Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Syekh Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi, bergelar Syekh Bayang (1864 – 1923) adalah seorang ulama asal Pesisir Selatan pada pertengahan abad 19. Ia pemimpin delegasi ulama tua (tradisional) moderat bersanding dengan pimpinan ulama tua radikal Syekh Khatib Ali Al-Padani, bermitra dialog dengan pimpinan ulama muda (modernis) yang radikal Syekh Dr. Haji Abdul Karim Amrullah dan yang moderat Syekh Dr. Abdullah Ahmad, dalam rapat besar 1.000 ulama di Padang, 15 Juli 1919. Ia Penulis buku laris yang disebut oleh B.J.O. Schrieke dengan kepustakaan pejuang abad ke-20 yang penuh moral yakni Taraghub ila Rahmatillah (1910).

Syekh Bayang[sunting | sunting sumber]

Ia digelari Syekh Bayang, karena ia salah seorang di antara ulama tua, pemimpin paham Tarekat Naqsyabandiyah di Padang, lahir di Bayang (Pancungtaba). Ia tinggi ilmunya di bidang Islam, banyak menulis buku fiqih dan tarekat, luas pengalaman serta moderat, menawarkan corak pikiran ikhtilaf (berbeda pendapat) di internal umat Islam, ittifaq (bersatu) di eksternal umat Islam sebagai strategi menghadapi penjajah. Ulama yang lahir di Bayang secara historis, tidak saja membuat Bayang menjadi sentra pendidikan Islam, tetapi pernah mengakses Bayang sebagai pusat pengembangan Islam di Pantai Barat Sumatera sekaligus pusat konsentrasi gerakan perlawanan rakyat di Sumatera Barat melawan penjajah dengan spirit Islam, berbasis di Surau Syekh Buyung Muda (murid Syekh Abdurrauf Singkil) di Puluikpuluik, Bayang (1666) di samping surau 5 temannya yakni Syekh Burhanuddin di Ulakan, Surau Baru Syekh Muhammad Nasir di Padang, Surau Syekh Sungayang di Solok, Surau Syeikh Padang Ganting, dan Surau Lubuk Ipuh (TBKW, 1914:249).

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Ayah Muhammad Dalil juga seorang ulama besar bernama Syekh Muhammad Fatawi, guru dari banyak ulama di Sumatera Barat. Sedangkan ibunya juga dari keluarga alim di Pancungtaba, yang namanya tidak dapat dikenal lagi. Ia ditinggalkan ibu dan bapak ketika masih kecil, namun tidak mematahkan semangatnya untuk belajar.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Muhammad Dalil mula-mula belajar dengan murid ayahnya Syekh Muhammad Jamil (tamatan Makah, 1876) saudara tua dari Syekh Muhammad Shamad (wafat di Mekah 1876). Kemudian ketika berumur 15 tahun, ia melintasi Bukit Barisan dari kampungnya Pancungtaba (Bayang) sampai di Alahan Panjang, Solok, di sana belajar agama dengan Syekh Muhammad Shalih bin Muhammad Saman, penulis buku fiqih Al-Kasyf. Karena pintar, ia digelar gurunya dengan Tuanku Bayang. Setelah itu ia belajar fiqih dan tarekat pula dengan Syekh Mahmud di Pinti Kayu, Solok.

Untuk memperdalam ilmu Islam lebih lanjut, Muhammad Dalil terus berkelana ke bekas Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, dan di sana memperdalam tarekat dengan seorang Syekh bernama Syekh Musthafa. Ia tidak saja menjadi murid kesayangan, bahkan isteri gurunya bernama Nenek Ayang (Siti Jalasah) meminangnya untuk dijadikan pasangan anak gadisnya bernama Siti Rahmah.

Setelah menikah dengan Siti Rahmah, Muhammad Dalil hijrah ke Padang tahun 1891. Di Padang ia membuka pusat pengajian halaqah di Rumah Asal, yaitu rumah gadang milik kaum isterinya, kemenakan Syekh Gapuak (pendiri Masjid Ganting, Padang) sekaligus membina masjid tertua di Padang itu. Banyak murid berdatang yang berasal dari berbagai penjuru di dalam/luar Sumatera Barat. Di samping membuka halaqah, ia aktif berdakwah dan termasuk da’i yang disukai jema’ah bahkan dihormati pembesar Belanda di Padang ketika itu.

