Utilitarianisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Utilitarianisme adalah teori etika normatif yang menentukan bahwa kebaikan adalah tindakan yang memaksimalkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi semua individu terdampak.[1][2]

Meskipun terdapat bentuk-bentuk utilitarianisme dengan karakterisasi yang berbeda, ide dasar dari etika utilitarianisme adalah untuk memaksimalkan utilitas, atau yang sering didefinisikan dengan istilah kesejahteraan. Jeremy Bentham, pendiri utilitarianisme, mendefinisikan utilitas sebagai "karakter dalam objek apa pun yang menghasilkan manfaat, keuntungan, kesenangan, kebaikan, atau kebahagiaan ... [atau] untuk mencegah terjadinya kerusakan, rasa sakit, kejahatan, atau ketidakbahagiaan kepada pihak yang dipertimbangkan kepentingannya.”

Utilitarianisme adalah sebuah versi dari konsekuensialisme, sebuah teori etika yang menyatakan bahwa konsekuensi dari suatu tindakan adalah satu-satunya standar untuk menilai benar dan salah. Tidak seperti bentuk konsekuensialisme lainnya, seperti egoisme dan altruisme, utilitarianisme menganggap kepentingan semua manusia adalah setara. Para pendukung utilitarianisme berbeda pendapat pada beberapa isu, seperti apakah suatu tindakan harus dipilih berdasarkan kemungkinan akibat yang dihasilkan (utilitarianisme tindakan), atau apakah seorang agen harus bertindak sesuai dengan aturan yang memaksimalkan utilitas (utilitarianisme aturan). Ada juga perbedaan pendapat mengenai apakah utilitas total (utilitarianisme total), utilitas rata-rata (utilitarianisme rata-rata) atau utilitas orang-orang yang paling miskin[3] yang harus dimaksimalkan.

Meskipun asal-usul etika utilitarianisme dapat ditelusuri dan ditemukan dalam filsafat hedonis Aristippus dan Epicurus, yang memandang kebahagiaan sebagai satu-satunya kebaikan, dan dalam karya filsuf India abad pertengahan Śāntideva, tradisi utilitarianisme modern dimulai dengan Jeremy Bentham, dan dilanjutkan dengan para filsuf utilitarian seperti John Stuart Mill, Henry Sidgwick, RM Hare, dan Peter Singer. Konsep utilitarianisme telah diterapkan pada ekonomi kesejahteraan sosial, krisis kemiskinan global, etika memelihara hewan untuk makanan, dan pentingnya menghindari risiko eksistensial bagi kemanusiaan.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Filsafat utilitarian yang didirikan oleh Jeremy Bentham, secara substansial kemudian dimodifikasi oleh penerusnya, John Stuart Mill, yang mempopulerkan istilah utilitarianisme.[4] Pada tahun 1861, Mill menulis dalam catatan kaki bahwa meskipun Bentham mengklaim "dirinya sebagai orang pertama yang menggunakan kata "utilitarian", dia bukanlah orang yang menciptakan istilah itu. Mill menyatakan bahwa Bentham telah mengadopsi istilah utilitarian dari sebuah ekspresi dalam novel John Galt tahun 1821, Annals of the Parish.[5] Namun, Mill tampaknya tidak menyadari bahwa Bentham telah menggunakan istilah utilitarian dalam suratnya pada tahun 1781 kepada George Wilson dan suratnya pada tahun 1802 kepada Étienne Dumont.[6]

Latar belakang sejarah[sunting | sunting sumber]

Masa pra-modern[sunting | sunting sumber]

Pentingnya kebahagiaan sebagai tujuan akhir bagi umat manusia telah lama ada. Bentuk-bentuk hedonisme telah dikemukakan oleh Aristippus dan Epicurus; Aristoteles berpendapat bahwa eudaimonia adalah kebaikan manusia yang tertinggi; dan Agustinus menulis bahwa "semua orang setuju dalam menginginkan tujuan yang terakhir, yaitu kebahagiaan." Kebahagiaan juga didiskusikan secara mendalam oleh Thomas Aquinas, dalam bukunya Summa Theologica.[7][8][9][10][11] Sementara itu, di India abad pertengahan, filsuf India abad ke-8 Shantideva adalah salah satu pendukung utilitarianisme paling awal. Dia menulis bahwa kita harus "menghentikan semua rasa sakit dan penderitaan semua makhluk hidup yang ada sekarang dan di masa depan, dan menghasilkan kesenangan dan kebahagiaan di masa sekarang dan di masa depan."[12]

