Urbanisasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Peta urbanisasi global yang menampilkan persentase urbanisasi per negara pada tahun 2015
Guangzhou, sebuah kota yang dihuni oleh 12.7 juta jiwa, merupakan satu dari 8 kota metropolitan yang berdekatan yang terletak di aglomerasi tunggal terbesar di bumi, mengelilingi Delta Sungai Pearl di Tiongkok.
Mumbai adalah kota dengan penduduk terbanyak di India, dan merupakan kota dengan penduduk terbanyak ke empat di dunia, dengan total populasi wilayah metropolitan yang mencapai sekitar 23.9 juta jiwa.

Urbanisasi mengacu pada pergeseran populasi dari daerah pedesaan ke perkotaan, "peningkatan bertahap proporsi orang yang tinggal di daerah perkotaan", dan cara-cara di mana setiap masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.[1] Hal ini terutama merujuk kepada proses dimana kota-kota yang dibentuk dan menjadi lebih besar karena lebih banyak orang mulai tinggal dan bekerja di daerah tersebut.[2] Perserikatan Bangsa-Bangsa memproyeksikan bahwa setengah dari populasi dunia akan tinggal di daerah perkotaan pada akhir tahun 2008.[3] Diperkirakan pada tahun 2050, sekitar 64% negara berkembang dan 86% negara maju akan mengalami urbanisasi.[4] Itu setara dengan sekitar 3 miliar warga kota pada 2050, yang sebagian besar akan terjadi di Afrika dan Asia.[5] Khususnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa juga baru-baru ini memproyeksikan bahwa hampir semua pertumbuhan populasi global dari tahun 2017 sampai 2030 akan diserap oleh kota-kota, sekitar 1,1 miliar orang baru perkotaan selama 13 tahun ke depan.[6]

Urbanisasi relevan dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk geografi, sosiologi, ekonomi, perencanaan kota, dan kesehatan masyarakat. Fenomena ini terkait erat dengan modernisasi, industrialisasi, dan proses sosiologi seperti rasionalisasi. Urbanisasi dapat dilihat sebagai kondisi khusus pada waktu yang ditentukan (misalnya proporsi total populasi atau wilayah di kota) atau sebagai peningkatan kondisi tersebut dari waktu ke waktu. Jadi urbanisasi dapat diukur baik dalam hal tingkat perkembangan perkotaan relatif terhadap keseluruhan populasi, atau sebagai tingkat ​​di mana proporsi penduduk perkotaan meningkat. Urbanisasi menciptakan perubahan sosial, ekonomi dan lingkungan yang sangat besar, yang memberi kesempatan keberlanjutan dengan "potensi untuk menggunakan sumber daya secara lebih efisien, menciptakan lahan yang lebih lestari dan melindungi keanekaragaman hayati ekosistem alami".[5]

Urbanisasi bukan hanya fenomena modern, tetapi juga transformasi historis akar sosial manusia yang cepat dan bersejarah dalam skala global, dimana budaya pedesaan berkembang dengan cepat digantikan oleh budaya perkotaan yang lebih dominan. Perubahan besar pertama dalam pola pemukiman adalah akumulasi pemburu-pengumpul ke wilayah pedesaan ribuan tahun yang lalu. Budaya desa ditandai oleh garis keturunan yang umum, hubungan erat, dan perilaku komunal, sedangkan budaya perkotaan ditandai oleh garis keturunan yang jauh, hubungan yang tidak biasa, dan perilaku kompetitif. Pergerakan manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya diperkirakan akan terus berlanjut dan meningkat dalam beberapa dekade ke depan, meningkatnya luas wilayah kota ke ukuran yang tak terpikirkan pada satu abad sebelumnya. Akibatnya, kurva pertumbuhan populasi perkotaan dunia sampai saat ini mengikuti pola kuadratik hiperbolik.[7]

Saat ini, di Asia, aglomerasi perkotaan di Osaka, Karachi, Jakarta, Mumbai, Shanghai, Manila, Seoul dan Beijing masing-masing telah menjadi rumah bagi lebih dari 20 juta orang, sementara Delhi dan Tokyo diperkirakan mendekati atau melampaui 40 juta orang dalam waktu satu dekade mendatang. Di luar Asia, Mexico City, São Paulo, London, New York City, Istanbul, Lagos dan Kairo, telah atau akan segera menjadi rumah bagi lebih dari 10 juta orang.

Faktor penarik[sunting | sunting sumber]

  1. Kehidupan kota yang lebih modern
  2. Sarana dan prasarana kota lebih lengkap
  3. Banyak lapangan pekerjaan di kota
  4. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan berkualitas

Faktor pendorong[sunting | sunting sumber]

  1. Lahan pertanian semakin sempit
  2. Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
  3. Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa
  4. Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
  5. Diusir dari desa asal
  6. Memiliki impian kuat menjadi orang kaya

Keuntungan urbanisasi[sunting | sunting sumber]

  1. Memoderenisasikan warga desa
  2. Menambah pengetahuan warga desa
  3. Menjalin kerja sama yang baik antarwarga suatu daerah
  4. Mengimbangi masyarakat kota dengan masyarakat desa

Akibat urbanisasi[sunting | sunting sumber]

  1. Terbentuknya suburb tempat-tempat permukiman baru dipinggiran kota
  2. Makin meningkatnya tuna karya (orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap)
  3. Masalah perumahan yg sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan
  4. Lingkungan hidup tidak sehat, timbulkan kerawanan sosial dan kriminal

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Urbanization". MeSH browser. National Library of Medicine. Diakses tanggal 5 November 2014. Proses dimana sebuah masyarakat berubah dari kehidupan pedesaan ke kota. Ini juga mengacu pada peningkatan bertahap proporsi orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan. 
  2. ^ "Urbanization in 2013". demographic partitions. Diakses tanggal 8 Juli 2015. 
  3. ^ "UN says half the world's population will live in urban areas by end of 2008". International Herald Tribune. Associated Press. 26 Februari 2008. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 Februari 2009. 
  4. ^ "Urban life: Open-air computers". The Economist. 27 Oktober 2012. Diakses tanggal 20 Maret 2013. 
  5. ^ a b "Urbanization". UNFPA – United Nations Population Fund. 
  6. ^ Barney Cohen (2015). "Urbanization, City Growth, and the New United Nations Development Agenda". 3 (2). Cornerstone, The Official Journal of the World Coal Industry. hlm. 4–7. 
  7. ^ Introduction to Social Macrodynamics: Secular Cycles and Millennial Trends. Moskwa: URSS, 2006; Korotayev A. The World System urbanization dynamics. History & Mathematics: Historical Dynamics and Development of Complex Societies. Disunting oleh Peter Turchin, Leonid Grinin, Andrey Korotayev, dan Victor C. de Munck. Moskwa: KomKniga, 2006. ISBN 5-484-01002-0. hlmn. 44-62

Pranala luar[sunting | sunting sumber]