Sosiologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sosiologi adalah ilmu yang membahas tentang berbagai aspek dalam masyarakat serta pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Istilah sosiologi pertama kali digunakan oleh Auguste Comte dan kemudian diperluas menjadi suatu disiplin ilmiah oleh Émile Durkheim.[1] Perkembangan sosiologi sebagai ilmu dibagi menjadi empat tahap, yaitu masa abad pertengahan, masa abad renaisans, masa sosiologi sebagai ilmu tentang masyarakat dengan menggunakan metode ilmiah dari keilmuan lain (abad ke-18 M), dan masa sosiologi sebagai ilmu dengan metode ilmiah yang mandiri (abad ke-19 M).[2] Sosiologi memiliki objek kajian yang jelas dan dapat diselidiki melalui metode-metode ilmiah serta dapat disusun menjadi suatu sistem yang masuk akal dan saling berhubungan. Objek kajian utama dalam sosiologi ialah struktur masyarakat, unsur sosial, sosialisasi dan perubahan sosial.[3] Cabang-cabang ilmu sosiologi bersifat gabungan antara ilmu tentang gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat dengan ilmu-ilmu lainnya.[4]

Penggunaan istilah[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, manusia menyatukan segala bidang pengetahuan sebagai bagian dari filsafat alam. Kemudian filsafat alam berkembang menjadi berbagai cabang ilmu, salah satunya ialah filsafat sosial. Filsafat sosial membahas tentang etika yang perlu ada dan diiterapkan di dalam masyarakat. Tokoh-tokohnya yaitu Plato (429–347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Plato membahas tentang unsur sosiologi dalam bernegara, sedangkan Aristoteles membahas tentang etika sosial. Dalam perkembangannya, sosiologi menjadi pengetahuan yang berbeda dengan filsafat sosial. Sosiologi lebih mengutamakan pengetahuan tentang realitas sosial di dalam masyarakat, dibandingkan dengan pengetahuan tentang cara masyarakat dalam menerapkan etika.[5] Konsep sosiologi kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean Jaques Rousseau melalui pemikiran tentang kontak sosial. Konsep pemikiran sosiologi ini belum dianggap sebagai ilmu hingga awal tahun 1800-an.[6]

Istilah sosiologi digunakan pertama kali oleh Auguste Comte dalam bukunya yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” yang diterbitkan pada tahun 1838 M dan kemudian dipopulerkan oleh Herbert Spencer pada tahun 1876 melalui penerbitan bukunya yang berjudul Principles of Sociology.[7] Istilah sosiologi diperoleh dari dua kata dalam bahasa Latin yaitu Socius dan Logos. Kata Socius berarti kawan, sedangkan kata Logos berarti ilmu pengetahuan.[8]

Definisi[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Eropa merupakan pencetus sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmiah. Sosiologi sebagai ilmu tentang masyarakat memiliki batasan-batasan yang membedakannya dengan disiplin ilmiah lainnya.[9] Berikut beberapa definisi sosiologi menurut para ahli:

  1. Pitirim Sorokin : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara beragam gejala sosial, gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan ciri-ciri umum dari semua jenis gejala-gejala sosial lain.[10]
  2. Albert J. Reiss, Jr : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kelompok-kelompok sosial yang membentuk organisasi sosial atau lembaga sosial, dan pranata sosial serta dampak yang ditimbulkannya.
  3. Meta Spencer dan Alex Inkeles : Sosiologi adalah ilmu tentang kelompok hidup manusia.
  4. David Popenoe : Sosiologi adalah ilmu tentang interaksi manusia dalam masyarakat sebagai suatu keseluruhan.
  5. Roucek dan Warren : sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok sosial.[3]
  6. William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf : sosiologi adalah penelitian ilmiah tentang interaksi sosial yang menghasilkan organisasi sosial.[3]
  7. J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers : sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.[11]
  8. Max Weber : Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.[12]
  9. Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi : Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.[13]
  10. Paul B. Horton : sosiologi adalah ilmu yang memusatkan pemahaman mengenai kehidupan kelompok dan produk kehidupan yang dihasilkannya.[14]
  11. Soerjono Soekanto : sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.[15]
  12. William Kornblum : sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
  13. Allan Jhonson : sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku sosial serta pengaruh individu terhadap individu lain dan terhadap sistem sosial.[14]
  14. Émile Durkheim : Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.[16]
  15. Nursid Sumaatmadja : Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang hubungan sosial, artinya bahwa manusia adalah makhluk aktif yang mengadakan kontak sosial dengan interaksi sosial yang berupa tingkah laku dan dapat saling mempengaruhi.
  16. Hassan Shadily : Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang cara individu-individu di dalam masyarakat agar dapat hidup bersama dengan membentuk ikatan-ikatan antar individu serta cara untuk memaknai dan mengendalikan tujuan hidup bersama dengan membentuk perserikatan-perserikatan hidup serta kepercayaan.[17]
  17. P.J. Bouman: Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan sosial antarmanusia dalam hubungan antar individu dengan kelompok, sifat dan perubahan-perubahan, lembaga-lembaga serta ide-ide sosial.[18]
  18. Georg Simmel: Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat dalam konteks individu secara khusus dan tidak terikat, namun menghasilkan interaksi sosial sebagai realitas sosial.[19]

Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan Sosial[20]

Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang disusun secara sistematis, diperoleh dari aktivitas berpikir manuia melalui metode tertentu. Kebenaran ilmu pengetahuan dapat diuji secara kritis oleh orang lain. Secara garis besar, ilmu pengetahuan terbagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut.

a. Ilmu pengetahuan alam (natural sciences), yaitu ilmu yang mengkaji gejala-gejala alam, baik hayati maupun nonhayati. Ilmu pengetahuan alam antara lain matematika, biologi, fisika, dan kimia.

b. Ilmu pengetahuan sosial (social sciences), yaitu ilmu yang mengkaji kehidupan bersama manusia dengan sesamanya, ilmu pengetahuan sosial antara lain sosiologi, politik, hukum, dan ekonomi.

c. Ilmu pengetahuan budaya (humanistic study), yaitu ilmu yang mempelajari manifestasi atau perwujudan spiritual dari kehidupan bersama manusia. Ilmu pengetahuan budaya antara lain kesastraan, bahasa, agama, filsafat dan kesenian.

