Abdul Karim Tebuwung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kiai Haji Abdul Karim Tebuwung
Kiai Haji Abdul Karim Tebuwung

KH. Abdul Karim Tebuwung (lahir di Kabupaten Lamongan, Jawa TimurSenin Wage 11 Syawal 1245 H (5 April 1830), meninggal di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Selasa Legi, 28 Dzulhijah 1313 H (9 Juni 1896) pada umur 66 tahun, dimakamkan di Tebuwung, Dukun, Gresik) adalah salah seorang ulama kharismatik keturunan Sunan Drajat yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Tebuwung Dukun Gresik yang sekarang dikenal Pondok Pesantren Al-Karimi. Masa kecilnya bernama Raden Karmadin.[1]

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Ayahnya bernama Kyai Abdul Qohar (Raden Kair) merupakan anggota Laskar Pangeran Diponegoro yang ditugaskan di Sumenep pada masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman Pakunatadiningrat IKH. Abdul Karim adalah putra kedua dari 2 bersaudara. Ibunya bernama Sawilah. Kakaknya bernama : Raden Ayu Muqiroh.

Berdasarkan silsilah KH. Abdul Karim adalah keturunan Sunan Drajat dengan Ratnayu Condrosekar, puteri kediri. Sunan Drajat dengan Ratnayu Condrosekar memilki tiga anak, yaitu : Raden Arif, Raden Ishaq, dan Raden Sidiq. Dari Raden Sidiq menunkan KH. Abdul Karim.[2]

Silsilah beliau adalah Abdul Karim bin Abdul Qoh-har bin Darus bin Qinan bin Ali Mas’udi bin Ahmad Rifa’i bin Bisyri bin Ahmad Dahlan bin Muhammad Ali bin Abdul Hamid bin Shiddiq bin Sunan Drajat (R.Qosim) bin Sunan Ampel (R. Rahmatullah) bin Ibrahim Asmaraqondi bin Jamaludin al-Akbar bin Ahmad Syâh Jalâlul Amir bin S. Abdullâh Khân bin S. Abdul Malik Azmat

Beliau menikah dengan istri pertama Mas Amirah keturunan dari Jaka Tingkir dan dengan istri kedua Nyai Khodijah

KH. Abdul Karim dikaruniai anak sebelas, yaitu :[1]

Dari istri pertama :

  1. Fathimah, meninggal diusia balita
  2. KH Muhammad (Ahmad Zahid) Tebuwung
  3. KH. Ishaq Surabaya
  4. Nyai Maimunah Ujung Pangkah
  5. Nyai Shofiyah Sidayu
  6. Nyai Atiqoh Mentaras

Dari istri yang kedua

  1. KH. Musthofa
  2. Nyai Alimah
  3. Nyai Muthiah
  4. Nyai Zainab
  5. KH. Murtadlo

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Dalam usia 2 tahun ayahanda beliau tercinta wafat. Nyai Syawilah kemudian dinikahi Kiai Asnawi, adik dari Kiai Abdul Qahar dan hijrah ke Kauman Sidayu Gresik. Kiai Asnawi mendidik anak tirinya dan sekaligus keponakan ini penuh dengan kesabaran dan penuh cinta kasih. Apalagi beliau tidak dianugerahi anak. Dilihat dari nur yang ada di dahi Karmadin ada tanda-tanda untuk menjadi waliyullah seperti datuk beliau, Sunan Drajat dan Sunan Ampel. Kiai Asnawi mengajari mulai dari kecil untuk salat berjamaah dan memperbanyak puasa. Kiai Asnawi memegang ilmu kesunandrajatan dari ayah beliau, Kiai Qinan. Karmadin pun disiapkan mulai sejak dini untuk menjadi waliyullah dan ulama. Dikenalkan bagaima riyadhah nyirih, mutih, ngebeleng, pati geni, polopendem dan lain-lain.[1] Agar Karmadin tidak terlalu manja dan bisa bergaul, Kiai Asnawi menyuruh mengaji ke Kiai Mustahal Sidayu, yang masih keturunan Jaka Tingkir. Di sini beliau konon bertemu dengan Abdul Jabar Maskumambang. Setelah dikira cukup, kiai Asnawi menganjurkan belajar ilmu kewalian kepada Mbah Suto (kiai Maulani) di Sendang Duwur Paciran. Mulai dari pesantren inilah Karmadin riyadhah puasa makan Karak (nasih basi yang dikeringkan). Karak dimasukkan ketupat lalu digantung, dibuka sedikit, ditarik ketika buka puasa sehingga hanya makan sesuai dengan keluarnya. Keluar 3 dimakan 3, keluar 4 dimakan 4 dan seterusnya

