Gerontologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Gerontologi (Inggris: Gerontology) berasal dari bahasa Yunani, yaitu: geros yang berarti lanjut usia dan logos yang berarti ilmu. Maka secara etimologis gerontologi dapat didefinisikan sebagai  ilmu tentang orang lanjut usia (lansia)[1]. Kendati terdengar sederhana dan singkat, definisi tersebut memiliki cakupan yang sangat luas karena masalah penuaan dilarbelakangi oleh berbagai faktor dan aspek serta mempengaruhi banyak bidang dan segi kehidupan[2]. Karena itu, para ahli Gerontologi (Gerontologist) memiliki latar belakang displin ilmu yang sangat beragam. Mereka adalah para peneliti dan praktisi di bidang biologi, medis, psikologi, kriminologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, hukum, sosial politik dan berbagai displin ilmu lainnya[3].

Para ahli Gerontologi menerapkan ilmu dan segenap pengetahuan yang mereka miliki untuk membantu para lansia menjalani kehidupan yang baik, sejahtera dan bahagia. Mereka mengadakan pelatihan bagi para lansia; mendidik masyarakat umum untuk turut serta mendorong  dan memfasilitasi para lansia tetap aktif dan produktif; Melakukan penyuluhan tentang cara-cara yang baik untuk merawat para lansia;  mengadvokasi terciptanya kebijakan publik yang mengakomodir hak-hak para lansia dan terciptanya hukum yang menjamin perlindungan bagi para lansia[4]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Istilah gerontologi (Gerontology) pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuwan Rusia, Ilya Ilyich Mechniko sekitar tahun 1903. Mechniko menggunakan istilah tersebut untuk merujuk kajian-kajian yang dia hasilkan melalui penelitian-penelitian ilmiah untuk memahami proses penuaan[5]. Namun, jauh sebelum Mechniko lahir proses penuaan telah menjadi topik diskusi, kajian dan bahan pembelajaran para pemikir tapi dengan pendekatan-pendekatan yang kurang  ilmiah jika ditinjau dari segi disiplin ilmu modern.Aristoteles, misalnya, lebih dari 2000 tahun lalu dalam berbagai kesempatan telah mengangkat topik seputar umur harapan hidup dan teori penuaan berbagai spesies mahluk hidup. Salah satu pertanyaan penting yang dia ajukan tentang tema ini adalah “mengapa ada kematian” ? Dia mencoba menjawab pertanyaan ini dengan mempelajari kompenen morfologi fisik dari tumbuhan dan binatang sehingga dia sampai pada kesimpulan bahwa kematian disebabkan oleh hilangnya kemampuan berkembang dari komponen-komponen morfologis tersebut seiring dengan umur yang semakin menua[6].

Selain Aristoteles, pantas juga dicatat nama Galen dan Roger Bacon yang mempublikasikan tulisan-tulisan seputar penuaan mahluk hidup. Galen (129-216 M) dalam bukunya yang berjudul De Sanitate Tuenda menjelaskan bahwa proses penuaan  berlangsung sepanjang hayat, di mulai sejak terjadinya konsepsi (pembuahan) hingga meninggal. Gelen menjelaskan proses penuaan terjadi karena ketidakseimbangan panas tubuh yang akan dialami tiap organisme. Suhu tubuh akan semakin digin dari waktu ke waktu. Padahal suhu tubuh yang tepat sangat vital untuk memproduksi jaringan dan organ[7].

