Sulaiman Ar-Rasuli

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sulaiman
Syekh Haji
Sulaiman
ar-Rasuli al-Minangkabawi
Perti - Sulaiman ar-Rasuli.jpg
Nama dan Gelar
Semua Gelar
Gelar
(Islam/Sosial)
Syekh Haji
Nama
NamaSulaiman
Nisbahar-Rasuli al-Minangkabawi
Kelahirannya
Tanggal lahir (M)10
Bulan lahir (M)Desember
Tahun lahir (H)1287
Tahun lahir (M)1871
Tempat lahirCandung
Negara lahir
(penguasa wilayah)
Candung, Sumatra Barat era  Hindia Belanda
Agama, Identitas, Kebangsaan
Agama Islam
Etnis (Suku bangsa)
Etnis
(Suku bangsa)
Minangkabau
KebangsaanIndonesia
Bantuan kotak info

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli yang juga dikenal sebagai Inyiak Canduang (10 Desember 1871 – 1 Agustus 1970)[3] adalah seorang ulama Minangkabau yang mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah.[4] Ia dianggap sebagai tokoh yang menyebarluaskan gagasan keterpaduan adat Minangkabau dan syariat lewat ungkapan Adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.[5]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah di Mekkah. Ulama yang seangkatan dengannya antara lain adalah Kiyai Haji Hasyim Asyari dari Jawa Timur; Syeikh Hasan Maksum, Sumatra Utara; Syeikh Khatib Ali al-Minangkabawi; Syeikh Muhammad Zain Simabur al-Minangkabawi; Syeikh Muhammad Jamil Jaho al-Minangkabawi; dan Syeikh Abbas Ladang Lawas al-Minangkabawi. sementara ulama Malaysia yang seangkatan dan sama-sama belajar di Mekkah dengannya antara lain adalah Syeikh Utsman Sarawak dan Tok Kenali.[butuh rujukan]

Ketika tinggal di Mekah, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli selain belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif al-Minangkabawi, ia juga mendalami ilmu-ilmu daripada ulama Kelantan dan Patani. Antaranya, Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani dan Syeikh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani.[butuh rujukan]

Perjuangan[sunting | sunting sumber]

Duduk dari kanan: Syekh Daud Rasyidi, Syekh Djamil Djambek, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Inyiak Canduang), Syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek), Syekh DR. Abdullah Ahmad

Syeikh Sulaiman kembali ke Minangkabau sebagaimana sahabatnya Tok Kenali yang kembali ke Kelantan, yaitu setelah wafatnya Syekh Ahmad al-Fathani pada 1908. Setibanya di Bukit Tinggi, Sumatra, ia mulai membuka majlis pengajaran.[butuh rujukan]

Pada tahun 1928, Syeikh Sulaiman bersama-sama Syekh Abbas Ladang Lawas dan Syekh Muhammad Jamil Jaho mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Dalam sistem pendidikan maupun dalam berpendapat pendapat, Syekh Sulaiman dan kawan-kawannya tersebut mempertahankan tradisi tarikat dan berpegang pada Mazhab Syafi'i.[butuh rujukan]

Beberapa pendapat khusus Syekh Sulaiman dalam polemik keagamaan, antara lain lebih menyetujui rukyat dalam hal puasa, mewajibkan muqaranah niat dan mensunnahkan jahar lafaz dalam hal salat, mewajibkan dibayarnya zakat fitrah dengan makanan yang mengenyangkan, serta mempertahankan tarawih dan witir 23 rakaat. Syekh Sulaiman juga pernah mengkritik sebuah buku pengajaran Tarekat Naqsyabandiyah karya penulis lain yang dianggapnya keliru, dalam karyanya Tabligh al-Amanat fi Izalah al-Munkarat wa asy-Syubuhat.[butuh rujukan]

Pengaruh[sunting | sunting sumber]

Pada Pemilu 1955, Indonesia membentuk sebuah badan atau lembaga yang dinamakan Konstituante. Tujuan Konstituante ialah menyusun Undang-Undang Dasar yang lebih permanen, menggantikan UUD 1945 yang disusun sebagai UUD sementara menjelang kemerdekaan Republik Indonesia. Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, salah seorang anggota Konstituante dari PERTI,[6] telah dilantik mengetuai sidang pertama badan itu. Konstituante dibubarkan oleh Presiden Soekarno dengan Dekret Presiden 5 Juli 1959.

Pada hari pengkebumiannya, diperkirakan 30.000 orang hadir termasuk ramai pemimpin dari Jakarta, bahkan juga dari Malaysia.[butuh rujukan]

Karya tulis[sunting | sunting sumber]

Berikut ini beberapa karya tulis Syeikh Sulaiman ar-Rasuli:[7]

  • Dhiyaus Siraj fil Isra' Walmi'raj
  • Tsamaratul Ihsan fi Wiladah Sayyidil Insan
  • Dawaul Qulub fi Qishshah Yusuf wa Ya'qub
  • Risaah al-Aqwal al-Wasithah fi Dzikri Warrabithah
  • Al-Qaulul Bayan fi Tafsiril Quran
  • Al-Jawahirul Kalamiyyah
  • Sabilus Salamah fi wird Sayyidil Ummah
  • Tafsir Jalalain (tulis ulang dari Tafsir Jalalain)
  • Perdamaian Adat dan Syara'
  • Kisah Muhammad 'Arif

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Asril, Asril (2018). "SYEKH SULAIMAN ARRASULI: Ulama Multi Talenta". Khazanah. Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang. 8 (16): 58. ISSN 2614-3798. 
  2. ^ https://books.google.co.id/books?id=VODlHHq4FukC&pg=PA295&dq=bahruddin+rusli&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiw3rbqyv7xAhWp8HMBHVJvBhcQ6AEwAHoECAoQAw#v=onepage&q=bahruddin%20rusli&f=false
  3. ^ Sarwan; Kurniawan, Aris (2012). "Profil Sheikh Sulaiman Ar-Rasuli (1871 M – 1970 M) Sebagai Pendakwah". AL MUNIR: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam: 134-146. 
  4. ^ https://kumparan.com/langkanid/sosok-inyiak-canduang-di-mata-sejarahwan
  5. ^ https://tarbiyahislamiyah.id/sulaiman-arrasuli-tokoh-pendidikan-islam-bercorak-kultural-bagian-1/
  6. ^ http://www.konstituante.net/id/profile/PERTI_sulaiman_ar_rasuli
  7. ^ Direktori Tokoh Ulama Indonesia, Hal. 122, Jakarta: Departemen Agama RI, 2008