Mbah Suto yang makrifatullah, melihat potensi batin yang ada dalam diri Karmadin. Beliaupun mengetes kehebatan Karmadin. Semua santri dikumpulkan. “ Wahai para santriku semua berendamlah di dalam sendang (sungai) ini. Barangsiapa yang kuat berendam paling lama, akan saya doakan agar dia dan keturunannya memjadi ulama yang agung dan memiliki keturunan yang banyak, “ kata Mbah Suto di malam hari. Para santri berendam semua. Ada yang bertahan 5 menit. Ada yang bertahan 10 . Sambil berzikir, berdoa dan memandang ke sungai, Mbah Suto melihat satu persatu santrinya. Setelah sekian lama dan dicek, Karmadin belum keluar dari air. Mbah Suto dengan keilmuan mengangkat Karmadin dari dalam air dan dalam keadaan sehat wal afiat. Beliau kemudian mendoakannya dan menurunkan ilmu kewalian kepada Karmadin. Setelah dirasakan cukup khidmah di pesantren Mbah Suto, Karmadin berkelana belajar  ilmu makrifat ke  Tayu Pati.

Kendati ilmu syariat dan makrifatullah  yang sudah dipelajari dan diamalkan sudah banyak,  rasa haus dan hirah akan ilmu syariat dan makrifat mendorongnya untuk memuntut ilmu ke tanah Hijaz. Perjalanan dari Nusantara menuju Jedah berlangsung selama berbulan-bulan. Setelah menjalankan ibadah haji, Karmadin berganti nama Abdul Karim dan tidak langsung pulang ke tanah air. Abdul Karim tinggal di komunitas orang-orang Jawi (Jâwiyyîn) atau perkampungan yang dikenal dengan sebutan  “Pemukim Jawah” (Bilâd al-Jâwah). Sebutan jawah atau jawi ini tidak selalu merujuk pada orang-orang dari pulau Jawa, namun juga pada orang-orang dari Nusantara bahkan Asia Tenggara. Dalam hal lain kita juga mengenal huruf jawi atau arab pegon, suatu modifikasi aksara Arab untuk menuliskan bahasa lokal yang dikembangkan komunitas ini. Koloni Jawi ini termasuk yang terbesar dari semua bangsa yang berada di Makkah. Setiap jamaah haji yang sudah sampai di sana berubah setelah berhaji, ingin menimba ilmu kepada syekh-syekh di Makkah. [3]

Guru-guru[sunting | sunting sumber]

Guru-guru KH. Abdul Karim Tebuwung antara lain: [1]

  1. Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi
  2. Syekh Ahmad Zaini Dahlan
  3. Syekh Abdul Ghani al-Bimawi
  4. Syekh Yusuf Sumbulaweni
  5. Syekh Abdul Hamid Daghestani
  6. Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi
  7. Syekh Ahmad Dimyati
  8. Syekh Muhammad Khatib Duma al-Hambali
  9. Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki
  10. Dan lain sebagainya

Sedangkan teman-teman beliau semasa menimba ilmu di Makkah, antara lain:

  1. Syekh Nawawi al-Bantani
  2. Syekh muhammad bin Abdullah as-Sukahimi
  3. Syekh Muhammad Shaleh Darat
  4. Syekh Ahmad Khothib bin Abdul Lathif al-Minangkabau
  5. Sayyid Utsaman bin Yahya Betawi
  6. Syekh Kholil bin Abdul Lathif, Bangkalan
  7. Syekh Abu Bakar Syatho
  8. dan lain-lain[4]

Perjuangan[sunting | sunting sumber]

Setelah beberapa tahun lamanya di kota makkah beliau pulang ke kota Sidayu. Tidak lama kemudian menikah dengan Nyai Mas Amirah binti Raden Cokromenggolo. Di Sidayu bersama istri tercinta, berdakwah sambil berdagang hingga dikenal sebagai pedagang sukses.

