Pendidikan karakter

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bersalaman merupakan wujud rasa saling menghormati yang menunjukkan sikap moral dalam perwujudan pendidikan karakter

Pendidikan karakter adalah bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik dan diperuntukkan bagi generasi selanjutnya.[1] Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju ke arah hidup yang lebih baik.[1] Konsep karakter dapat mengekspresikan berbagai atribut, termasuk kehadiran atau kurangnya kebajikan seperti empati, keberanian, ketabahan, kejujuran, dan kesetiaan, atau perilaku atau kebiasaan yang baik; atribut ini juga merupakan bagian dari soft skill seseorang. Karakter moral terutama mengacu pada kumpulan kualitas yang membedakan satu individu dari yang lain – meskipun pada tingkat budaya, kelompok perilaku moral yang dianut oleh kelompok sosial dapat dikatakan menyatukan dan mendefinisikannya secara budaya sebagai berbeda dari yang lain. Psikolog Lawrence Pervin mendefinisikan karakter moral sebagai "disposisi untuk mengekspresikan perilaku dalam pola fungsi yang konsisten di berbagai situasi"[2] Sama seperti, filsuf Marie I. George menyebut karakter moral sebagai "jumlah dari kebiasaan dan watak moral seseorang" Aristoteles telah mengatakan, "kita harus mengambil sebagai tanda keadaan karakter kesenangan atau rasa sakit yang terjadi pada tindakan."[3]

Pengertian Pendidikan Karakter[sunting | sunting sumber]

Menurut Prof. H. Pramula Mahrus Razzan, Lc, M.Sc, M.Th, Ph.D, Pendidikan Karakter adalah suatu ilmu pengetahuan yang berfungsi memperbaiki karakter manusia yang perlu ditanamkan sejak dini guna mencetak generasi berakhlak dan bermoral Pancasila yang masih dalam lingkup Revolusi Mental.

Gambaran Umum[sunting | sunting sumber]

Kata "karakter" berasal dari kata Yunani Kuno "charaktêr", mengacu pada tanda yang terkesan pada koin. Kemudian itu berarti titik di mana satu hal diceritakan terpisah dari yang lain.[4] Ada dua pendekatan ketika berhadapan dengan karakter moral: Etika normatif melibatkan standar moral yang menunjukkan perilaku benar dan salah. Ini adalah ujian perilaku yang tepat dan menentukan apa yang benar dan salah. Etika terapan melibatkan isu-isu spesifik dan kontroversial bersama dengan pilihan moral, dan cenderung melibatkan situasi di mana orang-orang baik untuk atau menentang masalah tersebut.[4]

Pada tahun 1982 V. Campbell dan R. Bond mengusulkan hal-hal berikut sebagai sumber utama dalam mempengaruhi perkembangan karakter dan moral: keturunan, pengalaman anak usia dini, pemodelan oleh orang dewasa penting dan remaja yang lebih tua, pengaruh teman sebaya, lingkungan fisik dan sosial umum, media komunikasi, ajaran sekolah dan lembaga lain, dan situasi dan peran tertentu yang menimbulkan perilaku yang sesuai.[5]

Bidang etika bisnis mengkaji kontroversi moral yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial praktik bisnis kapitalis, status moral entitas perusahaan, iklan yang menipu, perdagangan orang dalam, hak-hak karyawan, diskriminasi pekerjaan, tindakan afirmatif, dan pengujian narkoba.

Di bidang militer, karakter dianggap sangat relevan di bidang pengembangan kepemimpinan. Para pemimpin militer seharusnya tidak hanya "mengetahui" secara teoritis nilai-nilai moral tetapi mereka harus mewujudkan nilai-nilai ini.[6]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Istilah karakter dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad ke 18.[1] Berikut ini adalah gambaran perkembangan pendidikan karakter dalam kehidupan manusia.[1]

Perang Melawan Lupa[sunting | sunting sumber]

Aktivitas pendidikan sejak awal telah dijadikan sebagai cara bertindak dari masyarakat.[1] Manusia mewariskan nilai yang menjadi bagian penting dari budaya masyarakat dimana tempat mereka hidup dan mewariskan nilai kepada generasi selanjutnya.[1] Pendidikan memiliki peran penting karena pendidikan tidak hanya menentukan keberlangsungan masyarakat, tetapi juga menguatkan identitas individu dalam masyarakat.[1] Dalam prosesnya berjuang melawan lupa dan berusaha membuat kenangan akan harta warisan kebudayaan merupakan awal kegiatan pendidikan.[1]

