Pendidikan
Pendidikan adalah proses pewarisan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus pengembangan sifat dan karakter manusia. Pendidikan formal berlangsung dalam kerangka kelembagaan yang terstruktur, seperti sekolah umum, dengan mengikuti suatu kurikulum tertentu. Pendidikan nonformal juga bersifat terstruktur, tetapi dilaksanakan di luar sistem sekolah formal, sedangkan pendidikan informal terjadi melalui pengalaman sehari-hari tanpa pola yang baku. Pendidikan formal dan nonformal biasanya dibagi menurut jenjang, mencakup pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Klasifikasi lain berfokus pada metode pengajaran, seperti pendidikan yang berpusat pada guru dan berpusat pada peserta didik, serta pada bidang studi, seperti pendidikan sains, pendidikan bahasa, dan pendidikan jasmani. Selain itu, istilah "pendidikan" juga dapat merujuk pada keadaan mental dan kualitas individu terdidik, serta pada bidang akademik yang meneliti fenomena pendidikan itu sendiri.
Definisi pendidikan yang tepat kerap menjadi perdebatan; muncul perbedaan pandangan mengenai tujuan pendidikan dan sejauh mana pendidikan dapat dibedakan dari indoktrinasi dalam menumbuhkan berpikir kritis. Perbedaan ini memengaruhi cara mengidentifikasi, mengukur, dan meningkatkan berbagai bentuk pendidikan. Pada hakikatnya, pendidikan berfungsi sebagai proses sosialisasi anak ke dalam masyarakat dengan menanamkan nilai-nilai budaya dan norma sosial, serta membekali mereka dengan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif. Melalui proses ini, pendidikan turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesadaran terhadap permasalahan lokal maupun global. Lembaga-lembaga yang terorganisasi memainkan peran penting dalam pendidikan; misalnya, pemerintah menetapkan kebijakan pendidikan untuk menentukan jadwal sekolah, kurikulum, dan persyaratan kehadiran. Organisasi internasional seperti UNESCO juga berpengaruh besar dalam memajukan pendidikan dasar untuk semua anak.
Beragam faktor memengaruhi keberhasilan pendidikan. Faktor psikologi meliputi motivasi, kecerdasan, dan kepribadian. Faktor sosial, seperti status sosial ekonomi, etnisitas, dan gender, sering kali berkaitan dengan diskriminasi. Faktor lain mencakup akses terhadap teknologi pendidikan, kualitas guru, serta keterlibatan orang tua.
Bidang akademik utama yang menelaah pendidikan dikenal sebagai ilmu pendidikan. Disiplin ini menyelidiki hakikat pendidikan, tujuannya, dampaknya, serta cara untuk meningkatkannya. Ilmu pendidikan mencakup berbagai subbidang, seperti filsafat, psikologi, sosiologi, dan ekonomi. Selain itu, bidang ini juga menyoroti tema-tema seperti pendidikan komparatif, pedagogi, dan sejarah pendidikan.
Pada masa prasejarah, pendidikan terutama berlangsung secara informal melalui komunikasi lisan dan peniruan. Dengan munculnya peradaban kuno dan penemuan tulisan, pengetahuan mulai berkembang lebih luas, mendorong peralihan dari pendidikan informal menuju pendidikan formal. Awalnya, pendidikan formal hanya dapat diakses oleh kalangan elit dan kelompok keagamaan. Penemuan mesin cetak pada abad ke-15 membuka akses masyarakat luas terhadap buku, sehingga meningkatkan tingkat melek huruf secara umum. Pada abad ke-18 dan ke-19, pendidikan publik memperoleh peran penting, menandai munculnya gerakan global untuk menyediakan pendidikan dasar yang gratis dan wajib hingga usia tertentu. Kini, lebih dari 90% anak usia sekolah dasar di seluruh dunia bersekolah di tingkat dasar.
Definisi
[sunting | sunting sumber]Istilah edukasi ("pendidikan") berasal dari kata Latin educare, yang berarti "mendidik" atau "membesarkan," dan educere, yang berarti "membawa keluar" atau "mengeluarkan potensi."[1] Pengertian pendidikan telah lama dikaji oleh para teoretikus dari beragam disiplin ilmu.[2] Banyak kalangan sepakat bahwa pendidikan merupakan suatu kegiatan yang disengaja dan bertujuan untuk mentransmisikan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai dan karakter tertentu.[3] Namun, terdapat perdebatan panjang mengenai hakikat sejati pendidikan di luar ciri-ciri umum tersebut. Salah satu pendekatan memandang pendidikan sebagai proses yang terjadi dalam kegiatan seperti persekolahan, pengajaran, dan pembelajaran.[4] Pendekatan lain justru melihat pendidikan bukan sebagai proses, melainkan sebagai kumpulan keadaan mental dan disposisi khas individu terdidik yang dihasilkan dari proses tersebut.[5] Lebih jauh lagi, istilah "pendidikan" juga dapat mengacu pada bidang akademik yang menelaah metode, proses, dan lembaga sosial yang terlibat dalam kegiatan belajar dan mengajar.[6] Pemahaman yang jelas mengenai istilah ini menjadi penting ketika kita berupaya mengenali fenomena pendidikan, mengukur keberhasilannya, serta meningkatkan praktiknya.[7]
Beberapa teoretikus berusaha memberikan definisi yang lebih presisi dengan menetapkan ciri-ciri esensial yang melekat pada semua bentuk pendidikan. Teoretikus pendidikan R. S. Peters, misalnya, menguraikan tiga unsur pokok pendidikan: penyampaian pengetahuan dan pemahaman kepada peserta didik, pelaksanaan proses yang bermanfaat, serta pelaksanaan yang didasari pertimbangan moral yang layak.[8] Definisi yang ketat seperti ini memang efektif menggambarkan bentuk pendidikan yang paling umum, tetapi kerap dikritik karena gagal mencakup bentuk-bentuk pendidikan yang lebih jarang ditemui.[9] Menangani contoh tandingan yang tidak tercakup dalam definisi ketat sering kali menjadi tantangan tersendiri, sehingga sebagian teoretikus lebih memilih pendekatan berbasis kemiripan keluarga (family resemblance). Pendekatan ini berpandangan bahwa semua bentuk pendidikan memiliki keserupaan tertentu satu sama lain, meskipun tidak harus berbagi seperangkat ciri esensial yang sama.[10] Beberapa teoretikus pendidikan, seperti Keira Sewell dan Stephen Newman, berpendapat bahwa makna istilah "pendidikan" bergantung pada konteks penggunaannya.[a][11]
Pandangan aksiologis atau yang dikenal sebagai konsep tebal[b] menegaskan bahwa pendidikan secara inheren mengandung tujuan untuk menghasilkan suatu bentuk perbaikan. Pandangan ini berlawanan dengan konsep tipis (thin conception), yang menjelaskan pendidikan secara netral tanpa muatan nilai.[13] Beberapa teoretikus mengajukan pengertian deskriptif dengan mengamati bagaimana istilah ini digunakan dalam bahasa sehari-hari, sedangkan definisi preskriptif menjelaskan apa yang dimaksud dengan pendidikan yang baik, atau bagaimana pendidikan seharusnya dijalankan.[14] Banyak pandangan tebal dan preskriptif yang memandang pendidikan sebagai usaha yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu,[15] yang meliputi pemerolehan pengetahuan, pembiasaan berpikir rasional, serta penanaman karakter seperti kebaikan hati dan kejujuran.[16]
Sejumlah sarjana menekankan pentingnya berpikir kritis sebagai ciri pembeda antara pendidikan dan indoktrinasi.[17] Mereka berpendapat bahwa indoktrinasi semata-mata berfokus pada penanaman keyakinan tanpa memperhatikan rasionalitasnya;[18] sedangkan pendidikan mendorong kemampuan rasional untuk menelaah dan mempertanyakan keyakinan tersebut secara kritis.[19] Meski demikian, tidak semua pihak sepakat bahwa kedua fenomena ini dapat dipisahkan secara tegas. Dalam beberapa kasus, bentuk indoktrinasi tertentu mungkin diperlukan pada tahap awal pendidikan, ketika kemampuan berpikir anak belum berkembang sepenuhnya. Hal ini terutama berlaku dalam situasi di mana anak harus mempelajari sesuatu tanpa memahami alasan di baliknya, seperti aturan keselamatan atau kebiasaan menjaga kebersihan.[20]
Pendidikan dapat dipahami dari dua sudut pandang: guru dan peserta didik. Definisi yang berpusat pada guru menekankan peran dan tanggung jawab pendidik dalam mentransfer pengetahuan serta keterampilan dengan cara yang moral dan patut.[21] Sebaliknya, definisi yang berpusat pada peserta didik memandang pendidikan sebagai proses yang melibatkan pengalaman aktif siswa dalam belajar, yang kemudian mentransformasi dan memperkaya pengalaman hidupnya selanjutnya.[22] Ada pula pendekatan yang berusaha memadukan kedua pandangan tersebut, dengan melihat pendidikan sebagai proses pengalaman bersama, tempat guru dan murid bersama-sama menemukan dunia yang mereka bagi serta berkolaborasi dalam pemecahan masalah.[23]
Jenis-jenis
[sunting | sunting sumber]Terdapat berbagai klasifikasi dalam pendidikan. Salah satu klasifikasi bergantung pada kerangka kelembagaan, yang membedakan antara pendidikan formal, nonformal, dan informal. Klasifikasi lain didasarkan pada tingkat pendidikan, yang umumnya ditentukan oleh usia peserta didik serta kompleksitas materi pembelajaran. Kategori tambahan menyoroti topik, metode pengajaran, media yang digunakan, serta sumber pendanaannya.[24]
Formal, nonformal, dan informal
[sunting | sunting sumber]Pembagian yang paling umum adalah antara formal, nonformal, dan informal.[25][c] Pendidikan formal berlangsung dalam kerangka kelembagaan yang terstruktur, umumnya bersifat kronologis dan hierarkis. Sistem persekolahan modern mengatur jenjang berdasarkan usia dan kemajuan peserta didik, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan formal biasanya berada di bawah pengawasan dan regulasi pemerintah serta sering kali bersifat wajib hingga usia tertentu.[27]
Pendidikan nonformal dan informal berlangsung di luar sistem persekolahan formal, dengan pendidikan nonformal menempati posisi di antara keduanya. Seperti halnya pendidikan formal, pendidikan nonformal memiliki struktur dan tujuan yang jelas, serta diselenggarakan secara sistematis. Contohnya dapat ditemukan dalam kegiatan seperti bimbingan belajar, kelas kebugaran, atau keterlibatan dalam gerakan pramuka.[28] Sebaliknya, pendidikan informal terjadi secara tidak sistematis melalui pengalaman hidup sehari-hari dan interaksi dengan lingkungan. Tidak seperti dua jenis sebelumnya, pendidikan informal umumnya tidak memiliki figur otoritatif yang berperan sebagai pengajar.[29] Pendidikan informal berlangsung di berbagai situasi sepanjang kehidupan seseorang, sering kali bersifat spontan, misalnya, anak-anak belajar bahasa pertama dari orang tuanya, atau seseorang memperoleh keterampilan memasak melalui pengalaman bersama di dapur.[30]
Beberapa ahli membedakan ketiga jenis pendidikan ini berdasarkan lingkungan belajarnya: pendidikan formal berlangsung di sekolah, pendidikan nonformal dilaksanakan di tempat-tempat yang tidak dikunjungi secara rutin seperti museum, sedangkan pendidikan informal terjadi dalam konteks aktivitas sehari-hari.[31] Selain itu, perbedaan juga dapat dilihat dari sumber motivasinya. Pendidikan formal biasanya digerakkan oleh motivasi ekstrinsik, yaitu dorongan yang bersumber dari imbalan eksternal. Sebaliknya, dalam pendidikan nonformal dan informal, motivasi intrinsik, yakni kesenangan yang timbul dari proses belajar itu sendiri, lebih dominan.[32] Meskipun pembedaan ketiganya secara umum cukup jelas, terdapat bentuk-bentuk pendidikan yang tidak sepenuhnya dapat dimasukkan ke dalam salah satu kategori secara tegas.[33]
Dalam kebudayaan primitif, pendidikan sebagian besar berlangsung secara informal tanpa adanya batas yang jelas antara kegiatan belajar dan aktivitas harian lainnya. Lingkungan sekitar berfungsi sebagai ruang kelas, dan para orang dewasa secara alami berperan sebagai pendidik. Namun, pendidikan informal sering kali tidak memadai untuk mentransmisikan pengetahuan dalam jumlah besar. Untuk mengatasi keterbatasan ini, diperlukan ruang belajar yang lebih terstruktur serta pengajar yang terlatih. Kebutuhan tersebut mendorong meningkatnya pentingnya pendidikan formal sepanjang sejarah. Seiring waktu, pendidikan formal menghasilkan pergeseran menuju pembelajaran yang lebih abstrak, menjauh dari kehidupan sehari-hari, dengan penekanan pada pemahaman prinsip-prinsip umum dan konsep-konsep mendasar, bukan sekadar meniru perilaku yang diamati.[34]
Jenjang
[sunting | sunting sumber]
Jenis-jenis pendidikan sering kali diklasifikasikan ke dalam berbagai jenjang atau tahapan. Salah satu kerangka yang paling berpengaruh adalah Klasifikasi Standar Internasional Pendidikan (International Standard Classification of Education), yang dikelola oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Klasifikasi ini mencakup pendidikan formal dan nonformal, dengan pembedaan jenjang berdasarkan faktor-faktor seperti usia peserta didik, durasi pembelajaran, serta tingkat kompleksitas materi yang dipelajari. Kriteria tambahan mencakup persyaratan masuk, kualifikasi pengajar, dan hasil akhir yang diharapkan setelah penyelesaian studi. Jenjang-jenjang tersebut meliputi pendidikan anak usia dini (level 0), pendidikan dasar (level 1), pendidikan menengah (level 2–3), pendidikan pascasekolah menengah nontertiari (level 4), serta pendidikan tinggi (level 5–8).[35]
Pendidikan anak usia dini, yang juga dikenal sebagai pendidikan prasekolah atau pendidikan taman kanak-kanak, mencakup masa sejak kelahiran hingga memasuki sekolah dasar. Pendidikan ini dirancang untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, baik fisik, mental, maupun sosial. Pada tahap ini, anak dilatih untuk bersosialisasi dan mengembangkan kepribadian, sambil memperoleh keterampilan dasar dalam berkomunikasi, belajar, dan memecahkan masalah. Tujuan utamanya adalah mempersiapkan anak untuk transisi menuju pendidikan dasar.[36] Meskipun pendidikan prasekolah umumnya bersifat opsional, di beberapa negara seperti Brasil, pendidikan ini diwajibkan bagi anak-anak berusia empat tahun ke atas.[37]

Pendidikan dasar biasanya dimulai antara usia lima hingga tujuh tahun dan berlangsung selama empat hingga tujuh tahun. Pendidikan ini tidak memiliki syarat masuk tambahan dan bertujuan memberikan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu, pendidikan dasar juga mengenalkan pengetahuan umum dalam bidang sejarah, geografi, ilmu pengetahuan alam, musik, dan seni. Tujuan lainnya ialah mendorong perkembangan pribadi peserta didik.[38] Saat ini, pendidikan dasar bersifat wajib di hampir seluruh negara di dunia, dengan lebih dari 90% anak usia sekolah dasar mengikuti pendidikan ini.[39]
Pendidikan menengah merupakan kelanjutan dari pendidikan dasar dan umumnya berlangsung pada rentang usia 12 hingga 18 tahun. Pendidikan ini sering dibagi menjadi pendidikan menengah pertama (seperti sekolah menengah pertama atau junior high school) dan pendidikan menengah atas (seperti sekolah menengah atas, senior high school, atau college, tergantung negara). Pendidikan menengah pertama biasanya mensyaratkan penyelesaian pendidikan dasar. Tujuannya adalah memperluas serta memperdalam hasil pembelajaran, dengan penekanan yang lebih besar pada kurikulum berbasis mata pelajaran, dan para guru biasanya mengajar bidang tertentu secara spesifik. Salah satu tujuan utamanya ialah memperkenalkan konsep teoretis dasar dari berbagai disiplin ilmu sebagai fondasi untuk pembelajaran sepanjang hayat. Dalam beberapa kasus, pendidikan ini juga mencakup pelatihan kejuruan dasar.[40] Pendidikan menengah pertama bersifat wajib di banyak negara di Asia Tengah dan Timur, Eropa, serta Amerika. Di beberapa negara, jenjang ini merupakan tahap akhir pendidikan wajib. Namun, penerapan wajib belajar hingga tingkat menengah pertama masih jarang ditemukan di negara-negara Arab, Afrika Sub-Sahara, serta Asia Selatan dan Barat.[41]

Pendidikan menengah atas biasanya dimulai sekitar usia 15 tahun dan bertujuan mempersiapkan peserta didik dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk bekerja atau melanjutkan ke pendidikan tinggi. Penyelesaian pendidikan menengah pertama umumnya menjadi prasyarat. Kurikulumnya lebih beragam dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih mata pelajaran sesuai minat. Keberhasilan dalam jenjang ini sering kali ditandai dengan pencapaian kualifikasi formal seperti ijazah SMA.[42] Di atas jenjang ini terdapat pendidikan pascasekolah menengah nontertiari, yang memiliki tingkat kompleksitas serupa dengan pendidikan menengah, tetapi lebih menekankan pada pelatihan kejuruan untuk mempersiapkan siswa memasuki dunia kerja.[43]

Di sejumlah negara, pendidikan tinggi identik dengan pendidikan universitas, sementara di negara lain, pendidikan tinggi mencakup spektrum yang lebih luas.[44] Pendidikan tinggi dibangun di atas fondasi pendidikan menengah, tetapi dengan fokus yang lebih mendalam pada bidang atau disiplin tertentu. Penyelesaian jenjang ini biasanya menghasilkan gelar akademik. Pendidikan tinggi terbagi dalam empat jenjang: pendidikan tinggi siklus pendek, sarjana, magister, dan doktoral. Keempat jenjang ini umumnya tersusun secara hierarkis, di mana jenjang yang lebih rendah menjadi prasyarat bagi jenjang berikutnya.[45] Pendidikan tinggi siklus pendek berfokus pada aspek praktis, memberikan pelatihan kejuruan dan profesional tingkat lanjut untuk profesi tertentu.[46] Pendidikan tingkat sarjana, yang juga disebut pendidikan prasarjana, biasanya memiliki durasi lebih panjang dibanding siklus pendek dan umumnya diselenggarakan oleh universitas, menghasilkan gelar sarjana sebagai capaian akademik antara.[47] Pendidikan tingkat magister lebih bersifat spesialis dan biasanya melibatkan penelitian mandiri, yang diwujudkan melalui penulisan tesis atau disertasi singkat.[48] Jenjang doktoral menghasilkan kualifikasi penelitian tingkat lanjut, umumnya berupa gelar Doktor Filsafat (PhD), yang menuntut penulisan karya akademik substansial seperti disertasi. Setelahnya, terdapat jenjang yang lebih tinggi seperti peneliti pascadoktoral dan habilitasi.[49]
Keberhasilan menyelesaikan pendidikan formal biasanya menghasilkan sertifikasi, yang menjadi syarat untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi atau memasuki profesi tertentu. Namun, praktik kecurangan dalam ujian, seperti penggunaan catatan contekan, dapat merusak integritas sistem ini karena berpotensi meluluskan peserta yang tidak memenuhi kualifikasi.[50]
Di sebagian besar negara, pendidikan dasar dan menengah diberikan secara gratis. Namun, terdapat kesenjangan global yang besar dalam biaya pendidikan tinggi. Negara-negara seperti Swedia, Finlandia, Polandia, dan Meksiko menyediakan pendidikan tinggi secara gratis atau dengan biaya yang sangat rendah. Sebaliknya, di negara seperti Amerika Serikat dan Singapura, pendidikan tinggi umumnya dibebani biaya kuliah yang tinggi, sehingga banyak mahasiswa bergantung pada pinjaman besar untuk membiayai studi mereka.[51] Biaya pendidikan yang tinggi dapat menjadi hambatan serius bagi pelajar di negara berkembang, karena banyak keluarga kesulitan membayar biaya sekolah, membeli seragam, dan memperoleh buku pelajaran.[52]
Lain-lain
[sunting | sunting sumber]Literatur akademik mengulas beragam bentuk pendidikan, termasuk pendekatan tradisional dan alternatif. Pendidikan tradisional mencakup metode pembelajaran yang telah lama dikenal dan lazim digunakan, ditandai dengan pengajaran yang berpusat pada guru dalam lingkungan sekolah yang terstruktur. Berbagai aspek seperti kurikulum dan jadwal pelajaran diatur melalui peraturan yang ketat.[53]