Kedua pasangan ini dikarunia Allah SWT, putri cantik yang bernama Fathimah. Saking cintanya kepada putrinya, Fathimah diberi perhiasan emas yang banyak untuk dijadikan gelang, kalung dan cincin hingga kemudian musibah terjadi, Fathimah dimutilasi oleh pembantunya sendiri, dengan cara disembelih dan semua perhiasan diambil. Dari peristiwa ini Nyai Mas Amirah berwasiat agar keturunannya  tidak memakai perhiasan yang berlebihan. Semakin lama KH. Abdul Karim dan Nyai Mas Amirah semakin dikenal orang. Kemasyurahannya bukan hanya lantaran guru agama dan pedagang yang berhasil, melainkan dikenal juga sebagai tokoh muda ahli agama yang arif dan bijaksana serta disegani, baik oleh penduduk maupun pemerintah belanda. Pemerintah Belanda bermaksud mengangkat beliau menjadi qodhi di kadipaten Sidayu, namum beliau meolak dengan halus . Pada saat itu, Sidayu di Pimpin Kanjeng Sepuh Sedayu (Raden Adipati Aria Soeryo adiningrat (Bupati Sidayu 1817-1855).[5]

Pada tahun 1862 Pak Utsman (Warjo) Kepala desa Tebuwung, Dukun Gresik  tengah mencari seorang ulama’ yang sanggup membina masyarakatnya serta mau tinggal di desanya.  Pak Utsman masih sepupu Nyai Mas Amirah. Ibu Nyai Mas Amirah berasal dari Tebuwung.[1] Pak Utsman kemudian bermusyawarah dengan Nyai Mas Amirah  dan KH. Abdul Karim. Mereka semua kemudian menghadap ke Kanjeng Sepuh Sidayu. KH Abdul Karim diperintahkan untuk membina masyarakat Tebuwung dan sekitarnya yang pada saat itu mengikuti agama kapitayan, Hindu dan Budha. Dalam rangka melakukan puja bakti kepada sanghyang Tunggal, penganut kapitayan menyediakan sesaji berupa Tum-peng, Tu-mpi (kue dari tepung), Tu-mbu (keranjang persegi dari anyaman bambu untuk tempat bunga), Tu-ak (arak), Tu-kung (sejenis ayam) untuk dipersembahkan kepada sanghyang Tu-nggal yang daya gaib-Nya tersembunyi pada segala sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan gaib, Tu-ngkup, Tu-nda, wa-tu, Tu-gu, Tu-nggak, Tu-k, Tu-ban, Tu-rumbukan[6]  

KH Abdul Karim meninggalkan kota Sidayu menuju Desa Tebuwung. Anak-anaknya perempuannya semua diajak, selain kedua putra beliau, Muhammad Zahid dan Ishaq masih menuntut ilmu di Makkah. Mengingat beratnya tantangan di desa Tebuwung, kedua putra beliau dianjurkan untuk pulang untuk membantu perjuangan. KH. Abdul Karim, Nyai Mas Amirah, putra-putri beliau semua riyadhoh puasa mutih, patigeni, ngebeleng dan lain-lain-lain. Dalam suatu malam KH. Abdul Karim melihat ada sinar di Pemakaman di Suban Tebuwung. Beliau kemudian bermunajat dan berdoa. Beliau diberi petunjuk Allah bahwa yang ada sinarnya itu adalah makam Nyai Syarifah (Nyai Ayu), adik Sunan Kalijaga, Istri Sunan Ngudung, ibunda Sunan Kudus.[1]

Saat itu orang meninggal di Tebuwung tidak dikubur, tapi dibuang ke dalam gua. Di dekat Gua itu tempat penyembahan masyarakat Tebuwung, Sedangkan di Tengah-tengah desa menjadi tempat lokalisasi. KH. Abdul Karim sekelurga dan dibantu Pak Utsam sekeluarga kemudian mendirikan masjid di dekat Maqom Nyai Syarifah, + 1 km dari pesantren. Di masjid yang baru ini masyarakat Tebuwung yang sudah masuk Islam diajak oleh KH. Abdul Karim untuk membaca Maulid Nabi (asroqolan), menzikir Jailaniyyah ( Dulkadiran), baca wirdul lathif dan lain-lain.

Pak Utsaman dan sekeluarga kemudian menyerahkan lahan untuk pendirian Pesantren Tebuwung. KH. Abdul Karim kemudian menikahkan Muhammad Zahid dengan Fathimah yang masih keturunan Sulthan Abdurrahman Pakunatadingrat dan Bindarasaod Sumenep Madura Dakwah beliau kemudian diterima masyarakat sekeling Tebuwung, dan kemudian berdatanganlah para santri dari Gresik, Surabaya, Madura, Banten, dan lain-lain. Diantaranya KH. Munawwar, Sidayu. Setiap malam jumat wage, masyarakat Tebuwung diajak membikin apem dan sesudah maghrib diajak istighotsah yang berpindah-pindah, dari rumah ke rumah. Setiap tahun diadakan Haul Nyai Syarifah.

