Sosialisasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sosialisasi adalah usaha memasukkan nilai-nilai kebudayaan terhadap individu sehingga individu tersebut menjadi bagian masyarakat.[1] Proses sosialisasi merupakan pendidikan sepanjang hayat melalui pemahaman dan penerimaan individu atas peranannya di dalam suatu kelompok. Sosialisasi dapat terjadi karena adanya agen primer yaitu keluarga dengan sifat emosional dan afektif, serta agen sekunder, yaitu teman dan perkumpulan yang bersifat leluasa. Tujuan dari adanya sosialisasi adalah mengajarkan kebudayaan yang berlaku dalam suatu kelompok kepada individu dari segi peran dan status sosial.[2]

Definisi[sunting | sunting sumber]

Peter L. Berger (1978) mendefinisikan sosialisasi sebagai proses melalui mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Definisi ini disampaikan oleh Berger dalam suatu kajian yang berjudul Society in Man. Menurut Kamanto Sunarto, definisi yang dipaparkan oleh Berger menunjukkan pandangan bahwa melalui sosialisasi itulah (nilai-nilai) masyarakat masuk ke dalam individu manusia.[3]

Jenis sosialisasi[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.[4]

  • Sosialisasi Primer

Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.[5]

Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.[5]

  • Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Bentuk-bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan' identitas diri yang lama.[5]

Menurut Erving Goffman, proses resosialisasi dan desosialisasi tersebut berkaitan dengan fungsi institusi sosial (social institutions). Institusi-institusi sosial itu antara lain rumah tahanan dan rumah sakit jiwa.[5] Berikut ini adalah apa yang dimaksud Goffman sebagai institusi sosial:

"Suatu tempat tinggal dan bekerja di dalamnya sejumlah individu dalam situasi sama, terputus dari masyarakat yang lebih luas untuk suatu jangka waktu tertentu, bersama-sama mejalani hidup yang terkungkung dan diatur secara formal."[5]

Tipe sosialisasi[sunting | sunting sumber]

Setiap kelompok masyarakat mempunyai standar dan nilai yang berbeda. contoh, standar 'apakah seseorang itu baik atau tidak' di sekolah dengan di kelompok sepermainan tentu berbeda. Di sekolah, misalnya, seseorang disebut baik apabila nilai ulangannya di atas tujuh atau tidak pernah terlambat masuk sekolah. Sementara di kelompok sepermainan, seseorang disebut baik apabila solider dengan teman atau saling membantu. Perbedaan standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada. Ada dua tipe sosialisasi. Kedua tipe sosialisasi tersebut adalah sebagai berikut.

  • Formal

Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.

  • Informal

Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.

Baik sosialisasi formal maupun sosialisasi informal tetap mengarah kepada pertumbuhan pribadi anak agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya. Dalam lingkungan formal seperti di sekolah, seorang siswa bergaul dengan teman sekolahnya dan berinteraksi dengan guru dan karyawan sekolahnya. Dalam interaksi tersebut, ia mengalami proses sosialisasi. dengan adanya proses sosialisasi tersebut, siswa akan disadarkan tentang peranan apa yang harus ia lakukan. Siswa juga diharapkan mempunyai kesadaran dalam dirinya untuk menilai dirinya sendiri. Misalnya, apakah saya ini termasuk anak yang baik dan disukai teman atau tidak? Apakah perliaku saya sudah pantas atau tidak?

Meskipun proses sosialisasi dipisahkan secara formal dan informal, namun hasilnya sangat suluit untuk dipisah-pisahkan karena individu biasanya mendapat sosialisasi formal dan informal sekaligus.

Tujuan Sosialisasi[sunting | sunting sumber]

Dalam sosialisasi, memiliki tujuan antara lain:[6]

1. Memberikan keterampilan kepada seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat. Dengan memberikan sosialisasi kepada individu, maka individu tersebut pada akhirnya dapat dengan mudah belajar untuk bersosialisasi pada masyarakat, sehingga individu tersebut dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat.

2. Mengembangkan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi secara efektif. Dengan sosialisasi, individu dapat dengan terbiasa untuk berkomunikasi dengan dunia luar dan masyarakat.

