Sosiologi pendidikan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sosiologi pendidikan adalah studi mengenai bagaimana institusi publik dan pengalaman individu memengaruhi pendidikan dan hasilnya. Studi ini lebih mempelajari sistem sekolah umum di masyarakat industri modern, termasuk perluasan pendidikan tinggi, lanjut, dewasa, dan berkelanjutan.[1] Pendidikan dibutuhkan dalam upaya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Pola perilaku manusia atau peserta didik untuk memperoleh pendidikan juga mempengaruhi sejauh mana nilai-nilai tersebut diperoleh. Hal ini juga berkaitan dengan nilai-nilai yang terdapat dalam manusia itu sendiri, yakninya nilai logika, nilai etika, dan nilai estetika. Untuk itu sosiologi pendidikan dapat melihat proses sosialisasi tersebut serta juga dapat menganalisanya.[2]

Pendidikan selalu dilihat sebagai usaha manusia optimistik mendasar yang dikenali dari aspirasi untuk kemajuan dan kesejahteraan.[3] Pendidikan dipahami oleh banyak orang sebagai usaha untuk mencapai kesetaraan sosial yang lebih tinggi dan memperoleh kekayaan dan status sosial.[4] Pendidikan dianggap sebagai tempat anak-anak bisa berkembang sesuai kebutuhan dan potensi unik mereka.[3] Selain itu juga sebagai salah satu arti terbaik dalam mencapai kesetaraan sosial yang lebih tinggi.[4] Banyak orang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan setiap orang hingga potensi tertinggi mereka dan memberi kesempatan untuk mencapai segalanya dalam kehidupan sesuai kemampuan alami mereka (meritokrasi). Banyak juga orang yang meragukan bahwa sistem pendidikan apapun mencapai tujuan ini dengan sempurna. Pendapat lain mengemukakan pandangan negatif, menyatakan bahwa sistem pendidikan dirancang dengan tujuan mengakibatkan reproduksi ketidaksetaraan sosial. Sejumlah pakar berpendapat bahwa tujuan pendidikan nasional harus bertolak dan dapat dipulangkan kepada filsafat hidup bangsa tersebut. Seperti di Indonesia, Pancasila sebagai filsafat hidup dan kepribadian bangsa Indonesia harus menjadi dasar untuk menentukan tujuan pendidikan Nasional serta tujuan pendidikan lainnya.[5]

Pengertian sosiologi pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sosiologi pendidikan merupakan gabungan dari kata sosiologi dan pendidikan. Menurut Brinkerhoft dan White, sosiologi artinya sebuah ilmu studi sistematik tentang interaksi sosial manusia.[6] Sedangkan arti kata pendidikan menurut KBBI adalah suatu proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dari dua pengertian tersebut dapat diartikan bahwa sosiologi pendidikan adalah sebuah ilmu yang mengkaji dan memperlajari hubungan antara masyarakat yang mana terjadi interaksi sosial dengan pendidikan didalamnya. Dalam hubungan antara sosiologi dan pendidikan ini dapat dilihat bagaimana masyarakat mempengaruhi pendidikan dan sebaliknya bagaimana pendidikan itu sendiri yang mempengaruhi masyarakat.[7]

Sosiologi pendidikan juga merupakan sebuah pendekatan sosiologis yang diterapkan pada lingkungan pendidikan. Pendekatan sosiologis yang dimaksud disini ialah konsep, variable, metode, dan teori yang digunakan dalam sosiologi untuk memahami kejadian-kejadian sosial yang di dalamnya terdapat kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan.[8]

Menurut ahli sosiologi, Dr. Elwood mengatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang proses belajar serta juga mempelajari antara orang yang satu dengan orang yang lainnya. Dalam studi sosiologi pendidikan mencakup pengertian individu dengan lingkungan sekitarnya, sebab antara seorang individu tidak dapat berdiri sendiri-sendiri dengan lingkungan sosialnya. Sosiologi pendidikan tidak hanya memiliki sasaran khusus terhadap lembaga-lembaga pendidikan formal saja seperti sekolah melainkan juga harus meliputi lembaga-lembaga lainnya seperti keluarga, kelompok bermain, lembaga keagaamaan dan lainnya.[9]

