Ulama Minangkabau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Seorang militer Belanda bersama tetua adat dan ulama di Sumatera Barat (1926). Belanda berusaha memulihkan hubungan setelah pecahnya Perang Belasting yang dimotori kalangan ulama, terutama di Kamang Magek, Agam.

Ulama Minangkabau merujuk kepada ahli-ahli agama Islam yang dibesarkan atau berasal dari daerah Minangkabau. Tokoh-tokoh tersebut telah terlibat dalam berbagai peristiwa sejarah perkembangan Islam di Nusantara dan di Sumatera Barat pada khususnya, baik sebagai penyiar agama maupun sebagai pejuang dalam melawan kolonialisme.

Sejarah awal[sunting | sunting sumber]

Kapan dan darimana masuknya Islam di Sumatera Barat masih menjadi perdebatan para ahli sejarah. Terdapat indikasi bahwa pantai timur Sumatera telah disinggahi saudagar-saudagar Islam sejak abad ke-7,[1] sedangkan kronik Cina Xin Tangshu menyebutkan bahwa pada tahun, 675 orang-orang Ta-Shih (Arab) telah mempunyai perkampungan di pantai barat Sumatera.[2] Pihak yang mengatakan Islam masuk ke Minangkabau dari pantai timur Sumatera memperkirakannya masuk dari Siak, sementara pihak yang mengatakan masuk dari pantai barat memperkirakannya masuk dari Aceh.[3] Budayawan A.A. Navis berpendapat bahwa Islam telah masuk dari Aceh sejak abad ke-8.[4]

Para geografer muslim abad ke-9 dan 10, seperti Ibnu Khurdadzbih dan Al Biruni, menuliskan bahwa Sumatera (yang mereka sebut Zabaj) adalah bagian rute perdagangan mereka menuju Cina.[5] Pengelana Venesia Marco Polo (1292)[6][7] yang singgah di Sumatera menulis bahwa penduduk pedalaman pada umumnya masih belum beragama Islam, sedangkan pengelana Maroko Ibnu Batutah (1345)[7] menemukan bahwa Mazhab Syafi'i telah diamalkan oleh masyarakat Pasai. Pengelana Portugis Tomé Pires (1512-1515) secara khusus menyatakan bahwa hanya satu dari "tiga raja Minangkabau" yang saat itu telah memeluk Islam.[8]

Salah seorang ulama terkemuka pertama Minangkabau ialah Syekh Burhanuddin (1646-1692), yang merupakan pelopor penyebaran Islam di daerah pedalaman Kerajaan Pagaruyung.[9][10] Syekh Burhanuddin yang menetap di nagari Ulakan, Pariaman merupakan murid dari ulama besar asal Aceh, Syekh Abdurrauf Singkil.[10] Sebaliknya terdapat pula ulama Minangkabau bernama Syekh Halilullah (bahasa Aceh: Teungku di Ujong) yang turut membantu Kesultanan Aceh dalam menyebarkan Islam di Pulau Simeulue.[11][12]

Syiar Islam[sunting | sunting sumber]

Filipina[sunting | sunting sumber]

Seorang tokoh Minangkabau telah tercatat dalam Tarsilah Sulu pernah sampai ke Sulu di Filipina Selatan, di antaranya Raja Bagindo (bahasa Sulu: Rajah Baguinda) yang sampai di Sulu[13] pada sekitar tahun 1397[14] setelah sebelumnya singgah di Zamboanga dan Basilan.[15] Selain Filipina Selatan (Mindanao), Raja Bagindo yang diperkirakan hidup pada akhir abad ke-14 itu disebutkan pula turut menyebarkan Islam ke Kalimantan bagian utara, yakni Brunei, Serawak, dan Sabah. Ia juga merupakan pendiri Kesultanan Sulu.[16]

Antropolog Mochtar Naim menyatakan bahwa seorang tokoh lain bernama Raja Sulaeman, yang diperkirakan berasal dari Minangkabau, telah menyiarkan Islam sampai ke Manila (1570) sebelum kedatangan kolonialis Spanyol di sana.[17]

Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Sulawesi juga pernah menerima para penyiar Islam Minangkabau ke tanah mereka. Lima orang datuk dari Minangkabau, Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, Datuk Patimang, Datuk Karama serta Datuk Mangaji telah menyiarkan agama yang mereka anut sampai saat ini sejak akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17.[18] Dalam Lontara Gowa, Lontara Tallo, dan Lontara Sukkuna Wajo, Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Patimang disebutkan berasal dari Koto Tangah, Payakumbuh Barat.[18]

