Turki

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Disambig gray.svg
Untuk kegunaan lain dari Turki, lihat Turki (disambiguasi).
Republik Turki
Türkiye Cumhuriyeti (Turki)
Bendera Lambang
MotoEgemenlik, kayıtsız şartsız Milletindir
(Turki: "Kedaulatan tanpa syarat adalah milik Bangsa")
Lagu kebangsaan
İstiklâl Marşı
Ibu kota Ankara
39°55′LU 32°50′BT / 39,917°LU 32,833°BT / 39.917; 32.833
Kota terbesar Istanbul
41°1′LU 28°57′BT / 41,017°LU 28,95°BT / 41.017; 28.950
Bahasa resmi Turki
Pemerintahan Republik parlementer
 -  Presiden Recep Tayyip Erdoğan
 -  Perdana Menteri Binali Yıldırım
Legislatif Büyük Millet Meclisi
Pendirian
 -  Kesultanan Utsmaniyah 1299 
 -  Pemerintahan sementara 23 April 1920 
 -  Perjanjian Lausanne 24 Juli 1923 
 -  Deklarasi Republik 29 Oktober 1923 
Luas
 -  Total 783.562 km2 (37)
 -  Perairan (%) 1,3
Penduduk
 -  Perkiraan 2014 77.695.904[1] (18)
 -  Kepadatan 101/km2 (108)
PDB (KKB) Perkiraan 2014
 -  Total $1.514 triliun[2] (17)
 -  Per kapita $19.698[2] (61)
PDB (nominal) Perkiraan 2014
 -  Total $798.332 miliar[2] (18)
 -  Per kapita $9.290[2] (64)
Gini (2012) 40,2 (sedang)[3]
IPM (2013) 0,759 (tinggi) (69)
Mata uang Lira Turki (₺) (TRY)
Zona waktu Waktu Eropa Timur (EET) (UTC+2)
 -  Musim panas (DST) Waktu Musim Panas Eropa Timur (EEST) (UTC+3)
Lajur kemudi kanan
Kode ISO 3166 TR
Ranah Internet .tr
Kode telepon +90

Republik Turki (bahasa Turki: Türkiye Cumhuriyeti) disebut Türkiye (bahasa Turki: Türkiye) adalah sebuah negara besar di kawasan Eurasia. Wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya dan daerah Balkan di Eropa Tenggara. Turki berbatasan dengan Laut Hitam di sebelah utara; Bulgaria di sebelah barat laut; Yunani dan Laut Aegea di sebelah barat; Georgia di timur laut; Armenia, Azerbaijan, dan Iran di sebelah timur; dan Irak dan Suriah di tenggara; dan Laut Mediterania di sebelah selatan. Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan untuk menandai batas wilayah Eropa dan Asia, sehingga Turki dikenal sebagai negara transkontinental.

Bangsa Turki mulai bermigrasi ke daerah yang dinamakan Turki pada abad ke-11. Proses migrasi ini semakin dipercepat setelah kemenangan Seljuk melawan Kekaisaran Bizantium pada pertempuran Manzikert. Beberapa Beylik (Emirat Turki) dan Kesultanan Seljuk Rûm memerintah Anatolia sampai dengan invasi Kekaisaran Mongol. Mulai abad ke-13, beylik-beylik Ottoman menyatukan Anatolia dan membentuk kekaisaran yang daerahnya merambah kebanyakan Eropa Tenggara, Asia Barat, dan Afrika Utara. Setelah Kekaisaran Utsmaniyah runtuh setelah kalah pada Perang Dunia I, sebagian wilayahnya diduduki oleh para Sekutu yang memenangi PD I. Mustafa Kemal Atatürk kemudian mengorganisasikan gerakan perlawanan melawan Sekutu. Pada tahun 1923, gerakan perlawanan ini berhasil mendirikan Republik Turki Modern dengan Atatürk menjabat sebagai presiden pertamanya.

Ibu kota Turki berada di Ankara namun kota terbesar di negara ini adalah Istanbul. Disebabkan oleh lokasinya yang strategis di persilangan dua benua, budaya Turki merupakan campuran budaya Timur dan Barat yang unik yang sering diperkenalkan sebagai jembatan antara dua peradaban. Dengan adanya kawasan yang kuat dari Adriatik ke Tiongkok dalam jalur darat di antara Rusia dan India, Turki telah memperoleh kepentingan strategis yang bertambah pesat.