Hakikat[sunting | sunting sumber]

Hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan sebagai berikut.[21]

  • Sosiologi adalah ilmu sosial, bukan ilmu pengetahuan alam atau ilmu pasti karena yang dipelajari adalah gejala-gejala kemasyarakatan.
  • Sosiologi termasuk disiplin ilmiah kategori, bukan merupakan disiplin ilmiah normatif karena sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi.
  • Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan murni dan dalam perkembangannya sosiologi menjadi ilmu pengetahuan terapan.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan abstrak dan bukan ilmu pengetahuan konkret. Artinya yang menjadi perhatian adalah bentuk dan pola peristiwa dalam masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya peristiwa itu sendiri.
  • Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian dan pola-pola umum, serta mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia, sifat, hakikat, bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Hal ini menyangkut metode yang digunakan.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum, artinya sosiologi mempunyai gejala-gejala umum yang ada pada interaksi antara manusia.

Ciri-Ciri[sunting | sunting sumber]

Sosiologi merupakan salah satu bidang ilmu sosial yang mempelajari tentang masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu telah memenuhi semua unsur ilmu pengetahuan. Ciri utama dari sosiologi sebagai ilmu ialah empiris, teoretis, kumulatif dan nonetis. Empiris, yaitu didasarkan pada pengamatan dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat perkiraan. Teoretis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil pengamatan yang nyata dan abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjalankan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori. Kumulatif, yaitu disusun atas dasar teori-teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas sehingga memperkuat teori-teori yang lama. Nonetis, yaitu pembahasan suatu masalah tidak mempersoalkan baik atau buruk masalah tersebut, tetapi lebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secara mendalam.[22]

Sudut pandang[sunting | sunting sumber]

Sosiologi merupakan ilmu yang dapat diamati dalam sudut pandang yang beragam, karena manusia merupakan makhluk yang perilakunya berubah-ubah.[23] Hal utama yang dijadikan acuan dalam menyusun sudut pandang sosiologi adalah persoalan utama dalam dunia sosial. Sosiologi memunculkan banyak sudut pandang yang beragam yang saling berkaitan sekaligus saling bersaing satu sama lainnya. Pada awalnya, sudut pandang dalam sosiologi dapat dibedakan menjadi sudut pandang fakta sosial, sudut pandang definisi sosial, sudut pandang perilaku sosial. Pada perkembangan selanjutnya, muncul sudut pandang baru yaitu sudut pandang positivistik, sudut pandang konstruksi sosial, dan sudut pandang kritis.[24]

Sudut pandang fakta sosial[sunting | sunting sumber]

Sosiologi dapat dipandang melalui fakta sosial berupa realitas sosial mengenai adanya struktur sosial dalam masyarakat. Realitas sosial ini terbentuk secara mandiri tanpa ada kaitannya dengan individu-individu yang ada dalam suatu masyarakat. Fakta sosial ini berbentuk seperangkat aturan dalam masyarakat yang terpisah dari masyarakat tetapi tetap mempengaruhi perilaku sosial dari masyarakat tersebut.[24]

Sudut pandang definisi sosial[sunting | sunting sumber]

Sosiologi dapat dipandang dari cara dan proses berpikir manusia sebagai individu yang melakukan suatu tindakan secara bertanggung jawab untuk menemukan nilai sosial melalui interaksi sosial. Di dalam masyarakat, manusia sebagai individu tetap patuh terhadap struktur sosial dan pranat sosial yang telah ada. Sosiologi dipandang sebagai proses perilaku sosial dan interaksi sosial yang berasal dari kehendak individu. Dalam sudut pandang definisi sosial, hakikat dari realitas sosial berbentuk keinginan dan tindakan individu yang sifatnya subjektif. Sosiologi dalam sudut pandan definisi sosial mengacu pada makna yang dihasilkan oleh individu bagi masyarakatnya.[25]

Sudut pandang perilaku sosial[sunting | sunting sumber]

Sosiologi yang dipandang melalui perilaku sosial lebih mengutamakan sifat yang dapat diamati melalui panca indera serta bersifat objektif. Acuan utama dalam sudut pandang perilaku sosial adalah interaksi sosial yang berbentuk perilaku sosial yang dapat dipelajari melalui pengamatan secara langsung. Sosiologi dalam sudut pandang perilaku sosial tidak mementingkan makna dari perilaku sosial, melainkan pengamatan dari perilaku itu sendiri secara berulang-ulang. Interaksi sosial dipandang sebagai suatu proses tanggapan dan rangsangan yang memiliki hubungan timbal balik.[26]

Sudut pandang positivistik[sunting | sunting sumber]

Sudut pandang positivistik diperoleh dari filsafat positivistik Rene Descartes dan didukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimulai sejak abad pencerahan. Sebelum adanya sudut pandang positivistik, masyarakat sepenuhnya diatur oleh negara dan agama yang mengendalikan pemikiran yang bersifat metafisika dan teologis.[27] Memasuki abad ke-14 Masehi, masyarakat Eropa khususnya Skotlandia, memulai menunjukkan ketidaksesuaian antara nalar dan agama dan memilih mencari kebenaran pengetahuan melalui pembuktian secara empiris. Pemikiran ini kemudian berkembang di Inggris dan menyebar ke Eropa Daratan.[28]