Naik haji[sunting | sunting sumber]

Tahun 1903, Muhammad Dalil berangkat ke Makkah untuk naik haji sekaligus belajar memperdalam ilmunya dalam bidang ke-Islaman di sana. Tercatat gurunya di Makkah di antaranya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860 – 1917), mufti dan tiang tengah penegak Mazhab Syafi'i serta mawalli yang dipercaya Arab menjadi imam di Masjidil Haram, sekaligus mengajar fiqih dan matematik. Juga tercatat gurunya Syekh Jabal Qubis ahli tasawuf dan Tarekat Naqsyabandiyah asal Jabal Abu Qubis berseberangan dengan Jabal Quayqian, sebelah timur Makkah dekat dengan Masjidil Haram.

Ulama-ulama yang sama mendapat pendidikan dari Syikh Ahmad khatib dengan Syekh Bayang di antaranya ulama muda (modernis) empat serangkai yakni Dr.H. Abdul Karim Amarullah (Maninjau – Agam), Dr. Abdullah Ahmad (Padang), Syekh Jamil Jambek Al-Falaki (Bukittinggi), dan Syeikh Muhammad Thaib Umar (Sungayang- Tanah Datar) serta ulama tua (tradisional) dua serangkai ialah Syekh Khatib Muhammad Ali Al-Fadani (Padang) pimpinan ulama tua yang radikal penulis buku kepustakaan pejuang abad ke-20 Burhan Al-Haq, Syekh Tahir Jalaluddin Al-Falaki (ulama kharismatik Malaysia asal Bukittinggi, dan ayah dari Hamdan mantan Gubernur Pulau Pinang, Malaysia), Syekh Sulaiman Al-Rasuli (Candung), Syeikh Ibrahim Musa Parabek, Syeikh Arifin Batuhampar, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Ahmad Baruah Gunung Suliki, Syekh Abbas Ladang Lawas, Bukittinggi, Syekh Abdullah Abbas Padang Japang, Syekh Musthafa Padang Japang, Syekh Musthafa Husen Purba Baru, Syekh Hasan Maksum Medan Deli, Syekh KH. Muhammad Dahlan dll. dari Jawa – Madura, Kalimantan, Sulawesi dan dari negara- negara Islam lainnya.

Organisasi[sunting | sunting sumber]

Pasca Makkah, Syekh Bayang di Padang melanjutkan halaqahnya dengan membentuk jaringan surau halaqah dalam titik utama seperti di Ganting Padang (rumah asal dan Masjid Raya Ganting), Pasar Gadang dan Palinggam Padang (rumah isterinya Siti Nur’aini asal Saningbakar), Seberang Padang dekat rumah isterinya Putti Ummu bersama temannya Syekh Muhammad Thaib, Lolong Padang, Ulak Karang dan Surau Kalawi Pasir Ulak Karang pimpinan Syekh Muhammad Qasim (Tuanku Kalawi) serta di kampungnya sendiri di Bayang dalam beberapa tempat pula. Ia mengajar berputar dalam jadwal yang diatur sedemikian rupa oleh pimpinan jaringan halaqah masing-masing. Disiplin ilmu yang diajarkan tafsir, tauhid, fiqh, ushul fiqh, nahu dan sharaf dll. Selain mengajar ia juga mengimpor buku-buku dan mengarang buku.

Dakwah[sunting | sunting sumber]

Era Syeikh Bayang ini merupakan gelombang ketiga supremasi pengembangan Islam di Sumatera Barat. Gelombang pertama pengembangan Islam generasi Burhanuddin Al-Kamil (1200) dan Burhanuddin Panglima Islam di Painan kemudian ke Ulakan (1523) dan Syeikh Buyung Muda (1666) Puluikpuluik angkatan Syeikh Burhanuddin Ulakan (1666) dilanjutkan generasi Tuanku Nan Tuo pasca Padri (1837).

