Bahasa Jawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bahasa Jawa
ꦧꦱꦗꦮ (Basa Jawa/Båså Jåwå)
Dituturkan di
WilayahPulau Jawa dan beberapa bagian lainnya di Indonesia, beberapa wilayah di Suriname dan Belanda, serta daerah dengan diaspora Jawa yang signifikan
EtnisJawa (Mataram, Tengger, Bawean, Samin, Osing, Banyumasan, Jawa Suriname, dll)
Penutur bahasa
100 juta  (2013)[1]
Bentuk awal
Bahasa Jawa Kuna
  • Bahasa Jawa
Kode bahasa
ISO 639-1jv
ISO 639-2jav
ISO 639-3Variously:
jav – bahasa Jawa
jvn – bahasa Jawa Karibia
jas – bahasa Jawa Kaledonia Baru
osi – bahasa Osing
tes – bahasa Tengger
kaw – bahasa Jawa Kuno

Bahasa Jawa (bahasa Jawa: ꦧꦱꦗꦮ ) adalah bahasa yang digunakan penduduk bersuku bangsa Jawa di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Selain itu, bahasa Jawa juga digunakan oleh penduduk yang tinggal di beberapa daerah lain seperti Banten (terutama Serang, Cilegon, dan Tangerang) serta Jawa Barat (terutama kawasan pantai utara yang meliputi Indramayu, Karawang, dan Subang.

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Demografi dan persebaran[sunting | sunting sumber]

Migrasi suku Jawa membuat bahasa Jawa bisa ditemukan di berbagai daerah, bahkan di luar negeri. Banyaknya orang Jawa yang merantau ke Malaysia turut membawa bahasa dan kebudayaan Jawa ke Malaysia, sehingga terdapat kawasan pemukiman mereka yang dikenal dengan nama kampung Jawa, padang Jawa. Di samping itu, masyarakat pengguna Bahasa Jawa juga tersebar di berbagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kawasan-kawasan luar Jawa yang didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang cukup signifikan adalah Lampung (61,9%), Sumatra Utara (32,6%), Jambi (27,6%), Sumatra Selatan (27%), Aceh(15,87%) yang dikenal sebagai Aneuk Jawoe. Khusus masyarakat Jawa di Sumatra Utara, mereka merupakan keturunan para kuli kontrak yang dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan tembakau, khususnya di wilayah Deli sehingga kerap disebut sebagai Jawa Deli atau Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatra), dengan dialek dan beberapa kosakata Jawa Deli. Sedangkan masyarakat Jawa di daerah lain disebarkan melalui program transmigrasi yang diselenggarakan semenjak zaman penjajahan Belanda.

Selain di kawasan Nusantara, masyarakat Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar di Suriname, yang mencapai 15% dari penduduk secara keseluruhan, kemudian di Kaledonia Baru bahkan sampai kawasan Aruba dan Curacao serta Belanda. Sebagian kecil bahkan menyebar ke wilayah Guyana Prancis dan Venezuela. Pengiriman tenaga kerja ke Korea, Hong Kong, serta beberapa negara Timur Tengah juga memperluas wilayah sebar pengguna bahasa ini meskipun belum bisa dipastikan kelestariannya.

Fonologi[sunting | sunting sumber]

Ucapan selamat datang di Wikipedia, yang ditulis dalam Bahasa Jawa menggunakan aksara Jawa

Dialek baku bahasa Jawa, yaitu yang didasarkan pada dialek Jawa Tengah, terutama dari sekitar kota Surakarta dan Yogyakarta memiliki fonem-fonem berikut:

Vokal[sunting | sunting sumber]

Vokal
Depan Tengah Belakang
Terbuka i u
½ Terbuka e ə o
½ Tertutup (ɛ) (ɔ)
Tertutup a
Perhatian: Fonem-fonem antara tanda kurung merupakan alofon. Catatan pembaca pakar bahasa Jawa: Dalam bahasa Jawa [a],[ɔ], dan [o] itu membedakan makna [babaʔ] 'luka'; [bɔbɔʔ]'param' atau 'lobang', sikile di-bɔbɔʔi 'kakinya diberi param', lawange dibɔbɔʔi 'pintunya dilubangi'; dan [boboʔ] 'tidur'. [warɔʔ] 'rakus' sedang [waraʔ] 'badak'; [lɔr] 'utara' sedangkan [lar] 'sayap', [gəɖɔŋ] 'gedung' sedangkan [gəɖaŋ] 'pisang; [cɔrɔ]'cara' sedang [coro] 'kecoak', [lɔrɔ]'sakit' sedang [loro] 'dua', dan [pɔlɔ] 'pala/rempah-rempah' sedang [polo] 'otak'. Dengan demikian, bunyi [ɔ] itu bukan alofon [a] ataupun alofon [o] melainkan fonem tersendiri.

