Aristippos

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Ἀρίστιππος Aristippus
Lahir c. 435 SM
Kirene
Meninggal c. 356 SM
Kirene
Era Filsafat Kuno
Aliran Mazhab Hedonis/Mazhab Kirene
Minat utama Hedonisme

Aristippos adalah salah seorang filsuf dari Mazhab Hedonis.[1] Ia adalah pendiri mazhab tersebut.[2] Karena ia berasal dari kota Kirene, maka Mazhab Hedonis dikenal juga dengan sebutan Mazhab Kirene.[2][3]

Aristippos adalah teman sekaligus salah seorang murid Sokrates.[4][1][2] Ia mengembangkan pandangan Sokrates bahwa keutamaan hidup manusia adalah mencari "yang baik".[1][2] Usaha tersebut serupa dengan Mazhab Sinis namun mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang "yang baik" itu.[1]

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Aristippos berasal dari Kirene, Afrika Utara.[5][6] Ia lahir sekitar tahun 435 SM dan meninggal sekitar tahun 335 SM.[5][6] Ketika ia masih berada di Kirene, ia mendapat pengaruh dari pemikiran Mazhab Phytagoras.[5][6] Sejak tahun 416 SM, ia berada di Athena dan berguru pada Sokrates di sana.[6][5]

Setelah Sokrates wafat, ia menjadi seorang guru filsafat yang dibayar, dan berkeliling ke beberapa tempat.[6] Pada awalnya ia mengajar di Athena, namun kemudian berpindah ke tempat-tempat lainnya.[5][6] Ia diketahui pernah mengunjungi Sirakusa dan Aegina, sebelum akhirnya kembali ke Kirene dan membuka sekolah di situ.[5][6]

Ia memiliki seorang anak perempuan bernama Arete dan seorang cucu laki-laki yang bernama sama dengannya, Aristippos.[5][6][4] Anak perempuan dan cucunya meneruskan sekolah Mazhab Hedonis tersebut.[5][6]

Pemikiran Tentang Kesenangan[sunting | sunting sumber]

Aristippos menafsirkan konsep "yang baik" dari Sokrates sebagai kesenangan (dalam bahasa Yunani hedone).[1][2] Maksudnya kesenangan di sini adalah bukan saja kesenangan ragawi tetapi juga kesenangan rohani.[1] Karena pengajarannya itulah, aliran pemikiran dari Aristippos ini disebut Mazhab Hedonis.[2]

Akan tetapi, orang yang bijaksana tidak akan mengejar kesenangan tanpa batas, sebab kesenangan yang tak terbatas pada akhirnya akan mengakibatkan kesusahan.[2][3] Yang harus dikejar adalah kesenangan maksimal yang diserta kesusahan secara minimal.[2][3] Untuk itu, rasio manusia bertugas untuk menentukan apa yang harus dilakukan manusia untuk mendapatkan kesenangan secara maksimal dan merasakan kesusahan secara minimal.[1][4] Karena itu, dalam perspektif Aristippos, pengendalian diri dan asketisme amat diperlukan dalam mencapai hidup yang ideal.[2]

Pengaruh[sunting | sunting sumber]

Aristippos memberikan pengaruh terhadap filsuf-filsuf lain yang melanjutkan Mazhab Hedonis.[5][6] Beberapa orang filsuf yang terkenal dari masa selanjutnya adalah Theodorus, Hegesias, dan Euhemerus.[5][6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 44.
  2. ^ a b c d e f g h i K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 92-93.
  3. ^ a b c (Inggris)Albert A. Avey. 1954. Handbook in the History of Philosophy. New York: Barnes & Noble. P. 23.
  4. ^ a b c (Inggris)I.G. Kidd. 1972. "Aristippus of Cyrene". In The Encyclopedia of Philosophy Volume One and Two. Paul Edwards, ed. 148. New York: Macmillan Publishing.
  5. ^ a b c d e f g h i j (Inggris)Frederick Copleston. 1993. A History of Philosophy Volume I: Greece and Rome. New York: Doubleday. P. 121-123.
  6. ^ a b c d e f g h i j k (Inggris)Edward Zeller. 1957. Outlines of the History of Greek Philosophy. New York: Meridian Books. P. 129-133.

Lihat Juga[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]