Pendidikan alternatif berfungsi sebagai istilah payung bagi metode pendidikan yang berbeda dari pendekatan konvensional. Perbedaannya dapat mencakup lingkungan belajar, isi kurikulum, maupun dinamika hubungan antara guru dan murid. Ciri khas pendidikan alternatif antara lain sifatnya yang sukarela, ukuran kelas dan sekolah yang relatif kecil, serta metode pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Pendekatan ini mendorong terciptanya suasana belajar yang inklusif dan mendukung secara emosional. Bentuk-bentuknya mencakup sekolah charter, program khusus bagi siswa dengan kebutuhan atau bakat luar biasa, serta praktik seperti homeschooling dan unschooling. Beragam filsafat pendidikan tecermin dalam pendekatan ini, termasuk sistem sekolah Montessori, pendidikan Waldorf, sekolah Round Square, sekolah Escuela Nueva, sekolah bebas, dan sekolah demokratis.[54] Pendidikan alternatif juga mencakup pendidikan masyarakat adat, yang menekankan pelestarian dan pewarisan pengetahuan serta keterampilan yang berakar pada kebudayaan leluhur. Pendekatan ini sering memanfaatkan metode tradisional seperti tuturan lisan dan bercerita.[55] Bentuk lain pendidikan alternatif antara lain sekolah gurukul di India,[56] sekolah madrasah di Timur Tengah,[57] dan yeshiva dalam tradisi Yahudi.[58]
Pembedaan lain dalam pendidikan dapat dilihat dari penerimanya. Berdasarkan usia peserta didik, pendidikan dapat dikategorikan menjadi pendidikan anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia.[59] Berdasarkan jenis kelamin siswa, dikenal pendidikan tunggal jenis kelamin dan pendidikan campuran.[60] Pendidikan khusus ditujukan bagi peserta didik dengan disabilitas, mencakup hambatan pada tingkat kecerdasan, sosial, komunikasi, dan fisik. Tujuannya adalah membantu mereka mengatasi keterbatasan tersebut agar tetap memperoleh akses terhadap struktur pendidikan yang sesuai. Dalam pengertian luas, pendidikan khusus juga mencakup pembelajaran bagi anak-anak yang memiliki kecerdasan luar biasa, yang membutuhkan kurikulum yang disesuaikan untuk mengembangkan potensi mereka secara optimal.[61]
Klasifikasi lain didasarkan pada metode pengajaran. Pendidikan berpusat pada guru menempatkan pendidik sebagai pusat penyampaian pengetahuan, sedangkan pembelajaran berpusat pada siswa memberikan peran lebih aktif bagi peserta didik dalam membentuk pengalaman belajar mereka sendiri.[62] Dalam pendidikan yang disadari, proses belajar-mengajar berlangsung dengan tujuan yang jelas, sedangkan pendidikan tidak sadar terjadi secara spontan tanpa perencanaan atau pengarahan khusus.[63] Hal ini dapat muncul, misalnya, melalui pengaruh kepribadian guru dan orang dewasa di sekitar anak, yang secara tidak langsung membentuk perkembangan kepribadian siswa.[64] Pendidikan berbasis bukti memanfaatkan hasil penelitian ilmiah untuk menentukan metode pengajaran yang paling efektif. Tujuannya adalah mengoptimalkan praktik dan kebijakan pendidikan dengan memastikan bahwa keduanya didasarkan pada bukti empiris terbaik yang tersedia. Pendekatan ini mencakup pengajaran berbasis bukti, pembelajaran berbasis bukti, serta riset efektivitas sekolah.[65]
Autodidakisme, atau pendidikan mandiri, terjadi tanpa keterlibatan guru maupun lembaga formal. Bentuk ini sering ditemukan dalam pendidikan orang dewasa, memberikan kebebasan untuk memilih apa dan kapan belajar, sehingga dapat menjadi pengalaman belajar yang lebih bermakna. Namun, ketiadaan struktur dan bimbingan dapat menyebabkan pembelajaran tanpa arah, sementara tidak adanya umpan balik korektif dapat membuat pelajar autodidak mengembangkan kesalahpahaman atau menilai kemajuan belajarnya secara keliru.[66] Autodidakisme erat kaitannya dengan pendidikan sepanjang hayat, yang menekankan pentingnya proses belajar terus-menerus sepanjang kehidupan seseorang.[67]
Kategori pendidikan berdasarkan bidang studi meliputi pendidikan sains, pendidikan bahasa, pendidikan seni, pendidikan agama, pendidikan jasmani, dan pendidikan seksualitas.[68] Media khusus seperti radio dan laman web digunakan dalam pendidikan jarak jauh, termasuk e-learning (penggunaan komputer), m-learning (penggunaan perangkat seluler), dan pendidikan daring. Bentuk-bentuk ini kerap terwujud sebagai pendidikan terbuka, di mana kursus dan materi dapat diakses secara luas tanpa hambatan besar, berbeda dengan pembelajaran di ruang kelas tradisional. Namun, tidak semua pendidikan daring bersifat terbuka, misalnya, beberapa universitas menawarkan program gelar penuh secara daring yang tidak termasuk dalam inisiatif pendidikan terbuka.[69]
Pendidikan negeri, juga dikenal sebagai pendidikan publik,[d] didanai dan diatur oleh pemerintah serta terbuka bagi masyarakat umum. Pendidikan ini umumnya bebas biaya dan oleh karena itu termasuk bentuk pendidikan gratis. Sebaliknya, pendidikan swasta dikelola serta didanai oleh lembaga nonpemerintah. Sekolah swasta sering memiliki proses penerimaan yang lebih selektif dan memungut biaya pendidikan dari siswanya.[71] Klasifikasi yang lebih mendalam melihat lembaga sosial yang berperan dalam pendidikan, seperti keluarga, sekolah, masyarakat sipil, negara, dan gereja.[72]
Pendidikan wajib merujuk pada pendidikan yang secara hukum harus diikuti, terutama bagi anak-anak hingga usia tertentu. Hal ini berbeda dari pendidikan sukarela, yang dijalani berdasarkan pilihan pribadi tanpa adanya keharusan hukum.[73]
Peran dalam masyarakat
[sunting | sunting sumber]
Pendidikan memainkan beragam peran dalam masyarakat, mencakup ranah sosial, ekonomi, dan personal. Secara sosial, pendidikan berfungsi membangun serta mempertahankan stabilitas sosial dengan menanamkan keterampilan dasar yang diperlukan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan memenuhi kebutuhan serta cita-cita pribadi. Dalam masyarakat modern, keterampilan tersebut meliputi kemampuan berbicara, membaca, menulis, berhitung (aritmetika), serta kemahiran dalam teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu, pendidikan menjadi sarana sosialisasi dengan menanamkan kesadaran akan norma sosial dan budaya yang dominan, membentuk perilaku yang sesuai dalam berbagai konteks. Pendidikan juga memperkuat kohesi sosial, stabilitas, dan perdamaian, sehingga mendorong partisipasi produktif dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun proses sosialisasi berlangsung sepanjang hidup, pendidikan anak usia dini memiliki peranan yang sangat penting. Lebih jauh lagi, pendidikan berperan vital dalam demokrasi dengan meningkatkan partisipasi kewarganegaraan melalui kegiatan seperti pemungutan suara dan pengorganisasian masyarakat, serta mendorong pemerataan kesempatan bagi semua orang.[74]
Dalam ranah ekonomi, pendidikan menjadikan individu anggota masyarakat yang produktif dengan membekali mereka keterampilan teknis dan analitis yang diperlukan untuk bekerja, menghasilkan barang, serta menyediakan jasa bagi orang lain. Dalam masyarakat awal, pembagian kerja masih terbatas, dan anak-anak biasanya mempelajari beragam keterampilan yang penting bagi kelangsungan komunitas. Namun, seiring meningkatnya kompleksitas masyarakat modern, berbagai profesi kini menuntut pelatihan khusus di samping pendidikan umum. Akibatnya, hanya sebagian kecil individu yang benar-benar menguasai suatu bidang keahlian tertentu. Selain itu, nilai dari keterampilan sosial yang diperoleh dapat berbeda tergantung konteksnya. Misalnya, dorongan untuk berpikir kritis dan mempertanyakan ajaran konvensional dapat menumbuhkan inovasi, tetapi pada saat lain, kepatuhan terhadap otoritas juga dibutuhkan demi menjaga stabilitas sosial.[75]

Dengan membantu individu berintegrasi dalam masyarakat, pendidikan mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan. Melalui peningkatan keterampilan kerja, pendidikan memperbaiki kualitas barang dan jasa yang dihasilkan, yang pada gilirannya menumbuhkan kemakmuran dan meningkatkan daya saing.[77] Pendidikan publik secara luas dipandang sebagai investasi jangka panjang yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan, dengan pendidikan dasar menunjukkan tingkat pengembalian sosial tertinggi.[78] Selain meningkatkan kemakmuran ekonomi, pendidikan juga berkontribusi terhadap kemajuan teknologi dan ilmiah, menekan angka pengangguran, serta memperkuat keadilan sosial.[79] Tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga berkaitan dengan penurunan angka kelahiran, sebagian karena meningkatnya kesadaran akan perencanaan keluarga, bertambahnya kesempatan bagi perempuan, dan kecenderungan menunda pernikahan.[80]
Pendidikan berperan penting dalam mempersiapkan suatu negara menghadapi perubahan serta tantangan baru. Pendidikan meningkatkan kesadaran dan membantu mengatasi isu-isu global kontemporer, seperti perubahan iklim, keberlanjutan, dan meningkatnya ketimpangan ekonomi antara kaya dan miskin.[81] Dengan menanamkan pemahaman akan bagaimana tindakan seseorang berdampak pada orang lain, pendidikan dapat menginspirasi individu untuk berupaya mewujudkan dunia yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan.[82] Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berfungsi mempertahankan norma sosial, tetapi juga menjadi katalis bagi perkembangan sosial.[83] Peran ini juga berlaku dalam konteks ekonomi yang terus berubah, di mana kemajuan teknologi, khususnya meningkatnya otomatisasi, menimbulkan tuntutan baru bagi tenaga kerja yang dapat dijawab melalui pendidikan.[84] Seiring perubahan zaman, keterampilan dan pengetahuan yang diajarkan dapat menjadi usang, sehingga kurikulum perlu disesuaikan dengan memasukkan mata pelajaran seperti literasi digital dan pelatihan untuk menghadapi teknologi baru.[85] Selain itu, pendidikan juga dapat mengadopsi bentuk-bentuk inovatif seperti kursus daring terbuka massal (massive open online courses) untuk mempersiapkan individu menghadapi tantangan dan peluang baru.[86]
Pada tataran yang lebih personal, pendidikan memupuk pengembangan diri, termasuk mempelajari keterampilan baru, mengasah bakat, menumbuhkan kreativitas, memperdalam pemahaman diri, serta mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.[87] Lebih dari itu, pendidikan berdampak positif terhadap kesehatan dan kesejahteraan. Individu berpendidikan cenderung memiliki pemahaman lebih baik mengenai isu-isu kesehatan, menyesuaikan perilakunya dengan lebih tepat, memiliki jaringan dukungan sosial yang lebih kuat dan strategi mekanisme koping yang lebih sehat, serta memperoleh penghasilan lebih tinggi yang memungkinkan akses terhadap layanan kesehatan yang lebih baik.[88] Pentingnya peran pendidikan diakui secara global melalui peringatan tahunan Hari Pendidikan Internasional setiap 24 Januari, yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, setelah sebelumnya mencanangkan tahun 1970 sebagai Tahun Pendidikan Internasional.[89]
Peran lembaga
[sunting | sunting sumber]
Lembaga-lembaga terorganisasi memegang peranan yang sangat penting dalam berbagai aspek pendidikan. Entitas seperti sekolah, universitas, lembaga pelatihan guru, dan kementerian pendidikan membentuk sektor pendidikan. Mereka tidak hanya berinteraksi satu sama lain, tetapi juga dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk orang tua, komunitas lokal, kelompok keagamaan, organisasi non-pemerintah, tenaga kesehatan, aparat penegak hukum, media, serta para pemimpin politik. Banyak individu yang terlibat langsung dalam sektor pendidikan, seperti siswa, guru, kepala sekolah, perawat sekolah, hingga pengembang kurikulum.[90]
Berbagai aspek pendidikan formal diatur melalui kebijakan pendidikan yang ditetapkan oleh lembaga-lembaga pemerintah. Kebijakan ini menentukan usia wajib sekolah, waktu pelaksanaan kegiatan belajar, serta berbagai hal yang berkaitan dengan lingkungan sekolah seperti sarana dan prasarana. Peraturan juga mencakup kualifikasi serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh para guru. Salah satu unsur terpenting dalam kebijakan pendidikan adalah kurikulum yang digunakan di sekolah, perguruan tinggi, dan universitas. Kurikulum merupakan rencana pembelajaran yang menuntun peserta didik dalam mencapai tujuan pendidikan mereka. Pemilihan topik biasanya didasarkan pada relevansi dan tingkat kepentingannya, serta menyesuaikan dengan jenis lembaga pendidikan. Kurikulum sekolah umum umumnya dirancang untuk memberikan pendidikan yang menyeluruh dan seimbang, sementara pendidikan kejuruan berfokus pada keterampilan praktis dalam bidang tertentu. Selain menentukan topik pembelajaran, kurikulum juga mencakup metode pengajaran, tujuan pembelajaran, dan standar penilaian capaian belajar. Dengan menetapkan kurikulum, lembaga pemerintah memiliki pengaruh yang besar terhadap bentuk pengetahuan dan keterampilan yang akan diwariskan kepada peserta didik.[91] Contoh lembaga pemerintah di bidang pendidikan antara lain Kementerian Pendidikan di India,[92] Departemen Pendidikan Dasar di Afrika Selatan,[93] dan Sekretariat Pendidikan Publik di Meksiko.[94]

Organisasi internasional juga memainkan peran penting dalam dunia pendidikan. Sebagai contoh, UNESCO merupakan organisasi antar-pemerintah yang memajukan pendidikan melalui berbagai inisiatif. Salah satu kegiatannya ialah mendorong kebijakan pendidikan, misalnya melalui perjanjian Konvensi Hak Anak, yang menegaskan bahwa hak atas pendidikan adalah hak asasi manusia yang mendasar bagi semua anak dan remaja. Program Pendidikan untuk Semua bertujuan memberikan pendidikan dasar bagi setiap anak, remaja, dan orang dewasa pada tahun 2015, yang kemudian dilanjutkan oleh inisiatif Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya tujuan ke-4.[95] Kebijakan lain yang berkaitan mencakup Konvensi Melawan Diskriminasi dalam Pendidikan serta inisiatif Masa Depan Pendidikan.[96]
Beberapa organisasi berpengaruh lainnya bersifat non-pemerintah, bukan antar-pemerintah. Misalnya, Asosiasi Internasional Universitas mendorong kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antar perguruan tinggi di seluruh dunia, sedangkan International Baccalaureate menawarkan program diploma internasional.[97] Program seperti Program Erasmus memfasilitasi pertukaran pelajar antarnegara,[98] sementara inisiatif seperti Program Fulbright menyediakan kesempatan serupa bagi para pengajar.[99]
Faktor-faktor Keberhasilan Pendidikan
[sunting | sunting sumber]Keberhasilan pendidikan, yang juga dikenal sebagai pencapaian siswa atau capaian akademik, mengacu pada sejauh mana tujuan pendidikan tercapai, seperti perolehan pengetahuan dan keterampilan oleh para pelajar. Dalam praktiknya, keberhasilan ini sering diukur melalui nilai ujian resmi, tetapi terdapat pula berbagai indikator lain, termasuk tingkat kehadiran, angka kelulusan, tingkat putus sekolah, sikap siswa terhadap pembelajaran, serta indikator pasca-sekolah seperti tingkat pendapatan dan pemenjaraan di kemudian hari.[100] Beragam faktor memengaruhi pencapaian pendidikan, mulai dari faktor psikologis yang berkaitan dengan individu pelajar hingga faktor sosiologis yang berakar pada lingkungan sosial mereka. Faktor lain mencakup akses terhadap teknologi pendidikan, kualitas pengajaran, serta keterlibatan orang tua. Banyak dari faktor-faktor ini saling bertumpang tindih dan saling memengaruhi satu sama lain.[101]
Psikologis
[sunting | sunting sumber]Pada tataran psikologis, faktor-faktor yang relevan meliputi motivasi, kecerdasan, dan kepribadian.[102] Motivasi merupakan dorongan batin yang menuntun seseorang untuk terlibat dalam kegiatan belajar.[103] Siswa yang termotivasi lebih cenderung berinteraksi aktif dengan materi yang dipelajari, misalnya dengan berpartisipasi dalam diskusi kelas, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam. Motivasi juga membantu siswa menghadapi hambatan dan kegagalan. Terdapat perbedaan penting antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Siswa yang bermotivasi intrinsik terdorong oleh minat terhadap topik dan pengalaman belajar itu sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik didorong oleh penghargaan luar, seperti nilai tinggi atau pengakuan dari teman sebaya. Motivasi intrinsik umumnya lebih bermanfaat karena menumbuhkan kreativitas, keterlibatan yang lebih dalam, serta komitmen jangka panjang.[104] Psikolog pendidikan berupaya menemukan cara untuk meningkatkan motivasi, seperti mendorong kompetisi yang sehat di antara siswa sambil menjaga keseimbangan antara umpan balik positif dan negatif melalui pujian serta kritik yang membangun.[105]
Kecerdasan memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan seseorang dalam merespons pendidikan. Ia merupakan sifat kognitif yang berkaitan dengan kapasitas untuk belajar dari pengalaman, memahami, serta menerapkan pengetahuan dan keterampilan guna memecahkan masalah. Individu dengan skor kecerdasan lebih tinggi umumnya menunjukkan kinerja akademik yang lebih baik dan cenderung melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.[106] Kecerdasan kerap dikaitkan dengan konsep IQ, ukuran numerik standar yang menilai kecerdasan berdasarkan kemampuan logika-matematis dan verbal. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa kecerdasan meliputi berbagai jenis yang lebih luas dari sekadar IQ. Psikolog Howard Gardner mengemukakan bahwa terdapat bentuk-bentuk kecerdasan yang berbeda, mencakup ranah matematika, logika, spasial, bahasa, dan musik. Jenis kecerdasan lain juga berpengaruh terhadap interaksi sosial dan pemahaman diri. Setiap bentuk kecerdasan ini bersifat relatif mandiri, sehingga seseorang dapat unggul dalam satu bidang tetapi kurang menonjol di bidang lain.[107]
Menurut para pendukung teori gaya belajar, cara seseorang memperoleh pengetahuan dan keterampilan juga menjadi faktor penting. Misalnya, pelajar dengan gaya belajar auditori lebih mudah memahami materi melalui penjelasan lisan dan diskusi, sementara pelajar visual lebih terbantu dengan penyajian informasi dalam bentuk diagram atau video. Untuk mencapai pembelajaran yang efektif, sering kali disarankan untuk menggabungkan berbagai bentuk penyajian materi.[108] Meski demikian, konsep gaya belajar telah menuai kritik karena kurangnya bukti empiris yang kuat mengenai manfaatnya bagi siswa dan rendahnya keandalan dalam penilaian gaya belajar oleh guru.[109]
Kepribadian peserta didik juga berperan dalam menentukan keberhasilan akademik. Misalnya, sifat-sifat seperti ketelitian dan keterbukaan terhadap pengalaman yang termasuk dalam Lima faktor kepribadian besar berkorelasi dengan kesuksesan akademik.[110] Faktor mental lain yang turut berperan mencakup efikasi diri, harga diri, dan kemampuan metakognitif.[111]
Sosiologis
[sunting | sunting sumber]Faktor-faktor sosiologis tidak berfokus pada atribut psikologis individu, melainkan pada lingkungan dan posisi sosial mereka dalam masyarakat. Faktor-faktor ini mencakup status sosial ekonomi, etnisitas, latar belakang budaya, dan jenis kelamin, yang menarik perhatian luas dari para peneliti karena keterkaitannya dengan ketimpangan dan diskriminasi. Oleh karena itu, faktor-faktor tersebut memiliki peran penting dalam perumusan kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatifnya.[112]