Pernah di Tebuwung di landa Pacekelik yang memprihatinkan sehigga terjadi kelaparan, baik para santri atau masyarakat. Kondisi ini membuat prihatin Nyai Mas Amirah. Putri saudagar kain ini , memintak ridho suami untuk kembali berdagang garmen. Untuk itu, Nyai Mas Amirah menyuruh suaminya untuk menikahi temannya, Khodijah. Permintaannya pun dikabulkan. Bisnis garmen Nyai Mas Amirah membawa keuntungan yang luar biasa sehingga beliau dikenal sebagai orang terkaya di kadipaten Sidayu. Hasil keuntungan digunakan untuk menopang Pesantren dan Perjuangan melawan kolonial Belanda.

KH. Abdul Karim dikenal sebagai ahli Hikmah yang kramat, kitab Syamsul Ma’arif dan kitab hikmah lain dikuasasi dengan baik. Sehingga Pesantren Tebuwung dikenal sebagai Pusat ilmu Hikmah. Pada hari Selasa legi 27 Dzul Hijjah 1313/ 9 Juni 1896, KH. Abdul Karim Wafat dan digantikan putra beliau KH. Muhammad Zahid (1896-1913 M)

Amaliyah[sunting | sunting sumber]

Diantara amaliyah yang dijalankan KH. Abdul Karim dalam membangun Pesantren dan Masyarakat, antara lain :[1]

  1. Shalat Berjamaah
  2. Baca Jailaniyyah (Yasin, Waqih, al_mulk, dll) setiap ba’da maghrib dan waktu hajat
  3. Baca wirdhul lathif, bakda subuh dan wirid lain hingga terbit matahari
  4. Baca ayat lima dan ayat tujuh setiap hari
  5. Wirid Nurun Nubuwat
  6. Baca Maulid Nabi setiap Malam Jum’at
  7. Baca Burdah Malam selasa
  8. Mengajarkan keluarganya dan Masyarakat untuk puasa nyirih 41 hari dan ditutup malam hari raya idul adha
  9. Mencintai ahlul bait dan ahlul ilmu
  10. Mengasuh Anak Yatim
  11. Mengelilingi kampung-kampung untuk mendoakan mereka agar diberi hidayah
  12. Menziarah makam para wali dan ulama
  13. Menanggalkan segala gelar keradenan dan tidak sombong karena keturunan Sunan Drajat
  14. Menanggalkan segala gelar keradenan
  15. Dan lain-lain

Kiprah Keturunan[sunting | sunting sumber]

Keturunan KH. Abdul Karim banyak berdakwah melalui pesantren, antara lain:

  1. Pesantren al-Karimi, Tebuwung Dukun Gresik, diasuh oleh KH. Abdul Muhsi keturunan KH. Murtadho
  2. Pesantren Al-Muniroh, Ujung Pangakah diasuh oleh keturunan Nyai Maimunan binti Abdul Karim
  3. Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji diasuh oleh keturunan KH. Musthofa
  4. Pesantren Qomarudin Bungah,  di asuh oleh KH. Iklil dari jalur KH. Musthofa
  5. Pesantren al-Amin, Tunggul diasuh oleh KH. Abdul Fattah, dari jalur KH. Musthofa
  6. Pesantren Al-Hidayah, Tarik Krian Sidoarjo, di asuh oleh KH. Muhammad Taufiq, keturunan  KH. Muhammad Zahid
  7. Pesantren al-Islah, Rengel Tuban, diasuh oleh KH. Muhammad Ishomuddin, keturunan  KH. Muhammad Zahid
  8. Pesantren Sunan Drajat al-Qosimiyyah, Parung, Bogor, diasuh oleh KH. Muhamad Munawwir al-Qosimi, keturunan  KH. Muhammad Zahid
  9. Dan lain-lain

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g "KH. Abdul Karim Tebuwung". Diakses tanggal 28 Agustus 2019. 
  2. ^ Sejarah Sunan Drajat. Surabaya: Tim Peneliti dan Penyusunan Buku Sejarah Sunan Drajat. 1998. hlm. 143. 
  3. ^ A. Steenbrink, Karel (1984). Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19. Jakarta: Bulan Bintang. hlm. 246. 
  4. ^ Zaini Dahlan, Ahmad (2017). Catatan Pemikiran Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Tentang Wahabisme. Jakarta: Wali Pustaka. hlm. 10. 
  5. ^ "MASJID KANJENG SEPUH". Diakses tanggal 28 Agustus 2019. 
  6. ^ Sunyoto, Agus (2011). Wali Songo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Tangerang: Transpustaka. hlm. 12. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]