Berbeda dengan Galen, Roger Bacon (1220-1292 M) dalam bukunya Opus Majus merefleksikan kematian dan umur manusia yang singkat dalam kerangka ajaran iman Kristiani. Dia menjelaskan bahwa umur manusia yang singkat bersifat aksidental, maka terbuka kemungkinan untuk memperbaikinya. Roger Bacon menjelaskan, pada dasarnya manusia dapat berumur ratusan tahun tapi karena kejatuhan manusia dalam dosa (peristiwa eden) usia hidupnya diperpendek. Hal ini, menurut dia, dibuktikan dengan jiwa manusia yang bersifat kekal (immortal). Selain itu, menurut Roger Bacon, penurunan usia hidup juga terjadi karena manusia tidak peka terhadap faktor-faktor hiegenitas[8]. Selanjutnya Francis Bacon  pada zaman Renaissance secara serius mengulas siklus hidup manusia dalam karyanya History of Life and Death dan memberikan beberapa saran untuk mengatasi penurunan kekuatan tubuh dalam rangka memperpanjang usia hidup. Salah satu saran yang dia berikan adalah dengan merawat jiwa/roh (spirit)[9].

Menjelang abad ke-20, kajian-kajian empiris dan metode ilmiah mulai diperkenalkan dan dipromosikan dengan gencar sebagai sarana untuk memperoleh kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara scientific.  Seiring dengan tren tersebut, kajian tentang proses penuaan juga mulai dilakukan dengan lebih sistematis dan ilmiah.  Elie Metchnikoff pada tahun 1882, melakukan sebuah penelitian mengenai mikrobakteri yang menyebabkan penuaan. Fokus penelitiannya adalah penyerapan toksin dalam usus manusia. Dari hasil penelitian tersebut, dia menjelaskan bahwa mikroba-mikroba dalam usus manusia akan memakan sel darah putih. Ketika sel darah putih yang berfungsi untuk menjaga kekebalan tubuh dari penyakit semakin berkurang, maka daya tahan tubuh manusia akan menjadi lemah. Proses penuaan terjadi karena sistem kekebalan tubuh menurun seiring dengan berkurangnya jumlah sel darah putih karena dimangsa oleh mikroba. Temuan ini kemudian disebut teori fagositosis[10].

Temuan Elie Metchnikoff dianggap sebagai tonggak yang sangat penting dalam memahami sistem kekebalan tubuh manusia. Berkat jasa-jasanya, Elie Metnikoff dianugerahi hadiah nobel padatahun 1908. Dalam kajian-kajian tentang proses penuaan, Metnikoff juga dianggap memiliki jasa besar karena teori-teorinya tentang mikro bakteri dan sistem kekebalan tubuh menjadi dasar penting untuk memahami proses penuaan. Dia juga dianggap sebagai pelopor istilah Gerontologi.

Pada periode yang kurang lebih sama, Michel Eugène Chevreul,ahli Kimia dari Perancis, mencetuskan ide bahwa Gerontologi dapat berdiri sendiri sebagai sebuah displin ilmu. Gagasan tersebut baru terealisir sekitar tahun 1940 dipelopori oleh James Birren. Dia melihat ada banyak ahli dari berbagai displin ilmu yang berbeda-beda mencoba memecahkan masalah-masalah penuaan. Karena itu dia tergerak untuk mengorganisasikan para ahli  dari berbagai displin ilmu tersebut dalam sebuah wadah yang mengkhususkan diri dalam kajian tentang proses penuaan. Asosiasi pertama di bidang Gerontologi terbentuk di Amerika tahun 1945 dengan nama Komunitas Gerontologis Amerika (Gerontologica Society of America). Dua puluh tahun kemudian, James Birren mempelopori berdirinya pusat penelitian akademis tentang penuaan yang diberi nama  Ethel Percy Andrus Gerontology Center di universitas South of California. Di universitas yang sama, sepuluh tahun kemudian, didirikan sebuah fakultas Gerontologi di mana James Birren berperan sebagai dekan pendiri. Inilah fakultas Gerontologi pertama di Amerika (juga di dunia) yang kemudian menyediakan gelar PhD di bidang Gerontologi. Setelah itu berbagai universitas lain mulai menyediakan faktultas-fakultas Gerontologi atau studi tentang penuaan dalam lingkup akademik[11].

