Nawawi al-Bantani

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani
Lukisan Syekh Nawawi al-Bantani oleh Kang Alam.jpg
Lukisan Syekh Nawawi al-Bantani oleh Kang Alam
Gelar lihat Gelar-gelar
Kun-yah Abu Abdul Mu'ti
Nama Muhammad Nawawi
Nasab bin Umar
Nisbah at-Tanara al-Bantani al-Jawi
Lahir Muhammad Nawawi bin Umar
1813 Masehi
Bendera Kesultanan Banten Tanara, Serang, Kesultanan Banten
Wafat 1897 (berusia 83–84)
Bendera Kesultanan Utsmaniyah Mekkah, Hijaz, Kesultanan Utsmaniyah
Dimakamkan di Jannatul Mu'alla, Mekkah
Nama lain Syekh Nawawi
Kebangsaan Bendera Kesultanan Banten Banten
Bendera Indonesia Indonesia
Etnis Banten
Zaman 14 Hijriyah
Wilayah aktif Mekkah, Hijaz
Jabatan Imam Masjidil Haram
Firkah Sunni
Mazhab Fikih Syafi'i
Murid dari Guru-gurunya
Istri Nasimah
Hamdanah
Keturunan Abdul Mu'ti, Nafisah, Maryam, Rubi'ah, Zuhrah
Orang tua Umar (ayah)
Zubaedah (ibu)

Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (Arab: محمد نووي الجاوي البنتني‎) atau Syekh Nawawi al-Bantani (lahir di Tanara, Serang, 1230 H/1813 M - meninggal di Mekkah, Hijaz 1314 H/1897 M) adalah seorang ulama Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram. Ia bergelar al-Bantani karena berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, jumlah karyanya tidak kurang dari 115 kitab yang meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis.

Karena kemasyhurannya, Syekh Nawawi al-Bantani kemudian dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni ilmunya), A'yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 Hijriyah), hingga Imam Ulama al-Haramain, (Imam 'Ulama Dua Kota Suci).

Biografi[sunting | sunting sumber]

Syekh Nawawi lahir dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, Desa Padaleman, Kecamatan Tanara, Serang) pada tahun 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi, dengan nama Muhammad Nawawi bin 'Umar bin 'Arabi al-Bantani. Dia adalah sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah dan Sariyah. Ia merupakan generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Nasabnya melalui jalur Kesultanan Banten ini sampai kepada Nabi Muhammad S.A.W.

Ayah Syekh Nawawi merupakan seorang Ulama lokal di Banten, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani, sedangkan ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga biasa.

Syaikh Nawawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Serang dan dikaruniai 3 orang anak: Nafisah, Maryam, Rubi'ah. Sang istri wafat mendahului dia.[1]

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah silsilah Syekh Nawawi al-Bantani sampai kepada Rasulullah S.A.W[2] :

  1. Syekh Nawawi al-Bantani bin
  2. Syekh Umar al-Bantani bin
  3. Syekh Arabi al-Bantani bin
  4. Syekh Ali al-Bantani bin
  5. Syekh Jamad al-Bantani bin
  6. Syekh Janta al-Bantani bin
  7. Syekh Masbuqil al-Bantani bin
  8. Syekh Maskun al-Bantani bin
  9. Syekh Masnun al-Bantani bin
  10. Syekh Maswi al-Bantani bin
  11. Syekh Tajul Arsy al-Bantani (Pangeran Sunyararas) bin
  12. Sultan Maulana Hasanuddin bin
  13. Sultan Syarif Hidayatullah bin
  14. Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan bin
  15. Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan bin
  16. Sayyid Jamaluddin Akbar Azmatkhan al-Husaini (Syekh Jumadil Kubro) bin
  17. Sayyid Ahmad Jalal Syah Azmatkhan bin
  18. Sayyid Abdullah Azmatkhan bin
  19. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
  20. Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadramaut) bin
  21. Sayyid Muhammad Shahib Mirbath (Hadramaut) bin
  22. Sayyid Ali Khali' Qasam bin
  23. Sayyid Alawi ats-Tsani bin
  24. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
  25. Sayyid Alawi Awwal bin
  26. Sayyid al-Imam 'Ubaidillah bin
  27. Sayyid Ahmad al-Muhajir bin
  28. Sayyid 'Isa Naqib ar-Rumi bin
  29. Sayyid Muhammad an-Naqib bin
  30. Sayyid al-Imam Ali Uradhi bin
  31. Sayyidina Ja'far ash-Shadiq bin
  32. Sayyidina Muhammad al-Baqir bin
  33. Sayyidina Ali Zainal Abidin bin
  34. Sayyidina Husain bin
  35. Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti
  36. Sayyidina Muhammad S.A.W

