Al-Munir (majalah)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Al-Munir adalah majalah Islam dwi-mingguan berbahasa Arab-Melayu yang pernah terbit di Padang. Terbit perdana atas prakarsa Abdullah Ahmad pada awal April 1911, Al-Munir tercatat sebagai media massa Islam pertama di Indonesia.[1][2][3] Kelahirannya seringkali dikaitkan dengan majalah Al-Imam pimpinan Tahir Jalaluddin Al-Azhari di Singapura (1906–1909). Majalah ini memuat artikel-artikel terbaru yang sebelumnya tak pernah diterbitkan. Selain Abdullah Ahmad, beberapa nama seperti Abdul Karim Amrullah, Muhammad Thaib Umar dan Sutan Muhammad Salim pernah tercatat di jajaran dewan redaksi.

Mengusung misi sebagai media gerakan Kaum Muda, majalah ini memainkan peran penting dalam gelombang pembaruan Islam jilid kedua di Minangkabau pada awal abad ke-20. Majalah ini menampilkan beberapa rubrik di antaranya memuat artikel yang membahas persoalan keagamaan Islam, forum tanya jawab yang umumnya berkenaan hukum fikih, perkembangan pemikiran Islam di dunia, dan kronik yang biasanya diterjemahkan dari majalah-majalah Islam Timur Tengah. Namun, akibat kendala dana, majalah ini berhenti terbit pada tahun 1915. Meski begitu, kelahiran Al-Munir segera disusul oleh penerbitan sejenis oleh berbagai gerakan Islam di Nusantara.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1906, muncul majalah Al-Imam di Singapura di bawah asuhan Tahir Jalaluddin Al-Azhari. Majalah ini dalam sejarahnya mempunyai keterkaitan yang erat dengan Al-Urwatul Wusqa, majalah yang diterbitkan oleh Jamal-al-Din Afghani dan Muhammad Abduh di Paris, Prancis.[2] Majalah ini tersebar luas di Semenanjung Malaya dan Pulau Sumatera. Salah satu daerah yang mendapat pengaruh paling kuat dari penerbitan Al-Imam adalah Minangkabau.[4]

Setelah penerbitan Al-Imam terhenti pada tahun 1909, delegasi Minangkabau Abdullah Ahmad segera menemui pimpinan majalah Al-Imam di Singapura. Dalam kunjungannya, Abdullah Ahmad menyampaikan maksud untuk menerbitkan majalah dengan visi dan misi dakwah yang sama.[5] Pulang dari kunjungan ke Singapura, Abdullah Ahmad dengan dukungan para pedagang lokal mulai merintis penerbitan Al-Munir di Padang.[6]

Perkumpulan ulama pendiri Al-Munir tergabung dalam Sjarikat Ilmu, yang sekaligus menjadi badan penerbitan dan pengelola Al-Munir.[7] Anggotanya terdiri dari para ulama dari kelompok pembaru di Minangkabau atau sering disebut Kaum Muda. Abdullah Ahmad tidak menjadi pengurus harian. Pimpinan harian majalah adalah Marah Muhammad. Dalam jajaran dewan redaksi, yang diketuai oleh Sutan Djamaluddin Abubakar, tercatat sejumlah nama di antaranya Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka), Muhammad Thaib Umar, dan Sutan Muhammad Salim (ayah Agus Salim).[8][9] Penulis-penulis lain yang tidak masuk dalam struktur kepengurusan di antaranya Ibrahim Musa Parabek, Abbas Abdullah, Zainuddin Labay El Yunusy, dan Muhammad Jamil Jambek.

Isi[sunting | sunting sumber]

Al-Munir menyatakan maksud berdirinya saat terbit edisi perdana pada awal bulan April 1911, tertanggal 1 Rabiulakhir 1329 Hijriyah.[10] Menurut Masoed Abidin dalam Ensiklopedi Minangkabau, tujuan penerbitan majalah Al-Munir dapat terlihat dari namanya yang berarti lilin atau suluh.[10] Majalah ini terbit setiap hari Sabtu, pada awal dan pertengahan bulan dalam kalender Islam.[11] Sebagian besar edisinya berjumlah 16 halaman. Tulisan dalam Al-Munir menggunakan tulisan Arab-Melayu, sebagaimana pada awal abad ke-20 sebagian masyarakat Minang masih banyak yang hanya pandai menulis dan membaca tulisan Arab-Melayu. Namun, ejaan yang digunakan mengikuti standar ejaan yang dipakai pada sekolah-sekolah pemerintah kolonial.[12]