Turki adalah sebuah republik konstitusional yang demokratis, sekuler, dan bersatu. Turki telah berangsur-angsur bergabung dengan Barat sementara di saat yang sama menjalin hubungan dengan dunia Timur. Negara ini merupakan salah satu anggota pendiri PBB [4], Organisasi Konferensi Islam (OKI),[5] OECD,[6] dan OSCE,[7] serta negara anggota Dewan Eropa sejak tahun 1949,[8] dan NATO sejak tahun 1952.[9] Sejak tahun 2005, Turki adalah satu-satunya negara Islam pertama yang berunding menyertai Uni Eropa, setelah merupakan anggota koalisi sejak tahun 1963.[10] Turki juga merupakan anggota negara industri G20 yang mempertemukan 20 buah ekonomi yang terbesar di dunia.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama Turki atau Türkiye dalam bahasa Turki terdiri dari dua komponen, yaitu: etnonim Türk dan akhiran abstrak –iye yang berarti "pemilik", "tanah" (berasal dari akhiran dalam bahasa Arab –iyya yang serupa dengan akhiran –ia dalam bahasa Yunani dan Latin). Catatan awal istilah "Türk" atau "Türük" sebagai autonim terdapat dalam tulisan-tulisan Orkhon oleh kaum Göktürk (Turki Samawi) dari Asia Tengah (c. abad ke-8 M). Tu–kin dijadikan bukti pada awal tahun 177 SM sebagai nama pemberian bangsa Cina kepada penduduk di wilayah selatan Pegunungan Altai di Asia Tengah. Nama Indonesia "Turki" berasal dari bahasa Latin Pertengahan iaitu Turchia (c. 1369). Nama ini berkerabat dekat dengan Tourkia dalam bahasa Yunani, yang awalnya digunakan oleh bangsa Bizantium untuk menyebut Hungaria pada abad pertengahan (karena bangsa Hungaria dan Turki mempunyai leluhur yang sama) tetapi kemudian mereka mulai menggunakan nama ini untuk menamai wilayah hasil penaklukkan Seljuk di Anatolia, ratusan tahun setelah Pertempuran Manzikert pada tahun 1071.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Anatolia prasejarah dan Trakia Timur[sunting | sunting sumber]

Gerbang Singa Hattusa, ibu kota Kerajaan Het.

Semenanjung Anatolia adalah salah satu wilayah berpenduduk yang tertua di dunia. Berbagai populasi Anatolia kuno menetap di Anatolia, dimulai pada periode Neolitikum hingga ditaklukkan oleh Alexander Agung.[11] Bahasa yang digunakan adalah bahasa Anatolia, cabang bahasa dari rumpun bahasa Indo-Eropa.[12] Bahkan, para peneliti telah mengusulkan Anatolia sebagai pusat hipotesis, di mana bahasa Indo-Eropa menyebar.[13] Bagian wilayah Turki di Eropa disebut Trakia Timur. Wilayah ini tidak berpenduduk sejak empat ribu tahun yang lalu, dan memasuki masa Neolithikum sekitar tahun 6000 SM dengan penduduknya yang mulai bercocok tanam.[14]

Göbekli Tepe adalah sebuah situs yang dikenal sebagai struktur tempat suci tertua yang dibuat oleh manusia sekitar 10.000 SM,[15] sementara Çatalhöyük yang merupakan permukiman Neolitikum dan Kalkolitikum di Anatolia selatan, sekitar tahun 7500 SM sampai 5700 SM. Pada Juli 2012, kedua situs ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.[16] Permukiman di Troya dimulai pada Zaman Neolitikum dan terus berlanjut sampai Zaman Besi.

Catatan penduduk Anatolia yang paling awal adalah Bangsa Hatti dan Bangsa Huri, bangsa-bangsa non-Indo-Eropa yang dihuni Anatolia tengah dan timur, masing-masing pada awal 2300 SM. Bangsa Het datang ke Anatolia pada tahun 2000-1700 SM. Kerajaan besar pertama di daerah tersebut didirikan oleh bangsa Het, dari abad kedelapan belas hingga abad ke-13 SM. Asiria menaklukkan wilayah bagian tenggara Turki dan menetap di sana pada awal 1950 SM sampai tahun 612 SM.[17][18]

Setelah runtuhnya kerajaan Het pada tahun 1180 SM, Kerajaan Frigia berkuasa di Anatolia sampai kerajaan mereka dihancurkan oleh Suku Kimmeri pada abad ke-7 SM.[19]

Antikuitas dan Periode Bizantium[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya berfungsi sebagai gereja, lalu berubah menjadi masjid, dan kemudian berubah lagi menjadi museum hingga sekarang. Hagia Sophia dibangun pada masa Kekaisaran Bizantium.

