Abad Pertengahan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Salib Matilda, sebuah crux gemmata, dibuat untuk Matilda, Abdis Essen (973–1011), yang ditampilkan sedang berlutut di hadapan Bunda Maria dan kanak-kanak Yesus dalam lukisan email mini di kaki salib. Sosok Kristus ditambahkan lebih belakangan. Salib yang kemungkinan besar dibuat di Köln atau di Essen ini memperlihatkan sejumlah teknik kriya Abad Pertengahan, yakni teknik ukir figuratif, teknik filigrana, teknik pelapisan email, teknik gilap dan tatah permata, dan pemanfaatan kembali kameo dan ukiran permata klasik.

Abad Pertengahan atau Zaman Pertengahan dalam sejarah Eropa, berlangsung dari abad ke-5 sampai abad ke-15. Abad Pertengahan bermula sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat dan berlangsung sampai dengan Abad Pembaharuan dan Abad Penjelajahan. Sejarah Dunia Barat secara tradisional dibagi menjadi tiga kurun waktu, yakni Zaman Antik Klasik, Zaman Pertengahan, dan Zaman Modern. Dengan kata lain, Abad Pertengahan merupakan kurun waktu peralihan dari Zaman Antik Klasik ke Zaman Modern. Abad Pertengahan terbagi lagi menjadi Awal Abad Pertengahan, Puncak Abad Pertengahan, dan Akhir Abad Pertengahan.

Penurunan jumlah penduduk, kontraurbanisasi, invasi, dan perpindahan suku-suku bangsa, yang bermula sejak Akhir Abad Antik, masih berlanjut pada Awal Abad Pertengahan. Perpindahan-perpindahan penduduk berskala besar pada Zaman Migrasi meliputi perpindahan suku-suku bangsa Jermani, yang mendirikan kerajaan-kerajaan baru di bekas-bekas wilayah Kekaisaran Romawi Barat. Pada abad ke-7, Afrika Utara dan Timur Tengah—yang pernah menjadi bagian dari wilayah Kekaisaran Bizantium—dikuasai oleh Khilafah Umawiyyah, sebuah kekaisaran Islam, setelah ditaklukkan oleh para penerus Muhammad. Meskipun pada Awal Abad Pertengahan telah terjadi perubahan-perubahan mendasar dalam struktur kemasyarakatan dan politik, pengaruh Zaman Antik Klasik belum benar-benar hilang. Kekaisaran Bizantium yang masih cukup besar tetap sintas di kawasan timur Eropa. Kitab undang-undang Kekaisaran Bizantium, Corpus Iuris Civilis atau "Kitab Undang-Undang Yustinianus", ditemukan kembali di Italia Utara pada 1070, dan kelak mengundang decak kagum dari berbagai kalangan selama Abad Pertengahan. Di kawasan barat Eropa, sebagian besar dari kerajaan yang ada melembagakan segelintir pranata Romawi yang tersisa. Biara-biara didirikan seiring gencarnya usaha mengkristenkan kaum penyembah berhala di Eropa. Orang Franka, dipimpin raja-raja wangsa Karoling, mendirikan Kekaisaran Karoling pada penghujung abad ke-8 dan permulaan abad ke-9. Meskipun wilayahnya kekuasaannya meliputi sebagian besar daratan Eropa Barat, Kekaisaran Karoling kelak terpuruk akibat perang-perang saudara di dalam negeri dan invasi-invasi dari luar negeri, yakni serangan-serangan orang Viking dari arah utara, orang Hongaria dari arah timur, dan orang Saraseni dari arah selatan.

Pada Puncak Abad Pertengahan, yang bermula selepas tahun 1000, populasi Eropa mengalami peningkatan besar-besaran berkat munculnya inovasi-inovasi di bidang teknologi dan pertanian yang memungkinkan berkembangnya perniagaan, serta perubahan iklim selama Periode Suhu Hangat Abad Pertengahan yang memungkinkan meningkatnya hasil panen. Ada dua cara menata masyarakat pada Puncak Abad Pertengahan, yakni Manorialisme dan Feodalisme. Manorialisme adalah pengaturan rakyat jelata menjadi pemukim di desa-desa, dengan kewajiban membayar sewa lahan dan bekerja bakti bagi kaum bangsawan; sementara feodalisme adalah struktur politik yang mewajibkan para kesatria dan bangsawan-bangsawan kelas bawah untuk maju berperang membela majikan mereka sebagai ganti anugerah hak atas sewa lahan dan manerium. Perang Salib, yang mula-mula diserukan pada 1095, adalah upaya militer umat Kristen Eropa Barat untuk merebut kembali kekuasaan atas Tanah Suci dari umat Muslim. Raja-raja menjadi kepala dari negara-negara bangsa yang tersentralisasi. Sistem kepemimpinan semacam ini mengurangi angka kejahatan dan kekerasan, namun membuat cita-cita untuk menciptakan suatu Dunia Kristen yang bersatu semakin sukar diwujudkan. Kehidupan intelektual ditandai oleh skolastisisme, filsafat yang mengutamakan keselarasan antara iman dan akal budi, dan ditandai pula oleh pendirian universitas-universitas. Teologi Thomas Aquinas, lukisan-lukisan Giotto, puisi-puisi Dante dan Chaucer, perjalanan-perjalanan Marco Polo, dan katedral-katedral bergaya arsitektur Gotik semisal Katedral Chartres, adalah beberapa dari capaian-capaian yang menakjubkan menjelang akhir dari kurun waktu Puncak Abad Pertengahan dan permulaan dari kurun waktu Akhir Abad Pertengahan.

Akhir Abad Pertengahan ditandai oleh berbagai musibah dan malapetaka yang meliputi bencana kelaparan, wabah penyakit, dan perang, yang secara signifikan menyusutkan jumlah penduduk Eropa; antara 1347 sampai 1350, Wabah Hitam menewaskan sekitar sepertiga dari penduduk Eropa. Kontroversi, bidah, dan Skisma Barat yang menimpa Gereja Katolik, terjadi bersamaan dengan konflik antarnegara, pertikaian dalam masyarakat, dan pemberontakan-pemberontakan rakyat jelata yang melanda kerajaan-kerajaan di Eropa. Perkembangan budaya dan teknologi mentransformasi masyarakat Eropa, mengakhiri kurun waktu Akhir Abad Pertengahan, dan mengawali permulaan Zaman Modern.

Terminologi dan periodisasi[sunting | sunting sumber]

Abad Pertengahan adalah salah satu dari tiga kurun waktu utama dalam skema terlama yang digunakan untuk menganalisis Sejarah Eropa. Ketiga kurun waktu utama tersebut adalah Zaman Peradaban Klasik atau Zaman Antik, Abad Pertengahan, dan Zaman Modern.[1]

Para pujangga Abad Pertengahan membagi sejarah menjadi sejumlah kurun waktu, misalnya "Enam Zaman" atau "Empat Kekaisaran", dan menganggap zaman hidup mereka sebagai zaman terakhir menjelang kiamat.[2] Bilamana mengulas zaman hidup mereka, maka zaman itu akan mereka sebut sebagai "zaman modern".[3] Pada era 1330-an, tokoh humanis dan penyair Petrarca menyebut kurun waktu pra-Kristen sebagai zaman antiqua (kuno) dan kurun waktu Kristen sebagai sebagai zaman nova (baru).[4] Leonardo Bruni adalah sejarawan pertama yang menggunakan periodisasi tripartit dalam karya tulisnya, Sejarah Orang Firenze (1442).[5] Bruni dan para sejarawan sesudahnya berpendapat bahwa Italia telah banyak berubah semenjak masa hidup Petrarca, dan oleh karena itu menambahkan kurun waktu ketiga pada dua kurun waktu yang telah ditetapkan oleh Petrarca. Istilah "Abad Pertengahan" pertama kali muncul dalam bahasa Latin pada 1469 sebagai media tempestas (masa pertengahan).[6] Mula-mula ada banyak variasi dalam pemakaian istilah ini, antara lain, medium aevum (abad pertengahan), pertama kali tercatat pada 1604,[7] dan media saecula (kurun pertengahan), pertama kali tercatat pada 1625.[8] Istilah "Abad Pertengahan" adalah terjemahan dari frasa medium aevum.[9] Periodisasi tripartit menjadi periodisasi standar setelah sejarawan Jerman abad ke-17, Christophorus Cellarius, membagi sejarah menjadi tiga kurun waktu: Kuno, Pertengahan, dan Modern.[8]

Tarikh yang paling umum digunakan sebagai tarikh permulaan Abad Pertengahan adalah tarikh 476,[10] pertama kali digunakan oleh Bruni.[5][A] Bagi Eropa secara keseluruhan, tarikh 1500 seringkali dijadikan tarikh penutup Abad Pertengahan,[12] akan tetapi tidak ada kesepakatan yang universal mengenai tarikh penutup Abad Pertengahan. Tergantung konteksnya, tarikh peristiwa-peristiwa penting seperti pelayaran pertama Kristoforus Kolumbus ke Benua Amerika pada 1492, penaklukan Konstantinopel oleh orang Turki pada 1453, atau Reformasi Protestan pada 1517, kadang-kadang pula digunakan.[13] Para sejarawan Inggris seringkali menggunakan tarikh peristiwa Pertempuran Bosworth pada 1485 sebagai tarikh penutup Abad Pertengahan.[14] Tarikh yang umum digunakan oleh Spanyol adalah tarikh peristiwa mangkatnya Raja Fernando II pada 1516, mangkatnya Isabel I, Ratu Kastila pada 1504, atau penaklukan Granada pada 1492.[15] Para sejarawan dari negara-negara penutur bahasa-bahasa Roman cenderung membagi Abad Pertengahan menjadi dua kurun waktu: kurun waktu "Tinggi" sebagai kurun waktu yang terdahulu dan kurun waktu "Rendah" sebagai kurun waktu yang terkemudian. Para sejarawan penutur bahasa Inggris, mengikuti jejak rekan-rekan mereka di Jerman, umumnya membagi Abad Pertengahan menjadi tiga kurun waktu: "Awal", "Puncak", dan "Akhir".[1] Pada abad ke-19, seluruh Abad Pertengahan kerap dijuluki "Abad Kegelapan",[16][B] namun sejak diterimanya pembagian Abad Pertengahan menjadi beberapa kurun waktu, pemakaian istilah ini pun dibatasi untuk kurun waktu Awal Abad Pertengahan saja, setidaknya di kalangan sejarawan.[2]

Kekaisaran Romawi Akhir[sunting | sunting sumber]

Sebuah pahatan Romawi akhir yang menggambarkan empat Tetrarkhi, sekarang di Venesia[17]

Kekaisaran Romawi meraih keberadaan teritorial terbesarnya pada abad kedua Masehi; dua abad setelah menyaksikan penurunan lambat kontrol Romawi atas wilayah pinggirannya.[18] Masalah ekonomi, termasuk inflasi, dan tekanan eksternal pada garis-garis depan berpadu dalam menimbulkan Krisis Abad Ketiga, dengan para kaisar yang meraih tahta dengan cepat digantikan oleh para perampas kekuasaan baru.[19] Pengeluaran militer makin meningkat pada abad ketiga, terutama dalam menanggapi perang dengan Kekaisaran Sasaniyah, yang timbul pada pertengahan abad ketiga.[20] Tentara digandakan, danj kavaleri dan unit-unit yang lebih kecil diganti dengan legiun Romawi sebagai unit taktikal utama.[21] Kebutuhan untuk pendapatan berujung pada meningkatkan pajak dan penurunan jumlah kurial, atau kepemilikan tanah, kelas dan penurunan jumlah orang yang memegang tampuk jabatan di kota-kota asal mereka.[20] Para birokrat lebih dibutuhkan dalam pemerintahan pusat untuk menyepakati kebutuhan tentara tersebut, yang berujung pada gugatan dari warga sipil karena lebih banyak pemungut cukai di kekaisaran tersebut ketimbang pembayar pajak.[21]

Kaisar Diokletianus (memerintah 284–305) membagi kekaisaran tersebut ke dalam wilayah timur dan barat yang terpisah secara administratif pada tahun 286; kekaisaran tersebut tak dianggap terbagi oleh para penduduk atau penguasanya, karena penerapan hukum dan pemerintahan di satu divisi dianggap sah di wilayah lainnya.[22][C] Pada 330, setelah masa perang saudara, Konstantinus Agung (memerintah 306-337) mendirikan kembali kota Bizantium sebagai ibukota timur yang baru berganti nama, Konstantinopel.[23] Reformasi Diokletianus memperkuat birokrasi pemerintahan, mereformasi perpajakan, dan memperkuat ketentaraan, yang menunjang masa kekaisaran tersebut namun tak menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya: perpajakan yang berlebihan, penurunan tingkat kelahiran, dan tekanan dari pihak luar, dan lain-lain.[24] Perang saudara antara para kaisar yang bersaing menjadi hal umum pada pertengahan abad ke-4, memecah belah prajurit dari pasukan garis depan kekaisaran tersebut dan membolehkan pasukan invasi untuk menyerang.[25] Selama sebagian besar abad ke-4, masyarakat Romawi distabilisasi dalam bentuk baru yang berbeda dari periode klasik pada masa sebelumnya, dengan jurang besar antara kaum kaya dan kaum miskin, dan penurunan dalam vitalitas kota-kota kecil.[26] Perubahan lainnya adalah penyebaran agama Kristen, atau peralihan kekaisaran tersebut ke agama Kristen, sebuah proses bertahap yang berlangsung dari abad ke-2 sampai ke-5.[27][28]

Peta perkiraan perbatasan politik di Eropa pada sekitar tahun 450

Pada tahun 376, bangsa Goth, yang lari dari bangsa Hun, meraih ijin dari Kaisar Valens (memerintah 364–378) untuk menetap di provinsi Romawi Thracia di Balkan. Pemukiman tersebut tidaklah berjalan mulus, dan saat para pejabat Romawi salah menangani keadaan, bangsa Goth memulai penyerbuan dan menjarah.[D] Valens, yang berupaya untuk meredam keadaan tersebut, tewas saat bertempur melawan bangsa Goth di Pertempuran Adrianopolis pada 9 Agustus 378.[30] Selain itu, ancaman dari konfederasi suku dari wilayah utara, divisi-divisi internal dalam kekaisaran tersebut, khususnya dalam Gereja Kristen, menyebabkan masalah.[31] Pada tahun 400, bangsa Visigoth menginvasi Kekaisaran Romawi Barat dan, meskipun cepat dipukul mundur dari Italia, pada tahun 410 merebut kota Roma.[32] Pada 406, bangsa Alan, bangsa Vandal, dan Suevi melintasi Gaul; sepanjang tiga tahun berikutnya, mereka menyebar ke sepanjang Gaul dan pada tahun 409, melintasi Pegunungan Pirene (sekarang Spanyol).[33] Periode Migrasi dimulai, saat berbagai suku bangsa, terutama suku bangsa Jermanik, pindah ke sepanjang Eropa. Bangsa Frank, Alemanni, dan bangsa Burgundi semuanya berakhir di utara Gaul sementara Angles, bangsa Saxon, dan Jutes bermukim di Britania,[34] dan bangsa Vandal melintasi selat Gibraltar setelah mereka merebut provinsi Afrika.[35] Pada dekade 430an, bangsa Hun mulai menginvasi kekaisaran tersebut; raja mereka Attila (memerintah 434–453) memimpin invasi-invasi ke Balkan pada tahun 442 dan 447, Gaul pada tahun 451, dan Italia pada tahun 452.[36] Ancaman bangsa Hun berlangsung sampai Attila meninggal pada tahun 453, saat konfederasi Hunnik yang ia pimpin terpecah.[37] Invasi-invasi oleh suku-suku tersebut benar-benar mengubah alam politik dan demografi dari apa yang menjadi Kekaisaran Romawi Barat.[34]

Pada akhir abad ke-5, bagian barat dari kekaisaran tersebut terbagi menjadi unit-unit politik yang lebih kecil, diperintah oleh suku-suku yang telah menginvasi pada bagian awal dari abad tersebut.[38] Pelengseran kaisar terakhir di wilayah barat, Romulus Augustulus, pada tahun 476 telah secara tradisional menandai akhir Kekaisaran Romawi Barat.[11][E] Pada tahun 493, semenanjung Italia direbut oleh bangsa Ostrogoth.[39] Kekaisaran Romawi Timur, yang seringkali disebut sebagai Kekaisaran Bizantium setelah kejatuhan wilayah baratnya, memiliki kemampuan yang kecil untuk meraih kontrol atas wilayah barat yang hilang. Para kaisar Bizantium memegang klaim atas wilayah tersebut, namun meskipun tak ada raja-raja baru di barat yang sepakat untuk mengangkat diri mereka sendiri pada jabatan kaisar di wilayah barat, kekuasaan Bizantium atas sebagian besar Kekaisaran Barat tidaklah mengikat; penaklukan kembali periferi Mediterania dan Semenanjung Italia (Perang Gothik) pada masa pemerintahan Yustinianus (r. 527–565) merupakan pengecualian tunggal dan sementara.[40]

Abad Pertengahan Awal[sunting | sunting sumber]

Masyarakat baru[sunting | sunting sumber]

Struktur politik Eropa Barat berubah setelah bubarnya Kekaisaran Romawi. Meskipun gerakan suku bangsa pada masa ini biasanya disebut sebagai "invasi", peristiwa-peristiwa tersebut bukanlah ekspedisi militer namun migrasi seluruh suku bangsa dalam kekaisaran tersebut. Gerakan semacam ini dibantu oleh penolakan kalangan elit Romawi Barat untuk mendukung ketentaraan atau membayar pajak yang akan membolehkan militer untuk menekan migrasi.[41] Para kaisar abad ke-5 seringkali dikontrol oleh pihak militer seperti Stilicho (w. 408), Aetius (w. 454), Aspar (w. 471), Ricimer (w. 472), atau Gundobad (w. 516), yang sebagian atau secara menyeluruh berlatar belakang non-Romawi. Meskipun garis kaisar Barat terhenti, beberapa raja yang menggantikan mereka berasal dari latar belakang yang sama. Pernikahan campur antara raja baru dan elit Romawi menjadi umum.[42] Ini berujung pada perpaduan budaya Romawi dengan adat istiadat suku-suku yang menginvasi, termasuk majelis-majelis populer yang mengijinkan para anggota suku laki-laki lebih bebas untuk berkata dalam materi-materi politik ketimbang rakyat biasa di negara Romawi.[43] Artefak-artefak material yang ditinggalkan oleh bangsa Romawi dan para penginvasi seringkali serupa, dan barang-barang persukuan seringkali berdasarkan pada barang-barang Romawi.[44] Kebanyakan budaya tertulis dan terpelajar dari kerajaan-kerajaan baru juga berdasarkan pada tradisi-tradisi intelektual Romawi.[45] Sebuah perbedaan menonjol adalah hilangnya pendapatan pajak secara bertahap oleh kerajaan-kerajaan baru. Beberapa entitas politik baru tak lama mendukung tentara mereka melalui pajak, disamping memberikan mereka tanah atau sewaan. Hal ini menandakan terdapat kurangnya kebutuhan untuk pendapatan pajak besar dan sehingga sistem pajak terbengkalai.[46] Perang menjadi hal umum di antara dan di dalam kerajaan-kerajaan. Perbudakan (Slavery) menurun karena suplai meningkat, dan masyarakat menjadi lebih pedesaan.[47][F]

Sebuah koin dari pemimpin Ostrogothik Teoderik Agung, disimpan di Milan, sekitar 491–501 Masehi