Untuk mendistribusikan majalah dan memungut uang langganannya, Al-Munir mempunyai 31 agen di berbagai daerah yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya.[13] Faktor penyebab luasnya penyebaran majalah ini adalah karena memanfaatkan jaringan penyebaran majalah Al-Imam yang sudah berhenti penerbitannya.[14] Sejak penerbitan pertama, Al-Munir telah didistribusikan kepada pembaca di seluruh daerah Sumatera, Jawa dan Semenajung Malaya.[15] Namun, dalam perkembangan selanjutnya terjadi penambahan dan perkembangan jumlah pembaca seperti ke Sulawesi dan Kalimantan.[16][17]

Dari segi isi, Al-Munir memiliki beberapa kesamaan dengan Al-Imam. Banyak masalah-masalah yang sudah dimuat dalam Al-Imam kembali dimuat dalam Al-Munir.[18] Isi majalah Al-Munir secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian; tajuk rencana, surat kiriman, tanya jawab, dan berita dalam/luar negeri. Selain itu, terdapat pula ruangan terjemahan dari majalah-majalah Timur Tengah seperti Al-Manar dan Al-Ahram. Artikel-artikel yang ditulis dan jawaban-jawaban terhadap surat-surat pembaca banyak berkenaan dengan masalah-masalah fikih dan akidah. Selain mengargumentasikan kesesuaian Islam dengan sains dan rasionalitas modern, Al-Munir giat menyerukan kepada umat Islam untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni dengan menghapuskan taqlid dan menentang praktik bi'dah, khurafat, dan tarekat yang ekstatik.[19][2]

Melalui Al-Munir, para ulama dari Kaum Muda mengemukakan ijtihad mereka terhadap beberapa masalah yang sebelumnya diharamkan oleh ulama tradisional, seperti berfoto hukumnya boleh, atau memakai dasi dan topi tidak haram hukumnya.[10]

Berhenti terbit[sunting | sunting sumber]

Al-Munir berhenti terbit pada tahun 1915.[20] Pada edisi terakhir tertanggal 15 Rabiulawal 1333 [Kalender Masehi: 31 Januari 1915] ditampilkan karangan perpisahan dengan judul "Khatama". Dalam karangan itu dinyatakan bahwa "Al-Munir tak dapat dilanjutkan lagi. Namun, kepada pembaca dan masyarakat Islam dianjurkan agar terus menambah ilmunya dengan rajin membaca."[21] Terhentinya penerbitan majalah ini ditenggarai akibat kekurangan dana. Pada edisi-edisi terkahir berkali-kali dimuat pengumuman kepada agen-agen dan langganan agar mengirimkan uang langganannya. Selain itu, para ulama yang mengelola majalah ini sama sekali tidak mempunyai latar belakang sebagai pedagang. Penerbitan pada waktu itu diadakan hanya untuk tujuan dakwah, tanpa dibarengi kemampuan bisnis dan profesionalitas.[22]

Tiga tahun setelah berakhirnya Al-Munir, atas usulan Abdul Karim Amrullah, Sumatera Thawalib menerbitkan majalah dengan nama Al-Munir Al-Manar di Padang Panjang pada tahun 1918.[11] Majalah ini dipimpin oleh cendekiawan Muslim Zainuddin Labay El Yunusi, yang merupakan kakak dari Rahmah El Yunusiyyah. Namun, majalah ini hanya bertahan selama enam tahun. Penerbitan Al-Munir Al-Manar terhenti setelah kematian Zainuddin Labay El Yunusi pada tahun 1924.[3] Meski begitu, Al-Munir Al-Manar kerap disebut sebagai kelanjutan majalah Al-Munir.[16] Sama dengan Al-Munir, majalah ini terbit dua kali sebulan, pada awal dan pertengahan bulan.

Penerimaan[sunting | sunting sumber]

Meskipun oplah Al-Munir tidak lebih dari 2.000 eksemplar, majalah ini beredar luas di sejumlah kawasan di Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Jawa. Namun, di Minangkabau sendiri, keberadaan majalah ini menimbulkan rekasi pro dan kontra.