Objek Studi[sunting | sunting sumber]

Proses penuaan tidak saja terjadi sebagai gejala alamiah semata. Dewasa ini makin disadari bahwa proses penuaan merupakan akumulasi dari berbagai faktor dan kualitas hidup para lansia ditentukan oleh berbagai faktor tersebut. Gerontologi hadir untuk mempelajari faktor-faktor tersebut secara komprehensif dan berusaha menemukan solusi agar proses penuaan tersebut tidak menyebabkan degradasi kualitas hidup manusia. Karena itu, objek studi Gerontologi sangat luas dan beragam.

Secara lebih spesifik, beberapa kajian dan lingkup kerja para gerontologist (pemerhati masalah-masalahpenuaan) dalam hubungannya dengan berbagai displin ilmu yang disebutkan di atas dapat dirinci sebagai berikut[12]:

Lansia
  1. Menyelidiki mengapa penuaan terjadi
  2. Mempelajari perubahan-perubahan fisik, mental dan perilaku sosial yang terjadi pada manusia di usia tua atau lansia
  3. Meneliti dampak proses penuaan terhadap perubahan psikologis manusia dalam lingkungan sosialnya
  4. Mempelajari penyakit-penyakit yang timbul sebagai konsekuensi dari proses penuaan yang terjadi
  5. Meneliti dampak dari peningkatan jumlah usia tua (lansia) terhadap masyarakat
  6. dan sebagainya

Sub Displin[sunting | sunting sumber]

Secara umum, lingkup studi Gerontologi dapat dibagi menjadi 4 sesuai dengan pendekatan ilmu-ilmu yang digunakan: Gerontologi Sosial, Biogerontologi, Gerontologi Medis (Geriatri) dan Geroteknologi.[13]

Gerontologi Sosial[sunting | sunting sumber]

Gerontologi sosial menggunakan pendekatan ilmu sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi dan beberapa ilmu humaniora lainnya untuk memahami proses penuaan beserta dampak dan solusinya dalam sebuah komunitas masyarakat.

Biogerontologi[sunting | sunting sumber]

Biogerontologi adalah displin ilmu yang mempelajari proses biologis yang terjadi dalam proses penuaan. Fokus kajian biogerontologi adalah perubahan-perubahan fisik (badaniah) yang dialami para lansia sesuai dengan perkembangan biologisnya. Ciri fisik atau biologis memperlihatkan berjalannya fungsi tubuh seseorang. Dalam siklus atau tahapan hidup mahluk hidup perubahan fungsi fisik pasti terjadi seiring dengna umur yang makin bertambah; pada tahapan usia muda fungsi tubuh berkembang dengan baik sehingga sampai tahap dewasa; memasuki usia dewasa, seorang mengalami puncak dari seluruh fungsi biologisnya; sedangkan pada tahap akhir, masa tua, fungsi organ-organ tubuh akan menalami penurunan. Biogerontologi berusaha memetakan perubahan-perubahan tersebut dan mempelajari mengapa perubahan itu terjadi sesuai dengan hukum biologi.

Gerontologi Medis (Geriatri)[sunting | sunting sumber]

Gerontologi medis mempelajari kesehatan lansia. Fokus kajian yang dibicarakan pada gerontologi medis adalah kesehatan lansia sesuai denganperkembangan biologisnya. Displin ilum yang berkaitan erat dengan gerontologi medis, satu ilmu baru yang ditemukan pada tahun 1935 di Inggris, adalah geriatri. Geriatri berasal dari kata gerios, yang berarti usia lanjut dan lateria, yang berarti merawat. Salah satu fokus pembelajaran dalam geriatri adalah mengenai penyebab penyakit, yang dinamakan etiologi. Para lansia pada umumnya mengalami penurunan fungsi tubuh yang disebabkan oleh faktor endogen (dari dalam tubuh) dan faktor eksogen (luar tubuh). Dengan menurunnya fungsi tubuh seperti enzim, sel, dan daya tahan tubuh (imunitas), maka faktor eksogen dengan mudah memunculkan penyakit pada para lansia. Dua hubungan tersebut dipelajari dalam etiologi.

