Kabupaten Bantul

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Bantul

Hanacaraka: ꦧꦤ꧀ꦠꦸꦭ꧀
Jawa 1rightarrow blue.svg Daerah Istimewa Yogyakarta
Gapura Kasongan Bantul
Gapura Kasongan Bantul
Bantul.png
Lambang
Motto: 
Bantul Projotamansari (Produktif-Professional, Ijo Royo-royo, Tertib, Aman, Sehat, Asri)
Lokasi DIY Kabupaten Bantul.svg
Kabupaten Bantul berlokasi di Jawa
Kabupaten Bantul
Kabupaten Bantul
Kabupaten Bantul berlokasi di Indonesia
Kabupaten Bantul
Kabupaten Bantul
Koordinat: 7°53′05″S 110°20′03″E / 7.88461°S 110.33411°E / -7.88461; 110.33411
Negara Indonesia
ProvinsiDaerah Istimewa Yogyakarta
Tanggal peresmian8 Agustus 1950
Dasar hukumUU No.15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ibu kotaBantul
Pemerintahan
 • BupatiDrs. H. Suharsono
 • Wakil bupatiAbdul Halim Muslih
Luas
 • Total506,85 km2 (19,570 sq mi)
Populasi
 (2018[1])
 • Total1.006.692 jiwa
Demografi
 • AgamaIslam 95,77%
Kristen 4,13%
- Katolik 2,82%
- Protestan 1,31%
Hindu 0,08%
Buddha 0,02%[2]
Zona waktuWIB (UTC+07:00)
Kode telepon0274
Kode Kemendagri34.02 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan17
Jumlah kelurahan75
DAURp. 854.810.634.000.-(2013)[3]
Flora resmiSawo kecik
Fauna resmiBurung puter
Situs webhttp://www.bantulkab.go.id

Bantul (bahasa Jawa: ꦧꦤ꧀ꦠꦸꦭ꧀) merupakan salah satu kabupaten yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Ibu kotanya adalah Bantul. Tahun 2018 merupakan tahun pertama bagi kabupaten Bantul memiliki jumlah penduduk mencapai 1 juta jiwa.[1] Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bantul tahun 2019 mencatat, jumlah penduduk kabupaten Bantul berjumlah 1.006.692 jiwa, dengan wilayah terbanyak ada di kecamatan Banguntapan berjumlah 145.956 jiwa, dan paling sedikit berada di kecamatan Srandakan berjumlah 29.414 jiwa.[1]

Moto kabupaten ini adalah Projotamansari, yang merupakan singkatan dari Produktif-Profesional, Ijo royo royo, Tertib, Aman, Sehat, dan Asri. Kabupaten Bantul berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman di sebelah utara, Kabupaten Gunung Kidul di sebelah timur, Samudra Hindia di sebelah selatan, serta Kabupaten Kulon Progo di sebelah barat.

Bagian selatan kabupaten ini berupa pegunungan kapur, yakni ujung barat dari Pegunungan Sewu. Sungai besar yang mengalir di antaranya Kali Progo (membatasi kabupaten ini dengan Kabupaten Kulon Progo, Kali Opak, Kali Tapus, beserta anak-anak sungainya.