Sejarah sosiologi pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sosiologi pendidikan muncul karena terjadinya pengaruh kondisi sosial masyarakat di Eropa. Revolusi industri yang terjadi di masyarakat eropa dan juga terjadinya revolusi kesadaran masyarakat eropa ketika itu membuat melemahnya nilai-nilai dan norma-norma tradisional. Keadaan tersebut membuat terbentuknya patologi sosial. Masyarakat ketika itu tidak mempunyai sebuah pedoman yang kuat untuk menguatkan integrasi sosial. Hal tersebut berimbah terhadap harmoni sosial retak di tengah-tengah masyarakat. Perubahan yang terjadi secara cepat tersebut melahirkan sebuah kajian ilmu dari sosiologi yaitunya sosiologi pendidikan. Dalam perkembangannya, seorang ahli yang bernama Laster F. Ward, dapat dikatakan sebagai pencetus studi baru tentang sosiologi pendidikan. Studi ini memunculkan gagasan evolusi sosial yang realistik dan memimpin perencanaan kehidupan pemerintah. Di tempat lain, sosiologi pendidikan diajarkan secara formal di perguruan tinggi. Misalnya pada tahun 1910, Henry Suzzalo memberikan kuliah sosiologi pendidkan di Teachers College University Columbia. Kehadiran ilmu sosiologi dengan beberapa cabang ilmunya mendapat sambutan yang positif dari kalangan praktisi pendidikan dan sebagai wujud alternatif untuk memperkuat ketahanan sosial melalui pendidikan.[10]

Ciri-ciri sosiologi pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • Empiris. Empiris adalah ciri utama sosiologi sebagai ilmu, sebab empiris bersumber dan diciptakan dari kenyataan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
  • Teoritis. Teoritis adalah peningkatan fase penciptaan yang menjadi salah satu bentuk budaya yang bisa disimpan dalam waktu lama dan dapat diwariskan kepada generasi muda.
  • Komultif. Komultif adalah sebagai akibat dari penciptaan terus-menerus sebagai konsekuensi dari terjadinya perubahan di masyarakat, yang membuat teori-teori itu akan berkomulasi mengarah kepada teori yang lebih baik.
  • Nonetis. Nonetis adalah karena teori ini menceritakan apa adanya tentang masyarakat beserta individu-individu di dalamnya, tidak menilai apakah hal ini baik atau buruk.[11]

Tujuan sosiologi pendidikan[sunting | sunting sumber]

Tujuan dari sosiologi pendidikan adalah untuk menganalisis proses sosialisasi anak, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Beberapa para ahli sosiologi pendidikan beranggapan bahwa seluruh proses sosiologi anak-anak merupakan pusat perhatian bidang studi ini. Dalam hal ini sosiologi pendidikan melihat proses bagaimana kelompok-kelompok sosial mempengaruhi kelakuan individu. Sejatinya, pendidikan sudah dimulai semenjak seorang individu pertama kali berinteraksi dengan lingkungan eksternal di luar dirinya, yakni keluarga. Keluarga mempunyai fungsi utama dalam pembentukan pribadi seseorang, keluarga memiliki fungsi pengantar pada masyarakat besar. Sebagai penghubung pribadi dengan struktur sosial yang lebih besar.[12] Keluarga sebagai pengantar pada masyarakat besar berperan untuk mempersiapkan anak agar siap hidup di lingkungan sosial bermasyarakat. Untuk itu setiap keluarga perlu memberikan pendidikan baik pendidikan formal melalui sekolah maupun pendidikan agama. Keluarga sebagai salah satu pusat pendidikan maka keluarga bertugas dalam membentuk karakter yang baik bagi anak. Lingkungan keluarga yang baik maka akan membentuk karakter anak yang baik pula, namun keluarga yang buruk maka akan membentuk karakter yang buruk pula. Orang tua yang berprofesi sebagai pencuri maka tidak menuntut kemungkinan anak tersebut akan menjadi pencuri, karena anak akan melihat segala sesuatu yang dilakukan oleh orang tua. Sedangkan orang tua yang jujur dan peduli dengan pendidikan maka akan mengajarkan kejujuran serta peduli terhadap pendidikan bagi anak. Orang tua memiliki peran sebagai orang yang membimbing dan mendidik anak ketika dia berada dirumah. Ketika berada disekolah anak akan dididik oleh guru. Ketika berada di sekolah anak akan diajari dan dimotivasi bagaimana mendapat nilai bagus. Sedangkan ketika berada di rumah maka orang tua selain mendidik dan membimbing mereka juga harus memotivasi anak agar tetap semangat untuk sekolah. Pendidikan karakter akan terbentuk didalam sebuah keluarga, cara mendidik orang tua akan berpengaruh kepada pola hidup dan cara berfikir anak.[13]

