Dimyathi Syafi'ie

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Dimyathi Syafi'ie
Bismillahirahmanirahim
Hadratussyekh
Kyai Haji
Dimyathi Syafi'ie
Berkas:KH. Dimyathi Syafi'ie.jpg
KH. Dimyathi bersama KH. Khamadulloh Dimyathi
Nama dan Gelar
Semua Gelar
Gelar (Islam) Hadratussyekh
Gelar
(Islam/Sosial)
Kyai Haji
Nama
Nama Dimyathi Syafi'ie
Nama lainnya
Mbah Dimyathi
Kelahirannya
Tahun lahir (M) 1912
Tempat lahir Wonokromo
Negara lahir
(penguasa wilayah)
Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta era  Hindia Belanda
Agama Islam
Bantuan kotak info

Kyai Haji Dimyathi Syafi'ie - Nama pengganti dari Mbah Dimyathi adalah pendiri Pondok Pesantren Kepundungan, salah satu Pesantren Islam yang tertua di Banyuwangi dan saksi perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia di tanah Blambangan.[butuh rujukan]

Biografi[sunting | sunting sumber]

KH. Dimyathi Syafi'ie lahir tahun 1912 M di desa Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, putra dari Kyai Syafi'ie. Thobiri adalah nama kecilnya. Saat usia 14 tahun, mulailah ia melalang dalam menimba ilmu agama dan saat itu ia diajak bersama sang kakak (Kiai Maksum) ke tanah Blambangan Banyuwangi.[butuh rujukan]

KH Dimyathi ketika masa-masa remaja, ia ingin menuntut ilmu ke luar dari wilayah Blambangan Banyuwangi.[butuh rujukan] Maka, ia pun mengutarakan maksudnya ini kepada ibundanya.[butuh rujukan] Namun sang ibu menyatakan bahwa keluarganya sedang tidak memiliki bekal yang cukup untuk membiayai keinginannya.[butuh rujukan] Keluarga di Banyuwangi hanya memiliki tanah persawahan yang tidak dapat diharapkan banyak karena sulitnya zaman akibat penjajahan.[butuh rujukan]

Namun Dimyathi tampaknya telah teguh dengan keinginannya.[butuh rujukan] Ia menginginkan untuk menjual sawah yang menjadi bagain warisannya kelak ketika dewasa.[butuh rujukan] Kendati terheran-heran dan hampir tak percaya, Ibunya pun kemudian menyangupi ketika melihat tekad bulat anaknya ini.[butuh rujukan] Ibunya lebih heran lagi ketika melihat bahwa semua uang hasil penjualan sawah satu hektare bagiannya, dibelikan kitab. Saking herannya ibunya bahkan sempat mengatakan, ”Makan tuh kitab.”[butuh rujukan]

Walhasil Dimyathi pun segera meninggalkan rumahnya untuk mondok ke Pesantren Termas, di Pacitan.[butuh rujukan] Karena seluruh uangnya telah dibelikan kitab, maka ia hanya dibekali oleh ibunya dengan sekarung cengkaruk/ karak campur jagung.[butuh rujukan] Bahan makanan ini berupa bahan yang menunjukkan betapa sebenarnya keluarga Dimyathi di Banyuwangi juga sama-sama susah akibat penjajahan Belanda.[butuh rujukan]

Namun rupanya dengan bekal hanya sekarung cengkaruk ini, Dimyathi mampu bertahan hingga tiga tahun di Pesantren Termas. Rupanya ia bertahan di Termas dengan cara bekerja ke sawah untuk mencukupi kebutuhannya selama mondok.[butuh rujukan] Karenanya Dimyathi kemudian menerapkan metode ini di pesantrennya yang telah ia bangun kembali.[butuh rujukan]

Selama di Pesantren Dimyathi memang terkenal sebagai santri yang tekun, konon ia adalah santri kesayangan sang pengasuh Pesantren Termas.[butuh rujukan] Pada saat itu Pesantren Termas berada di bawah bimbingan KH. Hafidz Dimyathi.[butuh rujukan] Karena saking sayangnya, di sinilah Dimyathi berganti namanya menjadi Dimyathi, nama yang digunakannya hingga akhir hayatnya. Sebelumnya, nama lahirnya adalah Muhibbut Thobari. Maka setelah boyongan dari Pesantren Termas, ia pun menggunakan nama Dimyathi. Sementara nama lahirnya, Muhibbut Thobari, tak lagi digunakan.[butuh rujukan]