Pendidikan Karakter Romawi[sunting | sunting sumber]

Pendidikan karakter ala Romawi lebih menekankan pada pentingnya aspek keluarga dalam hal pemberian nilai karakter.[1] Bentuk nyata dari pembentukan karakter itu dimulai dengan memberikan nilai moral seperti memberikan rasa hormat kepada tradisi leluhur kepada setiap generasi penerus.[1] Unsur dasar pendidikan karakter ala Romawi ialah memberikan nilai seperti mengutamakan kebaikan, kesetiaan, dan berperilaku sesuai dengan norma dalam masyarakat.[1]

Pendidikan Karakter di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pendidikan karakter bukan hal baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia.[1] Beberapa pendidik Indonesia modern seperti Soekarno telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa yang bertujuan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter.[1]

Pendidikan Karakter Menurut Nahdlatul Ulama[sunting | sunting sumber]

Menurut Nahdlatul Ulama (NU), diperlukan adanya format baru pendidikan Islam untuk membentuk karakter paripurna/kamil peserta didik. Dimana tolak ukur utamanya adalah nilai yang bersumber dari nilai-nilai agama, dimana untuk menumbuhkan karakter yang kuat pada peserta didik, maka model yang ideal adalah kepribdian Nabi Muhammad SAW, kemudian diambil dari budaya lokal dan dipadukan sebagai kurikulum berbasis karakter, dalam artian nilai-nilai yang terwujud sebagai akhlakul karimah/mahmudah, itulah yang disepakati sebagai karakter yang sudah mentradisi dan membudaya dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Oleh karena itu, harus ada paradigma baru dalam konsep pendidikan kita, yaitu paradigma yang bersifat holistik. Konsep pendidikan holistik sesungguhnya dapat kita gali dari kekayaan warisan pendidikan Islam, yang mana pendidikan harus dapat mendorong pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya; baik itu spritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, bahasa dan lain-lain. Dimana konsep pendidikan holistik Islami di sini adalah konsep pendidikan yang unggul dan terdepan untuk memberdayakan potensi manusia seutuhnya.Spirit pendidikan Islam sesungguhnya mendorong semua aspek kehidupan manusia tersebut menuju ke arah yang lebih baik untuk kemudian membentuk individu-individu yang tunduk kepada ajaran Allah SWT.

Pendidikan Islam sesungguhnya bertujuan untuk mengeksplorasi lebih jauh lagi seluruh aspek kemampuan/potensi yang dimiliki oleh manusia(dalam hal ini peserta didik), baik aspek kognitif, afektif maupun kognitif. Tujuan pendidikan ternyata memiliki kolerasi dengan tiga konsep fundamental dalam Islam, yaitu; Iman, Ihsan dan Islam. Pertama, Iman-Kognitif, artinya; Islam mengajarkan setiap muslim agar memiliki pengetahuan untuk meyakini sesuatu. Islam melarang umatnya mempercayai sesuatu tanpa pengetahuan yang benar dan dari sumber yang dapat dipercaya. Islam mengajarkan bahwa setiap aktivitas manusia sebagai perwujudan pengabdian kepada Allah SWT, haruslah dilandasi dengan pengetahuan yang benar dan dari sumber yang akurat. Oleh sebab itu pendidikan dalam Islam diarahkan untuk mengembangkan daya nalar yang dituntun oleh nilai-nilai tauhid. Pengenalan pertama dimulai dengan mengenal Allah SWT melalui nama dan sifat-Nya. Daya nalar ini berguna bagi manusia untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Daya nalar yang benar dan murni tidaklah bertentangan dengan konsep Al-Quran.

