Dunia Ketiga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
"Tiga dunia" era Perang Dingin periode April 1975 sampai Agustus 1975.
  Dunia Pertama: Amerika Serikat, Britania Raya, dan sekutunya.
  Dunia Kedua: Uni Soviet, Tiongkok, dan sekutunya.

Istilah "Dunia Ketiga" muncul pada masa Perang Dingin untuk menyebut negara-negara yang tidak memihak dengan NATO atau Blok Komunis. Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Korea Selatan, Eropa Barat dan sekutunya mewakili Dunia Pertama, sedangkan Uni Soviet, Tiongkok, Kuba, dan sekutunya mewakili Dunia Kedua. Istilah ini memungkinkan negara-negara di dunia dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan politik dan ekonominya. Sejak jatuhnya Uni Soviet dan akhir Perang Dingin, istilah Dunia Ketiga semakin jarang digunakan. Dunia Ketiga digantikan oleh negara berkembang, negara terbelakang, atau Selatan Global. Konsepnya sendiri kedaluwarsa karena sudah tidak mencerminkan situasi politik atau ekonomi dunia saat ini.

Definisi Dunia Ketiga biasanya mencakup negara-negara yang pernah mengalami kolonisasi di Afrika, Amerika Latin, Oseania, dan Asia. Dunia Ketiga juga kadang dianggap sama dengan anggota Gerakan Non-Blok. Menurut teori ketergantungan yang dipaparkan oleh Raúl Prebisch, Walter Rodney, Theotonio dos Santos, dan Andre Gunder Frank, Dunia Ketiga dikelompokkan sebagai negara "pinggiran yang didominasi oleh negara "inti" dalam pembagian ekonomi sistemik dunia.[1]

Karena makna dan konteksnya selalu berubah, tidak ada definisi Dunia Ketiga yang pasti dan tetap.[1] Beberapa negara di Blok Komunis seperti Kuba sering dicap "Dunia Ketiga". Karena banyak negara Dunia Ketiga yang ekonominya miskin dan belum terindustralisasi, "Dunia Ketiga" menjadi stereotipe untuk menyebut negara miskin. Namun demikian, "Dunia Ketiga" juga dipakai untuk menyebut negara industri baru seperti Brasil, India, dan Tiongkok yang kini bagian dari BRIC. Sejumlah negara Eropa dulu tidak memihak dan sangat makmur, contohnya Irlandia, Austria, Swedia, Finlandia, Swiss, dan Yugoslavia.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Ahli demografi, antropolog, dan sejarawan Perancis Alfred Sauvy, menciptakan istilah Dunia Ketiga (Tiers Monde) dalam sebuah artikel di majalah L'Observateur, 14 Agustus 1952, untuk menyebut negara-negara yang tidak memihak kepada blok Soviet Komunis atau blok NATO Kapitalis pada masa Perang Dingin.[2] Istilah ini mengacu pada Pilar Ketiga, rakyat jelata Perancis yang menentang pendeta (Pilar Pertama) dan bangsawan (Pilar Kedua) sebelum dan selama Revolusi Perancis. Sauvy menulis, "Dunia ketiga yang terabaikan, dieksploitasi, ditelantarkan seperti pilar ketiga juga ingin makmur."[3] Ia mengusung konsep non-blok politik yang tidak memihak kepada blok kapitalis atau komunis.[4]

Dunia Ketiga vs. Tiga Dunia[sunting | sunting sumber]

"Teori Tiga Dunia" yang dikembangkan oleh Mao Zedong tidak sama dengan teori Tiga Dunia atau Dunia Ketiga versi Barat. Misalnya, menurut teori Barat, Tiongkok bagian dari dunia kedua dan India bagian dari dunia ketiga. Namun, menurut teori Mao, Tiongkok dan India sama-sama bagian dari dunia ketiga yang didefinisikan sebagai negara-negara tereksploitasi.