Gelombang kedua berawalnya pembaharuan pemikiran Islam adalah era Syeikh Ahmad Chatib Al-Minangkabawiy (yang tadinya dikirim belajar ke Mekah, pergi bersama ayahnya yang Khatib Nagari itu naik hajji tahun 1871) diteruskan dengan era gerakan murid-muridnya. Gerakan pembaharuan dilanjutkan murid Syeikh Ahmad Chatib yang terkemuka di kalangan ulama tua (tradisional) dikenal dua serangkai Syeikh Chatib Ali (Padang) dan Syeikh Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi sendiri (Bayang, Pesisir selatan), di kalangan ulama kaum muda (modernis) dikenal empat serangkai yakni Syeikh Dr. H.Abdul Karim Amrullah dari Mninjau, Syeikh Muhammad Jamil Jambek di Bukittinggi, Syeikh Muhammad Thaib Umar di Sungyang dan Syeikh Dr.H. Abdullah Ahmad di Padang. Empat ulama modernis ini merupakan ulama penyambung mata rantai perjuangan pembaharuan Islam di Minangkabau sejak awal abad ke-20.

Gerakan pembaharuan pemikiran Islam murid Syeikh Ahmad Chatib di Minangkabau semakin mengambil bentuk awal abad ke-20. Diwarnai dengan taktik politik adu domba Belanda yang menghembuskan angin pertentangan kepada dua golongan Islam sama-sama murid dari Syeikh Ahmad Chatib yakni Kaum Muda (Modernis) dipimpin DR. H. Abdul Karim Amarullah yang radikal serta kawan-kawannya empat serangkai yang moderat dan Kaum Tua (Tradisional) dipimpin Syeikh Chatib Muhammad Ali Al-Fadaniy yang radikal dan Syeikh Bayang (Syeikh Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi) yang moderat. Pertentangan kaum muda dan kaum tua itu disusupi PR kepada dalam 40 masalah khilafiyah, ditengahi rapat 1000 ulama yang sangat a lot di Padang, 15 Juli 1919 dipimpin BJO Schrieke bekas ketua pengajaran di HIS. Syeikh Bayang terlibat lansung dalam rapat besar 1000 ulama itu sebagai pemimpin ulama tua yang moderat dan penuh moral (BJO Schrieke, 1973:72) didukung Syeikh Chati Ali pimpinan ulama tua yang radikal, berhadapan dengan ulama muda dipimpin Dr. Hajji Abdul Karim Amrullah (radikal) dan Dr. Abdullah Ahmad (moderat). Di antara ulama tua moderat pengikut Syeikh Bayang ialah Syeikh Muhammad Thaib (Seberang Padang), Syeikh Abdullah (Belakang Tangsi Padang), Syeikh Muhammad Qasyim (Ulak Karang Padang asal Raorao Batusangkar), Syeikh Abdullah Basyir (orang keramat Berok Padang), Syeikh Harun bin Abdul Ghani (Toboh Pariaman), Syeikh Sulaiman Arrasuli (Candung), Syeikh Abdurrahman (kakek H. Ilyas Ya’kub) serta sejumlah ulama Lubuk Aur yakni Ahmad Dores, Fakih Rumpunan, Fakih Mas`ud, Khatib Dzikir, Penghulu Raja Muda, Imam Machudum, Manjang, Saitik, Sarnedi, Silapau, Syamsiah, Dunanenjung dan diperkuat Syeikh Batangkapas, Syeikh Ismail (Palangai, Balaiselasa) dll.

Pasca rapat besar 1.000 ulama itu, semangat pembaharuan semakin menggelorakan semangat ulama-ulama kaum muda yang sudah sejak awal menghirup angin pembaharuan dihembuskan majalah Al-Manar Rasyid Ridha dan ‘Urwat Al-Wusqa disambut Al-Imam Taher Jalaluddin di Singapura (saudara sepupu Ahmad Chatib) dan Al-Manar serta Al-Munir Al-Manar Dr. HAKA (ayah HAMKA) dan Dr. Abdullah Ahmad di Padang dan Padang Panjang. Kaum muda pembaharu ini mendapat pujian besar, terus melanjutkan pengaderan (pendidikan kader) terhadap generasi pembaharu, sentranya antara lain di Thawalib Padang Panjang, Parabek, Sungayang dan Padang Japang di samping juga menulis buku dan menerbitkan pers Islam seperti jenis Bulletin, Jurnal, koran dan Majalah. Demikian pula kaum tua (tradisional) giat menyusun kekuatan dan penulisan buku polemik dan apologetik pembelaan paham tarekat yang dianut.