Sudut pandang konstruktivistik[sunting | sunting sumber]

Sudut pandang konstuktivistik dihasilkan melalui proses dari perdebatan teoretik dalam sejarah perkembangan sosiologi itu sendiri. Teori-teori sosial yang bersifat umum mulai diperdebatkan sehingga menghasilkan berbagai teori sosial yang bersifat khusus dan terperinci pada suatu kajian tertentu. Selain itu, sudut pandang konstruktivistik juga muncul akibat adanya perdebatan antara penggunaan metode yang subjektif atau objektif dalam ilmu sosial serta perdebatan mengenai penggunaan metode ilmiah atau pengamatan simbolik.[29]

Sudut pandang kritis[sunting | sunting sumber]

Sudut pandang kritis mulai terbentuk ketika sosiologi dianggap tidak mampu menciptakan perubahan sosial dan perubahan politik yang mampu menciptakan masyarakat yang adil dan beradab. Selain itu, sosiologi dianggap terlau mengandalkan metode ilmiah sebagai tujuannya.[30] Para ahli teori kritis menganggap sosiologi hanya berpusat pada kajian masyarakat secara menyeluruh sehingga tidak mempedulikan peran individu, sehingga masyarakat yang adil dan beradab sulit diwujudkan melalui perubahan sosial.[31]

Pokok bahasan[sunting | sunting sumber]

Fakta sosial[sunting | sunting sumber]

Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang tidak dilakukan oleh individu melainkan oleh hal-hal yang berada di sekitarnya. Sifat dari fakta sosial adalah mampu memaksa dan mengendalikan individu tersebut. Segala hal yang berkaitan dengan interaksi sosial merupakan bagian dari fakta sosial. Fakta-fakta ini bersifat objektif dan tidak mengandung nilai subjektif yang berasal dari manusia.[32]

Tindakan sosial[sunting | sunting sumber]

Tindakan sosial merupakan tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan pengaruh dari perilaku orang lain atau dapat memengaruhi orang lain.[32]

Khayalan sosiologis[sunting | sunting sumber]

Khayalan sosiologis merupakan cara untuk memahami apa yang terjadi di dalam individu maupun di dalam masyarakat. Melalui khayalan sosiologi sejarah tokoh masyarakat, sejarah masyarakat dan hubungan keduanya satu sama lain, dapat dengan mudah dipahami. Khayalan sosiologis menggunakan permasalah dan isu sebagai alat untuk memahami masyarakat dan individu di dalamnya.[33]

Realitas sosial[sunting | sunting sumber]

Realitas sosial merupakan hal-hal yang terjadi di dalam kehidupan sosial. Sifat dari reaitas sosial adalah memiliki pola tertentu yang dapat dijelaskan serta saling berkaitan satu sama lain.[34]

Objek[sunting | sunting sumber]

Sosiologi tidak memiliki fokus kajian pada bidang-bidang yang memiliki spesialisasi tertentu, melainkan mengkaji fenomena sosial secara umum. [35] Objek kajian utama dalam sosiologi ialah masyarakat.[36] Masyarakat adalah sekelompok individu yang hidup secara bersama-sama dalam suatu wilayah dan mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya.[37] Penyelidikan terhadap masyarakat dilakukan melalui sudut pandang hubungan antara manusia dan proses yang ditimbulkannya dalam masyarakat. Sosiologi mengkaji hubungan timbal balik antara manusia dengan manusia lain, hubungan antara individu dengan kelompok, dan hubungan antara kelompok satu dengan kelompok lain. Selain itu, sosiologi juga mengkaji sifat-sifat dari kelompok-kelompok sosial yang bermacam-macam coraknya.[38]

Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mempunyai beberapa objek, yaitu objek material, objek formal, objek budaya dan objek agama.[39] Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala dan proses hubungan antara manusia yang memengaruhi kesatuan manusia itu sendiri.[40] Objek formal sosiologi lebih ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial atau masyarakat. Dengan demikian objek formal sosiologi adalah hubungan manusia antara manusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.[40] Objek budaya salah satu faktor yang dapat memengaruhi hubungan satu dengan yang lain. Sedangkan objek agama menjadi pemicu dalam hubungan sosial masyarakat, dan banyak juga hal-hal ataupun dampak yang mempengaruhi hubungan manusia.[39]

Ruang lingkup kajian[sunting | sunting sumber]

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji lebih mendalam pada bidang sosial dengan cara yang beragam.[41] Hampir semua gejala sosial yang terjadi di desa maupun di kota, dalam individu ataupun kelompok, merupakan ruang kajian yang sesuai bagi sosiologi, asalkan menggunakan prosedur ilmiah. Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya.[42] Hal ini dikarenakan ruang lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkungan masyarakat. Ruang lingkup kajian sosiologi dapat dibagi menjadi tiga bidang ilmu utama, yaitu ekonomi, manajemen, dan sejarah. Sosiologi dalam bidang ekonomi meliputi segala kegiatan usaha yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan penggunaan sumber daya alam. Masalah manajemen berkaitan dengan pihak-pihak yang membuat kajian tentang masyarakat, sedangkan persoalan sejarah berhubungan dengan catatan kronologi.[43]

Dalam sosiologi, informasi untuk keperluan penelitian diperoleh dari penggabungan data dari berbagai ilmu pengetahuan. Sosiologi dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah yang dapat memberikan keterangan beserta uraian tentang proses berlangsungnya kehidupan kelompok-kelompok sosial, atau kelompok manusia. Lingkungan hidup, realitas sosial serta sensasi yang dirasakan manusia dapat dijelaskan melalui sosiologi. Selama kelompok itu ada, maka selama itu pula akan terlihat bentuk-bentuk, cara-cara, standar, mekanisme, masalah, dan perkembangan sifat kelompok serta prosesnya. Analisis sosiologi dipengaruhi oleh semua faktor tersebut dalam hubungan antara manusia.[44]

Perkembangan sosiologi[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya sosiologi disebut filsafat sosial karena masih dianggap sebagai ilmu yang bernaung di dalam filsafat, materi yang dibahas pun tidak dapat dikatakan sebagai ilmu sosiologi seperti yang dikenal sekarang. Sebab, pada saat itu materi filsafat sosial masih mengandung unsur etika yang membahas tentang bagaimana seharusnya masyarakat itu, sedangkan sosiologi yang berkembang saat ini merupakan ilmu yang membicarakan bagaimana kenyataan yang ada dalam masyarakat.

