Teleologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Christian Wolff

Teleologi berasal dari akar kata Yunani τέλος, telos, yang berarti akhir, tujuan, maksud, dan λόγος, logos, perkataan.[1] Teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu.[1][2] Istilah teleologi dikemukakan oleh Christian Wolff, seorang filsuf Jerman abad ke-18.[3][4] Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan.[3] Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah.[5] Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan "kebijaksanaan" objektif di luar manusia.[3]

Etika[sunting | sunting sumber]

Dalam dunia etika, teleologi bisa diartikan sebagai pertimbangan moral akan baik buruknya suatu tindakan dilakukan.[6] Perbedaan besar tampak antara teleologi dengan deontologi.[6] Secara sederhana, hal ini dapat kita lihat dari perbedaan prinsip keduanya.[6] Dalam deontologi, kita akan melihat sebuah prinsip benar dan salah.[6] Namun, dalam teleologi bukan itu yang menjadi dasar, melainkan baik dan jahat.[6] Ketika hukum memegang peranan penting dalam deontologi, bukan berarti teleologi mengacuhkannya.[6] Teleologi mengerti benar mana yang benar, dan mana yang salah, tetapi itu bukan ukuran yang terakhir.[6] Yang lebih penting adalah tujuan dan akibat.[6] Betapapun salahnya sebuah tindakan menurut hukum, tetapi jika itu bertujuan dan berakibat baik, maka tindakan itu dinilai baik.[6] Ajaran teleologis dapat menimbulkan bahaya menghalalkan segala cara.[6] Dengan demikian tujuan yang baik harus diikuti dengan tindakan yang benar menurut hukum.[6] Hal ini membuktikan cara pandang teleologis tidak selamanya terpisah dari deontologis.[6] Perbincangan "baik" dan "jahat" harus diimbangi dengan "benar" dan "salah".[6]. Lebih mendalam lagi, ajaran teleologis ini dapat menciptakan hedonisme, ketika "yang baik" itu dipersempit menjadi "yang baik bagi saya".[6]

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Plato

Pandangan Plato tentang pencapaian hidup yang baik tidak lepas dari teorinya mengenai jiwa dan ide-ide. [7] Untuk mencapai kebahagiaan, jiwa manusia harus sampai kepada dunia ide-ide.[7] Hal ini hanya bisa terjadi dengan cara pengandalan rasio atau akal budi.[7]

Aristoteles

Aristoteles menegaskan "kebahagiaan adalah sesuatu yang final, serba cukup pada dirinya, dan tujuan dari segala tindakan...".[6] Dengan demikian, semua tindakan yang bertujuan untuk membahagiakan orang lain atau diri sendiri dikatakan baik.[6]

Thomas Aquinas

Filsuf sekaligus teolog Thomas Aquinas menegaskan bahwa Allah adalah "tujuan" dari segala sesuatu.[6] Dengan demikian, segala sesuatu yang berorientasi kepada Allah dikatakan "baik", dan segala sesuatu yang tertuju di luar Allah dikatakan "jahat".[6]

Penggolongan Teleologi[sunting | sunting sumber]

Hedonisme

Hedonisme mengorientasikan "kesenangan" sebagai hal terbaik bagi manusia.[8]

Eudaimonisme

Paham teleologis ini menegaskan bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia).[8]

Utilitarisme

Dalam utilitarisme, tujuan perbuatan-perbuatan moral adalah memaksimalkan kegunaan atau kebahagiaan bagi sebanyak mungkin orang.[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Henk ten Napel.2009, Kamus Teologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 306.
  2. ^ Drs. R. Soedarmo.2010, Kamus Istilah Teologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 93.
  3. ^ a b c Lorens Bagus.2000, Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia. Hlm. 1085.
  4. ^ Robert Audi.1995, The Cambridge Dictionary of Philosophy. United Kingdom: Cambridge University Press. Hlm. 859.
  5. ^ Russ Bush.1994, A Handbook for Christian Philosophy. USA: Zondervan Publishing House. Hlm. 312.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r Eka Darmaputera.1993, Etika Sederhana untuk Semua, Perkenalan Pertama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 11-4.
  7. ^ a b c Simon Petrus Tjahjadi.2004, Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 55-6.
  8. ^ a b c Dr. K. Bertens.2000, Etika. Jakarta: Gramedia. Hlm. 235-254.