Kedua, komposisi Ihsan-afektif, dapat dipahami dengan melihat bahwa dalam pengembangkan unsur Ihsan dalam pribadi muslim menggunakan daya imajinasi yang tertuntun oleh nilai-nilai tauhid. Pribadi muslim dapat merasakan kehadiran Allah SWT, melalui penghayatan yang diperolehnya dari kerja intuisi di dalam dirinya. Sehingga, seluruh dorongan dan perasaan yang ada didalam dirinya tertuntun oleh adab-adab yang dibolehkan dan diatur dalam al-Quran. Sementara, pada nilai-nilai afektif yang dikembangkan dari psikologi pendidikan Barat itu, baru sampai pada tatanan kemanusiaannya saja. Sedangkan dimensi afektif dalam Islam, memiliki dua garis, yaitu; horizontal dan vertikal. Garis horizontal menghubungkan manusia dengan alam, sedangkan garis vertikal menghubungkan manusia dengan Allah SWT.

Ketiga, Komposisi Islam-konatif. Islam dalam perspektif ini adalah aktivitas dan implementasi seseorang yang mengacu pada nilai-nilai Islam. Sehingga Islam disini dimaknai dengan sikap dan perbuatan atau prilaku-prilaku Islami. Sementara, kalau makna konatif saja adalah aspek implementasi, atau perbuatan seseorang yang dihasilkan berdasarkan serangkaian pengetahuan, pemahaman dan penghayatannya terhadap ilmu pengetahuan yang diperolehnya.Hal inilah yang sebenarnya telah terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan yang menggunakan paradigm Barat, dimana hanya mengenal dua kutub/aspek saja dari kajian tentang manusia, yaitu; Akal dan Jasmaninya saja dan tidak memasukkan kutub/aspek Ruhaniahnya. Maka, sebagai hasilnya lahirlah orang-orang yang cerdas secara intelektual saja, akan tetapi sayang seribu sayang…, amatlah minim dan miskin dari kutub/aspek moralnya.Maka, hal ini pulalah yang terjadi pada realitas sosial produk dari banyak lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia di zaman modern hingga kontemporer sekarang ini.Sehingga, tidak heran lagi, kalau realitas sosial masyarakat Indonesia kini dari tingkat akar rumput sampai kalangan pejabatnya adalah seperti yang kita saksikan pada banyak media pemberitaan yang hasilnya membuat kita miris, ngeri dan prihatin, karena memang banyak hal-hal yang tidak sepantasnya terjadi… .

Haruslah diketahui bahwa, manusia sebagaiproduk lembaga pendidikan seperti tersebut di atas sangatlah berbahaya, baik bagi dirinya sendiri, orang lain maupun lingkungan alam sekitarnya.Sebab, manusia seperti ini, kapan saja bisa menjadi ancaman dan mendatangkan malapetaka dalam berbagai bentuknya bagi hidup dan kehidupan manusia di muka Bumi.

Kelemahan Pendidikan Karakter di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Persoalan pendidikan karakter di Indonesia sejauh ini menyangkut pendidikan moral dan dalam aplikasinya terlalu membentuk satu arah pembelajaran khusus sehingga melupakan mata pelajaran lainnya, dalam pembelajaran terlalu membentuk satu sudut kurikulum yang diringkas kedalam formula menu siap saji tanpa melihat hasil dari proses yang dijalani.[7] Guru/dosen pun cenderung mengarahkan prinsip moral umum secara satu arah, tanpa melibatkan partisipasi siswa untuk bertanya dan mengajukan pengalaman empiriknya.[7] Sejauh ini dalam proses pendidikan di Indonesia yang berorientasi pada Pembentukan karakter individu belum dapat dikatakan tercapai karena dalam prosesnya pendidikan di Indonesia terlalu mengedepankan penilian pencapaian individu dengan tolak ukur tertentu terutama logik-matematik sebagai ukuran utama yang menempatkan seseorang sebagai warga kelas satu.[7] Dalam prosesnya pendidikan karakter yang berorientasi pada moral dikesampingkan dan akibatnya banyak kegagalan nyata pada dimensi pembentukan karakter individu contohnya Indonesia terkenal di pentas dunia karena kisah yang buruk seperti korupsi dengan moralitas yang lembek.[7]

Pendidikan Karakter di Sekolah

Pendidikan karakter merupakan aspek yang penting bagi generasi penerusnya.[1] Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran dalam hal intelektual belaka, tetapi juga harus diberi dalam hal segi moral dan spiritualnya. Seharusnya pendidikan karakter harus diperhatikan seiring dengan perkembangan intelektualnya yang dalam hal ini harus dimulai sejak dini khususnya di lembaga pendidikan.[8] Pendidikan karakter di sekolah bisa dilakukan dengan contoh yang dapat dijadikan teladan bagi murid dan diiringi pemberian pembelajaran seperti keagamaan dan kewarganegaraan sehingga dapat membentuk individu yang berjiwa sosial, berpikir kritis, memiliki dan mengembangkan cita-cita luhur, mencintai dan menghormati orang lain, serta adil dalam segala hal.[9]