Third Worldisme[sunting | sunting sumber]

Third Worldisme adalah aliran politik yang memperjuangkan persatuan negara-negara dunia ketiga melawan pengaruh dunia pertama dan mendukung prinsip non-intervensionisme dalam urusan dalam negeri negara lain. Grup yang dikenal aktif menyuarakan ide ini adalah Gerakan Non-Blok (GNB) dan Grup 77. Grup-grup ini menjadi landasan hubungan dan diplomasi antara sesama negara dunia ketiga dan antara dunia ketiga dengan dunia pertama dan kedua. Aliran ini dikritik karena menutup-nutupi pelanggaran HAM dan penindasan politik oleh pemerintahan diktator.[5]

Bantuan pembangunan[sunting | sunting sumber]

Negara terbelakang berwarna biru (menurut PBB). Negara yang sebelumnya dianggap terbelakang berwarna hijau.

Pada masa Perang Dingin, negara-negara non-blok Dunia Ketiga[1] dipandang sebagai sekutu potensial oleh Dunia Pertama dan Kedua. Amerika Serikat dan Uni Soviet pun berlomba-lomba membina hubungan dengan menawarkan bantuan ekonomi dan militer demi mendapat sekutu strategis (misalnya Amerika Serikat di Vietnam atau Uni Soviet di Kuba).[1] Pada penghujung Perang Dingin, banyak negara Dunia Ketiga yang mengadopsi model ekonomi kapitalis atau komunis dan terus dibantu oleh pihak yang mereka pilih. Sepanjang Perang Dingin dan sesudahnya, negara-negara Dunia Ketiga menjadi prioritas penerima bantuan luar negeri Barat dan pembangunan ekonomi melalui teori-teori arus utama seperti teori modernisasi dan teori ketergantungan.[1]

Pada akhir 1960-an, gagasan Dunia Ketiga mewakili negara-negara Afrika, Asia, dan Amerika Latin yang dianggap berkembang oleh Barat berdasarkan sejumlah faktor (pembangunan ekonomi rendah, harapan hidup rendah, tingkat kemiskinan dan penyebaran penyakit tinggi, dan lain-lain).[2] Negara-negara ini menjadi target bantuan dari negara-negara yang lebih kaya (pemerintahan, LSM, dan individu). Model tahap pertumbuhan Rostow berpendapat bahwa pembangunan terjadi dalam lima tahap (masyarakat tradisional; menjelang lepas landas; lepas landas; kedewasaan ekonomi; tingginya konsumsi massal).[6] W. W. Rostow berpendapat bahwa "lepas landas" adalah tahap penting yang belum dicapai oleh dunia ketiga. Lantas, bantuan luar negeri dibutuhkan untuk memancing industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut.[6]

Divergensi Besar dan Konvergensi Besar[sunting | sunting sumber]

Fungsi kepadatan distribusi pendapatan dunia pada tahun 1970 berdasarkan benua, skala logaritma: Perbedaan antara negara "kaya" dan "miskin" cukup mencolok. Kemiskinan dunia terpusat di Asia.

Fungsi kepadatan distribusi pendapatan dunia pada tahun 2015 berdasarkan benua, skala logaritma: Perbedaan antara negara "kaya" dan "miskin" telah lenyap. Kemiskinan dunia terpusat di Afrika.

  Asia dan Oseania
  Afrika
  Amerika
  Eropa

Ada perbedaan yang kentara antara Dunia Pertama dan Ketiga. Demikian halnya dengan Utara Global dan Selatan Global. Orang-orang menggunakan istilah "Dunia Ketiga/Selatan" dan "Dunia Pertama/Utara" karena Utara Global lebih kaya dan maju, sedangkan Selatan Global belum maju dan cenderung miskin.[7]

