Mixed use

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

mixed use adalah Salah satu konsep yang diterapkan dalam pengembangan kota satelit di pinggiran sebuah kota besar adalah dengan pembangunan melebar secara horizontal, dimana ketersediaan tanah yang ada masih cukup besar. Akan tetapi dengan semakin berkurangnya land bank dan adanya kesadaran untuk melakukan optimalisasi lahan, perlu dilakukan pengembangan kota dengan konsep-konsep baru yang lebih efisien.

Superblok/mixed use pada dasarnya adalah suatu kawasan urban yang dirancang secara terintegrasi (integrated development), dengan kepadatan bangunan yang cukup tinggi dan merupakan kombinasi fungsi lahan yang bersifat campuran (mixed used), dimana kunci terpenting dalam keberhasilannya adalah berjalannya fungsi mekanisme kontrol yang merupakan implementasi dari regulasi-regulasi pengembangan kawasan superblok itu sendiri.[sunting | sunting sumber]

Kawasan superblock/mixed use harus mampu menjadi kawasan mandiri dimana warganya bisa tinggal, bekerja serta berkreasi di dalam kawasan tersebut. Idealnya warga yang bekerja di dalam lingkungan superblok tersebut juga bertempat tinggal di kawasan itu sehingga bisa didapat produktivitas kerja yang tinggi serta meningkatnya waktu interaksi, baik dengan keluarga maupun dengan relasi sosial yang lebih luas. Lebih ideal lagi apabila dalam superblock/mixed use tersebut menerapkan regulasi terhadap konsep distribusi kepadatan campuran dimana ada penjatahan untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke atas maupun untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.[sunting | sunting sumber]

Standar luasan suatu kawasan disebut superblok atau bukan, sampai dengan saat ini belum ada. Akan tetapi beberapa kawasan mega superblok, sebagai contoh, yang sudah dibangun di Jakarta adalah kawasan SCBD seluas 47 ha, Mega Kuningan seluas 44 ha, serta Rasuna Epicentrum seluas 53 ha. Dalam ol;/skala yang lebih kecil beberapa gedung atau lot bangunan yang saling terintegrasi dalam satu konsep master plan dapat juga disebut sebagai superblok, misalnya CBD Pluit, Central Park, dll.

Di kota Semarang saat ini sedang mengembangkan superblok/mixed use yang dikenal sebagai Sentraland Semarang, Mengusung konsep The New Lifestyle in Town, yang menggabungkan fungsi-fungsi perkantoran, apartemen, hotel/kondotel serta retail komersial. Branding/ciri khusus ini dapat pula kita sejajarkan dengan superblok di Ropongi Hill Tokyo yang mengusung tema Lifestyle Superblock atau Suntec City Singapore yang mengusung tema Business & Trade Superblock.[sunting | sunting sumber]

Para pengguna dapat tinggal di superblok ini sesuai dengan kebutuhan mereka yaitu tinggal di apartemen atau kondotel, lokasi kerja juga terletak di tempat yang sama serta kebutuhan akan food & beverege sekaligus lifestyle center yang dapat dipenuhi di lokasi yang sama yaitu di area retali & commercial. Kebutuhan penunjang dapat juga dipenuhi oleh fasilitas komersial yang ada seperti supermarket, spesiality store serta fasilitas hotel berikut fasilitas MICE (meeting, incentive, conference & exhibition). Demikian juga dengan akses menuju sarana transportasi massal BRT (Bus Trans Semarang) dapat ditempuh hanya 3 menit dari lokasi. Sehingga dapat dikatakan semua unsur pengembangan konsep [superblok kompas] & mixed use telah diakomodir dalam pengembangan proyek Sentraland Semarang.