Tujuan[sunting | sunting sumber]

Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan spiritual yang ideal.[1] Foerster, seorang ilmuwan, pernah mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk membentuk karakter karena karakter merupakan suatu evaluasi seorang pribadi atau individu serta karakter pun dapat memberi kesatuan atas kekuatan dalam mengambil sikap di setiap situasi.[1] Pendidikan karakter pun dapat dijadikan sebagai strategi untuk mengatasi pengalaman yang selalu berubah sehingga mampu membentuk identitas yang kokoh dari setiap individu dalam hal ini dapat dilihat bahwa tujuan pendidikan karakter ialah untuk membentuk sikap yang dapat membawa kita kearah kemajuan tanpa harus bertentangan dengan norma yang berlaku.[1] Pendidikan karakter pun dijadikan sebagai wahana sosialisasi karakter yang patut dimiliki setiap individu agar menjadikan mereka sebagai individu yang bermanfaat seluas-luasnya bagi lingkungan sekitar.[10] Pendidikan karakter bagi individu bertujuan agar:[10]

  • Mengetahui berbagai karakter baik manusia.
  • Dapat mengartikan dan menjelaskan berbagai karakter.
  • Menunjukkan contoh perilaku berkarakter dalam kehidupan sehari-hari.
  • Memahami sisi baik menjalankan perilaku berkarakter.

Studi di Inggris Raya[sunting | sunting sumber]

Antara 2017 dan 2020, sebuah proyek University of Birmingham meneliti perspektif pribadi dan keyakinan profesional guru Pendidikan Agama di Inggris. Ada kesepakatan yang kuat di antara guru Pendidikan Agama sampel bahwa Pendidikan Agama berkontribusi terhadap pengembangan karakter, dengan 97,7% guru Pendidikan Agama sangat setuju atau setuju dengan sentimen ini. Guru Pendidikan Agama dengan keyakinan agama lebih cenderung berpikir agama itu sendiri mempromosikan karakter yang baik. Dalam artikel jurnal yang diterbitkan kemudian, perbedaan dalam cara guru di sekolah agama dan non-iman mendekati pengetahuan dan pemahaman kebajikan juga diidentifikasi [11]

Pandangan agama[sunting | sunting sumber]

Karakter Kristen juga didefinisikan sebagai menyajikan "Buah Roh Kudus": kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kebaikan, kebaikan, kesetiaan, kelembutan dan pengendalian diri. Doktrin kasih karunia dan kebejatan total menegaskan bahwa – karena dosa asal – umat manusia, seluruhnya atau sebagian, tidak dapat menjadi baik tanpa campur tangan Allah; jika tidak, yang terbaik, seseorang hanya bisa kera perilaku yang baik karena alasan egois.

Eksperimen ilmiah[sunting | sunting sumber]

Dalam satu percobaan yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1985, karakter moral seseorang didasarkan pada apakah seseorang telah menemukan sepeser pun di bilik telepon umum atau tidak. Temuannya adalah bahwa 87% subjek yang menemukan sepeser pun di bilik telepon mengirimkan amplop tertutup dan ditujukan yang ditinggalkan di stan dalam kesalahan nyata oleh orang lain, sementara hanya 4% dari mereka yang tidak menemukan sepeser pun yang membantu.  Beberapa orang merasa sangat meresahkan bahwa orang akan dipengaruhi oleh faktor-faktor moral yang sepele dalam pilihan mereka apakah akan memberikan bantuan berbiaya rendah kepada orang lain. John M. Doris mengangkat masalah validitas ekologis – apakah temuan eksperimental mencerminkan fenomena yang ditemukan dalam konteks alam. Dia menyadari bahwa hasil ini berlawanan dengan intuisi dengan cara kebanyakan dari kita berpikir tentang perilaku yang relevan secara moral.[12]