Pada 27 Mei 2006, gempa bumi besar berkekuatan 5,9 skala Richter mengakibatkan kerusakan yang besar terhadap daerah ini dan kematian sedikitnya 3.000 penduduk Bantul. Daerah yang terkena dampak terparah dari gempa tersebut adalah Pundong dan Imogiri.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Bantul memang tak bisa dilepaskan dari sejarah Yogyakarta sebagai kota perjuangan dan sejarah perjuangan Indonesia pada umumnya. Bantul menyimpan banyak kisah kepahlawanan, seperti perlawanan Pangeran Mangkubumi di Ambarketawang, upaya pertahanan Sultan Agung di Pleret, dan perjuangan Pangeran Diponegoro di Selarong. Kisah perjuangan pionir penerbangan Indonesia yaitu Adisucipto, pesawat yang ditumpanginya jatuh ditembak Belanda di Desa Ngoto. Sebuah peristiwa penting yang dicatat dalam sejarah adalah Perang Gerilya melawan pasukan Belanda. Saat itu, pasukan Indonesia berada di bawah kepemimpinan Jenderal Sudirman (1948) dan mereka banyak bergerak di sekitar wilayah Bantul. Wilayah ini pula yang menjadi basis, "Serangan Oemoem 1 Maret" (1949) yang dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Tolok awal pembentukan wilayah Kabupaten Bantul adalah perjuangan gigih Pangeran Diponegoro melawan penjajah bermarkas di Selarong sejak tahun 1825 hingga 1830. Seusai meredam perjuangan Diponegoro, Pemerintah Hindia Belanda kemudian membentuk komisi khusus untuk menangani daerah Vortenlanden. Komisi tersebut bertugas menangani pemerintahan daerah Mataram, Pajang, Sokawati, dan Gunung Kidul. Kontrak kasunanan Surakarta dengan Yogyakarta dilakukan baik dalam hal pembagian wilayah maupun pembayaran ongkos perang, penyerahan pemimpin pemberontak, dan pembentukan wilayah administratif.

Pemerintah Hindia Belanda dan sultan Yogyakarta pada tanggal 26 dan 31 Maret 1831 mengadakan kontrak kerja sama tentang pembagian wilayah administratif baru dalam kasultanan disertai penetapan jabatan kepala wilayahnya. Saat itu Kasultanan Yogyakarta dibagi menjadi tiga kabupaten yaitu Bantulkarang untuk kawasan selatan, Denggung untuk kawasan utara, dan Kalasan untuk kawasan timur. Menindaklanjuti pembagian wilayah baru Kasultanan Yogyakarta, tanggal 20 Juli 1831 atau Rabu Kliwon 10 Sapar tahun Dal 1759 (Jawa) secara resmi ditetapkan pembentukan Kabupaten Bantul yang sebelumnya dikenal bernama Bantulkarang tersebut di atas. Seorang nayaka Kasultanan Yogyakarta bernama Raden Tumenggung Mangun Negoro kemudian dipercaya Sri Sultan Hamengkubuwono V untuk memangku jabatan sebagai bupati Bantul.

Berdasarkan peristiwa tersebut, tanggal 20 Juli setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Bantul. Selain itu, tanggal 20 Juli juga memiliki nilai simbol kepahlawanan dan kekeramatan bagi masyarakat Bantul mengingat Perang Diponegoro dikobarkan tanggal 20 Juli 1825.

Pada masa pendudukan Jepang, pemerintahan berdasarkan pada Usamu Seirei nomor 13 sedangkan stadsgemente ordonantie dihapus. Kabupaten memiliki hak mengelola rumah tangga sendiri (otonom). Kemudian setelah kemerdekaan, pemerintahan ditangani oleh Komite Nasional Daerah untuk melaksanakan UU No 1 tahun 1945. Akan tetapi, Yogyakarta dan Surakarta undang-undang tersebut tidak diberlakukan hingga dikeluarkannya UU Pokok Pemerintah Daerah No 22 tahun 1948. dan selanjutnya mengacu UU Nomor 15 tahun 1950 yang isinya pembentukan Pemerintahan Daerah Otonom di seluruh Indonesia.

Pusaka dan Identitas Daerah[sunting | sunting sumber]

Tombak Kyai Agnya Murni

Tombak Kiai Agnya Murni berasal dari kata agnya berarti perintah atau pemerintahan dan murni adalah suci/bersih. Sehingga dengan tegaknya pusaka itu membawa pesan ditegakkannya nilai kehidupan berperadaban sebagai pilar utama membangun pemerintahan yang bersih. Tombak pusaka Kiai Agnya-murni mengisyaratkan pamoring kawula Gusti. Dalam khazanah Jawa, dikenal istilah budaya berpamor agama. Sehingga dalam dimensi vertikal memiliki makna pasrah diri dan tunduk patuh insan ke haribaan Sang Khalik. Dalam dimensi horizontal mengisyaratkan luluhnya pemimpin dengan rakyat.