Agama Islam di Kerajaan Kutai juga disebarkan Datuk Ri Bandang bersama-sama Tuan Tunggang Parangan pada masa pemerintahan Raja Aji Mahkota, yang memerintah antara tahun 1525 hingga 1589. Sementara Datuk Ri Bandang kembali ke Sulawesi, Tuan Tunggang Parangan menetap di sana dan berperan besar dalam menyebarkan Islam sehingga rakyat Kutai, Kalimantan Timur akhirnya banyak yang memeluk Islam.[19][20]

Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Tiro disebutkan juga sebagai dua orang tokoh yang membawa agama Islam ke Bima, Nusa Tenggara Barat.[21] Masyarakat Bima menyelenggarakan sebuah upacara bernama Hanta Ua Pua untuk memperingati Maulid Nabi dan masuknya Islam ke Bima oleh para penyebar agama tersebut.[21]

Jawa[sunting | sunting sumber]

Tidak tertutup kemungkinan pula bahwa di tanah Jawa terdapat ulama keturunan Minangkabau. Masyarakat di kota Lasem, Jawa Tengah, mengenal seorang tokoh bernama Sultan Mahmud atau juga disebut Sul­tan Minangkabaui. Menurut cerita rakyat, Sultan Mahmud terdampar di Lasem, dan kemudian menjadi murid Sunan Bonang (1565-1525). Menurut cucu KH Ma’shum, Mu­hammad Zaim bin Ahmad, kakeknya merupakan ke­turunan dari tokoh Sultan Mahmud tersebut.[22]

Perjuangan dan perlawanan[sunting | sunting sumber]

Tuanku Imam Bonjol; ulama Minangkabau abad ke-19

Setelah sekian abad sejak masuknya Islam di Indonesia, timbullah pergesekan antara kolonialisme Belanda dan penduduk setempat. Beberapa ulama besar Minangkabau, selain memimpin umat di bidang agama, turut serta memimpin perlawanan rakyat kepada kekuatan kolonial tersebut, baik melalui perjuangan bersenjata maupun dalam pendidikan umum dan pergerakan.

Masa awal kolonialisme[sunting | sunting sumber]

Tiga orang ulama yang kembali dari ibadah haji mereka pada tahun 1804, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik, menjadi penganjur gerakan puritanisme agama Islam di Sumatera Barat.[23] Mereka menyerang adat dan kebiasaan lama yang mereka anggap tidak sesuai, dan mendesak masyarakat untuk melakukan kewajiban formal agama Islam.[23] Terjadilah perang saudara pada tahun 1803-1838 antara Kaum Padri (kelompok pendukung) dan Kaum Adat (kelompok penentang) gerakan tersebut.[23]

Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) adalah ulama dari Bonjol, Pasaman, yang kemudian menjadi salah seorang pemimpin dalam Perang Padri itu.[24] Ia menjadi pemimpin setelah wafatnya Haji Miskin dan Tuanku Nan Renceh yang memimpin Kaum Padri sebelumnya.[24] Tuanku Imam Bonjol di kemudian hari mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Pemerintah Indonesia atas perjuangannya dalam melawan kolonialisme.[25]

Pada tahun 1821, Kaum Adat meminta dukungan Belanda untuk mengatasi Kaum Padri.[26] Namun Belanda malah memanfaatkannya untuk memperluas daerah kekuasaannya sendiri, sehingga pada tahun 1833 bergabunglah Kaum Adat bersama Kaum Padri dan berbalik melawan Belanda.[26] Meskipun pada akhirnya peperangan ini dimenangkan Belanda pada tahun 1838, sejarawan Merle Ricklefs berpendapat bahwa Perang Padri meninggalkan kesan yang mendalam di tengah-tengah masyarakat Minangkabau.[27] Masyarakat menjadi berkomitmen terhadap ajaran Islam yang ortodoks, serta peranan Islam sebagai bagian dalam adat dan kebiasaan masyarakat menjadi amat kuat.[27]

Gerakan reformis dan tradisi[sunting | sunting sumber]

Buya Hamka; ulama Minangkabau abad ke-20

Para ulama Minangkabau sejak tahun 1900-an cenderung lebih berfokus pada pendidikan dan aktivitas intelektual daripada perlawanan fisik. Gerakan modernisme Islam di Timur Tengah, yang antara lain digerakkan oleh Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Rasyid Ridha, juga berimbas pada alim ulama Minangkabau di masa itu. Para ulama reformis di Sumatera Barat juga disebut "Kaum Muda", sedangkan para ulama pendukung tradisi disebut "Kaum Tua".[23][28]