3. Mengembangkan fungsi-fungsi organik seseorang melalui introspeksi yang tepat. Dengan bersosialisasi, fungsi organik dalam tubuh/jiwa seseorang akan dapat terlatih dengan baik, sehingga individu tersebut dapat dengan mudah untuk berkumpul pada masyarakat. Serta, dengan komunikasi yang baik, maka individu tersebut dapat dengan mudah untuk hidup berdampingan di masyarakat.

4. Menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan kepada seseorang yang mempunyai tugas pokok dalam masyarakat. Dengan sosialisasi, individu dapat dengan mudah untuk mendapatkan kepercayaan diri karena mereka memiliki komunikasi yang baik di masyarakat. Dengan adanya kepercayaan dan komunikasi tersebut maka individu dapat dengan mudah untuk bersosialisasi pada masyarakat.

Pola sosialisasi[sunting | sunting sumber]

Gertrudge Jaeger dengan mengutip Uri Bronfenbrenner dan Melvin L. Kohn,,sosialisasi dapat dibagi menjadi dua pola, yakni; sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris.[7]

  • Sosialisasi represif (repressive socialization) menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Ciri lain dari sosialisasi represif adalah penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Penekanan pada kepatuhan anak dan orang tua. Penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi terletak pada orang tua dan keinginan orang tua, dan peran keluarga sebagai significant other.[7]
  • Sosialisasi partisipatoris (participatory socialization) merupakan pola di mana anak diberi imbalan ketika berprilaku baik. Selain itu, hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan. Penekanan diletakkan pada interaksi dan komunikasi bersifat lisan yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak. Keluarga menjadi generalized other.[7]

Tahap sosialisasi[sunting | sunting sumber]

Menurut George Herbert Mead[sunting | sunting sumber]

George Herbert Mead memaparkan pemikiranya melalui buku Mind, Self, and Society yang terbit pada 1972. Mead menguraikan tahap-tahap pengembangan diri manusia, mulai dari ketika individu manusia baru lahir dan belum memiliki kepribadian, hingga individu tersebut mulai menjadi anggota masyarakat. Menurut Mead pengembangan diri ini terdiri dari tiga tahap.[8] George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui tahap-tahap sebagai berikut:[9]

  • Tahap persiapan (Preparatory Stage)

Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.[9]

  • Tahap meniru (Play Stage)

Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak.[9] Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)

  • Tahap siap bertindak (Game Stage)

Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama.[9] Seseorang mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.

  • Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)

Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tetapi juga dengan masyarakat luas.[9] Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama—bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya—secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

Menurut Charles H. Cooley[sunting | sunting sumber]

Charles H. Cooley menuangkan konsep sosialisasi yang dikenal dengan isitilah self-concept (konsep diri) seseorang melalui interaksinya dengan individu dan kelompok manusia lainnya. Pemikirannya itu yang kemudian berkembang lagi dengan istilah looking glass-self, istilah ini muncul karena Cooley melihat analogi antara pembentukan diri seseorang dengan perilaku seseorang yang sedang bercermin. Analogi ini muncul berdasarkan pemahaman Cooley bahwa jika cermin memantulkan objek yang ada di depannya, maka dengan demikian manusia juga sama - manusia akan memantulkan apa yang dirasakannya sebagai reaksi dari tanggapan masyarakat terhadap dirinya.[10]

Pemikiran Cooley terkenal dengan looking glass-self (cermin diri) yang juga menekankan pentingnya peranan interaksi dalam sosialisasi. Seorang individu berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Dalam hal ini, seorang individu berkembang melalui tiga tahap, yaitu:[11]

  1. Persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya.
  2. Persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya.
  3. Seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya.

Agen sosialisasi[sunting | sunting sumber]

Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Bentuk agen sosialisasi yaitu keluarga, sekolah, kelompok teman sebaya, media massa, agama, lingkungan tempat tinggal, dan tempat kerja. Peran agen sosialisasi adalah untuk meningkatkan partisipasi individu di dalam masyarakat melalui pembentukan pengetahuan sikap, nilai, norma, dan perilaku yang bermakna.[12]

Pesan-pesan yang disampaikan agen sosialisasi berlainan dan tidak selamanya sejalan satu sama lain. Apa yang diajarkan keluarga mungkin saja berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agen sosialisasi lain. Misalnya, di sekolah anak-anak diajarkan untuk tidak merokok, meminum minman keras dan menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba), tetapi mereka dengan leluasa mempelajarinya dari teman-teman sebaya atau media massa.

Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi itu tidak bertentangan atau selayaknya saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, di masyarakat, sosialisasi dijalani oleh individu dalam situasi konflik pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi yang berlainan.

Steve Fuller dan Jerry Jacobs menjelaskan bahwa agen sosiologi terdiri dari empat unsur utama, yakni keluarga, kelompok teman, lembaga pendidikan formal dan media massa. Keduanya mendefinisikan keempat agen tersebut berdasarkan pengamatan mereka terhadap kondisi sosial masyarakat Amerika Serikat, tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa di negara lain juga dapat diterapkan dengan agen-agen yang sama.[13]

Keluarga (kinship)[sunting | sunting sumber]

Keluarga dan teman sebagai agen sosialisasi primer.

Bagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang telah padat penduduknya, sosialisasi dilakukan oleh orang-orabng yang berada di luar anggota kerabat biologis seorang anak. Kadang kala terdapat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat sosiologisnya, misalnya pramusiwi, menurut Gertrudge Jaeger peranan para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap awal sangat besar karena anak sepenuhnya berada dalam ligkugan keluarganya terutama orang tuanya sendiri.

Teman pergaulan[sunting | sunting sumber]

Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu.

Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.

Lingkungan tempat tinggal[sunting | sunting sumber]

Lingkungan tempat tinggal dapat dibagi menjadi perumahan dan perkampungan. Perumahan merupakan lingkungan tempat tinggal yang terencana sehingga memiliki tata ruang yang rapi. Sedangkan lingkungan perkampungan merupakan lingkungan tempat tinggal yang terbentuk secara alamiah dan penghuninya relatif memiliki kehidupan sosial dan budaya yang serupa.[14] Interaksi sosial di dalam perumahan lebih sedikit dibandingkan dengan perkampungan. Pada perumahan elit, pengurangan interaksi sosial bertujuan untuk mengurangi pengaruh negatif dari lingkungan tempat tinggal. Selain itu, berkurangnya interaksi sosial dapat mengurangi risiko timbulnya masalah akibat sosialisasi. Sedangkan bagi lingkungan perkampungan, sebagian besar masyarakat masih memiliki hubungan kekeluargaan dan hubungan kekerabatan.[15]

Agama[sunting | sunting sumber]

Agama mejadi agen sosialisasi melalui lembaga keagamaan. Pertanyaa-pertanyaan tentang makna kehidupan dapat dijawab melalui pemahaman tentang agama. Agama memberikan tuntunan tentang nilai kebenaran sehingga mampu menuntun manusia dalam persoalan moralitas. Dalam hubungan sosial, agama tidak hanya mempengaruhi kerohanian manusia, tetapi juga mempengaruhi berbagai bidang kehidupan lainnya.[16]

Sekolah[sunting | sunting sumber]

Sekolah sebagai agen sosialisasi berbentuk lembaga pendidikan formal.

Menurut Dreeben, dalam lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity). Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab.

Media massa[sunting | sunting sumber]

Media massa juga merupakan agen sosialisasi yang berperan penting.

Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.

Contoh:

  • Penayangan acara SmackDown! di televisi diyakini telah menyebabkan penyimpangan perilaku anak-anak dalam beberapa kasus.
  • Iklan produk-produk tertentu telah meningkatkan pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat pada umumnya.
  • Gelombang besar pornografi, baik dari internet maupun media cetak atau tv, didahului dengan gelombang game eletronik dan segmen-segmen tertentu dari media TV (horor, kekerasan, ketaklogisan, dan seterusnya) diyakini telah mengakibatkan kecanduan massal, penurunan kecerdasan, menghilangnya perhatian/kepekaan sosial, dan dampak buruk lainnya.

Organisasi[sunting | sunting sumber]

Organisasi adalah sekelompok individu yang berkumpul dalam suatu wadah untuk mencapai tujuan yang sama, organisasi itu sebuah wadah yang menampung aspirasi, cita cita, harapan orang-orang. Organisasi memiliki karakter tersendiri, jati diri, sejarah, kisah, suka, sedih, cita-cita, aspiras harapan orang banyak. Organisasi adalah sebuah sebuah sarana sosialisasi dan sebagai wadah yang dibuat untuk menampung aspirasi masyarakat serta untuk mencapai tujuan bersama.