Bentuk-bentuk konsekuensialisme juga telah ada di dunia kuno dan abad pertengahan, seperti konsekuensialisme negara Mohisme atau filsafat politik Niccolò Machiavelli. Konsekuensialisme Mohist menganjurkan kebaikan moral komunitarian, termasuk stabilitas politik, pertumbuhan populasi, dan kekayaan, tetapi tidak mendukung gagasan utilitarian untuk memaksimalkan kebahagiaan individu.[13]

Abad ke-18[sunting | sunting sumber]

Utilitarianisme sebagai sebuah posisi etika tersendiri baru muncul pada abad ke-18. Meskipun umumnya utilitarianisme dianggap dimulai oleh Jeremy Bentham, terdapat penulis sebelumnya yang menyajikan teori yang sangat mirip.

Hutcheson[sunting | sunting sumber]

Francis Hutcheson pertama kali memperkenalkan frase utama utilitarian dalam karyanya, An Inquiry into the Original of Our Ideas of Beauty and Virtue (1725): ketika memilih tindakan yang paling bermoral, jumlah kebajikan dalam suatu tindakan adalah sebanding dengan jumlah orang mendapatkan kebahagiaan itu.[14] Sama halnya, kejahatan moral, atau kejahatan, sebanding dengan jumlah orang yang dibuat menderita. Tindakan terbaik adalah yang menghasilkan kebahagiaan terbesar untuk jumlah terbesar—dan tindakan terburuk adalah yang menyebabkan paling banyak kesengsaraan. Dalam tiga edisi pertama buku itu, Hutcheson memasukkan berbagai algoritme matematika "untuk menghitung moralitas dari tindakan apa pun." Perhitungan ini mendahului kalkulus hedonistik Jeremy Bentham.

John Gay[sunting | sunting sumber]

Beberapa sarjana mengklaim bahwa John Gay mengembangkan teori sistematis pertama tentang etika utilitarian.[15] Dalam Concerning the Fundamental Principle of Virtue or Morality (1731), Gay berpendapat bahwa:[16]

kebahagiaan, kebahagiaan pribadi, adalah tujuan akhir dari semua tindakan kita... setiap tindakan tertentu dapat dikatakan memiliki tujuan yang spesifik dan tertentu...(tetapi)...tetapi tujuan-tujuan itu seharusnya cenderung ke sesuatu yang lebih jauh; seperti yang terbukti dari karenanya, yaitu seseorang dapat bertanya dan meminta alasan mengapa salah satu dari tujuan-tujuan itu dikejar: untuk menanyakan alasan tindakan atau tujuan apa pun adalah untuk menyelidiki akhirnya: tetapi mengharapkan suatu alasan, yaitu suatu tujuan untuk ditetapkan sebagai tujuan akhir adalah tidak masuk akal. Untuk bertanya mengapa saya mengejar kebahagiaan, tidak akan menerima jawaban lain selain penjelasan istilah.

Tujuan kebahagiaan ini mempunyai dasar teologis:[17]

Sekarang terbukti dari sifat Tuhan, bahwa kebahagiaanNya adalah tak terhingga dalam diriNya dari segala kekekalan, dan dari kebaikanNya yang termanifestasikan dalam karya-karyanya, bahwa Ia tidak dapat memiliki rancangan lain dalam menciptakan umat manusia selain demi kebahagiaan mereka; dan karena itu Dia menghendaki kebahagiaan mereka; oleh karena itu perilaku saya seharusnya merupakan sarana kebahagiaan umat manusia, ... sehingga kehendak Tuhan adalah kriteria langsung dari Kebajikan, dan kebahagiaan umat manusia adalah kriteria kehendak Tuhan; dan oleh karena itu kebahagiaan umat manusia dapat dikatakan sebagai kriteria kebajikan… (dan) …Saya harus melakukan apa pun yang ada dalam kekuatan saya untuk mempromosikan kebahagiaan umat manusia.

