Lompat ke isi

Rekayasa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Teknik)
Mesin uap, penggerak utama Revolusi Industri, menunjukkan betapa pentingnya peran rekayasa dalam sejarah modern. Mesin balok ini dipamerkan di Universidad Politécnica de Madrid (Universitas Teknik Madrid).

Rekayasa (engineering) adalah praktik penerapan ilmu alam, matematika, dan proses perancangan rekayasa[1] untuk menyelesaikan masalah dalam ranah teknologi, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, serta memperbaiki sistem.

Disiplin klasik dalam bidang rekayasa meliputi sipil, mekanikal, elektrikal, dan kimia. Sebagai disiplin akademik, rekayasa mencakup beragam cabang yang lebih spesifik, masing-masing dengan penekanan berbeda dalam penerapan matematika dan ilmu pengetahuan. Praktik rekayasa modern melintasi banyak bidang rekayasa, termasuk perancangan dan pengembangan infrastruktur, mesin, kendaraan, elektronika, material, dan sistem energi.[2] Untuk istilah terkait, lihat glosarium rekayasa.

Sebagai usaha manusia, rekayasa telah ada sejak zaman kuno, bermula dari enam mesin sederhana klasik. Contoh proyek rekayasa berskala besar dari masa lampau meliputi bangunan megah seperti piramida, kuil-kuil anggun seperti Parthenon, serta sarana pengaliran air seperti perahu berlambung, kanal, dan akueduk Romawi. Mesin-mesin awal digerakkan oleh tenaga manusia dan hewan, lalu oleh angin. Mesin perang diciptakan untuk pengepungan. Di Eropa, Revolusi Ilmiah dan Revolusi Industri mengubah rekayasa menjadi profesi ilmiah dan mendorong kemajuan teknologi yang berkelanjutan. Mesin uap menyediakan tenaga jauh lebih besar daripada hewan, memungkinkan penggerak mekanis bagi kapal dan kereta api. Kemajuan ilmiah berikutnya melahirkan penerapan rekayasa dalam bidang listrik, kimia, dan dirgantara, serta penggunaan material baru untuk mencapai efisiensi yang lebih tinggi.

Kata engineering berasal dari bahasa Latin ingenium, yang berarti kecerdikan atau bakat alami.[3] Para insinyur umumnya mengikuti kode etik yang menjunjung kejujuran dan integritas, serta berkomitmen terhadap keselamatan dan kesejahteraan publik.

Tugas rekayasa melibatkan pencarian solusi optimal berdasarkan berbagai kendala, dengan pengujian dan simulasi komputer dilakukan sebelum produksi. Apabila suatu produk yang telah diluncurkan mengalami kegagalan, rekayasa forensik digunakan untuk menelusuri penyebabnya dan menemukan perbaikannya. Sebagian besar manajemen siklus hidup produk kini dibantu oleh perangkat lunak komputer, mulai dari perancangan hingga pengujian dan manufaktur. Dalam skala besar, proses ini biasanya didanai oleh perusahaan, sejumlah investor, atau pemerintah, sehingga pengetahuan tentang ekonomi dan praktik bisnis menjadi bagian penting dari profesi ini.

American Engineers' Council for Professional Development (pendahulu Accreditation Board for Engineering and Technology atau ABET)[4] mendefinisikan “rekayasa” sebagai:

Penerapan kreatif dari prinsip-prinsip ilmiah untuk merancang atau mengembangkan struktur, mesin, alat, atau proses manufaktur, maupun karya yang memanfaatkan hal-hal tersebut secara tunggal atau terpadu; atau untuk membangun maupun mengoperasikannya dengan pemahaman penuh terhadap rancangan; atau untuk meramalkan perilakunya di bawah kondisi operasi tertentu—semuanya dengan mempertimbangkan fungsi yang dimaksudkan, aspek ekonomi dari operasi, serta keselamatan bagi jiwa dan harta benda.[5][6]

Peta relief dari Citadel Lille, dirancang pada tahun 1668 oleh Vauban, insinyur militer terkemuka pada masanya

Rekayasa telah ada sejak zaman purba, ketika manusia mulai menciptakan alat-alat sederhana seperti baji, tuas, roda, dan katrol, serta berbagai penemuan lainnya.

Istilah rekayasa (engineering) berasal dari kata insinyur (engineer), yang jejak penggunaannya dapat ditelusuri hingga abad ke-14, ketika istilah engine’er (secara harfiah berarti “orang yang membangun atau mengoperasikan mesin pengepung”) digunakan untuk menyebut “pembangun mesin-mesin militer”.[7] Dalam konteks yang kini sudah usang tersebut, “mesin” mengacu pada alat mekanis perang, seperti ketapel. Beberapa peninggalan istilah lama ini masih bertahan hingga sekarang, misalnya pada korps teknik militer seperti U.S. Army Corps of Engineers.