Sekitar tahun 1200 SM, pantai Anatolia dikuasai oleh suku Aiolia dan suku Ionia Yunani. Banyak kota-kota penting yang didirikan, seperti Miletos, Ephesos, Smirna, dan Bizantium, dan yang terakhir didirikan adalah Megara pada tahun 657 SM. Negara pertama yang disebut Armenia oleh wilayah lain adalah negara dinasti Orontid Armenia, yang termasuk bagian dari Turki timur yang dimulai pada abad ke-6 SM. Di Turki barat daya, kelompok suku yang paling berpengaruh di Trakia adalah suku Odyrisia, yang didirikan oleh Teres I.[20]

Anatolia ditaklukkan oleh Kekaisaran Akhemeniyah dari Persia selama abad ke-6 dan ke-5 SM lalu kemudian jatuh ke tangan Aleksander Agung pada tahun 334 SM,[21] yang menyebabkan meningkatnya homogenitas kebudayaan dan Helenisasi di wilayah tersebut.[11] Setelah kematian Aleksander pada tahun 323 SM, Anatolia kemudian dibagi menjadi beberapa kerajaan Helenistik, yang semuanya menjadi bagian dari Republik Romawi pada pertengahan abad ke-1 SM.[22] Proses Helenisasi yang dimulai dengan penaklukan Aleksander dipercepat saat berada di bawah kekuasaan Romawi, sehingga pada awal abad Masehi bahasa Anatolia dan budaya setempat telah punah digantikan oleh bahasa Yunani.[23][24]

Pada tahun 324, Konstantinus I memilih Bizantium menjadi ibu kota baru Kekaisaran Romawi, kemudian diubah menjadi Roma Baru. Setelah kematian Theodosius I pada tahun 395 dan pembagian permanen Kekaisaran Romawi antara kedua putranya, Konstantinopel menjadi ibu kota Kekaisaran Bizantium, yang akan memerintah sebagian besar wilayah Turki sampai Akhir Abad Pertengahan.[25]

Seljuk dan Kesultanan Utsmaniyah[sunting | sunting sumber]

Teritorial Utsmaniyah yang diperoleh antara 1481 dan 1683.

Dinasti Seljuk adalah cabang dari Kinik Oğuz Turki yang tinggal di Khagan Yabghu wilayah persekutuan Oğuz, sebelah utara Laut Kaspia dan Laut Aral, pada abad ke-9.[26] Pada abad ke-10, bangsa Seljuk mulai bermigrasi dari tanah air leluhur mereka ke Persia, yang menjadi awal dari Kesultanan Seljuk Raya.

Pada paruh kedua abad ke-11, Seljuk mulai menembus ke wilayah timur Anatolia. Pada 1071, Seljuk Turk mengalahkan Bizantium dalam Pertempuran Manzikert, sekaligus dimulainya Turkifikasi di wilayah tersebut, bahasa Turki dan Islam diperkenalkan ke Anatolia secara bertahap menyebar dan transisi yang lambat dari Anatolia yang didominasi Kristen dan berbahasa Yunani menjadi didominasi Muslim dan berbahasa Turki yang terus berlangsung.[27]

Pada tahun 1243, tentara Seljuk dikalahkan oleh bangsa Mongol, menyebabkan kekuatan Dinasti Seljuk perlahan-lahan hancur. Salah satu beylik yang diperintah oleh Osman I kelak selama 200 tahun ke depan akan mengembangkannya menjadi Kesultanan Utsmaniyah, serta memperluas wilayah ke seluruh Anatolia, Balkan, Levant dan Afrika Utara.[28] Pada tahun 1453, Kekaisaran Utsmaniyah menaklukkan Kekaisaran Bizantium dengan menguasai ibu kotanya, Konstantinopel.

Pada tahun 1514, Sultan Selim I (1512-1520) berhasil memperluas wilayah perbatasan selatan dan timur dengan mengalahkan Shah Ismail I dari dinasti Safawiyah dalam Pertempuran Chaldiran. Pada 1517, Selim I memperluas pemerintahan Ottoman ke Aljazair dan Mesir, dan menciptakan angkatan laut di Laut Merah. Selanjutnya, persaingan dimulai antara pihak Utsmaniyah dan kerajaan Portugis untuk menjadi kekuatan laut yang dominan di Samudra Hindia, dengan berbagai pertempuran angkatan laut di Laut Merah, Laut Arab dan Teluk Persia. Kehadiran Portugis di Samudera Hindia itu dianggap sebagai ancaman bagi monopoli Utsmaniyah atas rute perdagangan kuno antara Asia Timur dan Eropa Barat (dikenal dengan nama Jalan Sutera). Monopoli ini semakin terganggu menyusul penemuan Tanjung Harapan oleh penjelajah Portugis Bartolomeu Dias pada tahun 1488, yang berdampak cukup besar terhadap perekonomian Utsmaniyah.

Kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah dan prestisi mencapai puncaknya pada abad ke-16 dan ke-17, khususnya selama pemerintahan Suleiman I. Kesultanan ini sering berseteru dengan Kekaisaran Romawi Suci.[29] Di laut, Angkatan Laut Utsmaniyah berseteru dengan beberapa Liga Kudus (saat itu terdiri dari Habsburg Spanyol, Republik Genoa, Republik Venesia, Knights of St John, Negara-negara Kepausan, Grand Duchy of Tuscany dan Kadipaten Savoy) untuk mengendalikannya dari Laut Mediterania. Di timur, Utsmaniyah yang kadang-kadang berperang dengan pihak Safawiyah Persia atas konflik yang timbul dari sengketa teritorial atau perbedaan agama antara abad ke-16 dan abad ke-18.[30]

Dimulai pada awal abad ke-19 dan seterusnya, Kesultanan Utsmaniyah mulai melemah. Seperti wilayah, kekuatan militer dan kekayaan yang menurun, bahkan banyak Muslim Balkan yang bermigrasi ke jantung Kekaisaran di Anatolia,[31][32] bersama dengan bangsa Sirkassia yang melarikan diri dari penaklukan Rusia di Kaukasus. Melemahnya Kesultanan Utsmaniyah menyebabkan meningkatnya sentimen nasionalis di antara masyarakat yang menyebabkan peningkatan ketegangan etnis yang kadang-kadang berubah menjadi kekerasan, seperti pembantaian etnis Hamid.

Kesultanan Utsmaniyah memasuki Perang Dunia I di sisi Blok Sentral dan akhirnya kalah. Selama perang, diperkirakan 1.500.000[33][34][35][36] warga Armenia dideportasi dan dibunuh saat Genosida Armenia berlangsung.[37][38] Pemerintah Turki menyangkal bahwa terdapat Genosida Armenia dan mengklaim bahwa Armenia hanya dipindahkan dari zona perang timur.[39] Pembantaian besar-besaran juga dilakukan terhadap kelompok minoritas lainnya seperti bangsa Yunani dan bangsa Assyria.[40][41][42]

Setelah Gencatan Senjata Mudros pada tanggal 30 Oktober 1918, kemenangan Blok Sekutu berusaha untuk membagi wilayah Utsmaniyah melalui Persetujuan Sèvres pada tahun 1920.[28]

Republik Turki[sunting | sunting sumber]

Pendudukan Konstantinopel dan Smyrna oleh Sekutu pada masa setelah Perang Dunia I mendorong pembentukan Gerakan Nasional Turki.[43] Di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Pasha, seorang komandan militer yang telah membedakan dirinya selama Pertempuran Gallipoli, Perang Kemerdekaan Turki dilancarkan dengan tujuan mencabut ketentuan Persetujuan Sèvres.[44]

Pada 18 September 1922, tentara pendudukan dikalahkan, dan rezim Turki yang berbasis di Ankara, yang menyatakan diri sebagai pemerintah yang sah pada bulan April 1920, mulai meresmikan transisi hukum dari Utsmaniyah yang lama ke sistem politik Republik yang baru. Pada tanggal 1 November, parlemen baru didirikan dan secara resmi menghapuskan sistem Kesultanan, sehingga mengakhiri 623 tahun pemerintahan Utsmaniyah. Perjanjian Lausanne tanggal 24 Juli 1923 mendapat pengakuan internasional terhadap kedaulatan negara "Republik Turki" yang baru dibentuk sebagai negara penerus dari Kesultanan Utsmaniyah, dan secara resmi dinyatakan pada tanggal 29 Oktober 1923 di Ankara, ibu kota Turki yang baru.[43] Perjanjian Lausanne menetetapkan adanya pertukaran populasi antara Yunani dan Turki, di mana 1,1 juta orang Yunani meninggalkan Turki menuju Yunani dan 380.000 umat Muslim dipindahkan dari Yunani ke Turki.[45]

Mustafa Kemal menjadi Presiden pertama dan kemudian melakukan banyak reformasi radikal dengan tujuan mengubah negara Utsmaniyah-Turki menjadi republik sekuler baru.[46] Dengan adanya UU Pemberian Julukan tahun 1934, Parlemen Turki memberikan gelar Atatürk (Bapak Bangsa Turki) kepada Mustafa Kemal.[44]

Turki tetap netral selama Perang Dunia II, namun masuk pada saat akhir perang di pihak Sekutu pada tanggal 23 Februari 1945. Pada tanggal 26 Juni 1945, Turki menjadi anggota piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.[4] Setelah perang, Yunani menghadapi kesulitan dalam mengatasi pemberontakan komunis, bersamaan dengan tuntutan Uni Soviet untuk membangun pangkalan militer di Selat Turki. Hal itu mendorong Amerika Serikat untuk menyatakan Doktrin Truman pada tahun 1947, untuk menjamin keamanan Turki dan Yunani.[47] Yunani dan Turki tergabung dalam Rencana Marshall dan OEEC untuk membangun kembali ekonomi Eropa pada tahun 1948, dan kemudian menjadi anggota pendiri OECD pada tahun 1961.