Status sosial ekonomi tidak hanya ditentukan oleh pendapatan, tetapi juga oleh keamanan finansial, status sosial, kelas sosial, serta berbagai aspek yang memengaruhi kualitas hidup. Status sosial ekonomi rendah dapat memengaruhi keberhasilan pendidikan dalam banyak cara. Kondisi ini berkaitan dengan keterlambatan perkembangan kognitif dalam bahasa dan daya ingat, serta tingkat putus sekolah yang lebih tinggi. Keluarga dengan sumber daya terbatas mungkin kesulitan memenuhi kebutuhan gizi anak, yang berdampak pada perkembangan mereka. Mereka juga mungkin kekurangan akses terhadap bahan belajar seperti buku, permainan edukatif, atau komputer. Selain itu, keterbatasan finansial dapat menghalangi anak bersekolah di institusi berkualitas tinggi, memaksa mereka untuk belajar di sekolah dengan sumber daya terbatas, kekurangan guru, dan fasilitas minim seperti perpustakaan. Akibatnya, mutu pengajaran menurun. Beberapa keluarga bahkan harus menarik anak-anak mereka dari sekolah agar membantu menambah penghasilan keluarga. Rendahnya akses terhadap informasi tentang pendidikan tinggi serta kesulitan dalam memperoleh dan melunasi pinjaman mahasiswa memperparah keadaan. Status sosial ekonomi rendah juga berkaitan dengan kondisi kesehatan fisik dan kesehatan mental yang buruk, memperkuat lingkaran ketimpangan sosial antar generasi.[113]
Latar belakang etnis sering kali terkait dengan perbedaan budaya dan hambatan bahasa, yang dapat mempersulit adaptasi siswa terhadap lingkungan sekolah dan pemahaman materi pelajaran. Lebih jauh lagi, bias eksplisit maupun implisit terhadap kelompok minoritas etnis dapat memperburuk situasi ini. Bias semacam itu berpotensi memengaruhi harga diri, motivasi, serta akses siswa terhadap peluang pendidikan. Misalnya, guru dapat memiliki persepsi stereotipikal, meskipun tidak rasis secara terang-terangan, yang menyebabkan perbedaan penilaian atas kinerja siswa berdasarkan etnisitas mereka.[114]
Secara historis, gender memainkan peran penting dalam pendidikan karena norma sosial yang menetapkan peran berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Pendidikan secara tradisional lebih berpihak pada laki-laki, yang dipandang sebagai pencari nafkah, sementara perempuan diharapkan mengurus rumah tangga dan anak, sehingga akses mereka terhadap pendidikan terbatas. Meskipun kesenjangan ini telah banyak membaik di masyarakat modern, perbedaan gender tetap bertahan di dunia pendidikan. Bias dan stereotip tentang peran gender masih ditemukan di berbagai bidang akademik, terutama dalam sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), yang kerap dianggap sebagai ranah laki-laki. Persepsi ini dapat menghalangi perempuan untuk menekuni bidang-bidang tersebut.[115] Dalam beberapa kasus, diskriminasi berbasis gender bahkan dilegalkan melalui kebijakan resmi, seperti pembatasan keras terhadap pendidikan perempuan oleh Taliban di Afghanistan,[116] dan praktik segregasi sekolah antara migran dan penduduk lokal di wilayah perkotaan Tiongkok yang diberlakukan melalui sistem hukou.[117]
Salah satu dimensi dari faktor sosial ini terkait dengan ekspektasi yang timbul dari stereotip. Ekspektasi tersebut dapat bekerja dari luar, melalui perlakuan orang lain terhadap individu dalam kelompok tertentu, maupun dari dalam, ketika individu menginternalisasi dan menyesuaikan diri dengan stereotip tersebut. Dalam konteks ini, ekspektasi dapat berperan sebagai ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya dengan memengaruhi hasil pendidikan sebagaimana yang diprediksikan. Efeknya bisa bersifat positif maupun negatif.[118]
Teknologi dan faktor lainnya
[sunting | sunting sumber]Teknologi memainkan peranan yang amat penting dalam keberhasilan pendidikan. Walaupun istilah teknologi pendidikan kerap kali diasosiasikan dengan perangkat digital modern seperti komputer, cakupannya sejatinya jauh lebih luas. Ia meliputi beragam sumber daya dan alat bantu pembelajaran, mulai dari sarana tradisional seperti buku dan lembar kerja, hingga perangkat digital yang lebih mutakhir.[119]

Teknologi pendidikan dapat memperkaya proses belajar dalam berbagai cara. Dalam bentuk media, ia kerap berfungsi sebagai sumber utama informasi di ruang kelas, memungkinkan para guru memusatkan waktu dan tenaga mereka pada kegiatan lain seperti perencanaan pelajaran, pembimbingan siswa, dan penilaian hasil belajar.[120] Dengan menyajikan informasi melalui grafik, audio, dan video alih-alih sekadar teks, teknologi pendidikan dapat memperdalam pemahaman peserta didik. Unsur interaktif, seperti permainan edukatif, juga membantu menumbuhkan keterlibatan aktif dalam proses belajar. Selain itu, teknologi memperluas akses terhadap materi pembelajaran bagi khalayak luas, terutama melalui sumber daya daring, serta mendorong kolaborasi antarsiswa dan komunikasi dengan para pengajar.[121] Integrasi kecerdasan buatan dalam pendidikan menjanjikan pengalaman belajar baru bagi siswa sekaligus membantu guru dalam menjalankan peran mereka. Namun, penerapannya juga menimbulkan tantangan baru, seperti persoalan privasi data, kesalahan informasi, dan potensi manipulasi.[122] Beragam organisasi berupaya memperluas akses siswa terhadap teknologi pendidikan, di antaranya melalui inisiatif One Laptop per Child, African Library Project, dan Pratham.[123]
Infrastruktur sekolah juga merupakan komponen kunci dalam keberhasilan pendidikan. Aspek ini mencakup kondisi fisik sekolah seperti lokasi, luas bangunan, serta ketersediaan sarana dan peralatan. Lingkungan yang sehat dan aman, ruang kelas yang terawat, furnitur yang memadai, serta akses ke perpustakaan sekolah dan kantin sekolah semuanya turut mendukung keberhasilan belajar-mengajar.[124] Selain itu, kualitas guru sangat memengaruhi capaian akademik siswa. Guru yang terampil mampu menumbuhkan motivasi dan inspirasi, serta menyesuaikan metode pengajaran dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing murid. Kompetensi tersebut sangat bergantung pada latar belakang pendidikan, pelatihan, dan pengalaman mengajar guru itu sendiri.[125] Sebuah meta-analisis oleh Engin Karadağ dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa, dibandingkan faktor-faktor lain, unsur yang berkaitan dengan sekolah dan guru memiliki pengaruh paling besar terhadap keberhasilan pendidikan.[126]
Keterlibatan orang tua juga memperkuat capaian belajar, meningkatkan motivasi serta komitmen anak ketika mereka mengetahui bahwa orang tuanya turut berperan dalam perjalanan pendidikan mereka. Hal ini sering kali berujung pada peningkatan harga diri, kehadiran yang lebih baik, serta perilaku positif di sekolah. Bentuk keterlibatan tersebut mencakup komunikasi dengan guru dan staf sekolah lainnya untuk memahami persoalan yang tengah dihadapi dan mencari solusi bersama.[127] Selain faktor-faktor tersebut, literatur akademik juga menyinggung berbagai aspek lain yang relevan, termasuk dimensi historis, politik, demografis, religius, dan hukum, yang kesemuanya berkelindan dalam membentuk lanskap keberhasilan pendidikan.[128]
Ilmu pendidikan
[sunting | sunting sumber]
Bidang utama yang menelaah pendidikan dikenal sebagai kajian pendidikan atau ilmu pendidikan (education sciences). Bidang ini berupaya memahami bagaimana pengetahuan ditransmisikan dan diperoleh melalui kajian terhadap beragam metode dan bentuk pendidikan. Disiplin ini menyelidiki tujuan, dampak, dan makna pendidikan, serta konteks budaya, sosial, politik, dan historis yang memengaruhinya.[130] Para teoretikus pendidikan menarik wawasan dari beragam disiplin ilmu lain, termasuk filsafat, psikologi, sosiologi, ekonomi, sejarah, politik, dan hubungan internasional. Karena sifatnya yang lintas-disiplin, sebagian sarjana berpendapat bahwa kajian pendidikan tidak memiliki batas metodologis dan tematik yang sejelas disiplin seperti fisika atau sejarah.[131] Kajian pendidikan berfokus pada analisis akademik dan refleksi kritis, dan dalam hal ini berbeda dari program pelatihan guru yang lebih menekankan pada penguasaan keterampilan praktis untuk menjadi pengajar yang efektif. Selain pendidikan formal, bidang ini juga meneliti seluruh bentuk dan dimensi proses pendidikan dalam arti yang luas.[132]
Beragam metode penelitian digunakan untuk menelaah fenomena pendidikan, yang secara umum dikategorikan menjadi pendekatan penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, dan metodologi campuran (mixed methods). Pendekatan kuantitatif mengikuti metodologi yang lazim digunakan dalam ilmu alam, dengan pengukuran numerik yang cermat untuk mengumpulkan data dari banyak observasi dan menggunakan alat-alat statistik untuk menganalisisnya. Tujuannya ialah mencapai pemahaman yang objektif dan bebas bias. Sebaliknya, penelitian kualitatif biasanya melibatkan ukuran sampel yang lebih kecil dan berupaya memperoleh pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor subjektif dan personal, seperti pengalaman individu dalam proses pendidikan. Penelitian dengan metode campuran berupaya memadukan data dari kedua pendekatan tersebut untuk memperoleh pemahaman yang lebih seimbang dan komprehensif. Metode pengumpulan data pun beragam, mencakup observasi langsung, penilaian skor ujian, wawancara, serta kuisioner.[133] Proyek penelitian dapat menelaah faktor-faktor mendasar yang memengaruhi seluruh bentuk pendidikan, atau memusatkan perhatian pada penerapan tertentu, mencari solusi bagi masalah spesifik, maupun menilai efektivitas kebijakan dan inisiatif pendidikan.[134]
Subbidang
[sunting | sunting sumber]Kajian pendidikan mencakup beragam subbidang seperti pedagogi, penelitian pendidikan, pendidikan perbandingan, serta filsafat, psikologi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah pendidikan.[135] Filsafat pendidikan merupakan cabang dari filsafat terapan yang mengkaji asumsi-asumsi mendasar yang melandasi teori dan praktik pendidikan. Bidang ini menelaah pendidikan baik sebagai suatu proses maupun sebagai disiplin ilmu, seraya berupaya memberikan definisi yang cermat tentang hakikatnya dan perbedaannya dari fenomena lain. Selain itu, filsafat pendidikan membahas tujuan pendidikan, ragam bentuknya, serta konseptualisasi tentang guru, murid, dan relasi di antara keduanya.[136] Bidang ini juga mencakup etika pendidikan, yang mengulas implikasi moral dari proses pendidikan, termasuk prinsip-prinsip etis yang menuntunnya dan bagaimana pendidik seharusnya menerapkannya dalam situasi konkret. Filsafat pendidikan memiliki sejarah panjang dan telah menjadi bahan diskusi sejak masa filsafat Yunani kuno.[137]
Istilah “pedagogi” terkadang digunakan secara bergantian dengan kajian pendidikan, tetapi dalam arti yang lebih spesifik, ia merujuk pada subbidang yang berfokus pada metode pengajaran.[138] Pedagogi menelaah bagaimana tujuan pendidikan seperti penyampaian pengetahuan, pengembangan keterampilan, atau pembentukan sifat karakter, dapat dicapai.[139] Bidang ini berhubungan dengan metode dan teknik yang digunakan dalam kegiatan mengajar di lingkungan pendidikan formal. Walau beberapa definisi membatasi pedagogi hanya pada konteks tersebut, dalam arti yang lebih luas, ia mencakup seluruh bentuk pendidikan, termasuk pendekatan pengajaran di luar ranah sekolah tradisional.[140] Dalam konteks luas ini, pedagogi meneliti bagaimana pendidik dapat memfasilitasi pengalaman belajar yang memperdalam pemahaman peserta didik terhadap suatu materi, serta bagaimana proses belajar itu sendiri berlangsung.[141]
psikologi pendidikan menelusuri proses-proses mental yang melandasi pembelajaran, dengan fokus pada bagaimana individu memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru serta mengalami perkembangan pribadi. Ia meneliti berbagai faktor yang memengaruhi hasil belajar, bagaimana faktor-faktor ini bervariasi antarindividu, dan sejauh mana faktor genetik maupun lingkungan berperan dalam proses tersebut. Teori-teori psikologis utama yang memengaruhi pendidikan meliputi behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme.[142] Bidang terkait lainnya ialah neurosains pendidikan dan neurologi pendidikan, yang mempelajari proses serta perubahan neuropsikologis yang terjadi dalam kegiatan belajar.[143]
Bidang sosiologi pendidikan mempelajari bagaimana pendidikan membentuk proses sosialisasi, serta bagaimana faktor sosial dan ideologi memengaruhi akses terhadap pendidikan dan keberhasilan individu di dalamnya. Kajian ini menyoroti dampak pendidikan terhadap kelompok sosial yang berbeda serta peranannya dalam pembentukan identitas pribadi. Fokus utamanya adalah memahami akar ketimpangan sosial dan menawarkan wawasan bagi kebijakan pendidikan yang bertujuan mengurangi ketidaksetaraan tersebut.[144] Dua perspektif utama dalam bidang ini ialah teori konsensus dan teori konflik. Penganut teori konsensus berpendapat bahwa pendidikan bermanfaat bagi masyarakat dengan mempersiapkan individu menjalankan perannya, sedangkan penganut teori konflik melihat pendidikan sebagai alat yang digunakan oleh kelas penguasa untuk mempertahankan ketimpangan sosial.[145]
Bidang ekonomi pendidikan mengkaji produksi, distribusi, dan konsumsi pendidikan. Ia berupaya mengoptimalkan alokasi sumber daya demi meningkatkan kualitas pendidikan, misalnya dengan menilai dampak kenaikan gaji guru terhadap mutu pengajaran. Kajian ini juga mengeksplorasi efek dari pengurangan ukuran kelas dan investasi dalam teknologi pendidikan baru. Dengan memberikan wawasan tentang alokasi sumber daya, ekonomi pendidikan membantu para pembuat kebijakan mengambil keputusan yang memaksimalkan manfaat sosial. Selain itu, bidang ini menelaah dampak ekonomi jangka panjang dari pendidikan, termasuk perannya dalam menciptakan tenaga kerja terampil dan memperkuat daya saing nasional. Aspek lain yang berkaitan adalah analisis keuntungan dan kerugian ekonomi dari berbagai sistem pendidikan.[146]
pendidikan perbandingan merupakan disiplin yang mempelajari dan membandingkan sistem pendidikan. Perbandingan ini dapat dilakukan dari perspektif umum maupun dengan menyoroti faktor-faktor tertentu seperti aspek sosial, politik, atau ekonomi. Kajian ini sering diterapkan lintas negara untuk menilai kesamaan dan perbedaan lembaga pendidikan serta praktiknya, sekaligus mengevaluasi konsekuensi dari pendekatan yang berbeda. Melalui perbandingan ini, para peneliti dapat memperoleh wawasan tentang kebijakan pendidikan yang efektif di negara lain dan bagaimana sistem domestik dapat diperbaiki.[147] Praktik ini, yang dikenal sebagai policy borrowing, memiliki tantangan tersendiri karena keberhasilan kebijakan sangat bergantung pada konteks sosial dan budaya para peserta didik serta pendidiknya. Topik yang sering diperdebatkan mencakup pertanyaan apakah sistem pendidikan di negara maju lebih unggul dan patut diterapkan di negara yang kurang berkembang.[148] Bidang ini juga menyoroti tema penting lain seperti internasionalisasi pendidikan dan peran pendidikan dalam proses transisi dari rezim otoriter menuju demokrasi.[149]
sejarah pendidikan mempelajari perkembangan praktik, sistem, dan lembaga pendidikan sepanjang waktu. Bidang ini menelusuri berbagai proses utama, kemungkinan sebab dan akibatnya, serta hubungan di antara unsur-unsur tersebut.[150]
Tujuan dan Ideologi
[sunting | sunting sumber]
Salah satu tema sentral dalam kajian pendidikan berkaitan dengan bagaimana manusia seharusnya dididik dan tujuan apa yang sebaiknya menjadi pedoman dalam proses tersebut. Beragam sasaran telah diajukan, mencakup pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, pengembangan pribadi, serta pembentukan karakter. Sifat-sifat yang sering disebut sebagai tujuan pendidikan meliputi rasa ingin tahu, kreativitas, rasionalitas, dan kemampuan berpikir kritis, disertai kecenderungan untuk berpikir, merasakan, dan bertindak secara bermoral. Para sarjana berbeda pandangan mengenai apakah pendidikan sebaiknya menekankan nilai-nilai liberal seperti kebebasan, otonomi, dan keterbukaan berpikir, atau sebaliknya, menanamkan kualitas seperti ketaatan pada otoritas, kemurnian ideologis, ketaatan beragama, dan iman.[153]
Sebagian teoretikus pendidikan menitikberatkan pada satu tujuan utama pendidikan, dengan menganggap tujuan-tujuan yang lebih spesifik sebagai sarana untuk mencapainya.[154] Pada tingkat pribadi, tujuan ini sering diartikan sebagai membantu peserta didik menjalani kehidupan yang baik.[155] Pada tataran sosial, pendidikan bertujuan membentuk individu agar menjadi anggota masyarakat yang produktif.[156] Perdebatan muncul mengenai apakah tujuan utama pendidikan adalah demi kepentingan individu yang dididik atau demi kebaikan masyarakat secara keseluruhan.[157]
Ideologi pendidikan mencakup sistem asumsi filosofis dan prinsip dasar yang digunakan untuk menafsirkan, memahami, serta menilai praktik dan kebijakan pendidikan yang ada. Ideologi tersebut membahas berbagai aspek yang melampaui tujuan pendidikan, seperti materi pelajaran yang diajarkan, struktur kegiatan belajar, peran guru, metode penilaian kemajuan belajar, serta rancangan kebijakan dan kerangka kelembagaan. Ideologi-ideologi ini beragam dan kerap saling beririsan. Ideologi yang berpusat pada guru menempatkan pendidik sebagai figur utama dalam mentransfer pengetahuan, sedangkan ideologi yang berpusat pada siswa memberikan peran yang lebih aktif kepada peserta didik dalam proses belajar. Ideologi yang berfokus pada proses menekankan cara pengajaran dan pembelajaran, sementara ideologi yang berorientasi pada hasil menilai pendidikan berdasarkan capaian yang diinginkan. Ideologi konservatif menjunjung tinggi praktik tradisional, sedangkan ideologi progresif menekankan inovasi dan kreativitas. Kategori tambahan meliputi humanisme, romantisisme, esensialisme, ensiklopedisme, pragmatisme, serta ideologi otoriter dan demokratis.[158]
Teori Pembelajaran
[sunting | sunting sumber]Teori pembelajaran berupaya menjelaskan mekanisme yang melandasi proses belajar. Di antara teori-teori yang berpengaruh adalah behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme. Behaviorisme berpandangan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku sebagai respons terhadap rangsangan dari lingkungan. Proses ini terjadi melalui penyajian sebuah stimulus, pengaitan stimulus tersebut dengan respons yang diinginkan, serta penguatan terhadap hubungan antara stimulus dan respons tersebut. Kognitivisme memandang belajar sebagai transformasi struktur kognitif, dengan penekanan pada proses mental yang terlibat dalam pengkodean, pengambilan kembali, dan pengolahan informasi. Konstruktivisme menegaskan bahwa pembelajaran berakar pada pengalaman pribadi individu, dengan perhatian besar terhadap interaksi sosial serta cara peserta didik menafsirkan pengalaman tersebut. Setiap teori membawa implikasi yang penting bagi praktik pengajaran. Misalnya, kaum behavioris sering menekankan latihan berulang, para kognitivis menganjurkan penggunaan teknik mnemonik, sementara konstruktivis lebih mengutamakan strategi pembelajaran kolaboratif.[159]
Beragam teori menyatakan bahwa pembelajaran menjadi lebih efektif apabila berlandaskan pada pengalaman pribadi. Selain itu, upaya memahami secara mendalam dengan mengaitkan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya dianggap lebih bermanfaat dibanding sekadar menghafal daftar fakta yang tidak saling berhubungan.[160] Salah satu teori perkembangan pembelajaran yang berpengaruh dikemukakan oleh psikolog Jean Piaget, yang menguraikan empat tahap pembelajaran yang dilalui anak menuju kedewasaan: tahap sensori-motor, pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal. Tahap-tahap ini merepresentasikan tingkat abstraksi yang berbeda; tahap awal berfokus pada aktivitas sensorik dan motorik sederhana, sedangkan tahap-tahap selanjutnya melibatkan representasi internal dan pemrosesan informasi yang lebih kompleks, seperti penalaran logis.[161]