Mengapa organisasi dalam masyarakat sangatlah penting? Organisasi didirikan oleh sekelompok orang tentu memiliki alasan.

  • Sarana Sosial, sebagai “zoon politicon ” artinya mahluk yang hidup secara berkelompok, manusia akan merasa membutuhkan dan penting untuk berorganisasi demi pergaulan.
  • Sarana Pemenuhan Kebutuhan, melalui bantuan organisasi manusia dapat melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukannya sendiri.

Organisasi merupakan suatu wadah untuk mencapai tujuan yang sama,organisasi mempunya tujuan, visi dan misi yang jelas, organisasi memegang pernanan penting dalam suatu masyarakat, karena organisasi dapat membantu/mengajak masyarakat untuk lebih aktif dalam lingkungan & kehidupannya,organisasi bisa sebagai pendukung proses sosialisasi yang berjalan di sebuah lingkungan bermasyrakat.Organisasi bisa juga disebut kumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan.

Tempat kerja[sunting | sunting sumber]

Tempat kerja merupakan agen sosialisasi yang bersifat melengkapi agen sosialisasi lainnya. Sifat keagenan dari tempat kerja adalah adanya partisipasi langsung dari individu terhadap peranan sosialnya di dalam suatu kelompok sosial. Tempat kerja menjadi salah satu agen sosialisasi yang memberikan identitas individu dengan mengaitkannya dengan pekerjaan.[17]

dari konsep diri kita. Pada akhirnya kita akan melihat diri kita

dalam kerangka pekerjaan tersebut, sehingga jika seseorang meminta

kita mendiskripsikan diri kita, kita akan cenderung memasukkan

pekerjaan dalam deskripsi diri kita. Kita mungkin akan menjelaskan:

“saya adalah dosen”, “saya jurnalis”, atau “saya adalah pebisnis”.[17]

Agen-agen lain[sunting | sunting sumber]

Selain keluarga, sekolah, kelompok bermain dan media massa, sosialisasi juga dilakukan oleh institusi agama, tetangga, organisasi rekreasional, masyarakat, dan lingkungan pekerjaan. Semuanya membantu seseorang membentuk pandangannya sendiri tentang dunianya dan membuat presepsi mengenai tindakan-tindakan yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dalam beberapa kasus, pengaruh-pengaruh agen-agen ini sangat besar.

Peran[sunting | sunting sumber]

Pengembangan individu[sunting | sunting sumber]