Geroteknologi[sunting | sunting sumber]

Geroteknologi mempelajari kaum lansia dan hubungannya dengan perkembangan teknologi. Pendekatan ini merupakan ilmu terbaru yang menguraikan sejauh mana perkembangan teknologi bagi kaum lansia. Kemajuan teknologi yang semakin mutakhir memberikan peluang atau kesempatan bagi kaum lansia untuk mengembangkan dirinya.

Geroteknologi sebenarnya ilmu praktis untuk memudahkan para lansia dalam menggunakan sarana dan prasarana yang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. Misalkan, kemudahan pelayanan administrasi pemerintahan bagi kaum lansia dapat menggunakan sarana dan prasarana teknologi seperti handphone atau merancang tempat tinggal yang layak huni bagi para lansia dan penggunaan alat-alat khusus lainnya.Penerapan teknologi yang mutakhir terhadap para lansia akan menyokong mereka sekaligus menempatkan mereka secara mandiri dalam menjalankan masa tuanya. 

Teori Penuaan[sunting | sunting sumber]

Ada banyak teori tentang penuaan. Masing-masing teori memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada satu teoripun yang diterima oleh semua kalangan dan dijadikan sebagai kebenaran mutlak. Para ilmuan menggunakan pendekatan yang tidak selalu sama dalam usaha mereka menyingkap misteri penuaan. Pendekatan yang berbeda-beda tersebut juga menghasilkan teori yang berbeda bahkan sebagian bertolak belakang. Teori-teori tersebut dapat dibagi dalam 2 kategori: teori Biologi[14] dan teori Psikososial[15].

Teori Biologi[sunting | sunting sumber]

Teori Genetik[sunting | sunting sumber]

Menurut teori genetik, proses penuaan sudah terprogram dalam gen tiap individu karena  di dalam gen telah ditetapkan usia dari tiap sel tubuh. Teori ini didasarkan pada hukum opoptosis yang ditemukan tahun 1842 oleh seorang ilmuan Jerman, Carl Vogh. Hukum opoptosis mengungkapkan bahwa tiap sel akan mengalami perubahan morfologi  kemudian mati.  Pada bagian nucleus tiap sel tubuh terdapat kode informasi yang memerintahkan terjadinya perubahan morfologi  tersebut.  Proses ini dikenal dengan istilah kematian sel terprogram (programmed cell death) yang berlangsung karena adanya sebuah sistem yang disebut “biological clock” dalam gen tiap individu. Kematian sel sebagaimana telah ditentukan dalam gen memicu terjadinya penuaan. Semakin cepat dan semakin banyak sel mati, proses penuaan semakin cepat berlangsung. Faktor lingkungan dan mutasi genetis  dapat mempengaruhi gen dalam menentukan umur dari tiap sel sehingga mempercepat proses penuaan.   

Teori Wear and Tear[sunting | sunting sumber]

Teori wear and tear pertama kali diperkenalkan pada tahun 1882 oleh Dr. Dr. August Weismann, ahli Biologi berkebangsaan Jerman. Dia menjelaskan fungsi serta sifat dari sel, jaringan dan organ (tubuh) melalui perbandingan dengan  mesin. Semakin sering sebuah mesin digunakan tentu kondisinya akan semakin kurang baik hingga akhirnya rusak total dan tidak bisa lagi diperbaiki. Demikian halnya dengan sel, jaringan dan organ yang merupakan bagian-bagian vital mahluk hidup. Penggunaan organ-orang tubuh secara terus menerus menyebabkan kerusakan baik karena faktor internal (kelelahan) maupun karena faktor eksternal (air dan makanan yang tidak baik, virus, rokok, temperature yang tidak kondusif dan sebagainya). Akumulai dari kerusakan-kerusakan tersebut ditambah dengan faktor kelelahan menyebabkan sel tidak dapat berproduksi sehingga satu persatu jaringan dan organ tubuh yang rusak tidak dapat diperbaiki. Hal ini memicu terjadinya penurunan fungsi organ-organ tubuh hingga samapai pada suatu titik tidak dapat berfungsi dan bereproduksi lagi.

