Abu Sufyan bin al-Harits

Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muthalib (bahasa Arab: أبو سفيان بن الحارث بن عبد المطلب) adalah sepupu dan sahabat Nabi Muhammad. Dia juga merupakan saudara sepersusuan Muhammad melalui Halimah As-Sa'diyah. Abu Sufyan adalah putra dari al-Harits bin Abdul-Muththalib dan ibunya bernama Ghaziyah binti Qais.[1]
Saat Pertempuran Badar sampai Khandak, Abu Sufyan berada di pihak Quraisy Mekah dan cukup keras melawan Muhammad. Ia ahli syair dan sering membuat syair yang melawan Muhammad. Masuk Islamnya tertunda sampai Pembebasan Mekkah, di mana awalnya Nabi tidak mau menjumpainya tetapi akhirnya Nabi menerimanya dan memaafkannya. Abu Sufyan lalu membuat puisi mengenai keislamannya :
Dulu, kubawa panji perang untuk melawan Muhammad
Dulu aku hidup dalam kebimbangan dan kegelapan malam
Kini kutemukan agama yang memberi petunjuk dan cahaya
Allah membawa dan memanduku kepadanya, bukan diriku
Dulu kuperangi dan kuhalangi Muhammad dengan sungguh
Aku tak mau memiliki darah keturunan yang sama dengannya
Selama ini aku gelisah, tetapi tak kuungkapkan kegelisahan itu
Kini, telah kutemukan Islam, sumber ketenangan dan kedamaian[1]
Kemudian dia mengikuti penaklukan Hunain di Thaif dan sempat terluka terkena pedang musuh. Abbas, paman Nabi, memegang tal i kendali kuda Nabi dan berkata, “Ridhailah Abu Sufyan, wahai Rasulullah. ” Nabi menjawab, “Aku telah meridainya, Allah mengampuni keburukan yang pernah ia lakukan kepadaku.” Mendengar jawaban Nabi itu, Abu Sufyan mendekatkan kepalanya kepada kaki Nabi yang duduk di atas tunggangannya, kemudian menciuminya.[1]
Pada tahun 20 H, Abu Sufyan berhaji dan mencukur rambutnya. Namun, ada benjolan di kepalanya dan ia memotongnya. Tindakannya itu menyebabkan infeksi di kepala yang membuatnya jatuh sakit selama beberapa hari, akhirnya ia meninggal di Madinah pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab.[1]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]