Kepemimpinan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Soekarno, salah satu pemimipin yang berpengaruh di Indonesia.

Kepemimpinan merupakan sebuah bidang riset dan juga suatu keterampilan praktis yang mencakup kemampuan seseorang atau sebuah organisasi untuk "memimpin" atau membimbing orang lain, tim, atau seluruh organisasi. Literatur para spesialis saling beradu pandangan, membandingkan antara pendekatan Timur dan Barat dalam kepemimpinan, dan juga (di Barat sendiri) antara pendekatan Amerika Serikat dengan Eropa. Civitas akademika di A.S. mengartikan kepemimpinan sebagai sebuah proses pengaruh sosial yang di dalamnya seseorang dapat melibatkan bantuan dan dukungan selainnya dalam usaha mencapai suatu tugas bersama.[1][2]

Kajian tentang kepemimpinan telah menghasilkan berbagai teori yang meliputi sifat-sifat,[3] interaksi situasional, fungsi, perilaku,[4] kekuasaan, visi dan misi, nilai-nilai,[5] kharisma, dan kecerdasan, di antaranya.[2]

Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi.[6] Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.[6]

Pandangan sejarah[sunting | sunting sumber]

Sumber dalam bahasa Sansekerta mengidentifikasi sepuluh macam pemimpin. Karakteristik tegas dari kesepuluh macam pemimpin tersebut dijelaskan dengan contoh-contoh dari sejarah dan mitologi.[7][membutuhkan kutipan untuk dapat dipastikan]

Di bidang kepemimpinan politik, doktrin Cina Mandat Langit mengemukakan kewajiban para raja untuk memerintah dengan adil dan hak rakyat untuk menggulingkan raja-raja yang tampaknya kurang mematuhi perintah langit.[8]

Para pemikir pro-aristokrasi[9] mengemukakan bahwa kepemimpinan bergantung pada hubungan "darah biru" seseorang.[10] Monarki menggunakan pandangan ekstrim dari gagasan yang sama, dan mungkin melakukan pembelaan atas ketidakberpihakannya terhadap sistem aristokrasi dengan menggunakan dalil ilahi (lihat hak ilahi raja-raja). Di lain pihak, yang mengemukakan teori-teori yang cenderung lebih demokratis memberikan contoh para pemimpin meritokratis, seperti marsekal Napoleon yang ternyata meraih keuntungan dari berbagai karier yang menerima berbagai talenta.[11]

Peranan kepemimpinan[sunting | sunting sumber]

Tiap organisasi yang memerlukan kerjasama antar manusia dan menyadari bahwa masalah manusia yang utama adalah masalah kepemimpinan. Kita melihat perkembangan dari kepemimpinan pra ilmiah kepada kepemimpinan yang ilmiah. Dalam tingkatan ilmiah kepemimpinan itu disandarkan kepada pengalaman intuisi, dan kecakapan praktis. Kepemimpinan itu dipandang sebagai pembawaan seseorang sebagai anugerah Tuhan. Karena itu dicarilah orang yang mempunyai sifat-sifat istimewa yang dipandang sebagai syarat suksesnya seorang pemimpin. Dalam tingkatan ilmiyah kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi, bukan sebagai kedudukan atau pembawaan pribadi seseorang. Maka diadakanlah suatu analisis tentan gunsur-unsur dan fungsi yang dapat menjelaskan kepada kita, syarat-syarat apa yang diperlukan agar pemimpin dapat bekerja secara efektif dalam situasi yang berbeda-beda. Pandangan baru ini membawa pembahasan besar. Cara bekerja dan sikap seorang pemimpin yang dipelajari. Konsepsi baru tentang kepemimpinan melahirkan peranan baru yang harus dimainkan oleh seorang pemimpin. Titik berat beralihkan dari pemimpin sebagai orang yang membuat rencana, berpikir dan mengambil tanggung jawab untuk kelompok serta memberikan arah kepada orang-orang lain. Kepada anggapan, bahwa pemimpin itu pada tingkatan pertama adalah pelatih dan koordinator bagi kelompoknya. Fungsi yang utama adalah membantu kelompok untuk belajar memutuskan dan bekerja secara lebih efisien dalam peranannya sebagai pelatih seorang pemimpin dapat memberikan bantuan-bantuan yang khas. Yaitu:

  • Pemimpin membantu akan terciptanya suatu iklim sosial yang baik.
  • Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur-prosedur kerja.
  • Pemimpim membantu kelompok untuk mengorganisasi diri.
  • Pemimpin bertanggung jawab dalam mengambil keputusan sama dengan kelompok.
  • Pemimpin memberi kesempatan kepada kelompok untuk belajar dari pengalaman.