Dalam pandangan KH Dimyathi, para santri sah-sah saja bekerja selama menimba ilmu di Pesantren, karena justru akan membantu mereka untuk mandiri sejak dini dan tidak membebani orang tua di rumah.[butuh rujukan] Pesantren dapat menyediakan lahan yang digunakan oleh para santri untuk bercocok tanam atau membuka usaha, asalkan tidak mengesampingkan tugas utamanya, yaitu belajar ilmu agama. Dengan demikian para santri dapat menopang sendiri hidupnya, sehingga tidak perlu dikirim oleh orangtua dari rumah.[butuh rujukan]

Begitulah yang dijalani Dimyathi selama mengaji di tiga Pesantren, yakni Pesantren Termas Pacitan, Pesantren Cemoro di bawah asuhan KH Abdullah Fakih dan Pesantren Idham Sari, Genteng di bawah bimbingan KH Abdullah Syuja’. Kedua pesantren yang terakhir berada di wilayah Banyuwangi sendiri.[butuh rujukan]

Maka demikian pun ia mempraktikkan ilmunya ketika telah mengasuh Pesantren. Para santri di Pondok Pesantren Nahdlatuth Thullabb tidak harus membawa bekal atau dibekali oleh orang tuanya dari rumah. Asalkan santrinya bekerja keras tentu dapat menopang kehidupan dan membiayai pendidikannya selama di pesantren.[butuh rujukan] Karenanya, dana pembangunan pesantren yang diperoleh dari Presiden Soekarno disisakan untuk membeli lahan, agar para santri tidak membebani orang tua masing-masing.[butuh rujukan]

Kenyataan ini adalah yang sebenarnya, karena entah kebetulan atau tidak, jumlah santrinya tidak pernah lebih dari kapasitas lahan yang tersedia yang digunakan untuk menopang kehidupan dan kebutuhan belajar santri.[butuh rujukan] Sehingga KH Dimyathi dapat benar-benar mendidik santri dengan saksama, termasuk ketika harus membina mereka sebagai laskar Hizbullah pada kegelapan malam. Mengendap-endap dan menyergap musuh, untuk merangkul kitab kuning pagi harinya di pesantren.[butuh rujukan]

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Selama memimpin Pondok Pesantren Kepundungan, KH. Dimyathi Syafi'ie telah dikaruniai 2 putra dan 5 putri dari tiga istrinya.[butuh rujukan] Dua putra Beliau yakni KH. Hamadulloh Dimyathi dan KH. Hazim Fikri, sedangkan 5 putrinya dipinang oleh beberapa Pengasuh Pondok Pesantren.[butuh rujukan]

Keturunan[sunting | sunting sumber]

Dari istri pertama[sunting | sunting sumber]

  • Hj. Habibah (Srono),

Dari istri kedua, Ibu Nyai Saudah[sunting | sunting sumber]

Dari istri ketiga[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Keluarga Besar

Pesantren yang pertama ia singgahi terletak di Pesantren Termas, Pacitan. Kemudian ia meneruskan pengembaraan ke Pesantren Cemoro di bawah asuhan KH Abdullah Fakih, di sini kurang lebih selama 6 Tahun. Setelah dirasa cukup ia meneruskan ke Pesantren Pesantren Idham Sari, Genteng di bawah bimbingan KH Abdullah Syuja disinilah ia memperdalam pengkajian ilmu Al-Quran. Lalu ia melanjutkan pendidikan terakhir di dua pesantren yang berada di wilayah Banyuwangi.[butuh rujukan]

Metode Pengajaran[sunting | sunting sumber]

Dalam sistem pendidikan di pesantrennya, KH Dimyathi lebih mengandalkan sistem sorogan. Sistem ini menjadikan santri-santrinya menyimak dengan saksama. Karena sorogan yang dipakai oleh KH Dimyathi adalah “sorogan tak langsung”.[butuh rujukan] Artinya para santri mengulangi membaca kitab yang telah dibaca oleh sang kyai beberapa hari sebelumnya.[butuh rujukan] Jadi para santri secara otomatis akan mendengarkan dengan saksama ketika sang Kyai sedang membacakan, karena mereka harus mengulanginya secara terjadwal.[butuh rujukan]

Sementara cara lain yang digunakan oleh KH Dimyathi di Pesantrennya adalah metode bandongan.[butuh rujukan] Dalam mekanisme bandongan sang kyai bebas menerangkan agar para santri mengerti maksud-maksud tersirat dari teks-teks kitab yang sedang dipelajari.[butuh rujukan] Cara ini lazim digunakan di madrasah-madrasah Blambangan selatan sebagaimana juga pesantren-pesantren Nusantara lainnya.[butuh rujukan]

