Indeks Pembangunan Manusia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Peta dunia berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (data 2019, dipublikasikan pada 2020).
  0.800–1.000 (sangat tinggi)
  0.700–0.799 (tinggi)
  0.550–0.699 (sedang)
  0.350–0.549 (rendah)
  Data tidak tersedia

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

IPM diperkenalkan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR). IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Indeks ini pada 1990 dikembangkan oleh pemenang nobel India Amartya Sen dan seorang ekonom Pakistan Mahbub ul Haq, serta dibantu oleh Gustav Ranis dari Universitas Yale dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics. Sejak saat itu, indeks ini dipakai oleh UNDP pada laporan IPM tahunannya.

Amartya Sen menggambarkan indeks ini sebagai "pengukuran vulgar" oleh karena batasannya. Indeks ini lebih berfokus pada hal-hal yang lebih sensitif dan berguna daripada hanya sekadar pendapatan perkapita yang selama ini digunakan. Indeks ini juga berguna sebagai jembatan bagi peneliti yang serius untuk mengetahui hal-hal yang lebih terinci dalam membuat laporan pembangunan manusianya.

Konsep[sunting | sunting sumber]

Dimensi Dasar[sunting | sunting sumber]

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) memiliki tiga dimensi yang digunakan sebagai dasar perhitungannya:

  • Kesehatan, yang diukur dengan angka harapan hidup saat kelahiran
  • Pendidikan, yang dihitung dari angka harapan sekolah dan angka rata-rata lama sekolah
  • Standar hidup layak, yang dihitung dari produk nasional bruto per kapita

Manfaat[sunting | sunting sumber]

Menurut Badan Pusat Statisitik (BPS), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) memiliki beberapa manfaat, yaitu:

  • IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk)
  • IPM dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara
  • Bagi Indonesia, IPM merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran kinerja Pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU)

Metodologi[sunting | sunting sumber]

Menghitung Indeks Komponen[sunting | sunting sumber]

Setiap komponen IPM distandardisasi dengan nilai minimum dan maksimum sebelum digunakan untuk menghitung IPM. Rumus yang digunakan sebagai berikut.

Dimensi Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Dimensi Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Dimensi Pengeluaran[sunting | sunting sumber]

Menghitung Indeks Pembangunan Manusia[sunting | sunting sumber]

IPM dihitung sebagai rata-rata geometrik dari indeks kesehatan, pendidikan, dan pengeluaran.

Indonesia[sunting | sunting sumber]

Tahun INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
UNDP[2] Perubahan BPS[3][4][5] Perubahan
1990 0,532 - - -
1991 0,541 Increase 0,009 - -
1992 0,548 Increase 0,007 - -
1993 0,560 Increase 0,012 - -
1994 0,569 Increase 0,009 - -
1995 0,582 Increase 0,013 - -
1996 0,595 Increase 0,013 67,70 -
1997 0,601 Increase 0,006 - -
1998 0,593 0,008 - -
1999 0,597 Increase 0,004 64,30 3,40
2000 0,603 Increase 0,006 - -
2001 0,608 Increase 0,005 - -
2002 0,612 Increase 0,004 65,80 Increase 1,50
2003 0,617 Increase 0,005 - -
2004 0,623 Increase 0,006 68,69 Increase 2,89
2005 0,625 Increase 0,002 69,57 Increase 0,88
2006 0,635 Increase 0,010 70,08 Increase 0,51
2007 0,642 Increase 0,007 70,59 Increase 0,51
2008 0,647 Increase 0,005 71,17 Increase 0,58
2009 0,658 Increase 0,011 71,76 Increase 0,59
2010 0,664 Increase 0,006 Metode Baru[5]
66,53 -
2011 0,671 Increase 0,007 67,09 Increase 0,56
2012 0,679 Increase 0,008 67,70 Increase 0,61
2013 0,685 Increase 0,006 68,31 Increase 0,61
2014 0,689 Increase 0,004 68,90 Increase 0,59
2015 0,691 Increase 0,002 69,50 Increase 0,60
2016 0,694 Increase 0,003 70,18 Increase 0,68
2017 0,698 Increase 0,004 70,81 Increase 0,63
2018 0,707 Increase 0,009 71,39 Increase 0,58
2019 0,718 Increase 0,011 71,92 Increase 0,53

Keterangan:

  Krisis Moneter dan kelabilan politik Indonesia (menyebabkan jatuhnya pendapatan per kapita)
  Krisis Moneter dan krisis ekonomi lainnya
  Proses pemulihan dari Krisis Moneter
  Pulih dari Krisis Moneter (pendapatan per kapita sama dengan sebelum krisis moneter)[6]
  IPM sangat tinggi
  IPM tinggi
  IPM sedang
  IPM rendah

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Davies, A. and G. Quinlivan (2006), A Panel Data Analysis of the Impact of Trade on Human Development, Journal of Socioeconomics" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2008-04-13. Diakses tanggal 2007-05-11. 
  2. ^ "United Nations Development Programme" (dalam bahasa Inggris). UNDP. 2020. Diakses tanggal 23 Desember 2020. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi (Metode Lama), 1996-2013". BPS. 2014. Diakses tanggal 23 Desember 2020. 
  4. ^ "Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi (Metode Baru) 2010-2018". BPS. 2018. Diakses tanggal 23 Desember 2020. 
  5. ^ a b "Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi (Metode Baru), 2010-2019". BPS. 2020. Diakses tanggal 23 Desember 2020. 
  6. ^ "The World Bank - Indonesia" (dalam bahasa Inggris). Bank Dunia. 2020. Diakses tanggal 23 Desember 2020. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]