Setelah ikut serta dengan pasukan PBB dalam Perang Korea, Turki bergabung dengan NATO pada tahun 1952, dan menjadi benteng untuk melawan ekspansi Soviet ke Mediterania. Setelah satu dekade kekerasan antarkomunitas Siprus dan kudeta di Siprus pada 15 Juli 1974 yang dilakukan organisasi paramiliter EOKA B, untuk menggulingkan Presiden Makarios III dan menerapkan pro-Enosis (persatuan dengan Yunani) dengan Nikos Sampson sebagai diktator, Turki menginvasi Siprus pada tanggal 20 Juli 1974.[48] Sembilan tahun kemudian, Republik Turki Siprus Utara, yang hanya diakui oleh Turki, didirikan.[49]

Periode sistem satu partai berakhir pada tahun 1945. Hal ini diikuti oleh transisi menjadi demokrasi multipartai selama beberapa dekade mendatang, yang terganggu oleh kudeta militer ​​pada tahun 1960, 1971, 1980 dan 1997.[50] Pada tahun 1984, kelompok separatis Kurdi (PKK) memulai kampanye perlawanan terhadap pemerintah Turki, yang sampai saat ini telah merenggut lebih dari 40.000 jiwa.[51] Namun, proses perdamaian sedang berlangsung.[52][53] Sejak liberalisasi ekonomi Turki selama tahun 1980, negara ini telah mengalami pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik yang kuat.[54] Pada tahun 2013, sejumlah protes terjadi di banyak provinsi di Turki, yang dipicu oleh rencana untuk menghancurkan Taman Taksim Gezi.[55]

Provinsi[sunting | sunting sumber]

Turki dibagi menjadi 81 provinsi:

Politik[sunting | sunting sumber]

Recep Tayyip Erdogan.PNG Binali Yıldırım.jpg
Tayyip Erdoğan
Presiden
Binali Yıldırım
Perdana Menteri

Turki adalah demokrasi perwakilan parlemen. Sejak didirikan sebagai sebuah republik pada tahun 1923, Turki telah mengembangkan tradisi kuat sekularisme.[56] Konstitusi Turki mengatur kerangka hukum negara. Ini menetapkan prinsip-prinsip utama pemerintah dan menetapkan Turki sebagai negara terpusat kesatuan. Presiden dari Republik adalah kepala negara dan memiliki peran seremonial. Presiden dipilih untuk masa jabatan lima tahun oleh pemilihan langsung dan Tayyip Erdoğan adalah presiden pertama yang terpilih melalui pemungutan suara langsung.

Kekuasaan eksekutif dijalankan oleh Perdana Menteri dan Dewan Menteri yang membentuk pemerintah, sedangkan kekuasaan legislatif dipegang oleh parlemen unikameral, Majelis Agung Nasional Turki. Peradilan independen dari eksekutif dan legislatif, dan Mahkamah Konstitusi dibebankan dengan memerintah pada kesesuaian hukum dan keputusan dengan konstitusi. Dewan Negara adalah pengadilan dari terakhir untuk kasus administrasi, dan Pengadilan Tinggi Banding untuk kasus yang lain.[57]

Perdana menteri dipilih oleh parlemen melalui mosi percaya dalam pemerintahan dan yang paling sering kepala dari partai yang memiliki kursi terbanyak di parlemen. Perdana menteri sekarang adalah Binali Yıldırım, yang menggantikan Ahmet Davutoğlu pada tanggal 24 Mei 2016.

Hak pilih universal untuk kedua jenis kelamin telah diterapkan di seluruh Turki sejak tahun 1933, dan setiap warga negara Turki yang telah berusia 18 tahun memiliki hak untuk memilih. Ada 550 anggota parlemen yang dipilih untuk masa jabatan empat tahun oleh sistem daftar-partai proporsional dari 85 daerah pemilihan. Mahkamah Konstitusi dapat menghentikan pembiayaan publik partai politik yang dianggap anti-sekuler atau separatis, atau melarang keberadaan mereka sama sekali.[58][59] Electoral threshold adalah 10 persen suara.[60]