Kata “mesin” sendiri memiliki asal-usul yang lebih tua lagi, berasal dari bahasa Latin ingenium (ca1250), yang bermakna “bakat bawaan, terutama kekuatan akal, dan dengan demikian menunjuk pada penemuan yang cerdas.”[8]

Ketika pembangunan struktur sipil seperti jembatan dan bangunan berkembang menjadi disiplin teknis tersendiri, muncul istilah rekayasa sipil[6] untuk membedakan mereka yang berfokus pada proyek-proyek nonmiliter dari para ahli di bidang rekayasa militer.

Zaman kuno

[sunting | sunting sumber]
Bangsa Romawi Kuno membangun saluran air untuk membawa pasokan air bersih dan segar ke kota-kota di seluruh kekaisaran.

Piramida di Mesir Kuno, ziggurat di Mesopotamia, Akropolis dan Parthenon di Yunani Kuno, saluran air Romawi, Via Appia dan Colosseum, Teotihuacán, serta Kuil Brihadeeswarar di Thanjavur, dan banyak bangunan megah lainnya, menjadi bukti kejeniusannya para insinyur sipil dan militer di masa lampau. Monumen lain yang kini tak lagi berdiri, seperti Taman Gantung Babilonia dan Pharos di Aleksandria, merupakan pencapaian teknik yang luar biasa pada zamannya dan digolongkan sebagai bagian dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno.

Enam mesin sederhana klasik telah dikenal di Timur Dekat Kuno. Baji dan bidang miring (ramp) telah digunakan sejak zaman prasejarah.[9] Roda beserta mekanisme roda dan poros ditemukan di Mesopotamia (kini wilayah Irak modern) pada milenium ke-5 SM.[10] Mekanisme tuas pertama kali muncul sekitar 5.000 tahun lalu di Timur Dekat, digunakan dalam timbangan sederhana[11] dan untuk memindahkan benda-benda besar dalam teknologi Mesir Kuno.[12] Tuas juga digunakan dalam alat pengangkat air shadoof, yang merupakan bentuk awal dari mesin derek, pertama kali muncul di Mesopotamia sekitar ca3000 SM,[11] kemudian di teknologi Mesir Kuno sekitar ca2000 SM.[13] Bukti paling awal penggunaan katrol ditemukan di Mesopotamia pada awal milenium ke-2 SM,[14] dan di Mesir Kuno pada masa Dinasti Kedua Belas (1991–1802 SM).[15] Sekrup, mesin sederhana terakhir yang ditemukan,[16] pertama kali muncul di Mesopotamia pada masa Neo-Asyur (911–609 SM).[14] Piramida Mesir dibangun menggunakan tiga dari enam mesin sederhana—bidang miring, baji, dan tuas—untuk menciptakan struktur megah seperti Piramida Agung Giza.[17]

Insinyur sipil paling awal yang dikenal namanya adalah Imhotep.[6] Sebagai pejabat di bawah Firaun Djosèr, ia diyakini merancang dan mengawasi pembangunan Piramida Djoser (atau Piramida Bertingkat) di Saqqara, Mesir, sekitar tahun 2630–2611 SM.[18] Mesin-mesin bertenaga air pertama, seperti kincir air dan penggilingan air, muncul di Kekaisaran Persia, di wilayah yang kini menjadi Irak dan Iran, pada awal abad ke-4 SM.[19]

Kerajaan Kush mengembangkan sakia pada abad ke-4 SM, yang menggunakan tenaga hewan alih-alih tenaga manusia.[20] Mereka juga mengembangkan hafir sebagai bentuk waduk untuk menampung air dan memperluas sistem irigasi.[21] Para perajut jalan (sapper) digunakan untuk membangun jalan penghubung selama kampanye militer.[22] Nenek moyang bangsa Kush membangun speos pada Zaman Perunggu antara 3700 dan 3250 SM.[23] Tungku peleburan dan tanur tiup juga telah dikembangkan di wilayah Kush pada abad ke-7 SM.[24][25]

Yunani Kuno mengembangkan berbagai mesin untuk keperluan sipil dan militer. Mekanisme Antikythera, sebuah komputer analog mekanis paling awal yang diketahui,[26][27] beserta berbagai penemuan mekanis Archimedes merupakan contoh gemilang dari rekayasa mekanika Yunani. Beberapa penemuan Archimedes, seperti halnya Mekanisme Antikythera, menunjukkan pengetahuan mendalam tentang gigi diferensial dan roda gigi epiklik, dua prinsip kunci dalam teori mesin yang kelak berperan besar dalam rancangan transmisi roda gigi pada Revolusi Industri, serta diterapkan luas dalam bidang robotika dan rekayasa otomotif.[28]

Tentara Cina Kuno, Yunani, Romawi, dan Bangsa Hun menggunakan berbagai mesin perang seperti artileri yang dikembangkan oleh orang Yunani sekitar abad ke-4 SM,[29] trireme, ballista, ketapel, serta trebuchet yang dikembangkan oleh bangsa Tionghoa sekitar abad ke-6 hingga ke-5 SM.[30]

Abad Pertengahan

[sunting | sunting sumber]