Kepemimpinan Yang Efektif[sunting | sunting sumber]

Barangkali pandangan pesimistis tentang keahlian-keahlian kepemimpinan ini telah menyebabkan munculnya ratusan buku yang membahas kepemimpinan.[12] Terdapat nasihat tentang siapa yang harus ditiru (Attila the Hun), apa yang harus diraih (kedamaian jiwa), apa yang harus dipelajari (kegagalan), apa yang harus diperjuangkan (karisma), perlu tidaknya pendelegasian (kadang-kadang), perlu tidaknya berkolaborasi (mungkin), pemimpin-pemimpin rahasia Amerika (wanita), kualitas-kualitas pribadi dari kepemimpinan (integritas), bagaimana meraih kredibilitas (bisa dipercaya), bagaimana menjadi pemimipin yang otentik (temukan pemimpin dalam diri anda), dan sembilan hukum alam kepemimpinan (jangan tanya).[12] Terdapat lebih dari 3000 buku yang judulnya mengandung kata pemimpin (leader).[12] Bagaimana menjadi pemimpin yang efektif tidak perlu diulas oleh sebuah buku.[12] Guru manajeman terkenal, Peter Drucker, menjawabnya hanya dengan beberapa kalimat: "fondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah berpikir berdasar misi organisasi, mendefinisikannya dan menegakkannya, secara jelas dan nyata.[12] Salah satu guru kepemimpinan adalah John Maxwell dengan bukunya "21 Laws Of Leadership."

Kepemimpinan Karismatik[sunting | sunting sumber]

Max Weber, seorang sosiolog, adalah ilmuan pertama yang membahas kepemimpinan karismatik.[13] Lebih dari seabad yang lalu, ia mendefinisikan karisma (yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti "anugerah") sebagai "suatu sifat tertentu dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan biasanya dipandang sebagai kemampuan atau kualitas supernatural, manusia super, atau paling tidak daya-daya istimewa.[13] Kemampuan-kemampuan ini tidak dimiliki oleh orang biasa, tetapi dianggap sebagai kekuatan yang bersumber dari yang Ilahi, dan berdasarkan hal ini seseorang kemudian dianggap sebagai seorang pemimpin.[13]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Kutipan

