Tuanku Nan Renceh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tuanku Nan Renceh
Makam Tuanku Nan Renceh.jpg
Makam Tuanku Nan Renceh di Kamang Mudik, Kamang Magek, Agam
LahirAbdullah
1780
Bendera Kerajaan Pagaruyung Nagari Kamang, Luhak Agam, Minangkabau
Meninggal1825 (umur 45)[1]
Bendera Kerajaan Pagaruyung Mejan, Jorong Bansa, Kamang Hilir, Kamang Magek, Agam, Minangkabau
KebangsaanBendera Kerajaan Pagaruyung Minangkabau
PekerjaanUlama
Dikenal atas- Pejuang anti penjajahan
- Pemimpin kaum Padri

Tuanku Nan Renceh (1780—1825) adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan penjajahan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri dari tahun 1803-1838. Tidak banyak diketahui data mengenai tokoh ini, selain seorang figur karismatik, ia juga dikenal komitmen dalam menegakkan syariat Islam. Sedangkan dari catatan Belanda, tokoh ini merupakan sosok antagonis, dan dianggap bertanggung jawab atas adanya tindakan kekerasan di Dataran Tinggi Padang.

Nama asli dari Tuanku Nan Renceh adalah Abdullah. Ia lahir di Nagari Kamang pada tahun 1780 dan meninggal dunia dalam perang Padri. Ia merupakan murid dari Tuanku Nan Tuo.[2] Ia kemudian menjadi guru yang banyak melahirkan pejuang perang Padri.

Kedatangan tiga orang haji dari Mekah tahun 1803 telah mengilhami Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mulai mengumandangan "jihad" atas segala bid'ah di Minangkabau, yakni dengan menggalakkan dakwah menyebarkan Sunnah.[2] Ide-ide pembaharuan yang diterapkan Tuanku Nan Renceh terhadap perubahan kebiasaan masyarakat termasuk model sistem adat matrilineal mendapat tantangan dari para penghulu pada beberapa nagari di Minangkabau yang bersikeras ingin memperjuangkan tradisi turun temurun Minangkabau, sehingga kemudian melahirkan gerakan Paderi dengan pendekatan konflik.[3]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Suryadi (16 November 2007). "Kontroversi Kaum Paderi: Jika Bukan Karena Tuanku Nan Renceh". Blog dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diakses tanggal 27 Mei 2019. 
  2. ^ a b Azra, A., (2004), The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern 'Ulamā' in the Seventeenth and Eighteenth Centuries, University of Hawaii Press, ISBN 0-8248-2848-8.
  3. ^ Susanto, B., Ge(mer)lap Nasionalitas Postkolonial, Kanisius, ISBN 979-21-1981-7.