Mesin praktis pertama yang digerakkan oleh tenaga angin, seperti kincir angin dan pompa angin, muncul di dunia Islam pada masa Zaman Keemasan Islam, sekitar abad ke-9 Masehi, di wilayah yang kini mencakup Iran, Afghanistan, dan Pakistan.[31][32][33][34] Mesin praktis pertama yang digerakkan oleh uap adalah steam jack yang ditenagai turbin uap, dideskripsikan pada tahun 1551 oleh Taqi al-Din Muhammad ibn Ma'ruf di Mesir Utsmani.[35][36]

Gunting kapas ditemukan di India pada abad ke-6 Masehi,[37] sementara roda pemintal ditemukan di dunia Islam pada awal abad ke-11,[38] keduanya menjadi fondasi penting bagi perkembangan industri kapas. Roda pemintal juga merupakan pendahulu spinning jenny, sebuah inovasi kunci yang menandai awal Revolusi Industri pada abad ke-18.[39]

Mesin terprogram paling awal juga lahir di dunia Islam. Sebuah music sequencer atau alat musik otomatis yang dapat diprogram merupakan bentuk paling awal dari mesin terprogram. Alat musik otomatis pertama ini adalah pemain seruling mekanis ciptaan tiga bersaudara Banu Musa, yang dijelaskan dalam karya mereka Book of Ingenious Devices pada abad ke-9.[40][41] Pada tahun 1206, Al-Jazari menciptakan automata atau robot yang dapat diprogram. Ia menggambarkan empat pemusik otomatis, termasuk para penabuh genderang yang dioperasikan melalui mesin drum terprogram, yang dapat diatur untuk memainkan berbagai ritme dan pola tabuhan berbeda.[42]

Sistem pengerek tambang bertenaga air, Jerman, ca1556

Sebelum berkembangnya disiplin rekayasa modern, ilmu matematika telah digunakan oleh para perajin dan teknisi, seperti tukang penggiling, pembuat jam, pembuat instrumen, dan juru ukur. Di luar profesi-profesi tersebut, universitas pada masa itu belum dianggap memiliki peranan praktis yang besar terhadap kemajuan teknologi.[43]:32

Salah satu rujukan klasik yang mendokumentasikan keadaan seni mekanika pada masa Renaisans adalah risalah teknik pertambangan De re metallica (1556), yang juga memuat bahasan mengenai geologi, pertambangan, dan kimia. Karya ini menjadi acuan utama dalam bidang kimia selama hampir 180 tahun berikutnya.[43]

Era Modern

[sunting | sunting sumber]
Penerapan mesin uap memungkinkan kokas menggantikan arang dalam pembuatan besi, menurunkan biaya produksi logam tersebut dan memberi para insinyur bahan baru untuk membangun jembatan. Jembatan ini terbuat dari besi tuang, yang kemudian digantikan oleh besi tempa yang kurang rapuh sebagai material struktural.

Ilmu mekanika klasik, yang sering disebut juga mekanika Newtonian, menjadi landasan ilmiah bagi sebagian besar bidang rekayasa modern.[43] Seiring dengan munculnya rekayasa sebagai sebuah profesi pada abad ke-18, istilah ini mulai digunakan secara lebih sempit untuk menyebut bidang-bidang yang menerapkan matematika dan ilmu pengetahuan dalam praktik. Sejalan dengan itu, selain rekayasa sipil dan militer, bidang yang dikenal sebagai seni mekanik pun mulai tergabung dalam disiplin rekayasa.

Pembangunan kanal merupakan salah satu proyek rekayasa penting pada masa-masa awal Revolusi Industri.[44]

John Smeaton adalah orang pertama yang menyebut dirinya sebagai insinyur sipil dan sering dianggap sebagai “bapak” rekayasa sipil. Ia adalah seorang insinyur Inggris yang merancang jembatan, kanal, pelabuhan, dan mercusuar. Selain itu, Smeaton juga dikenal sebagai insinyur mekanik ulung dan fisikawan terkemuka. Dengan menggunakan model kincir air, ia melakukan eksperimen selama tujuh tahun untuk menemukan cara meningkatkan efisiensi energi.[45]:127 Smeaton memperkenalkan poros dan roda gigi besi pada kincir air,[43]:69 serta melakukan perbaikan mekanik pada mesin uap Newcomen. Ia juga merancang Mercusuar Eddystone ketiga (1755–59), di mana ia memelopori penggunaan ‘kapur hidrolik’ (sejenis mortar yang dapat mengeras di bawah air) dan mengembangkan teknik penyusunan balok granit dengan sistem sambungan “ekor burung”. Kontribusinya sangat penting dalam penemuan kembali dan pengembangan semen modern, sebab ia berhasil mengidentifikasi komposisi yang diperlukan untuk menghasilkan sifat “hidrolik” pada kapur—temuan yang pada akhirnya mengarah pada penemuan semen Portland.