Hume[sunting | sunting sumber]

Dalam An Inquiry Concerning the Principles of Morals (1751), David Hume menulis:[18]

Dalam penentuan moralitas, keadaan utilitas publik ini pada prinsipnya selalu menjadi pertimbangan; dan di mana pun perbedaan pendapat muncul, baik dalam filsafat atau kehidupan umum, pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat diputuskan dengan tanpa memastikan kepentingan-kepentingan sebenarnya dari umat manusia. Jika terdapat pendapat yang salah, yang telah diadopsi dan diterima; segera setelah pengalaman dan penalaran yang lebih baik telah memberi kita gagasan yang lebih adil tentang urusan manusia, kita menarik kembali sentimen awal kita, dan menyesuaikan lagi batas-batas moral yang baik dan yang jahat.

Paley[sunting | sunting sumber]

Utilitarianisme teologis Gay dikembangkan dan dipopulerkan oleh William Paley. Beberapa menyatakan bahwa Paley bukanlah pemikir yang sangat orisinal dan bahwa bagian filosofis dari risalahnya tentang etika adalah "kumpulan ide yang dikembangkan oleh orang lain dan disajikan untuk dipelajari oleh mahasiswa dibandingkan diperdebatkan oleh rekan kerja."[19] Namun demikian, bukunya The Principles of Moral and Political Philosophy (1785) pernah teks wajib di Cambridge[19] dan Smith (1954) mengatakan bahwa tulisan-tulisan Paley "dulu terkenal di perguruan tinggi Amerika seperti halnya para pembaca dan pengeja William McGuffey dan Noah Webster di sekolah dasar."[20] Schneewind (1977) menulis bahwa "utilitarianisme pertama kali dikenal luas di Inggris melalui karya William Paley."[21]

Selain menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan tujuan yang didasarkan pada sifat Tuhan, Paley juga membahas tentang aturan dan menulis:[22]

Sebuah tindakan harus diestimasi berdasarkan kecenderungan hasilnya. Apapun yang bermanfaat, itu benar. Ini adalah kegunaan dari setiap aturan moral, yang memberikan kewajiban.

Tetapi untuk semua ini tampaknya ada keberatan yang jelas, yaitu bahwa banyak tindakan yang berguna, yang tak seorang pun dalam akal sehatnya akan menganggapnya sebagai benar. Ada saat-saat tangan si pembunuh akan sangat berguna… Jawaban yang sebenarnya adalah ini; bahwa tindakan ini, bagaimanapun, tidak berguna, dan karena alasan itu, tidak benar.

Untuk melihat poin ini dengan sempurna, harus diperhatikan bahwa akibat buruk dari tindakan ada dua, khusus dan umum. Akibat buruk tertentu dari suatu tindakan, adalah kerusakan yang ditimbulkan oleh tindakan tunggal itu secara langsung dan segera. Konsekuensi buruk umum adalah pelanggaran beberapa aturan umum yang diperlukan atau berguna.…

Anda tidak dapat mengizinkan satu tindakan dan melarang yang lain, tanpa menunjukkan perbedaan di antara mereka. Akibatnya, tindakan yang sama harus secara umum diizinkan atau dilarang secara umum. Oleh karena itu, ketika suatu tindakan akan merusak, menjadi perlu untuk menetapkan dan mendukung aturan yang umumnya melarang tindakan itu.

Utilitarianisme klasik[sunting | sunting sumber]

Jeremy Bentham[sunting | sunting sumber]

Buku Bentham An Introduction to the Principles of Morals and Legislation diterbitkan pada tahun 1789. Terdapat kemungkinan bahwa Bentham terdorong untuk menerbitkan karyanya setelah ia melihat kesuksesan karya Paley, Principles of Moral and Political Philosophy. \[23] Meskipun buku Bentham tidak langsung sukses,[24] ide-idenya tersebar lebih jauh ketika Pierre tienne Louis Dumont menerjemahkan pilihan artikel-artikel yang diedit dari berbagai manuskrip Bentham ke dalam bahasa Prancis. Traité de législation civile et pénale diterbitkan pada tahun 1802 dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris oleh Hildreth sebagai The Theory of Legislation.