Teori Akumulasi[sunting | sunting sumber]

Teori akumulasi menerangkan bahwa penuaan diakibatkan oleh penurunan fungsi organ karena adanya penumpukan elemen-elemen pengganggu dalam tubuh. Elemen-elemen tersebut sebagian berasal dari luar dan masuk ke dalam tubuh; sebagian lagi sisa hasil metabolisme sel. Teori akumulasi terbaru dicetuskan oleh  Dr. Aubrey de Grey, ahli gerontologi berkebangasaan Ingris, yang menjelaskan penuaan sebagai konsekuensi dari akumulasi 7 kerusakan pada tingkat molekul, sel dan intra sel.

Teori Radical Bebas (Free Radical Theory)[sunting | sunting sumber]

Radikal bebas adalah atom atau molekul yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan pada orbit terluarnya dan dapat berdiri sendiri. Radical bebas sebagai agen beracun dalam tubuh mahluk hidup pertama kali dicetuskan oleh Rebecca Gerschman, ilmuan dari Argentina pada tahun 1954. Kemudian ide tersebut dielaborasi oleh Denham Harman, ahli biogerontologi dari Amerika pada tahun 1956. Dalam teorinya Denham Harman memaparkan bahwa  Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi electron tidak berpasangan. Radikal bebas tersebut terbentuk sebagai hasil sampingan berbagai proses selular atau metabolisme normal yang melibatkan oksigen. Sebagai contonh adalah reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS) yang dihasilkan selama metabolisme normal. Karena elektronnya tidak berpasangan, secara kimiawi radikal bebas akan pasangan electron lain dengan bereaksi dengan substansi lain terutama protein dan lemak tidak jenuh. Melalui proses oksidasi, radikal bebas yang dihasilkan selama fosforilaso oksidatif dapat menghasilkan berbagai modifikasi makromolekul. Sebagai contoh, karena membran sel mengandung sejumlah lemak , ia dapat bereaksi dengan radikal bebas sehingga membran sel mengalami perubahan. Akibat perubahan pada struktur membran tersebut membran sel menjadi lebih permeable terhadap bebrapa substansi dan memungkinkan substansi tersebut melewati membran secara bebas.

Struktur didalam sel seperti mitokondria dan lisosom juga diselimuti oleh membran yang mengandung lemak sehingga mudah diganggu oleh radikal bebas . radikal bebas juga dapat bereaksi dengan DNA, menyebabkan mutasi kromosom dan karenanya merusak merusak mesin genetic dari sel. Radikal bebas dapat merusak fungsi sel dengan merusak membran sel atau kromosom sel. Lebih jauh, teori radikal bebas menyatakan bahwa terdapat akumulasi radikal bebas secara bertahap di dalam sel sejalan dengan waktu dan bila kadarnya melebihi konsentrasi ambang maka mereka mungkin berkontribusi pada perubahan-perubahan yang dikaitkan dengan penuaan. 

Teori Psikososial[sunting | sunting sumber]

Teori Keterasingan (Disengagement theory)[sunting | sunting sumber]

Teori ini dikembangakan oleh dua ilmual sosial, Elaine Cumming dan William Henry sekitar tahun 1960.  Mereka mempublikasikan sebuah karya penting yang berjudul “Menjadi Tua” pada tahun 1961. Karya tersebut didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari universitas Chicago, dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh Universitas Kansas dalam studi tentang kehidupan para orang tua. Studi tersebut melibatkan ratusan laki-laki dan wanita berusia tua. Kesimpulan dari penelitian tersebut mengungkapkan bahwa para lansia cenderung menarik diri dari masyarakat, lingkungan sosial di mana mereka biasanya terlibat bahkan yang komunitas yang paling mereka cintai sekalipun, sebelum akhirnya mereka meninggal.