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sejak berusia lima tahun, Syekh Nawawi sudah mulai belajar ilmu agama Islam langsung dari ayahnya. Bersama saudara-saudara kandungnya, Syekh Nawawi mempelajari tentang pengetahuan dasar bahasa Arab, fiqih, tauhid, al-Quran dan tafsir. Pada usia delapan tahun bersama kedua adiknya, Tamim dan Ahmad, Syekh Nawawi berguru kepada K.H. Sahal, salah seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Kemudian melanjutkan kegiatan menimba ilmu kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta.[3][4]

Di usianya yang belum genap lima belas tahun, Syekh Nawawi telah mengajar banyak orang, sampai kemudian ia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak[3]. Baru setelah usianya mencapai lima belas tahun, Syekh Nawawi menunaikan haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Mekah saat itu.

Guru-Gurunya[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah para ulama yang pernah ditimba ilmunya oleh Syekh Nawawi[5] :

Peranan dan Perjuangan[sunting | sunting sumber]

Nasionalisme dan Pengabdian di Masjidil Haram[sunting | sunting sumber]

Setelah tiga tahun bermukim di Mekkah, Syekh Nawawi pulang ke Banten sekitar tahun 1828 Masehi. Sampai di tanah air dia menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat. Tak ayal, gelora jihad pun berkobar. Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, Syekh Nawawi kemudian berdakwah keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah sampai pemerintah Belanda membatasi gara-geriknya, seperti dilarang berkhutbah di masjid-masjid[6]. Bahkan belakangan dia dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda (1825 - 1830 Masehi), hingga akhirnya ia kembali ke Mekkah setelah ada tekanan pengusiran dari Belanda, tepat ketika puncak terjadinya Perlawanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830. Begitu sampai di Mekkah dia segera kembali memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya.[7]

Syekh Nawawi mulai masyhur ketika menetap di Syi'ib 'Ali, Mekkah. Dia mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma puluhan, tetapi semakin lama jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Hingga jadilah Syekh Nawawi al-Bantani sebagai ulama yang dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf. [6]

Nama Syekh Nawawi al-Bantani semakin masyhur ketika dia ditunjuk sebagai Imam Masjidil Haram, menggantikan Syaikh Achmad Khotib Al-Syambasi atau Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Tidak hanya di kota Mekkah dan Madinah saja dia dikenal, bahkan di negeri Suriah, Mesir, Turki, hingga Hindustan namanya begitu masyhur.[6]

Pemikiran Penting[sunting | sunting sumber]

Syekh Nawawi memegang peran sentral di tengah ulama al-Jawwi. Dia menginspirasi komunitas al-Jawwi untuk lebih terlibat dalam studi Islam secara serius, tetapi juga berperan dalam mendidik sejumlah ulama pesantren terkemuka. Bagi Syekh Nawawi, masyarakat Islam di Indonesia harus dibebaskan dari belenggu Kolonialisme. Dengan mencapai kemerdekaan, ajaran-ajaran Islam akan dengan mudah dilaksanakan di Nusantara. Pemikiran ini mendorong Syekh Nawawi untuk selalu mengikuti perkembangan dan perjuangan di tanah air dari para murid yang berasal dari Indonesia serta menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan masyarakat Indonesia.[8]

Selain pelajaran agama, Syekh Nawawi juga mengajarkan makna kemerdekaan, anti Kolonialisme dan Imperialisme dengan cara yang halus. Mencetak kader patriotik yang di kemudian hari mampu menegakkan kebenaran. Perjuangan yang dilakukan Syekh Nawawi memang tidak dalam bentuk revolusi fisik, namun lewat pendidikan dalam menumbuhkan semangat kebangkitan dan jiwa nasionalisme.

Di samping itu, upaya pembinaan yang dilakukan Syekh Nawawi terhadap komunitas al-Jawwi di Mekkah juga menjadi perhatian serius dari pemerintahan Belanda di Indonesia. Produktivitas komunitas al-Jawwi untuk menghasilkan alumni-alumni yang memiliki integritas keilmuan agama dan jiwa nasionalisme, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Belanda. Untuk mengantisipasi ruang gerak komunitas al-Jawwi ini maka pemerintah Belanda mengutus penasihat pemerintah, Christian Snouck Hurgronje untuk berkunjung ke Mekkah pada tahun 1884 - 1885. Kedatangan Snouck ini bertujuan untuk meneliti lebih lanjut dan melihat secara langsung berbagai hal yang telah dilakukan oleh ulama Indonesia yang tergabung dalam komunitas al-Jawwi.[4]