Antara abad ke-5 dan ke-8, bangsa-bangsa dan orang-orang baru mengisi wadah politik yang ditinggal oleh pemerintahan tersentralisasi Romawi.[45] Ostrogoth, sebuah suku Gothik, bermukim di Italia Romawi pada akhir abad kelima di bawah Teodorik Agung (w. 526) dan menghimpun sebuah kerajaan yang ditandai oleh kerjasamanya antara bangsa Italia dan Ostrogoth, setidaknya sampai tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Teodorik.[49] Bangsa Burgundi bermukim di Gaul, dan setelah itu, sebuah kerajaan yang sebelumnya dihancurkan oleh bangsa Hun pada tahun 436 membentuk kerajaan baru apda 440an. Antara Jenewa dan Lyon pada masa sekarang, ini bertumbuh menjadi kerajaan Burgundy pada akhir abad ke-5 dan awal abad ke-6.[50] Di tempat lainnya di Gaul, bangsa Frank dan bangsa Briton Keltik menghimpun negara-negara kecil. Francia terpusat di utara Gaul, dan raja pertama yang banyak diketahui adalah Childeric I (w. 481). Makamnya ditemukan pada tahun 1653 dan dikenal karena barang-barang makamnya, yang meliputi persenjataan dan sejumlah besar emas.[51]

Di bawah kepemimpinan putra Childeric Clovis I (memerintah 509–511), pendiri dinasti Merovingian, kerajaan Frankish meluas dan berpindah ke agama Kristen. Bangsa Briton, yang berkaitan dengan orang-orang asli Britannia – sekarang Britania Raya – bermukim di apa yang menjadi Brittany.[52][G] Monarki-monarki lainnya didirikan oleh Kerajaan Visigothik di Semananjung Iberia, Suebi di barat laut Iberia, dan Kerajaan Vandal di Afrika Utara.[50] Pada abad keenam, bangsa Lombard bermukim di Italia Utara, menggantikan kerajaan Ostrogothik dengan pengelompokan kadipaten-kadipaten yang secara khusus memilih seorang raja untuk memerintah mereka semua. Pada akhir abad keenam, aransemen ini digantikan oleh monarki permanen, Kerajaan Lombard.[53]

Invasi-invasi tersebut menimbulkan kelompok-kelompok etnis baru di Eropa, meskipun beberapa wilayah meraih pengaruh yang lebih besar dari bangsa-bangsa baru ketimbang wilayah lainnya. Di Gaul contohnya, pasukan invasi bermukim lebih ekstensif di timur laut ketimbang barat daya. Bangsa Slav bermukim di Eropa Tengah dan Timur dan Semenanjung Balkan. Pemukiman suku bangsa tersebut disertai oleh perubahan dalam bahasa-bahasa. Latin dari Kekaisaran Romawi Barat secara bertahap digantikan oleh bahasa-bahasa yang berdasarkan pada, namun berbeda dari, Latin, yang secara kolektif dikenal sebagai rumpun bahasa Romansa. Perubahan dari Latin ke bahasa-bahasa baru tersebut terjadi selama beberapa abad. Bahasa Yunani masih menjadi bahasa Kekaisaran Bizantium, namun migrasi bangsa Slav menambahkan rumpun bahasa Slavik ke Eropa Timur.[54]

Pertahanan Bizantium[sunting | sunting sumber]

Sebuah mosaik yang menampilkan Yustinianus dengan uskup dari Ravenna, para penjaga, dan para abdi.[55]

Saat Eropa Barat mengalami pembentukan kerajaan-kerajaan baru, Kekaisaran Romawi Timur masih bertahan dan mengalami kebangkitan ekonomi yang berlangsung pada awal abad ke-7. Terdapat beberapa invasi ke wilayah timur kekaisaran tersebut; terutama di Balkan. Perdamaian dengan Kekaisaran Sasaniyah, musuh bebuyutan Roma, berlangsung sepanjang sebagian besar abad ke-5. Kekaisaran Timur ditandai dengan hubungan yang makin dekat dengan ranah politik dan Gereja Kristen, dengan materi-materi doktrinal memegang pengaruh dalam politik Timur yang tak dimiliki di Eropa Barat. Perkembangan hukum meliputi pengkitaban hukum Romawi; upaya pertama—Codex Theodosianus—diselesaikan pada 438.[56] Di bawah Kaisar Yustinianus (memerintah 527–565), kompilasi lainnya muncul—Corpus Juris Civilis.[57] Yustinianus juga membangun Hagia Sophia di Konstantinopel dan merebut kembali Afrika Utara dari bangsa Vandal dan Italia dari bangsa Ostrogoth,[58] di bawah Belisarius (w. 565).[59] Perebutan Italia belum rampung, karena pecahnya wabah mematikan pada tahun 542 yang membuat sisa-sisa masa pemerintahan Yustinianus terkonsentrasi pada hal-hal defensif ketimbang penaklukan lanjutan.[58]

Saat Kaisar wafat, Bizantium menguasai sebagian besar Italia, Afrika Utara dan sebagian kecil selatan Spanyol. Penaklukan kembali Yustinianus dikritik oleh para sejarawan karena terlalu memperbesar kerajaannya dan menimbulkan penaklukan Muslim awal, namun beberapa kesulitan yang dihadapi oleh para penerus Yustinianus dihadapi oleh para penerus Yustinianus karena tak hanya pajak yang berlebihan untuk membayar peperangannya namun secara khusus alam sipil dari kekaisaran tersebut, yang membuat pasukan sulit meningkat.[60]

Di Kekaisaran Timur, infiltrasi lemban dari Balkan oleh bangsa Slav menambahkan kesulitan lanjutan bagi para penerus Yustinianus. Ini dimulai secara bertahap, namun pada akhir 540an, suku-suku Slavik berada di Thrace dan Illyrium, dan telah mengalahkan tentara kekaisaran di dekat Adrianopolis pada tahun 551. Pada 560an, bangsa Avar mulai meluas dari basis mereka di tepi utara Danube; pada akhir abad ke-6, mereka menjadi kekuatan dominan di Eropa Tengah dan secara rutin dapat memaksa para kaisar Timur untuk membayar upeti. Mereka masih kuat sampai tahun 796.[61]

Masalah tambahan yang dihadapi kekaisaran tersebut datang sebagai akibat dari keterlibatan Kaisar Maurice (memerintah 582–602) dalam politik Persia saat ia ikut campur dalam persengketaan penerus. Ini berujung pada periode damai, namun saat Maurice lengser, pasukan Persia menginvasi dan pada masa pemerintahan Kaisar Heraklius (memerintah 610–641) menguasai sebagian besar kekaisaran tersebut, termasuk Mesir, Suriah, dan Anatolia sampai serangan balasan sukses Heraklius. Pada 628, kekaisaran tersebut menghimpun perjanjian damai dan memulihkan seluruh wilayahnya yang direbut.[62]

Masyarakat Barat[sunting | sunting sumber]

Di Eropa Barat, beberapa keluarga elit Romawi lama meninggal sementara yang lainnya makin terlibat dalam urusan gerejawi ketimbang urusan sekuler. Nilai-nilai yang dimajukan pada pendidikan dan pembelajaran Latin kebanyakan hilang, dan meskipun kesusastraan masih berpengaruh, ini menjadi keterampilan praktikal ketimbang tanda status elit. Pada abad ke-4, Hieronimus (w. 420) memimpi bahwa Allah membujuknya untuk menjalani lebih banyak waktu membaca Cicero ketimbang Alkitab. Pada abad ke-6, Gregorius dari Tours (d. 594) memiliki mimpi serupa, namun sebagai ganti diminta untuk membaca Cicero, ia diminta untuk memahami stenografi.[63] Pada akhir abad ke-6, alat-alat utama dari pengarahan keagamaan di Gereja telah menjadi musik dan seni ketimbang kitab.[64] Kebanyakan upaya intelektual ingin mengimitasi pembelajaran klasik, namun beberapa karya-karya asli dibuat, bersama dengan komposisi-komposisi lisan yang sekarang hilang. Tulisan-tulisan Sidonius Apollinaris (w. 489), Cassiodorus (w. s. 585), dan Boethius (w. s. 525) adalah orang khas pada zaman tersebut.[65]

Perubahan juga terjadi di kaum awam, saat budaya aristokratik berfokus pada perayaan-perayaan besar yang diadakan di balai-balai ketimbang pada hal-hal kesusastraan. Busaya bagi kaum elit diperkaya dengan perhiasan dan emas. Para tuan tanah dan raja mendukung pendorongan para pejuang yang membentuk tulang punggung pasukan militer.[H] Hubungan keluarga dalam kalangan elit menjadi penting, karena merupakan nilai-nilai kesetiaan, keberanian, dan kehormatan. Hubungan tersebut berujung pada penghindaran permusuhan dalam masyarakat arsitokratik, contoh-contoh yang meliputi adalah orang-orang yang berkaitan dengan Gregorius dari Tours yang bertempat di Merovingian Gaul. Kebanyakan permusuhan berakhir cepat dengan pembayaran sejumlah kompensasi.[68] Kaum wanita mengambil bagian dalam masyarakat aristokratik terutama dalam peran-peran mereka sebagai istri dan ibu dari pria, dengan peran dari ibu seorang penguasa yang secara khusus berpengaruh di Merovingian Gaul. Dalam masyarakat Anglo-Saxon, kurangnya beberapa penguasa cilik menandakan sedikit peran dari wanita sebagai ibu suri, namun ini dikompensasi dengan peningkatan peran yang dimainkan oleh para abbas dari monasteri-monasteri. Hanya di Italia yang nampak bahwa wanita selalu dianggap berada di bawah perlindungan dan kontrol kerabat laki-laki.[69]

Rekonstruksi desa petani abad pertengahan awal di Bayern

Masyarakat petani kurang terdokumentasi ketimbang bangsawan. Kebanyakan informasi tersedia yang masih ada dari para sejarawan datang dari arkeologi; beberapa catatan tertulis mendetil yang mendokumentasikan kehidupan petani masih dari sebelum abad ke-9. Kebanyakan deskripsi dari kelas bawah datang dari kitab hukum atau penulis dari kelas atas.[70] Susunan kepemilikan lahan di Barat tidaklah seragam; beberapa wilayah memiliki susunan kepemilikan tanah yang sangat terfragmentasi, namun di wilayah lain, blok-blok lahan besar berkelanjutan adalah hal biasa. Perbedaan tersebut membolehkan ragam besar dari masyarakat petani, beberapa didominasi oleh para tuan tanah aristokratik dan yang lainnya memiliki kesepakatan otonomi besar.[71] Pemukiman lahan juga sangat beragam. Beberapa petani tinggal di pemukiman besar yang berjumlah sekitar 700 penduduk. Yang lainnya tinggal dalam kelompok kecil dari beberapa keluarga dan yang lainnya tinggal di perkebunan terisolasi yang tersebar di wilayah pinggiran. Terdapat juga wilayah dimana susunannya adalah campuran dari kedua sistem tersebut atau lebih.[72] Tak seperti periode Romawi akhir, tak ada perpecahan antara status hukum petani bebas dan aristokrat, dan ini memungkinkan keluarga petani bebas untuk ditingkatkan menjadi aristokrasi pada beberapa generasi melalui penugasan militer kepada tuan tanah berkuasa.[73]

Kehidupan dan budaya kota Romawi sangat berubah pada awal Abad Pertengahan. Meskipun kota-kota Italia masih ditempati, mereka dikontrak secara signifikan dalam ukuran. Contohnya, populasi Romawi turun dari ratusan ribu menjadi sekitar 30,000 pada akhir abad ke-6. Kuil-kuil Romawi diubah menjadi gereja-gereja Kristen dan tembok-tembok kota masih dipakai.[74] Di Eropa Utara, kota-kota juga menurun, sementara monumen-monumen sipil dan gedung-gedung umum lainnya diserbu untuk diambil material-material bangunannya. Pendirian kerajaan-kerajaan baru seringkali menunjukkan beberapa pertumbuhan untuk kota-kota yang dipilih sebagai ibukota.[75] Meskipun terdapat komunitas Yahudi di beberapa kota Romawi, Yahudi mengalami masa-masa penindasan setelah kekaisaran tersebut beralih ke agama Kristen. Secara resmi mereka ditoleransi, jika mereka bersedia berpindah agama, dan berkali-kali didorong untuk bermukim di wilayah-wilayah baru.[76]

Kemunculan Islam[sunting | sunting sumber]

Penaklukan Muslim awal
  Ekspansi di bawah Muhammad, 622–632
  Ekspansi pada masa Kekhalifahan Patriarkhal, 632–661
  Ekspansi pada masa Kekhalifahan Umayyah, 661–750

Kepercayaan agama di Kekaisaran Timur dan Iran meningkat pada akhir abad keenam dan awal abad ketujuh. Yudaisme menjadi kepercayaan yang aktif melakukan pengabaran, dan setidaknya satu pemimpin politik Arab berpindah ke agama tersebut.[I] Agama Kristen memiliki misi-misi aktif yang bersaing dengan Zoroastrianisme Persia dalam mencari pengikut, khususnya para pemukim Jazirah Arab. Semuanya berdiri bersamaan dengan kemunculan Islam di Arabia pada masa hidup Muhammad (w. 632).[78] Setelah ia wafat, pasukan Islam merebut sebagian besar Kekaisaran Timur dan Persia, dimulai dengan Suriah pada 634–635 dan mencapai Mesir pada 640–641, Persia antara 637 dan 642, Afrika Utara pada akhir abad ketujuh, dan Semenanjung Iberia pada tahun 711.[79] Pada 714, pasukan Islam menguasai sebagian besar semenanjung tersebut di sebuah kawasan yang mereka sebut Al-Andalus.[80]

Penaklukan-penaklukan Islam mencapai puncaknya pada pertengahan abad kedelapan. Kekalahan pasukan Muslim di Pertempuran Tours pada tahun 732 berujung pada perebutan kembali selatan Perancis oleh bangsa Frank, namun alasan utama terhambatnya pertumbuhan Islam di Eropa adalah keruntuhan Kekhalifahan Umayyah dan penggantiannya oleh Kekhalifahan Abbasiyah. Abbasiyah memindahkan ibukotanya ke Baghdad dan lebih menyoroti Timur Tengah ketimbang Eropa, kehilangan kekuasaan dari wilayah-wilayah dari tanah Muslim. Para keturunan Umayyah mengambil alih Semenanjung Iberia, Aghlabiyah menguasai Afrika Utara, dan Tuluniyah menjadi penguasa Mesir.[81] Pada pertengahan abad ke-8, susunan dagang baru muncul di Laut Tengah; perdagangan antara bangsa Frank dan Arab menggantikan ekonomi Romawi lama. Bangsa Frank memperdagangkan kayu, bulu, pedang dan budak untuk ditukar dengan sutra dan kain lainnya, rempah-rempah, dan metal berharga dari bangsa Arab.[82]

Perdagangan dan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Migrasi dan invasi pada abad ke-4 dan ke-5 mengganggu jaringan perdagangan di sekitaran Laut Tengah. Barang-barang Afrika berhenti diimpor ke Eropa, mula-mula hilang dari wilayah dalam dan pada abad ke-7 hanya ditemukan di beberapa kota seperti Roma atau Napoli. Pada akhir abad ke-7, di bawah dampak penaklukan Muslim, produk-produk Afrika tidak lagi ditemukan di Eropa Barat. Penggantian barang dari perdagangan dari tempat jauh dengan produk-produk lokal menjadi tren di seluruh wilayah Romawi lama yang terjadi pada Awal Abad Pertengahan. Ini secara khusus ditandai dengan lahan-lahan yang tak membentang di Laut Tengah, seperti utara Gaul dan Britania. Barang-barang non-lokal muncul dalam catatan arkeologi biasanya adalah barang-barang mewah. Di bagian utara Eropa, tak hanya jaringan dagang lokal, namun barang-barang yang bersifat sederhana, dengan tembikar kecil atau produk kompleks lainnya. Di sekitaran Laut Tengah, tembikar masih khas dan nampak diperdagangkan pada jaringan rangkaian menengah, tak sekadar diproduksi secara lokal.[83]

Berbagai negara Jermanik di barat semuanya memiliki koin-koin yang meniru bentuk-bentuk Romawi dan Bizantium yang ada. Emas masih dicetak sampai akhir abad ke-7, saat ini digantikan oleh koin-koin perak. Koin perak Frankish dasar adalah denarius atau denier, sementara versi Anglo-Saxon-nya disebut penny. Dari wilayah tersebut, denier atau penny menyebar ke seluruh Eropa sepanjang berabad-abad dari tahun 700 sampai tahun 1000. Koin-koin perunggu dan tembaga tak tersedia, meskipun emas masih ada di Eropa Selatan. Tak ada koin perak yang didenominasikan dalam unit-unit berganda yang dicetak.[84]

Gereja dan monastisisme[sunting | sunting sumber]

Sebuah ilusttrasi abad ke-11 dari Gregorius Agung mendikte seorang juru tulis

Agama Kristen menjadi sebab penyatuan besar antara Eropa Timur dan Barat sebelum penaklukan Arab, namun penaklukan Afrika Utara menghambat hubungan maritim antara wilayah tersebut. Gereja Bizantium makin berbeda dalam hal bahasa, praktik, dan liturgi dari Gereja Barat. Gereja Timur memakai bahasa Yunani menggantikan bahasa Latin Barat. Perbedaan teologi dan politik timbul, dan pada awal dan pertengahan abad ke-8, kemunculan seperti ikonoklasme, pernikahan rohaniwan, dan kontrol negara atas Gereja telah menimbulkan perbedaan budaya dan agama melebihi kesamaan.[85] Perpecahan formal, yang dikenal sebagai Skisma Barat-Timur, terjadi pada tahun 1054, saat kepausan dan patriarkhi Konstantinopel terpecah atas supremasi kepausan dan saling mengekskomunikasi satu sama lain, yang berujung pada pembagian Kristen menjadi dua Gereja—cabang Barat yang menjadi Gereja Katolik Roma dan cabang Timur yang menjadi Gereja Ortodoks Timur.[86]

Struktur gerejawi Kekaisaran Romawi mengelamatkan wilayah barat dari pergerakan dan invasi, meskipun kepausan berpengaruh kecil, dan beberapa uskup Barat menyanjung uskup Roma untuk kepemimpinan agama atau politik. Beberapa paus sebelum tahun 750 lebih menyoroti urusan Bizantium dan kontroversi-kontroversi teologi Timur. Pendaftaran, atau salinan-salinan arsip dari surat-surat Paus Gregorius Agung (menjabat 590–604) masih ada, dan berjumlah lebih dari 850 surat, kebanyakan berisi soal urusan di Italia atau Konstantinopel. Satu-satunya bagian dari Eropa Barat dimana kepausan memiliki pengaruh adalah Britania, dimana Gregorius telah mengirim misi Gregorian pada tahun 597 untuk memindahkan bangsa Anglo-Saxon ke agama Kristen.[87] Para misionaris Irlandia banyak aktif di Eropa Barat antara abad ke-5 dan ke-7, mula-mula ke Inggris dan Skotlandia kemudian ke daratan utama benua. Di bawah pengarahan para biarawan seperti Kolumba (w. 597) dan Kolumbanus (w. 615), mereka mendirikan monasteri-monasteri, mengajar dalam bahasa Latin dan Yunani, dan mengarang karya-karya sekuler dan relijius.[88]