Prinsip utilitas[sunting | sunting sumber]

Karya Bentham dimulai dengan pernyataannya tentang prinsip utilitas:[25]

Alam telah menempatkan umat manusia di bawah kendali dua penguasa yang berdaulat, yaitu rasa sakit dan kesenangan. Kedua hal itu saja dapat menunjukkan apa yang harus kita lakukan.… Yang dimaksud dengan prinsip utilitas adalah prinsip yang sesuai atau tidak sesuai dengan setiap tindakan apa pun yang harus menambah atau mengurangi kebahagiaan pihak yang kepentingannya dipertimbangkan: atau tindakan apa pun untuk mempromosikan atau menentang kebahagiaan itu. Saya mengatakan bahwa setiap tindakan apa pun (yang mempromosikan kebahagiaan), dan karena itu tidak hanya setiap tindakan individu pribadi, tetapi setiap tindakan pemerintah (harus mempromosikan kebahagiaan).

Kalkulus hedonis[sunting | sunting sumber]

Dalam Bab IV, Bentham memperkenalkan metode untuk menghitung nilai kesenangan dan rasa sakit, yang kemudian dikenal sebagai kalkulus hedonis. Bentham mengatakan bahwa nilai kesenangan atau rasa sakit dapat diukur menurut tingkat intensitas, durasi, kepastian/ketidakpastian dan kedekatan/kejauhan. Selain itu, perlu untuk mempertimbangkan "kecenderungan tindakan apa pun yang menghasilkan" kesenangan dan rasa sakit itu. Menurut Bentham, untuk menghitung nilai positif dan negatif dari suatu tindakan, perlu untuk mempertimbangkan produktivitas dari suatu tindakan itu. Dengan kata lain, kemungkinan akan diikuti oleh sensasi dari yang sama atau yang berlawanan. Akhirnya, perlu untuk mempertimbangkan sejauh mana jumlah orang yang terkena dampak dari tindakan tersebut.

Kejahatan tingkat pertama dan kedua[sunting | sunting sumber]

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah kapan, jika memang ada, mungkin dapat dibenarkan untuk melanggar hukum. Isu ini didiskusikan dalam The Theory of Legislation. Dalam karya itu, Bentham membedakan antara kejahatan tingkat pertama dan kedua. Mereka dari urutan pertama adalah konsekuensi yang lebih langsung; yang kedua adalah ketika konsekuensi menyebar ke masyarakat yang menyebabkan "alarm" dan "bahaya".

Memang benar ada kasus, jika kita membatasi diri pada efek urutan pertama, kebaikan akan memiliki keutamaan yang tak terbantahkan atas kejahatan. Jika pelanggaran dianggap hanya berdasarkan sudut pandang ini, tidak akan mudah untuk memberikan alasan tentang adanya kekakuan hukum. Setiap hal tergantung pada kejahatan orde kedua; inilah yang memberikan karakter kejahatan pada tindakan tersebut, dan yang membuat hukuman diperlukan. Misalnya, keinginan fisik untuk memuaskan rasa lapar. Jika seorang pengemis, yang terdesak oleh rasa kelaparan, mencuri roti dari rumah orang kaya, yang mungkin dari menyelamatkannya dari kelaparan, dapatkah membandingkan kebaikan yang diperoleh si pencuri untuk dirinya sendiri, dengan kejahatan yang diderita orang kaya itu? . . . Bukan kejahatan tingkat pertama yang harus dirujuk sehingga perlu dijadikan pelanggaran, tetapi karena kejahatan tingkat kedua.[26]

John Stuart Mill[sunting | sunting sumber]

Henry Sidgwick[sunting | sunting sumber]