Metode Pengajaran
[sunting | sunting sumber]Metode pengajaran berkaitan dengan cara guru menyampaikan materi pelajaran, misalnya apakah pembelajaran dilakukan melalui kerja kelompok atau lebih berfokus pada studi individu. Terdapat beragam metode pengajaran, dan efektivitas masing-masing sangat bergantung pada faktor-faktor seperti jenis materi, usia peserta didik, serta tingkat kemampuan mereka.[162] Hal ini tercermin dalam sistem pendidikan modern, yang mengelompokkan siswa ke dalam kelas berbeda berdasarkan usia, kemampuan, bidang spesialisasi, dan bahasa ibu guna memastikan proses belajar yang efektif. Setiap bidang studi sering kali menuntut pendekatan yang berbeda; misalnya, pendidikan bahasa menitikberatkan pada pembelajaran verbal, sedangkan pendidikan matematika menekankan pemikiran abstrak dan simbolik disertai penalaran deduktif.[163] Salah satu aspek penting dalam metodologi pengajaran adalah memastikan bahwa peserta didik tetap termotivasi, baik melalui faktor intrinsik seperti minat dan rasa ingin tahu, maupun melalui penghargaan eksternal.[164]
Metode pengajaran juga mencakup penggunaan media instruksional, seperti buku, lembar kerja, serta rekaman audio-visual, dan penerapan berbagai bentuk tes atau evaluasi untuk mengukur kemajuan belajar. Asesmen pendidikan merupakan proses pendokumentasian pengetahuan dan keterampilan siswa, yang dapat dilakukan secara formal maupun informal, baik sebelum, selama, maupun setelah kegiatan belajar. Unsur penting lain dalam banyak pendekatan pendidikan modern adalah bahwa setiap pelajaran merupakan bagian dari kerangka pendidikan yang lebih luas yang diatur oleh suatu silabus, biasanya mencakup kurun waktu beberapa bulan hingga tahun.[165] Menurut aliran Herbartianisme, proses pengajaran terdiri atas beberapa tahap. Tahap awal melibatkan upaya mempersiapkan pikiran siswa untuk menerima informasi baru. Selanjutnya, ide-ide baru diperkenalkan dan dikaitkan dengan konsep yang telah mereka kenal sebelumnya. Pada tahap berikutnya, pemahaman siswa berkembang ke tingkat yang lebih umum melampaui contoh konkret, dan akhirnya gagasan tersebut diterapkan dalam konteks praktis.[166]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Sejarah pendidikan menelusuri proses, metode, dan lembaga yang terkait dengan kegiatan mengajar dan belajar, dengan tujuan menjelaskan hubungan timbal balik di antara keduanya serta pengaruhnya terhadap praktik pendidikan sepanjang waktu.[167]
Prasejarah
[sunting | sunting sumber]Pendidikan pada masa prasejarah berfungsi terutama untuk memfasilitasi enkulturasi, dengan menekankan pengetahuan dan keterampilan praktis yang penting bagi kehidupan sehari-hari, seperti produksi pangan, pembuatan pakaian, penyediaan tempat tinggal, dan keamanan. Sekolah formal maupun pengajar khusus belum dikenal pada masa itu; peran pendidik dijalankan oleh orang dewasa dalam komunitas, dan proses belajar terjadi secara informal melalui aktivitas harian, termasuk pengamatan dan imitasi terhadap orang tua atau tetua. Dalam masyarakat yang masih mengandalkan tradisi lisan, bercerita berperan penting sebagai sarana untuk mewariskan kepercayaan budaya dan keagamaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.[168][e] Dengan munculnya pertanian pada masa Revolusi Neolitik sekitar tahun 9000 SM, pendidikan mulai mengalami pergeseran menuju spesialisasi, seiring dengan terbentuknya komunitas yang lebih besar dan meningkatnya kebutuhan akan keterampilan teknis dan kerajinan yang lebih kompleks.[170]
Zaman kuno
[sunting | sunting sumber]Dimulai pada milenium ke-4 SM dan berlanjut pada periode-periode sesudahnya, terjadi transformasi besar dalam metode pendidikan dengan hadirnya penemuan tulisan di wilayah seperti Mesopotamia, Mesir Kuno, Lembah Indus, dan Tiongkok Kuno.[171][f] Inovasi ini membawa dampak mendalam terhadap arah perkembangan pendidikan. Tulisan memungkinkan penyimpanan, pelestarian, dan penyebaran informasi, yang kemudian melahirkan kemajuan berikutnya seperti penciptaan alat bantu pendidikan berupa buku teks serta pendirian lembaga formal seperti sekolah.[173]

Aspek penting lainnya dari pendidikan kuno adalah lahirnya pendidikan formal. Hal ini menjadi kebutuhan ketika peradaban berkembang dan jumlah pengetahuan meningkat melampaui batas kemampuan pendidikan informal untuk mentransfernya antargenerasi. Guru mulai memegang peran khusus sebagai pengajar, dan pendekatan pendidikan menjadi lebih abstrak serta semakin terpisah dari kehidupan sehari-hari. Pendidikan formal pada masa itu masih jarang ditemukan dan umumnya hanya dapat diakses oleh kalangan intelektual elit.[174] Pendidikan ini mencakup bidang-bidang seperti membaca dan menulis, pencatatan, kepemimpinan, kehidupan sipil dan politik, agama, serta keterampilan teknis yang berkaitan dengan profesi tertentu.[175] Pendidikan formal juga memperkenalkan paradigma pengajaran baru yang menekankan kedisiplinan dan latihan berulang dibanding metode informal yang sebelumnya lebih bebas.[176] Dua pencapaian besar pendidikan kuno antara lain pendirian Akademi Plato di Yunani Kuno, yang sering dianggap sebagai lembaga pendidikan tinggi pertama di dunia,[177] serta berdirinya Perpustakaan Besar Aleksandria di Mesir Kuno, yang termasyhur sebagai salah satu perpustakaan paling bergengsi di dunia kuno.[178]
Era abad pertengahan
[sunting | sunting sumber]
Beragam aspek pendidikan pada masa Abad Pertengahan sangat dipengaruhi oleh tradisi keagamaan. Di Eropa, Gereja Katolik memegang otoritas yang besar atas pendidikan formal.[179] Di dunia Arab, penyebaran pesat Islam menumbuhkan berbagai kemajuan pendidikan pada masa Zaman Keemasan Islam, yang memadukan ilmu klasik dan keagamaan serta melahirkan lembaga pendidikan seperti madrasah.[180] Dalam komunitas Yahudi, yeshiva muncul sebagai lembaga yang berfokus pada kajian teks-teks suci dan hukum Yahudi.[181] Sementara itu di Tiongkok, terbentuk suatu sistem pendidikan dan ujian kenegaraan yang luas, berlandaskan ajaran Konfusian, yang menjadi fondasi bagi struktur sosial dan birokrasi kekaisaran.[182] Ketika masyarakat-masyarakat kompleks baru tumbuh di kawasan seperti Afrika, benua Amerika, Eropa Utara, dan Jepang, sebagian mengadopsi sistem pendidikan yang telah ada, sementara yang lain mengembangkan tradisi baru mereka sendiri.[183]
Masa ini juga menyaksikan lahirnya berbagai lembaga pendidikan tinggi dan penelitian. Di antara yang paling berpengaruh ialah Universitas Bologna (universitas tertua di dunia yang masih beroperasi), Universitas Paris, dan Universitas Oxford di Eropa.[184] Selain itu, terdapat pula pusat-pusat ilmu penting lain seperti Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko,[185] Universitas Al-Azhar di Mesir,[186] dan Rumah Kebijaksanaan di Irak.[187] Perkembangan penting lainnya ialah munculnya gilda, yakni perkumpulan para pengrajin dan pedagang terampil yang mengatur praktik profesinya serta menyediakan pendidikan kejuruan. Para calon anggota harus melalui berbagai tahap pelatihan sebelum memperoleh status sebagai ahli sejati.[188]
Era modern
[sunting | sunting sumber]
Memasuki awal era modern, pendidikan di Eropa pada masa Renaisans perlahan beralih dari pendekatan religius menuju corak yang lebih sekuler. Perubahan ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pendidikan serta perluasan cakupan ilmu, termasuk minat yang diperbarui terhadap teks-teks klasik dan program pendidikan kuno.[189] Proses sekularisasi ini semakin cepat pada masa Zaman Pencerahan sejak abad ke-17, ketika penalaran rasional dan ilmu empiris mendapat penekanan yang besar.[190] Kolonisasi Eropa turut memengaruhi pendidikan di benua Amerika melalui kegiatan misionaris Kristen.[191] Di Tiongkok, sistem pendidikan kenegaraan semakin diperluas dan menitikberatkan pada ajaran neo-Konfusianisme.[192] Di dunia Islam, pendidikan formal meluas namun tetap berakar kuat pada prinsip keagamaan.[193]
Salah satu tonggak penting dalam masa awal modern adalah penemuan serta penyebaran mesin cetak pada pertengahan abad ke-15, yang membawa dampak mendalam bagi dunia pendidikan. Inovasi ini secara drastis menurunkan biaya produksi buku (yang sebelumnya disalin dengan tangan) dan mempercepat penyebaran pengetahuan tertulis, termasuk bentuk baru seperti surat kabar dan pamflet. Akses yang lebih luas terhadap media tulis meningkatkan tingkat melek huruf di kalangan masyarakat umum.[194]
Perubahan-perubahan ini membuka jalan bagi kemajuan pendidikan publik pada abad ke-18 dan ke-19.[g] Pada masa ini, banyak sekolah negeri mulai berdiri dengan tujuan memberikan pendidikan bagi seluruh masyarakat, berbeda dengan masa sebelumnya ketika pendidikan formal umumnya diselenggarakan oleh lembaga keagamaan, sekolah swasta, atau guru pribadi.[197] Salah satu pengecualian penting ialah peradaban Aztek, di mana pendidikan formal telah diwajibkan bagi seluruh anak, tanpa memandang status sosial, sejak abad ke-14.[198] Perubahan lain yang tak kalah penting adalah munculnya kebijakan pendidikan wajib dan bebas biaya bagi seluruh anak hingga usia tertentu.[199]
Era kontemporer
[sunting | sunting sumber]Upaya untuk memajukan pendidikan publik dan akses pendidikan universal memperoleh momentum besar pada abad ke-20 dan ke-21, dengan dukungan berbagai organisasi antarpemerintah seperti PBB. Sejumlah inisiatif penting meliputi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Konvensi Hak Anak, program Education for All, Tujuan Pembangunan Milenium, serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.[200] Serangkaian upaya tersebut menghasilkan peningkatan yang konsisten dalam berbagai bentuk pendidikan, terutama pada jenjang sekolah dasar. Pada tahun 1970, sekitar 28% anak usia sekolah dasar di dunia belum terdaftar di sekolah; angka ini menurun drastis menjadi hanya 9% pada tahun 2015.[201]
Perkembangan pendidikan publik ini disertai dengan penerapan kurikulum standar di sekolah-sekolah negeri, serta sistem ujian standar untuk menilai kemajuan peserta didik. Salah satu contohnya ialah Test of English as a Foreign Language (TOEFL), ujian yang digunakan secara global untuk menilai kemampuan bahasa Inggris bagi penutur non-asli, dan Programme for International Student Assessment (PISA), yang mengevaluasi sistem pendidikan di berbagai negara berdasarkan kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Perubahan serupa juga memengaruhi profesi guru, dengan dibentuknya lembaga dan norma untuk mengatur serta mengawasi pelatihan pendidik, termasuk persyaratan sertifikasi bagi pengajar di sekolah-sekolah negeri.[202]
Kemunculan teknologi pendidikan modern memberikan pengaruh besar terhadap cara belajar-mengajar di era kini. Ketersediaan komputer dan internet secara luas telah memperluas akses terhadap sumber daya pendidikan dan melahirkan bentuk-bentuk pembelajaran baru, seperti pendidikan daring (online learning). Peran teknologi ini menjadi semakin penting selama pandemi COVID-19, ketika sekolah-sekolah di seluruh dunia terpaksa tutup dalam jangka waktu panjang. Untuk menjaga keberlangsungan pembelajaran, banyak lembaga pendidikan beralih ke metode pembelajaran jarak jauh melalui konferensi video atau video pembelajaran yang direkam sebelumnya.[203]
Selain itu, pendidikan kontemporer juga dipengaruhi oleh meningkatnya arus globalisasi dan internasionalisasi pendidikan, yang mendorong pertukaran praktik, kurikulum, serta standar akademik lintas negara.[204]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Dewan pendidikan – pembelajaran yang pengetahuan dan kecakapan disalurkan melalui pengajaran
- Pendidikan karier dan teknis – pembelajaran yang pengetahuan dan kecakapan disalurkan melalui pengajaran
- Pengembangan keterampilan komputasional – Memperkenalkan peserta didik pada beragam perangkat lunak pendidikan dan alat sumber terbuka
- Kritik terhadap sistem persekolahan – pembelajaran yang pengetahuan dan kecakapan disalurkan melalui pengajaran
- Glosarium istilah pendidikan – pembelajaran yang pengetahuan dan kecakapan disalurkan melalui pengajaran
- Inflasi nilai akademik – pembelajaran yang pengetahuan dan kecakapan disalurkan melalui pengajaran
- Daftar artikel tentang pendidikan – pembelajaran yang pengetahuan dan kecakapan disalurkan melalui pengajaran
- Daftar negara berdasarkan pengeluaran pendidikan sebagai persentase PDB – pembelajaran yang pengetahuan dan kecakapan disalurkan melalui pengajaran
- Daftar artikel pendidikan berdasarkan negara – pembelajaran yang pengetahuan dan kecakapan disalurkan melalui pengajaran
- Daftar jurnal akademik
- Daftar buku
- Garis besar pendidikan – pembelajaran yang pengetahuan dan kecakapan disalurkan melalui pengajaran
- Pengembangan keterampilan – termasuk Berbagi keterampilan, dan Peningkatan keterampilan.
Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Artinya, maknanya dapat berubah sesuai dengan situasi di mana istilah tersebut digunakan.
- ↑ Konsep tebal adalah konsep yang memuat unsur deskriptif sekaligus penilaian nilai.[12]
- ↑ Beberapa ahli teori hanya membedakan antara pendidikan formal dan informal.[26]
- ↑ Di beberapa wilayah, kedua istilah ini memiliki makna yang berbeda. Di Britania Raya, misalnya, public school justru dijalankan oleh lembaga swasta dan memungut biaya, sedangkan sekolah negeri dikendalikan oleh pemerintah dan menyediakan pendidikan gratis.[70]
- ↑ Kajian mengenai pendidikan prasejarah umumnya mengandalkan penelitian terhadap masyarakat pemburu dan pengumpul yang masih bertahan hingga kini.[169]
- ↑ Tidak ada kesepakatan pasti mengenai waktu penemuan tulisan, dan berbagai bentuk proto-tulisan telah ada jauh lebih lama sebelumnya.[172]
- ↑ Sebagai contoh, kementerian pendidikan pertama di dunia didirikan pada tahun 1773.[195][196]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- ↑
- ↑
- Marshall 2006, hlm. 33–37
- Sewell & Newman 2013, hlm. 3–4, 6–7, 9–10
- Matheson 2014, hlm. 1–3
- ↑
- Chazan 2022, hlm. 15–16
- Marshall 2006, hlm. 33–37
- UNESCO 2018
- ↑
- Peters 2009, hlm. 1
- HarperCollins staff 2023
- Sewell & Newman 2013, hlm. 4
- ↑
- Peters 2009, hlm. 4–6
- HarperCollins staff 2023
- Sewell & Newman 2013, hlm. 4
- ↑ HarperCollins staff 2023
- ↑
- Wilson 2003, hlm. 101–108
- Watson 2016, hlm. 148
- Biesta 2015, hlm. 75–78
- ↑
- Peters 2015, hlm. 45
- Beckett 2011, hlm. 241
- Marshall 2006, hlm. 33–37
- ↑
- ↑
- Marshall 2006, hlm. 33–37
- Biletzki & Matar 2021
- Sluga 2006, hlm. 1–2
- ↑
- Sewell & Newman 2013, hlm. 6–7
- Webb-Mitchell 2003, hlm. 11
- Traxler & Crompton 2020, hlm. 11
- ↑ Kirchin 2013, hlm. 1–2
- ↑
- Watson 2016, hlm. 148–149
- Kotzee 2011, hlm. 549–550
- ↑
- Chazan 2022, hlm. 13–14
- Smith 2020, hlm. 781–783
- ↑
- ↑
- Watson 2016, hlm. 152–155
- Ferary 2023, hlm. 51–52
- ↑
- ↑
- ↑ Davies & Barnett 2015, hlm. 1–2
- ↑
- ↑
- Beckett 2018, hlm. 380–381
- Sewell & Newman 2013, hlm. 3–4
- Peters 2015, hlm. 35–37, 45
- ↑
- ↑
- Beckett 2011, hlm. 245
- Beckett 2018, hlm. 383–384
- Freire 1970, hlm. 80
- ↑
- La Belle 1982, hlm. 159, 161–162
- UNESCO 2012, hlm. 6, 25, 73–75
- Emaliana 2017, hlm. 59–60
- Cobb & Glass 2021, hlm. 11
- ↑
- La Belle 1982, hlm. 159, 161–162
- Eshach 2007, hlm. 171
- Sewell & Newman 2013, hlm. 7
- Singh 2015, hlm. 1–2
- ↑ Strauss 1984, hlm. 195
- ↑
- La Belle 1982, hlm. 159–162
- Tudor 2013, hlm. 821–826
- ↑
- La Belle 1982, hlm. 159–162, 167
- Tudor 2013, hlm. 821–826
- Sewell & Newman 2013, hlm. 7
- Pazmiño 2002, hlm. 62–63
- ↑ Eshach 2007, hlm. 171–174
- ↑
- La Belle 1982, hlm. 161–164
- Tudor 2013, hlm. 821–826
- Sewell & Newman 2013, hlm. 7
- ↑ Eshach 2007, hlm. 171–174
- ↑ Eshach 2007, hlm. 173–174
- ↑
- La Belle 1982, hlm. 162
- Eshach 2007, hlm. 172–173
- ↑
- Bowen, Gelpi & Anweiler 2023, Introduction
- Scribner & Cole 1973, hlm. 553–559
- Mead 1943, hlm. 633–639
- ↑
- OECD 2018, hlm. 80–85
- Salganik, Matheson & Phelps 1997, hlm. 19
- UNESCO 2012, hlm. 6, 11–12, 25
- ↑
- New & Cochran 2007, hlm. 1046
- OECD 2018, hlm. 80–85
- Salganik, Matheson & Phelps 1997, hlm. 19
- UNESCO 2012, hlm. 26–29
- ↑ Raikes, Alvarenga Lima & Abuchaim 2023, hlm. 4
- ↑
- UNESCO 2012, hlm. 30–32
- OECD 2018, hlm. 80–85
- OECD 2015, hlm. 29–32
- ↑ Roser & Ortiz-Ospina 2013
- ↑
- OECD 2018, hlm. 80–85
- OECD 2015, hlm. 39–43
- UNESCO 2012, hlm. 33–37
- ↑
- Claire et al. 2011, hlm. 137
- Close 2014, hlm. 76
- ↑
- OECD 2018, hlm. 80–85
- OECD 2015, hlm. 47–52
- UNESCO 2012, hlm. 38–42
- ↑
- OECD 2015, hlm. 59–63
- UNESCO 2012, hlm. 43–45
- ↑ OECD 2012, hlm. 30
- ↑
- OECD 2015, hlm. 69–71
- OECD 2018, hlm. 80–85
- UNESCO 2012, hlm. 46–47
- ↑
- OECD 2015, hlm. 73–76
- OECD 2018, hlm. 80–85
- UNESCO 2012, hlm. 48–50
- ↑
- OECD 2015, hlm. 81–84
- OECD 2018, hlm. 80–85
- UNESCO 2012, hlm. 51–54
- ↑
- OECD 2015, hlm. 89–92
- OECD 2018, hlm. 80–85
- UNESCO 2012, hlm. 55–58
- ↑
- OECD 2015, hlm. 97–100
- OECD 2018, hlm. 80–85
- UNESCO 2012, hlm. 59–61
- ↑
- Cizek 1999, hlm. 73
- Marshall 2013, hlm. 65
- ↑
- ↑ Bhalotra & Harttgen Klasen, hlm. 1–2
- ↑
- ↑
- OECD 2013, hlm. 20
- Barr & Parrett 2003b, hlm. 82–86
- The Editors of Encyclopaedia Britannica 2023
- Aron 2006, hlm. 3–4
- Sliwka 2008, hlm. 93–96
- ↑
- ↑ Johnson 2009, Gurukula
- ↑ Bowker 2003, Madrasa
- ↑ Bowker 2003, Yeshivah
- ↑
- Bullard & Hitz 1997, hlm. 15–22
- DeVitis & Irwin-DeVitis 2010, hlm. xi–xiii
- Lee 2021, hlm. 714–715
- ↑ Epstein & Gambs 2001, hlm. 986
- ↑
- ↑ Emaliana 2017, hlm. 59–61
- ↑ Jackson 2011, hlm. 73–76
- ↑ Main 2012, hlm. 82–83
- ↑
- Wagner, Deindl & Schmölzer 2023, hlm. 99
- Brown & Williams 2005, hlm. 3–4
- Cook, Tankersley & Landrum 2013, hlm. 9–10
- Bearman 2005, hlm. 27
- ↑
- Jarvis 2012, hlm. 44
- Morgan, Trofimova & Kliucharev 2018, hlm. 75–76
- Tiem, Moseley & Dessinger 2012, hlm. 261–262
- Chou & Zou 2020, hlm. 1–3
- ↑ Field 2009, hlm. 89
- ↑
- UNESCO 2012, hlm. 73–75
- Berry 2016, hlm. 459–460
- Li 2006, hlm. 6
- ↑
- Adarkwah 2021, hlm. 258
- Sewell & Newman 2013, hlm. 7–9
- Bowen, Gelpi & Anweiler 2023, Global Trends in Education
- Zawacki-Richter et al. 2020, hlm. 319–321
- Hartnett 2016, hlm. 6–7
- ↑
- Dolgopolov 2016, hlm. 272
- Todd & Hancock 2005, hlm. 196
- ↑
- ↑
- Rosenkranz & Brackett 1872, hlm. 95
- Harris 1881, hlm. 215–216
- ↑
- Monds 2022, hlm. 111
- National Education League 1875, hlm. 52
- Quinn 2013, hlm. 27
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 14–15, 20, 212–216
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 37–38
- Glaeser, Ponzetto & Shleifer 2007, hlm. 77–78
- Kantzara 2016, hlm. 1–3
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 15–16
- Johnes, Portela & Thanassoulis 2017, hlm. 331–332
- Paechter 2001, hlm. 9–10
- ↑ Sullivan, Brianna; Hays, Donald; Bennett, Neil (June 2023). "The Wealth of Households: 2021 / Current Population Reports / P70BR-183" (PDF). United States Census Bureau. hlm. 5 (Figure 2). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal May 24, 2024.