Polemik[sunting | sunting sumber]

Syekh Bayang sendiri sejak awal melahirkan beberapa buku polemik dan dicetak berulang-ulang di antaranya, Taragub ila Rahmatillah (cet. ke-11 1916) merupakan buku laris dan disebut sebagai kepustakaan pejuang abad ke-20 yang penuh moral, Majmu wa Musta’mal (fiqh dogmatik), Miftahul Haq (fiqh) dan Dar Al-Mau`izhah (1326 H) disebut nazam apologetik pembela Tarekat Naqsyabandiyah, Thalab Al-Shalah (1916) syair nasihat, Inilah Soal–Jawab Bagi Segala Anak buku Pertanyaan popular mengenai fiqh dan dogmatik (cet. ke-3 1335 H), Rasul 25 (1918) dll.

Syekh Bayang wafat 2 Jumadil Awal 1342 H (1923). Ulama pejuang pendidikan Islam ini, ironisnya banyak dicatat dalam sejarah kolonial dan nyaris tidak dikenal lagi dalam sejarah dan historiograpi domestik. Saksi yang ditinggalkan menjadi saksi bisu Masjid Raya Ganting Padang dan di arah mihrabnya tidak jauh dari rumah anaknya Aisyah terdapat makam ulama ini dengan meja Turki yang indah.

Ia dianugerahi anak 20 orang putra putri, yakni 10 dari pihak isterinya Siti Rahmah, di antaranya: Khaidir, Saida, Hajjah, Hafsah, syafi’i, Abu Bakar, Aisyah dan tiga orang lagi tidak dikenal karena telah lama meninggal dunia, serta 10 anak dari pihak istrinya Siti Nuar’aini, di antaranya Wahid, Syawijah, Amin, Nurdiyah, Syamsudin, Rusyd, Muhammad Saad, Nurjani, dan dua orang anak laki-laki tidak dikenal, karena meningal sejak kecil.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Abdul Munaf Al-Amin, Imam Maulana,

tt. Muballigh Al-Islam. Padang: PP Batangkabung. Makalah ringkasan hasil penelitian Yulizal Yunus, tahun 1982. Dipersiapkan untuk ensiklopedia Islam di Indonesia, Bappenas, tahun 2003. Pernah dimuat dalam buku kumpulan ulama Sumatera Barat buku-2 tahun 2002. Pernah pula di presentasikan di berbagai forum Ilmiah. Hasil penelitiannya sudah pernah diterbitkan dalam bentuk buku tahun 2000.

  • Edwar, ed.,

1981 Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Sumatera Barat. Padang: Islamic Centre Sumatera Barat Mestika Zed, Dr., 2002 Riwayat Hidup dan Perjuangan Ulama Sumatera Barat. Padang: Islamic Centre Sumatera Barat.

  • Schrieke, BJO., terj.,

1973 Pergolakan Agama di Sumatera Barat, Sebuah Sumbangan Bibliografi. Jakarta: Bhratara. Van Ronkel, Dr, Ph.S., 1916 Raport Betreffendle de Godsdienstige Verschijuselenter Sumatra’s Weskust. Batavia: Lands Drukkerij

  • Yulizal, Yunus,

1999 Sastra Islam, Kajian Syair Apologetik Pembela Tarekat Naqsyabandi Syeikh Bayang. Padang: IAIN-IB Press. ___________, 2000 Pulau Cingkuk Saksi Perjuangan Anak Pesisir. Padang: IAIN-IB Press. ___________, 2003 Islam Masuk dan Berkembang di Pantai Barat Sumatera, Fenomena Gerbang Selatan Sumatera Barat (makalah). Padang: Pusat Pengkajian Sejarah dan Nilai Tradisional. ____________, 2003 Kesultanan Indrapura dan Mandeh Rubiyah di Lunang, Spirit Sejarah dari Kerajaan Bahari hingga Semangat Malayu Dunia. Padang: Pemkab. Pesisir Selatan – IAIN IB Press.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]