Selama mengasuh Pesantren, selain terlibat dalam perjuangan fisik secara langsung pada malam hari, KH Dimyathi juga sempat membuat karangan tentang akhlak karakter yang semestinya dimiliki oleh para remaja Islam.[butuh rujukan] Karangan ini berbentuk nadzam semacam pantun dalam bahasa Arab, yang menggunakan susunan rima ab ab. Nadzam karangan KH Dimyati ini berjudul Muidzotus Syibyan Nasihat untuk para Remaja[butuh rujukan]

Pondok Pesantren Nahdlatuth Thullabb / Pondok Pesantren Kepundungan sendiri sangat mengutamakan penguasaan ilmu alat, nahwu dan shorof.[butuh rujukan] Meski tentu saja kitab2 tafsir juga menjadi kajian utama para santrinya.[butuh rujukan] Menurut beberapa santri yang sempat menimba ilmu kapada KH Dimyati, kehebatan Pesantren Nahdlatut Thullab adalah dalam pengembangan aqoid 50-nya.[butuh rujukan] Melalui pembinaan Aqoid 50 ini para santri yang telah boyongan dapat memberikan solusi untuk masalah-masalah ke-Tuhanan kepada masyarakat di daerah alumni itu sendiri.[butuh rujukan]

Beberapa santri bahkan menyatakan ilmu-ilmu tersebut dapat mereka kuasai secara ladunni.[butuh rujukan] Artinya, dulu ketika diajar langsung terkadang mereka tidak memahami pelajaran saat itu juga, namun setelah keluar dan mengabdi untuk masyarakat, mereka tiba-tiba teringat dan mengerti maksud penjelasan KH Dimyathi sewaktu di Pesantren dahulu.[butuh rujukan]

Metodenya pembelajaran KH Dimyathi sebenarnya sangat sederhana sekali.[butuh rujukan] Namun karena keyakinan tinggi dari para santrinya, maka mereka mendapatkan semacam pencerahan.[butuh rujukan] Hal pertama yang ditancapkan kepada para santri adalah Al-Qur’an. Para santri diwajibkan senantiasa mendawamkan membaca Al-Qur’an di sepanjang hari, di setiap aktivitas mereka.[butuh rujukan] Kemudian barulah didoktrin dengan Aqoid 50 dan baru belajar nahwu shorof serta ilmu-ilmu lainnya.[butuh rujukan]

Hal penting lain yang diajarkan KH Dimyathi adalah pendidikan bilhal/ bifi’li.[butuh rujukan] Yakni pendidikan praktik langsung, bukan hanya teori.[butuh rujukan] KH Dimyathi terkenal suka mengajak para santrinya untuk bersilaturrahim. Hal ini adalah salah satu aspek pendidikan yang terus tertanam di hati para santrinya sepanjang hidup mereka.[butuh rujukan]

Peran Dalam Kemerdekaan RI[sunting | sunting sumber]

Pada zaman-zaman perjuangan merebut kemerdekaan, banyak sekali korban yang harus dipertaruhkan oleh bangsa Indonesia.[butuh rujukan] Tak terhitung lagi korban yang telah dipersembahkan demi sebuah emerdekaan.[butuh rujukan] Bukan sekadar harta dan nyawa, namun juga perasaan terhinakan karena terus dikejar-kejar dan terusir dari kampung halaman.[butuh rujukan]

Namun tentu saja banyak sekali para pahlawan yang justru memanfaatkannya untuk berjuang di dua ranah, yakni perjuangan fisik dengan mengangkat senjata dan perjuangan dakwah dengan mendidik generasi penerus bangsa.[butuh rujukan] Salah satu di antara sekian banyak para pahlawan bangsa yang berjuang di dalam dua medan perjuangan sekaligus ini adalah KH Dimyathi Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatuth Thullabb Kabupaten Banyuwangi.[butuh rujukan]

Seorang ulama kharismatik yang telah memiliki banyak jasa bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.[butuh rujukan] Ia adalah salah satu di antara para ulama Nahdlatul Ulama dengan andil besar dalam perjuangan fisik yang berpuncak pada meletusnya Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.[butuh rujukan] Salah satu bentuk sumbangsih nyata bagi perjuangan fisik merebut kemerdekaan adalah fatwanya yang berbunyi, seluruh santri santri di daerah Banyuwangi selatan (kawasan Blambangan lama) wajib masuk Hizbullah.[butuh rujukan] Fatwa ini memiliki konsekuensi yang cukup besar bagi santri-santri di kawasan Banyuwangi selatan.[butuh rujukan] Dengan adanya fatwa ini, para santri memiliki tugas ganda. Pada malam hari mereka harus mengendap-endap untuk menyerang pos-pos keamanan tentara Belanda dan Jepang.[butuh rujukan]