Perkembangan pada abad pencerahan[sunting | sunting sumber]

Banyak ilmuwan-ilmuwan besar pada zaman dahulu, seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa manusia terbentuk begitu saja. Tanpa ada yang bisa mencegah, masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran. Pendapat itu kemudian ditegaskan lagi oleh para pemikir pada abad pertengahan, seperti Agustinus, Ibnu Sina, dan Thomas Aquinas. Mereka berpendapat bahwa sebagai makhluk hidup yang fana, manusia tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang akan terjadi dengan masyarakatnya. Pertanyaan dan pertanggungjawaban ilmiah tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa ini. Berkembangnya ilmu pengetahuan pada abad pencerahan (sekitar abad ke-17 M), turut berpengaruh terhadap pandangan mengenai perubahan masyarakat, ciri-ciri ilmiah mulai tampak pada abad ini. Para ahli pada zaman itu berpendapat bahwa pandangan mengenai perubahan masyarakat harus berpedoman pada akal budi manusia.

Pengaruh perubahan yang terjadi pada abad pencerahan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1839, Auguste Comte menciptakan istilah sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan. terhadap keseluruhan pengetahuan manusia mengenai kehidupan bermasyarakat, hal ini disebut sebagai tahap pemikiran awal sosiologi. Perubahan-perubahan besar pada abad pencerahan, terus berkembang secara revolusioner sapanjang abad ke-18 M. Dengan cepat struktur masyarakat lama berganti dengan struktur yang lebih baru. Hal ini terlihat dengan jelas terutama dalam revolusi Amerika, revolusi industri, dan revolusi Prancis. Gejolak-gejolak yang diakibatkan oleh ketiga revolusi ini terasa pengaruhnya di seluruh dunia. Para ilmuwan tergugah, mereka mulai menyadari pentingnya menganalisis perubahan dalam masyarakat.

Gejolak abad revolusi[sunting | sunting sumber]

Perubahan yang terjadi akibat revolusi benar-benar mencengangkan. Struktur masyarakat yang sudah berlaku ratusan tahun rusak. Bangsawan dan kaum rohaniwan yang semula bergelimang harta dan kekuasaan, disetarakan haknya dengan rakyat jelata. Raja yang semula berkuasa penuh, kini harus memimpin berdasarkan undang-undang yang di tetapkan. Banyak kerajaan-kerajaan besar di Eropa yang jatuh dan terpecah.

Revolusi Prancis berhasil mengubah struktur masyarakat feodal ke masyarakat yang bebas

Gejolak abad revolusi itu mulai menggugah para ilmuwan pada pemikiran bahwa perubahan masyarakat harus dapat dianalisis. Mereka telah menyakikan betapa perubahan masyarakat yang besar telah membawa banyak korban berupa perang, kemiskinan, pemberontakan dan kerusuhan. Bencana itu dapat dicegah sekiranya perubahan masyarakat sudah diantisipasi secara dini.

Perubahan drastis yang terjadi semasa abad revolusi menguatkan pandangan betapa perlunya penjelasan rasional terhadap perubahan besar dalam masyarakat. Artinya:

  • Perubahan masyarakat bukan merupakan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan dapat diketahui penyebab dan akibatnya.
  • Harus dicari metode ilmiah yang jelas agar dapat menjadi alat bantu untuk menjelaskan perubahan dalam masyarakat dengan bukti-bukti yang kuat serta masuk akal.
  • Dengan metode ilmiah yang tepat (penelitian berulang kali, penjelasan yang teliti, dan perumusan teori berdasarkan pembuktian), perubahan masyarakat sudah dapat diantisipasi sebelumnya sehingga krisis sosial yang parah dapat dicegah.

Kelahiran sosiologi modern[sunting | sunting sumber]

Pada awal abad ke-20 Masehi, terjadi imigrasi besar-besaran dari Eropa menuju ke Amerika Utara. Pertumbuhan penduduk yang pesat menimbulkan berbagai masalah sosial berupa tindakan kriminal. Selain itu, pertumbuhan penduduk juga membentuk kota-kota baru yang maju dalam bidang industri, sehingga terjadi perubahan sosial dalam masyarakat. Para ilmuwan kemudian mulai meneliti perubahan sosial ini, sehingga sosiologi mengalami perkembangan yang pesat di Amerika Serikat dan Kanada. Teori-teori sosiologi yang berkembang di Eropa mulai diganti dengan teori-teori baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat Amerika, sehingga terciptalah sosiologi modern. Pendekatan sosiologi modern mengutamakan pengetahuan empiris dengan penekanan pada fakta sosial yang dapat dipelajari dalam perubahan masyarakat. Berdasarkan fakta sosial itu, ditemukan kesimpulan yang lebih menyeluruh dan cakupannya lebih luas terhadap perubahan masyarakat.[45]

Cabang keilmuan[sunting | sunting sumber]

Sosiologi pengetahuan[sunting | sunting sumber]