Eksperimen lain yang dilakukan yang meminta mahasiswa di Cornell untuk memprediksi bagaimana mereka akan berperilaku ketika dihadapkan dengan salah satu dari beberapa dilema moral, dan untuk membuat prediksi yang sama untuk rekan-rekan mereka. Lagi dan lagi, orang-orang meramalkan bahwa mereka akan lebih murah hati dan baik daripada yang lain. Namun ketika dimasukkan ke dalam dilema moral, subjek tidak berperilaku murah hati atau sebaik yang mereka prediksi. Dalam istilah psikologis, subjek eksperimen berhasil mengantisipasi tingkat dasar perilaku moral dan secara akurat memprediksi seberapa sering orang lain, secara umum, akan mengorbankan diri.[12]

Kritik[sunting | sunting sumber]

Pada 1990-an dan 2000-an, sejumlah filsuf dan ilmuwan sosial mulai mempertanyakan anggapan yang menjadi dasar teori karakter moral dan karakter moral. Karena pentingnya karakter moral untuk masalah-masalah dalam filsafat, tidak mungkin perdebatan tentang sifat karakter moral akan berakhir dalam waktu dekat.[13]

Situasionisme dapat dipahami sebagai terdiri dari tiga klaim sentral:[14]

  • Klaim non-ketahanan: ciri-ciri karakter moral tidak konsisten di berbagai spektrum situasi yang relevan dengan sifat. Apa pun ciri-ciri karakter moral yang dimiliki individu adalah situasi spesifik.
  • Klaim Konsistensi: sementara ciri-ciri karakter moral seseorang relatif stabil dari waktu ke waktu, ini harus dipahami sebagai konsistensi sifat-sifat spesifik situasi, bukan sifat-sifat yang kuat.
  • Klaim Fragmentasi: ciri-ciri karakter moral seseorang tidak memiliki integritas evaluatif yang disarankan oleh Klaim Integritas. Mungkin ada perpecahan yang cukup besar dalam karakter moral seseorang di antara sifat-sifat karakter khusus situasinya.

Menurut Situationists, bukti empiris lebih menyukai pandangan mereka tentang karakter moral daripada Pandangan Tradisional. Studi Hugh Hartshorne dan M. A. May tentang sifat kejujuran di antara anak-anak sekolah tidak menemukan korelasi lintas situasional. Seorang anak mungkin secara konsisten jujur dengan teman-temannya, tetapi tidak dengan orang tua atau gurunya. Dari penelitian ini dan lainnya, Hartshorne dan May menyimpulkan bahwa ciri-ciri karakter tidak kuat melainkan "fungsi spesifik dari situasi kehidupan". [14]

Tantangan baru-baru ini terhadap Pandangan Tradisional tidak luput dari perhatian. Beberapa telah mencoba untuk memodifikasi Pandangan Tradisional untuk melindunginya dari tantangan-tantangan ini, sementara yang lain telah mencoba untuk menunjukkan bagaimana tantangan-tantangan ini gagal merusak Pandangan Tradisional sama sekali. Misalnya, Dana Nelkin (2005), Christian Miller (2003), Gopal Sreenivasan (2002), dan John Sabini dan Maury Silver (2005), antara lain, berpendapat bahwa bukti empiris yang dikutip oleh Situationists tidak menunjukkan bahwa individu tidak memiliki sifat karakter yang kuat. [14]

Tantangan kedua terhadap pandangan tradisional dapat ditemukan dalam gagasan keberuntungan moral. Gagasan ini adalah bahwa keberuntungan moral terjadi ketika penilaian moral seorang agen tergantung pada faktor-faktor di luar kendali agen. Fiery Cushman mengklarifikasi bahwa ini adalah penilaian hasil yang terdiri dari karakter agen dan keadaan yang tidak terduga, bukan niat agen. Ada sejumlah cara agar keberuntungan moral dapat memotivasi kritik terhadap karakter moral. Ini mirip dengan "jenis masalah dan situasi yang dihadapi seseorang" Jika semua sifat karakter moral agen adalah spesifik situasi daripada kuat, sifat apa yang dimanifestasikan agen akan tergantung pada situasi di mana dia menemukan dirinya. Tetapi situasi apa yang dialami seorang agen seringkali di luar kendalinya dan dengan demikian merupakan masalah keberuntungan situasional. Apakah sifat-sifat karakter moral kuat atau spesifik situasi, beberapa orang menyarankan bahwa sifat karakter apa yang dimiliki seseorang itu sendiri adalah masalah keberuntungan. Jika kita memiliki sifat-sifat tertentu itu sendiri adalah masalah keberuntungan, ini tampaknya akan merusak tanggung jawab moral seseorang untuk karakter moral seseorang, dan dengan demikian konsep karakter moral sama sekali. Seperti yang ditulis Owen Flanagan dan Amélie Oksenberg Rorty:[14]

