Sulaiman Ar-Rasuli

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Sulaiman
Bismillahirahmanirahim
Syekh Haji
Sulaiman
ar-Rasuli al-Minangkabawi
Sulaiman ar-Rasuli (Perti - Sumbar).jpg
Nama dan Gelar
Semua Gelar
Gelar
(Islam/Sosial)
Syekh Haji
Nama
Nama Sulaiman
Nisbah ar-Rasuli al-Minangkabawi
Kelahirannya
Tahun lahir (H) 1287
Tahun lahir (M) 1871
Tempat lahir Candung
Negara lahir
(penguasa wilayah)
Candung, Sumatera Barat era  Hindia Belanda
Agama, Identitas, Kebangsaan
Agama Islam
Etnis (Suku bangsa)
Etnis
(Suku bangsa)
Minangkabau
Kebangsaan Indonesia
Bantuan kotak info

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli , (lahir di Candung, Sumatera Barat, 1287 H/1871 M, wafat pada 29 Jumadil awal 1390 H/1 Agustus 1970 M). Ia adalah seorang tokoh ulama dari golongan Kaum Tua yang gigih mempertahankan mazhab Syafi'i. Dan juga pendiri madrasah tarbiyah islamiah candung.[butuh rujukan]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi adalah di Mekkah. Ulama yang seangkatan dengannya antara lain adalah Kiyai Haji Hasyim Asyari dari Jawa Timur (1287 H/1871 M - 1366 H/1947 M), Syeikh Hasan Maksum, Sumatera Utara (wafat 1355 H/1936 M), Syeikh Khathib Ali al-Minangkabawi, Syeikh Muhammad Zain Simabur al-Minangkabawi (sempat menjadi Mufti Kerajaan Perak tahun 1955 dan wafat di Pariaman pada 1957), Syeikh Muhammad Jamil Jaho al-Minangkabawi, Syeikh Abbas Ladang Lawas al-Minangkabawi dll. sementara ulama Malaysia yang seangkatan dan sama-sama belajar di Mekkah dengannya antara lain adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M - 1339 H/1921 M), Tok Kenali (1287 H/1871 M - 1352 H/1933 M) dan lain-lain.[butuh rujukan]

Ketika tinggal di Mekah, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi selain belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif al-Minangkabawi, ia juga mendalami ilmu-ilmu daripada ulama Kelantan dan Patani. Antaranya, Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani dan Syeikh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani.[butuh rujukan]

Perjuangan[sunting | sunting sumber]

Syeikh Sulaiman kembali ke Minangkabau sebagaimana sahabatnya Tok Kenali yang kembali ke Kelantan, yaitu setelah wafatnya Syekh Ahmad al-Fathani (11 Zulhijjah 1325 H/14 Januari 1908 M). Setibanya di Bukit Tinggi, Sumatera, ia mulai membuka majlis pengajaran.[butuh rujukan]

Pada tahun 1928, Syeikh Sulaiman bersama-sama Syekh Abbas Ladang Lawas dan Syekh Muhammad Jamil Jaho mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Dalam sistem pendidikan maupun dalam berpendapat pendapat, Syekh Sulaiman dan kawan-kawannya tersebut mempertahankan tradisi tarikat dan berpegang pada Mazhab Syafi'i.[butuh rujukan]

Beberapa pendapat khusus Syekh Sulaiman dalam polemik keagamaan, antara lain lebih menyetujui rukyat dalam hal puasa, mewajibkan muqaranah niat dan mensunnahkan jahar lafaz dalam hal salat, mewajib dibayarnya zakat fitrah dengan makanan yang mengenyangkan, serta mempertahankan tarawih dan witir 23 rakaat. Syekh Sulaiman juga pernah mengkritik sebuah buku pengajaran Tarekat Naqsyabandiyah karya penulis lain yang dianggapnya keliru, dalam karyanya Tabligh al-Amanat fi Izalah al-Munkarat wa asy-Syubuhat.[butuh rujukan]

Pengaruh[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1950-an Indonesia pernah mengadakan pilihan raya membentuk sebuah badan atau lembaga yang dinamakan 'Konstituante'.[butuh rujukan] Tujuan Konstituante ialah menyusun Undang-Undang Dasar yang lebih permanen, menggantikan UUD 1945 yang disusun sebagai UUD sementara menjelang kemerdekaan Republik Indonesia. Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, salah seorang anggota Konstituante dari PERTI, telah dilantik mengetuai sidang pertama badan itu. Konstituante dibubarkan oleh Presiden Soekarno dengan Dekret Presiden 5 Juli 1959.[butuh rujukan]

Beberapa orang ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah memang seorang ulama besar yang berpengaruh terhadap kawan dan lawan. Sejak zaman pemerintah Belanda, pembesar-pembesar Belanda datang menziarahinya.[butuh rujukan] Demikian juga pemimpin-pemimpin setelah kemerdekaan Indonesia. Soekarno sejak belum menjadi Presiden Indonesia hingga setelah berkuasa memang sering berkunjung ke rumah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli. Pada hari pengkebumiannya, dianggarkan 30,000 orang hadir termasuk ramai pemimpin dari Jakarta, bahkan juga dari Malaysia.[butuh rujukan]

Karya tulis[sunting | sunting sumber]

Berikut ini beberapa karya tulis Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi:[1]

  • Dhiyaus Siraj fil Isra' Walmi'raj
  • Tsamaratul Ihsan fi Wiladah Sayyidil Insan
  • Dawaul Qulub fi Qishshah Yusuf wa Ya'qub
  • Risaah al-Aqwal al-Wasithah fi Dzikri Warrabithah
  • Al-Qaulul Bayan fi Tafsiril Quran
  • Al-Jawahirul Kalamiyyah
  • Sabilus Salamah fi wird Sayyidil Ummah
  • Perdamaian Adat dan Syara'
  • Kisah Muhammad 'Arif

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Direktori Tokoh Ulama Indonesia, Hal. 122, Jakarta: Departemen Agama RI, 2008