Abad Pertengahan Awal diisi dengan kebangkitan monastisisme di wilayah Barat. Bentuk monastisisme Eropa bergantung pada tradisi dan gagasan yang bermula dari Bapa-Bapa Gurun di Mesir dan Suriah. Kebanyakan monasteri Eropa merupakan jenis yang berfokus pada pengalaman komunitas dari kehidupan spiritual, yang disebut senobitisme, yang dipionirkan oleh Pakhomius (w. 348) pada abad ke-4. Gagasan monastik menyebar dari Mesir ke Eropa Barat pada abad ke-5 dan ke-6 melalui sastra hagiografi seperti Kehidupan Antonius.[89] Benediktus dari Nursia (w. 547) menulis Aturan Benediktus untuk monastisisme Barat pada abad ke-6, menjelaskan tanggung jawab administratif dan spiritual dari sebuah komunitas biarawan yang dipimpin oleh seorang abbas.[90] Para biarawan dan monasteri-monasteri memiliki dampak mendalam pada kehidupan agama dan politik Abad Pertengahan Awal, dalam berbagai kasus bertindak sebagai pemercayaan lahan bagi para keluarga berkuasa, pusat-pusat propaganda dan dukungan kerajaan di wilayah yang baru direbut, dan basis-basis untuk misi dan proselitisasi.[91] Mereka adalah hal utama dan terkadang satu-satunya tempat pencarian pendidikan dan kesusastraan di sebuah wilayah. Beberapa manuskrip klasik Latin yang masih ada disalin di monasteri-monsteri pada Abad Pertengahan Awal.[92] Para biarawan juga merupakan pengarang karya-karya baru, yang meliputi sejarah, teologi, dan subyek lainnya, yang ditulis oleh para pengarang seperti Bede (w. 735), orang asal Inggris utara yang menulis pada akhir abad ke-7 dan awal abad ke-8.[93]

Eropa Karoling[sunting | sunting sumber]

Peta yang menampilkan pertumbuhan kekuasaan Frankish dari 481 sampai 814

Kerajaan Frankish di utara Gaul terpecah menjadi kerajaan-kerajaan bernama Austrasia, Neustria, dan Burgundi pada abad ke-6 dan ke-7, semuanya diperintah oleh dinasti Merovingian, yang merupakan keturunan dari Clovis. Abad ke-7 adalah periode puncak dari peperangan antara Austrasia dan Neustria.[94] Perang semacam itu dieksploitasi oleh Pippin (w. 640), Mayor Istana untuk Austrasia yang menjadi kekuatan di balik takhta Austrasia. Para anggota berikutnya dari keluarganya mewarisi jabatan tersebut, bertindak sebagai penasehat dan wali raja. Salah satu keturunannya, Charles Martel (w. 741), memenangkan Pertempuran Poitiers pada 732, menghambat laju tentara Muslim di sepanjang Pirene.[95][J] Britania Raya terbagi menjadi negara-negara kecil yang didominasi oleh kerajaan-kerajaan Northumbria, Mercia, Wessex, dan Anglia Timur, yang merupakan keturunan dari penginvasi Anglo-Saxon. Kerajaan-kerajaan yang lebih kecil di Wales dan Skotlandia pada masa sekarang masih berada di bawah kekuasaan orang Briton asli dan Pict.[97] Irlandia terbagi menjadi unit-unit politik yang lebih kecil, biasanya dikenal sebagai kerajaan-kerajaan persukuan, di bawah kekuasaan para raja. Terdapat mungkin sekitar 150 raja lokal di Irlandia, dengan beragam pengaruh.[98]

Dinasti Karoling, sesuai dengan yang diketahui para penerus Charles Martel, secara resmi mengambil kekuasaan kerajaan-kerajaan Austrasia dan Neustria dalam sebuah kudeta tahun 753 pimpinan Pippin III (memerintah 752–768). Sebuah kronik kontemporer mengklaim bahwa Pippin dapat meraih otoritas dari kudeta tersebut dariu Paus Stefanus II (menjabat 752–757). Pengambilalihan Pippin disertai dengan propaganda yang menyatakan dinasti Merovingian sebagai para penguasa penghisap atau kejam, lebih rendah dari Charles Martel, dan cerita-cerita yang beredar dari kekejian besar dari keluarga tersebut. Pada masa kematiannya pada 768, Pippin meninggalkan kerajaan tersebut di tangan dua putranya, Charles (memerintah 768–814) dan Carloman (memerintah 768–771). Saat Carloman meninggal karena sebab alami, Charles memblok penerus putra muda Carloman dan mengangkat dirinya sendiri sebagai raja Austrasia dan Neustria. Charles, yang sering dikenal sebagai Charles Agung atau Charlemagne, memajukan program ekspansi sistematis pada 774 yang menyatikan sebagian besar Eropa, kemudian menguasai Perancis, utara Italia, dan Saxony. Dalam perang yang berlangsung pada tahun 800, ia menganugerahi para sekutu dengan but perang dan komando atas parsel-parsel lahan.[99] Pada 774, Charlemagne menaklukkan Lombard, yang membebaskan kepausan dari kekhawatiran penaklukan Lombard dan menandai permulaan Negara-Negara Kepausan.[100][K]

Kapel istana Charlemagne di Aachen, diselesaikan pada 805[102]

Koronasi Charlemagne sebagai kaisar pada Hari Natal tahun 800 dianggap sebagai titik balik dalam sejarah abad pertengahan, menandai kembalinya Kekaisaran Romawi Barat, sejak kaisar baru tersebut memerintah atas sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh para kaisar Barat.[103] Ini juga menandai perubahan dalam hubungan Charlemagne dengan Kekaisaran Bizantium, saat pengangkatan gelar kekaisaran oleh dinasti Karoling dinyatakan setara dengan negara Bizantium.[104] Terdapat beberapa perbedaan antara Kekaisaran Karoling yang baru berdiri dan Kekaisaran Romawi lama dan Kekaisaran Bizantium saat itu. Wilayah Frankish berkarakteristik pedesaan, dengan hanya beberapa kota kecil. Kebanyakan orang adalah petani yang bermukim di kebun-kebun kecil. Perdagangan kecil terjadi dan kebanyakan terjadi di Kepulauan Britania dan Skandinavia, berkebalikan dengan Kekaisaran Romawi lama dengan jaringan dagangnya terpusat di Laut Tengah.[103] Kekaisaran tersebut diperintah oleh pemerintahan itineran yang dinaungi kaisar, serta sekitar 300 pejabat kekaisaran yang disebut count (bupati), yang memerintah county-county (kabupaten-kabupaten) yang terbagi dari kekaisaran tersebut. Rohaniwan dan uskup lokal menjabat sebagai pejabat, serta pejabat kekaisaran disebut missi dominici, yang menjabat sebagai inspektur dan penyelesai ketegangan.[105]

Renaisans Karoling[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan Charlemagne di Aachen menjadi pusat kebangkitan kebudayaan yang terkadang disebut sebagai "Renaisans Karoling". Melek huruf meningkat, karena perkembangan dalam seni rupa arsitektur dan yurisprudensi, serta kajian-kajian sastra dan skriptura. Biarawan Inggris Alcuin (w. 804) diundang ke Aachen dan membawa pendidikan yang tersedia di monasteri-monasteri Northumbria. Kanseri Charlemagne—atau juru tulis—memakai aksara baru yang sekarang dikenal sebagai minuskul Karoling,[L] membolehkan sebuah gaya tulis umum yang memajukan komunitas di sepanjang sebagian besar Eropa. Charlemagne mensponsori perubahan dalam liturgi gereja, menghimpun bentuk layanan gereja Romawi pada domain-domainnya, serta pujian Gregorian dalam musik liturgi untuk gereja-gereja. Sebuah kegiatan penting untuk para cendekiawan pada masa ini adalah penyalinan, pengkoreksian, dan peninjauan karya-karya dasar tentang topik agama dan sekuler, dengan tujuan mendorong pembelajaran. Karya-karya baru tentang topik agama dan buku-buku pelajaran juga dibuat.[107] Tata bahasa dari periode tersebut memodifikasi bahasa Latin, mengubahnya dari Latin Klasik dari Kekaisaran Romawi menjadi bentuk yang lebih fleksibel untuk menyelaraskan kebutuhan Gereja dan pemerintah. Pada masa pemerintahan Charlemagne, bahasa telah diragamkan dari bentuk klasiknya menjadi yang kemudian disebut Bahasa Latin Abad Pertengahan.[108]

Perpecahan Kekaisaran Karoling[sunting | sunting sumber]

Perpecahan wilayah Kekaisaran Karoling pada tahun 843, 855, dan 870

Charlemagne berencana melanjutkan tradisi Frankish dengan membagi kerajaannya di antara seluruh pewarisnya, namun tak dapat dilakukan karena putra tunggalnya, Louis si Pius (memerintah 814–840), masih hidup pada 813. Sebelum Charlemagne wafat pada 814, ia memahkotai Louis sebagai penerusnya. Masa pemerintahan Louis selama 26 tahun ditandai dengan sejumlah perpecahan kekaisaran di antara putra-putranya dan, setelah 829, peperangan saudara antar berbagai aliansi dari ayah dan putra atas kontrol berbagai bagian dari kekaisaran tersebut. Kemudian, Louis mengakui putra sulungnya Lothair I (w. 855) sebagai kaisar dan memberikannya Italia. Louis membagi sisa kekaisaran tersebut antara Lothair dan Charles si Botak (w. 877), putra bungsunya. Lothair memegang Francia Timur, yang meliputi dua tepi Rhine dan wilayah timur, menyisakan Charles dengan Francia Barat dengan bagian barat Rhineland dan Pegunungan Alpen. Louis orang Jerman (w. 876), anak tengah, yang memberontak pada Charles, diijinkan untuk memegang wilayah Bayern di bawah kedaulatan kakaknya. Pembagian tersebut diributkan. Pepin II dari Aquitaine (w. setelah 864), cucu kaisar, memberontak untuk merebut Aquitaine, sementara Louis orang Jerman berniat untuk menganeksasi seluruh Francia Timur. Louis si Pius wafat pada 840, dengan kekaisaran tersebut masih bertikai.[109]

Perang saudara tiga tahun menyusul kematiannya. Melalui Traktat Verdun (843), sebuah kerajaan antara sungai Rhine dan Rhone dibuat untuk Lothair dengan wilayahnya di Italia, dan gelar kekaisarannya diakui. Louis orang Jerman menguasai Bayern dan wilayah timur di Jerman saat ini. Charles si Botak meraih wilayah Frankish barat, yang terdiri dari sebagian besar Perancis saat ini.[109] Para cucu dan cicit Charlemagne membagi kerajaan-kerajaan mereka antar para keturunannya, kemudian seluruh perebutan internal menyurut.[110][M] Pada 987, dinasti Karoling digantikan di wilayah barat, dengan pemahkotaan Hugh Capet (m. 987–996) sebagai raja.[N][O] Di wilayah timur, dinasti tersebut telah mati pada masa sebelumnya, pada 911, dengan kematian Louis si Anak,[113] dan pemilihan yang tak ada hubungannya dari Conrad I (memerintah 911–918) sebagai raja.[114]

Perpecahan Kekaisaran Karoling disertai dengan invasi, migrasi, dan penyerbuan oleh pihak luar. Pantai utara dan Atlantik diserang oleh bangsa Viking, yang juga menyerbu Kepulauan Britania dan bermukim disana serta di Islandia. Pada 911, pemimpin Viking Rollo (wafat sekitar tahun 931) mendapatkan ijin dari Raja Frankish Charles si Sederhana (memerintah 898–922) untuk bermukim di apa yang menjadi Normandy.[115][P] Bagian timur kerajaan-kerajaan Frankish, khususnya Jerman dan Italia, berada di bawah serangan Magyar berkelanjutan sampai penginvasi kalah di Pertempuran Lechfeld pada 955.[117] Perpecahan dinasti Abbasiyah menandakan bahwa dunia Islam terfragmentasi dalam negara-negara politik yang lebih kecil, beberapa mulai mengekspansi sampai Italia dan Sisilia, serta Pirene sampai bagian selatan dari kerajaan-kerajaan Frankish.[118]

Kerajaan-kerajaan baru dan kebangkitan Bizantium[sunting | sunting sumber]

Eropa pada tahun 814

Upaya-upaya oleh para raja lokal untuk melawan penginvasi berujung pada pembentuken entitas politik baru. Di Inggris Anglo-Saxon, Raja Alfred Agung (memerintah 871–899) mengadakan perjanjian dengan penginvasi Viking pada akhir abad ke-9, menghasilkan pemukiman Denmark di Northumbria, Mercia, dan sebagian Anglia Timur.[119] Pada pertengahan abad ke-10, para penerus Alfred menaklukkan Northumbria, dan merestorasi kekuasaan Inggris atas sebagian besar bagian selatan Britania Raya.[120] Di utara Britania, Kenneth MacAlpin (wafat sekitar tahun 860) menyatukan suku Scot dan Pict ke dalam Kerajaan Alba.[121] Pada awal abad ke-10, dinasti Ottonia mendirikan dirinya sendiri di Jerman, dan membuat bangsa Maygar terpinggirkan. Upaya-upayanya berujung dalam koronasi pada tahun 962 dari Otto I (memerintah 936–973) sebagai Kaisar Romawi Suci.[122] Pada 972, ia meraih pengakuan gelarnya oleh Kekaisaran Bizantium, yang ia segel dengan pernikahan putranya Otto II (memerintah 967–983) dengan Theophanu (w. 991), putri Kaisar Bizantium sebelumnya Romanos II (memerintah 959–963).[123] Pada akhir abad ke-10, Italia telah ditarik ke lingkup Ottonia setelah periode instabilitas;[124] Otto III (memerintah 996–1002) menjalani sebagian besar masa pemerintahannya kemudian di kerajaan tersebut.[125] Kerajaan Frankish barat makin terfragmentasi, dan meskipun para raja masih secara nominal berganti, kebanyakan kekuasaan politik dipegang para tuan tanah lokal.[126]

Upaya misionaris di Skandinavia pada abad ke-9 dan ke-10 membantu memperkuat kekuatan kerajaan-kerajaan seperti Swedia, Denmark, dan Norwegia, yang meraih kekuasaan dan teritorial. Beberapa raja berpindah ke agama Kristen, meskipun tak semuanya pada tahun 1000. Bangsa Skandinavia juga melakukan ekspansi dan mengkolonisasi seluruh Eropa. Disamping pemukiman di Irlandia, Inggris dan Normandy, pemukiman lebih lanjut terjadi di apa yang menjadi Rusia dan di Islandia. Para pedagang dan penyerbu Swedia membanjiri sungai-sungai stepa Rusia, dan bahkan berniat untuk merebut Konstantinopel pada tahun 860 dan 907.[127] Kristen Spanyol, awalnya meliputi bagian kecil dari semenanjung tersebut di bagian utara, perlahan melebar ke selatan pada abad ke-9 dan ke-10, mendirikan kerajaan-kerajaan Asturias dan León.[128]

Plakat gading Ottonia abad ke-10 menggambarkan Yesus meraih sebuah gereja dari Otto I

Di Eropa Timur, Bizantium membangkitkan kekayaannya di bawah Kaisar Basil I (r. 867–886) dan para penerusnya Leo VI (memerintah 886–912) dan Konstantinus VII (memerintah 913–959), para anggota dinasti Makedonia. Perdagangan bangkit dan para kaisar mengadakan perluasan pemerintahan seragam untuk seluruh provinsi. Militer direorganisasi, yang membolehkan para kaisar Yohanes I (memerintah 969–976) dan Basil II (memerintah 976–1025) untuk meluaskan garis-garis depan kekaisaran di seluruh front. Pemerintahan istana adalah pusat kebangkitan pembelajaran klasik, sebuah proses yang dikenal sebagai Renaisans Makedonia. Para penulis seperti John Geometres (dikenal pada awal abad ke-10) mengkomposisikan, himne-himne, syair-syair, dan karya-karya baru lainnya.[129] Upaya misionaris dari rohaniwan Timur dan Barat menghasilkan perpindahan agama dari orang Moravia, orang Bulgaria, orang Bohemia, orang Polandia, orang Magyar, dan orang Slavik dari Rus' Kiev. Perpindahan agama tersebut berkontribusi terhadap pendirian negara-negara politik di wilayah suku bangsa tersebut—negara-negara Moravia, Bulgaria, Bohemia, Polandia, Hongaria, dan Rus' Kiev.[130] Bulgaria, yang berdiri sekitar tahun 680, pada puncaknya membentang dari Budapest sampai Laut Hitam dan dari Sungai Dnieper di Ukraina modern sampai Laut Adriatik.[131] Pada tahun 1018, para bangsawan Bulgaria terakhir menyerah kepada Kekaisaran Bizantium.[132]

Seni rupa dan arsitektur[sunting | sunting sumber]

Sebuah halaman dari Buku Kells, sebuah manuskrip teriluminasi yang dibuat di Kepulauan Britania pada akhir abad ke-8 atau awal abad ke-9[133]

Beberapa bangunan batu besar dibangun antara basilika-basilika Konstantinian dari abad ke-4 dan abad ke-8, meskipun beberapa bangunan yang lebih kecil dibangun pada abad kr-6 dan ke-7. Pada permulaan abad ke-8, Kekaisaran Karoling membangkitkan bentuk aristektur basilika.[134] Salah satu fitur basilika adalah pemakaian transept,[135] atau "lengan-lengan" dari bangunan berbentuk palang yang berbentuk perpendikular pada nave panjang.[136] Fitur baru lainnya dari arsitektur keagamaan meliputi menara menyilang dan sebuah bagian depan monumental pada gereja, biasanya di ujung barat bangunan tersebut.[137]

Seni rupa Karoling diproduksi untuk sekelompok kecil figur di sekitaran pemerintahan, dan biara-biara dan gereja-gereja yang mereka dukung. Ini didominasi oleh upaya untuk meraih kembali dignitas dan klasisisme seni rupa Bizantium dan Kekaisaran Romawi, selain juga dipengaruhi oleh seni rupa insuler dari Kepulauan Britania. Seni rupa insuler mengintegrasikan energi gaya-gaya ornamen Keltik Irlandia dan Jermanik Anglo-Saxon dengan bentuk-bentuk Laut Tengah seperti buku, dan menghimpun beberapa karakteristik seni rupa sepanjang abad pertengahan. Karya-karya keagamaan yang masih ada dari Abad Pertengahan Awal kebanyakan adalah manuskrip-manuskrip teriluminasi dan gading-gading ukir, yang awalnya dibuat untuk pengerjaan metal yang sejak itu telah dapat dicairkan.[138][139] Obyek-obyek dalam metal-metal presius adalah bentuk paling prestisius dari seni rupa, namun hampir seluruhnya hilang kecuali untuk beberapa salib seperti Salib Lothair, beberapa relikui, dan temuan-temuan seperti pemakaman Anglo-Saxon di Sutton Hoo dan hoard-hoard pada Gourdon dari Perancis Merovingian, Guarrazar dari Spanyol Visigothik dan Nagyszentmiklós di dekat kawasan Bizantium. Terdapat peninggalan bros-bros besar dalam bentuk fibula atau penannular yang menjadi potongan penting dari kepemilikan pribadi dari kaum elit, terutama Bros Tara dari Irlandia.[140] Kitab-kitab berdekorasi tinggi kebanyakan adalah Kitab-Kitab Injil dan sejumlah besar diantaranya masih ada, termasuk Kitab Kells Insuler, Kitab Lindisfarne, dan Kodeks Aureus dari St. Emmeram, yang menjadi salah satu dari beberapa "ikatan harta karun" dari emas yang dihiasi dengan perhiasan.[141] Pemerintahan Charlemagne nampaknya bertanggung jawab atas penerimaan pahatan monumental figuratif dalam seni rupa Kristen,[142] dan pada akhir periode tersebut, figur yang hampir berukuran orang hidup seperti Salib Gero menjadi umum di gereja-gereja penting.[143]

Militer dan pengembangan teknologi[sunting | sunting sumber]

Pada Kekaisaran Romawi berikutnya, pengembangan militer utama adalah upaya untuk menciptakan pasukan kavaleri efektif serta pengembangan berkelanjutan dari jenis pasukan yang sangat dikhususkan. Pembentukan katafrak berzirah keras sebagai kavaleri adalah fitur penting dari militer Romawi abad ke-5. Berbagai suku penginvasi memiliki jenis berbeda pada jenis prajurit—dari penginvasi Anglo-Saxon Britania yang utamanya infanteri sampai bangsa Vandal dan Visigoth, yang memiliki sejumlah besar kavaleri dalam ketentaraan mereka.[144] Pada awal periode invasi, stirrup tak diperkenalkan dalam perang, yang membatasi pemakaian kavaleri sebagai pasukan kejut karena ini tak memungkinkan untuk menempatkan pasukan kuda penuh dan penunggang selain ledakan yang disulut oleh penunggang tersebut.[145] Perubahan terbesar dalam urusan militer pada periode invasi adalah adopsi busur komposit Hunnik menggantikan busur komposit Skitia.[146] Pengembangan lainnya adalah peningkatan pemakaian pedang laras panjang[147] dan penggantian progresif dari zirah skala oleh zirah surat dan zirah lamela.[148]