Pendekatan-pendekatan dalam sosiologi pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendekatan struktural-fungsional: pendidikan untuk tertib sosial[sunting | sunting sumber]

Pendekatan struktural-fungsional mengarah kepada keseimbangan dan ketertiban sosial. Pendekatan ini menganggap bahwa institusi pendidikan akan membuat kehidupan sosial di tengah masyarakat akan berjalan dengan baik. Dalam hal ini, aliran struktural-fungsional menganggap bahwa tujuan dari lembaga-lembaga utama seperti pendidikan adalah untuk mensosialisasikan anak-anak dan remaja. Sosialisasi yang terjadi merupakan proses tempat generasi muda mempelajari ilmu pengetahuan, tingkah laku, dan nilai-nilai yang dianggap diperlukan sebagai warga negara yang produktif bagi keberlangsungan sebuah sistem kehidupan di tengan-tengah masyarakat. Di dalam pendidikan sendiri terdapat kurikulum formal dan kurikulum informal. Proses pembelajaran dari kurikulum tersebut mesti menanamkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Peserta didik atau murid-murid mempelajari norma-norma dan nilai-nilai tersebut karena tingkah laku mereka di sekolah diatur hingga secara perlahan mereka memahaminya dan dapat menerima nilai dan norma tersebut.[14]

Pendekatan konflik: pendidikan sebagai produksi sosial[sunting | sunting sumber]

Pendekatan konflik ini berbeda dengan pendekatan struktural--fungsional. Dapat dikatakan pendekatan konflik ini bertolak belakang dengan pendekatan sebelumnya. Pendekatan konflik ini mempercayai bahwasannya masyarakat dipenuhi dengan persaingan-persaingan dari berbagai kelompok-kelompok sosial yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda dan juga memiliki kesempatan yang berbeda pula guna memenuhi kebutuhan hidup dan pencapaian sosial lainnya. Dalam penelitian B. Wilson dan J. Wyn menyatakan terdapat sebuah konflik sosial yang terjadi antara guru dengan murid. Dalam penelitiannya di jelaskan bahwa banyak para guru mengasumsikan bahwa murid-murid nya akan mendapat pengalam yang lebih di rumah, namun bagi sebagian murid asumsi ini sangatlah salah. Diasumsikan bahwa sejumlah murid diharapkan dapat membantu orang tuanya setelah pulang sekolah dan menjalankan tanggunjawabnya sebagai anak dalam membantu orang tua. Tuntutan bagi anak untuk menjadi pekerja inilah mempersulit mereka untuk mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya di sekolah dan situasi ini jelas mempengaruhi hasil belajarnya. Dari sini dapat dilihat terjadinya konflik antara pekerjaan rumah sehari-hari dengan tugas yang diberikan oleh guru untuk diselesaikan di rumah. Hal-hal lain yang termasuk dalam pedekatan konflik ini mencakup hubungan antara perseorangan atau masyarakat yang diwarnai oleh penindasan, pengisapan, eksploitasi, dan subordinasi.[15]

Struktur dan agen[sunting | sunting sumber]