Pendapat Penentangan di Arab Saudi[sunting | sunting sumber]

Meskipun saat itu Arab Saudi dikuasai oleh pemerintahan yang berfaham Wahabisme, namun Syekh Nawawi berani berbeda pendapat dalam hal ziarah kubur. Kerajaan Arab Saudi melarang ziarah kubur dengan alasan bidah, namun Syekh Nawawi tidak menentang praktik ini. Pendapat ini dilandasi temuan Syekh Nawawi tentang ketentuan hukumnya dalam ajaran Islam. Syekh Nawawi bahkan menganjurkan umat Islam untuk menghormati makam-makam orang yang berjasa dalam sejarah Islam, termasuk makam Nabi S.A.W dan para sahabat. Menurut Syekh Nawawi, Mengunjungi makam Nabi S.A.W adalah praktik ibadah yang identik dengan bertemu muka (tawajjuh) dengan Nabi S.A.W dan mengingatkan kebesaran perjuangan dan prestasi yang patut untuk diteladani.[4]

Murid-Muridnya[sunting | sunting sumber]

Di antara murid-murid Syekh Nawawi yang menjadi ulama berpengaruh antara lain[4][5] :

Kisah Syekh Nawawi dan Murid-muridnya[sunting | sunting sumber]

K.H. Hasyim Asyari[sunting | sunting sumber]

K.H. Hasyim Asyari saat mengajar santri-santrinya di Pondok Pesantren Tebuireng sering menangis jika membaca kitab fiqih Fath al-Qarib yang dikarang oleh Syekh Nawawi. Kenangan terhadap sang gurunya itu amat mendalam di hatinya hingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan kepada para santrinya.[1]

Gelar-gelar[sunting | sunting sumber]

Di antara gelar kehormatan yang disematkan kepada Syekh Nawawi al-Bantani adalah sebagai berikut:[9]

  1. al-Sayyid al-'Ulama al-Hijaz (tokoh ulama Hijaz) atau Sayyidul Hijaz (penjaga Hijaz)[7][14]
  2. Nawawi at-Tsani (Nawawi kedua). Orang pertama yang memberi gelar ini pada Syekh Nawawi adalah Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani[7]
  3. al-Imam wa al-Fahm al-Mudaqqiq (tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam)
  4. A'yan 'Ulama al-Qarn ar-Ram 'Asyar Li al-Hijrah (tokoh ulama abad 14 Hijriyah)
  5. Imam 'Ulama Al-Haramain (Imam Ulama Dua Kota Suci)
  6. Doktor Ketuhanan (orang pertama yang memberikan gelar ini pada Syekh Nawawi adalah Christiaan Snouck Hurgronje)
  7. asy-Syaikh al-Fakih (disematkan oleh kalangan pesantren)
  8. Bapak Kitab Kuning Indonesia (disematkan oleh para Ulama Indonesia).[4]

Karya-Karyanya[sunting | sunting sumber]

Kepakaran Syekh Nawawi tidak diragukan lagi. Ulama asal Mesir, Syekh 'Umar 'Abdul Jabbar dalam kitabnya "al-Durus min Madhi al-Ta'lim wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Haram” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syekh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih yang meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik.

Sebagian dari karya-karya Syekh Nawawi di antaranya adalah sebagai berikut: [9]

  1. al-Tsamar al-Yani'ah syarah al-Riyadl al-Badi'ah
  2. al-'Aqd al-Tsamin syarah Fath al-Mubîn
  3. Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh
  4. Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
  5. al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb
  6. Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn
  7. Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
  8. Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd
  9. Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
  10. Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân
  11. al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd
  12. Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
  13. Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah
  14. Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm
  15. Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
  16. Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji
  17. Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî
  18. Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm
  19. Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd
  20. Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry
  21. Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb
  22. Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq
  23. Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ
  24. al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah
  25. ‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain
  26. Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits
  27. Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd
  28. al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah
  29. Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah
  30. Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman
  31. al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah
  32. al-Riyâdl al-Fauliyyah
  33. Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm
  34. Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd
  35. al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny
  36. Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm
  37. al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah
  38. Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.[15]

Karya tafsirnya, al-Munir, sangat monumental, bahkan ada yang mengatakan lebih baik dari Tafsir al-Jalalain, karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Imam Jalaluddin al-Mahalli yang sangat terkenal. Sementara Kasyifah al-Saja merupakan syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safinatun Najah, karya Syekh Salim bin Sumeir al-Hadhramy. Karya-karya dia di bidang Ilmu Akidah misalnya adalah Tijan ad-Darary, Nur al-Dhalam, Fath al-Majid. Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul. Karya-karya dia di bidang Ilmu Fiqih yakni Sullam al-Munajah, Nihayah al-Zain, Kasyifah al-Saja, dan yang sangat terkenal di kalangan para santri pesantren di Jawa yaitu Syarah ’Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain. Adapun Qami'u al-Thugyan, Nashaih al-'Ibad dan Minhaj al-Raghibi merupakan karya tasawwuf.[16]