Setelah kehadiran Al-Munir, segera muncul majalah-majalah dengan semangat yang sama di kawasan Minangkabau, seperti Al-Akbar yang berbasis di Adabiyah School. Jaringan Sumatera Thawalib di berbagai daerah menerbitkan majalah yang diedarkan terbatas, seperti Al-Bayan di Parabek, Al-Basyir di Sungayang, Al-Ittiqan di Maninjau, dan Al-Imam di Padang Japang.[23] Begitu pula kalangan ulama konservatif, yang belakangan dijuluki Kaum Tua, menerbitkan majalah tandingan, seperti Suluh Malayu di bawah pimpinan Syekh Khatib Ali, dan Al-Mizan di bawah pimpinan Haji Abdul Majid dan Hasan Basri.[21]

Pada tahun 1916, Abdullah Ahmad bekerja sama dengan Ketua Sarekat Islam Tjokroaminoto untuk mendirikan majalah Al-Islam di Surabaya.[7] Majalah ini menandai dimulainya penerimaan kaum Muslim Nusantara terhadap penggunaan huruf Latin, selain tetap menggunakan huruf Jawi.[24][19]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Rujukan
  1. ^ Merle Calvin Ricklefs 2001, hlmn. 214.
  2. ^ a b c Luthfi Assyaukanie 2009, hlmn. 38.
  3. ^ a b Mochtar Effendy 2001, hlmn. 411.
  4. ^ Burhanuddin Daya 1990, hlmn. 117.
  5. ^ Hamka 1962, hlmn. 99-100.
  6. ^ Yudi Latif 2005, hlmn. 181.
  7. ^ a b Abuddin Nata 2005, hlmn. 15.
  8. ^ Al-Munir. No. 1/1911.
  9. ^ Hamka 1962, hlmn. 99.
  10. ^ a b c Masoed Abidin 2005, hlmn. 295.
  11. ^ a b Gusti Asnan & 200, hlmn. 167.
  12. ^ Al-Munir. No. 1/1911.
  13. ^ Syamsuri Ali 1997, hlmn. 193.
  14. ^ Syamsuri Ali 1997, hlmn. 193-194.
  15. ^ Al-Munir. No. 3/1912.
  16. ^ a b Yusuf Abdullah Puar 1989, hlmn. 83.
  17. ^ Marthias Dusky Pandoe 2001, hlmn. 296.
  18. ^ Deliar Noer 1982, hlmn. 43.
  19. ^ a b Yudi Latif 2005, hlmn. 182.
  20. ^ Burhanuddin Daya 1990, hlmn. 119.
  21. ^ a b Rusydi Hamka 1986, hlmn. 72.
  22. ^ Ensiklopedia Islam 2002.
  23. ^ Junus 1980, hlmn. 82.
  24. ^ Laffan 2003, hlmn. 178.
Daftar pustaka
  • Abuddin Nata (2005). Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Raja Grafindo Persada. ISBN 979-3654-58-9.
  • Ahmat Adam (1995). The Vernacular Press and the Emergence of Modern Indonesian Consciousness (1855-1913). ISBN 978-0-87727-716-3.
  • Burhanuddin Daya (1990). Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam. Jakarta: Tiara Wacana.
  • Cristian Dobin (1987). Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy. London: Curzon Press.
  • Deliar Noer (1982). Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900–1942. Jakarta: LP3ES.
  • Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam (2002). "Ensiklopedia Islam, Jilid 4". Departemen Agama Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve. ISBN 979-8276-65-5.
  • Gusti Asnan (2003). Kamus Sejarah Minangkabau. Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau. ISBN 979-97407-0-3.
  • Hamka (1962). Ayahku. Jakarta: Uminda.
  • Harun Nasution (1992). Ensiklopedi Islam Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan. ISBN 979-428-134-4.
  • Hendra Naldi (2008). “Booming” Surat Kabar di Sumatra's Westkust. Yogyakarta: Ombak.
  • Luthfi Assyaukanie (2009). Islam and the Secular State in Indonesia. Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 981-230-889-X.
  • Mafri Amir (2000). Historiografi Pers Islam Indonesia. Jakarta: Quantum.
  • Mahmud Yunus (1996). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung.
  • Marthias Dusky Pandoe. A Nan Takana (2001). Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-709-002-9.
  • Masoed Abidin (2005). Ensiklopedi Minangkabau. Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau. ISBN 979-3797-23-1.
  • Merle Calvin Ricklefs (2001). A History of Modern Indonesia Since C. 1200. Stanford University Press.
  • Mochtar Effendy (2001). Ensiklopedi Agama dan Filsafat. Volume 3. ISBN 979-587-151-X.
  • M. Sanusi Latief (1989). Gerakan Kaum Tua di Minangkabau. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah.
  • Rusydi Hamka (1986). Etos Iman, Ilmu, dan Amal dalam Gerakan Islam. Pustaka Panjimas.
  • Syamsuri Ali (1997). Al-Munir dan Wacana Pembaharuan Pemikiran Islam 1911–1915. Padang: IAIN Imam Bonjol.
  • Yudi Latif (2005). Inteligensia Muslim dan Kuasa. Mizan Pustaka. ISBN 979-433-400-6.
  • Yusuf Abdullah Puar (1989). Perjuangan dan Pengabdian Muhammadiyah. Pustaka Antara. ISBN: 979-801-300-X.