Sosiologi pengetahuan merupakan cabang ilmu sosiologi yang mempelajari pengetahuan dan pemikiran manusia yang berkaitan dengan proses sosial dan faktor yang mempengaruhinya dalam suatu kondisi sosial.[46] Istilah sosiologi pengetahuan diperkenalkan pertama kali oleh Max Scheler.[47]

Sosiologi agama[sunting | sunting sumber]

Sosiologi agama merupakan salah satu cabang sosiologi yang mempelajari masyarakat dari sudut pandang agama secara universal. Dalam sosiologi agama, nilai kebenaran filsafat serta dogma dalam teologi tidak dijadikan sebagai bahan kajian. Sosiologi agama mengkaji tentang kehidupan sosial dan kebudayaan dalam masyarakat sebagai penggambaran dari keagamaan.[48] Pendekatan sosiologi agama cenderung menggunakan kelebihan dan kekurangan pada suatu agama sebagai objek kajian.[49] Objek kajian utama dalam sosiologi agama ialah hubungan antarindividu dan antarkelompok di dalam organisasi keagamaan serta hubungan antara suatu organisasi keagamaan dengan organisasi keagamaan lainnya.[50] Dalam sosiologi agama, keyakinan kerohanian merupakan struktur sosial yang menciptakan integrasi sosial pada individu-individu di dalam masyarakat.[51]

Sosiologi hukum[sunting | sunting sumber]

Sosiologi hukum merupakan cabang ilmu sosiologi yang menjelaskan hukum secara positif dengan mempertimbangkan ilmu kemasyarakatan. Sosiologi hukum diperkenalkan pertama kali pada tahun 1882 oleh ilmuwan berkebangsaan Italia yang bernama Anzilotti. Sosiologi hukum menggabungkan pemikiran filsafat hukum, filsafat ilmu dan ilmu sosial dari berbagai pemikiran dengan pendapat yang berbeda-beda. Penjelasan ilmiah dalam sosiologi hukum disampaikan dengan metode deskripsi dan eksplorasi.[52] Dalam sosiologi hukum, masyarakat dianggap sebagai suatu sistem sosial yang menjadi tempat diterapkannya proses hukum.[53] Sosiologi hukum memanfaatkan pola-pola perlambangan hukum, prosedur hukum, dan sanksi, untuk menafsirkan kebiasaan-kebiasaan dan penerapan materi hukum.[54] Aktivitas penelitian dalam sosiologi hukum menerapkan proses berpikir yang rasional dan teleologis.[55]

Sosiologi pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sosiologi pendidikan merupakan cabang ilmu sosiologi yang mempelajari hubungan antara manusia dalam pendidikan melalui pendekatan sosial dan menggunakan metode ilmiah.[56] Penggunaan istilah sosiologi pendidikan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1899 oleh John Dewey dalam bukunya yang berjudul School and Society. Konsep awal dari sosiologi pendidikan yaitu peran lembaga pendidikan sebagai pranata sosial.[57] Konsep ini kemudian dikembangkan lagi oleh Ilmuwan-ilmuwan di bidang ilmu pendidikan dan ilmu sosial yaitu A. W. Small, E. A.Kirkpatrick, C. A. Elwood, Alvin Good, dan S. T. Dutton. Pengembangan konsep berkaitan dengan peranan sosiologi bagi pendidikan, terutama pendidikan anak oleh keluarga dan masyarakat. Konsep sosiologi pendidikan mengalami perkembangan lebih lanjut setelah John Dewey kembali menerbitkan buku pada tahun 1916 yang berjudul Democracy and Education.[58]

Sosiologi politik[sunting | sunting sumber]

Perumusan batasan sosiologi politik dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Pendekatan pertama, sosiologi politik dijadikan sebagai sebuah hubungan masyarakat yang memiliki interaksi sosial dalam bentuk politik dan hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara politik dan masyarakat.[59] Pendekatan kedua, sosiologi politik dijadikan sebagai pendekatan bagi konsep, variabel, teori dan metodologi dalam memahami fenomena sosial. Pada pendekatan kedua, sosiologi politik menjadi penjelas bagi kegiatan politik yang merupakan bagian dari realitas sosial. Kegiatan ini melliputi pembagian kekuasaan dan kewenangan, pengambilan keputusan dalam kebijakan kehidupan publik, pemerintahan, dan negara serta pengambilan keputusan dalam konflik dan resolusi konflik.[60]

Sosiologi kesehatan[sunting | sunting sumber]

Sosiologi kesehatan merupakan salah satu cabang sosiologi yang berawal dari perkembangan sosiologi kedokteran. Penyebab dibentuknya sosiologi kedokteran adalah diperlukannya faktor-faktor sosial yang menentukan pola penyebaran penyakit. Setelah terjadi perubahan sudut pandang dari penyebaran penyakit menjadi pencegahan penyakit, maka sosiologi kesehatan pun dibentuk dan terpisah dari sosiologi kedokteran.[61] Dalam sosiologi kesehatan, pengelolaan masalah kesehatan dilakukan dengan pendekatan sosiologi.[62]

Sosiologi ekonomi[sunting | sunting sumber]

Sosiologi ekonomi merupakan salah satu cabang sosiologi yang membahas tentang cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam sosiologi ekonomi, fenomena ekonomi yang terjadi dijelaskan dengan pendekatan sosiologi. Fenomena ekonomi yang dikaji berupa proses produksi, distribusi, dan konsumsi sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai kesejahteraan. Pendekatan sosiologis yang digunakan guna mengamati fenomena ekonomi meliputi kerangka acuan, variabel, indikator, serta model sosiologi dalam menjelaskan fenomena sosial di dalam masyarakat.[63]

Sosiologi pembangunan[sunting | sunting sumber]