Sosialisasi meliputi proses mengetahui dan memahami nilai sosial dan tindakan sosial yang berkaitan dengan kebudayaan di dalam masyarakat. Selain itu, sosialiasi juga merupakan proses memperoleh pengetahuan dan berbagai keterampilan yang berkaitan dengan kebudayaan. Dalam sosialisasi, terdapat lembaga sosial yang menerapkan suatu sistem norma sosial. Melalui sosialisasi, kepribadian manusia akan terbentuk dalam individu sejak masa kanak-kanak. Sosialisasi menyerupai pendidikan pada beberapa aspek dan berbeda pada aspek lainnya. Sosialisasi merupakan bentuk proses belajar, tetapi tidak menyeluruh dan tidak terencana. Kesamaan antara sosialisasi dan pendidikan adalah pada kesamaan tujuan yang diharapkan oleh masyarakat dapat terwujud, sehingga sosialisasi merupakan lembaga pendidikan di luar lingkungan keluarga.[18] Sosialisasi melibatkan proses individu dalam mengenali dan menanggapi suatu identitas kebudayaan tertentu. Sifat biologis pada individu diubah ke dalam suatu bentuk kebudayaan tertentu, sehingga terjadi pengendalian diri yang rumit. Dampak yang ditimbulkan ialah timbulnya kesadaran moral, kognitif, dan afektif pada individu yeng sesuai dengan tuntutan masyarakat terhadap peran sosial individu.[19]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Novi Elviadi (2013). "Perilaku Menyimpang Mahasiswa UNP Dalam Memanfaatkan Perpustakaan". Jurnal Sosisologi. 1 (1): 35. 
  2. ^ Rahman, M. T. (2011). Glosari Teori Sosial (PDF). Bandung: Ibnu Sina Press. hlm. 116. ISBN 978-602-99802-0-2. 
  3. ^ Sunarto 2004, hlm. 21.
  4. ^ "Sosialisasi: Pengertian, Proses, Fungsi, dan Tujuannya". 
  5. ^ a b c d e Sunarto 2004, hlm. 29.
  6. ^ http://www.artikelsiana.com/2014/10/pengertian-tujuan-fungsi-sosialisasi-contoh.html
  7. ^ a b c Sunarto 2004, hlm. 31.
  8. ^ Sunarto 2004, hlm. 22 : "Menurut Mead setiap anggota baru masyarakat harus mempelajari peran-peran yang ada dalam masyarakat-suatu proses yang dinamakannya pengambilan peran...".
  9. ^ a b c d e Lusetya Lisnandani (2019). "Bentuk Sosialisasi Pendidikan Karakter Anak Pada Keluarga Single Parent di Desa Gandasuli Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga". Diakses pada 31 Oktober 2020.
  10. ^ Sunarto 2004, hlm. 23 : "Menurut Cooley konsep diri (self-concept) seseorang berkembang melalu interaksinya dengan orang lain. Diri berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini oleh Cooley diberinama looking-glass self.".
  11. ^ Atik Catur Budiati. Sosiologi Kontekstual Untuk SMA & MA (PDF). Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 80. 
  12. ^ Damsar 2010, hlm. 69-70.
  13. ^ Sunarto 2004, hlm. 24.
  14. ^ Damsar 2010, hlm. 79.
  15. ^ Damsar 2010, hlm. 79-80.
  16. ^ Damsar 2010, hlm. 78.
  17. ^ a b Damsar 2010, hlm. 80.
  18. ^ Septiarti, dkk. 2017, hlm. 102.
  19. ^ Septiarti, dkk. 2017, hlm. 102-103.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. Damsar (2010). Pengantar Sosiologi Pendidikan (PDF). Jakarta: Kencana, Prenada Media Group. ISBN 978-602-8730-49-5. 
  2. Septiarti, dkk. (2017). Sosiologi dan Antropologi Pendidikan (PDF). Yogyakarta: UNY Press. ISBN 978-602-6338-47-1. 

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Hurrelmann, Klaus (1989, reissued 2009) Social Structure and Personality Development. Cambridge: Cambridge University Press.
  • McQuail, Dennis (2005) McQuail's Mass Communication Theory: Fifth Edition, London: Sage.
  • White, Graham (1977) Socialisation, London: Longman.
  • Bogard, Kimber. "Citizenship attitudes and allegiances in diverse youth." Cultural Diversity and Ethnic minority Psychology14(4)(2008): 286-296.
  • Cromdal, Jakob. (2006) "Socialization" In: Keith Brown (Ed.), Encyclopedia of Language and Linguistics. North-Holland: Elsevier. 462–66.
  • Mehan, Hugh. "Sociological Foundations Supporting the Study of Cultural Diversity." 1991. National Center for Research on Cultural Diversity and Second Language Learning.
  • Bambi B. Schieffelin, Elinor Ochs. 1987. Language Socialization across Cultures. Volume 3 of Studies in the Social and Cultural Foundations of Language. Publisher Cambridge University Press, ISBN 0521339197 , 9780521339193
  • Alessandro Duranti, Elinor Ochs, Bambi B. Schieffelin. 2011.The Handbook of Language Socialization, Volume 72 of Blackwell Handbooks in Linguistics. Publisher John Wiley & Sons, ISBN 1444342886 , 9781444342888
  • Patricia A. Duff, Nancy H. Hornberger. 2010. Language Socialization: Encyclopedia of Language and Education, Volume 8. Publisher Springer, ISBN 9048194660 , 9789048194667
  • Robert Bayley, Sandra R. Schecter. 2003. Publisher Multilingual Matters, 2003 ISBN 1853596353 , 9781853596353
  • Claire Kramsch. 2003. Language Acquisition and Language Socialization: Ecological Perspectives .Advances in Applied Linguistics. Publisher Continuum International Publishing Group, 2003 ISBN 0826453724 , 9780826453723
  • Bambi B. Schieffelin. 1990. The Give and Take of Everyday Life: Language, Socialization of Kaluli Children. Publisher CUP Archive, 1990 ISBN 0521386543 , 9780521386548
  • Sunarto, Kamanto. Pengantar Sosiologi: Edisi Revisi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 2004. ISBN 979-8140-30-3