Karamah[sunting | sunting sumber]

Telunjuk Bersinar dan Dapat Menjadi Lampu Penerang[sunting | sunting sumber]

Pada suatu waktu di sebuah perjalanan dalam syuqduf (rumah-rumahan di punggung unta) Syekh Nawawi pernah mengarang kitab dengan menggunakan telunjuknya sebagai lampu. Hal tersebut terjadi karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yang ia tumpangi, sementara aspirasi untuk menulis kitab tengah kencang mengisi kepalanya. Syekh Nawawi kemudian berdoa kepada Allah agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu, menerangi jari kanan yang akan digunakannya untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Maraqi al-'Ubudiyyah syarah Matan Bidayah al-Hidayah itu harus dibayarnya dengan cacat pada jari telunjuk kiri, karena cahaya yang diberikan Allah pada telunjuk kirinya itu membawa bekas yang tidak hilang.[17]

Melihat Ka'bah dari Tempat Lain yang Jauh[sunting | sunting sumber]

Karamah lain Syekh Nawawi juga diperlihatkannya di saat ia mengunjungi Masjid Pekojan, Jakarta. Masjid yang dibangun oleh Sayyid Utsman bin 'Agil bin Yahya al-'Alawi (mufti Betawi keturunan Rasulullah S.A.W) itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu adalah Sayyid Utsman sendiri[18].

Tak ayal, saat Syekh Nawawi yang dianggapnya hanya seorang anak remaja tak dikenal menyalahkan penentuan kiblat, Sayyid Utsman sangat terkejut. Diskusipun terjadi antara keduanya, Sayyid Utsmân tetap berpendirian bahwa kiblat Mesjid Pekojan tersebut sudah benar, sementara Syekh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat haruslah dibetulkan. Saat kesepakatan tidak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syekh Nawawi remaja menarik lengan baju Sayyid Utsmân dan dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat, kemudian berkata:

"Lihatlah Sayyid!, itulah Ka'bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka'bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak ke kiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke arah Ka'bah."

Sayyid Utsman termangu. Ka'bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syekh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsman merasa takjub dan menyadari bahwa remaja yang bertubuh kecil di hadapannya itu telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Yang dengan karamah itu, di manapun dia berada Ka'bah akan tetap terlihat.[19] Dengan penuh hormat Sayyid Utsman langsung memeluk tubuh kecil Syekh Nawawi. Sampai saat ini di Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser dan tidak sesuai aslinya.[19]

Jasad yang Tetap Utuh[sunting | sunting sumber]

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota dan lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan tersebut dijalankan tanpa pandang bulu hingga menimpa pula pada makam Syekh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya, yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet dan tidak ada tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain kafan penutup jasad Syekh Nawawi tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.[17]

Terang saja kejadian tersebut mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil, yaitu larangan dari pemerintah untuk membongkar makam Syekh Nawawi. Jasadnya lalu dikuburkan kembali seperti sediakala, dan hingga sekarang makam Syekh Nawawi tetap berada di Ma'la, Mekah.[20]

Shalat di Dalam Mulut Ular Besar[sunting | sunting sumber]

Suatu hari ketika dalam perjalanan, Syekh Nawawi istirahat di sebuah tempat untuk azan kemudian salat. Setelah ia azan ternyata tidak ada orang yang datang, akhirnya ia qamat lalu salat sendirian. Usai shalat Syekh Nawawi kembali melanjutkan perjalanan, tapi ketika menengok ke belakang, ternyata ada seekor ular raksasa dan mulutnya sedang menganga. Akhirnya ia tersadar bahwa ternyata ia salat di dalam mulut ular yang sangat besar itu.[21]

Menghasilkan Karya-karya yang Fenomenal[sunting | sunting sumber]

Karamah Syekh Nawawi yang paling tinggi dapat dirasakan ketika membuka lembar demi lembar Tafsir Munir yang ia karang. Kitab Tafsir fenomenal tersebut menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami firman Allah. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab fiqih, Kasyifah al-Saja yang menerangkan syariat. Dan ratusan hikmah di dalam kitab Nashaih al-'Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tangan Syekh Nawawi al-Bantani.[20]

Wafat[sunting | sunting sumber]

Syekh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriyah atau 1897 Masehi. Makamnya terletak di Jannatul Mu'alla, Mekah. Makam dia bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq.[22]

Meski wafat di Jazirah Arab, namun hingga kini setiap tahunnya selalu diadakan haul atau peringatan wafatnya Syekh Nawawi al-Bantani di tanah air, tepatnya di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, asuhan K.H. Ma'ruf Amin[23][24]. Haul Syekh Nawawi selalu ramai dihadiri para santri Nusantara, bahkan mancanegara[25].