Tekanan kata (stress) direalisasikan pada suku kata kedua dari belakang, kecuali apabila sukukata memiliki sebuah pepet sebagai vokal. Pada kasus seperti ini, tekanan kata jatuh pada sukukata terakhir, meskipun sukukata terakhir juga memuat pepet. Apabila sebuah kata sudah diimbuhi dengan afiks, tekanan kata tetap mengikuti tekanan kata kata dasar. Contoh: /jaran/ (kuda) dilafalkan sebagai [j'aran] dan /pajaranan/ (tempat kuda) dilafalkan sebagai [paj'aranan].

Semua vokal kecuali /ə/, memiliki alofon. Fonem /a/ pada posisi tertutup dilafalkan sebagai [a] (a-miring), tetapi pada posisi terbuka sebagai [ɔ] (a-jejeg). Contoh: /lara/ (sakit) dilafalkan sebagai [l'ɔrɔ], tetapi /larane/ (sakitnya) dilafalkan sebagai [l'arane]

Fonem /i/ pada posisi terbuka dilafalkan sebagai [i] (i-jejeg) namun pada posisi tertutup lafalnya kurang lebih mirip [ɛ] (i-miring). Contoh: /panci/ dilafalkan sebagai [p'aɲci], tetapi /kancil/ kurang lebih dilafalkan sebagai [k'aɲcɛl].

Fonem /u/ pada posisi terbuka dilafalkan sebagai [u] (u-jejeg) namun pada posisi tertutup lafalnya kurang lebih mirip [o] (u-miring). Contoh: /wulu/ (bulu) dilafalkan sebagai [w'ulu], tetapi /ʈuyul/ (tuyul) kurang lebih dilafalkan sebagai [ʈ'uyol].

Fonem /e/ pada posisi terbuka dilafalkan sebagai [e] (e-jejeg) namun pada posisi tertutup sebagai [ɛ] (e-miring). Contoh: /lélé/ dilafalkan sebagai [l'ele], tetapi /bebek/ dilafalkan sebagai [b'ɛbɛʔ].

Fonem /o/ pada posisi terbuka dilafalkan sebagai [o] (o-jejeg) namun pada posisi tertutup sebagai [ɔ] (o-miring). Contoh: /loro/ dilafalkan sebagai [l'oro], tetapi /boloŋ/ dilafalkan sebagai [b'ɔlɔŋ].

Konsonan[sunting | sunting sumber]

Konsonan
Labial Dental Alveolar Retrofleks Palatal Velar Glotal
Letupan p b t d
ʈ ɖ k g ʔ
Frikatif     s (ʂ)     h
Likuida & semivokal w l r   j    
Sengau m n
(ɳ) ɲ ŋ  

Fonem /k/ memiliki sebuah alofon. Pada posisi terakhir, dilafalkan sebagai [ʔ]. Sedangkan pada posisi tengah dan awal tetap sebagai [k].

Fonem /n/ memiliki dua alofon. Pada posisi awal atau tengah apabila berada di depan fonem eksplosiva palatal atau retrofleks, maka fonem sengau ini akan berubah sesuai menjadi fonem homorgan. Kemudian apabila fonem /n/ mengikuti sebuah /r/, maka akan menjadi [ɳ] (fonem sengau retrofleks). Contoh: /panjaŋ/ dilafalkan sebagai [p'aɲjaŋ], lalu /anɖap/ dilafalkan sebagai [ʔ'aɳɖap]. Kata /warna/ dilafalkan sebagai [w'arɳɔ].

Fonem /s/ memiliki satu alofon. Apabila /s/ mengikuti fonem /r/ atau berada di depan fonem eksplosiva retrofleks, maka akan direalisasikan sebagai [ʂ]. Contoh: /warsa/ dilafalkan sebagai [w'arʂɔ], lalu /esʈi/ dilafalkan sebagai [ʔ'eʂʈi].