Perkembangan ilmu terapan membawa pada lahirnya mesin uap. Rangkaian peristiwa ini dimulai dengan penemuan barometer dan pengukuran tekanan atmosfer oleh Evangelista Torricelli pada tahun 1643, disusul oleh demonstrasi kekuatan tekanan udara oleh Otto von Guericke dengan belahan Magdeburg pada 1656. Eksperimen laboratorium yang dilakukan oleh Denis Papin, yang membangun model awal mesin uap dan memperkenalkan penggunaan piston, dipublikasikan pada 1707. Edward Somerset, 2nd Marquess of Worcester menerbitkan sebuah buku berisi 100 penemuan, termasuk metode menaikkan air yang mirip dengan penyeduh kopi. Samuel Morland, seorang matematikawan dan penemu yang bekerja pada pompa, meninggalkan catatan tentang rancangan pompa uap di kantor senjata Vauxhall, yang kemudian dibaca oleh Thomas Savery. Pada 1698 Savery membangun pompa uap bernama “The Miner’s Friend” yang memanfaatkan sistem tekanan dan vakum.[46] Thomas Newcomen, seorang pedagang besi yang membangun mesin uap piston komersial pertama pada 1712, diketahui tidak memiliki pelatihan ilmiah formal.[45]:32

Jumbo Jet

Penggunaan silinder tiup besi tuang bertenaga uap untuk memasok udara bertekanan pada tungku tiup menghasilkan peningkatan besar dalam produksi besi pada akhir abad ke-18. Suhu tungku yang lebih tinggi memungkinkan penggunaan lebih banyak kapur dalam proses peleburan, yang pada gilirannya memungkinkan peralihan dari arang ke kokas.[47] Inovasi-inovasi ini menurunkan biaya produksi besi, membuat pembangunan jalur kereta kuda dan jembatan besi menjadi lebih terjangkau. Proses puddling yang dipatenkan oleh Henry Cort pada 1784 memungkinkan produksi massal besi tempa, sementara teknologi hot blast yang dipatenkan oleh James Beaumont Neilson pada 1828 secara drastis mengurangi kebutuhan bahan bakar dalam peleburan besi. Perkembangan mesin uap bertekanan tinggi kemudian memungkinkan terciptanya kapal uap dan lokomotif yang lebih efisien.[48] Proses pembuatan baja baru, seperti proses Bessemer dan tungku open hearth, membuka era rekayasa berat pada akhir abad ke-19.

Salah satu insinyur paling terkenal di pertengahan abad ke-19 adalah Isambard Kingdom Brunel, yang membangun jaringan kereta api, galangan kapal, dan kapal uap.

Anjungan lepas pantai di Teluk Meksiko

Revolusi Industri menciptakan kebutuhan besar akan mesin dengan komponen logam, yang mendorong pengembangan berbagai perkakas mesin. Pengeboran silinder besi tuang dengan presisi tinggi baru dimungkinkan setelah John Wilkinson menemukan mesin bor—yang dianggap sebagai perkakas mesin pertama.[49] Alat-alat lain seperti bubut pemotong ulir, mesin frais, turret lathe, dan planer logam pun menyusul ditemukan. Teknik pemesinan presisi berkembang pada paruh pertama abad ke-19, termasuk penggunaan jig sebagai pemandu alat pemotong dan fixture untuk menahan benda kerja agar tetap pada posisi yang benar. Perkakas mesin dan teknik pemesinan yang mampu menghasilkan komponen yang dapat dipertukarkan membuka jalan bagi produksi massal di pabrik-pabrik besar pada akhir abad ke-19.[50]

Sensus Amerika Serikat tahun 1850 mencatat istilah “insinyur” untuk pertama kalinya dengan jumlah 2.000 orang.[51] Sebelum 1865, hanya ada kurang dari 50 lulusan teknik di Amerika Serikat. Gelar PhD pertama dalam bidang rekayasa (secara resmi “ilmu terapan dan teknik”) diberikan kepada Josiah Willard Gibbs di Universitas Yale pada 1863, yang juga merupakan gelar PhD kedua dalam bidang sains di negara tersebut.[52] Pada 1870 hanya ada sekitar selusin lulusan teknik mesin per tahun di Amerika Serikat, meningkat menjadi 43 pada 1875. Menjelang 1890, terdapat 6.000 insinyur yang bergerak di bidang sipil, pertambangan, mesin, dan listrik.[48] Kursi akademik untuk mekanika terapan baru dibuka di Cambridge pada 1875, dan kursi pertama untuk rekayasa di Oxford baru muncul pada 1907. Jerman, sebaliknya, telah lebih dahulu mendirikan universitas teknis.[53]