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 6–8, 212–216
- Allen 2011, hlm. 88–89
- Krueger & Lindahl 2001, hlm. 1101–1103
- ↑
- Allen 2011, hlm. 85–89
- Johnes, Portela & Thanassoulis 2017, hlm. 331–332
- ↑ Chimombo 2005, hlm. 129–130
- ↑ Götmark & Andersson 2020, hlm. 1–2
- ↑
- Hicks 2004, hlm. 19–22
- International Commission on the Futures of Education 2022, hlm. iii, 7–8
- Reimers 2020, hlm. ix
- Hicks 2004a, hlm. 36–37
- ↑ Hicks 2004a, hlm. 41–42
- ↑ Bartlett & Burton 2007, hlm. 20
- ↑
- ↑
- ↑ Waks 2019, hlm. 183–184
- ↑
- Taylor 1999, hlm. 531–532
- Burman et al. 2005, hlm. 42–43
- ↑ Raghupathi & Raghupathi 2020, hlm. 1–2, 20
- ↑
- ↑
- UNESCO 2016, hlm. 54
- Gary & Crime 2017, hlm. 7
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 74–77, 81–85
- Hand 2014, hlm. 48–49
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 7
- ↑ MoE Staff
- ↑ DBE Staff
- ↑ SEP Staff
- ↑
- UNESCO 2021, hlm. 8–10
- Francois 2015, hlm. 30–32
- Warren 2009, hlm. 2
- Yamada 2016, hlm. 68–69
- Warren & Waltham 2009, hlm. 42
- ↑
- ↑
- Francois 2015, hlm. 30–32
- Curran, Rujas & Castejón 2022, hlm. 1–2
- Bartlett & Burton 2003, hlm. 239–241, 245–246
- ↑ Yeravdekar & Tiwari 2016, hlm. 182
- ↑ Crawford 1986, hlm. 81
- ↑
- Schoen 2008, hlm. 301–303
- Karadağ et al. 2017, hlm. 15, 17
- ↑
- Portes 1999, hlm. 489–491
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 5–6
- Waller 2011, hlm. 106–107, 132–133
- Danişman 2017, hlm. 271–272
- Haleem et al. 2022, hlm. 275–276
- Hughes 2009, hlm. 90
- ↑ Bartlett & Burton 2007, hlm. 96–97
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 107
- Weiner 2000, hlm. 314–316
- Helms 2006, Motivation and Motivation Theory
- ↑
- Meece, Blumenfeld & Hoyle 1988, hlm. 514–515
- McInerney 2019, hlm. 427–429
- Honeybourne 2005, hlm. 80
- Dhiman 2017, hlm. 39
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 107
- Gallard & Garden 2011, hlm. 132–133
- ↑
- Butler, Marsh & Sheppard 1985, hlm. 349–351
- Sternberg 2022
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 109
- Gallard & Garden 2011, hlm. 145–147
- ↑
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 130–131
- Page & Page 2010, hlm. 36–37
- Skowron 2015, hlm. 137
- Willingham, Hughes & Dobolyi 2015, hlm. 266–267
- Pashler et al. 2008, hlm. 105–106
- ↑
- ↑ Verbree et al. 2021, hlm. 1
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 96–97
- Lane, Lane & Kyprianou 2004, hlm. 247–248
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 17
- Bécares & Priest 2015, hlm. 1–2
- Hart 2019, hlm. 582–583
- Warren 2009, hlm. 4–5
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 146–149
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 123
- APA staff
- Maluccio et al. 2009, hlm. 734–735
- ↑
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 122
- Archer & Francis 2006, hlm. 11–12
- Isik et al. 2018, hlm. 1–2
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 166
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 157–161
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 119
- Sullivan 2019, hlm. 3–7
- ↑
- Marsden 1998, hlm. 88
- Johnson 2018, hlm. 74
- ↑
- Xu & Wu 2022, hlm. 433–434
- Musterd 2023, hlm. 96
- ↑ Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 116, 126–127
- ↑
- Sampath 1981, hlm. 30–32
- Rosove 1973, hlm. 120–122
- ↑ Sampath 1981, hlm. 30–32
- ↑
- Williams et al. 2003a, Technology in Education
- Kimmons 2015, hlm. 664
- Haleem et al. 2022, hlm. 275–276
- ↑
- Gomathi & Mohanavel 2022, hlm. 29–30
- Miao & Holmes 2023, hlm. 7
- ↑
- Selwyn 2013, hlm. 128
- Rodriguez-Segura 2022, hlm. 171–173
- Corbridge, Harriss & Jeffrey 2013, hlm. 290
- ↑
- Figueroa, Lim & Lee 2016, hlm. 273–276
- Barrett et al. 2019, hlm. 1–2
- ↑
- Lareau & Ferguson 2018, hlm. 114
- Moore 2004, hlm. 52
- Winters 2012, hlm. 16–18
- Burroughs et al. 2019, hlm. 7–9
- ↑ Karadağ 2017, hlm. 325–330
- ↑
- Danişman 2017, hlm. 271–272
- Schmid & Garrels 2021, hlm. 456–458
- Shute et al. 2011, hlm. 1–3
- ↑
- Hughes 2009, hlm. 90
- Horwitz 2021, hlm. 107–109
- ↑ Aitchison 2022, hlm. 7
- ↑
- Frankena, Burbules & Raybeck 2003, hlm. 1877
- Kassem, Mufti & Robinson 2006, hlm. xv
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 8–10
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 3–4
- ↑
- Ward 2004, hlm. 2
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 3–4
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 4
- Ward 2004, hlm. 1
- Warren 2009, hlm. 5
- ↑
- Cohen, Manion & Morrison 2018, hlm. 1, 31–33
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 29–30, 40–44, 57
- ↑ Bartlett & Burton 2007, hlm. 37
- ↑
- Warren 2009, hlm. 1–2
- Noddings 1995, hlm. 1–6
- ↑
- ↑
- Curtis 2011, hlm. 59–60
- Coombs 1998, hlm. 555–556
- Warren & Waltham 2009, hlm. 39–40
- ↑
- Watkins & Mortimore 1999, hlm. 1–2, 1: Pedagogy: What Do We Know?]
- Murphy 2003, hlm. 9–10
- Salvatori 2003, hlm. 264
- ↑
- Peel 2023
- Murphy 2003, hlm. 9–10
- Gabriel 2022, hlm. 16
- ↑
- Anderson 2005, hlm. 53–54
- Kraftl 2014, hlm. 169
- McHugh 2016, hlm. 167
- ↑
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 6, 96–97, 118
- Gallard & Garden 2011, hlm. 132–133
- Oliveira & Bittencourt 2019, hlm. 9
- ↑
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 89–90
- Marquis 1942, hlm. 153–154
- Ansari & Coch 2006, hlm. 146–151
- Goswami 2006, hlm. 406–411
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 5, 145
- Waller 2011, hlm. 106–107
- ↑
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 103–107, 114
- Browne 2011, hlm. 39–40
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 6, 8
- Blaug 2014, hlm. xii–xiii
- Allen 2011, hlm. 85–86
- ↑
- Bartram 2009, hlm. 25–27
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 7
- Le Play 2011, hlm. 159–162
- Hebert 2023, hlm. 1–2
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 8
- Le Play 2011, hlm. 163–164, 171–172
- Bartram 2009, hlm. 27–28, 33–35
- Bennett 2023, hlm. 114
- Tukdeo 2019, hlm. 58–59
- ↑
- Le Play 2011, hlm. 166
- Buckner 2019, hlm. 315–316
- ↑ Bartlett & Burton 2007, hlm. 6
- ↑ Torabian 2022, hlm. vii.
- ↑ Golosov 2017, hlm. 91.
- ↑
- ↑
- ↑
- Chazan 2022, hlm. 15–16
- Haack 1981, hlm. 289–291
- Sewell & Newman 2013, hlm. 3–4
- ↑
- Chazan 2022, hlm. 15–16
- Bowen, Gelpi & Anweiler 2023, Introduction
- Sewell & Newman 2013, hlm. 3–4, 7
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 17–18
- Reid 2018, hlm. 190
- Kiracofe, Hirth & Hutton 2022, hlm. 19
- Kemmis & Edwards-Groves 2017, hlm. 2–3
- ↑
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 26–31
- Bartram 2009, hlm. 28
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 22–25
- ↑
- Atienza 2010, hlm. 130
- Dreeben 2010, hlm. 178–179
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 92
- Kimble 2023
- ↑
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 91–92
- Smith & Ragan 2004, hlm. 152–154
- ↑
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 90–91
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 96–97
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 81–5
- Peel 2023
- Murphy 2003, hlm. 5, 19–20
- ↑
- ↑ Peel 2023, § The teaching-learning situation
- ↑
- Peel 2023
- Bukoye 2019, hlm. 1395
- Doukakis et al. 2022, hlm. 71–72
- Lamprianou & Athanasou 2009, hlm. 31
- ↑
- ↑
- Ramsay 2008, hlm. 283–287
- Briggs 2012, hlm. 168
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 1–2
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 5, 9–10, 12
- Power 1970, hlm. 1–2
- Nwuzor 2017, hlm. 104
- ↑ Johnson & Stearns 2023, hlm. 12
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 12–13
- Beaulieu 2018, hlm. 28
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 13
- Friesen 2017, hlm. 17–19
- Kuskis & Logan 2014, hlm. 34
- ↑
- Kortti 2019, hlm. 6
- Crowley & Heyer 2015, hlm. 70
- ↑
- Hoskin 2021, hlm. 27–28
- Friesen 2017, hlm. 17–18
- Kuskis & Logan 2014, hlm. 34
- Sampath 1981, hlm. 30
- ↑
- Tillman, An & Robertson 2019, hlm. 62–63
- Green 2022, hlm. 16–17
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 3, 5, 13, 15
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 13–14
- Tillman, An & Robertson 2019, hlm. 62–64
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 13–14
- Tillman, An & Robertson 2019, hlm. 62–63
- ↑
- Hughes & Gosney 2016, hlm. 43
- Lynch 1972, hlm. 47
- ↑ El-Abbadi 2023, Lead Section
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 5, 43–44
- Young 2019, hlm. 109–111
- Craver & Philipsen 2011, hlm. 361
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 5, 43–44, 47
- Esposito 2003, Madrasa
- ↑
- Bowker 2003, Yeshivah
- Walton 2015, hlm. 130
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 70–71
- Elman 2016, Civil Service Examinations
- Bastid 2021, hlm. 10
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 5, 43–44
- Patzuk-Russell 2021, hlm. 1
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 5, 60
- Kemmis & Edwards-Groves 2017, hlm. 50
- ↑ Aqil, Babekri & Nadmi 2020, hlm. 156
- ↑ Cosman & Jones 2009, hlm. 148
- ↑ Gilliot 2018, hlm. 81
- ↑
- Power 1970, hlm. 243–244
- Nicholas 2014, hlm. 129
- ↑
- ↑
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 81–83
- Lightman 2019, hlm. 316
- ↑
- Johnson & Stearns 2023, hlm. 116–117
- Elman 2016, Civil Service Examinations
- ↑ Johnson & Stearns 2023, hlm. 116–117
- ↑
- Ornstein et al. 2016, hlm. 78
- Danesi 2013, hlm. 169–170
- Poe 2011, hlm. 104–105, 112
- Sampath 1981, hlm. 30
- ↑ Norman Davies (28 February 2005). God's Playground: 1795 to the present. Columbia University Press. hlm. 167. ISBN 978-0-231-12819-3. Diakses tanggal 17 March 2013.
- ↑ Ted Tapper; David Palfreyman (2005). Understanding Mass Higher Education: Comparative Perspectives On Access. RoutledgeFalmer. hlm. 140. ISBN 978-0-415-35491-2. Diakses tanggal 17 March 2013.
- ↑
- Scott & Vare 2020, hlm. 54–56
- Schuknecht 2020, hlm. 40–41
- Bowen, Gelpi & Anweiler 2023, Western Education in the 19th Century
- Gross 2018, hlm. 1–3, 9–11
- Archer 2013, hlm. 326
- ↑
- Reagan 2005, hlm. 108
- Murphy 2014, hlm. 80
- Kte'pi 2013, hlm. 63
- ↑
- Beatty 2019, hlm. 436–437
- Beiter 2005, hlm. 609–610
- Beiter 2005, hlm. 95–97
- ↑
- Urata, Kuroda & Tonegawa 2022, hlm. 40–41
- Warren 2009, hlm. 2
- United Nations
- Shelley 2022, hlm. 2
- Warren & Waltham 2009, hlm. 42
- ↑ Roser & Ortiz-Ospina 2013
- ↑
- Bartlett & Burton 2007, hlm. 74–7, 81–5
- Murphy, Mufti & Kassem 2009, hlm. 7
- Neem 2017, hlm. 213
- Spring 2018, hlm. 107
- Pizmony-Levy 2017, hlm. 126
- ↑
- Tosto et al. 2023, hlm. 1–2
- Haleem et al. 2022, hlm. 275–277
- Williams et al. 2003a, Educational Technology
- UN 2020, hlm. 2–3
- Sampath 1981, hlm. 30
- ↑
- Bartlett & Burton 2003, hlm. 239–241, 245–246
- Ge (Rochelle) (葛贇) 2022, hlm. 229–231
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Adarkwah, Michael Agyemang (2021). "A Strategic Approach to Onsite Learning in the Era of SARS-Cov-2". SN Computer Science (dalam bahasa Inggris). 2 (4) 258. doi:10.1007/s42979-021-00664-y. ISSN 2661-8907. PMC 8103427. PMID 33977278.
- Aitchison, David (2022). The School Story: Young Adult Narratives in the Age of Neoliberalism (dalam bahasa Inggris). University Press of Mississippi. ISBN 978-1-4968-3764-6. Diakses tanggal 16 May 2023.
- Allen, Rebecca (2011). "The Economics of Education". Dalam Dufour, Barry; Will, Curtis (ed.). Studying Education: An Introduction to the Key Disciplines in Education Studies. Open University Press. ISBN 978-0-335-24107-1.
- Anderson, Philip M. (2005). "3. The Meaning of Pedagogy". Dalam Kincheloe, Joe L. (ed.). Classroom Teaching: An Introduction (dalam bahasa Inggris). Peter Lang. ISBN 978-0-8204-7858-6.
- Ansari, D; Coch, D (2006). "Bridges Over Troubled Waters: Education and Cognitive Neuroscience". Trends in Cognitive Sciences. 10 (4): 146–151. doi:10.1016/j.tics.2006.02.007. hdl:10818/33665. ISSN 1364-6613. PMID 16530462. S2CID 8328331.
- APA staff. "Education and Socioeconomic Status". American Psychological Association. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 May 2016. Diakses tanggal 28 April 2023.
- Aqil, Moulay Driss; Babekri, El Hassane; Nadmi, Mustapha (25 June 2020). "Morocco: Contributions to Mathematics Education From Morocco". Dalam Vogeli, Bruce R.; Tom, Mohamed E. A. El (ed.). Mathematics And Its Teaching In The Muslim World (dalam bahasa Inggris). World Scientific. ISBN 978-981-314-679-2. Diakses tanggal 7 December 2023.
- Archer, Louise; Francis, Becky (2006). Understanding Minority Ethnic Achievement: Race, Gender, Class and 'Success' (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-19246-5. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Archer, R. L. (2013). Contributions to the History of Education: Volume 5, Secondary Education in the Nineteenth Century (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-62232-6. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Aron, Laudan Y. (2006). An Overview of Alternative Education (dalam bahasa Inggris). Urban Institute. OCLC 137744041. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Arquisola, M. J. (20 October 2020). "Can Indonesian Educational Leaders Respond to Rapid Contextual Changes in a Digital Age? A Narrative of Issues and Challenges". Dalam Priyana, Joko; Triastuti, Anita; Putro, Nur Hidayanto Pancoro Setyo (ed.). Teacher Education and Professional Development In Industry 4.0: Proceedings of the 4th International Conference on Teacher Education and Professional Development (InCoTEPD 2019), 13–14 November, 2019, Yogyakarta, Indonesia (dalam bahasa Inggris). CRC Press. ISBN 978-1-000-29017-2. Diakses tanggal 21 December 2023.
- Atienza, Melflor (2010). "8. Strategies in Teaching Large Groups". Dalam Sana, Erlyn (ed.). Teaching and Learning in the Health Sciences (dalam bahasa Inggris). UP Press. ISBN 978-971-542-573-5. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Barr, Robert D.; Parrett, William H. (2003b). "Alternative Schooling". Dalam Guthrie, James W. (ed.). Encyclopedia of Education (dalam bahasa Inggris). Macmillan Reference USA. ISBN 978-0-02-865594-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 October 2023. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Barrett, Peter; Treves, Alberto; Shmis, Tigran; Ambasz, Diego (2019). The Impact of School Infrastructure on Learning: A Synthesis of the Evidence (dalam bahasa Inggris). World Bank Publications. ISBN 978-1-4648-1378-8. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Bartlett, Steve; Burton, Diana (2003). Education Studies: Essential Issues. Sage. ISBN 978-0-7619-4049-4.
- Bartlett, Steve; Burton, Diana (2007). Introduction to Education Studies (Edisi 2nd). Sage. ISBN 978-1-4129-2193-0.
- Bartram, Brendan (2009). "Comparative Education". Dalam Warren, Sue (ed.). An Introduction to Education Studies: The Student Guide to Themes and Contexts (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Academic. ISBN 978-0-8264-9920-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Bastid, Marianne (14 July 2021). "Servitude or Liberation? The Introduction of Foreign Educational Practices and Systems to Chine from 1850 to the Present". Dalam Hayhoe, Ruth; Bastid, Marianne (ed.). Routledge Library Editions: Education in Asia (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-351-37876-5. Diakses tanggal 9 December 2023.
- Bearman, Margaret (2005). "Factors Affecting Health Professional Education". Dalam Brown, Ted; Williams, Brett (ed.). Evidence-Based Education in the Health Professions: Promoting Best Practice in the Learning and Teaching of Students (dalam bahasa Inggris). Radcliffe Publishing. ISBN 978-1-910227-70-1. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Beatty, Barbara (2019). "Conflicting Constructions of Childhood and Children in Education History". Dalam Rury, John L.; Tamura, Eileen H. (ed.). The Oxford Handbook of the History of Education (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-934003-3. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Beaulieu, Paul-Alain (5 February 2018). A History of Babylon, 2200 BC – AD 75 (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4051-8898-2.
- Bécares, Laia; Priest, Naomi (2015). "Understanding the Influence of Race/Ethnicity, Gender, and Class on Inequalities in Academic and Non-Academic Outcomes Among Eighth-Grade Students: Findings From an Intersectionality Approach". PLOS ONE. 10 (10) e0141363. Bibcode:2015PLoSO..1041363B. doi:10.1371/journal.pone.0141363. PMC 4624767. PMID 26505623.