Fonotaktik[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa Jawa baku, sebuah suku kata bisa memiliki bentuk seperti berikut: (n)-K1-(l)-V-K2.

Artinya ialah sebagai berikut:

  • (n) adalah fonem sengau homorgan.
  • K1 adalah konsonan letupan atau likuida.
  • (l) adalah likuida yaitu /r/, /l/, atau /w/, tetapi hanya bisa muncul kalau K1 berbentuk letupan.
  • V adalah semua vokal. Tetapi apabila K2 tidak ada maka fonem /ə/ tidak bisa berada pada posisi ini.
  • K2 adalah semua konsonan kecuali letupan palatal dan retrofleks; /c/, /j/, /ʈ/, dan /ɖ/.

Contoh:

  • a (V)
  • ang (VK)
  • pang (KVK)
  • prang (KlVK)
  • mprang (nKlVK)

Sama halnya dengan bahasa-bahasa Austronesia lainnya, kata dasar asli dalam bahasa Jawa terdiri atas dua suku kata (bisilabis); kata yang terdiri dari lebih dari tiga suku kata akan dipecah menjadi kelompok-kelompok bisilabis untuk pengejaannya. Dalam bahasa Jawa modern, kata dasar bisilabis memiliki bentuk: nKlvVnKlvVK.

Sistem penulisan[sunting | sunting sumber]

Aksara Latin[sunting | sunting sumber]

Nama dan penulisan abjad Latin dalam bahasa Jawa
Pra 1942 Yogyakarta (1991) Nama
b b
tj c
d d
dh dhé
f ef
g g
h h ha
dj j
k k ka
l l el
m m em
n n en
p p
q ki
r r er
s s es
t t
th[2][3] thé
v
w w
x eks
j y
z zet

Aksara Jawa[sunting | sunting sumber]

Aksara jawa (꧊ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦗꦮ꧊ ) berbeda dengan huruf Latin yang kita gunakan sekarang ini untuk menulis. Aksara jawa terdiri dari:

  1. Aksara Carakan / ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦕꦫꦏꦤ꧀

. Aksara inti yang terdiri dari 20 suku kata ato biasa disebut Dentawiyanjana, yaitu: ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga ;

  1. Aksara Pasangan / ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦥꦱꦔꦤ꧀

. Bentuk mati (huruf) dari aksara inti, yaitu: h, n, c, r, k, d, t, s, w, l, p, dh, j, y, ny, m, g, b, th, ng ; pasangan

  1. Aksara Swara / ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦱ꧀ꦮꦫ

. Biasanya untuk huruf awal penulisan nama kota ato nama orang yang dihormati yang diawali dengan huruf hidup, yaitu: A, I, U, E, O

  1. Aksara Rekan / ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦉꦏꦤ꧀

. Untuk penulisan huruf-huruf yang berasal dari serapan bahasa asing, yaitu: kh, f, dz, gh, z

  1. Aksara Murda / ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦩꦸꦂꦢ

. Biasanya untuk huruf awal penulisan nama kota ato nama orang yang dihormati, yaitu: Na, Ka, Ta, Sa, Pa, Nya, Ga, Ba

  1. Aksara Wilangan / ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦮꦶꦭꦔꦤ꧀

. Untuk penulisan bilangan dalam bahasa Jawa, yaitu angka 1 s/d 10 dalam aksara Jawa.

  1. Tanda Baca (Sandangan / ꦱꦤ꧀ꦢꦔꦤ꧀

). Merupakan tanda baca yang biasa digunakan, huruf hidup serta huruf mati yang biasa dipakai dalam bahasa sehari-hari, yaitu tanda: koma, titik, awal kamimat, dll. huruf: i, o, u, e. huruf mati: _r, _ng, _ra, _re, dll

Pegon[sunting | sunting sumber]

Huruf Pegon adalah huruf Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa juga Bahasa Sunda. Kata Pegon konon berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.

Berbeda dengan huruf Jawi, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan Gundhil. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal (aksara swara) yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.

Abjad Jawi[sunting | sunting sumber]

Abjad Jawi (Bahasa Arab: جوي Jăwi) (atau Yawi di daerah Patani, Gundhil di daerah Jawa disamping Pegon, Jawoe di daerah Aceh) adalah abjad Arab yang diubah untuk menuliskan Bahasa Melayu. Abjad ini digunakan sebagai salah satu dari tulisan resmi di Brunei, dan juga di Malaysia, Indonesia, Patani dan Singapura untuk keperluan religius.