Sementara pagi harinya mereka kembali memeluk kitab-kitab yang berisi ajaran-ajaran agama.[butuh rujukan] Walhasil sebenarnya mereka belajar di atas timbunan amunisi dan mesiu hasil rampasan dari tentara penjajah.[butuh rujukan] Memang secara struktural, KH Dimyathi adalah Komandan Hizbullah laskar pejuang yang berafiliasi ke NU untuk wilayah Blambangan selatan.[butuh rujukan] Kegiatan ganda semacam ini di jalani oleh KH Dimyathi bersama dengan santri-santrinya di Pondok Pesantren Nahdlatuth Thullabb.[butuh rujukan] Bukan tanpa risiko, selain menantang bahaya pada malam hari, mereka juga selalu diintai bahaya pada keesokan hari ketika mereka sedang mengaji.[butuh rujukan] Banyaknya intel penjajah yang berkeliaran membuat keselamatan mereka selalu dipertaruhkan setiap saat.[butuh rujukan]

Selain mengasuh Pondok Pesantren Nahdlatuth Thullabb, KH Dimyathi juga dipercaya sebagai Rois Suriyah I Nahdlatul Ulama cabang Blambangan saat itu Banyuwangi selatan.[butuh rujukan] Sementara pada waktu tersebut Pengurus Tanfidiyah dipercayakan kepada K Syuja’i.[butuh rujukan] Keduanya, bersama para ulama lain, bahu membahu memimpin penduduk di sana untuk melawan penjajahan.[butuh rujukan] Baik secara fisik maupun melawan terhadap segala dampak buruk penindasan Belanda dan Jepang, termasuk kebudayaan negative yang dibawa oleh setiap pemerintah penjajah.[butuh rujukan]

Keadaan ini berlangsung terus hingga masa-masa setelah kemerdekaan.[butuh rujukan] Dalam mempertahankan kemerdekaan, para santri terus melakukan penyerangan-penyerangan terhadap pos-pos tentara Belanda pada malam hari.[butuh rujukan] Maka benar saja, lama kelamaan perlawanan mereka pun tercium oleh Belanda.[butuh rujukan] Sehingga pondok pesantren yang dipimpinnya pun digerebek oleh tentara Belanda.[butuh rujukan]

Seluruh bangunan dibakar, termasuk bangunan pesantren dan tempat tingaal KH Dimyathi diratakan dengan tanah oleh Belanda.[butuh rujukan] Seluruh kitab-kitabnya sebanyak dua lemari besar pun habis di makan api.[butuh rujukan] Karena di bawah bangunan pesantren banyak tertanam amunisi dan mesiu hasil rampasan para santri ketika bergerilya malam hari, maka akibat pembakaran semakin menjadi-jadi.[butuh rujukan] Mesiu-mesiu ini mengakibatkkan api yang melalap gedung pesantren semakin menyala menjadi-jadi dan menimbulkan ledakan-ledakan hebat.[butuh rujukan]

Meski para santri telah diperintahkan menyingkir dan berpencar, salah seorang santri bernama Muhammad Fadlan tertembak dan gugur pada penyerangan Belanda tersebut. Muhammad Fadlan kemudian dikuburkan sebagai syuhada dan dipindahkan ke Makam Pahlawan Banyuwangi pada tahun 1962.[butuh rujukan]

Sementara KH Dimyathi ditangkap oleh Belanda dan ditahan selama 27 bulan hingga pertengahan tahun 1949. Komandan Hizbullah Blambangan selatan ini sebenarnya sudah hampir dieksekusi oleh Belanda.[butuh rujukan] Namun menurut beberapa cerita, ketika menjelang hari-hari eksekusi, dokumen-dokumen pidananya oleh Belanda ternyata hilang dan tidak pernah ditemukan lagi.[butuh rujukan] Sehingga eksekusi tidak pernah benar-benar dilaksanakan, sampai waktunya ia dibebaskan karena kekalahan-kelahan Belanda di Indonesia.[butuh rujukan]

Peran di NU[sunting | sunting sumber]