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan Kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Majalah Alkisah edisi 15 Februari 2004, hlm. 100.
  2. ^ Machrus, Mohammad (2014). "Silsilah Syekh Nawawi Tanara al-Bantani". Yayasan Pondok Pesantren Daarul Falah - Ciloang. Diakses tanggal 25 Mei 2017. 
  3. ^ a b Majalah Alkisah edisi 14 September 2003, hlm. 2.
  4. ^ a b c d e Mahbib (3 Februari 2017). "Syekh Nawawi Banten dan Beberapa Pemikiran Pentingnya". nu.or.id. Diakses tanggal 25 Mei 2017. 
  5. ^ a b Khoirul, A. (1 Februari 2008). "Ulama Makkah Pun Berguru Kepadanya". nu.or.id. Diakses tanggal 25 Mei 2017. 
  6. ^ a b c "Syekh Nawawi al-Bantani". Perjalanan 3 Wanita. Trans TV.
  7. ^ a b c Maharani, Ardini (2 Desember 2015). "Imam Besar Masjidil Haram dari Banten, Keturunan Cucu Rasulullah". bintang.com. Diakses tanggal 25 Mei 2017. 
  8. ^ Solahudin, M. (2012). 5 Ulama Internasional dari Pesantren. Kediri: Nous Pustaka Utama. ISBN 9786029872026. 
  9. ^ a b c "Biografi Sayyidi Asy-Syaikh Al-Faqih Nawawi Al-Bantani Al-Jawi". majeliswalisongo.com. 5 Maret 2016. Diakses tanggal 25 Mei 2017. 
  10. ^ "Biografi Singkat Syekh Kholil Bangkalan". dokumenpemudatqn.com. 6 April 2013. Diakses tanggal 25 Mei 2017. 
  11. ^ BantenPos edisi 25 November 2013, hlm. 15.
  12. ^ Nasrullah, Nasih (21 Februari 2017). "Terungkap Manuskrip Langka Ulama India Akui Kepakaran Syekh Nawawi". republika.co.id. Diakses tanggal 26 Mei 2017. 
  13. ^ Amin, Samsul Munir (2009). Sayyid Ulama Hijaz, Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. hlm. 96. ISBN 9789798452475. 
  14. ^ "Syekh Nawawi al-Bantani dengan Julukan Sayyidul Hijaz". santridayah.com. 28 Oktober 2014. Diakses tanggal 25 Mei 2017. 
  15. ^ Hadzami, Muhammad Syafi'i (2006). Majmu'ah Tsalatsa Kutub Mufidah (dalam bahasa Arab). Jakarta: Maktabah al-Arba'in. 
  16. ^ Majalah Alkisah edisi 14 September 2003, hlm. 7.
  17. ^ a b Wicaksono, Bayu Aji (17 Juni 2015). "Kisah Syekh Nawawi: Kaki Bisa Menyala, Jasadnya Tetap Utuh". viva.co.id. Diakses tanggal 25 Mei 2017. 
  18. ^ Majalah Alkisah edisi 15 Februari 2004, hlm. 108.
  19. ^ a b Majalah Alkisah edisi 15 Februari 2004, hlm. 103.
  20. ^ a b Majalah Alkisah edisi 15 Februari 2004, hlm. 105.
  21. ^ Abdullah (11 Januari 2016). "Kiai Nawawi kisahkan Karomah Syekh Nawawi". nu.or.id. Diakses tanggal 25 Mei 2017. 
  22. ^ Majalah Alkisah edisi 14 September 2003, hlm. 5.
  23. ^ Sofiyan (18 September 2012). "Wisata Ziarah Mengenal dan Mengenang Syekh Nawawi di Tanara". bantenraya.com. Diakses tanggal 26 Mei 2017. 
  24. ^ "Haul Syaikh Nawawi al-Bantani". muslimedianews.com. 13 Agustus 2015. Diakses tanggal 26 Mei 2017. 
  25. ^ Joewono, Beny N (23 September 2011). "Presiden Hadiri Haul Syeikh Nawawi". nasional.kompas.com. Diakses tanggal 26 Mei 2017. 

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]