun 2008).
  • Sheikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Hamid (Bahasa Arab:صالح بن حميد)-Pimpinan Majlis al Shura Saudi Arabia.
  • Sheikh Dr. Usamah Khayyath (Bahasa Arab:أسامة بن عبدالله خياط).
  • Sheikh Dr.Shalih Alu Thalib (Bahasa Arab:صالح ال طالب) (Hakim pada Mahkamah tinggi di Makkah) diangkat pada tahun 2003.
  • Sheikh Faisal Ghazawi (Bahasa Arab:فيصل غزاوي) (Diangkat setelah pelaksanaan ibadah haji pada tahun 2008).
  • Sheikh Bandar bin Abdul Aziz Balilah

Muadzin

Muadzin di Masjidil Haram adalah para orang yang ditunjuk untuk mengumandangkan Adzan, Iqamah, Takbir Hari Raya dan menjadi pengulang suara imam pada saat perubahan gerakan saat sholat berjamaah di Masjidil Haram. Mereka bertugas di sebuah kantor ruangan khusus didalam Masjidil Haram yang bernama Mukabariyah. Secara administratif, dewan Muadzin Masjidil Haram diketuai oleh Sheikh Ali Ahmed Mulla sebagai muadzin paling senior di Masjidil Haram yang telah melayani sejak tahun 1960an masehi. Para Muadzin di Masjidil Haram kebanyakan melakoni tugasnya secara turun-temurun dari keluarga mereka.

Mantan Muadzin

  • Al-Bazzi, meninggal pada tahun 864CE.[70]
  • Ahmad Mohammad Al al-Abbas (أحمد بن محمد بن أمين آل العباس), meninggal pada tahun 1924
  • Mohammed Hassan Al al-Abbas (محمد حسن بن أحمد آل العباس), meninggal pada tahun 1971
  • Abdulaziz Asad Reyes (عبد العزيز أسعد ريس), meninggal pada tahun 2011
  • AbdulHafith Khoj (عبد الحفيظ خوج)
  • AbdulRahman Shaker (عبد الرحمن شاكر)
  • Ahmad Shahhat (أحمد شحات)
  • Hassan Zabidi (حسان زبيدي)
  • Muhammad Siraaj Ma'roof, meninggal pada 25 Desember 2015 Masehi (1437 h).[71]

Muadzin saat ini

  • Ali Ahmed Mulla
  • Nayif bin Saaleh Faydah
  • Essam bin Ali Khan
  • Ahmed bin Abdullah Basnawy
  • Farooq Abdul Rahmaan Hadrawi
  • Tawfiq Abdul Hafidh Khoj
  • Ahmad Ali Nuhaas
  • Maajid bin Ibrahim al Abbas
  • Ahmad Yunis Khoja
  • Muhammad bin Ali Shaakir
  • Sa'eed bin Umar Fallatah
  • Muhammad bin Ahmad Maghribi
  • Ham'd bin Ahmad Daghreeree
  • Hashim bin Muhammad Sagaaf
  • Hussayn ibn Hassan Shahaat
  • Imaad bin Isma'eel Baqree
  • Salaah bin Idris Fallatah
  • Suhail Abdul Malik Haafidh
  • Sami Abdul Rahmaan Ra'ees
  • Muhammad bin Ahmad Bas'ad
  • Abdullah bin Faisal Khokir

Keutamaan dan hukum

Keutamaan

Bagi umat Muslim, Masjidil Haram memiliki beberapa keutamaan yang membuatnya menjadi sebuah masjid paling penting dalam agama Islam, yaitu:[72]

