Modernisasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Modernisasi dalam ilmu sosial merujuk pada sebuah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik dengan harapan akan tercapai kehidupan masyarakat yang lebih maju, berkembang, dan makmur.

Diungkapkan pula modernisasi merupakan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Tingkat teknologi dalam membangun modernisasi betul-betul dirasakan dan dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, dari kota metropolitan sampai ke desa-desa terpencil.

Teori[sunting | sunting sumber]

Wilbert E Moore (seorang sosiolog Amerika yang terkenal) yang menyebutkan modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri Negara barat yang stabil. Sementara menurut J. W. Schoorl, modernisasi adalah suatu transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya. Dalam bukunya yang berjudul "Modernisasi" ia merumuskan modernisasi sebagai suatu penerapan pengetahuan ilmiah yang ada kepada semua aktivitas, semua bidang kehidupan atau kepada semua aspek-aspek kemasyarakatan.

Syarat Modernisasi[sunting | sunting sumber]

Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa sebuah modernisasi memiliki syarat-syarat tertentu, yaitu sebagai berikut:

  • Cara berpikir ilmiah (scientific thinking) yang sudah melembaga dan tertanam kuat dalam kalangan pemerintah maupun masyarakat luas.
  • Sistem administrasi negara yang baik, yang benar-benar mewujudkan dan mengimplementasikan birokrasi.
  • Sistem pengumpulan data yang baik dan teratur yang terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu.
  • Penciptaan iklim yang menyenangkan dan masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa.
  • Tingkat organisasi yang tinggi, terutama disiplin diri.
  • Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan perencanaan sosial (social planning) yang tidak mementingkan kepentingan pribadi atau golongan.

Perbedaan Modernisasi dan Westernisasi[sunting | sunting sumber]

Modernisasi Westernisasi
Mutlak ada dan diperlukan oleh setiap negara Mutlak sebagai suatu pembaratan
Tidak mengenyampingkan nilai-nilai agama Mempertentangkan budaya barat dengan budaya setempat
Tidak mutlak sebagai westernisasi Modernisasi munculnya di Barat sehingga cara westernisasi merupakan satu-satunya cara untuk mencapainya
Proses perkembangannya lebih bersifat umum

Dampak Positif[sunting | sunting sumber]

Dampak positif dari teknologi modernisasi adalah sebagai berikut.

  • Perubahan tata nilai dan sikap.

Adanya modernisasi dalam zaman sekarang ini bisa dilihat dari cara berpikir masyarakat yang irasional menjadi rasional.

  • Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pula yang membentuk masa modernisasi yang terus kian berkembang dan maju di waktu sekarang ini.

  • Tingkat kehidupan yang lebih baik.

Dibukanya industri atau industrialisasi berdasarkan teknologi yang sudah maju menjadikan nilai dalam memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih, dan juga merupakan salah satu usaha untuk membuka lapangan pekerjaan yang dapat membantu mengurangi pengangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Hal ini juga dipengaruhi tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang membantu perkembangan modernisasi.

Dampak Negatif[sunting | sunting sumber]

Dampak negatif dari teknologi modernisasi adalah sebagai berikut.

  • Pola hidup konsumtif.

Perkembangan teknologi industri yang sudah modern dan semakin pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk menkonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada, sesuai dengan kebutuhan masing–masing. Kemudahan dalam melakukan jual beli menjadi salah satu faktor pendukung pola hidup konsumtif.

  • Sikap individualistik.

Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi yang canggih dan maju. Hal itu membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitas. Padahal manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling bergantung dan perlu melakukan interaksi sosial.

  • Gaya hidup kebarat-baratan

Tidak semua budaya barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli contohya kurangnya rrasa menghormati antara anak kepada orang tua, pergaulan bebas dikalangan remaja, dan lain-lain.

  • Kesenjangan sosial.

Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lainnya. Dengan kata lain individu yang dapat terus mengikuti perkembangan zaman memiliki kesenjangan tersendiri terhadap individu yang tidak dapat mengikuti suatu proses modernisasi tersebut. Hal ini dapat menimbulkan kesenjangan sosial antara individu satu dengan lainnya, yang bisa disangkutkan sebagai sikap individualistik.

  • Kriminalitas

Kriminalitas sering terjadi di kota-kota besar disebabkan karena menipisnya rasa kekeluargaan, sikap yang individualisme, adanya tingkat persaingan yang tinggi, dan pola hidup yang konsumtif.

Proses terjadinya Mesir setelah era Modernisasi[sunting | sunting sumber]

Negara Indonesia sekarang ini sudah mencapai tahap pemikiran yang sangat modern, Indonesia sendiri sudah mampu menciptakan alat-alat teknologi yang praktis dan efisien seperti layaknya yang ada di kehidupan kita sehari – hari seperti Televisi, telepon genggam, komputer, laptop, dan lainnya, sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang digunakan pun memiliki kajian – kajian penting dalam proses kemajuan dan perkembangan teknologi yang membuat Indonesia lebih modern.

Karena sumber daya inilah pihak Indonesia bekerja sama dengan Negara lain dan saling melengkapi kebutuhan antara satu dengan Negara lainnya. Sehingga menciptakan kemajuan yang ada pada Indonesia dari sisi modernisasi maupun teknologinya. Indonesia sedang berada dalam masa-masa transisi dan penyesuaian di mana modernisasi dan globalisasi kian kuat masuk secara bertahap ke dalam Indonesia. Bukan hanya itu modernisasi juga sangat terpengaruh dengan majunya teknologi – teknologi yang ada pada Negara Indonesia sendiri.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Maryati, Kun (2007). Sosiologi 3 Untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis/Erlangga. ISBN 979-734-529-7.  (Indonesia)