Pengaruh infanteri dan kavaleri ringan mulai berkurang pada masa Karoling awal, dengan pertumbuhan dominasi kavaleri berat elit. Pemakaian levi-levi jenis militia dari populasi bebas menurun di sepanjang periode Karoling.[149] Meskipun kebanyakan tentara Karoling adalah penunggang, sebagian besar pada masa awalnya nampak adalah infanteri penunggang, ketimbang kavaleri sebenarnya .[150] Satu pengecualian adalah Inggris Anglo-Saxon, dimana tentara masih terdiri dari levi-levi regional, yang dikenal sebagai fyrd, yang dipimpin oleh kalangan elit lokal.[151] Dalam teknologi militer, salah satu perubahan utama adalah pengembalian busur silang, yang dikenal pada zaman Romawi dan dikembalikan sebagai senjata militer pada bagian akhir Abad Pertengahan Awal.[152] Perubahan lainnya adalah pengenalan stirrup, yang meningkatkan keefektifan kavaleri sebagai pasukan kejut. Kemajuan teknologi yang memiliki implikasi di luar militer adalah sepatu kuda, yang membolehkan kuda untuk dipakai di tanah berbatu.[153]

Abad Pertengahan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Masyarakat dan kehidupan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi manuskrip Perancis Abad Pertengahan dari tiga kelas masyarakat abad pertengahan: orang yang berdoa (rohaniwan), orang yang bertarung (kesatria), dan orang yang bekerja (petani).[154] Hubungan antara kelas-kelas tersebut diatur oleh feodalisme dan manorialisme.[155] (Li Livres dou Sante, abad ke-13)

Abad Pertengahan Tinggi adalah periode ekspansi populasi yang menegangkan. Perkiraan populasi Eropa bertumbuh dari 35 sampai 80 juta antara tahun 1000 dan 1347, meskipun sebab-sebabnya masih belum jelas: pengaruh teknik pertanian, penurunan perbudakan, iklim lebih bersahabat dan kurangnya invasi semuanya telah disugestikan.[156][157] Sekitar 90 persen populasi Eropa masih menjadi petani desa. Beberapa orang tak bermukim lama di kebun terisolasi namun berkumpul dalam komunitas kecil, biasanya dikenal sebagai manor atau desa.[157] Kaum petani sering menjadi subyek dari tuan tanah bangsawan dan memberikan mereka sewaan dan jasa lainnya, dalam sistem yang dikenal sebagai manorialisme. Masih ada beberapa petani bebas di sepanjang masa ini dan seterusnya,[158] dengan jumlah mereka di wilayah Eropa Selatan melebihi jumlah mereka di wilayah utara. Praktik mengirim lahan dalam produksi dengan menawarkan insektif kepada petani yang menempatinya, juga berkontribusi pada ekspansi populasi.[159]

Bagian masyarakat lainnya meliputi bangsawan, rohaniwan, dan pejabat kota. Bangsawan, baik bangsawan bergelar dan kesatria sederhana, mengeksploitasi manor dan petani, meskipun mereka tak memiliki hak lahan namun meraih hak untuk pendapatan dari sebuah manor atau lahan lainnya oleh seorang tuan tanah melalui sistem feodalisme. Pada abad ke-11 dan ke-12, lahan tersebut, atau fief, dianggap menjadi warisan, dan di kebanyakan wilayah, mereka tak lama terbagi antara seluruh pewaris seperti halnya kasus dalam periode abad pertengahan awal. Sebagai gantinya, kebanyakan fief dan lahan diserahkan kepada putra sulung.[160][Q] Dominasi bangsawan terhimpun atas kontrol lahannya, layanan militernya sebagai kavaleri berat, kontrol istana, dan berbagai imunitas dari perpajakan atau imposisi lainnya.[R] Istana-istana, awalnya berkayu namun kemudian berbatu, mulai dibangun pada abad ke-9 dan ke-10 dalam menanggapi wabah pada masa itu, dan menyediakan perlindungan dari pasukan penginvasi serta membolehkan para tuan tanah bertahan dari para pesaing. Kontrol kastil membolehkan para bangsawan untuk berdekatan dengan raja atau tuan tanah lainnya.[162] Kaum bangsawan terstratifikasi; para raja dan bangsawan berpangkat tertinggi mengkontrol sejumlah besar rakyat jelata dan sebidang lahan besar, serta bangsawan lainnya. Sebaliknya, bangsawan rendah memiliki otoritas atas wilayah lahan yang lebih kecil dan orang yang sedikit. Kesatria adalah bangsawan tingkat terendah; mereka mengkontrol namun tak memiliki lahan, dan melayani bangsawan lainnya.[163][S]

Rohaniwan terbagi dalam dua jenis: rohaniwan sekuler, yang hidup dalam keduniawian, dan rohaniwan reguler, yang hidup di bawah aturan keagamaan dan biasanya menjadi biarawan.[165] Sepanjang periode tersebut, biarawan masih meliputi bagian yang sangat kecil dari populasi, biasanya kurang dari satu persen.[166] Kebanyakan rohaniwan reguler menari diri dari kebangsawanan, kelas sosial yang sama dijadikan sebagai landasan perekrutan untuk kelas atas dari rohaniwan sekuler. Para imam paroki lokal seringkali ditarik dari kelas petani.[167] Pejabat kota sempat menjadi posisi tak lazim, karena mereka tak masuk dalam tiga divisi masyarakat tradisional yakni bangsawan, rohaniwan dan petani. Pada abad ke-12 dan ke-13, pangkat pejabat kota diekspansi besar-besaran karena kota-kota yang berdiri bertumbuh dan pusat-pusat populasi baru didirikan.[168] Meskipun demikian, sepanjang Abad Pertengahan populasi kota mungkin tak pernah mencapai 10 persen dari total populasi.[169]

Ilustrasi abad ke-13 dari seorang Yahudi (ditandai dengan topi Yahudi) dan Kristen Petrus Alphonsi sedang berdebat

Yahudi juga menyebar di Eropa pada masa tersebut. Komunitas didirikan di Jerman dan Inggris pada abad ke-11 dan ke-12, namun Yahudi Spanyol, yang lama menetap di Spanyol di bawah kekuasaan kaum Muslim, berada di bawah kekuasaan Kristen dan makin mengalami tekanan untuk berpindah ke agama Kristen.[76] Kebanyakan Yahudi bermukim di kota-kota, karena mereka tak boleh memiliki lahan atau menjadi petani.[170][T] Di samping Yahudi, terdapat beberapa non-Kristen lain di tepi Eropa—pagan Slav di Eropa Timur dan Muslim di Eropa Selatan.[171]

Wanita pada Abad Pertengahan resmi diwajibkan menjadi pendamping dari beberapa laki-laki, entah ayah, suami atau kerabat mereka yang lain. Janda, yang seringkali diijinkan mengkontrol kehidupan mereka sendiri, masih dibatasi secara legal. Pekerjaan wanita umumnya terdiri dari rumah tangga atau tugas terinklinsit secara domestik lainnya. Wanita petani biasanya bertanggung jawab atas perawatan rumah tangga, pengasuhan anak, serta berkebun dan beternak hewan di dekat rumah. Mereka dapat memberi pemasukan rumah tangga dengan memintal atau membuat bir di rumah. Pada masa panen, mereka juga diminta untuk membantu pekerjaan ladang.[172] Wanita kota, seperti halnya wanita desa, bertanggung jawab atas rumah tangga, dan juga melakukan perdagangan. Perdagangan yang terbuka untuk wanita beragam tergantung pada negara dan periodenya.[173] Wanita bangsawan bertanggung jawab atas penjalanan rumah tangga, dan secara khusus dapat memegang lahan saat kerabat laki-laki sedang tidak ada, namun mereka biasanya dibatasi dari keikutsertaan dalam urusan militer dan pemerintahan. Satu-satunya peran yang terbuka untuk wanita di Gereja adalah menjadi biarawati, karena mereka tak boleh menjadi imam.[172]

Di Italia Tengah dan Utara, dan di Flanders, kebangkitan kota meningkatkan pemerintahan sendiri yang menunjang pertumbuhan dan menciptakan lingkungan bagi jenis-jenis asosiasi dagang baru. Kota-kota perdagangan di pantai Baltik masuk dalam perjanjian yang dikenal sebagai Liga Hanseatik, dan republik-republik maritim Italia seperti Venesia, Genoa, dan Pisa meluaskan perdagangan mereka di sepanjang Laut Tengah.[U] Pameran dagang besar dihimpun dan merebak di utara Perancis pada masa itu, membolehkan para pedagang Italia dan Jerman untuk berdagang satu sama lain serta para pedagang lokal.[175] Pada akhir abad ke-13, rute darat dan luar baru ke Timur Jauh dipionirkan, terutama yang dideskripsikan dalam Perjalanan Marco Polo yang ditulis oleh salah satu pedagang, Marco Polo (w. 1324).[176] Disamping kesempatan dagang baru, pengaruh pertanian dan teknologi membolehkan peningkatan dalam ladang penanaman, yang membolehkan jaringan dagang untuk meluas.[177] Peningkatan dagang mendatangkan metode-metode kesepakatan uang yang baru, dan pencetakan emas kembali dilakukan di Eropa, mula-mula di Italia dan kemudian di Perancis dan negara-negara lainnya. Bentuk kontrol komersial baru timbul, membolehkan pembagian di kalangan pedagang. Metode akunting dicanangkan, terutama melalui pemakaian penjilidan buku entri ganda; Surat-surat kredit juga timbul, membolehkan transmisi uang yang mudah.[178]

Kebangkitan kekuatan negara[sunting | sunting sumber]

Eropa dan Laut Tengah pada tahun 1190

Abad Pertengahan Tinggi adalah periode formatif dalam sejarah negara Barat modern. Para raja di Perancis, Inggris, dan Spanyol mengkonsolidasikan kekuasaan mereka, dan menghimpun lembaga-lembaga pemerintahan.[179] Kerajaan-kerajaan baru seperti Hongaria dan Polandia, setelah mereka berpindah ke agama Kristen, menjadi kekuatan-kekuatan Eropa Tengah.[180] Bangsa Magyar mendiami Hongaria pada sekitar tahun 900 di bawah Raja Árpád (wafat sekitar tahun 907) setelah serangkiaian invasi pada abad ke-9.[181] Kepausan, yang lama memegang ideologi merdeka dari raja-raja sekuler, mula-mula memegang klaimnya atas otoritas temporal pada seluruh dunia Kristen; Monarki Kepausan mencapai puncaknya pada awal abad ke-13 di bawah kepausan Innosensius III (menjabat 1198–1216).[182] Perang Salib Utara dan pergerakan kerajaan-kerajaan Kristen dan tatanan militer k wilayah-wilayah yang sebelumnya pagan di Baltik dan timur laut Finlandia mengirim asimilasi paksa pada sejumlah suku bangsa asli ke dalam budaya Eropa.[183]

Pada awal Abad Pertengahan Tinggi, Jerman dikuasai oleh dinasti Ottonia, yang berjuang untuk menguasai para adipati berkuasa yang memerintah atas kadipaten-kadipaten yang telah berdiri sejak periode Migrasi. Pada 1024, mereka digantikan oleh dinasti Salia, yang dikenal karena bentrok dengan kepausan di bawah Kaisar Henry IV (memerintah 1084–1105) atas pelantikan Gereja sebagai bagian dari Kontroversi Penobatan.[184] Para penerusnya melanjutkan perjuangan melawan kepausan serta bangsawan Jerman. Periode tak stabil menyusul kematian Kaisar Henry V (memerintah 1111–25), yang wafat tanpa pewaris, sampai Frederick I Barbarossa (memerintah 1155–90) memegang tahta kekaisaran.[185] Meskipun ia secara efektif berkuasa, masalah-masalah dasar masih ada, dan para penerusnya meneruskan perjuangan pada abad ke-13.[186] Cucu Barbarossa Frederick II (memerintah 1220–1250), yang juga menjadi pewaris tahta Sisilia melalui ibunya, berulang kali bentrok dengan kepausan. Pemerintahannya dikenal karena para cendekiawannya dan ia seringkali dituduh menjadi bidaah.[187] Ia dan para penerusnya menghadapi beberapa kesulitan, termasuk invasi bangsa Mongol ke Eropa pada pertengahan abad ke-13. Bangsa Mongol mula-mula merebut kepangeranan-kepangeranan Rus Kiev dan kemudian menginvasi Eropa Timur pada 1241, 1259, dan 1287.[188]

Tapestri Bayeux (detail) menampilkan William si Penakluk (tengah), para saudara tirinya Robert, Count of Mortain (kanan) dan Odo, Uskup Bayeux di Kadipaten Normandy (kiri)

Di bawah dinasti Capetian, monarki Perancis perlahan mulai meluaskan otoritasnya atas kebangsawanan, bertumbuh dari Île-de-France menjadi kontrol atas wilayah selain negara tersebut pada abad ke-11 dan ke-12.[189] Mereka menghadapi persaingan kuat dengan para Adipati Normandy, yang pada 1066 berada di bawah William si Penakluk (menjabat 1035–1087), menguasai Inggris (memerintah 1066–87) dan membuat kekaisaran antar selat yang berlangsung sepanjang Abad Pertengahan, dalam berbagai bentuk.[190][191] Bangsa Norman juga bermukim di Sisilia dan selatan Italia, saat Robert Guiscard (w. 1085) mendarat disana pada 1059 dan mendirikan sebuah kadipaten yang kemudian menjadi Kerajaan Sisilia.[192] Di bawah dinasti Angevin dari Henry II (memerintah 1154–89) dan putranya Richard I (memerintah 1189–99), para raja Inggris memerintah atas Inggris dan sebagian besar Perancis,[193][V] mengirim keluarga tersebut melalui pernikahan Henry II dengan Eleanor dari Aquitaine (wafat 1204), pewaris sebagian besar selatan Perancis.[195][W] Adik Richard John (memerintah 1199–1216) kehilangan Normandy dan sisa wilayah Perancis utara pada 1204 dari Raja Perancis Philip II Augustus (memerintah 1180–1223). Ini berujung pada keretakan antar bangsawan Inggris, sementara pengeluaran finansial John untuk membayar upaya gagalnya untuk merebut kembali Normandy berujung pada Magna Carta tahun 1215, sebuah piagam yang mengkonfirmasikan hak-hak dan pemberian kebebasan di Inggris. Di bawah Henry III (memerintah 1216–72), putra John, pelonggaran makin diberikan kepada kaum bangsawan, dan kekuasaan kerajaan menurun.[196] Monarki Perancis masih dapat melawan kaum bangsawan pada akhir abad ke-12 dan ke-13, membawakan teritorial lebih dalam kerajaan tersebut di bawah kekuasaan pribadi raja dan mensentralisasikan pemerintahan kerajaan.[197] Di bawah Louis IX (memerintah 1226–70), prestise kerajaan bertumbuh pada puncak barunya saat Louis bertugas sebagai mediator untuk sebagian besar Eropa.[198][X]

Di Iberia, negara-negara Kristen, yang terbentang di bagian barat laut semenanjung tersebut, mulai menekan negara-negara Islam di selatan, sebuah periode yang dikenal sebagai Reconquista.[200] Pada sekitar 1150, umat Kristen di wilayah utara terhimpun dalam lima kerajaan besar yakni León, Kastilia, Aragon, Navarre, and Portugal.[201] Iberia Selatan masih berada di bawah kekuasaan negara-negara Islam, yang awalnya berada di bawah Kekhalifahan Córdoba, pecah pada tahun 1031 menjadi sejumlah negara yang dikenal sebagai taifa,[200] yang bertarung dengan Kristen sampai Kekhalifahan Almohad mendirikan kembali pemerintahan tersentralisasi atas Iberia Selatan pada 1170an.[202] Pasukan Kristen maju kembali pada awal abad ke-13, memuncak dalam penaklukan Sevilla pada tahun 1248.[203]

Perang Salib[sunting | sunting sumber]

Krak des Chevaliers dibangun pada masa Perang Salib untuk Knights Hospitaller.[204]

Pada abad ke-11, Turki Seljuk merebut sebagian besar Timur Tengah, menduduki Persia pada 1040, Armenia pada 1060an, dan Yerusalem pada 1070. Pada 1071, tentara Turki mengalahkan tentara Bizantium di Pertempuran Manzikert dan menangkap Kaisar Bizantium Romanus IV (r. 1068–71). Bangsa Turk kemudian bebas untuk menginvasi Asia Kecil, yang menimbulkan ledakan berbahaya bagi Kekaisaran Bizantium dengan merebut sebagian besar populasinya dan jantung ekonominya. Meskipun Bizantium menyatukan kembali dan memulihkan beberapa wilayah, mereka tak pernah sepenuhnya mendapatkan kembali Asia Kecil dan seringkali bersifat defensif. Bangsa Turk juga memiliki kesulitan, kehilangan kekuasaan atas Yerusalem dari Kekhalifahan Fatimiyah dari Mesir dan mengalami serangkaian perang saudara internal.[205] Pasukan Bizantium juga menghadapi kebangkitan dari Bulgaria, yang pada akhir abad ke-12 dan ke-13 menyebar di seluruh Balkan.[206]

Perang salib bertujuan untuk merebut Yerusalem dari kekuasaan Muslim. Perang Salib Pertama diproklamasikan oleh Paus Urbanus II (menjabat 1088-99) di Konsili Clermont pada 1095 dalam menanggapi sebuah permintaan dari Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos (memerintah 1081–1118) untuk bantuan melawan laju Muslim lanjutan. Urbanus menjanjikan indulgensi untuk siapapun yang ikut serta. Sepuluh ribu orang dari seluruh tingkat masyarakat dikerahkan dari sepanjang Eropa dan merebut Yerusalem pada 1099.[207] Salah satu fitur dari perang salib adalah pogrom melawan Yahudi lokal yang seringkali terjadi saat pasukan salibis meninggalkan negara-negara mereka ke wilayah Timur. Ini secara khusus menjadi brutal saat Perang Salib Pertama,[76] saat komunitas Yahudi di Koln, Mainz, dan Worms dihancurkan, dan komunitas lainnya di kota-kota antar sungai Seine dan Rhine mengalami penghancuran.[208] Pertumbuhan perang salib lainnya menjadi fondasi dari jenis baru tatanan monastik, ordo militer Templar dan Hospitaller, yang memadukan kehidupan monastik dengan penugasan militer.[209]

Pasukan salibis mengkonsolidasikan penaklukan mereka melalui negara-negara salibis. Pada abad ke-12 dan ke-13, terdapat serangkaian konflik antara negara-negara tersebut dan negara-negara Islam di sekitarnya. Banding dari negara-negara tersebut kepada kepausan berujung pada perang salib lanjutan,[207] seperti Perang Salib Ketiga, yang menyerukan perebutan kembali Yerusalem, yang telah direbut oleh Saladin (w. 1193) pada 1187.[210][Y] Pada 1203, Perang Salib Keempat terbentang dari Tanah Suci sampai Konstantinopel, dan kota tersebut direbut pada 1204, menghimpun sebuah Kekaisaran Latin Konstantinopel[212] dan sangat membangkitkan Kekaisaran Bizantium. Bizantium merebut lagi kota tersebut pada 1261, namun tak meraih meraih kembali kekuatan lama mereka.[213] Pada 1291, seluruh negara salibis ditaklukkan atau disingkirkan dari dataran utama, meskipun Kerajaan Yerusalem tituler masih bertahan di pulau Siprus selama beberapa tahun setelahnya.[214]