Untuk menjelaskan teori ini lebihrinci, Cumming dan Henry pola perilaku manusia sejak bayi. Ketika bayi hingga masa kanak-kanak manusia cenderung mencari perhatian orang lain. Sesudah remaja dan dewasa manusia menuntut kebebasan dan kemandirian. Di akhir masa dewasa manusia kembali pada keadaan tidak bebas, tidak mandiri (tergantung pada orang lain). Pertama-tama kita kehilangan kemandirian fisik. Kemudian kita kehilangan minat sosial kemudian menarik diri dari dunia di sekitar kita. Itulah tahap-tahap kehidupan yang menjadi pijakan argumentasi Cumming dan Henry dalam teori ini. Seiring dengan proses penuaan yang terjadi dan sadar bahwa usia hidup mereka tidak lama lagi, para lansia pelan-pelan memisahkan diri mereka dari ikatan sosial hingga tersisa ikatan sosial yang sangat penting saja, yang mesti dipertahankan dengan demi hidup mereka. Hilangnya kemampuan untuk menjadi anggota sebuah masyarakat menjadi fokus dari teori ini. Pada akhirnya, dalam proses pelepasan tersebut lansia akhirnya bersedia menerima kematian. Teori ini mendapat banyak kritik dan penolakan karena juga mengasumsikan bahwa keterlibatan dalam kehidupan sosial tidak bagus bagi para lansia.

Teori Aktivitas[sunting | sunting sumber]

Teori aktivitas dikembangkan oleh J. Havigrust, seorang ahli Gerontologi pada tahun 1961 dan awalnya dikemukakan sebagai respon atas teori keterasingan yang baru dipublikasikan waktu itu. Menurut teori ini, para lansia akan lebih bahagia jika tetap memiliki aktivitas dan melakukan interaksi sosial. Aktivitas para lansia, terutama aktivitas yang bermakna, akan membantu mereka mencari pengganti dari peran yang hilang setelah pensiun dan membantu mengatasi keterbatasan mereka dalam interaksi sosial.

Teori ini dipandang lebih positif dan diterima lebih luas jika dibandingkan dengan teori keterasingan. Namun, teori ini dianggap masih kurang lengkap karena mengapaikan faktor kesehatan dan ekonomi di dalamnya. Padahal kedua faktor tersebut sangat penting untuk menentukan apakah para lansia dapat mengikuti kegiatan-kegiatan untuk tetap aktif sebagaimana disarankan dalam teori ini. Selain itu, sebagian lansia juga tidak ingin terlibat dalam tantangan-tantangan baru.

Continuity Theory[sunting | sunting sumber]

Proses penuaan akan semakin cepat jika tahap adaptasi terhadap lingkungan rendah. Sebaliknya, proses penuaan akan berlangsung secara alamiah (60-an tahun) mengandaikan tahap interaksi seorang individu terhadap lingkungannya berjalan dengan baik.

Social Exchange Theory[sunting | sunting sumber]

Menjalankan hari tua yang baik merupakan satu perjuangan individu. Interaksi sosial yang dijalankan oleh seorang lansia berpengaruh terhadap proses penuaannya. Dengan demikian, semakin seorang pandai bergaul dengan masyarkat di sekitarnya, maka dengan itu pula proses penuaannya akan sedikit diredam.

Rujukan Pendukung[sunting | sunting sumber]