Itu [moralitas dan makna hidup individu] akan bergantung pada keberuntungan dalam pengasuhan individu, nilai-nilai yang diajarkan kepadanya, kapasitas pengendalian diri dan konstruksi diri yang memungkinkan lingkungan sosialnya dan mendorongnya untuk berkembang, tantangan moral yang dia hadapi atau hindari. Jika semua karakternya, bukan hanya sifat dan watak temperamental tetapi juga kapasitas refleksif untuk pengendalian diri dan konstruksi diri, adalah masalah keberuntungan, maka ide-ide karakter dan agensi berada dalam bahaya penguapan.

Sifat karakter moral adalah sifat karakter yang menjadi tanggung jawab agen secara moral. Namun, jika tanggung jawab moral tidak mungkin, maka agen tidak dapat dimintai pertanggungjawaban, tergantung pada usia, untuk ciri-ciri karakter mereka atau untuk perilaku yang mereka lakukan sebagai akibat dari sifat-sifat karakter tersebut.

Argumen serupa juga baru-baru ini diadvokasi oleh Bruce Waller. Menurut Waller, tidak ada yang "bertanggung jawab secara moral atas karakter atau kekuatan musyawarahnya, atau atas hasil yang mengalir dari mereka .... Mengingat fakta bahwa dia dibentuk untuk memiliki karakteristik seperti itu oleh kekuatan lingkungan (atau evolusioner) yang jauh di luar kendalinya, dia tidak pantas disalahkan [atau dipuji]". [14]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q Doni Kusumah A. 2007. Pendidikan Karakter. Jakarta:Grasindo.3-5
  2. ^ Pervin, Lawrence A. (1994). Personality stability, personality change, and the question of process. Washington: American Psychological Association. hlm. 315–330. 
  3. ^ Aristotle (2002-02-28). Book II. Oxford University Press. 
  4. ^ a b TIMPE, KEVIN (2007-08-14). "Truth-making and divine eternity". Religious Studies. 43 (3): 299–315. doi:10.1017/s0034412507008918. ISSN 0034-4125. 
  5. ^ "Brown, Stanley B., and Brown, Barbara M. The story of dinosaurs. Irvington-on-Hudson, New York: Harvey House, Publishers, 1958. $2.95". Science Education. 44 (2): 152–152. 1960-03. doi:10.1002/sce.3730440230. ISSN 0036-8326. 
  6. ^ Clark, Alex; Chawner, Brenda (2014-05-23). "Enclosing the public domain: The restriction of public domain books in a digital environment". First Monday. doi:10.5210/fm.v19i6.4975. ISSN 1396-0466. 
  7. ^ a b c d Komaruddin Hidayat. 2008. Reinventing Indonesia. Jakarta:Mizan.190-195
  8. ^ Agus Rukiyanto. 2009. Pendidikan Karakter. Yogyakarta:Kanisius.64-67<nowiki>
  9. ^ Nasar.2dikan Karakter. Jakarta:Grasindo.Kata Pengatar<nowiki>
  10. ^ a b Euis Sunarti. 2005. Menggali Kekuatan Cerita. Jakarta:Elek Media Komputindo.3-8
  11. ^ Religious Education Teachers' Perspectives on Character Education. 2020. British Journal of Religious Education. URL: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/01416200.2020.1713049 43 (3): 349-360
  12. ^ a b Doenecke, Justus D. (1973-10). "American Transcendentalism: An Anthology of Criticism". History: Reviews of New Books. 2 (1): 15–15. doi:10.1080/03612759.1973.9947030. ISSN 0361-2759. 
  13. ^ Moral Philosophy. Routledge. 2012-05-04. hlm. 43–58. ISBN 978-0-203-14010-9. 
  14. ^ a b c d e Moral Philosophy. Routledge. 2012-05-04. hlm. 43–58. ISBN 978-0-203-14010-9.