Dasar-dasar rekayasa listrik pada abad ke-19 mencakup eksperimen oleh Alessandro Volta, Michael Faraday, Georg Ohm, serta penemuan telegraf listrik pada 1816 dan motor listrik pada 1872. Karya teoretis James Maxwell (lihat: Persamaan Maxwell) dan Heinrich Hertz pada akhir abad ke-19 melahirkan bidang elektronika. Penemuan tabung hampa dan transistor kemudian mempercepat perkembangan elektronika sedemikian rupa hingga kini jumlah insinyur listrik dan elektronika melampaui cabang rekayasa lainnya.[6] Bidang rekayasa kimia muncul pada akhir abad ke-19.[6] Produksi industri berskala besar menuntut bahan dan proses baru, dan sekitar tahun 1880 kebutuhan akan produksi kimia massal melahirkan industri baru yang berfokus pada perancangan pabrik serta proses kimia berskala besar.[6] Peran insinyur kimia adalah merancang pabrik dan proses tersebut.[6] Bidang ilmu material sendiri berasal dari pembuatan keramik dan metalurgi, menjadikannya salah satu bentuk rekayasa tertua.[54] Ilmu material modern berkembang langsung dari metalurgi, yang berakar pada penggunaan api. Unsur-unsur penting dalam ilmu material modern banyak dihasilkan melalui perlombaan antariksa, seperti rekayasa paduan logam, silika, dan karbon untuk membangun kendaraan luar angkasa. Ilmu material menjadi penggerak, sekaligus terdorong oleh, perkembangan teknologi revolusioner seperti karet, plastik, semikonduktor, dan biomaterial.

Tungku surya Odeillo di Pyrénées-Orientales, Prancis, mampu mencapai suhu hingga 3.500 °C (6.330 °F).

Rekayasa aeronautika berfokus pada proses perancangan pesawat, sedangkan rekayasa dirgantara merupakan istilah yang lebih modern yang mencakup juga perancangan wahana antariksa. Akar keilmuannya dapat ditelusuri hingga para pelopor penerbangan pada awal abad ke-20, meski karya Sir George Cayley kini diketahui telah muncul sejak akhir abad ke-18. Pengetahuan awal dalam bidang aeronautika masih bersifat empiris, dengan banyak konsep dan keterampilan yang diadaptasi dari cabang rekayasa lain.[55] Hanya satu dekade setelah keberhasilan penerbangan Wright bersaudara, rekayasa aeronautika berkembang pesat melalui pengembangan pesawat militer yang digunakan dalam Perang Dunia I. Sementara itu, penelitian ilmiah untuk memperkuat dasar teoretis bidang ini terus berlanjut dengan memadukan fisika teoretis dan eksperimen.

Cabang-cabang Rekayasa

[sunting | sunting sumber]
Bendungan Hoover

Rekayasa merupakan disiplin ilmu yang sangat luas dan kerap dibagi ke dalam berbagai subdisiplin. Meskipun sebagian besar insinyur biasanya dididik dalam bidang tertentu, banyak pula yang kemudian menjadi multidisipliner melalui pengalaman praktik. Secara umum, rekayasa sering diklasifikasikan menjadi lima cabang utama:[56][57][58] yakni rekayasa kimia, rekayasa sipil, rekayasa listrik, rekayasa material, dan rekayasa mesin.

Berikut ini adalah daftar cabang-cabang rekayasa yang diakui secara umum. Selain itu, terdapat pula berbagai subdisiplin yang lebih khusus.