  • Merupakan tempat pertama yang digunakan untuk beribadah di muka bumi [Alquran 1]
  • Merupakan tempat atau lokasi kunjungan paling utama dalam ibadah Haji dan Umrah [Alquran 2]
  • Sebelumnya umat Muslim pernah mengarahkan kiblatnya ke Baitul Muqaddis ke Masjidil Haram.[Alquran 3][Hadits 1] Seluruh umat Islam diperintah untuk memalingkan wajahnya/hatinya ke arah Masjidil Haram di manapun berada, hal ini di perkuat dengan Surah Al-Baqarah ayat 149 dan 150. perintah ini hampir sama derajatnya dengan perintah Allah yang lain seperti hal melakukan salat, zakat, puasa, haji sebagai wujud hati yang terikat dan ingat kepada Allah dalam segala hal duniawi ini.[Alquran 4][Alquran 5]
  • Merupakan masjid yang dibangun paling awal di muka bumi[73]
  • Merupakan masjid paling utama di antara tiga masjid, yakni Masjid Nabawi, Masjid al-Aqsa serta Masjidil Haram itu sendiri. [Hadits 2]
  • Melaksanakan salat di Masjidil Haram akan mendapatkan seratus ribu kali lipat kebaikan dibanding melaksanakan salat di masjid lain, kecuali Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Satu kali salat di Masjid Nabawi sama dengan 1.000 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Adapun satu kali salat di Masjidil Aqsha sama dengan 250 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. [Hadits 3]
  • Satu-satunya masjid yang diberikan jaminan keamanan oleh Allah, siapapun yang memasuki masjid akan merasa selamat dan aman. [Hadits 4]
  • Merupakan tanah atau tempat di bumi yang dicintai Allah.[74]
  • Tidak dapat dimasuki oleh Dajjal atau Al-Masih palsu, karena dijaga oleh ribuan Malaikat. [Hadits 5][Hadits 6]
  • Tempat yang diselamatkan saat pasukan bergajah menghadang yang akan menghancurkan Kakbah dan Masjidil Haram. [Alquran 6]

Hukum

  • Mekkah merupakan yang tidak diizinkan dimasuki oleh penduduk selain Muslim, terutama Masjidil Haram karena menurut Al-Qur’an, orang musrik adalah najis sehingga tidak diizinkan dimasuki kota Mekkah. [Alquran 7][Hadits 7][Hadits 8]
  • Tidak diizinkan membunuh atau berperang, kecuali memerangi di wilayah Masjidil Haram.[75]
  • Tidak diperbolehkan memotong tumbuhan yang ada di kota Mekkah, utamanya di sekitaran Masjidil Haram.[76]

Kontroversi

Perluasan

Perkembangan dan perluasan Masjidil Haram menyebabkan beberapa situs-situs penting agama Islam hilang dan dihancurkan,[77] seperti situs-situs berikut:[78][79]

  • Bayt Al-Mawlid, rumah tempat Nabi Muhammad lahir, dihancurkan dan dijadikan sebuah perpustakaan.
  • Dar Al-Arqam, sekolah Islam pertama di dunia pada masa kenabian Nabi Muhammad diratakan.
  • Rumah Abu Jahal dihancurkan dan dijadikan tempat pencucian umum.
  • Kubah yang dijadikan kanopi di atas sumur Zamzam dihancurkan.

Ketidak teraturan shaff

Masjidil Haram saat ini telah memiliki garis untuk menjamin keteraturan shaff

Pada mulanya, para jamaah melakukan salat bersama imam di belakang Maqam Ibrahim. Namun, lama kelamaan dirasa semakin sempit, sehingga menuntut Khalid ibn Abdullah al Qusary, yaitu Gubernur Mekkah (wafat 120 H) untuk menata dan menertibkan shaff orang-orang shalat. Perbuatan ini mendapat dukungan dari ulama-ulama besar dari tabi’in dan para ulama salaf yang shalih. Maka diteruskanlah upaya baik menata shaff tersebut.[55]

Setelah perluasan Saudi pertama dan kedua, sulit bagi orang-orang yang salat untuk melihat langsung Kakbah sebab kadangkala terhalang bangunan atap, tempat sa'i, halaman sekitar masjid, dan lain sebagainya. Sehingga mengharuskan pemerintah Kerajaan Saudi di bahwa komando Raja Fahd untuk memberi garis melingkar di lantai pada sekeliling dan sekitar Kakbah guna memudahkan orang-orang yang salat membuat shaff menghadap Kakbah.[55]