Tombak pusaka ini diberikan oleh sultan Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Peringatan Hari Jadi ke-169 Kabupaten Bantul, Kamis 20 Juli 2007. Tombak ini memiliki dapur Pleret, yang mengisyaratkan Kabupaten Bantul agar mengingat keberadaan Pleret sebagai historic landmark yang menandai titik awal pembaruan pemerintahan Mataram Sultan Agungan yang cikal bakalnya berada di Kerta Wonokromo. Tombak yang memiliki pamor wos wutah wengkon (melimpahnya kemakmuran bagi seluruh rakyat), dapat eksis bila ditegakkan pada landeyan (dasar) kayu walikukun. Landeyan itu simbul keluhuran budaya berbasis ilmu berintikan keteguhan iman.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bantul terletak antara 07° 44′ 04″ – 08° 00′ 27″ Lintang Selatan dan 110° 12′ 34″ – 110° 31′ 08″ Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Bantul 508,85 Km2 (15,90 5 dari Luas wilayah Provinsi DIY).

Topografi[sunting | sunting sumber]

Sungai Oyo Dilihat dari Kebun Buah Mangunan

Topografi sebagai dataran rendah 40% dan lebih dari separuhnya (60%) daerah perbukitan yang kurang subur, secara garis besar terdiri dari:

  • Bagian Barat, adalah daerah landai yang kurang serta perbukitan yang membujur dari Utara ke Selatan seluas 89,86 km2 (17,73 % dari seluruh wilayah).
  • Bagian Tengah, adalah daerah datar dan landai merupakan daerah pertanian yang subur seluas 210.94 km2 (41,62 %).
  • Bagian Timur, adalah daerah yang landai, miring dan terjal yang keadaannya masih lebih baik dari daerah bagian Barat, seluas 206,05 km2 (40,65%).
  • Bagian Selatan, adalah sebenarnya merupakan bagian dari daerah bagian Tengah dengan keadaan alamnya yang berpasir dan sedikit berlaguna, terbentang di Pantai Selatan dari Kecamatan Srandakan, Sanden dan Kretek.

Kabupaten Bantul dialiri 6 Sungai yang mengalir sepanjang tahun dengan panjang 114 km2. Yaitu:

  1. Sungai Oyo: 35,75 km
  2. Sungai Opak: 19,00 km
  3. Sungai Code: 7,00 km
  4. Sungai Winongo: 18,75 km
  5. Sungai Bedog: 9,50 km
  6. Sungai Progo: 24,00 km

Iklim dan Cuaca[sunting | sunting sumber]

Menurut klasifikasi iklim Koppen, Bantul memiliki iklim muson tropis. Sama seperti kabupaten lain di Indonesia, musim hujan di Bantul dimulai bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September. Rata-rata curah hujan di Bantul adalah 90,76 mm, dan bulan paling tinggi curah hujannya adalah Desember, Januari, dan Februari. Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat Celsius.

Data iklim Bantul
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 29
(84)
29
(84)
29
(85)
31
(87)
30
(86)
30
(86)
29
(85)
30
(86)
31
(87)
31
(88)
30
(86)
29
(85)
30
(86)
Rata-rata terendah °C (°F) 22
(72)
22
(72)
22
(72)
22
(72)
22
(72)
21
(70)
21
(69)
21
(69)
22
(71)
22
(72)
22
(72)
22
(72)
22
(71)
Presipitasi mm (inci) 350
(13.78)
330
(12.99)
210
(8.27)
210
(8.27)
120
(4.72)
80
(3.15)
40
(1.57)
20
(0.79)
30
(1.18)
90
(3.54)
220
(8.66)
340
(13.39)
2.180
(85,83)
[butuh rujukan]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas wilayah kabupaten Bantul antara lain;

Utara Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman
Timur Kabupaten Gunungkidul,Kabupaten Sleman
Selatan Samudra Hindia
Barat Kabupaten Kulonprogo