Para Paus menyerukan agar perang-perang salib dilakukan di tempat lainnya di samping Tanah Suci: Spanyol, selatan Perancis, dan sepanjang Baltik.[207] Perang salib Spanyol berpadu dengan Reconquista Spanyol dari kaum Muslim. Meskipun Templar dan Hospitaller ikut serta dalam perang salib Spanyol, ordo-ordo militer relijius Spanyol serupa dihimpun, kebanyakan menjadi bagian dari dua ordo utama Calatrava dan Santiago pada permulaan abad ke-12.[215] Eropa Utara juga masih berada di luar pengaruh Kristen sampai abad ke-11 atau pada masa berikutnya, dan menjadi tempat perang salib sebagai bagian dari Perang Salib Utara pada abad ke-12 sampai ke-14. Perang salib tersebut juga membentuk sebuah ordo militer, Order of the Sword Brothers. Ordo lainnya, Teutonic Knights, meskipun dihimpun di negara-negara salibis, kebanyakan memfokuskan kegiatannya di Baltik setelah 1225, dan pada 1309 memindahkan markas besarnya ke Marienburg di Prusia.[216]

Kehidupan intelektual[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-11, perkembangan dalam filsafat dan teologi berujung pada peningkatan kegiatan intelektual. Terdapat perdebatan antara realis dan nominalis atas konsep "universal". Sumber filsafat distimulasikan oleh penemuan kembali Aristoteles dan pemahamannya dalam empirisme dan rasionalisme. Para cendekiawan seperti Peter Abelard (w. 1142) dan Peter Lombard (w. 1164) mengenalkan logika Aristotelian ke dalam teologi. Pada akhir abad ke-11 dan awal abad ke-12, sekolah-sekolah katedral menyebar di sepanjang Eropa Barat, menandakan peralihan pembelajaran dari biara ke katedral dan kota.[217] Sekolah katedral digantikan oleh universitas yang didirikan di kota-kota besar Eropa.[218] Filsafat dan teologi berpadu dalam skolastisisme, sebuah upaya oleh para cendekiawan abad ke-12 dan ke-13 untuk merekonsiliasikan teks-teks otoritatif, terutama Aristoteles dan Alkitab. Gerakan tersebut berniat untuk memakai kesepakatan sistemik untuk kebenaran dan akal budi[219] dan berpincak dalam pemikiran Thomas Aquinas (w. 1274), yang menulis Summa Theologica, atau Penjelasan Teologi.[220]

Seorang cendekiawan abad pertengahan membuat ukuran-ukuran presise dalam sebuah ilustrasi manuskrip abad ke-14

Kekesatriaan dan etos cinta negara berkembang dalam ranah kerajaan dan bangsawan. Budaya tersebut terekspresi dalam bahasa-bahasa vernakular ketimbang Latin, dan terdiri dari puisi, cerita, legenda, dan lagu populer yang disebarkan oleh para troubadour, atau penyair pengembara. Seringkali, cerita-cerita tersebut ditulis dalamd chansons de geste, atau "lagu-lagu perbuatan besar", seperti Lagu Roland atau Lagu Hildebrand.[221] Catatan sejarah sekuler dan agama juga diproduksi.[222] Geoffrey dari Monmouth (wafat sekitar tahun 1155) mengkomposisikan Historia Regum Britanniae, sebuah kumpulan cerita dan legenda tentang Arthur.[223] Karya-karya lainnya merupakan sejarah yang lebih jelas, seperti Gesta Friderici Imperatoris karya Otto von Freising (w. 1158) yang menjelaskan perbuatan Kaisar Frederick Barbarossa, atau Gesta Regum karya William of Malmesbury (wafat sekitar 1143) tentang raja-raja Inggris.[222]

Kajian-kajian hukum maju pada abad ke-12. Hukum sekuler dan hukum kanon, atau hukum gerejawi, dikaji pada Abad Pertengahan Tinggi. Hukum sekuler, atau hukum Romawi, sangat dimajukan oleh penemuan Corpus Juris Civilis pada abad ke-11, dan pada tahun 1100, hukum Romawi diajarkan di Bologna. Ini berujung pada pencatatan dan standarisasi kitab-kitab hukum di seluruh Eropa Barat. Hukum kanon juga dikaji, dan sekitar tahun 1140, seorang biarawan bernama Gratian (dikenal pada abad ke-12), seorang guru di Bologna, menulis apa yang menjadi teks standar dari hukum kanon—Decretum.[224]

Sejumlah hasil pengaruh Yunani dan Islam pada periode ini dalam sejarah Eropa adalah penggantian penomoran Romawi dengan sistem nomor posisional desimal dan penemuan aljabar, yang membuat matematika menjadi makin maju. Astronomi menjadi maju setelah penerjemahan Almagest karya Ptolemi dari bahasa Yunani ke bahasa Latin pada akhir abad ke-12. Pengobatan juga dikaji, khususnya di selatan Italia, dimana pengobatan Islam mempengaruhi sekolah di Salerno.[225]

Teknologi dan militer[sunting | sunting sumber]

Potret Kardinal Hugh dari Saint-Cher oleh Tommaso da Modena, 1352, penggambaran lensa pertama yang diketahui[226]

Pdan ke-13, Eropa memproduksi pertumbuhan ekonomi dan inovasi dalam metode produksi. Kemajuan teknologi besar meliputi penemuan kincir angin, jam mekanikal pertama, pabrik minuman berdistilasi, dan pemakaian astrolabe.[227] Lensa cekung ditemukan sekitar tahun 1286 oleh seorang artisan Italia yang tidak diketahui, mungkin bekerja di dalam atau dekat Pisa.[228]

Pengembangan sistem rotasi tiga bidang untuk penanaman tanaman[157][Z] meningkatkan pemakaian lahan dari satu setengah pemakaian setiap tahun di bawah sistem dua bidang lama menjadi dua per tiga di bawah sistem baru, dengan peningkatan produksi yang dihasilkan.[229] Pengembangan bajak berat yang membolehkan tanah yang keras untuk dijadikan kebun makin efisien, dibantu oleh penyebaran kerah kuda, yang berujung pada pemakaian kuda-kuda bajak menggantikan kerbau. Kuda lebih cepat ketimbang kerbau dan mengurangi pakan, fakta-faktor yang membantu implementasi sistem tiga bidang.[230]

Pembangunan katerdral dan istana memajukan teknologi pembangunan, berujung pada pembangunan gedung-gedung batu besar. Struktur-struktur ansilari meliputi balai kota, rumah, jembatan dan peternakan baru.[231] Pembangunan kapal dengan pemakaian metode rib and plank lebih banyak ketimbang sistem lama Romawi mortise and tenon. Penunjangan lain untuk perkapalan meliputi pemakaian layar lateen dan stern-post rudder, keduanya meningkatkan kecepatan pada kapal yang berlayar.[232]

Dalam urusan militer, pemakaian infanteri dengan peran khusus meningkat. Bersama dengan kavaleri berat yang masih dominan, tentara sering meliputi pasukan busur silang penunggang dan infanteri, serta sapper dan teknisi.[233] Busur silang, yang telah dikenal pada Akhir Zaman Kuno, makin dipakai karena peningkatan dalam perang pengepungan pada abad ke-10 dan ke-11.[152][AA] Peningkatan pemakaian busur silang pada abad ke-12 dan ke-13 berujung pada pemakaian helm wajah tertutup, zirah tubuh berat, serta zirah kuda.[235] Bubuk meriam dikenal di Eropa pada pertengahan abad ke-13 dengan pemakaian tercatat dalam perang Eropa oleh Inggris melawan Skotlandia pada 1304, meskipun ini dipakai sebagai sebuah peledak dan bukannya senjata. Meriam dipakai untuk pengepungan pada 1320an, dan senapan genggam dipakai pada 1360an.[236]

Aristektur, seni rupa, dan musik[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-10, pendirian gereja-gereja dan biara-biara berujung pada pengembangan arsitektur baru yang menghimpun bentuk-bentuk Romawi vernakular, dimana istilah "Romanesque" muncul. Saat tersedia, gedung-gedung bata dan batu Romawi didaur ulang untuk material-material mereka. Dari permulaan tentatif yang dikenal sebagai Romanesque Pertama, gaya tersebut berkembang dan menyebar ke seluruh Eropa dalam bentuk homogen. Tepat sebelum tahun 1000, terdapat arus besar pembangunan gereja batu di seluruh Eropa.[237] Gedung-gedung Romanesque memiliki dinding batu masif, diatapi oleh lengkungan semi-melingkar, jendela kecil, dan, di sebagian Eropa, kubah batu melengkung.[238] Portal besar dengan pahatan berwarna dalam relief tinggi menjadi fitur utama dari bagian depan, khususnya di Perancis, dan capital dari kolom-kolom seringkali diukir dengan adegan naratif dari monster khayalan dan hewan.[239] Menurut sejarawan seni C. R. Dodwell, "secara virtual seluruh gereja di Barat didekorasi dengan lukisan dinding", dimana beberapa masih ada.[240] Diiringi pengembangan dalam arsitektur gereja, bentuk istana Eropa khas dikembangkan, dan menjadi krusial dalam politik dan perang.[241]

Seni rupa Romanesque, khususnya pengerjaan metah, sangat tersofistikasi dalam seni rupa Mosan, dimana tokoh-tokoh artistik khas yang meliputi Nikolas dari Verdun (w. 1205) menjadi nampak, hampir gaya klasik terlihat dalam karya-karya seperti tempat baptis di Liège,[242] berkontras dengan hewan-gewan dari Batang Lilin Gloucester kontemporer. Alkitab dan Mazmur teriluminasi besar menjadi bentuk khas dari manuskrip mewah, dan lukisan tembok berkembang di gereja-gereja, seringkali menampilkan adegan Penghakiman Akhir di tembok barat, Yesus di Tahta di ujung timur, dan adegan Alkitab naratif di bagian bawah, atau di contoh terbaik yang masih ada, di Saint-Savin-sur-Gartempe, di atap kubah barel.[243]

Bagian dalam Gothik dari Katedral Laon, Perancis

Dari awal abad ke-12, para pembangun Perancis mengembangkan gaya Gothik, ditandai dengan memakai kubah rusuk, lengkungan berujung, buttress melayang, dan jendela kaca besar. Ini biasanya dipakai di gereja-gereja dan katedral-katedral, dan masih dipakai sampai abad ke-16 di sebagian besar Eropa. Contoh-contoh klasik dari arsitektur Gothik meliputi Katedral Chartres dan Katedral Reims di Perancis serta Katedral Salisbury di Inggris.[244] Kaca menjadi unsur krusial dalam rancangan gereja, yang masih memakai lukisan dinding ekstensif, sekarang hampir semuanya lenyap.[245]

Pada periode ini, praktik iluminasi manuskrip secara bertahap beralih dari biara ke pekerjaan awam, sehingga menurut Janetta Benton "pada tahun 1300, kebanyakan biarawan membawa buku-buku mereka ke toko-toko",[246] dan buku jam dikembangkan sebagai bentuk buku devosional untuk kaum awam. Pengerjaan metal masih menjadi bentuk seni paling prestisius, dengan enamel Limoges menjadi opsi yang relatif diterima dan populer untuk obyek-obyek seperti relikui dan salib.[247] Di Italia, inovasi Cimabue dan Duccio, disusul oleh master Trecento Giotto (w. 1337), makin meningkatkan sofistikasi dan status lukisan panel dan fresko.[248] Peningkatan kekayaan pada abad ke-12 menghasilkan produksi yang lebih besar dari seni sekuler; beberapa obyek ukiran gading seperti potongan permainan, komb, dan fitur relijius kecil masih ada.[249]

Kehidupan gereja[sunting | sunting sumber]

Fransiskus Asisi, yang digambarkan oleh Bonaventura Berlinghieri pada tahun 1235, mendirikan Ordo Fransiskan.[250]

Reformasi monastik menjadi masalah penting pada abad ke-11, karena kalangan elit mulai mengkhawatirkan para biarawan tak mengikuti aturan yang mengikat mereka pada kehidupan relijius yang ketat. Pertapaan Cluny, yang didirikan di wilayah Mâcon, Perancis pada tahun 909, didirikan sebagai bagian dari Reformasi Kluniak, sebuah gerakan besar dari reformasi monastik dalam menanggapi kekhawatiran ini.[251] Cluny dengan cepat mendirikan reputasi untuk austeritas dan ketelitian. Ini menunjang kualitas tinggi kehidupan spiritual dengan menempatkan dirinya sendiri di bawah perlindungan kepausan dan memilih abbasnya sendiri tanpa campur tangan kaum awam, sehingga menunjang kemerdekaan ekonomi dan politik dari para penguasa lokal.[252]

Reformasi monastik menginspirasi perubahan dalam Gereja sekuler. Gagasan adalah bahwa ini berdasarkan atas pembawaan kepada kepausan oleh Paus Leo IX (menjabat 1049–1054), dan memberikan ideologi kebebasan klerikal yang berujung pada Kontroversi Penobatan pada akhir abad ke-11. Ini melibatkan Paus Gregorius VII (menjabat 1073–85) dan Kaisar Henry IV, yang awalnya bentrok atas pelantikan episkopal, sebuah sengketa yang berujung pada sebuah pertikaian atas gagasan penobatan, perkawinan rohaniwan, dan simoni. Kaisar memandang perlindungan Gereja sebagai salah satu tanggung jawab serta ingin memberikan hak untuk memilih pilihannya sendiri sebagai uskup di lahannya, namun kepausan menginginkan kemerdekaan Gereja dari para penguasa sekuler. Masalah-masalah ini masih belum terpecahkan setelah kompromi tahun 1122 yang dikenal sebagai Konkordat Worms. Persengketaan tersebut mewakili tahap signifikan dalam pembuatan monarki kepausan terpisah dari dan setara dengan otoritas awam. Ini juga memiliki konsekuensi permanen dari para pangeran Jerman berkuasa atas pengeluaran para kaisar Jerman.[251]

Abad Pertengahan Tinggi adalah periode gerakan agama besar. Disamping Perang Salib dan reformasi monastik, masyarakat didorong untuk ikut dalam bentuk-bentuk kehidupan relijius yang baru. Ordo-ordo monastik baru dibentuk, yang meliputi Kartusia dan Sistersia. Sistersia secara khusus menyebar cepat pada tahun-tahun awal mereka di bawah panduan Bernard dari Clairvaux (w. 1153). Ordo-ordo baru tersebut dibentuk dalam menanggapi perasaan dari kaum awam bahwa monastisisme Benediktin tak selalu memenuhi kebutuhan kaum awam, yang sepanjang dengan orang-orang ingin untuk memasuki kehidupan relijius yang ingin kembali ke monastisisme eremit yang lebih sederhana dari gereja perdana, atau hidup dalam kehidupan Rasuli.[209] Peziarahan agama juga didorong. Situs-situs peziarahan lama seperti Roma, Yerusalem, dan Compostela meraih peningkatan jumlah pengunjung, dan situs-situs baru seperti Monte Sant'Angelo dan Bari makin dikenal.[253]

Pada abad ke-13, ordo-ordo mendikanFransiskan dan Dominikan—yang menyatakan sumpah hidup miskin dan meminta-minta, disepakati oleh kepausan.[254] Kelompok-kelompok keagamaan seperti Waldensian dan Humiliati juga berniat untuk kembali ke kehidupan gereja perdana pada pertengahan abad ke-12 dan awal abad ke-13, namun mereka dikecam sebagai bidaah oleh kepausan. Yang lainnya bergabung dengan Katar, gerakan bidaah lain yang dikecam oleh kepausan. Pada 1209, sebuah perang salib diserukan untuk melawan kaum Katar, Perang Salib Albigensian, yang berpadu dengan Inkuisisi abad pertengahan, untuk menyingkirkan mereka.[255]

Abad Pertengahan Akhir[sunting | sunting sumber]

Perang, bencana kelaparan, dan wabah penyakit[sunting | sunting sumber]

Tahun-tahun pertama abad ke-14 ditandai oleh bencana-bencana kelaparan, berpuncak pada Bencana Kelaparan Besar 1315–17.[256] Sebab-sebab Bencana Kelaparan Besar tersebut meliputi transisi lambat dari Periode Hangat Abad Pertengahan dan Zaman Es Kecil, yang membuat populasi menurun karena suaca buruk yang menyebabkan gagal panen.[257] Tahun 1313–14 dan 1317–21, Eropa mengalami hujan terus menerus, mengakibatkan persebaran gagal panen.[258] Perubahan iklim—yang mengakibatkan penurunan temperatur tahunan rata-rata untuk Eropa pada abad ke-14—disertai dengan penurunan ekonomi.[259]

Eksekusi beberapa pemimpin jacquerie, dari sebuah manuskrip abad ke-14 dari Chroniques de France ou de St Denis

Ketegangan tersebut disusul pada 1347 dengan Wabah Hitam, sebuah pandemik yang menyebar ke seluruh Eropa pada tiga tahun berikutnya.[260][AB] Jumlah korban tewas mungkin sekitar 35 juta orang di Eropa, sekitar sepertiga populasi. Kota-kota secara khusus diserang hebat karena kondisi kumuh mereka.[AC] Sebagian besar wilayah banyak yang ditinggal, dan di beberapa tempat, ladang-ladang dibiarkan tak terurus. Upah meningkat karena para tuan tanah kekurangan jumlah buruh yang tersedia pada ladang mereka. Masalah selanjutnya adalah penyewaan rendah dan tuntutan rendha untuk makanan, keduanya terpotong dalam pendapatan pertanian. Para buruh kota juga merasa bahwa mereka memiliki hak untuk meraih yang lebih besar, dan kebangkitan masyarakat pecah di sepanjang Eropa.[263] Salah satu kebangkitan tersebut adalah jacquerie di Perancis, Pemberontakan Petani di Inggris, dan pemberontakan di kota-kota Firenze Italia dan Ghent dan Bruges di Flanders. Trauma wabah berujung pada peningkatan pietas di seluruh Eropa, dimanifestasikan oleh pendirian yayasan-yayasan baru, mortifikasi diri flagelan, dan penindasan Yahudi.[264] Keadaan-keadaan tersebut kemudian digejolakkan dengan kembalinya wabah sepanjang sesi abad ke-14; ini masih menyerang Eropa secara periodikal pada sisa Abad Pertengahan.[260]

Masyarakat dan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Masyarakat seluruh Eropa terganggu oleh dislokasi yang disebabkan oleh Wabah Hitam. Lahan-lahan yang menjadi produktif secara marginal telah telah tiada, karena para korban selamat dapat mengakuisisi wilayah yang lebih fertil.[265] Meskipun buruh tani berkurang di Eropa Barat, ini menjadi sangat umum di Eropa Timur, karena para tuan tanah menempatkannya di wilayah kekuasaan mereka yang sebelumnya bebas.[266] Kebanyakan petani di Eropa Barat mengurusi perubahan kerja yang mereka miliki sebelumnya kepada para tuan tanah mereka dalam penyewaan tunai.[267] Persentase buruh tani di kalangan petani menurun dari lebih dari 90 menjadi 50 persen pada akhir periode tersebut.[164] Tuan tanah juga menjadi lebih peka terhadap kepentingan umum dengan para tuan tanah lainnya, dan mereka bergabung bersama untuk menuntut hak-hak dari pemerintah mereka. Pada sebagian pendapat tuan tanah, pemerintah berniat untuk melegistasi kembalinya kondisi ekonomi yang ada sebelum Wabah Hitam.[267] Non-rohaniwan menjadi makin melek huruf, dan penduduk kota mulai meniru kepentingan bangsawan dalam hal kekesatriaan.[268]