Jenis Rekayasa Keterangan
Rekayasa Dirgantara Rekayasa dirgantara mencakup perancangan, pengembangan, manufaktur, dan pengoperasian pesawat terbang, satelit, serta roket.
Rekayasa Pertanian Rekayasa pertanian memanfaatkan tenaga dan mesin pertanian, proses material hayati, bioenergi, bangunan pertanian, serta sumber daya alam untuk pertanian.
Rekayasa Biologis Rekayasa biologis mempelajari penerapan prinsip-prinsip biologi dan alat-alat rekayasa untuk menciptakan produk yang bermanfaat, nyata, dan bernilai ekonomi.
Rekayasa Biomedis Rekayasa biomedis adalah penerapan prinsip dan konsep desain rekayasa pada bidang kedokteran dan biologi untuk keperluan kesehatan (misalnya untuk diagnosis atau terapi).
Rekayasa Kimia Rekayasa kimia merupakan penerapan ilmu kimia, fisika, dan biologi untuk mengembangkan solusi teknologi dari bahan mentah atau senyawa kimia.
Rekayasa Sipil Rekayasa sipil berfokus pada perancangan dan pembangunan sarana publik maupun privat, seperti infrastruktur (bandara, jalan raya, rel kereta, pasokan dan pengolahan air, dan sebagainya), jembatan, terowongan, bendungan, dan bangunan.
Rekayasa Komputer Rekayasa komputer mengintegrasikan berbagai bidang ilmu komputer dan rekayasa elektronika yang diperlukan untuk mengembangkan perangkat keras dan lunak komputer.
Rekayasa Listrik Rekayasa listrik menitikberatkan pada perancangan, pengembangan, dan penerapan sistem serta peralatan yang memanfaatkan listrik dan elektromagnetisme.
Rekayasa Lingkungan Rekayasa lingkungan merupakan bidang khusus yang menggunakan prinsip ilmiah dan teknik untuk melindungi serta memperbaiki lingkungan demi kesehatan dan kesejahteraan manusia.
Rekayasa Geologi Rekayasa geologi berkaitan dengan segala hal yang dibangun di atas atau di dalam bumi, dengan menerapkan ilmu geologi dan prinsip-prinsip rekayasa untuk mendukung atau mengarahkan pekerjaan disiplin lain.
Rekayasa Industri Rekayasa industri berfokus pada optimalisasi proses, sistem, dan organisasi yang kompleks dengan meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta mutu.
Rekayasa Kelautan Rekayasa kelautan mencakup perancangan, pengembangan, pembuatan, serta pengoperasian kapal dan struktur tetap seperti anjungan minyak serta pelabuhan.
Rekayasa Material Rekayasa material adalah penerapan ilmu material dan prinsip rekayasa untuk memahami sifat-sifat material serta mengembangkan penggunaannya dalam teknologi.
Rekayasa Mesin Rekayasa mesin meliputi perancangan dan analisis energi panas serta tenaga mekanik untuk pengoperasian mesin dan sistem mekanis.
Rekayasa Nuklir Rekayasa nuklir merupakan bidang multidisipliner yang berhubungan dengan perancangan, konstruksi, pengoperasian, dan keselamatan sistem yang memanfaatkan energi dan radiasi nuklir.
Rekayasa Perangkat Lunak Rekayasa perangkat lunak adalah cabang dari ilmu komputer dan rekayasa yang berfokus pada perancangan, pengembangan, pengujian, dan pemeliharaan aplikasi perangkat lunak. Bidang ini berbeda dengan rekayasa komputer.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Hammack, William; Anderson, John (16 Februari 2022). "Working in the Penumbra of Understanding". Issues in Science and Technology. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine serta Arizona State University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Agustus 2023. Diakses tanggal 3 Agustus 2023. Metode yang digunakan para insinyur untuk menciptakan artefak dan sistem—mulai dari telepon seluler, komputer, dan ponsel pintar, hingga GPS, pesawat, dan material biomimetik—tidaklah sama dengan metode yang digunakan ilmuwan dalam pekerjaannya. Metode ilmiah memiliki langkah-langkah baku: merumuskan pertanyaan, mengamati, menyusun hipotesis, menguji, menganalisis, dan menafsirkan. Ia tidak mengetahui apa yang akan ditemukan, kebenaran apa yang akan terungkap. Sebaliknya, metode rekayasa bertujuan mencapai sasaran tertentu dan tidak dapat disederhanakan menjadi serangkaian langkah kaku yang harus diikuti.
  2. Definisi "engineering" diambil dari: "English Dictionary". Cambridge Academic Content Dictionary. Cambridge University. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Februari 2021. Diakses tanggal 16 Februari 2021.
  3. "About IAENG". iaeng.org. International Association of Engineers. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Januari 2021. Diakses tanggal 17 Desember 2016.
  4. "About ABET - History". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Maret 2024. Diakses tanggal 27 April 2024.
  5. "Engineers' Council for Professional Development. (1947). Canons of Ethics for Engineers". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 September 2007. Diakses tanggal 10 Agustus 2021.
  6. 1 2 3 4 5 6 7 Smith, Ralph J. (29 Maret 2024). "engineering". Encyclopedia Britannica. Diarsipkan dari asli tanggal 25 April 2024.
  7. "engineer". Oxford English Dictionary (Edisi Online). Oxford University Press. Templat:OEDsub