- Beckett, Kelvin (2018). "John Dewey's Conception of Education: Finding Common Ground With R. S. Peters and Paulo Freire". Educational Philosophy and Theory. 50 (4): 380–389. doi:10.1080/00131857.2017.1365705. ISSN 0013-1857. S2CID 148998580.
- Beckett, Kelvin Stewart (2011). "R. S. Peters and the Concept of Education". Educational Theory (dalam bahasa Inggris). 61 (3): 239–255. doi:10.1111/j.1741-5446.2011.00402.x.
- Beiter, Klaus Dieter (2005). The Protection of the Right to Education by International Law: Including a Systematic Analysis of Article 13 of the International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (dalam bahasa Inggris). Brill. ISBN 978-90-474-1754-5. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Bennett, Pip (2023). "Lessons from Ubuntu for Moral Education". Dalam Hebert, David G. (ed.). Comparative and Decolonial Studies in Philosophy of Education (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 107–122. doi:10.1007/978-981-99-0139-5_7. ISBN 978-981-99-0139-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 December 2023. Diakses tanggal 21 December 2023.
- Berry, Billingsley (2016). "How Students View the Boundaries Between Their Science and Religious Education Concerning the Origins of Life and the Universe". Science Education. 100 (3): 459–482. Bibcode:2016SciEd.100..459B. doi:10.1002/sce.21213. PMC 5067621. PMID 27812226.
- Bhalotra, Sonia; Harttgen, Kenneth; Klasen, Stephan. "The Impact of school fees on educational attainment and the intergenerational transmission of education". UNESCO. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 January 2024. Diakses tanggal 4 January 2024.
- Biesta, Gert (2015). "What Is Education For? On Good Education, Teacher Judgement, and Educational Professionalism". European Journal of Education (dalam bahasa Inggris). 50 (1): 75–87. doi:10.1111/ejed.12109. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 December 2023. Diakses tanggal 30 November 2023.
- Biletzki, Anat; Matar, Anat (2021). "Ludwig Wittgenstein: 3.4 Language-games and Family Resemblance". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2018. Diakses tanggal 11 February 2022.
- Blaug, M. (2014). Economics of Education: A Selected Annotated Bibliography (dalam bahasa Inggris). Elsevier. ISBN 978-1-4831-8788-4. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Bonvillian, William B.; Sarma, Sanjay E. (2 February 2021). Workforce Education: A New Roadmap (dalam bahasa Inggris). MIT Press. ISBN 978-0-262-04488-2. Diakses tanggal 20 December 2023.
- Bowen, James; Gelpi, Ettore; Anweiler, Oskar (2023). "Education". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 December 2007. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Bowker, John (1 January 2003). The Concise Oxford Dictionary of World Religions (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-280094-7.
- Briggs, A. (12 October 2012). "The Study of the History of Education". Dalam Gordon, Peter; Szreter, R. (ed.). The History of Education: The Making of a Discipline (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-136-22407-2. Diakses tanggal 11 December 2023.
- Brighouse, Harry (2009). "Moral and Political Aims of Education". The Oxford Handbook of Philosophy of Education (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 35–51. doi:10.1093/oxfordhb/9780195312881.003.0003. ISBN 978-0-19-531288-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 December 2021. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Brown, Ted; Williams, Brett (2005). "Introduction". Dalam Brown, Ted; Williams, Brett (ed.). Evidence-Based Education in the Health Professions: Promoting Best Practice in the Learning and Teaching of Students (dalam bahasa Inggris). Radcliffe Publishing. ISBN 978-1-910227-70-1. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Browne, Ken (2011). An Introduction to Sociology (dalam bahasa Inggris). Polity. ISBN 978-0-7456-5008-1. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Bryant, Napoleon A. (2001). "Make the Curriculum". Science Learning for All: Celebrating Cultural Diversity (dalam bahasa Inggris). NSTA Press. ISBN 978-0-87355-194-6.
- Buckner, Elizabeth (2019). "The Internationalization of Higher Education: National Interpretations of a Global Model". Comparative Education Review. 63 (3): 315–336. doi:10.1086/703794. S2CID 198608127.
- Bukoye, Roseline Olufunke (2019). "Utilization of Instruction Materials as Tools for Effective Academic Performance of Students: Implications for Counselling". The 2nd Innovative and Creative Education and Teaching International Conference. Vol. 2. MDPI. hlm. 1395. doi:10.3390/proceedings2211395.
- Bullard, Julie; Hitz, Randy (1997). "Early Childhood Education and Adult Education: Bridging the Cultures". Journal of Early Childhood Teacher Education. 18 (1): 15–22. doi:10.1080/10901029708549133. ISSN 1090-1027.
- Burman, Eva; Cooper, Maxine; Ling, Lorraine; Stephenson, Joan (2005). Values in Education (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-72831-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Burroughs, Nathan; Gardner, Jacqueline; Lee, Youngjun; Guo, Siwen; Touitou, Israel; Jansen, Kimberly; Schmidt, William (2019). "A Review of the Literature on Teacher Effectiveness and Student Outcomes". Teaching for Excellence and Equity. IEA Research for Education (dalam bahasa Inggris). Vol. 6. Springer International Publishing. doi:10.1007/978-3-030-16151-4_2. ISBN 978-3-030-16151-4. S2CID 187326800.
- Butler, S.; Marsh, H.; Sheppard, J. (1985). "Seven Year Longitudinal Study of the Early Prediction of Reading Achievement". Journal of Educational Psychology. 77 (3): 349–361. doi:10.1037/0022-0663.77.3.349.
- Chazan, Barry (2022). "What is "Education"?". Principles and Pedagogies in Jewish Education (dalam bahasa Inggris). Springer International Publishing. hlm. 13–21. doi:10.1007/978-3-030-83925-3_3. ISBN 978-3-030-83925-3. S2CID 239896844.
- Chimombo, Joseph (2005). "Issues in Basic Education in Developing Countries: An Exploration of Policy Options for Improved Delivery" (PDF). Journal of International Cooperation in Education. 8 (1). doi:10.15027/34225. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 11 April 2019. Diakses tanggal 15 December 2018.
- Chou, Chih-Yueh; Zou, Nian-Bao (2020). "An Analysis of Internal and External Feedback in Self-Regulated Learning Activities Mediated by Self-Regulated Learning Tools and Open Learner Models". International Journal of Educational Technology in Higher Education. 17 (1) 55. doi:10.1186/s41239-020-00233-y. S2CID 229550927.
- Cizek, Gregory J. (1999). Cheating on Tests: How To Do It, Detect It, and Prevent It (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-67251-5. Diakses tanggal 6 January 2024.
- Claire, Shewbridge; Marian, Hulshof; Deborah, Nusche; Louise, Stoll (2011). OECD Reviews of Evaluation and Assessment in Education: School Evaluation in the Flemish Community of Belgium 2011 (dalam bahasa Inggris). OECD Publishing. ISBN 978-92-64-11672-6. Diakses tanggal 6 May 2023.
- Close, Paul (2014). Child Labour in Global Society (dalam bahasa Inggris). Emerald Group Publishing. ISBN 978-1-78350-780-1. Diakses tanggal 6 May 2023.
- Cobb, Casey D.; Glass, Gene V. (2021). Public and Private Education in America: Examining the Facts (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. ISBN 978-1-4408-6375-2. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Cohen, Louis; Manion, Lawrence; Morrison, Keith (2018). Research Methods in Education (dalam bahasa Inggris) (Edisi 8th). Routledge. ISBN 978-1-315-45652-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Collins staff. "Private Education". Collin's English Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 April 2015. Diakses tanggal 7 May 2023.
- Cook, Bryan G.; Tankersley, Melody; Landrum, Timothy J. (2013). Evidence-Based Practices (dalam bahasa Inggris). Emerald Group Publishing. ISBN 978-1-78190-430-5. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Coombs, Jerrold R. (1998). "Educational Ethics: Are We on the Right Track?". Educational Theory. 48 (4): 555–569. doi:10.1111/j.1741-5446.1998.00555.x.
- Corbridge, Stuart; Harriss, John; Jeffrey, Craig (3 April 2013). India Today: Economy, Politics and Society (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-0-7456-7664-7. Diakses tanggal 14 December 2023.
- Cordasco, Francesco (1976). A Brief History of Education: A Handbook of Information on Greek, Roman, Medieval, Renaissance, and Modern Educational Practice (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN 978-0-8226-0067-1. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Cosman, Madeleine Pelner; Jones, Linda Gale (2009). Handbook to Life in the Medieval World, 3-Volume Set (dalam bahasa Inggris). Infobase Publishing. ISBN 978-1-4381-0907-7.
- Craver, Samuel M.; Philipsen, Maike Ingrid (30 June 2011). Foundations of Education: Problems and Possibilities in American Education (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing USA. ISBN 978-1-4411-1856-1. Diakses tanggal 9 December 2023.
- Crawford, Ronald L. (1986). "The Fulbright Teacher Exchange Program: A Few Caveats". Die Unterrichtspraxis / Teaching German. 19 (1): 81–83. doi:10.2307/3530867. JSTOR 3530867.
- Crowley, David; Heyer, Paul (30 September 2015). Communication in History: Technology, Culture, Society (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-34939-6. Diakses tanggal 8 December 2023.
- Curran, Marta; Rujas, Javier; Castejón, Alba (2022). "The Silent Expansion of Internationalisation: Exploring the Adoption of the International Baccalaureate in Madrid". Compare: A Journal of Comparative and International Education. 53 (7): 1244–1262. doi:10.1080/03057925.2021.2022456. S2CID 245816054.
- Curren, Randall (1996). "Education, Philosophy of". Dalam Craig, Edward (ed.). Routledge Encyclopedia of Philosophy. Routledge. ISBN 978-0-415-18710-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2021. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Curtis, Will (2011). "The Philosophy of Education". Dalam Dufour, Barry; Will, Curtis (ed.). Studying Education: An Introduction to the Key Disciplines in Education Studies. Open University Press. ISBN 978-0-335-24107-1.
- Danesi, Marcel (2013). Encyclopedia of Media and Communication (dalam bahasa Inggris). University of Toronto Press. ISBN 978-1-4426-9553-5. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Danişman, Şahin (2017). "17. The Effect of Parent Involvement on Student Achievement". Dalam Karadağ, Engin (ed.). The Factors Effecting Student Achievement: Meta-Analysis of Empirical Studies (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-56083-0. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Davies, Martin; Barnett, Ronald (2015). "Introduction". The Palgrave Handbook of Critical Thinking in Higher Education (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan US. doi:10.1057/9781137378057_1. ISBN 978-1-137-37805-7.
- DBE Staff. "About DBE". Department of Basic Education. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 December 2023. Diakses tanggal 13 December 2023.
- Dekker, Jeroen J. H. (20 April 2023). A Cultural History of Education in the Renaissance (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-350-23905-0. Diakses tanggal 9 December 2023.
- DeVitis, Joseph L.; Irwin-DeVitis, Linda (2010). "Preface". Adolescent Education: A Reader (dalam bahasa Inggris). Peter Lang. ISBN 978-1-4331-0504-3. Diakses tanggal 15 May 2022.
- Dewey, John (2004). "6. Education as Conservative and Progressive". Democracy and Education (dalam bahasa Inggris). Courier Corporation. ISBN 978-0-486-43399-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 May 2022. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Dhiman, Satinder (2017). Holistic Leadership: A New Paradigm for Today's Leaders (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-137-55571-7. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Dolgopolov, Yuri (1 February 2016). A Dictionary of Confusable Phrases: More Than 10,000 Idioms and Collocations (dalam bahasa Inggris). McFarland & Company. ISBN 978-0-7864-5995-7. Diakses tanggal 7 December 2023.
- Doukakis, Spyriodn; Niari, Maria; Alexopoulos, Evita; Sfyris, Panagiotis (2022). "Online Learning, Students' Assessment and Educational Neuroscience". Dalam Auer, Michael E.; Tsiatsos, Thrasyvoulos (ed.). New Realities, Mobile Systems and Applications: Proceedings of the 14th IMCL Conference (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-3-030-96296-8.
- Dreeben, Olga (2010). Patient Education in Rehabilitation (dalam bahasa Inggris). Jones & Bartlett Learning. ISBN 978-0-7637-5544-7. Diakses tanggal 30 April 2023.
- El-Abbadi, Mostafa (2023). "Library of Alexandria". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 May 2023. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Elman, Benjamin A. (18 August 2016). "Civil Service Examinations". Berkshire Encyclopedia of China (dalam bahasa Inggris). Berkshire Publishing Group. ISBN 978-0-9770159-4-8.
- Emaliana, Ive (2017). "Teacher-Centered or Student-Centered Learning Approach To Promote Learning?". Jurnal Sosial Humaniora. 10 (2): 59. doi:10.12962/j24433527.v10i2.2161. S2CID 148796695.
- Epstein, Cynthia Fuchs; Gambs, Deborah (2001). "Sex Segregation in Education;". Encyclopedia of Women and Gender: Sex Similarities and Differences and the Impact of Society on Gender (dalam bahasa Inggris). Academic Press. ISBN 978-0-12-227245-5. Diakses tanggal 5 January 2024.
- Eshach, Haim (2007). "Bridging In-School and Out-of-School Learning: Formal, Non-Formal, and Informal Education". Journal of Science Education and Technology (dalam bahasa Inggris). 16 (2): 171–190. Bibcode:2007JSEdT..16..171E. doi:10.1007/s10956-006-9027-1. ISSN 1573-1839. S2CID 55089324.
- Esposito, John L., ed. (1 January 2003). "Madrasa". The Oxford Dictionary of Islam. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-512558-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 December 2023. Diakses tanggal 9 December 2023.
- Ferary, Dorothy (2023). "A Philosophical Perspective on the Purpose of Education in Indonesia". Dalam Hebert, David G. (ed.). Comparative and Decolonial Studies in Philosophy of Education (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 51–71. doi:10.1007/978-981-99-0139-5_4. ISBN 978-981-99-0139-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 December 2023. Diakses tanggal 21 December 2023.
- Field, J. (2009). "Lifelong Learning". International Encyclopedia of Education (dalam bahasa Inggris). Elsevier. ISBN 978-0-08-044894-7.
- Figueroa, Ligaya Leah; Lim, Samsung; Lee, Jihyun (2016). "Investigating the Relationship Between School Facilities and Academic Achievements Through Geographically Weighted Regression". Annals of GIS. 22 (4): 273–285. Bibcode:2016AnGIS..22..273F. doi:10.1080/19475683.2016.1231717. S2CID 46709454.
- Fogarty, Robin J.; Stoehr, Judy (2008). Integrating Curricula With Multiple Intelligences: Teams, Themes, and Threads (dalam bahasa Inggris). Corwin Press. ISBN 978-1-4129-5553-9. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Francois, Emmanuel Jean (2015). Building Global Education With a Local Perspective: An Introduction to Glocal Higher Education (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-137-38677-9. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Frankena, William K.; Burbules, Nicholas C.; Raybeck, Nathan (2003). "Philosophy of Education". Dalam Guthrie, James W. (ed.). Encyclopedia of Education (Edisi 2nd). Macmillan Reference USA. ISBN 978-0-02-865594-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 October 2023. Diakses tanggal 30 October 2023.
- Freire, Paulo (1970). "Chapter 2". Pedagogy of the Oppressed (PDF) (dalam bahasa Inggris). Herder and Herder. ISBN 978-0-14-080331-0. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 April 2022. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Friesen, Norm (2017). The Textbook and the Lecture: Education in the Age of New Media (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBN 978-1-4214-2434-7. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Gabriel, Cle-Anne (2022). Why Teach with Cases?: Reflections on Philosophy and Practice (dalam bahasa Inggris). Emerald Group Publishing. ISBN 978-1-80382-399-7. Diakses tanggal 30 October 2023.
- Gallard, Diahann; Garden, Angie (2011). "The Psychology of Education". Dalam Dufour, Barry; Will, Curtis (ed.). Studying Education: An Introduction to the Key Disciplines in Education Studies. Open University Press. ISBN 978-0-335-24107-1.
- Gary, Roberts; Crime, United Nations Office on Drugs and (2017). Education Sector Responses to the Use of Alcohol, Tobacco and Drugs (dalam bahasa Inggris). UNESCO Publishing. ISBN 978-92-3-100211-3. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Ge (Rochelle) (葛贇), Yun (2022). "Internationalisation of Higher Education: New Players in a Changing Scene". Educational Research and Evaluation. 27 (3–4): 229–238. doi:10.1080/13803611.2022.2041850. S2CID 248370676.
- Gilliot, Claude (12 January 2018). "Libraries". Dalam Meri, Josef (ed.). Routledge Revivals: Medieval Islamic Civilization (2006): An Encyclopedia - Volume II (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-351-66813-2.
- Gingell, John; Winch, Christopher (2002). Philosophy of Education: The Key Concepts (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-69031-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Glaeser, Edward L.; Ponzetto, Giacomo A. M.; Shleifer, Andrei (2007). "Why Does Democracy Need Education?". Journal of Economic Growth. 12 (2): 77–99. doi:10.1007/s10887-007-9015-1.
- Golosov, Grigorii V. (14 September 2017). "Electoral Integrity and Voter Turnout in Contemporary Autocracies". Dalam Garnett, Holly Ann; Zavadskaya, Margarita (ed.). Electoral Integrity and Political Regimes: Actors, Strategies and Consequences (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-315-31510-2. Diakses tanggal 15 January 2024.
- Gomathi, S.; Mohanavel, S. (19 October 2022). "Artificial Intelligence for Sustainable Pedagogical Development". Dalam Goundar, Sam; Purwar, Archana; Singh, Ajmer (ed.). Applications of Artificial Intelligence, Big Data and Internet of Things in Sustainable Development (dalam bahasa Inggris). CRC Press. doi:10.1201/9781003245469-2. ISBN 978-1-000-65253-6. Diakses tanggal 5 January 2024.
- Goswami, U (2006). "Neuroscience and Education: From Research to Practice?". Nature Reviews Neuroscience. 7 (5): 406–413. doi:10.1038/nrn1907. PMID 16607400. S2CID 3113512.
- Götmark, Frank; Andersson, Malte (December 2020). "Human fertility in relation to education, economy, religion, contraception, and family planning programs". BMC Public Health. 20 (1): 265. doi:10.1186/s12889-020-8331-7. PMC 7036237. PMID 32087705.
- Green, Anthony (7 December 2022). L2 Writing Assessment: An Evolutionary Perspective (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-3-031-15011-1. Diakses tanggal 7 December 2023.
- Grendler, Paul F. (2005). "Education: Europe". Dalam Horowitz, Maryanne Cline (ed.). New Dictionary of the History of Ideas (dalam bahasa Inggris). Thomson Gale. ISBN 978-0-684-31377-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 December 2023. Diakses tanggal 9 December 2023.
- Grigorenko, Elena L. (2008). "Multiple Intelligences Theory". International Encyclopedia of the Social Sciences. Macmillan Reference USA. ISBN 978-0-02-865973-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 May 2023. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Gross, Robert N. (2018). Public Vs. Private: The Early History of School Choice in America (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-064457-4. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Haack, Robin (1981). "Education and the Good Life". Philosophy. 56 (217): 289–302. doi:10.1017/S0031819100050282. ISSN 0031-8191. JSTOR 3750273. S2CID 144950876.
- Haleem, Abid; Javaid, Mohd; Qadri, Mohd Asim; Suman, Rajiv (2022). "Understanding the Role of Digital Technologies in Education: A Review". Sustainable Operations and Computers. 3: 275–285. Bibcode:2022soc..book..275H. doi:10.1016/j.susoc.2022.05.004. S2CID 249055862.
- Hand, Michael (2014). "What Should Go on the Curriculum". Dalam Bailey, Richard (ed.). The Philosophy of Education: An Introduction (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-4742-2899-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- HarperCollins staff (2023). "Education". The American Heritage Dictionary. HarperCollins. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 May 2022. Diakses tanggal 9 May 2022.
- HarperCollins staff (2023a). "Special Education". The American Heritage Dictionary. HarperCollins. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 May 2023. Diakses tanggal 5 May 2023.
- Harris, William T. (1881). "The Church, the State, and the School". The North American Review. 133 (298): 215–227. ISSN 0029-2397. JSTOR 25100991.
- Hart, Caroline Sarojini (2019). "Education, Inequality and Social Justice: A Critical Analysis Applying the Sen-Bourdieu Analytical Framework". Policy Futures in Education. 17 (5): 582–598. doi:10.1177/1478210318809758. S2CID 149540574.
- Hartnett, Maggie (8 March 2016). Motivation in Online Education (dalam bahasa Inggris). Springer Science+Business Media Singapore. ISBN 978-981-10-0700-2. Diakses tanggal 21 December 2023.