Komunitas Yahudi diusir dari Inggris pada tahun 1290 dan dari Perancis pada tahun 1306. Meskipun beberapa diijinkan kembali ke Perancis, kebanyakan tidak, dan beberapa Yahudi beremigrasi ke wilayah timur, bermukim di Polandia dan Hongaria.[269] Yahudi diusir dari Spanyol pada 1492, dan berpindah ke Turki, Perancis, Italia dan Holland.[76] Pebangkitan perbankan di Italia pada abad ke-13 berlanjut sepanjang abad ke-14, sebagian dipenuhi oleh peningkatan perang pada masa itu dan kebutuhkan kepausan untuk menggerakan uang antar kerajaan. Beberapa firma perbankan meminjamkan uang kepada pihak kerajaan, dalam resiko besar, karena beberapa bangkrut saat para raja menarik pinjaman mereka.[270][AD]

Kebangkitan negara[sunting | sunting sumber]

Peta Eropa pada tahun 1360

Negara-negara berbasis kerajaan yang kuat berkembang di seluruh Eropa pada Abad Pertengahan Akhir, terutama di Inggris, Perancis, dan kerajaan-kerajaan Kristen di Semenanjung Iberia: Aragon, Kastilia, dan Portugal. Konflik-konflik panjang dari periode tersebut menguatkan kontrol kerajaan atas kerajaan-kerajaan mereka dan sangat menyulitkan kaum petani. Para raja diuntungkan dari perang yang melebarkan legislasi kerajaan dan meningkatkan lahan yang mereka kontrol langsung.[271] Pembayaran untuk perang mensyaratkan agar metode-metode perpajakan menjadi lebih efektif dan efisien, dan tingkat perpajakan seringkali meningkat.[272] Persyaratan untuk mengambil konsen terhadap para pembayar pajak membolehkan badan-badan perwakilan seperti Parlemen Inggris dan Estates General Perancis meraih kekuasaan dan otoritas.[273]

Joan dari Arc dalam sebuah gambar abad ke-15

Sepanjang abad ke-14, raja-raja Perancis berniat untuk meluaskan pengaruh mereka di pengeluaran pemegangan teritorial dari kaum bangsawan.[274] Mereka menghadapi kesulitan saat berniat untuk menkonfiskasikan pemegangan raja-raja Inggris di selatan Perancis, berujung pada Perang Ratusan Tahun,[275] yang berlangsung dari 1337 sampai 1453.[276] Pada awal perang, Inggris yang berada di bawah kekuasaan Edward III (memerintah 1327–77) dan putranya Edward, Pangeran Hitam (w. 1376),[AE] memenangkan pertempuran-pertempuran Crécy dan Poitiers, merebut kota Calais, dan memenangkan kontrol atas sebagian besar Perancis.[AF] Hasilnya hampir menyebabkan disintegrasi kerajaan Perancis pada tahun-tahun awal perang.[279] Paabad ke-15, Perancis nyaris kembali menghadapi pembubaran, namun pada akhir 1420an, kesuksesan militer Joan dari Arc (wafat 1431) memimpin kemenangan Perancis dan merebut wilayah Inggris terakhir di selatan Perancis pada 1453.[280] Harga meningkat, karena populasi Perancis pada akhir Perang nampaknya telah menjadi permulaan konflik. Sebaliknya, perang tersebut memiliki efek positif pada identitas nasional Inggris, dimana berbagai identitas lokal masuk ke dalam gagasan Inggris nasional. Konflik dengan Perancis tersebut juga membantu pembentukan budaya nasional di Inggris yang terpisah dari budaya Perancis, yang sebelumnya telah menjadi pengaruh dominan.[281] Dominasi busur panjang Inggris dimulai pada tahap-tahap awal Perang Ratusan Tahun,[282] dan meriam muncul pada medan tempur di Crécy pada 1346.[236]

Di Jerman modern, Kekaisaran Romawi Suci melanjutkan pemerintahan, namun alam eletif dari takhta kekaisaran menandakan bahwa tak ada dinasti yang membuat sebuah negara yang kuat dapat terbentuk.[283] Di sebelah timur, kerajaan-kerajaan Polandia, Hongaria, dan Bohemia bertumbuh kuat.[284] Di Iberia, kerajaan-kerajaan Kristen kembali meraih kekuasaan dari kerajaan-kerajaan Muslim di semenanjung tersebut;[285] Portugal mengkonsekrasikan perluasan wilayah seberang laut pada abad ke-15, sementara kerajaan lainnya dihadapikan oleh kesulitan atas sukses kerajaan dan perhatian lainnya.[286][287] Setelah kekalahan Perang Ratusan Tahun, Inggris mengalami perang saudara panjang yang dikenal sebagai Perang Mawar, yang berlangsung pada 1490an[287] dan baru berakhir saat Henry Tudor (memerintah 1485–1509 sebagai Henry VII) menjadi raja dan mengkonsolisasikan kekuasaan dengan kemenangannya atas Richard III (m. 1483–85) di Bosworth pada 1485.[288] Di Skandinavia, Margaret I dari Denmark (memerintah di Denmark 1387–1412) mengkonsolidasikan Norwegia, Denmark, dan Swedia dalam Uni Kalmar, yang berlangsung sampai 1523. Kekuatan besar di sekitaran Laut Baltik adalah Liga Hanseatik, sebuah konfederasi komersial dari negara-negara kota yang berdagang dari Eropa Barat ke Rusia.[289] Skotlandia timbul dari dominasi Inggris di bawah Robert the Bruce (memerintah 1306–29), yang menyatakan pengakuan kepausan dari kekerabatannya pada 1328.[290]

Keruntuhan Bizantium[sunting | sunting sumber]

Meskipun para kaisar Palaeologi merebut kembali Konstantinopel dari bangsa Eropa Barat pada 1261, mereka tak pernah dapah merebut kembali kontrol sebagian besar bekas wilayah kekaisaran. Mereka biasanya hanya menguasai sebagian kecil Semenanjung Balkan di dekat Konstantinopel, kota itu sendiri, dan beberapa wilayah pantai di Laut Hitam dan sekitaran Laut Aegea. Bekas wilayah Bizantium di Balkan terbagi antara Kerajaan Serbia baru, Kekaisaran Bulgaria Kedyua dan kota-negara Venesia. Kekuasaan para kaisar Bizantium diancam oleh sebuah suku Turki baru, Utsmaniyah, yang menghimpun diri mereka sendiri di Anatolia pada abad ke-13 dan cepat meluas sepanjang abad ke-14. Utsmaniyah meluas ke Eropa, membuat Bulgaria menjadi negara vasal pada 1366 dan merebut Serbia setelah kekalahannya di Pertempuran Kosovo pada 1389. Bangsa Eropa Barat mengerahkan pasukan Kristen di Balkan dan menyerukan perang salib baru pada 1396; tentara besar dikirim ke Balkan, dimana pasukan tersebut kalah di Pertempuran Nicopolis.[291] Konstantinopel akhirnya direbut oleh Utsmaniyah pada 1453.[292]

Kontroversi dalam Gereja[sunting | sunting sumber]

Guy dari Boulogne memahkotai Paus Gregorius XI dalam sebuah miniatur dari Chroniques Froissart

Pada abad ke-14, persengketaan kepemimpinan Gereja berujung pada Kepausan Avignon tahun 1309–76,[293] juga disebut "Pembuangan Babilonia dari Kepausan" (sebuah rujukan kepada pembuangan Babilonia dari Yahudi),[294] dan kemudian Skisma Besar, yang berlangsung dari 1378 sampai 1418, saat terdapat dua dan kemudian tiga paus pesaing, masing-masing didukung oleh beberapa negara.[295] Para pejabat gereja dikumpulkan di Konsili Konstans pada 1414, dan pada tahun berikutnya, konsili tersebut mendepak salah satu paus pesaing, meninggalkan dua pengklaim. Pendepakan lanjutan berlanjut, dan pada November 1417, konsili tersebut memilih Martinus V (menjabat 1417–31) sebagai paus.[296]

Disamping skisma, Gereja Barat dihadapkan oleh kontroversi teologi, beberapa berujung pada bidaah. John Wycliffe (w. 1384), seorang teolog Inggris, dikecam sebagai bidaah pada 1415 karena mengajarkan bahwa kaum awam harus mengakses teks Alkitab serta memegang pandangan tentang Ekaristi yang berlawanan dengan doktrin Gereja.[297] Pengajaran Wycliffe mempengaruhi dua gerakan bidaah besar dari Abad Pertengahan Akhir: Lollardy di Inggris dan Husitisme di Bohemia.[298] Gerakan Bohemia diinisiasikan dengan pengajaran Jan Hus, yang dibakar di perapian pada 1415 setelah dikecam sebagai heretik oleh Konsili Konstans. Gereja Husite, meskipun menjadi target sebuah perang salib, bertahan sampai setelah Abad Pertengahan.[299] Bidaah lainnya timbul, seperti tuduhan melawan Kesatria Templar yang mengakibatkan penekanan mereka pada 1312 dan perpecahan kekayaan besar mereka antara Raja Perancis Philip IV (m. 1285–1314) dan Hospitaller.[300]

Kepausan kemudian merefinisasikan praktik dalam Misa pada Abad Pertengahan Akhir, menyatakan bahwa hanya rohaniwan yang diijinkan untuk mengangkat anggur dalam Ekaristi. Ini kemudian menjauhkan awam sekuler dari rohaniwan. Kaum awam masih mempraktikkan peziarahan, pemuliaan relik, dan keyakinan akan kekuatan Jahat. Para mistikus seperti Meister Eckhart (w. 1327) dan Thomas à Kempis (w. 1471) menulis karya-karya yang mengajarkan kaum awam untuk berfokus pada kehidupan spiritual dalam mereka, yang menjadi karya landasan bagi Reformasi Protestan. Disamping mistisisme, keyakinan akan penyihir dan sihir menjadi merebak, dan pada akhir abad ke-15, Gereja mulai memegang kekhawatiran umum atas sihir dengan mengecam sihir pada 1484 dan publikasi pada tahun 1486 dari Malleus Maleficarum, sebuah buku pegangan paling populer untuk para pemburu penyihir.[301]

Cendekiawan, intelektual, dan penjelajahan[sunting | sunting sumber]

Pada Abad Pertengahan Akhir, para teolog seperti John Duns Scotus (w. 1308)[AG] dan William dari Ockham (wafat sekitar tahun 1348),[219] berujung pada sebuah reaksi melawan skolastisisme, yang menempatkan aplikasi akal budi kepada iman. Upaya mereka menimbulkan gagasan Platonik dari "alam semesta". Insistensi Ockham bahwa akal budi beroperasi secara terpisah dari iman membolehkan sains terpisah dari teologi dan filsafat.[302] Kajian-kajian hukum ditandai oleh kemajuan dari hukum Romawi dalam wilayah yurisprudensi yang sebelumnya diperintah oleh hukum adat. Pengecualian tunggal untuk tren ini adalah di Inggris, dimana hukum umum masih didahulukan. Negara-negara lain mengkitabkan hukum-hukum mereka; kitab-kitab hukum dipromulgasikan di Kastilia, Polandia, dan Lithuania.[303]

Para rohaniwan mempelajari astronomi dan geometri, Perancis, awal abad ke-15

Pendidikan masih banyak berfokus pada pelatiohan rohaniwan masa depan. Pembelajaran dasar dari huruf dan angka masih menjadi penanganan dari keluarga atau seorang imam desa, namun pelajaran-pelajaran menengah dari trivium—tata bahasa, retorika, logika—dipelajari di sekolah-sekolah katedral atau sekolah-sekolah yang disediakan oleh kota-kota. Sekolah-sekolah menengah komersial merebak, dan beberapa kota Italia memiliki lebih dari satu wirausaha semacam itu. Universitas-universitas juga merebak di sepanjang Eropa pada abad ke-14 dan ke-15. Tingkat melek huruf kaum awam meningkat, namun masih rendah; satu perkiraan menyatakan bahwa tingkat melek hurufnya adalah sepuluh persen laki-laki dan satu persen perempuan pada tahun 1500.[304]

Pada awal abad ke-15, negara-negara di semenanjung Iberia mulai mensponsori penjelajahan di luar perbatasan Eropa. Pangeran Henry si Navigator dari Portugal (w. 1460) mengirim penjelajahan-penjelajahan yang menemukan Kepulauan Kanari, Azores, dan Tanjung Verde pada masa hidupnya. Setelah kematiannya, penjelajahan berlanjut; Bartolomeu Dias (w. 1500) datang ke sekitaran Tanjung Harapan pada tahun 1486 dan Vasco da Gama (w. 1524) berlayar ke sekitaran Afrika sampai India pada tahun 1498.[305] Monarki-monarki Spanyol terpadu dari Kastilia dan Aragon mensponsori perjalanan penjelajahan oleh Christopher Columbus (w. 1506) pada tahun 1492 yang menemukan benua Amerika.[306] Takhta Inggris di bawah Henry VII mensponsori perjalanan John Cabot (w. 1498) pada tahun 1497, yang mendarat di Pulau Tanjung Breton.[307]

Pengembangan teknologi dan militer[sunting | sunting sumber]

Kalender pertanian, s. 1470, dari sebuah manuskrip Pietro de Crescenzi

Salah satu pengembangan besar dalam bidang militer pada Abad Pertengahan Akhir adalah peningkatan pemakaian infanteri dan kavaleri ringan.[308] Inggris juga mengerahkan pasukan busur panjang, namun negara lainnya tak dapat membuat pasukan serupa dengan kesuksesan yang sama.[309] Zirah masih dimajukan, disertai oleh peningkatan kekuatan busur silang, dan zirah plat dikembangkan untuk melindungi para prajurit dari busur-busur silang serta senapan genggam yang dikembangkan.[310] Senjata tiang meraih ketenaran baru dengan pengembangan infanteri Flemish dan Swiss yang bersenjatakan dengan tombak dan busur panjang lainnya.[311]

Dalam pertanian, peningkatan pemakaian domba dengan wol berserat panjang membolehkan pengolahan yang lebih kuat. Selain itu, alat tenun menggantikan alat tradisional untuk menenun wol, melipatgandakan produksi menjadi tiga kali lipat.[312][AH] Kurangnya penyempurnaan teknologi yang masih sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari adalah pemakaian kancing sebagai penutup untuk garmen, yang membolehkan untuk fitting yang lebih baik tanpa merenda busana pada pemakainya.[314] Kincir angin disempurnakan dengan pembuatan kincir menara, membolehkan bagian atas dari kincir angin berputar di sekitaran wajah pengarahan dari angin yang berhembus.[315] Tanur tiup muncul pada sekitar tahun 1350 di Swedia, meningkatkan kuantitas besi yang diproduksi dan menunjang kualitasnya.[316] Hukum paten pertama pada 1447 di Venesia melindungi hak para penemu atas penemuan mereka.[317]

Seni rupa dan arsitektur abad pertengahan akhir[sunting | sunting sumber]

Pemandangan Februari dari manuskrip teriluminasi abad ke-15 Très Riches Heures du Duc de Berry

Abad Pertengahan Akhir di Eropa secara keseluruhan disertai dengan periode kebudayaan Trecento dan Renaisans Awal di Italia. Eropa Utara dan Spanyol masih memakai gaya Gotik, yang menjadi makin padu pada abad ke-15, sampai menjelang akhir periode tersebut. Gotik Internasional adalah sebuah gaya khas yang mencapai sebagian besar Eropa pada dekade-dekade sekitar 1400, menghasilkan adi-adikarya seperti Très Riches Heures du Duc de Berry.[318] Seluruh seni rupa sekuler Eropa masih meningkat dalam kuantitas dan kualitas, dan pada abad ke-15, kelas-kelas merkantil Italia dan Flanders menjadi patron-patron menonjol, mengkomisikan potret-potret kecil dari diri mereka sendiri dalam minyak serta tingkat pertumbuhan barang-barang mewah seperti perhiasan, ukiran gading, kotak cassone, dan tembikar maiolica. Barang-barang tersebut juga meliputi perangkat Hispano-Moresque yang dibuat oleh sebagian besar pembuat tembikar Mudéjar di Spanyol. Meskipun kerajaan memiliki kumpulan plat tingkat tinggi, sedikit yang masiha da kecuali untuk Royal Gold Cup.[319] Pabrik sutra Italia dikembangkan, sehingga gereja-gereja dan kalangan elit Barat tak perlu mengimpor dari Bizantium atau dunia Islam. Di Perancis dan Flanders, tapestri yang menampilkan set-set seperti Gadis dan Unicorn menjadi industri mewah besar.[320]

Skema-skema pahatan eksternal besar dari gereja-gereja Gotik Timur memberikan jalan untuk pemahatan lebih di dalam bangunan tersebut, karena makam-makam menjadi makin banyak dan fitur-fitur lainnya seperti pulpit-pulpit terkadang diukir, seperti dalam Pulpit karya Giovanni Pisano di Sant'Andrea. Melukis atau mengukir meja alter kayu menjadi hal umum, khususnya saat gereja-gereja membuat beberapa kapel sampingan. Lukisan Belanda Awal karya para seniman seperti Jan van Eyck (w. 1441) dan Rogier van der Weyden (w. 1464) bersaing di Italia, sesuai yang tertulis dalam manuskrip-manuskrip teriluminasi utara, yang pada abad ke-15 mulai dikoleksi sejumlah besar kalangan elit sekuler, yang juga mengekomisikan buku-buku sekuler, khususnya sejarah. Dari sekitar tahun 1450, buku-buku cetak makin populer, meskipun masih mahal. Terdapat sekitar 30,000 edisi berbeda dari incunabula, atau karya-karya yang dicetak sebelum tahun 1500,[321] dimana manuskrip-manuskrip teriluminasi hanya dikomisikan oleh kaum kerajaan dan sedikit orang lainnya. Cukil-Cukil kayu yang sangat kecil, hampir semuanya keagamaan, dipegang oleh para petani di bagian Eropa Utara dari pertengahan abad ke-15. Engravir yang lebih mahal disuplai ke pasar yang lebih kaya dengan beragam gambar.[322]

Persepsi modern[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi abad pertengahan dari Bumi bulat dalam sebuah salinan abad ke-14L'Image du monde

Abad Pertengahan kemudian dikarikaturkan sebagai "zaman penghirauan dan penjunjungan" yang menempatkan "firman otoritas relijius atas pengalaman pribadi dan kegiatan rasional."[323] Ini adalah sebuah warisan dari Renaisans dan Abad Pencerahan, saat para cendekiawan nampak mempertentangkan budaya intelektual mereka dengan abad pertengahan. Para cendekiawan Renaisans memandang Abad Pertengahan sebagai periode penurunan dari budaya dan peradaban tinggi dari dunia Klasik; para cendekiawan Abad Pencerahan memandang akal budi lebih tinggi ketimbang iman, dan kemudian memandang Abad Pertengahan sebagai masa penghirauan dan penjunjungan.[13]

Pihak lainnya berpendapat bahwa akal budi justru dijunjung sangat tinggi pada Abad Pertengahan. Sejarawan sains Edward Grant menyatakan, "Jika pemikiran rasional revolusioner yang dialami [pada abad ke-18], kami hanya membuat kemungkinan karena tradisi abad pertengahan yang panjang mendirikan pemakaian akal budi sebagai salah satu kegiatan manusia paling penting".[324] Selain itu, berlawanan dengan keyakinan umum, David Lindberg menulis, "cendekiawan abad pertengahan akhir abad pertengahan jarang mengalami kekuatan koersif Gereja dan akan menganggap dirinya sendiri bebas (terutama dalam ilmu alam) untuk mengikuti akal budi dan pengamatan yang mereka tuju".[325]