Pendukung reformasi Atatürk disebut Kemalis, yang dibedakan dari Islamis, mewakili dua ekstrem pada kontinum keyakinan tentang peran yang tepat dari agama dalam kehidupan publik.[61] Posisi Kemalis umumnya menggabungkan semacam demokrasi dengan konstitusi laicist' dan gaya hidup sekuler kebarat-baratan, sementara mendukung intervensi negara dalam ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik lainnya.[61] Sejak tahun 1980, kenaikan ketimpangan pendapatan dan perbedaan kelas telah melahirkan populisme Islam, sebuah gerakan yang dalam teori mendukung kewajiban untuk otoritas, solidaritas komunal dan keadilan sosial, meskipun apa yang mengikuti dalam prakteknya sering diperdebatkan.[61]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Turki adalah negara transbenua. Wilayah Turki yang termasuk Asia mencakup 97 persen dari negara, wilayah ini terpisah dari Eropa Turki oleh Selat Bosporus, Laut Marmara, dan Selat Dardanella. Wilayah Eropa Turki terdiri 3 persen negara. Wilayah Turki memiliki panjang lebih dari 1.600 kilometer (990 mil) dan 800 kilometer (500 mil) luas, dengan bentuk persegi panjang kasar. Negara ini terletak antara garis lintang 35 ° dan 43 ° U, dan bujur 25 ° dan 45 lahan ° T. Turki, termasuk danau,Turki menempati lahan seluas 783.562 kilometer persegi (302.535 mil persegi), areal seluas 755.688 kilometer persegi (291.773 mil persegi) berada di Asia Barat Daya dan 23.764 kilometer persegi (9.175 mil persegi) di Eropa. [154] Turki adalah negara 37-terbesar di dunia dalam hal luas. Negara ini dikelilingi oleh lautan di tiga sisi: Laut Aegea di sebelah barat, Laut Hitam di utara dan Mediterania di selatan. Terdapat juga Laut Marmara di barat laut.

Bagian Eropa dari Turki, Thrace Timur (wilayah paling timur semenanjung Balkan), membentuk perbatasan Turki dengan Yunani dan Bulgaria. Bagian Asia dari negara ini sebagian besar terdiri oleh semenanjung Anatolia, yang terdiri dari dataran tinggi dengan dataran pantai sempit, antara Koroglu dan pegunungan Pontic di utara dan Pegunungan Taurus di selatan. Turki timur, terletak di wilayah dataran tinggi barat Armenia, memiliki lanskap berupa pegunungan dan merupakan hulu berbagai sungai seperti sungai Efrat, Tigris dan Aras, terdapat pula Gunung Ararat, titik tertinggi di Turki dengan ketinggian 5137 meter (16.854 kaki), dan Danau Van, danau terbesar di negara ini.

Kuliner[sunting | sunting sumber]