- Hebert, David G. (2023). "Why Comparative and Decolonial Studies in Philosophy of Education?". Dalam Hebert, David G. (ed.). Comparative and Decolonial Studies in Philosophy of Education (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 1–13. doi:10.1007/978-981-99-0139-5_1. ISBN 978-981-99-0139-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 December 2023. Diakses tanggal 21 December 2023.
- Helms, Marilyn M. (2006). "Motivation and Motivation Theory". Encyclopedia of Management. Thomson Gale. ISBN 978-0-7876-6556-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 April 2021. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Hicks, David (2004). "The Global Dimension in the Curriculum". Dalam Ward, Stephen (ed.). Education Studies: A Student's Guide (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-35767-3. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Hicks, David (2004a). "Education and Environment". Dalam Ward, Stephen (ed.). Education Studies: A Student's Guide (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-35767-3. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Hill, Paul; Pierce, Lawrence C.; Guthrie, James W. (2009). Reinventing Public Education: How Contracting Can Transform America's Schools (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-33653-4. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Hoad, T. F. (1993). The Concise Oxford Dictionary of English Etymology. Oxford University Press. ISBN 0-19-283098-8.
- Honeybourne, John (2005). BTEC First Sport (dalam bahasa Inggris). Nelson Thornes. ISBN 978-0-7487-8553-7. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Horwitz, Ilana M. (2021). "Religion and Academic Achievement: A Research Review Spanning Secondary School and Higher Education". Review of Religious Research. 63 (1): 107–154. doi:10.1007/s13644-020-00433-y. S2CID 256247903.
- Hoskin, Keith (2021). "Technologies of Learning and Alphabetic Culture: The History of Writing as the History of Education". Dalam Green, Bill (ed.). The Insistence of the Letter (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-429-84402-7. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Hughes, Claretha; Gosney, Matthew W. (2016). The History of Human Resource Development: Understanding the Unexplored Philosophies, Theories, and Methodologies (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-137-52698-4. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Hughes, Conrad (26 April 2021). Education and Elitism: Challenges and Opportunities (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-000-37731-6. Diakses tanggal 4 January 2024.
- Hughes, Pat (2009). "Breaking Barriers to Learning". Dalam Warren, Sue (ed.). An Introduction to Education Studies: The Student Guide to Themes and Contexts (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Academic. ISBN 978-0-8264-9920-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- International Commission on the Futures of Education (2022). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education (dalam bahasa Inggris). UN. ISBN 978-92-1-001210-2. Diakses tanggal 14 May 2023.
- Iseke, Judy (2013). "Indigenous Storytelling as Research". International Review of Qualitative Research. 6 (4): 559–577. doi:10.1525/irqr.2013.6.4.559. ISSN 1940-8447. JSTOR 10.1525/irqr.2013.6.4.559. S2CID 144222653.
- Isik, Ulviye; Tahir, Omaima El; Meeter, Martijn; Heymans, Martijn W.; Jansma, Elise P.; Croiset, Gerda; Kusurkar, Rashmi A. (2018). "Factors Influencing Academic Motivation of Ethnic Minority Students: A Review". SAGE Open. 8 (2) 2158244018785412. doi:10.1177/2158244018785412. S2CID 149809331.
- Jackson, Philip W. (2011). "6. In Pursuit of Perfection". What Is Education? (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-38939-4. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Jacob, W. James; Cheng, Sheng Yao; Porter, Maureen K. (2015). Indigenous Education: Language, Culture and Identity (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-94-017-9355-1. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Jarvis, Peter (2012). An International Dictionary of Adult and Continuing Education (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-97506-8. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Johnes, Jill; Portela, Maria; Thanassoulis, Emmanuel (2017). "Efficiency in Education". Journal of the Operational Research Society. 68 (4): 331–338. doi:10.1057/s41274-016-0109-z. S2CID 14220634.
- Johnson, Mark S.; Stearns, Peter N. (2023). Education in World History (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-317-81337-8. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Johnson, Thomas H. (1 February 2018). Taliban Narratives: The Use and Power of Stories in the Afghanistan Conflict (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-091135-5. Diakses tanggal 8 December 2023.
- Johnson, W. J. (1 January 2009). "Gurukula". A Dictionary of Hinduism (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-861025-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 January 2024. Diakses tanggal 7 December 2023.
- Jong-Wha, Lee (2018). "Education in the Age of Automation". The Japan Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 May 2021. Diakses tanggal 6 May 2021.
- Kantzara, Vasiliki (2016). "Education, Social Functions of". The Blackwell Encyclopedia of Sociology (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 1–3. doi:10.1002/9781405165518.wbeose097.pub3. ISBN 978-1-4051-2433-1.
- Karadağ, Engin (2017). "20. Conclusion and Limitations". Dalam Karadağ, Engin (ed.). The Factors Effecting Student Achievement: Meta-Analysis of Empirical Studies (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-56083-0. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Karadağ, Engin; Bektaş, Fatih; Çoğaltay, Nazım; Yalçın, Mikail (2017). "2. The Effect of Educational Leadership on Students' Achievement". Dalam Karadağ, Engin (ed.). The Factors Effecting Student Achievement: Meta-Analysis of Empirical Studies (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-56083-0. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Kassem, Derek; Mufti, Emmanuel; Robinson, John (2006). Education Studies: Issues and Critical Perspectives (dalam bahasa Inggris). McGraw-Hill Education. ISBN 978-0-335-21973-5.
- Kay, Janet (1 November 2004). Good Practice in the Early Years (dalam bahasa Inggris). A&C Black. ISBN 978-0-8264-7273-1. Diakses tanggal 29 November 2023.
- Kemmis, Stephen; Edwards-Groves, Christine (24 October 2017). Understanding Education: History, Politics and Practice (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. ISBN 978-981-10-6433-3. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Kimble, Gregory A. (2023). "Learning Theory". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 July 2022. Diakses tanggal 20 August 2022.
- Kimmons, Royce (2015). "Games and Transformational Play". Dalam Spector, J. Michael (ed.). The Sage Encyclopedia of Educational Technology (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN 978-1-5063-1129-6. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Kiracofe, Christine Rienstra; Hirth, Marilyn A.; Hutton, Tom (2022). Charter School Funding Considerations (dalam bahasa Inggris). IAP. ISBN 978-1-64802-835-9. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Kirchin, Simon (25 April 2013). Thick Concepts (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-165250-9. Diakses tanggal 29 November 2023.
- Kortti, Jukka (17 April 2019). Media in History: An Introduction to the Meanings and Transformations of Communication over Time (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-352-00596-7. Diakses tanggal 8 December 2023.
- Kotzee, Ben (2011). "Education and 'Thick' Epistemology". Educational Theory (dalam bahasa Inggris). 61 (5): 549–564. doi:10.1111/j.1741-5446.2011.00420.x.
- Kraftl, Peter (2014). Informal Education, Childhood and Youth: Geographies, Histories, Practices (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-137-02773-3. Diakses tanggal 30 October 2023.
- Krishnan, Karthik (2020). "Our Education System Is Losing Relevance. Here's How To Update It". World Economic Forum (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 May 2021. Diakses tanggal 6 May 2021.
- Krueger, Alan B; Lindahl, Mikael (2001). "Education for Growth: Why and for Whom?" (PDF). Journal of Economic Literature. 39 (4): 1101–1136. doi:10.1257/jel.39.4.1101. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 January 2024. Diakses tanggal 23 March 2023.
- Kte'pi, Bill (2013). "Chronology". Dalam Ainsworth, James (ed.). Sociology of Education: An A-to-Z Guide (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN 978-1-5063-5473-6. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Kuskis, Alexander; Logan, Robert (2014). "A Historical View of Education from the Perspective of Marshall McLuhan and Media Ecology". Dalam Ciastellardi, Matteo (ed.). International Journal of McLuhan Studies 2012–13: Education Overload. From Total Surround to Pattern Recognition (dalam bahasa Spanyol). Universidad Oberta de Catalunya, Barcelona. ISBN 978-84-939995-9-9. Diakses tanggal 3 May 2023.
- La Belle, Thomas J. (1982). "Formal, Nonformal and Informal Education: A Holistic Perspective on Lifelong Learning". International Review of Education (dalam bahasa Inggris). 28 (2): 159–175. doi:10.1007/BF00598444. ISSN 1573-0638. S2CID 144859947.
- Lamprianou, Iasonas; Athanasou, James A. (2009). A Teacher's Guide to Educational Assessment: Revised Edition (dalam bahasa Inggris). BRILL. ISBN 978-90-8790-914-7.
- Lane, John; Lane, Andrew M.; Kyprianou, Anna (2004). "Self-Efficacy, Self-Esteem and Their Impact on Academic Performance". Social Behavior and Personality. 32 (3): 247–256. doi:10.2224/sbp.2004.32.3.247.
- Lareau, Annette; Ferguson, Sherelle (2018). "Education, Sociology of". Dalam Ryan, J. Michael (ed.). Core Concepts in Sociology (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-119-16863-8. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Le Play, Debbie (2011). "Comparative Education". Dalam Dufour, Barry; Will, Curtis (ed.). Studying Education: An Introduction to the Key Disciplines in Education Studies. Open University Press. ISBN 978-0-335-24107-1.
- Lee, Ya-Hui (2021). "From Older Adult Education to Social Service: The Transformation of Elderly Education Organizations". Journal of Social Service Research. 47 (5): 714–723. doi:10.1080/01488376.2021.1908483. ISSN 0148-8376. S2CID 234801525.
- Li, Zijian (2006). Values Education for Citizens in the New Century (dalam bahasa Inggris). Chinese University Press. ISBN 978-962-996-153-4. Diakses tanggal 14 May 2023.
- Lightman, Bernard (11 November 2019). A Companion to the History of Science (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-119-12114-5. Diakses tanggal 9 December 2023.
- Liu, Ying (2023). "An Exploration of EFL Teachers' Assessment Literacy and Its Enhancement". Dalam Hussain, Rosila Bee Binti Mohd; Parc, Jimmyn; Li, Jia (ed.). Proceedings of the 2023 9th International Conference on Humanities and Social Science Research (ICHSSR 2023) (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-2-38476-092-3. Diakses tanggal 25 October 2023.
- Lynch, John Patrick (1972). Aristotle's School; a Study of a Greek Educational Institution. University of California Press. ISBN 978-0-520-02194-5. Diakses tanggal 17 May 2023.
- Main, Shiho (2012). "'The Other Half' of Education: Unconscious Education of Children". Educational Philosophy and Theory. 44 (1): 82–95. doi:10.1111/j.1469-5812.2010.00643.x. ISSN 0013-1857. S2CID 145281776.
- Maluccio, John A.; Hoddinott, John; Behrman, Jere R.; Martorell, Reynaldo; Quisumbing, Agnes R.; Stein, Aryeh D. (1 April 2009). "The Impact of Improving Nutrition During Early Childhood on Education among Guatemalan Adults". The Economic Journal. 119 (537): 734–763. doi:10.1111/j.1468-0297.2009.02220.x. S2CID 154857298.
- Marquis, Donald G. (1942). "The Neurology of Learning". Comparative Psychology (Rev. Ed.).: 153–177. doi:10.1037/11454-007.
- Marsden, Peter (1998). The Taliban: War, Religion and the New Order in Afghanistan. Oxford University Press. ISBN 978-1-85649-522-6.
- Marshall, James D. (2006). "The Meaning of the Concept of Education: Searching for the Lost Arc". Journal of Thought. 41 (3): 33–37. ISSN 0022-5231. JSTOR 42589880.
- Marshall, Stephen (2013). "Open Educational Curricula Interpreted Through the Maori Concept of Ako". Dalam Gosper, Maree; Ifenthaler, Dirk (ed.). Curriculum Models for the 21st Century: Using Learning Technologies in Higher Education (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN 978-1-4614-7366-4. Diakses tanggal 6 January 2024.
- Matheson, David (2014). "What Is Education?". An Introduction to the Study of Education (Edisi 4th). Routledge. hlm. 15–32. doi:10.4324/9780203105450-8. ISBN 978-0-203-10545-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 May 2022. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Mazurek, Kas; Winzer, Margret A. (1994). Comparative Studies in Special Education (dalam bahasa Inggris). Gallaudet University Press. ISBN 978-1-56368-027-4. Diakses tanggal 6 May 2023.
- McHugh, Richard (2016). "Anarchism and Informal Informal Pedagogy: 'Gangs', Difference, Deference". Dalam Springer, Simon; Souza, Marcelo Lopes de; White, Richard J. (ed.). The Radicalization of Pedagogy: Anarchism, Geography, and the Spirit of Revolt (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-78348-671-7. Diakses tanggal 30 October 2023.
- McInerney, Dennis M. (2019). "Motivation". Educational Psychology. 39 (4): 427–429. doi:10.1080/01443410.2019.1600774. S2CID 218508624.
- Mead, Margaret (1943). "Our Educational Emphases in Primitive Perspective". American Journal of Sociology. 48 (6): 633–639. doi:10.1086/219260. ISSN 0002-9602. JSTOR 2770220. S2CID 145275269.
- Meece, J. L.; Blumenfeld, P. C.; Hoyle, R. H. (1988). "Students' Goal Orientations and Cognitive Engagement in Classroom Activities". Journal of Educational Psychology (dalam bahasa Inggris). 80 (4): 514–523. doi:10.1037/0022-0663.80.4.514.
- Miao, Fengchun; Holmes, Wayne (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO. ISBN 978-92-3-100612-8.
- MoE Staff. "About MoE". Ministry of Education (Government of India). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 January 2024. Diakses tanggal 13 December 2023.
- Monds, Kathaleena Edward (2022). "The Freedom to Homeschool: Community as Classroom". Dalam Ali-Coleman, Khadijah; Fields-Smith, Cheryl (ed.). Homeschooling Black Children in the U.S.: Theory, Practice, and Popular Culture (dalam bahasa Inggris). IAP. ISBN 978-1-64802-784-0. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Moore, Alex (2004). The Good Teacher: Dominant Discourses in Teaching and Teacher Education (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. ISBN 978-0-415-33564-5. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Morgan, W. John; Trofimova, Irina N.; Kliucharev, Grigori A. (2018). Civil Society, Social Change, and a New Popular Education in Russia (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-62568-0. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Murphy, John (2014). Gods & Goddesses of the Inca, Maya, and Aztec Civilizations (dalam bahasa Inggris). The Rosen Publishing Group, Inc. ISBN 978-1-62275-396-3. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Murphy, Lisa; Mufti, Emmanuel; Kassem, Derek (2009). Education Studies (dalam bahasa Inggris). McGraw-Hill Education (UK). ISBN 978-0-335-23763-0. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Murphy, Patricia (2003). "1. Defining Pedagogy". Dalam Gipps, Caroline V. (ed.). Equity in the Classroom: Towards Effective Pedagogy for Girls and Boys (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-71682-0. Diakses tanggal 22 August 2022.
- Musterd, Sako (11 December 2023). Advanced Introduction to Urban Segregation (dalam bahasa Inggris). Edward Elgar Publishing. ISBN 978-1-80392-408-3. Diakses tanggal 13 December 2023.
- National Education League (1875). "Compulsory Education". New England Journal of Education. 1 (5): 52. ISSN 2578-4145. JSTOR 44763565.
- Neem, Johann N. (2017). Democracy's Schools: The Rise of Public Education in America (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBN 978-1-4214-2322-7. Diakses tanggal 3 May 2023.
- New, Rebecca Staples; Cochran, Moncrieff (2007). Early Childhood Education: An International Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Greenwood Publishing Group. ISBN 978-0-313-34143-4. Diakses tanggal 6 May 2023.
- Nicholas, David M. (2014). The Growth of the Medieval City: From Late Antiquity to the Early Fourteenth Century (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-88550-4. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Noddings, Nel (1995). Philosophy of Education. Westview Press. ISBN 978-0-8133-8429-0.
- Nwuzor, Chizoba Vivian (25 October 2017). "Education in Africa". Dalam Akanle, Olayinka; Adésìnà, Jìmí Olálékan (ed.). The Development of Africa: Issues, Diagnoses and Prognoses (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-66242-8. Diakses tanggal 7 December 2023.
- O'Brien, Maeve; Flynn, Marie (2007). "Emotions, Inequalities and Care in Education". Dalam Downes, Paul; Gilligan, Ann Louise (ed.). Beyond Educational Disadvantage (dalam bahasa Inggris). Institute of Public Administration. ISBN 978-1-904541-57-8. Diakses tanggal 28 December 2023.
- OECD (2013a). Education at a Glance 2013 OECD Indicators: OECD Indicators (dalam bahasa Inggris). OECD Publishing. ISBN 978-92-64-20105-7. Diakses tanggal 4 January 2024.
- OECD (2015). ISCED 2011 Operational Manual Guidelines for Classifying National Education Programmes and Related Qualifications: Guidelines for Classifying National Education Programmes and Related Qualifications (dalam bahasa Inggris). OECD Publishing. ISBN 978-92-64-22836-8. Diakses tanggal 6 May 2023.
- OECD (29 May 2007). OECD Economic Surveys: United States 2007 (dalam bahasa Inggris). OECD Publishing. ISBN 978-92-64-03277-4. Diakses tanggal 4 January 2024.
- OECD (2018). OECD Handbook for Internationally Comparative Education Statistics 2018 Concepts, Standards, Definitions and Classifications: Concepts, Standards, Definitions and Classifications (dalam bahasa Inggris). OECD Publishing. ISBN 978-92-64-30444-4. Diakses tanggal 6 May 2023.
- OECD (2012). Reviews of National Policies for Education: Higher Education in the Dominican Republic 2012 (dalam bahasa Inggris). OECD Publishing. ISBN 978-92-64-17705-5. Diakses tanggal 1 September 2023.
- OECD (2013). Educational Research and Innovation Innovative Learning Environments (dalam bahasa Inggris). OECD Publishing. ISBN 978-92-64-20348-8. Diakses tanggal 25 October 2023.
- Oliveira, Wilk; Bittencourt, Ig Ibert (2019). Tailored Gamification to Educational Technologies (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. ISBN 978-981-329-812-5. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Ornstein, Allan C.; Levine, Daniel U.; Gutek, Gerry; Vocke, David E. (2016). Foundations of Education (dalam bahasa Inggris). Cengage Learning. ISBN 978-1-305-85489-5. Diakses tanggal 3 May 2023.
- OUP staff. "Public Education". Oxford Learner's Dictionary. Oxford University Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 January 2024. Diakses tanggal 7 May 2023.
- Papadatou-Pastou, Marietta; Gritzali, Maria; Barrable, Alexia (2018). "The Learning Styles Educational Neuromyth: Lack of Agreement Between Teachers' Judgments, Self-Assessment, and Students' Intelligence". Frontiers in Education. 3 105. Frontiers Media SA. doi:10.3389/feduc.2018.00105. ISSN 2504-284X.
- Paechter, Carrie (2001). Learning, Space and Identity (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN 978-0-7619-6939-6. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Page, Randy; Page, Tana (2010). Promoting Health and Emotional Well-Being in Your Classroom (dalam bahasa Inggris). Jones & Bartlett Learning. ISBN 978-0-7637-7612-1. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Pashler, Harold; McDaniel, Mark; Rohrer, Doug; Bjork, Robert (2008). "Learning Styles: Concepts and Evidence". Psychological Science in the Public Interest (dalam bahasa Inggris). 9 (3): 105–119. doi:10.1111/j.1539-6053.2009.01038.x. ISSN 1529-1006. PMID 26162104. S2CID 2112166.
- Patzuk-Russell, Ryder (2021-02-08). The Development of Education in Medieval Iceland (dalam bahasa Inggris). Medieval Institute Publications. doi:10.1515/9781501514180. ISBN 978-1-5015-1418-0. S2CID 241898425. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 December 2023. Diakses tanggal 2023-12-14.
- Pazmiño, Robert W. (2002). Principles and Practices of Christian Education: An Evangelical Perspective (dalam bahasa Inggris). Wipf and Stock Publishers. ISBN 978-1-7252-0227-6. Diakses tanggal 14 May 2023.
- Peel, Edwin A. (2023). "Pedagogy". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 July 2022. Diakses tanggal 15 August 2022.
- Peters, R. S. (2009) [1967]. "What Is an Educational Process?". Dalam Peters, R.S (ed.). The Concept of Education. Routledge. doi:10.4324/9780203861073. ISBN 978-0-203-86107-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 May 2022. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Peters, R. S. (2015). "1. Criteria of Education". Ethics and Education (Routledge Revivals) (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-49478-2. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Peters, Richard S.; Woods, John; Dray, William H. (1973). "Aims of Education: A Conceptual Inquiry". The Philosophy of Education. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-875023-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 May 2022. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Pizmony-Levy, Oren (4 May 2017). "Big Comparisons, Little Knowledge: Public Engagement With PISA in the United States and Israel". Dalam Wiseman, Alexander W.; Taylor, Calley Stevens (ed.). The Impact of the OECD on Education Worldwide (dalam bahasa Inggris). Emerald Group Publishing. ISBN 978-1-78714-727-0. Diakses tanggal 10 December 2023.