Kemunculannya berkait secara langsung dengan kedatangan agama Islam ke Nusantara. Abjad ini didasarkan pada abjad Arab dan digunakan untuk menuliskan ucapan Melayu. Dengan demikian, tidak terhindarkan adanya tambahan atau modifikasi beberapa huruf untuk mengakomodasi bunyi yang tidak ada dalam bahasa Arab (misalnya ucapan /o/, /p/, atau /ŋ/).

Bukti terawal tulisan Jawi ini berada di Malaysia dengan adanya Prasasti Terengganu yang bertarikh 702 Hijriah atau abad ke-14 Masehi (Tarikh ini agak problematis sebab bilangan tahun ini ditulis, tidak dengan angka). Di sini hanya bisa terbaca tujuh ratus dua: 702H. Tetapi kata dua ini bisa diikuti dengan kata lain: (20 sampai 29) atau -lapan -> dualapan -> "delapan". Kata ini bisa pula diikuti dengan kata "sembilan". Dengan ini kemungkinan tarikh ini menjadi banyak: (702, 720 - 729, atau 780 - 789 H). Tetapi karena prasasti ini juga menyebut bahwa tahun ini adalah "Tahun Kepiting" maka hanya ada dua kemungkinan yang tersisa: yaitu tahun 1326M atau 1386M.

Tata bahasa[sunting | sunting sumber]

Sastra[sunting | sunting sumber]

Ragam[sunting | sunting sumber]

Geografis[sunting | sunting sumber]

Bahasa Jawa sangat beragam, dan keragaman ini masih terpelihara sampai sekarang, baik karena dituturkan maupun melalui dokumentasi tertulis. Dialek geografi, dialek temporal serta register dalam bahasa Jawa sangat kaya sehingga seringkali menyulitkan orang yang mempelajarinya.

Klasifikasi berdasarkan dialek geografi mengacu kepada pendapat E.M. Uhlenbeck (1964)[4]. Peneliti lain seperti W.J.S. Poerwadarminta dan Hatley memiliki pendapat yang berbeda.[butuh rujukan]

Kelompok Barat
  1. dialek Banten
  2. dialek Indramayu, (Jawa Barat), Kabupaten Indramayu, sebagian utara kabupaten Subang dan Karawang
  3. dialek Tegal (sebagian barat Jawa Tengah (kabupaten Tegal, Pemalang dan Brebes dan kota Tegal))
  4. dialek Banyumasan (sebagian barat laut Jawa Tengah (seluruh kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap))
  5. dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)
Kelompok Tengah
  1. dialek Pekalongan (Jawa Tengah (kabupaten Pekalongan dan Batang dan kota Pekalongan))
  2. dialek Kedu (Jawa Tengah bagian tengah (eks Karesidenan Kedu) (kabupaten Magelang, Wonosobo, Temanggung, Purworejo, Kebumen dan kota Magelang))
  3. dialek Bagelan (Jawa Tengah (Bagelen, Purworejo))
  4. dialek Semarang (Jawa Tengah (Semarang Metro (kabupaten Semarang, Demak, Kendal dan kota Semarang dan Salatiga))
  5. dialek Pantai Utara Timur (sebagian timur laut Jawa Tengah (eks Karesidenan Pati) (kabupaten Pati, Rembang, Jepara, Kudus, Rembang) dan sebagian barat daya Jawa Timur (kabupaten Bojonegoro, Tuban))
  6. dialek Blora (sebagian timur Jawa Tengah (eks Karesidenan Pati) (kabupaten Blora, Grobogan) dan Jawa Timur (sebagian barat kabupaten Bojonegoro))
  7. dialek Mataram (D.I. Yogyakarta dan sebagian tenggara Jawa Tengah (eks Karesidenan Surakarta) (kabupaten Boyolali, Klaten, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar dan kota Surakarta))
  8. dialek Madiun (sebagian barat dan barat laut Jawa Timur (eks Karesidenan Madiun) (kabupaten Madiun, Magetan, Ngawi, Pacitan, Ponorogo dan kota Madiun, kabupaten Kediri, Blitar, Trenggalek, Nganjuk dan Tulungagung dan kota Blitar dan Kediri))

Kelompok kedua ini dikenal sebagai bahasa Jawa Tengahan. Dialek Mataram (Surakarta dan Yogyakarta) menjadi acuan baku bagi pemakaian resmi bahasa Jawa (bahasa Jawa Baku).