Turki memiliki berbagai macam masakan, yang paling terkenal adalah Baklava, Doner kebab, Pilaf, dan Puding nasi.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "The Results of Address Based Population Registration System, 2014". Turkish Statistical Institute. 29 Januari 2015. Diakses tanggal 29 Januari 2015. 
  2. ^ a b c d "Report for Selected Countries and Subjects". IMF World Economic Outlook Database, April 2015. 14 April 2015. Diakses tanggal 9 June 2015. 
  3. ^ "Gini Index". World Bank. Diakses tanggal 2 Maret 2011. 
  4. ^ a b PBB (3 Juli 2006). "Pertumbuhan anggota PBB (1945-2005)". PBB. Diakses tanggal 30 Oktober 2006.  Kesalahan pengutipan: Invalid <ref> tag; name "Turkey_UN" defined multiple times with different content
  5. ^ OKI (2006). "Keanggotaan OKI". OKI. Diakses tanggal 30 Oktober 2006. 
  6. ^ OECD (2006). "Keahlian OECD". OECD. Diakses tanggal 30 Oktober 2006. 
  7. ^ OSCE (2005). "Negara-negara peserta OSCE". OSCE. Diakses tanggal 30 Oktober 2006. 
  8. ^ Dewan Eropa (27 Oktober 2006). "Turki dan Dewan Eropa". Dewan Eropa. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2004-02-23. Diakses tanggal 30 Oktober 2006. 
  9. ^ NATO. "Yunani dan Turki menyertai Pakta Pertahanan Atlantik Utara". NATO. Diakses tanggal 30 Oktober 2006. 
  10. ^ Sekretariat Turki untuk Urusan Uni Eropa. "Kronologi hubungan Turki-Uni Eropa". Sekretariat Turki untuk Urusan Uni Eropa. Diakses tanggal 30 Oktober 2006. 
  11. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama SteadmanMcMahon2011
  12. ^ "The Position of Anatolian". Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 5 May 2013. Diakses tanggal 4 May 2013. 
  13. ^ Balter, Michael (27 February 2004). "Search for the Indo-Europeans: Were Kurgan horsemen or Anatolian farmers responsible for creating and spreading the world's most far-flung language family?". Science 303 (5662): 1323. doi:10.1126/science.303.5662.1323. PMID 14988549. 
  14. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama MET
  15. ^ "The World's First Temple". Archaeology magazine. Nov/Dec 2008. p. 23. 
  16. ^ "Çatalhöyük added to UNESCO World Heritage List". Global Heritage Fund. 3 July 2012. Diakses tanggal 9 February 2013. 
  17. ^ "Ziyaret Tepe – Turkey Archaeological Dig Site". uakron.edu. Diakses tanggal 4 September 2010. 
  18. ^ "Assyrian Identity in Ancient Times And Today'" (PDF). Diakses tanggal 4 September 2010. 
  19. ^ The Metropolitan Museum of Art, New York (October 2000). "Anatolia and the Caucasus, 2000–1000 B.C. in Timeline of Art History.". New York: The Metropolitan Museum of Art. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 September 2006. Diakses tanggal 21 December 2006. 
  20. ^ D. M. Lewis; John Boardman (1994). The Cambridge Ancient History. Cambridge University Press. pp. 444–. ISBN 978-0-521-23348-4. Diakses tanggal 7 April 2013. 
  21. ^ Hooker, Richard (6 June 1999). "Ancient Greece: The Persian Wars". Washington State University, Washington, United States. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 November 2010. Diakses tanggal 22 December 2006. 
  22. ^ The Metropolitan Museum of Art, New York (October 2000). "Anatolia and the Caucasus (Asia Minor), 1000 B.C. – 1 A.D. in Timeline of Art History.". New York: The Metropolitan Museum of Art. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 December 2006. Diakses tanggal 21 December 2006. 
  23. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama FreedmanMyers2000
  24. ^ Theo van den Hout (27 October 2011). The Elements of Hittite. Cambridge University Press. p. 1. ISBN 978-1-139-50178-1. Diakses tanggal 24 March 2013. 
  25. ^ Daniel C. Waugh (2004). "Constantinople/Istanbul". University of Washington, Seattle, Washington. Diakses tanggal 26 December 2006. 
  26. ^ Wink, Andre (1990). Al Hind: The Making of the Indo Islamic World, Vol. 1, Early Medieval India and the Expansion of Islam, 7th–11th Centuries. Brill Academic Publishers. ISBN 90-04-09249-8. 
  27. ^ Rafis Abazov (2009). Culture and Customs of Turkey. Greenwood Publishing Group. ISBN 978-0-313-34215-8. Diakses tanggal 25 March 2013. 
  28. ^ a b Kinross, Patrick (1977). The Ottoman Centuries: The Rise and Fall of the Turkish Empire. Morrow. ISBN 0-688-03093-9. 
  29. ^ Stanford J. Shaw (29 October 1976). History of the Ottoman Empire and Modern Turkey 1. Cambridge University Press. p. 213. ISBN 978-0-521-29163-7. Diakses tanggal 15 June 2013. 
  30. ^ Kirk, George E. (2008). A Short History of the Middle East. Brill Academic Publishers. p. 58. ISBN 1-4437-2568-4. 
  31. ^ Mann, Michael (2005). The Dark Side of Democracy: Explaining Ethnic Cleansing. Cambridge University Press. p. 118. ISBN 978-0-521-53854-1. Diakses tanggal 28 February 2013. 
  32. ^ Todorova, Maria (18 March 2009). Imagining the Balkans. Oxford University Press. p. 175. ISBN 978-0-19-972838-1. Diakses tanggal 15 June 2013. 
  33. ^ John G. Heidenrich (2001). How to prevent genocide: a guide for policymakers, scholars, and the concerned citizen. Greenwood Publishing Group. p. 5. ISBN 978-0-275-96987-5. Diakses tanggal 26 February 2012. 
  34. ^ "Encyclopædia Britannica".  |chapter= ignored (bantuan)
  35. ^ Viscount Bryce (1916). "The Treatment of Armenians in the Ottoman Empire 1915–16: Documents presented to Viscount Grey of Falloden, Secretary of State for Foreign Affairs". New York and London: GP Putnam's Sons, for His Majesty's Stationary Office. 