  1. Komisi Nasional Lanjut Usia,  Kumpulan Kesepakatan Internasional di Bidang Lanjut Usia, Jakarta, 2013.
  2. Komisi Nasional Lanjut Usia, Aksesibilitas dan Kemudahan dalam Penggunaan Sarana dan Prasarana bagi Lanjut Usia, Jakarta, 2010.
  3. Komisi Nasional Lanjut Usia, Pedomaan Active Ageing (Penuaan Aktif) bagi Pengelolah dan Masyarakat, Jakarta, 2010.
  4. Komisi Nasional Lanut Usia, Laporan Global WHO tentang Prevensi Jatuh di Masa Tua, Nugroho Abikusno (penerj.), Jakarta, Tanpa Tahun.
  5. Komisi Nasional Lanjut Usia,  Pengenalan Gerontologi dan Geriartri bagi Masyarakat, Jakarta, 2013.
  6. Komnas Nasional Lansia “Bersama Meningkatkan Aktualisasi Lanjut Usia” dalam Seminar, Jakarta, 1 Desember 2009.
  7. Kerjasama antara Komisi Nasional Lanjut Usia dengan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Tindak Penipuan, Pelecehan, Penelantaran dan Kekerasan, Jakarta, 2009.
  8. Komisi Nasional Lanjut Usia,  Pedomaan Rumah Pelayanan dan Kegiatan Lansia, Jakarta, 2013.
  9. Komisi Nasional Lanjut Usia, Hasil Survei Partisipasi Masyarakat dalam Meningkatkan Kesejahteraan Lanjut Usia dan “80-up”, Jakarta, 2013.
  10. Komisi Nasional Lanjut Usia, Laporan Pelaksanaan Program Kerja Komisi Nasional Lanjut Usia Tahun 2012, Jakarta, 2013.
  11. Komisi Nasional Lanjut Usia,  Lanjut Usia dalam Kebencanaan: Suatu Perspektif Penuaan Aktif, Nugroho Abikusno (penerj.), Jakarta, Tanpa Tahun.
  12. Komisi Nasional Lanjut Usia, Kota Ramah Lansia Dunia: sebuah Pedomaan, Jakarta, 2013.
  13. Departemen Sosial RI, Rencana Aksi Nasional Lanjut Usia Tahun 2004-2009, Jakarta, 2008.
  14. Majalah Lansia Tahun 5, Edisi 08, 2011.
  15. Kadarisman “Pengantar Industrial Gerontologi” dalam Griya Lumintu.
  16. Kadarisman “Mengkaji Isu-isu atau Konsep Industrial Gerontology” dalam Griya Lumintu
  17. Buletin Gerontologi dan Geriatri, No. 39-40/2006.
  18. Komnas Nasional Lanjut Usia “Pengembangan Kurikulum Gerontologi sebagai Mata Ajar Multidisiplin di Perguruan Tinggi” dalam Workshop Center of Ageing Study tentang Gerontologi, 17 November 2011.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Gerontogy. Diakses 5 Maret 2015
  2. ^ Ibid
  3. ^ http://gerontologist.oxfordjournals.org/. Diakses 5 Maret 2015
  4. ^ "BECOME A GERONTOLOGIST", dimuat dalam http://careersinpsychology.org/become-a-gerontologist/ Diakses 5 Maret 2015
  5. ^ Gerontology.Diakses 5 Maret 2015
  6. ^ Harvey L. Sterns and Marie A. BernardAnnual, Review of Gerontology and Geriatrics, Volume 28, 2008
  7. ^ Bdk. E. Birren James & Schaie Klaus Warner (2001), Handbook of the Phsicology of Aging. Gulf Professional Publishing, Hal. 9
  8. ^ Bdk. E. Birren James & Schaie Klaus Warner (2001), Handbook of the Phsicology of Aging. Gulf Professional Publishing, Hal. 12-14
  9. ^ Bdk. E. Birren James & Schaie Klaus Warner (2001), Handbook of the Phsicology of Aging. Gulf Professional Publishing, hlm. 16-17
  10. ^ Bdk. Gerontology. Diakses 5 Maret 2015
  11. ^ Ibid
  12. ^ Social Worker in Gerontology (SW-G). Diakses 5 Maret 2015
  13. ^ Gerontology. Diakses 5 Maret 2015
  14. ^ Konten sub judul ini diterjemahkan dan diringkas dari 1.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2995895/; 2. http://www.biologicalgerontology.com/3.http://www.senescence.info/aging_definition.html. Diakses 5 Maret 2015
  15. ^ Bagian ini diterjemahkan dan diringkas dari http://study.com/academy/lesson/psychosocial-theories-of-aging-activity-theory-continuity-theory-disengagement-theory.html dan http://www.hindawi.com/journals/jar/2012/934649/