Sosiologi pembangunan merupakan salah satu cabang sosiologi yang mempelajari masyarakat sebagai subjek sekaligus objek pembangunan. Dalam proses pembangunan, masyarakat menjadi penyebab terjadinya pembangunan sekaligus penerima dampak dari pembangunan yang dilakukan. Pembangunan dianggap sebagai cara untuk melakukan humanisasi terhadap masyarakat.[64] Konsep dasar dari sosiologi pembangunan dibentuk oleh Karl Marx, Max Weber, dan Durkheim.[65]

Sosiologi pedesaan[sunting | sunting sumber]

Sosiologi pedesaan merupakan bagian dari ilmu sosiologi terapan yang ditujukan bagi masyarakat pedesaan.[1] Pada masa klasik sosiologi pedesaan diartikan sebagai keadaan sosial dari desa-desa di Eropa yang menggambarkan perbedaannya secara jelas bila dibandingkan dengan keadaan kota. Pada masa modern, sosiologi pedesaan diartikan sebagai cara masyarakat pedesaan dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan kapitalisme yang mempengaruhi pertanian.[66] Perkembangan ilmu sosiologi pedesaan berlangsung pesat di Amerika Serikat melalui karya tulis ilmiah T. Lynn Smith dan Paul E. Zopf pada tahun 1970 serta pada tahun 1972 melalui karya tulis ilmiah Galeski.[67]

Sosiologi perkotaan[sunting | sunting sumber]

Sosiologi perkotaan merupakan salah satu cabang sosiologi yang mempelajari tentang gejala sosial akibat dari interaksi sosial yang terjadi di dalam kawasan perkotaan. Objek kajian utama dalam sosiologi perkotaan adalah interaksi yang terjadi pada masyarakat perkotaan yang dipengaruhi oleh lingkungan kota.[68] Kajian tentang sosiologi perkotaan mulai dibahas pertama kali oleh Chicago School dalam buku pedoman tentang ekologi manusia. Pada tahun 1950, Chicago School kemudian menerbitkan buku pedoman tentang sosiologi urban.[69] Kajian dalam sosiologi perkotaan melingkupi keterangan umum tentang perkotaan, urbanisasi, pembagian kawasan perkotaan, masyarakat perkotaan, permasalahan urban, dan struktur sosial.[70]

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Teori-teori dalam ilmu sosiologi dapat digunakan untuk untuk menjadi rangkuman pengetahuan mengenai hal-hal yang diketahui dan telah teruji kebenarannya dalam ilmu sosial. Rangkuman pengetahuan ini kemudian dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melengkapi kekurangan-kekurangan individu terhadap pengetahuan sosial. Pengetahuan yang lengkap ini kemudian dapat memperjelas fakta sosial serta dapat membentuk susunan konsep tentang arah perkembangan masyarakat. Teori-teori sosiologi juga dapat dimanfaatkan dalam rangka pembangunan masyarakat. Perencanaan pembangunan masyarakat harus diawali dengan pengumpulan informasi berupa data masyarakat yang akan dikembangkan. Selanjutnya, diperlukan informasi tentang dampak yang dapat ditimbulkan akibat pengembangan masyarakat melalui pembangunan. Data yang diperlukan secara lebih rinci berupa pola interaksi sosial, kelompok-kelompok sosial, maupun tokoh masyarakat yang memiliki peran penting dalam pembangunan. Data tentang kebudayaan yang dapat memperlambat atau mempercepat proses pembangunan juga diperlukan.[71]