Kelompok Timur
  1. dialek Arekan (Jawa Timur (Surabaya Metro (kota Surabaya dan Mojokerto, kabupaten Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo dan Gresik), Malang Raya (kota Batu, Malang dan Pasuruan dan kabupaten Malang dan Pasuruan) dan sebagian besar Tapal Kuda (kabupaten Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso dan kota Probolinggo))
  2. dialek Jombang (Jawa Timur (kabupaten Jombang, Nganjuk))
  3. dialek Tengger (Jawa Timur (wilayah sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru))
  4. dialek Banyuwangi (Jawa Timur (kabupaten Banyuwangi))

Kelompok ketiga ini dikenal sebagai bahasa Jawa Wetanan (Timur).

Selain dialek-dialek di tanah asal, dikenal pula dialek-dialek yang dituturkan oleh orang Jawa diaspora, seperti di Sumatra Utara, Lampung, Suriname, Kaledonia Baru, dan Curaçao.

Bahasa Jawa Suriname[sunting | sunting sumber]

Bahasa Jawa Suriname merupakan ragam atau dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname dan oleh komunitas Jawa Suriname di Belanda. Jumlah penuturnya kurang lebih ada 65.000 jiwa di Suriname dan 30.000 jiwa di Belanda. Orang Jawa Suriname merupakan keturunan kuli kontrak yang didatangkan dari Tanah Jawa dan sekitarnya. Di Suriname, orang Indonesia tersebar di beberapa tempat dan kampung yang mudah dikenali karena Kampung mereka masih menggunakan nama-nama dalam bahasa Indonesia, misalnya seperti Desa Tamansari, Desa Tamanrejo, dan lain-lain semacam itu. Untuk mengingat akan tanah airnya Indonesia, selain dengan menggunakan nama pemukiman mereka dengan Bahasa Indonesia, bahasa penutur yang (sering) digunakan adalah Bahasa Jawa.

Pada Tahun 1990 sekitar 34,2% Penduduk Suriname atau 143.640 orang keturunan asal Indonesia ( etnis jawa ) dan merupakan salah satu etnis terbesar di Suriname saat itu. Namun seiring dengan perkembangan jaman banyak di antara mereka yang pindah mengikuti keluarga dan bermukim di Belanda. Anehnya, walau mereka pada umumnya belum pernah melihat Indonesia, mereka sangat fasih dalam berbahasa Jawa yang digunakan sehari-hari dalam pergaulan antara sesama etnis Jawa.

Bukan di Suriname saja bahasa Jawa digunakan oleh masyarakat yang berasal dari Indonesia, tetapi juga di Belanda. Bahkan, dari sebuah catatan menyebutkan lebih-kurang 65 ribu warga negara Suriname etnis Jawa dan tiga puluh ribu warga Negara Belanda beretnis Jawa menggunakan Bahasa Jawa dalam bersosialisasi dengan sesama mereka dalam pergaulan sosial di tengah-tengah masyarakatnya.

Di Suriname hanya terdapat satu dialek Jawa. Namun, adanya varian-varian kata menunjukkan bahwa pada masa lalu para migran Jawa itu menuturkan sejumlah dialek yang berbeda. Di Suriname juga pernah ada penutur bahasa Banyumasan (ngapak-ngapak). Sayangnya, bahasa ini dianggap tidak baik dan penuturnya sering dihina. Akibatnya, keturunan mereka tak lagi mempelajari dan menuturkan bahasa Banyumasan.

Kosakata bahasa Jawa di Suriname banyak dipengaruhi oleh bahasa Belanda dan Sranan Tongo. Meskipun demikian, kedua bahasa tersebut tak memengaruhi fonologi dan tata bahasa. Akan tetapi orang Jawa di Suriname tidak bisa berbahasa Indonesia karena sejak Belanda mendatangkan orang jawa untuk menjadi kuli kontrak, ketika itu orang asli Jawa dahulu hanya bisa berbahasa Jawa saja. Kata-kata Sranan Tongo yang sudah diserap malah ada yang memiliki bentuk bahasa krama.