KH Dimyathi benar-benar menjadikan hidupnya sebagai pengabdian sepenuhnya kepada sesama, termasuk kepada orang-orang dari tanah kelahirannya, Yogyakarta. Di manapun para alumni berada, biasanya mereka mendapatkan solusi terkait relasi yang ditunjukkan oleh KH Dimyathi.[butuh rujukan]

Dalam memperjuangkan NU KH Dimyathi tidak pernah melupakan silaturahmi, dibuktikan dengan keberadaan kunjungan menteri agama Republik Indonesia yang pertama ke Pondok Pesantren Kepundungan, yakni KH A. Wahid Hasjim, namun untuk KH Saifuddin Zuhri dan KH Muhammad Dahlan melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Kepundungan tatkala Dia belum menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.[butuh rujukan] Meski sudah ada pejabat negara di tingkat pusat yang berkunjung, namun tamu-tamu ini tetap bersikap santai di Pesantren. Mereka biasa tidur-tiduran dan bercengkerama dengan santri di pendopo pesantren.[butuh rujukan]

Terpenting KH Dimyathi selalu menanamkan jiwa ke-NU-an di hati anak didiknya.[butuh rujukan] Ia menyatakan ingin hidup sebagai orang NU dan kelak jika meninggal pun sebagai orang NU. KH Dimyathi mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemajuan NU.[butuh rujukan]

Sekilas Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Pandangan KH Dimyathi untuk masa depan anak-anaknya adalah tawakkal dalam artian semua garis masa depan ada pada kehendak Allah SWT, KH. Dimyathi menyatakan bahwa putra-putra saya kelak bisa mengembangkan kehidupan mereka sesuai dengan dunianya masing-masing. Sebagai orang tua do'a adalah elemen penting dalam mengarahkan kehidupan anak-anaknya, untuk itu urusan anak-anaknya ia pasrahkan sama Allah SWT. Termasuk kepada putranya KH. Khamadullah Dimyathi yang waktu itu masih berusia balita, sudah harus ditinggal oleh KH Dimyathi untuk berpulang ke rahmatullah di tanah suci Mekkah atau Makkah al-Mukarramah.[butuh rujukan]

Tokoh Kharismatik dari Blambangan selatan yang terlahir pada tahun 1912 ini yang berasal dari Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sekitar tahun 1915-an sudah harus pindah ke kawasan Blambangan selatan beserta keluarganya yang dibawa oleh Kakaknya Kyai Maksum, dan setelah banyak belajar dari Pesantren akhirnya pada tahun 1936 KH Dimyathi mendirikan pesantren untuk berdakwah di daerah Blambangan selatan.[butuh rujukan]

Pada tahun 1959 setelah usai merampungkan pembangunan gedung pesantrennya dan menyediakan cukup lahan untuk para santrinya menopang kehidupan dan biaya belajar selama di sana, KH Dimyathi berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah atau Makkah al-Mukarramah.[butuh rujukan] Namun di sanalah rupanya ia datang untuk menghadap kepada Rabb-nya pada usia 47 tahun.[butuh rujukan] Sebuah pemakaman tanpa penghormatan militer, meskipun ia selalu berada di garis terdepan dalam pertempuran melawan tentara-tentara Belanda. Selamat jalan Komandan Hizbullah Blambangan selatan.[butuh rujukan] Semoga generasi masa kini dapat meneruskan perjuanganmu mengusir imperialisme dari bumi Nusantara.[butuh rujukan]

Karya dan pemikiran[sunting | sunting sumber]

K.H. Dimyathi Syafi'ie mempunyai beberapa tulisan dan catatan-catatan.[butuh rujukan]

Namun dengan berlangsungnya pembakaran Pondok Pesantren Kepundungan oleh pihak Belanda, maka beberapa pemikiran KH. Dimyathi Syafi'ie yang sudah terbukukan dalam beberapa kitab belum bisa terselamatkan;[butuh rujukan]

Dengan kekurangan informasi itulah, maka penulis masih berusaha mengumpulkan beberapa kitab Dia yang masih bisa diketahui, dan salah satu kitab yang sudah penulis dapatkan adalah:

  • Syi'ir Jawan Li Mau'idhoti As-Shibyan (Syi'ir bahasa Jawa untuk nasihat anak-anak muda)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]


Didahului oleh:
tidak ada
Pendiri
Pondok Pesantren Kepundungan

1936-1959
Diteruskan oleh:
KH. As'adi Sofyan

KH. Khamadulloh Dimyathi

KH. Wafirudin As'adi