Penerapan teori sosiologi dalam kehidupan nyata untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial. Masalah-masalah sosial dan pembangunan juga menjadi mudah untuk diselesaikan karena adanya data yang akurat yang diperoleh pemerintah melalui pemeriksaan yang ketat. Tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga tahap evaluasi dilakukan dengan teliti. Tahap perencanaan data didasarkan pada nilai sosial dan aspirasi yang ada atau mungkin ada dalam masyarakat jika kebijakan dilaksanakan. Kekuatan sosial yang penting dan berpengaruh juga harus diketahui keberadaannya pada saat pelaksanaan pembangunan dan kebijakan. Sedangkan, tahap evaluasi melibatkan dampak-dampak dari kebijakan terhadap pola interaksi sosial dan kondisi masyarakat yang ada. Teori sosiologi juga dapat membantu siapa pun yang ingin berperan atau tampil dalam masyarakat dengan cara memahami nilai-nilai dan kekuatan-kekuatan yang penting yang dapat digunakan atau dirangkul untuk bersama membangun peran sosial. Selain itu, teori sosiologi dapat membantu mengenali adanya perbedaan sosial antara kelompok dan mempermudah terciptanya pluralitas masyarakat yang stabil demi pembangunan dan kemajuan bersama.[72]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Murdiyanto 2008, hlm. 1.
  2. ^ Elisanti dan Rostini 2009, hlm. 7.
  3. ^ a b c Zaitun 2016, hlm. 2.
  4. ^ Sukardi dan Rohman 2009, hlm. 9.
  5. ^ Suhardi dan Sunarti 2009, hlm. 3.
  6. ^ Suhardi dan Sunarti 2009, hlm. 3-4.
  7. ^ Murdiyanto 2008, hlm. 2.
  8. ^ "Sosiologi: Pengertian, sejarah, dan Ciri-cirinya". 
  9. ^ Murdiyanto 2008, hlm. 3.
  10. ^ Sudarmi dan Indriyanto 2009, hlm. 5.
  11. ^ Budiati 2009, hlm. 11.
  12. ^ Widianti 2009, hlm. 3.
  13. ^ Waluya 2009, hlm. 5.
  14. ^ a b Murdiyanto 2008, hlm. 4.
  15. ^ Sudarmi dan Indriyanto 2009, hlm. 6.
  16. ^ Waluya 2009, hlm. 4.
  17. ^ Suhardi dan Sunarti 2009, hlm. 9.
  18. ^ Elisanti dan Rostini 2009, hlm. 9.
  19. ^ Budiati 2009, hlm. 10.
  20. ^ Purwasih, Joan Hesti Gita (2016). Sosiologi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Klaten: PT Intan Pariwara. hlm. 4. ISBN 979-28-1442-2 Periksa nilai: checksum |isbn= (bantuan). 
  21. ^ Kamanto Sunarto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI. Hlm. 5
  22. ^ William D Perdue. 1986. Sociological Theory: Explanation, Paradigm, and Ideology. Palo Alto, CA: Mayfield Publishing Company. Hlm. 20
  23. ^ Sukardi dan Rohman 2009, hlm. 8.
  24. ^ a b Wirawan 2012, hlm. 2.
  25. ^ Wirawan 2012, hlm. 95.
  26. ^ Wirawan 2012, hlm. 169.
  27. ^ Septiarti, dkk. 2017, hlm. 30.
  28. ^ Septiarti, dkk. 2017, hlm. 31.
  29. ^ Septiarti, dkk. 2017, hlm. 35-36.
  30. ^ Septiarti, dkk. 2017, hlm. 42-43.
  31. ^ Septiarti, dkk. 2017, hlm. 43.
  32. ^ a b Soyomukti 2014, hlm. 64.
  33. ^ Soyomukti 2014, hlm. 64-65.
  34. ^ Soyomukti 2014, hlm. 65.
  35. ^ Widianti 2009, hlm. 4.
  36. ^ Zaitun 2016, hlm. 5.
  37. ^ "Pengertian Masyarakat: Definisi, Fungsi, Syarat, Unsurnya [LENGKAP]". Nesabamedia. 2019-03-31. Diakses tanggal 2020-11-20. 
  38. ^ Ruswanto 2009, hlm. 5.
  39. ^ a b James. M. Henslin, 2002. Essential of Sociology: A Down to Earth Approach Fourth Edition. Boston: Allyn and Bacon. Hlm 10
  40. ^ a b Ruswanto 2009, hlm. 3.
  41. ^ Pitirim Sorokin. 1928. Contemporary Sociological Theories. New York: Harper. Hlm. 25
  42. ^ Randall Collins. 1974. Conflict Sociology: Toward an Explanatory Science. New York: Academic Press. Hlm. 19
  43. ^ George Ritzer. 1992. Sociological Theory. New York: Mc Graw-Hill. Hlm. 28
  44. ^ Sudarmi dan Indriyanto 2009, hlm. 11.
  45. ^ Murdiyanto 2008, hlm. 26.
  46. ^ Pandaleke 2015b, hlm. 3-4.
  47. ^ Pandaleke 2015b, hlm. 5.
  48. ^ Pramono 2017, hlm. 2.
  49. ^ Pramono 2017, hlm. 5.
  50. ^ Haryanto 2015, hlm. 31.
  51. ^ Haryanto 2015, hlm. 32.
  52. ^ Laksana, dkk. 2017, hlm. 1.
  53. ^ Umanailo 2016, hlm. 6.
  54. ^ Laksana, dkk. 2017, hlm. 10.
  55. ^ Umanailo 2016, hlm. 5.
  56. ^ Zaitun 2016, hlm. 8.
  57. ^ Zaitun 2016, hlm. 9-10.
  58. ^ Zaitun 2016, hlm. 10.
  59. ^ Damsar 2015, hlm. 12.
  60. ^ Damsar 2015, hlm. 13-14.
  61. ^ Rosmalia dan Sriani 2017, hlm. 4.
  62. ^ Rosmalia dan Sriani 2017, hlm. 5.
  63. ^ Mudiarta, K.G. (2011). "Perspektif dan Peran Sosiologi Ekonomi dalam Pembangunan Ekonomi Masyarakat". Forum Penelitian Agro Ekonomi. 29 (1): 56. doi:10.21082/fae.v29n1.2011.55-66. ISSN 2580-2674. 
  64. ^ Jamaludin 2016, hlm. 1-2.
  65. ^ Jamaludin 2016, hlm. 2.
  66. ^ Zid dan Alkhudri 2016, hlm. 2.
  67. ^ Zid dan Alkhudri 2016, hlm. 3.
  68. ^ Pandaleke 2015a, hlm. 4.
  69. ^ Pandaleke 2015a, hlm. 5.
  70. ^ Pandaleke 2015a, hlm. 5-6.
  71. ^ Soyomukti 2014, hlm. 104-105.
  72. ^ Soyomukti 2014, hlm. 105-106.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. Budiati, A. C. (2009). Sosiologi Kontekstual: Untuk SMA dan MA Kelas X (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-219-1. 
  2. Damsar (2015). Pengantar Sosiologi Politik Edisi Revisi (PDF) (edisi ke-4). Jakarta: Prenadamedia Group. ISBN 978-602-9413-16-8. 
  3. Elisanti dan Rostini, T. (2009). Sosiologi 1: untuk SMA / MA Kelas X (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-744-8. 
  4. Haryanto, Sindung (2015). Sosiologi Agama: Dari Klasik hingga Postmodern (PDF). Sleman: Ar-Ruzz Media. ISBN 978-602-313-028-3. 