  8. Asal: 1250–1300; ME engin < AF, OF < L ingenium (sifat alami, bakat bawaan, terutama kekuatan intelektual, sehingga berarti penemuan cerdas); sumber: Random House Unabridged Dictionary, Random House, Inc., 2006.
  9. Moorey, Peter Roger Stuart (1999). Ancient Mesopotamian Materials and Industries: The Archaeological Evidence. Eisenbrauns. ISBN 978-1-57506-042-2.
  10. D.T. Potts (2012). A Companion to the Archaeology of the Ancient Near East. hlm. 285.
  11. 1 2 Paipetis, S. A.; Ceccarelli, Marco (2010). The Genius of Archimedes – 23 Centuries of Influence on Mathematics, Science and Engineering: Proceedings of an International Conference held at Syracuse, Italy, June 8–10, 2010. Springer Science & Business Media. hlm. 416. ISBN 978-90-481-9091-1.
  12. Clarke, Somers; Engelbach, Reginald (1990). Ancient Egyptian Construction and Architecture. Courier Corporation. hlm. 86–90. ISBN 978-0-486-26485-1.
  13. Faiella, Graham (2006). The Technology of Mesopotamia. The Rosen Publishing Group. hlm. 27. ISBN 978-1-4042-0560-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Januari 2020. Diakses tanggal 13 Oktober 2019.
  14. 1 2 Moorey, Peter Roger Stuart (1999). Ancient Mesopotamian Materials and Industries: The Archaeological Evidence. Eisenbrauns. hlm. 4. ISBN 978-1-57506-042-2.
  15. Arnold, Dieter (1991). Building in Egypt: Pharaonic Stone Masonry. Oxford University Press. hlm. 71. ISBN 978-0-19-511374-7.
  16. Woods, Michael; Mary B. Woods (2000). Ancient Machines: From Wedges to Waterwheels. USA: Twenty-First Century Books. hlm. 58. ISBN 0-8225-2994-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Januari 2020. Diakses tanggal 13 Oktober 2019.
  17. Wood, Michael (2000). Ancient Machines: From Grunts to Graffiti. Minneapolis, MN: Runestone Press. hlm. 35–36. ISBN 0-8225-2996-3.
  18. Kemp, Barry J. (2007). Ancient Egypt: Anatomy of a Civilisation. Routledge. hlm. 159. ISBN 978-1-134-56388-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Agustus 2020. Diakses tanggal 20 Agustus 2019.
  19. Selin, Helaine (2013). Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Westen Cultures. Springer Science & Business Media. hlm. 282. ISBN 978-94-017-1416-7.
  20. G. Mokhtar (1981). Ancient Civilizations of Africa. Unesco. International Scientific Committee for the Drafting of a General History of Africa. hlm. 309. ISBN 978-0-435-94805-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Mei 2022. Diakses tanggal 19 Juni 2012 via Books.google.com.
  21. Fritz Hintze, Kush XI; hlm. 222–224.
  22. "Siege Warfare in Ancient Egypt". Tour Egypt. Diakses tanggal 23 Mei 2020.[pranala nonaktif]
  23. Bianchi, Robert Steven (2004). Daily Life of the Nubians. Greenwood Publishing Group. hlm. 227. ISBN 978-0-313-32501-4.
  24. Humphris, Jane; Charlton, Michael F.; Keen, Jake; Sauder, Lee; Alshishani, Fareed (2018). "Iron Smelting in Sudan: Experimental Archaeology at The Royal City of Meroe". Journal of Field Archaeology. 43 (5): 399. doi:10.1080/00934690.2018.1479085. ISSN 0093-4690.
  25. Collins, Robert O.; Burns, James M. (2007). A History of Sub-Saharan Africa. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-86746-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Juli 2021. Diakses tanggal 23 September 2020 via Google Books.
  26. "The Antikythera Mechanism Research Project Diarsipkan 28 April 2008 di Wayback Machine.", The Antikythera Mechanism Research Project. Diakses 1 Juli 2007. Kutipan: “Mekanisme Antikythera kini dipahami sebagai perangkat mekanis kompleks yang didedikasikan untuk fenomena astronomi dan berfungsi sebagai ‘komputer’ yang melacak siklus Tata Surya.”
  27. Wilford, John (31 Juli 2008). "Discovering How Greeks Computed in 100 B.C." The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Desember 2013. Diakses tanggal 21 Februari 2017.
  28. Wright, M T. (2005). "Epicyclic Gearing and the Antikythera Mechanism, part 2". Antiquarian Horology. 29 (1 (September 2005)): 54–60.
  29. Britannica tentang peradaban Yunani abad ke-5 – Teknologi militer Diarsipkan 6 Juni 2009 di Wayback Machine.
  30. Chevedden, Paul E. (1988). "THE HYBRID TREBUCHET:: THE HALFWAY STEP TO THE COUNTERWEIGHT TREBUCHET". Dalam Kagay, Donald J.; O'Callaghan, Joseph F.; Vann, Theresa M. (ed.). On the Social Origins of Medieval Institutions: Essays in Honor of Joseph F. O'Callaghan. The Medieval Mediterranean: Peoples, Economies, and Cultures, 400–1453 (dalam bahasa English). Vol. 19. Leiden, Boston, Köln: Brill. hlm. 179. ISBN 9789004110960. ISSN 0928-5520. Diakses tanggal 16 Februari 2025 via Google Books. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  31. Ahmad Y Hassan, Donald Routledge Hill (1986). Islamic Technology: An illustrated history, hlm. 54. Cambridge University Press. ISBN 0-521-42239-6.
  32. Lucas, Adam (2006). Wind, Water, Work: Ancient and Medieval Milling Technology. Brill Publishers. hlm. 65. ISBN 90-04-14649-0.
  33. Eldridge, Frank (1980). Wind Machines (Edisi 2nd). New York: Litton Educational Publishing, Inc. hlm. 15. ISBN 0-442-26134-9.