Karikatur periode tersebut juga terefleksi dalam beberapa catatan yang lebih spesifik. Salah satu kesalahpahaman, yang pertama kali timbul pada abad ke-19 [326] dan masih sangat umum, adalah bahwa semua orang pada Abad Pertengahan meyakini bahwa Bumi itu datar.[326] Ini tidak benar, karena para pengajar di universitas-universitas abad pertengahan umumnya berpendapat bahwa bukti menunjukkan Bumi itu bulat.[327] Lindberg dan Ronald Numbers, cendekiawan lain dari periode tersebut, menyatakan bahwa "hampir tak ada seorang cendekiawan Kristen dari Abad Pertengahan yang tak meyakini kebulatan [Bumi] dan bahkan mengetahui perkiraan kelilingnya".[328] Kesalahpahaman lainnya seperti "Gereja melarang otopsi dan pembedahan pada Abad Pertengahan", "kebangkitan Kekristenan membunuh ilmu kuno", atau "Gereja Kristen abad pertengahan menekan pertumbuhan filsafat alam", semuanya dikutip oleh Numbers sebagai contoh-contoh mitos populer yang masih dianggap sebagai kebenaran sejarah, meskipun mereka tak didukung oleh riset sejarah saat ini.[329]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Inilah tahun ketika para Kaisar Romawi Barat yang terakhir tersingkir dari Italia.[11]
  2. ^ Sebuah buku rujukan yang diterbitkan pada 1883 menyamakan Abad Kegelapan dengan Abad Pertengahan, namun sejak 1904, dipelopori oleh William Paton Ker, istilah "Abad Kegelapan" pada umumnya dibatasi untuk bagian permulaan dari Abad Pertengahan. Sebagai contoh, Encyclopædia Britannica edisi tahun 1911 memberikan definisi Abad Kegelapan dengan cara yang sama. Lihat Abad Kegelapan untuk uraian sejarah selengkapnya mengenai istilah ini.
  3. ^ Sistem ini, yang kemudian terdiri dari dua kaisar senior bersama dan dua kaisar junior bersama, dikenal sebagai Tetrarki.[22]
  4. ^ Para komandan militer Romawi di wilayah tersebut nampak mengambil makanan dan suplai lain yang ditujukan untuk diberikan kepada bangsa Goth dan malah menjualnya kepada bangsa Goth. Pemberontakan tersebut dipicu saat salah satu komandan militer Romawi berupaya untuk menyandera para pemimpin Goth namun gagal mengamankan mereka semua.[29]
  5. ^ Sebuah penanggalan alternatif dari tahun 480 terkadang diberikan, karena tahun tersebut adalah tahun pendahulu Romulus Augustulus Julius Nepos meninggal; Nepos masih menganggap bahwa ia adalah kaisar wilayah Barat saat memegang Dalmatia.[11]
  6. ^ Kata Inggris "slave" (budak) berasal dari istilah Latin untuk bangsa Slav, slavicus.[48]
  7. ^ Brittany memakai namanya dari pemukiman ini oleh bangsa Briton.[52]
  8. ^ Pendorongan ini disebut comitatus oleh para sejarawan, meskipun ini bukanlah istilah kontemporer. Ini diadaptasi pada abad ke-19 dari sebuah kata yang dipakai oleh sejarawan abad ke-2 Tacitus untuk menyebut rekan-rekan dekat tuan tanah atau raja.[66] Comitatus terdiri dari pria muda yang didorong untuk mencurahkan diri mereka kepada tuan tanah mereka. Jika tuan tanah mereka meninggal, mereka juga memutuskan untuk bertarung sampai mati.[67]
  9. ^ Dhu Nuwas, penguasa Yaman saat ini, berpindah agama pada 525 dan penindasan berikutnya terhadap umat Kristen berujung pada invasi dan penaklukan kerajaannya oleh bangsa Axumite dari Ethiopia.[77]
  10. ^ Tentara Muslim sebelumnya telah merebut kerajaan Visigothik dari Spanyol, setelah mengalahkan Raja Visigothik terakhir Ruderic (w. 711 atau 712) di Pertempuran Guadalete pada 711, menyelesaikan penaklukan tersebut pada 719.[96]
  11. ^ Negara-Negara Kepausan berdiri sampai tahun 1870, saat Kerajaan Italia merebut sebagian besar wilayahnya.[101]
  12. ^ Minuskul Karoling dikembangkan dari aksara unsial dari Akhir Abad Antikuitas, yang merupakan bentuk lebih kecil dan lebih bundar dari penulisan abjad Latin ketimbang bentuk klasiknya.[106]
  13. ^ Terdapat penyatuan kembali singkat dari Kekaisaran tersebut oleh Charles III, yang dikenal sebagai "si Gemuk", pada 884, meskipun unit-unit sebenarnya dari kekaisaran tersebut tak digabung dan mempertahankan pemerintahan mereka yang terpisah. Charles dilengserkan pada 887 dan wafat pada Januari 888.[111]
  14. ^ Dinasti Karoling sebelumnya telah dilengserkan oleh Raja Odo (memerintah 888–898), sebelumnya Bupati Paris, yang memegang takhta pada 888.[112] Meskipun para anggota dinasti Karoling menjadi para raja di wilayah barat setelah Odo wafat, keluarga Odo juga mensuplai raja-raja—saudara Robert I menjadi raja pada 922–923, dan kemudian keponakan Robert Raoul menjadi raja dari 929 sampai 936—sebelum dinasti Karoling mengklaim kembali takhta tersebut lebih dari sekali.[113]
  15. ^ Hugh Capet adalah cucu dari Robert I, seorang raja dari masa sebelumnya.[113]
  16. ^ Pemukiman tersebut kemudian diperluas dan mengirim ekspedisi penaklukan ke Inggris, Sisilia, dan selatan Italia.[116]
  17. ^ Susunan warisan ini dikenal sebagai primogenitur.[161]
  18. ^ Kavaleri berat diperkenalkan ke Eropa dari katafrak Persia abad ke-5 dan ke-6, namun tambahan stirrup pada abad ke-7 membolehkan pasukan kuda penuh dan penunggang dipakai dalam serangan.[162]
  19. ^ Di Perancis, Jerman dan Negara-negara Dataran Rendah, terdapat jenis tambahan dari "bangsawan", ministerialis, yang merupakan kesatria tak bebas. Mereka merupakan keturunan dari buruh tani yang bertugas sebagai prajurit atau pejabat pemerintah, yang kenaikan status membolehkan para keturunan mereka untuk memegang fief serta menjadi kesatria meskipun secara teknis masih menjadi buruh tani.[164]
  20. ^ Beberapa petani Yahudi masih berada di lahan di bawah kekuasaan Bizantium di wilayah Timur serta beberapa di Kreta di bawah kekuasaan Venesia, namun itu menjadi sebuah pengecualian di Eropa.[170]
  21. ^ Dua kelompok—Jerman dan Italia—memegang kesepakatan berbeda terhadap aransemen dagang mereka. Kebanyakan kota Jerman bekerjasama dalam Liga Hanseatik, berlawanan dengan negara-kota Italia yang mengadakan keadaan saling berkegantungan.[174]
  22. ^ Pengelompokan lahan ini seringkali disebut Kekaisaran Angevin.[194]
  23. ^ Eleanor sebelumnya menikahi Louis VII dari Perancis (memerintah 1137–80), namun pernikahan mereka kandas pada 1152.[195]
  24. ^ Louis dikanonisasikan pada 1297 oleh Bonifasius VIII.[199]
  25. ^ Ordo-ordo militer relijius seperti Kesatria Templar dan Knights Hospitaller dibentuk dan ingin memainkan peran dalam pada negara-negara salibis.[211]
  26. ^ Ini menyebar ke Eropa Utara pada tahun 1000, dan telah mencapai Polandia pada abad ke-12.[229]
  27. ^ Busur silang terlalu lama untuk diisi kembali, yang membatasi pemakaian mereka di medan tempur terbuka. Dalam pengepungan, kelambatan tersebut tak sebesar kemajuannya, karena pasukan busur silang harus bersembunyi di balik benteng untuk pengisian kembali.[234]
  28. ^ Konsensus sejarah untuk 100 tahun terakhir telah menyatakan bahwa Wabah Hitam adalah bentuk wabah bubonik, namun beberapa sejarawan mulai menantang pandangan tersebut pada tahun-tahun terkini.[261]
  29. ^ Satu kota, Lübeck di Jerman, kehilangan 90 persen dari populasinya akibat Wabah Hitam.[262]
  30. ^ Seperti yang terjadi dalam firma-firma Bardi dan Peruzzi pada 1340an saat Raja Edward III dari Inggris menarik pinjaman mereka kepada mereka.[270]
  31. ^ Julukan Edward diyakini datang dari zirah hitamnya, dan pertama kali dipakai oleh John Leland pada 1530an atau 1540an.[277]
  32. ^ Calais masih berada di tangan Inggris sampai 1558.[278]
  33. ^ Kata "dunce" berasal dari nama Duns Scotus.[302]
  34. ^ Alat tersebut masih sederhana, karena tidak memasukkan roda untuk memisahkan dan menekan serat. Penyempurnaan ini belum ditemukan sampai abad ke-15.[313]

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Power Central Middle Ages hlm. 304
  2. ^ a b Mommsen "Petrarch's Conception of the 'Dark Ages'" Speculum hlmn. 236–237
  3. ^ Singman Daily Life hlm. x
  4. ^ Knox "Sejarah Gagasan Abad Pembaharuan"
  5. ^ a b Bruni History of the Florentine people hlm. xvii
  6. ^ Miglio "Curial Humanism" Interpretations of Renaissance Humanism hlm. 112
  7. ^ Albrow Global Age hlm. 205
  8. ^ a b Murray "Should the Middle Ages Be Abolished?" Essays in Medieval Studies hlm. 4
  9. ^ Flexner (ed.) Random House Dictionary hlm. 1194
  10. ^ "Middle Ages" Dictionary.com
  11. ^ a b c Wickham Inheritance of Rome p. 86
  12. ^ Lihat Making of Polities Europe 1300–1500 karya Watts, atau Economic History of Later Medieval Europe 1000–1500 oleh Epstein, atau tarikh penutup yang digunakan dalam Oxford History of Medieval Europe oleh Holmes (ed.)
  13. ^ a b Davies Europe pp. 291–293
  14. ^ Lihat Companion to Medieval England 1066–1485 oleh Saul
  15. ^ Kamen Spain 1469–1714 hlm. 29
  16. ^ Mommsen "Petrarch's Conception of the 'Dark Ages'" Speculum hlm. 226
  17. ^ Tansey, et al. Gardner's Art Through the Ages p. 242
  18. ^ Cunliffe Europe Between the Oceans pp. 391–393
  19. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 3–5
  20. ^ a b Heather Fall of the Roman Empire p. 111
  21. ^ a b Brown World of Late Antiquity pp. 24–25
  22. ^ a b Collins Early Medieval Europe p. 9
  23. ^ Collins Early Medieval Europe p. 24
  24. ^ Cunliffe Europe Between the Oceans pp. 405–406
  25. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 31–33
  26. ^ Brown World of Late Antiquity p. 34
  27. ^ Brown World of Late Antiquity pp. 65–68
  28. ^ Brown World of Late Antiquity pp. 82–94
  29. ^ Collins Early Medieval Europe p. 51
  30. ^ Bauer History of the Medieval World pp. 47–49
  31. ^ Bauer History of the Medieval World pp. 56–59
  32. ^ Bauer History of the Medieval World pp. 80–83
  33. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 59–60
  34. ^ a b Cunliffe Europe Between the Oceans p. 417
  35. ^ Collins Early Medieval Europe p. 80
  36. ^ James Europe's Barbarians pp. 67–68
  37. ^ Bauer History of the Medieval World pp. 117–118
  38. ^ Wickham Inheritance of Rome p. 79
  39. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 107–109
  40. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 116–134
  41. ^ Brown, World of Late Antiquity, pp. 122–124
  42. ^ Wickham, Inheritance of Rome, pp. 95–98
  43. ^ Wickham, Inheritance of Rome, pp. 100–101
  44. ^ Collins, Early Medieval Europe, p. 100
  45. ^ a b Collins, Early Medieval Europe, pp. 96–97
  46. ^ Wickham, Inheritance of Rome, pp. 102–103
  47. ^ Backman, Worlds of Medieval Europe, pp. 86–91
  48. ^ Coredon Dictionary of Medieval Terms p. 261
  49. ^ James Europe's Barbarians pp. 82–88
  50. ^ a b James Europe's Barbarians pp. 77–78
  51. ^ James Europe's Barbarians pp. 79–80
  52. ^ a b James Europe's Barbarians pp. 78–81
  53. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 196–208
  54. ^ Davies Europe pp. 235–238
  55. ^ Adams History of Western Art pp. 158–159
  56. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 81–83
  57. ^ Bauer History of the Medieval World pp. 200–202
  58. ^ a b Bauer History of the Medieval World pp. 206–213
  59. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 126, 130
  60. ^ Brown "Transformation of the Roman Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe pp. 8–9
  61. ^ James Europe's Barbarians pp. 95–99
  62. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 140–143
  63. ^ Brown World of Late Antiquity pp. 174–175
  64. ^ Brown World of Late Antiquity p. 181
  65. ^ Brown "Transformation of the Roman Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe pp. 45–49
  66. ^ Coredon Dictionary of Medieval Terms p. 80
  67. ^ Geary Before France and Germany pp. 56–57
  68. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 189–193
  69. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 195–199
  70. ^ Wickham Inheritance of Rome p. 204
  71. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 205–210
  72. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 211–212
  73. ^ Wickham Inheritance of Rome p. 215
  74. ^ Brown "Transformation of the Roman Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe pp. 24–26
  75. ^ Gies and Gies Life in a Medieval City pp. 3–4
  76. ^ a b c d Loyn "Jews" Middle Ages p. 191
  77. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 138–139
  78. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 143–145
  79. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 149–151
  80. ^ Reilly Medieval Spains pp. 52–53
  81. ^ Brown "Transformation of the Roman Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe p. 15
  82. ^ Cunliffe Europe Between the Oceans pp. 427–428
  83. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 218–219
  84. ^ Grierson "Coinage and currency" Middle Ages
  85. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 218–233
  86. ^ Davies Europe pp. 328–332
  87. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 170–172
  88. ^ Colish Medieval Foundations pp. 62–63
  89. ^ Lawrence Medieval Monasticism pp. 10–13
  90. ^ Lawrence Medieval Monasticism pp. 18–24
  91. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 185–187
  92. ^ Hamilton Religion in the Medieval West pp. 43–44
  93. ^ Colish Medieval Foundations pp. 64–65
  94. ^ Bauer History of the Medieval World pp. 246–253
  95. ^ Bauer History of the Medieval World pp. 347–349
  96. ^ Bauer History of the Medieval World p. 344
  97. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 158–159
  98. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 164–165
  99. ^ Bauer History of the Medieval World pp. 371–378
  100. ^ Brown "Transformation of the Roman Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe p. 20
  101. ^ Davies Europe p. 824
  102. ^ Stalley Early Medieval Architecture p. 73
  103. ^ a b Backman Worlds of Medieval Europe p. 109
  104. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 117–120
  105. ^ Davies Europe p. 302
  106. ^ Davies Europe p. 241
  107. ^ Colish Medieval Foundations pp. 66–70
  108. ^ Loyn "Language and dialect" Middle Ages p. 204
  109. ^ a b Bauer History of the Medieval World pp. 427–431
  110. ^ Backman Worlds of Medieval Europe p. 139
  111. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 356–358
  112. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 358–359
  113. ^ a b c Collins Early Medieval Europe pp. 360–361
  114. ^ Collins Early Medieval Europe p. 397
  115. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 141–144
  116. ^ Davies Europe pp. 336–339
  117. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 144–145
  118. ^ Bauer History of the Medieval World pp. 147–149
  119. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 378–385
  120. ^ Collins Early Medieval Europe p. 387
  121. ^ Davies Europe p. 309
  122. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 394–404
  123. ^ Davies Europe p. 317
  124. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 435–439
  125. ^ Whitton "Society of Northern Europe" Oxford Illustrated History of Medieval Europe p. 152
  126. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 439–444
  127. ^ Collins Early Medieval Europe pp. 385–389
  128. ^ Wickham Inheritance of Rome pp. 500–505
  129. ^ Davies Europe pp. 318–320
  130. ^ Davies Europe pp. 321–326
  131. ^ Crampton Concise History of Bulgaria p. 12
  132. ^ Curta Southeastern Europe pp. 246–247
  133. ^ Nees Early Medieval Art p. 145
  134. ^ Stalley Early Medieval Architecture pp. 29–35
  135. ^ Stalley Early Medieval Architecture pp. 43–44
  136. ^ Cosman Medieval Wordbook p. 247
  137. ^ Stalley Early Medieval Architecture pp. 45, 49
  138. ^ Kitzinger Early Medieval Art pp. 36–53, 61–64
  139. ^ Henderson Early Medieval pp. 18–21, 63–71
  140. ^ Henderson Early Medieval pp. 36–42, 49–55, 103, 143, 204–208
  141. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 41–49
  142. ^ Lasko Ars Sacra pp. 16–18
  143. ^ Henderson Early Medieval pp. 233–238
  144. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom pp. 28–29
  145. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 30
  146. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom pp. 30–31
  147. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 34
  148. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 39
  149. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom pp. 58–59
  150. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 76
  151. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 67
  152. ^ a b Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 80
  153. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom pp. 88–91
  154. ^ Whitton "Society of Northern Europe" Oxford Illustrated History of Medieval Europe p. 134
  155. ^ Gainty and Ward Sources of World Societies p. 352
  156. ^ Jordan Europe in the High Middle Ages pp. 5–12
  157. ^ a b c Backman Worlds of Medieval Europe p. 156
  158. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 164–165
  159. ^ Epstein Economic and Social History pp. 52–53
  160. ^ Barber Two Cities pp. 37–41
  161. ^ Cosman Medieval Wordbook p. 193
  162. ^ a b Davies Europe pp. 311–315
  163. ^ Singman Daily Life p. 3
  164. ^ a b Singman Daily Life p. 8
  165. ^ Hamilton Religion on the Medieval West p. 33
  166. ^ Singman Daily Life p. 143
  167. ^ Barber Two Cities pp. 33–34
  168. ^ Barber Two Cities pp. 48–49
  169. ^ Singman Daily Life p. 171
  170. ^ a b Epstein Economic and Social History p. 54
  171. ^ Singman Daily Life p. 13
  172. ^ a b Singman Daily Life pp. 14–15
  173. ^ Singman Daily Life pp. 177–178
  174. ^ Epstein Economic and Social History p. 81
  175. ^ Epstein Economic and Social History pp. 82–83
  176. ^ Barber Two Cities pp. 60–67
  177. ^ Backman Worlds of Medieval Europe p. 160
  178. ^ Barber Two Cities pp. 74–76
  179. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 283–284
  180. ^ Barber Two Cities pp. 365–380
  181. ^ Davies Europe p. 296
  182. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 262–279
  183. ^ Barber Two Cities pp. 371–372
  184. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 181–186
  185. ^ Jordan Europe in the High Middle Ages pp. 143–147
  186. ^ Jordan Europe in the High Middle Ages pp. 250–252
  187. ^ Denley "Mediterranean" Oxford Illustrated History of Medieval Europe pp. 235–238
  188. ^ Davies Europe p. 364
  189. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 187–189
  190. ^ Jordan Europe in the High Middle Ages pp. 59–61
  191. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 189–196
  192. ^ Davies Europe p. 294
  193. ^ Backman Worlds of Medieval Europe p. 263
  194. ^ Barlow Feudal Kingdom pp. 285–286
  195. ^ a b Loyn "Eleanor of Aquitaine" Middle Ages p. 122
  196. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 286–289
  197. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 289–293
  198. ^ Davies Europe pp. 355–357
  199. ^ Hallam and Everard Capetian France p. 401
  200. ^ a b Davies Europe p. 345
  201. ^ Barber Two Cities p. 341
  202. ^ Barber Two Cities pp. 350–351
  203. ^ Barber Two Cities pp. 353–355
  204. ^ Kaufmann and Kaufmann Medieval Fortress pp. 268–269
  205. ^ Davies Europe pp. 332–333
  206. ^ Davies Europe pp. 386–387
  207. ^ a b c Riley-Smith "Crusades" Middle Ages pp. 106–107
  208. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades pp. 397–399
  209. ^ a b Barber Two Cities pp. 145–149
  210. ^ Payne Dream and the Tomb pp. 204–205
  211. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades pp. 353–356
  212. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades pp. 156–161
  213. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 299–300
  214. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades p. 122
  215. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades pp. 205–213
  216. ^ Lock Routledge Companion to the Crusades pp. 213–224
  217. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 232–237
  218. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 247–252
  219. ^ a b Loyn "Scholasticism" Middle Ages pp. 293–294
  220. ^ Colish Medieval Foundations pp. 295–301
  221. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 252–260
  222. ^ a b Davies Europe p. 349
  223. ^ Saul Companion to Medieval England pp. 113–114
  224. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 237–241
  225. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 241–246
  226. ^ Ilardi, Renaissance Vision, pp. 18–19
  227. ^ Backman Worlds of Medieval Europe p. 246
  228. ^ Ilardi, Renaissance Vision, pp. 4–5, 49
  229. ^ a b Epstein Economic and Social History p. 45
  230. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 156–159
  231. ^ Barber Two Cities p. 68
  232. ^ Barber Two Cities p. 73
  233. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 125
  234. ^ Singman Daily Life p. 124
  235. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 130
  236. ^ a b Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom pp. 296–298
  237. ^ Benton Art of the Middle Ages p. 55
  238. ^ Adams History of Western Art pp. 181–189
  239. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 58–60, 65–66, 73–75
  240. ^ Dodwell Pictorial Arts of the West p. 37
  241. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 295–299
  242. ^ Lasko Ars Sacra pp. 240–250
  243. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 91–92
  244. ^ Adams History of Western Art pp. 195–216
  245. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 185–190; 269–271
  246. ^ Benton Art of the Middle Ages p. 250
  247. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 135–139, 245–247
  248. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 264–278
  249. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 248–250
  250. ^ Hamilton Religion in the Medieval West p. 47
  251. ^ a b Rosenwein Rhinoceros Bound pp. 40–41
  252. ^ Barber Two Cities pp. 143–144
  253. ^ Morris "Northern Europe" Oxford Illustrated History of Medieval Europe p. 199
  254. ^ Barber Two Cities pp. 155–167
  255. ^ Barber Two Cities pp. 185–192
  256. ^ Loyn "Famine" Middle Ages p. 128
  257. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 373–374
  258. ^ Epstein Economic and Social History p. 41
  259. ^ Backman Worlds of Medieval Europe p. 370
  260. ^ a b Schove "Plague" Middle Ages p. 269
  261. ^ Epstein Economic and Social History pp. 171–172
  262. ^ Singman Daily Life p. 189
  263. ^ Backman Worlds of Medieval Europe pp. 374–380
  264. ^ Davies Europe pp. 412–413
  265. ^ Epstein Economic and Social History pp. 184–185
  266. ^ Epstein Economic and Social History pp. 246–247
  267. ^ a b Keen Pelican History of Medieval Europe pp. 234–237
  268. ^ Vale "Civilization of Courts and Cities" Oxford Illustrated History of Medieval Europe pp. 346–349
  269. ^ Loyn "Jews" Middle Ages p. 192
  270. ^ a b Keen Pelican History of Medieval Europe pp. 237–239
  271. ^ Watts Making of Polities pp. 201–219
  272. ^ Watts Making of Polities pp. 224–233
  273. ^ Watts Making of Polities pp. 233–238
  274. ^ Watts Making of Polities p. 166
  275. ^ Watts Making of Polities p. 169
  276. ^ Loyn "Hundred Years' War" Middle Ages p. 176
  277. ^ Barber Edward pp. 242–243
  278. ^ Davies Europe p. 545
  279. ^ Watts Making of Polities pp. 180–181
  280. ^ Watts Making of Polities pp. 317–322
  281. ^ Davies Europe p. 423
  282. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 186
  283. ^ Watts Making of Polities pp. 170–171
  284. ^ Watts Making of Polities pp. 173–175
  285. ^ Watts Making of Polities p. 173
  286. ^ Watts Making of Polities pp. 327–332
  287. ^ a b Watts Making of Polities p. 340
  288. ^ Davies Europe pp. 425–426
  289. ^ Davies Europe p. 431
  290. ^ Davies Europe pp. 408–409
  291. ^ Davies Europe pp. 385–389
  292. ^ Davies Europe p. 446
  293. ^ Thomson Western Church pp. 170–171
  294. ^ Loyn "Avignon" Middle Ages p. 45
  295. ^ Loyn "Great Schism" Middle Ages p. 153
  296. ^ Thomson Western Church pp. 184–187
  297. ^ Thomson Western Church pp. 197–199
  298. ^ Thomson Western Church p. 218
  299. ^ Thomson Western Church pp. 213–217
  300. ^ Loyn "Knights of the Temple (Templars)" Middle Ages pp. 201–202
  301. ^ Davies Europe pp. 436–437
  302. ^ a b Davies Europe pp. 433–434
  303. ^ Davies Europe pp. 438–439
  304. ^ Singman Daily Life p. 224
  305. ^ Davies Europe p. 451
  306. ^ Davies Europe pp. 454–455
  307. ^ Davies Europe p. 511
  308. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 180
  309. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 183
  310. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 188
  311. ^ Nicolle Medieval Warfare Source Book: Warfare in Western Christendom p. 185
  312. ^ Epstein Economic and Social History pp. 193–194
  313. ^ Singman Daily Life p. 36
  314. ^ Singman Daily Life p. 38
  315. ^ Epstein Economic and Social History pp. 200–201
  316. ^ Epstein Economic and Social History pp. 203–204
  317. ^ Epstein Economic and Social History p. 213
  318. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 253–256
  319. ^ Lightbown Secular Goldsmiths' Work p. 78
  320. ^ Benton Art of the Middle Ages pp. 257–262
  321. ^ British Library Staff "Incunabula Short Title Catalogue" British Library
  322. ^ Griffiths Prints and Printmaking pp. 17–18; 39–46
  323. ^ Lindberg "Medieval Church Encounters" When Science & Christianity Meet p. 8
  324. ^ Grant God and Reason p. 9
  325. ^ Quoted in Peters "Science and Religion" Encyclopedia of Religion p. 8182
  326. ^ a b Russell Inventing the Flat Earth pp. 49–58
  327. ^ Grant Planets, Stars, & Orbs pp. 626–630
  328. ^ Lindberg and Numbers "Beyond War and Peace" Church History p. 342
  329. ^ Numbers "Myths and Truths in Science and Religion: A historical perspective" Lecture archive