Untuk melawan pola pikir seperti ini, beberapa peneliti mengusulkan ide perubahan dinamika dunia yang dimulai pada akhir 1980-an bernama Konvergensi Besar.[8] Menurut Jack A. Goldstone dan rekan-rekannya, "pada abad ke-20, Divergensi Besar memuncak sebelum Perang Dunia Pertama dan berlangsung sampai awal 1970-an. Kemudian, setelah fluktuasi tak tentu selama dua dasawarsa, pada akhir 1980-an, Divergensi Besar digantikan oleh Konvergensi Besar karena mayoritas negara Dunia Ketiga mencetak angka pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada mayoritas negara Dunia Pertama".[9]

Peneliti lainnya mengamati berulangnya keberpihakan era Perang Dingin (MacKinnon, 2007; Lucas, 2008) yang dibarengi perubahan geografi, ekonomi dunia, dan dinamika hubungan antara negara-negara besar dan menengah pada tahun 1990–2015. Pengamatan ini tidak mendefinisikan ulang makna asli "Dunia Pertama, Kedua, dan Ketiga", tetapi mengelompokkan ulang negara-negaranya berdasarkan hubungan dengan negara besar atau koalisi negara, contohnya G7, Uni Eropa, OECD; G20, OPEC, BRICS, ASEAN; Uni Afrika, dan Uni Eurasia.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e Tomlinson, B.R. (2003). "What was the Third World", Journal of Contemporary History, 38(2): 307–321.
  2. ^ a b Gregory, Derek et al. (Eds.) (2009). Dictionary of Human Geography (5th Ed.), Wiley-Blackwell.
  3. ^ Literal translation from French
  4. ^ Wolf-Phillips, Leslie (1987). "Why 'Third World'?: Origin, Definition and Usage", Third World Quarterly, 9(4): 1311-1327.
  5. ^ Pithouse, Richard (2005). Report Back from the Third World Network Meeting Accra, 2005. Centre for Civil Society : 1-6.
  6. ^ a b Westernizing the Third World (Ch 2), Routledge
  7. ^ Mimiko, Oluwafemi (2012). "Globalization: The Politics of Global Economic Relations and International Business". Carolina Academic Press: 49. 
  8. ^ Korotayev A., Zinkina J. On the structure of the present-day convergence. Campus-Wide Information Systems. Vol. 31 No. 2/3, 2014, pp. 139-152
  9. ^ Phases of global demographic transition correlate with phases of the Great Divergence and Great Convergence. Technological Forecasting and Social Change. Volume 95, June 2015, Page 163.

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Aijaz, Ahmad (1992). In theory: Classes, nations, literatures. London: Verso. 
  • Bauer, Peter T. (1981). Equality, the Third World, and economic delusion. Cambridge, MA: Harvard University Press. 
  • Buchanan, Pat J. (2006). State of emergency: The Third World invasion and conquest of America. New York: Thomas Dunne Books/St. Martin's Press. 
  • Escobar, Arturo (2011). Encountering development: The making and unmaking of the Third World (edisi ke-revised). Princeton, NJ: Princeton University Press. 
  • Furtado, Celso (1964). Development and underdevelopment. Berkeley: University of California Press. 
  • Huffington, Arianna S. (2010). Third World America: How our politicians are abandoning the middle class and betraying the American dream. New York: Crown Publishers. 
  • Melkote, Srinivas R. & Steeves, H. Leslie. (1991). Communication for development in the Third World: Theory and practice for Empowerment. New Delhi: SAGE Publications.
  • Sheppard, Eric & Porter, Wayland P. (1998). A world of difference: Society, nature, development. New York: Guilford Press.
  • Rangel, Carlos (1986). Third World Ideology and Western Reality. New Brunswick: Transaction Books. 
  • Smith, Brian C. (2013). Understanding Third World Politics: Theories of Political Change and Development (edisi ke-4th). London: Palgrave Macmillan. 
  • Aijaz, Charles K. (1973). The political economy of development and underdevelopment. New York: Random House. 

Templat:Klasifikasi ekonomi global