  34. Shepherd, William (2011). Electricity Generation Using Wind Power (Edisi 1). Singapore: World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd. hlm. 4. ISBN 978-981-4304-13-9.
  35. Taqi al-Din and the First Steam Turbine, 1551 A.D. Diarsipkan February 18, 2008, di Wayback Machine., diakses daring 23 Oktober 2009; laman ini mengacu pada Ahmad Y Hassan (1976), Taqi al-Din and Arabic Mechanical Engineering, hlm. 34–35, Institute for the History of Arabic Science, University of Aleppo.
  36. Ahmad Y. Hassan (1976), Taqi al-Din and Arabic Mechanical Engineering, hlm. 34–35, Institute for the History of Arabic Science, University of Aleppo
  37. Lakwete, Angela (2003). Inventing the Cotton Gin: Machine and Myth in Antebellum America. Baltimore: The Johns Hopkins University Press. hlm. 1–6. ISBN 978-0-8018-7394-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 20, 2021. Diakses tanggal October 13, 2019.
  38. Pacey, Arnold (1991) [1990]. Technology in World Civilization: A Thousand-Year History (Edisi First MIT Press paperback). Cambridge MA: The MIT Press. hlm. 23–24.
  39. Žmolek, Michael Andrew (2013). Rethinking the Industrial Revolution: Five Centuries of Transition from Agrarian to Industrial Capitalism in England. Brill. hlm. 328. ISBN 978-90-04-25179-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 29, 2019. Diakses tanggal October 13, 2019. The spinning jenny was basically an adaptation of its precursor the spinning wheel
  40. Koetsier, Teun (2001). "On the prehistory of programmable machines: musical automata, looms, calculators". Mechanism and Machine Theory. 36 (5). Elsevier: 589–603. doi:10.1016/S0094-114X(01)00005-2.
  41. Kapur, Ajay; Carnegie, Dale; Murphy, Jim; Long, Jason (2017). "Loudspeakers Optional: A history of non-loudspeaker-based electroacoustic music". Organised Sound. 22 (2). Cambridge University Press: 195–205. doi:10.1017/S1355771817000103. ISSN 1355-7718. S2CID 143427257.
  42. Professor Noel Sharkey, A 13th Century Programmable Robot (Archive), University of Sheffield.
  43. 1 2 3 4 Musson, A.E.; Robinson, Eric H. (1969). Science and Technology in the Industrial Revolution. University of Toronto Press. ISBN 978-0802016379.
  44. Taylor, George Rogers (1969). The Transportation Revolution, 1815–1860. M.E. Sharpe. ISBN 978-0-87332-101-3.
  45. 1 2 Rosen, William (2012). The Most Powerful Idea in the World: A Story of Steam, Industry and Invention. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-72634-2.
  46. Jenkins, Rhys (1936). Links in the History of Engineering and Technology from Tudor Times. Ayer Publishing. hlm. 66. ISBN 978-0-8369-2167-0.
  47. Tylecote, R.F. (1992). A History of Metallurgy, Second Edition. London: Maney Publishing, for the Institute of Materials. ISBN 978-0-901462-88-6.
  48. 1 2 Hunter, Louis C. (1985). A History of Industrial Power in the United States, 1730–1930, Vol. 2: Steam Power. Charlottesville: University Press of Virginia.
  49. Roe, Joseph Wickham (1916). English and American Tool Builders. New Haven, Connecticut: Yale University Press. LCCN 16011753. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 26, 2021. Diakses tanggal November 10, 2018.
  50. Hounshell, David A. (1984), From the American System to Mass Production, 1800-1932: The Development of Manufacturing Technology in the United States, Baltimore, Maryland: Johns Hopkins University Press, ISBN 978-0-8018-2975-8, LCCN 83016269
  51. Cowan, Ruth Schwartz (1997). A Social History of American Technology. New York: Oxford University Press. hlm. 138. ISBN 978-0-19-504605-2.
  52. Wheeler, Lynde Phelps (1951). Josiah Willard Gibbs – the History of a Great Mind. Ox Bow Press. ISBN 978-1-881987-11-6.
  53. Williams, Trevor I. (1982). A Short History of Twentieth Century Technology. US: Oxford University Press. hlm. 3. ISBN 978-0-19-858159-8.
  54. Defonseka, Chris (2020). Polymer Fillers and Stiffening Agents: Applications and Non-traditional Alternatives (dalam bahasa Inggris). Berlin: Walter de Gruyter GmbH & Co KG. hlm. 31. ISBN 978-3-11-066999-2.
  55. Van Every, Kermit E. (1986). "Aeronautical engineering". Encyclopedia Americana. Vol. 1. Grolier Incorporated. hlm. 226.
  56. Journal of the British Nuclear Energy Society: Volume 1 British Nuclear Energy Society – 1962 – Snippet view Diarsipkan September 21, 2015, di Wayback Machine. Kutipan: “Di sebagian besar universitas, seharusnya dimungkinkan untuk mencakup cabang utama rekayasa, yaitu teknik sipil, mekanik, listrik, dan kimia.”
  57. The Engineering Profession oleh Sir James Hamilton, UK Engineering Council. Kutipan: “Gelar Civilingenior mencakup cabang utama rekayasa: sipil, mekanik, listrik, dan kimia.” (Dari Internet Archive)
  58. Indu Ramchandani (2000). Student's Britannica India,7vol.Set. Popular Prakashan. hlm. 146. ISBN 978-0-85229-761-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 5, 2013. Diakses tanggal March 23, 2013. Cabang: Secara tradisional terdapat empat disiplin utama rekayasa: teknik sipil, mekanik, listrik, dan kimia.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]