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860–1916) adalah seorang ulama kelahiran Koto Gadang, Agam, yang menjadi imam besar non-Arab pertama di Masjidil Haram, Mekkah.[29] Ia merupakan guru bagi ulama-ulama besar nusantara pada zamannya, dan sangat kritis terhadap adat-istiadat dan praktik tarikat yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran agama.[29] Seorang sepupunya, Syekh Tahir Jalaluddin (1869-1956), juga banyak menganjurkan gagasan pembaharuan dan menerbitkan majalah reformisme Islam Al-Imam (1906) di Singapura yang isinya sejalan dengan majalah Al-Manar terbitan Rasyid Ridha di Mesir.[23]

Syekh Muhammad Jamil Jambek (1860-1947) adalah salah seorang pelopor ulama reformis di Minangkabau.[28] Ia banyak menganjurkan pembaharuan dan pemurnian Islam melalui ceramah atau dakwah secara lisan, serta menulis buku-buku yang menentang praktik tarikat yang berlebihan.[28] Haji Abdul Karim Amrullah (juga dipanggil Haji Rasul atau Inyiak Doto, 1879–1945) berasal dari Sungai Batang, Maninjau adalah tokoh lainnya yang mendirikan sekolah Islam moderen Sumatera Thawalib (1919), dan bersama Haji Abdullah Ahmad (1878–1933) merupakan orang Indonesia terawal yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Mesir.[30] Selain itu Haji Abdullah Ahmad juga menerbitkan majalah Al-Munir (1911) di Padang, yang mengusung ide kesesuaian Islam dengan sains dan rasionalitas moderen.[23] [28] Ulama lainnya Syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek, 1882-1963), berasal dari Parabek, Bukittinggi, turut mendirikan Sumatera Thawalib; di mana Syekh Ibrahim Musa mengelola sekolah cabang di Parabek, Bukittinggi, sedangkan Haji Rasul mengelola cabang di Padangpanjang.[28]

Syekh Muhammad Saad Mungka (1857-1942) adalah ulama pendukung tradisi tarikat, yang pernah dua kali mukim di Mekkah (1884-1900 dan 1912-1915).[28] Ia sezaman dengan Syekh Ahmad Khatib, dan keduanya terlibat polemik mengenai tarikat.[28] Syekh Khatib Ali dan Syekh Muhammad Dalil (juga dipanggil Syekh Bayang, 1864–1923) adalah tokoh-tokoh polemik ulama pendukung tradisi yang cukup menonjol. Di sisi lain, Syekh Abbas Qadhi dari Ladang Laweh melakukan modifikasi pendidikan surau, dengan mendirikan pendidikan dasar bersistim sekolah Arabiyah School.[28] Ia meminta Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (juga dipanggil Inyiak Canduang, 1871-1970) membuka sekolah pada tingkat yang lebih tinggi, sehingga Syekh Sulaiman mendirikan Madrasah Tarbiyah untuk menampung lulusan Arabiyah School.[28] Syekh Sulaiman juga mengajak Syekh Abdul Wahid dari Tabek Gadang, Syekh Muhammad Jamil Jaho dari Padang Panjang, dan Syekh Arifin Al-Arsyadi dari Batuhampar untuk mengembangkan pendidikan bersistim sekolah.[28] Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) (1930) kemudian menjadi organisasi wadah dalam mengembangkan pendidikan di kalangan mereka.[28]

Keprihatinan atas kondisi sosial, politik, dan ekonomi pasca kemerdekaan Indonesia dan di Sumatera Barat pada khususnya, membuat ketegangan antara kedua kelompok ulama tersebut kemudian memudar.[31] Kedua kelompok kemudian bertemu tanggal 10 Desember 1950, disusul dengan konferensi besar mubaligh dan alim ulama pada 21-23 April 1951.[31] Konferensi ini dihadiri wakil-wakil ulama dari hampir semua daerah di Sumatera Barat, serta sedikit dari Riau dan Jambi, yang umumnya adalah ulama yang berasal dari atau pernah belajar di Sumatera Barat.[31] Diputuskanlah misi bersama untuk mencerdaskan kehidupan para pemuda melalui pendidikan Islami, sehingga mereka bersatu dan mendirikan suatu sekolah tinggi Perguruan Tinggi Islam Sumatera Tengah.[31] Para pemuka kedua kelompok, seperti Ibrahim Musa Parabek, Sulaiman Ar-Rasuli, Mansyur Daud Dt. Palimo Kayo, Darwis Dt. Batu Besar, Nazaruddin Thaher, Saaduddin Jambek, dan A. Malik Sidik kemudian bersama-sama terlibat dalam kepengurusannya.[31]