Kata lain dari struktur dan agen ini ialah suatu yang objektif dan subjektif. Pendekatan ini melihat kesenjangan sosial dalam pendidikan secara tersturktur. Menurut pendapat Bourdieu dalam tulisannya Les Heritiers tahun 1964 menyatakan bahwa kesenjangan sosial dalam pendidikan sangat terasa, terutama ketika membandingkan kesempatan untuk masuk ke perguruan tinggi. Bagi peserta didik yang berasal dari kelas atas kemungkinan ia untuk masuk ke perguruan tinggi sekitar 80%. Sedangkan, bagi mereka yang berasal dari kelas petani dan buruh hanya 40%.[16] Dalam hal ini sekolah dianggap berperan aktif dalam memproduksi kesenjangan sosial. Di satu sisi sekolah merupakan sebuah lembaga yang menghasilkan suatu budaya yang berlaku dan sisi lain terdapatnya kelas-kelas sosial di dalam sekolah yang juga dapa mempengaruhi kemampuan perserta didik dalam memahami pelajaran di sekolah. Bourdieu juga mengungkapkan, peserta didik yang hidup atau berasal dari kelas sosial atas memiliki kedekatan dengan budaya lingkungan sekolah. Maka, keadaan tersebut membuat peserta didik kelas atas memiliki kecendrungan untuk menyerap komunikasi pedagogis lebih efektif pada kelompok sosial ini dibandingkan dengan peserta didik yang berasal dari kelas bawah.[17]

Sosiolog pendidikan di seluruh dunia[sunting | sunting sumber]

Asia[sunting | sunting sumber]

Eropa[sunting | sunting sumber]

Amerika Utara[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Gordon Marshall (ed) A Dictionary of Sociology (Article: Sociology of Education), Oxford University Press, 1998
  2. ^ Soekanto, Soejono (1982). Sosiologi: suatu pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. hlm. 5. ISBN 9794210099. 
  3. ^ a b Schofield, K. (1999). The Purposes of Education, Queensland State Education: 2010 Accessed 2002, Oct 28.
  4. ^ a b Sargent, M. (1994) The New Sociology for Australians (3rd Ed), Longman Chesire, Melbourne
  5. ^ Rahmat, Abdul. "Sosiologi Pendidikan" (PDF). UNG Repository: 40. 
  6. ^ Damsar (2012). Pengantar Sosiologi. Kencana (Prenadamedia). hlm. 2. 
  7. ^ Suardi,Moh (2016), hlm. 11: "Pengertian sosiologi menurut Brinkerhoft dan White adalah studi tematik tentang interaksi sosial manusia. Hubungan dan Pola interaksi yang menjadi titik penekanannya, yaitu bagaimana pola-pola ini tumbuh kembang dan bagaimana mereka dipertahankan dan juga meraka berubah (...)"
  8. ^ Suardi,Moh (2016), hlm. 21: "Sosiologi pendidikan mengkaji masyarakat, yang terdapat dalam pola interaksi sosial dalam hubungannya dengan pendidikan di dalamnya. Hubungan ini dilihat dari hubungannya yang saling mempengaruhi (...)"
  9. ^ Ahmadi, Abu (1982). Sosiologi Pendidikan: membahas gejala pendidikan dalam konteks struktur sosial masyarakat. Surabaya: PT Bina Ilmu. hlm. 16. ISBN 9795180509. 
  10. ^ Suardi,Moh (2016), hlm. 17-18: "Munculnya sosiologi pendidikan tidak lepas dari kondsi-kondisi sosial yang terjadi di eropa. Proses transisi masyarakat eropa sebagai akibat revolusi kesadaran masyarakat dan revolusi industri mengakibatkan melemahnya nilai dan norma tradisional (...)"
  11. ^ Suardi,Moh (2016), hlm. 22: "Ciri-ciri sosiologi pendidikan; Emporis adalah ciri utama dari ilmu sosiologi. Hal yang berkaitan dengan empiris semuanya bersumber dan berasal dari peristiwa atau kenyataan yang terjadi di lapangan (...)"
  12. ^ Goode, William J. (1983). Sosiologi Keluarga. Jakarta: PT Bina Aksara. hlm. 3. ISBN 9786022172864. 
  13. ^ Gunawan, Ary H. (2000). Sosiologi pendidikan: suatu analisis sosiologi tentang pelbagai problem pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. hlm. 49. ISBN 9795187589. 
  14. ^ Soyomukti,Nurani (2016), hlm. 464: "Sebagaimana kita bahas dalam bagian sebelumnya, sosiologi aliran struktural-fungsional mempercayai bahwa cendrung mengarah pada keseimbangan dan ketertiban sosial. Mereka menganalogikakan masyarakat seperti tubuh manusia, dan dengan institusi seperti pendidikan akan membuat masyarakat berjalan dengan baik (...)"
  15. ^ Soyomukti,Nurani (2016), hlm. 466: "Padangan yang melihat pendidikan sebagai produksi sosial merupakan tesis dasar pendekatan sosiologi teori konflik. Bertolak belakang dengan pendekatan struktural-fungsional, teori konflik percaya bahwa masyarakt dipenuhi dengan persaingan dari kelompok-kelompok sosial yang memiliki aspirasi dan kepentingan yang berbeda-beda, serta memiliki akses yang berbeda-beda pula terhadap kesempatan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kesempatan mendapatkan pendapatan-pendatan dan capaian-capaian sosialnya. (...)"
  16. ^ Wachidah, Kemil, Fitria Eka Wulandari. "MITOS KESEMPATAN SAMA DAN REPRODUKSI KESENJANGAN SOSIAL: Gambaran Nyata Kesenjangan Sosial dalam Pendidikan terhadap Anak-anak Petani Tambak Pinggiran Sidoarjo". Berugak Jurnal UIN Mataram: 2. 
  17. ^ Soyomukti,Nurani (2016), hlm. 472-473: "Teori yang disebut dengan teori "reproduksi sosial" ini secara kuat merupakan hasil elaborasi oleh Pierre Bourdieu karena banyak yang mengakui bahwa dialah seorang teoretikus sosial dan filusuf yang banyak memberikan perhatian kepada dikotomi antara suatu yang objektif dan subjektif, atau dalam bahasa yang lain juga sering disebut dikotomi antara struktur dan agen (...)"