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Foto Bupati Mulai Menjabat Akhir Menjabat Wakil Bupati Ref.
1. Raden Tumenggung Mangun Negoro 20 Juli 1831
2. Raden Tumenggung Jayadiningrat 1845 1851
3. Raden Tumenggung Tirtonegara 1851 1852
4. Raden Tumenggung Nitinegara 1852 1855
5. Raden Tumenggung Danukusuma 1855 1878
6. Raden Tumenggung Djojowinoto 1878
7. Raden Tumenggung Djojodipuro 1878
8. Raden Tumenggung Surjokusumo
9. Raden Tumenggung Mangunyudo 1899 1913
10. K.R.T. Purbadiningrat 1913 1918
11. K.R.T. Dirdjokusumo 1918 1943
12. K.R.T. Djojodiningrat 1943 1947
Masa Pemerintahan Indonesia
13. K.R.T. Tirtadiningrat 1947 1951
14. K.R.T. Purwaningrat 1951 1955
15. K.R.T. Partaningrat 1955 1958
16. K.R.T. Wiraningrat 1958
17. K.R.T. Setyosudono 1958 1960
18. K.R.T. Sosrodiningrat 1960 1969
19. K.R.T. Prodjohardjono (Pejabat) 1969 1970
20. R. Sutomo Mangkusasmito, SH. 1970 1980
21. Suherman Partosaputro 1980 1985
22. K.R.T. Suryo Padmo Hadiningrat (Moerwanto Suprapto) 1986 1991
23. K.R.T. Yudadiningrat (Sri Roso Sudarmo) 1991 1998
24. Drs. H. Kismosukirdo (Pejabat) 1998 1999
25. Drs. HM. Idham Samawi 1998 2004
26. Drs. Mujono NA (Penjabat) Desember 2004 Januari 2005
27. Drs. HM. Idham Samawi (Terpilih kembali melalui pilkada) 2005 2010
28. Hj. Sri Surya Widati 2010 2015 Drs. Sumarno PRS
29. Sigit Sapto Rahardjo (Pejabat) 2015 2016
30. Drs. H. Suharsono 17 Februari 2016 Petahana H. Abdul Halim Muslih
Suharsono, Bupati Bantul periode 2016-2021.
Abdul Halim Muslih, Wakil Bupati Bantul periode 2016-2021.

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Bantul dalam empat periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2004–2009 2009–2014 2014–2019 2019–2024
Lambang PDI-P PDI-Perjuangan 16 11 12 11
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra (baru) 3 6 8
Lambang PKB Partai Kebangkitan Bangsa 6 3 4 6
Lambang PAN Partai Amanat Nasional 7 Steady 7 6 5
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 5 Steady 5 Steady 5 Steady 5
Lambang PKS Partai Keadilan Sejahtera 5 Steady 5 4 Steady 4
Lambang PPP Partai Persatuan Pembangunan 3 4 Steady 4 2
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat (baru) 1 5 1 2
Lambang NasDem Partai NasDem (baru) 2 1
Lambang Bulan Bintang Partai Bulan Bintang 0 Steady 0 1 Steady 1
PKPB.gif Partai Karya Peduli Bangsa (baru) 2 Steady 2
Jumlah Anggota 45 Steady 45 Steady 45 Steady 45
Jumlah Partai 8 9 10 Steady 10

Kapanewon[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bantul memiliki 17 kapanewon dan 75 kalurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduk mencapai 931.356 jiwa yang tersebar di wilayah seluas 508,13 km² dengan tingkat kepadatan penduduk 1.832 jiwa/km².[4][5]