Fonologi bahasa Jawa di Suriname tak berbeda dengan bahasa Jawa baku di Tanah Jawa. Fonologi dialek Kedu yang menjadi leluhur bahasa Jawa Suriname tidak berbeda dengan bahasa Jawa baku. Namun terdapat fenomena baru dalam bahasa Jawa Suriname, yakni perbedaan antara fonem dental dan retrofleks (/t/ dan /d/ vs. /ṭ/ dan /ḍ/) semakin hilang.

Bahasa Jawa Suriname memiliki cara penulisan yang berbeda dengan bahasa Jawa di Pulau Jawa. Pada tahun 1986, bahasa Jawa Suriname mendapatkan cara pengejaan baku. Tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan antara sistem Belanda sebelum PD II dengan ejaan Pusat Bahasa di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam bahasa Jawa Suriname, terdapat juga basa krama (bahasa halus), tetapi tak lagi serupa dengan bahasa Jawa di Jawa. Bahkan generasi mudanya sudah banyak yang tak bisa menuturkan basa krama. Terdapat tiga ragam bahasa Jawa di Suriname, yakni ngoko, krama, dan krama napis. Krama di Jawa adalah madya, krama napis adalah krama, dan krama adalah inggil.

Sejak tahun 2000, dibuka kursus bahasa Indonesia dan bahasa Jawa untuk warga Suriname. Bertempat di KBRI Paramaribo, pesertanya memang tidak banyak dan masih didominasi orang tua. Agar kemampuan berbahasa yang diperoleh dari kursus tidak hilang begitu saja, dibentuk Ikatan Alumni Kursus Bahasa Jawa (IKA-KBJ) dan Ikatan Alumni Kursus Bahasa Indonesia (IKA-KBI). Secara berkala, alumni berkumpul untuk berbicara dalam bahasa Jawa dan Indonesia.

Dari kursus itulah mereka menguasai bahasa Indonesia serta mengerti tata bahasa Jawa sesuai dengan tatanan yang berlaku di tempat asalnya. Selama ini penggunakan ejaan Belanda untuk menulis kosakata bahasa Jawa marak digunakan oleh masyarakat suku Jawa di Suriname. Kemampuan berbahasa Jawa dan Indonesia itu penting bagi warga keturunan Jawa di Suriname. Meski bukan berkebangsaan Indonesia, mereka tetaplah manusia Jawa. "Manusia Jawa itu punya identitas, salah satunya bahasa Jawa. Maka agar tidak kehilangan identitas, mereka harus menguasai bahasa Jawa."

Temporal[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan dokumentasi tertulis, bahasa Jawa paling tidak memiliki dua variasi temporal, yaitu bahasa Jawa Kuno dan bahasa Jawa Modern. Bahasa Jawa Kuno sering kali disamakan sebagai bahasa Kawi, meskipun sebenarnya bahasa Kawi lebih merupakan genre bahasa susastra yang diturunkan dari bahasa Jawa Kuno.

Bahasa Jawa Kuno dikenal dari berbagai prasasti serta berbagai "kakawin" yang berasal dari periode Medang atau Mataram Hindu sampai surutnya pengaruh Majapahit (abad ke-8 sampai abad ke-15).

Bahasa Jawa Modern adalah bahasa dikenal dari literatur semenjak periode Kesultanan Demak (abad ke-16) sampai sekarang. Ciri yang paling khas adalah masuknya kata-kata dari bahasa Arab, Portugis, Belanda, dan juga Inggris.

Tingkatan[sunting | sunting sumber]

Perbedaan unggah-ungguh atau undhak-undhuk Ngoko dan Krama

Bahasa Jawa mengenal undhak-undhuk basa dan menjadi bagian integral dalam tata krama (etiket) masyarakat Jawa dalam berbahasa. Dialek Surakarta biasanya menjadi rujukan dalam hal ini. Bahasa Jawa bukan satu-satunya bahasa yang mengenal hal ini karena beberapa bahasa Austronesia lain dan bahasa-bahasa Asia Timur seperti bahasa Korea dan bahasa Jepang juga mengenal hal semacam ini. Dalam sosiolinguistik, undhak-undhuk merupakan salah satu bentuk register.

Terdapat tiga bentuk utama variasi, yaitu ngoko ("kasar"), madya ("biasa"), dan krama ("halus"). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk "penghormatan" (ngajengake, honorific) dan "perendahan" (ngasorake, humilific). Seseorang dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, tetapi ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini terutama dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.