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  • Adams, Laurie Schneider (2001). A History of Western Art (ke-3 ed.). Boston, Massachusetts: McGraw Hill. ISBN 0-07-231717-5. 
  • Albrow, Martin (1997). The Global Age: State and Society Beyond Modernity. Stanford, CA: Stanford University Press. ISBN 0-8047-2870-4. 
  • Backman, Clifford R. (2003). The Worlds of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-512169-8. 
  • Barber, Malcolm (1992). The Two Cities: Medieval Europe 1050–1320. London: Routledge. ISBN 0-415-09682-0. 
  • Barber, Richard (1978). Edward, Prince of Wales and Aquitaine: A Biography of the Black Prince. New York: Scribner. ISBN 0-684-15864-7. 
  • Barlow, Frank (1988). The Feudal Kingdom of England 1042–1216 (Ke-4 ed.). New York: Longman. ISBN 0-582-49504-0. 
  • Bauer, Susan Wise (2010). The History of the Medieval World: From the Conversion of Constantine to the First Crusade. New York: W. W. Norton. ISBN 978-0-393-05975-5. 
  • Benton, Janetta Rebold (2002). Art of the Middle Ages. World of Art. London: Thames & Hudson. ISBN 0-500-20350-4. 
  • British Library Staff (8 Januari 2008). "Incunabula Short Title Catalogue". British Library. Diakses tanggal 8 April 2012. 
  • Brown, Peter. The World of Late Antiquity AD 150–750. Library of World Civilization. New York: W. W. Norton & Company. ISBN 0-393-95803-5. 
  • Brown, Thomas (1998). "The Transformation of the Roman Mediterranean, 400–900". Di Holmes, George. The Oxford Illustrated History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. hlmn. 1–62. ISBN 0-19-285220-5. 
  • Bruni, Leonardo (2001). Hankins, James, ed. History of the Florentine People 1. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-00506-8. 
  • Colish, Marcia L. (1997). Medieval Foundations of the Western Intellectual Tradition 400–1400. New Haven, CT: Yale University Press. ISBN 0-300-07852-8. 
  • Collins, Roger (1999). Early Medieval Europe: 300–1000 (ke-2 ed.). New York: St. Martin's Press. ISBN 0-312-21886-9. 
  • Coredon, Christopher (2007). A Dictionary of Medieval Terms & Phrases (Cetak ulang ed.). Woodbridge, Britania Raya: D. S. Brewer. ISBN 978-1-84384-138-8. 
  • Cosman, Madeleine Pelner (2007). Medieval Wordbook: More the 4,000 Terms and Expressions from Medieval Culture. New York: Barnes & Noble. ISBN 978-0-7607-8725-0. 
  • Crampton, R. J. (2005). A Concise History of Bulgaria. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 0-521-61637-9. 
  • Cunliffe, Barry (2008). Europe Between the Oceans: Themes and Variations 9000 BC-AD 1000. New Haven, CT: Yale University Press. ISBN 978-0-300-11923-7. 
  • Curta, Florin (2006). Southeastern Europe in the Middle Ages 500–1250. Cambridge Medieval Textbooks. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 0-521-89452-2. 
  • Davies, Norman (1996). Europe: A History. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 0-19-520912-5. 
  • Denley, Peter (1998). "The Mediterranean in the Age of the Renaissance, 1200–1500". Di Holmes, George. The Oxford Illustrated History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. hlmn. 235–296. ISBN 0-19-285220-5. 
  • Dodwell, C. R. (1993). The Pictorial Arts of the West: 800–1200. Pellican History of Art. New Haven, CT: Yale University Press. ISBN 0-300-06493-4. 
  • Eastwood, Bruce (2007). Ordering the Heavens: Roman Astronomy and Cosmology in the Carolingian Renaissance. History of Science and Medicine Library. Boston, Massachusetts: Brill. ISBN 978-90-04-16186-3. 
  • Epstein, Steven A. (2009). An Economic and Social History of Later Medieval Europe, 1000–1500. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-70653-7. 
  • Flexner, Stuart Berg (ed.). The Random House Dictionary of the English Language: Unabridged (Ke-2 ed.). New York: Random House. ISBN 0-394-50050-4. 
  • Gainty, Denis; Ward, Walter D. (2009). Sources of World Societies: Volume 2: Since 1500. Boston, Massachusetts: Bedford/St. Martin's. ISBN 0-312-68858-X. 
  • Geary, Patrick J. (1988). Before France and Germany: The Creation and Transformation of the Merovingian World. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 0-19-504458-4. 
  • Gies, Joseph; Gies, Frances (1973). Life in a Medieval City. New York: Thomas Y. Crowell. ISBN 0-8152-0345-4. 
  • Grant, Edward (2001). God and Reason in the Middle Ages. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-80279-6. 
  • Grant, E. (1994). Planets, Stars, & Orbs: The Medieval Cosmos, 1200–1687. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-43344-0. 
  • Grierson, Philip (1989). "Coinage and currency". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlmn. 97–98. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Griffiths, Antony (1996). Prints and Printmaking. London: British Museum Press. ISBN 0-7141-2608-X. 
  • Hallam, Elizabeth M.; Everard, Judith (2001). Capetian France 987–1328 (Ke-2 ed.). New York: Longman. ISBN 0-582-40428-2. 
  • Hamilton, Bernard (2003). Religion in the Medieval West (Ke-2 ed.). London: Arnold. ISBN 0-340-80839-X. 
  • Heather, Peter (2006). The Fall of the Roman Empire: A New History of Rome and the Barbarians. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-532541-6. 
  • Henderson, George (1977). Early Medieval (Revisi ed.). New York: Penguin. OCLC 641757789. 
  • Holmes, George, ed. (1988). The Oxford History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 0-19-285272-8. 
  • Ilardi, Vincent (2007). Renaissance Vision from Spectacles to Telescopes. Philadelphia: American Philosophical Society. ISBN 978-0-87169-259-7. 
  • James, Edward (2009). Europe's Barbarians: AD 200–600. The Medieval World. Harlow, Britania Raya: Pearson Longman. ISBN 978-0-582-77296-0. 
  • Jordan, William C. (2003). Europe in the High Middle Ages. Penguin History of Europe. New York: Viking. ISBN 978-0-670-03202-0. 
  • Kamen, Henry (2005). Spain 1469–1714 (Ke-3 ed.). New York: Pearson/Longman. ISBN 0-582-78464-6. 
  • Kaufmann, J. E.; Kaufmann, H. W. (2001). The Medieval Fortress: Castles, Forts and Walled Cities of the Middle Ages (2004 ed.). Cambridge, Massachusetts: De Capo Press. ISBN 0-306-81358-0. 
  • Keen, Maurice (1988) [1968]. The Pelican History of Medieval Europe. London: Penguin Books. ISBN 0-14-021085-7. 
  • Kitzinger, Ernst (1955). Early Medieval Art at the British Museum (Ke-2 ed.). London: British Museum. OCLC 510455. 
  • Knox, E. L. "History of the Idea of the Renaissance". Europe in the Late Middle Ages. Boise State University. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 February 2012. Diakses tanggal 25 Desember 2012. 
  • Lasko, Peter (1972). Ars Sacra, 800–1200. Penguin History of Art (sekarang Yale). New York: Penguin. ISBN 0-14-056036-X. 
  • Lawrence, C.H (2001). Medieval Monasticism: Forms of Religious Life in Western Europe in the Middle Ages (Ke-3 ed.). Harlow, Britania Raya: Longman. ISBN 0-582-40427-4. 
  • Lightbown, Ronald W. (1978). Secular Goldsmiths' Work in Medieval France: A History. Reports of the Research Committee of the Society of Antiquaries of London. London: Thames and Hudson. ISBN 0-500-99027-1. 
  • Lindberg, David C.; Numbers, Ronald L. (1986). "Beyond War and Peace: A Reappraisal of the Encounter between Christianity and Science". Church History 55 (3): 338–354. JSTOR 3166822. doi:10.2307/3166822. 
  • Lindberg, David C. (2003). "The Medieval Church Encounters the Classical Tradition: Saint Augustine, Roger Bacon, and the Handmaiden Metaphor". Di Lindberg, David C. and Numbers, Ronald L. When Science & Christianity Meet. Chicago, IL: University of Chicago Press. ISBN 0-226-48214-6. 
  • Lock, Peter (2006). Routledge Companion to the Crusades. New York: Routledge. ISBN 0-415-39312-4. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Avignon". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 45. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Eleanor of Aquitaine". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 122. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Famine". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlmn. 127–128. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Great Schism". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 153. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Hundred Years' War". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 176. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Jews". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlmn. 190–192. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Knights of the Temple (Templars)". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlmn. 201–202. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Language and dialect". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlm. 204. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Loyn, H. R. (1989). "Scholasticism". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlmn. 293–294. ISBN 0-500-27645-5. 
  • "Mediaeval". The Compact Edition of the Oxford English Dictionary: Complete Text Arranged Micrographically: Volume I A-0. Glascow: Oxford University Press. 1971. hlm. M290. LCCN 72177361. OCLC 490339790. 
  • "Middle Ages". Dictionary.com. 2004. Diakses tanggal 7 April 2012. 
  • Miglio, Massimo (2006). "Curial Humanism seen through the Prism of the Papal Library". Di Mazzocco, Angelo. Interpretations of Renaissance Humanism. Brill's Studies in Intellectual History. Leiden: Brill. hlmn. 97–112. ISBN 978-90-04-15244-1. 
  • Mommsen, Theodore (April 1942). "Petrarch's Conception of the 'Dark Ages'". Speculum 17 (2): 226–242. JSTOR 2856364. doi:10.2307/2856364. 
  • Morris, Rosemary (1998). "Northern Europe invades the Mediterranean, 900–1200". Di Holmes, George. The Oxford Illustrated History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. hlmn. 175–234. ISBN 0-19-285220-5. 
  • Murray, Alexander (2004). "Should the Middle Ages Be Abolished?". Essays in Medieval Studies 21: 1–22. doi:10.1353/ems.2005.0010. 
  • Nees, Lawrence (2002). Early Medieval Art. Oxford History of Art. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-284243-5. 
  • Nicolle, David (1999). Medieval Warfare Source Book: Warfare In Western Christendom. London: Brockhampton Press. ISBN 1-86019-889-9. 
  • Numbers, Ronald (11 May 2006). "Myths and Truths in Science and Religion: A historical perspective" (PDF). Lecture archive. The Faraday Institute for Science and Religion. Diakses tanggal 25 Januari 2013. 
  • Payne, Robert (2000). The Dream and the Tomb: A History of the Crusades (Jilid lunak perdana ed.). New York: Cooper Square Press. ISBN 0-8154-1086-7. 
  • Peters, Ted (2005). "Science and Religion". Di Jones, Lindsay. Encyclopedia of Religion 12 (Ke-2 ed.). Detroit, Michigan: MacMillan Reference. hlm. 8182. ISBN 978-0-02-865980-0. 
  • Power, Daniel (2006). The Central Middle Ages: Europe 950–1320. The Short Oxford History of Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-925312-8. 
  • Reilly, Bernard F. (1993). The Medieval Spains. Cambridge Medieval Textbooks. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 0-521-39741-3. 
  • Riley-Smith, Jonathan (1989). "Crusades". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlmn. 106–107. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Rosenwein, Barbara H. (1982). Rhinoceros Bound: Cluny in the Tenth Century. Philadelphia, PA: University of Pennsylvania Press. ISBN 0-8122-7830-5. 
  • Russell, Jeffey Burton (1991). Inventing the Flat Earth-Columbus and Modern Historians. Westport, CT: Praeger. ISBN 0-275-95904-X. 
  • Saul, Nigel (2000). A Companion to Medieval England 1066–1485. Stroud, Britania Raya: Tempus. ISBN 0-7524-2969-8. 
  • Schove, D. Justin (1989). "Plague". Di Loyn, H. R. The Middle Ages: A Concise Encyclopedia. London: Thames and Hudson. hlmn. 267–269. ISBN 0-500-27645-5. 
  • Singman, Jeffrey L. (1999). Daily Life in Medieval Europe. Daily Life Through History. Westport, CT: Greenwood Press. ISBN 0-313-30273-1. 
  • Stalley, Roger (1999). Early Medieval Architecture. Oxford History of Art. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-284223-7. 
  • Tansey, Richard G.; Gardner, Helen Louise; De la Croix, Horst (1986). Gardner's Art Through the Ages (ke-8 ed.). San Diego, California: Harcourt Brace Jovanovich. ISBN 0-15-503763-3. 
  • Thomson, John A. F. (1998). The Western Church in the Middle Ages. London: Arnold. ISBN 0-340-60118-3. 
  • Vale, Malcolm (1998). "The Civilization of Courts and Cities in the North, 1200–1500". Di Holmes, George. The Oxford Illustrated History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. hlmn. 297–351. ISBN 0-19-285220-5. 
  • Watts, John (2009). The Making of Polities: Europe, 1300–1500. Cambridge Medieval Textbooks. Cambridge, Britania Raya: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-79664-4. 
  • Whitton, David (1998). "The Society of Northern Europe in the High Middle Ages, 900–1200". Di Holmes, George. The Oxford Illustrated History of Medieval Europe. Oxford, Britania Raya: Oxford University Press. hlmn. 115–174. ISBN 0-19-285220-5. 
  • Wickham, Chris (2009). The Inheritance of Rome: Illuminating the Dark Ages 400–1000. New York: Penguin Books. ISBN 978-0-14-311742-1. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]