- Poe, Marshall (2011). A History of Communications: Media and Society From the Evolution of Speech to the Internet. Cambridge University Press. ISBN 978-0-511-97691-9.
- Portes, Pedro R. (1999). "Social and Psychological Factors in the Academic Achievement of Children of Immigrants: A Cultural History Puzzle". American Educational Research Journal. 36 (3): 489–507. doi:10.2307/1163548. JSTOR 1163548.
- Power, Edward J. (1970). Main Currents in the History of Education (dalam bahasa Inggris). McGraw-Hill. ISBN 978-0-07-050581-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 May 2023. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Quinn, Francis M. (2013). "The Demise of Curriculum". Dalam Humphreys, John; Quinn, Francis M. (ed.). Health Care Education: The Challenge of the Market (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-4899-3232-7. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Raghupathi, Viju; Raghupathi, Wullianallur (2020). "The Influence of Education on Health: An Empirical Assessment of OECD Countries for the Period 1995–2015". Archives of Public Health. 78 (1): 20. doi:10.1186/s13690-020-00402-5. ISSN 2049-3258. PMC 7133023. PMID 32280462.
- Raikes, Abbie; Alvarenga Lima, Jem Heinzel-Nelson; Abuchaim, Beatriz (24 May 2023). "Early Childhood Education in Brazil: Child Rights to ECE in Context of Great Disparities". Children. 10 (6): 919. doi:10.3390/children10060919. PMC 10297598. PMID 37371151.
- Ramsay, John G. (2008). "Education, History of". Dalam Provenzo, Eugene F. (ed.). Encyclopedia of the Social and Cultural Foundations of Education (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN 978-1-4522-6597-1. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Reagan, Timothy (2005). Non-Western Educational Traditions: Alternative Approaches to Educational Thought and Practice. Lawrence Erlbaum Associates, Publishers. ISBN 978-0-8058-4857-1. Diakses tanggal 17 May 2023.
- Reid, Alan (2018). "Restoring the 'Publicness' of Public Education". Dalam Wilkinson, Jane; Niesche, Richard; Eacott, Scott (ed.). Challenges for Public Education: Reconceptualising Educational Leadership, Policy and Social Justice as Resources for Hope (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-429-79193-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Reimers, Fernando M. (2020). Education and Climate Change: The Role of Universities (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-3-030-57927-2. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Reyhner, Jon; Singh, Navin Kumar (2021). "Indigenous Education in a Global Context". Oxford Bibliographies (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 May 2022. Diakses tanggal 14 May 2022.
- Rodriguez-Segura, Daniel (2022). "EdTech in Developing Countries: A Review of the Evidence". The World Bank Research Observer. 37 (2): 171–203. doi:10.1093/wbro/lkab011.
- Rohrer, Doug; Pashler, Harold (2012). "Learning styles: where's the evidence?". Medical Education. 46 (7). Wiley: 634–635. doi:10.1111/j.1365-2923.2012.04273.x. ISSN 0308-0110. PMID 22691144.
- Rosenkranz, Karl; Brackett, Anna Callender (1872). The Science of Education: A Paraphrase of Dr. Karl Rosenkranz's Paedagogik Als System (dalam bahasa Inggris). G.I. Jones. Diakses tanggal 18 May 2022.
- Roser, Max; Ortiz-Ospina, Esteban (2013). "Primary and Secondary Education". Our World in Data. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 May 2023. Diakses tanggal 2 May 2023.
- Salganik, Laura Hersh; Matheson, Nancy; Phelps, Richard P. (1997). Education Indicators: An International Perspective (dalam bahasa Inggris). DIANE Publishing. ISBN 978-0-7881-4267-3. Diakses tanggal 6 May 2023.
- Salvatori, Mariolina Rizzi (2003). Pedagogy: Disturbing History, 1820–1930 (dalam bahasa Inggris). University of Pittsburgh Pre. ISBN 978-0-8229-7246-4. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Sampath, K. (1981). Introduction to Educational Technology (dalam bahasa Inggris). Sterling Publishers Pvt. Ltd. ISBN 978-81-207-3139-4. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Schmid, Evi; Garrels, Veerle (2021). "Parental Involvement and Educational Success Among Vulnerable Students in Vocational Education and Training". Educational Research. 63 (4): 456–473. doi:10.1080/00131881.2021.1988672. S2CID 244163476.
- Schoen, La Tefy G. (29 October 2008). "Educational Indicators". Dalam Provenzo, Eugene F. (ed.). Encyclopedia of the Social and Cultural Foundations of Education (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN 978-1-4522-6597-1. Diakses tanggal 5 January 2024.
- Schuknecht, Ludger (2020). Public Spending and the Role of the State: History, Performance, Risk and Remedies (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-49623-0. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Scott, William; Vare, Paul (2020). Learning, Environment and Sustainable Development: A History of Ideas (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-000-20802-3. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Scribner, Sylvia; Cole, Michael (1973). "Cognitive Consequences of Formal and Informal Education: New Accommodations Are Needed Between School-Based Learning and Learning Experiences of Everyday Life". Science. 182 (4112): 553–559. doi:10.1126/science.182.4112.553. PMID 17739714.
- Selwyn, Neil (2013). Education in a Digital World: Global Perspectives on Technology and Education (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-415-80844-6. Diakses tanggal 30 April 2023.
- SEP Staff. "Secretaría de Educación Pública". Secretaría de Educación Pública. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 December 2023. Diakses tanggal 13 December 2023.
- Sewell, Keira; Newman, Stephen (2013). "1. What Is Education?". Dalam Curtis, Will; Ward, Stephen; Sharp, John; Hankin, Les (ed.). Education Studies: An Issue Based Approach (dalam bahasa Inggris). Learning Matters. ISBN 978-1-4462-9693-6. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Shah, Anwar (1 November 2009). "Demanding to Be Served: Holding Governments to Account for Improved Access". Dalam Jong, De Jorrit; Rizvi, Gowher (ed.). The State of Access: Success and Failure of Democracies to Create Equal Opportunities (dalam bahasa Inggris). Brookings Institution Press. ISBN 978-0-8157-0176-7. Diakses tanggal 4 January 2024.
- Shelley, Fred M. (2022). Examining Education Around the World (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing USA. ISBN 978-1-4408-6448-3. Diakses tanggal 31 August 2023.
- Shute, Valerie J.; Hansen, Eric G.; Underwood, Jody S.; Razzouk, Rim (2011). "A Review of the Relationship Between Parental Involvement and Secondary School Students' Academic Achievement". Education Research International. 2011: 1–10. doi:10.1155/2011/915326.
- Siegel, Harvey; Phillips, D.C.; Callan, Eamonn (2018). "Philosophy of Education". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 March 2019. Diakses tanggal 25 March 2022.
- Siegel, Harvey (2023). "Philosophy of Education". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 March 2022. Diakses tanggal 23 March 2022.
- Siegel, Harvey (2010). "Introduction: Philosophy of Education and Philosophy". The Oxford Handbook of Philosophy of Education (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 3–9. doi:10.1093/oxfordhb/9780195312881.003.0001. ISBN 978-0-19-531288-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 March 2022. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Singh, M. (2015). "Introduction". Global Perspectives on Recognising Non-formal and Informal Learning: Why Recognition Matters. Technical and Vocational Education and Training: Issues, Concerns and Prospects. Vol. 21. Springer-UNESCO. doi:10.1007/978-3-319-15278-3. ISBN 978-3-319-15277-6.
- Skowron, Janice (2015). Powerful Lesson Planning: Every Teacher's Guide to Effective Instruction (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. ISBN 978-1-5107-0121-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Sliwka, Anne (2008). "The Contribution of Alternative Education". Innovating to Learn, Learning to Innovate (dalam bahasa Inggris). OECD Publishing. ISBN 978-92-64-04798-3. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Sluga, Hans (2006). "Family Resemblance". Grazer Philosophische Studien. 71 (1): 1–21. doi:10.1163/18756735-071001003 (tidak aktif 12 July 2025). S2CID 90166164. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 March 2022. Diakses tanggal 13 May 2022. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
- Smith, Kevin B.; Meier, Kenneth J. (2016). The Case Against School Choice: Politics, Markets and Fools (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-315-28655-6. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Smith, Patricia L.; Ragan, Tillman J. (2004). Instructional Design (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-0-471-39353-5. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Smith, Sharon (2020). "Forms of Education: Rethinking Educational Experience Against and Outside the Humanist Legacy". British Journal of Educational Studies. 68 (6): 781–783. doi:10.1080/00071005.2020.1785788. ISSN 0007-1005. S2CID 225403522. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 July 2022. Diakses tanggal 13 May 2022.
- Spring, Joel (3 September 2018). Global Impacts of the Western School Model: Corporatization, Alienation, Consumerism (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-351-00272-1. Diakses tanggal 10 December 2023.
- Staats, Beth. "What Is Media Literacy and Why Is It Important? Minitex". Minitex. Diarsipkan dari asli tanggal 6 May 2021. Diakses tanggal 6 May 2021.
- Sternberg, Robert J. (2022). "Human Intelligence". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2023. Diakses tanggal 24 April 2023.
- Strauss, Claudia (1984). "Beyond 'Formal' versus 'Informal' Education: Uses of Psychological Theory in Anthropological Research". Ethos. 12 (3). doi:10.1525/eth.1984.12.3.02a00010. ISSN 0091-2131. JSTOR 640180.
- Sullivan, Amanda Alzena (2019). Breaking the STEM Stereotype: Reaching Girls in Early Childhood (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-4758-4205-0. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Taylor, C M. (1999). "Education and Personal Development: A Reflection". Archives of Disease in Childhood. 81 (6): 531–537. doi:10.1136/adc.81.6.531. PMC 1718155. PMID 10569977.
- Rosove, Perry E. (1973). "The Integration of Humanism and Educational Technology". Introduction to Educational Technology (dalam bahasa Inggris). Educational Technology Publications. ISBN 978-0-87778-049-6. Diakses tanggal 30 April 2023.
- The economist data team (2018). "A Study Finds Nearly Half of Jobs Are Vulnerable to Automation". The Economist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 July 2022. Diakses tanggal 6 May 2021.
- The Editors of Encyclopaedia Britannica (2023). "Alternative Education". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 April 2019. Diakses tanggal 7 May 2023.
- The Editors of Encyclopaedia Britannica (2014). "Herbartianism". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 August 2022. Diakses tanggal 20 August 2022.
- Tiem, Darlene Van; Moseley, James L.; Dessinger, Joan C. (2012). Fundamentals of Performance Improvement: Optimizing Results Through People, Process, and Organizations (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-02524-6. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Tillman, Daniel A.; An, Song A.; Robertson, William H. (19 September 2019). "The Relationship Between Formal and Informal Learning". Dalam Mora, Javier Calvo de; Kennedy, Kerry J. (ed.). Schools and Informal Learning in a Knowledge-Based World (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-429-66619-3. Diakses tanggal 7 December 2023.
- Todd, Loreto; Hancock, Ian (16 November 2005). International English Usage (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-96471-0. Diakses tanggal 7 December 2023.
- Tomlinson, Sally (2012). A Sociology of Special Education (RLE Edu M) (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-136-45711-1. Diakses tanggal 6 May 2023.
- Torabian, Juliette E. (2022). Wealth, Values, Culture & Education: Reviving the essentials for equality & sustainability (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-3-030-92893-3. Diakses tanggal 15 January 2024.
- Tosto, Samantha A.; Alyahya, Jehad; Espinoza, Victoria; McCarthy, Kylie; Tcherni-Buzzeo, Maria (2023). "Online learning in the wake of the COVID-19 pandemic: Mixed methods analysis of student views by demographic group". Social Sciences & Humanities Open. 8 (1) 100598. doi:10.1016/j.ssaho.2023.100598. PMC 10284669. PMID 37366390.
- Traxler, John; Crompton, Helen (26 November 2020). Critical Mobile Pedagogy: Cases of Digital Technologies and Learners at the Margins (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-429-53716-5. Diakses tanggal 6 December 2023.
- Tudor, Sofia Loredana (2013). "Formal – Non-formal – Informal in Education". Procedia – Social and Behavioral Sciences. 76: 821–826. doi:10.1016/j.sbspro.2013.04.213.
- Tukdeo, Shivali (17 November 2019). India Goes to School: Education Policy and Cultural Politics (dalam bahasa Inggris). Springer Nature India. ISBN 978-81-322-3957-4. Diakses tanggal 21 December 2023.
- UN (2023). "International Years". United Nations. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 February 2023. Diakses tanggal 9 February 2023.
- UN (2023a). "List of International Days and Weeks". United Nations. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 June 2021. Diakses tanggal 9 February 2023.
- UN (2020). "Policy Brief: Education During COVID-19 and Beyond" (PDF). United Nations. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 30 July 2022. Diakses tanggal 11 December 2020.
- UNESCO (2012). "International Standard Classification of Education ISCED 2011" (PDF). uis.unesco.org. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 6 January 2017.
- UNESCO. "Convention Against Discrimination in Education". UNESCO (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 April 2023. Diakses tanggal 30 April 2023.
- UNESCO (2021). Guidelines To Strengthen the Right to Education in National Frameworks (dalam bahasa Inggris). UNESCO Publishing. ISBN 978-92-3-100428-5. Diakses tanggal 30 April 2023.
- UNESCO (2018). "UNESCO SDG Resources for Educators – Quality Education". en.unesco.org. UNESCO. Diarsipkan dari asli tanggal 21 January 2022. Diakses tanggal 21 January 2022.
- UNESCO (2016). Out in the Open: Education Sector Responses to Violence Based on Sexual Orientation and Gender Identity/Expression (PDF). Paris: UNESCO. ISBN 978-92-3-100150-5. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 August 2018. Diakses tanggal 8 May 2017. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
- United Nations. "Education for All". United Nations website (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 February 2023. Diakses tanggal 1 May 2023.
- Urata, Shūjirō; Kuroda, Kazuo; Tonegawa, Yoshiko (2022). Sustainable Development Disciplines for Humanity: Breaking Down the 5Ps—People, Planet, Prosperity, Peace, and Partnerships (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. ISBN 978-981-19-4859-6. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Van Hiel, Alain; Van Assche, Jasper; De Cremer, David; Onraet, Emma; Bostyn, Dries; Haesevoets, Tessa; Roets, Arne (2018). "Can Education Change the World? Education Amplifies Differences in Liberalization Values and Innovation Between Developed and Developing Countries". PLOS One. 13 (6) e0199560. Bibcode:2018PLoSO..1399560V. doi:10.1371/journal.pone.0199560. PMC 6013109. PMID 29928058.
- Verbree, Anne-Roos; Maas, Lientje; Hornstra, Lisette; Wijngaards-de Meij, Leoniek (2021). "Personality Predicts Academic Achievement in Higher Education: Differences by Academic Field of Study?". Learning and Individual Differences. 92 102081. doi:10.1016/j.lindif.2021.102081. S2CID 239399549.
- Vico, Giambattista (1999). New Science (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. ISBN 978-0-14-190769-7. Diakses tanggal 30 October 2023.
- Wagner, Michael; Deindl, Philipp; Schmölzer, Georg (2023). Future Medical Education in Pediatrics and Neonatology (dalam bahasa Inggris). Frontiers Media SA. ISBN 978-2-8325-1317-0. Diakses tanggal 9 May 2023.
- Waks, Leonard J. (2019). "Massive Open Online Courses and the Future of Higher Education". Contemporary Technologies in Education (dalam bahasa Inggris). Springer International Publishing. hlm. 183–213. doi:10.1007/978-3-319-89680-9_10. ISBN 978-3-319-89679-3. S2CID 169763293.
- Waller, Richard (2011). "The Sociology of Education". Dalam Dufour, Barry; Will, Curtis (ed.). Studying Education: An Introduction to the Key Disciplines in Education Studies. Open University Press. ISBN 978-0-335-24107-1.
- Walton, Linda (9 April 2015). "Educational Institutions". Dalam Kedar, Benjamin Z.; Wiesner-Hanks, Merry E. (ed.). The Cambridge World History: Volume 5, Expanding Webs of Exchange and Conflict, 500CE–1500CE (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-316-29775-9. Diakses tanggal 10 December 2023.
- Ward, Stephen (2004). "Introduction". Dalam Ward, Stephen (ed.). Education Studies: A Student's Guide (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-35767-3. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Warren, Sue (2009). "Introduction to Education as a Field of Study". Dalam Warren, Sue (ed.). An Introduction to Education Studies: The Student Guide to Themes and Contexts (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Academic. ISBN 978-0-8264-9920-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Warren, Sue; Waltham, Susan (2009). "Ethics for Educators". Dalam Warren, Sue (ed.). An Introduction to Education Studies: The Student Guide to Themes and Contexts (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Academic. ISBN 978-0-8264-9920-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Watkins, Chris; Mortimore, Peter (1999). "1: Pedagogy: What Do We Know?". Understanding Pedagogy and Its Impact on Learning. Sage. doi:10.4135/9781446219454. ISBN 978-1-85396-453-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 July 2022. Diakses tanggal 22 August 2022.
- Watson, Lani (2016). "The Epistemology of Education". Philosophy Compass. 11 (3): 146–159. doi:10.1111/phc3.12316. ISSN 1747-9991.
- Webb-Mitchell, Brett (2003). Christly Gestures: Learning to be Members of the Body of Christ (dalam bahasa Inggris). William B. Eerdmans Publishing Company. ISBN 978-0-8028-4937-3. Diakses tanggal 6 December 2023.
- Weiner, Bernard (2000). "Motivation: An Overview". Dalam Kazdin, Alan E. (ed.). Encyclopedia of Psychology Volume 5. American Psychological Association. ISBN 978-1-55798-187-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 May 2021. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Williams, Susan M.; Mehlinger, Howard D.; Powers, Susan M.; Baldwin, Roger G. (2003a). "Technology in Education". Dalam Guthrie, James W. (ed.). Encyclopedia of Education (dalam bahasa Inggris). Macmillan Reference USA. ISBN 978-0-02-865594-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 May 2023. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Willingham, Daniel T.; Hughes, Elizabeth M.; Dobolyi, David G. (2015). "The Scientific Status of Learning Styles Theories". Teaching of Psychology. 42 (3): 266–271. doi:10.1177/0098628315589505. S2CID 146126992.
- Wilson, John (2003). "The Concept of Education Revisited". Journal of Philosophy of Education (dalam bahasa Inggris). 37 (1): 101–108. doi:10.1111/1467-9752.3701007. ISSN 0309-8249.
- Winters, Marcus A. (2012). Teachers Matter: Rethinking How Public Schools Identify, Reward, and Retain Great Educators (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-4422-1077-6. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Xu, Duoduo; Wu, Xiaogang (20 October 2022). "Separate and unequal: hukou , school segregation, and educational inequality in urban China". Chinese Sociological Review. 54 (5): 433–457. doi:10.1080/21620555.2021.2019007. S2CID 254045383.
- Yamada, Shoko (2016). Post-Education-for-All and Sustainable Development Paradigm: Structural Changes With Diversifying Actors and Norms (dalam bahasa Inggris). Emerald Group Publishing. ISBN 978-1-78441-270-8. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Yeravdekar, Vidya Rajiv; Tiwari, Gauri (2016). Internationalization of Higher Education in India (dalam bahasa Inggris). Sage India. ISBN 978-93-86042-13-2. Diakses tanggal 30 April 2023.
- Young, Spencer E. (2019). "Education in Medieval Europe". Dalam Rury, John L.; Tamura, Eileen H. (ed.). The Oxford Handbook of the History of Education (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-934003-3. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Zawacki-Richter, Olaf; Conrad, Dianne; Bozkurt, Aras; Aydin, Cengiz Hakan; Bedenlier, Svenja; Jung, Insung; Stöter, Joachim; Veletsianos, George; Blaschke, Lisa Marie; Bond, Melissa; Broens, Andrea; Bruhn, Elisa; Dolch, Carina; Kalz, Marco; Kerres, Michael; Kondakci, Yasar; Marin, Victoria; Mayrberger, Kerstin; Müskens, Wolfgang; Naidu, Som; Qayyum, Adnan; Roberts, Jennifer; Sangrà, Albert; Loglo, Frank Senyo; Slagter van Tryon, Patricia J.; Xiao, Junhong (2020). "Elements of Open Education: An Invitation to Future Research". The International Review of Research in Open and Distributed Learning. 21 (3). doi:10.19173/irrodl.v21i3.4659. hdl:11511/54051. S2CID 226018305.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]| Sumber pustaka mengenai Pendidikan |