Sebagai tambahan, terdapat bentuk bagongan dan kedhaton, yang keduanya hanya dipakai sebagai bahasa pengantar di lingkungan keraton. Dengan demikian, dikenal bentuk-bentuk ngoko lugu, ngoko andhap, madhya, madhyantara, krama, krama inggil, bagongan, kedhaton.

Di bawah ini disajikan contoh sebuah kalimat dalam beberapa gaya bahasa yang berbeda-beda ini.

  1. Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
  2. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
  • Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)
    1. Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa (substandar))
    2. Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
    3. Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
    4. Krama lugu: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
    5. Krama alus “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”

    *nèng adalah bentuk percakapan sehari-hari dan merupakan kependekan dari bentuk baku ana ing yang disingkat menjadi (a)nêng. Dengan memakai kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tatabahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan. Walaupun demikian, tidak semua penutur bahasa Jawa mengenal semuanya register itu. Biasanya mereka hanya mengenal ngoko (kasar) dan sejenis madya (biasa).

    Ngoko[sunting | sunting sumber]

    Ngoko adalah salah satu tingkatan bahasa dalam Bahasa Jawa. Bahasa ini paling umum dipakai di kalangan orang Jawa. Pemakaiannya dihindari untuk berbicara dengan orang yang dihormati atau orang yang lebih tua.

    Tingkat tutur ngoko yaitu ungah ungguh bahasa jawa yang berintikan leksikon ngoko. Ciri-ciri katanya terdapat afiks di-,-e dan –ake. Ragam ngoko dapat digunakan oleh mereka yang sudah akrab dan oleh mereka yang merasa dirinya lebih tinggi status sosialnya daripada lawan bicara (mitra wicara). Ragam ngoko mempunyai dua bentuk varian, yaitu ngoko lugu dan ngoko alus (Sasangka 2004:95).

    Krama[sunting | sunting sumber]

    Krama adalah salah satu tingkatan bahasa dalam Bahasa Jawa. Bahasa ini paling umum dipakai di kalangan orang Jawa. Pemakaiannya sangat baik untuk berbicara dengan orang yang dihormati atau orang yang lebih tua.

    Yang dimaksud dengan ragam krama adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang berintikan leksikon krama, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam krama adalah leksikon krama bukan leksikon yang lain. Afiks yang muncul dalam ragam ini pun semuanya berbentuk krama (misalnya, afiks dipun-, -ipun, dan –aken). Ragam krama digunakan oleh mereka yang belum akrab dan oleh mereka yang merasa dirinya lebih rendah status sosialnya daripada lawan bicara. Ragam krama mempunyai tiga bentuk varian, yaitu krama lugu, karma andhap dan krama alus (Sasangka 2004:104).

    Madya[sunting | sunting sumber]

    Madya adalah salah satu tingkatan bahasa Jawa yang paling umum dipakai di kalangan orang Jawa. Tingkatan ini merupakan bahasa campuran antara ngoko dan krama, bahkan kadang dipengaruhi dengan bahasa Indonesia. Bahasa madya ini mudah dipahami dan dimengerti.

    Kosa kata[sunting | sunting sumber]

    Referensi[sunting | sunting sumber]

    1. ^ Mikael Parkvall, "Världens 100 största språk 2007" (The World's 100 Largest Languages in 2007), in Nationalencyklopedin
    2. ^ "Language Documentation Training Center". Diakses tanggal 2013-09-25. 
    3. ^ Herrfurth, Hans (1964). Lehrbuch des modernen Djawanisch. Lehrbücher für das Studium der orientalischen und afrikanischen Sprachen. IX. Leipzig: VEB Verlag Enzyklopädie. hlm. 19. 
    4. ^ Uhlenbeck, E.M. 1964.A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura. The Hague: Martinus Nijhoff

    Pranala luar[sunting | sunting sumber]


  • (Inggris) Kamus bahasa Jawa ke bahasa lain
  • (Indonesia) Kamus Lengkap Terjemahan Bahasa Daerah Indonesia Online
  • (Indonesia) Belajar bahasa Jawa bagi pemula
  • (Indonesia) Situs web belajar bahasa Jawa
  • (Indonesia) Translator Jawa
  • (Indonesia) Kamus Jawa
  • (Indonesia) Kamus Bahasa Jawa Online
  • <meta property="mw:PageProp/categorydefaultsort" content="Jawa, Bahasa" /> <link rel="mw:PageProp/Category" href="./Kategori:Bahasa_Jawa#%20" />