Galeri

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

Al-Qur'an
Hadits
  1. ^ Sunan Tirmidzi, Kitab Shalat, Bab Ma Ja a fi Ibtidai al Qiblat, Hal 169, Hadits nomor 390
  2. ^ Sahih Muslim, dari Abdi Dzar al Ghafari, Nomor:520
  3. ^ Sahih Bukhari, nomor:1995
  4. ^ Riwayat Suyuthi, dalam Jami'ah Shagir, dari Jabir bin Abdullah, nomor:5109
  5. ^ HR Bukhari, nomor:1521
  6. ^ HR.Muslim, nomor:1350
  7. ^ HR. Muslim dengan sahih
  8. ^ Shahih Bukhari, nomor:1736
Utama
  1. ^ a b "Location of Masjid al-Haram". Google Maps. Diakses tanggal 24 September 2013. 
  2. ^ "Makkah the Blessed". 
  3. ^ Pengertian Masjidil Haram [1]
  4. ^ إعلام الساجد، محمد بن عبد الله الزركشي، تحقيق: الشيخ أبو الوفا مصطفى المراغي، المجلس الأعلى للشئون الإسلامية، القاهرة، ط4، 1416هـ/ 1996م، ص45
  5. ^ سبل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد، محمد بن يوسف الصالحي، دار الكتاب المصري، القاهرة، دار الكتاب اللبناني، بيروت، 1410هـ/ 1990م، ج1، ص1
  6. ^ أخبار مكة، محمد بن عبد الله بن أحمد الأزرقي، تحقيق: رشدي الصالح ملحن، دار الثقافة، مكة المكرمة، ط2، 1416هـ/ 1996م، ج1، ص51: 53
  7. ^ 105:1
  8. ^ 105:4
  9. ^ 105:5
  10. ^ Sejarah Kakbah
  11. ^ Sejarah Kakbah menurut Salah 505.com
  12. ^ Sejarah Kakbah menurut Al-Mutmar.com
  13. ^ Ath-Thabaqat, Ibnu Sa'id bin Muhammad Sa'id Al-Baghdadi, Dar Shadr, Beirut, Bab 2 Hal 95-105
  14. ^ Sirah Ibnu Hisyam, Ibnu Hisyam, Bab 4, Hal 275-296
  15. ^ Islam web.net
  16. ^ Fatwa Islam.web
  17. ^ Shahih dan Dhaif Sejarah Tabari, Sahih Bab 4, Hal 81.
  18. ^ Akhbar Makkah lil Azraqi (2: 69–71)
  19. ^ Hilyat Al-Awliya Wa Tabaqat Al Ashfiyya, bab 1, Hal 333.
  20. ^ Ansabul Asyraf, Bab 4, Hal 336, Bab 4, Hal 340. Bab 1, Hal 199.
  21. ^ Al-Mahin , Hal 20
  22. ^ Shahih dan Daif sejarah Thabari, Juz 1, Halaman 331
  23. ^ Mina'ah Al-Karim Lil Sanjari, 9/20
  24. ^ Akhbar Makkah lil azraqi 2/74
  25. ^ Akhbar Makkah lil Fakahi, 2/175
  26. ^ I'lam ‘Ulama al-'Alam Bi Banail Masjid al Haram Li Abdul Karim bin Muhibuddin Al Qutubi, 2 hal 366
  27. ^ Al Haramain, Sejarah dan Fitur Masjidil Haram
  28. ^ Ikhbarul lil Akhbar Masjidil Haram, Muhammad al-Makki, hal 184
  29. ^ Ansab Asyraf, Juz 4 hal 336
  30. ^ James Wynbrandt (2010). A Brief History of Saudi Arabia. Infobase Publishing. p. 101. ISBN 978-0-8160-7876-9. Diakses tanggal 12 June 2013. 
  31. ^ a b c d e f Henational.ae, mengutip Kantor Pers Saudi
  32. ^ a b c d e f g h Suara.com (Dalam bahasa Indonesia). Diakses pada 17 Januari 2017
  33. ^ "Sejarah dan Pembangunan Masjidil Haram". 
  34. ^ Al Riyadh.com (dalam bahasa Arab). Diakses pada 01-26-2017
  35. ^ Palinfo.com. Diakses pada 01-26-2017
  36. ^ Para tentara keamanan Arab Saudi mengepung masjid selama dua minggu (dalam bahasa Arab). Diakses pada 01-10-2006
  37. ^ "Makkah crane crash report submitted". Al Arabiya. 14 September 2015. Diakses tanggal 15 September 2015. 
  38. ^ "Daftar Nama Jemaah Rawat/Wafat Musibah Jatuhnya Crane Di Masjidil Haram 11 September 2015" [Names of Pilgrims Hospitalized/Dead in Calamity of Haram Crane Collapse September 11, 2015]. Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah - Kementerian Agama Republik Indonesia. 15 September 2015. Diakses tanggal 16 September 2015. 
  39. ^ "King Salman to make findings of Makkah crane collapse probe public". Diakses tanggal 2015-09-14. 
  40. ^ "Number of casualties of Turkish Haji candidates at the Kaaba accident reach 8…". Presidency of Religious Affairs. 13 September 2015. Diakses tanggal 15 September 2015. 
  41. ^ "Six Nigerians among victims of Saudi crane accident: official". Yahoo! News. AFP. 16 September 2015. Diakses tanggal 16 September 2015. 