  36. ^ Justin McCarthy, The End of Ottoman Anatolia, in Muslims and Minorities: The Population of Ottoman Anatolia and the End of the Empire, New York Univ. Press, 1983.
  37. ^ "Fact Sheet: Armenian Genocide". University of Michigan. Diakses tanggal 15 July 2010. 
  38. ^ Totten, Samuel, Paul Robert Bartrop, Steven L. Jacobs (eds.) Dictionary of Genocide. Greenwood Publishing Group, 2008, p. 19. ISBN 0-313-34642-9.
  39. ^ Patrick J. Roelle, Sr. (27 September 2010). Islam's Mandate- a Tribute to Jihad: The Mosque at Ground Zero. AuthorHouse. p. 33. ISBN 978-1-4520-8018-5. Diakses tanggal 9 February 2013. 
  40. ^ Donald Bloxham (2005). The Great Game of Genocide: Imperialism, Nationalism, And the Destruction of the Ottoman Armenians. Oxford University Press. p. 150. ISBN 978-0-19-927356-0. Diakses tanggal 9 February 2013. 
  41. ^ Levene, Mark (Winter 1998). "Creating a Modern 'Zone of Genocide': The Impact of Nation- and State-Formation on Eastern Anatolia, 1878–1923". Holocaust and Genocide Studies 12 (3): 393–433. doi:10.1093/hgs/12.3.393. 
  42. ^ Ferguson, Niall (2007). The War of the World: Twentieth-Century Conflict and the Descent of the West. Penguin Group (USA) Incorporated. p. 180. ISBN 978-0-14-311239-6. 
  43. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Ottoman_Turkey
  44. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Atat.C3.BCrk
  45. ^ Clogg, Richard (20 June 2002). A Concise History of Greece. Cambridge University Press. p. 101. ISBN 978-0-521-00479-4. Diakses tanggal 9 February 2013. 
  46. ^ Gerhard Bowering; Patricia Crone; Wadad Kadi; Devin J. Stewart, Muhammad Qasim Zaman, Mahan Mirza (28 November 2012). The Princeton Encyclopedia of Islamic Political Thought. Princeton University Press. pp. 49–. ISBN 978-1-4008-3855-4. Diakses tanggal 14 August 2013. Following the revolution, Mustafa Kemal became an important figure in the military ranks of the Ottoman Committee of Union and Progress (CUP) as a protégé ... Although the sultanate had already been abolished in November 1922, the republic was founded in October 1923. ... ambitious reform programme aimed at the creation of a modern, secular state and the construction of a new identity for its citizens. 
  47. ^ Huston, James A. (1988). Outposts and Allies: U.S. Army Logistics in the Cold War, 1945–1953. Susquehanna University Press. p. 134. ISBN 0-941664-84-8. 
  48. ^ Uslu, Nasuh (2003). The Cyprus question as an issue of Turkish foreign policy and Turkish-American relations, 1959–2003. Nova Publishers. p. 119. ISBN 978-1-59033-847-6. Diakses tanggal 16 August 2011. 
  49. ^ "Timeline: Cyprus". BBC. 12 December 2006. Diakses tanggal 25 December 2006. 
  50. ^ Hale, William Mathew (1994). Turkish Politics and the Military. Routledge, UK. ISBN 0-415-02455-2. 
  51. ^ "Turkey's PKK peace plan delayed". BBC. 10 November 2009. Diakses tanggal 6 February 2010. 
  52. ^ Sebnem Arsu (25 April 2013). "Kurdish Rebel Group to Withdraw From Turkey". The New York Times. Diakses tanggal 29 April 2013. 
  53. ^ "Murat Karayilan announces PKK withdrawal from Turkey". 25 April 2013. Diakses tanggal 29 April 2013. 
  54. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama 80sLiberalization
  55. ^ Jethro Mullen and Susannah Cullinane (4 June 2013). "What's driving unrest and protests in Turkey?". CNN. Diakses tanggal 6 June 2013. 
  56. ^ Çarkoğlu, Ali (2004). Religion and Politics in Turkey. Routledge, UK. ISBN 0-415-34831-5. 
  57. ^ Turkish Directorate General of Press and Information (17 October 2001). "Turkish Constitution". Turkish Prime Minister's Office. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 February 2007. Diakses tanggal 16 December 2006. 
  58. ^ "Euro court backs Turkey Islamist ban". BBC. 31 July 2001. Diakses tanggal 14 December 2006. 
  59. ^ "Turkey's Kurd party ban criticised". BBC. 14 March 2003. Diakses tanggal 14 December 2006. 
  60. ^ Turkish Directorate General of Press and Information (24 August 2004). "Political Structure of Turkey". Turkish Prime Minister's Office. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 February 2007. Diakses tanggal 14 December 2006. 
  61. ^ a b c Kate Fleet; Suraiya Faroqhi; Reşat Kasaba (17 April 2008). The Cambridge History of Turkey. Cambridge University Press. pp. 357–358. ISBN 978-0-521-62096-3. Diakses tanggal 13 June 2013. 

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Mango, Andrew (2004). The Turks Today. Overlook. ISBN 1-58567-615-2. 
  • Pope, Hugh; Pope, Nicole (2004). Turkey Unveiled. Overlook. ISBN 1-58567-581-4. 
  • Reed, Fred A. (1999). Anatolia Junction: a Journey into Hidden Turkey. Burnaby, B.C.: Talonbooks [sic]. 320 p., ill. with b&w photos. ISBN 0-88922-426-9
  • Revolinski, Kevin (2006). The Yogurt Man Cometh: Tales of an American Teacher in Turkey. Çitlembik. ISBN 9944-424-01-3. 
  • Roxburgh, David J. (ed.) (2005). Turks: A Journey of a Thousand Years, 600–1600. Royal Academy of Arts. ISBN 1-903973-56-2.
  • Turkey: A Country Study (1996). Federal Research Division, Library of Congress. ISBN 0-8444-0864-6.
  • Cîrlig, Carmen-Cristina (2013). Turkey's regional power aspirations (PDF). Library of the European Parliament. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Umum
Pemerintahan
Pariwisata
Ekonomi