Masa pergerakan hingga kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Buya Syafii Maarif; ulama Minangkabau abad ke-21

Menantu dan anak Haji Rasul, yaitu AR Sutan Mansur (1895–1985) dan Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka, 1908-1981), kemudian juga menjadi ulama terkenal. AR Sutan Mansur adalah seorang ulama yang pernah memimpin Muhammadiyah.[32] Sementara itu Hamka selain menjadi pemimpin Muhammadiyah (1953-1971) juga dikenal sebagai ulama internasional serta juga seorang sastrawan. Dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.[30]

Mohammad Natsir (1908-1993) adalah seorang ulama sekaligus tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia kelahiran Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.[33] Ia pernah menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se-Dunia, Ketua Dewan Masjid se-Dunia serta pemimpin partai politik Masyumi, serta pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia.[33] Natsir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, meskipun sebelumnya pernah bergabung dengan PRRI tahun 1958 untuk menentang Demokrasi Terpimpin di masa Orde Lama, dan sebagai pembangkang penanda-tangan Petisi 50 di masa Orde Baru.[33][34][35]

Ulama dan pemikir kontemporer[sunting | sunting sumber]

Syekh Yasin Al-Fadani (1915-1990) adalah salah seorang ulama keturunan Minangkabau yang lahir di Mekkah, Arab Saudi. Semasa hidupnya ia aktif memberi kuliah di Masjidil Haram, serta ia merupakan penulis buku Islam yang produktif. Bukunya banyak dibaca para ulama dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam di Arab Saudi maupun berbagai pondok pesantren di Asia Tenggara. Syekh Yasin adalah seorang ahli sanad hadist, ilmu falak, serta pendiri Madrasah Darul Ulum al-Diniyyah, Mekkah. Karyanya yang paling terkenal, Al-Fawaid al-Janiyyah, menjadi materi dalam mata kuliah ushul fiqih di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Kairo.

Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif adalah ulama abad ke-21 kelahiran Sumpurkudus, Sijunjung, yang pernah memimpin Muhammadiyah. Ia juga dipercaya menjabat President World Conference on Religion for Peace (WCRP), serta pernah dianugerahi Ramon Magsaysay Award oleh pemerintah Filipina.[36] Buya Syafii Maarif menempuh pendidikannya di Universitas Cokroaminoto Surakarta, IKIP Yogyakarta, Ohio State University, serta Chicago University.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Djokosurjo (2001). Agama dan Perubahan Sosial: Studi antara Islam, Masyarakat dan Struktur Sosial-Politik di Indonesia. LKPSM, Yogyakarta. hlm. 148. ISBN 9798867092, 9789798867095. 
  2. ^ Tjandrasasmita, Uka (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 72–73. Diakses 28 Juni 2013. 
  3. ^ Zakariya, Hafiz (2006). Islamic Reform in Colonial Malaya: Shaykh Tahir Jalaluddin and Sayyid Shaykh Al-Hadi. ProQuest. hlm. 118. 054286357X, 9780542863578. Diakses 28 Juni 2013. 
  4. ^ Navis, A.A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau, PT Grafiti Pers, Jakarta. Hlm. 24-26.
  5. ^ Tagliacozzo, Eric (2009). Southeast Asia and the Middle East: Islam, Movement, and the Longue Durée. NUS Press. hlm. 29–30. 9971694247, 9789971694241. Diakses 28 Juni 2013. 
  6. ^ Freeman-Grenville, G.S.P.; Stuart C. Munro-Hay (2006). Islam: An Illustrated History. Continuum. hlm. 235. ISBN 1441165339, 9781441165336. Diakses 28 Juni 2013. 
  7. ^ a b Lapidus, Ira M. (2002). A History of Islamic Societies. Cambridge University Press. hlm. 384. ISBN 0521779332, 9780521779333. Diakses 28 Juni 2013. 
  8. ^ Graves, Elizabeth E. (2007). Asal-Usul Elite Minangkabau Modern: Respons Terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 46. ISBN 9794616613, 9789794616611. Diakses 26 Juni 2013. 
  9. ^ Tuanku Mudo, Duski Samad (17 Juli 2012). "Perjalanan Syekh Burhanuddin Ulakan". Sumbar Online. Diakses 1 Juni 2013. 
  10. ^ a b Boestami, dkk. (1981). Aspek Arkeologi Islam Tentang Makam dan Surau Syekh Burhanuddin Ulakan, Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumatera Barat, Padang. Hlm. 20.
  11. ^ Makam Tengku di Ujung
  12. ^ Sanny, Teungku Abdullah (2007). "The Smong Wafe from Simeulue: Awakening and Changing. Post Tsunami Strategic Development of Regency of Simeuleu". in The Value of Indigenous Knowledge for Disaster Risk Reduction: A Unique Assessment Tool for Reducing Community Vulnerability to Natural Disasters (Simeuleu, Indonesia: Local Goverment of Simeuleu Regency). 
  13. ^ Shiv Shanker Tiwary & P.S. Choudhary, Encyclopaedia Of Southeast Asia and Its Tribes, 2009
  14. ^ Majul, Cesar Adib, (1981/1987), Islam in the Philippines. Manila: University of the Philippines (ed. ke-4), 1981. Terjemahan Indonesia: Moro, Pejuang Muslim Filipina Selatan, Jakarta: Al-Hilal, 1987.
  15. ^ The Coming of Islam to Sulu, The Official Website of the Ranao Council, Inc. © 2006. Diakses 14 Juni 2013.
  16. ^ "Kerinduan Orang-Orang Moro". Tempo. Diakses 23 Juni 1990. 
  17. ^ Naim, Mochtar (1971). Merantau: Causes and Effects of Minangkabau Voluntary Migration (Occasional Paper No. 5). Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 19. 
  18. ^ a b Ahmad M. Sewang, Islamisasi Kerajaan Gowa: abad XVI sampai abad XVII
  19. ^ Ada Tiga Makam Keramat di Desa Kutai Lama, Samarinda Pos Online, edisi Sabtu, 20 November 2010.
  20. ^ Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah nasional Indonesia, Volume 3, hlm 167, 294.
  21. ^ a b www.wisatanews.com Tradisi Hanta Ua Pua, Bentuk Penghormatan Atas Rasulullah dan Ulama
  22. ^ Walisongo Ada yang Keturunan Minangkabau? Padang Ekspres, 25 Juli 2012. Diakses 3 Juni 2013.
  23. ^ a b c d e f Assyaukanie, Luthfi (2009). Islam and the Secular State in Indonesia (ISEAS series on Islam). Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 35-38. ISBN 981230889X, 9789812308894. Diakses 25 Juni 2013. 
  24. ^ a b Hadler, Jeffrey (2008). Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism. Cornell University Press. hlm. 26. Diakses 25 Juni 2013. 
  25. ^ Radjab, M., (1964). Perang Paderi di Sumatera Barat, 1803-1838. Balai Pustaka. 
  26. ^ a b Sudarmanto, J.B. (2007). Jejak-Jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia. Grasindo. hlm. 207-208. Diakses 25 Juni 2013. 
  27. ^ a b Wawancara Merle C. Ricklefs dengan Rasjidi, 7 September 1977. Dalam Assyaukanie, Luthfi (2009). Islam and the Secular State in Indonesia (ISEAS series on Islam). Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 92. Diakses 25 Juni 2013. 
  28. ^ a b c d e f g h i j k Effendi, Djohan (2010). Pembaruan Tanpa Membongkar Tradisi. Penerbit Buku Kompas. hlm. 48–61, 87–91. ISBN 978-979-709-473-7. 
  29. ^ a b Oktavika, Devi Anggraini (16 January 2012). "Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Dari Minang ke Masjidil Haram (1)". Republika Online. Diakses 10 April 2013. 
  30. ^ a b Shobahussurur (2008). Mengenang 100 tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah Hamka. Jakarta: Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar. ISBN 979-177-850-7. 
  31. ^ a b c d e Asnan, Gusti (2007). Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 20–23. ISBN 9794616400, 9789794616406. 
  32. ^ "Ahmad Rasyid Sutan Mansur, Mengembangkan Muhammadiyah di Sumbar". Republika Online. 28 September 2008. Diakses 1 Juni 2013. 
  33. ^ a b c Luth, Thohir (1999). M. Natsir, Dakwah Dan Pemikirannya (dalam bahasa Indonesian). Gema Insani Pers. hlm. 21-27. ISBN 9795615513; 9789795615514. 
  34. ^ Dzulfikriddin, M. (2010). Mohammad Natsir dalam Sejarah Politik Indonesia: Peran dan Jasa Mohammad Natsir dalam Dua Orde Indonesia. Bandung: Mizan. ISBN 978-979-433-578-9. 
  35. ^ "Sumatera Barat Sambut Gelar Pahlawan Nasional Natsir". Majalah Tempo Interaktif. 2008-11-05. Diarsipkan dari aslinya tanggal 2011-10-29. Diakses 2012-05-28. 
  36. ^ Fauzi, Gamawan (1 November 2008). "Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Ma'arif, Satu Nomor Contoh Produk Merantau". Perum LKBN Antara. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]