  5. Jamaludin, A. N. (2016). Sosiologi Pembangunan (PDF). Bandung: CV. Pustaka Setia. ISBN 978-979-076-604-4. 
  6. Laksana, dkk. (2017). Buku Ajar Sosiologi Hukum (PDF). Tabanan: Pustaka Ekspresi. ISBN 978-602-5408-02-1. 
  7. Murdiyanto, E. (2008). Sosiologi Perdesaan: Pengantar untuk Memahami Masyarakat Desa (PDF). Yogyakarta: Wimaya Press. ISBN 978-979-8918-88-9. 
  8. Pandaleke, Alfien (2015a). Sosiologi Perkotaan. Bogor: Maxindo Internasional. ISBN 978-602-72508-0-2. 
  9. Pandaleke, Alfien (2015b). Sosiologi Pengetahuan (PDF). Malang: CV. Diaspora Publisher. ISBN 978-602-72371-1-7. 
  10. Pramono, M. F. (2017). Sosiologi Agama dalam Konteks Indonesia (PDF). Ponorogo: Unida Gontor Press. ISBN 978-602-60033-8-6. 
  11. Rosmalia, D., dan Sriani, Y. (2017). Sosiologi Kesehatan (PDF). Jakarta Selatan: Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan. 
  12. Ruswanto (2009). Sosiologi: SMA / MA Kelas X (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-746-2. 
  13. Septiarti, dkk. (2017). Sosiologi dan Antropologi Pendidikan (PDF). Yogyakarta: UNY Press. ISBN 978-602-6338-47-1. 
  14. Soyomukti, Nurani (2014). Pengantar Sosiologi: Dasar Analisis, Teori & Pendekatan Menuju Analisis Masalah-Masalah Sosial, Perubahan Sosial, & Kajian-Kajian Strategis (PDF). Sleman: Ar-Ruzz Media. ISBN 978-979-25-4801-3. 
  15. Sudarmi, S., dan Indriyanto, W. (2009). Sosiologi 1: Untuk Kelas X SMA dan MA (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-209-2. 
  16. Suhardi dan Sunarti, S. (2009). Sosiologi 1: Untuk SMA/MA Kelas X Program IPS (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-208-5. 
  17. Sukardi, J.S., dan Rohman, A. (2009). Sosiologi: Kelas X untuk SMA / MA (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-747-9. 
  18. Umanailo, M. C. B. (2016). Sosiologi Hukum. Namlea: FAM Publishing. ISBN 978-602-335-213-5. 
  19. Waluya, B. (2009). Sosiologi 1: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-738-7. 
  20. Widianti, W. (2009). Sosiologi 1 : untuk SMA dan MA Kelas X (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-745-5. 
  21. Wirawan, I.B. (2012). Teori-teori Sosial dalam Tiga Paradigma: Fakta Sosial, Definisi Sosial, dan Perilaku Sosial. Jakarta: Prenadamedia Group. ISBN 978-602-9413-63-2. 
  22. Zaitun (2016). Sosiologi Pendidikan (Teori dan Aplikasinya) (PDF). Pekanbaru: Kreasi Edukasi. 
  23. Zid, M., dan Alkhudri, A.T. (2016). Sosiologi Pedesaan: Teoritisasi dan Perkembangan Kajian Pedesaan di Indonesia (PDF). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Aby, Stephen H. (2005). Sociology: A Guide to Reference and Information Sources Sociology: A Guide to Reference and Information Sources (edisi ke-3). Littleton: Libraries Unlimited Inc. ISBN 1-56308-947-5. OCLC 57475961. 
  • Babbie, Earl R. (2003). The Practice of Social Research (edisi ke-10). Wadsworth: Thomsin Learning Inc. ISBN 0-534-62029-9. OCLC 51917727. 
  • Collins, Randall (1994). Four Sociological Traditions. Oxford: Oxfor University Press. ISBN 0-19-508208-7. OCLC 28411490. 
  • Coser, Lewis A. (1971). Masters of Sociological Thought: Ideas in Historical and Social Context. New York: Harcourt Brace Jovanovich. ISBN 0-15-555128-0. 
  • Giddens, Anthony (2006). Sociology (edisi ke-5). Cambridge: Polity. ISBN 0-7456-3378-1. OCLC 63186308. 
  • Landis, Judson R (1989). Sociology: Concepts and Characteristics (edisi ke-7). Belmont, California: Wadsworth. ISBN 0-534-10158-5. 
  • Macionis, John J (1991). Sociology (edisi ke-3). Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall. ISBN 0-13-820358-X. 
  • Merton, Robert K. (1959). Social Theory and Social Structure: Toward The Codification of Theory and Research (edisi ke-3). Glencoe: Free Press. OCLC 4536864. 
  • Mills, C. Wright (1959). The Sociological Imagination. Oxford: Oxford University Press. OCLC 165883. 
  • Mills, C. Wright. Intellectual Craftsmanship Advices How to Work for Young Sociologist (PDF). 
  • Mitchell, Geoffrey Duncan (2007, originally published in 1968). A Hundred Years of Sociology: A Concise History of the Major Figures, Ideas, and Schools of Sociological Thought. New Brunswick, New Jersey: Transaction Publishers. ISBN 978-0-202-36168-0. OCLC 145146341. 
  • NIsbet, Robert A. (1967). The Sociological Tradition. London: Heinemann Educational Books. ISBN 1-56000-667-6. OCLC 26934810. 
  • Ritzer, George dan Douglas J. Goodman (2004). Sociological Theory (edisi ke-9). New York: McGraw Hill. ISBN 0-07-281718-6. OCLC 52240022. 
  • Scott, John dan Marshall, Gordon (ed) (2005). A Dictionary of Sociology (edisi ke-3). Oxford: Oxford University Press. ISBN 0-19-860986-8. OCLC 60370982. 
  • Wallace, Ruth A., dan Alison Wolf (1995). Contemporary Sociological Theory: Continuing the Classical Tradition (edisi ke-4). Upper Saddle River: Prentice Hall. ISBN 0-13-036245-X. OCLC 31604842. 
  • White, Harrison C. (2008). Identity and Control: How Social Formations Emerge (edisi ke-2). Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-13714-8. OCLC 174138884. 
  • Willis, Evan (1996). The Sociological Quest: An introduction to the Study of Social Life. New Brunswick: Rutgers University Press. ISBN 0-8135-2367-2. OCLC 34633406. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Asosiasi Profesional