Bahan pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Block, A.A., (1997) I’m only bleeding, Education as the Practice of Violence Against Children, Peter Lang, New York
  • Bourdieu, P., (1977) Outline of a Theory of Practice, Cambridge University Press, Cambridge
  • Bourdieu, P., (1984) Distinction, a Social Critique of the Judgement of Taste, Harvard University Press, Cambridge
  • Bourdieu, P., (1986) "The Forms of Capital"
  • Bourdieu, P., (1990) Reproduction: In Education, Society and Culture, Sage Publications, London
  • Bourdieu, P., (1996) The State Nobility, Polity Press, Cambridge
  • Gabbard, D and Saltman, Ken (eds) (2003) Education as Enforcement: The Militarization and Corporatization of Schooling
  • Grenfell, M. (ed) (2008) Pierre Bourdieu: Key concepts, London, Acumen Press.
  • Harker, R., Mahar, C., & Wilkes, C., (eds) (1990) An Introduction to the Work of Pierre Bourdieu: the practice of theory, Macmillan Press, London
  • Lampert, K.,(2003) "Prolegomena for Radical Schooling", University Press of A, Marryland
  • Paulo Freire, (2000) Pedagogy of the Oppressed (3rd Ed), Continuum Press, New York
  • Schofield, K. (1999) “The Purposes of Education”, in Queensland State Education: 2010 (Conference Papers)
  • Spring, J., (2000) Deculturalization and the struggle for Equality: A brief history of the education of dominant cultures in the U.S. McGraw Hill
  • Suardi, Moh (2016). Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: Parama Ilmu. ISBN 9786026643551. 
  • Soyomukti, Nurani (2016). Pengantar Sosiologi. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA. ISBN 9789792548013.