  42. ^ Halkon, Ruth; Webb, Sam (13 September 2015). "Two Brits dead and three injured in Mecca Grand Mosque crane tragedy that killed 107 people l". Mirror Online. Diakses tanggal 16 September 2015. 
  43. ^ https://www.youtube.com/watch?v=MV1wqMaUrdI
  44. ^ (Arab)Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat al-Baqarah.
  45. ^ [2]
  46. ^ a b c "Pintu-Pintu Masjidil Haram". Alfaroby . Wordpress. Diakses tanggal 17 Januari 2017. 
  47. ^ "باب الملك عبد العزيز السعود". Madinat Muhamad (dalam bahasa bahasa Arab). Diakses tanggal 01 Juni 2017. 
  48. ^ "باب الصفا". AlHejazi.net (dalam bahasa bahasa Arab). Diakses tanggal 01 Juni 2017. 
  49. ^ "باب الفتح". Al-Riyadh.com (dalam bahasa bahasa Arab). Diakses tanggal 01 Juni 2017. 
  50. ^ "باب العمرة" (dalam bahasa bahasa Arab). Al Haramain.gov.sa, Situs resmi Al-Haramain. Diakses tanggal 01 Juni 2017. 
  51. ^ a b "باب الملك فهد". Makkawi.com (dalam bahasa bahasa Arab). Diakses tanggal 01 Juni 2017. 
  52. ^ Okaz.com.sa Diakses pada 27 Agusutus 2013
  53. ^ Menara-menara dalam Masjidil Haram, Okaz.com.sa (dalam bahasa Arab), diakses pada 27 Agustus 2013
  54. ^ Al Riyadh.com. Diakses pada 6 Maret 2012
  55. ^ a b c d e f g h i Buku Sejarah Mekah, Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani
  56. ^ a b c d e f g Majalah Alibar.blogspot.com (dalam Bahasa Indonesia) Diakses pada 18 Januari 2017
  57. ^ Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah ummat manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan petunjuk bagi semua manusia. (Surah Ali Imran: 96-97)
  58. ^ a b Wensinck, A. J; Ka`ba. Encyclopaedia of Islam IV p. 317
  59. ^ "In pictures: Hajj pilgrimage". BBC News. 7 December 2008. Diakses tanggal 8 December 2008. 
  60. ^ "As Hajj begins, more changes and challenges in store". altmuslim. 
  61. ^ Shaykh Safi-Ar-Rahman Al-Mubarkpuri (2002). Ar-Raheeq Al-Makhtum (The Sealed Nectar): Biography of the Prophet. Dar-As-Salam Publications. ISBN 1-59144-071-8. 
  62. ^ Elliott, Jeri (1992). Your Door to Arabia. Lower Hutt, N.Z.: R. Eberhardt. ISBN 0-473-01546-3. 
  63. ^ Mohamed, Mamdouh N. (1996). Hajj to Umrah: From A to Z. Amana Publications. ISBN 0-915957-54-X. 
  64. ^ M.J. Kister, "Maḳām Ibrāhīm," p.105, The Encyclopaedia of Islam (new ed.), vol. VI (Mahk-Mid), eds. Bosworth et al., Brill: 1991, pp. 104-107.
  65. ^ Al-Ihsan fi Taqrib Sahih ibn Hibban (3710); al-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi, 5/75, Hadis Sahih.
  66. ^ Islam QA. Hijr Ismail
  67. ^ a b Ula dkk. (2014), hal.17.
  68. ^ a b Ghani (2004), hal.114-15.
  69. ^ "Zamzam Studies and Research Centre". Saudi Geological Survey. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 Februari 2005. Diakses tanggal 5 June 2005. 
  70. ^ Imām ibn Kathīr al-Makkī. © 2013 Prophetic Guidance. Published June 16, 2013. Accessed April 13, 2016.
  71. ^ http://jogja.tribunnews.com/2015/12/28/muadzin-paling-senior-di-masjidil-haram-wafat
  72. ^ Keutamaan Masjidil Haram
  73. ^ Hadits di Hadits.al-Islam.com
  74. ^ HR. Ahmad, nomor:18242
  75. ^ Fatwa membunuh atau berperang di Masjdil Haram, di Fatwa Islamweb.net
  76. ^ Fatwa merusak pohon atau tumbuhan di sekitar Masjdil Haram, di Fatwa Islamweb.net
  77. ^ Laessing, Ulf (18 November 2010). "Mecca goes Upmarket". Reuters. Diakses tanggal 1 December 2010. 
  78. ^ Taylor, Jerome (24 September 2011). "Mecca for the rich: Islam's holiest site turning into Vegas". The Independent. 
  79. ^ Abou-Ragheb, Laith (12 July 2005). "Dr.Sami Angawi on Wahhabi Desecration of Makkah". Center for Islamic Pluralism. Diakses tanggal 28 November 2010.