  1. ^ Chemers, M. (1997). An integrative theory of leadership. Lawrence Erlbaum Associates, Publishers. ISBN 978-0-8058-2679-1. 
  2. ^ a b Chin, Roger (2015). "Examining teamwork and leadership in the fields of public administration, leadership, and management". Team Performance Management. 21 (3/4): 199–216. doi:10.1108/TPM-07-2014-0037. 
  3. ^ Locke et al. 1991
  4. ^ Goldsmith Marshall, "Leaders Make Values Visible", 2016
  5. ^ Richards & Engle, 1986, p. 206
  6. ^ a b John Adair, "Cara Menumbuhkan Pemimpin", Gramedia Pustaka Utama, 9792234276, 9789792234275.
  7. ^ KSEEB. Sanskrit Text Book -9th Grade. Government of Karnataka, India. 
  8. ^ Guo, Xuezhi (2019). "Traditional Political Thought and Imperial Legacy". The Politics of the Core Leader in China: Culture, Institution, Legitimacy, and Power. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 139. ISBN 9781108480499. Diakses tanggal 17 May 2019. The Mandate of Heaven implies that the legitimacy of political leadership as well as its leading figures come from not only their political power derived from their positions and de facto dominance in the leadership but also their roles in bringing voluntary compliance from the high-ranking leaders and the population at large. 
  9. ^ Contohnya: Gupta, Ashok Kumar (1991). Emerging Pattern of Political Leadership: A Case Study of Punjab. New Delhi: Mittal Publications. hlm. 12. ISBN 9788170992561. Diakses tanggal 17 May 2019. The main theme of [José Ortega y Gasset's] theory of elite is that 'when the masses in a country believe that tbey can do without aristocracy, the nation inevitably declines. In their disillusionment the masses again turn to the new leadership and a new aristocracy emerges.' 
  10. ^ Marstiller, James K.; Joerding Fickeler, Jennifer (2005). The Power to Innovate: Rewiring the Minds of Individuals and Organizations. Bloomington, Indiana: AuthorHouse. hlm. 169. ISBN 9781420835106. Diakses tanggal 17 May 2019. Throughout the ages it was believed that leaders were born, that the ability to lead was somehow inherited through the blood. [...] In spite of many examples throughout history of blue-blood leadership ineptitude, birthright and competency became intertwined in the human psyche. This perception remained until the 20th century. 
  11. ^ Cano, PE, Librado F. (2010). Transformation Of An Individual Family Community Nation And The World. Trafford Publishing. hlm. 134. ISBN 9781426947667. 
  12. ^ a b c d e Jack Trout, "Big Brands Big Trouble", Esensi, 9796884666, 9789796884667.
  13. ^ a b c Perilaku Organisasi 2(ed. 12) HVS, "Perilaku Organisasi 2 (ed. 12) HVS", Penerbit Salemba, 9796914603, 9789796914609.

Buku

  • Blake, R.; Mouton, J. (1964). The Managerial Grid: The Key to Leadership Excellence. Houston: Gulf Publishing Co. 
  • Carlyle, Thomas (1841). On Heroes, Hero-Worship, and the Heroic History. Boston: Houghton Mifflin. ISBN 978-1-4069-4419-8. 
  • Fiedler, Fred E. (1967). A theory of leadership effectiveness. McGraw-Hill: Harper and Row Publishers Inc. 
  • Heifetz, Ronald (1994). Leadership without Easy Answers. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-51858-2. 
  • Hemphill, John K. (1949). Situational Factors in Leadership. Columbus: Ohio State University Bureau of Educational Research. 
  • Hersey, Paul; Blanchard, Ken; Johnson, D. (2008). Management of Organizational Behavior: Leading Human Resources (edisi ke-9th). Upper Saddle River, New Jersey: Pearson Education. ISBN 978-0-13-017598-4. 
  • Miner, J. B. (2005). Organizational Behavior: Behavior 1: Essential Theories of Motivation and Leadership. Armonk: M. E. Sharpe. 
  • Spencer, Herbert (1841). The Study of Sociology. New York: D. A. Appleton. ISBN 978-0-314-71117-5. 
  • Tittemore, James A. (2003). Leadership at all Levels. Canada: Boskwa Publishing. ISBN 978-0-9732914-0-7. 
  • Vroom, Victor H.; Yetton, Phillip W. (1973). Leadership and Decision-Making. Pittsburgh: University of Pittsburgh Press. ISBN 978-0-8229-3266-6. 
  • Vroom, Victor H.; Jago, Arthur G. (1988). The New Leadership: Managing Participation in Organizations. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall. ISBN 978-0-13-615030-5. 
  • Van Wormer, Katherine S.; Besthorn, Fred H.; Keefe, Thomas (2007). Human Behavior and the Social Environment: Macro Level: Groups, Communities, and Organizations. US: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-518754-0. 
  • Montana, Patrick J.; Bruce H. (2008). Management. Hauppauge, New York: Barron's Educational Series, Inc. ISBN 978-0-944740-04-0. 
  • Schultz, Duane P. Schultz, Sydney Ellen (2010). Psychology and work today : an introduction to industrial and organizational psychology (edisi ke-10th). Upper Saddle River, N.J.: Prentice Hall. hlm. 171. ISBN 978-0205683581. 
  • Murray Hiebert, Bruce Klatt, The Encyclopedia of Leadership: A Practical Guide to Popular Leadership Theories and Techniques [1 ed.], 9780071363082, 0071363084, McGraw-Hill, 2000

Jurnal