Daftar kapanewon dan kalurahan di Kabupaten Bantul, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kapanewon Jumlah
Kalurahan
Daftar
Kalurahan
34.02.05 Bambanglipuro
ꦧꦩ꧀ꦧꦁꦭꦶꦥꦸꦫ
3
34.02.12 Banguntapan
ꦧꦔꦸꦤ꧀ꦠꦥꦤ꧀
8
34.02.08 Bantul
ꦧꦤ꧀ꦠꦸꦭ
5
34.02.11 Dlingo
ꦢ꧀ꦭꦶꦔ
6
34.02.10 Imogiri
ꦲꦶꦩꦒꦶꦫꦶ
8
34.02.09 Jetis
ꦗꦼꦛꦶꦱ꧀
4
34.02.16 Kasihan
ꦏꦱꦶꦃꦲꦤ꧀
4
34.02.03 Kretek
ꦏꦿꦺꦠꦺꦏ꧀
5
34.02.07 Pajangan
ꦥꦗꦁꦔꦤ꧀
3
34.02.06 Pandak
ꦥꦤ꧀ꦝꦏ꧀
4
34.02.14 Piyungan
ꦥꦶꦪꦸꦁꦔꦤ꧀
3
34.02.13 Pleret
ꦥ꧀ꦭꦺꦫꦺꦠ꧀
5
34.02.04 Pundong
ꦥꦸꦤ꧀ꦝꦺꦴꦁ
3
34.02.02 Sanden
ꦱꦤ꧀ꦢꦺꦤ꧀
4
34.02.17 Sedayu
ꦱꦼꦢꦪꦸ
4
34.02.15 Sewon
ꦱꦺꦮꦺꦴꦤ꧀
4
34.02.01 Srandakan
ꦱꦿꦤ꧀ꦢꦏꦤ꧀
2
TOTAL 75

Kabupaten Bantul terdiri atas 17 kapanewon, yang dibagi lagi atas sejumlah kalurahan dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kapanewon Bantul, sekitar 11 km sebelah selatan Kota Yogyakarta.

Kapanewon di Kabupaten Bantul
Kapanewon Ibukota
Sanden Gadingharjo
Kretek Donotirto
Pundong Srihardono
Imogiri Imogiri
Dlingo Dlingo
Pleret Pleret
Jetis Trimulyo
Bambanglipuro Sumbermulyo
Pandak Gilangharjo
Pajangan Sendangsari
Bantul Bantul
Sewon Sewon
Banguntapan Banguntapan
Piyungan Srimulyo
Sedayu Argorejo
Kasihan Tirtonirmolo
Srandakan Trimurti

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Bantul pada tahun 2017 adalah 995.264 jiwa dengan kepadatan 1.963,62 jiwa/km2,[1] Kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak dan terpadat di Kabupaten Bantul adalah Kecamatan Banguntapan dengan jumlah penduduk 120.123 jiwa dengan kepadatan 4.218 jiwa/km2. Mayoritas mata pencaharian penduduk di bidang pertanian (25 %) , perdagangan (21 %), Industri (19 %) dan jasa (17 %) .

DPRD Bantul
2014-2019
Partai Kursi
Lambang PDI-P PDI-P 12
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 6
Lambang PAN PAN 6
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 5
Lambang PKB PKB 4
Lambang PKS PKS 4
Lambang PPP PPP 4
Lambang Partai NasDem Partai NasDem 2
Lambang PBB PBB 1
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 1
Total 45

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten dilintasi oleh jalan nasional sebagai jalan arteri primer, di antaranya Jalan Pansela (Dalam Pembangunan) melewati kecamatan Srandakan, Sanden, dan Kretek. Jalan nasional penghubung dengan Kota Yogyakarta melewati jalan Bantul segmen utara, Jalan Lingkar timur Kota Bantul, Jalan Bakulan, dan Jalan Parangtritis segmen selatan. Dan juga Jalan Nasional penghubung Kota Yogyakarta dan Jakarta di kawasan jalan wates segmen Sedayu serta sebagian segmen jalan nasional ring road yogyakarta. Untuk jalan provinsi di antaranya jalan srandakan, jalan bantul segmen selatan, jalan parangtritis segmen utara, jalan wonosari segmen banguntapan dan piyungan, jalan imogiri timur, jalan imogiri barat, dan jalan jogja outering road sedayu-pandak-bantul-imogiri-jetis-pleret-banguntapan. Sistem perkeretaapian di Bantul sudah dibangun sejak zaman kolonial belanda. Jalur kereta api di Bantul terdiri atas jalur yogyakarta - bandung di kecamatan sedayu dengan Stasiun Rewelu (hanya digunakan untuk depo BBM) serta jalur rel kereta mati yang direncanakan akan dihidupkan kembali antara yogyakarta - bantul - brosot dengan stasiun di madukismo, cepit, bantul kota, palbapang, dan srandakan dan juga jalur mati yogyakarta - kota gede - pleret - pundong.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Kuliner Khas[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bantul memiliki makanan khas, yaitu:

Perayaan (Event)[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bantul memiliki beberapa event, yaitu:

Rekreasi[sunting | sunting sumber]

Pantai Parangtritis merupakan objek wisata yang paling terkenal di kabupaten ini. Selain itu terdapat beberapa objek wisata pantai seperti: Pantai Parangkusumo, Pantai Depok, Pantai Samas, Pantai Pandansimo, Pantai Goa Cemara, dan Pantai Kuwaru. Objek wisata alam lain antara lain adalah Gua Selarong dan Gua Cerme. Wisatawan juga dapat mengunjungi objek wisata budaya/religi seperti Pemakaman Imogiri. Objek Wisata Populer di Bantul Akhir-akhir ini Adalah Desa wisata Mangunan Terletak Di kecamatan Dlingo

Sementara itu, terdapat berbagai desa wisata di Kabupaten Bantul yang umumnya merupakan desa penghasil kerajinan. Desa-desa tersebut antara lain adalah Kasongan (penghasil gerabah), Pundong (penghasil gerabah), Pucung (penghasil kerajinan kulit), Gendeng (penghasil kerajinan kulit terutama wayang), dan Krebet (penghasil kerajinan kayu termasuk topeng batik). Batik Bantul sangat terkenal, dan dapat diperoleh baik di sekitar makam Imogiri, Giriloyo (utara Imogiri), dan di Wijirejo. Kerajinan kulit untuk barang sehari-hari (tas, jaket, sandal dan sebagainya) juga dapat diperoleh di desa Manding.

Selain di desa-desa wisata tersebut, kerajinan juga dapat diperoleh di Pasar Seni Gabusan yang terletak di Jalan Parangtritis.

Media Massa[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa stasiun radio di Bantul seperti Radio Persatuan 94.2 FM dan lain-lain

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Kabupaten ini merupakan markas dari klub sepak bola Persiba Bantul (berdiri tahun 1967) dan klub amatir Protaba Bantul.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Kampus Institut Seni Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta terletak di kabupaten ini. Beberapa perguruan tinggi lain juga melakukan pembangunan kampusnya di wilayah Kabupaten Bantul, antara lain Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta. Dan adapula kampus dibawah naungan Kementerian Perindustrian yaitu Politeknik ATK yang terdapat di jalan Ringroad Selatan untuk Kampus 2 dan di jalan ateka untuk Kampus 1.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Menurut Badan Bahasa, bahasa Jawa dialek Yogya-Solo merupakan bahasa daerah yang dituturkan mayoritas penduduk Kabupaten Bantul.[7] Menurut Statistik Kebahasaan 2019, bahasa ini menjadi satu-satunya bahasa daerah asli Kabupaten Bantul.[8] Bahasa resmi instansi pemerintahan di Kabupaten Bantul adalah bahasa Indonesia.

Tokoh Terkenal[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Kabupaten Bantul Dalam Angka 2019". www.bantulkab.bps.go.id. BPS Bantul. Diakses tanggal 25 Februari 2020. 
  2. ^ "Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama di Kabupaten Bantul". www.kependudukan.jogjaprov.go.id. Pemprov Yogyakarta. Diakses tanggal 25 Februari 2020. 
  3. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  4. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  5. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  6. ^ Bantul Ekspo merupakan sebuah pameran pembangunan wilayah se kabupaten Bantul, even tahunan yang diadakan di kabupaten Bantul, diselenggarakan di Pasar Seni Gabusan (PSG), yang menampilkan produk-produk lokal juga sebuah ajang pameran dari instansi pemerintahan kabupaten Bantul. Bantul Ekspo atau sering disingkat dengan BE biasanya di adakan di bulan Juli seminggu sehabis hari jadi Kbupaten Bantul, diselelnggarakan selama kurang lebih 10 hari.
  7. ^ "Bahasa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 23 Mei 2020. 
  8. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm. 4. ISBN 9786028449182. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]