Perkembangan abad ke-20[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Duignan, Brian. [1999] 2000. "Utilitarianism" (revised). Encyclopædia Britannica. Retrieved 5 July 2020.
  2. ^ "Utilitarianism". Ethics Unwrapped (dalam bahasa Inggris). Austin, TX: McCombs School of Business. Diakses tanggal 2020-05-27. 
  3. ^ White, Stuart. [2004] 2015. "Social Minimum." The Stanford Encyclopedia of Philosophy, edited by E. N. Zalta. Stanford University. Retrieved 5 July 2020.
  4. ^ Habibi, Don (2001). "Chapter 3, Mill's Moral Philosophy". John Stuart Mill and the Ethic of Human Growth. Dordrecht: Springer Netherlands. hlm. 89–90, 112. doi:10.1007/978-94-017-2010-6_3. ISBN 978-90-481-5668-9. 
  5. ^ Mill, John Stuart. 1861. Utilitarianism. n1.
  6. ^ Habibi, Don (2001). "Chapter 3, Mill's Moral Philosophy". John Stuart Mill and the Ethic of Human Growth. Dordrecht: Springer Netherlands. hlm. 89–90, 112. doi:10.1007/978-94-017-2010-6_3. ISBN 978-90-481-5668-9. 
  7. ^ "SUMMA THEOLOGICA: Man's last end (Prima Secundae Partis, Q. 1)". newadvent.org. 
  8. ^ "SUMMA THEOLOGICA: Things in which man's happiness consists (Prima Secundae Partis, Q. 2)". newadvent.org. 
  9. ^ "SUMMA THEOLOGICA: What is happiness (Prima Secundae Partis, Q. 3)". newadvent.org. 
  10. ^ "SUMMA THEOLOGICA: Things that are required for happiness (Prima Secundae Partis, Q. 4)". newadvent.org. 
  11. ^ "SUMMA THEOLOGICA: The attainment of happiness (Prima Secundae Partis, Q. 5)". newadvent.org. 
  12. ^ Goodman, Charles. 2016. "Śāntideva", Stanford Encyclopedia of Philosophy. Retrieved 31 August 2020.
  13. ^ Fraser, Chris (2011). The Oxford Handbook of World Philosophy. Oxford University Press. hlm. 62. ISBN 978-0-19-532899-8. 
  14. ^ Hutcheson, Francis (2002) [1725]. "The Original of Our Ideas of Beauty and Virtue". Dalam Schneewind, J. B. Moral Philosophy from Montaigne to Kant. Cambridge University Press. hlm. 515. ISBN 978-0-521-00304-9. 
  15. ^ Ashcraft, Richard (1991) John Locke: Critical Assessments (Critical assessments of leading political philosophers), Routledge, p. 691
  16. ^ Gay, John (2002). "Concerning the Fundamental Principle of Virtue or Morality". Dalam Schneewind, J. B. Moral Philosophy from Montaigne to Kant. Cambridge University Press. hlm. 408. ISBN 978-0-521-00304-9. 
  17. ^ Gay, John (2002). "Concerning the Fundamental Principle of Virtue or Morality". Dalam Schneewind, J. B. Moral Philosophy from Montaigne to Kant. Cambridge University Press. hlm. 404–05. ISBN 978-0-521-00304-9. 
  18. ^ Hume, David (2002). "An Enquiry Concerning the Principles of Morals". Dalam Schneewind, J. B. Moral Philosophy from Montaigne to Kant. Cambridge University Press. hlm. 552. ISBN 978-0-521-00304-9. 
  19. ^ a b Schneewind, J. B. (2002). Moral Philosophy from Montaigne to Kant. Cambridge University Press. hlm. 446. ISBN 978-0-521-00304-9. 
  20. ^ Smith, Wilson (July 1954). "William Paley's Theological Utilitarianism in America". William and Mary Quarterly. 3rd Series. 11 (3): 402–24. doi:10.2307/1943313. JSTOR 1943313. 
  21. ^ Schneewind, J. B. (1977). Sidgwick's Ethics and Victorian Moral Philosophy. Oxford University Press. hlm. 122. ISBN 978-0-19-824552-0. 
  22. ^ Paley, William (2002). "The Principles of Moral and Political Philosophy". Dalam Schneewind, J. B. Moral Philosophy from Montaigne to Kant. Cambridge University Press. hlm. 455–56. ISBN 978-0-521-00304-9. 
  23. ^ Rosen, Frederick. 2003. Classical Utilitarianism from Hume to Mill. Routledge. p. 132.
  24. ^ Schneewind, J. B. 1977. Sidgwick's Ethics and Victorian Moral Philosophy. Oxford: Clarendon Press. p. 122.
  25. ^ Bentham, Jeremy. 1780. "Of The Principle of Utility." Pp. 1–6 in An Introduction to the Principles of Morals and Legislation. London: T. Payne and Sons. (Also available as eText, Wikisoure). p. 1.
  26. ^ Bentham, Jeremy; Dumont, Etienne; Hildreth, R (November 2005). Theory of Legislation: Translated from the French of Etienne Dumont. Adamant Media Corporation. hlm. 58. ISBN 978-1-4021-7034-8.